Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

MENYIKAPI BENCANA ALAM

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 29 Oktober 2010 | 22.57


Setelah berbagai MUSIBAH menimpa negeri kita,
Marilah kita menengok bait syair Ebiet G. Ade, semoga mendapat Hikmah :

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat..

Singkirkan debu yang masih melekat..

Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya..

Adalah Dia di atas segalanya..

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh

Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepada-Nya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya
hooo…hooo....hooo

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum…ho..
du..du…du..du..du..
du..du..du..du..
oh… ho…ho…ho…
du..du..du..du..
Berubahlah agar Dia tersenyum

Semoga saudara-saudara kita yang terkena musibah diberi ketabahan,
yang meninggal diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala,
dan kita yang tidak terkena musibah mendapat HIKMAH buat kehidupan kita agar:

Berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Dan berusaha agar Dia tersenyum...


MENYIKAPI BENCANA

Baru baru ini, saudara-saudara kita di jawa tegah dan DIY dilanda musibah bencana alam yang maha dasyat menyusul rentetan musibah besar yang dialami bangsa Indonesia setelah tsunami di Aceh, gempa di Nias dan mereka pun kini masih harus bersiap-siap menghindari lava panas gunung Merapi.

Manusia di muka bumi ini adalah khalififah, yang diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola, merawat dan mendaya gunakan dengan sebaik-baiknya, apabila manusia sebagai khalifah tak mumpu mengelolanya dengan baik maka akan munculah musibah-musibah dari hukum alam ini yang susah sekali untuk mengelakkannya. , sekedar contoh apabila manusia membabat habis hutan maka yang terjadi adalah banjir besar yang bisa meluluh lantakan orang yang tak bersalah sekalipun.

Namun disana terdapat juga musibah yang tidak disebabkan oleh ulah manusia dalam mengelola bumi, Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QSFushshilat/41:16).

Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba'/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10 atau yang baru saja menimpa saudara-saudara kita di jawa tengah ketika lempengan-lempengan bumi bergeser maka terjadilah gempa yang tidak terduga.

Bencana seperti ini adalah merupakan ujian bagi kita semua, karena musibah ini telah menimpa tidak saja bagi orang yang berdosa tapi juga bagi orang yang beriman. Mereka menanggung penderitaan yang sama, marilah kita menghindarkan anggapan bahwa ini merupakan azab atas dosa-dosa yang diperbuat oleh para korban sendiri., disaat kita menganggap ini azab, maka bagi korban yang menderita akan mendapatkan kesusahan dua kali, pertama musibah itu sediri dan yang kedua adalah suudlon kita, tentunya ungkapan-ungkapan itu akan menyudutkan bagi yang terkena musibah. Cara kerja azab Tuhan di dalam Alquran hanya menimpa kaum yang durhaka dan tidak menimpa atau mencederai orang-orang yang shaleh dan taat pada Tuhan. Sedangkan cara kerja mushibah dan bala tidak membedakan satu sama lainnya.

Memang telah terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang azab umat—umat terdahulu Bentuk azab itu antara lain:
1) banjir besar (mungkin ini gelombang tsunami pertama) seperti yang ditimpakan pada umat Nabi Nuh;
2) bencana alam dahsyat berupa suara yang menggemuruh seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Syu'aib;
3) tanah longsor dahsyat seperti yang ditimpakan kepada umat Nabi Luth;

Meski demikian Secara historis, Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang tidak pernah sekalipun mendoakan ummatnya agar celaka. Dia tidak pernah menghadapi kondisi psikologis yang sangat mengecewakan dan menyerah dalam berda’wah pada umatnya, Maka, dia tidak pernah berdoa minta azab kepada Allah bagi kaum-kaumnya yang tidak taat.

Musibah adalah suatu keniscayaan yang melanda semua manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Perasaan takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, sampai kekurangan buah-buahan yang dibutuhkan, selalu menyertai mereka yang terkena musibah.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ (البقرة155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (البقرة156) أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُهْتَدُونَ (البقرة157)
''Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.'' (QS Al-Baqarah (2): 155-157).

Maka, bagaimana kita harus menyikapi musibah yang memang diluar kemampuan manusia untuk mengelolanya?

• Pertama : kita maknai bahwa peristiwa ini semua adalah semata-mata ujian dari sang maha kuasa atas seluruh alam semesta ini, dan ketika kita bisa melaluinya maka Allah akan menaikkan derajat keimanan kita. Seperti sabda Rasulullah SAW, ''Siapa yang akan diberi limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu.'' (HR Bukhari Muslim).

• Yang kedua : Semua ujian haruslah kita hadapi dengan kesabaran,karena kesabaran adalah sebuah tanda lulusnya sebuah ujian, seperti pada sebuah hadis : ''Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman seluruh perkaranya menjadi baik. Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu membawa kebaikan baginya. Dan ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya.'' (Al-Hadis).

• Yang ketiga : Bahwa seberat apapun ujian yang berupa musibah alam raya ini, kita yakin Allah pasti sudah proprosional dalam mengujinya dan tidak akan melebihi dari kesanggupan dalam menjalaninya bagi orang yang tertimpa.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (البقرة286)
''Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.'' (QS Al-Baqarah (2): 286.

• Keempat : Apapun bentuk musibah yang di derita oleh seorang muslim,baik itu berupa kesususahan, penderitaan maupun penyakit, Allah akan menghapus sebagian kesalahan dan dosa, dengan demikian derajat para korban bencana akan mulia, bagi yang meninggal dunia dia akan mati syahid dan bagi yang masih hidup tentunya dengan kesabaran atas penderitaan itu Allah akan hapus sebagian kesalahan dan dosa dosanya.

• Kelima : bagi kita yang tidak secara langsung mengalami musibah itu, hendaknya kita jadi peristiwa itu sebagai momentum untuk menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah, sehingga akan menguatkan iman kita pada sang pencipta alam semesta.

Marilah kita bayangkan apabila musibah itu menimpa diri kita sendiri, keluarga kita, atau temen-teman kita, tentunya kita akan menderita dan susah menjalani cobaan besar ini. Maka marilah kita bantu para korban bencana semaksimal mungkin karena sekecil apapun bantuan itu akan sangat berharga sekali bagi kehidupan para korban yang masih hidup. Kita berharap musibah ini akan membawa kebaikan-kebaikan dalam ridlo Allah.

KITA semua berduka atas musibah ini. Kita semua harus mohon ampun atas semua dosa. Namun, kita tidak boleh mengeluh dan bersedih berkepanjangan serta kehilangan harapan pada Tuhan Sembari bertobat dan mohon petunjuk Tuhan, mari kita baca hikmah dan pembelajaran dari musibah ini.

Sumber: Pesantrenvirtual.com
22.57 | 0 komentar

EMPAT ANUGRAH yang bisa MEMBAWA DERITA

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 26 Oktober 2010 | 22.26

Anda pasti MELIHAT dan berTANYA...

BANYAK orang yang INGKAR kepada Allah...
Tetapi mereka HIDUP MAKMUR dan BEBAS.
BANYAK orang yang menSEKUTUkan Allah...
Tetapi mereka TIDAK diHUKUM oleh Allah dengan SEGERA.
BANYAK orang yang TIDAK SHOLAT dan berZAKAT...
Tetapi mereka HIDUP MEWAH di DUNIA...

Dan banyak orang yang berIMAN dan berTAKWA...
Tetapi mereka hidup di dalam PENJARA.
Banyak orang yang SHOLEH berAKHLAQ MULIA...
Tetapi mereka hanya hidup SEDERHANA dan seADAnya...

Sebagian orang yang tidak berHIKMAH mengatakan Allah tidak ADIL...
Mengapa orang-orang yangINGKAR kepada Allah TIDAK diHUKUM
Seperti kaum Nabi Nuh, kaum ’Ad, kaum Tsamud, kaum Nabi Luth dsb.

"Maka tidaklah menjadi peTUNJUK bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami memBINASAkan umat-umat SEBELUM mereka, padahal mereka berJALAN (di bekas-bekas) tempat TINGGAL umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berAKAL." (QS. Thaahaa, 20: 128) !

"Maka masing-masing (mereka itu) Kami SIKSA disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya HUJAN BATU kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa dengan SUARA yang KERAS yang mengGUNTUR, dan di antara mereka ada yang Kami BENAMkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami TENGGELAMkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak mengANIAYA mereka, akan tetapi MEREKAlah yang mengANIAYA diri mereka sendiri." (QS. Al 'Ankabuut, 29: 40) !

Sahabat Hikmah...
Ummat Nabi Muhammad berBEDA dengan ummat Nabi terdahulu,
Ummat terdahulu langsung mendapat BALASAN di DUNIA...
Tetapi Ummat Nabi Muhammad (sekarang) diberi TANGGUH...,
Jadi jangan BANGGA bila berbuat DOSA...
Dan Allah masih membukakan pintu-pintu RIZKI.
Jangan BANGGA bila berbuat DOSA...
Dan Allah masih memberikan keSEHATan BADAN.
Jangan BANGGA bila berbuat DOSA...
Dan Allah tidak memperLIHATkan DOSA-DOSA semasa di DUNIA.
Jangan BANGGA bila berbuat DOSA...
Dan Allah tidak mengHUKUMnya di DUNIA.

Sa'ad bin Hilal Rahimullah pernah berkata ;
" Bila manusia ( umat Muhammad ) berbuat DOSA,
maka Allah TETAP memberikan 4 ANUGERAH kepadanya yaitu :
1. Dia tidak terhalang untuk mendapatkan RIZKI.
2. Dia tidak terhalang untuk mendapatkan keSEHATan BADAN.
3. Allah tidak akan memperLIHATkan DOSAnya semasa di DUNIA.
4. Allah tidak mengHUKUMnya di DUNIA
.
Karena ANUGERAH tersebut bisa membawa DERITA...
Bila tidak dimanfaatkan dengan seBENARnya...
Bila tidak berSYUKUR dan berTAUBAT...
Bila tidak digunakan untuk keBAIKan dan keTAKWAan...

Jadi janganlah SILAU melihat orang yang berBUAT DOSA...
Tetapi Allah membukakannya pintu RIZKI,
Allah memberikannya keSEHATan BADAN,
Allah masih menjaga keMULIAannya,
Mereka BEBAS bergerak di DUNIA,
Dan Allah tidak mengHUKUMnya dengan SEGERA.

Allah swt berfirman kepada Nabi Muhammad saw :
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh keBEBASan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri.Itu hanyalah keSENANGan sementara, Kemudian tempat tinggal mereka ialah JAHANNAM; dan Jahannam itu adalah tempat yang seBURUK-BURUK-buruknya.” (QS. Ali Imran : 196-197)

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“ Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian TANGGUH kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya berTAMBAH-TAMBAH DOSA mereka; dan bagi mereka ADZAB yang mengHINAkan.” (QS. Ali Imran : 178)

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami berSEGERA memberikan keBAIKan-keBAIKan kepada mereka? Tidak, Sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mukminun : 55-56)

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Kehidupan DUNIA dijadikan INDAH dalam pandangan orang-orang KAFIR, dan mereka memandang HINA orang-orang yang berIMAN. Padahal orang-orang yang berTAKWA itu lebih MULIA daripada mereka di HARI KIAMAT. Dan Allah memberi RIZKI kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. Al Baqarah : 212)

Dan Allah swt berfirman tentang orang kafir :
وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Dan Aku memberi TANGGUH kepada mereka. Sesungguhnya RENCANA-Ku amat TEGUH.” (QS. Al A'raf : 183)

وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ
“Dan sekiranya bukan Karena hendak mengHINDARi manusia menjadi UMAT yang SATU (dalam keKAFIRan), tentulah kami BUATkan bagi orang-orang yang KAFIR kepada Tuhan yang Maha Pemurah LOTENG-LOTENG PERAK bagi RUMAH mereka dan (juga) TANGGA-TANGGA (PERAK) yang mereka menaikinya.” (QS. Az Zukhruf : 33)

Jadi bila kita telah LALAI dan berBUAT DOSA...
MANFAATkanlah 4 ANUGERAH Allah kepada Ummat Nabi Muhammad tersebut,
Untuk berTAUBAT dan mperBAIKi diri serta berAMAL SHOLEH...
Karena sesungguhnya 4 ANUGERAH tersebut adalah KASIH SAYANGnya...
Buat orang yang berTAUBAT dan berTAKWA.
Dan karena sesungguhnya 4 ANUGERAH tersebut adalah PENANGGUHAN Allah...
Buat orang yang TETAP berDOSA agar SEMAKIN MERANA di NERAKA.

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (berIMAN) hendaklah ia berIMAN, dan barangsiapa yang ingin (KAFIR) biarlah ia KAFIR". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang ZHALIM itu NERAKA, yang GEJOLAKnya MENGEPUNG mereka. Dan jika mereka meminta MINUM, niscaya mereka akan diberi MINUM dengan AIR seperti BESI yang menDIDIH yang mengHANGUSkan muka. Itulah MINUMan yang paling BURUK dan TEMPAT ISTIRAHAT yang PALING JELEK.” (QS Al-Kahfi :29)

Allahumma shalli ’ala Muhammad
Wallahu ’alam bi showab
Semoga mendapatkan HIKMAH yang baanyak.
22.26 | 0 komentar

ALKUBRO : Literatur Digital & Media Pembelajaran Revolusioner


PINTAR INSTAN tanpa Guru kini bukan lagi hal mustahil. Dengan teknologi canggih siapapun bisa mewujudkannya.





Sebuah Program yang sangat layak dimiliki oleh setiap muslim dari yang awam hingga Alim/peneliti baik untuk koleksi pribadi, hadiah ataupun warisan untuk generasi.

INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI:
021-99187391
081319107800
08.38 | 0 komentar

Mekah 2020 Mendatang

Written By Rudi Abu azka on Senin, 25 Oktober 2010 | 15.09


Saksikan Kedahsyatan Kota Mekkah Tahun 2020

Menara Abraj Al Bait adalah sebuah kompleks bangunan yang terletak di kota Mekkah.

Kompleks bangunan ini dirancang oleh para Arsitetek dari Dar Al Handasyah Architects dan pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh Saudi Bin ladin Group, dimulai pada tahun 2004.

Diperkirakan akan selesai pada tahun 2015 atau 2020 dan biaya pembangunannya diperkirakan berkisar 1,6 milyar dolar AS.

Jam Raksasa dan Gedung Tertinggi di Dunia…!

Mengguncang Dunia Barat…!

Mekkah hendak jadi pust Waktu Dunia Gantikan Greendwich…?

Sperti apa pelaksanaannya?

Saksikan!!!


Menara Abraj Al Bait adalah sebuah kompleks bangunan yang terletak di Kota Mekkah, Arab Saudi dan saat ini sedang dibangun. Kompleks bangunan ini dirancang oleh para arsitek dari Dar Al Handasah Architects dan pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh Saudi Binladin Group. Lokasi menara ini berada di seberang jalan Masjidil Haram, salah satu masjid suci umat Islam.

Menara Abraj Al Bait dibangun untuk menampung para jamaah Haji yang semakin banyak datang ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Bisnis perhotelan yang semakin lama menjadi berkembang di kota ini juga tak terlepas dari banyaknya jamaah haji ini. Selain itu, Menara Abraj Al Bait ini juga dirancang untuk mampu menampung sampai dengan 100.000 orang.

Struktur dan Konstruksi Bangunan

Terdapat tujuh menara dengan satu menara yang dinamakan Hotel Tower memiliki ketinggian diatas 6 menara lainnya yang diperkhususkan untuk apartemen (tinggi menara hotel adalah 595 m). Hotel Tower akan dijadikan hotel berbintang tujuh. Bangunan dibawah tujuh menara ini diisi dengan 4 lantai pusat perbelanjaan, ruang konferensi, dan fasilitas-fasilitas yang lain.

Konstruksi Menara Abraj Al Bait ini dimulai pada tahun 2004 yang lalu, dan secara bertahap-tahap ketujuh menara ini akan diselesaikan dan yang paling terakhir selesai dari ke tujuh menara ini adalah Hotel Tower. Kompleks bangunan ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2009 atau 2010 dan biaya pembangunannya dipekirakan berkisar 1,6 miliar dolar AS.

Rekor

Jika Menara Abraj Al Bait ini berhasil diselesaikan tepat waktu, maka akan menjadi struktur tertinggi di Arab Saudi dan kedua di Timur Tengah setelah Burj Dubai di Dubai, Uni Emirat Arab dan akan menjadi salah satu bangunan tertinggi di dunia.

Sementara itu, jika jumlah lantai di seluruh kompleks menara ini dihitung semua, maka jumlah total lantai diperkirakan mencapai 1.455.000 m2 dan akan menjadi bangunan dengan jumlah lantai terluas di dunia, lebih banyak 470.000 m2 dari Aalsmeer Flower Auction, Aalsmeer, Belanda yang menjadi pemegang rekor hingga saat ini.

Proyek ini juga akan menempatkan jam pada setiap sisi dari Hotel Tower. Jam ini memiliki panjang dan lebar 80 meter. Keempat jam ini akan dipasang pada ketinggian 530 meter, yang akan menjadikan jam terbesar dan tertinggi di dunia.

VCD Mekkah 2020 Mendatang Harga Rp. 45.000

Hubungi: Rudianto
081319107800 atau 02199187391
15.09 | 0 komentar

Alquran HP Qu

Written By Rudi Abu azka on Senin, 18 Oktober 2010 | 16.30



Alquran HP Q adalah aplikasi (software) Alquran dalam ponsel / handphone kamu, dengan kelengkapan fasilitas sebagai berikut.

* teks Alquran (Arab)
* bacaan Alquran (suara)
* teks terjemahan Bahasa Indonesia
* bacaan terjemahan Bahasa Indonesia (suara)
* pencarian ayat Alquran terpadu (integrated)
* tulisan dalam naskh Madinah, mudah dibaca


Spesifikasi
– kebutuhan minimal Alquran HP Q

Alquran HP Q membutuhkan spesifikasi yang sederhana, yaitu:

* Java MIDP 2.0
* layar minimal 128 pixels
* space / ruang kosong memori minimal 300 MB (megabytes)



Kompatibilitas
– tipe handphone yang berhasil diinstall

Alquran HP Q dapat diinstall ke semua tipe HP pada umumnya. Program Alquran HP Q berbasis Java MIDP 2.0 (pastikan fitur tersebut terdapat di HP Anda. Kami telah menguji Alquran HP Q dan telah berjalan dengan baik pada Nokia, Sony Ericsson, dan berbagai handphone produksi Cina.

Untuk Pemesanan Hubungi:
Sdr. Rudianto Hp. 081319107800 Esia 021-99187391
Harga Rp 70.000,- (1 CD plus 1 DVD)

BONUS:
- Hadis 5 Imam Terjemah Indonesia
- Hadits Arbain
- Tuntunan Shalat
- Tuntunan Puasa
- Open Qur'an
- Doa Sehari-hari
- Kalkulator Zakat
- Kamus Arab-Indonesia

Plus:
DVD Murotal Al Qur'an Juz 30 Syaikh Misyari Rasyid
dengan suara terjemah Abdullah Al Jufri

Keunggulan:
- Terjemah Indonesia Bersuara
- Cocok untuk semua type HP
- Install Mudah
- Kompilasi 5 Imam Qari
- Tidak makan pulsa
16.30 | 0 komentar

Teruslah berdoa dan ubah diri anda

Hakikat doa adalah penuntun kita melakukan perubahan diri selama menjalani hidup. Hidup itu sendiri tidaklah hitam dan putih. Ia tidak pula seperti laut mati. Ia senantiasa bergerak penuh tantangan dalam rangka pemenuhan aneka kebutuhan. Sebab, hanya melalui kedua hal inilah Allah benar-benar menguji mana hamba-Nya yang tetap pada fitrah dan mana yang tidak……Kekuatan seseorang dalam mengubah dirinya itu jelas merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan memburu pertolongan Allah . Oleh karena itu, kalau hidup kita terus-menerus sempit, sekolah tak kunjung rampung, nilai ujian sekolah jelek, utang tak juga terlunasi, jelas ada yang salah pada diri kita. Meskipun demikian, satu hal yang penting untuk disadari adalah bahwa kalau doa kita tidak dikabulkan Allah bukan berarti Dia tidak memperhatikan lagi permohonan hamba-Nya. Boleh jadi penyebabnya ialah karena pelakunya sendiri tidak mau membenahi dirinya, enggan lepas dari kebiasaan-kebiasaan buruk, dan malas meningkatkan ibadahnya kepada Allah.

Siapapun yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah, hendaknya ia berusaha mengubah dirinya sendiri. “Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa, padahal engkau sendiri tidak mengubah dirimu dari kebiasaanmu ?” Demikian tukas Ibnu Athaillah di dalam kitabnya al Hikam. Kita telah banyak meminta, banyak berharap kepada Allah, dan saking sibuknya meminta, terkadang membuat kita tidak sempat lagi mengintrospeksi diri kita sendiri. Padahal, kalau kita meminta dan selalu memperbaiki diri, Allah pasti memberi apa yang kita minta karena sebetulnya doa itu adalah pengiring agar kita bisa merubah diri kita. Jika kita tidak pernah mau merubah diri kita menjadi lebih baik maka janganlah berharap doa kita akan dikabulkan Allah. Perubahan diri inilah sebenarnya yang harus kita camkan dalam diri ketika kita punya keinginan. Oleh karena itu, pikirkan secara baik dan benar apa yang harus kita ubah melalui diri kita ini.

Banyak orang yang telah berpuluh tahun hidup dengan harta berlimpah, uang selalu tersedia, pujian dan penghargaan terus berdatangan, namun hidup mereka terasa hampa. Mengapa demikian ? Mungkin karena mereka tidak mendapatkannya melalui berdoa. Akibatnya, nikmat tersebut tidak dirasakan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada mereka.

Dalam hal ini, penting kita memperhatikan apa yang dinyatakan Ibnu Athaillah :“Tujuan utama berdoa bukanlah meminta, melainkan mengetahui adab dan tata krama seseorang terhadap Tuhan.” Inilah sebenarnya yang kita butuhkan. jadi, doa hendaknya menjadikan kita makin dekat dengan Allah. Dengan doa yang demikian akhlak seseorang pun akan semakin baik. Lalu, bagaimana dengan kebutuhan duniawi ? Percayalah, Gusti Allah iku ora sare. Allah tidak pernah tidur !.

Di dalam Al Quran, tepatnya surah Al Baqarah : 186 Allah telah berfirman : ”Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu, wahai Muhammad, tentang Aku, jawablah : Aku adalah dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berada kepada-Ku. Hendaklah ia memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah ia beriman kepada-Ku agar ia selalu berada di dalam kebenaran.”

Tak bisa dimungkiri, kita seringkali kurang tepat memahami dan menempatkan doa, yakni semata menggunakannya sebagai ajang pelarian dari persoalan-persoalan hidup yang kita hadapi. Meskipun demikian, persepsi seperti ini sebenarnya tidak terlalu salah dan masih lebih baik dibanding kita berputus asa dari rahmat Allah lalu meminta pertolongan kepada yang selainNya. Oleh karena itu, hendaknya selalu diingat firman Allah :“Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah” (QS. Az Zumar : 58).

Kalau kita renungkan lebih jauh, doa yang kita panjatkan kepada Allah itu sejatinya adalah upaya kita mendekatkan diri kepada-Nya sebagai konsekuensi iman kita terhadap-Nya. Doa itu sendiri tidak bisa dimungkiri adalah pengungkapan penghambaan kita kepadaNya. Doa juga bisa dimaknai sebagai pengungkapan kesadaran seseorang akan kelemahan, pengharapan, dan kecintaan darinya kepada Tuhannya.

Sungguh, doa adalah bukti penghambaan dan pengabdian kita kepada Allah yang Maha Kuasa. Maka, kurang tepatlah bila ada anggapan bahwa karena doa kitalah Allah memenuhi permintaan kita. Sebab, dengan demikian, berarti Allah itu tunduk pada perintah makhluk-Nya. Padahal, faktanya kita semua lemah dan butuh pertolongan Allah.

Pilihan terbaik bagi kita, terutama umat Islam, adalah : selalu berdoa kepada Allah atas apa yang menjadi hajat hidup kita sambil terus menerus memperbaiki diri kita. Kalau doa kita tidak segera dikabulkan Allah, mungkin karena kita sendiri tak ada keinginan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada di diri kita. Mungkin saja kita selama ini lalai mengingatNya, kita tak peduli perintah dan laranganNya, kita tak pernah menolong sesama. Pendek kata : berdoalah dan perbaiki diri Anda !

dikutip dari :
Buku : Ajaklah Hatimu Bicara, Muhammad Alain Yanto, Pustaka Pesantren, 2007
10.07 | 0 komentar

Perbaikilah Syahadat Anda!

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 15 Oktober 2010 | 05.50

IBARAT sebuah bangunan, syahadat adalah pondasi. Bangunan tanpa pondasi akan mudah roboh oleh serangan badai. Musim hujan tidak bisa dijadikan tempat berteduh. Dan pada musim kemarau tidak bisa dijadikan untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. Keislaman seseorang tanpa pondasi iman yang kokoh tidak mampu mengubah pola pikir dan sikap mental seseorang. Syahadat akan menjadikan aktivitas keislaman kita melahirkan ruhul jihad.

Tuntutan syahadat adalah amanah yang berat dipikul secara fisik dan rohani. Musa ketika bertanya kepada Allah tentang syahadat, Allah menjawab bahwa seandainya syahadat dalam satu timbangan dan langit, bumi dan seisinya ditambah tujuh langit pada timbangan yang lain, maka tidak akan cukup menyamai beratnya timbangan Kalimah Tauhid itu.

Syahadat identik dengan sebuah komitmen, persaksian, baiat, dan janji setia. Syahadat adalah refleksi dan aktualisasi iman. Bukan sebatas SK, MoU. Dengan mengucapkan kalimat syahadat berarti seseorang telah mengikat janji dengan Allah, bersumpah, dan hanya siap secara lahir dan batin untuk diatur oleh syariat-Nya.

Ada beberapa implikasi jika seorang telah mengucapkan syahadat. Diantaranya adalah;

. Syahadat juga sebagai bukti pengakuan terhadap keesaan Allah saja.
· Mengakui Allah Sebagai Pencipta ( QS, Al Anam : 102, QS. Al Mukmin : 43).
· Tidak ada pemberi rezeki selain Allah ( QS. Hud : 6, QS. Fathir : 3).
· Merasa tidak ada yang memberi manfaat dan madharat selain Allah (QS. Al Anam : 17, QS. Al Maidah : 76, QS. Yunus : 107).
· Tidak ada yang mengatur alam semesta selain Allah (QS. As Sajdah : 5). Tidak ada yang menjadi pelindung selain Allah (QS. Al Baqoroh : 257, QS. Al Maidah : 55).
· Tidak ada yang berhak menentukan hukum selain Allah (QS. Al Anam : 57,114, QS. Yusuf : 40).
· Tidak ada yang berhak memerintah dan melarang selain Allah (QS.Al Araf : 54).
· Tidak ada yang berhak menentukan undang-undang selain Allah (QS. Asy Syura : 21).
· Tidak ada yang berhak ditaati selain Allah (QS. Ali Imran : 32, 132). Semuanya itu tersimpul, tidak ada yang berhak disembah puja (diibadahi) selain Allah (QS. Thoha : 14).
· Janji setia ini harus didahulukan dengan ikhlas, ilmu, yakin, benar dan dengan penuh mahabbah sebelum terikat dengan janji-janji yang lain.
“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dari dulu. Dan (begitu pula) dalam (al Quran) ini supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu menjadi saksi atas segenap manusia.” (QS. Al Hajj (22) : 78).

Karena sebuah perjanjian kepada Allah, maka ia harus dinomorsatukan. Sebab tiada yang paling penting dalam kehidupan ini selain Allah. Perjanjian kepada Allah kita junjung tinggi; yang pertama dan yang terakhir. Allah adalah penentu kehidupan ini. Dialah yang menguasai ubun-ubun kita. Sekalipun besar pengaruh kekuasaan, kekayaan, kepandaian seseorang tidak akan mampu menolak fenomena penciptaan dari-Nya. Siapa yang bisa menolak proses kejadian manusia, dimulai pada masa menjadi janin, masa kanak-kanak, masa muda, masa dewasa, masa tua (beruban), datangnya musibah dan kematian? Allah tempat bergantung semua makhluk di dunia ini.

Tuhan kata Dr. Imaduddin Abdul Rahim (alm) adalah sesuatu yang mendominasi kita sedemikian rupa, dan kita siap dihegemoni oleh sesuatu itu. Jika kekuasaan, harta, wanita mendominasi diri kita sehingga kita rela berkorban apa saja yang kita miliki selama 24 jam untuk meraihnya dan melupakan yang lain, berarti ketiganya adalah Tuhan kita.

Semua bentuk perjanjian yang lain harus diklarifikasi terlebih dahulu. Boleh kita berjanji dengan isteri kita, tetapi janji itu sifatnya relatif, bersyarat, yaitu dalam kerangka penegakan syariat Islam di lingkungan keluarga. Sehingga pernikahan antara dua anak Adam akan menambah kekuatan, kejayaan Islam dan kaum muslimin. Jika ikatan kekeluargaan antara suami isteri hanya memenuhi kebutuhan biologis semata, apalagi dalam prosesi pelaksanaannya tidak mengindahkan nilai-nilai Islam, maka ikatan demikian adalah haram hukumnya.

Rasulullah Saw. Bersabda: “Tidak ada seorang pun yang mentaati apa-apa yang diinginkan oleh (hawa nafsu) seorang istri, melainkan pasti Allah akan membenamkan ke dalam neraka.”

Demikian pula dalam kerjasama bisnis, jangan sampai bersebrangan dengan janji dengan Allah. Kita dituntut teliti apakah ada pasal-pasal tertentu yang menyalahi syariat? Jika perjanjian tersebut menguntungkan Islam, tidak menjadi masalah. Tetapi jika melecehkan harga diri kaum muslimin, maka harus dibatalkan sekalipun menjanjikan keuntungan milyaran rupiah.

Dalam bidang politik kita tidak dilarang untuk membangun koalisi, aliansi, kaukus politik dengan aliran, organisasi, intitusi, kelompok, perkumpulan apa saja dengan syarat mengikuti aturan main yang islami. Menjunjung tinggi nilai keadilan, persatuan, supremasi hukum, dan nilai-nilai moral sebagai panglima. Kita dilarang untuk mengadakan konspirasi jahat. Bekerjasama dalam kebatilan dan kerendahan akhlak.“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al Maidah (5) : 2).

Ibnu Jarir mengomentari ayat ini ‘ al Istmu’ artinya meninggalkan apa yang diperintahkan untuk dilaksanakan, dan kalimat ‘al ‘Udwan’ artinya melampau batas terhadap ketentuan Allah dalam agamamu dan melangkahi apa yang difardhukan atas dirimu dan selainmu (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir I, hal. 478).

Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah Saw. bersabda : “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi, dikatakan: Ya Rasulullah, ini saya menolongnya yang terzhalimi, bagaimana saya menolongnya jika ia berbuat zhalim? Ia menjawab: engkau cegah dan halangi dari perbuatan zhalim, maka itulah menolongnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad dari Anas bin Malik).

Berkata Ahmad dari Yahya bin Witsab - ada seorang lelaki dari sahabat Nabi saw- berkata: seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan, mereka lebih besar pahalanya dari orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.

Dengan syahadat sesungguhnya kita tidak memiliki hak apapun terhadap diri kita. Semuanya telah kita jual dan kita wakafkan kepada Allah. Maka jika kita ingin membangun sebuah ikatan, apapun bentuknya dan dengan pihak manapun, dengan syarat tidak menodai komitmen keislaman, syahadat kita. Harus izin kepada pemilik diri kita, Allah SWT.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al Anam (6) : 162).

Janji yang kita ulang-ulang lebih dari 17 kali di atas tidak boleh kita khianati. Kita dituntut konsisten, komitmen dan konsekuen terhadap janji yang telah kita ikrarkan. Jika janji kepada Allah saja berani kita dilanggar, apalagi janji yang kita ucapkan kepada makhluk-Nya?“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal (8) : 27).

Ketika bersyahadat maka pada saat itu kita harus bangga sebagai muslim. Identitas sebagai muslim harus melekat pada diri kita di mana saja dan kapan saja. Islam adalah darah daging kita. Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim (QS. Ali Imaran (3) : 64).

Syahadat kita nyatakan sejak awal keislaman kita dan kita pertahankan sampai akhir hayat kita. Inilah yang dinamakan istiqomah. Istiqomah berarti tegak lurus pada garis yang ditetapkan oleh Allah. Ibarat kereta api, istiqomah adalah melewati rel yang ada, bergesar sedikit akan fatal akibatnya.“Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Anam (6) : 153).

Dari Ibnu Masud berkata (mengomentari ayat di atas): Pada suatu hari Rasulullah saw membuat garis untuk kita, kemudian bersabda: ini jalan Allah, kemudian membuat garis dari arah kanan dan kirinya kemudian bersabda: inilah jalan-jalan, setiap jalan darinya ada syetan yang mengajak menuju ke arah jalan itu kemudian beliau membaca ayat sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah jalan itu (shafwatut Tafasir I, hal. 429).“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS. Al A’raf (7) : 172).

Firman Allah Swt diatas menerangkan bahwa janji setia, syahadat, baiat untuk loyal kepada Allah, sesungguhnya telah diikrarkan oleh semua calon manusia kepada Allah sejak di alam rahim. Jawaban terhadap tawaran Allah begitu mantap, karena pada saat itu keindahan, kekuasaan Allah tidak tertandingi oleh yang lain. Bertuhan inheren dengan fitrah manusia (sesuatu yang melekat pada dirinya sejak lahir).

Dengan demikian, komitmen bersyahadat harus kita introdusir secara terus-menerus, agar kesadaran hanya Allah yang dijadikan tumpuhan harapan dalam kehidupan ini tidak luntur. Perbaharuilah syahadatmu dengan (mengucapkan) Laa ilaaha illallah kembali jika persaksianmu dengan Allah jika dinilai mulai melenceng!

ditulis Oleh: Shalih Hasyim
Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com. Kini tinggal di Kudus
05.50 | 0 komentar

NASYID

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 13 Oktober 2010 | 17.39

Saya pernah membaca tentang sebuah diskusi. Topiknya sangat menarik perhatian, sehingga saya ingin Anda pun tertatrik.

Diskusi ini berangkat dari satu pertanyaan, “Mengapa pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah kurang populis? Mengapa fikrah-fikrah bathilah (yang tidak benar) justru lebih populis? Padahal, kalau dicermati (khususnya oleh kalangan terpelajar) banyak sekali pemikiran dan produk-produk ijtihad Ibnu Taimiyah yang sangat brilian, bahkan banyak diadopsi para ulama dan kiai (meskipun dalam kenyataannya, mereka sangat menentang dan antipati dengan Ibnu Taimiyah).”

Salah satu jawaban yang sangat menarik perhatian saya adalah: karena Ibnu Taimiyah tidak didukung oleh banyak penyair, dan hampir tidak ada syair-syair dukungan terhadapnya yang disenandungkan (di-nasyid-kan)!

Nasyid adalah senandung. Ia mirip lagu atau bahkan ia adalah lagu. Karena ia sebuah lagu, ia mudah dihafal, enteng pula dinyanyikan. Nasyid dapat dilakukan saat: Berjalan, Rebahan, Mengendarai atau Naik Kendaraan, Sambil Meminang Anak, dan Sebagainya. Singkatnya, nasyid mudah sekali populer.

Jika kita mampu menggubah suatu atau beberapa nasyid yang berisi Al Haqq, maka Al Haqq itu mudah sekali menjadi populis.

Ada satu hal lagi yang menyebabkan nasyid lebih cepat menjadi populis. Masyarakat kita (paling tidak di Jawa), senang sekali mengadakan hajatan: menikahkan anak, mengkhitan, walimahan aqiqah, peringatan ini, peringatan itu, dan lain sebagainya.

Untuk acara hajatan seperti itu, kita tidak bisa memaksakan kepada mereka untuk: Diam tanpa bunyi-bunyian, apalagi di era elektronik dan digital serta di tengah teknologi yang gegap-gempita, atau Memutar kaset tilawah secara terus-menerus.

Masyarakat pun merasa bahwa untuk acara-acara peringatan yang bernuansa Islam, tidak pantas diputarkan lagu-lagu dangdut, pop, apalagi jazz dan semacamnya. Jadilah nasyid sebagai suatu alternatif yang -bagi mereka- menjadi jalan keluar yang sangat tepat.

Dari gambaran di atas, saya berpikir ulang, mengapa para ulama terdahulu banyak menggubah nazham (semacam syair) untuk mengemas ilmu-ilmu yang termasuk kategori berat, seperti: ilmu nahwu, sharaf, balaghah, musthalah hadits, dan semacamnya? Bahkan ada pula ilmu-ilmu syariah yang digubah menjadi suatu nazham dalam bahasa daerah, Jawa misalnya. Ada nazham fikih, nazham tajwid, dan nazham-nazham lainnya dalam bahasa daerah. Dengan demikian, akan mudahlah anak-anak dan masyarakat pada umumnya memahami kandungan ilmu-ilmu syar’i tersebut.

Bila permasalahan nasyid ini kita tarik ke belakang, ke sejarah dakwah dan sirah Nabi Muhammad Saw., serta para sahabat, ternyata kita temukan bahwa Rasulullah Saw. mempunyai beberapa (kalau tidak bisa dikatakan banyak) penyair, diantaranya:

1). Hasan bin Tsabit r.a.

Rasulullah Saw. bersabda, “Qul ya Hasan wa Jibriilu ma’aka.” (Jawab dan Katakan Wahai Hasan -maksudnya bin Tsabit- dan Malaikat Jibril bersamamu)

2). Abdullah bin Rawahah r.a.

Memiliki syair Jihad yang sangat menggugah para mujahidin, diantaranya:

Wahai Jiwa dan Nafsuku,

Saya bersumpah dengan nama Allah Swt.,

kamu harus turun ke medan laga,

Turun dengan suka rela atau harus aku paksa.

3). Dan masih ada beberapa sahabat dan shahabiyah lainnya.
Rasulullah Saw. sendiri menyemangati kaum muslimin dengan melantunkan nasyid, saat beliau bersama kaum muslimin menggali parit pertahanan Madinah dari serbuan pasukan multinasional (perang khandak).

Tentunya, nasyid yang saya maksudkan disini bukan nasyid-nasyid “cengeng”, -sebagaimana dikatakan sebagian orang, bukan nasyid-. Nasyid yang memperbincangkan wanita, pornografi, kemungkaran, dan semacamnya. Pun jangan sampai nasyid-nasyid itu itu mengandung hal-hal yang menyelisihi syariat Islam, baik dalam sisi muatannya ataupun sisi membawakannya.

Saudara dan saudariku yang dimuliakan Allah Swt....

Banyak sekali nilai-nilai Islam yang harus kita sosialisasikan, nilai-nilai akidah (Makrifatullah, Tauhidullah, Keagungan Allah Swt., Iman kepada para Malaikat, kepada Kitab, kepada Rasul, kepada Hari Akhir, dan kepada Qadha’ Qadar), nilai-nilai Ukhuwah, Ibadah, Akhlak, Mahasinul Islam (sisi kebaikan Islam), dan lain sebagainya.

Di antara nilai-nilai itu ada yang sudah memiliki nasyid, meskipun tidak menutup kemungkinan munculnya nasyid-nasyid baru dengan nilai sama. Di antara nilai-nilai itu banyak pula yang belum memiliki nasyid. Karenanya, bila saudara dan saudariku seiman memiliki kemampuan menggubah nasyid atau nazham, gubahlah -wa Jibriilu ma’ka Insya Allah- agar nilai-nilai Islam mudah diserap oleh masyarakat kita, terutama dari kalangan anak-anak.

Sebagai penutup, simaklah penggalan dari nasyid ini!

Nasyid kami adalah penyemangat kehidupan. Nasyid kami adalah penerang para dai...

Ia adalah cahaya, harapan, senyuman, dan sinar terang. Nasyid kami adalah api bagi para Thaghut...

Mengutip artikel dari buku, “Membangun Ruh Baru, taujih pergerakan untuk para kader dakwah”, karya Ustadz Musyaffa Abdurrahim, Lc.
dengan sedikit perubahan.
17.39 | 0 komentar

BIARKAN MENANGIS DI SINI DARIPADA NANTI MENANGIS DI SANA

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 12 Oktober 2010 | 16.31

“Penderitaan yang paling menyesalkan adalah ketika kita di sana justru menangis.”

Dalam kitab al-Isti’dad li Yaumi al-Ma’ad, Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengutip sebuah ungkapan seorang ahli zuhud (zahid), "Orang yang melakukan dosa dalam keadaan tertawa akan dijebloskan ke dalam neraka dalam keadaan menangis dan orang yang melakukan ketaatan dalam keadaan menangis akan dimasukkan oleh Allah ke surga dalam keadaan tertawa." Rasulullah saw, dalam salah satu doanya, menegaskan tentang hakikat agama, dunia, akhirat, kehidupan, dan kematian. Agama adalah koridor bagi semua urusan, dunia adalah tempat kita hidup, akhirat adalah tempat kembali kita, kehidupan adalah momentum penghimpunan bekal kebaikan, sedangkan kematian adalah momentum pembebas dari segala bentuk kejahatan.

Oleh karena mengarungi samudra kehidupan di dunia begitu luas dan jauh maka seyogyanya kita menggunakan kompas agama. Diharapkan, dengan kompas itu kita tidak akan kehilangan arah dalam perjalanan kembali.

Selain itu, selama hidup di dunia ini, seyogyanya pula kita dapat menghimpun bekal kebaikan sehingga kematian yang akan kita alami menjadi momentum pembebas dari segala bentuk kejahatan, bukan momentum menenggelam diri dalam kenistaan.

al itu jelas menuntut keseriusan demi menyeberangi samudra dunia dan menepis ilusi fatamorgana duniawi untuk mencapai tujuan abadi. Untuk itu kita harus mengerahkan seluruh potensi agar tetap survive dalam perjuangan menembus berbagai rintangan dalam meraih tujuan hakiki kita, mencapai pantai kebahagiaan yang abadi di alam akhirat nanti.

Atas dasar itu, tidak sepatutnya sisa-sisa umur yang kita miliki ditenggelamkan dalam gelak tawa yang tak bermakna bagi kepentingan kepulangan kita menghadap Rabb Yang Maha Kuasa. Sebab, banyak tertawa menjadikan hati semakin gelap dan tak bercahaya, yang bisa jadi akan menyebabkan di akhirat justru kita akan menangis dengan penuh kesedihan yang sangat panjang dikarenakan menerima azab yang berkelanjutan dan berkekalan.

Demi menghindari lautan tangis di akhirat nanti, Rasullulah saw, seorang kekasih Allah, sering menangis karena penuh harap untuk jumpa dengan-Nya dengan jiwa yang tenang dan dalam keadaan puas dan dipuaskan.

Sayyidina Abu Bakar al-Shidiq ra senantisa menangis ketika menegakkan shalat. Dalam Suatu hadits seusai shalat (fardu) Rasullullah saw beristighfar kepada Allah tiga kali, "Ya Allah Engkau Maha Pemberi ketentraman dan perdamaian. Dari Engkaulah datangnya ketentraman dan perdamaian, wahai Rabb yang Maha Memiliki keagungan dan kemulyaan." (HR.Muslim).

Sesungguhnya, menangis di dunia itu lebih baik bagi kita ketimbang kita menangis di akhirat nanti. Sebab itu, sudah sepantasnyalah setiap kita mewaspadai diri, agar terhindar dari kegersangan jiwa yang nista, agar terhindar dari tipe manusia yang tidak tahu bertaubat yang menyebabkan dirinya menangis berkepanjangan di kampung halamannya nanti. Padahal Rasulullah bersaba, "Tidak akan masuk ke dalam neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah" (HR.Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain disebutkan, "Pada suatu hari, Rasullulah saw berkhutbah, belum pernah saya mendengar khutbah seperti ini, lalu beliau bersabda, 'Andaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.' Mendengar ucapan Rasullullah ini, seluruh sahabat menutup mukanya masing masing sambil menangis tersedu-sedu" (HR. Bukhari- Muslim).

Pertanyaannya, "Apakah setelah mendengar keterangan ini, engkau merasa heran lalu tertawa dan tidak menangis?" (QS. Al-Najm []: 59-60). Kemudian Allah berfirman, "Dan sujudlah/tersungkurlah mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusuk." (QS. Al-Isra [17]: 109)

Oleh Ust Abu Ridho
16.31 | 0 komentar

Siapa yang sedang engkau maksiati?

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 10 Oktober 2010 | 02.43

Dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, kita melihat bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan;

Golongan pertama adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kebaikan… gemar melakukan kebajikan… suka dalam menjalani kema’rufan…

Golongan kedua adalah manusia… lingkungan… masyarakat yang cinta kejelekan… gemar melakukan keburukan… suka dalam menjalani kemunkaran, maksiat dan dosa…

Yach… demikianlah lingkungan di sekitar kita…

Ingat…! Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita dengan tegas nan jelas… bahwa musibah akan terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan, tidak hanya menimpa para pelaku saja tapi akan menyeluruh kepada masyarakat sekitarnya… Allah menyatakan :

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ . (الأنفال : 25)

Artinya :

“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (musibah, petaka, bencana, siksa) yang benar-benar tidak hanya menimpa orang-orang dhalim di antara kalian secara khusus. Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha dahsyat siksa-Nya.”

Subhanallah sungguh peringatan yang Allah berikan bukanlah sebuah omong kosong yang tak bisa terjadi… yang tak mungkin terlaksana… sungguh janji Allah adalah sebenar-benar janji dan pasti terjadi… musibah pasti akan datang silih berganti… petaka pasti akan menimpa kita punya negeri… bencana pasti akan terjadi di sana-sini… siksa Allah pasti akan meluluhlantakkan bumi pertiwi ini… bila kemunkaran dilakukan… bila maksiat dibiarkan… bila dosa diacuhkan… bila pelakunya diagungkan… bila perbuatannya didukung dan dikendalikan… sungguh musibah akan menimpa diri kita semua…

Lalu bagaimana dengan diri kita, yang mengaku para pecinta kebenaran, para pendukung kema’rufan, para penggemar kebajikan, para pelaku kebaikan… Apakah kehidupan kita sudah terlepas dari kemunkaran…? Apakah amal baik kita sudah terbebas dari dosa…? Apakah kelakuan kita sehari-hari sudah murni tanpa kesalahan dan keburukan…? Sungguh naif bila kita mengaku sebagai pasukan pembasmi kemunkaran bila justru diri kita terjerumus dalam dosa dan maksiat… Sungguh jelek bila kita mengaku cinta kema’rufan bila diri kita masih terlena dengan bujuk rayu wanita dan harta… Sungguh dhalim bila kita mengaku gemar melakukan kebajikan bila diam-diam kita menjalani kejelekan dan keburukan… atau bahkan justru kitalah yang menjadi kunci atas turunnya musibah… karena kita tahu dan berilmu tapi justru kita melanggar dan melakukan maksiat… kita tidak mengamalkan ilmu yang kita peroleh dari guru-guru kita…

Yach… memang manusia sulit untuk terlepas dari lupa dan salah… sulit bagi manusia untuk terbebas dari kejelekan dan keburukan… kecuali bagi mereka yang Allah lindungi… mereka yang diberi Rahmat oleh Allah… mereka yang senantiasa ingat kepada Allah… mereka yang selalu menjaga diri dari keburukan dan kejelekan sekecil apapun…

Sungguh indah nasehat Ulama salaf kita…

لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْخَطِيْئَةْ … … … وَلكِنْ اُنْظُرْ إِلَى مَنْ عَصَيْتَهْ

Janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu kesalahan……

Akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat……

Subhanallah sungguh indah nasehat ini…

Kepada kalian yang cinta kema’rufan…

Kepada kalian yang benci kemunkaran…

Semoga kehadiran nasehat ulama salaf di atas dapat menjadi renungan…

Yach…

janganlah engkau melihat akan kecilnya suatu dosa…

janganlah engkau melihat akan remehnya suatu kesalahan…

janganlah engkau melihat akan sepelenya suatu maksiat…

jangan…!!!

tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat…

Allah… Dia yang sedang engkau maksiati…

Allah… Dia yang sedang engkau durhakai…

Allah… Dzat yang telah menciptakanmu… justru engkau sedang melanggar aturan-aturannya…

Lihatlah… perhatikanlah… siapa yang sedang engkau maksiati… saudara…!

Astagfirullahal adzim min kulli dzanbil adzim…

Sudah sepantasnya bagi kita semua ya ikhwah untuk menjaga diri kita… keluarga kita… masyarakat kita… negeri kita… dari kemaksiatan, dosa, keburukan, kesalahan, dan kemunkaran…
02.43 | 0 komentar

TOP 20 NASYID NURISFM PEKAN KE 1 OKTOBER

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 05 Oktober 2010 | 22.51

Peringkat Munsyid Judul Nasyid

1 Eranada = KCH (Ketika Cinta Hadir )
2 MUV feat Yaya Nuryasin= Ya Rosul
3 Tihamah= Untuk Sahabat Sejati
4 Tiar =Tiada Beban Tanpa Pundak
5 Awallun = Ramadhan
6 Firto Feat Auli & Fira = Bukan Bohong
7 Haddad Alwi,Anti&vita Feat Ebiet Beat A= Rindu Muhammadku
8 Fatih = Nasyid Memang asyik
9 Hawari= Labuhan Hatiku
10 Iie MBU= (Mama Bunda Umi )
11 Q Voice =Cinta
12 Ali = Doaku
13 Yaya Nuryasin Feat Fini = Ibu
14 Na'am Nasyid =Limpahan kasihMU
15 Shoutul Haq =Esok Adalah Rahasia
16 Bana Nasyid =Ampunan
17 Dodi Hidayatullah= Stanza Cinta
18 Idhan Ramadhan= Tunjukan Jalanku
19 Edcoustic= Jalan Masih Panjang
20 Sami Yusuf = Healing

Dukung terus Nasyid jagoanmu melalui
telpn dan sms on air ketika acara 02192297893
sms poling off air 085717751717
dan bisa juga di www.streamingnurisfm.blogspot.com

TOP 20 Nasyid nurisfm setiap malam sabtu Pkl 19.30 sd 21.00 bersama Kiki alfatih
22.51 | 2 komentar

Ujian Hidup Kita Sebanding Dengan Ujian Nabi Yusuf?

Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai orang zaman kontemporer saat ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.

Tekanan hidup yang bertubi-tubi sering kali membuat orang mengalami depresi dan stres. Tekanan yang menyebabkan depresi dapat dialami siapa saja dan datang dari mana saja. Mulai dari pekerjaan di kantor hingga masalah rumah tangga.

Urbanisasi atau perpindahan masyarakat desa ke kota inilah yang menciptakan lingkungan kehidupan perkotaan sangat individualistis, mengedepankan persaingan, dan sebaliknya kepedulian sosial menjadi menipis. Deretan masalah tersebut mengakibatkan masyarakat urban menjadi rentan stres dan frustrasi berkepanjangan hingga berujung bunuh diri.

Bunuh Diri Karena Hal Kecil

Korea Selatan menduduki peringkat tertinggi kasus bunuh diri di dunia. Ini berdasarkan laporan dari kepolisian Korsel. Pada 2009, jumlah kasus bunuh diri di negeri gingseng itu mencapai 14.579, ini menunjukkan peningkatan 18,8 persen dari 12.270 kasus pada 2008, kata laporan itu. Ini berarti tingkat bunuh diri 2009 adalah 29,9 persen untuk setiap 100.000 orang. Total populasi Korsel adalah 48.746.693 jiwa (dikutip dari http://fahricaptures.blogspot.com/2010/07/korea-selatannegara-dengan-bunuh-diri.html).

Angka ini bahkan lebih tinggi dari yang dirilis baru-baru ini dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) Factbook 2010. Data OECD 2010 menunjukkan 21,5 persen kasus bunuh diri dari setiap 100.000 orang. Dari data ini saja, Korsel menduduki peringkat tertinggi kasus bunuh diri dari 31 negara OECD. Jepang menduduki tempat kedua dengan 19,1 persen kasus bunuh diri dari setiap 100.000 orang.

Menurut laporan kepolisian, paling banyak penyebab kasus bunuh diri adalah masalah psikologis/psikiatris dengan 28,28 persen, diikuti masalah fisik/penyakit dengan 21,88 persen, dan masalah ekonomi dengan 16,17 persen.

Di Indonesia, kasus bunuh diri yang terjadi beruntun belakangan ini –bahkan seperti tren- sebetulnya bukan hal yang terlalu baru. Beberapa tahun silam, kasus bunuh diri juga pernah marak. Hanya bedanya, jika tahun-tahun lalu kasus bunuh diri banyak terjadi dan dilakukan gadis-gadis muda karena dipicu putus cinta atau persoalan psikologis remaja. Namun, akhir-akhir ini kasus bunuh diri marak karena lebih banyak dipicu faktor ketidakberdayaan, keputusasaan atau pendek kata karena sebab-sebab kemiskinan.

Bisa dibayangkan apa sesungguhnya yang tengah terjadi jika seorang anak SD bunuh diri karena malu akibat orang tuanya tak mampu membayar SPP di sekolahnya? Dari Sleman, Yogyakarta, seorang ibu muda yang bekerja sebagai penjaga rumah kost nekat mengakhiri hidup dengan cara bakar diri (11/8/2010).

Dalam aksi tersebut, ia juga mengajak dua anaknya yang masih balita. Sang ibu langsung tewas di lokasi. Sedangkan kedua anaknya sempat menjalani perawatan, namun akhirnya juga meninggal dunia. Yang juga memprihatinkan, penyebab tindakan nekat ini diduga karena sang ibu depresi memikirkan utangnya sebesar Rp 20.000.

Al-Quran, Pelipur Lara

Benarkah beban kehidupan yang mereka tanggung sudah tidak lagi dapat ditoleransi? Sejauh mana sebetulnya ambang batas toleransi manusia terhadap tekanan hidup?

Sesungguhnya Allah swt, Sang Pencipta manusia, telah membekali manusia dengan petunjuk hidup agar dapat mengambil keputusan yang bijak terhadap ujian hidup yang menerpa. Allah swt. befirman, “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al Isra 82).

Di antara 114 surat lainnya, surat Yusuf merupakan salah satu surat yang sangat cocok sebagai penyejuk dan penawar bagi hati diliputi musibah dan penderitaan. Di sini tergambar potret problematika kehidupan yang utuh. Mulai dari cinta-benci, susah-senang, dakwah-perjuangan, sabar-syukur, kebaikan-kejahatan, maaf-tobat, penjara-istana, keteguhan iman-kebobrokan moral, tuan-budak, skandal-gosip, kejujuran-kebohongan, dst… hingga konsep ekonomi dan strategi pertanian.

Surat Yusuf, Kisah Terbaik

Pantas saja jika Allah swt. menjuluki surat Yusuf sebagai kisah terbaik (ahsanal qashasha). Firman-Nya, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui” (QS. Yusuf 4). Karena memang kisah Yusuf as merupakan potret sempurna kehidupan anak Adam.

Bagi yang hidupnya diselimuti kegelisahan, terasing, kesepian, atau kesedihan, maka membaca kisah Yusuf as ibarat oase penyejuk di tengah gersangnya kehidupan. Bagi yang sekuat tenaga mempertahankan keimanan di tengah badai kerusakan moral, maka mendalami surat Yusuf seakan menemukan tempat pegangan yang sangat kuat.

Bagi yang dizalimi hak-haknya, maka merenungkan surat Yusuf ibarat menentramkan hati bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang sabar.

Berikut ini beberapa beban hidup yang dipikul Yusuf as & sejumlah pelajaran yang bisa dipetik:

1. Kedengkian saudara-saudara serumah

Ujian pertama yang dihadapi Yusuf as adalah kebencian dan kedengkian dari saudara-saudaranya. Al Quran menceritakan sikap mereka kepada Yusuf kecil, “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke uatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik” (QS. Yusuf 9)

Kita dapat membayangkan ketika kita masih belia seperti beliau, namun saudara-saudara kita sendiri yang serumah malah membenci kita. Sulit membayangkan jika ini terjadi pada kita.

2. Terpisah & terbuang dari keluarga

Allah swt. menceritakan, “Seorang di antara mereka berkata, ‘Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat’” (QS. Yusuf 10)

Yusuf as berpisah dengan keluarganya saat beliau berusia sekitar 12 tahun. Salah satu putra Nabi Ya’kub ini terpisah dari orang tua dan keluarganya selama kurang lebih 14 tahun. Sungguh suatu kondisi yang sangat sulit kita jalani. Berpisah dengan orang tua dan kerabat ketika usia masih belia. Di akhir kisah, Yusuf as meminta agar saudara-saudaranya mengajak sang ayah ke hadapannya. Mengapa? Karena Yusuf as tidak ingat lagi wajah ayahnya. Bayangkan, 14 tahun tidak sempat mengetahui kondisi ayah.

3. Dilempar ke sumur

Apakah kita setuju jika bocah belasan tahun dibuang di sumur yang gelap dan mungkin ada hewan berbisa selama 3 hari tanpa ia tahu apa kesalahannya? Allah swt. mengabarkan, “Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf, ‘Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi’” (QS. Yusuf 15).

4. Dijadikan budak

Yusuf as adalah orang yang mulia. Rasulullah Muhammad saw. pernah bersabda tentang beliau, “Ia adalah orang yang mulia, anak dari orang yang mulia (Nabi Yaqub as), anak dari orang mulia (Nabi Ibrahim as).” Namun tiba-tiba Yusuf ditemukan orang dan dijadikan budak. Allah swt. menceritakan, “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf” (QS. Yusuf 21).

5. Digoda dan dirayu

Yusuf as digoda dan dirayu wanita terhormat. Alquran mengungkapkan, “Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung” (QS. Yusuf 24).

Apakah hanya istri Al Aziz (majikan Yusuf, Red.) saja yang merayu dan menggodanya? Tidak, bahkan para istri pembesar dan menteri kerajaan serta dayang-dayangnya ikut menggoda nabi tampan itu. Hingga mereka tak sadar mengiris tangan mereka. “…maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata, ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia’” (QS. Yusuf 32).

Teguh menjaga iman dari godaan syahwat seperti ini dijanjikan perlindungan dari Allah di akhirat kelak ketika tak ada lagi tempat bernaung. Nabi saw. bersabda, “Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang sentiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya, orang yang hatinya senantiasa berpaut pada masjid, dua orang yang saling mengasihi karena Allah & keduanya berkumpul serta berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak seorang perempuan yang bermartabat dan berparas cantik untuk melakukan maksiat tetapi dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya, seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga mencucurkan air mata” (HR. Bukhari-Muslim)

6. Dituduh memperkosa

Inilah kedok yang digunakan para pengumbar syahwat untuk menutupi kebobrokan mereka. Tatkala gagal memperdayai sang korban, para wanita yang tak tahu malu balik menuduh orang yang baik-baik.

7. Dipenjara

Inilah senjata paling ampuh bagi para tirani kekuasaan dan pengusung kebatilan. Mereka tak segan-segan menjebloskan kaum mukmin hanya karena mereka mempertahankan keimanan. Yusuf as merupakan teladan bagi orang beriman dalam menghadapi pendukung kezaliman. Maka, tidaklah heran jika banyak ulama di masa lampau maupun masa kini yang dijebloskan ke penjara, apakah tanpa bukti/alasan apapun maupun karena mereka setia dengan keimanannya.

Awalnya mereka sekadar mengancam. Al-quran mengungkapkan, “Wanita itu berkata, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina” (QS. Yusuf 33).

Akhirnya ancaman itu menjadi kenyataan, “Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu” (QS. Yusuf 36).

8. Mendapat kekayaan yang berlimpah & kekuasaan yang luas

Ketika menjadi petinggi Mesir (menteri ekonomi), Yusuf as menguasai seluruh hasil bumi dan pertanian di seluruh wilayah kerajaan. Allah menceritakan, “Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku.’ Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’” (QS. Yusuf 54).

Akhirnya, beliau juga mendapat kepercayaan raja untuk mendistribusikan kekayaan kerajaan kepada siapa saja yang beliau kehendaki. Allah berfirman, ”Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf 57).

Kekayaan dan kekuasaan juga merupakan ujian, tidak hanya kemiskinan atau kelemahan. Tidak sedikit orang yang tergelincir imannya tatkala mendapat ujian harta dan tahta. Firaun dan Qarun merupakan contoh paling masyhur. Namun, Yusuf mampu melewati ujian ini dengan bijak. “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil mimpi. (Ya Tuhan), Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih,” demikian doa yang selalu diucapkan Yusuf as seperti yang direkam Al Quran (QS. Yusuf 101).

9. Memaafkan saudara-saudaranya

Adalah wajar jika Yusuf as menuntut balas kejahatan para saudaranya saat beliau berkuasa. Namun, kemuliaan akhlak beliau sebanding dengan kemuliaan nasab (putra Nabi Ya’qub, cucu Nabi Ishaq, & buyut Nabi Ibrahim as). Firman-Nya, “Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang’” (QS. Yusuf 92).

Beliau memaafkan para saudaranya. Yusuf as tidak menyalahkan para saudaranya, malah ia menyalahkan setan yang telah menghasut para saudaranya hingga bertindak jahat padanya. Allah menceritakan, “Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah takwil mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Yusuf 100).

Tidak hanya itu, Yusuf as membalas mereka dengan kebaikan tatkala mereka meminta jatah bahan makanan saat paceklik. Sungguh, kemuliaan di atas kemuliaan.

Pahala Tanpa Batas

Begitulah, kisah Yusuf berakhir dengan happy ending. Demikianlah balasan bagi orang yang sabar dalam cobaan, teguh memelihara iman serta berprasangka baik kepada rahmat Allah swt. Pahala yang Allah sediakan bagi orang sabar tak terhingga besarnya. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az Zumar 10). Wallahu a’lam bish shawwab.{}

(sumber: Kiat Bijak Mengambil Keputusan, Bercermin dari Kisah Nabi Yusuf as, Amru Khalid, Cakrawala Publishing, 2010, Jakarta).
11.59 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung