Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Wanita Yang Beruntung

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 31 Maret 2011 | 22.32

Suasana pagi itu sangat sibuk. Jam menunjukkan pukul 8:30 ketika seorang lelaki tua umur 80-an masuk meminta agar jahitan di ibu jarinya dilepas. Ia berkata bahwa ia sedang terburu-buru karena ada janji pukul 9:00. Aku memahami gelagatnya lalu memintanya duduk. Aku tahu pekerjaan ini akan memakan waktu lebih dari satu jam sebelum orang lain bisa menemuinya.


Aku perhatikan ia melihat jamnya lalu memutuskan untuk dilepas jahitannya. Karena saat itu aku sedang tidak sibuk dengan pasien-pasien lain, maka aku teliti luka di ibu jarinya. Ternyata lukanya telah sembuh dengan baik, lalu kukatakan kepada salah seorang dokter apa yang hendak kulakukan. Aku lalu menyiapkan peralatan dan barang-barang yang kuperlukan untuk melepas jahitan dan membalut lukanya.

Sambil merawat lukanya aku terlibat dalam pembicaraan dengannya. Aku bertanya apakah pagi ini ia punya janji dengan salah seorang dokter di sini karena ia tampak begitu terburu-buru. ia menjawab tidak, ia harus pergi kerumah perawatan (nusing home) untuk sarapan bersama istrinya. Ia berkata bahwa istrinya menderita Alzheimer dan belum lama dirawat di tempat itu.

Sambil mengobrol kuselesaikan balutan ibu jarinya. Aku bertanya apakah istrinya akan merasa hawatir bahwa hari ini ia agak terlambat. Ia menjawab bahwa istrinya sudah lima tahun tidak mengenalinya.

Aku merasa terkejut dan bertanya, "Apakah kau pergi ke sana setiap hari meski istrimu sudah tidak mengenalimu?"

Ia tersenyum, menepuk tanganku lalu berkata, "Benar ia tidak mengenaliku, tapi akukan mengenalinya!"

Aku harus menahan tangis haruku ketika ia pergi. Aku merenung, "Ini adalah jenis cinta yang kuharapkan dalam hidupku."

Sungguh istrinya adalah wanita yang beruntung. Seharusnya kita semua memiliki cinta semacam ini. Cinta sejati tidak bersifat jasmani, dan tidak pula hanya bersifat romantis. Cinta sejati adalah kesediaan untuk menerima apa adanya, dan kerelaan untuk menerima apa yang telah, apa yang akan dan apa yang tidak akan terjadi.

Sahabat yang baik seperti bintang di langit. Kau dapat selalu melihatnya, namun kau tau bahwa mereka ada di luar sana.

***

Cerita di atas saya nukil dari buku "Hikmah dari negri seberang" kumpulan kisah dan hikmah pengarang tak dikenal yang disusun oleh Drs. Abu Ubaidillah Al-Husainy. Disini saya ingin mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam makna cinta, bagaimanakah nilai cinta dalam islam, dan bagaimana pula islam mengajarkan kita untuk mencintai, menyayangi dan membuktikan kesetiaan? marilah kita telaah ayat-ayat dan hadis-hadis dibawah ini.

Mencintai dan menyangi sahabat

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله الإمام العادل وشاب نشأ في عبادة ربه ورجل قلبه معلق في المساجد ورجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقال إني أخاف الله ورجل تصدق فأخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه . صحيح البخاري - (ج 3 / ص 51)

Dari Abu Hurairah ra. Bahwa rasulullah SAW bersabda: Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya (hari kiamat): Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah, orang yang hatinya selalu merindukan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu dan berpisah karenanya, orang laki-laki yang dirayu oleh wanita yang mempunyai tahta dan harta akan tetapi ia mengatakan, "Aku Takut kepada Allah", orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi (tidak ingin diketahui orang) sehingga tangan kirinya tidak tau apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya, dan orang yangmenyebut nama Allah di tempat yang sepi lalu berlinangkan air mata. HR. Imam Bukhari.

Lihatlah bagai ma'na sebuah cinta dan kasih sayang dalam persahabatan disamakan dengan harga keadilan dari seorang pemimpin, perjalan waktu seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah kepada Allah, hati yang selalu rindu untuk beribadah di masjid, hati yang penuh dengan rasa takut kepada Allah, sedekah yang ihlas karena Allah, dan air mata yang mengalir karena merasakan keagungan-Nya, dan juga begitu besar dan berharganya balasan yang diberikan Allah di hari kiamat, naungan dihari yang sangat panas, dihari manusia penuh rasa cemas dan takut, karena sesungguhnya cinta dan kasing sayang ketika didunia telah memberikan kedaimannya pula kepada orang yang berteduh di dalamnya. Kita perhatikan juga dalam kata "bertemu dan berpisah karena-Nya", ini adalah ma'na ketulusan itu, karena jika seseorang melakukan sesuatu karena Allah berarti bukan karena suatu keuntungan yang ia lihat dan dapatkan dari orang yang ia cintai.

Mencintai Istri dan Memberikan Kesetiaan

Inilah yang telah diceritakan diatas, bagaimana demikian indah kesetiaan dan cinta seorang suami terhadap istrinya walaupun keduanya telah lanjut usia, istrinya yang sakit dan tak dapat mengenalinya, tak tampak lagi kecantikan yang dulu pernah ada, namun semua itu tak membuat cinta serta kesetiaannya pudar. Demikian inilah kiranya yang diajarkan Alqur'an pada orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya pernikahan adalah suatu yang suci yang harus selalu dijaga kesucian dan keutuhannya. Suatu yang agung yang harus selalu dihayati dan dirasakan keagungannya, juga sebuah tanggung jawab yang tak boleh diremehkan apalagi dilalaikan. Suami bertangguh jawab sepenuhnya kepada istri untuk memberinya perlindungan kasih sayang memberikan nafkah dan membimbingnya menuju sorga. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا [التحريم/6]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS: Attahriim:6)

Akan tanggung jawab dan kesucian pernikahan itu Rasulullah mengingatkan agar kita takut kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena terhadap istri serta melalaikan kewajiban terhadapnya. Sesungguhnya kita telah mengambil wanita itu menjadi istri dengan jaminan Allah, dan telah menjadi halal pula dengan kalimat Allah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله . صحيح مسلم – (ج 6 / ص 245)

Rasulullah SAW bersabda: Bertaqwalah kalian kepada Allah dalam masalah wanita (istri) sesungguhnya kalian telah mengambil mereka (menjadi istri) dengan jaminan Allah, dan kalian menjadikan kemaluan mereka halal dengan kalimat (izin) Allah. HR. Imam Muslim.

Istri tidak hanya mempunyai kewajiban untuk taat kepada suami, memberikan pelayanan yang baik, berlaku ramah dan sopan, menghargai dan menghormati, akan tetapi iapun mempunyai hak yang sama sebagaimana ia mempunya kewajiban itu. Hal ini banyak dilalaikan oleh suami sehingga ia selalu beranggapan bahwa tugas istri adalah untuk mengikuti kemauaanya karena ia adalah pemimpin keluarga. Padahal Allah SWT berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ [البقرة/228]

Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.(QS: Al-Baqarah: 228)

Ada yang lebih indah dan lebih agung lagi dari cerita diatas yaitu apa yang telah disabdakan Rasululullah dan dicontohkannya: Rasulullah SAW bersabda:

عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي . سنن الترمذي - (ج 12 / ص 399)

Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari sayyidah A'isyah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya (keluarganya) , dan aku adalah orang paling baik dintara kalian terhadap istri. HR. Imam turmudzi.

Dalam hadis ini Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling baik terhadap istrinya. Dapat menciptakan keindahan dan kebahagiaan dalam keluarga. Menebar senyum dan kedamaian sehingga semua penghuni rumah merasakan rumah tempat mereka berteduh walaupun sederhana terasa istana yang megah bahkan lebih dari itu hati mereka selalu berkata, Baitii jantatii (rumahku adalah surgaku).

Begitu indah gambaran keluarga Rasulullah SAW, walaupun kehidupan beliau adalah sangat sederhana. Rumah Rasulullah hanya terbuat dari pohon kurma tidak ada kasur yang empuk dan perabot yang mewah, juga jarang ada makanan yang lezat bahkan ada satu riwayat menyebutkan pernah sabu bulan dapur istri rasulullah tidak mengepulkan asap, mereka hanya makan kurma dan air.

Kalau begitu dimana kebahagiaan itu ada..? Sesungguhnya kebahagiaan itu ada dalam cinta dan kasih sayang, perlakuan lembut dan mesra kepada istri-istri Beliau. Rasulullah selalu memanggil istrinya dengan panggilan yang indah dan enak di dengar atau bisa kita katakan panggilan yang romantis. Seperti jika rasulullah SAW memanggil Sayyidah A'isya ra. Selalu memanggilnya dengan " yaa humairaa' " (wahai yang pipinya kemerah-merahan). Rasulullah bercanda dengan istrinya, mengajaknya mandi bareng dalam satu bejana, membantu mngerjakan pekerjaan keluarga, bahkan menambal sandal yang putus dengan tangan beliau sendiri, padahal beliau adalah seorang Nabi.

Cinta itu tidak diberikan Rasulullah hanya ketika istrinya masih hidup bersamanya, akan tetapi cinta itu beliau berikan walaupun istrinya telah tiada. Diriwayatkan bahwa sepeninggal sayyidah Hadijah ra. Rasulullah selalu mengirimkan hadiah kepada sahabat-sahabat Sayyidah Hadijah ra, selalu menyebut dan mengenang kebaikannya. Demikianlah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk memberikan cinta dan kesetiaan walaupun kepada orang yang telah tiada…

Patutlah berbahagia keluarga yang rumahnya penuh dengan cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya nilai sebuah cinta tak dapat digantikan oleh uang yang berlipat-lipat, gedung bertingkat, ataupun mobil yang mengkilat. Karena cinta adalah kebahagiaan jiwa.

Dapatkah kita meniru apa yang telah dicontohkan Rasulullah terhadap keluarganya, dan apa yang telah diajarkan dalam cerita diatas…? Yang perlu selalu kita ingat, sesungguhnya cinta itu tidaklah kita mendapatkan sebelum kita berikan, dan seperti apa kita mencintai mereka seperti itulah cinta mereka kepada kita….
22.32 | 0 komentar

Cinta Sukses dan Kaya


Seorang wanita yang keluar rumah mendapati di halaman depan ada tiga kakek berjenggot putih dan panjang.

"Saya kira, saya tidak kenal kalian, tapi kalian pasti lapar. Silakan masuk untuk makan," kata wanita itu.

"Apakah suamimu di rumah?" tanya mereka.

"Tidak," jawab wanita itu, "ia sedang keluar."

"Kalau demikian kami tidak bisa masuk," kata mereka.

Ketika hari telah sore dan suaminya telah datang, wanita itu bercerita kepadanya tentang apa yang terjadi di rumahnya.

"Beritahu mereka, aku telah datang dan mereka dipersilakan masuk," kata suaminya.

Wanita itu lalu keluar untuk mengundang mereka.

"Kami tidak masuk rumah bersama-sama," jawab mereka.

"Mengapa demikian?" tanya wanita itu.

Salah seorang dari mereka berkata, "Nama dia KAYA," katanya sambil menunjuk salah seorang temannya, lalu ia menunjuk temannya yang lain, "Nama dia SUKSES, dan aku sendiri bernama CINTA."Ia kemudian melanjutkan, "Nah, sekarang bicarakan dengan suamimu, siapa di antara kita yang akan kalian undang ke dalam rumah kalian.

"Wanita itu masuk lagi lalu menceritakan kepada suaminya pembicaraan mereka.

Suaminya merasa heran, "Wow., alangkah anehnya. Kalau demikian, marilah kita undang KAYA. Biarkan dia masuk dan mengisi rumah kita dengan kekayaan.

"Tapi istrinya tidak setuju."Sayang., mengapa tidak kita undang saja SUKSES?" kata istrinya. Menantu perempuan mereka yang sejak tadi mendengarkan dari sudut rumah mengusulkan, "Apakah tidak lebih baik kita undang CINTA? Rumah kita nanti akan dipenuhi oleh cinta."

"Benar! Mari kita ikuti saran menantu kita," kata sang suami kepada istrinya.

"Panggillah CINTA untuk menjadi tamu kita!

"Sang istri lalu keluar dan bertanya, "Siapa di antara kalian yang bernama CINTA? Masuklah dan jadilah tamu kami!"

CINTA bangun dan berjalan ke arah rumah. Kedua orang tua yang lain bangkit mengikuti CINTA. Merasa heran, wanita itu bertanya kepada KAYA dan SUKSES, "Aku hanya mengundang CINTA, mengapa kalian berdua ikut masuk?"

Mereka berkata, "Kalau kau mengundang KAYA atau SUKSES, maka dua orang dari kami akan tetap tinggal di luar. Tetapi karena kau mengundang CINTA, kemana pun ia pergi, kami berdua selalu mengikutinya."

****

"Ketahulah sahabatKu dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab kekayaan dan kesuksesan tanpa rasa cinta akan buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus.
”Dari al-Habib al-Ustadz Husein bin Anis al-Habsyi”
17.43 | 0 komentar

Tahnik, Tuntunan Haq Kesehatan Bayi

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 30 Maret 2011 | 14.21

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Sahabat Anshor Abu Musa berkisah :

“ (Suatu saat) aku memiliki anak yang baru lahir, kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu A’laihi Wassallam, kemudian beliau memberi nama padanya dan beliau mentahnik dengan sebutir kurma.”

Riwayat lainnya menjelaskan ucapan istri Rasullullah Shallallahu A’laihi Wassallam ‘Aisyah Radhiyallahu Anh yang mengatakan :

“Rasulullah Shallallahu A’laihi Wassallam didatangkan anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan mentahnik mereka.” (H.R. Bukhari Muslim)

Berdasarkan hasits-hadits shahih tentang tahnik, Imam An-Nawawi menguraikan :

”Dianjurkan mentahnik bayi yang baru lahir, bayi tersebut dibawa ke orang sholih untuk ditahnik. Juga dibolehkan memberi nama pada hari kelahiran. Dianjurkan memberi nama bayi dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama nabi lainnya.”

Tahnik yaitu: Mengunyah kurma dan sejenisnya, lalu digosok-gosokkan (dilolohkan atau dilumurkan) ke dalam langit- langit mulut bayi, yakni dengan cara meletakkan kurma yang sudah dikunyah di ujung jari, lalu memasukkan jari itu kedalam mulut si bayi lalu si bayi pun belajar makan dan akhirnya mampu melakukannya.

Tahnik atau suapan pertama itu sebaiknya dengan buah kurma kering kalau tidak ada, bisa dengan kurma basah, kalau tidak ada juga, bisa juga dengan makanan manis madu lebah. Hal itu lebih utama dari makanan lain, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani.

Tahnik berasal dari kata Al-Hanak yang berarti mulut bagian atas dari dalam atau langit-langit. Dan membersihkan mulut bayi disebut tahnik, artinya membersihkan mulut bagian atas bayi dari dalam dengan kurma yang telah dimamah sampai lumat.

Tahnik juga dimaknai melolohkan/melumurkan kurma yang telah dikunyah halus ke langit-langit mulut bayi. Lalu pemberian ASI sampai usia 2 tahun dan memberi makanan yang halal dan toyyiban.

“Tahnik atau meloloh bayi dengan kurma adalah sebuah syariat yang menakjubkan, karena didalamnya terdapat manfaat-manfaat kesehatan jasmani dan rohani yang tak terbilang.”


Hikmah Tahnik

Ketetapan tahnik menjadi perhatian tersendiri bagi kalangan ulama sehingga mereka merumuskan fatwa berkaitan dengan tuntunan ini:

Pertama: Para ulama sepakat tentang disunnahkannya (dianjurkannya) mentahnik bayi yang baru lahir dengan kurma. Jadi tahnik dilakukan pada awal kelahiran.

Kedua: Jika tidak mendapati kurma untuk mentahnik, bisa digantikan dengan yang manis-manis lainnya.

Ketiga: Cara mentahnik adalah dengan mengunyah kurma hingga lembut atau agak cair sehingga mudah ditelan, lalu mengambil kurma yang lembut dengan ujung jari dan memasukkan/ menggosokkan ke mulut/langit-lagit bayi.

Keempat: Hendaknya yang melakukan tahnik orang tua atau orang sholih sehingga bisa diminta do’a keberkahannya.Bila orang sholih tersebut tidak hadir, bisa membawanya ke orang sholih.

Mengenai dibolehkannya wanita mentahnik, dijelaskan oleh Ibnul Qayyim bahwa Imam Ahmad bin Hambal ketika lahir salah satu bayinya, beliau menyuruh seorang wanita untuk mentahnik bayi tersebut. Ada ulama yang memberi penjelasan urutan makanan yang dijadikan bahan untuk mentahnik: tamr (kurma kering); kalau tidak ada, barulah rothab (kurma basah); bila tidak ada ruthab makanan manis yang jadi pilihan adalah madu; dan setelah itu adalah makanan yang tidak disentuh api.

Hikmah dari tahnik lainnya adalah untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut dan gerakan lisan beserta tenggorokan dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menghisap air susu ibunya dengan kuat dan alami.

Terbukti bahwa pada kurma terdapat unsur-unsur vital yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan menguatkan daya tahan tubuh yang telah didapatkannya dari Allah. Dengan izin Allah, Kurma sangat efektif membentengi dan melindungi tubuh bayi dari ragam virus dan bakteri/penyakit, seperti TBC, polio, difteri, campak dan lainnya.

Lebih dari itu, air liur kedua orang tua akan mengikat hati bayi dengan cinta mereka dan mengalirkan kepadanya fitrah Islam yang suci, sehingga dia akan tumbuh dengan baik dan bersih. Dia akan selalu merasakan manisnya iman sebagaimana manisnya kurma yang bercampur dengan air liur dari lidah yang selalu melantunkan dzikir kepada Allah.

Meloloh bayi adalah sebuah syariah yang mampu menanamkan dan menguatkan aqidah bayi, sekaligus membangun kasih sayang yang tulus antara orang tua dan anak, sehingga keluarga Muslim akan hidup dalam keharmonisan, kedamaian di bawah naungan Rahmat, Ridha dan Ampunan Allah Ta’ala.

Dikisahkan oleh Asma Radhiyallahu Anh bahwa dia tengah mengandung Abdullah bin Zubair di Mekkah. Kemudian dia hijrah ke Madinah dan sesampainya di Quba beliau melahirkan Abdullah di sana. Ia pergi membawa anaknya itu ke hadapan Rasulullah Shallallahu A’laihi Wassallam. Beliau letakkan bayi itu di haribaannya, meminta sebuah kurma dan dikunyahnya hingga halus benar kemudian beliau masukkan ke dalam mulut sang bayi.

Demikianlah, air liur Rasul adalah sesuatu yang masuk pertama kali ke dalam perut anak tersebut. Beliau membersihkan mulut anak tersebut dengan kurma itu kemudian didoakan agar Allah berkenan memberkahinya. Ia adalah anak muslim pertama dari kaum Muhajirin yang dilahirkan di bumi Madinah. Selanjutnya ucap Asma Radhiyallahu Anh: “Kaum muslimin bersuka ria dengan kelahirannya itu karena sudah didesas-desuskan sebelumnya kepada kaum muslimin bahwa mereka tidak akan memperoleh keturunan karena orang-orang Yahudi telah menyihir mereka.”

Alhasil sebenarnya syariat tahnik sudah banyak dilakukan kaum muslimin, namun belum tersosialisasi. Apalagi dengan munculnya vaksinasi/ imunisasi seolah mengesampingkan dan menutupi kelaziman taknik di tengah masyarakat. Taknik sebagai tuntunan yang haq untuk kesehatan bayi ini seharusnya menjadi pijakan dan pedoman utama untuk dilakukan bagi keluarga yang dikaruniai anak. WALLAHU A’LAM

Disarikan dari:

Tabloid Bekam Edisi 4 (Imunisasi, Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi?)
14.21 | 0 komentar

Anda Cemas, Gula Darah Tancap Gas

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. (Q.S : Al-Ma’aarij: [70] :19-20).

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Ali Imran: [3]: 154).

Hampir tiap orang pernah merasakan cemas, atau ada yang sering cemas, bahkan ada pula yang hidupnya diselimuti kecemasan. Suasana jiwa semacam ini bisa saja dipengaruhi oleh ragam masalah yang dihadapi atau dikhawatirkan menghadangnya, apakah masalah rumah tangga, suami cemas dengan ulah istri, atau sebaliknya istri resah dengan prilaku suami. Bisa juga kecemaskan dipicu kekhawatiran orang tua terhadap prilaku atau masalah yang dihadapi anak-anaknya. Mungkin juga kecemasan ditengarai tak sejalannya harapan orang tua dengan ralitas aktivitas anak, dan lainnya.

Ada pula kecemasan yang dipicu oleh tekanan ekonomi, hutang atau lilitan masalah yang tak kunjung usai atau teratasi. Alhasil, setiap orang bisa saja berbeda dalam menyikapi masalah dan kecemasan, dan hal itu terpulang dari tingkat keimanannya. Semakin baik keimanan seseorang, tentu dia lebih tenang dan arif dalam menghadapi setiap masalah dan kecemasan. Sebaliknya, rendahnya keimanan bisa berdampak pada prilaku tak terpuji atau menyebabkan jiwa dan raganya terpuruk bagi mereka yang dililit masalah atau kecemasan dari persoalan sepele sekalipun.

Nyatanya kecemasan yang belebihan atau juga disebut dengan anxietas dalam istilah psikologi atau kedokteran konvensional berpotensi merusak kesehatan. Sebab anxietas/cemas itu timbul akibat adanya respons terhadap kondisi stress atau konflik. Rangsangan berupa konflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri, itu akan menimbulkan respons dari sistem saraf yang mengatur pelepasan hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, muncul perangsangan pada organ-organ seperti lambung, pankreas, jantung, pembuluh daerah maupun alat-alat gerak.

“Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah
lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan
ia berkeluh kesah.”
(Q.S : Al-Ma’aarij: [70] :19-20).

Ulama terkemuka Imam Hasan Al-Basri, ketika ditanya oleh sahabatnya, mengapa dia selalu tampak begitu tenang dan jauh dari kecemasan? Dia menjawab, bahwa dirinya tenang, antara lain asbab: pertama; dia tidak pernah khawatir soal rizki karena rizkinya sudah ditetapan Alah Ta’ala. Kedua; dia tenang karena yakin akan mati, sehingga yang dia lakukan adalah mempersiapkan kematian itu sendiri.

Sementara itu Dr. Ahman Husain Ali Salim mengungkapkan beberapa laporan statistik yang mengindikasikan bahwa persentase terbesar dari orang-orang sakit yang biasa selalu bolak-balik untuk cek rutin, sesungguhnya mereka secara mendasar mengadukan tentang goncangan emosional yang timbul dari problematika psikologis. Dan yang diperlukan oleh para penderita tersebut bukan terapi medis, namun sebenarnya mereka memerlukan terapi psikologis.

“Sekarang yang terkenal di kalangan dokter adalah bahwa nasihat yang baik untuk para penderita adalah membebaskan diri dari rasa cemas. Al-Qur’an sudah mendahului ilmu kedokteran modern dalam memberikan perhatian untuk mengarahkan manusia supaya mengontrol dan menguasai emosi mereka,” ujar Ahmad Husain Ali Salim.

Untuk itu bagi mereka yang mudah cemas atau mudah dirundung kecemasan segera berahati-hati, sebabab cemas sangat efektif membuat gula darah mereka tancap gas atau melambung lantaran terkurasnya cadangan energi organ tubuh, khususnya pankreas. Sehingga organ yang dikenal sebagai pabrik insulin tubuh ini mengalami kelelahan, yang pada gilirannya mengganggu produksi insulin. Dengan mogoknya produksi insulin, ditribusi gula darah yang diubah menjadi energi menjadi terganggu, akibatnya gula menumpuk dan masuk ke darah….

Untuk mengatasi kecemasan ini di antaranya melazimkan membaca doa sebelum tidur, sebagaimana Nabi Shallallahu A’laihi Wassallam pernah mewasiatkan kepada seseorang, beliau bersabda: ‘Apabila kamu hendak tidur, maka ucapkanlah; ‘ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSI ILAIKA WAFAWADLTU AMRII ILAIKA WA ALJA`TU ZHAHRI ILAIKA RAHBATAN WA RAGHBATAN ILAIKA LAA MALJA`A WALAA MANJAA MINKA ILLA ILAIKA AMANTU BIKITAABIKA ALLADZII ANZALTA WA BINABIYYIKA ALLADZII ARSALTA (”Ya Allah ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus”).”Apabila kamu meninggal (pada malam itu) maka kamu meninggal dalam keadaan fitrah (suci).” (HR Imam Bukhari).

Rasulullah Shallallahu A’laihi Wassallam setiap kali beliau singgah pada suatu tempat, beliau banyak membaca: ‘ALLAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI WAL ‘AJZI WAL KASALI WAL BUKHLI WAL JUBNI WA DLALA’ID DAINI WA ‘ALAIHI WA GHALABATIR RIJAALI (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dan dari lilitan hutang dan penindasan).’ (HR Imam Bukhari).

Dalam riwayat lain Zubair bin ‘Adi mengatakan, pernah kami mendatangi Anas bin Malik, kemudian kami mengutarakan kepadanya keluh kesah kami tentang ulah para jamaah haji. Maka dia menjawab; ‘Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalani suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadits ini dari Nabi kalian Shallallahu A’laihi Wassallam. (HR Imam Bukhari). (TB/Berbagai Sumber).

Disarikan dari Tabloid Bekam Edisi III Cetak Ulang (Siapa Bilang Diabet Tak Bisa Sembuh?)
14.10 | 0 komentar

Khasiat Bekam Bagi Penderita Diabet

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit/ gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah (hiperglikemia) yang disebabkan oleh kurangnya produksi atau gangguan kerja (penurunan efektifitas) hormon insulin atau karena kedua-duanya. Penyakit DM dibagi dalam dua jenis. Pertama, DM tipe 1 atau yang disebabkan oleh rusaknya sel β (Beta) pankreas sebagai “pabrik” pembuat insulin. Kedua, DM tipe 2, tipe ini merupakan gangguan yang sifatnya heterogen, pada beberapa kasus akibat gangguan fungsi sel β, namun paling banyak disebabkan oleh gangguan kerja (resistensi) insulin pada sel-sel dalam jaringan tubuh.

Keberadaan penyakit diabetes tidak lepas dari peran zat besi (Fe) dalam darah. Sifat molekul besi yang tidak stabil berpotensi menghasilkan berbagai bentuk radikal bebas yang membahayakan atau merusak sel-sel tubuh. Hasil pengamatan terhadap peningkatan frekuensi penyakit diabetes pada orang-orang yang menderita hemochromatosis menunjukkan bahwa kelebihan (overload) besi dalam tubuh berperan dalam muncetuskan penyakit diabetes. Hemochromatosis adalah suatu kelainan genetik yang mengakibatkan kelebihan besi dalam tubuh. Akan tetapi, apa pun penyebab dari overload besi, baik karena penyakit genetik atau pun bukan, ternyata menyebabkan peningkatan diabetes.

Peran besi dalam menyebabkan penyakit diabetes ditunjukkan oleh dua hal, Pertama: terjadinya peningkatan kejadian diabetes pada orang-orang yang kelebihan besi, apapun penyebabnya. Kedua: adanya perbaikan penyakit diabetes setelah membuang kelebihan besi dengan obat-obatan yang dapat mengikat besi.

Orang-orang yang sering menjalani transfusi darah karena penyakit tertentu, seringkali mengalami overload besi dalam tubuhnya. Pada kelompok ini terdapat peningkatan kejadian diabetes. Walau mekanisme zat besi dapat mempercepat terjadinya diabetes belum diketahui secara pasti, namun dugaan tersebut kemungkinan berhubungan dengan tiga mekanisme kunci, yaitu:

1. Defisiensi (kekurangan insulin)

2. Resistensi insulin (gangguan kerja insulin).
Maksudnya, meskipun insulin terdapat dalam darah dalam jumlah yang cukup, akan tetapi tidak mampu mendorong glukosa dalam darah untuk masuk ke dalam sel-sel tubuh. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah tetap tinggi. Sebaliknya, apabila suatu sel sangat berespon tarhadap adanya insulin, maka kondisi ini disebut dengan “sensitif” terhadap insulin (insulin sensitivity).

3. Disfungsi (kerusakan) hati (hepar).

Overload besi dan munculnya radikal bebas akan menyebabkan kerusakan sel β pankreas yang berfungsi menghasilkan hormon insulin. Akibatnya, terjadi penurunan produksi insulin. Karena produksinya berkurang, maka otomatis sekresi (pengeluaran) ke dalam darah juga berkurang.

Adapun mekanisme terjadinya resistensi insulin, diduga terjadi secara langsung atau melalui rusaknya fungsi hepar (hati). Selain itu, adanya pengendapan besi dalam otot akan menurunkan penyerapan glukosa karena terjadi kerusakan pada otot tersebut. Sebaliknya, insulin justru meningkatkan penyerapan besi, sehingga terjadilah lingkaran yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin. Selain bertanggung jawab pada terjadinya penyakit diabetes, besi juga bertanggung jawab pada timbulnya berbagai komplikasi penyakit diabetes, diantaranya penyakit ginjal dan penyakit kardiovaskuler.

“Keberadaan penyakit diabetes tidak lepas dari peran zat besi (Fe) dalam darah. Sifat molekul besi yang tidak stabil berpotensi menghasilkan berbagai bentuk radikal bebas yang membahayakan atau merusak sel-sel tubuh.”

Penelitian hasil kerjasama dua institusi pendidikan kedokteran di Spanyol, yaitu University Hospital of Girona “ Dr. Josep Trueta” dan University Miguel Hernandez mencoba menilai sensitifitas insulin dan sekresi (pengeluaran) insulin setelah dilakukan pembekaman dengan interval empat bulan pada pasien diabetes tipe 2 yang memiliki kadar serum feritin (besi yang tersimpan dalam sel tubuh) berkadar tinggi, yaitu kadarnya > 200 ng/ mL. Penelitian menitikberatkan untuk melihat pengaruh hijamah (bekam) terhadap control metabolic, sekresi insulin, dan kerja insulin pada pasien diabetes dengan kadar feritin yang tinggi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilihat efek pembuangan besi (iron depletion) terhadap parameter-parameter tersebut.

Pasien dibagi dalam dua kelompok, pertama (grup 1) yang berjumlah 13 pasien, dilakukan pembekaman dengan jangka waktu 2 minggu, setiap kali pembekaman diambil 500 mL darah. Total pembekaman yang dilakukan terhadap grup 1 sebanyak 3 kali. Kedua (grup 2) yang berjumlah 15 pasien adalah kelompok kontrol yang tidak mendapatkan Diterapi pembekaman. Seluruh pasien (grup 1 dan grup 2) tetap mendapatkan terapi seperti biasanya dengan insulin, obat-obat anti-diabetes, dan olah raga selama periode penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa serum feritin, transferin (protein yang berfungsi untuk mengikat atau membawa besi di dalam darah), saturation index, dan kadar hemoglobin turun pada pasien yang mendapatkan terapi hijamah (grup 1). Selain itu, kadar HBA1C juga turun secara bermakna pada pasien grup 1. Didapatkan pula peningkatan sensitivitas insulin pada grup 1 dibandingkan grup 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hijamah dapat berperan sebagai terapi tambahan pada pasien diabetes tipe 2 dengan peningkatan konsentrasi serum feritin.

Penelitian lainnya dari institusi yang sama dengan penelitian sebelumnya, yaitu untuk menguji hipotesis bahwa pembuangan besi yang bersirkulasi dalam darah dengan hijamah akan memperbaiki kerusakan pembuluh darah pada pasien diabetes tipe 2 dan pada pasien dengan peningkatan konsentrasi serum feritin.

Pada penelitian ini, pasien diabetes dengan kadar serum feritin > 200 ng/ mL dibagi dalam 2 kelompok seperti pada penelitian sebelumnya. Reaktivitas pembuluh darah dinilai pada awal penelitian, serta pada 4 dan 12 bulan berikutnya.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembuangan besi dengan hijamah dapat memperbaiki kerusakan pembuluh darah pada pasien diabetes tipe 2 dengan kadar serum feritin yang tinggi. Perbaikan ini sejalan (paralel) dengan penurunan kadar besi dalam tubuh yang ditandai dengan turunnya kadar serum feritin pada pasien grup 1.

Penjelasan efek hijamah ini menunjukkan bahwa kelebihan besi menyebabkan perubahan dini pada struktur dan fungsi pembuluh darah manusia, yang ditandai dengan hipertrofi (penebalan) dinding pembuluh darah. Hipertofi ini dapat diperbaiki dengan menurunkan kadar besi dalam darah melalui proses hijamah. Dalam penelitian ini, ditemukan adanya peningkatan dilatasi (pelebaran) pembuluh darah setelah kadar besi diturunkan dengan hijamah. Sehingga, pembuangan besi dapat meningkatkan kelenturan (distensibilitas) pembuluh darah.

Penelitian yang hampir sama dengan 2 penelitian di atas juga dilaksanakan institusi lain di Eropa oleh para peneliti dari San Filippo Neri Hospital (Italia), Bambino Gesu Hospital dan Research Institute (Italia) yang berlangsung selama dua tahun.

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek hijamah terhadap sekresi dan sensitivitas insulin, parameter-parameter dalam darah, kadar besi dalam hati (liver ion content/ LIC), dan perubahan kerusakan jaringan hati. Subjek Penelitian adalah pasien yang baru saja terdiagnosis diabetes yang memiliki kelainan genetik tertentu yang menyebabkan tingginya kadar besi dalam tubuh.

Hijamah dilakukan setiap dua minggu, masing-masing dengan mengeluarkan darah sebanyak 450 mL. Volume darah dikembalikan ke jumlah semula dengan memberikan larutan fisiologis. Data sebelum dan sesudah dua tahun terapi dengan hijamah diambil untuk dibandingkan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan dalam beberapa parameter metabolisme. Kadar feritin dan besi turun. Parameter lain seperti kadar kolesterol, trigliserida (Lemak), glukosa puasa, kadar enzim-enzim tertentu seperti lactate Dehydrogenase (LDH), aspartate aminotransferase (AST) atau yang lebih dikenal dengan glutamic-oxaloacetate transaminase (SGOT), alanine aminotransferase (ALT) atau yang lebih dikenal dengan glutamic-pyruvate transaminase (SGPT), dan gamma-glutamyltransferase (γ-GT) dimana enzim-enzim ini merupakan penanda terjadinya kerusakan pada hati, juga mengalami perbaikan dengan peningkatan sekresi insulin, peningkatan pengambilan glukosa oleh sel-sel tubuh, dan peningkatan sensitifitas terhadap insulin.

Dari penelitian-penelitian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa terapi hijamah bermanfaat terhadap pasien diabetes mellitus, terutama yang memiliki kadar besi yang tinggi. Penelitian-penelitian ini telah membuka suatu harapan baru di masa mendatang akan meningkatnya penerimaan masyarakat secara umum terhadap bekam serta memberi harapan baru bagi pasien diabetes mellitus.

Oleh: dr. M. Saifudin Hakim (Staf Pengajar Bagian Mikrobiologi, FK UGM, Yogyakarta)

Disarikan dari: Tabloid Bekam Edisi III/2011 Cetak Ulang (Siapa Bilang Diabet Tak Bisa Sembuh?).
14.06 | 0 komentar

Al Qur'an HPQ Pertama di Dunia

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 29 Maret 2011 | 08.31


Al Qur’an HPQ adalah software Aplikasi Al Qur’an 30 Juz terbaik penuh inovasi yang sangat berbeda dengan software Al Qur’an lainnya.
Instalasi mudah dan cepat, ruang memory kecil dan tidak mengurangi pulsa.
Mempermudah Anda dalam membaca, mendengar, menghapal Al Qur’an , karena dilengkapi teks arab & terjemah indonesia yang jelas, audio arab dan terjemah jelas, pilihan audio On/Off, searching surat dan ayat dan dapat berpindah antar ayat dengan otomatis maupun manual.
Dengan segala kelebihannya, Software Al Qur’an HPQ telah menjawab semua kebutuhan anda akan Al Qur’an menggunakan handphone
Software Al Qur’an lainnya hanya menampilkan audio arab saja dan hanya untuk handphone tertentu, bahkan harus membeli dengan handphonenya yang sering kali tidak dibarengi kualitas yang baik, Al Qur’an HPQ menampilkan audio arab dan audio terjemah indonesia sekaligus dan dapat diaplikasikan pada handphone pribadi seluruh type Handphone (*).
Al Qur’an HPQ adalah software Al Qur’an terjemah Indonesia bersuara pertama di Indonesia.
(*) handphone dengan slot memory external dan Java MIDP 2.0, kecuali merk Samsung dan N9x…
08.31 | 1 komentar

Download Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 – 18

Written By Rudi Abu azka on Senin, 28 Maret 2011 | 16.10

Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 – 18

Cara download : Di klik saja nama ebooknya

List ebook Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 – 18

Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 …..(34,6 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 …..(19,1 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 …..(13,1 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 …..(15,3 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 …..(16,3 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 …..(22,8 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 7 …..(18,1 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 8 …..(15,3 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 9 …..(17,4 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 10 …..(5,03 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Taubah (Juz 11) …..(10,2 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Yunus (Juz 11) …..(4,82 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Huud (Juz 12) …..(5,34 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Yusuf (Juz 12) …..(5,02 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 13 …..(4,7 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 14 …..(4,16 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 15 …..(7,74 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi (Juz 16) …..(5,04 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Maryam (Juz 16)…..(1,17 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Thoha (Juz 16) …..(3,38 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Anbiyaa (Juz 17) …..(3,91 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hajj (Juz 17) …..(4,03 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’minuun (Juz 18) …..(2,01 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ahqaaf (Juz 26) …..(2,85 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Muhammad (Juz 26) …..(1,96 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fath (Juz 26) …..(4,06 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hujurat (Juz 26) …..(2,65 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Qaaf (Juz 26) …….(1,85 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Adz Dzariyat (Juz 27) …..(1,26 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thuur (Juz 27) …..(1,38 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Najm (Juz 27) …..(2,71 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Qomar (Juz 27) …..(1,8 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ar Rahman (Juz 27) …..(1,79 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Waqi’ah (Juz 27) …..(2,54 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hadid (Juz 27) …..(2,41 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mujadilah (Juz 28) …..(4,36 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hasyr (Juz 28) …..(2,13 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mumtahanah (Juz 28) …..(2,46 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ash Shaf (Juz 28) …..(1,3 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jumuah (Juz 28) …..(1,02 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Munaafiqun (Juz 28) …..(630 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoghabun (Juz 28) …..(788 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thalaq (Juz 28) …..(1,37 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tahrim (Juz 28) …..(707 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mulk (Juz 29) …..(1,02 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qolam (Juz 29) …..(1,29 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Haqqoh (Juz 29) …..(951 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ma’arij (Juz 29) …..(909 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Nuh (Juz 29) …..(780 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jin (Juz 29) …..(741 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil (Juz 29) …..(0,99 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mudatstsir (Juz 29) …..(1,13 MB)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qiyamah (Juz 29) …..(821 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Insaan (Juz 29) …..(242 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mursalaat (Juz 29) …..(745 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Naba (Juz 30) …..(949 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nazi’at (Juz 30) …..(626 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Abasa (Juz 30) …..(593 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Takwir (Juz 30) …..(639 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muthoffifin (Juz 30) …..(706 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Buruuj (Juz 30) …..(547 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoriq (Juz 30) …..(212 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ghasyiyah (Juz 30) …..(459 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fajr (Juz 30) …..(697 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Asy Syams (Juz 30) …..(458 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Alamnasyrah (Juz 30) …..(225 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tin (Juz 30) …..(179 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Alaq (Juz 30) …..(293 kb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qodr (Juz 30) …..(287 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Bayyinah (Juz 30) …..(177 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Zalzalah (Juz 30) …..(307 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Adiyat (Juz 30) …..(134 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qaari’ah (Juz 30) …..(63,1 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Ashr (Juz 30) …..(63.2 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Humazah (Juz 30) …..(179 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fill (Juz 30) …..(569 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Quraisy (Juz 30) …..(140 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Maa’uun (Juz 30) …..(311 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kautsar (Juz 30) …..(240 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kafiruun (Juz 30) …..(189 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nashr (Juz 30) …..(179 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ikhlash (Juz 30) …..(293 kb)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’awwidzatain (Juz 30) …..(249 kb)

16.10 | 0 komentar

IKHLAS MODAL UTAMA DAKWAH

Ikhlas akar katanya adalah kholaso-yakhlusu-khuluson. Artinya murni dari segala kotoran. Perbuatan yang diperuntukkan sepenuhnya untuk Allah dan bersih dari tujuan-tujuan selainnya disebut amal yang ikhlas. Masalah ini sangat sensitif bagi manusia. Perasaan tidak ikhlas atau riya’ dengan mudah dapat menyelinap dalam suatu amal dengan sangat halus, sehalus rambatan semut di atas kulit. Oleh karenanya evaluasi amal mutlak harus dilakukan setiap saat. Agar apabila terdapat penyimpangan motivasi amal dapat segera terdeteksi.

Al Imam Al Ghozali mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga keikhlasan amal dalam tiga tahapan; saat akan beramal, ketika amal dilaksanakan dan saat selesai beramal. Rasulullah SAW selalu berdo’a setiap pagi dan petang, agar terjaga keikhlasan hatinya,

“Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari perbuatan syirik kepadaMu (beramal tidak ihklas) sekecil apapun yang kami ketahui, dan kami meminta ampunanMu dari yang tidak kami ketahui.”

Ali bin Abi Thalib menjelaskan tentang indikasi orang yang riya’:
1.Malas berbuat apabila sendirian,
2.Bersemangat apabila bersama orang, dan
3.Menambah amalnya jika dipuji.

Akhil karim…
Apa yang sedang kita lakukan sekarang, yakni melakukan berbagai macam kegiatan dakwah untuk menuju ishlahul umat, sungguh sangat besar bobotnya di sisi Allah SWT. Ia merupakan kegiatan yang mudah dan indah apabila terus dilandasi ikhlas karena Allah SWT, apapun rintangan dan tantangan yang menghadang perjalanannya. Sebaliknya, kegiatan da’wah ini tidak mungkin dapat ditanggung berat bebannya, akan sulit ditempuh kerumitan perjalannanya, ketika amal-amal itu tidak dilandasi keikhlasan.

Sebuah ungkapan hikmah menyatakan,
Maa Kaana lillaahi yabqoo… Wa maa kaana lighoirihii yafnaa…
Perbuatan yang ikhlas karena Allah akan kekal, dan yang selainnya akan sirna…

Sayangilah diri kita di akhirat nanti dengan menjaga keikhlasan kita. Jangan sampai rasa lelah, lapar, haus bahkan sakit karena beratnya beban kerja dakwah ini menjadi sia-sia karena ketidak ikhlasan amal kita. Sayangilah diri kita, jangan sampai kerja dakwah ini malah menjerumuskan kita ke neraka, hanya karena tidak ikhlas. Karena hakikat ketidak ihklashan adalah syirik kepada Allah SWT, sementara syirik dapat menghapus amal kebaikan. Na’udzu billah.

Ikhlash adalah gambaran akidah yang benar, yang berarti sikap tajarrud seseorang dari semua motivasi selain Allah SWT, dan itulah yang paling dinilai oleh Allah SWT. Niat seorang mukmin lebih baik dari pada amalnya. Sesungguhnya perbuatan itu tergantung dari niatnya. Sehingga motivasi amal akan lebih menentukan bobot sebuah amal dibanding amal itu sendiri. Bahkan amal jihad, mengajarkan Al Qur’an dan berinfaq, yang merupakan amal yang sangat besar nilainya di sisi Allah SWT, tidak ada artinya di sisi Allah ketika keikhlasan tidak ikut menyertainya, bahkan menyebabkan pelakunya masuk neraka. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah menjelaskan dampak tidak ikhlas dalam bermal,
“Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah SWT bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, ” Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid.” Allah SWT berfirman, “Engkau bohong! Engkau berperang hanya supaya dikatakan,’Dia adalah orang yang gagah berani’. Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu.” Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka telungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah swt bertanya.”Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?”. Dia menjawab,”Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an karenaMu.” Allah SWT berfirman, “Engkau dusta. Engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang alim’, dan engkau membaca Al Qur’an agar dikatakan, ‘Dia adalah Qori’. Dan gelar itu sudah diberikan kepadamu.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut diseret dengan muka terungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya adalah orang diberi kelapangan oleh Allah SWT dan juga diberi harta yang banyak. Lalu didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah SWT bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau sukai agar dinafkahkan harta, melainkan aku menafkahkannya karenaMu”. Allah SWT berfirman, “Engkau dusta! Engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang dermawan’. Dan gelar itu sudah diberikan kepadamu”. Kemudian dia diperintahkan agar diseret dengan wajah telungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, An Nasa’i, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Sejarah mencatat bahwa tatkala Mu’awiyah mendengar hadits ini, maka diapun menangis tersedu-sedu hingga pingsan. Setelah siuman dia berkata, “Maha Benar Allah SWT dan RasulNya”

Akhil Karim…
Hadits di atas menyadarkan kita bahwa setiap bentuk kebajikan yang kita lakukan adalah hidayah dan nikmat dari Allah SWT. Ia berikan nikmatNya kepada orang yang dikehendakiNya. Ada orang yang pernah bertemu langsung dengan Rasulullah dan berinteraksi dengannya namun hidupnya tidak pernah diisi oleh kebajikan walau hanya sekali sujud saja, karena hidayah Allah tidak turun kepadanya. Namun kita yang justru jauh dari masa kehidupan Rasulullah, bersemangat melaksanakan sholat, jihad, dakwah dan lain sebagaianya. Bukankah ini merupakan kenikmatan yang sangat besar dari Allah SWT? Jagalah nikmat ini dengan menjaga keihlasan amal-amal kita.

Akhil Karim…
Semakin besar jangkauan pekerjaan manusia, semakin besar pula kebutuhannya terhadap keikhlasan, karena tanpa keikhlasan maka amal akan hancur dan hilang barokahnya. Imam Asy Syafi’I, yang keluasan ilmunya menjangkau umat manusia dari dahulu sampai sekarang, terkenal sebagai orang yang besar perhatiannya dalam menjaga keikhlasan beramal. Beliau pernah berkata,
“Andai saja tidak seorangpun murid yang pernah belajar dariku yang mengatakan bahwa aku mempelajari ilmu ini dari Syafi’i”.

Kerja dakwah yang kita lakukan saat ini—Alhamdulillah—telah menjangkau kehidupan masyarakat yang cukup luas. Ini merupakan bentuk kemenangan dakwah yang disebut sebagai Ta’yiidul Mu’minin. Sisi baik fase ini akan membuka berbagai macam peluang kehidupan keduniaan, seperti peluang mendapatkan jabatan, kekayaan dan sebagainya. Kerja dakwahpun akan semakin mudah karena didukung oleh fasilitas-fasilitas tersebut. Namun, di sisi lain, jika pada awalnya amal dakwah tidak didasari oleh keikhlasan, ia justru akan berubah menjadi sumber fitnah, bahkan menyebabkan perpecahan dan permusuhan—na’udzu billah— di antara para kader dakwah.

Maka ucapkanlah ucapan yang sama dengan yang diucapkan oleh Imam Syafi’I ini,
“Andaikan saja semua kontribusiku dalam gerakan dakwah ini, tidak seorangpun yang tahu, bahwa ia bersumber dariku”

Insya Allah kerja dakwah ini tidak akan dapat dikotori oleh saling jegal untuk meraih posisi tertentu. Tidak pula saling menjatuhkan untuk meraih peluang-peluang kekayaan, yang mengakibatkan gerakan dakwah dijadikan ajang untuk merebut dunia yang hina dina. Karena sesungguhnya gerakan dakwah adalah tempat manusia berlomba-lomba meraih pahala dan rahmat Allah, kalau dasar ikhlas selalu dijaga dan dipertahankan…
Oleh: Ust. Abdul Aziz Abdur Rouf, Lc
15.58 | 1 komentar

Ketaatan Orang Yang Ragu-ragu Kepada Syetan

Sesungguhnya orang-orang yang ragu-ragu itu telah mentaati syetan, hingga diri mereka menyatu dengan keragu-raguan dari syetan tersebut. Mereka menerima ucapan syetan, mentaatinya dan membenci mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Bahkan di antara mereka ada yang berpendapat, jika ia berwudhu dengan cara wudhu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau shalat sesuai dengan shalatnya, maka wudhunya batal dan shalatnya tidak sah. Dia juga berpendapat, jika ia melakukan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mewakilkan (suatu pekerjaan) kepada anak-anak, atau dalam memakan makanan umat Islam pada umumnya, ia berpendapat bahwa makanan itu najis dan wajib baginya membasuh tangan dan mulutnya sebanyak tujuh kali seperti jika tangan dan mulutnya dijilat oleh anjing atau dikencingi kucing.
Kekuasaan iblis terhadap mereka sampai pada tingkat mereka memenuhi perintah iblis laksana orang gila. Mereka lebih dekat kepada madzhab Sujsatha’iyah 1) yang mengingkari hakikat yang maujud dan hal-hal yang nyata.
Dan pengetahuan seseorang tentang keadaan dirinya adalah sesuatu yang pasti dan berdasarkan keyakinan. Adapun mereka, salah seorang dari mereka membasuh anggota tubuhnya dengan disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, kemudian bertakbir, dan ia membaca dengan lisannya sendiri, dengan didengarkan oleh kedua telinganya dan ia ketahui dengan hatinya, bahkan orang lain pun mengetahui daripadanya dan meyakininya, tetapi anehnya orang itu ragu-ragu: Apakah dia melakukan hal itu atau tidak? Demikian pula syetan membuatnya ragu-ragu dalam niat dan keinginannya yang dia ketahui sendiri secara yakin, bahkan orang lain mengetahuinya berdasarkan kenyataan yang dilihatnya. Meski demikian, ia tetap menerima ucapan iblis bahwa ia belum niat shalat, dan belum menginginkannya. la tidak menerima kesaksian matanya sendiri, juga mengingkari keyakinan dirinya, sehingga engkau lihat ia selalu ragu-ragu dan bimbang, seakan-akan ia mengobati sesuatu dan mengeluarkannya, atau ia mendapatkan sesuatu dalam dirinya dan berusaha mengeluarkannya.
Semua itu adalah ketaatan kepada iblis yang berlebihan, menerima bisikan-bisikannya, dan siapa yang mentaati iblis hingga pada tingkat semacam ini, maka berarti ia telah mentaatinya dengan sepenuhnya.
Lalu, ucapan syetan itu diterima untuk menyiksa dirinya dan untuk mentaatinya dalam menimpakan bahaya kepada tubuhnya. Terkadang dalam bentuk menyelamkan diri dalam air yang dingin, terkadang pula dengan memperbanyak dan memperpanjang pijitan (saat berwudhu), atau mungkin ia membuka kedua matanya dan memasukkan air dingin ke dalamnya, lalu ia membersihkannya hingga membahayakan penglihatannya, bahkan mungkin mengakibatkan terbukanya aurat dirinya di hadapan manusia, atau bisa jadi ia malah menjadi bahan ejekan anak-anak kecil dan segenap orang yang melihatnya.
Saya berkata, “Abul Faraj Al-Jauzi 2) menyebutkan kisah dari Abil Wafa’ bin Uqail, ada seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, ‘Saya menyelam dalam air berkali-kali tetapi saya ragu-ragu, apakah mandi saya telah sah atau belum, bagaimana menurut pendapatmu?”
Maka Syaikh menjawab, “Pergilah, kamu sudah tidak berkewajiban lagi menunaikan shalat.” Ia bertanya, “Bagaimana bisa begitu?” Ia menjawab, “Karena Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Pena (catatan amal) diangkat dari tiga jenis manusia: Orang gila hingga sembuh dari kegilaannya, orang yang tidur hingga bangun dan anak kecil sampai ia baligh.’ (Hadits shahih). Dan siapa yang menyelam dalam air berkali-kali lalu ia ragu-ragu, apakah ia telah kena air atau belum, maka dia adalah orang gila!”
Ibnu Qudamah berkata, “Mungkin keragu-raguannya menyibukkan dirinya hingga ia ketinggalan berjama’ah, bahkan mungkin ia kehabisan waktu. Begitu sibuknya orang tersebut dalam niat sehingga menjadikannya ketinggalan takbiratul ihram, atau ketinggalan satu rakaat atau lebih. Di antara mereka ada yang bersumpah tak akan melebihi dari ini (ketinggalan satu rakaat, misalnya, pen.), tapi kemudian ia berdusta (sebab tak bisa menepati).”
Saya berkata, “Seorang yang terpercaya bercerita kepada saya tentang orang yang senantiasa ragu-ragu. Ia selalu mengulang-ulang niatnya beberapa kali, sehingga hal itu memberatkan para makmum. Lalu ia diminta agar bersumpah dengan thalak bahwa ia tidak akan melebihi dari itu. Akan tetapi iblis tidak membiarkannya sampai ia menambah dari yang ditetapkan. Maka ia pun dipisahkan dari istrinya, dan hal itu membuatnya dirundung duka yang amat mendalam. Keduanya berpisah hingga bertahun-tahun, dan wanita itu pun sampai menikah dengan laki-laki lain, dan daripadanya ia mendapatkan putera. Lalu suaminya melanggar sumpahnya sendiri sehingga ia dipisahkan dari istrinya. Wanita itu lalu dikembalikan kepada suaminya yang pertama, setelah hampir saja sang suami binasa karena berpisah dengan istrinya.”
Saya juga mendengar cerita dari orang lain tentang seorang yang selalu memfasih-fasihkan niatnya. Suatu hari, ia begitu sangat memfasih-fasihkan niatnya hingga ia mengucapkan,” Ushalli, ushalli”, (berkali-kali) shalat ini dan itu, lalu ia ingin mengatakan ada’an 3) tetapi ia keliru sehingga mengucapkan, “Adza’an lillahi. “Tiba-tiba orang lain menyerobot ke sampingnya dan menghentikan shalatnya seraya mengatakan, “Wa lirasulihi wa mala’ikatihi wa jama’atil Muslimin!” Ia juga berkata, “Di antara mereka ada yang was-was dalam mengucapkan huruf, sehingga ia selalu mengulang-ulanginya.” Ia melanjutkan,
“Saya melihat di antara mereka ada yang mengucapkan, ‘Allahu Akkkbar!” Ia juga bercerita, “Seseorang berkata kepadaku, ‘Saya tidak bisa mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum’.” Maka kukatakan padanya, “Ucapkanlah seperti yang baru saja Anda ucapkan, dan Anda pun tenang.”
Di antara mereka ada yang disiksa syetan di dunia sebelum menerima siksaan akhirat, mereka dikeluarkan dari mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang berlebih-lebihan dan melampaui batas. Ironinya, mereka mengira telah berbuat dengan sebaik-baiknya.
Orang yang hendak melepaskan diri dari ujian ini, hendaknya ia yakin bahwa kebenaran adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam ucapan dan perbuatannya, lalu ia berkeinginan kuat untuk meniti jalannya, suatu keinginan yang tak dicampuri keraguan sedikit pun bahwa ia berada di jalan yang benar. Dan bahwa yang menyelisihi jalannya adalah dari godaan dan bisikan syetan. Lalu hendaknya ia meyakinkan dirinya, bahwa syetan adalah musuhnya dan ia tidak akan menyerunya kepada kebaikan.
Allah befirman,
“Sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Faathir: 6).
Kemudian hendaknya ia meninggalkan setiap yang menyelisihi jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebab tak diragukan lagi bahwa Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam berada pada jalan yang lurus, dan siapa yang ragu-ragu tentang hal ini, maka dia bukanlah orang Muslim. Jika telah mengetahui hal ini, ke mana lagi ia berpaling dari Sunnahnya? Apalagi yang dicari hamba selain daripada jalan beliau? Selanjutnya ia harus berkata kepada dirinya sendiri, “Bukankah engkau tahu bahwa jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah jalan yang lurus?”
Jika dirinya mengiakan, maka hendaknya ditanyakan, “Apakah orang tersebut melakukan hal itu?” Anda tentu menjawab, ‘Tidak!” Maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Bukankah setelah kebenaran adalah kesesatan? Bukankah setelah jalan surga yang ada hanyalah jalan neraka? Bukankah setelah jalan Allah dan Rasul-Nya tidak ada lain kecuali jalan syetan? Jika engkau mengikuti jalan syetan, maka engkau akan menjadi teman setianya, dan pasti kelak engkau berkata,
“Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat, maka syetan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).” (Az-Zukhruf: 38).
Hendaknya ia melihat keadaan orang-orang salaf dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian meneladani dan mengikuti jalan mereka.
Dan telah diriwayatkan kepada kami dari sebagian mereka yang berkata, “Telah berlalu suatu kaum yang seandainya mereka tidak melebihi seujung kuku (saja) dalam berwudhu tentu kami tidak akan melebihinya.”
Saya berkata, “Dia adalah Ibrahim An-Nakha’i.”
Suatu hari, Zainal Abidin berkata kepada puteranya, “Wahai puteraku, buatkanlah untukku sebuah baju yang khusus kukenakan ketika buang hajat besar, sebab aku melihat lalat jatuh di atas sesuatu, kemudian mengenai baju”, tetapi kemudian ia tersadar lalu segera meralat, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tidak memiliki kecuali satu baju”, 4) maka (keinginan itu pun) ditinggalkannya.
Jika Umar Radhiyallahu Anhu berkeinginan melakukan sesuatu, tetapi dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukannya maka ia akan membatalkannya. Bahkan suatu kali ia pernah berkata, “Aku pernah berkeinginan melarang dari memakai pakaian ini, karena kudengar ia dicelup dengan air kencing orang-orang jompo!” Tetapi kemudian Ubay berkata kepadanya, “Bagaimana kamu melarangnya, padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengenakannya dan aku juga mengenakannya pada zaman beliau, seandainya Allah mengharamkan penggunaan pakaian tersebut, tentu telah dijelaskan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Lalu Umar berkata, “Anda benar.” (Diriwayatkan Ahmad, Abdurrazak dengan sanad munqathi’ sebagaimana dikatakan oleh Al-Haitsami).
Lalu hendaknya dicamkan, sesungguhnya para sahabat tidak ada yang ditimpa was-was, dan seandainya was-was suatu keutamaan, tentu Allah tidak akan menyembunyikannya dari rasul dan para sahabatnya, sebab mereka adalah sebaik-baik dan seutama-utama makhluk. Dan kalaulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjumpai orang-orang yang selalu was-was tentu beliau membenci mereka. Dan seandainya Umar Radhiyallahu Anhu mengetahui mereka tentu ia akan memukul dan mendidik mereka, dan jika saja para sahabat mengetahui mereka tentu orang-orang tersebut akan dibid’ahkan (perbuatannya).
Ighatsatul Lahfan – Ibnul Qoyyim Al Jauziyah
1) Dalam Ihsha’ul Ulum (hal. 24) Al-Farabi berkata, “Ini adalah nama suatu keahlian yang dengannya seseorang mampu mencampuradukkan perkataan dan membuat suatu persangkaan.” Lihat pula Ash-Skufdiyah (1/97-98) dan Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naqli (2/15) keduanya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dengan tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, dan juga Al-Muntaqa An-Nafis min Talbisi Iblis (hal. 65) karya saya.
2) Dalam Talbisu Iblis (hal. 166-167, Al-Muntaqa An-Nafis).
3) Lafadz-lafadz yang selalu diulang-ulang oleh orang-orang awam ini: Ada’an, iqtida’an, tnustaqbilal qiblah, semuanya tidak ada dasarnya sama sekali. Dan niat adalah keinginan hati untuk mengerjakan sesuatu, untuk itu tidak ada kaitannya dengan lisan. Insya Allah pengarang akan menjelaskannya sebentar lagi.
4) Dalam Syama’ilut Tirmidzi (hal. 46-51) terdapat keterangan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memiliki pakaian lebih dari satu, tetapi semuanya adalah sesuai dengan kebutuhan. Wallahu a’lam.
15.55 | 0 komentar

Aslim Taslam

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 23 Maret 2011 | 08.19

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah berfikir agar dirinya sendiri yang merasakan manisnya iman-Islam. Beliau sangat ingin berbagi kenikmatan rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala bersama orang lain. Beliau tidak pernah berpretensi bahwa dirinya semata yang berhak masuk surga. Tetapi beliau ajak sebanyak mungkin manusia agar bersama dirinya menikmati jannah.

Kita masih sering membiarkan diri menjadi orang egois yang ingin masuk surga sendirian dan tidak peduli dengan orang lain. Apalagi jika orang lain itu adalah orang nonmuslim. Kadang kita beranggapan ”biarlah orang kafir masuk neraka.” Na’udzubillahi min dzaalika. Dengan dalih toleransi kita biarkan teman kerja, tetangga bahkan saudara kita sendiri, yang kebetulan non-muslim, tetap hidup dalam kesesatan di luar agama Allah subhaanahu wa ta’aala.

Lalu bagaimana caranya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajak orang di luar Islam ke jalan Allah subhaanahu wa ta’aala? Dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa suatu ketika seorang sahabat mantan Nasrani bernama Adi bin Hatim radhiyallahu ’anhu menceritakan pengalamannya ketika berjumpa pertama kali dengan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam:

لَمَّا قَدِمَ عَدِيُّ ابْنُ حَاتِمٍ الْكُوفَةَ أَتَيْنَاهُ فِي نَفَرٍ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْكُوفَةِ فَقُلْنَا لَهُ حَدِّثْنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَدِيَّ ابْنَ حَاتِمٍ أَسْلِمْ تَسْلَمْ قُلْتُ وَمَا الْإِسْلَامُ فَقَالَ تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَتُؤْمِنُ بِالْأَقْدَارِ كُلِّهَا لِخَيْرِهَا وَشَرِّهَا حُلْوِهَا وَمُرِّهَا

Ketika Adi bin Hatim tiba di kota Kufah, maka kami sekelompok ahli fiqih Kufah mendatanginya dan bertanya kepadanya apa yang ia dengar dari Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, maka Adi bin Hatim radhiyallahu ’anhu berkata:“Aku mendatangi Nabi saw, maka beliau bersabda: ‘Hai Adi bin Hatim, Aslim Taslam (= masuk Islamlah engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan akhirat’) aku bertanya: ‘dan apakah Islam?’; beliau jawab: ‘kau bersaksi tiada ilah selain Allah dan bahwa aku sesungguhnya utusan Allah dan kau beriman akan taqdir seluruhnya, yang baik maupun buruk, yang manis maupun pahit.’” (HR Ibnu Majah)

Aslim Taslam (= masuk Islamlah engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan akhirat’). Inilah kalimat da’wah penuh cinta kasih yang biasa disampaikan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kepada non-muslim yang dijumpainya. Kalimat ini sungguh mencerminkan ambisi utama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, yakni menginginkan keimanan dan keselamatan atas manusia. Beliau sangat peduli agar manusia menjadi beriman. Sebab hanya dengan menjadi berimanlah seseorang akan selamat di dunia dan di akhirat. Pernahkah kita menyampaikan ajakan ini kepada teman kerja kita, atau tetangga kita atau bahkan saudara kita yang bukan muslim? Tentunya kita harus akui bahwa ada saja non-muslim yang baik, tidak semuanya tergolong kafir harbi (non-muslim yang memerangi Islam dan ummat Islam). Apakah kita tega membayangkan nasib mereka yang bakal celaka di akhirat karena tidak beriman? Sedangkan kita saja yang mengaku beriman -bilamana tidak konsisten dalam iman dan Islam- belum tentu bakal selamat di akhirat.

Maka, marilah kita fahami, hafalkan dan coba sampaikan kalimat da’wah penuh cinta ini kepada non-muslim di sekeliling kita. Siapa tahu lewat lisan kita ada yang terbuka hatinya menerima hidayah iman-Islam dari Allah subhaanahu wa ta’aala. Kita bisa mengawalinya dengan mendoakan mereka. Sebagaimana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam pernah mendoakan agar salah seorang dari dua gembong musyrikin di Makkah masuk Islam, yakni ’Amr bin Hisyam (Abu Jahal) atau ’Umar bin Khattab.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ (سنن ألترمذي)

“Ya Allah muliakanlah Islam dengan sebab kecintaan dua lelaki kepadaMu, yaitu dengan sebab ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan sebab ‘Umar bin Khattab.” (HR At-Tirmidzi 12/141)

Bolehkah kita mendoakan orang di luar Islam? Boleh dengan syarat:
Pertama, agenda doanya hanya satu yaitu agar mereka memperoleh hidayah iman-Islam sebagiamana dicontohkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas. Jangan doakan selain itu untuk mereka karena pada prinsipnya tidak ada hal lain yang lebih mereka perlukan di dunia ini selain hidayah.
Kedua, kita hanya dibenarkan mendoakan mereka selagi mereka masih hidup di dunia. Bila mereka telah meninggal dalam keadaan kafir, maka mendoakan mereka menjadi sesuatu yang sia-sia bahkan terlarang oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Jangankan kita, sedangkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam saja dilarang Allah subhaanahu wa ta’aala untuk mendoakan pamannya Abu Thalib yang wafat dalam keadaan musyrik.

لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَالِبٍ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ { مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ } (البخاري)

“Ketika menjelang kematian Abu Thalib, datanglah Rasulullah saw dan didapati di samping pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah (dua gembong musyrikin). Nabi saw bersabda kepada Abu Thalib: “Pamanku, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah, suatu kalimat yang aku akan bersaksi di hadapan Allah untuk melindungimu (dari api neraka)”. Lalu kedua orang itu berkata: “Hai Abu Thalib, apakah kau membenci agama Abdul Muthallib(menyembah berhala)?” Maka Rasulullah saw tidak berhenti mengajaknya kepada Tauhid. Dan kedua orang itupun terus mengajaknya kepada agama kemusyrikan. Sehingga akhir ucapan Abu Thalib adalah ucapan mereka dan ia enggan mengucapkan Laa ilaha illa Allah. Maka bersabda Rasulullah saw: “Demi Allah, akan kumintakan ampunan Allah atasmu selagi Allah tidak melarangnya… lalu Allah turunkan At-Taubah ayat 113.” (HR Bukhary)
Adapun Surah At-Taubah ayat 113 berbunyi sebagai berikut:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS At-Taubah ayat 113)

Marilah kita doakan teman kerja kita atau tetangga kita atau bahkan saudara kita yang bukan muslim selagi hayat masih di kandung badan mereka. Bangunlah di tengah malam, sholat tahajjud-lah, lalu bermunajatlah kepada Allah: ”Ya Allah, tetanggaku pak Markus, sungguh ia seorang tetangga yang baik. Aku senang punya tetangga seperti dia, namun aku juga sedih membayangkan nasibnya di akhirat kelak nanti. Bagaimana ia akan selamat dari siksaMu sedangkan ia tidak memiliki miftahul-jannah (pembuka pintu surga). Maka dengan tulus malam ini aku mohon kepada Engkau, berikanlah hidayah iman-Islam kepadanya agar ia menjadi tetangga baikku di dunia dan insyaAllah tetangga baikku pula di akhirat kelak nanti…. Amin Ya Rabb.”
08.19 | 0 komentar

Fase Fase Dakwah

Written By Rudi Abu azka on Senin, 21 Maret 2011 | 08.39

Rasulullah saw. bersabda,
اُ غْدُ عَا لِمًا اَوْمُسْتَمِعًا اَوْمُحِبًّا وَلَا تَكُنْ ا لْخَا مِسَ فَتُهْلِكَ
“Jadilah seorang ulama atau pelajar atau pendengar atau pecinta ulama. Dan janganlah menjadi orang kelima, maka binasalah kamu.” ( Maqasidl – Jami’ush Shahir ). Abdul Barr r.a berkata, “Yang kelima ialah orang yang memperlihatkan permusuhan terhadap ulama.”

Rasulullah saw. bersabda, “Jadilah kamu seorang ulama atau pelajar agama. Dan jika tidak, cintailah ulama dan jangan membenci dan berniat jahat terhadap mereka.” ( Kitab Majmauz Zawaid ).

Merujuk kepada Hadits diatas, bahwa tahapan dakwah dibagi menjadi 4 tahapan ( fase ), yaitu :

1. عَالِمًا

Jadilah orang yang ‘alim (ulama). Pada tahapan ini disebut dengan fase takwin. Cirinya adalah : Sholeh, Muslih (orang yang menjadikan orang lain menjadi baik). Yaitu sudah mampu menyampaikan tausiah-tausiah atau nasihat kepada umat.
2.مُتَعَلِماً

Jadilah orang yang menuntut ilmu (pelajar). Pada tahapan ini disebut fase taklim. Cirinya adalah : Sholeh. Yaitu seseorang yang menuntut ilmu dalam rangka meng-upgrade keilmuan agamanya, namun pada fase ini kesholehan yang dimilikinya hanya sebatas sholeh untuk diri sendiri dan belum mampu mensholehkan orang lain (muslih)
3.مُسْتَمِعاً

Jadilah pendengar. Pada tahapan ini disebut fase tabligh. Yaitu hanya sebatas sebagai pendengar apa yang disampaikan oleh seorang ulama atau penceramah.
4.مُحِبًّا

Jadilah pecinta. Yaitu sebatas mencintai syari’at islam. Pada tahapan ini, seseorang belum mau mendengarkan apa yang disampaikan dan belum mau menuntut ilmu terlebih lagi menyampaikan ilmu. Fase ini merupakan fase minimum atau fase paling rendah seorang muslim.

Jika, kita buatkan tangga seperti gambar diatas, maka tahapan dakwah yang harus kita lewati adalah dimulai dari fase terendah ( pecinta ) sampai kepada fase tertinggi dalam dakwah ( ulama ). Lalu dimanakah posisi kita saat ini, apakah sebagai pecinta, pendengar, pelajar atau ulama ?

Sebagai muslim yang selalu mengharap ridho Alloh dan mendambakan syurganya Alloh Swt, tentunya kita jangan merasa cepat puas berada di posisi pecinta saja atau pendengar saja, tetapi kita harus mempunyai tarkiyah (peningkatan), harus mempunyai targetan paling tinggi untuk meng-upgrade keimanan kita, yaitu menjadi orang ‘alim (ulama). Tetapi ingat, janganlah kita menjadi orang yang kelima, yaitu orang yang memusuhi syiar islam, karena Rasulullah mengancam “binasalah kamu” bagi siapa yang memusuhi para ulama.

Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam Hadist Nabi Muhammad SAW :

Hadits 1

“menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan” (HR. Ibn Abdulbari)

Hadits 2

Rasulullah saw. bersabda,

“Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya dan barangsiapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula. dan barangsiapa yang menginginkan keduanya wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”. (HR. Bukhari dan Muslim)
08.39 | 0 komentar

AL-QUR’AN DIGITAL - Menjelajah & Mendalami Al-Qur’an Lewat Komputer

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 20 Maret 2011 | 16.34


Al-Qur’an digital yang dimaksud di sini adalah software yang berisi
database sebagian atau keseluruhan muskhaf Al-Qur’an, baik teks ayat-ayat
Arabnya maupun terjemahan ke bahasa lain, berupa teks, gambar maupun
suara hasil bacaan terhadap ayat-ayatnya. Banyak pengembang yang membuat
Al-Qur’an digital baik bersifat komersial maupun gratis semata. Ada yang
tersedia di internet untuk di-download dan ada yang tidak, jadi harus membeli disk-nya.

Hampir keseluruhan software yang dibahas di sini telah penulis coba,
jumlahnya hampir 50 software. Sebagian besar software yang mungkin untuk
disebarkan, kami sertakan dalam DVD bonus. File yang kami sertakan berupa
installer-nya bila tidak mungkin dijalankan langsung lewat menu DVD yang ada.
Bagaimanapun Al-Qur’an digital adalah bentuk lain dari muskhaf
konvensional, yang menurut ijma’ tidak boleh disentuh oleh orang yang tidak
bersuci. Sehingga di sini pengguna tetap harus berhati-hati untuk selalu
menjaga kemuliaannya, lebih-lebih bila sedang diakses dan digunakan.
Penilaian yang kami lakukan bersifat objektif berdasarkan kelengkapan,
kemudahan, keindahan dan fungsi tambahan lain yang disertakan software.

Bersambung....
16.34 | 0 komentar

Ensiklopedi Software Islam

Era teknologi dan informasi yang berlangsung saat ini telah
memungkinkan kita melakukan dan mendapatkan sesuatu hal dengan mudah,
termasuk yang seakan mustahil pada masa lalu. Perkembangan teknologi kian
mampu menghadirkan teman bercakap dan berdiskusi dari tempat yang
berlainan, cukup dengan memanfaatkan jaringan internet, tanpa harus bertemu
secara fisik. Di sisi lain, muncullah pertanyaan-pertanyaan : seberapa banyak
orang yang telah mengetahui berbagai kemudahan tersebut ? Siapa saja yang
mampu mengaksesnya ?

Berbeda dengan masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, dan
akademisi sebagai kalangan terdidik cukup beruntung karena pada umumnya
tinggal dan beraktivitas di tempat yang memiliki akses fasilitas teknologi
informasi (TI), terutama akses internet. Namun, ketersediaan akses tidak
menjamin optimalnya pemanfaatan fasilitas tersebut untuk aktivitas masing-
masing.

Apakah komputer dengan segenap software, media penyimpan (Hard
Disk, Flashdisk, CD, DVD, Bluray, HD-DVD), dan koneksi internet sudah
menjadi "perpustakaan" yang dapat menyuplai informasi dan referensi?
Sudahkah terwujud percepatan pembelajaran di antara banyak orang melalui
diskusi dan berbagi ilmu atau pengalaman dengan memanfaatkan fasilitas TI ?
Berbalik ke arah kita, sudahkah kita mentransformasikan diri dari posisi sebagai
konsumen informasi dan atau pengetahuan menjadi produsennya? Pertanyaan-
pertanyaan tersebut layak diajukan karena sebenarnya TI bisa dipelajari dengan
mudah dan murah, asal diupayakan secara bersama-sama disertai kemauan
dan tekad untuk belajar, serta terus-menerus berlatih dan berbagi.
Banyak software dikembangkan para developer maupun sukarelawan
di berbagai belahan dunia, mereka berusaha berkontribusi bagi kemudahan
akses informasi dan sumber daya digital (resources) yang diperlukan berbagai
pihak, terutama yang berkecimpung dalam aktivitas da'wah dan pendidikan.
Software yang ada itu dapat menjembatani keterbatasan buku dan media cetak
lainnya dalam hal jumlah halaman, maupun keterbatasan internet yang
menuntut biaya akses yang tidak murah. Diharapkan, materi dalam format
masing-masig software dan ebook ini bisa menjadi perpustakaan digital yang
dapat memberikan gambaran pada masyarakat luas tentang kemudahan yang
dapat diperoleh dengan adanya media alternatif dalam penyebaran informasi
dan pengetahuan ini.

Setiap software yang kami bahas, disertai informasi tentang si
pembuat, alamat download atau website resminya jika ada, besar kebutuhan
hardisk komputer, sistem operasi (OS) yang dipakai dan status software. Status
software yang bersifat freeware, GNU GPL, copyleft, opensource, licenced to all
muslims, atau yang semisal dengan itu kami tulis statusnya sebagai “gratis”.

Status software yang bersifat shareware dan trial, kami tulis apa adanya. Status
software yang memerlukan pembelian dan biaya, kami masukkan dalam
software komersial. Kami tambahkan pula informasi “on the disk” di sebelah
status gratis, shareware atau trial, jika aplikasi tersebut termuat dalam CD/DVD
bonus.

Penilaian yang kami lakukan, adalah murni penilaian kami terhadap
fungsionalitas, dokumentasi bantuan dan fitur tambahan yang ada. Bisa jadi
penilaian kami berbeda dengan penilaian pembaca atau profesional di
bidangnya, harap maklum. Skor total masing-masing katagori adalah 100.
Fungsionalitas yang maksud di sini adalah kegunaan atau fungsi software itu di
bidang atau jenis software itu. Misal software faroidh, maka seharusnya bisa
memecahkan permasalahan-permasalahan warisan dengan benar,
komprehensif dan mudah. Dokumentasi bantuan yang kami nilai, bisa berupa file
readme.txt, hlp, chm, html atau exe (executable) yang menyatu dengan
program, semakin lengkap dan mudah difahami, maka nilai semakin besar.
Untuk aplikasi yang tanpa disertai dokumentasi bantuan, kami beri skor 50 atau
60, tergantung kemudahan penggunaannya. Fitur tambahan yang dimaksud
adalah fungsi dan fasilitas tambahan yang disertakan program disamping fungsi
utama di bidangnya, termasuk di sini adalah keindahan, kemudahan interface,
skin, theme dan bonus lain.

Penulis: Ust Alif Juman
16.24 | 0 komentar

TOP 20 Nasyid Nuris FM Edisi 18 Maret 2011 / 14 Rabiul Akhir 1432H

Cermin=Renungan Hamba (Naik 2) (Medan)
Rifki Fajri=Kiasan Hati(Turun 1) (Bandung)
Maher zein=InsyaAllah(Turun 1) (Swedia)
Firto,Alief,Redi = Karena Semuanya Indah (Naik 1) (ANN Jateng)
El Fityan = Ampunan-NYA(Naik 2) (Jogjakarta)
Sketsa=Tuhan Aku Selingkuh(Turun 2) (Jakarta)
Syahdu=I love Allah(Turun 1) (ANN Jateng)
Alief=Jaga Hamba (Naik 1) (ANN Jateng)
Maidany=Mencari Cinta Dibelahan Jiwa (Naik 4) (Medan)
Haddad Alwi feat farhan=Ibu (Turun 2) (Jakarta)
awallun=Bukan Cinta Monyet(Turun 1) (Jogjakarta)
Zahyd=The Power of Dream(Turun 1) (Medan)
Cermin=Ayah Bunda (Naik 1) (Medan)
The CS=Senyum(Naik 1) (ANN Jateng)
Ilyas=Semesta Penuh Warna (Turun 3) (ANN Surakarta)
Syaamil=Tegar(Naik 3) (Bandung)
Asma Voice=3G(Naik 3) (ANN Bekasi)
PizziCapela=Semesta Cinta(Tetap) (Jakarta)
Djay Lazuardi=Senandung Rindu Ayah (New Entry) (Jateng)
Azka=Adab Makan(New Entry) (ANN Jateng)
New Entry
Soultan=Sesal Saja Tiada Guna (Bandung)
Trian=Ikhlas Pada-Nya (Jateng)
Yogie=Shafa(Permata Hati Bunda) (Kediri)
Efziel Nasyid=Doa Cinta (Majalengka)
AHad=Kuingin Belajar Mengaji (ANN Jateng)
Bagus Haryo=Keikhlasann (Solo)
Munsyid Akhwat
Embun Nasyid=Embun Pagi (New Version) (Garut)

Simak dan dukung terus nasyid kesayangan anda di top 20 nasyid nuris FM Bersama Kiki Alfatih Setiap jum'at pkl 20.00 sd 21.00 www.radionuris.co.tv
Bagi sahabat nuris yang punya single yang mau di putar kirim ke nuris_radiomuslim@yahoo.com
konfirmasi kiki alfatih 02194581717 atau 085717751717
TOP 20 NASYID NURISFM
Chartnya Nasyid Terkini
16.21 | 0 komentar

Prajurit Muslim Majapahit

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 17 Maret 2011 | 13.22

Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 M yang berarti saat Rasulullah SAW masih hidup di Jazirah Arab. Buktinya adalah sebuah kota kecil di pesisir Barat Sumatera Utara, Barat daya Medan, bernama Barus. Sampai sekarang, sejarah mencatat jika Barus adalah kota tertua di Nusantara. Barus adalah kota internasional yang sejak zaman sebelum masehi, sebelum Nabi Isa a.s. lahir, diketahui telah mengekspor kapur wangi (kapur Barus) ke Mesir untuk digunakan sebagai bahan pembalseman mumi para raja dan pangeran Mesir (Firaun).

Sedangkan Majapahit baru berdiri di akhir abad ke-13 M, dengan meruntuhkan Kerajaan Singosari, yang berarti enam abad setelah Islam menyinari Nusantara.

Walau Islam telah menyinari Barus diabad ke-7 M, namun catatan Islam tertua di Tanah Jawa sampai hari ini masih merujuk pada batu nisan Fatimah Binti Maimun yang ditemukan di Leran, Gresik, Jawa Timur, pada 1082. Sejumlah petilasan di pusat kerajaan Majapahit, Trowulan, juga telah ditulis dalam bahasa Arab (SQ. Fatini: Islam Comes to Malaysia; Singapore, MSRI, 1963). Ini berarti sebelum Majapahit berdiri di Trowulan, sudah ada penduduk beragama Islam di sana.

Sedangkan menurut catatan indonesianis asal Monash University- Australia, MC. Ricklefs dalam “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” (h.30-31) disebutkan jika batu nisan Trowulan terdapat angka pahatan 1368. ”Batu nisan ini berhias ayat-ayat Qur’an… Batu-batu Jawa Timur itu mengesankan bahwa beberapa elit Jawa telah memeluk Islam pada saat kerajaan Majapahit yang beragama Hindu-Budha itu sedang jaya-jayanya.” Ricklefs juga menulis, “…sudah ada bangsawan-bangsawan yang beragama Islam di istana Majapahit pada abad XIV” (h.37). Kerajaan Majapahit berdiri pada tanggal 10 November 1293 saat Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan nama resmi Prabu Kertarajasa Jayawardhana.

Ronggolawe sendiri adalah orang yang sangat berjasa di dalam berdirinya Majapahit. Namun oleh pembesar Majapahit, akibat fitnah yang dilancarkan Mahapatih Halayudha, Ronggolawe yang sangat menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan—sebab itu dia menolak pengangkatan Nambi yang dianggapnya tidak lebih berjasa ketimbang beberapa rekannya sebagai salah satu pembesar kerajaan, dianggap sebagai pemberontak dan diperangi.

Tuban sejak sebelum Majapahit berdiri merupakan kota pelabuhan di mana semua pedagang dari berbagai negara dan agama bertemu. Islam telah bersinar di Tuban sejak lama. Sebab itu jika dikatakan adakah orang-orang Islam yang menjadi pengikut Ronggolawe, maka hal itu bukan kemustahilan. Apalagi di masyarakat Tuban telah lama tertanam adanya kisah tentang Brandal Lokajaya yang kemudian menjadi Sunan Kalijaga, salah seorang penyebar Islam di Tanah Jawa.

Dan adakah orang-orang Islam yang menjadi anggota pasukan kerajaan Majapahit? Ini juga bukan kemustahilan mengingat sejarawan Ricklefs berkeyakinan jika sebagian pembesar dan bangsawan Majapahit telah memeluk Islam ketika Majapahit masih berdiri.

Sejarah Islam di negeri ini memang sangat besar dan gemilang. Sayangnya, arus reformasi sepertinya tidak perduli dengan semua ini. Menjadi tugas kita semualah untuk mengungkap dan meluruskan sejarah ini agar anak cucu kita bisa bangga menjadi Muslim Indonesia. Wallahu alam bishawab.
13.22 | 0 komentar

Urgensi Kenabian Muhammad Saw. Bagi Kemanusiaan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, dan penutup para nabi-Nya, Sayyidina Muhammad Saw. amma ba’du…

Walau Bulan Rabiul Awal telah berlalu, namun nuansa maulid Nabi SAW mengingatkan kita pada pembawa cahaya dan hidayah; Sayyidina Muhammad Saw. yang lahir di kala dunia penuh dengan kerusakan.

Ketika Rasulullah Saw. hadir, manusia terbagi dua golongan. Golongan pertama adalah kaum yang menzalimi. Mereka keji, menindas, dan menikmati dunia dengan keangkuhan dan kerusakan. Yang kedua adalah golongan yang dizalimi. Mereka dianiaya dan terus ditindas. Golongan zalim semakin zalim, sedangkan yang dizalimi hanya pasrah, karena tak bisa berbuat apa-apa. Sehingga tersebar moto kepasrahan di antara mereka, “Kami hanyalah budak bagi siapa yang memiliki kami.”

Saat Rasul lahir, di tingkat internasional, ada dua imperium yang menjadi adikuasa dunia; Romawi dan Persia. Keduanya saling merebut wilayah jajahan, menghegemoni dunia, memeras kekayaan alam negara lain, menjadikan penduduk wilayah lain sebagai tentara yang membantu perang berdarah antara kedua imperium itu. Sedangkan bangsa lain mereka pandang secara rasis.

Di tingkat bangsa Arab, orang yang zalim merasa bangga, karena mereka mampu berbuat zalim dan tidak dizalimi, atau mampu merusak tanpa ada yang mampu menghukumi. Adapun orang yang dizalimi, mereka hanya pasrah dimiliki dan tidak berhak memiliki.

Namun demikian, ada juga orang Arab yang baik hati, seperti Muth‘am bin Adi yang membantu Nabi Saw. Perjanjian Hilful Fudhul (janji setia suku Quraiys untuk menolong orang-orang yang dizalimi) juga menunjukkan semangat berbuat baik di antara mereka.

Demikianlah sekilas realita kehidupan sebelum lahirnya Nabi Muhammad Saw. Ketika Allah Swt. berkehendak menghapus kezaliman ini, Dia mengutus nabi-Nya Muhammad Saw. dengan risalah yang paling agung dan penutup risalah para nabi dan rasul sebelumnya.

Ketika Rasulullah tampil di tengah-tengah kehidupan manusia, beliau langsung memulai proyek perbaikan baru, untuk memperbaiki kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Untuk itu Rasulullah Saw. selalu berdoa, “Ya Allah perbaikilah agamaku yang merupakan inti urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku.”

Risalah Persamaan dan Kemanusiaan

Proyek perbaikan dunia akhirat tersebut terhimpun dalam risalah yang di bawa Rasulullah Saw. Di antaranya risalah persamaan setiap manusia. Allah berfirman, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian dapat saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa (kepada Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Dakwah Rasul ini berdiri di atas asas yang jelas. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian juga satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non Arab, tidak juga orang non Arab atas orang Arab, tidak juga orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, tidak juga orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan.” (HR. Ahmad dengan sanad shahih).

Risalah Persatuan Umat Manusia

Dakwah Rasulullah merupakan dakwah yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Sehingga, ketika seseorang beriman kepada Nabi Muhammad, berarti ia juga beriman kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan semua nabi lainnya. Allah berfirman, “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama (agama tauhid yaitu: iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, nabi dan rasul-Nya, hari kiamat dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya) dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang musyrik agama yang kalian serukan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 13).

Risalah Kebebasan, Persatuan, dan Menanggalkan Sukuisme

Dakwah Rasulullah Saw. memerangi segala bentuk kediktatoran politik, pemikiran, dan sosial. Dakwah yang memerangi semua bentuk kezaliman yang ada dalam masyarakat.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. telah menghilangkan pada diri kalian kesombongan jahiliyah dan kebanggaan terhadap nenek moyang… setiap kalian berasal dari Adam, dan Adam itu berasal dari tanah. Maka hendaklah setiap kalian meninggalkan kebanggaan terhadap kaumnya, karena sikap itu adalah salah satu bara neraka jahannam, atau ia akan menjadi lebih hina di sisi Allah dari pada jenis kumbang yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad shahih).

Jadi tidak ada beda antara kulit putih dan kulit hitam, Arab atau non Arab, Quraiys atau Habsyi. Dakwah seperti inilah yang diterima oleh akal sehat dan fitrah yang lurus. Karena manusia adalah manusia. Ia mempunyai kebebasan dan berhak atas segala kemuliaan.

Bahkan sistem perbudakan telah menjadi salah satu hukum yang lumrah di dunia kala Rasul lahir. Maka risalah Islam hadir menentangnya. Salah satunya dengan sistem mukâtabah, yaitu memerdekakan budak dengan cara menebusnya. Dalam Al-Quran Allah menyeru, “Maka hendaklah kalian mengadakan mukâtabah (seorang hamba yang meminta dimerdekakan oleh tuannya dengan cara menebus dirinya) dengan mereka jika engkau mengetahui bahwa di sana ada kebaikan..”, bahkan Islam memerintahkan untuk menolong mereka, “Dan berikanlah sebagian harta Allah yang telah Dia anugearhkan kepadamu..” (QS. An-Nur: 33).

Risalah Keadilan yang Mutlak

Dakwah Rasulullah Saw. adalah seruan terhadap keadilan mutlak. Keadilan yang diterapkan kepada siapa saja, walau berbeda agama dan kepercayaan. Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿٨﴾

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalaha kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maidah: 8).

Bahkan di hadapan kezaliman kaum Quraisy yang mencegah mereka melakukan umrah dan thawaf di Masjidil Haram, Allah juga melarang Rasul dan sahabat membalas kezaliman mereka dengan kezaliman pula. Allah berfirman,

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُواْ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum—karena mereka menghalangi-halangimu dari Masjidil Haram—mendorongmu berbuat aniaya terhadap mereka..” (QS. Al-Maidah: 2)

Risalah Kesabaran, Bahkan Terhadap Orang yang Menyakiti

Dakwah Rasul mengharuskan untuk tetap bersabar menghadapi upaya Ahli Kitab—yang hidup di antara kaum muslimin—menyakiti beliau, selama upaya ahlul kitab itu hanya menyesakkan jiwa dan kata-kata yang menyakitkan, yang tidak kelewat batas, atau menjadikan musuh semena-mena terhadap kaum muslimin. Allah berfirman,

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ ﴿١٨٦﴾

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan sungguh kamu juga akan mendengar dari orang-orang Ahli Kitab sebelum kamu, dan orang-orang musyrik, gangguan yang banyak dan menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186).

Sebaliknya, Rasulullah Saw. memberi peringatan keras agar seorang muslim tidak sekali-kali menyakiti non-muslim yang berada dalam masyarakat muslim. Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang menzalimi atau menghina mu‘âhidan (non-muslim ahlu zimmah), atau membebankan sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan, atau mengambil sesuatu dari mereka tanpa keridaan dari mereka, maka sayalah yang akan menjadi lawannya di hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).

Jadi, Rasulullah Saw. yang akan berdiri dan membela ahlu zimmah melawan muslim tersebut.

***

Risalah Penjagaan dan Pembelaan Terhadap Kebenaran

Adapun jika mereka (Ahludz Dzimmah) keluar dari undang-undang dan hukum Umat Islam atau memusuhinya atau membantu negara lain yang memusuhi Islam, maka tidak ada runga untuk membiarakan hal ini. Allah berfirman,

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿٩﴾

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Mumtahanah: 9)

Betapa miripnya hari ini dengan kemarin

Ketika memperhatikan kondisi dunia sekarang ini, kita melihat adanya upaya kembali ke zaman Jahiliyah untuk menghidupkan kezaliman dan kerusakan. Sejak Umat yang membawa nilai-nilai Risâlah Muhammadiyah (ajaran Muhammad Saw) dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia ini mulai mundur, bangsa-bangsa Barat mulai maju dari segi materi. Segala macam kekuatan condong untuk kepentingan mereka. Mereka bergerak untuk menjajah dunia Timur dan berusaha menghilangkan haubatihaa, dan sejarahnya. untuk merealisasikan semua itu mereka melakukan pembantaian-pembantaian keji berupa penjajahan yang dirasakan oleh bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Sampai pada akhirnya manusia mengumumkan keinginan mereka untuk hidup bersama dalam kedamaian. Mereka sepakat untuk mendirikan organisasi Internasional untuk menjaga hal-hak mereka setelah Perang Dunia berdarah yang memusnahkan puluhan juta manusia. Mereka mengumumkan berdirinya PBB, Dewan Keamanan dan lembaga-lembaga lainnya yang secara zahir menyeru kepada kebebasan, keadilan, persamaan dan kemanusiaan. Akan tetapi, semua itu hanya sekedar jargon yang kosong dari isinya. Tetap saja kekuatan militer yang besar yang dimiliki oleh negara-negara besar, terutama Amerika, merekalah penentu kebijakan yang mengatur roda perjalanan dunia dengan cara rasialis dan bias yang dapat dilihat oleh siapa saja.

Masalah Palestina dan keberpihakan yang zalim

Gambaran yang paling jelas dari keberpihakan yang zalim ini terlihat pada upaya mereka mendirikan gerakan Zionis yang mereka sebut Negara Israel, di bumi Palestina. Padahal negara Israel ini adalah negara yang tidak mempunyai asal-usul yang jelas. Bukan merupakan sebuah bangsa yang hidup di atas negeri yang mempunyai wujud secara natural. Tetapi ia tidak lain adalah kumpulan etnis-etnis ekstrimis dari berbagai unsur, yang tidak disatukan oleh apapun selain ideologi Zionisme. Mereka meninggalkan negeri asalnya untuk mendiami negara buatan baru di atas negeri Palestina, dengan mengenyampingkan hak-hak rakyat Palestina. Negara yang dibentuk atas dasar resolusi PBB yang zalim, pada tahun 1947 M, dengan persetujuan negara-negara besar imprealis, terutama Amerika.

Etnis-etnis tersebut mulai membentuk eksistensinya dengan pembantaian yang keji, oprasi-oprasi pemusnahan massal dan pengusiran paksa rakyat Palestina, dengan didengar dan disaksikan oleh dunia internaisonal. Tidak cukup sekedar berasaskan resolusi yang zalim, entitas baru ini disokong langsung oleh Amerika dan negara-negara besar dunia lainnya dengan bantuan persenjataan yang besar dan modern, untuk merampas sisa-sisa tanah Palestina, bahkan melampauinya sampai merebut tanah-tanah Arab lainnya, dalam peperangan panjang dan pembantaian berkali-kali di negara-negara Arab yang berada di sekeliling Palestina. Mereka melabrak semua resolusi-resolusi formalitas yang dikeluarkan oleh PBB tentang masalah Palestina seraya dengan sangat sesumbar mengumumkan penolakannya terhadap pengembalian para pengungsi, bahkan sampai akhir tanggal 4 Juni 1967. Sedangkan PBB sama sekali tidak berpikir bagaimana mengambil langkah-langkah oprasional untuk memaksa Israel menghormati resolusi-resolusi yang telah ditetapkannya. Walaupun sebenarnya resolusi PBB yang telah ditetapkan adalah resolusi zalim yang memberikan sesuatu kepada orang yang tidak berhak, sedang PBB sendiri tidak memiliki hak untuk memberikannya kepada orang itu.

Sungguh sebuah kezaliman yang aneh

Setiap hari Dunia Barat memperlihatkan kemunapikannya dalam warna yang baru. Sementara mereka berteriak-teriak menyuarakan demokrasi dan kebebasan serta menyuarakan hak setiap bangsa untuk membela diri dan melawan penjajah yang merampas negerinya, pada saat yang sama mereka mengingkari hak ini terhada bangsa Arab dan Islam dan terkhusus bumi Palestina. Ketika Veto Amerika memberangus setiap resolusi yang mengusung pelanggaran hak dan pembantaian yang dilakukan Zeonis yang tidak peduli terhadap manusia, tumbuhan atau bebatuan, ketika itu juga Amerika tidak punya malu untuk mengatakan perlawanan bangsa Palestina sebagai aksi terorisme. Ketika pemimpin-pemimpin negara Barat sama sekali tidak tergerak melihat pemandangan darah dan serpihan-serpihan daging anak-anak Palestina akibat senjata Phosfor yang terlarang secara internasional, pada saat yang sama mereka bersatu untuk memboikot para Mujahidin dan melarang pengiriman senjata-senjata ringan kepada mereka. Padahal mereka tidak pernah berhenti mengirimkan kapal-kapal perang, pesawat-pesawat tempur, intelejen-intelejen dan mempersembahkan kepada Israel segala jenis kecanggihan teknologi guna mengoptimalkan pengepungan terhadap bangsa yang terzalimi perlawanan yang tak bersenjata.

Ketika Penuntut Umum ICC (International Criminal Court/Persidangan Pidana Internasional) berusaha agar dikeluarkan keputusan internasional untuk menangkap presiden Sudan dengan tuduhan palsu dan dibuat-buat berupa pembantaian massal; pada saat itu juga tidak pernah terdengar bahwa ia dan pihak lainnya bersuara lantang untuk mengajukan tuntutan agar petinggi-petinggi Zionis di seret ke meja persidangan ICC. Padahal merekalah sejatinya yang telah melakukan kejahatan-kejahatan di hadapan mata dan telinga setiap orang, serta disksikan oleh dunia waktu demi waktu di layar-layar televisi.

Di saat yayasan-yayasan kemanusiaan dan organisasi-organisasi perlindungan hewan yang berada di bawah PBB berusaha keras untuk merendahkan segala tindakan yang menyebabkan terbunuhnya seorang penduduk negara Barat atau Yahudi, di saat itu pula mereka hanya terdiam sesunyi pekuburan melihat kejahata-kejahatan tidak berkemanusiaan yang diberitakan oleh layar-layar TV. Ribuan anak-anak, para wanita dan orang-orang tua menjadi korban. Namun dengan tenangnya sebagian mereka memutarbalikkan fakta, dan membenarkan agresi Israel dan mengatakan bahwa hal itu adalah tindakan pembelaan diri. Pada saat yang sama mereka menuding para pejuang sebagai pihak yang bertanggung jawab atas agresi ini, dan menganggapnya sebagai pelanggaran hak yang tidak dibenarkan sama sekali! Bahkan pihak-pihak yang tidak memiliki kemampuan untuk mengingkari kejahatan-kejahatan Zionis yang brutal ini dan ikut serta—dengan malu-malu—menuding Israel, mereka juga tidak lupa untuk menyatakan bertanggung jawab terhadap para pejuang. Mereka menyamakan antara yang dikorbankan dan yang mengorbankan. Inilah yang dilakukan oleh Lembaga Amnseti Internasional akhir-akhir ini.

Kezaliman adalah penyebab kekacauan Golobal

Organisasi Ikhwan al-Muslimin ketika menyaksikan semua kezliman yang memenuhi dunia sekarang ini, menegaskan kepada mereka yang memiliki akal sehat, bahwa kezaliman ini, standar penilaian yang zalim ini serta keberpihakan zalim yang kontaras ini adalah sebab utama dari kekacauan global. Semua itulah yang menyebabkan peperangan-peperangan di seluruh muka bumi. Tidak akan ada kedamaian di Jazirah Arabia selama penjajah masih tetap bercokol di sana, selama berada di bawah naungan kezaliman dunia Internasional yang mendukung pelaku-pelaku kezaliman terhadap kezaliman mereka, menolak untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya dan selama mereka mengusung jargon-jargon keadilan dan kemanusiaan menurut mereka dan menerapkannya di dunia ini.

Hanya keadilan yang akan menjamin kedamaian hidup manusia

Sesungguhnya umat manusia saat ini sangat membutuhkan risalah kenabian Muhammad Saw dan nilai-nilai ajaran yang dibawanya, untuk memberikan kebahagiaan pada dunia dan meluruskan arah hidup umat manusia. Tidak ada cara untuk mewujudkan kedamaian di muka bumi ini kecuali dengan kembali kepada nilai-nilai ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw seperti persamaan, kebebasan, keadilan dan pengakuan hak kepada pemiliknya. Maka, apakah para cendikiawan, politikus, pemikir dan pembela hak-hak manusia memperhatikan seruan-seruan yang mulia yang mengajak kepada yang kebenaran yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw ini?

Seyogyanya, para cendekiawan membuka rasio dan mata hati agar mereka dapat keluar dari ketidakstabilan dan kerusakan global yang mencekik leher umat manusia. Selamanya dakwah beliau yang mulia membreitahukan jalan keselamatan,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ﴿٦٤﴾

“Katakanlah: ‘Hai ahli Kitab! Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (Ali Imran: 64).

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik-Nya.
12.43 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung