Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan

HAKIKAT MUSIBAH DAN JENISNYA

Written By Rudianto on Sabtu, 12 Oktober 2019 | 23.47


Syeikh Abdul Qodir Jailani رضى الله عنه mengatakan :
"Musibah dari Allah adakalanya merupakan hukuman dan siksaan atas dosa dan maksiat. Bisa juga musibah merupakan penghapus dosa dan pengampunan.
Adakalanya musibah merupakan pengangkatan derajat dan kedudukan, seperti dialami orang-orang yang telah mendapat pertolongan Allah. Musibah yang mereka terima bukanlah untuk menghancurkan dan menghinakan mereka, melainkan untuk menguji dan memilih mereka. Musibah membersihkan hati mereka dari syirik serta kebergantungan pada makhluk dan sebab-akibat.
Setiap jenis musibah memiliki ciri masing-masing.
1. Musibah yang merupakan siksaan ditandai dengan ketidaksabaran dan keluhan kepada Allah saat musibah itu datang.
2. Musibah yang merupakan pengampunan dosa dan kesalahan ditandai dengan kesabaran penuh.
3. Terakhir, musibah yang merupakan pengangkatan derajat ditandai dengan keredhaan, ketenangan dan ketenteraman terhadap perbuatan Tuhan di bumi dan langit."
23.47 | 0 komentar

Tangisan Kematian

Written By Rudianto on Senin, 18 Februari 2013 | 02.54

Meski kita mencarinya, tidak semua nikmat dan lezat yang kita dapat,kemudian parallel dengan kebaikan, hingga kita selalu mensyukurinya. Sebab, banyak diantaranya yang palsu dan menipu, yang karenanya kita harus senantiasa waspada. Sebuah kesadaran akan hakikat kenikmatan yang membahagiakan dan lama, kini hingga nanti, di akhirat.

Kita harus percaya, ada nikmat dalam dosa dan maksiat, hingga hamba-hamba yang mabuk syahwat terlena oleh rasa itu, dalam pemahaman tentang keharamannya ataupun tidak. Membiarkan diri mereka terseret pusaran waktu dalam kelezatan semu, bahkan memburu tanpa ragu dan rasa malu seolah mereka tercipta untuk itu ; menjadi budak nafsu.

Mereka lupa, bahwa kenikmatan dosa akan memudar seiring ketidakberdayaan jiwa melawan ajakannya karena telah tertawan, juga membebaskan diri dari jeratannya karena telah mengakar dalam. Rasa yang kini menjadi hampa dan tawar saat mereka sadar bahwa sudah terlalu sulit untuk berkelit meninggalkannya. Mereka jatuh disebuah titik jenuh dengan peluh yang telah menguras tenaga dan usia. Hingga tiada lagi yang tersisa selain sesal dan kecewa, juga sunyi yang mencekam menakutkan.

Inilah hakikat kehinaan dan tanda kebinasaan. Yang terjadi karena terlepasnya diri dari penjagaan dan perlindungan Allah, penutup pintu maksiat dan dosa, meski ia tipudaya seluruh penghuni bumi dan angkasa. Yaitu setelah taufiq dari-Nya tak lagi menyapa sebab nafsu meraja dan berkuasa, hingga mengeluarkan hamba dari ketaatan kepada-Nya. Saat itulah Allah menyerahkan hamba itu, beserta seluruh permasalahannya kepada dirinya sendiri. Melayang tanpa pegangan tangan dan kehilangan tempat kaki berpijak. Linglung dalam bingung sebab beratnya menghadang semua serangan maksiat yang luar biasa dahsyat. Hingga ia pasrah dan menyerah kalah.

Karenanya, merasa senang dalam nikmatnya dosa adalah kejahilan. Tentang siapa sesungguhnya yang dikhianati, tentang siapa yang sebenarnya merugi, tentang ancaman bahaya besar yang terlupakan, juga tentang iradah yang salah. Sebuah ketidaksadaran akut yang membutakan seluruh akal sehat dan perasaan. Dengan puncaknya adalah perasaan bangga dalam dosa, serta hebat dalam maksiat. Yang karenanya dia ingin terus melakukannya lagi, melakukannya lagi, dan lagi, bahkan hingga dia megajak khalayak ramai untuk mengikuti jejak dirinya. Pada saat itulah, dia berada dalam bahaya yang lebih besar daripada dosa itu sendiri.

Padahal, dosa adalah luka, yang mestinya menggelisahkan jiwa dan membuatnya merana tidak bahagia. Jiwa yang suci akan selalu membencinya dan merasa terbebani, dengan tingkat kebencian yang sebanding kadar kesuciannya. Hingga saat kegelisahan dalam maksiat yang dia perbuat menipis, dia mencurigai kualitas iman miliknya. Dan ketika rasa itu menghilang, dia menangisi hatinya yang telah mati. Bukankah, memang luka tidak akan menyakitkan bagi si mayit?
02.54 | 0 komentar

Teman Dalam Kesendirian

Written By Rudianto on Minggu, 17 Februari 2013 | 07.08

Sungguh, tidak mudah menjaga keistiqamahan atas pilihan iman dizaman seperti ini. Saat rasa iman semakin tawar dan hambar. Saat penopang-penopangnya semakin sulit ditemukan. Dan saat lingkungan semakin tak mendukung. Adakah yang tetap teguh dalam kesendirian, yang sering mencekam?

Ibarat perjalanan, hari-hari menapaki jalan iman adalah pertaruhan. Tentang keyakinan akan kebenaran dan janji keselamatan, juga kesabaran penempuhan yang seolah tak berkesudahan. Sedang mata yang nanar dan langkah yang limbung membuat jalan lurus ini tak tampak benderang. Ia serupa gulita belantara lebat yang pekat dengan berbagai jebakan. Terlihat terjal berliku dalam kesunyian yang menakutkan. Kini, siapakah yang sanggup berjalan ketika dia merasa sendiri?

Meski, jika kita meneliti petunjuk yang terbaca jelas, juga jejak-jejak pendahulu yang meninggalkan bekas, kita bisa lega bernafas. Inilah jalan penghantar kesuksesan hakiki  yang kita cari. Kita percaya, pernah ada manusia yang menempuhinya, dahulu kala, dalam jumlah yang melimpah, sebab dari jeja yang tertinggal kita bisa melacaknya. Mereka adalah hamba-hamba yang mendapat anugerah Allah ; para Nabi dan Rosul, para Syuhada’, dan para shadiqin. Merekalah sebaik-baik teman perjalanan!

Keyakinan yang cukup akan hal ini mutlak perlu. Agar kita tak ragu melangkah sebab  kita bukanlah sang pembuka jalan. Agar kita tak lagi takut meski hanya menjadi pengikut. Agar azzam kita tak memudar meski jejak-jejak itu semakin samar. Juga, agar bashirah kita tak menumpul digerogoti fakta-fakta palsu yang terus muncul.

Selanjutnya adalah kesabaran. Sebab tekat baja bisa saja lebur, keyakinan bisa hancur, dan langkah-langkah kaki bisa terhenti, untuk kemudian mundur teratur, jika kita tidak pandai merawatnya. Itu berarti ada jalan lain yang kita tempuh, sedang kayakinan tentang kebenarannya tidak kita miliki utuh.

Di sinilah kesabaran dibutuhkan agar perjalanan tak menjadi beban berat. Bashirah ditajamkan agar setiap perjalanan menjadi nikmat. Nafsu muthmainah dimenangkan agar  kuat menghadang setiap seruan jahat.hingga perjalanan pulang ini terasa dekat. Hanya sekejap waktu yang akan berlalu, insyaallah.
Maka berlakulah semestinya itu;vjika yakin dan sabar semakin kuat, semakin kita bisa tegar melangkah di jalan ini. Pun jika ia semakin lemah, maka langkahlangkah kaki akan berbalik arah sebab tidak sanggup memikul beratnya beban perjalanan. Tidak tahan melangkah dalam kesendirian. Apalagi tanpa teman!
Tapi lihatlah! Kebenaran ini menyusup ke dalam kalbu, menancap kuat dengan hebat, kemudian member keyakinan pasti. Ia serupa mata yang bersua sinar mentari pagi. Yang ketika ia yakin, maka menjadi tidak penting lagi siapa yang menolak dan menyetujui.  Sebab kebenaran memang tidak memerlukan persetujuan makhluk, siapapun dia. Kebenaran adalah pemakluman dari Sang Rahman. Kalo kita percaya!
Maka, teman dalam kesendirian adalah keyakinan akan kebenaran, Islam!
07.08 | 0 komentar

Semoga Kita Pantas

Written By Rudianto on Sabtu, 16 Februari 2013 | 21.10

Bagi hamba yang mengerti, berjalan di atas shirathal mustaqim, jalan yang lurus, adalah sebuah keniscayaan yang menafikan selainnya, demi keselamatan dirinya dunia akhirat. Sebuah adimarga nana gung yang sudah ada, benderang, dan terbentang panjang sejauh mata memandang, bagi hamba ayng terpilih. Namun, ia sangat membingungkan bagi kebanyakan orang, yang membuang diri mereka dalam kuasa nafsu dan kubangan dosa.

Sebab itu, jalan ini tidak akan pernah bisa ditempuh seorang hamba kecuali dengan hidayah dari Allah, dan dengan pertolongan-Nya. Hamba pilihan yang mengenal Allah beserta hak-hak-Nya, beribadah dalam keistiqamahan yang terjaga, serta membebaskan diri dari kebodohan tentang dosa yang membuatnya gagal mengenali petunjuk, juga pelaksanaan maksiat yang bertentangan dengan tujuan keselamatan. Hamba yang menempuhinya dengan sekuat tenaga meninggalkan jalan mereka yang dimurkai, juga jalan mereka yang sesat.

Kia harus tahu, bukan amal shalih semata yang akan menyelamatkan kita, bahkan Rosulullah SAW, dari kekalahan dan kegagalan sejati, azab Allah, meski ia melimpah ruah memenuhi penjuru waktu yang tergunakan untuk memunculkannya. Sebab, ia akan selalu kurang, penuh lubang, dan jauh dari kesempurnaan. Ia tidak akan pernah sepadan dengan ganjaran keselamatan, kecuali Allah menetapkan kepantasan untuknya dengan rahmat dan karuni-Nya.

Untuk itulah kita harus menegakkan salah satu pilar kepantasan itu, yang insyaallah, adalah taubat! Sebuah jalan kemenangan dimana Rosulullah SAW yang ma’shum pu melakukan tujuhpuluh sampai seratus kali, bahkan lebih, setiap harinya. Hingga Allah memerintahkan kaum muslimin untuk bertaubat, bukan semata karena dosa, namun bahkan setelah mereka beriman, bersabar, berhijrah, dan berjihad!

Karena taubat bukanlah sebuah permintaan maaf biasa, ia baru sah hukumnya jika disertai pengenalan kita akan dosa, kemudian mengakuinya sebagai kesalahan, berjanji untuk tiak mengulangi, serta mengimpaskan kezhaliman yang pernah kita perbuat kepada si teraniaya. Kita memohon kepada Allah agar Dia membebaskan kita dari pengaruh buruknya, juga kecenderungan hati kepadanya. Sebab bagaimanapun, dosa dan maksiat tidak akan pernah berjalan di atas kebenaran, apapun alas an dan penyebabnya!
Maka, mari meraih pertolongan dan perlindungan Allah! Agar kita tidak sendirian menghadapi masalah kehidupan, yang kompleks dan berat, yang rumit dan sulit. Hingga semua menjadi mudah dan sederhana, serta menjadi penopang kepantasan kita memperoleh rahmat dan fadhilah Allah itu.

Yaitu dengan berpegang teguh kepada agama-Nya. Menjalanan perintah-Nya sepenuh cinta, keikhlasan, dan ketundukan. Sebab, dengan itulah kita membangun tameng dan benteng pertahanan menghadapi berbagai godaan dan rintangan yang menghadang. Dimana taubat kita, sesungguhnya sangat bergantung kepada penjagaan kita akan (agama) Allah, dan perlindungan Allah kepada kita.

Mari bertaubat! Pada seluruh masa hidup kita, di permulaan, pertengahan, hingga pada akhirnya, sebab kehilangannya adalah kezhaliman. Setelah itu, barulah kita boleh berharap, bahwa kita pantas mendapatkan kemenangan dan keselamatan idaman. Semoga!
21.10 | 0 komentar

Menyelisik Kehidupan di alam Kubur

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Kehidupan yang dialami oleh seorang manusia di dunia ini bukanlah sebuah kehidupan yang terus-menerus tiada berujung dan tiada penghabisan. Ia adalah sebuah kehidupan yang terbatas, berujung dan akan ada pertanggungjawabannya. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ
“Setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali ‘Imran: 185)
Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan segala firman-Nya! Kita dengar dan saksikan kilas kehidupan yang silih berganti dari masa ke masa. Perjalanan hidup umat manusia merupakan bukti bahwa seorang manusia, setinggi apapun kedudukannya dan sebanyak apapun hartanya, akan mengalami kematian dan akan meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan setelah kematian. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya Shalallahu ‘alahi wa Sallam dan manusia yang lainnya dari generasi pertama sampai yang terakhir:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati dan mereka juga akan mati.” (Az Zumar: 30)
Bukanlah berarti dengan kedudukan sebagai Rasulullah (utusan Allah) kemudian mendapatkan keistimewaan dengan hidup selamanya, akan tetapi sudah merupakan ketetapan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya yang bernyawa mereka akan menemui ajalnya.
Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Pernahkah sejenak saja kita merenungkan bagaimana ketika maut sudah di hadapan kita? Ketika malaikat yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala utus untuk mencabut nyawa sudah berada dihadapan kita. Tidak ada tempat bagi kita untuk menghindar walaupun ke dalam benteng berlapis baja, walaupun banyak penjaga yang siap melindungi kita.

Sungguh tidak bisa dibayangkan kengerian dan dahsyatnya peristiwa yang bisa datang dengan tiba-tiba itu. Saat terakhir bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, saat terakhir untuk beramal kebaikan, dan saat terakhir untuk melakukan berbagai kegiatan di dunia ini. Saat itu dan detik itu juga telah tegak kiamat kecil bagi seorang manusia yaitu dengan dicabut ruhnya dan meninggalkan dunia yang fana ini. Allahul Musta’an (hanya Allah Subhanallahu wa Ta’ala tempat meminta pertolongan).
Manusia yang beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya akan mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan kelak di akhirat dengan akan diberi berbagai kemudahan ketika meninggal. Adapun orang-orang kafir yang ingkar, mendustakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kejelekan ketika meninggal dunia dan bahkan akan ditimpakan adzab di alam kubur.

Alam Kubur
Setelah seorang hamba meregang nyawa dan terbujur kaku, maka ia akan diantarkan oleh sanak saudara dan teman-temannya menuju “tempat peristirahatan sementara” dan akan ditinggal sendirian di sebuah lubang yang gelap sendirian. Sebuah tempat penantian menuju hari dibangkitkan dan dikumpulkannya manusia di hari kiamat kelak, pembatas antara alam dunia dan akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Dan dihadapan mereka ada dinding (alam kubur/barzakh) sampai mereka dibangkitkan.” (Al-Mukminun: 100)
Di antara peristiwa yang akan dialami oleh setiap manusia di alam kubur adalah:
1. Fitnah kubur
Pertanyaan dua malaikat kepada mayit tentang siapa Rabbmu (Tuhanmu)?, apa agamamu?, dan siapa Nabimu? Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:
“Apabila mayit telah dikuburkan -atau beliau bersabda: (apabila) salah seorang dari kalian (dikuburkan)- dua malaikat yang berwarna hitam kebiru-biruan akan mendatanginya salah satunya disebut Al-Munkar dan yang lainnya An-Nakir.” (At-Tirmidzi no. 1092)
Adapun seorang hamba yang mukmin, maka ia akan menjawab pertanyaan tersebut sebagaimana dalam potongan hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu yang panjang: “Maka dua malaikat mendatanginya (hamba yang mukmin) kemudian mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabbmu (Tuhanmu)? Ia menjawab: “Allah Rabbku; kemudian kedua malaikat itu bertanya lagi: “Apa agamamu? Ia menjawab: “Islam agamaku; kemudian keduanya bertanya lagi: “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: “Dia Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam; Maka itu adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala :
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh..” (Ibrahim: 27)
Perkataan yang kokoh dalam ayat di atas adalah kalimat tauhid (Laa ilaaha illallaah) yang menghunjam dalam dada seorang mukmin. Allah Subhanallahu wa Ta’ala meneguhkan seorang mukmin dengan kalimat tersebut di dunia dengan segala konsekuensinya, walaupun diuji dengan berbagai halangan dan rintangan. Adapun di akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala akan meneguhkannya dengan kemudahan menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur.
Sedangkan seorang kafir dan munafik, ketika ditanya oleh dua malaikat: “Siapa Rabbmu (Tuhanmu)? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu; kemudian ia ditanya: “Apa agamamu? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu, kemudian ia ditanya: “Siapa laki-laki yang telah diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu. Kemudian terdengar suara dari langit: “Dia telah berdusta! Bentangkan baginya alas dari neraka! Bukakan baginya pintu yang menuju neraka!; Kemudian panasnya neraka mendatanginya, dipersempit kuburnya hingga terjalin tulang-tulang rusuknya karena terhimpit kubur.”
Itulah akibat mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Walaupun di dunia ia adalah orang yang paling fasih dan pintar bicara, namun jika ia tidak beriman, maka ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan dua malaikat tersebut. Kemudian ia akan dipukul dengan pemukul besi sehingga ia menjerit dengan jeritan yang keras yang didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.
Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Kejadian di atas mempunyai hikmah besar tentang keimanan kepada yang gaib, yang tidak kasat mata dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindra kita. Apabila jin dan manusia bisa mendengar dan melihatnya, niscaya mereka akan beriman dengan sebenar-benar keimanan. Oleh karena itu, Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa diantaranya adalah beriman dengan yang gaib. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :
الم{Ø}
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ{Ù}
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ{Ú}
“Alif Lam Mim, Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib…” (Al-Baqarah: 1-3)
2. Adzab dan nikmat kubur
Setelah mayit mengalami ujian dengan menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur, jika berhasil, ia akan mendapatkan kenikmatan di alam kubur; dan jika tidak bisa, ia akan mendapatkan siksa kubur.
Bagi yang bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat tersebut, ia akan mendapatkan kenikmatan di kuburnya. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam melanjutkan sabdanya: “Kemudian terdengar suara dari langit: “Telah benar hamba-Ku! Maka bentangkan baginya kasur dari surga! Pakaikan padanya pakaian dari surga! Bukakan baginya pintu yang menuju surga!; Kemudian aroma wangi surga mendatanginya, diperluas kuburnya sampai sejauh mata memandang, dan seorang laki-laki yang bagus wajah dan bajunya serta wangi aroma tubuhnya mendatanginya dan berkata: “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu! Ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu. Maka ia berkata: “Siapa engkau? Wajahmu mendatangkan kebaikan. Laki-laki itu menjawab: “Saya adalah amalan sholihmu. Kemudian dibukakan pintu surga dan pintu neraka, dan dikatakan: “Ini adalah tempatmu jika engkau bermaksiat kepada Allah, Allah akan mengganti dengannya. Ketika melihat segala sesuatu yang ada di surga, ia berkata: “Wahai Rabb-ku, segerakan hari kiamat! Agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.”
Adapun orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat, maka ia akan mendapatkan siksa kubur, sebagaimana kelanjutan dari hadits di atas: “Kemudian terdengar suara dari langit: “Dia telah berdusta! Bentangkanlah baginya alas dari neraka! Bukakanlah baginya pintu menuju neraka!; Kemudian panasnya neraka mendatanginya, dipersempit kuburnya hingga terjalin tulang-tulang rusuknya karena terhimpit kuburnya. Kemudian seorang laki-laki yang buruk wajah dan bajunya, serta busuk aroma tubuhnya mendatanginya dan mengatakan: “Bersedihlah dengan segala sesuatu yang menyusahkanmu! Ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu. Maka ia berkata: “Siapa engkau? Wajahmu mendatangkan keburukan. Laki-laki itu menjawab: “Saya adalah amalan jelekmu, Allah membalasmu dengan kejelekan, kemudian Allah mendatangkan baginya seorang yang buta, tuli, bisu, dengan memegang sebuah pemukul, yang jika dipukulkan ke gunung niscaya akan hancur menjadi debu. Kemudian ia dipukul dengan sekali pukulan sampai menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula, dan dipukul lagi dan ia menjerit hingga didengar seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan pintu neraka baginya, sehingga ia berkata: “Wahai Rabb-ku, jangan tegakkan hari kiamat!” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Ath-Thayalisi, dan Ahmad)
Hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu di atas dengan gamblang menjelaskan tentang segala sesuatu yang akan dialami oleh manusia di alam kuburnya. Wajib bagi kita untuk beriman dengan berita tersebut dengan tidak menanyakan tata cara, bentuk, dan yang lainnya, karena hal tersebut tidak terjangkau oleh akal-akal manusia dan merupakan hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sangat sedikit dari hal gaib tersebut yang diperlihatkan kepada para Nabi ‘alaihimussalam. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا{ÙÝ}
إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ..{ÙÞ}
“(Dialah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali pada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al-Jin: 26-27)
Maka dari itu, apa yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah dan yang bersamanya, bahwa adzab kubur dan nikmat kubur tidak ada, merupakan kesalahan dalam hal aqidah, karena hadits tentang masalah ini sampai pada tingkatan mutawatir (bukan ahad). Bahkan dalam Al-Qur`an telah disebutkan ayat-ayat tentangnya, seperti firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala :
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azdab yang sangat keras.” (Al-Mu’min: 46),
Kemudian firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala :
وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَ
“Dan sesungguhya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat sebelum adzab yang lebih besar.” (As-Sajdah: 21).
Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan adzab yang dekat dalam ayat tersebut adalah adzab kubur.

Penutup
Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Penjelasan di atas hanyalah sekelumit dari apa yang akan dialami manusia di alam kubur nanti. Pastilah seorang hamba yang beriman dan cerdas akan bersiap-siap dengan berbagai amalan sholih sebagai bekal di akhirat kelak, termasuk ketika di alam kubur. Dan memperbanyak do’a memohon perlindungan dari adzab kubur dengan do’a:
“Ya Allah sesungguhnya aku meminta perlindungan dari adzab kubur, dari adzab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Al-Bukhari no.1377)
Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala senantiasa melindungi kita dari berbagai ujian, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, hingga kita menghadap-Nya, dan memberikan kepada kita kecintaan untuk bertemu dengan-Nya ketika kita akan meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan kekal abadi. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
MUTIARA HADITS SHAHIH
Pernah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam ketika melewati dua buah kuburan bersabda:
“Ingatlah! Sesungguhnya kedua orang ini sedang diadzab; dan tidaklah mereka diadzab disebabkan dosa besar (menurut persangkaan mereka). Adapun salah satunya, semasa hidupnya ia melakukan namimah (mengadu domba); sedangkan yang satunya, semasa hidupnya ia tidak menjaga auratnya ketika buang air kecil.” (HR. Muslim no.703 dari shahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)
Dalam riwayat lain: “tidak bersih saat bersuci dari buang air kecil.”
11.25 | 0 komentar

Tangis Kelembutan Kalbu

Written By Rudianto on Jumat, 15 Februari 2013 | 18.12

Biarkan air mata ini meleleh sebab panasnya dosa mencairkan kebekuannya. Terlalu banyak hak-hak Allah yang kita abaikan, terlalu lama hati kita berpaling mengingkari petunjuk-Nya. Berjalan menyeret diri dalam pusaran dunia yang memabukkan, untuk kemudian terlempar jatuh terpuruk dalam sesal berkepanjangan. Biarkan ia berhenti sampai di sini, terbawa banjir air mata kita.

Jangan tahan butir air mata yang hendak jatuh menitik, karena itulah tetesan yang dicintai Allah. Biarkan ia meluas di wajah kita sebab reaksi kimiawinya membentengi kita dari api neraka. Sedang ia juga peristiwa langka yang jarang terjadi di jaman ini. Serupa kerontang musim kemarau karena air hujan yang tidak turun dan mata air yang telah mongering.

Di mana kini, jiwa-jiwa yang dicengkeram rasa takut karena minimnya bekal menjelang kepulangan mereka ke alam baka? Ketidaksiapan yang menyiksa jiwa dan raga, membiaskan gelisah yang nyata dalam rindu akan perjumpaan yang melegakan dan penuh keridhoan dari Sang Maha Rahman. Sanggupkah diri bersimpuh memasrahkan diri yang hina ini?

Ya, air mata Karena takut kepada Allah adalah anugerah. Buah dari ilmu yang cukup tentang hakikat kehidupan yang fana dan kekalnya akhirat, yang dipadu dengan ketidakpantasan kita dalam mempersiapkan bekal. Serupa kapak pemecah batu pelindung mata air, ia kan mengalir derasnya arus jika berhasil. Yang kegagalannya mendatangkan bencana ; kekeringan atau bahkan kematian makhluk bernyawa.
Ini bukan tentang topeng kejantanan palsu yang mengharamkan tangisan. Berlagak perkasa dalam kesombongan, padahal ia justru pertanda kebodohan dan lemahnya iman. Karena tangisan takut kepada Allah adalah ketinggian pemancar hati yang sanggup menangkan sinyal frekuensi gelombang akhirat yang terkirim dari nash-nash ilahiah. Sedang ketiadaannya adalah kungkungan jiwa karena terhalang kerasnya hati dan nihilnya ilmu.

Semakin bertambah kualitas ilmu dan iman kita, semakin deraslah mengalir air mata. Karena jiwa yang gemetar dan kulit yang merinding telah menghancurkan kalbu yang membatu. Membuatnya lembut dan khusyu’ dalam takut yang membangun ketakwaan. Bukankah Abu Bakar selalu menangis saat membaca al-Qur’an Karena kelembutan hatinya?

Sehingga, mata yang tidak pernah menangis Karena takut kepada Allah adalah bencana yang nyata bagi pemiliknya. Bukti kebodohan yang membuat aman karena ketidaktahuan, kualitas iman yang dipertanyakan, juga kerasnya kalbu yang telah membatu.

Maka marilah belajar menangis! Seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan banyak lagi yang lain, yang dari memandang wajah mereka saja, kita tahu ada bekas linangan air mata padanya. Wajah-wajah teduh dari hati yang mengerti tentang hakikat hidup ini. Tentang mati dan negeri abadi!
18.12 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung