Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

ADA APA DENGAN HASAD DAN PENUNTUT ILMU

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 21 Desember 2017 | 00.18

*📖ADA APA DENGAN HASAD DAN PENUNTUT ILMU?*

Jika hasad dengan manusia sebagaimana semut dengan gula, sebagaimana hujan dan angin dan sebagaimana garam dan laut. Maka hasad dan penuntut ilmu agama sangat dekat lagi rapat. Ia sebagaimana anak burung dengan induknya, sebagaimana ruh dengan kematian dan sebagaimana sangkakala dengan malaikat peniupnya.

Mengapa demikian? Mari kita kaji lebih dalam

1. Hasad ada pada setiap hati manusia dan penuntut ilmu adalah manusia biasa

Ibnu Taimiyyah rahimahullahberkata,

أن ” الحسد ” مرض من أمراض النفس وهو مرض غالب فلا يخلص منه إلا قليل من الناس ولهذا يقال: ما خلا جسد من حسد لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه.

“Sesungguhnya hasad adalah di antara penyakit hati. Inilah penyakit kebanyakan manusia. Tidak ada yang bisa lepas darinya kecuali sedikit sekali. Oleh karena itu ada yang mengatakan,

 “Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad. Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.”

[Majmu’ Al Fatawa 10/124-125, Ibnu Taimiyah, Majma’ Al-Malik Fahd, Madinah, 1416 H, Asy-Syamilah, lihat juga Amroodul Qulub wa Syifaa’uha hal 21, mathbaah Salafiyah, Koiro]

2.  Hasad umumnya terjadi pada suatu hal yang memiliki kesamaan tujuan dan orientasi

misalnya tukang batu akan hasad sesama tukang batu dan direktur akan hasad dengan sesama direktur. Sangat kecil kemungkinan tukang batu hasad dengan direktur. Dan sesama penuntut ilmu agama juga memiliki tujuan dan orientasi yang sama.

Sebagaimana pejelasan Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika menjelaskan terjadi persaingan tidak sehat antara istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla. Beliau berkata,

وحسد النساء بعضهن لبعض كثير غالب لا سيما المتزوجات بزوج واحد فإن المرأة تغار على زوجها لحظها منه فإنه بسبب المشاركة يفوت بعض حظها وهكذا الحسد يقع كثيرا بين المتشاركين في رئاسة أو مال

“hasad umumnya lebih sering terjadi antar sesama wanita, lebih-lebih mereka yang memiliki satu suami yang sama. Maka wanita tersebut akan cemburu karena jatahnya [berkurang]. Oleh karena kesamaan tersebut akan menghilangkan sebagian jatahnya. Demikianlah hasad sering terjadi diantara orang yang memiliki kesamaan dalam kedudukan dan harta.” [Amroodul Qulub wa Syifaa’uha hal 21, Mathba’ah Salafiyah, Koiro, cet. Ke-2, 1399 H, Asy-Syamilah]

3.       Setan lebih menyerang akhlak penuntut ilmu agama

Tukang batu dan direktur, mereka ada kemungkinan digoda atau dijerumuskan oleh setan dalam dosa-dosa lainnya jika tidak memiliki penjagaan ilmu agama. Mereka bisa dijerumuskan untuk melakukan ksyiirikan, bid’ah dan maksiat yang lain. sedangkan bagi penuntut ilmu yang notabenenya insyaAlloh sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, kecil kemungkinan setan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Setan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.

Setan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama setan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh azza wa jallamenghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)

Pengertian hasad yang lebih rinci

Beberapa orang menyamakan dengan dengki dan iri. Hasad adalah tidak suka orang lain mendapatkan nikmat atau kebaikan baik disertai keinginan hilangnya nikmat tersebut dari orang yang dihasadkan atau tidak.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

أن الحسد هو البغض والكراهة لما يراه من حسن حال المحسود

“Hasad adalah benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.” [Amroodul Qulub wa Syifaa’uha hal 14, Mathba’ah Salafiyah, Koiro, cet. Ke-2, 1399 H, Asy-Syamilah]

 

Hasad adalah salah satu ujian berat bagi penuntut ilmu

Hasad adalah salah satu ujian yang cukup berat bagi penuntut ilmu agama. Jika kita merenungkan, maka kita menemukan bahwa salah satu  yang menyebabkan terjadinya perpecahan umat islam adalah hasad. Bahkan perpecahan antar ahlus sunnah salah satu penyebab utamanya adalah hasad. Padahal rujukannya sama-sama Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman sahabat, ulama tempat mengambil ilmu juga sama.

jika ulama yang berbeda pendapat mengenai sesuatu, maka antar ulama tidak saling mencela dan saling menjatuhkan, mereka tetap saling menghormati hak-hak sesama muslim. Tetapi yang kita sedihkan adalah, mereka yang para penuntut ilmu yang menjadikan ulama-ulama tersebut sebagai rujukan malah saling saling mencela dan saling menjatuhkan karena perbedaan pendapat. Dan setelah direnungkan maka kita mendapati penyakit hasad di balik itu semua. Karena hasad dengan kesuksesan seorang ustadz maka ia berusaha menjatuhkannya.

Jika kita lihat, hasad juga terjadi antara selain penuntut ilmu agama. Contoh yang kami saksikan sendiri, bagaimana sesama dokter ada beberapa yang saling hasad dan dengki. Saling menjatuhkan dan tidak setuju tentang suatu teori, terutama pusat pendidikan kedokteran A dan B misalnya. Tetapi perbedaan dan pertentangan mereka tidak teralalu menimbulkan dampak yang cukup meresahkan bagi para dokter dan masyarakat.

Akan tetapi dampak hasad antara penuntut ilmu agama dampaknya bisa sangat dasyhat. Bisa menimbulkan perpecahan dan keresahan di masyarakat. Menimbulkan saling dengki dan benci sesama kaum muslimin. Sehingga hasad yang satu ini perlu kita waspadai bersama dan saling menasehati. Selalu memeriksa diri kita agar hasad tidak mengendalikan diri kita. Selalu sadar inilah salah satu senjata utama setan menjerumuskan penuntut ilmu agama dan memecah belah kaum muslimin. Sehigga yang menjadi korban adalah orang awam dan masyarakat biasa.

Beberapa contoh hasad antar penuntut ilmu

1. hasad dengan ustadz yang lebih banyak murid dan yang menghadiri majelisnya

Apalagi jika ustadz tersebut adalah ustadz baru atau baru datang ke tempat tersebut. Kemudian karena ilmunya dan cara penyampaiannya yang disenangi banyak orang maka ia dalam waktu sinngkat, banyak yang mengambil ilmu darinya dan banyak yang menghadiri majelisnya. Atau pondok pesantren yang didirikannya berkembang sangat pesat.

Kemudian ustadz yang lama atau ustadz yang lain merasa sesak dadanya. Merasa tersaingi karena jamaahnya berkurang. Kemudian ustadz yang lama berusaha mencari-cari kesalahan ustadz yang baru dan  menyebarkannya. Dan jika dicari-cari tentu setiap manusia pasti punya kesalahan. Bahkan mencari kesalahan dalam masalah ikhtilaf ijtihadiyah. Kemudian dijadikan seolah-olah perbedaan ini menjadi perbedaan manhaj yang sangat penting, dan bisa mengeluarkan seseorang dari ahlus sunnah.

Beberapa contoh masalah ikhtilaf ijtihadiyah yang kami dapatkan dan pernah kami alami:

-Tidak boleh menggunakan celana panjang saja ketika shalat, harus memakai sarung juga. Hal ini untuk melindungi bentuk [maaf] aurat bokong ketika bersujud. Padahal ada juga yang berpendapat hal ini tidak mengapa, karena tolak ukurnya ketika kita dalam keadaan biasa berdiri. Kami pernah mendapati bahwa ada seseorang yang berkata, jika pergi ke tempat kajian ini harus pakai sarung dan malu atau nanti ditegur jika tidak pakai sarung, atau ini menandakan bahwa ia bukan dari ahlus sunnah yang mereka anggap benar.

-Mendirikan yayasan dan organisasi kemudian mengajukan permohonan proposal dana

Ada yang berpendapat haram mendirikan yayasan. Tetapi ada juga yang  memperbolehkan, karena yayasan hanya sekedar wasilah/sarana. Yang tidak boleh adalah menjadikan yayasan sebagai patokan wala’ dan bara’. Begitu juga permohonan propsal dana, ada yang mengharamkan karena hukumnya meminta-minta yang tercela. Tetapi ada juga yag membolehkan karena dana tersebut  demi kepentingan kaum muslimin.

Sehingga keluarlah seruan bahwa pondok A dan ma’had B itu didirikan oleh yayasan ini dan hasil meminta-minta. Sehingga termasuk pondok dan ma’had yang tidak direkomendasikan. Hal Ini, wallahu ‘alam bisa jadi muncul dari awal petaka hasad. Hasad dengan perkembangan pondok atau ma’had yang cepat berkembang dan banyak santrinya karena ada dukungan dana.

2. Hasad dengan ustadz yang mendapat gelar agama.

Ustadz akan mendapat gelar agama karena bersekolah badan resmi seperti Universitas Madinah, LIPIA dan sekolah agama resmi lainnya. Mereka mendapat gelar seperti Lc, Doktor, MA, S.Ag dan lain-lain. Tentu mereka biasanya lebih mudah diterima di masyarakat, karena masyarakat kita sekarang menilai kepintaran seseorang dari gelarnya.

Tetapi ada beberapa ustadz  [ini sangat sedikit] yang tidak memliki gelar, menyebarkan pernyataan bahwa cara menuntut ilmu di universitas Madinah dan sekolah agama yaitu sistem kelas dan perkuliahan tidak sesuai dengan cara ulama kita dahulu menuntut ilmu. Karena membatasi ilmu, hanya orang tertentu saja yaitu siswa yang terdaftar saja yang bisa menuntut ilmu. Dan terkadang belum mumpuni sudah naik kelas dengan sekedar ujian tulis. Dan dalam sekolah tersebut ada pengajar atau dosennya yang tidak jelas manhaj dan agamanya.

Sehingga pernyataannya berlanjut bahwa ustadz dengan gelar-delar agama diragukan kapasitas ilmunya. Inilah akibat hasad, padahal ustadz yang sekolah di Universitas Madinah atau sekolah agama lainnya tidak semata-mata menuntut ilmu agama di sekolah itu saja. Sore hari atau malamnya mereka selalu menghadiri majelis para syaikh yang mumpuni dan benar manhajnya. Bahkan ada yang menjadikan sumber utama ilmu agama mereka adalah mulazamah dengan para syaikh di sana, sedangkan sekolah di sana hanya sebagai sarana dan tambahan ilmu.

3. Hasad dengan mereka yang karya tulisnya banyak

Tatkala ada seseorang penuntut  ilmu yang punya banyak tulisan, buku dan artikel yang banyak. Kemudian disebar di berbagai jaringan sosial. Maka bisa jadi ada yang hasad. Maka ia mencari-cari kesalahan tulisannya. Kemudian mengomentari tulisan tersebut, membantah dan menunjukkan bahwa ia lebih berilmu apalagi cara mengoreksinya dengan bahasa yang kurang baik. Yang  kurang tepat, ia lakukan di kolom komentar yang dibaca oleh semua orang. maka jika ingin menasehati sebaiknya secara sembunyi-sembunyi, bisa melalui email, inbox atau surat dan lain-lain agar ia memperbaiki tulisannya dan mengoreksi bukunya. Adapun jika mengoreksinya dengan mengajukan pendapat yang lain berupa diskusi ilmiyah yang bermanfaat dan saling menghendaki kebaikan dan saling menasehati maka ini tidak mengapa.

4. Mencari-cari kesalahan bacaan imam

Kami mendapat pengakuan dari seorang sahabat bahwa ia terkadang terjurumus dalam hasad. Ia adalah salah satu imam masjid, kemudian jika ada orang lain yang menjadi imam, maka ia sangat memperhatikan bacaan imam. Tetapi tujuannya adalah berharap ada kesalahan bacaan imam, kemudian ia memperbaikinya ketika menjadi makmum. Sehingga orang-orang beranggapan bahwa hapalannya lebih banyak dan lebih tepat dari imam saat itu.

Begitu juga terkadang memaksakan memperbaiki bacaan imam, padahal ia tidak berada dibelakang imam dan berada di ujung shaf ke-5. Kemudian ia teriak memperbaiki bacaan imam. Padahal sudah ada yang memperbaikinya yaitu yang berhak memperbaiki adalah makmum dibelakang tepat dibelakang imam. Dan terlalu banyak yang memperbaki bacaan imam akan membuat imam bingung.

5. Mencari-cari fatwa tentang kesalahan saudaranya

Tatkala beberapa orang ustadz cukup berhasil dalam dakwahnya dengan sekedar wasilah yayasan/organisasi yang didirikannya, atau berhasil dengan ma’hadnya atau berhasil dengan radio dan TV lokalnya. Maka terkadang hasad mendorong beberapa orang untuk menjatuhkannya. Caranya dengan meminta fatwa syaikh yang cukup terpandang dan diakui. Akan tetapi pertanyaan dan pernyataan yang diajukan kepada syaikh tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Informasi yang sampai kepada syaikh tersebut adalah berita yang jelek-jelek dan melanggar kaidah beragama secara umum. Atau informasi terhadap kesalahan yang memang manusia tidak pernah luput dari kesalahan tersebut, kemudian sudah diperbaiki. Maka tentu saja fatwa yang keluar dari syaikh tersebut juga anjuran untuk meninggalkannya dan memboikotnya.

Sehingga inilah fatwa yang ditunggu-tunggu, akhirnya disebar-luaskanlah fatwa syaikh bahwa Yayasan A sesat dan menyesatkan, Ma’had B keluar dari ahlus sunnah dan Radio C perlu diboikot dan ustadz-ustadz yang berhubungan dengannya tidak direkomendasikan bahkan perlu diboikot juga.

Akan tetapi jika fatwa tersebut tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, dan syaikh yang ditanya sebeleumnya sudah tahu sepak terjang kebaikan hal yang ditanya, maka fatwa tersebut disembunyikan dan tidak disebarkan.

Dan masih banyak contoh yang lainnya.

Cara menghilangkan hasad sesama penuntut ilmu

Hasad sesama penuntut ilmu memang pasti pernah singgah di hati kita. Terkadang sangat sulit kita hilangkan. Maka jalan keluarnya adalah perasaan itu tetap harus dilawan dan dipaksakan agar lepas dari jasad kita. Dan suatu hal awalnya memang harus dipaksakan dan menghiasinya dengan kesabaran.

Kemudian kita perhatikan beberapa hal berikut:

1.  Jumlah manusia yang peduli terhadap agama sedikit, maka janganlah kita saling hasad dan memecah belah

Kita bisa lihat dari sekian banyak manusia. Berapa banyak yang mau peduli dengan agama Allah, berapa banyak yang mau mendakwahkan agama Allah dan berapa banyak yang mendukung agama Allah. Maka jumlahnya sedikit. Perhatikan jumlah laki-laki yang shalat berjamaah di masjid suatu kampung atau tempat. Maka kita dapati jumlahnya sangat sedikit.

Kemudian di antara sekian orang yang peduli dengan agama. Tidak semuanya berada dalam manhaj beragama yang benar. Manhaj Ahlus sunnah wa jamaah berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah berdasarkan pemahaman sahabat. Tentu jumlahnya menjadi lebih sedikit lagi dan mengerucut. Sehingga janganlah kita saling hasad, saling menjatuhkan dan saling membenci. Sudah jumlah yang sedikit kemudian harus berpecah belah dan menjadi lebih sedikit lagi.

Apalagi secara umum kita dilarang untuk saling hasad sesama kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 لا تحاسدوا ولا تَناجَشُوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ,وكونوا عباد الله إخواناً. اَلْمُسْلِمُ أَخُو المسلمِ: لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ ولا يَكْذِبُهُ ولا يَحْقِرُهُ 

“Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya.(HR. Muslim no. 2564)

2. Saling memberi hadiah

Jika muncul hasad pada diri kita kepada seseorang dan kita sangat susah menghilangkannya. Maka hati tersebut harus dipaksakan. Cobalah kita meberikan hadiah kepadanya. Bisa berupa buku bermanfaat, hadiah untuknya yang baru menikah atau baru mendapat karunia anak. Karena dengan saling memberi hadiah maka kita akan saling mencintai. Kemudian mereka yang kita beri hadiah suatu saat pasti berniat membalah pemberian hadiah tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

“Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalilno. 1601]

3.  Memberikan pengakuan dan pujian yang sepantasnya kepada yang kita hasadkan

Bisa berupa pujian yang layak dan sepantasnya untuk diberikan dan dipublikasikan. Dengan melakukan ini maka semoga hasad tersebut bisa hilang. Wujudnya bisa dengan menceritakan kebaikan ustadz Fulan dalam majelisnya, atau memberikan rekomendasi terhadap buku dan tulisannya. Atau memberikan ucapan kebaikan dalam tulisan dan artikelnya di internet atau jejaring sosial.

4. mengingat kembali bahaya hasad

Bahayanya sangat banyak dan hanya merugikan diri sendiri. Diantaranya secara ringkas:

-Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan.

-Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering.

-Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan bersusah hati.

-Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan.

-Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Nabi bersabda, “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

-Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah

-Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada

-hasadnya Iblis kepada Adam yang menyebabkan Iblis dilaknat.

[lihat kitabul ilmi syaikh AL-Utsaimin hal. 54-56, Darul Itqon Al-Iskandariyah]

5.  Keutamaan yang tinggi bagi orang yang berusaha tidak hasad

Kita bisa lihat contohnya dalam hadist, bahwa ada sahabat yang biasa-biasa saja amalan dan ibadahnya. Tetapi dipersaksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia adalah penghuni surga kelak. ternyata kebaikan yang sahabat tersebut lakukan adalah selalu memeriksa dirinya agar tidak hasad sesama kaum muslimin. Sahabat tersebut berkata,

‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.’

Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.’” [bisa dilihat dihadist yang panjangdiriwayatkan oleh Ahmad 3/166, al-Mundzri dalam at—Targhib wat-Tarhib 3/499. Sebagian ulama menilai bahwa kisah ini lemah. Sebagaimana dalam Takhrij Ihya, al-Iroqi 3/1969, Dhoif at-Targhib : 1728 oleh al-Albani Qoshosh La Tsabut, Masyhur Hasan 8/72.] 

 

Hadist hasad terhadap orang yang diberikan llmu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَحَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عّلّى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak ada hasad kecuali kepada dua orang,yang pertama; kepada seseorang yang telah diberi harta kekayaan oleh Allah dan ia habiskan dijalan yang benar, yang kedua; kepada seseorang yang telah diberi hikmah (ilmu) oleh Allah dan ia memutuskan perkara dengannya serta mengajarkannya.” [HR. Bukhâri no. 6886, Muslim no. 1933]

Maka bukan berarti boleh hasad terhadap penuntut ilmu, ini adalah hasad yang diperbolehkan dan dikenal dengan istilah ghibthah. Imam An-Nawawi rahimahullahberkata,

فهو الغبطة وهو أن يتمنى مثل النعمة التي على غيره من غير زوالها عن صاحبها فإن كانت من أمور الدنيا كانت مباحة وإن كانت طاعة فهي مستحبة والمراد بالحديث لا غبطة محبوبة إلا في هاتين الخصلتين وما في معناهم

 “Ghibthah adalah ingin mendapat kenikmatan sebagaimana yang diperoleh oleh orang lain dengan tanpa mengharapkan nikmat tersebut musnah darinya. Jika perkara yang di ghibthah tersebut adalah perkara dunia, maka hukumnya adalah mubah. Jika perkara tersebut termasuk perkara akhirat, maka hukumnya adalah mustahab/sunnah, dan makna hadits di atas adalah tidak ada ghibthah yang dicintai kecuali pada dua perkara tersebut dan yang semakna dengannya” [Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim Ibnul Hajjâj 6/97, Dar Ihya’ Turâts, Beirut, Cet.ke-2, Asy-Syamilah].

Sebaiknya kita mengganti hasad dengan ghibthah

Penutup

Mari kita berusaha melawan hasad sesama muslim terlebih terhadap sesama ahlus sunnah wal jamaah. Alangkah indahnya perkataan Ibnu Sirin rahimahullah,

ما حسدت أحدا على شيء من أمر الدنيا لأنه إن كان من أهل الجنة فكيف أحسده على الدنيا وهي حفيرة في الجنة وإن كان من أهل النار فكيف أحسده على أمر الدنيا وهو يصير إلى النار 

 “Aku tidak pernah hasad kepada seorang pun dalam masalah dunia, karena jika dia termasuk ahli surga, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam masalah dunia, padahal dia akan masuk surga? Dan jika dia termasuk ahli neraka, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam hal dunia, sedangkan dia akan masuk neraka?.” [Ihya’ ulumiddin 3/189, Darul ma’rifah, Beirut, Asy-Syamilah]

Dan selalu berdoa mengkhendaki kebaikan sesama kaum muslimin dan dihindarkan dari sifat hasad dan dengki,

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hasyr: 10]

wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

12 Dzulhijjah 1432 H, Bertepatan  8 oktober 2011

📖 Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel https://muslimafiyah.com

00.18 | 0 komentar

Ucapan Syukur

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 19 Desember 2017 | 10.27

Tidak terasa, sudah sekian tahun kebersamaan kita dalam Blog saya ini, telah begitu banyak manfaat didalam menyebarkan kebaikan. Dan memang ini bukanlah sebuah Toko Kitab layaknya Toko Online pada umumnya. Ini hanyalah sarana untuk saling berbagi informasi, motivasi dan tentunya bagi rekan sahabat pengunjung yang berminat untuk mendapatkan produk buku cetak, cd dan sebagainya bisa menghubungi admin blog kita ini.

Alhamdulillah Sudah seribu mungkin puluhan ribu orang yang singgah disini baik dalam maupun luar negeri untuk  mendapatkan produk yang ada kami share dalam blog kita ini, yaitu di abuazkacollection.blogspot.com

Barokallahu fiikum.

10.27 | 0 komentar

Manusia Yang Paling Besar Ketertipuannya

Written By Rudi Abu azka on Senin, 18 Desember 2017 | 23.05


🖊 *Manusia Yang Paling Besar Ketertipuannya*
════ ❁✿❁ ════

Manusia yang paling besar ketertipuannya adalah orang yang tertipu oleh dunia dan kesegeraannya, lalu dia mendahulukannya atas akhirat. Dia rela mendapatkan dunia (sekalipun) dengan mengorbankan akhirat. Hingga sebagian dari mereka berkata, _"(Kenikmatan) dunia itu tunai, sedangkan akhirat itu ditunda, padahal yang disegerakan itu lebih bermanfaat dibandingkan yang ditunda."_

Ini termasuk godaan dan rayuan setan yang paling besar. Binatang-binatang yang tidak berbicara itu lebih mengerti daripada orang-orang itu, karena sesungguhnya jika binatang takut pada bahaya dari sesuatu, maka dia tidak akan berani melakukannya, sekalipun ia dipukul, sementara sebagian dari orang-orang itu malah lancang melakukannya serampangan, sementara dia antara membenarkan dan mendustakan.

Manusia jenis ini, bila seseorang dari mereka beriman kepada Allah, RasulNya, dan pertemuan denganNya, serta balasan amal perbuatan, maka dia termasuk manusia paling menyesal, karena dia lancang melakukan sesuatu dalam keadaan berilmu, dan bila
dia tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, maka dia lebih jauh lagi (lancangnya).

Dalam hadits al-Mustaurid bin Syaddad Ra dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَاذَا يَرْجِعُ

Aku mendengar Mustaurid dari Bani Fihr, berkata: _Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia bagi akhirat itu tidak lain seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut lalu perhatikanlah apa yang dibawa kembali."_ (HR. Muslim no. 2858)

Bila manusia merenungkan keadaan dirinya sejak dia dalam wujud setetes air mani, hingga menjadi manusia utuh dan sempurna, niscaya dia akan mengetahui bahwa Allah Yang memeliharanya dengan pemeliharaan besar ini, memindahkannya dari satu keadaan ke keadaan berikutnya dan mengalihkan bentuknya melalui fase-fase tersebut, tidaklah pantas Dia membiarkan dan meninggalkannya sia-sia, tidak memerintahnya, tidak melarangnya, tidak mengenalkan kepadanya hak-hakNya, tidak memberinya pahala dan tidak pula memberinya hukuman.

Perbedaan antara berbaik sangka dengan tertipu sudah menjadi jelas, dan bahwa bila berbaik sangka mendorong untuk beramal (shalih), mengajak dan membawa kepadanya, maka ia shahih. Dan sebaliknya, bila ia menyebabkan kemalasan (dalam kebaikan) dan semangat dalam kemaksiatan, maka inilah ketertipuan (ghurur). Berbaik sangka adalah sebuah harapan (raja'). _Barangsiapa yang harapannya adalah pembimbing baginya kepada ketaatan dan pencegah baginya dari kemaksiatan, maka inilah harapan yang "shahih, namun barangsiapa yang kemalasannya adalah harapan, dan harapannya adalah kemalasan dan kelalaian, maka dia teperdaya._

*Rahasia masalah ini* adalah bahwa harapan dan berbaik sangka yang benar adalah terjadi dengan cara disertai melakukan sebab-sebab yang dituntut oleh hikmah Allah dalam syariat, takdir, pahala, dan kemuliaanNya, sehingga seorang hamba melakukan sebab-sebab tersebut lalu berbaik sangka kepada Tuhannya, berharap kepadaNya agar tidak membuatnya bersandar kepadanya, dan menjadikannya sebagal perantara kepada apa yang bermanfaat baginya dan menyisihkan apa yang menghalanginya dan menggagalkan pengaruhnya..

--------🌴🌴🌴--------

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “*
📚 Mukhtasar Ad Da'*wad Dawa'

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍🏻📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

23.05 | 0 komentar

OBATI DIRI ANDA DENGAN AL QUR'AN SAAT TIDUR

💊 *OBATI DIRI ANDA DENGAN AL QUR'AN SAAT TIDUR*😴

Di antara fakta-fakta yang telah kami bahas adalah tanda kebesaran Allah pada aktivitas tidur. Tidur merupakan tanda kebesaran Allah dan mukjizat yang menjadi saksi akan kebesaran Sang Pencipta dan keakuratan ciptaan'Nya. Para ilmuwan melakukan penelitian bertahun-tahun, mereka mengatakan bahwa tidur merupakan proses yang sangat kompleks untuk mempertahankan hidup. Tanpa tidur berarti tidak ada kehidupan.

Tetapi sebelum itu, kita harus menyadari bahwa tidur sangat penting untuk membangun manusia dan mengembangkan kecerdasannya. Banyak peneliti yang melakukan banyak penelitian terhadap aktivitas tidur. Mereka sepakat bahwa tidur merupakan aktivitas yang sangat kompleks. Semakin banyak pengetahuan mereka tentang tidur. maka mereka menyadari kebodohan mereka akan aktivitas yang kompleks ini.

Allah  memberitahu kepada manusia bahwa pengetahuan mereka sangat terbatas, sesuai dengan firman Allah:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ   ۗ  قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
wa yas`aluunaka 'anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-'ilmi illaa qoliilaa

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)

Orang yang tidur matanya terpejam dan tidak melihat apa apa. Indra peraba juga berhenti beraktivitas, begitu juga dengan indra penciuman. Akan tetapi, ada indra yang tetap terjaga, yaitu indra pendengaran. Indra ini tetap waspada terhadap setiap suara yang datang dari luar. Oleh karena itu, kita banyak melihat orang yang saat tidur bermimpi seputar kejadian-kejadian yang berkaitan dengan suara di sekitarnya.

Misalnya, jika kita didatangkan orang yang tidur kemudian kita lakukan scan terhadap otaknya dengan alat Functional Magnetic Resonance Imaging or functional MRI (fMRI), maka kami mencatat bahwa otak merespons suara yang bergema di sampingnya. Bahkan, otak ini meracik suara-suara tersebut. Dengan demikian, bisa kita katakan bahwa indra pendengaran memiliki aktivitas yang sangat
penting saat tidur.

Ada cara yang bagus dalam pengobatan Alquran tanpa melakukan usaha apa pun, yaitu dengan mengobati diri Anda pada saat tidur. Maksudnya, Anda mendengarkan Alquran setiap hari sebelum dan setelah Anda tidur. Sel-sel otak Anda dan jantung Anda akan merespons firman-firman Allah dan akan melakukan pemprograman Otak yang baru.

Para ilmuwan memastikan bahwa otak sangat kompleks karena dipengaruhi oleh kata-kata yang didengarnya. Mereka mencoba menggambar peta otak untuk mengetahui apa yang dipikirkan manusia. Mereka mengajukan uji coba terbalik, yaitu mendeteksi aktivitas otak dan mengubahnya menjadi kata'kata. Jika para dokter muslim melakukan percobaan mengenai pengaruh Alquran atas otak, bahkan pengaruh setiap kata-kata dari Alquran terhadap otak, khususnya kata “Allah,” mengapa tidak melakukan eksperimen tentang pengaruh Alquran terhadap orang tidur? Ini merupakan eksperimen yang sangat sederhana namun belum ada satu pun yang
melakukannya.

Alquran memiliki kelebihan bahwa semua katafkatanya datang pada tempat yang tepat. Allah telah meletakkan pada ungkapan- ungkapan itu sebagai mukjizat yang menjadi saksi bahwa tidak mungkin seseorang mengubah satu huruf dari kitab Allah. Bahkan jika itu terjadi maka akan merusak sistem yang detail pada ungkapan- ungkapan tersebut. Tetapi mari kita bertanya, adakah hubungan antara tidur dengan mendengar? Secara ilmiah, para ilmuwan telah membuktikan adanya hubungan. Namun, secara qur'ani bagaimana

Allah berbicara tentang tidur? Allah berfirman:

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ  مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ  اِنَّ فِيْ  ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ
wa min aayaatihii manaamukum bil-laili wan-nahaari wabtighooo`ukum min fadhlih, inna fii zaalika la`aayaatil liqoumiy yasma'uun

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 23)

Di sini, mari kita berhenti sejenak dan apa yang kita harapkan setelah adanya firman Allah yang indah ini. Ayat ini berbicara tentang ayat tidur atau mukjizat tidur. Sebab, kata ayat berarti mukjizat. Maksud tafsir ayat ini adalah bahwa di antara mukjizatnya itu adalah tidur Anda pada waktu siang dan malam.

Yang lebih menakjubkan lagi, Allah mengakhiri ayat ini dengan firman-Nya yang berbunyi:

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الَّيْلَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا  ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ
huwallazii ja'ala lakumul-laila litaskunuu fiihi wan-nahaaro mubshiroo, inna fii zaalika la`aayaatil liqoumiy yasma'uun

"Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang-benderang. Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar."
(QS. Yunus 10: Ayat 67)

Subhanallah, Allah mengaitkan tidur dengan mendengar. Ini merupakan sinyal atau isyarat qur'ani yang lembut tentang pentingnya Alquran pada saat tidur. Oleh karena itu, sangat logis dan alamiah ketika berbicara tentang tidur kita juga berbicara tentang pendengaran. Inilah yang dilakukan Alquran ketika menghubungkan ayat:

Allah SWT berfirman:
  مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ
"tidurmu pada waktu malam dan siang hari..."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 23)

Dengan indra pendengaran:
  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ

"Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar."
(QS. Yunus 10: Ayat 67)

Perlu dicatat bahwa Surah Ar Ruum yang di dalamnya banyak mengulas pernyataan-pernyataan ini, senantiasa berkaitan dengan sebelum nya dan sejalan dengan teks Alquran. Ini adalah i'jaz yang ditambahkan oleh para peneliti kemukjizatan kitab Allah. ()

📚 'Alij Nafsaka bil Qur'an
✍ " Ir. ABDEL DAEM AL KAHEEL"

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

22.51 | 0 komentar

LIVE CHAT ABU AZKA

Sahabat Azka

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung