Selasa, 19 Mei 2009

Memahami Hakekat Hidup

Saudara yang di muliakan Allah

Hari demi hari silih berganti, malam demi malam terus mengikuti. Begitu seterusnya, manusia adalah musafir yang sedang menelusuri perjalanan yang ditemani waktu hingga akan sampai pada titik akhir perjalanan, yakni kematian. Sesungguhnya setiap tapak kaki kita yang tertinggal adalah saksi dari perjalanan hari-hari.

Hanya orang bodoh yang membiarkan waktu hidupnya tersia-siakan dengan kebathilan, hanya orang jahil yang membiarkan waktu hidupnya tercampakan dengan kelengahan dan merugilah keduanya karena kesempatan yang diberikan Allah tidak dimanfaatkan untuk melaksanakan kebaikan.

Sahabat, setiap kita adalah bagian dari kafilah ummat manusia yang terus berjalan silih berganti dari generasi ke generasi, peradaban demi peradaban. Dan setelah sekian waktu melewati masa dunia hingga kelak ke akhirat kemudian berakhir pada satu tempat, sorga atau neraka.

Seorang yang bijak akan selalu menyadari bahwa perjalanan adalah tugas berat dan penuh tantangan yang tidak mungkin dapat dinikmati dengan santai dan bersenang-senang. Sebab kesenangan dan kenikmatan adanya setelah sampai di tempat tujuan. Itulah orang-orang arif yang mampu memahami esensi hidup.

Ketahuilah, kita hidup dan di hidupkan bukanlah hanya sekedar hidup, tetapi hidup kita harus sesuai aturan dari yang maha hidup, Dialah Allah yang menghidupkan kita. Bahkan keberadaan kita di dunia bukan hanya sebatas ada, tetapi bagaimana kita mampu memanfaatkan keberadaan ini, sebagai mana Allah menciptakan kita tidak mengada-ada.


“Apakah kamu sekalian mengira

bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia tanpa tujuan dan kepada Kami kamu tidak dikembalikan?”.(Qs. Al-Mukminun [23 ]:115

Sahabat, Allah menyebutkan dua saat dimana manusia menyesali dirinya, yaitu:

pertama: Pada saat menanti ajal tiba, yaitu ketika ia sedang berada dalam keadaan akan meninggal dunia dan menghadapi akhirat. Ia berandai-andai untuk diberi sekejap waktu agar dapat memperbaiki kekurangan dan menebus apa yang terlenakan.

Kedua; pada waktu di akhirat kelak, dimana seluruh amal perbuatan diberi balasan. Disana hanya ada dua tempat; yaitu para ahli sorga masuk kedalam surga dan ahli neraka masuk kedalam neraka. Ahli neraka berandai untuk dapat kembali kealam dunia sekali lagi agar dapat memulai dari awal kehidupan baru dengan amal sholeh.

Namun tidak mungkin terwujud apa yang mereka angankan, sebab masa kesempatan untuk beramal telah habis, yang ada adalah masa pembagian hasil pekerjaan. Dunia tempat kita mengumpulkan kebaikan, akhirat tempat kita menerima balasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar