Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Qur'an. Tampilkan semua postingan

MOTIVASI UNTUK DAPAT ISTIQOMAH DENGAN AL QUR'AN

Written By Rudianto on Senin, 21 Januari 2019 | 19.16

Sahabat yang dirahmati Allah,

Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat dengan AL Qur'an. (Insya Allah)

Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an . Berikut upaya-upaya jiwa untuk mampu senantiasa bersahabat dengan nya :

MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA

“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)

Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.

Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?

Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.

2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)

3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)

4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”

5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)

Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?

Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.

Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah

19.16 | 0 komentar

Shalih Tak Harus Terkenal

Written By Rudianto on Jumat, 21 Maret 2014 | 08.51

Allah Ta'ala berfirman; "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur," ( Al Quran surat an-Nahl : 78 ).

Firman Allah Ta'ala itu menegaskan, semua manusia dilahirkan hanya dibekali tiga hal yang sama: pendengaran, penglihatan dan hati. Karenanya, semua orang pada dasarnya punya potensi sama untuk menjadi orang shalih atau tidak. Keshalihan seseorang bergantung pada sejauh mana isa mengoptimalkan modal yang diberikan Allah tersebut.

Begitu juga halnya orang-orang shalih yang dicatat sejarah. Mereka lahir sebagai manusia biasa. Lalu belajar mengenal Allah Ta'ala dan mengimani-Nya. Mereka mendekat pada Allah, dan Allah pun dekat pada mereka. Tentu saja keberhasilan mereka menjadi orang shalih tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitarnya, utamanya keluarga.

Karena orang-orang shalih itu adalah orang-orang biasa, maka tak heran pada banyak hal mereka tak jauh berbeda dengan keadaan orang biasa. Mereka bisa punya masalah keuangan, keluarga, kejenuhan, kelelahan dan seterusnya, Bahkan mereka bisa berbuat kesalahan. Perbedaan orang shalih dengan orang biasa terletak pada bagaimana menyikapi problema yang dihadapi dan kesalahan yang terjadi.

Jika orang biasa cenderung larut dalam problema yang dihadapinya kaum shalih itu mampu keluar dari persoalan yang melilitnya dengan elegan. Begitu juga halnya dalam soal berbuat salah. Berbeda dengan orang biasa yang umumnya terbuai kesalahan dan tak gampang bertaubat, orang-orang shalih amat sensitif terhadap kesalahan dan bersegera bertaubat.

Menyebut orang-orang shalih itu bisa salah, bukan untuk memperkecil kebesaran mereka. Bukan. Tapi, untuk memperbesar harapan kita untuk menjadi seperti mereka: shalih. Kita sama seperti mereka. Sama-sama punya potensi untuk menjadi shalih.

Betapa biasanya orang-orang shalih itu dalam hidup kesehariannya, bisa dilihat pada bebeberapa kisah berikut. Setelah dibaiat sebagai khalifah, Abu Bakar ash-Shiddiq tetap berdagang kain di pasar. Umar bin Khaththab lantas memintanya berhenti. "Lalu, apa yang akan dimakan keluargaku kalau aku tidak berdagang," jawab Abu Bakar. Khalifah pertama pengganti Rasulullah saw itu terus berdagang sampai akhirnya Umar mengusulkan agar ia digaji dari Baitul Mal agar bisa konsentrasi mengurus negara.

Fathimah lecet-lecet telapak tangannya karena mengerjakan sendiri urusan rumah tangga. la sempat meminta pembantu dari ayahnya. Tapi Rasulullah saw menggantinya dengan yang lebih baik: do'a.
Selain masalah nafkah, para salafus shalih juga menerima ujian. Zaid bin Arqam diuji Allah dengan kebutaan. Begitu juga dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Kedua orang tua Ammar bin Yasir dibunuh. Ummu Salamah ditinggal mati oleh suami yang sangat ia cintai.

Orang-orang shalih itu pun pernah berbuat "salah". Rasulullah saw menugaskan Khalid bin Walid memimpin ekspedisi perang ke suatu wilayah yang didalamnya ikut Ammar bin Yasir. Sebelum perang Khalid mengutus sejumlah orang untuk menyeru penduduk daerah itu kepada Islam. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menemui Ammar dan menyatakan masuk Islam. "Apakah ke-Islamanku bermanfaat jika aku tetap tinggal di kampungku ini?" pinta laki-laki itu. Ammar pun mengiyakan. "Aku yang menjaminmu," tambah Ammar.

Ketika masuk ke kampung itu, Khalid mendapatkan penduduknya sudah melarikan diri, kecuali keluarga laki-laki itu yang segera ditangkapnya. "Mereka sudah masuk Islam, tak ada alasan untuk menangkapnya," Ammar membela.

"Apa urusanmu dengannya? Apakah engkau telah menjaminnya padahal pemimpin pasukan ini aku?" ujar Khalid.

Keduanya sempat terlibat perdebatan panjang. Ketika kembali ke Madinah, keduanya segera menghadap Rasulullah saw dan menceritakan masalah mereka. Rasulullah saw membolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya untuk mengulangi lagi. Namun antara Khalid dan Ammar tetap terlibat perdebatan. Khalid sempat marah dan berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa ia tetap menghinaku padahal kami berada di depanmu?"

"Cukup wahai Khalid! Siapa yang membenci Ammar, akan dibenci Allah. Siapa yang melaknat Ammar, akan dilaknat Allah," ujar Rasulullah saw.

Ammar keluar. Khalid buru-buru mengikuti. la menarik baju Ammar dan meminta maaf.
Pada kesempatan lain, Umar bin Khaththab pernah mau "melabrak" Amr bin Ash yang kala itu menjadi panglima. Amr bin Ash melarang pasukan menyalakan obor. Padahal keadaan sangat gelap. Umar marah. Antara dua jagoan itu hampir terjadi percekcokan. Abu Bakar yang juga ikut menjadi prajurit segera melerai, "Tahan wahai Umar! Sesungguhnya dia tidak diangkat sebagai panglima kecuali karena keahliannya dalam berperang." Umar pun tenang.

Anas bin Malik pernah melirik dan memperhatikan kecantikan seorang wanita. la pun ditegur khalifah Utsman, "Telah masuk salah seorang di antara kalian yang di matanya ada bekas zina. Tidakkah engkau tahu zina mata adalah pandangan? Segeralah bertaubat. Kalau tidak, aku akan melakukan hukum ta'zir (pengasingan) padamu," ujar Utsman. Anas pun mengaku salah dan bertaubat.

Ada lagi ujian dalam bentuk lain. Rabi' Khaitsam, seorang tabiin ternama pernah digoda seorang wanita suruhan. Wanita itu melakukannya dengan harapan mendapatkan imbalan seribu dirham dari orang yang menyuruhnya. Begitu melihat wanita itu, Rabi' bin Khaitsam segera menasihatinya hingga akhirnya wanita itu bertaubat dan mengakui kesalahannya.

Begitulah. Mereka adalah manusia yang bisa "kalap", emosi dan hampir tak bisa mengendalikan diri. Tapi mereka segera bisa mengatasinya dengan bantuan saudaranya. Mereka segera bertaubat.
Orang-orang shalih juga sibuk luar biasa. Mereka meninggalkan istri, anak dan orang-orang yang dicintai untuk waktu yang lama. Namun, semua itu tak  menghalangi mereka memelihara keshalihan. Mereka tetap jadi shalih dalam kondisi sesulit apapun.

Banyak bukti, keshalihan bukan hanya milik orang-orang ternama. Baik AlQuran maupun sunnah Nabi mencatat banyak orang shalih tanpa kita mengenal namanya.

Al-Qur an mengabadikan kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang nnembantu Nabi Musa dari kejaran Fir'aun tanpa disebut namanya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata, "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu," (QS al-Qashash: 20).

Allah Ta'ala juga mengisahkan seorang shalih di masa Fir'aun yang telah lama memendam imannya. Ketika tiba masanya, is muncul dan menyuarakan keimanannya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keteranganketerangan dari Tuhanmu.
 Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu."Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta," (QS. Ghafir: 28).

Nabi Saw pernah melakukan shalat ghaib atas seorang wanita tukang bersih masjid yang meninggal dunia. Di masa Nabi juga banyak kaum dhuafa' yang mendukung dakwah. Nama mereka tak ada dalam catatan sejarah. Mereka tak dikenal. Tapi mereka orang-orang shalih.
Akhirnya, menjadi shalih adalah milik semua orang. Menjadi shalih tak mesti terkenal. Keshalihan bisa dimiliki siapa saja.





08.51 | 0 komentar

PERJALANAN BERSAMA AL QUR'AN SESION 1 Lengkap 30 EPISODE.

Written By Rudianto on Rabu, 19 Februari 2014 | 22.25



Mungkin diantara sahabat mencari salah satu program tv ini di Internet ataupun di Youtube yang tersedia lengkap tentang video ini. Kini Allhamdulillah kami berusaha me re synchronization kembali subtitle nya secara lengkap kedalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.

“PERJALANAN BERSAMA AL QUR'AN" mengelilingi dunia menjumpai para penghafal al qur'an bersama syaikh fahad salim al kandary, seorang penghafal al qur'an dari Kuwait. Merupakan video yang sangat isnpiratif untuk mengingatkan kita terhadap keagungan & kemu'jizatan al qur'an. Syaikh fahad salim al kandary seorang imam dan qori' muda dari kuwait berkeliling dunia menjumpai para penghafal al qur'an lalu mengisahkannya kepada kita tentang berbagai hal yang menakjubkan sekaligus mengharukan seputar para penghafal al qur'an di berbagai belahan dunia. Sebuah suguhan kisah inspiratif sebagai penyemangat kita & ; generasi penerus kita untuk menghafal Al Qur'an.

 Adapun materi DVD "Perjalanan Bersama Al Qur'an Sesion 1" meliputi:
1. Ikhlaskan niat
2. Jgn terpengaruh oleh indahnya dunia
3. Minta pertolongan/kemudahan pada Allah
4. Jauhi semua jenis dosa/maksiat
5. Komitmen & motivasi yg kuat
6. Siapkan waktu & usaha
7. Jauhi teman/kawan yg salah
8. Belajarlah dari minimal seorang sheikh/guru
9. Rencanakan dgn baik, dgn target
10. Murajaah, murajaah, murajaah minimal 1 juz/hari lalu 5 juz/bulan
11. Aplikasikan ayat yg sudah dihafal
12. Baca cerita para sahabat
13. Memahami yg dihafal
14. Gunakan mushaf yg sama
15. Waktu terbaik adalah saat fajar
16. Baca hafalan saat sholat
17. Ikuti lomba/bertanding dgn org lain
18. Rasakan dgn hati
19. Cari lingkungan yg sesuai, yg mau berbagi mimpi/cita2 yg sama
20. Jika menghafal banyak ayat, tulislah
21. Latihan membaca dgn cepat/Al Hadr
22. Dengarkan dan ikuti bacaan dri Qari' yg mahir
23. Hafal lalu sempurnakan dgn cara ulangi sambil melihat mushaf sesekali
24. Jangan pernah tinggalkan shalat malam/qiyamullail



Ingin Memiliki DVD ini, Silahkan Donasi Sebagian Rizki anda dan Miliki Koleksi DVD Film  ini sebagai kenang-kenangan  dari kami. Adapun Paket Donasi  cukup : RP  100.000,-


SALURKAN INFAK DAKWAH ANDA UNTUK RADIO BANK BTN 00399-01-50-000110-1 AN RADIO KOMUNITAS NURIS FM. Hubungi Admin di 085716863625.
22.25 | 2 komentar

Petualangan Bersama Al-Quran Syekh Fahd Al Kandari (Eps 2)

Written By Rudianto on Jumat, 07 Februari 2014 | 14.28

Ikhlas Kepada Allah

Al Qur’an ialah mukjizat besar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Wajib bagi kita untuk mengetahui, bahwa Al Quran ialah nikmat yang besar yang Allah berikan untuk hamba-Nya. Semua dakwah Rasulullah ialah Al Quran. Karena Al Quran semata bukan perkataan atau buatan Muhammad, namun petunjuk dari Allah untuk ummat melalui Muhammad.
Allah berfirman dalam QS Al Anfaal Ayat 24,
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu
Apabila kita telah memulai dan bertekad untuk menghafalkan Al Quran, kita harus mengetahui bahwa Allah telah memilih kita. Menghafal Al Quran adalah perkara yang mudah dengan izin Allah. Namun pastinya selalu ada jalanan terjal di depan menanti kita. Namun ketahuilah, dengan mengetahui keutamaan-keutamaannya maka rintangan apapun sesungguhnya akan terasa ringan.
Sebelum menghafalkan Al Quran, kita perlu mengikhlaskan niat hanya untuk Allah. Apalagi untuk ibadah agung ini, menghafalkan kitab Allah, sang penguasa alam semesta. Jauhkan diri dari niat dan perkara kotor duniawi.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus“, (QS Al Bayyinah : 5)
Sesungguhnya sebuah amal bergantung pada niat, Jika niat kita menghafal Al Quran hanya untuk Allah, maka Allah akan berikan pertolongan dan jalan keluar. Dia akan mengangkat kedudukan kita, menjauhkan kita dari kejelakan dan kejahatan dengan menghafal Quran.
Perjalanan kali ini membawa Syekh Fahd Al Kandari mengunjungi Mesir dan menjumpai seorang hafizh bernama Ahmad Musallam. Beliau menghafalkan seluruh Al Quran dengan keterbatasannya yang lemah dalam merespon sekitarnya. Setelah itu juga beliau bersua dengan Syariff Sayyid Mustofa, seorang hafizh berusia 12 tahun yang memiliki keceradasan luar biasa. Disamping menghafal seluruh Quran, beliau juga memiliki kelebihan dalam menguasai 10 Qiraah dan hadist shahih Bukhari Muslim. Bagaimana mereka melakukannya? Simak kisah mereka dalam video episode 2



Sumber
14.28 | 0 komentar

Wisata Quran episode 1 bersama Syekh Fahd Al Kandari - Idea

Written By Rudianto on Rabu, 08 Januari 2014 | 20.29

Syekh Fahd Al Kandari seorang imam dari Kuwait pada 2012 lalu memiliki sebuah acara bernama Musafir Ma’al Quran, atau Traveler with the Quran Petualangan bersama Al-Quran. Dalam video dokumenter ini digambarkan perjalanan beliau yang berkeliling ke berbagai negara menemui para hafidz dan penghafal Quran untuk berbagi dengan para penonton keajaiban-keajaiban yang Allah tunjukkan kepada penghafal Al-Quran.

Pada episode pertama kali ini, beliau berpetualang ke negeri Turki. Dimana dijumpai banyak penduduknya ternyata tak menguasai bahasa Arab, namun tetap pendidikan untuk mengenal Quran menjadi hal penting. Selanjutnya Syeikh Fahd Al Kandari melanjutkan petualangan ke Maroko untuk mendapatkan kesaksian sebuah keluarga penghafal Quran disana. Selanjutnya juga bertemu para penghafal Quran di Mauritania, negeri yang dulunya dikenal sebagai negara Syinqith.

Di Mesir, Syeikh Fahd bertemu dengan beberapa penghafal Quran dengan ceritanya masing-masing. Salah satunya ialah seorang tunanetra yang memiliki semangat tinggi untuk menghafal Quran. Dengan keterbatasan masing-masing dijumpai pula beberapa orang penghafal Quran yang memberikan inspirasi luar biasa.

Selanjutnya di Chechnya, negeri pecahan Uni Soviet ini juga memiliki komunitas penghafal Quran luar biasa.

Perjalanan demi perjalanan dalam episode pertama ini tentunya memberikan semangat bagi kita. Kita tidak sendiri di dunia ini yang memiliki keinginan yang sama. Mereka dengan keterbatasan masing-masing, konflik dan bahaya masing-masing di negaranya. Semoga kita yang berada di Indonesia yang damai ini mendapatkan inspirasi dari perjalanan kali ini
Silahkan disimak videonya :

20.29 | 0 komentar

AL HUQUQ AL 'ASYRAH (10 HAK)

Written By Rudianto on Rabu, 15 Mei 2013 | 05.56

AL HUQUQ AL 'ASYRAH (10 HAK)


  1. AL HUQUQ AL 'ASYRAH (10 HAK)

Al-Huquq al-'Asyrah (10 hak) yang dimaksud dalam thema ini adalah 10 wasiat Allah yang termaktub dalam surah al-An'am ayat 151-153, yaitu firman-Nya:
 قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّڪُمۡ عَلَيۡڪُمۡ‌ۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬ا‌ۖ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنً۬ا‌ۖ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَـٰدَڪُم مِّنۡ إِمۡلَـٰقٍ۬‌ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُڪُمۡ وَإِيَّاهُمۡ‌ۖ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٲحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ‌ۖ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ وَصَّٮٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ (١٥١) وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحۡسَنُ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ أَشُدَّهُ ۥ‌ۖ وَأَوۡفُواْ ٱلۡڪَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۖ وَإِذَا قُلۡتُمۡ فَٱعۡدِلُواْ وَلَوۡ ڪَانَ ذَا قُرۡبَىٰ‌ۖ وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ أَوۡفُواْ‌ۚ ذَٲلِڪُمۡ وَصَّٮٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ (١٥٢) وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٲطِى مُسۡتَقِيمً۬ا فَٱتَّبِعُوهُ‌ۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ وَصَّٮٰكُم بِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تَتَّقُونَ (153 )
Artinya : Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (Al-An'aam : 151-153).
Pemaparan 10 hak dalam tiga ayat ini sesungguhnya sudah jelas dan rinci. Namun penulis hendak memetakannya dan menghubungkannya dengan beberapa ayat atau hadits penjelas dan penambah informasi penting bagi tiga ayat tersebut, untuk memperkaya dan memperkuat iman kita akan kebenaran ajaran Islam yang bersumber dari dua warisan Rasulullah s.a.w. yakni Al-Qur'an dan as-Sunnah. Di bawah ini 10 Hak tersebut:
  1. Hak Allah; Hak Allah yang wajib atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya. أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬ا‌ۖ  (janganlah kalian menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Hak Allah selalu harus berada di awal dalam segala hal, bahkan apabila kita berdiskusi dengan Ahlul kitab pun hak ini selalu menduduki urutan pertama, Allah swt berfirman:
 قُلۡ يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ ڪَلِمَةٍ۬ سَوَآءِۭ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابً۬ا مِّن دُونِ ٱللَّهِ‌ۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ (٦٤) آل عمران: ٦٤
64. Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Larangan menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan selain Allah dalam ayat ini sekaligus mengisyaratkan bahwa dalam keberagamaan ahlul kitab sikap tersebut sudah lazim terjadi, dan itu adalah tindakan menjadikan makhluq sejajar dengan Allah (syirik) di mana ummat Islam diperintahkan untuk mengajak ahlul kitab meninggalkan sikap yang keliru tersebut.

Banyak ayat dalam Al-Qur'an menjelaskan aqidah syirik dengan berbagai gambarannya, antara lain syirik dengan menjadikan para malaikat dan nabi sebagai sesembahan (Q.s. 3:80), menjadikan hali ibadah, ulama dan Isa putra Maryam sebagai tuhan-tuhan selain Allah (Q.s.9:31) dan sebagainya. Untuk lebih jelas, maka penulis menukil pembagian syirik sebagai berikut:
  • Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala
  • Syirik Menurut Kadarnya
  • Syirik Menurut Letak Terjadinya

  • Syirik Terkait dengan kekhususan Allah swt.

Termasuk dalam syirik model ini adalah syirik di dalam Rububiyyah, uluhiyah dan asma' wa Shifat. Meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnyaadalah syirik dalam rububiyyah. Meyakini bahwa selain Allah boleh diagungkan dan disembah, sebagai tempat berdoa dan sebagainya adalah syirik dalam uluhiyah. Sedangkan syirik dalam Asma' wa shifat adalah meyakini bahwa sebagian makhluk Allah memiliki sifat-sifat khusus yang Allah ta’alla miliki, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.

  • Syirik Menurut Kadarnya

Syirik menurut kadanya terbagi menjadi dua, yaitu: Syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

Termasuk dalam syirik akbar adalah: syirik dalam ibadah, doa, niat ibadah bukan karena Allah, syirik dalam ketaatan terhadap pembuat syariat selain Allah.

Termasuk syirik kecil adalah riya' , ingin dipuji atau takut dicela orang lain atas tindakannya, bukan karena Allah semata.

  • Syirik Menurut Letak Terjadinya

Syirik menurut letak terjadinya terbagi menjadi tiga, yaitu Syirik I'tiqadi (letaknya di hati), Syirik 'amali (letaknya pada perbuatan) dan syirik lafdhi (letaknya pada kata-kata).

Syirik I’tiqodi yaitu syirik berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita berlindung kepada Allah dari hal ini.

Syirik Amali yaitu setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lainnya.

Syirik Lafzhi yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang, “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”“Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka akan begini dan begitu”, dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.

Dengan mengetahui beberapa kategori syirik diatas dapat membantu kita untuk menghindarinya agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun dan cara bagaimana pun. Semoga kita semua bisa terhindar dari syirik tersebut di manapun dan kapan pun juga. 

Orang yang tidak syirik akan dijamin aman dan akan masuk surga. Allah swt berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَـٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ (٨٢)الأنعام: ٨٢
82. orang-orang yang beriman dan tidak  mencampuradukkan iman mereka dengan  kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kezaliman yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah syirik. Namun ayat tersebut bisa kita jadikan kaidah, bahwa tidak dzalim, aman. Dzalim, tidak aman. Seberapa besar seseorang berbuat dzalim, maka sebesar itulah jaminan keamanan yang Allah berikan terkurangi. Jika dzalimnya berupa syirik, maka tiada ampun baginya. Tetapi jika kedzalimannya bukan merupakan syirik, maka kemungkinan masuk surga tetap terbuka.

Rasulullah saw bersabda:

: "أتاني جبريل فبشرني أنه من مات لا يشرك بالله شيئًا من أمتك، دخل الجنة. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق، وإن شرب الخمر"
Jibril datang menemuiku dengan memberi kabar gembira bahwa sesungguhnya barang siapa yang meninggal dari ummatmu dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, maka dia akan masuk surga! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dia berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dia berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dia berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Walaupun dia minum minuman keras!

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا (٤٨)النساء: ٤٨

48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa
yang besar.

Hanya satu solusi bagi perbuatan syirik, yaitu taubat! Kembali pada Allah dengan sebaik-baiknya!


لۡ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ (٥٣)الزمر: ٥٣

53. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 2. Hak Kedua Orang Tua

Hak kedua orang tua yang wajib dilakukan oleh setiap manusia adalah berbuat baik dan berbakti kepadanya وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنً۬ا‌ۖ "dan terhadap kedua orang tua, berbuat baiklah dengan sebaik-baiknya!", tidak boleh menyakiti, meskipun dengan kata-kata yang cukup sederhana seperti "ah" .

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًا‌ۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡڪِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ۬ وَلَا تَنۡہَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً۬ ڪَرِيمً۬ا (٢٣)الإسراء: ٢٣

23. dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,  Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

حديث سَلَمَةُ بْنُ وَرْدَانَ ، قَالَسَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ ، يَقُولُ : ارْتَقَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : " آمِينَ " ، ثُمَّ ارْتَقَى ثَانِيَةً ، فَقَالَ : " آمِينَ " ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَيْهِ فَقَالَ : " آمِينَ " ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ : عَلَى مَا أَمَّنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ ! . فَقَالَ : " أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ! رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلاهُ الْجَنَّةَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ " .
Hadits Salamah bin Wardan, ia berkata: Saya mendengar Anas berkata: "Rasulullah s.a.w. naik mimbar, lalu mengatakan: "amin", kemudian beliau duduk lalu mengatakan "amin", lalu sahabat-sahabatnya bertanya: "Kenapakah engkau mengucapkan "amin" wahai Rasulullah?. Beliau menjawab: "Jibril dating kepadaku, lalu ia berkata: "hai Muhammad! Terhinalah seorang yang namamu disebutkan di sisinya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu", lalu saya katakan: "amin". Kemudian ia mengatakan: "Terhinalah seorang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya tetapi keduanya tidak (menyebabkan) ia masuk surge", lalu saya katakan: "amin". Kemudian ia mengatkan : " Terhinalah seorang yang menjumpai bulan Ramadlan tetapi dosanya tidak diampuni", lalu saya katakan: "amin".

3. Hak Anak

Hak Anak yang wajib dipenuhi oleh manusia adalah bahwa ia tidak membunuh anaknya karena takut miskin وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَـٰدَڪُم مِّنۡ إِمۡلَـٰقٍ۬‌ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُڪُمۡ وَإِيَّاهُمۡ‌ۖ (janganlah kalian membunuh anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang member rizki kalian dan mereka). Anak-anak berhak untuk dilindungi, dididik dengan akhlaq yang baik, iman yang lurus dan kuat, ilmu yang luas dan dibekali dengan keterampilan yang bermanfaat. Perasaan takut miskin sehingga menyebabkan seseorang membunuh anak-anaknya itu telah membunuh daya kreativitas mencari jalan terbaik bagi kehidupan anak-anak ke depan. Dia membangun jalan buntu di lorong-lorong pikirannya sebelum jalan buntu itu betul-betul menjadi realita. Ketakutan mencekamnya dan kehidupan menjadi tidak memihaknya. Ia kehilangan satu kata kunci bahwa sesungguhnya yang mengatur harta itu adalah Allah semata. Dialah Ar-Razzaq, Al-Ghani, Al-Mughni, Al-Baasith yang tangan-Nya tidak pernah berhenti memberi.
Hak anak dalam al-Qur'an diatur dengan jelas, tentang pengasuhan, penyusuan, pendidikan, pernikahan, pembagian harta waris, dsb. Juga diatur supaya anak itu tidak melalaikan kita dari dzikir kepada Allah.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُڪُمۡ عَن ذِڪۡرِ ٱللَّهِ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ (٩)المنافقون: ٩
9. Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.

4. Hak Pribadi

Hak pribadi seseorang atas dirinya adalah bahwa ia melindungi dirinya dari segala perbuatan dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Yang tampak  adalah perbuatan yang dilakukan dengan terang-terangan di mana pelakunya tidak takut lagi mendapatkan cela, sementara yang bathin (tersembunyi) adalah perbuatan yang dilakukan secara sembunyi dan pelakunya khawatir mendapatkan celaan dari orang-orang yang melihatnya. Seperti perzinahan, perselingkuhan, korupsi dan lainnya.

وَذَرُواْ ظَـٰهِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَبَاطِنَهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡسِبُونَ ٱلۡإِثۡمَ سَيُجۡزَوۡنَ بِمَا كَانُواْ يَقۡتَرِفُونَ (١٢٠)الأنعام: ١٢٠
120. dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.

Meninggalkan dosa yang tak tampak bukanlah hal yang ringan, kecuali dengan pertolongan Allah. Hanya di sini kita diajarkan untuk selalu jujur, supaya kita selamat. Dan seorang yang memahami keagungan Allah, mestilah ia memahami bahwa Alah adalah segalanya bagi dirinya, Allah adalah yang Maha Penting bagi dirinya. Sehingga ketika ia sendirian atau di tempat yang sepi, ia sangat sadar bahwa dirinya tidak sendirian, tetapi dalam pengawasan Yang Maha Penting bagi dirinya. Melakukan kekejian di hadapan Allah, tentu tidaklah elok. Jika berbuat maksiat di hadapan manusia, malu, kenapa di hadapan Allah tidak malu? Manakah yang lebih penting dan agung, manusia ataukah Allah?

Allah Maha Pengampun. Ia pun memberikan kabar gembira, bahwa jika perbuatan dosa besar ditinggalkan, maka dosa-dosa kecil akan Allah hapuskan.

إِن تَجۡتَنِبُواْ ڪَبَآٮِٕرَ مَا تُنۡہَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡڪُم مُّدۡخَلاً۬ كَرِيمً۬ا (٣١)النساء: ٣١
31. jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

 5. Hak Orang Lain

Hak orang lain yang wajib atas sesamanya adalah bahwa ia tidak membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar.        وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ‌ۚ (dan janganlah kalian membunuh seseorang kecuali dengan hak/alasan yang benar). Tidak ada alasan apapun membunuh orang lain kecuali dengan tiga alasan yang Rasulullah sebutkan :
"لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله، وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة"
Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku sebagai utusan Allah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan berikut : Seorang duda yang berzina, karena membunuh orang lain dan orang yang meninggalkan agama ini dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin (HR. Bukhari- Muslim).
Terorisme dengan membunuh sesama muslim atau juga non-muslim yang tidak bersalah termasuk yang Allah larang.

6. Hak Anak Yatim

Hak anak yatim adalah bahwa hartanya harus dijaga dengan sebaik-baiknya, tidak boleh dimakan kecuali dengan cara yang baik. Harta anak yatim bahkan harus dikelola sehingga tidak termakan atau terkurangi oleh zakat. Atas resiko kerugian yang bakal terjadi, maka pemerintah atau pihak terkait seyogyanya memikirkan rumusan-rumusan atau sistemnya. Seseorang boleh memakan harta anak yatim sekedar bayaran atas jerih payahnya mengasuh anak yatim tersebut. Itulah yang disebut jangan memakan harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik. Apabila sudah dewasa, maka hendaklah harta itu diberikan kepadanya. Ini artinya anak yatim harus didik dengan sebaik-baiknya sejak kecil sehingga begitu dewasa ia telah dapat mengelola sendiri harta miliknya itu.

7. Hak Pelanggan atau Pembeli

Hak mereka adalah dilayani dengan sebaik-baiknya, tidak dicurangi dalam hal takaran atau timbangan. وَأَوۡفُواْ ٱلۡڪَيۡلَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ ﭡ       (dan penuhilah takaran dan timbangan dengan keadilan).  Ini adalah  wasiat social yang menjamin akan terlahirnya sebuah stabilitas sosial dan menebarnya sikap dan sifat adil di tengah-tengah masyarakat. Wasiat ini sangat perlu diungkap karena kebanyakan manusia cenderung untuk melakukan kecurangan-kecurangan apalagi dalam masalah takaran dan timbangan. Kerusakan ummat-ummat terdahulu juga berkisar pada tipu menipu dalam takaran ini, sebagaimana dilakukan oleh kaum Nabi Syu'aib (lih.Q.s.7:85-91).

8. Hak Berbicara

Berbicara adalah hak setiap orang, baik posisinya sebagai orang yang meminta atau pun memberi keterangan. Hak berbicara adalah bicaralah yang adil meskipun hal itu memberatkan diri sendiri atau keluarga. وَإِذَا قُلۡتُمۡ فَٱعۡدِلُواْ وَلَوۡ ڪَانَ ذَا قُرۡبَىٰ‌ۖ  (dan apabila kalian berbicara, maka berbicalah yang adil, meskipun dia adalah kerabat (kalian)). Allah menekankan agar setiap kita senantiasa berkata jujur dan apa adanya jangan ada dusta yang disenganya, jangan ada kebohongan sistimatis yang dibangun, jangan ada culas yang dijustifikasi, baik karena alasan budaya, kultur, tradisi, politik, apalagi dengan berdusta atas nama agama. Kejujuran adalah sebuah barang mahal yang hendaknya senantiasa ditebus dengan rasa dan dibeli dengan jiwa. Tidak banyak yang mampu melakukan kejujuran itu, tidak banyak orang yang memperjuangkannya, tidak banyak orang yang berminat menyebarkannya. Padahal bagi seorang beriman tak ada pilihan lain kecuali jujur saat bicara, jujur saat bersaksi, jujur kala bertransaksi, jujur kala berjanji. Jujur menjadi mahkota yang senantiasa menempel di kepala seorang mukmin.

9. Hak Menepati Perjanjian
Hak menepati perjanjian yang pertama kali  Allah ajarkan adalah menepati perjanjian dengan Allah وَبِعَهۡدِ ٱللَّهِ أَوۡفُواْ‌ﭳ    (dan penuhilah janji kalian kepada Allah). Janji kita kepada Allah adalah bahwa kita akan menaati-Nya, shalat, ibadah, hidup dan mati kita hanya kita lakukan karena Allah. Termasuk hak Menepati perjanjian yang Allah ajarkan adalah menepati perjanjian dengan siapapun, meskipun dengan orang kafir.

10.  Hak Beragama
Hak beragama adalah hak untuk mengikuti jalan yang selamat. Islam adalah jalan selamat.
وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٲطِى مُسۡتَقِيمً۬ا فَٱتَّبِعُوهُ‌ۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ وَصَّٮٰكُم بِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تَتَّقُونَ (153 ) الأنعام : 153
 (dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa)
Jalan Islam, jalan kebenaran yang mengantarkan manusia pada kedamaian. Jalan yang mengantarkan manusia pada kekokohan dan kekukuhan. Jalan yang senantiasa terang karena senantiasa bertaburan cahaya, bermandikan nur yang memancar dari keimanan yang kuat, ibadah yang lurus dan ihsan yang terus menanjak

Penulis: Ustad Solihin Bunyamin L.c

05.56 | 0 komentar

Makna Berlindung Kepada Allah

Written By Rudianto on Kamis, 02 Mei 2013 | 00.06


أَعُوْذُ بِاللهِ (aku berlindung kepada/ dengan Allah). Berlindung kepada Allah artinya memohon perlindungan kepada Allah dengan apa dan bagamana pun caranya Allah melindungi. Berlindung dengan Allah artinya menjadikan Allah sebagai benteng perlindungan yang sekuat-kuatnya. 
مِنَ الشَّيْطَانِ (dari syaithan), dari godaan, tipuan, kedengkian, cekikan, syair-syair dan segala sifat, perilaku dan tipu daya syaithan. Syaithan adalah sifat yang melekat pada setiap jin dan manusia yang membangkang perintah Allah.
 
الرَّجِيْمِ (yang terkutuk/ dirajam). Syathan bukan saja dikutuk dengan dijauhkan dari rahmat Allah dilaknat dan didoakan celaka, tetapi memang ia rajim (dirajam) dengan batu sampai mati, seperti firman Allah:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar (perajam) syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (al-Mulk: 5). Sekaligus ayat ini menginformasikan kepada kita beberapa hal antara lain:
1. Betapa Agungnya Allah dengan segala kekuasaannya, di mana Ia menghiasi langit yang paling dekat dengan bintang-bintang sehingga tampak indah mempesona
2. luasnya jagat raya ini, di mana bintang-bintang berada di langit paling dekat
3. syaithan dirajam dengan bintang, menunjukkan ukuran besar syaithan dimaksud.

Kapan syaithan dirajam dengan bintang? (bersambung)
00.06 | 0 komentar

Manusia Dalam Neraca Masa

Written By Rudianto on Rabu, 24 April 2013 | 08.24



“Demi masa” (والعصر) demikian Allah bersumpah.  (والضحى) “demi dluha (والليل إذا يغشى) ” demi malam apabila gulita”  (والنهار إذا تجلى) “dan siang apabila benderang”.
Allah bersumpah dengan waktu, karena waktu memuat dan memiliki semua kejadian dan sejarah. Pergantian malam dan siang, terbit dan terbenamnya matahari, pergantian kekuasaan di negeri-negeri, berkembang-biaknya segala makhluk dengan segala prilaku dan siklus kehidupannya adalah kejadian yang membutuhkan waktu dalam prosesnya yang tidak sederhana. Manusia menganggap sederhana kelahirannya, padahal kelahiran manusia membutuhkan proses yang sangat dahsyat. Hujan dianggap biasa, keran ia terjadi setiap musim, padahal untuk bias hujan dibutuhkan proses yang tidak sederhana. Apabila turun, maka ia tidak pernah menghitung berapa ribu bahkan juta ton menyiramkan airnya untuk manusia. Kejadian-kejadian dahsyat yang semuanya membutuhkan waktu. Manusia bekerja membutuhkan cahaya siang, manusia tidur membutuhkan ketenangan malam.

 قل أرأيتم إن جعل الله عليكم الليل سرمدا إلى يوم القيامة من إله غير الله يأتيكم بضياء أفلا تسمعون ( 71 ) قل أرأيتم إن جعل الله عليكم النهار سرمدا إلى يوم القيامة من إله غير الله يأتيكم بليل تسكنون فيه أفلا تبصرون ( 72 ) ومن رحمته جعل لكم الليل والنهار لتسكنوا فيه ولتبتغوا من فضله ولعلكم تشكرون ( 73 )

(71) Katakanlah: "Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka Apakah kamu tidak mendengar?"
(71) Katakanlah: "Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?"
(73) dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan  supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

“ Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu”, tentu jawabannya adalah bahwa planet-planet bergerak  dan alam terbentang meluas, semuanya atas kekuasaan Allah yang Maha Perkasa dan Bijaksana dengan segala ilmu-Nya yang tanpa batas.
Allah bersumpah dengan masa, ada apa?
إن الإنسان لفي خسر
“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi” (al-‘Ashr:2). Suatu informasi yang tegas, jelas dan lugas. Informasi yang mengingatkan manusia bahwa hidup ini adalah perniagaan yang sungguh-sungguh menjadikan manusia merugi, modal berkurang atau bahkan pailit. Manusia dalam keadaan merugi. Betapa banyak manusia yang dengan akalnya dapat berbeda dari binatang, tetapi justru binatang lebih mulia dari manusia. Manusia Allah ciptakan dari bahan yang hina, tiba-tiba dia menjadi pembangkang Penciptanya, kufur, nifaq.. rugilah dia.
خلق الإنسان من نطفة فإذا هو خصيم مبين
Allah telah menciptakan manusia dari “nuthfah”, tiba-tiba dia menjadi pembantah  yang nyata (annahl: 4).
Hidup adalah niaga. Niaga bersama Allah. Allah memberi modal berupa nyawa, akal, nurani dan segenap fasilitas hidup buat mausia agar dikelolanya menjadi untung yang besar. Untung yang besar itu adalah jaminan keselamatan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:
ياأيها الذين آمنوا هل أدلكم على تجارة تنجيكم من عذاب أليم ( 10 ) تؤمنون بالله ورسوله وتجاهدون في سبيل الله بأموالكم وأنفسكم ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون ( 11 ) يغفر لكم ذنوبكم ويدخلكم جنات تجري من تحتها الأنهار ومساكن طيبة في جنات عدن ذلك الفوز العظيم ( 12 )وأخرى تحبونها نصر من الله وفتح قريب وبشر المؤمنين ( 13 )
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
13. dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat
(waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Hai orang-orang beriman, engkau berbeda dari orang-orang kafir, maka bersikap bedalah! Maukah Aku tunjukkan kepadamu akan perniagaan yang menguntungkan, yaitu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari siksa yang pedih? Betapa banyak orang berniaga, tetapi berujung pada neraka. Betapa banyak orang bekerja keras, tetapi tidak memperoleh surga. Harta dan jabatan, prestasi dan kebanggaan, semuanya dapat menjadi modal masuk neraka. Ooh betapa ruginya!
Allah member informasi penting tentang perniagaan yang menguntungkan manusia dan membebaskannya dari neraka, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwa. Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, boleh jadi kita telah melakukannya. Tetapi merawat iman agar tetap kokoh, sudahkah kita melakukannya? Tahukah Anda, bagaimana iman itu dipelihara dan diperkokoh? Dia diperkokoh dengan ilmu dari al Qur’an dan al Sunnah. Dan itulah yang Rasulullah s.a.w. lakukan terhadap para sahabatnya. Memperkokoh iman dengan pengetahuan akan yang hak, yang benar.
Jihad. Sudahkah kita melakukannya? Oo, pertanyaan yang mengerikan. Kaya, tetapi tidak berjihad dengan hartanya. Pandai, tetapi tidak berjihad dengan ilmunya. Kuat, tetapi tidak berjihad dengan kekuatannya untuk membela dan mempertahankan yang hak dan mengusir yang bathil dengan aturan yang benar.
Manusia tidak akan berjihad manakala akalnya hanya berfikir bagaimana memenuhi hasrat syahwatnya. Syahwat harta, kedudukan (jabatan politik atau pengaruh) dan sex tidak terpuji. Agar tidak merugi, maka jadilah orang beriman, berjihad dan bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan yang baik-baik dan saling memberikan dukungan untuk mempertahankan yang hak dan kesabaran. Itulah yang Allah katakan:
 إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Kecuali orang-orang yang beriman, saling berpesan pada yang hak dan saling berpesan pada kesabaran.
Sungguh ini adalah ayat yang sangat menarik, jelas, tegas dan lugas. Banyak orang beriman tetapi malah mengerjakan yang buruk atau bekerja dengan kwalitas kerja yang tidak baik, tidak professional. Perhatikanlah seluruh ayat Al-Qur’an yang membicarakan kebahagiaan, pasti informasinya bahwa kebahagiaan tempatnya adalah iman dan bekerja secara baik dan mengerjakan yang baik-baik (amal shalih) sesuai ukuran syar’i.
Di dalam bahasa Indonesia, pengulangan kata dianggap pemborosan dan tidak efisien. Di dalam bahasa Arab, justeru pengulangan bias berarti penegasan. Allah berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“saling berpesan pada yang hak dan saling berpesan pada kesabaran.” (al’Ashr:3)
Saling berpesan, memberikan support, dukungan moril, nasihat, informasi barguna untuk menjalankan yang hak adalah prilaku yang harus dijalankan dan dipertahankan, karena menjalankan yang hak itu berat. Oleh karenanya support dan dukungan itu penting agar yang hak dapat terus dilaksanakan dan bertahan. Demikian juga untuk bersabar. Support itu penting. Sabar untuk tidak berbuat maksiat, tenttu sangat berat. Sabar untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu tidaklah ringan. Sabar ketika tertimpa musibah, tentu tidaklah mudah, karena membutuhkan kekuatan batin untuk merelakan bahkan mensyukurinya, karena di balik musibah ada ampunan dosa, rahmat, berkah, palajaran penting dan peningkatan derajat iman dan kemuliaan di sisi Allah. Sabar untuk berjihad, berjuang dengan harta untuk memerangi kemiskinan, berjihad dengan ilmu untuk memerangi kebodohan, berjihad mengangkat senjata demi mempertahankan keadilan, tentu itu semua membutuhkan strategi dan kerja sama yang solid agar semuanya bias berjalan dengan baik.

Penulis : Ustadz Sholihin Bunyamin Lc
08.24 | 0 komentar

DZIKIR

Written By Rudianto on Senin, 26 November 2012 | 21.42

Ketahuilah dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang” (13:28) Adakah diri seringkali terdetik di kalbu, perasaan ingin disenangi oleh Allah? Sifat manusia mudah alpa dan lengah, menginginkan yang dhahir dan duniawi yang terlihat, ingin dikasihi manusia. Padahal kemauan untuk mendekat kepada Ilahi, awal lahirnya hablun minannas lebih kukuh dan erat, karena lahirnya keridhaan Allah.

Seorang sahabat yang bernama Zaid al- Khair bertanya kepada Rasulullah saw, akan peri gusar hatinya bila mengenang perasaan, adakah dirinya disenangi oleh Tuhan semesta alam. Perasaan tersebut yang mengganggu hati, diungkapkan kepada Nabi dengan harapan akan reda keresahan yang melanda dengan kata-kata Nabi yang menenteramkan jiwa. Baginda bertanya, “ Bagaimana keadaan kamu pada pagi hari ini wahai Zaid?” Jawaban Zaid yang patut bagi diri untuk meneladaninya. Pertama, kata Zaid, akan perasaan senangnya dia pada kebaikan yang berlaku. Kedua, dia merasa senang pada orang-orang yang melakukan kebaikan. Ketiga, dia sendiri merasa senang bilamana dirinya sendiri berbuat kebaikan dan Keempat, dia merasa susah hati tatkala kesempatan untuk berbuat kebaikan itu hilang.

Rasulullah saw menyambut kata-kata Zaid ini dengan menyatakan bahwa inilah tanda-tanda orang yang dikehendaki dan disenangi oleh Allah swt dengan kehendak yang baik. Perasaan yang hakiki apabila merasa diri dekat kepada Allah s.w.t, menjadi hamba-Nya yang kukuh iman dan teguh sifat ihsan. Merasa sepi apabila diri tidak sujud syukur di sepertiga malam, gembira menabur bakti kepada segenap ruang kebaikan dan menginsafi akan dosa-dosa yang acapkali mengikat hati ke arah pintu kebatilan. Tidakkah diri ingin Allah merasa senang kepada diri kita.

Dikurniakan ibadah dzikir kepada manusia, agar manusia menggunakannya sedaya mungkin, menjadikan Allah sebagai pusat segala kebajikan, ibadah dan perilaku. Inti yang terbit dari rasa syukur yang melangit, menyejukkan hati dan senantiasa mengingatkan akan kekerdilan manusia yang hina. Pertolongan dari Allah dan dengan ketaatan tersebut akan Allah balas dengan kecintaan, suatu yang sungguh mahal dan hanya yang istiqamah dalam mujahadah yang mampu menggapainya. Hadits dari Muadz bin Jabal r.a. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Bahwa penghuni- penghuni syuga setelah tibanya di syurga tidak akan menyesal dan tidak akan berdukacita mengenai suatu apapun kecuali masa yang telah berlalu dalam dunia tanpa dzikrullah.”
21.42 | 0 komentar

HAKIKAT SABAR

Written By Rudianto on Rabu, 17 Oktober 2012 | 09.57

Sabar merupakan pertarungan di antara kehendak agama dengan kehendak hawa. Bagi mukmin, dalam apa keadaan pun, dia akan berusaha memenangkan kehendak agama. Pertarungan di antara kehendak agama dan kehendak hawa dalam diri manusia terbagi kepada 3 keadaan.

Pertama: Kehendak hawa yang telah berjaya ditundukkan. Hawa tidak ada lagi kekuatan untuk berperang dengan agama. Mereka yang mempunyai hal seperti ini akan mampu bersabar dalam setiap keadaan. Mereka dinamakan al-Zafirin (Orang-orang yang berjaya). Golongan ini sedikit sekali, mereka inilah
orang-orang siddiqin dan muqarrabin yaitu mereka yang mengatakan "Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul.

Kedua: Kehendak hawa selalu mengalahkan kehendak agama. Kehendak agama telah tersungkur tidak mampu melawan, lalu menyerah kepada tentara-tentara syaitan. Manusia dalam hal seperti ini terlalu banyak. Mereka inilah al-Ghafilun (orang-orang yang lalai). Mereka ini telah dirompak oleh syahwat mereka sendiri.
Mereka ini disebut di dalam al-Qurâan sebagai "Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia (dan kesenangannya) dengan (meninggalkan perintah-perintah Allah yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan) akhirat.

Ketiga: Senantiasa berlaku pertarungan sengit di antara dua tentara, tentara agama dan tentara hawa nafsu. Kadang-kadang kehendak agama yang menang, kadang-kadang pula hawa nafsu yang menang. Mereka ini dinamakan mujahidin. Kenapa sekejap kehendak agama yang menang, dan sekejap kalah? Karena, ahwal
golongan ini, yang bercampur-campur antara amalan baik dan jahat. Semoga Allah memberi keampunan kepada golongan ini. (Mungkin kita duduk di sini).

***
Sabar taat menjalani perintah-Nya. Sabar meninggalkan larangan dan maksiat. Sabar dengan musibah yang menjadi takdir Allah. Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istri dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): Salamun 'alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(QS.13: 22-24)

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS Az-Zumar [39]:10).

Jangan kamu mengambil ilmu dari orang yang mengambil benda dunia di atas ilmunya. (Imam Ahmad)
09.57 | 0 komentar

SABAR DAN RIDHO

Written By Rudianto on Selasa, 16 Oktober 2012 | 21.12

Hanya Allah sajalah yang tahu, bagaimana sukarnya untuk menulis ini. Tentang sabar dan ridha. Kesukaran untuk menulis itu karena sifat sabar dan ridha belum menjadi pada diri. Walaupun sudah membaca dan memahami berkali-kali beberapa risalah dan juga buku-buku lain, laa hawla wa la quwwata illa billah, masih tak mampu untuk menulis. Dengan sedaya upaya, coba menulis ini, semoga ada manfaat untuk diri dan sesiapa saja.

Di dalam al-Qur’an al-Karim, Allah menyebut tentang sabar lebih dari 70 tempat. Pelbagai kebaikan, kelebihan dan derajat disandarkan kepada sabar. Memang sangat beruntung Mukmin yang bersabar. Beberapa ayat dalam al-Qur’an terdapat dalam Surat al-Nahl:96, al-Zumar:10, al-Baqarah:249 dan ayat-ayat yang lain lagi.

Sabar merupakan satu bentuk ‘ibadah yang ganjarannya tidak terhitung, tidak dilimitkan pahalanya. Di sisi Allah, Mukmin yang sabar mempunyai kedudukan yang sangat istimewa. Sehingga telah dijanjikan, Allah bersama-sama mereka yang sabar, Innallaha ma’a al-sabirin. Apakah lagi yang kita maukan? Bukankah Allah segala-galanya?

Langit dan dunia serta segala isinya, sudah tidak penting lagi. Biarlah kita hilang segala-galanya, asalkan Allah mau bersama kita. Bukankah Allah menjamin Dia akan tetap bersama kita kalau kita bersabar? Marilah kita sambut jaminan Allah itu. Mungkin kita mempersoalkan bagaimana bentuk sabar? Bila dan dimana harus bersabar?

Sampai bila kita harus bersabar? Dengan membuka lembaran lembaran  Al-Qur’an terutamanya surah al-Anbiya’, dapat melihat kesabaran para Nabi. Memang merekalah contoh terbaik, untuk kita  enenangkan hati kita. Mungkin di saat kita merasa sempit dada, sedih, kecewa, putus asa dan sebagainya... marilah kita
putar ke belakang melihat orang yang telah berjaya hasil kesabaran mereka. Sungguh luar biasa. Sifat sabar dan ridha tidak akan terpisah dari benih terpenting yaitu iman. Dengan iman, akan mendorong kita kepada Tauhid yaitu mengesakan Allah semata-mata (Tauhid). Apabila kita mengesakan Allah semata-mata, kita akan meyakini RububiyyahNya. KeSultanan dan keRajaan Allah s.w.t. terhadap seluruh kainaat ini. Termasuk diri kita. Ya, diri kita ini, bukan milik kita, ia milik Allah ta’ala.

Kita sebagai manusia, hamba kepada Raja Yang Agung ini, sudah pasti akan tunduk dengan setiap perintah dan arahan Baginda Agung. Di sini akan lahirlah Ubudiyyah dari seorang hamba yang lemah kepada Dia yang berkuasa. Maka tersungkur sujudlah hamba lemah itu memohon dan berdoa...kepada Allah  semata-mata tidak pada yang lain.

Apabila seseorang itu memuji dirinya maka hilanglah cahayanya. (Imam Malik) Dari rasa sadar tentang Rububiyyah Allah ini lahirlah sifat tawakkal, setelah kita tahu dan yaqin hanya Dia yang memberi mudharat dan manfaat. Apa saja yang kita hadapi, ketakutan, resah gelisah dan sebagainya, akan kita serahkan
semata-mata kepada Dia. Kita akan hadapi penuh sabar dan ridha.

Sabar dan ridha sangatlah rapat hubungannya. Sabar mendahului ridha. Kita tidak bisa terburu-buru  memaksa diri berpakaian sabar dan ridha. Dua sifat ini akan menjadi pakaian kita apabila kita berusaha sedikit demi sedikit dan bermujahadah dalam hidup. Kita setiap hari belajar dari kesalahan dan kekurangan. Kita menuju kepada sesuatu yang lebih baik. Tujuan hidup manusia ialah ‘ubudiyah kepada Allah. Tunduk kepadaNya. Sehingga segala-galanya selaras, fisikal, mental, hati, roh, nafsu dan apa saja, tunduk pada kehendak Allah ta’ala. Jadi, sepanjang hidup kita ini adalah mujahadah menuju ke tingkatan manusia yang
lebih sempurna.

Allah ciptakan manusia tidak sebagaimana menciptakan hewan, beberapa hari atau beberapa bulan saja hewan sudah pandai berdikari. Hewan-hewan ini, dalam tempo tertentu yang sangat singkat sudah bisa
memahami tentang alam sekitarnya, cukup untuk ia hidup, mencari makan, menyelamatkan diri dari
musuh dan beranak pinak. Sedangkan manusia, 20 tahun belum tentu cukup untuk dia memahami asal usul kejadiannya, tujuan hidup, kesusahan dan kesulitan. Kenapa? Karena manusia telah Allah taklifkan sebagai
hamba dan khalifah. Pemikiran, keinginan, cita-cita, perasaan, perjuangan dan segala-galanya terlalu banyak yang ingin manusia fahami dan miliki.

Dan untuk mencapai kecemerlangan dunia dan akhirat banyak ujian yang perlu kita hadapi. Segala ujian dan masalah inilah yang menceriakan hidup kita. Warna-warni hidup ini menjadikan kita “hidup” tidak “mati”. Kalaulah hidup ini tanpa masalah, kesedihan, kesulitan, perpisahan, kesakitan, kehilangan tak ada makna lah hidup. Kehidupan dengan satu warna, tanpa ujian begini lebih dekat kepada “tiada” yaitu "mati". Di dalam hidup kita, kita tidak akan lepas dari dua keadaan. Satu, keadaan yang disenangi oleh diri dan nafsu kita. Keduanya, keadaan yang sebaliknya. Kedua-dua keadaan ini mesti kita hadapi dengan sabar dan ridha.

Keadaan pertama contohnya, kesehatan, keamanan, makanan yang lezat, pakaian yang cantik, rumah
yang luas, harta dan pangkat, suami dan isteri yang membahagiakan, anak-anak yang cerdik dan taat, kejayaan dalam pelajaran, kawan-kawan yang menggembirakan, pujian dan sanjungan serta pelbagai lagi yang disenangi oleh diri kita.

Keadaan kedua yang tak disenangi oleh nafsu dan diri pula seperti, kematian orang yang disayangi, perpisahan, musibah, kecurian, penghinaan, penipuan, peperangan, penyakit yang tiba-tiba datang menimpa, pengkhianatan kawan dan saudara, anak-anak yang menguji ibu bapak, kemiskinan, kelaparan dan sebagainya. Dua situasi ini datang pergi silih berganti, dan kedua-duanya perlu ditangani dengan sabar dan ridha.
21.12 | 0 komentar

IKHLAS

Written By Rudianto on Rabu, 12 September 2012 | 22.14

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Az-Zumar [39]: 11)
***
Acapkali diri dihantui persoalan ikhlas, ingin sangat menjadi hamba Allah yang ikhlas. Hati ini kotor, banyak ego. Syok sendiri. Perasaan bangga. Hati menangis dan menjerit. Jiwa sengsara karena mengenangkan diri kotor, sarat ego diri. Diri terlalu lemah. Betapa diri mengharapkan keikhlasan itu menyerap masuk ke dalam pembuluh darah dan mengalir meratai seluruh jasad dan anggota.

Tak semestinya diri tersilap, keikhlasan itu bukan penampakan lahiriyah atau suatu bahan kimia dari luar yang perlu dialirkan masuk ke dalam hati. Ikhlas itu suatu anugerah... hadiah Allah. Dianugerahkan kepada hamba yang senantiasa merasa diri lemah, hina, berserah, khudu', khusyuk kepada Allah. Bila di dalam hati terselip rasa hebat, rasa perasaan bangga, gemar disebut-sebut namanya, ingin manusia lihat perbuatannya, itu
ego diri pada hakikatnya. Ananiyah, keakuan. Ananiyah bahaya karena sifat itu menjadikan lupa kepada Allah yang Maha Memberi dan Dia yang mengurniakan semua kelebihan.

Diri merasa, rasa kembang dan syok sendiri. Lupa bahwa kelebihan itu hanya dipakaikan Allah kepada diri kita. Hiasan Allah. Ia milik Allah, kalau Allah cabut kelebihan itu... bukankah tiada apa yang tinggal?

Hamba yang paling ikhlas, memiliki rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhannya dan bisikan kecil hatinya saja. Hatta malaikat tidak tahu rahasia itu, syaitan durjana tidak mampu dan tidak sampai tangan untuk menyentuh hati sanubari manusia ikhlas. Pandangan manusia yang hasad juga tidak jatuh dan berupaya
mengganggu mereka yang ikhlas. Seringkali diri menyangka terselamat dan terlepas dari tipudaya syaitan dan hawa nafsu.

Semakin meningkat ilmu, amal dan kehidupan dunia, semakin halus tipudaya dan semakin sukar dikesan. Hanya yang ikhlas li wajhillah dapat terselamat. Beruntunglah manusia ikhlas...segala-galanya  dipersembahkan untuk Allah semata. Syaitan dan nafsunya sendiri tidak tergapai tangan menggelitik keikhlasan hatinya. Manusia inilah yang selamat. Mudah-mudahan kita semakin mendekati keikhlasan. Segala-galanya untuk Allah, dari Allah, bersama Allah. Ya Allah, bantulah aku mencipta keikhlasan
dalam setiap hela nafas yang ku hembuskan, dalam setiap nawaitu yang ku tajdidkan,dalam
setiap amal yang ku tekadkan..

Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub karena suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka
kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu. (Abu Bakar)
22.14 | 0 komentar

Antara Debat Terpuji dan Tercela

Written By Rudianto on Kamis, 30 Agustus 2012 | 07.55

Siapa saja yang mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah serta atsar para Salaf tentu akan mendapati anjuran beradu argumentasi dan berdebat. Di antaranya adalah firman Allah SWT, "Serulah
(manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (Qs. An-Nahl:125).

Dan firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik," (Qs. Al-Ankabuut: 46). Ayat-ayat dalam Kitabullah tidaklah bertentangan satu sama lainnya, bahkan saling membenarkan. Jidal dan debat yang dicela dalam Al-Qur'an tidak sama dengan jidal dan debat yang dianjurkan.

Adapun jidal yang tercela disebutkan dalam firman Allah SWT, "(Yaitu) orang orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman." (Qs. Ghaafir: 35).

Jidal yang tercela adalah jidal tanpa hujjah, jidal dalam membela kebathilan dan berdebat tentang Al-Qur'an untuk mencari-cari fitnah dan takwil bathil.

Adapun jidal yang terpuji adalah nasehat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para imam dan segenap kaum Muslimin. Nabi Nuh As sering beradu argumentasi dengan kaumnya hingga beliau menegakkan hujjah atas mereka dan menjelaskan kepada mereka jalan yang benar. Allah SWT berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami," (Qs. Huud: 32).

Demikianlah sunnah Rasulullah saw. dan sirah (sejarah hidup) generasi Salaf terdahulu r.a. Jidal yang terpuji tujuannya adalah membela kebenaran dan untuk mencari kebenaran, untuk menampakkan kebathilan dan menjelaskan kerusakannya. Adapun jidal yang tercela adalah sikap menentang dan bersitegang urat leher
dalam adu argumentasi untuk membela kebathilan dan menolak kebenaran.

Ibnu Hibban berkata (IV/326), "Jika seseorang berdebat tentang Al-Qur'an, maka apabila Allah tidak melindunginya ia akan terseret kepada keraguan dalam mengimani ayat-ayat mutasyabihat. Jika sudah disusupi keraguan, maka ia akan menolaknya. Rasulullah saw menyebutnya sebagai kekufuran yang
merupakan salah satu bentuk penolakan yang berpangkal dari perdebatan."

Seorang Muslim mengimani seluruh ayat-ayat Al-Qur'an, yang muhkam maupun yang mutasyaabih. Jika ia tidak mengetahui, hendaklah bertanya kepada ahli ilmu atau menyerahkan masalah kepada orang yang mengetahuinya. Ia tidak bertanya kepada orang yang tidak mengetahuinya.Perselisihan tentang Al-Qur'an dapat menyeret kepada sikap mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Kemudian dari situ akan muncul sikap melepaskan diri dari hukum-hukumnya dan mengubah hukum halal haramnya. Kemudian akan berlakulah sunnatullah pada ummat terdahulu atas orang-orang yang saling berselisih itu, yakni kebinasaan dan kehancuran.
07.55 | 0 komentar

SEDIH

Written By Rudianto on Minggu, 26 Agustus 2012 | 07.17

DALAM meniti liku-liku kehidupan ini, diri
seringkali merasa kecewa. Kecewa karena
sesuatu yang terlepas dari genggaman tangan,
keinginan yang tidak kesampaian, kenyataan
yang tidak dapat diterima.. dan akhirnya ia
mengakibatkan sesuatu yang mengganggu jiwa
dan perasaan.

Hidup ini ibarat sebuah belantara. Tempat
diri mengejar segala keinginan dan memang
manusia diciptakanNya mempunyai kehendak dan
keinginan. Namun, tidak semua yang diri inginkan
akan tercapai, tidak setiap yang diri idamkan
mampu menjadi realita. Dan, bukan sesuatu yang
mudah untuk menyadari dan menerima kenyataan
bahwa apa yang bukan menjadi milik diri tidak
perlu ditangisi. Banyak orang yang tidak sadar
bahwa hidup ini tidak punya satu hukum, yaitu;
diri mesti berjaya, mesti bahagia atau yang
lainnya.

Berapa banyak orang yang berjaya tetapi
lupa bahwa segalanya adalah pemberian Allah
yang Maha Pemurah sehingga kejayaan itu
membuatnya sombong dan bertindak mengikut
nafsunya. Begitu juga kegagalan sering tidak
dihadapi dengan tenang dan sabar, padahal
dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak
tercapainya apa yang memang bukan hak kita.
Apa yang memang menjadi hak diri di dunia,
pasti akan Allah tunaikan. Namun apa yang
memang bukan miliknya, ia tidak akan mungkin
dimiliki, walaupun ia mungkin telah mendekati diri,
walaupun diri telah bermati-matian
mengusahakannya. Seorang mukmin tidak akan
bersedih ketika ditimpa musibah, malapetaka, dan
sebagainya. Tetapi dia bersyukur kepada Allah
dan menjadikan musibah itu sebagai peringatan
dari Allah terhadap dirinya.

Oleh itu, bila seorang mukmin merasa sedih
ketika ditimpa musibah, maka dia bukan mukmin
sejati. Sebab, apa pun musibah yang menimpa
seorang mukmin, selalu menguntungkan dirinya,
sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah
hadits: “Sungguh menakjubkan! Urusan orang
mukmin selalu menjadi hal yang menguntungkan
bagi dirinya. Dan yang demikian itu hanyalah
dialami oleh seorang mukmin.”

Seorang mukmin bila ditimpa kesusahan,
dan dia mengingat Allah, dengan jalan itulah dia
akan memperoleh jalan penyelesaian yang
terbaik. Dia tidak merasa tekanan batin dalam
bentuk apapun, karena penderitaan yang paling
berat sekalipun, pasti ada jalan penyelesaiannya.

Seorang mukmin adalah selalu mengingat
Allah dalam keadaan ditimpa penderitaan yang
amat sangat sekalipun, baik dengan mengucap-
kan tasbih, takbir, istighfar, doa maupun dengan
membaca Al-Quran, sehingga membuat jiwanya
bersih, bening, perasaannya tenang dan
tenteram.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Ingat akan
Allah adalah penawar kalbu,” diriwayatkan oleh
Ad-Dailami oleh Anas.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah
berduka lara, mendengarkanlah firman Allah
SWT, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi
kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak
mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau
hanyut dalam dalam nestapa yang berpanjangan
terhadap apa-apa yang terlepas dari
genggaman, dari dekapan. Melihat di sekeliling,
kemudian bercerminlah diri sendiri. Andai kita
tidak kenal siapa yang ada di dalam cermin itu,
mulai hari ini ada baiknya mulakan mencari diri
sendiri!

Manusia yang mulia adalah yang menyadari
dengan sepenuh hati bahwa dia hanyalah hamba,
benar-benar hamba, dalam pengertian hamba
yang sebenar-benarnya, baik secara teori
maupun praktikal. Dia hanya berfikir bagaimana
memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini,
semata-matamengharap cintaNya,
keridhaanNya, dan lebih dari itu karena dia
mencintai Allah, terpesona kepada keindahan
Maha Pencipta, mabuk kepayang dengan
‘kecantikan’ Maha Pemurah.

Andai ternyata keinginannya tidak selaras
dengan keinginan Allah SWT, ternyata apa yang
diharapkannya esok hari tidak menjadi nyata,
malah yang terjadi adalah sesuatu yang
sebaliknya, maka diri mesti tetap ikhlas! Menerima
semuanya dengan senyum yang mengembang,
dengan ridha yang tidak terhitung. Hidupnya
hanya untukNya. Allah tujuan hidup, sebaik-baik
tujuan hidup! Sedang yang lainnya adalah
wasilah, alat, bekal, modal untuk mencapai
keridhaan Allah SWT.

Maka wahai diri, jangan kau tangisi apa
yang bukan milikmu! Karena, ia memang bukan
milikmu! Maka, bersihkan hatimu, ikhlaslah.. ridha
dengan ketentuanNya. Karena, diri ini adalah
sebenar-benar hamba! Moga diri lebih kuat dan
dekat kepadaNya.

“..... karena itu Allah menimpakan
kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu
tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput
dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu.
Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”
(QS 3 : 153)

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan,
Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa)
kantuk yang meliputi segolongan dari kamu,
sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh
diri mereka sendiri.. Katakanlah (Muhammad),
“Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Al-
lah.”.. Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan
apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha
Mengetahui isi hati.” (QS 3 : 154)

***
Apa yang berada dibelakang kita dan apa yang berada
di hadapan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa
yang berada di dalam diri kita sendiri.

07.17 | 1 komentar

ARTI SUKSES MENURUT ISLAM

Written By Rudianto on Sabtu, 25 Agustus 2012 | 16.24

Semua orang ingin sukses, tapi tidak semua orang berhasil sukses. Kenapa? Masalahnya cuma satu: gagal menemukan arti sukses sebenarnya.

Ada orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang sederhana. Akhirnya, ia pun merasa sudah mencapai sukses meski tanpa berbuat apa-apa. Mengalir seperti air apa adanya, begitu katanya.

Ada juga orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang rumit. Akhirnya, ia pun merasa sulit mencapai sukses, ya sudah mau bilang apa? pasrah aja, barangkali sudah takdir, begitu katanya.

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?

Sukses adalah sebuah pencapaian. Apa yang hendak dicapai?
Sukses adalah bergerak maju mencapai tujuan. Kemana hendak dituju?
Sukses adalah mendapatkan sesuatu yang dikehendaki. Apakah itu?
Sukses adalah sebuah proses perjalanan. Tanpa mendapatkan sesuatu?
Sukses adalah memperoleh penghargaan. Dari siapa?

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?

Mari kita bertanya kepada Yang Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.

Dia berfirman:
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab
yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka
apakah kamu tiada memahaminya? (QS. 21:10)

Kemuliaan = Kesuksesan, setuju kan?

Kalau begitu, mari kita membaca Alquran untuk memahami:

Apakah arti sukses?
Bagaimanakah mencapai sukses?
Siapakah orang sukses itu?
Apakah arti sukses?

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya
pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka
sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)

Jadi, sukses adalah masuk surga. Terserah apa profesi kita hari ini, yang penting kita bisa masuk surga. Setuju?

Bagaimanakah cara mencapai sukses? Bagaimanakah cara masuk surga?

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ
قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal
belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-
orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka
dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-
macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah.
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
(QS. 2:214)

Sukses bukan khayalan. Sukses hanya dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan. Berat ya? jangan khawatir, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Allah akan menolong kita sebagaimana Allah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman sebelum kita.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang
yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya
saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)

Duh! pantaskah kita mendapatkan pertolongan Allah?
Bukan soal pantas tidak pantas, yang jadi soal, apakah kita sedang berjuang mencapai sukses hingga Allah berkenan memberikan pertolongan-Nya? Siapa yang berjuang, dialah yang ditolong.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu. (QS. 47:7)

Nah, jika Allah sudah memberikan pertolongan, apakah masih terasa berat perjuangan menuju sukses sejati?

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat
mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak
memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat
menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu
hendaknya kepada Allah saja orang-orang mumin bertawakkal.
(QS. 3:160)

Bertawakkal kepada Allah = menyerahkan segala urusan kepada Allah = menyelesaikan segala urusan dengan cara-cara Allah = caranya pakai cara Allah, ya hasilnya terserah Allah. Habis perkara.
Kalau mau pakai cara-cara sendiri, ya sudah selesaikan sendiri. Rugi ga ditanggung ya.. :-)

Jadi, bagaimana soal urusan mencapai sukses sejati, yaitu mencapai surga?
Jawabnya cuma satu: pakai cara Allah, jangan pakai cara sendiri!
Bagaimanakah cara Allah yang harus kita terapkan untuk mencapai sukses sejati?
Nah, untuk dapat menjawabnya, kita harus selesaikan pertanyaan ketiga: Siapakah orang sukses itu?

Tapi bahasannya sudah terlalu panjang ya.. bagaimana kalau di lanjut di bahasan berikut? setuju kan?
Bagi yang setuju silakan aminkan doa ini:
"Ya Allah sukseskanlah untukku agamaku, karena ia adalah benteng keselamatan urusanku. Sukseskanlah untukku duniaku, karena ia adalah tempat kerjaku. Sukseskanlah untukku akheratku, karena ia adalah tempat kembaiku. Jadikanlah waktu hidupku penambah setiap kebaikan, kematiaanku pemutus setiap keburukanku" (HR. Bukhari)
16.24 | 3 komentar

TERBAIK

"Sesungguhnya Allah mengasihi orang yang banyak bertaubat dan orang yang menyucikan diri." (Qs. al-Baqarah : 22)

Tak semestinya seorang yang jahat akan
terus dalam kejahatan ... dan tak semestinya
seorang yang wara' akan terus berada dalam
wara'. Ada yang melakukan dosa dan
kemudiannya mendapat hidayah dan menjadi or-
ang yang bertakwa ... tetapi ada yang 'alim dan
wara' yang takabur dan ujub sehingga tersesat
dalam terang.


Tidak ada seorang pun yang tidak
melakukan dosa... dan sekiranya Allah tidak
mengampunkan dosa, niscaya tidak ada seorang
pun yang akan terselamat dari jahannam.
"Setiap anak cucu Adam adalah pelaku dosa
dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah
mereka yang bertaubat." ( HR Ibn Majah)

Dosa itu ada untuk membuktikan sifat
pengampun dan pengasih Allah SWT. Ada orang
diuji dengan dosa dan kejahatan... ada juga diuji
dengan amal ma'ruf dan nahi mungkar. Sekali pun
seseorang pernah berdurhaka kepada orang tua,
berzina, menganiaya orang lain, tetaplah
bersangka baik kepada Allah.

Dari Anas, Allah ta’ala telah berfirman:
“Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan
berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak
Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit,
bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku
memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam,
jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa
sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada
menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. HR. Tirmidzi, Hadits hasan
shahih.

Nasehat Luqmanul Hakim kepada anaknya:
"Janganlah engkau undurkan melakukan taubat,
sebab kematian datangnya tiba-tiba, sedang
malaikat maut tidak memberitahukannya terlebih
dulu."

"Barang siapa yang bertaubat sesudah
melakukan kejahatan, lalu memilih jalan lurus.
Maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya
d a n Tu h a n it u M a h a Pe n g a m p u n M a h a
Penyayang." (Qs. al-Maidah : 39)

Allah SWT juga berjanji akan menempatkan
orang bertaubat dalam syurga yang penuh
kenikmatan, seperti firman-Nya yang bermaksud:
"Wahai orang beriman, bertaubatlah kamu
kepada Allah dengan taubat nasuha. Mudah-
mudahan Tuhan kamu menghapuskan kesalahan
kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang
mengalir di bawahnya beberapa sungai." (Surah
at-Tahrim, ayat 8)



******
Kita tidak berdaya untuk megubah masa lalu tetapi
sesungguhnya, dapat menghancurkan masa kini dengan
merasa khawatir tentang masa depan.
06.29 | 0 komentar

Satu Jiwa, Sejuta Manfaat

Written By Rudianto on Minggu, 15 Juli 2012 | 08.32

Subhanallah maha suci Allah swt yang telah menciptakan segala apa yang ada di bumi ini dengan penuh hikmah. Tidak ada kesia-siaan dalam ciptaan Nya. "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imron: 191)

Allah telah memerintahkan umat Islam untuk selalu berkaca dan mengambil palajaran dari apapun, termasuk dari hewan. Allah swt berfirman,
"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu." (An-NahI:66)
Dikisahkah, ada seorang panglima perang yang bernama Timur Lenk. Dalam sebuah peperangan, pasukannya mengalam i kekalahan yang sangat menggenaskan. Pasukan musuh berhasil memporak-porandakan kekuatannya, sehingga prajurit Timur Lenk bercerai-berai dan melarikan diri.
Timur Lenk pun demikian, ia mundur ke hutan. Di sana, di sebuah gua yang teduh ia bersembunyi dari kejaran pasukan musuh. la belum bisa menerima kekalahan ini. Hampir saja ia putus asa, tatkala ia merenungi kekalahannya, tiba-tiba, matanya melihat seekor semut yang sedang berusaha menaiki sebuah batu licin dihadapannya.

Berkali-kali semut itu gagal, setiap ia berusaha untuk mendaki pasti terjatuh, namun ia tidak putus asa, ia memutari batu tersebut dan menaikinya dari sisi-sisinya yang lain. Seorang diri Timur Lenk memperhatikannya dengan seksama, seraya menghitung berapa kali semut itu jatuh. Dan untuk kesekian puluh  kalinya, ia berhasil menaiki batu tersebut. Seakan semut tersebut mengajarkan mental pejuang kepada Timur Lenk. Ia terilhami oleh semut kecil itu. "Saya baru kalah sekali, kenapa harus mundur dan takluk, tidak, aku berusaha keras, sekeras usaha semut ini." Pikir Timur Lenk. la bangkit dengan satu tekad, harus menang atau mati di medan laga sebagai pejuang. Setelah ia memobilisasi pasukannya, peperangan di lanjutkan. Konon, sejak itu ia memenangi banyak pertempuran. Sesibuk Apapun, Silaturahim Tetap Terjalin.Pernah suatu ketika, saya memperhatikan semut-semut yang beriring-iringan di kantor. Menakjubkan, setiap kali berpapasan dengan saudara-saudaranya yang berlawanan arah, mereka sempatkan diri untuk saling menyapa. Kata orang, mereka bersalaman.

Yang lebih menakjubkan, sesibuk apapun semut-semut tersebut, mereka tetap meluangkan waktunya untuk saling menyapa. Menyambung silaturahim. Walau ada beban di pundaknya, ia tetap tidak keberatan menerima uluran tangan temannya untuk bersalaman. Bahkan seringkali yang membawa beban terlebih dahulu menyalami kawan-kawannya.

lni adalah satu pengalaman hidup makhluk yang bisa dijadikan pelajaran oleh setiap manusia. Terutama para aktifis yang mendambakan kekuatan ukhuwah untuk membangun jaringan dakwah. Juga sangat balk dijadikan contoh oleh setiap dal. sesibuk apapun aktifitas dakwahnya, ia tidak boleh melupakan tegur sapa dengan tetangga-tetangganya, apalagi dengan keluarganya. Baik orang tua kandung-mertua maupun keluarga-keluarganya yang lain.

Hendaknya la meluangkan waktu untuk mengobrol atau mendengar apa yang menjadi keluhan ataupun harapan mereka. dengan tegur sapa ini, ia sebenarnya telah membangun relasi dakwah dengan keluarga.
Terkadang, jika komunikasi antar aktifis balk dalam jama'ah yang sama maupun lain jama'ah akan menyebabkan hubungan yang kurang harmonis bahkan keretakkan ukhuwah. Yang Iebih ekstrim, rasa curigamencurigai akan berkembang dan berakhir pada perselisihan yang akan melemahkan kekuatan.
"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (al-Anfal: 46)

Tidakkah kita belajar dari semut? Bukankah adanya penyebutan semut dalam al-Qur'an menjadi pertanda kelebihan hewan ini yang bisa diambil ibroh oleh umat Islam? Allah swt berfirman
"Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangsarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." (An-Naml: 17-18)

Satu Jiwa, Sejuta Manfaat

Merenungi ayat dalam surat An-Naml di atas, akan mengantarkan kita ke banyak pelajaran. Keunikan yang luar biasa dalam ayat tersebut adalah inisiatif jitu dari seekor semut. la menyeru kaumnya agar menghindar dari bahaya besar.

Sebagian ulama menyebutkan, seekor semut itu bukanlah semut raja, juga bukan panglima, tapi ia semut biasa. Namun, dahsyatnya, ia melakukan tindakan yang luar biasa, yaitu menyelamatkan kaumnya dari kebinasaan.

Ada rasa tanggung jawab yang luar biasa dari seekor semut ini. walau ia tidak pernah dilantik sebagai penjabat, ia tetap merasa bertanggung jawab atas keselamat bangsa dan keturunannya. Meskipun ia tidak pernah sumpah jabatan untuk amanah, jujur, dan bertanggung jawab untuk bangsanya, ia tetap merasa sebagai bagian dari komunitas smut yang harus memiliki kepedulian bagi masa depan komunitasnya.
Tidak sebagaimana para pejabat negara hari ini, walau sudah disumpah untuk setia dan bertanggung jawab atas keselamatan negeri serta bangsanya, tetap saja berani mengorbankan rakyat dan negerinya dengan korupsi atau menjual asset bangsa demi keuntungan pribadinya. Apalagi jika tidak di sumpah. Malulah pada semut!

Walau ia sendirian, semut itu tetap optimis untuk bisa berbuat banyak untuk komunitasnya. Ia menyeru kaumnya untuk segera masuk ke dalam lubangnya. Ada satu pelajaran yang bisa diambil; kesungguhan seorang individu untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat atau jama'ahnya sangat berarti.
Jangan sampai kesendirian di sebuah lingkungan menjadikan seorang muslim canggung atau enggan berdakwah. Berhenii berkarya bagi Islam, mandul tidak mewarnai lingkungannya.

Seringkali tuntutan dakwah dan hidup membuat seorang aktifis harus jauh dari komunitas ikhwan. Terkadang harus tinggal di lereng gunung, di mana masyarakatnya terbelakang secara ekonomi maupun pikiran. Kondisi ini, tidak jarang membuat aktifis meliburkan diri dari aktifitas dakwah dan iqomatuddin.
Lingkungan terkadang bisa menjadi guru yang terbaik dalam kondisi seperti ini. Banyak pelajaran yang bisa digali dari lingkungan kita yang tidak bisa didapatkan dalam lembaranlembaran kitab kuning. Semut di atas adalah salah satu guru terbaik di saat demikian.

Bukankah rasulullah saw sendirian dalam mendakwahkan tauhid ini? menentang derasnya jahiliyah pada masa itu. Sebelum kita ada Nabi Ibrahim AS yang menjadi tauladan dalam kesendirian saat berdakwah. Kesendiriannya tidak mematikan motivasi, inovasi dan iniasiatifnya dalam mendakwahkan akidah tauhid ini.
Mush'ab bin Umair pun mengawali dakwah di Yastrib, nama Madinah saat itu, juga sendirian. Dan umur beliau kala itu masih sangat muda, belum genap 27 tahun. Ya, satu jiwa, sejuta manfaat.
08.32 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung