Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Film Lawrence of Arabia (1962)

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 31 Januari 2013 | 20.45

Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (serangan pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.

Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.

Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang sangat berani berjudul “Dinasti Bush Dinasti Saud” (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.

“Pangeran Bandar yang dikenal sebagai ‘Saudi Gatsby’ dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, ” tulis Unger.

Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. “Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. ”

Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terakdang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.

Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.
Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.

Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”).

Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.

Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.
Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya “Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.

Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:
  • Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
  • Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
  • Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
  • History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)
Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat "pemberontakan" terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam, wallahu a’lam.
20.45 | 0 komentar

Mengatasi Stress dalam Islam

DALAM kehidupan moderen, stres menjadi pelengkap hidup. Banyak masalah dan sedikit solusi yang diketahui. Orang yang kurang kuat imannya, dapat melakukan bunuh diri. Orang yang kuat iman, tapi terlalu ambisi mencapai sesuatu, dapat mengalami stroke. Seorang dokter neorologi berkata, sekalipun tekanan darah tinggi, insya Allah tidak akan stroke, selama orangnya, tidak stres. Berarti stres pemicu utama lahirnya stroke yang banyak didera bangsa ini.

Stres yang datang pada diri seseorang, banyak penyebabnya. Siswa yang tidak lulus ujian nasional, dapat stres. Orangtua yang mengurus anaknya mencari sekolah yang lebih tinggi, dapat stres. Pejabat yang terlalu sibuk, dapat stres. Rakyat kecil yang sukar mendapat makan, dapat stres. Calon Bupati yang mengeluarkan miliaran rupiah dalan pilkada, dapat stres, jika suara yang diharapkan, tidak seperti yang diprediksi. Alhasil, semua golongan dan status social, berpeluang stres. Laki-laki dan perempuan.

Mencegah:Menurut dokter neorologi, perasaan stress sering menjadi musuh dalam selimut.Perasaan ini datang tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Bila tidak, dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti jantung, darah tinggi dan stroke. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Menghindari stress ada baiknya dilakukan cara berikut:

Pertama, Mengeluarkan energi positif, yaitu optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa setiap rencana, ada hambatan Tapi ada juga solusi.Sebab itu, harus bersikap lebih fleksibel, sehingga dapat menikmati hidup.

Kedua, menjaga kesehatan. Dengan cara olahraga yang teratur, tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Olahraga dapat membuat manusia nyaman. Makanan bergizi membangkitkan vitalitas hidup. Sebab itu Islam memerintahkan “ Mengkonsumsi halalan tayibah atau yang bergizi.
.
Ketiga, banyak minum air putih, terutama saat diambang kemarahan. Air putih, dapat menenangkan perasaan, dan berpikir lebih jernih. Rasulullah menganjurkan kalau marah, hendaklah berwudu dan mendinginkan badan (HR.Muslim).

Keempat, meluangkan waktu sedikit, untuk setiap minggu, keluar dari rutinitas, dengan berkumpul bersama keluarga. Atau berkunjung kepada teman-teman. Nabi mengajarkan Hubungkan silaturahim, sebab dapat menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR.Muslim).

Kelima, meningkatkan rasa humor. Secara klinis humor dapat mengatasi stress. Alhamdu lillah kini sudah muncul kelompok-kelompok di TV yang menjajakan humor 5 sampai 1O menit untuk relaksi. Jangan sampai anda lupa meluangkan waktu biar sebentar ( Kompas 26/7). Penulis teringat seorang Kiyai di Pesantren tahun 5O-an, sering mendatangi suatu desa yang berjarask 15 Kilometer dari kota dan membayar pemuda-pemuda yang pintar membawakan cerita yang humoris.

Menurut Al-Quran ?.Menurut Al-Quran, kelima cara yang ditawarkan kesehatan diatas, tidak ada yang bertentangan dengan Al-Quran. . Namun Al-Quran lebih memfokuskan terutama kepada dua hal utama dimana Al-Quran sebagai Syifa’ (Penawar) :

Sabar :Jika stress menghadapi masalah yang sukar diputuskan “ salah atau benarnya sesuatu “ maka Al-Quran memberi petunjuk “ FA SHABRUN JAMIL “ ( Maka bersabar itu lebih indah ). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan. (QS. Yusuf 18 ).

Ucapan itu disampaikan Nabi Ya’kub, ketika anak-anaknya datang membawa kemeja yang berlumuran darah kepunyaan Yusuf, sebagai bukti bahwa ia telah diterkam binatang buas. Daripada stress, karena darahnya meragukan, Nabi Ya’kub berkata “ Sabar itu lebih indah.” Demikian Sitti Maryam, ketika dituduh melacur karena melahirkan anak (Isa) tanpa ayah, juga sabar, untuk mengobati stres yang berkepanjangan. Bahkan Aisyah, isteri Rasul, ketika digossip, juga menjadikan Sabar sebagai pengobatan dalam stress.

Zikrullah:Mengingat Allah (Zikrullah) termasuk dapat mengatasi stres. Dengan mengingat dan mengembalikan segalanya dari dan untuk Allah, maka stres akan dapat diatasi. . Sesuai Al-Quran, “ TATHMAINN AL-QULUB “ ( Mengingat Allah, hati akan tenang ) ( QS. Al-Raad 28 ).

Menurut ulama Tafsir, Yang masuk Zikrullah, adalah melakukan salat, membaca Al-Quran dan langsung menjebut Lailaha ilallah sebanyak-bamnyaknya.

Diperkuat Al-Quran dengan ayat “ Dan carilah pertolongan, dengan berlaku Sabar dan mengerjakan Salat ( QS.2: 45).

Menurut Huzaifah, bila Nabi bersedih atau menghadapi masalah, Beliau langsung melakukan salat, sekalipun, sedang dalam perjalanan. Memperbanyak Zikrullah berupa salat sunnat, atau membaca Al-Quran, atau istigfar, atau membaca Lailaha Ilallah.

Istigfar yang sering dibaca Rasul “ Allahumma Anta rabbi. Lailaha illa Anta. Khalaqtani waana abduKa. Wa ana ala ahdiKa. Wa wa’diKa mastata’tu. Audzu biKa, min syarri ma shana’tu. Abuu laKa bini’ mati alayya. Waabuu bidzanbi. Fagfirli. fainnahu la yagfir al- dzunuba illa Anta.( Al-Azkar :347 ).

Disamping kedua hal tersebut, juga yang dapat mengatasi stres, adalah akidah dengan meyakini kebenaran ayat Al-Quran yang berbunyi “ INNA MA’AL USRI YUSRA ( Sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Setelah kesulitan, ada kemudahan).. ( 94: 5-6 ).( Disebutkan dua kali ).

Menurut ulama Tafsir, karena kata kesulitan (Al-usri ), menggunakan “al ” dan kemudahan (Yusra) tidak menggunakan “al “ , itu artinya kesulitan itu cuma satu macam, tapi ada beberapa solusi kemudahan. Berarti dua alternative kemudahan . dalam satu kesulitan. Ada dua. Misalnya berkonsultasi dengan dokter mencari pengobatan lahir dan batin ialah menggunakan petunjuk Al-Quiran sebagai Syifa’.
. .

Alhasil, dari uraian singkat diatas, dipahami mengatasi stres sesuai Al-Quran disamping mencari solusi berupa pengobatan lahir, juga diperlukan pengobatan batin, yaitu meyakini kesempurnaan Tuhan, dan meyakini kekurangan manusia, serta kaifiatnya, banyak bersabar, salat, istigfar dan zikir.

Praktek Rasul SAW dalam mencari penyegaran dan menghilangkan stres, diantaranmya dianjurkan kepada umatnya berpuasa dan bercampur isteri dua kali seminggu.
20.41 | 0 komentar

Memahami Politik

Dahulu pernah sebagian orang memahami makna politik itu jahat dan kotor.Tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak lagi ditemukan istilah jahat dan kotor . Yang ada 3 makna (1) Ilmu pengetahuan mengenai ketata negaraan (2) Segala urusan dan tindakan, misalnya kebijakan, siasat, dsb. (3) Kebijakan dan cara bertindak menghadapi suatu masalah, termasuk masalah perdagangan (h.694).

Dengan melihat pengertian yang baru tersebut, tergambar derngan jelas bahwa istilah “ busuk “ itu, tidak ditemukan. Kemungkinan jika ada, hal itu karena kebijakan seorang politikus dalam sesuatu. Semisal meniru ala Machiavelis yang menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan. Dusta, sogok menyogok dan korupsi.Kalau salah dari tiga itu dilakukan, pastilah terdapat ada ke -busuk- an yang tercium dalam masyarakat. Kalau kebijakan “ busuk “ menjadi syarat, maka bukan hanya politikus yang berbuat seperti itu, tapi termasuk sebagian instutusi semacam perguruan tinggi negeri atau perusahaan negara juga melakukan. Sehingga istilah KKN yang menjadi ciri perjuangan reformasi, dilakukan dengan terang-terangan oleh lembaga negara.Misalnya hanya famili atau kelompoknya yang dapat menguasai lembaga yang dipimpinnya turun tenmmurun.

Namun kita tidak ingkari, bahwa akhir-akhir ini sesuai pemberitaan media massa, kebusukan sebagian kalangan eksekutif, yudikatif dan legislatif, terasa baunya dimana-mana. Akibatnya, konotasi busuk bagi politikus kembali menjelma, sekalipun tidak ditemukan lagi dalam Kamus Besar. Hal itu lebih diperburuk karena sebagian caleg-caleg baru, bermunculan menggunakan ijazah palsu, salinan kartu penduduk orang yang sudah meninggal dan penggunaan politik uang, dalam mencapai tujuan, padahal baru mau dipilih.(Atagfirullah !).

Makna politik :Sekalipun dalam Kamus Besar tidak terlihat lagi ada makna jelek atau busuk, namun sesuai kenyataan diatas, maka banyak pemain politik atau penguasa dan penegak hukum memperlihatkan kebusukan dirinya dalam masyarakat.

Sekedar untuk menyegarkan pemikiran, pendapat pakar politik memang bervariasi. Dalam buku Ilmu Politik karya I.K.Syafiie dikatakan, jika sarjana hukum menulis tentang politik, maka yang bersangkutan akan mengaitkan dengan berbagai peraturan, jika ia seorang administrator, maka ia akan menyuguhkan bagaimana pelayanan, sedang jika ia seorang politikus, maka perhatiannya adalah kekuasaan.

Untuk mematok mana pemerintahan dan politikus yang jelek (busuk) dan baik (harum) keputusan penilaian, adalah kitab suci Al-Qur’anlah yang berasal dari Tuhan,paling tepat.Apalagi Muhammad SAW, pembawa Al-Quran, disebut penyempurna semua akhlak yang ada (Liutammima Makarim al-Akhlaq). Demikian cara menghentikannya.

Politik dalam Bahasa Arab disebut Siyasah (strategi).Dalam Bahasa Inggeris disebut Politicks (cerdik atau bijaksana). Para ahli politik sangat sulit memberikan defenisi yang tepat, diantaranya :

(1) The study of the formation, forms and prosesses of the states and governments, maksudnya ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari asal mula, bentuk-bentuk, proses negara-negara dan pemerintahan (Wilbur White,1947).

(2) Ilmu politik menyelidiki negara dalam keadaan bergerak (Adolf Grabowsky).

(3) Politik berasal dari kata “Polis” yang berarti “ Negara kota”. Diartikan, hubungan khusus antar manusia yang disebut kekuasaan (Robert Dahl).

Dari tiga pakar politik diatas, penulis condong memahami bahwa politik yang berarti Siyasah, adalah strategi dan kebijakan, yang dilakukan seorang Pemimpin (istilah agamanya Imam, Khalifah, Amir, Sultan, Wali, atau Mulk (Raja) atau Rais (Presiden) dalam mengatur negara /masyarakat, baik pemerintahan atau kemiliteran atau dakwah).

Jika pengertian itu yang dipahami, maka betapa banyaknya yang dapat dijumpai kisahnya dalam Al-Quran. Demikian praktek Nabi-nabi, Khalifah dan pemerintahan Islam.

Syarat-syarat Negara:Dalam Ilmu Politik syarat pokok berdirinya suatu negara, ada 4 :

1.Adanya pemerintah.

2.Adanya wilayah.

3.Adanya warga negara.

4.Adanya pengakuan.

Pemerintah atau penguasa adalah syarat mutlak berdirinya suatu negara. Dan pada vigur penguasa itulah lahir semua kebijakan yang terencana yang namanya eksekutif. Sejak dari dahulu tokoh agama, banyak yang berhadapan keberutalan penguasa. Atau tokoh agama itu sendiri yang berubah menjadi pemimpin, setelah melalui ujian berat. Dalam agama Kristen misalnya dikenal pemerintah Pontius Pilatus memerintahkan agar Yesus Kristus disalibkan. Dalam agama Yahudi yang dibawa Nabi Musa menentang pemerintahan Fir’aun, akhirnya diusir bersama pengikutnya, melaksanakan pengembaraan (eksodus) besar-besaran. Dalam agama Islam dikenal Nabi Muhammad sebagai Rasul, juga menjadi pemimpin umat yang beragama Islam, Yahudi dan Nasrani di Medinah, yang melahirkan “Piagam Madinah” setelah 13 tahun berhadapan pemerintahan biadab kaum Musyrikin/Jahiliyah di Mekah.Kemudian dilanjutkan oleh Khalifah al-Rasyidin dan sebagian kerajaan Islam. Sistem terakhir, ada yang baik dan ada yang jelek, karena terjangkiti pengaruh nepotisme.

Sistem politik Amerika :Menurut IK Syafiie, dalam Ilmu Politik, bahwa Rudal yang dibuat itu bukan untuk membunuh binatang, tapi dibuat untuk menghancurkan manusia dan gedung-gedung. Jadi untuk itu Konglomerat Amerika menghendaki agar perang tetap ada, agar manusia tertentu bertekuk lutut.Uni Sovyet seteru nomer satu Amerika hanya tinggal dalam peta sejarah saja.Bersamaan jatuhnya negeri-negeri komunis di Eropah Barat, Uni Sovyet perlahan-lahan ambruk pula.

Bukan rahasia lagi bahwa Yahudi memiliki lobby yang kuat di pemerintahan Amerika Serikat, menyebabkan Amerika tunduk kepada negara kecil ini.

Fakta yang kita sudah lihat, adanya program penghancuran bangsa Palestina tidak terhalang. Demikian Afganistan dan Irak, dengan berbagai dalih yang tidak rasional, terlihat kompak. Maka wajarlah Pemimpin bangsa kita, didepan Kongres Inteleketual Islam se dunia baru-baru ini, menilai adanya ketidak adilan negara adidaya terhadap negeri muslim

Sejalan pula yang dikatakan tokoh-tokoh yang lain bahwa politik Amerika Serikat menanamkan kepada masyarakatnya bahwa tujuan politik Amerika untuk kesejahteraan umum, penegak demokrasi dan HAM serta kedamaian dunia. Tapi apa yang terjadi, justru sebaliknya, Amerika sendiri penginjak-injak demokrasi dan HAM kelas kakap dunia. Inilah yang namanya Politikus busuk, yang menghalalkan segala cara.

Islam & Kenegaraan :Menurut DR.Khalid Ibrahim Jindan, yang mengutip pendapat Ibnu Taimiyah bahwa sunnah atau hadis Nabi memberikan argumen rasional, betapa perlunya ada kepemimpinan dan kenegaraan. Diantaranya : “Bila ada tiga orang melakukan perjalanan, maka selayaknya seorang diantaranya, ada yang menjadi pimpinan “.Selanjutnya :” Enam puluh tahun berada didalam pemerintahan tirani, lebih baik dari pada satu malam tanpa pemerintahan “(Al-Siyasah,1951:174).

Dari dua hadis yang banyak dijiwai isi Al-Quran, tentang perlunya ada “Imamah ” dari rasul-rasul, dapat dipahami, peran politik itu disadari sebagai tugas agama dan kedamaian masyarakat, sekaligus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena dengan sendirinya, diyakini akan lebih mudah mengatur pembagian zakat, penegakkan keadilan, pelaksanaan syari’at, yang akan mengantar lahirnya negara “Baldatuh Tthayibah Warabbun ghafur” (pemerintahan yang adil makmur, damai yang diridhai Allah).

Dalam menegakkan keadilan dan menghentikan kemungkinan adanya praktek kebusukkan maka “amar makruf dan nahi mungkar” harus berfungsi maksimal agar mampu menuju masyarakat tauhid, yang mengakui hanya satu Tuhan, tempat mengabdi sebagai sistem utama (Liya’budun).

Hal itu diproyeksikan dalam setiap awal salat, dengan bacaan “ Bahwa hidup matiku, semuanya untuk Allah semata “. Sedang larangan korup, juga diperingati agar dalam salat “Orang yang suka menyalahi Imam (korup sujud dan ruku’nya) akan dibangkitkan mukanya menjadi muka himar “(HR.Bukhari).

Mengenai penyebab utama timbulnya politikus busuk, jika dalam dirinya telah terkontaminasi kegilaan mencintai dunia (khususnya harta) berlebihan. Istilahnya “Hubbuddun-ya ”(tergila-gila kepada dunia terutama harta untuk turunan ). Pernah dikemukakan Rasul “Jika perutnya dipenuhi emas, niscaya masih mencari lagi perut (untuk dipenuhi), padahal yang akan memenuhi perutnya nanti, adalah tanah (HR.Bukhari).

Akhirnya, cara menghentikan tuduhan politik busuk yang kini marak diperbincangkan masyarakat, yang bagaimanapun disembunyikan, akhirnya berbau juga. tiada lain kecuali bertobat dan bertekad melaksanakan hakikat hijrah, “Menghentikan sifat serakah, kebiasaan berbohong, dan korup dalam salat”. Seorang sufi berkata, jika induk dosa yakni sifat serakah harta dan berbohong menjadi pembalut diri seseorang, maka dosa-dosa lain pasti menyusul dikerjakannya, laksana seekor induk sapi yang menyeberang jalan, anak sapinya pasti menyusul dibelakang induknya, tanpa memperhitungkan kendaraan maut yang akan menabraknya.
16.10 | 0 komentar

Buku Kisah-Kisah Inspiratif

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 29 Januari 2013 | 23.12

Kisah merupakan salah satu sarana yang efektif dalam menyampaikan pesan nasehat kepada seseorang.
Kisah dapat menarik jiwa seseorang untuk bisa menerima sebuah pesan nasehat yang akan disampaikan. Sebab jiwa merupakan anggota tubuh yang memiliki kecenderungan untuk menyukai kisah-kisah yang bersifat inspiratif, motivatif serta kisah-kisah yang sifatnya sebagai penghibur.

Sehingga bukanlah sebuah kebetulan jika Allah SWT menjadikan kisah-kisah sepertiga dari Al-Qur'an. Banyak fakta yang memperlihatkan bagaimana orang-orang yang memusuhi Islam berbalik arah menjadi orang-orang yang sangat menghargai dan mencintai Islam. Itu semua dikarenakan kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an yang menjadikan jiwa mereka tergugah untuk mempelajari dan mengetahui kisah-kisah yang ada dalam Qur'an..

Bukan hanya kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an saja yang membuat seseorang tergugah hatinya dan merasa termotivasi. Akan tetapi kisah-kisah para ulama terdahulu juga dapat menjadikan hati dan jiwa tersentuh.

Kisah semangat bagaimana para salaf dahulu dalam menuntut ilmu dan menjaga dirinya dari kemaksiatan. Sehingga mereka tetap tersenyum tatkala menjemput kematin.

Ketaatan seorang Salman Al-Farisi yang menjadikannya masuk Jannah, dan kekafiran seorang Abu Lahab yang menjadikanya masuk ke dalam Neraka. Ini merupak kisah yang bisa menggugah jiwa dan dijadikan sebagai pelajaran.

Begitulah peran kisah-kisah    Islam dalam menggugah hati orang-orang yang membacanya, sehingga mereka tidak merasa ragu untuk mengatakan ke Islamanya.

Singkatnya buku ini hadir sebagai teman baca anda tatkala istirahat santai. Cerita yang ringan namun banyak manfaat akan menggugah semangat jiwa kita. Dan nilai lebih pada buku ini terdapat pada pilihan kisah-kisah yang tidak kering dari nilai Islam. Bahkan merenunginya kita akan mendapatkan betapa indahnya hidup dalam harmoni Islam.

Sajian dalam buku ini pun tidak panjang lebar, namun fragmen-fragmen cerita ringan yang ada kalanya juga bersifat jenaka. Anda bisa menjumpai kisah:
•    Kisah Abu Thayyib Ath-Thabari yang suka bercanda, namun tetap sehat hingga usia '80 tahun, dikarenakan hanya menjauhi maksiat.
•    Kesungguhan dan produktivitas orangorang shaleh terdahulu dalam mengisi waktu
•    Dialog sahabat Abu Hurairah dengan
setan serta taubatnya para penyanyi.
•    Perjumpaan hangat penulis dengan para ulama besar, seperti Syaikh Ibnu bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh AI-Albani, dan lain-lain.

Selain itu penulis melengkapi buku ini dengan koreksi tentang kesalahan yang dipraktikkan ummat Islam dalam hal aqidah, fiqhi dan akhlak. Semuanya disajikan dengan bahasa yang santun dan gaya bertutur oleh penulis.Wallahu 'Alam bi Shawab.
23.12 | 0 komentar

Belajar Dari Anak-Anak

Written By Rudi Abu azka on Senin, 28 Januari 2013 | 08.34

Bila kita amati, pada dunia anak-anak, ada sisi kehidupan yang penuh arti dan pesan.
Seorang anak berusia 4 tahun, baru saja menghabiskan sarapannya. Dengan bahagia ia berlari mencari ibunya dan berkata, "lihat! Aku sudah bisa makan sendiri! Habis, bersih!". Berbinar-binar matanya. "Alhamdulillah... pintar!", puji sang ibu sambil mencium pipi si kecil.

Hal-hal kecil dan sederhana mampu membuat anak-anak "benar-benar" bahagia. Gelembung-gelembung sabun yang ditiupkan, balon warna-warni 'membumbung tinggi diudara, pujian berupa kata dan belaian.
Berbahagialah...! Walau hanya karena hal-hal kecil yang kita lakukan. Selama itu positif dan kita suka.
Seorang peneliti mengajak siswa siswi TK untuk bermain "Menaikkan bola logam di atas pelat datar pada sebuah menara hingga bola mencapai puncak".

Ketika salah satu siswa mencoba permainan itu, mulanya bola langsung jatuh, kali kedua bola itu jatuh lagi hingga menggelinding ke sudut ruang. Kali ketiga bola sudah naik seperempat jalan sebelum akhirnya jatuh. Percobaan keempat tidak lebih baik dari sebelurnnya.

"Apakah menurutmu, kau akan sanggup melakukannyar tanya peneliti kepada siswa itu dengan nada netral. "Oh, pasti!" sahut sisiswa bersemangat sambil mencoba lagi.
Mungkin, kebanyakan anak-anak lain seusia siswa itu, akan berperilaku kurang lebih sama. Mereka yakin akhirnya akan berhasil menaikkan bola logam, walau telah mencoba berulang kali dan gagal. Optimis dan pantang menyerah!

Anak lelaki usia 8 tahun, memutuskan berdiri di dekat pintu toko swalayan sementara
ibunya berbelanja. Ketika ia melihat seorang nenek berjalan menuju pintu dengan membawa belanjaan yang cukup banyak, secara naluri, ia membukakan pintu bagi orang tua itu.
"Terima kasih, anak muda, kamu baik sekal i".

Selanjutnya, anak lelaki itu membukakan pintu untuk setiap orang yang tampak membutuhkan bantuan. Seorang ibu muda yang memegang belanjaan di satu tangan dan tangan lainnya menggendong bayi, seorang tukang cat yang membawa kaleng cat dan secangkir kopi, dan...ia selalu mendapatkan ucapan "terima kasih".

Banyak kisah lain menunjukkan rasa empati anak yang hadir secara alami.
lnilah pesan seorang dari mereka yang setiap hari memberi makanan kepada para tunawisma, "setiap orang diantara kita pasti mempunyai dorongan untuk memperhatikan orang lain dan sebetulnya memang kita berhutang. Tidak ada orang yang tidak pernah menerima bantuan dari orang lain. Maka, kita harus selalu siap memberikan yang pernah kita terima dari orang lain".
Ada sikap bijak yang dimiliki anak-anak dan patut kita teladani. Karena mereka terlahir fitrah.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (ltulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
Wallahu alam bisshowab.
08.34 | 0 komentar

FILM RABIAH AL ADAWIYAH (Edisi Spesial)

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 24 Januari 2013 | 10.37


Rabiah Al Adawiyah tinggal bersama ibu angkatnya di Bagdad,
karena kesulitan hidup terdorong untuk berhijrah ke Kota
Basrah. Yang dibayangkannya sebagai Sorga. Di kota ini dia
berkenalan dengan keluarga Said Sabir ia diangkat menjadi
anak, namun dibalik kebaikannya itu tersimpan niat jahat.
Rabiah akhirnya di jual sebagai hamba sahaya.
Kecantikan Rabiah dan kemerduan suaranya menjadikannya
bahan rebutan dikalangan saudagar kaya. la dibeli oleh tuan
Ishomuddin, namun tuan Kholil yang kalah dalam rebutan tak
tinggal diam. Dengan berbagai cara dia berusaha untuk
mendapatkan Rabiah. Tuan Ishomuddin ditipu, la dibunuh oleh
para penyamun dalam suatu perjalanan dagang. Rabiah
akhirnya pindah ketangan Kholil. Berbagai suka dan duka
dialami Rabia, dia terjerumus kelembah nista.
Dalam lembah itu ia diselamatkan oleh secercah cahaya
hidayah, ia mulai mempelajari Islam, lambat laun ia mulai
berubah menjadi wanita sufi yang zuhud. Selengakpnya dalam film ini....
10.37 | 1 komentar

Rahmatan Lil Alamin

Sangat disayangkan masih ada lagi suara sebagian kecil masyarakat yang mempertanyakan sumber hukum mengapa kita memperingati Maulid Nabi. Alasannya bid’ah, pemborosan atau meniru adat agama lain, dsb. (Astagfirullah).

Peringatan Maulidur Rasul SAW bukan bid’ah, bukan pemborosan dan bukan meniru adat agama lain yang negatif.

Yang disebut Bid’ah ialah sesuatu yang tidak ada dasarnya dari Alquran dan Sunnah serta bertentangan kedua sumber tersebut. Ternyata ketika Rasul ditanya sahabatnya, mengapa Rasul selalu puasa hari Senin ?.Dijawab, karena saya lahir hari Senin, maka saya syukuri hari kelahiran saya dengan puasa (HR.Muslim). Berdasarkan hadis tersebut, maka Maulid itu mempunyai dasar yang kuat. Kalau Rasul memperingati sekali sepekan dengan puasa, dan kita memperingati sekali setahun dengan memberi makan sesama muslim, hal itu hukum dan tujuannya sama. Yaitu berbuat baik dan bersyukur serta tidak bertentangan Alquran. Yang berbeda hanyalah kaifiatnya. Sama saja kalau Rasul pergi haji dengan berkendaraan unta dan kita dari Indonesia dengan pesawat, hukum dan tujuannya sama, dan tidak boleh disebut naik haji dengan pesawat itu Bid’ah. Demikian meniru budaya orang lain yang tidak bertentangan Alquran, sah saja. Seperti makan roti setiap pagi untuk kesehatan seperti orang Eropa, boleh saja ditiru.

Tapi penulis sendiri setuju jika kita mencari metode yang lebih efesien dan bermanfaat.

Memperingati Maulid Rasul di Indonesia bervariasi, ada yang menyambutnya dengan cara tradisional seperti pembacaan zikir dan Barzanji, ada pula dengan cara yang modern seperti ceramah. Dan ada juga yang menggabung dua-duanya.

Terlepas adanya perbedaan bentuk, semuanya itu dilaksanakan, dalam rangka “hubburrasul” (mencintai Rasul), dan “rebuild” (pembinaan iman dan akhlak). Dalam rangkaian itulah, demi menyegarkan kembali maka bagaimana makna Muhammad rahmat semesta alam menurut Alquran ?

Dalam Alquran :Dalam Alquran terdapat ll2 ayat tentang rahmat, misalnya “Imaman wa rahmah”, “mawaddah wa rahmah”, “syifa’un wa rahmah “ yang berarti kepemimpinan dan belas kasih, kasih sayang, penawar dan pembawa nikmat. Sedang kalimat yang menyebut “Rahmatan lil’alamin”, hanya ditemukan satu ayat, yakni “WAMA ARSALNAKA ILLA RAHMATAN LIL’ALAMIN “ (Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam) (QS. Al-anbiya’ :lO7).

Jika kita membuka kitab-kitab tafsir, baik tafsir yang konvensional atau yang kontemporer, maka garis besar pengertian ayat tersebut, dapat dibagi tiga penafsiran:

(l) Yang memperoleh rahmat dari Nabi Muhammad SAW “ Lil mu’minina khasshah” ( hanyalah yang mukimin saja), karena merekalah yang meyakini adanya Allah SWT dan meyakini kerasulan Muhammad SAW, sehingga berbuat amal saleh dengan ikhlas yang diperintahkan rasul, maka wajarlah jika mereka akan memperoleh dua kebahagiaan, di dunia dan diakhirat kelak .( Tafsir Al-Qurthubi dan Aysar Tafasir 3 : 448). Mengapa penafsiran Al-Qurtubiy, kelihatan ekstrim ?. Tak lain karena tafsirnya ditulis ketika Islam dihancurkan di Cordova (Qurtubi-Spanyol) oleh orang-orang non muslim, jadi memang tafsir itu sesuai kondisi zamannya.

(2) Yang memperoleh rahmat dari Nabi Muhammad SAW “ Lil-mu’minin wal-kafirin”, (orang mukmin dan orang kafir), yakni bagi kaum mukmin akan memperoleh dua kebahagiaan yakni dunia dan akhirat, sedang bagi kaum kafir hanyalah di dunia saja berupa siksaannya ditunda serta tidak akan memperoleh siksaan dunia yang sangat kejam seperti umat yang sebelumnya, misalnya lantaran kedurhakaannya kepada Tuhan, akhirnya mukanya disunglap menjadi monyet atau babi. Menurut mufasir mengapa kaum kafir tidak memperoleh kasih sayang di akhirat, karena menolak kerasulan dan dakwah Muhammad SAW serta akidahnya tentang Tuhan meleset, yaitu menganggap Tuhan bersyarikat. (Majma’ al-Bayan dan al-Mizan l4:333)

(3) Yang memperoleh rahmat dari Nabi Muhammad, “Lil-‘aqili walighairil ‘aqil (Yang berakal dan yang tidak berakal), yakni termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Rahmat nabi kepada hewan sangat jelas yaitu melarang menunggangi hewan dengan lari setan, dilarang menyembelih hewan dengan pisau yang tumpul serta banyak hadis menceriterakan, kaum wanita akan memperoleh siksaan di akhirat, lantaran suka memenjarakan kucing dan tidak memberinya makan sampai mati (HR.Muslim). Demikian rahmat rasul terhadap tumbuh-tumbuhan dengan adanya larangan menebang pohon-pohonan tempat berlindung serta dianjurkannya untuk melestarikan lingkungan hidup.( Safwat Tafasir 2 :277 dan Ibnu Katsir 3 :2Ol).

Dengan garis besar ketiga penafsiran tersebut, maka jelaslah bahwa rasul SAW adalah pembawa rahmat lil’alamin (semesta alam).

Bagaimana pula dalam Sunnah rasul :Dalam sunnah rasul, baik dalam uraian atau praktek, ternyata banyak sekali mutiara kemilau yang dapat disimak, misalnya tentang sabdanya: “Kasihanilah orang yang ada dibumi, niscaya anda akan dikasihi yang ada di langit” (HR.Muslim). Kemudian kasih sayangnya dalam praktek, baik ketika masih berdomisili di Mekah atau Medinah, diantaranya:

I. Terhadap Non Muslim :(l) Ketika berdakwah di Mekah selama l3 tahun, tantangan yang datang kepadanya silih berganti : dicaci maki, diintimidasi, diblokade ekonomi, disiksa pisik dan mentalnya bersama pengikutnya, bahkan diancam dengan pembunuhan, akhirnya terpaksa hijrah ke Thaif, 7O Km dari kota Makkah. Namun, apa yang dialami di Thaif, lebih kejam dari yang dialami di Mekah. Ia diusir, dihina, dicap orang gila, bahkan dilempari batu oleh sekelompok remaja dan pemuda akhirnya “Khudimat biddima’i na’lah”(bercucuran darah sampat ke sepatunya). Saat itu Nabi tinggalkan Thaif bersama seorang pembantunya dalam keadaan merangkak dan mandi darah. Ketika tiba disuatu pohon tempat berlindung sambil mengeringkan keringat dan tetesan darah, lalu menadahkan tangannya ke atas dan berkata: “Ya Allah, ya Tuhanku, akan ke manalagi kubawa diriku ,apakah tetap menghadapi musuh atau akan kembali ke Mekah yang juga menghadapi musuh yang sedang menanti ?. Semuanya itu aku tidak hiraukan selama Engkau tiada benci padaku”.

Dalam kondisi kritis seperti itu tiba-tiba muncul seorang malaikat penjaga gunung menawarkan dirinya, siap membantu dengan cara akan memerintahkan kepada gunung yang dalam kekuasaannya untuk menghancurkan mereka. Tapi Rasul menolak, bahkan mendoakan “ Allahummahdi qawmi fainnahum laya’lamun” (Ya Allah ampunilah umatku, karena mereka berbuat seperti itu lantaran tidak tahu, bahwa kedatangan saya akan menguntungkan mereka sendiri, jika mentaati risalahku).

Jika kita bandingkan dengan rasul lain, yang juga punya kasih sayang, misalnya Nabi Nuh, ternyata nabi itu masih mempunyai batas kesabaran, misalnya karena saking jengkelnya berdakwah ratusan tahun, yang hanya terbilang jari yang mengikutinya, bahkan anak dan isterinya ikut menantangnya, maka ia berdoa “Rabbi la tazar ‘alal ardhi minal kafirin dayyara” (Ya Allah janganlah Engkau sisakan seorangpun kafir di muka bumi ini ! ). Maka tenggelamlah orang-orang kafir pada zamannya, termasuk isteri dan anaknya.

(2) Ketika berada di Medinah dan bertetangga dengan seorang Yahudi yang memusuhinya. Si Yahudi dengan rutin setiap hari mengganggu dan mengotori pintu rumahnya dengan kotoran manusia yang menjijikkan. Namun, suatu waktu si Yahudi alpa, lalu Nabi menyiarahinya, mungkin karena sakit. Ketika Nabi menyiarahinya, si Yahudi kaget dan bertanya kepada Nabi,”apa anda tahu jika saya yang mengotori pintumu setiap pagi ?’. “Ya”, jawab Nabi, kemudian balik bertanya, “ kenapa anda tidak marah ?”. Agama saya mengajarkan, “Wa ahsin ila man asaa ilaika” (Berbuat baiklah kamu kepada orang yang berbuat jahat kepadamu), kata Nabi.

Perlakuan Nabi yang sangat kasih dan bijak terhadap dirinya, menyebabkan si Yahudi terheran-heran, lalu dengan penuh kesadaran atas rahmat Nabi, akhirnya menyatakan diri masuk Islam dengan mengucapkan syahadat “ Asyhadu annaka rasulullah” (Aku bersaksi bahwas Engkau (Muhammad) betul-betul rasul Allah).Itulah kedua contoh rahmat Nabi terhadap non muslim dan masih banyak lagi.

II.Bagaimana pula prilaku Nabi terhadap sesama muslim ?Terhadap sesama muslim kasih sayang itu berlipat ganda. Hal ini diabadikan Alquran : (artinya) : “ Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya, tegas terhadap kaum kafir (tapi) sangat kasih sayang terhadap sesamanya “(Asyiddau ‘alal kuffar ruhamau bainahum) (QS.Al-Fath 29).

Menurut mufasir yang dimaksud “Asyiddau ‘alal kuffar “ yaitu terhadap orang kafir sangat tegas terutama masalah akidah dan ibadah, misalnya ketika kafir Quraisy menawarkan lebih baik saling toleransi berganti-ganti menyembah Tuhan Allah dan Tuhan Lata (Tuhan mereka), maka Tuhan sendiri yang mengajarkan kepada Nabi agar menjawab mereka dengan ayat : ”Lakum dinukum waliya din” (Pakailah agamamu dan saya pakai juga agamaku). Artinya masalah akidah dan ibadah, Islam tidak mengenal toleransi, tapi masalah muamalah dan pergaulan justru dianjurkan.

.Adapun yang dimaksud “ruhamau bainahum” (Kasih sayang terhadap sesamanya) ialah jika bertemu sangatlah intim misalnya bersalaman, berjabatan tangan dan berangkulan serta selalu merasakan ”Kaljasadil Wahid” (seperti tubuh yang satu, jika salah satu anggota badan sakit, maka seluruh badan harus merasakan).

Akhirnya makna Rahmat Lil’alamin, bahwa Rasul SAW bukan hanya pembawa rahmat bagi manusia muslim dan non muslim, tapi termasuk hewan,tumbuh-tumbuhan serta lingkungan alam. Tegas masalah akidah, toleransi masalah muamalah. Semoga umatnya meniru. 
 
H. Mochtar Husein
10.15 | 0 komentar

Refleksi Kepemimpinan Islam

Refleksi yaitu gerakan, pantulan dan kemauan sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar kemauan atau kesadaran. Merefleksikan, artinya mencerminkan kata-kata seseorang, melalui isi hatinya. Misalnya seseorang yang menginjak bara api, dengan gerakan yang spontanitas, sangat cepat akan menarik kakinya dari bara api, agar tidak hangus, disertai ucapan atau teriakan.Yaitu jika kakinya masih normal dan tidak lumpuh.

Refleksi Islam artinya, sekalipun misalnya kakinya sudah tidak normal, tetapi tetap berperanan selama di hati masih ada getaran iman, terutama dari seorang pemimpin sebagai jawaban, terhadap solusi permasalan yang dihadapi rakyat kecil, atau kalau akar akidah terancam. Semisal tindakan Rasul atau Khalifah atau Ulama Tabi’in dalam menghadapi problem yang dihadapi masyarakat.

Ketika Nabi Muhammad SAW diancam oleh Da’tsur, dengan pedang terhunus yang hendak membunuhnya, Da’tsur berkata : “ Siapa yang menghalangi diri saya, kalau saya ayunkan pedang ini ke lehermu, Muhammad ? “ Nabi menjawab : “ Allahu Akbar !, ( hanya Allah Yang Maha Besar ). Dengan teriakan takbir Nabi, pedang terjatuh, lalu dengan refleksi yang lebih cepat, pedang berada di tangan Nabi. Kemudian balik bertanya, “ Siapa yang menghalangi saya, kalau saya ayunkan pedang ini ke lehermu Da’tsur ? “. Dengan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat memohon ampunan, Da’tsur berkata : “ Hanya Engkau sendiri ya Muhammad. Saya mohon ampunanmu, maafkanlah saya “. Permohonan maaf Da’tsur, diterima Nabi, yang menghasilkan refleksi baru, yaitu Da’tsur memeluk Islam.

Ketika Khalifah Umar mendatangi rakyatnya yang miskin di luar kota,. Ia tertegung melihat seorang perempuan tua menenangkan anaknya yang sedang menangis karena lapar di waktu malam di gubuknya, Sang Khalifah bertanya kepada ibu tua, “ Mengapa Ibu masak terlalu lama ?”. Dengan malu-malu tersipu, ibu tua menjawab, bahwa saya memasak batu yang tidak mungkin masak. Khalifah bertanya lagi, mengapa Ibu memasak batu ?. Ia menjawab, “ sekedar untuk menenangkan anak, karena jika ia kecapekan, akhirnya anak tertidur. “ Astagfirullah ! ”, kata Umar. Kemudian bertanya lagi , apakah Anda tidak pernah memeroleh jatah raskin selama ini ? “Tidak “ , jawab ibu tua yang selanjutnya berkata, penguasa sekarang, tidak pernah mau tahu penderitaan kami. “. Umar denga refleksi iman segera meninggalkan lokasi, lalu segera pergi ke gudang ( Baital mal ) dan mengambilkan sendiri satu karung raskin ( gandum ) dan memikulnya sendiri pada malan itu juga. Ketika penjaga gudang menawarkan, agar dialah yang akan memikul karung itu dipundaknya, Umar berkata : “ Apakah Anda dapat memikul dosa saya di akhirat nanti ?.”. Demikian refleksi Khalifah Umar ketika menjadi kepala negara.

Demikian pula Khalifah Umar bin Abdul Aziz ( cucu Khalifah Umar ) ketika berkeinginan melaksanakan haji, ia bertanya kepada pembantunya, Muzahim : “ Saya ingin pergi haji, apakah kamu mempunyai sesuatu ? “ Muzahim menjawab, : “ Hanya sisa sepuluh dinar “, “ Apa yang aku bisa perbuat dengan itu ?”, jawab Khalifah.

Kemudian Muzahim diam sejenak, setelah itu ia berekata : “ Wahai Amirul Mukminin, bersiaplah ! Baru saya ingat, ada uang Dinar sebanyak l7 ribu , sebagai harta peninggalan Bani Marwan, inilah yang bagus digunakan. Umar menjawab : “ Masukkanlah semua harta itu ke Baitul Mal. Sekiranya dinar itu berasal dari barang yang halal, maka kita mengambilnya sekedar keperluan kita, dan jika dinar itu berasal dari harta yang haram, maka cukuplah bagi kita apa yang menimpa kita, dan bukan menambah deretan haram “.

Tatkala Umar melihat, bahwa Muzahim berat memasukkan uang itu ke Baitul Mal, karena ada kebutuhan yang mendesak, Umar menggertak : “ Celaka Engkau Muzahim, jangan merasa berat berbuat sesuatu untuk Allah, sesungguhnya aku memiliki jiwa yang takwa ingin mencapai surga yang dijanjikan orang bertakwa “.

Dari tiga refleksi iman pemimpin Islam, yaitu Nabi Muhammad sendiri dengan pintu maafnya, kepada yang mau membunuhnya, kemudian seorang sahabat ketika menjadi khalifah yang mencintai rakyat kecil, kemudian seorang tabi’in ( pengikut sahabat ) dari seorang khalifah Bani Umayah, yang tidak menggunakan kekayaan Negara untuk pribadinya sekalipun berhak, teringatlah kepada 3 anggota DPR asal Sulsel yang mengembalikan uang operasionalnya yang dirapel, karena tersentuh imannya dengan penderitaan rakyat yang diwakilinya. Sayang, tidak dikirim langsung ke daerah yang lebih membutuhkan dan bukan sekali ini saja, karena banyaknya penderitaan rakyat di daerah. Dan diharapkan menyusul anggota DPRD yang lain, baik di tingkat propinsi atau kabupaten yang sehari-hari melihat langsung penderitaan.

Syarat utama pemimpin yang diinginkan Al-Quran, disamping yang jujur, kuat dan sabar ( Qawiy-Amin ) seperti Nabi Nuh, Musa, dan Muhammad, yang ahli dan jujur ( Hafizh-Amin ) seperti Nabi Ibrahim dan Yusuf, khalifah Umar menam,bahkan hendaknya pemimpin siap jadi khadam ( Pelayan masyarakat ). Terkenal dalam sejarah, ketika selesai dibai’at ia meminta kepada pemuka masyarakat agar mencarikan tokoh pemimpin untuk membantunya sebagai wazir ( semacam menteri ). Ketika pemuka masyarakat membawa calon yang dijagokan, Umar bertanya kriteria apa kalian sehingga mencalonkan si A misalnya ?. Pemuka masyarakat menjawab, kriteria yang kami pilih, sesuai Al-Quran dan Hadis, yaitu jujur, adil, kuat pisik, takwa, berilmu, berani, sabar, sederhana dan siap menjadi pelayan ( khadam).Dan dibuktikan dalam priode khalifah Umar.Akibatnya, Umar menambah satu kriteria utama, yaitu apakah Anda pernah melihat selama ini ada refleksi dari dirinya, langsung menolong dan membantu orang – orang miskin ?. Kalau ada itulah terbaik, seperti yang Anda pernah saksikan sendiri ketika bertetangga atau ketika bepergian bersama dalam suatu perjalanan.

Berdasarkan kriteria tambahan yang dibutuhkan khalifah Umar yaitu pemimpin yang suka menolong orang-orang kecil, maka sangatlah sukar memeroleh pemimpin yang persis Al-Quran, Sunnah dan sahabat. Tapi ajaran Islam mengajarkan “ Mala yudraku kulluh la yutraku kulluh ” ( Asal tidak meninggalkan seluruh pensyaratan ), terpaksa itulah yang kita pilih, terutama yang jujur, adil dan cepat refleksi imannya menolong orang miskin.

Salam sejahtera:Refleksi Islam yang menganjurkan salam sejahtera setiap saat ( Assalamu Alaikum ) sama yang dicontohkan Isa, ketika bergembira atas kelahirannya. Nabi Isa AS dengan ucapan yang pernah juga diakui Islam, tidaklah merusak akidah, selama pengakuan muslim tetap sama pada jalur yang diabadikan Al-Quran, yaitu :”Salam sejahtera untukku, pada hari kelahiranku, wafatku dan kebangkitanku kelak “ (QS.Maryam 33). Namun perlu diingat, sebelum Nabi Isa mengucapkan salam sejahtera, diyakini, bahwa beliaui adalah Abdullah (hamba Allah) yang diperintahkan salat, zakat, berbakti kepada ibu, dan dilarang berbuat sombong (QS.19 :32).Inilah cara mengucapkan selamat atas hari kelahiran Isa, menurut Al-Quran.
Ajaran Islam sudah menggariskan hendaknya selalu mendoakan dan memberi salam. Nabi pernah ditanya, amal apakah terbaik ?.Dijawan, amal yang paling afdal ialah suka memberi makan orang, dan suka memberi salam, kepadas orang yang kamu kenal dan belum (HR.Muslim).

Akhirnya, dari uraian singkat diatas dari sekian criteria yang diperlukan seorang pemimpin menurut Al-Quran, Hadis dan sahabat, maka yang paling dibutuhkan dalam memasuki pilkada di daerah, dipilih pemimpin yang bukan hanya jujur, kuat dan adil tapi dipilih terutama seseorang yang sering menyumbang orang miskin ( refleksi spontan ), baik sebelum dicalonkan atau sesdudahnya.Baik didepan camera atau tidak, karena Lillah. ( Wa Allahu a’lam ).
H. Mochtar Husein
09.58 | 0 komentar

Jadwal Kajian Rutin Pagi Hari FOSDA Masjid Mardliyyah UGM


07.17 | 1 komentar

Memahami Nabi Muhammad SAW

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 23 Januari 2013 | 22.08

Alhamdulillah, kita telah berada pula di bulan Rabi’ul awal. Bulan Maulid Nabi yang diperingati umat Islam Indonesia setiap tahun. Mulai dari desa terpencil, sampai ke istana Negara. Memperingati Maulid, bukan perbuatan bid’ah. Apalagi jika disebut dhalalah. Nabi sendiri memperingatinya, dengan puasa setiap Senin.Dan umatnya dianjurkan juga berpuasa setiap Senin.

Di desa-desa, diperingati secara tradisional, yaitu berzikir dan membaca sejarah nabi (Barzanji). Di kota-kota, dengan cara modern. Pidato dan diskusi, tapi juga mengenai prilaku nabi. Keduanya sama, yaitu hubburrasul. Jika Barzanji itu diterjemahkan, itulah yang afdal, karena dapat dihayati maknanya.

Yang menjadi masalah sekarang, masih banyak orang muslim yang keliru memahami hakikat Nabi Muhammad. Mungkin karena cintanya kepada rasul berlebih-lebihan, atau karena tidak merasakan terkontaminasi filsafat Yunani yang diterima oleh sebagian filsuf Islam. Akibatnya, ada yang memahami bahwa Muhammad itu pancaran (faidh) atau emanasi dari Tuhan. Muncullah istilah “Insan al Kamil”. Padahal istilah itu, tidak ditemukan dalam Al-Quran dan Sunnah sahih.

Bagaimana memahami dengan benar, sesuai Al-Quran ?.

Manusia biasa:Meyakini “ Muhammad Rasulullah”, adalah syahadat kedua. Wajib diyakini seorang muslim, sesudah syahadat pertama Lailaha illa Allah. Tidak ada diantara kita, yang meragukan kerasulannya. Diabadikan Al-Quran dengan “ Nasyhadu innaka larasul Allah ( Kami mengakui bahwa engkau, benar-benar Rasul Allah (QS.63:1). Demikian keistimewaannya, tidak ada yang meragui sebagai “ Khatam wa asyraf al-anbiya’ wa al-mursalin”. ( Penutup dan termulia dari segala Nabi dan Rasul ). Namun, Al-Quran juga dengan tegas menyatakan “ Qul Innama ana basyarun mislukum” (Katakan, sesungguhnya saya ini adalah manusia biasa, seperti anda )(QS.18 :11O)

Menurut ahli Tafsir Ali Al-Shabuni, bahwa Muhammad sebagai manusia biasa.. berlaku juga sifat biasa pada dirinya. Hanya perbedaannya karena Allah memuliakan dengan wahyu bertugas, mengabarkan tentang keesaan Allah dan memkanjikan pahala besar bagi mereka yang beramal dengan ikhlas.

Ahli Tafsir Al-Jazairi menambahkan bahwa ayat tersebut, merupakan jawaban kepada kaum musyrikin yang memintanya memperlihatkan mu’jizat semacam yang diberikan kepada Musa dan Isa, lalu nabi mengakui bahwa ada yang tidak mampu dilakukan, karena diluar mu’jizat yang diberikan Allah. Misalnya, mengubah tongkat jadi ular atau dapat menghidupkan orang mati, sehingga nabi berkata “Ana basyarun mislukum”.

Mufasir Ibnu Abbas, sebenarnya “ Ana basyarun mislukum” yang dilontarkan Rasul itu, adalah pelajaran tawadu’ yang hendaknya dimiliki seseorang, bahwa jika ada keistimewaan, bukan segalanya. Maklum, tetap seperti hamba Allah yang lain.

Untuk lebih meyakini, ayat lain lebih tegas menyatakan “Wawajadaka dhallan fahada, wawajadaka ‘ailan fa aghna “ ( Bukankah Tuhan mendapatimu seorang yang bingun, lalu Dia (Tuhan) memberikan petunjuk ?.Dia mendapatimu seorang yang penuh kekurangan, lalu Dia memberikan kepadamu kecukupan ?” (QS.93 : 7-8)

Namun, para ulama Tafsir mengakui pula, dibalik ayat yang menyatakan punya keterbatasan sebagai “ basyarun mislukum ” sambungan ayat itu menyatakan “Yuha ilayya annama ilahukum ilahun wahid… ( Diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan itu adalah Tuhan Yang Esa…) (QS.Al-Kahfi (18) :11O).

Manusia istimewa:
Apa artinya ?. Dalam satu ayat diatas, sesudah dinyatakan manusia biasa, kemudian dinyatakan ada keistimewaan ( keluar biasaannya ). Misalnya dari lebih seribu Nabi, yang dipilih menjadi rasul, hanya 25 orang. Dan dari 25 rasul, hanya nabi Muhammad SAW yang disebut “ Asyraful mursalin “( Rasul termulia). Dengan demikian betapa istimewanya nabi SAW. Laksana rembulan dikelilingi bintang. Keistimewaan itu terlihat juga, jika Tuhan memanggilnya dalam Al-Quran. Tuhan tidak menyebut namanya secara langsung, seperti “ Ya Muhammad ! ”. Tapi, Tuhan memanggilanya dengan sebutan mesra “Ya ayyuha al-nabiy - Ya ayuha al-rasul - Ya ayyuha al-muddatsir,” .( Wahai para nabi, Wahai para rasul -Wahai para yang berselimut). Menurut mufasir, semua panggilan dengan kata jamak, seperti itu, padahal ditujukan hanya satu orang yaitu Muhammad sendiri, itu adalah penghormatan yang tinggi. Sama juga dalam salam “ Assalamu Alaikum “ ( Mudah-mudahan kamu semua selamat dan sejahtera ), padahal pemberi salam itu hanya dia tujukan kepada satu orang saja.

Penghormatan lain Tuhan kepada nabi Muhammad, , yaitu diperintahkan “ Innallaha wamalaikatahu, yushallun ‘ala al- nabiy, ya ayyuha ladzina amanu shallu ‘alayh… ( Tuhan dan malaikatnya bersalawat kepada nabi, maka hai orang-orang mukmin, bersalawatlah kepadanya. (QS.33:65). Dan masih banyak lagi penghormatan lain, seperti menjadi rahmat seluruh alam.

Menurut Tafsir Al-Qurthubi, yang dimaksud salawat dari Tuhan kepada nabi pada ayat diatas yaitu Tuhan selalu mencurahkan rahmat dan ridha kepadanya. Mengenai salawat malaikat berarti melaikat selalu mendoakan dan istigfarkan. Sedang salawat orang mukmin berarti selalu medoakan dan ta’zhimkan.

Akan tetapi kita semua hendaknya sadar, bahwa bagaimanapun istimewanya nabi kita, tetap tidak boleh disamakan dengan Tuhan atau bahagian dari Tuhan. Seperti mempercayai bahwa emanasi dari Tuhan. Paham itu pernah dianut sebagian kecil filsuf Islam. Sebab itu, untuk memurnikan akidah, kita harus kembali kepada ayat diatas “Ana Basyarun mislukum” ( saya manusia biasa seperti anda ) dan pada surah Al-Ikhlas “ Walam yakun lahu kufwan ahad”( Dan tidak ada seorangpun yang setara atau mirip dengan Allah).

Adapun sifat-sifat Tuhan yang ada pada manusia misalnya rahman atau rahmat ( kasih sayang) perbandingannya 1OO berbandung 1. Artinya kasih sayang Tuhan dikurangi 1 = 99 . Jadi, yang satu itulah dibagi-bagikan kepada seluruh makhluk, sehingga seekor binatang tahu mengangkat kakinya, sehingga tidak sampai menginjak-injak anaknya yang baru dilahirkan sampai mati.

Insan al-Kamil ?Falsafah “ Insan al-Kamil ” ( manusia sempurna ), dipahami sebagian sufi, bahwa kesempurnaan itu adalah copy Tuhan dalam diri Muhammad. Diorbitkan oleh sufi, Abd. Karim Al-Jili (w.1428 M) . (Astagfirullah).

Menurut Prof. DR.M.Rasjidi (Dosen “Filsafat Islam”), waktu penulis masih kuliah di Purnasarjana IAIN Yogya (1978), menerangkan, bahwa “ Istilah Hakikatul Muhammadiyah atau Nur Muhammad atau Insan al-Kamil yang dianut sebagian Sufi, adalah hasil dari meresapnya faham Neo Platonisme, yang dianut oleh Al-Kindi dan Al-Farabi”. Teori “emanasi” itu berasal dari pandangan, bahwa semua yang ada ini, memancar dari zat Tuhan melalui akal-akal ke sepuluh. Akal menurut pemikiran, mempunyai 3 tingkatan: Al-hayulani (material), bi al-fi’il (actual) dan al-mustafad (adeptus), dan tingkatan terakhir inilah yang menerima pancaran (emanasi) dari Tuhan. ( Dapat dilihat juga pada:” Koreksi terhadap DR.Harun Nasution, 1977:128).

Mengenai makna “Ahsani taqwin “ dalam Al-Quran, itu berlaku untuk seluruh manusia yang diciptakan Tuhan. Diakui pakar Tafsir, Prof. DR. M.Quraish Shihab, bahwa makna “ Ahsani taqwin” dalam Al-Quran, berarti bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Ia mengutip pendapat mufasir Ragib Al-Asfahani, bahwa kata “taqwin” pada ayat tersebut, hanya mengisyaratkan bentuk pisik manusia lebih baik, dari binatang, serta mempunyai keistimewaan, karena dilengkapi akal. (Lihat : Tafsir Al-Quran,1997:741). Artinya, Insan al-Kamil, bukan istilah Al-Quran.

Satu-satunya yang dijadikan alasan sebagian sufi adalah Hadis Jabir, yang bukan bersumber dari “Kutubussittah“ ( 6 kitab Hadis yang diakui ). Jabir berkata, “ Yang pertama diciptakan Tuhanmu adalah Nur nabimu ”, ternyata ahli Hadis sendiri, menilainya hadis Dha’if. Imam Syafei yang pernah membolehkan penggunaan Hadis dha’if, hanya menyangkut masalah ibadah ( Fadilah. Amal) .Tapi masalah Akidah dan Syari’ah, Imam Syafei sendiri tidak mau menggunakannya. Adapun Tasawuf yang dikembangkan Imam Besar Al-Ghazali, seluruhnya adalah Tasawwuf Sunni (Akhlak). Dan beliau dikenal menolak Tasawuf filsafat, seperti yang dianut Al-Kindi, dkk).

Alhasil, memahami “Muhammad Rasulullah SAW ” dengan benar, sederhana saja.Tidak perlu berbisik-bisik dan mengeluarkan biaya. Cukup mentaati dan meniru akhlaknya, seperti tertulis dalam Al-Quran dengan “Uswah al-Hasanah” ( Teladan terbaik). Metodenya, “ Qul in kuntum tuhibbun Allah, Fattabi’uni, yuhbib kum Allah wa yaghfir lakum dzunubakum “ ( Kalau kamu betul-betul mencintai Allah, ikutilah saya, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu ) ( QS. 3:41 ).

Menurut Tafsir Al-Bayan, akhlak Nabi yang harus diikuti, terutama pada Sural Al-Mu’minun 1-1O. Diantaranya, selalu siap menunggu waktu salat, sangat khusyu’ dalam salat, menjauhi perkataan dan perbuatan sia-sia, suka bersedekah, memenuhi amanah dan menepati janji serta tidak suka berdusta.(Juz V :137).

Akhirnya, memahami nabi Muhammad dengan benar berdasarkan Al-Quran, ialah meyakini kerasulannya, mentaati perintahnya, meneladani akhlaknya, meyakini disamping manusia biasa, juga manusia istimewa dan rasul termulia, mempunyai misi utama pembawa rahmat bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta mempunyai rahmat khusus kepada orang mukmin, dengan syafaatnya. Sebagian ulama berpendapat terutama yang suka memberi salawat dan mengikuti sunnahnya. .Semoga kita semua memperoleh kontribusi syafaatnya. Amin.
22.08 | 0 komentar

IN-TRACK NASYID

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 22 Januari 2013 | 14.57

IN-TRACK merupakan kelompok nasyid baru kelahiran Sarawak. Dibarisi 5 anak muda, membawa satu variasi irama nasyid dengan gelombang musik tersendiri.

Anggota kelompok In-Track yang merupakan mahasiswa Universitas Malaysia Sarawak (UNIMAS) dipertemukan melalui satu ujibakat untuk bergabung Festival Nasyid Kemerdekaan Antara IPTA anjuran Universitas Malaysia Perlis (UNIMAP) pada tahun 2009. In-Track, ketika itu dikenal sebagai kelompok Da'My untuk mewakili UNIMAS dan berhasil maju ke babak final festival nasyid tersebut.
Bertitik tolak dari pertemuan itu, ikatan ukhwah mulai terjalin antara anggota malah kesenorokan menyampaikan dakwah melalui lontaran vokal harmoni mulai terasa. Setelah mengadakan musyawarah, anggota-anggota kelompok In-Track mencapai kata sepakat untuk mengabadikan ukhuwah dan dakwah dalam bentuk kompilasi yang bisa dibagi bersama. Maka lahirlah album pertama In-Track pada 6 Februari 2010 hasil titik peluh dan modal yang dikeluarkan sendiri oleh anggota-anggota In-Track.
Pemilihan nama In-Track juga melalui satu proses musyawarah yang panjang. Setelah memeras ide bersama, maka nama In-Track disetujui sebagai nama kelompok. Pemilihan nama tersebut dianggap unik karena melalui satu kata, beberapa maksud dan interpretasi dapat dilahirkan. Walau sering dikaitkan memiliki persamaan dengan nama kelompok nasyid yang ada, namun pemilihan nama ini mengandalkan alasan yang kokoh dan langsung tidak terdetik untuk meniru setiap nama kelompok nasyid yang lain.
Kata In-Track berasal dari kata inggris interact yang berarti interaksi atau komunikasi. Interaksi yang dimaksud adalah hubungan bilateral antara In-Track dan para pendengar. Selain itu, In-Track juga memiliki maksud dalam landasan atau rute. Melalui lagu dan musik, jelas In-Track ingin menyampaikan kepada pendengar bahwa landasan yang tepat adalah berlandaskan Al-Quran dan as-sunnah. Kata track juga berarti data atau sering mengacu pada lagu-lagu di dalam CD. Dengan kata lain, segala pesan yang ingin disampaikan terkandung di dalam lagu-lagu dendangan In-Track.

 Bagi sahabat yang ingin lebih tahu banyak perkembangan grup nasyid ini silahkan bisa mengunjungi laman di
https://www.facebook.com/nasyid.intrack 
Sumber


14.57 | 0 komentar

Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL” 3 Seri (Lengkap)

Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL” merupakan sebuah aplikasi interaktif yang didesain untuk memberikan kemudahan dan pengalaman yang ‘berbeda’ dalam pembelajaran bahasa arab. Aplikasi ini didesain dengan menggunakan teknologi flash dan dijalankan dalam sebuah paket CD.

Secara antarmuka aplikasi ini berbentuk flip page sehingga anda akan merasa membuka lembaran-lembaran sebuah buku yang mengajarkan anda dalam memahami bahasa arab. Cara belajar yang ditawarkan cukup sederhana, lihat pelajarannya dan dengarkan penjelasannya, cukup unik dan tentu saja menarik. Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL” ini mengadopsi konten dari pelajaran bahasa arab yang di ampu oleh Ustadz Ibnu Sutopo yang merupakan alumnus Ma’had Ilmi’ Yogyakarta dan Teknik Kimia UGM, beliau saat ini aktif sebagai salah satu staff pengajar pada Pondok Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga.

Aplikasi ini diharapkan dapat memperkaya media pengembangan konten-konten Islami dan memberikan suatu pendekatan baru bagaimana mempelajari bahasa arab dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Pelajaran pada Seri 2 Aplikasi Praktis Belajar Bahasa Arab Dari NOL ini dimulai pada pelajaran Fi’il Ma’lum dan di akhiri pada pembahasan Marfu’atul Asma (isim-isim yang marfu) bagian khobar inna.

Pelajaran pada Seri 3 Aplikasi Praktis Belajar Bahasa Arab Dari NOL ini dimulai pada pelajaran Manshubatul Asma (Isim-isim yang manshub) dan di akhiri pada pembahasan Majrurotul Asma (Isim-isim yang majrur) dan penutup.

Demo Aplikasi

Demo Web

atau mengunduh aplikasi melalui

Download Demo

Untuk melihat demo web tentu saja anda harus memastikan bahwa browser anda mendukung file swf, jika tidak, install terlebih dahulu flashplayer dari link ini,

Download Flash Player

Harga per satu  CD = Rp 25.000,00


Aplikasi Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL

***

Detail dari produk bisa melihat pada Praktis Belajar Bahasa Arab Dari NOL
Jika ingin mendapatkan CD ini melalui NURISFM bisa Hub : Abu Azka (085716863625)
14.28 | 0 komentar

Hati yang Lunak

Written By Rudi Abu azka on Senin, 21 Januari 2013 | 21.07

Nabi Muhammad SAW sebagai Dai (mubalig) pertama, dalam sejarahnya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang, seperti “ Kamu Kapir, Fasik, Munafik atau Tukang Bid’ah ” .Kepada seseorang.yang non muslim, dipanggilnya dengan lunak , “ Ya ahli Kitab “ ( Hai yang punya kitab suci), “ Ya bani Adam “ ( Hai keturunan Adam), ” (Hai bangsa manusia), dsb..Padahal yang dihadapi, adalah mereka yang terang-terangan menentang Islam. Apalagi kepada sesama muslim. Berbeda sekali yang kita dengarkan dari yang karbitan.

Seluruh ahli dakwah sepakat, bahwa menyampaikan pesan-pesan agama itu, hendaknya lunak, dan menyentuh hati. Definisinya “ Minal qalbi ilal qalbi “ ( Keluar dari hati, menyentuh hati pula)

Dalam Bahasa Arab, hati itu disebut “Qalbu litaqallubih “ (Dinamakan qalbu, karena gampang berubah-ubah ).Sebab itu dalam Tahiyah akhir salat, seorang musalli dianjurkan membaca “ Stabbit qalby ‘ala dinika” (Wahai Tuhan yang dapat mengubah-ubah hati, tetapkanlah hatiku, agar konsisten memegang agamamu ). Artinya, seorang mushalli selalu memohon kepada Allah agar iman itu, jangan sampai berubah-ubah, seperti berubah-ubahnya pengaruh keduniaan.

Banyak ayat dalam Al-Quran yang mengarahkan betapa perlunya hati dan prilaku itu lunak, terutama seorang Imam ( pemimpin ) dan Da’I. Diantaranya “ Ya Muhammad jika kamu berhati keras niscaya mereka akan lari dari sekelilingmu “.(QS.3 :159). Artinya sebaliknya, jika kamu berhati lunak dalam berdakwah, niscaya mereka akan datang mendekatimu dan mempercayaimu. Hal ini dapat dilihat beberapa metode dakwah yang digariskan Al-Quran, misalnya :

(1) “Berdakwah dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah. ( bijaksana dan pelajaran yang baik) dan jika berdiskusi (dialog) dengan cara yang lebih baik (Ahsan ) (QS.al-Nahl : 125).

(2) “ Aku mengajak kalian ke jalan Allah dengan Basirah (keterangan yang nyata )” . (QS. Yusuf :1O8).

Lebih empati: Menurut Doktor Yusul Al-Qardhawi, kedua ayat tersebut menjelaskan, bahwa dalam mengajak orang berbuat baik, hendaknya dilakukan dengan cara yang rasional dan menyentuh hati (Akal dan qalbu).Itu dimaksudkan, bahwa dalam menerangkan masalah akidah dan muamalah, bukan hanya dengan ancaman meninggalkan yang dilarang, tetapi hendaknya disertai dengan solusi. Sehingga terlihat bahwa kebaikan yang hendak dicapai, sedapat mungkin tidak meninggalkan problema baru. Demikian juga dalam berdialog, bukan dengan cara mencederai perasaan sesama manusia, sekalipun kita sedang sedang bersaingan. Artinya, ayat ini mengandung dua metode.

Pertama : dengan cara yang baik.(Bilhikmah wal mauizhah hasanah).

Kedua : dengan berdikusi dan dialog dengan cara yang lebih baik lagi (hiya ahsan). Mengapa harus demikian ?.

Karena dalam berdiskusi itu biasanya ada persaingan, sehingga sebagian orang condong membiasakan dirinya, ingin menjatuhkan lawan, atau mencederai, sehingga berusaha akan tampil jadi pemenang. dalam berdebat. Sebab itu metode Al-Quran, mengantisipasi jauh sebelumnya. Agar jangan sampai kebiasaan itu disandang juga seorang mubalig yang tujuaannya harus lebih empati.

Maka sebab itu “ Hiya ahsan” berarti ( Hendaknya cara yang lebih baik, dan lebih indah). Hal itu telah dipraktekkan Rasul, sehingga umatnya perlu meneladani. Dan sebagai gambaran bahwa Islam itu betul-betul ajaran yang rahmat, indah dan menawan.

Imam Al-Gazali pernah berkata, baik yang mengajak berbuat baik (Da’i) maupun yang yang diajak berbuat baik (Mad’u) keduanya hendaknya sama-sama berhati lunak. Dan diharapkan lebih lunak lagi, disertai kesabaran. jika yang dihadapi, adalah orang yang doyan berbuat kemungkaran (dosa besar).

Hal tersebut dapat dilihat, bagaimana pesan Tuhan kepada Nabi Musa dan Harun, ketika mengahadapi Fir’aun, yang memaklumkan dirinya Tuhan, kata Tuhan “ Berbicaralah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut” (QS. Thaha 43).

Menurut sahabat nabi Ibnu Mas’ud, “ Perkataan yang disampaikan jika tidak sesuai otak dan sentuhan kalbu manusia, justru akan menimbulkan pitnah dan kontra.

Syekh Muhammad Abduh, lebih transparan dalam tafsirnya bahwa metode Al-Quran surah Al-Nahal 125, yaitu ada 3 golongan :

(1) Terhadap cendikiawan, hendaknya yang disampaikan, dengan cara pemahaman kritis, rasional dan argumentasi yang kuat.

(2) Terhadap yang awam, dengan nasehat yang baik dengan ajaran yang mudah dipahami serta mempunyai solusi.

(3) Terhadap mereka yang bukan dari keduanya, terutama kepada yang non muslim, hendaknya dengan cara yang lebih baik, sehat dan empati.

Akhirnya, berdasarkan Al-Quran, Sunnah dan ahli Dakwah, maka dakwah Islam itu hendaknya disampaikan dengan lunak dan menyentuh hati yang terdalam. Al-Quran sendiri dengan keindahan bahasa, kelunakan nada dan irama, yang spesifik lagu padang pasir, dapat mengubah hati yang keras, menjadi hati yang lunak, seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab.
21.07 | 0 komentar

METODE DAKWAH

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 20 Januari 2013 | 11.51

Sejak Rasulullah saw., dakwah memang ditetapkan sebagai suatu metode yang khas islami dalam penyebaran agama Islam bagi seluruh umat manusia. Kini masyarakat manusia sudah semakin maju dan problematika hidupnya semakin bertambah kompleks, sementara dakwah hams tetap berjalan, terus berlaku, tetap berfungsi dan terus berperan, tetap berlangsung dan terus berkelanjutan melangkah untuk memberikan insentif-insentif bagi tingkah laku manusia, memberikan respons kuratif dan rispek (respect) preventif, dalam rangka menyelamatkan manusia dari degradasi sosial dan kemanusiaan dari penyakit dehumanisme yang semakin berkembang dan sedang menuju krisis identitas, legalitas krisis penetrasi, partisipasi dan krisis distribusi.

Maka metode dakwah berupaya untuk mengadakan pendekatan-pendekatan, agar dakwah bisa mengatasi, sekurang-kurangnya dapat memecahkan problematikanya dengan memberikan jalan keluar yang terbaik. Kalau kita sudah terjun di medan dakwah berhadapan dengan objek dakwah di lapangan, berarti saat itu juga kita akan berhadapan dan dihadapkan kepada masalah metode dakwah. Berhadapan, karena manusia sebagai sasaran memerlukan penerapan metode yang berbeda-beda. Dihadapkan sebab kita benar-benar menghadapi kenyataan objek yang beraneka ragam yang tentu saja menuntut kita untuk menguji efektivitas metode dengan intensitas materi dakwah atau antara teori dan praktik.

Jadi, masalah metode dakwah berkisar pada masalah bagaimana kemampuan juru dakwah menyesuaikan materi dengan situasi dan kondisi sasaran serta tujuan yang hendak dicapai. Di sinilah dibutuhkan keterampilan dan kecakapan juru dakwah serta motivasi yang kuat dalam keiempatan melaksanakan dakwah yang luas.

Metode berasal dari bahasa Yunani methodos, merupakan gabungan dan kata meta = melalui, mengikuti, sesudah dan kata hodos = jalan, arah, cara. Jadi, metode artinya suatu cara yang bisa ditempuh.
Selain metode, ada lagi istilah sistem, yang juga berasal dari bahasa Yunani sistema, artinya: Sekumpulan atau keseluruhan cara yang tersusun secara rapi dan baik, yang bergerak menuju suatu tujuan tertentu.
Ada lagi istilah Tech'nique (teknik) yang artinya: Kemahiran membuat atau melakukan sesuatu yang berkenaan dengan seni.

Ketiga istilah tersebut bisa dibedakan dalam pengertian, tetapi sulit dipisahkan dalam praktik karena ketiga-tiganya mengandung arti yang sama, yakni tatacara yang diorganisasi, untuk mencapai tujuan lebih maksimal dan optimal.

Syiar dakwah yang pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah, seluruhnya merupakan lambang metodologis dakwah yang seclikitnya telah mampu mengubah manusia jahiliyah ke dunia barn Islam. Maka metode dakwah sebagai sarana objektif yang bersumber dari ajaran Allah dan Rasul-Nya itu hams mampu dijalankan dan dapat diterapkan untuk segala tingkatan masyarakat sasaran di segala ruang dan waktu.

Oleh karena itu, metode-metode ini hams terus dikembangkan mengikuti lajunya zaman, dan pesatnya ilmu pengetahuan serta canggihnya teknologi, melalui pendekatan-pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, agar tetap up-to-date, aktual dan rasional. Artinya, dengan metode itu, juru dakwah hams mampu menjabarkan kebenarankebenaran sesuai dengan keperluan, kebutuhan, permintaan dan tuntutan masyarakat sasaran, dengan tetap berpijak di atas acuan yang bersifat standar universal serta rujukan yang tetap autentik dari Rasulullah saw. sebagai manusia sumber yang tetap diakui keabsahan dan validitasnya, maupun kesolidan dan aktualitasnya sepanjang masa. (Al Ahzab: 21).
Metode klasik yang masih tetap up-to-date itu adalah:
1. Metode sembunyi-sembunyi, pendekatan kepada sanak keluarga terdekat, terang-terangan atau dekralatif.
2. Metode bil lisan, bil qolam, bil hal dan bil 'amal.
3. Metode bil hikmah, mau'izlatil hasanah, mujadalah billati hiya ahsan (disebut juga sistem)
Metode:
Tabsyier wat Tandzier
Targhieb wat Tarhieb
Amar ma'ruf nahi mungkar
Ta'awanu alal birri wat taqwa, wala ta'awanu alal itsmi wal 'udwan
Dana 'ala khairin
Tawashau bil haq wash shobr
Tadzkirah
Taghyier Tabligh Di'ayah Fastabiqul khairat, ilal maghfirah wa jannah
Da'a ilallah (yang disebut juga Teknis).

Di dalam metode-metode tersebut sudah tercakup pengertian metode langsung dan tidak langsung. Kemudian, metode, sistem, dan teknik dakwah tersebut masih bisa dikembangkan lagi menjadi beberapa pola dan cara yang sedang berkembang di dalam masyarakat dengan bermacam-macam istilah baik yang tradisional, formal maupun yang ilmiah.
11.51 | 0 komentar

Mendidik Anak Menjadi Saleh

Dalam Bahasa Arab, ‘saleh’ atau aslinya “shalih”, menunjukkan lawan dari kerusakan, yakni selalu ingin berbuat baik dan mendamaikan. Dalam hubungan ini, kota Mekah disebut sebagai kota kesalehan, karena ditempat itu ada Ka’bah yang merupakan tempat, dapat memperbaiki diri dan bertobat ( Maqayis Lughat : 574 ).

Menurut mufasir Al-Jazairi, yang disebut anak saleh ialah “Mereka yang mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Terhadap Allah SWT dan kepada sesama manusia. Atau anak yang saleh ialah dominan amal baiknya dari amal jeleknya”( Juz II : 5O4).

Dari pengertian tersebut dipahami, anak saleh itu ialah anak yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan taat kepada kedua orangtuanya serta berprilaku baik kepada sesama manusia dan lingkungannya (termasuk negaranya).Atau anak saleh ialah anak yang selalu siap mendamaikan, memperbaiki yang jelek serta mempunyai keterampilan yang berguna kepada masyarakat. Bukan dimonopoli hanya orang yang kuat ke mesjid dan banyak membaca tasbih, seperti pengertian klasik.

Dalam Alquran:
Dalam Alquran terdapat 29 ayat yang memberi gambaran, betapa pentingnya kesalehan itu diorbitkan, doa-doa yang mendukung untuk dimunajatkan orang tua kepada Allah, agar anaknya menjadi anak yang saleh. Diantaranya :

(l) “Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ... Jika mereka miskin, Allah akan memberi kurniaNya. (QS.24:32).

(2) “ …Kami tuliskan dalam Lauh (Mahfudz), bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh” (QS.2l:lO5).

(3) “(Ya Allah) Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh” (QS.l2:lOl).

Dari tiga ayat tersebut dipahami, bahwa dalam rangka pembinaan manusia saleh, maka jenjang pertama adalah membangun dasar-dasar perkawinan yakni dengan membentuk keluarga bahagia. Dengan memilih pasangan hidup yang mukmin dan saleh (Taat menjalankan agama), erta melihat keturunannya agar dapat memperoleh hasilnya karena menggunakan bibit unggul.

Kemudian pada ayat kedua, digambarkan pentingnya pembinaan keluarga, harus didukung kemampuan ilmu dan keterampilan, dalam kapasitas manusia sebagai pewaris dari hamba-hamba Allah yang terpilih dan mampu menggali, mengolah dan memberdayakan sumberdaya alam dan memeliharanya. Artinya, kesalehan itu bukanlah mereka yang suka membuat kerusakan di dunia, atau yang mencari keuntungan pribadi, sekalipun harus mengorbankan ekosisten bumi.

Kemudian pada ayat ketiga, dianjurkan perlunya lahir anak-anak saleh dengan selalu berdoa kepada Allah, agar dikurniai keturunan muslim yang saleh, yang dapat memakmurkan bumi.
Konsepsi pembinaan manusia menjadi saleh menurut Alquran dapat diciptakan yang esensinya, dengan mengikuti nasehat-nasehat Lukman al- Hakim kepada anaknya, yang diabadikan Alquran, yaitu:

(l) Janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, karena sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kezaliman yang besar.

(2) Bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasihlah kepada kedua orangtuamu.

(3) Jika orangtuamu memaksamu menjadi musyrik, janganlah ditaati (tetapi), tetap berbuat baik kepada keduanya di dunia.

(4) Ingatlah, sekecil apapun perbuatan yang kamu lakukan, Allah akan membalasnya.

(5) Dirikanlah salat, berbuatlah yang makruf dan cegahlah perbuatan mungkar.

(6)Janganlah kamu bersombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong.

(7)Berjalannlah dengan langkah sederhana dan lunakanlah suaramu. (QS.3l:l3-l9)

Ketujuh ayat tersebut, titik beratnya ada 3. Pertama, akidah harus diperkuat, jangan sampai rusak lantaran harta atau pangkat atau pengaruh pemurtadan budaya barat. Hendaknya diyakini bahwa Tuhanlah pemberi rezeki dan mensyukur pemberiannya. Kedua, hendaknya meyakini, kejahatan dan korupsi sekecil apapun akan mendapat balasan di dunia dan akhirat. Ketiga, harus banyak beribadah, berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Didalam hadis :
Pembentukan anak saleh dijabarkan melalui hadis, diantaranya:

(l) Rasulullah mengazan telinga cucunya Hasan, ketika lahir (HR.A. Dawud ).

(2) “Perintahkanlah anak-anakmu melakukan salat di usia 7 tahun… “(HR.Muslim)

(3) Berilah anakmu nama yang baik , makanan yang halal, pisahlah dari tempat tidurnya dan kawinkanlah setelah dewasa (HR.Annasai).

Khalifah Umar memerintahkan kepada Gubernur, “ Ajarlah anak-anakmu berenang, berpanah dan menunggang kuda “( termasuk keterampilan ), seperti menjadi sopir, penulis, ahli komputer).

Imam Al-Gazali melengkapi bahwa hakikat mendidik anak saleh, agar anak tidak diberi makanan yang syubhat apalagi haram, baik zatnya atau cara memperolehnya. Sebab semua bibit yang kotor ( misalnya hasil korupsi ), hasilnya pasti kotor pula.

Akhirnya, kaifiat Alquran mendidik anak saleh, dimulai tauhid yang kuat, hanya Allah yang disembah, lalu latihan ibadah, keterampilan dan akhlak, kemudian memberi makanan halal serta selalu mendoakan setiap selesai salat

10.09 | 0 komentar

Berlaku Adil dan Ihsan

SALAH SATU pensyaratan Khutbah setiap Jumat, selain wasiat takwa, juga diperintahkan berlaku adil dan ihsan, terutama dari seorang pemimpin. Dari pemimpin RT yang kecil, sampai pemimpin Negara yang besar.

Al-Quran menyebut “ Inna Allah ya’muru bi al- ‘ad-li wa al- ihsan…” (Sesungguhnya Allah memerintahkan manusia senantiasa berbuat adil dan ihsan…). Ayat ini pula yang menjadi esensi utama dalam pemerintahan Khalifah Umar Aziz, dengan mewajibkan setiap tema pidato mengutamakan mebaca ayat ini dalam setiap Jumat untuk mengakhiri khutbah yang selama ini keturunan Umayah, mencaci maki keturunan Ali bin Abi Thalib, dan telah berlangsung ratusan tahun lamanya. Akibat perubahan khutbah caci maki mencadi kasih sayang, maka pemerintahannya berlangsung aman, adil dan sejahtera, seperti di zaman moyangnya Khalifah Umar Khattab, RA.

Apakah Adil itu ?.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Adil mempunyai 3 makna (1) Tidak berat sebelah, tidak memihak dalam keputusan (2) Berpihak kepada yang benar atau berpegang kepada kebenaran (3) Berlaku sepatutnya dan tidak bertindak sewenang - wenang. Atau betul-betul memutuskan satu perkara dengan menghukum yang bersalah dalam peradilan.

Ihsan mempunyai 2 makna (1) Berbuat baik (2) Suka berderma yang tidak diwajibkan.(sedekah).

Itulah pengertian adil dan ihsan setelah ditransfer ke dalam Bahasa Indonesia.

Adapun makna aslinya dari Bahasa Arab ialah, Adil berakar dari huruf ‘Ain, Dal dan Lam (‘Adala ) yang artinya ada dua. Pertama, “ Yadullu ‘ala istiwa’ “( Menunjuk sesuatu yang seimbang dan sama ). Kedua, “Yadullu ‘ala I’wijaj “ (Menunjuk sesuatu yang pincang dan tidak sama ). Misalnya hukumnya seimbang atau sesuatu yang sama. Seperti orang yang musyrik kepada Tuhan, disamping percaya ada Tuhan yang benar, juga masih percaya kepada benda yang bukan Tuhan, sehingga disebut berlawanan dan pincang. Misalnya dalam Al-Quran, terdapat banyak hal yang dianggap sama hukumnya seperti orang tua bangka yang tidak sanggup puasa lagi, tapi sudah seimbang jika ia membayar “ fid-yah” satu liter beras perpuasa. (QS.2 : 123 ).

Jadi, adil itu ialah keseimbangan sehingga tidak miring sebelah.

3 perintah:Banyak ayat yang memerintahkan untuk berbuat adil dan berlaku ihsan kepada terutama seorang pemimpin Diantaranya : “ Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta membantu kaum kerabat. Dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu, agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS.Al-Nahl 9O).

Menurut ulama Tafsir, ayat tersebut adalah ajaran akhlak yang merupakan rangkuman dari semua kebaikan yang diperintahkan dan rangkuman semua kejahatan yang dilarang. Sebagian sahabat nabi mengakui nanti sesudah ayat ini turun, barulah dia terasakan kemantapan hatinya kepada Islam karena telah mampu melaksanakan tiga perintah dan tiga larangan dalam pada ayat tersebut.

Dalam Tafsir Al-Bayan mengakui makna spesifik ketiga perintah dan larangan Al-Quran, yaitu : Pertama, yang dimaksud berbuat “ adil ” ialah betul-betul meyakini keEsaan Allah yang tidak mempunyai syarikat dan mengakui kerasulan Muhammad sebagai rasul terakhir yang harus diteladani, seperti dalam syahadat. Sedang adil terhadap masyarakat ialah betul-betul bergaul dengan masyarakat secara maksimal dengan memberikan hak-hak mereka tanpa diskriminasi dan perbedaan, antara satu dengan yang lain dalam berbagai bidang, hukum atau sosial secara terang-terangan atau tersembunyi.

Kedua, yang dimaksud berbuat “ihsan” ialah memberikan bantuan material dan berusaha mengatasi kesulitan mereka, misalnya dengan mencarikan pekerjaan sehingga mampu mencapai penghidupan yang layak dan sesuai kemampuannya. Tapi ihsan itu lebih afdal jika dilakukan secara sembunyi.

Ketiga, adapun yang dimaksud “ Itai dzil qurba” ( membantu kaum kerabat ), artinya semua bantuan yang diberikan kepada orang lain, berlaku pula bantuan yang diberikan kepada keluarga dekat sesuai hak-haknya, yaitu kalau perlu dapat diberikan mencapai sampai seperlima dari harta yang dibagi. Disamping senantiasa melaksanakan silaturahim sebagaimana layaknya kerabat.

Itulah tiga perintah dalam ayat diatas.
3 larangan.Pertama, dilarang melakukan “Fahsya’ “ yaitu semua perbuatan yang keji dan menjijikan, seperti berbuat zina dan kikir. Kedua perbuatan itu yakni zina karena merusak jasmani dan keturunan sedang kikir karena merusak pribadi dan masyarakat.

Kedua dilarang berbuat “Munkar “ yang dimaksud ialah segala kejahatan yang diingkari baiknya oleh syariat atau diakui buruknya oleh adat. Seperti mencuri, menjudi dan mabuk-mabukan.

Ketiga dilarang “ al-bagh-yu “ yang dimaksud ialah jengkel, bermusuhan dan zalim terus- menerus dalam masyarakat, sehingga ketenteraman dan kedamaian sangat sulit diperoleh. Salah sebuah hadis menyatakan, jika dosa “al-Bag-yu” (permusuhan) dipraktekkan masyarakat, maka bencana secara spontan (krisis ekonomi dan bencana lain) akan segera menimpa, atau bencana yang akan menimpa bagi orang yang suka memutuskan tali persaudaraan (Tafsir Ibnu Katsir II) dan Al-Bayan V).

Agar lebih jelas makna “ Baghyu” dapat dilihat ketika terjadi perang saudara antara Khalifah Ali dengan Gubernur Muawiyah di Damaskus yang membangkang kepada Khalifah dan telah menewaskan ribuan lasykar dari kedua belah pihak, salah seorang lasykar Khalifah bertanya kepada Ali, “ A Musyrikun” ?. (Apakah mereka itu tergolong musyrik) ? Qala La (Tidak), “ A Kafirun ? “ (Apakah mereka telah Kafir) ?. Qala La (Tidak), “ Fama Baluhum ?” (Kalau begitu, bagaimana keadaan mereka) ?. “ Qala ikhwanuna, baghau ‘alaina” (Jawab Ali,: Saudara kita jengkel dan marah kepada kita ).

Dari dialog Khalifah Ali tersebut dengan lasykarnya, ternyata moral Khalifah Ali yang tinggi masih menganggap orang yang membenci dan telah mengangkat senjata, kepadanya hanya dinilai sebagai orang yang jengkel terus menerus dengan istilah “Baghau”

Dengan demikian yang dimaksud “ Bagau atau Bagyu “ ialah orang yang selalu mengembangkan permusuhan yang dapat mengancam ketenteraman masyarakat. Artinya kalau permusuhan politik berjalan terus menerus, maka mustahil ketentraman masyarakat itu dapat dicapai. Sebab itu ayat diatas Tuhan memerintahkan agar senantiasa berbuat adil dan ihsan terutama bagi seorang pemimpin.

Berbuat adil dan ihsan adalah jiwa pertama yang melahirkan kesejahteraan. Dan itulah pula yang menyebabkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz mewajibkan dalam setiap khutbah untuk dibaca setiap khatib sebagai p;idato wajib dalam sepekan.

Rasul SAW bersabda : ”Adil itu baik, tapi akan lebih baik jika dilakukan terutama oleh para pemimpin ( Presiden, Gubernur, Bupati, Camat dan Lurah ). Dermawan itu baik, tapi lebih utama jika dilakukan orang-orang yang kaya. Wara’ ( Hati- hati ) itu baik, tapi lebih utama jika dilakukan orang-orang berilmu (ulama). Sabar itu baik, tapi lebih utama jika dilakukan fakir miskin. Malu itu baik, tapi lebih utama jika dilakukan kaum wanita”. (HR.Dailami)

Kontrol social Agar praktek keadilan dan ihsan itu terpelihara dengan baik, dalam komunitas, terutama dalam tubuh seorang pemimpin, maka kontrol sosial dan pengawasan masyarakat, hendaknya dihidupkan secara kontinyu, seperti dari pihak legislatif, pers, ulama (mubalig) dan mahasiswa.

Jika semua pengontrol itu lumpuh maka keadilan dan keihsanan pasti gagal. Ketika Khalifah Umar Khattab membagikan kain dua meter perorang, sehari sesudahnya ia kumpulkan rakyatnya disuatu lapangan dan menanyakan, “ Apakah anda sudah memperoleh semuanya.? Semuanya menjawab, sudah. “ Apa ada musykil ? “.Seorang pemuda jangkung maju ke hadapan khalifah memerotes, sambil berkata, “kami semua sudah menerima pembagian, tapi khalifah tidak adil”. . “Apa alasannya,” kata Khalifah. ?” Sijangkung melanjutkan protesnya dan berkata, . “Mengapa khalifah yang dadanya lebar cukup menjahit menjadi satu qamis, pasti khalifah mengambil lebih dari dua meter.!”. Dengan tenang Khalifah memanggil puteranya Abdullah untuk menjelaskan, “ Bapak-bapak sekalian, kini saya datang ke tempat ini tanpa qamis karena pembagian saya yang dua meter, saya berikan kepada ayah, .agar cukup sebuah qamis.” Akibatnya, si jangkung meminta maaf. .Demikian menguji keadilan dengan pengawasan di zaman Umar, menyebabkan pemerintahannya berjalan adil, ihsan dan makmur.

Alhasil dari syarahan tersebut, maka jalan satu-satunya mencapai kesejahteraan, para pemimpin hendaknya selalu berlaku adil dan ihsan,dalam prilakunya, karena itulah jiwa kesejahteraan yang dapat bersinambung.Kalau pemerintah zalim hancurlah Negara. Semoga Allah memberikan inayah dapat melaksanakan keadilan. Amin.
10.04 | 1 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung