Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Cinta adalah Fitrah Insani

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 30 Juni 2009 | 09.47

Cinta adalah Fitrah Insani

Muhammad Ibnu Daud Azh Zhahir mengatakan;“ Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui watak dan kelemahlembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Karena sebenarnya ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri.Kecenderungan manusia pada keindahan adalah fitrah tetapi juga merupakan ujian bagi manusia.

“Dijadikan indah pada (pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang di ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. Qs. Ali Imran [3]:14)

Dan Firman Allah lainnya:
“Disitulah diuji orang-orang yang beriman dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat (dahsyat). (al-Ahzab:11)
Ibnul Qayyim Al-Jauzi mengungkapkan; dalam rasa cinta melibatkan sampai 50 tingkat perasaan. Dari kondisi yang membahagiakan, sampai pada yang menyedihkan. Dari adanya kerinduan sampai keinginan untuk selalu mencurahkan kasih sayang. Dan dari cinta buta yang memperdayakan sampai cinta tertinggi yang melahirkan penghambaan.

Abdullah Nashih Ulwan dalam ‘Al-Islam wal Hub’ menulis tentang cinta. Ia katakan, Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, tak dapat di pisahkan dengan kehidupan. Ia selalu dibutuhkan. Jika seseorang ingin menikmatinya dengan cara yang terhormat dan mulia, suci dan penuh taqwa tentu ia akan mempergunakan cinta itu untuk mencapai keinginan yang suci dan mulia pula.

Menurut Abdullah Nasih Ulwan, cinta memilki tiga tingkatan.
• Cinta tingkat tertinggi, yaitu cinta kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad dijalan-Nya.
• Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat.
• Cinta tingkat terendah; ialah cinta yang lebih mengutamakan cinta kepada keluarga, harta dan masalah dunia dari pada mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Tiga tingkatan cinta itu berdasarkan firman Allah pada surah at-aubah [9]:24
“Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasik”.( Qs. At-Taubah [9]:24)

*****
Cinta adalah fitrah manusia yang murni, tak dapat di pisahkan dengan kehidupan.Ia selalu dibutuhkan. Jika seseorang ingin menikmatinya dengan cara yang terhormat dan mulia, suci dan penuh taqwa tentu ia akan mempergunakan cinta itu untuk mencapai keinginan yang suci dan mulia pula.
*****

Berikutnya insya Allah: Ketika Cinta Datang
09.47 | 0 komentar

Top 20 Nasheed Nuris FM -edisi 27 Juni 2009

Written By Rudi Abu azka on Senin, 29 Juni 2009 | 09.45

Bisa disimak live setiap Sabtu Malam 19.30-21.30 WIBon air di 107.7 FM (bagi Anda yang berdomisli di Ciledug, Larangan, Kreo, Petukangan, Joglo, Meruya, Kebon Jeruk, Keb. Lama, Bintaro, Pd. Aren, Ciputat,dan sekitarnya)

atau via streaming on
- http://nurisfm.blogspot.com/
- http://nurisfm.listen2myshow.com
http://nurisfm.listen2mymusic.com
http://nurisfm.radiostream321.com

1. Sendiri Menyepi - edCoustic (album: Sepotong Episode/2008)
2. Kau Tiada Terdua - Rakhmat Fajar (album: Kompilasi Semusim Inspirasi/2008)
3. KarenaNya Aku Menolakmu - Haris Isa (album: No.1/2009)
4. Ketika Cinta Tak Bertasbih (KCTB) - Faris JV (single/2009)
5. Lembayung - Izzatul Islam (album: Saatnya Kemenangan/2009)
6. Ku Berlari - Firdaus & Akhbar(album: Dunia yang Lebih Indah)
7. Maharku Untukmu - Alief (single ANN Jateng)
8. Let’s Study Qur’an - Da’i Nada (album: Maly Rabbun Siwah)
9. Sholat Cinta - Tirta (single)
10. Alloh Dekat - Naufal (single ANN Jateng)
11. Dia Muhammad - Inteam (album: Allahu Rabbi- Reunited/2009)
12. Antum “Antara Kita untuk Mereka” - Dhia (single/2009)
13. KKTD (Kini Kau Tlah Dewasa) - Justice Voice (album: Jangan Mepet Mepet)
14. Asma Allah - Sami Yusuf (album: Without You/2009)
15. Freedom Will Come - Zain Bhikha (single/2009)
16. Jejak – Maidani (single/2008)
17. Waspadalah - The CS (single ANN Jateng)
18. Visi Peradaban – Asy Syujaa (Kompilasi Bogor Nasheed Center)
19. Buah Hati - Nasyid BaNa (single 2009)
20. Terbaik Dariku – Zaid Al-Wafiy (Bogor Nasheed Center)

Sekilas Info :
- Tiga teratas pekan ini diraih oleh munsyid asal Bandung, yaitu : edCoustic (#1), Fajar (#2), dan Haris Isa (#3)

- Terdapat tiga nasyid haroky : Izzis – Lembayung (#5), Maidani – Jejak (#16), dan Asy Syujaa (#18)

- Alief mewakili ANN Jateng berada di #7 ; munsyid lainnya asal Jawa Tengah ada Naufal (#10) dan The CS (#17)

- Dua munsyid asal Malaysia: Firdaus (#6) dan In Team (#11)

- International Nasheed Musicians are Sami Yusuf (#14) & Zain Bhikha (#15)

- Justice Voice mengandalkan nasyid KKTD (#13) menggantikan “Duh Manusia”; sementara, vokalis JV- Faris, naik peringkat dgn KCTB (#4)

- New Entry: Maidani asal Medan, disusul Asy Syujaa dan Zaid Al Wafiy (#20) asal Bogor

NB:
rekomendasi file nasyid baru
kirim ke
Music Director Nuris FM
wong_natura@yahoo.com atau
iswandi0402@gmail.com
09.45 | 0 komentar

Kiat Meredam Kecewati Hati

“Dijadikan indah pada (pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang di ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. Qs. Ali Imran [3]:14)


Saat jatuh cinta, berjuta rasa didada. Indahnya saat berdua melupakan segala yang ada. Hari-hari terasa indah, waktu ke waktu terasa teduh dan hidup terasa bergairah. Tetapi saat cinta tiada, terasa menyesakkan dada. Tak ada gelak canda yang menyenangkan jiwa. Tak ada senyum yang terkulum, tak ada rindu yang menggebu, Hidup terasa sepi, sebab tak ada lagi yang dinanti Ah…cinta memang penuh misteri. CINTA Manusia , Cerita Indah Namun Tiada Abadi, kecuali CINTA kepada ALLAH, itulah cinta hakiki

Sahabat, bicara cinta tak akan ada habisnya. Cinta adalah materi yang tak pernah basi, ia merupakan anugrah Allah yang dihadirkan kepada setiap manusia. Tidak ada pembicaran yang paling menarik selain pembicaraan tentang cinta. Dan tidaklah kita melakukan sesuatu kecuali karena di dorong oleh perasaan cinta. Cinta membuat hidup lebih hidup, tetapi juga sering membuat hidup semakin meredup, yang terakhir inilah buah dari cinta yang terbalas dusta.

Dalam cinta yang ada adalah keindahan, tetapi tidak sedikit akibat cinta datang kekecewaan. Kecewa karena dikhianati cintanya, kecewa karena cinta terbalas dusta. Kemudian bagaimana menyikapi ketika cinta di khianati. Buku kecil ini akan sedikit menguraikan seluk beluk cinta, dan mengajak pembaca untuk kembali menelaah siapa sesungguhnya yang lebih pantas untuk di cintainya.

Materi ini di tulis, karena dorongan cinta kepada kebanyakan saudara-saudara muslim dan muslimah yang ketika terkena panah asamara cinta, mereka terlena sehingga terjatuh kedalam Lumpur maksiat. Atas kritik dan saran-Nya kami ucapkan terimakasih.
Insya Allah tulisan selanjutnya:BILA CINTA TERBALAS DUSTA,Kiat Meredam Kecewati Hati
09.01 | 0 komentar

Kiat Mengembalikan Semangat Hidup

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 28 Juni 2009 | 09.22

Kiat Mengembalikan Semangat Hidup

1. Kuatkan keyakinan diri ( Optimisme)

Keyakinan adalah senjata yang paling ampuh untuk menghadapi kegagalan. Optimisme memungkin kita melihat warna hidup dengan lebih indah . Dengan optimisme, penderitaan kita akan lenyap dan semangat akan bertambah. Karena tidak ada faktor yang mampu mengurangi permasalahan dalam kehidupan manusia sebagai mana optimisme, rona bahagia akan terpancar di wajah orang-orang yang optimis. Bukan saja ketika menikmati kepuasan melainkan juga dalam keadaan positif maupun negarif.

Orang yang optimis adalah mereka yang selalu meyakini akan adanya perubahan pada kehidupan. Selain optimis, unsur yang dapat menciptakan keadaan yang menyenangkan adalah prasangka positif terhadap kehidupan. Bukankah Allah sesuai apa yang hamba prasangkakan. Dan prasangka yang positif (baik) adalah jaminan datangnya kebaikan.
Yusuf Luxori dalam bukunya “Percaya Diri” mengungkapkan: Percaya dan sukses adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tidak mungikin kita mengatakan seseorang sukses semetara dia tidak percaya diri. Begitu pula kita mengklaim seseorang itu gagal jika dia bisa memaksimalkan kepercayaan pada dirinya sendiri. Bahkan Yusuf Luxori memberi kiat dan cara menghadirkan percaya diri. Diantaranya adalah:

1. Tumbuhkan sifat positif dalam jiwa dan kikis habis sifat negatif karena inilah yang dapat menjerumuskan kita pada kegagalan.
2. Berjalanlah seimbang, target yang kita cita-citakan harus mengacu pada kemampuan dan keahlian yang kita milki.
3. Bergaulah dengan baik kepada setiap orang, sebab mereka akan berbuat baik dan menaruh hormat pada setiap orang yang menghormati dan menghargai mereka.
4. Jagalah penampilan agar tetap baik dan serasi, sebab hadirnay simpati karena kita mampu memperlihatkan yang terbaik
5. Pilihlah teman yang percaya kepada kita, maka dia akan mengankat derajat dan martabat kita.

2. Hilangkan penyebab kemunduran

Sayyid Abbas Al Mudarisi dalam “Kaifa Tarbahul Hayat” menulis; ada empat yang dapat merusak dan meluluhkan kehidupan kita. yaitu: rasa putus asa, kejenuhan, kemalasan dan kegelisahan.

a. Tidak ada alasan untuk berputus asa

Putus asa ibarat bom waktu yang dalam sekejap mampu membumi hanguskan seluruh kekuatan dan kemampuan. Kelemahanlah yang menjadikan rasa putus asa muncul. Betapapun demikian ini adalah sifat yang sangat wajar. Allah berfirman:
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan dan jika mereka diti,pa malapetaka ia menjadi putus asa lagi putus harapan”. (Qs. Fushilat:49)

Cara termudah menghilangkan rasa putus asa adalah keimanan dan bertawaqal. Karena semakin tinggi keimanan akan semakin besar rasa optimis yang ada. Dan tidak kata damai untuk kegagalan.
“Dan barang siapa bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluanya)”. Qs. Ath-Thalak [ 65 ]: 3)

b. Tidak ada alasan untuk jenuh

Sifat jenuh dapat mematikan kreatipitas, karena siapapun yang di kuasai rasa jenuh maka sebenarnya kebahagiaan telah hilang dari dirinya. Rasululah Bersabda: “ Jika anda jenuh, maka anda tidak akan sabar dalam kebenaran”.

Hanya ada satu cara menghilangkan sifat jenuh, yakni bertekad menghancurkan dinding kejenuhan dan keluar menuju jalan harapan. Ingatlah dampak dari kejenuhan yang lebih cenderung mempercepat kegagalan.

c. Tak ada tempat untuk bermalas-malasan

Kemalasan tidak memberikan apapun kepada seseorang kecuali satu hal, yakni kesengsaraan. Kemalasan mendatangkan dua hal: Pertama yaitu hilangnya hak. Rasulullah bersabda: Apabila anda malas, maka anda tidak mungkin menjalakan hak anda”.

Kenapa demikian, karena untuk melakukan kewajiban dan tanggung jawab sangat dibutuhkan kerja nyata dan keseriusan. Sementara kemalasan sangat bertentangan dengan hal tersebut. Kedua: kegagalan dalam memperoleh dan merealisasikan harapan-harapan. Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Orang yang hanya bermalas-malasan dan menganggur tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan”.

d. Tidak ada tempat bagi kegalauan

Memang, tidak ada seorangpun yang dapat mencegah ketika gelisah itu hadir. Ia adalah penyakit alami yang tidak mungkin seseorang dapat terlepas darinya kecuali dengan mengobatinya. Ada tiga hal yang menyebakan gelisah; persoalan masa lalu, takut akan masa depan dan penyakit kejiwaan.

Dan obat menghilangkan gelisah adalah dengan menghadirkan semangat yang kuat dan komitmen yang tinggi. Kuatkan diri agar tidak terbelenggu masa lalu, hadirkan keyakinan untuk menatap masa depan dan jernihkan pikiran agar jiwa bisa dikendalikan.

3. Jangan anggap enteng doa

Hidup bukan sebatas ada, tetapi ada yang mengadakannya. Beralihnya masa senang ke sempit, sukses ke gagal, dan bahagia ke sengsara adalah sebuah perubahan yang tidak datang dengan sendirinya, tetapi ada yang merubahnya.

Dialah Allah, yang rahmat-Nya lebih besar dari pada murka-Nya, yang menghidupkan dan memberi rizki kepada kita. Alangkah naifnya kita jika dengan segala kegagalan yang kita rasakan, dan dengan segala kesulitan yang terus datang, tidak kita adukan kepada-Nya. bukankah kehidupan Dia yang menciptakan, bukankah perbendaharaan dunia Dia yang memilki. Disinilah pentingnya kita mengadu, berharap dan berdoa. Allah berfirman:

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Qs. Al-Baqarah[2] :186).

Dan berdoalah dengan keyakinan bahwa doa kita pasti diterima di kabulkan. Di barengi dengan ketaatan yang penuh melaksanakan syariat-Nya. Rasullah bersabda:“ Berdoalah kepada Allah dan engkau yakin doamu akan diterima, ketahuilah bahwa Allah tak akan mengabulkan daoa dari hati yang lalai”. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah).

******
Selain optimis, unsur yang dapat menciptakan keadaan yang menyenangkan adalah prasangka positif terhadap kehidupan. Bukankah Allah sesuai apa yang hamba prasangkakan. Dan prasangka yang positif (baik) adalah jaminan datangnya kebaikan.
******
09.22 | 1 komentar

Hidup Adalah Kumpulan Berbagai Pilihan

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 27 Juni 2009 | 09.59

“Katakanlah; Apakah akan Kami beritahu kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi dalam perbuatannya?, (yaitu) orang-orang yang telah menyia-nyiakan perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka melakukan usaha-usaha yang baik”. Qs. Al-Kahfi:103-104

a. Hidup adalah Pelaksanaan Tanggung Jawab

Sahabat, manusia adalah makhluk yang merdeka untuk menentukan pilihannya. Kemampuan memilih sesuatu secara sadar merupakan ciri khas yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya. Hidup adalah hasil kumpulan berbagai pilihan. Suka atau tidak suka, setiap kita harus memilih sebuah keputusan.

Kita tidak bisa menghindar dari pilihan-pilihan yang setiap saat terhampar dihadapan kita. sehingga warna kehidupan yang kita alami sangat ditentukan dari cara kita memilih dan memainkan peran sesuai dengan sekenario yang kita inginkan. Dengan pemikiran seperti ini, tampaklah bahwa segala sesuatu yang menimpa diri kita merupakan konsekwensi dari pilihan yang kita perbuat.

Allah telah menciptakan dan menghidupkan kita di dunia lengkap dengan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Manusia yang berakal sehat tidak akan memilih sesuatu yang dapat menyengsarakan dirinya, baik dunia maupun akhirat.

Sebagai hamba Allah yang beriman, pilihan bagi kita adalah apa yang sesuai dengan ftrah kemanusiaan dan sesuai kebenaran apa yang Allah inginkan, bukan apa yang kita harapkan.

Termasuk didalamnya ketika kita harus memilih dua kepentingan, yaitu dunia dan akhirat. Tentu saja kita akan memilih akhirat karena yakin dengan sifat kekekalannya dan akan meningalkan dunia karena yakin dengan kesementaraannya. Kita sadar betul, apalah artinya memilih dunia kalau kemudian akan meninggalkannya.

Sahabat, bahwa hidup yang kita jalani hari ini bukanlah faktor kebetulan tetapi sebuah kesengajaan yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Hidup bukanlah sekedar mencari karier, pangkat dan jabatan, melainkan rasa tanggung jawab terhadap masa depan.

b. Hidup adalah Perjalanan Kesadaran

Hidup adalah perjalanan kesadaran untuk memanfaatkan potensi diri, menggapai kebenaran hakiki dalam menuju keidhoan Ilahi. Begitulah harusnya seorang muslim berfikir. Dengan kesadaran seperti ini, kita akan terbebas dari ketamakan terhadap dunia, kerakusan, kekikiran dan kesombongan. Akan terhias dalam pribadi kita kemuliaan, kemurahan dan kewaspadaan.

Bahkan kita akan merasakan, bahwa kebahagiaan itu ternyata terletak dalam sikap qana’ah, yakni jiwa yang ridha dan cukup puas dengan yang sedikit. Kita tidak lagi menjadi budak hawa nafsu dan pada akhirnya, pilihan yang terbaik adalah selalu bersandar pada kekuasaan Allah yang telah memeberikan kita jalan.

Sebab hidup berdasarkan keyakinan yang penuh akan kekuasaan Allah dan selalu bersandar diteras kesadaran untuk mengakui segala kebenaran yang datang dari-Nya akan menghadirkan ketenangan (muthmainnah) qalbu.

Muthmainnah digambarkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dengan kalimat yang begitu indah, beliau mengungkapkan: “Bila diri telah berpindah dari keraguan kepada keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari kealfaan kepada dzikir, dari khianat kepada taubat, dari riya’ kepada ikhlas, dari dusta kepada kepada kejujuran, dari kelemahan kepada semangat yang membaja, dari ujub kepada ketundukan dan dari kesesatan kepada ketawadhuan. ketika itulah jiwa (qalbu) kita berada dalam ketenangan (muthmainnah).

c. Hidup adalah Kesempatan dan ujian

Sahabat, pada esensinya hidup ini adalah kesempatan sekaligus merupakan ujian. Kesempatan dalam arti apappun yang kita miliki dari mulai usia, harta benda, waktu muda dan ilmu pengetahuan.

Semuanya akan kita pertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah swt. Dan ketahuilah..laporan pertanggungjawaban diri di hari perhitungan (yaumul Hisab) nanti di buktikan secara valid, yaitu anggotra badan yang kelak akan dapat berbicara sebagai kesaksian atas segala apapun yang kita perbuat.

Marilah kita renungkan dengan dalam, bahwa Allah telah memenuhi dunia ini dengan aneka ragam kebutuhan makhluk-Nya. Ia menciptakan semuanya sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Kemudian Allah mengizinkan kita sebagai hamba-Nya mengambil dari dunia sekedar kebutuhan untuk membantu kita meniti jalan menuju kepada-Nya.

Dan Allah mengingatkan agar kita jangan mengambil melebihi takaran kebutuhan kita, kerena memang dunia itu bukanlah tujuan utama, tetapi hanyalah fasilitas untuk memudahkan kita menghadap kepada-Nya.

Dikatakan oleh seorang ahli hikmah bahwa; Dunia adalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian (akhirat). Artinya dunia yang kita singgah dan tempat kita berpijak hari ini hanyalah tempat transit sementara, kemudian kita akan melanjutkan perjalanan menuju tempat akhir, yakni akhirat.

Oleh karenanya tidak ada sesuatu yang lebih baik dalam hidup yang sementara ini, kecuali kita terus berusaha melakukan kebaikan demi kehidupan yang abadi.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al-Hasyr [ ]:18)



******


Ya Allah, Engkau yang maha rahman, pilihkan kepada kami sesuatu yang membuat Engkau memilih kami sebagai hamba yang bersyukur.
Pilihkan jalan hidup kami yang membuat Engkau memilih kami sebagai hamba yang bersabar. Jadikanlah setiap langkah dari perjalanan hidup kami, langkah yang sesuai dengan langkah yang pilih. Rabb..jangan Engkau ragukan diri kami untuk memilih apa yang Engkau tetapkan. Hadirkan keteguhan dalam diri kami agar tetap istiqomah melakukan sesuatu yang menjadi pilihan-Mu.



09.59 | 0 komentar

Sesungguhnya Apa Yang Sedang Kita Cari ?

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 26 Juni 2009 | 08.40


Sesungguhnya Apa Yang Sedang Kita Cari ?

Para bijak bertutur; “Sekali kita hidup dan sekali kita gagal dalam menyikapinya, maka kegagalan beruntun akan menanti sepanjang masa. Di dunia akan sengsara, sakaratulmaut penuh derita, dialam kubur tersiksa, di alam mahsyar merana dan menjadi penghuni tetap didalam neraka ”.

Membaca kalimat bijak diatas, kita ingat dengan ungkapan Imam JA’far bin Muhammad al-Shidiq, ia berkata:

“Siapapun yang hari ini dan hari berikutnya sama, maka ia adalah orang yang tertipu!. Siapapun yang akhir dari dua hari yang dilewatinya buruk, maka ia adalah orang yang terkutuk!. Siapapun yang tak melihat adanya pertambahan dalam dirinya, maka ia adalah orang yang berkekurangan!. Dan siapapun yang dirinya berkekurangan, maka kematian lebih baik baginya dari pada kehidupan”.

Dua nasehat yang sarat makna itu mengingatkan kita pada kondisi kekinian, dimana kita hidup dan menjalani kehidupan. Kita saksikan betapa banyak saudara, sahabat ataupun mungkin kita sendiri yang hingga hari ini tidak tahu tentang arti hakekat dan tujuan hidup. Terlihat, perilaku manusia kebanyakan tidak nampak memperlihatkan kesadaran, tetapi justru memperlihatkan kemungkaran. Entahlah, sesungghuhnya mereka tidak tahu, atau tidak mau tahu?. Tetapi itulah potret buram yang sedang di pertontonkan makhluk yang bernama manusia.

Marilah kita bertanya, sesungguhnya apa sebenarnya yang sedang kita cari?. Mungkin kita sudah begitu lelah berjalan. Dan entah sudah berapa tempat yang kita datangi ?, sudah berapa daerah yang kita singgahi. Namun hingga hari ini kita masih terus berjalan, mencari-cari apa sesungguhnya yang kita cari.

Sahabat, sudahilah perburuan dunia yang memang tak pernah memberikan kepuasan. Marilah kita catat dalam hati, bahwa tujuan hidup yang sejati adalah apabila kita mencapai kemuliaan ruhani. Sebab keutamaan ruhani adalah sesuatu yang sangat berharga yang dapat diraih manusia.

Orang yang mempertahankan jiwa dalam khasanah ruhani dan memposisikan dunia hanya sebagai persinggahan dan tempat mengumpulkan bekal, mereka akan memperoleh kepuasan dalam perjalanan hari-harinya. Dan mereka tidak mau menukar kekayaan ruhani dengan keuntungan materi sebanyak apapun.

Kesadaran ruhani yang paling dalam adalah kesadaran bahwa hidup adalah kesementaraan yang harus dilakukan dengan tanggung jawab. Dalam dirinya tertanam keyakinan bahwa dunia ini akan berakhir, dan hanya orang-orang yang bertanggung jawab untuk menunaikan amanahnya yang akan memperoleh kemenangan. Sebab hidup bagi mereka adalah bukan semata menuruti selera hawa nafsu, mengejar karier, menumpuk-numpuk harta kekayaan atau mengejar pangkat dan jabatan.

Menarik apa yang di ungkapkan oleh syekh Ahmad Athaillah ketika berbicara tentang hidup. Beliau katakan; ada dua kedudukan manusia dalam mengarungi hidup ini, ialah sebagai ‘abid kepada ma’bud-nya, gelarnya adalah ‘abdullah (hamba Allah). Dan sebagai sesama hamba Allah dengan tugas menyelamatkan pemberian Allah dari kerusakan dan kemusnahan, gelarnya adalah khalifatullah.

Dalam arti lain, tugasnya menunaikan kewajiban terhadap Allah, memuja dan mengingat-nya. tetapi juga ia harus menjalankan kehidupan peribadinya dengan keluarga, dan masyarakat sekelilingnya. Jika kedua tugas ini dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan ketentuan dan peraturan Allah, maka keberadaan manusia diciptakan bukan saja mendapatkan kemuliaan tetapi juga sesuai dengan tujuan ia di ciptakan.

*****
Kesadaran ruhani yang paling dalam adalah kesadaran bahwa hidup adalah kesementaraan yang harus dilakukan dengan tanggung jawab. Dalam dirinya tertanam keyakinan bahwa dunia ini akan berakhir.
08.40 | 1 komentar

Melepas Belenggu “ Nanti “

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 25 Juni 2009 | 04.40


Melepas Belenggu “ Nanti “

Sahabat, ‘Nanti’ adalah sebuah kata yang berarti ‘penundaan’. Kalimat ini kerap kita ungkapkan dalam setiap aktivitas yang belum terselesaikan. Boleh jadi, kalimat ini tak terlalu salah kita ungkapkan setelah sebelumnya berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan. Tetapi jika berkaitan dengan sebuah kewajiban yang harus segera kita lakukan, maka kalimat '‘nanti’ ini akan berdampak kepada sikap menganggap remeh pekerjaan.

Ketahuilah; diantara kewajiban kita terhadap hari-hari yang terlewati adalah mengisinya dengan ilmu dan amal sholeh, karena hidup kita bukanlah besok atau juga kemaren, tetapi hidup kita adalah hari ini. Karena ‘kemaren’ adalah waktu yang tak akan kembali dan ‘besok’ adalah waktu yang tak pernah kita ketahui.

Penting untuk kita renungkan, sebuah tulisan seorang pengembara; ia adalah Muhammad bin Samrah. Kepada sahabatnya ia menulis surat;

“Hai saudaraku…!, jauhilah dirimu dari menunda pekerjaan. Jagalah ! jangan sampai hal itu bersarang di dalam hatimu. Menunda pekerjaan berarti bersahabat dengan kerusakan, karena itulah adalah tempatnya kemalasan.Menunda pekerjan berarti memutuskan cita-cita dan penyia-nyiaan terhadap umur.Jika kamu berbuat demikian, itu akan menjadi kebiasaanmu. Jauhilah ragamu dari kebosanan yang telah berpaling darimu,Karena itu tidak mendatangkan manfaat bagi jiwamu. Hai Saudaraku…!, kamu akan selalu gembira, bila pekerjaanmu telah kamu lakukan atau kamu akan menyesal bila kamu melalaikannya.

Sahabat, siapakah yang dapat menjamin seseorang dapat hidup hingga esok hari. Secanggih apapun ilmu yang kita dapati, tak akan mampu menahan kematian yang menghampiri. Sebanyak apapun harta yang kita miliki, tak akan mampu membeli sebuah nyawa yang sudah diakhiri dan sehebat apapun kekuasaan yang telah kita raih, tak akan bisa mempengaruhi ketentuan ilahi.Karenanya, merupakan satu keberuntungan, bila kita segera mengerjakan kebaikan dan menunaikan kewajiban. Dan merupakan suatu kelemahan atau kerugian, jika kita menundanya sehingga kesempatan berakhir.

Oleh karenanya sahabat, lepaslah belenggu ‘nanti’ dalam diri, sebab keberadaannya hanya akan mendatangkan penyesalan panjang dalam hati. Satu waktu; Umar bin Abdul Aziz dalam kelelahan karena begitu banyaknya pekerjaan, ia mengungkapkan; “Pekerjaanku satu hari saja telah membuatku menjadi letih, bagaimana kalau pekerjaan dua hari dikumpulkan menjadi satu…?.

Sahabat, kita merasakan penyesalan yang teramat dalam bila kita secara teledor menunda-nunda pekerjan yang seharusnya terselesaikan. Karena dengan membiasakannya, kita akan menghadapi beban berat karena bertambahnya pekerjaan. Terlebih ketika yang kita tunda adalah kewajiban melaksanakan taat dan menunda untuk bertaubat dari perilaku maksiat. Semakin kita biarkan hati berselimut maksiat, maka akan semakin sulit membersihkannya karena sudah terlanjur berkarat.

Karenanya, segeralah bertaubat sebelum terlambat. Jangan biarkan hati tertambat pada prilaku maksiat, karena hidup tak akan terasa nikmat bila tak ada taat, di dunia tak mendapat rahmat dan tak mendapat tempat yang layak di akhirat . Ahmad bin Athaillah menasehati: “ Penundaanmu akan semua amal (kebaikan) karena menanti adanya waktu senggang termasuk dari kebodohan-kebodohan jiwa”.

“YA Allah, jadikanlah sebaik-baik dari umurku adalah akhirnya, sebaik-baik dari pekerjaanku adalah penutupannya dan sebaik-sebaiknya hari-hariku adalah hari aku menghadap Engkau.”.

*****
“Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain; kehidupanmu sebelum datang kematianmu, kesehatanmu sebelum datang penyaitmu, kekosonganmu sebelum datang kesibukanmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu dan kekayaanmu seblum datang kemiskinanmu.
(RH. Hakim)
04.40 | 1 komentar

Kenapa Kita Gagal

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 24 Juni 2009 | 04.50


Kenapa Kita Gagal

Sahabat Yang dimuliaka Allah.
Realitas kehidupan ini tak bisa dihindari dari adanya perbedaan antara yang satu dan yang lain. Peredaran kosmos bumi ini telah memberikan porsi yang berbeda-beda dalam menikmatinya, sesuai dengan takdir Allah dan usaha masing-masing.

Seseorang tidak mampu memaksakan semua kehendak dan keinginannya dalam hidup ini. Ia selalu saja dibatasi oleh berbagai hal dan dirinya sendiri, membuat tak semua yang diinginkan bisa menjadi kenyataan. Itulah kehidupan, ada yang berhasil meraih apa yang diinginkan, dan ada yang gagal berulangkali untuk meraih apa yang dicita-citakan.

Kenapa Kegagalan itu terus mengikuti. Inilah pertanyaan yang harus kita jawab, sebab sukses dan gagalnya kita dalam mencari kehidupan selalu di awali oleh sebab-sebab tertentu. Dr. ‘Aidh Al Qarni mencatat beberapa hal yang menyebabkan kegagalan itu datang, diantaranya adalah:

1.Adanya ketidak telitian dalam mempersiapkan kebutuhan untuk mencapai tujuan
2.Kurang tepatnya kita mengatur sekala prioritas dan kurang mampunya memanfaatkan fasilitas
3.Perencanaan kerja yang terlalu kaku, sehingga tidak fleksibel
4.Tidak yakin dan tidak bersemangat dengan pekerjaan yang kita lakukan.
5.Kurangnya bekal ilmu, skill dan kompetensi
6.Pekerjaan tidak di lakukan dengan tuntas, hanya setengah-setengah
7.Tidak adanya evaluasi terhadap standar keberhasilan tercapainya suatu tujuan.

Beberapa catatan diatas adalah faktor yang menyebabkan kegagalan itu datang beruntun menghampiri kita, tetapi semuanya adalah berkaitan dengan faktor usaha. Bahkan ada hal lain yang tidak kalah pentingnya kenapa kegagalan kerap hadir, yaitu karena kita kurang sabar dalam menuju kesuksesan atau bahkan karena kita salah mengartikan sebuah nilai kesuksesan.

Dalam banyak kenyataan, kita hanya melihat seseorang sukses ketika ia dapat meraih segala kebutuhan dunia saja. Padahal dalam kontek ke-Islaman, sebuah kesuksesan tidak terbatas pada pencapaian seberapa besar dunia yang telah kita raih, tetapi seberapa kuat kita tetap mempertahankan nilai-nilai ukhrawi yang kita yakini. Artinya kesuksesan tidak hanya dilihat dari aspek duniawi tetapi juga aspek ukhrawi .

Kita saksikan ada orang yang sukses dengan dunianya, tetapi gagal menempuh hidup untuk akhiratnya. Dan sebaliknya, ada yang sukses dengan akhiratnya sehingga merasa sempurna melaksanakan kepentingan akhiratnya tetapi dunianya kurang beruntung. Padahal dua keadaan ini tidaklah menjadi lebih baik selagi yang satu lebih di prioritaskan sementara yang lain di abaikan. Tetapi yang kita harapkan adalah sukses dunia dengan mendapatkan apa yang kita harapkan, dan sukses akhirat dengan tetap memegang prinsif keimanan dalam meraih setiap keinginan.


*****
Kegagalan, ia adalah pil pahit kehidupan,
bisa jadi kegagalan inilah yang mengawali kita menapaki kesuksesan.Pahit terasa di awal, tetapi manis terasa diakhir.
*****
04.50 | 0 komentar

Kegagalan adalah pil pahit kehidupan

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 23 Juni 2009 | 07.33


Kegagalan adalah pil pahit kehidupan

Hampir semua pil (obat) yang kita minum terasa pahit. Tetapi tidak ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit selain kita harus meminumnya. Suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak terpaksa. Dan banyak hasil membuktikan, rasa pahitnya pil yang kita minum hanyalah sesaat, dibandingkan sehat yang kemudian datang jauh lebih panjang.

Begitu juga kegagalan, ia adalah pil pahit kehidupan, bisa jadi kegagalan inilah yang mengawali kita menapaki kesuksesan. Pahit terasa di awal, tetapi manis terasa diakhir.

Imam Ali bin Abi Thalib mengungkapakan: “ Mencukupkan diri dengan sesuatu yang berada di tanganmu adalah lebih aku sukai bagimu dari pada usahamu memperoleh apa yang ada ditangan orang lain.

Pahitnya kegagalan untuk memiliki sesuatu adalah lebih manis dari pada meminta-minta pada orang lain. Pekerjaan tangan yang paling sederhana sekalipun, demi mempertahankan harga diri , jauh lebih utama dari pada kekayaan yang disertai penyelewengan”.

Baiklah saudara, tidak perlu kita mengungkapkan kegundahan hati berlebihan karena seringnya ditimpa kegagalan, karena itu hanya menambah kesedihan. Tetapi marilah kita cari jalan keluar, agar persoalan ini bisa di sikapi dengan perasan yang arif. Hidup adalah apa yang kita pikirkan hari ini, jika kita larut hanya memikirkan kegagalan demi kegagalan.

Mulailah belajar dari kegagalan, seperti kata pepatah; “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”. Memang pepatah ini tidak sepenuhnya benar, tetapi alangkah baiknya jika itu kita jadikan cambuk agar tetap semangat mengubah keadaan.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Apa yang telah berlalu, berlalulah dan apa yang akan datang, dimana?. Bangkitlah dan pergunakan kesempatan diantara dua ketiadaan ini”. Sungguh kesuksesan dalam hidup hanya ada dua hal; memusatkan pikiran pada hari ini dan beramal pada hari ini. Sebagai mana kegagalan dalam hidup ada dua perkara; memikirkan tentang masa lalu atau masa yang yang akan datang dan menanguhkan pekerjaan hari ini pada masa yang akan datang.

Saudaraku, untuk meraih keberhasilan, kita harus mencabut akar-akar yang merasuk kedalam pikiran kita tentang masa lalu. Kesuksesan membutuhkan kerja dan optimisme. Menyesali masa lalu hanya membuat hari-hari kosong tanpa makna, hidup terasa hampa dan hanya mendatangkan penyesalan yang tidak berguna.

*****
Pahitnya kegagalan untuk memiliki sesuatu adalah lebih manis dari pada meminta-minta pada orang lain.
Pekerjaan tangan yang paling sederhana sekalipun, demi mempertahankan harga diri , jauh lebih utama dari pada kekayaan yang disertai penyelewengan”.
07.33 | 3 komentar

Top 20 Nasheed Nuris FM - edisi 20 Juni 2009

Written By Iswandi Banna on Senin, 22 Juni 2009 | 15.08

Ini dia 20 Nasyid Terbaik 107.7 Nuris FM "Saluran Islami Pilihan Utama"

Bisa disimak live setiap Sabtu Malam 19.30-21.30 WIB
on air di 107.7 FM (bagi Anda yang berdomisli di Ciledug, Larangan, Kreo, Petukangan, Joglo, Meruya, Bintaro, Pd. Aren, Ciputat,dan sekitarnya)

atau via streaming on
- http://nurisfm.blogspot.com/
- http://nurisfm.listen2myradio.com/

1. Kami Pejuang Keadilan - Izzatul Islam (album: Saatnya Kemenangan/2009)
2. Alloh Dekat - Naufal (single ANN Jateng)
3. Sendiri Menyepi - edCoustic (album: Sepotong Episode/2008)
4. Kau Tiada Terdua - Rakhmat Fajar (album: Kompilasi Semusim Inspirasi/2008)
5. Menangislah di Bahuku - Haris Isa (single)
6. Ketika Cinta Tak Bertasbih (KCTB) - Faris JV (single/2009)
7. Waspadalah - The CS (single ANN Jateng)
8. Ku Berlari – Firdaus feat. Cat & Akhbar(album: Dunia yang Lebih Indah)
9. Antum “Antara Kita untuk Mereka” - Dhia (single/2009)
10. Let’s Study Qur’an - Da’i Nada (album: Maly Rabbun Siwah)
11. Maharku Untukmu - Alief (single ANN Jateng)
12. Sholat Cinta - Tirta (single)
13. Dia Muhammad - Inteam (album: Allahu Rabbi- Reunited/2009)
14. Duh Manusia - Justice Voice (album: Jangan Mepet Mepet)
15. Last Breath - Hafiz Hamidun (album: Hafiz Hamidun)
16. All for You - Noor (album: All for You/2008)
17. Asma Allah - Sami Yusuf (album: Without You/2009)
18. Freedom Will Come – Zain Bhikha (single/2009)
19. Tak Seindah Sentuhan Mata - Nazrey Johani (album: Nasyid Nostalgia Memori The Zikr/2008)
20. Buah Hati – BaNa (single 2009)

masukan/sharing tentang nasyid
juga rekomendasi file nasyid baru
kirim ke
wong_natura@yahoo.com atau
iswandi0402@gmail.com
15.08 | 0 komentar

Jangan Takut Menghadapi Hidup


Jangan Takut Menghadapi Hidup

Sejarah telah membuktikan naiknya orang-orang yang sukses di panggung keberhasilan dunia hanya karena kekuatan dirinya memegang keyakinan yang melahirkan dinamika, konsistensi, dan tidak pernah menyerah menghadapi resiko.

Berbeda dengan orang yang selalu pesimis menjalani hidup, ia hanya melihat kelemahan dirinya dan tidak mau belajar dari keadaan orang lain. Sehingga ia kehilangan keberanian untuk melangkah, maka separuh hidupnya mengalami kegagalan.

Kegagalan adalah momok dalam kehidupan kita. Dan ini sering kita alami, sehingga merasa hidup kita kurang beruntung. Apapun bentuk kegagalan, besar atau kecil, jika ia telah melanda kita maka yang kita perbuat adalah keluhan-keluhan belaka.

Seorang yang sudah di hinggapi perasaan takut akan kegagalan, maka ia sangat enggan untuk melakukan pekerjaan. Dan inilah yang melahirkan sikap skeptis terhadap hidup, hingga merasakan seakan hidup tidak berarti.

Sahabat, orang yang mempunyai keberanian menghadapi resiko kebanyakan hidupnya tenang dan tidak di hantui rasa was-was, khawatir dan cemas. Mereka menyadari bahwa hidup memang selalu dihadapkan pada masalah yang di belakangnya penuh dengan resiko. Takut menghadapi kegagalan, berarti tidak berani mengambila resiko dari tindakannya.

Orang yang selalu takut dengan resiko kegagalan, maka ia juga takut untuk bertindak. Dan orang yang takut bertindak serta berbuat, maka selamanya ia tak akan menjumpai keberhasilan, sebab memang selamanya tak pernah melakukan sesuatu.
Maka lebih baik berbuat dan gagal ketimbang tidak berbuat sama sekali karena takut menanggung resiko kegagalan. Kegagalan memang merupakan konsekwensi dari tindakan yang kurang mengena pada sasaran.
******
Ya Aku Bisa !

Jika anda berpikir, anda akan di kalahkan,
anda sudah kalah.
Jika anda berpikir bahwa anda tidak berani,
ya anda tidak akan berani.
Jika anda ingin menang, tetapi anda berpikir tidak bisa menan , Bisa dipastikan anda tidak akan menang.
Jika anda berpikir bahwa anda akan gagal
Sesungguhnya Anda telah gagal

*****
07.44 | 1 komentar

Beban Berat Kegagalan

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 21 Juni 2009 | 05.46


Beban Berat Kegagalan

Saudara yang di muliakan Allah.
Ada rasa lelah, jenuh bahkan terkadang menyakitkan. Apalagi ketika sudah begitu jauh berjalan, tetapi belum juga nampak perubahan. Sementara persediaan hidup semakin berkurang, semangat hidup sudah agak lamban dan rasa putus asapun sudah mulai timbul kepermukaan.

Dalam kondisi seperti ini, ingin kita kembali dan tidak ingin melanjutkan perjalanan. Kita merasa, tidak ada manfaatnya lagi jika harus terus bergerak, sebab apa yang kita cari belum juga kita temui. Kegagalan telah menjadi teman yang terus mengikuti.

Kata-kata yang terungkap diatas adalah bahasa kekecewaan, lahir dari emosi yang tidak stabil dalam menghadapi setiap persoalan. Betapapun dalam sudut yang lain, adalah wajar hidup merasa tertekan, apalagi bila kegagalan setiap kali berulang. Ditambah lagi kita punya tanggung jawab yang tidak sedikit khususnya kepada keluarga kita, sunguh sangat memberatkan dan tambah sempurnalah kekecewaan.

Saudaraku, hidup adalah perjuangan, kita berjalan meniti hari, dalam rentang waktu yang tak pernah kita ketahui. Kapan perjalanan ini akan berakhir, hanya Allah yang tahu pasti. Tetapi yang kita tahu adalah; bahwa hidup harus terus bergerak mengisi ruang kosong kehidupan. Karena waktu terus berjalan dan itu berarti mengurangi jatah waktu kehidupan.

Oleh karenanya, jangan kita biarkan waktu hidup tercampakan dengan kesia-siaan, dan jangan lewatkan jatah hidup, kecuali harus dapat memberikan makna dalam setiap episodenya.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata: Bahwa kesempatan itu berlalu sebagaimana berlalunya awan, maka manfaatkan kesempatan-kesempatan yang baik, karena kesempatan itu sangat cepat menghilang dan sangat lamban untuk kembali lagi”. Dalam kesempatan lain , Imam Ali berkata:

“Hari ini adalah (hari untuk ) beramal dan tidak ada perhitungan. Sedang esok hanya ada perhitungan dan tidak ada amal.”.

Mungkin nasehat-nasehat seperti ini sudah sering kita dengar atau bahkan kita sudah berusaha untuk mengerti. Problemnya adalah; bukan pada ketidak mengertian kita tentang banyaknya nasehat, tetapi yang membuat kita sering tidak mengerti adalah; kenapa setiap episod hidup yang kita jalankan terus menemukan kegagalan. Padahal usaha sudah maksimal kita lakukan., berdoa sudah sering kita mohonkan.

Saudaraku, ini adalah bahasa kekecewaaan, hanya karena tidak bisa menerima keadaan. Jangan biarkan perasaaan itu membebani diri, apalagi harus mengatakan Tuhan terkesan tidak adil?. Kita berlindung kepada Allah dari bisikan setan dan lemahnya keimanan.


*****
Orang yang mempunyai keberanian menghadapi resiko
kebanyakan hidupnya tenang dan tidak di hantui rasa was-was, khawatir,’ dan cemas. Mereka menyadari bahwa hidup memang selalu dihadapkan pada masalah
yang di belakngnya penuh dengan resiko.
05.46 | 0 komentar

Mukadimah: Kegagalan

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 20 Juni 2009 | 08.31

Sahabat, kegagalan adalah momok dalam kehidupan kita. Dan ini sering kita alami, sehingga merasa hidup kita kurang beruntung. Apapun bentuk kegagalan, besar atau kecil, jika ia telah melanda kita maka yang kita perbuat adalah keluhan-keluhan belaka.

Biasanya, seorang yang sudah di hinggapi perasaan takut akan kegagalan, maka ia sangat enggan untuk melakukan pekerjaan. dan inilah yang melahirkan sikap skeptis terhadap hidup, hingga merasakan seakan hidup tidak berarti.

Ada pepatah mengatakan; “kegagalan adalah keberhasil yang tertunda”. Walaupun pepatah ini –menurut penulis- tidak sepenuhnya benar, tetapi motto ini sering dijadikan pemicu semangat orang-orang yang pernah mengalami kegagalan. Dan akhirnya setelah sekian kali gagal kemudian ia berusaha maka keberhasilan dapat diraihnya.

Kenapa Kegagalan itu terus mengikuti. Inilah pertanyaan yang harus kita jawab, sebab sukses dan gagalnya kita dalam mencari kehidupan selalu di awali oleh sebab-sebab tertentu. Lewat tulisan ini kita mencoba menelusuri setiap episode kehidupan untuk mencari penyebab kegagalan. Kemudian setelah selesai membacanya, merenunglah sejenak agar kita dapat mengambil kesimpulan tentang setiap kegagalan yang kita hadapi.Hanya kepada Allah sajalah kita berharap, agar setiap keinginan dan cita-cita yang kita harapkan dapat menjadi kenyataan. Oleh karenanya ikuti terus sajian dari kami ini. Insya Allah.
08.31 | 0 komentar

Tentang Hakekat Taubat

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 19 Juni 2009 | 09.28

Tentang Hakekat Taubat

a. Hakekat Taubat

1. Taubat adalah pintu akhir yang menyingkirkan kemaksiatan yang di buka oleh Allah bagi hamba-Nya agar mereka terhindar dari dosa yang bersifat terus menerus.
2. Taubat adalah gerbang untuk menghilangkan rasa putus asa seseorang untuk menjadi orang baik, sekaligus langkah untuk mencari kebenaran yang hakiki agar mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
3. Taubat adalah awal para penempuh jalan, modal utama untuk orang-orang sukses, kunci istiqomah bagi yang mudah terlena dan pangkal kesucian para muqarribin.
4. Taubat adalah kembalinya seorang hamba pada jalan Allah, meninggalkan jalan orang-orang yang di murkai dan yang sesat.

b. Beberapa Dalil tentang pentingnya taubat:
“Dan bertaubatlah kepada Allah semuanya, wahai orang-orang yang beriman, semoga kalian mendapat kemenangan (beruntung)” ( Qs. An-Nur:31)
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nashuha, semoga Rabb kalian menghapuskan keburukan-keburukan kalian dan memasukan kalian ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai”. (Qs. At-Tahrim:8).
“Dan barang siapa bertaubat dan beramal sholeh maka sesungguhnya ia telah bertaubat kepada Allah dengan sebenarnya” (Qs. Al-Furqan: 71)
“Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka merekalah orang-orang yang dzalim” (Qs, Al-Hujurat: 11)

c. Motivasi Dalam Taubat
1. Agar kita dapat kembali kepada Allah untuk beribadah kepadaNya
2. Untuk mentaati perintah Allah
3. Menyingkir dari kedzaliman menuju kemenangan
4. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
5. Menuju keridhaan yang hakiki

d. Mengatasi penyebab Dosa dan Maksiat
1. Mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi pengaruh syetan
“Sesungguhnya syaitan itu itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Qs. Fathir:6)

2. Menjauh diri dari sarana yang menyebabkan dosa
“Katakanlah kepada lelaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan Katakanlah kepada wanita beriman; Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya.” (Qs. An-Anur:30-31)

3. Tidak terpedaya dengan gemerlapnya dunia
“Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, salimg berbangga diri diantara kalian, dan salinmg berlomba untuk menumpuk (memperbanyak) harta dan anak..”(Qs. Al-Hadid:20)

“Dan sesunggunya Kami jadikan apa saja yang ada di muka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya Kami uji siapa diantara mereka yang paling baik amalnya”
(Qs. Al-Kahfi:7)

e. Menyadari buruknya akibat dosa

Dosa-dosa yang sering dilakukan manusia akan berakibat fatal, seperti: Melanggar perjanjian dengan Allah, merusak keimanan, merusak kebahagiaan hidup, menimbilkan penyakit rihani, mengotori kesucian dan menjatuhkan martabat kemanusiaan, mengundang kemarahan dan malapetaka dari Allah, menyebabkan tertolaknya doa, memberikan kemenangan pada hawa hafsu dan menyebabkan pelakuknya menjadi penghuni neraka.

f. Buah Kesadaran Taubat

Sahabat, taubat bukan hanya sekdar kata. Orang yang bertaubat adalah:
•Orang yang hatinya pecah, kaya air mata, hidup perasaanya gelisah karena rasa bersalah, jujur ungkapannya, kaya perasaan, hatinya mendidih dan nuraninya menyala-nyala, sepi dari sifat ujub, tidak sombong dan tidak banyak mengklaim dan Orang yang berada diantara harapan dan ketakutan, antara selamat dan celaka,
•Orang yang memiliki pelajaran pada setiap realitas, jika melihat orang berkumpul, ia ingat akan kiamat. Jika melihat orang berdosa, ia menangis karena takut atas dosa-dosanya. Jika melihat kenikmatan, ia takut surga surga akan diharamkan baginya, jika mengingat neraka ia menyangka bahwa dirinya akan jatuh kedalamnya.
•Orang yang menemukan manisnya melaksanakan ketaatan, menemukan eloknya beribadah, menemukan lezatnya iman dan merasakan indahnya kehidupan.

Keberhasilan taubat akan terlihat manakala kita sudah mulai terbebas dari “rasa bersalah” yang pernah menghantui. Sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah; Bahwa seorang hamba yang berakal, jika kembali melakukan kesalahan, maka ada beberapa hal yang selalu diingatnya:
a. Ia akan mengkaji perintah Allah dan larangan-Nya sehingga ia mengakui kekeliruannya.
b. Ia akanmerenungi janji dan ancaman Allah yang di sediakan oleh Alah, sehingga ia selalu di liputi rasa takut yang membawanya kepada taubat.
c. Ia akan memperhatikan betapa Allah telah membiarkannya dan meninggalkannya melakukan perbuatan dosa. Padahal jika Allah menghendaki, bisa saja Allah menjaganya dari semua itu.
d. Ia akan lebih mengerti akan ‘izzah (kemuliaan) Allah dalam ketentuan-Nya. Allah adalah al-Aziz yang menentukan sekendaknya. Dan bahwa dengan kesempurnan ‘izzah-Nya Dia memutuskan hukum atas hamba-Nya, Dia menentukan berbaliknya hati si hamba.

Inilah sikap yang selalu menyertai orang-orang yang bertaubat, dengan keyakinan dan harapan yang penuh bahwa Allah akan mengampuni setiap kesalahannya. Sehingga rasa bersalah yang pernah membebaninya akan hilang denga sendirinya
09.28 | 0 komentar

Jika Dihantui Rasa Bersalah

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 18 Juni 2009 | 07.43


Jika Dihantui Rasa Bersalah

Saudaraku, ada dua kesalahan yang mungkin kita lakukan, dan ketika kita menyadarinya kita teramat penyesal, sehingga selalu dihantui rasa bersalah. Pertama; terkait dengan pelanggaran atas hak Allah dan pelanggaran atas hak manusia. Dan bagaimana kita terbebas dari keduanya, sehingga rasa bersalah itu tidak membebani kita.

1.Pelanggaran atas hak Allah

Ketika rasa bersalah disebabkan karena banyak hak-hak Allah yang kita langgar. Maka cara terbaik yang harus kita lakukan adalah bertaubat kepada-Nya. Taubat memiliki tiga syarat; penyesalan, berhenti dari dosa dan azam untuk tidak mengulanginya.
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." ”.Qs. At-Tahrim [ 66 ]:8)
Ibnul Qayyim berkata: “Taubat nashuha itu meliputi tiga unsur; Pertama, ia mencakup seluruh dosa, sehingga tidak ada satu dosapun tertinggal. Kedua, kebulatan tekad untuk itu, sehingga tidak tersisa lagi keragu-raguan dan kebimbangan. Ketiga, memurnikan dari berbagai hal yang bisa merusak keihklasan taubat itu, juga agar tetap terjaga rasa takut kepada Allah dan pengharapan terhadap balasan yang Allah sediakan. Di akhir buku ini akan kita paparkan risalah taubat yang lebih sempurna

2.Pelanggaran atas hak Adam (manusia)

Jika kita melakukan kesalahan kepada manusia, misalnya; orang tua, saudara, teman atau siapa saja. Selama kita belum mendapatkan maaf dari mereka, maka rasa bersalah itu akan terus menghantui kemana kita pergi. Dan akan lebih terbebani lagi, ketika orang yang kita pernah berbuat salah kepadanya ternyata mereka sudah pergi (wafat), padahal kita belum sempat meminta maaf.

Saudaraku, Rasulullah Muhammad saw menganjurkan; jika kita berbuat salah atau pernah menzhalimi seseorang, maka segeralah kita mendatanginya dan meminta maaf untuk mendapatkan keridhoan orang yang pernah kita zhalimi. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa pernah menzhalimi saudaranya dalam hal harta dan kehormatan henaklah meminta keridhoannya, sebelum dinar dan dirham tiak lagi bermanfaat selain kebaikan dan keburukan”. ( HR. Bukhari)

Lantas bagaimana jika orang yang kita pernah berbuat salah kepadanya ternyata dia sudah tidak ada. Padahal kita pernah menuduh orang itu berbuat zina, kita pernah mengambil atau meminjam hartanya dan belum sempat kita memberitahu, meminta maaf atau belum membayar hutang kita kepadanya, apa yang harus kita lakukan?.

Ibnu Taimiyyah berpendapat, cukuplah kita bertaubat kepada Allah dan mengungkapkan kebaikan orang yang pernah kita zhalimi ketika ia sudah tidak ada. Dan hendaklah ia bertaubat kepada Allah, meminta ampunan kepada-Nya bagi mereka. Karena menurut beliau; bahwa memberi tahukannya tidak mengandung unsur kebaikan sama sekali
Kemudian bagaimana tentang harta yang pernah kita ambil atau kita berhutang tetapi belum sempat kita bayar. Para ulama mengatakan, hendaknya kita bertaubat dengan terlebih dahulu mengembalikan harta itu kepada pemilikinya. Jika tidak mungkin karena suatu sebab, misalnya pemiliknya tidak di ketahui atau meninggal, ataupun karena hal lain. Maka kita harus bersedakah atas nama para pemilik harta sejumlah harta yang kita ambil. Wallahu a’lam

Demikian saudaraku, semoga dua kiat ini mampu menghilangkan rasa bersalah yang terus menghantui kita. semoga Allah memudahkan kita untuk selalu berintropeksi. Amin
******
Kesalahan yang menyangkut hak Allah
tidak bisa di maafkan selain dengan permintaan maaf
dari yang melakukan kesalahan itu sendiri.
Walaupun seluruh penghuni bumi memohon maaf baginya, sementara ia sendiri tetap betah dalam penyimpangan “.
*****
07.43 | 0 komentar

Belajar Dari Kesalahan

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 17 Juni 2009 | 09.38


Belajar Dari Kesalahan

Bagi orang yang memiliki jiwa sehat (bersih), sekecil apapun kesalahan akan membuatnya tidak merasa tenang. Ia merasa tidak nyaman dan terus dihantui rasa bersalah, terlebih ketika seseorang yang disalahinya tidak juga mau memaafkan. Ia merasakan betapa tidak enaknya dibenci seseorang dan betapa tidak nyamannya di kejar rasa bersalah. Bahkan meminta maaf kepada orang yang kita telah bersalah kepadanya terkadang bukanlah pekerjaan mudah.

Berapa banyak orang yang tidak mengakui kesalahannya, ia lebih siap untuk menanggung beban pikiran seumur hidupnya dari pada meminta maaf. Akan tetapi, sekalipun telah dimintai maafnya, terkadang persoalannya belum selesai sampai disitu. Karena itu, sebaiknya jangan melakukan kesalahan agar jiwa tetap dalam ketenangan yang abadi.

Perbuatan dosa atau kesalahan yang dilakukan seseorang akan tetap meninggalkan kesan tidak baik didalam jiwanya, selama perbuatan itu tidak mendapat penyelesaian dengan pengampunan atau pemaafan. Karena itu, untuk memudahkan jiwa agar tidak menderita, janganlah lakukan kesalahan. Sebab tidak melakukan itu lebih baik dari pada meminta maaf. Dan dengan tidak melakukan kesalahan, jiwa menjadi tenang.

Belajar dari kesalahan itulah, kemudian ia mencoba untuk intropeksi kedalam dirinya dan menemukan satu titik kesadaran tentang pentingnya arti sebuah kebenaran. Betapa memang hidup terasa indah tanpa kesalahan. Dan lihatlah betapa kesalahan membuat hidup terasa sempit, dunia seakan terjepit dan membuat kebebasan kita semakin terhimpit.

09.38 | 0 komentar

Mewaspadai Pangkal Kesalahan

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 16 Juni 2009 | 08.35


Mewaspadai Pangkal Kesalahan

“Ceritakanlah kepada mereka kisah tentang kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang diantara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, Aku pasti akan membunuhmu!’, Berkatalah Habil; “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Qs. Al-Maidah, [5] 27)

Ketahuilah sahabat, Di dalam diri kita, terdapat pos-pos kelemahan yang dapat mengundang kesalahan dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan. Karenanya, seseorang harus mewaspadai pos-pos yang ada dalam dirinya. Disamping harus terus memonitor pengaruhnya dalam hati. Dari sanalah lahir tiap dosa dan bangkitnya tiap kesalahan. Pos-pos itu ada tiga; kesombongan, ketamakan dan kedengkian.

· Kesombongan, ia adalah sikap tinggi, orang yang sombong selalu melihat dirinya dengan kacamata kebesaran dan serba berlebih di atas orang lain. Sehingga seorang meremehkan dan merendahkan orang lain. Bahkan kesombongan adalah dosa pertama yang dipergunakan untuk menentang Allah. Sang penentang utama adalah Iblis – la’natullah ‘alaih - : “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Bersujudlah kepada Adam!’, maka mereka bersujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur, dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir” ( Qs. Al-Baqarah,2:34)

· Ketamakan, ia merupakan salah satu sebab dosa manusia. Karena ketamakan itulah iblis telah menyeret Adam dan Hawa pada kesesatan. : “Kemudian setan membisikan pikiran jahat kepadanya, seraya berkata:“Wahai Adam, maukah kutunjukan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa (Qs Thaha,20 :120)

· Kedengkian, ia adalah salah satu faktor yang menyebabkan kemaksiatan anak Adam pertama. Allah berfirman: “Ceritakanlah kepada mereka kisah tentang kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang diantara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti akan membunuhmu!’, Berkatalah Habil; “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Qs. Al-Maidah, 5;27)

Itulah ketiga faktor yang memotivasi seseorang melakukan kejahatan dan merupakan pangkal kesalahan. Maka orang yang berakal dan berambisi pada keselamatan, pasti akan menghancurkan ketiga pangkal itu dalam hatinya. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat bertahan dari keinginan hawa nafsu.

Ya Allah, pemberi segala kemuliaan. Hadirkanlah dalam hati kami sifat menerima segala apapun yang Engkau berikan. Tetapkanlah jiwa kami untuk selalu bersyukur atas apa yang Engkau karuniakan. Janganlah Engkau biarkan hati kami selalu condong kepada keduniaan. Wahai Rabb, tak ada yang mampu merubah segala apapun yang Engkau putuskan. Tetapkan ke-istiqomahan dalam hati kami agar selalu berada dijalan kebenaran.

*****

“ Tidak ada musibah yang paling dahsyat yang dirasakan manusia, selain ketika hatinya sudah tidak lagi berpihak pada kebenaran. Sebab hal itu bukan hanya menyengsarakan hidup di dunia tetapi kelak di akhirat akan tersiksa “

08.35 | 0 komentar

Faktor Pendorong Kesalahan

Written By Rudi Abu azka on Senin, 15 Juni 2009 | 05.16

Faktor Pendorong Kesalahan

Manusia mana yang tidak pernah bersalah, bahkan Rasulullah tauladan umat yang hadirnya membawa rahmat tidak luput dari kekhilafan. Artinya; kesalahan adalah sifat menusia yang melekat pada diri kita.

Bahkan jika kita memahami tentang tabiat jiwa manusia, akan kita dapati dua keadaan yang selalu menyertainya, yakni jiwa yang cenderung membawa kebaikan dan jiwa yang mendorong untuk perbuat kesalahan atau kejahatan. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah menyatakan: “ Allah telah menggabungkan dua jiwa; yakni jiwa yang tenang dan jiwa yang jahat dan mereka saling bermusuhan satu sama lain”.

Gambaran diatas adalah satu alasan betapa memang kesalahan adalah sesuatu yang tidak bisa tidak mesti ada pada diri kita. Ada daya dorong yang membuat manusia melakukan kebenaran, yakni menguatnya keimanan. Dan juga ada daya dorong yang membuat manusia melakukan kesalahan yaitu karena lemahnya iman.

Melemahnya keimanan adalah ring paling empuk bagi setan untuk mempengaruhi jiwa kita sehingga cenderung melakukan kesalahan. Akibatnya hawa nafsu sulit di kendalikan dan terus mendorong pemiliknya melakukan kehendak nafsunya. Hanya dengan taufiq dan Rahmat Allah sajalah seseorang bisa terselamatkan dari tipu daya nafsu. Sebagaimana Allah beritakan tentang istri al-Aziiz:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmat olah Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang”. ( Qs. Yusuf [ 12 ]:53)
05.16 | 2 komentar

Faktor Pendorong Kesalahan


Faktor Pendorong Kesalahan

Manusia mana yang tidak pernah bersalah, bahkan Rasulullah tauladan umat yang hadirnya membawa rahmat tidak luput dari kekhilafan. Artinya; kesalahan adalah sifat menusia yang melekat pada diri kita.

Bahkan jika kita memahami tentang tabiat jiwa manusia, akan kita dapati dua keadaan yang selalu menyertainya, yakni jiwa yang cenderung membawa kebaikan dan jiwa yang mendorong untuk perbuat kesalahan atau kejahatan. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah menyatakan: “ Allah telah menggabungkan dua jiwa; yakni jiwa yang tenang dan jiwa yang jahat dan mereka saling bermusuhan satu sama lain”.

Gambaran diatas adalah satu alasan betapa memang kesalahan adalah sesuatu yang tidak bisa tidak mesti ada pada diri kita. Ada daya dorong yang membuat manusia melakukan kebenaran, yakni menguatnya keimanan. Dan juga ada daya dorong yang membuat manusia melakukan kesalahan yaitu karena lemahnya iman.

Melemahnya keimanan adalah ring paling empuk bagi setan untuk mempengaruhi jiwa kita sehingga cenderung melakukan kesalahan. Akibatnya hawa nafsu sulit di kendalikan dan terus mendorong pemiliknya melakukan kehendak nafsunya. Hanya dengan taufiq dan Rahmat Allah sajalah seseorang bisa terselamatkan dari tipu daya nafsu. Sebagaimana Allah beritakan tentang istri al-Aziiz:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmat olah Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang”. ( Qs. Yusuf [ 12 ]:53)

Dalam surah lain Allah menegaskan :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, barang siapa mengikuti langkah-langkah setan. Maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan Rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha mengetahui”. (Qs. An Nur [24]:21)

Lihatlah, kekejian dan kemungkaran adalah satu bentuk kesalahan. Dan keduanya tidak bergerak sendiri kecuali ada faktor dari luar yang mempengaruhinya. Dan beberapa faktor dari luar yang sangat kuat mempengaruhi jiwa.

Seperti yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaaq al-Abbaad dalam “Sebab-Sebab Naik turunnya Iman”, ia menyebutkan beberapa hal yang sangat kuat mempengaruhi jiwa manusia, yaitu: Kebodoahan, Bujuk rayu setan, cinta dunia berlebihan dan pergaulan yang buruk.

Kesimpulannya, kesalahan selain merupakan kelemahan tabiat manusia, ia juga tergerak karena ada dorongan dari luar untuk melakukannnya. Karenanya, tidak ada sesuatu yang lebih baik kecuali kita membentengi diri dengan keimanan yang kuat, ilmu yang benar dan amal yang ikhlas.

Iman yang kuat akan membentengi kita dari pengaruh setan dan hawa nafsu. Ilmu yang benar akan membentengi jiwa dari perbuatan salah dan amal yang ikhlas akan menghadirkan ketenangan jiwa.

******
Hidup adalah perjalanan kesadaran untuk memanfaatkan potensi diri. Menggapai kebenaran hakiki dalam menuju keridhoan Ilahi. Begitulah seharusnya seorang muslim berfikir”.
*****
05.16 | 0 komentar

Merasa Bersalah tidak salah

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 14 Juni 2009 | 15.18


Merasa Bersalah tidak salah

Alangkah beruntungnya seseorang jika hidupnya selalu diselimuti oleh kebenaran, karena hidup tanpa kesalahan akan membuat terasa lapang perasaan, tetapi hidup yang selalu bergelut dengan kesalahan, maka tarasa sempit kehidupan. Sekecil apapun kesalahan bagi orang-orang yang beriman adalah penyiksaan yang teramat berat dirasakan. Terlebih kesalahan kepada Allah Swt.
Saudaraku, kesalahan betapapun itu wajar terjadi, tertapi jika terbiasa ia akan memusnahkan akar-akar kebaikan yang telah kita tanam sebelumnya. Ia bukan saja akan merugikan kita tetapi akan membawa kebinasaan yang bukan saja kita yang melakukan, tetapi juga orang lain akan terkena imbas dari kesalahan yang kita lakukan.

Kita akan melakukan kesalahan yang tak berampun bilamana kita secara teledor mengabaikan refeleksi sesungguhnya dari diri kita pada cermin tindakan-tindakan kita.

Adalah kewajiban kita untuk menemukan ciri-ciri kita supaya dapat mengenali perangai-perangai yang tak di kehendaki, yang dengan tidak disukai telah tumbuh dalam diri kita. Bukan hanya itu, kita juga harus berusaha keras untuk meluruskan kembali sifat-sifat yang menghancurkan itu.

Rasa bersalah tidaklah salah, tetapi akan menjadi masalah jika membiarkan rasa itu tetap bertahan dalam perasaan kita. Sebab bukan saja akan menyita waktu yang tidak sedikit dari kehidupan kita, tetapi akan mengendurkan semangat hidup yang sedang kita jalani.

Saudara yang budiman
Sesungguhnya apa yang menyebabkan rasa bersalah itu muncul, bahkan terkadang terus menghantui perasaan kita. Biasanya hal itu disebabkan karena perasaan takut yang berlebihan, takut jika kesalahan yang pernah kita lakukan kepada seseorang kelak akan berbalik kepada kita. Perasaan ini terus menekan dan menggrogoti ketenangan kita.

Penyebab timbulnya rasa takut yang lain adalah karena seringnya kita mencemaskan masalah. Terkadang pesoalan yang kecil cenderung kita pikirkan segi negatifnya, setiap detik, setiap waktu, sehingga lambat laun perasaan itu mengkristal dan pada akhirnya menjadi menjadi ketakutan yang besar.
Sesungguhnya, jika rasa bersalah itu hadir karena dorongan kesadaran untuk menuju pada perubahan bukanlah masalah. Karena itu akan memacu diri untuk memperbaiki diri. Bahkan mungkin itu menandakan sehatnya qalbu karena lahir dari kesadaran iman.

Penyesalan yang hadir dari rasa bersalah karena pernah melakukan dosa dan kesalahan adalah awal menuju taubat yang sesungguhnya, karena taubat selalu di awali dari penyesalan. Taubat tidak akan pernah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa. Sebab orang yang tidak menyesal atas keburukan (kesalahan) yang pernah dilakukan, itu menandakan kebekuan qalbunya.

Rasulullah mengajarkan agar kita dapat menghapus kesalahan, kita harus merubah sikap dan akhlak kita sebagaimana sabdanya:“Akhlak yang baik dapat menghapus kesalahan, bagaikan air yang menghancurkan tanah yang keras. Dan akhlak yang jahat merusak amal, seperti cuka merusak manisnya madu” (Hr. Baihaiqi)

******
“ Penyesalan yang hadir dari rasa bersalah karena pernah melakukan dosa dan kesalahan adalah awal menuju taubat yang sesungguhnya, karena taubat selalu di awali dari penyesalan. Taubat tidak akan pernah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa “.
15.18 | 0 komentar

Manusia Tempatnya Kesalahan

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 13 Juni 2009 | 09.55


Manusia Tempatnya Kesalahan

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, barang siapa mengikuti langkah-langkah setan. Maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan Rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha mengetahui”.(Qs. An Nur [24]:21)


Sahabat, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, kecil maupun besar. Bahkan kesalahan itu adalah ciri khas kemanusiaan. Orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah bersalah, tetapi orang yang baik adalah orang yang segera menyadari kesalahannya dan merubah dengan kebaikan.

Rasa bersalah tidaklah salah, tetapi akan menjadi masalah jika membiarkan rasa itu tetap bertahan dalam perasaan kita. Sebab bukan saja akan menyita waktu yang tidak sedikit dari kehidupan kita, tetapi akan mengendurkan semangat hidup yang sedang kita jalani.

Adalah kewajiban kita untuk menemukan ciri-ciri kita supaya dapat mengenali perangai-perangai yang tak di kehendaki, yang dengan tidak disukai telah tumbuh dalam diri kita. Bukan hanya itu, kita juga harus berusaha keras untuk meluruskan kembali sifat-sifat yang menghancurkan itu.

Seperti materi dalam Blog ini, ia tidak luput dari kesalahan, baik kesalahan kata ataupun kesalahan bahasa. Dan jika pembaca menemukan kesalahan dalam tulisan ini, itu berarti penulis harus lebih cermat meneliti dimana letak kesalahannya. Sehingga kita bisa memberbaiki bersama-sama. Semoga Allah selalu membimbing kita agar selalu berbuat kebenaran dan mengampuni setiap kesalahan.

Saudaraku yang di muliakan Allah
Dalam menjalani hidup, tidak selamanya kita berada di rel kebenaran. Ada masa tertentu dimana kesalahan tidak bisa kita elakkan, betapapun kita sudah berusaha untuk tidak melakukan. Ada kesalahan yang terkadang sengaja kita lakukan dan ada kesalahan yang tidak sengaja.

Untuk kesalahan yang tidak di sengaja biasanya tidak terlalu membuat kita gelisah, karena mungkin itu disebabkan akibat ketidak tahuan kita tentang beberapa hal atau karena kita terlupa. Dan kesalahan ini cenderung cepat dimaafkan, baik ketika kita lakukan terhadap manusia atau juga kesalahan kepada Allah swt. Tetapi memang sedikit sekali manusia yang cepat memaafkan jika kita melakukan kesalahan karena kealfaan, kecuali orang-orang yang arif yang menyadari bahwa manusia tidak memiliki kesempurnaan.

Berbeda dengan Allah yang maha pengampun dan sangat tahu tentang kita, jangankan kesalahan karena disebabkan karena lupa, kesalahan kerena disengajapun jika kita mau bertaubat kepada-Nya Ia pasti akan memaafkan.

Kesalahan, sesungguhnya adalah kewajaran dan itu menandakan kelemahan kita sebagai manusia. Tetapi memang tidak enak jika banyak berbuat salah, selalu ada perasaan gelisah. Terlebih bersalah kepada seseorang yang sangat dekat dengan diri kita. Dan yang lebih meresahkan lagi adalah ketika orang yang kita berbuat salah kepadanya ia sudah tidak ada, pergi tanpa kita ketahui atau meninggal, sementara kita belum sempat meminta maaf kepadanya. Selama belum kita temui, rasa bersalah itu terus datang dan tidak mau pergi.

Ketahuilah sahabat, orang yang baik itu bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, tetapi orang baik itu adalah orang yang jika berbuat salah maka ia segera mengakui kesalahan dan menggantinya dengan kebaikan. Manusia memang tempatnya kesalahan, maka sangat wajar jika sesekali itu dilakukan, tetapi memang sangat kurang ajar jika dilakukan berkali-kali tanpa mau merubah keadaan menjadi lebih baik.

“Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu janganlah kamu mengatakan, “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini-begini.
‘Katakanlah, “Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki maka itu terjadi. “Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan”.
(HR. Muslim)
*****
09.55 | 5 komentar

Hidup Bukan hanya Sebatas Ada

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 12 Juni 2009 | 19.08


Hidup Bukan hanya Sebatas Ada

Marilah kita renungkan dengan hati yang jernih, bahwa kita ‘ada’ bukanlah sekedar ada. Keberadaan diri kita karena ada yang mengadakannya. Oleh kerenanya, ‘keberadaan’ kita harus menghadirkan kesadaran bahwa ada sumber kekuatan yang mampu ‘mengadakan’ kita dan Dia tidak mengada-ada dalam menciptakan keberadaan makhluk-Nya.

Dialah Allah sang pemberi nikmat, yang rahmat-Nya lebih luas dari pada murka-Nya. jika hati merasa dekat kepada Allah yang maha kuat dan maha segalanya, akan menghadirkan ketenangan, membuat jiwa selalu merasakan adanya perlindungan dan tempat bergantung.

Insya Allah, bila kita serahkan hidup ini dengan berbagai persoalannya kepada Allah dengan keyakinan yang mutlak hanya kepada-Nya, akan membuat hati menjadi tegar dalam menghadapi problema dan tantangan kehidupan.

Sadari…kita adalah hamba yang memiliki keterbatasan. Dialah yang berkehendak atas diri kita, dan kita tidak akan pernah bisa merubah kehendak-Nya. Sesungguhnya, sebagian besar dari penyebab kekhawatiran, kegelisahan dan kelemahan jiwa adalah ketidak mampuan kita untuk menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan. Karenanya mengimani Allah dengan segala atribut yang dimilikinya adalah keharusan bagi setiap muslim.

Sangat sulit dipahami, bagaimana hati menjadi tenang, jiwa menjadi bahagia, jika keyakinan kepada Allah tidak mendapat prioritas utama dalam diri kita. Padahal kita yakin, semua maha adalah milik-Nya. Hakekat segala pujian hanyalah milik-Nya, tiada pujian yang pantas diberikan membandingi pujian kepada-Nya.

Inilah prilaku orang-orang yang mengimani keberadaan-Nya, yang yakin akan segala kekuasaan-Nya. Tidak ada alasan bagi seorang muslim sedikitpun untuk merasa khawatir ketika Allah sudah berjanji untuk penolongnya. Tidak ada keharusan bagi setiap muslim untuk merasa takut, padahal Allah sudah berjanji untuk selalu melindunginya. Sungguh..Allah maha pemberi karunia kepada seorang hamba yang selalu bertawaqal untuk menggapai rahmat-Nya.

“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki yang diberikan kepada burung; pagi hari perutnya kosong dan sore hari penuh makanan”. (Hr. Ahmad, an-Nasa’I, at-Tarmidzi dan al-Hakim)
19.08 | 1 komentar

Kiat Meredam Derita Hati

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 10 Juni 2009 | 08.49


Kiat Meredam Derita Hati

Renungkanlah para bijak bertutur; Bahwa kebahagiaan didunia laksana mimpi dalam tidur atau bagaikan bayangan yang pasti akan hilang. Jika kehidupan ini membuat kita tertawa sejenak, maka suatu saat kehidupan akan membuat kita menangis. Kenikmatan sekejap akan datang kedukaan yang panjang.

Mungkin kita pernah merasa terpukul ketika anak, istri, suami dan orang yang sangat kita cintai dipanggil Allah. Atau mungkin kebaikan diri tak berpihak kepada kita. Mereka adalah amanah yang Allah titipkan dan pinjamkan kepada kita. Bukankan ketika kita meminjam sesuatu dari sesorang, kita tidak boleh merasa berat untuk mengembalikannya, karena memang pemiliknya sangat berhak mengambil barang yang kita pinjam. Begitupun mereka orang-orang yang kita cintai - adalah milik Allah, tiada kuasa bagi kita menahan apa yang sudah menjadi kehendak-Nya.

Beberapa kiat yang harus kita lakukan agar tetar berada dalam cobaan, dan tetap istiqomah dalam keimanan,

a. Dalam keadaan yang menyulitkan, kita dituntut untuk tidak diselimuti kepanikan. Yakinkan diri bahwa Allah tidak akan meninggalkannya selama kita menuju kepada-Nya. dan yakinlah bahwa karunia Allah melebihi segalanya.
b. Campakkan kelemahan, teguhkan tegad untuk membasmi keraguan. Bersabar atas setiap keadaan, kita pasti akan menemukan jalan. Sabar karena Allah adalah ruh keimanan dan pangkal ganjaran yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang tulus menerima cobaan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Allah berfirman:

“Jika Aku menguji hamba-Ku yang mukmin dan ia tidak mengeluhkan penderitaanya kepada-Ku. Aku akan membebaskannya dari tawanan-tawanan-Ku, kemudian Aku akan menggantikan dagingnya dengan daging yang lebih baik dari dagingnya, darah yang yang lebih baik dari darahnya, kemudian ia memulai lagi dengan amalnya”.

Muhammad Al-Ghozali mengomentari hadits ini; “Maksud dari hadits ini adalah kesehatan yang kembali kepada orang yang sakit kemudian memperbaharui keadaannya. Kesabaran atas apa yang menimpa ketika sakit akan menghapus segala kejelekan masa lalunya, dan terbuka baginya lembaran baru yang bersih dari noda.

c. Syukuri kenikmatan yang sudah diberikan, jangan hanya berkeluh kesah tentang penderitaan yang baru datang. Sebab jika kita bandingkan kenikmatan yang sudah diberikan jauh melebihi penderitaan yang baru datang. Sebab kurangnya bersyukur merupakan cacat yang harus dibersihkan. Karena bisa saja, cobaan datang kepada kita karena kurangnya kita bersyukur.

Pertanyaannya adalah, mengapa kita hanya melihat kesusahan, mengapa kita hanya melihat beberapa problem, serta memikirkan kesulitan yang ada?. Tidakkah lebih baik kita menghitung kenikmatan yang diberikan Allah?.

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-KU sangat pedih.” (Qs. Ibrahim [14]:7)

d. Jernihkan pikiran dengan selalu berbaik sangka, sebab kita tidak akan bahagia dan terus merasa menderita jika kepala kita di dipenuhi dengan pikiran kesedihan. Ketahuilah, hidup kita merupakan hasil dari cara berpikir kita. Pikiran yang selalu berprasangka baik akan memberikanpengaruh yang sangat besar dalam merubah keadaan kita. Segala upaya kita untuk mengurangi rasa cemas, tidak akan terwujud jika kita selalu berburuk sangka.

e. Tawakkal, dalam arti berserah diri dengan sepenuhnya kepada Allah, maka segala tekanan penderitaan dapat kita redam.

“Katakanlah: “sekali-kali tiak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allaha orang-orang yang beriman harus bertawakkal”.(Qs. At-Taubah [ 9 ]:51).


f. Kuatkan kesabaran, yakinlah dalam kesulitan ada kemudahan. Sungguh rahmat Allah yang diberika kepada sangatlah besar. Oleh karenanya setiap Allah menurunkan bencana, maka selalu diserta keleluasaan. Rasulullah bersabda:

“Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama dengan kesabaran, keleluasaan itu bersama adanya kegelisahan dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”. (HR. At-Tirmidzi)

Sejalan dengan hadits itu, Allah juga berfirman dengan mengulang dua kalimat:

“Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudaha. Sesungguhnya ketelah kesulitan itu ada kemudahan.”. (Qs. Al-Insyirah [94 ]:5-6)

g. Lihatlah orang-orang yang dibawah kita. sebab hadirnya penderitaan banyak disebabkan karena kita hanya menilai diri yang selalu merasa kekurangan, tanpa pernah melihat orang disekitar kita. Rasulullah berpesan:

“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat orang yang diatas kalian. Karena sesunguhnya itu lebih pantas, agar kalian tidak memandang rendah atas nikmat Allah yang diberikan kepada kalian”. (Hr. Bukhari)

h. Hadirkan kepercayaan diri yang kuat, tanamkan keyakinan yang dalam bahwa hidup akan berubah jika kita berusaha merubahnya. Renungkan firman Allah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubahnya”.

Marilah kita renungkan satu hal, jika Allah tidak memberi kita ketidak sempurnaan fisik maka pasti Dia melebihkan kita dalam hal yang lain. Jika kita merasa kemiskinan, kekurangan hidup, sulitnya mencari nafkah adalah musibah. Maka sesungguhnya kekayaan, kemewahan bahkan kepopuleran adalah musibah bagi orang-orang yang tidak mampu menjaganya.

*****

Campakkan kelemahan,
teguhkan tegad untuk membasmi keraguan.
Bersabar atas setiap keadaan,
kita pasti akan menemukan jalan.
Sabar karena Allah adalah ruh keimanan
dan pangkal ganjaran yang akan Allah berikan
kepada orang-orang
yang tulus menerima cobaan.

*****
08.49 | 0 komentar

Allah Adalah Sumber Kekuatan

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 09 Juni 2009 | 09.56


Allah Adalah Sumber Kekuatan


“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, maka terjadilah”. Dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan diwaktu sangkakala di tiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui”.Qs.Al-An’am: [6]:73

Sahabat, kita tercipta dengan diberikan berbagai kelebihan dan kesempurnaan. Tetapi sebagai hamba Allah, kita juga memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan. Disamping potensi untuk berbuat kebaikan, pada diri kita juga terdapat potensi yang menjerumuskan kelembah kehinaan.

Disatu sisi kita memiliki fitrah berketuhanan, itulah yang menyebabkan kita rindu untuk mendekatkan (taqarrub) diri kita kepada Allah, tetapi pada sisi yang lain, kita juga memilki hawa nafsu yang cenderung suka mengejar kenikmatan sesaat yang sifatnya rendah yang jika kita turuti akan menjauhkan kita dari Allah.

Hanya Allah tempat segala kesempurnaan dan kebaikan. Sebab memang Dialah segala apapun bermula dan berakhir. Dialah yang maha terpuji yang tidak ada satupun membandingi keterpujian-Nya. Dialah sumber kekuatan yang segala kekuatan apapun bersumber dari kekuatan-Nya. Laa Haulaa wala Quwwata Illa billahil ‘aliyyil ‘adziim”.

Ketahuilah, Saat dimana kita hidup hari ini, adalah kehidupan yang sarat dengan kekhawatiran, kebimbangan dan ketakutan. Jangankan orang-orang yang memang setiap saat selalu dihantam badai kemiskinan dan kenestapaan, orang-orang yang sedang bergelimang kemewahanpun selalu dihantui rasa kekhawatiran dan kecemasan, keduanya merasakan hal sama.

Orang miskin khawatir dan takut menatap masa depan yang menurutnya begitu memberatkan, sementara orang kaya khawatir dan takut bahkan bingung kemana harta mereka akan diselamatkan. Apa yang dapat kita katakan untuk mereka yang hidupnya tak pernah puas dengan keadaan.


******
“ Sesungguhnya, sebagian besar penyebab kegelisahan, kekhawatiran dan kelemahan jiwa adalah karena ketidak mampuan kita menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan. Karenanya, mengimani Allah dengan segala atribut yang di milikinya adalah keharusan bagi setiap muslim”

******
09.56 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung