Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Jadwal Kajian KRPH di Nurisfm

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 29 Februari 2012 | 17.27


Jadwal kajian Rutin Pagi hari periode Maret - April 2012
17.27 | 3 komentar

JILBABKU PERISAIKU


Jilbabku memang perisaiku! Yang membuat aku semakin jauh dari kenyamanan dan jodoh. Yang membuat aku semakin dekat dengan cibiran banyak orang.

Aku sudah lama gerah dengan jilbabku ini. Aku adalah perempuan yang hampa. Usiaku sudah berkepala tiga. Penampilan terlalu biasa. Ditambah lagi jilbab besar yang sekarang bukan hanya merepotkan badan tapi jiwa. Badanku gerah. Kota Batam yang panas membuat aku gerah dengan jilbab ini karena harus naik turun angkot dan ojek kemana-mana. Jiwaku penat. Jilbabku menjadi alasan banyak lelaki untuk pergi jauh perlahan. Berpuluh perkenalan menjadi berpuluh luka hati.

20 tahun yang lalu. aku adalah seorang wanita biasa dengan wajah yang biasa tentunya tidak memakai jilbab. Waktu itu aku adalah salah satu mahasiswi disalah satu universitas yang cukup ternama dibatam, aktivitasku sehari-hari hanya sebagai mahasiswi, aku bukan orang pintar atau orang yang cantik aku adalah wanita biasa namun berasal dari keluarga yang kaya raya. Dari kekayaan itu semua orang menyukaiku bahkan para lelaki takluk dibawah kakiku. Aku seperti cleo patra diperebutkan banyak lelaki. Meskipun wajahku tak secantik dia.

Singkat cerita niatku memakai jilbab berawal saat aku mamasuki perguruan tinggi awalnya mungkin niatku kurang baik bahkan mungkin sangat memalukan aku ingin memakai jilbab karena aku menyukai salah satu ikhwan anggota LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dikampusku nama ikhwan itu Amir Ar-Ra’id , dulu aku tidak tau apa itu ikhwan aku kira hanya sebutan bagi anak LDK termyata dugaanku salah ikhwan itu bukan hanya sekedar sebutan tetapi sebuah predikat atau panggilan bagi laki-laki yang benar-banar taat dan faham agama, awalnya aku heran setiap aku ingin bersalaman dengan dia pasti tangannya langsung ditarik, saat aku sms dengan kata mesra dia tidak pernah membalas smsku. aku mulai penasaran dan tertantang untuk mendapatkannya maklum dengan kekayaanku dan ketenaranku aku merasa malu jika aku tidak bisa mendapatkannya.

Aku mulai menyelidiki siapa dia sebenarnya dan akhirnya aku tau kalau aku bukanlah tipe wanita yang dia inginkan, wanita yang dia inginkan adalah wanita berjilbab atau yang biasa disebut akhwat aku mulai mengatur siasat bagaiman dia bisa tertarik padaku dan akupun menemukan jawabannya, ya akhirnya aku bergabung dengan LDK dikampusku tujuanku awalnya memang bukan tujuan mulia aku masuk LDK untuk mencari perhatian amir, amir panggilan yang biasa digunakan oleh teman-temannya termasuk olehku hanya saja aku memakai suku kata kak didepannya, perlahan tapi pasti aku mulai merasa nyaman dengan lingkungan pergaulanku yang baru, aku merasakan kehangatan keluarga meskipun aku tidak mempunyai iktan darah dengan mereka, kakak seniorku yang rata-rata memakai jilbab panjang begitu ramah padaku meskipun aku belum memakai jilbab dan subhanallah pada saat MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) dadaku begitu terhenyak pada sesi muhasabah diri, keringat dingin dan air mataku mewarnai muhasabah pada malam itu, sudah menjadi takdir ALLAH aku mendapat hidayah pada malam itu dengan cepat dan membaca Basmalah akupun memperbaiki niatku masuk LDK ini dan perasaanku terhadap kak amirpun berubah aku tidak lagi menginginkan dia menjadi pacarku aku hanya menganggapnya sebagai saudaraku.

Keesokan harinya aku memohon izin pada ayah dan ibuku kalau aku ingin memakai jilbab, aku kira mereka akan merasa senang dengan keputusanku namun aku salah ayahku menentang keras keputusanku, aku menagis mendenngar kata-kata yang ayah lontarkan

“Ayah tidak pernah setuju kalau kamu memakai jilbab !!! kamu mau jadi apa? Kalau kamu memakai jilbab kamu mau kerja apa? Apalagi jilbab yang kamu mau pakai jilbab lebar bisanya Cuma buat ribet, kamu masih muda nanti kamu menyesal kalau sudah memakai jilbab sekarang”

Aku mencoba mejelaskan kewajiban berjilbab tapi ayahku tidak mendengarkanku, bahkan karena aku menjelaskan ayahku mengatakan “ Sudah pintar kamu menasehati ayahmu ini, sudah merasa hebat kamu? Pokoknya kalau kamu tetap ngotot memakai jilbab ayah tidak akan perduli lagi apapun yang kamu lakukan !! ayah meninggalkanku sembari marah-marah ibuku merangkulku dengan penuh kehangatan, “Sabar nak ibu yakin ayahmu tidak bermaksud seperti itu, sekarang turuti saja apa yang ayahmu inginkan”, Tapi bu echa benar-benar ingin memakai jilbab, ibu tau kan hukum memakai jilbab, wajib bu”

“Ya kalau itu keinginan kamu ibu bisa bilang apa, ibu akan coba membujuk ayahmu”, terimaksih bu.

Keesokan harinya aku berangkat kekampus denngan penampilan baruku, jilbab lebar khas akhwat dan tas ransel yang agak besar, aku mampir ke meja makan untuk sarapan berharap ayah akan merestuiku dengan penampilanku yang baru aku langsung duduk seperti biasa disamping ayah, kejadian tak terdugapun terjadi ayah langnsung menarik jilababku dan mengusirku dari rumah, Ya ALLAH mungkin cobaan pertama yang harus aku lalui. Dengan amarah yang begitu membara ayah naik kekamarku dan melemparkan tas besar kehadapanku

“Sekarang kamu pergi dari rumah ini, ayah tidak sudi memiliki anak seperti kamu” ibuku mencoba menolongku namun ayah mendorong tubuh ibuku sampai tersingkir, entah setan apa yang merasuki ayahku saat itu, aku bersujud dibawah kaki ayahku berharap iya luluh oleh airmataku, namun smua itu sia-sia, ayahku tetap teguh dengan pendiriannya. aku pergi dengan uraian airmata dan luka yang sangat mendalam.

Aku pergi mengadu pada saudaraku yang ada di LDK dan mereka menerimaku dengan tangan terbuka, sekarang kegiatanku tidak lagi sebagai mahasiswi murni sekarang aku menjadi mahasiswi sekaligus pekerja, badanku tidak seindah dulu. Sekarang badanku kurus kering keronta sperti orang tak terurus, wajahku yang dulunya biasa-biasa saja kini menjadi sangat biasa.

3 tahun kemudian aku lulus dari kampusku dengan nilai yang pas-pasan karena kesibukanku mencari uang untuk menghidupi keperluanku sehari-hari. Kini aku bekerja disalah satu PT muka kuning daerah batam, dengan nilaiku yang pas-pasan aku hanya bisa menjadi operator usiaku semakin hari semakin bertambah wajahkupun sudah tak sesegar dulu, aku mengajukan proposal kepada murobbiku agar aku dicarikan jodoh. Selang 2 minggu aku mengajukan proposal Murobbiku mengatakan kalau yang dicari Ikhwan adalah wanita yang masih muda bukan sepertiku yang sudah hampir berkepala tiga, apalagi tampangku yang sangat pas-pasan menambah ke engganan mereka untuk menjadikanku istri mereka.

Perih rasanya melihat kenyataan yang ada saat ini sempat terlintas dipikiranku penyesalan memakai jilbab ini, karena jilbab ini aku jauh dari jodoh, karena jilbab ini aku diusir orang tuaku, karena jilbab ini aku harus bepeluh-peluh untuk menghidupi kehidupanku seandainya aku tidak mencintai amir mungkin aku tidak masuk LDK dan kalau aku tidak masuk LDK jilbab inipun tidak akan aku kenakan. Sempat tersirat dalam pikiranku saat banyak ikhwan menolakku karena tampangku yang pas-pasan dan umurku yang sudah hampir memasuki usia kepala tiga. Masih teringat dalam inngatanku ada yang mengatakan bahwa ikhwan itu bukan laki-laki yang pemilih usia bagi mereka tidak jadi masalah dan tampangpun mereka tidak perhitungkan karena mereka mengatakan kalau yang mereka cari adalah keimanan dan kesolehan seorang wanita. Namun apa yang aku temukan tidak sama dengan yang mereka ungkapkan, mereka memilih para akhwat yang muda dan cantik, mereka lebih memilih jejek Rasulullah dengan Aisyah daripada jejak Rasulullah dengan Khadijah. Lalu bagaimana dengan nasibku yang sudah tidak muda dan tidak cantik? Apa aku akan berakhir seperti ini? Tanpa pendamping hidup yang bersedia menerimaku apa adanya, tanpa belaian sayang seorang laki-laki.

Hah !!! aku mencoba menghilangkan prasangka burukku, aku masih saja meyakinkan hati ini agar tidak mudah terbujuk rayuan setan, aku yakin keputusan yang aku ambil untuk memakai jilbab adalah takdir terbaik dari Allah untukku.

Hari-hari ku lewati dengan penuh rindu, rindu ingin menikah dan memiliki anak, rindu orang tuaku yang sudah mengusirku, rindu masalaluku yang mewah. Sesekali terbesit dalam hati, bagaimana jika aku keluarr saja dari jalur tarbiyah ini? Bagaimana jika aku menanggalkan saja jilbabku ini yang membuatku gerah dan susah mencari jodoh.

Tiba-tiba ada rasa yang sangat kuat dalam hatiku untuk bertemu orang tuaku, maklum saja semenjak ayah mengusirku aku putus komunikasi dengan mereka, aku pernah mencoba menghubungi no telepon rumahku namun sayang selalu saja mailbox, ntah ayahku sudah mengganti no telepon rumah, sejak saat itu aku tidak lagi berhubungan dengan keluargaku dan akupun perlahan bias menerima itu. Tepat jam 5 sore aku dudah berdiri disebuah rumah yang cukup besar, aku melihat disekeliling taman depan rumah, ah itu bibi sumi, “bi … bi sumi” bi sumi menoleh ke arahku, “ya nona mencari siapa?” bi ini aku mira, non mira? “iya bi ini aku non mira”, bibi segera membuka pagar dan memelukku, tanpa kusadari mataku meneteskan air mata sudah lama aku tidak merasakan kehangatan kasih sayang ini, sudah lama aku tidak dimanja oleh bibi sumi, sudah lama sekali bahkan saking lamanya aku tidak tau sudah berapa lama aku tidak merasakannya, setelah puas bibi memeluk dan menciumku dia melepaskan pelukannya yang sangat erat, “bibi ibu ada?” bi sumi terdiam sejenak menatapku dalam-dalam penuh arti, seperti seorang yang kasihan melihatku. “kenapa bibi diam?”, “iya non nyonya ada didalam”, “boleh aku menemuinya bi?” dengan wajah yang penuh harap bias bertemu dengan ibu yang telah mengandungku 9 bulan dan merawatku dengan penuh kasih sayang. “boleh non” , oh hamper saja aku masuk, aku lupa belum menanyakan pada bibi tentang ayah apakah ayah ada didalam, kalau sampai ayah tau aku disini mungkin ayah akan murka padaku, “bi aku lupa, apa ayah ada?”, kali ini bi sumi langsung merangkulku dan menagis sejadi-jadinya, “bibi kenapa menangis?” aku mencoba memberikan semangat, “Tuan sudah tidak ada non!!”, “maksud bibi? Ayah sudah meninggal?”, “iya non tiga hari yang lalu tuan meninggal”, “apa ayah sakit bi?” aku bertanya dengan air mata yang sudah tidak biisa ku bending lagi, “semenjak non pergi dari rumah tuan merasa sangat bersalah, nyonya sudah menyarankan agar tuan mencari non dan meminta non kembali, tapi tuan kawatir nona akan menolaknya setelah perlakuan tuan pada non” .

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku duduk tersungkur menangis sejadi-jadinya, begitu banyak dosa yang telah ku perbuat pada ayah namun aku belum sempat meminta maaf padanya. Tangisanku mungkin terlalu keras saking kerasnya ada suara dari dalam rumahku, “ada bi sumi kok seperti ada yang menangis?”, aku mengangkat kepala dank u alihkan pandanganku pada seorang wanita yang sudah tua sedang duduk di kursi roda, ya Allah wanita itu ibuku, aku berdiri dan memeluk ibuku, aku menangs sejadi-jadinya kali ini suraku lebih keras dari yang tadi, “ini benar mira anakku?” suara ibu begitu lirih mengucapkannya sambil terus memelukku dan mengusap kepalaku, “iya ibu ini aku mira anakmu !!”, “terimakash ya Allah engkau mengembalikan iya pada pangkuanku lagi” ucap ibuku dengan air mata yang masih menetes, aku merasakan getaran yang sangat luar biasa dalam hatiku, aku merasakan kembali kehangatan pelukan ibuku yang sudah lama hilang, aku merasakan lagi semua itu, ucap syukurpun tak henti-henti aku panjatkan pada Allah SWT.

Sambil mendorong kursi roda ibuku aku masuk kedalam rumahku yang megah dan mewah, aku melihat sekeliling rumahku itu, masih sama seperti dulu, foto keluaga diruang tengah itupun posisinya masih sama seperti saat aku meninggalkan rumah ini, aku melihat ke pojok meja di ruangan keluarga, tak sengaja aku melihat foto waktu kecilku bersama ayahku saat menemaninya memancing di akhir pecan, air mataku jatuh lagi, kali ini air mata penyesalan yang keluar dari mata ini, penyesalan yang sangat mendalam, kenapa aku tidak bias membahagiakan ayah, kenapa aku tidak tinggal saja waktu ayah mengusirku? Ibu mengusap air mataku “sudahlah nak jangan sesali semua yang terjadi, yakinlah semua yang terjadi sudah kehendak ALLAH yang maha kuasa, ibu yakin dengan ilmu agama yang sudahh kamu pelajari kamu bias tegar dan menerima kenyataan, bukankah semua yang terjadi di dunia ini sudah di tuliskan di Laul Mahfudz?”, kata-kata ibu menyadarkankanku, aku memeluk ibuku kembali, aku berjanji akan selalu menemani ibuku dan membahagiakannya.

Satu minnggu sudah aku berada dirumah ini, disini kutemukan kebahagiaanku kembali, bersama ibuku yang setia menemani, pagi ini aku dan ibuku duduk di pinggir kolam ikan belakang rumahku, “mira apa kamu tidak mau menikah?” ah … pertanyaan yang kutakutkan ternyata di tanyakan oleh ibuku, dengan berbata-bata aku menjawab “ya sebagai wanita normal aku juga ingin menikah bu”, “lalu kenapa kamu belum menikah juga sayang?”

“Itulah bu yang juga mira pikirkan, belum ada yang mau menjadi pemdamping hidup mira bu”, “apa perlu ibu yang mencarikan untukmu anakku?”, “tidak usah bu, mira yakin Allah sudahh mempersiapkan jodoh yang terbaik untuk mira”, aku memegang tangannya dan meyakinkan ibuku dengan tatapan mataku yang penuh arti, ibu mengusap pipiku dan berkata “ibu percaya takdir Allah dan percaya padamu anakku”.

Ahad ini aku kembali bertemu dengan keluarga kecilku, keluarga tarbiyahku yang mengajariku ketegaran dan makna kehidupan, keluarga kecilku yang terdiri dari 10 orang termasuk murobbiku yang selalu menjagaku, aku bahagia memiliki mereka, aku bahagia mengenal mereka, karena perantara mereka aku bias mengenal manisnya dakwah, meski terkadang aku merasa kecewa dengan ikhwan yang ada dalam tarbiyah ini. Aku merasa berdosa tatkala aku ingat dulu saat dalam hati kecilku berbisik untuk menanggalkan jilbabku dan meninggalkan dakwah ini, beruntungnya aku Allah masih menyelamatkanku dari godaan syetan yang seringkali menggodaku. Tak terasa 2 jam pertemuan ini telah terlewati. Saat i’lan aku menceritakan semua kejadian satu minggu yang telah aku lalui, mereka turut senang mendengar berita bahagia yang ku alami, setelah semua selesai kamipun berajak pergi dari tempat duduk kami, saat semua saudariku pergi tiba-tiba MR ku memanggilku, “mira umi mau bicara bias?”, “oh iya mi bisa, ada yang bisa mira bantu?” aku melihat wajah MR ku terlihat sangat tegang dan serius, aku jadi takut untuk memandangnya, apa aku ada salah? Apa MR ku tau kalau aku pernah merasa ingin keluar dari dakwah ini? Ah.. berjuta prtanyaan muncul di benakku hingga akhirnya MR ku memulai pembicaraan “mira, apa kamu masih niat untuk menikah?” saat mendengar perkataan itu hatiku bingung tak karuan, MR ku masihh menunggu jawabanku, “jujur umi, mira ingin sekali segera menikah”, aku melihat senyum bahagia diwajah MR ku, aku melihat MR mengelurkan amplop coklat “bukalah” umi menyerahkan amplop itu, aku membukanya dengan perlahan, subhanallah ini proposal atau biodata seorang ikhwan yang ingin ta’aruf denganku, aku membaca profilnya dengan seksama sayang disana tidak dicantumkan foto, namun dengan keyakinan hati aku mau ta’aruf dengan ikhwan ini, aku di damping oleh MR dan suaminya begitupan si ikhwan di damping MR nya, aku menunduk penuh rasa malu namun sesekali aku mengangkat kepalaku dan melihat kearah ikhwan itu, bergetar hatiku melihatnya sungguh sempurna ciptaan Allah, setelah beberapa pertanyaan terlontar ta’aruf hari itu usai, aku mantabkan dengan sholat tahajjud, aku semakin yakin dengan keputusanku untuk menikah dengannya, apalagi ibuku setuju saja dengan pilihanku, akhirnya tibalah prosesi lamaran antar keluarga dan di hari itu ditetapkan pula tanggal pernikhan kami, tanggal 14 November 2014.

14 november 2014 hari yang kun nanti-nanti dan ku tunggu-tunggu dan inilah hari itu, aku memakai gaun muslimah putih dengan hiasa dikepala yang mempercantik wajahku, aku menunggu di balik hijab hingga syah ijab Qobulku, setelah semua mengatakan syah aku keluar dari balik hijab, aku cium tangan suamiku, dia terlihat gagah dengan jas hitam yang dikenakannya, dia mencium keningku dan memasangkan cincin dijariku, saat itu dunia seakan milik kami berdua dan lainnya hanya mengontrak saja. Saat resepsi di mulai mahfud yang telah syah menjadi suamiku memegang erat tanganku, ada rasa yang anehh menghampiri seluruh tubuhku, terasa bergetar agak aneh, maklum saja semenjak hijrahku aku jarang sekali berinteraksi dengan laki-laki, dan inilah kali pertama tanganku dipegang laki-laki. Laki-laki yang kini telah syah menjadi pendamping hidupku.

Setelah setahun pernikanku aku dikarunia anak kembar yang sangat cantik jelita. Rasa syukurpun kembali aku panjatkan pada Allah yang maha kuasa. Betapa indahnya sekenario yang dibuat Allah, betapa sempurna jalan hidupku yang telah digariskanNya. Aku bersyukur telah dipertemukan dengan dakwah ini yang membuatku menjadi manusia yang lebih berguna.

Oleh : Fitanul fitriyah
10.08 | 1 komentar

Menjadi Dirimu Yang Terbaik

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 28 Februari 2012 | 07.34


Kebaikan yang kau dapati pada orang lain juga ada dalam dirimu. Kesalahan yang kau temukan pada orang lain juga merupakan kesalahanmu. Maka untuk mengenali sesuatu kau harus mempunyai pengetahuan tentangnya. Kemungkinan yang kau lihat dalam diri orang lain juga mungkin teradapat dalam dirimu.

Kecantikan yang kau lihat di sekelilingmu juga merupakan kecantikanmu. Dunia disekitarmu adalah refleksi, cermin yang menggambarkan orang macam apa kau ini.

Untuk mengubah dunia kau harus mengubah dirimu terlebih dahulu. Menyalahkan orang lain dan berkeluh kesah hanya akan membuat urusan semakin runyam. Apapun yang menjadi pedulimu adalah juga tanggung jawabmu.

Apa yang kau lihat pada orang lain menunjukkan kepadamu dirimu sendiri. Lihatlah yang terbaik pada orang lain niscaya kau akan menjadi yang terbaik bagi dirimu. Hargailah keindahan niscaya kaupun akan menjadi indah, kagumilah kreatifitas niscaya kau akan menjadi kreatif.

Berikan cintamu maka kau pun akan dicintai. Berusahalah untuk memahami, maka kaupun akan dipahami. Dengarkanlah, maka suaramu akan didengar. Ajarkanlah maka kaupun akan mendapatkan pengetahuan.

Tampilkan wajah terbaikmu di hadapan cermin, maka kau akan senang dengan wajah yang menatapmu.
07.34 | 1 komentar

Pilihan Setiap Hari


Hari ini aku bangun pagi sekali dengan kebebasan untuk memilih hari macam apa yang akan kujalani.

Hari ini aku boleh berkeluh kesah karena hujan sepanjang hari atau bersyukur karena rumput dihalaman mendapat siraman gratis.

Hari ini aku boleh sedih karena tidak punya banyak uang atau merasa senang karena kondisi keuanganku menuntut agar aku merencanakan pembelanjaanku denagn bijak dan tidak melakukan pemborosan.

Hari ini aku boleh mengomel tentang badanku yang kurang sehat atau bergembira karena aku masih dibiarkan hidup di dunia.

Hari ini aku boleh menyesali apa-apa yang oleh ortuku tak diberikan kepadaku ketika menginjak dewasa atau merasa bersyukur karena aku terlahir berkat mereka.

Hari ini aku boleh menangis karena mawar-mawar itu berduri atau merasa bersyukur karena duri-duri itu ditumbuhi mawar.

Hari ini aku boleh mengomel karena harus bekerja atau merasa gembira karena punya pekerjaan.

Hari ini aku boleh menggerutu karena tugas rumah tangga yang harus kuselesaikan atau merasa bersyukur karena mampunyai naungan untuk jiwa dan ragaku.

Hari ini terbentang di hadapanku menunggu untuk dibentuk, dan disinilah aku, sang pemahat yang siap membentuknya kedalam rupa yang kukehendaki.

Bagaimana keadaan hari ini semua bergantung kepadaku. Dan aku harus menentukan hari macam apa yang aku inginkan.
07.25 | 0 komentar

Ketika Laki-Laki Menangis

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 25 Februari 2012 | 11.24



Kata Siapa Lelaki tak pernah

Menangis ?

bahkan kadang jiwa dan hatinya lebih

halus dari wanita

tersembunyi di balik kegagahan

wajahnya

Mungkin ia tak pernah menampakan

air mata itu di depanmu..

tapi yakinlah di saat engkau tidak tahu

di jejak dia berangkat kerja

atau dalam duduk tafakur setelah

sholatnya

kadang air mata itu tumpah

Karena akal mendominasi jiwanya

maka yang kau temukan hanya

ketegaran

tapi coba kau tengok matanya

setelah ia mengimamkan sholat

tahajud malam itu

ada kilatan cahaya embun yang

menetes dalam ketegaran…

atau ketika dia tertunduk letih

setelah berjam-jam mencari nafkah…

lihat sejenak mata itu…

maka mata adalah cermin jiwa…

Maka menangislah Umar bin

Khattab ketika mengetahui ada

rakyatnya yang kelaparan

sementara kita tahu, bagaimana

tegasnya sosok lelaki ini..

tapi air matanya pun tumpah…..

Inilah Sosok Lelaki

sosok suami yang Allah menatapnya

dengan kerinduan..

Mereka menjemput pagi dengan

harapan

dan membawa malam dengan asa…..

Lihat lah Lelaki yang saat ini menjadi

suamimu..

sesungguhnya Surgamu

ada pada Keridhoan-Nya…..

Lihatlah Lelaki yang Allah Mengatakan

lewat lisan Nabi SAW kita..

“Barang siapa yang sore hari duduk

kelelahan lantaran pekerjaan yang

telah di lakukannya, maka dia

dapatkan sore hari tersebut, dosa-

dosanya di ampuni Allah SWT”

(HR.Thabrani)

Merekalah Lelaki Sholeh

yang menumpakan air matanya

seraya lisan dan hatinya berdoa…

“Ya Rabbana, berikanlah kebaikan

untuk Istri dan anak-anakku

kelak….. Jadikanlah Mereka semua

Kesenanganku di Surga-Mu yang

Maha Indah…..”

Inilah Lelaki dan Suami Sholeh

idaman bidadari tak hanya bidadari

bumi

tapi juga Bidadari Surga, yang

mengintip Menanti.

Amin Allahuma Amin…


Published with Blogger-droid v2.0.4
11.24 | 1 komentar

Walaupun Hanya Membuang Duri di Jalan


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda dalam sebuah hadis bahwa
iman memiliki lebih dari tujuh puluh
cabang. Cabang yang paling tinggi
dari cabang-cabang keimanan adalah
perkataan “ la ilaha illallah” dan
cabang yang paling rendah adalah
menyingkirkan gangguan dari jalan.
Secara tidak langsung, hadis tersebut
juga mengisyaratkan bahwa keimanan
seseorang itu bertingkat-tingkat sesuai
dengan ilmu dan amal yang ia
perbuat. Hanya saja, jangan remehkan
suatu amal kebaikan, sekalipun terlihat
sedikit dan dianggap remeh oleh
manusia. Bisa jadi, Allah subhanahu
wa ta’ala akan mengganjar amalan
yang dikerjakan secara ikhlas tersebut
dengan pahala yang berlipat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengisahkan bahwa ada
seorang laki-laki yang masuk surga
karena ia menyingkirkan duri yang
berada di suatu jalan, yang dilakukan
dengan tujuan agar tidak mengganggu
kaum muslimin. Sebab itu, Allah
subhanahu wa ta’ala menerima amal
baiknya tersebut dan mengganjarnya
dengan balasan yang lebih baik.
Subhanallah … sungguh Maha Luas
rahmat Allah subhanahu wa ta’ala .
Semoga hal ini dapat menjadi ibrah
bagi kita semua. Allahul Muwaffiq.

Alkisah
Ada seorang laki-laki yang sedang
berjalan-jalan di sebuah jalan. Ia
menjumpai rerantingan yang berduri
yang menghambat jalan tersebut,
kemudian ia menyingkirkannya. Lalu ia
bersyukur kepada Allah subhanahu
wa ta’ala, maka Allah mengampuni
dosa-dosanya.

Dalam sebagian riwayat dari Imam
Muslim dari sahabat Abu Hurairah
pula, beliau berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada seseorang laki-laki yang melewati
ranting berduri berada di tengah
jalan. Ia mengatakan, ‘Demi Allah, aku
akan menyingkirkan duri ini dari kaum
muslimin sehingga mereka tidak akan
terganggu dengannya.’ Maka Allah
pun memasukkannya ke dalam surga.”
Dalam riwayat lain, juga dari sahabat
Abu Hurairah dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Sungguh, aku telah melihat seorang
laki-laki yang tengah menikmati
kenikmatan di surga disebabkan ia
memotong duri yang berada di
tengah jalan, yang duri itu
mengganggu kaum muslimin .”

Kisah sahih di atas diriwayatkan oleh
Imam Al-Bukhari dalam Kitab “Al-
Adzan“, Bab “Fadhlu Tahjir ila Zhuhri“,
no. 652; dan Kitab “Al-Mazhalim “, Bab
“Man Akhadzal Ghuzna wama
Yu’dzinnas fith Thariq“, no. 2472; juga
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam
Kitab “Al-Bir wash-Shilah wal Adab“,
no. 1914; dan Kitab “ Al-Imarah “, no.
1914.

Ibrah
Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyebutkan bahwa Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman,

“Barang siapa yang menyakiti wali-Ku,
ia berhak mendapatkan permusuhan-
Ku.” (H.r. Abu Ya’la Al-Musili, 14:372)
Para wali Allah subhanahu wa ta’ala
adalah kaum mukminin yang selalu
taat kepada perintah-perintah Allah
subhanahu wa ta’ala dan memiliki
komitmen dengan sunah-sunah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Yang
dimaksud dengan wali Allah
subhanahu wa ta’ala adalah orang
yang berilmu tentang Allah
subhanahu wa ta’ala , selalu
menjalankan ketaatan kepada-Nya,
dan ikhlas dalam beribadah kepada-
Nya.”

Sungguh mulia kedudukan kaum
mukminin di sisi Allah subhanahu wa
ta’ala. Mereka adalah orang-orang
yang mendapatkan kehormatan.
Mereka tidak boleh diusik atau disakiti,
apalagi dimusuhi dan diganggu.
Bahkan dalam sebuah hadis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

“Sesungguhnya, darah-darah kalian
dan harta-harta kalian itu haram
seperti haramnya hari dan bulan
kalian ini.” (H.r. Muslim, 6:245)
Dalam kisah di atas, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
menceritakan seseorang yang sedang
berjalan di suatu jalan, kemudian
menjumpai sebuah pohon yang
memiliki banyak duri dan menghalangi
jalan kaum muslimin sehingga dapat
mengganggu orang-orang yang
melewatinya. Kemudian, ia bertekad
kuat untuk memotong dan
membuangnya dengan tujuan
menghilangkan gangguan dari jalan
kaum muslimin. Dengan sebab itu,
Allah subhanahu wa ta’ala
mengampuni dosa-dosanya dan
memasukkan ia ke dalam surga-Nya.
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam melihatnya sedang
menikmati kenikmatan di surga
disebabkan amalannya tersebut.
Sungguh, laki-laki tersebut telah
beramal dengan amalan yang terlihat
remeh tetapi ia diganjar dengan
balasan yang teramat besar. Sungguh,
rahmat Allah subhanahu wa ta’ala
mahaluas dan keutamaan-Nya
mahaagung. Apa yang dilakukan laki-
laki tersebut adalah salah satu bagian
kecil dari petunjuk dan syariat yang
telah dibawa oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang
benar bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam telah memerintahkan
kita untuk berbuat sebagaimana yang
telah dilakukan oleh laki-laki tersebut.
Dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan dari jalan Abu Barzah Al-
Aslami, beliau bertanya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam,

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah
kepadaku suatu amalan yang dapat
bermanfaat bagiku.” Beliau menjawab,
“Singkirkanlah gangguan dari jalan-
jalan kaum muslimin .” (H.r. Muslim,
13:49; Ibnu Majah, 11:78)
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mencela dan
memperingatkan dengan keras dari
perilaku yang dapat mengganggu
kaum muslimin di jalan-jalan mereka,
dalam hal ini Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa mengganggu kaum
muslimin di jalan-jalan mereka, wajib
atasnya laknat mereka .”

Mutiara kisah
Kisah di atas banyak sekali
mengandung mutiara faedah
berharga, di antaranya:
1. Besarnya keutamaan menyingkirkan
gangguan dari jalan kaum muslimin
dan adanya pahala yang besar yang
diberikan bagi siapa saja yang
melakukannya.
2. Luasnya rahmat Allah subhanahu
wa ta’ala dan agungnya pahala yang
disiapkan buat hamba-hamba-Nya
yang beriman. Allah subhanahu wa
ta’ala memasukkan laki-laki tersebut ke
dalam surga sekaligus dengan sebab
amalannya yang sedikit, yaitu
menyingkirkan gangguan dari jalan
kaum muslimin, karena memang
seseorang masuk surga itu berkat
fadilah Allah subhanahu wa ta’ala
yang dianugerahkan kepadanya,
bukan sekadar karena amalan yang ia
perbuat. Seandainya bukan karena
fadilah Allah subhanahu wa ta’ala ,
tentulah tidak ada seorang pun yang
dapat masuk surganya Allah
subhanahu wa ta’ala . Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda, “ Dekatkanlah diri kalian
kepada Allah subhanahu wa ta’ala
dan tepatilah kebenaran. Ketahuilah,
bahwa tidaklah salah seorang dari
kalian akan selamat (dari neraka)
dengan amalnya .” Mereka
mengatakan, “Apakah engkau juga
demikian, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Demikian juga aku. Hanya
saja, Allah telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya kepadaku.” (H.r.
Muslim, no. 2816)
3. Pepohonan yang boleh ditebang
dan dibuang adalah pepohonan yang
mengganggu kaum muslimin. Adapun
apabila bermanfaat bagi kaum
muslimin seperti pohon yang
digunakan untuk berteduh manusia
maka tidak boleh ditebang, kecuali
apabila ada maslahat tertentu.
Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam sangat mendorong kaum
muslimin untuk menanam tanaman-
tanaman atau tumbuhan yang dapat
berbuah dan bermanfaat bagi
manusia. Dalam sebuah hadis,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Tidak seorang muslim pun yang
menanam suatu tanaman melainkan
bagian yang dimakan dari pohon
tersebut adalah sedekah baginya,
bagian yang dicuri dari pohon
tersebut adalah sedekah baginya,
bagian yang dimakan oleh burung-
burung adalah sedekah baginya, serta
bagian yang dikurangi oleh seseorang
juga sedekah baginya.” (H.r. Al-
Bukhari, 8:118; Muslim, 8:176; At-
Tirmidzi, 5:253)
4. Kisah di atas sekaligus merupakan
peringatan keras kepada sebagian
manusia yang tidak hanya enggan
menyingkirkan gangguan dari jalan
tetapi justru membuang sampah-
sampah rumahnya dan sisa-sisa
makanan mereka ke jalan-jalan yang
dilewati kaum muslimin. Akibatnya, hal
itu dapat mengganggu dan
menghambat saudaranya yang lain
yang melewati jalan tersebut.
Wal’iyadzubillah. Seandainya mereka
mengetahui pahala yang akan
diberikan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala kepada siapa saja yang mau
ikhlas berbuat baik kepada sesama
kaum muslimin, tentulah mereka tidak
akan berbuat sedemikian itu.

Wallahu a’lam. Walhamdulillahi Rabbil
’alamin.
11.10 | 1 komentar

INSPIRASI DARI SEMUT

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 22 Februari 2012 | 08.59


SEMUT ITU HITAM, mungil, tapi ia sangat tepat menjadi inspirasi bagi orang-orang beriman. Semut bisa bekerja sendirian, tetapi berada dalam Semut-semut selalu bergerak ke depan, mencari bukan hanya untuk sendiri. Makanan yang dapatkan dikumpulkan bersama untuk persiapan musim dingin. Pekerjaan itu dilakukan bukan "berebut jabatan" atau "mencari popularitas".

Pernahkah kita melihat semut berdiam diri? Tidak, semut tidak berdiam diri. la bukan binatang pemalas. Kalau diibaratkan, semut itu seperti "seorang aktivis". Para aktivis, meskipun tidak ada pekerjaan, mereka selalu mencari kerjaan" . He he he.
Dalam bekerja, banyak semut gugur dalam tugas. Ada yang mati dimangsa musuh, ada yang tertimpa benda berat, ada yang dipites manusia, atau hanyut di air. Pendek kata, tidak semua semut menikmati dari kerja kerasnya. Semut juga tidak pernah mensikap berkhianat kepada koloni. Tidak pernah terjadi seekor semut hitam, lantaran kecewa, dia menyebrang ke koloni semut merah.

Semut mengajarkan banyak inspirasi kepada kita bagaimana menjadi pekerja keras, lalu memberi manfaat kepada orang lain. Setiap semut adalah pahlawan bagi semut-semut lainnya. Tubuhnya memang mungil hitam, tetapi ternyata ia mengerjakan hal-hal besar dalam hidupnya, Luar biasa, masya Allah..

”Jangan engkau hargai dirimu, kecuali dengant surga. Sebab, jiwa orartg yang beriman itu mahal Tapi sayang, banyak manusia yang menjualnya dirinya dengan harga murah."(Imam Hasan AI-Bashri).
08.59 | 1 komentar

Teman Terbaik

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 21 Februari 2012 | 08.10


Teman terbaik dalam hidupmu adalah yang menggerakkan jiwamu untuk melakukan sesuatu yang terbaik dengan optimisme puncak walaupun dia adalah musuhmu...teman terburukmu adalah mereka yang mengalirkan pesimisme dalam jantungmu walaupun dia adalah orang yang terdekat denganmu...manusia terbaik dalam hidupmu adalah orang yang melapangkan jalan bagimu untuk memasuki surga-Nya...menuntunmu meniti jalan-jalan rumit yang harus dilaluinya...manusia terjahat untukmu adalah orang yang membuat neraka mengangat siap melahapmu karena dirimu telah berselimutkan dosa...berjubahkan maksiat...bertamengkan kemunafikan...Dalam hidup ini jadilah orang yang melakukan kebaikan tiada henti sampai orang2 yang dengki muak melihat kebaikanmu...dan mereka letih untuk mengurusi gelombang kebaikanmu...jadikan musuh-musuhmu gigit jari karena arus kebaikanmu tak mungkin bisa dibendung dengan dendamnya...dengan kedengkiannya...!!
08.10 | 2 komentar

Jangan Sombong


Kalau jubah sombong masih menjadi kebanggaan Anda, maka Anda sulit untuk bisa mendekat kepada Allah karena Allah tidak suka manusia sombong...bila dengki masih merayap di dada Anda maka jangan harap dada Anda akan sejuk bahagia...karena dengki akan membakar dada Anda tiada henti
08.09 | 2 komentar

The Caravan of Pride (Abaa Mawkeb-ul) 2011

Written By Rudi Abu azka on Senin, 20 Februari 2012 | 14.12

Peristiwa Karabala bukanlah sebatas aset sejarah yang hanya berada adalam lingkup khazanah syiah semata,
namun, rangkaian sejarah tragedi karbala merupakan aset sejarah Islam secara umum yang merepresentasikan
eksistensi berbagai maddzhab dalam Islam. Tragedi Karbala merupakan momentum sejarah menyedihkan yang selalu menyisakan duka
bagi individu Muslim. tanpa batasan sekat madzhab tertentu.

Semangat karbala sepatutnya menjadi titik tolak potensial
guna menggalang persatuanummat Islam (ukhuwah Islamiyah)
serta merajut nilai-nilai toleransi dan perdamaian dalam beragama (ber-Islam),
baik pada tingkat kesdaran maupun praktek. Dalam dimensi berbeda, peristiwa Karbala sepatutnya menjadi titik akhir sejarah kelam
yang sarat dengan nilai-nilai anarkisme dalam Islam. serta menjadi titik tolak refleksi guna menutup ruang
anarkisme dalam khazanah keislaman serta membangunmonumen peradaban Islam yang dilandaskan pada nilai-nilai
perdamaian toleransi, himanisme serta dialogis.

Akhirnya sebuah harapan bersama yang kian terbesit dalam
samudera kesedihan Asyura yaitu sebuah upaya menggalang persatuan Islam diatas trnsedensi nilao-nilai Karbala.

The Caravan of Pride (Abaa Mawkeb-ul) adalah sebuah film yang menggambarkan rantai peristiwa sejarah kesyahidan Imam Husain (as) di padang Karbala pada 10 Muharram 61 AH, atau di kenal sebagai hari Asyura.

Imam Husain (as) beliau adalah Cucu kesayangan dari Nabi Muhammad saw atau anak dari Ali bin abi thalib dan Fatimah az Zahra.

Setelah pembantaian Imam Husain (as) dan para sahabatnya di dataran Karbala (Irak), para anggota lainnya dari Keluarga Nabi (saw) ditawan dan diarak dengan cara yang memalukan dan tidak manusiawi dari Kufah (Irak) ke Damaskus Shaam (Suriah), untuk dibawa ke Istana tiran Yazid bin Muawiyah di Damaskus, Suriah.

Disana Imam Zainal Abidin (as) dan Syeda Zainab dengan kefasihan mereka menunjukkan kepada rakyat Damaskus tentang keutamaan ahlul bayt dan silsilah keluarga mereka sampai ke Nabi saw, kakek buyutnya. Dan mereka serta mengobarkan semangat revolusi Imam Hussein (as); sebuah revolusi melawan ketidakadilan, sebuah revolusi melawan tirani, sebuah revolusi melawan korupsi, memilih untuk syahid secara terhormat daripada hidup dengan kehinaan, memenangkan kebenaran atas kepalsuan, memenangkan keberanian atas ketakutan, kebenaran bermoral, pengetahuan atas kebodohan, sebuah revolusi yang terus bergema ribuan tahun kemudian, yang terbukti menjadi sumber inspirasi bagi umat manusia sampai akhir zaman.

Saksikan Selengakpnya dalam FILM ini.
14.12 | 0 komentar

JANGAN PANGGIL KAMI AKHWAT

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 18 Februari 2012 | 15.10

Jangan panggil aku akhwat...
karna melihat ikhwan masih sering terpikat
dengan ikhwan masih sering berkhalwat
di kampus pun masih sering berikhtilat

Jangan panggil aku akhwat...
karna sholat pun masih sering telat
beribadah masih tidak hikmat
membaca Al-Qur'an masih tercekat
hafalan surat pun masih belum tamat

Jangan panggil aku akhwat...
kepada orangtua dan guru masih belum hormat
masih suka mendengar lagu-lagu barat
kepada oranglain sering berpikiran jahat
bersaing pun dengan tidak sehat

Jangan panggil aku akhwat...
karna diri ini masih sering khilaf
masih susah minta maaf begitupun memberi maaf

Jangan panggil aku akhwat...
karna menjalankan perintah ALLAH aku masih belum patuh
karna jiwa ini masih rapuh
setiap hari selalu mengeluh
oleh orangtua pun masih susah disuruh

Jangan panggil aku akhwat...
karna diri ini masih sering berbuat salah
mulut ini masih sering fitnah
dimana-mana selalu ghibah

Jangan panggil aku akhwat...
karna diri ini masih jarang bersedekah
hati ini selalu resah sering marah-marah
dan pada oranglain pun tidak ramah

Jangan panggil aku akhwat...
sungguh sebutan itu belum tepat...

tapi aku janji selalu berusaha jadi orang yang bermanfaat
buat keluarga dan para kerabat
untuk kehidupan yang baik dunia akhirat
15.10 | 2 komentar

JANGAN PANGGIL KAMI IKHWAN

Saudaraku…Alhamdulillah, kita telah dimasukan oleh-Nya termasuk kedalam golongan orang yang senantiasa berusaha menegakkan kalimatul haq dan al-izzah Islamiyah yaitu dalam shaf-shaf barisan tentara-Nya—Jundullah.
Dalam derap perjalanan dakwah yang telah, sedang, dan akan kita jalani; ada banyak sekali onak duri yang menjadi aral rintang—yang meski dihadapi, bukan dihindari.
Aral rintangan tersebut datang dari dalam dan luar diri kita; kesemuanya itu menuntut adanya kebersihan jiwa, akal dan hati.

Saudaraku yang dirahmati Allah…
Salah satu faktor dari dalam yang sering terlupakan atau dianggap remeh adalah masalah “hijab” diantara kita yang kian menipis.
Hijab disini kami pandang dari dzahir dan batin.
Dari dzahir adalah mulai melebarnya nilai toleransi tentang batasan hijab dan pemakluman “keadaan darurat” yang menjurus pada kebiasan untuk menganggap biasa saling pandang, seringnya frekuensi bertemu atau sekedar saling titip pesan!

Dan banyak hal yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.
waspadailah dosa-dosa yang kecil itu wahai ukhti shalilah.
Bukankah tak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus?
Tanamkanlah dihatimu wahai saudaraku!
Bahwasanya dosa adalah setiap hal yang membuatmu tidak suka jika diketahui orang lain, karena membuat harga dirimu jatuh. Berbuatlah ihsan pada diri sendiri dan orang lain.
mungkin kita perlu merenungi sebuah pertanyaan retoris yang dilontarkan seorang ahli hikmah:

Saudaraku, Bantu kami…Jangan panggil kami ikhwan!
Selagi engkau masih menemui kami mengumbar pandangan.
Hingga lepas panah syetan daru busurnya dan melesat dengan sebenar-benar kecepatan kecelah hati tanpa terasa. Hingga lupa makna ghudul bashar menjaga pandanagn) yang pernah kami ceritakan dan kita kaji bersama.
Sebagai kaum Adam, sudah menjadi fitrah untuk senang kepada kaummu, kaum Hawa.
Tapi sungguh fitrah tersebut bisa menjadi salah satu jalan menuju neraka-Nya seandainya kami tidak memaknai dan menerapkannya secara tepat;sesuai dengan kaidah syar’i.

Dan tentunnya tanpa bantuanmu agar pandangan kami tidak buas dan liar mustahil untuk terwujud.
Apakah menurutmu mungkin seekor singa jantan yang kelaparan akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja? Terlebih ketika da kesempatan yang sangat memungkinkan untuk memangsanya?
Mari kita tengok kembali sebuah nasehat dari sebuah hadist qudsi.

"Pandangan mata itu adalah sebuah anak panah dari panah-panah Iblis. Maka barangsiapa meninggalkannya (mengelakkannya dari melihat wanita) karena takut kepada-Ku, niscaya Aku ganti dengan iman yang dirasakan lezat manisnya didalam hatinya.” (Riwayat Thabrani dan Hakim dari Ibnu Mas’ud)

Ketahuilah, kami akan jujur kepadamu.
Kami adalah laki-laki normal dan punya keinginan-keinginan.
Kami bukan malaikat!
Dan seringkali walau secara dzahir kami menjaga adab-adab Islamiyah, namun disisi lain kami juga bisa terjatuh dalam menikmati keberadaanmu, kaum Hawa.
Akankah engkau dan kaummu tega jika kami terjatuh dalam kubangan yang penuh kemaksiatan itu?
Jawablah jujur wahai ukhti...!
Jujurlah padaku...!


Saudaraku...Jangan panggil kami ikhwan!
Jika engkau masih melihat kami berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis bukan mahram)
dan berikhtilat (campur baur pria dan wanita).
Dengan dalih ini tidak apa-apa masih syar’i dan untuk kepentingan organisasi.
Atau dengan alasan, tak masalah tanpa hijab yang penting hati bersih dan niatan suci, sedang lingkaran kemaksiyatan mengelilinginya?
Ketahuilah wahai ukhti muslimah Arrijalu qowwamuna’alan-nisa—bahwasanya laki-laki adalah pemimpin atas wanita.
Apa jadinya jika sebagai laki-laki kami lemah dalam menerapkan ilmu dan syariat-Nya.
Terlebih karena engkau sebagai kaum Hawa seringkali membuat niatan dan maksud kami berubah.
Oleh karena itu nasehatilah kami, jika kami melanggar syariat-Nya!
Jangan ragu dan malu.
Tegaslah kepada kami, niscaya nasehat darimu akan menjadi pengontrol dan penyeimbang hati kami dalam melakukan tugas sebagai qowam—pemimpin.
Saudaraku…Jangan panggil kami ikhwan! Jika engkau masih menemui kami sholat fardhu dengan munfarid—sendirian— dan meninggalkan sholat jama’ah, dengan alasan darurat dan tanggung untuk menutup syura’ (rapat) atau aksi yang sedang dilakukan.

Terlebih ketika kami dengan sengaja mengakhirkan waktu shalat!
Karena hal tersebut menandakan hati kami sedang “tidak sehat”.
Jangan engkau sungkan menyiram kami dengan kritik tajam yang membangun.
Ketahuilah bahwasanya “siraman” yang engkau lakukan menandakan dinamisnya tandzim (organisasi) yang kita berada didalamnya.

Peringatkanlah kami!
Peringatkan kami, wahai ukhti!
Adapun jika kami diam dan acuh maka tinggalkan syura’, pertemuan atau kegiatan apapun yang kita berada didalamnya. Coba kita renungkan firman-nya yang mulia:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu pasti akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(At-Taubah: 71)

Saudaraku yang dirahmati Allah...Jangan panggil kami ikhwan!
Jika kau menemui kami mundur dari gelanggang tarbiyah dakwah dan jihadiyah;
meski selangkah.
Dengan alasan mengatur strategi kembali dan beristirahat barang sejenak untuk menyurun kekuatan.
Padahal jiwa ini mengatakan kami takut maut yang menghadang.
Engkau dan kaummu (kaum Hawa—ed) tentunya lebih paham dimana letak kelemahan kami.
Karena itu bantulah kami memompa ghirah agar menjadi bola semangat yang auranya dapat menggetarkan musuh-musuh Allah dari jarak sekian-sekian dari perjalan waktu.
Bantu kami dengan doamu dan kaummu agar ruh-ruh jihad tidak lepas dari jiwa kami.
Dan doakan kepada Allah semata agar kami menjadi saefullah
—pedang Allah yang tajam dan ditaakuti musuh-musuh-Nya.
Jangan biarkan kami mengeluh! Ingatkanlah selalu kami dengan firman-Nya:
“Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan0 sebagimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan—dengan bermacam-macam goncangan dari cobaan; sehingga berkatalah Rosul dan orang-orang yang bersamanya’ bilakah datangnya pertolongan Allah? ‘Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”
(QS. Al-Baqoroh: 21)

Dikutip dari buku SURAT CINTA UNTUK SANG AKTIVIS
15.06 | 0 komentar

Film Habil dan Qabil

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 17 Februari 2012 | 19.22

"Adalah kehendak Allah Swt bahwa Habil harus menggantikan ayahnya, Adam as. Namun, Qabil menentang hal tersebut. Untuk menyelesaikan pertikaian ini, lalu Adam as menguji kedua putranya. Mereka diminta untuk memberikan kurban kepada Allah Swt dan meletakkannya di atas suatu puncak bukit. Kurban Habil diterima oleh Allah Swt, karena Habil telah mengeluarkan banyak waktu dan tenaga atas kurban yang diberikannya itu. Qabil menjadi dengki dan marah ..."
Selengkapnya saksikan dalam VCD ini.
19.22 | 4 komentar

Film Rabiah Al Adawiyah

Rabiah Al Adawiyah tinggal bersama ibu angkatnya di Bagdad,
karena kesulitan hidup terdorong untuk berhijrah ke Kota
Basrah. Yang dibayangkannya sebagai Sorga. Di kota ini dia
berkenalan dengan keluarga Said Sabir ia diangkat menjadi
anak, namun dibalik kebaikannya itu tersimpan niat jahat.
Rabiah akhirnya di jual sebagai hamba sahaya.
Kecantikan Rabiah dan kemerduan suaranya menjadikannya
bahan rebutan dikalangan saudagar kaya. la dibeli oleh tuan
Ishomuddin, namun tuan Kholil yang kalah dalam rebutan tak
tinggal diam. Dengan berbagai cara dia berusaha untuk
mendapatkan Rabiah. Tuan Ishomuddin ditipu, la dibunuh oleh
para penyamun dalam suatu perjalanan dagang. Rabiah
akhirnya pindah ketangan Kholil. Berbagai suka dan duka
dialami Rabia, dia terjerumus kelembah nista.
Dalam lembah itu ia diselamatkan oleh secercah cahaya
hidayah, ia mulai mempelajari Islam, lambat laun ia mulai
berubah menjadi wanita sufi yang zuhud. Selengakpnya dalam film ini....
19.02 | 2 komentar

MANDI WAJIB Dan adab-adabnya

- Terlebih dahulu mencuci kedua telapak tangan, lalu membasuh kemaluan dan telapak tangan digosokkan ke tanah atau ke dinding. Kemudian berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya), mencuci muka dan kedua hasta tangan, kemudian mengalirkan air di atas kepala sebanyak tiga kali. Kemudian mengalirkan air ke seluruh tubuh. Lalu mencuci kedua kaki. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
- Wanita berambut panjang boleh hanya dengan menyiramkan air tiga kali keatas rambutnya ketika mandi wajib. (Muslim)
- Sunnah mendahulukan badan sebelah kanan ketika menyiram badan. (Nasa' i)
- Boleh mandi wajib junub dengan berendam di dalam air, asalkan semua anggota badan terkena air. (Asy-Syafii)
- Dalam mandi wajib, air harus mengenai semua pori-pori badan kemudian meratakannya, sekaligus membersihkannya. (Tirmidzi)
- Diwajibkan mandi jika
• Dua kemaluan laki-laki dan wanita bertemu.
• Bermimpi sampai keluar mani. Sedangkan jika bermimpi, tetapi tidak keluar mani maka tidak diwajibkan mandi.
• Tidak bermimpi, tetapi keluar mani.
• Setelah berhenti dari keluar darah haidh.
• Setelah selesai dari nifas. (Tirmidzi)
- Boleh tidur sebelum mandi dalam keadaan junub, tetapi sebaiknya berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. (Tirmidzi)
- Cukup sekali mandi setelah menggauli beberapa istri ataupun beberapa kali. Akan tetapi, dianjurkan berwudhu lebih dulu sebelum melakukan yang kedua kalinya. (Tirmidzi)
- Boleh langsung mandi setelah berhubungan atau tidak langsung mandi,menangguhkannya hingga bangun dari tidur. (Nasa' i)
- Suami istri boleh mandi bersama dari satu bak air. Rasulullah saw. pernah melakukannya dengan istri beliau. (Nasa' i)
- Rasulullah saw. menolak memakai handuk setelah mandi. (Nasa' i)
- Usahakan menutup diri ketika mandi sehingga aurat tertutup. (Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa i). * Sebaiknya memakai kain basahan yang dikhususkan untuk mandi.
- Jangan mandi junub dengan masuk ke dalam air yang diam, yang nantinya air tersebut digunakan lagi oleh orang lain untuk mandi atau mencuci. (Muslim)
15.19 | 1 komentar

NERO: KISAH TRAGIS ANAK KORBAN PERANG


Film ini bercerita ttg kisah pilu Nero kecil dlm mempertahankan hidup ditengah peperangan. Perang bagi nero menuliskan luka yg sangat dalaim disetiap relung jiwa sang bocah tanpa dosa tsb. Dalam film ini adik-adik akan menjumpai sebuah penderitaan yg panjang; dan air mata yg harus dipaksa menetes setiap saat, karena nero harus
hidup tanpa ayah, ibu, dan betas kasihan. Saksikan selengkapnya dalam VCD ini.

Berminat Memiliki VCD ini silahkan menghubungi admin Telp/SMS di 085716863625
11.06 | 3 komentar

Ghadul Bashar


SEORANG ibu peserta pengajian nguda rasa alias curhat. Adiknya yang bersekolah di salah satu pondok pesantren putri bercerita, ada alumni yang sudah menikah datang ke pondok diantar suaminya. Teman-teman adiknya "heboh" ingin tahu seperti apa suami alumni itu. Karena beredar isu bahwa si suami alumni punya paras di atas rata rata. Si adik mengeluh prihatin, "Bukankah kita diperintah untuk menjaga pandangan Mbak?"
Manusia memang tempatnnya salah dan lupa. Makalah ini ditulis untuk menyegarkan kembali memori kita tentang menjaga pandangan. Kita tahu bahwa menjaga pandangan adalah wacana klasik dalam materi pembinaan. Selalu melekat dalam benak para aktivis Islam. Namun sayangnya, wacana tanpa penerapan menjadi sekedar wacana.

Menjaga atau menundukkan pandangan dalam bahasa Arab disebut "ghadhul bashar" yang berarti menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang lawan jenis yang tidak halal baginya, ia tidak mengamat-amati keelokan parasnya, tidak berlama-lama memandang apa yang dilihatnya. Singkat kata, menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk kita memandangnya.

Perintah menundukkan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina. Imam al-Bukhary berkata, "Makna dari ayat (an-Nuur: 30¬31) adalah memandang hal yang dilarang karena hal itu merupakan pengkhianatan mata dalam memandang." (Adhwa' al-Bayan 9/190).

Hukum menundukkan pandangan adalah wajib, bagi Muslimah yang sudah baligh, baik ia berjilbab atau belum berjilbab, bercadar atau tidak bercadar, menikah atau belum menikah. Namun, sesekali masih dijumpai fenomena memprihatinkan. Akhwat berjil-bab lebar tetapi masih suka mencuri-curi pandang. Atau yang bercadar, mungkin karena merasa dirinya sudah "tertutup," justru tak menjaga pandangan. Bagi yang sudah bersuami, mungkin karena merasa "aman", pandangannya kurang dijaga.
Rasa ingin tahu memang dimiliki hak semua orang. Allah mengaruniai perasaan itu kepada seluruh makhluk-Nya agar mereka bertambah iman dan ilmu. Namun kadangkala rasa itu salah jalur.

Godaan untuk mengetahui hal yang sejatinya tak penting, padahal banyak hal penting yang belum diketahui, sering mengusik. Godaan itu jelas bisikan syaithan. Kesadaran untuk meninggalkan yang tak berguna sebagai pertanda baiknya keislaman seseorang harus sering kita bangkitkan.

Mu'ahadatullah (mengingat perjanjian dengan Allah), muroqobatullah (merasa diri diawasi Allah), muhasabah (intropeksi diri), mu'aqobah (memberi hukuman bagi kelalaian diri) dan mujahadah (bersungguh sungguh) menjadi lima langkah yang dapat kita upayakan untuk menghindarkan kita dari sia-sianya amal.
Menundukkan pandangan, menjaga mata dan hati selalu harus dibiasakan. "Kebaikan adalah kebiasaan". Siapapun dan dimanapun. Wallahu a'lam.
08.29 | 1 komentar

Sia-Siakah Hidup Kita?

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 16 Februari 2012 | 13.21


Al-Quran yang mulia mengatakan bahwa semua manusia akan menjalani beberapa alam kehidupan.
Adapun alam kehidupan manusia yg pertama kali adalah alam roh. Di alam inilah Allah swt menciptakan roh manusia dengan warna putih bersih.
Kemudian selanjutnya manusia akan memasuki alam kehidupan yg ke dua, yaitu setelah rohnya itu ditiupkan Allah ke dalam rahim seorang ibu. Alam ini disebut juga sebagai alam janin.
Setelah cukup waktunya berada di alam janin, maka manusia akan lahir ke alam kehidupan yang ke tiga, yaitu alam dunia. Di alam dunia ini barulah manusia mengemban tugas dari Allah, yaitu mentaati “ATURAN MAIN” yang dibuat olehNya dan oleh RasulNya.

Bila manusia sering membangkang dengan tidak melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Allah, maka rohnya yang semula berwarna putih bersih itu dapat menjadi keruh, bahkan bukan tidak mungkin pula menjadi hitam.

Rasulullah saw bersabda:
“Hati manusia pertama kalinya adalah seperti cermin, bersih dan cemerlang. Ketika ia berbuat dosa, satu bintik hitam muncul, dan semakin banyak ia berbuat dosa, semakin banyak bintik hitam, sampai seluruh hatinya menjadi hitam, dan akhirnya tidak ada satu pagi atau satu malampun yang berlalu tanpa berbuat dosa” (HR. Al-Baihaqi)

Hudzaifah ra. mengatakan, Rasulullah saw. bersabda:
Ujian fitnah itu selalu ditawarkan ke dalam hati manusia, satu persatu bagaikan daun tikar sehelai demi sehelai, maka yang mana yang termakan oleh hati, maka akan berbintik hitam di dalamnya, dan tiap hati yang menolaknya berbintik putih, sehingga ada dua bentuk hati, yang putih bagaikan marmer putih yang berkilau, yang tidak terpengaruh oleh fitnah yang bagai­manapun juga selama adanya langit dan bumi, se­dang yang kedua hitam kelam bagaikan dandang (periuk untuk menanak nasi) yang terbalik tidak mengenal ma'ruf dan tidak menolak mungkar.

Abu Hurairah ra. mengatakan, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa akan berbintik hitam dalam hatinya, kemudian jika ia tobat dan menghen­tikan dosa itu, kembali bersih mengkilat hatinya, tetapi bila ia menambahnya, maka bertambah bintik hitamnya sehing­ga menutupi hatinya” maka itulah yang dinamakan Ar-raan yang tersebut dalam ayat: Kallaa bal raana alaa quluubihim maa kaanu yaksibun = Sekali-kali tidak demikian sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu akan menutup hati mereka (Qs. Al-Muthaffifiin 83:14)
(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah).

Dalam hadits dan ayat ini secara tegas Allah menyatakan bahwa dosa itu jika terus menerus dilakukan akan menutup hati, dan jika telah diliputi oleh dosa yang sedemikian Allah akan menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka sehingga tidak ada jalan untuk beriman dan tidak dapat terle­pas dari kekafirannya. Maka itulah yg disebut 'Khatamallahu alaa quluubihim wa alaa sam'ihim' (Al-Baqarah:7)

Tetapi sebaliknya bila manusia selalu menghindarkan diri dari perbuatan2 yang dilarangNya, maka rohnya akan tetap berwarna putih bersih. Dan bila manusia ini disamping menghindarkan diri dari perbuatan2 yang dilarangNya, ia juga taat melaksanakan segala perintah2Nya, maka rohnya akan berwarna putih bersih berkilau!

Kemudian setelah masa penugasan berakhir, yaitu saat manusia itu mati, maka manusia akan hidup di alam kehidupan yang ke empat, yaitu alam kubur atau alam barzah. Disinilah semua manusia menunggu komando dari malaikat Isrofil untuk kembali ke alam asalnya semula, yaitu menghadap Allah swt untuk mempertanggung jawabkan sampai sejauh mana ketaatannya dalam melaksanakan tugas yg diamanahkanNya itu.

Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah menegaskan hal ini :
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”
(Qs. Al-Qiyamah 75:36)

Salah seorang sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khatab ra. berkata,
“Hitunglah dirimu sebelum dihitung, dan timbanglah dirimu sebelum ditimbang”

Marilah kita renungkan dengan hati yg jernih bagaimana kira2 perbedaan antara warna roh kita ketika pertama kali diciptakan Allah. Bila warna roh kita pada waktu kembali itu tetap putih yaitu sama seperti pada saat pertama kali diciptakan Allah, ini berarti bahwa sia-sia saja kita diterjunkan ke alam dunia ini, apalagi kalau sampai berwarna hitam! Seharusnya kita kembali bukan dengan warna roh yang putih sebagaimana pertama kali diciptakan Allah, tetapi kita harus kembali dengan warna putih yang berkilau. Dan untuk membuat jiwa kita berkilau, tidak ada cara lain selain berjihad melawan nafsu agar kita selalu dapat taat pada perintahNya serta menjauhi segala laranganNya.

Mengenai hal ini ingin saya sampaikan sebuah analogi. Katakanlah ada seorang pengemis di kota Bandung memutuskan pindah ke Jakarta untuk merubah nasibnya. Bila sepuluh tahun kemudian ia pulang kampung kembali ke Bandung masih sebagai pengemis juga, tentu orang akan memandangnya sia2 saja perantauannya ke Jakarta. Demikian juga kita, bila warna roh kita saat kembali ke alam asal kita nanti berwarna putih seperti pada waktu pertama kali diciptakan Allah, apakah ini tidak berarti sia2 saja keberadaan kita di dunia, yaitu sama halnya dengan pengemis dari Bandung tadi yg sia2 saja datang ke Jakarta? Apalagi bila kita kembali ke alam asal kita nanti dengan warna hitam, tentu bukan hanya sia2, tetapi jelas ini adalah sangat konyol. Manusia yang bijak tentu akan berusaha pulang ke kampong asalnya sebagai perantau yg berhasil, yaitu dengan warna putih bersih dan berkilau!

Semoga renungan ini dapat mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kesucian jiwa sekaligus mengkilaukan jiwa sehingga keberadaan kita di alam dunia ini tidaklah sia-sia. Mari kita hidupkan semangat jihad untuk memerangi nafsu dan setan yang selalu mengajak kita mengingkari perintah-perintah Allah dan RasulNya.
Tanamkanlah dalam jiwa kita nasihat Rasulullah yang mulia,
“Sabar dari menahan nafsu itu berat, tetapi menahan siksa api neraka itu jauh lebih berat dari menahan nafsu”
13.21 | 1 komentar

Buku Panduan Tahsin Tilawah Al Quran dan Pembahasan Ilmu Tajwid

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 15 Februari 2012 | 22.13


Buku Panduan yang sekarang ada di tangan pembaca ini memuat tuntutan-tuntutan bagaimana membaca Al-Qur' an yang baik dan benar. Buku ini merupakan rekaman dari pengajaran yang telah dilakukan oleh penulisnya selama bertahun-tahun karena penulisnya merupakan praktisi yang mengajarkan cara baca Al-Qur' an yang Tartil di berbagai lembaga pendidikan. Dengan demikian, materi-materi yang terekam dalam buku ini telah diujicobakan pada berbagai kesempatan, sehingga keandalannya tidak perlu diragukan lagi." (Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, MA. Direktur Pasca Sarjana PT1Q, Jakarta)

"Buku Panduan ini memberi kemudahan dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an yang baik dan benar, lebih khusus bagi Imam shalat dan para Aktifis Pengajar Al-Qur'an yang bacaannya belum sesuai dengan kaidah Tajwid, karena Sistematika penulisanya sangat bagus, yang menunjukkan penulisnya adalah seorang Akademisi dan sekaligus seorang praktisi." (Prof. Dr. KH. Fathurrahman Rauf, MA. Rektor Institut Agama Islam [IAI] Al-Aqidah, Jakarta)

"Buku panduan ini mengajak kita untuk mendalami kembali bacaan Al-Qur'an dan memberikan pemahaman betapa penting membaca AI-Qur'an yang sesuai dengan pedoman Ilmu Tajwid, sehingga melahirkan bacaan AI-Qur'an yang Tartil, yang selama ini banyak disepelekan dan dilupakan oleh para pembaca Al-Qur'an. (Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Amin Aziz. Anggota Dewan Kurator PTIQ, Jakarta)

"Buku ini adalah usaha penulisnya untuk sedapat mungkin bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca melalui tabel-tabel yang memudahkan pembaca memahami seluk beluk persoalan yang ada pada satu bab tertentu. Namun, bagaimanapun bagusnya satu buku Ilmu Tajwid, tetap saja harus dibimbing oleh guru yang mahir dalam membaca Al-Qur'an." (Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA. Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an [IIQ] Jakarta)

"Alloh SWT sangat mencintai bacaan Al-Qur'an sebagaimana Ayat itu diturunkan. Untuk bisa membaca Al-Qur'an dengan Tartil harus bertalaqqi dan bermusyafahah kepada yang ahli dalam bidang itu dan memerlukan buku panduan. Buku ini sangat baik untuk dijadikan pedoman perbaikan bacaan Al-Qur'an bagi kaum Muslimin dan muslimat." (Dr. KH. Mushlih Abdul Karim, MA. Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta, Dosen LIPIA Jakarta)
Buku Panduan ini merupakan bentuk upaya dan usaha untuk menjaga kemurnian bacaan AI-Qur'an riwayat Hafsh, pada setiap bab dimulai dari pembahasan yang merujuk pada kitab Tajwid aslinya dan buku Tajwid yang lain, skema sebagai bentuk ringkasan pembahasan, dan disertai lembar latihan untuk akselerasi kualitas bacaan yang sesuai dengan kaidah Tajwid, sistematika penulisan buku seperti iii jarang dibahas dalam buku-buku tajwid sebelumnya." (Dr. KH. A. Muhaimin Zein, MA. Ketua Umum/Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra' Wal-huffazh [JQH])

"Buku ini merupakan goresan pena dari seorang praktisi yang telah mengikuti dan mengisi di berbagai pelatihan cara mengajarkan Al-Qur' an dan telah menerapkan ilmunya di berbagai lembaga pendidikan dan majlis-majlis ta' lim selama bertahun-tahun lamanya." (Dr. H. Ahmad Zein An-Najah, LC. MA. Dosen Pasca Sarjana UMS Surakarta, LIPIA Jakarta, STID Muhammad Natsir Jakarta)

"Umat Islam di dunia ini di saat membaca Al-Qur'an 85% pada umumnya xnemakai bacaan Riwayat Hafsh, dan di Negara-Negara Asean 100% memakai bacaan Riwayat Hafsh. Atas hadirnya buku panduan ini saya ikut senang dan bersyukur kepada Alloh SWT. Semoga buku ini menjadi pedoman untuk menjaga keaslian bacaan Al-Qur'an riwayat Hafsh & menjadi pedoman ntuk meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an bagi Qori & Qori'ah, Hafidz & hafidzah." (H. uammar ZA. Qori' terbaik tingkat Internasional thn 1981).
22.13 | 0 komentar

PEMBAHASAN TENTANG PSIKOLOGI


PENDAHULUAN

1. Sesuatu dari manusia yang mudah dikenal identitasnya adalah, bahwa manusia menampakkan kehadirannya di dunia ini sebagai kenyataan yang materiil, merupakan makhluk fisik. Seperti halnya makhluk hidup lainnya, unsur terpenting bagi terwujudnya makhluk manusia ini adalah, tanah, cahaya, air dan udara. Oleh karenanya hubungan komunikasi dan kontak antara manusia dengan alam lingkungannya menjadi serasi. Dari aspek fisiknya saja tampak manusia merupakan makhluk hidup tertinggi yang dapat kita jumpai di alam ciptaan Tuhan di dunia ini dan makhluk hidup yang tersusun paling kompleks dari aspek luarnya, lebih-lebih dari aspek dalamnya.

2. Manusia adalah satu-satunya model makhluk hidup yang kita kenal, yang mampu memproblemkan dirinya sendiri. Sejak kemunculannya di muka bumi ini ia sudah tertarik untuk mempersoalkan dirinya. Namun, hingga kini masih ada yang tersisa yang belum dapat dipahami, yang perlu diselesaikan melalui konsep atau teori lain. Dari bahan literatur yang ada yang mempersoalkan manusia, dunia ilmu tidak memasalah¬kan pertanyaan siapa hakikat manusia itu?

3. Tentang kejadian manusia-fisik Alkuran (Quran) menying¬kapkan prinsip-prinsipnya saja, yakni:
a. Dari saripati berasal dari tanah, kemudian ia di
b. jadikan air mani,
c. yang ditempatkan dalam tempat yang kokoh,
d. lalu dijadikan segumpal darah
e. selanjutnya menjadi segumpal daging
f. lalu tulang belulang yang dibungkus dengan daging
g. akhirnya dijadikan makhluk berbentuk (janin). (Al Mu'mi¬nun: 12 — 14).

Dunia ilmu pengetahuan menjelajahi masalah tersebut, dari materi ke materi secara eksperimental. Dalam perkem¬bangannya, cabang ilmu biologi menetapkan bahwa tubuh
manusia adalah sekias laboratorium yang ajaib. Kemudian, Kara ahli biologi sekarang banyak menumpahkan perhatian¬nya kepada sel, karena hampir semua kegiatan dan proses yang ditunjukkan oleh makhluk hidup dapat dicari dengan mempelajari struktur dan fungsi sel, sehingga dapat dinyatakan hahwa sel itu adalah kesatuan struktur, dan kesatuan fung¬sional dari kehidupan. Benda yang hidup, yang dengan ini cip¬taan menjadi wujud, disebut Plasma. Setiap sel yang hidup ber¬isi plasma ini. Dengan demikian menurut mereka, plasma adalah substansi dasar dari makhluk hidup. Dan unsur-unsur oksigen, karbon dan hidrogen merupakan tiga unsur yang paling menonjol pada plasma. Suatu pengamatan ilmiah menyatakan bahwa di dalam plasma terjadi kegiatan-kegiatan yang sarba menakjubkan dan merupakan teka-teki, dengan adanya gejala hidup selanjutnya. Lebih mendalam lagi, orang menerjuni selidiknya kepada plasma ini ternyata akan banyak dijumpai tabiat-tabiat yang serba tersembunyi yang tidak dapat di-mengerti dan diperkirakan, yang tidak dapat diungkap dan diikuti oleh ilmu pengetahuan, yaitu sesuatu yang bekerja pada makhluk hidup yang tidak terdapat pada benda mati.

Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam tubuh manusia menunjukkan adanya kekuasaan hukum yang mendalam dan teliti. Susunan materi memegang peranan yang begitu pen¬ting dalam ilmu pengetahuan, kecuali satu soal yang sampai sekarang belum dapat dijawab, yakni apa kekuatan dan siapa kekuasaan yang mengatur kerapian kerja menurut tujuan-tu¬juan tertentu hingga menjadi makhluk hidup yang disebut manusia itu.
4. Dengan mengamati proses kejadian embrio secara singkat itu, dan dilihat dari hukum bio-genitis, masalahnya tidak semudah seperti apa yang dapat kita ulas dengan kata-kata atau yang bisa kita teteskan dengan tinta walaupun seluruh perkem¬bangan dari benih menunjukkan pementasan materiil yang sederhana, namun sebenarnya mengandung teka-teki silang yang tak habis-habisnya. Dari kenyataannya terjadinya manusia¬fisik seperti apa yang diketengahkan di atas, belum berarti kita telah dapat menangkap isyarat bahwa manusia merupakan totalitas. Ungkapan biologis bahwa semua makhluk hidup adalah tersusun dari unsur-unsur kimiawi yang sama dan ber¬beda-beda pada kadarnya sudahlah jelas. Akan tetapi, apabila ditanyakan tentang kekuatan yang mengatur kerapian gerak unsur-unsur materiil itu, ilmu pengetahuan belum menegaskan. Dari kesamaan bahan materi yang menyusun semua makhluk hidup itu tentu ada perbedaan paling prinsip antara makhluk manusia dengan lainnya, yang kemudian oleh ilmu pengetahu¬an dikenal dengan sebutan psyche (jiwa). Alkuran (Quran) hanya menyatakan secara dasar bahwa kekuatan non-materiil itu namanya Nafs dan Roh

"Tidakkah manusia menyadari bahwa Aku telah menciptakannya sebelum ini, dan dia bukan sesuatu apa" (yang bisa disebut: Maryam: 67).

"Aku tidak mempersaksikan penciptaan langit dan bumf kepada mereka dan tidak juga penciptaan diri mereka" (Al Kahfi: 51)

"Kemudian Dia menyempurnakan kejadian-(fisik)nya, lalu Dia tneniupkan ke dalamnya Roh (ciptaan)-Nya, dan Dia mencip¬takan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur." (As Sajadah: 9).
21.30 | 0 komentar

ISTINJA Dan adab-adabnya


- Memasuki WC/kamar mandi dengan mulai melangkahkan kaki kiri lebih dahulu. (Tirmidzi)
- Masuk WC/kamar mandi disunnahkan membaca do'a: Artinya: "Ya Allah. aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita." (Bukhari, Muslim)
- Keluar dari WC dengan mulai melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Dan membaca do'a keluar WC, yaitu: Artinya: 'Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bag Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkan aku." (Tirmidzi, Nasa' I, lbnu Majah).
- Do'a dibaca sesudah keluar dari WC, jangan dibaca di dalam WC/kamar mandi WC adalah tempat berkumpulnya syetan, lebih lama di dalamnya tanpa keperluan yang sebenarnya adalah suatu mudharat, maka disunnahkan jangan berlama-lama di WC. Apabila sudah selesai hajatnya, secepatnya keluar dari WC. (Nasa' i, Ibnu Majah)
- Jangan membawa lafadz 'Allah' dan 'Muhammad' atau ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam WC. (Nasai)
- Dianjurkan memakai tutup kepala ketika di dalam WC. Dan baru membukanya jika perlu membasahi rambut kita. (lbnu Sa'aci)
- Ketika membuang hajat, sebaiknya jangan menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Menghadaplah selain ke kedua arah tadi. Boleh membelakangi atau menghadap kiblat, bila di dalam bangunan. Itu pun bila terpaksa. (Bukhari, Nasa' i, Muslim, Tirmidzi)
- Buang air besar atau kecil hendaknya dengan berjongkok, jangan dengan berdiri. Buang air dengan berdiri adalah perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa' i)
- Hendaknya hanya menggunakan tangan kiri ketika membersihkan kemaluan dalam beristinja. Jangan menyentuhnya dengan tangan kanan. (8ukhari, Nasa' Muslim, Tirmidzi)
- Jangan berbicara di dalam WC. Sangatlah tidak beradab berkomunikasi ketika berada di dalam WC. (Abu Dawud, Ibnu Majah)
- Tidak boleh boleh berdua di dalam kamar mandi/WC, kecuali suami istri. Rasulullah pernah mandi bersama istrinya dalam satu bejana mandi, (Abu Dawud, lbnu Majah)
- Tidak boleh menjawab salam ketika di WC. Untuk menjawabnya cukup dengan suara. (Muslim, Tirmidzi, Nasa' i)
- Benda-benda yang dibolehkan untuk beristinja, yaitu; air, batu, tanah liat yang keras dan kertas. Digunakan sebanyak tiga kali atau sejumlah yang ganjil. (Bukhari, lbnu Majah)
- Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat lewat orang, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah, atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci. (Muslim, Tirmidzi)
- Boleh buang air dengan menggunakan pispot. Rasulullah saw. biasa meletakkannya di dekat tempat tidur beliau. (Hasa i)
- Tidak boleh beristinja memakai tulang atau kotoran binatang yang sudah mengering. Rasulullah saw. menyatakan benda-benda itu adalah makanan bagi jin. (Muslim, Nasa i)
- Di dalam kamar mandi/WC jangan sambil bicara, jangan sambil makan, jangan bernyanyi dan bersiul. (Abu Dawud, Ibnu Majah)
- Disunnahkan menghemat air, gunakan secukupnya saja. Rasulullah saw. biasa memakai air dengan menggunakan ukuran. Seperti; ukuran air untuk wudhu, untuk buang air kecil, dan untuk mandi. (Tirmidzi)
- Hati-hati dengan cipratan air kencing. Itu adalah salah _satu bahaya kencing berdiri. Banyak orang disiksa di dalam kubur, karena tidak berhati-hati ketika istinja dan tidak sempurna ketika berwudhu. (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah)
- Jangan menampakkan aurat ketika buang air, usahakan bertutup diri atau pergi menjauh agar tidak terlihat oleh umum. (Muslim, Tirmidzi)
- Laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama laki-laki dan wanita tidak boleh melihat aurat sesama wanita. (lbnu Asakir)
- Makruh kencing di tempat mandi. Ditakutkan sisa air kencing akan mengenai badan orang yang mandi. (Tirmidzi)
- Jangan menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk istinja
- Macam-macam Najis:
• Kencing manusia. (Muttafaqun 'alaih)
• Wadi ; cairan yang keluar mengiringi kencing. (lbnu Mundzil)
• Kotoran manusia. (Bukhari)
• Madzi ; cairan yang keluar karena dorongan syahwat. (Bukhari)
• Darah haidhinifas.
11.06 | 1 komentar

SELAMAT ANTI TELAH TERPILIH


Ketika ta'aruf, nama kita mungkin menjadi salah satu kandidat dalam
daftar calon istri yang telah dibuat suami kita. Dan akhirnya, setelah melalui banyak fase dari mulai berfikir, mempertimbangkan, istikharah, hingga kemudian mantap memutuskan. Kitalah kandidat terpilih. Mengalahkan rival-rival akhawat lain yang mungkin telah masuk dalam proses seleksi calon istri yang telah digelar. Sungguh sebuah keputusan yang besar!

Memilih sosok wanita dengan standar kriteria yang telah termaktub dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah bukanlah hal mudah. Wanita yang shalihah, yang taat pada suami, yang menjaga diri dan harta suaminya, memelihara kehormatan dan harga dirinya, berakhlak mulia dan murabbiyah yang baik bagi anak¬anaknya, beserta sederet kriteria lainnya. "Pilihlahlah tempat-tempat yang baik untuk menyemaikan nuthfah kalian" (HR. Daruquthni), demikian kata Rasulullah

Finally, pilihan jatuh atas diri kita. Suami memilih kita bukannya tanpa alasan. Pastinya, kita telah memenuhi standar idealnya sebagai seorang istri, yang akan mendampingi perjalanan hidupnya, mengarungi lautan ujian dan bahtera rumah tangga. Memilih kita sebagai tempat melabuhkan dirinya, mencurahkan perasaan dan hasratnya, menaburkan benih dan menyemainya. Karena itu, selamat kita telah terpilih!
Wanita pun Menentukan

Sebagai pihak wanita, kita memiliki otoritas. Untuk menentukan persetujuan atas calon suami yang datang. Menerima atau menolak. Semua opsi ini ada di tangan kita. Ketika kita memutuskan untuk mengatakan YA, juga bukan suatu hal yang mudah. Karena maknanya, kita siap untuk menyerahkan diri kita seutuhnya. Siap dengan segala kewajiban dan tanggung jawab yang nantinya harus kita tunaikan. Plus, siap untuk menerima ke-qawwam¬an suami dan memenuhi haknya beserta segala wewenangnya. Keputusan kita untuk menerima pinangannya, berbuah amanah yang wajib kita penuhi. Amanah sebagai seorang istri, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah

Menjadi istri shalihah yang ideal bagi suami pasti menjadi harapan tiap wanita. Apalagi menjadi istri yang taat dan shalihah itu sendiri merupakan tuntutan sekaligus tuntunan agama. Pada tataran konsep, memang mudah dipelajari dan dijabarkan tentang A to Z-nya profil istri shalihah yang penuh pesona. Namun, pada wilayah aplikasi jelas tak semudah yang dibayangkan.

Pada beberapa situasi dan kondisi, kita akan dihadapkan pada hal-hal yang menguji kesabaran dan ketahanan diri untuk benar-benar menjadi sosok istri shalihah di hadapan Allah dan bagi suami. Sekali lagi, menjadi istri yang shalihah¬pada praktiknya tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Mungkin itulah sebabnya balasan dan pahala bagi istri shalihah luar biasa besarnya.
Suami, sebagai sosok yang menjadi " ujian" bagi istri, merupakan faktor penentu dalam kualifikasi nilai yang aka!) didapat seorang istri. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, pernah datang kepada Rasulullah SAW seorang wanita untuk ,suatu keperluan. Setelah keperluannya terpenuhi, Rasulullah bertanya, "Apakah Engkau mempunyai suami?" Diapun menjawab, "Ya!" Beliau bertanya lagi, "Bagaimana Engkau memperlakukan dirinya?" Wanita inipun menjawab, "Aku selalu memenuhi semua haknya kecuali hal-hal yang aku tidak mampu melakukannya." Selanjutnya Rasulullah bersabda, "Ingatlah, bagaimana Kamu memperlakukannya, maka hal itulah yang akan menentukan dirimu ke surga atau neraka." (HR. Ahmad).

Karena itulah, istri seharusnya berupaya maksimal dan berusaha optimal dalam melaksanakan tanggung jawab Ilan kewajibannya sebagai istri, serta memenuhi hak suami dengan segenap kemampuannya. Hal ini disebabkan begitu besarnya hak suami atas diri istri. "Tidaklah diperbolehkan seseorang bersujud kepada orang lain. Seandainya bersujud kepada orang lain diperbolehkan, niscaya aku akan perintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami atas dirinya" (HR. Ahmad dan An¬Nasa'i). Sungguh sebuah amanah yang herat tentunya.

Karena itulah, ketika kita menyandang status sebagai istri, amanah itu masih melekat erat di pundak kita. Amanah yang masih harus kita tunaikan. Saat ini, dan selamanya! Selama Allah menghendaki kita mendampingi suami kita.

Amanah yang kita emban memang bermacam-macam. Dan salah satu amanah ang paling besar dalam kehidupan anita, adalah amanah sebagai seorang ISTRI. Suami telah memilih kita. Dan kita telah mengiyakannya. Maka kita harus memnuhi kewajiban kita terhadap suami dan menunaikan hak-haknya atas diri kita. Sekilas memang terdengar mudah. Namun jika mengaplikasikannya dalam kehidupan, ternyata butuh perjuangan. Sehingga, sudahkah amanah ini terlaksana dengan sebaik-baiknya?

Butuh Bantuan Suami

Sayangnya, banyak suami yang tak mau tahu tentang beratnya tanggung jawab istri dalam memikul amanah tersebut. Banyak pula suami-suami yang tak ambit pusing tentang bagaimana sebenarnya perasaan dan curahan hati sang istri terhadapnya. Padahal, suamilah sosok yang menjadi obyek utama dalam amanah seorang istri. Tentu saja amanah tersebut akan terasa lebih ringan dan mudah bagi istri, jika suami bisa secara kooperatif membantu istri merealisasikan amanah itu. Apalagi, jika suami mau berempati terhadap tugas dan tanggung jawab istri. Cukuplah Rasulullah menjadi teladan bagi para suami.

Oleh karena itu, suami setidaknya mencoba untuk mengerti dan memahami hal-hal yang menjadi curahan hati dan perasaan istri terhadap dirinya. Jika laki¬laki dominan logikanya, maka wanita dominan perasaannya. Dengan demikian, suami hendaknya mengerti bagaimana perasaan istri atas sikap dan kata-katanya. Sikap yang kasar dan kata-kata yang tidak mengenakkan, akan dapat menusuk hati dan perasaan istri. Jika suami menuntut istri supaya berkata lembut dan mesra kepadanya, maka istri secara tabiat juga berharap suami dapat menggunakan "bahasa perasaan" ketika menghadapi istri. Bagaikan tulang rusuk yang bengkok, istri akan "patah" jika suami keras dan kasar padanya.
09.58 | 1 komentar

Perjalanan Panjang


Pada suatu waktu. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazim, yaitu satu-satunya sahabat Rasulullah saw. Yang masih hidup. Kepada Abu Hazim, Khalifah menanyakan tentang bagaimana keadaan seseorang itu pada waktu ia akan meninggal dunia. Maka Abu Hazim pun berkata : “Keadaan orang yang akan meninggal dunia itu ada dua macam. Pertama, seperti perantau yang dipanggil pulang ke kampong halamannya untuk menyaksikan hasil kirimannya yang sudah dibuatkan rumah yang bagus dengan taman yang indah. Foto mengenai semuanya itu telah dikirimkan kepadanya sebelum dia berangkat. Kita dapat bayangkan bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau, tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya itu. Apalagi dikhabarkan pula kepadanya, bahwa kedatangannya nanti akan disambut oleh masyarakat dengan riang gembira sebagai perantau yang berhasil. Adapun keadaan yang kedua, adalah seperti penjahat yang lari dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa, dan dilemparkan dengan kejam ke tempatnya semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.”

Mendengar penjelasan Abu Hazim itu, kontan Khalifah menangis tersedu-sedu sambil berdoa dengan syahdu : ‘Ya Allah ! Janganlah Engkau jadikan aku di waktu kembali kepada-Mu seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudia tertangkap kembali’.

Kelompok pertama, menggambarkan orang-orang yang meyakini bahwa suatu waktu mereka akan kembali kepada Allah, mereka berusaha sekuat tenaga menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang amat jauh di alam akhirat. Bekal itu ialah amal saleh dalam jalur hablum-minallah dan jalur hablum-minannas.

Kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai menyiapkan perbekalan, umur dihabiskannya untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka gigih mencari fasilitas demi memuaskan kebutuhan nafsu, seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat, memiliki rumah seperti istana dan mobil-mobil mewah yang kesemuanya itu hanya untuk prestise saja. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia ini dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki.

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al-Baqarah: 212)

Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah: 126)

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. (An-Nuur:39)

Seorang ulama besar Islam, Imam Ghazali menuturkan suatu kiasan yang akan dialami oleh setiap manusia di alam akherat nanti. Beliau bertutur setiap manusia kelak akan melintasi jembatan yang dibawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan shiratal mustaqim. Kelak akan ada yang melewatinya secepat kilat, ada yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun disamping itu ada pula yang hanya berjalan biasa, atau merangkak bahkan ada pula yang hangus menjadi arang.Ada pula yang tersandung hingga terjatuh kedalam neraka. Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia yaitu apakah selalu taat atau sering membangkang pada aturan-aturan Allah SWT.

Shiratal mustaqim bukanlah jembatan seperti di dunia yang dapat ditempuh dengan kekuatan fisik atau kaki. Tetapi jembatan ini hanya dapat diseberangi dengan kekuatan hati. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh. Sedangkan hati yang selalu taat pada aturan-aturan Allah SWT ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung.

Sekali lagi yang perlu kita ingat adalah perjalanan kita masih panjang. Oleh karena itu marilah kita cek kembali perbekalan amal kita masing-masing. Jangan sampai nanti kita terpeleset pada waktu meniti jembatan, sebagaimana yang dikiaskan oleh Imam Ghazali di atas.
05.41 | 1 komentar

Berserah Diri


Allah berfirman dalam Al-Quran surat Lukman ayat 22, yang Artinya.
“Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada allah sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh .Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan “

Yang dimaksud dengan berserah diri ialah menyerahkan jiwa seutuhnya kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa dia yang Maha Suci dan Maha Pengatur pasti memilihkan yang terbaik bagi manusia. Berserah diri bukanlah berarti mengabaikan usaha tetapi jusru harus berupaya sekuat kemampuan yang ada. Gambaran orang yang berserah diri adalah seperti orang yang menggantungkan jiwanya pada Arasy Tuhan, sementara kaki nya menapak dibumi. Orang yang berserah diri, ikhlas menerima segala ketentuan -musibah ataupun nikmat- yang dipilihkan Allah baginya. Yakin bahwa Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan mungkin bertindak sewenang-wenang ataupun menganiayai hamba-Nya.

Untuk dapat berserah diri, diperlukan sikap mental dan positif. Dasarnya yaitu, Kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Meyakini, bahwa ketentuan apapun yang tetap kan-Nya bagi kita, merupakan pilihan yang terbaik, yaitu sejalan dengan doa yang selalu kita mohonkan pada setiap shalat ,yaitu ihdinashshirathal mustaqim. Ingatlah kembali penegas Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 51,
”Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiayai hamba-Nya.”

Yakinlah, bahwa kejadian yang menurut pendapat kita baik, sesungguhnya belum tentu benar menurut kacamata Allah . Demikian juga kejadian yang kita anggap buruk, belum tentu salah dalam pandangan Allah. Pengalaman telah banyak membuktikan, dibalik kejadian buruk yang menimpa, terhadap hikmah yang berharga. Allah menegaskan hal ini dalam surat Al-Baqarah Ayat 216:
“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal kiamat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Seorang ahli hikmah mengatakan “Janganlah kita memusatkan pandangan hanya pada tahi lalat yang ada di wajah seorang; karena tahi lalat itu pasti akan nampak buruk; tetapi pandanglahwajah orang itu secara keseluruhan, kita akan melihat justru tahi lalat itulah yang menjadi unsure pertama kecantikan atau ketampanannya!”
Bagi orang yang berserah diri, Allah telah berjanji dalam Al-quran surat Ath-Thalaq Ayat 3 :
“Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (memeliharanya).”

Demikian Rasululah saw. dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Akhamad , Tirmidzi, Nasa`I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban, bersabda:
“Jika kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar benarnya taqwa, niscaya dia menjamin rezekimu sebagaimana dia menjamin kebutuhan burung yang terbang di waktu pagi dengan perut kosong ,dan pulang di waktu sore dengan perut kenyang.”
Kita akan mudah berserah diri, bila kita haqqul yaqin bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan awal . kehidupan yang amat singkat . kehidupan yang penuh dengan kesenangan yang menipu, yaitu sebagaimana yang dimaksud Allah dalam Al-quran pada surat Hadiid ayat 20.

Adapun indikator keberhasilan dari berserah diri, yaitu tidak adanya rasa was-was, khawatir ataupun kecewa; tetapi yang ada adalah ucapan yang penuh rasa syukur ‘alhamdulillah’ ataupun penuh rasa ikhlas ‘innalillahi wa innaillahi rojiun’; sejalan dengan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 112 :
“….barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Jelaslah bagi orang yang berserah diri, ia tidak akan mengeluh atau protes kepada Allah atas ketentuan yang ditetapkan kepadanya. Tindakan yang dilakukannya hanya semata-mata karena taat mematuhi perintah-Nya belaka. Dia berlaku baik, bukan sebagai balasan karena orang berlaku baik kepadanya; tetapi kebaikan itu dilakukannya semata-mata karena Allah memerintahkannya untuk berbuat bebajikan. Pandangan bathin telanjang sebagaimana adanya, tidak ada buruk sangka. Lirikannya tanpa disertai emosi. Jiwanya tidak terguncang oleh adanya stimulant baik yang berasal dari dalam jiwanya sendiri, maupun yang berasal dari lingkungannya. Dia dapat merasakan kaya tanpa harta, sakti tanpa ilmu.

Kunci agar dapat berserah diri kepada Allah yaitu kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Berusahalah dahulu dengan segenap kemampuan yang ada, kemudian serahkan ketentuan hasilnya kepada-Nya. Apa pun hasil yang diperoleh dari usaha kita itu, yakinlah itu merupakan yang terbaik atau yang paling sesuai dengan kebutuhan kita saat ini, yaitu sejalan dengan ihdinashshirathal mustaqiim yang selalu kita minta pada setiap shalat. Hendaknya pula kita ingat, bahwa musibah yang menimpa bukanlah untuk ditangisi, tetapi merupakan isyarat dari-Nya agar kita segera berbenah diri, melalukan instospeksi adakah aturan main-Nya yang kita langgar. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 49, yang artinya :
“…bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan musibah kepada mereka disebabkan sebagaian dosa-dosa mereka…..”
Dan surat An-Nisaa’ ayat 79 :
“Apa saja nikmat yang amu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…..”

Dengan berserah diri, insya Allah, kita akan terhindar dari segala macam bentuk kekecewaan. Terlebih lagi, urusan kita yang lain pun akan di mudahkan-Nya.
Demikiankanlah yang dapat disampaikan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan kita mampu untuk menjadi umat Muhammad yang selalu berserah diri kepada Allah, menggantungkan harapan hanya kepada Allah, serta meyakini bahwa Allah itu tidak kejam. Ia memutuskan segala sesuatunya sesuai dengan kebutuhan yang terbaik bagi kita. Apalagi, jeles-jelas Rasulullah saw telah beramanat kepada kita,”Janganlah kamu mati melainkan baik sangka terhadap Allah.”
05.27 | 2 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung