Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

SIBUK UNTUK KESIBUKAN NANTI (2)

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 31 Desember 2010 | 07.36

Oleh sebab kesibukan adalah bagian dari fitrah manusia, maka ia adalah suatu keniscayaan yang melekat pada setiap orang. Kesibukan merupakan pertanda kehidupan itu sendiri. Oleh sebab itu semua orang, pada hakikatnya, akan sibuk. ”Sungguh, bangun malam itu lebih kuat [mengisi jiwa] dan [bacaan] di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang” (Al Muzammil 6-7).

Persoalannya, mengapa dan untuk apa manusia sibuk? Apa standar penilaiannya sehingga seseorang dapat dikatakan sibuk? Para ahli menjawab, relatif, tergantung nilai yang menjadi pijakan kesibukannya. Akan tetapi, secara ekstrem, manusia, dalam kaitan kesibukannya, dapat dipetakan menjadi dua golongan besar. Dua kelompok manusia ini selalu menghiasai perjalanan sejarahnya.

Pertama, golongan yang sibuk untuk urusan dunianya tanpa memiliki antusiasme kepada kehidupan akhiratnya. Mereka adalah orang-orang yang salah satu cirinyaa enggan menyibukkan dirinya dalam perjuangan di jalan Allah. Padahal, perjuangan itu dapat mengantarkan mereka ke kehidupan akhirat yang baik. Akibatnya visi ukhrawinya terenggut oleh keterpesonaan kepada gemerlap duniawi. Pada hakikatnya mereka termasuk orang-orang yang jiwanya telah terkalahkan oleh kesibukan duniawi. “Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami (hingga menghalangi kami ikut berjuang), Maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. sebenarnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, al-Fath [48]: 11).

Sesungguhnya keengganan berjuang di jalan Allah merupakan sikap ironi yang digejalakan dalam prilaku. Sebab keengganan berjihad di jalan-Nya sama artinya dengan keengganan terhadap karunia yang telah disediakan Allah Swt untuk kehidupan di akhirat nanti. Sedangkan semua manusia tengah menuju ke sana, akan meninggalkan dunia yang mereka sibuk di dalamnya. Oleh karena itu pertanyaan Allah berikut patut jadi renungan kita semua, “Hai orang-orang beriman apa sih sebabnya, apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah untuk berperang pada jalan Allah kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At Taubah:38).

Pada hakikatnya, mereka yang enggan berjihad di jalan Allah itu adalah orang-orang yang tak mampu melepas bayang-bayang pesona duniawi. Ketidakberdayaan itu menyebabkan diri mereka terjebak dalam panjang angan-angan, takut mati atau berpisah dengan yang mereka cintai, baik berupa keluarga dan harta, anak, dan kerabat, kedudukan dan jabatan yang tinggi, atau istana yang megah. Akibatnya, meskipun mereka diajak untuk meningkatkan martabat kemanusiaannya ke jenjang yang lebih tinggi, mereka selalu menolaknya. Sebaliknya mereka merasa betah berada dalam lumpur kehinaan serta menenggelamkan diri dan kemuliaannya ke dalam lumpur. “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS, al-A’raf [7]: 176).

Untuk itu seorang penyair menggoreskan tulisannya, mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam angan-angan duniawi."Wahai orang yang disibukkan dengan dunianya! Angan-angan panjangnya sungguh mempecundanginya. Apakah ia tetap dalam kelalaian. Padahal ajal semakin merapat. Ingat, kematian bisa datang mendadak. Dan kuburan itu adalah kotak amal. Sabarlah atas kedahsyatan Barzakh. Tiada kematian selain dengan ajal."
07.36 | 0 komentar

SIBUK UNTUK KESIBUKAN NANTI (1)

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 30 Desember 2010 | 15.59

Baik secara fisik ataupun psikhis, manusia adalah makhluk unik. Di antara keunikannya ialah kesibukannya yang luar biasa sepanjang hidupnya sehingga ia disebut makhluk paling sibuk. Menurut penelitian ilmu kedokteran, jika seseorang dewasa, dengan bobot tubuh rata-rata, selama 24 jam, memiliki kesibukan luar biasa. Jantung berdenyut 103.689 kali. darah menempuh perjalanan 168.000.000 mil, bernafas sebanyak 23.040 kali. menghirup udara sebanyak 483 meter kubik, menelan 1,5 kg makanan, meminum 3,5 liter cairan, berkata-kata sebanyak 25.000 kata (termasuk kata-kata yang tidak perlu diucapkan), menggerakkan 750 otot, kuku bertumbuh 0,00012 cm, rambut memanjang 0,94353 cm, dan sel otak sebanyak 7.000.000 terus bekerja. Konon, ketika tidur pun beberapa organ tubuh manusia justru sedang sibuk-sibuknya.

Dalam kehidupan keseharian, manusia dalam memenuhi kebutuhan dirinya, juga selalu menunjukkan kesibukan. Begitu fajar menyingsing ia mulai keliahatan sibuk. Dari merapikan tempat tidur, mandi, menyiapkan sarapan, belanja, belajar, dan bekerja, hingga mencari hiburan dan melakukan peperangan. Akibatnya, di mana-mana tampak kesibukan. Di rumah, tempat kerja, pasar, jalan raya, hingga di udara dan di dunia maya. Lebih-lebih di kota-kota besar, kesibukan telah menjadi cirinya yang khas. Bahkan orang-orang tertentu ada yang bisa sibuk dengan dirinya sendiri.
Hidup manusia memang dipenuhi kesibukan. Sepertinya kesibukan terus menguntit dan bahkan mengepung seluruh dimensi kemanusiaannya. Entahlah kapan saatnya semua kesibukan itu akan berakhir.

Konon, kehidupan manusia sekarang sedang memasuki zaman paling sibuk sepanjang sejarahnya. Sebagian besar penduduk bola bumi bahkan telah terbelenggu dengan kesibukan yang melelahkan. Ironisnya, kesibukan yang membelenggunya itu justru diakibatkan oleh teknologi yang diciptakannya sendiri yang semula diharapkan dapat mengurangi kesibukan.

Memang tampak sia-sia orang yang coba menghindari kesibukan selama ia masih hidup. Kecuali apabila dirinya telah kehilangan kehendak atau keinginan. Sebab begitu suatu kesibukan mereda, orang malah cenderung mencari kesibukan yang lain. Di sini setiap manusia dihadapkan pada dilema eksistensialnya. Untuk sekedar mengurangi kesibukan terkadang justru harus mengerahkan kesibukan yang lebih banyak sehingga lahir berbagai kesibukan baru. Dari hal-hal yang bersifat seremonial hingga hal-hal yang bersifat permainan.

Akibatnya, banyak dijumpai berbagai acara yang sejatinya tidak terselenggara pun tidak akan merugikan dirinya. Misalnya, berbagai penyelenggaraan festifal, lomba, dan kompetisi. Acara-acara itu diselenggarakan secara terorganisasi dan rapi sehingga menuntut kesibukan tersendiri. Padahal semua itu diselenggarakan sekedar memenuhi agar tidak kehilangan kesibukannya. Bahkan berbagai acara dan produk teknologi yang bernilai permainan diproduk secara masif demi memantapkan posisi sebagai makhluk sibuk.

Pada masyarakat tertentu kesibukan bahkan dipandang sebagai standar kemanusiaan. Orang akan malu kalau tidak kelihatan sibuk. Oleh karena itu banyak ditemukan orang yang berlalu lalang mencari sibuk. Bahkan jika sibuk yang dicari tidak sampai bisa ditemukan, demi menjaga gengsi dan citra diri, mereka lantas berpura-pura sibuk.
15.59 | 0 komentar

3 HAL YANG PERLU PERHATIAN

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 29 Desember 2010 | 11.34

Dari Abu Huraerah, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tiga yang menyelamatkan, tiga yang membinasakan, tiga yang meningkatkan derajat, dan tiga yang menjadi kaffarat (penghapus dosa). Tiga yang menyelamatkan itu ialah (1) takut kepada Allah dalam keadaan sembunyi atau terang-terangan, (2) selalu hemat baik dalam keadaan miskin ataupun kaya, dan (3) selalu berlaku adil baik dalam keadaan ridha ataupun marah. Adapaun tiga hal yang dapat membinasakan ialah (1) sangat kikir, (2) menurutkan hawa nafsu, dan (3) membangga-banggakan diri. Akan halnya tiga yang dapat meningatkan derajat ialah (1) menyebarkan salam, (2) memberi makan orang yang lapar, dan (3) shalat malam ketika orang lain sedang asyik-asyiknya tidur. Adapaun tiga hal yang menjadi kaffarat (penebus dosa) yaitu (1) berwudu` di kala malam yang sangat dingin, (2) mengayunkan kaki untuk shalat berjama'ah, dan (3) menanti shalat setelah melakukan shalat.” (Rasulullah Saw.
11.34 | 0 komentar

TAK PERLU KESAL KEPADA TUHAN

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 28 Desember 2010 | 06.50

Optimisme akan rahmat Allah adalah energi diri yang sangat potensial. Mengoptimalkannya dalam sepanjang hidup adalah suatu keniscayaan. Sebaliknya, berputus asa akan rahmat Allah adalah perbuatan mendegradasi energi diri. Dalam satu riwayat,Rasulullah Saw menggambarkan kondisi kejiawaan orang yang pesimis dan putus asa kepada ramat Allah sebagai mengadukan Tuhan dan marah kepada-Nya. "Orang yang di pagi hari mengadukan sempitnya kehidupan seolah-olah ia mengadukan Tuhannya; orang yang di pagi hari berduka dengan urusan dunia sesungguhnya ia dalam kondisi marah kepada Allah Swt; dan orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikarenakan kekayaannya sesungguhnya ia telah kehilangan dua pertiga agamanya."
06.50 | 0 komentar

SIBUK

Written By Rudi Abu azka on Senin, 27 Desember 2010 | 18.52

Baik secara fisik ataupun psikhis, manusia adalah makhluk unik. Di antara keunikannya ialah sebagai makhluk paling sibuk. Menurut penelitian ilmu kedokteran, jika seseorang dewasa dengan bobot tubuh rata-rata, maka selama 24 jam ia memiliki kesibukan luar biasa. Jantung berdenyut 103.689 kali. darah menempuh perjalanan 168.000.000 mil, bernafas sebanyak 23.040 kali. enghirup udara sebanyak 483 meter kubik, menelan 1,5 kg makanan, meminum 3,5 liter cairan, berkata-kata sebanyak 25.000 kata (termasuk kata-kata yang tidak perlu diucapkan), enggerakkan 750 otot, kuku bertumbuh 0,00012 cm, rambut memanjang 0,94353 cm, dan sel otak sebanyak 7.000.000 terus bekerja. Konon, ketika tidur pun beberapa organ tubuh manusia justru sedang sibuk-sibuknya.

Dalam kehidupan kesehariannya juga menunjukkan kesibukan. Begitu fajar menyingsing ia mulai keliahatan sibuk. Dari merapikan tempat tidur, menyiapkan sarapan, pergi ke pasar, hingga belajar dan bekerja. Akibatnya, di mana-mana tampak kesibukan. di rumah, tempat kerja, pasar, jalan raya, hingga di udara. Hidup memang penuh kesibukan. Entahlah kapan saatnya semua kesibukan itu berakhir. Pertanyaannya, untuk apa manusia sibuk? Para ahli menjawab, relatif, tergantung nilai yang menjadi dasar kesibukannya.
18.52 | 0 komentar

Imunisasi, Satu Lagi Siasat Keji Yahudi

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 26 Desember 2010 | 09.18

Alhamdulillah, istri saya saat ini telah memasuki bulan keempat kehamilannya. Persiapan demi persiapan menjadi sepasang ayah dan ibu yang baik pun mulai kami usahakan. Masalah kesehatan menjadi prioritas utama bagi kami –tentu saja setelah masalah agama-. Salah satu yang menjadi topik pembicaraan kami dalam penantian sang buah hati adalah imunisasi atau vaksinasi. Qodarulloh, setelah mencari-cari informasi, bukan hanya ilmu tentang baik atau buruk sebenarnya vaksinasi tersebut, saya justru mendapatkan lebih, tentang indikasi kuat adanya konspirasi Yahudi –lagi-lagi Yahudi Laknatulloh- di balik program vaksinasi ini. Berikut saya ringkaskan artikel “Imunisasi, Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi” dalam Tabloid Bekam pada edisi yang mengangkat Imunisasi sebagai topik utamanya. Semoga bermanfaat.

Apa itu Imunisasi/Vaksinasi?

Bila bibit penyakit penderita TBC, Hepatitis, Meningitis, HIV, Campak, Polio atau penyakit lainnya yang menyarang di tubuh seseorang diambil lantas diolah sedemikian rupa entah dengan istilah dilemahkan atau dilumpuhkan, kemudian bibit penyakit tersebut diperbanyak lalu disuntikkan ke tubuh Anda atau anak Anda! Apakah dengan sukarela Anda menerimanya? Aksi memasukkan bibit penyakit inilah yang akrab disebut vaksinasi atau imunisasi.

Vaksin berasal dari kata vaccinia penyebab infeksi cacar pada sapi. Secara umum, vaksin adalah suatu bahan yang diyakini dapat melindungi orang dari penyakit. Vaksinasi adalah usaha merangsang daya tahan tubuh dengan memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan dan diproses dengan bahan lain.

Sebenarnya vaksinasi atau imunisasi tidak ada hubungannya dengan peningkatan daya tahan tubuh mengingat fungsinya hanya sebagai perangsang sejauh mana daya tahan tubuh seseorang. Padahal daya tahan tubuh/sistem imunitas perlu dilatih berulang-ulang agar selalu siap bila ada mikroorganisme masuk ke tubuh.

“Maka dari itu, yang kita dengar vaksin harus disuntikkan berkali-kali, bila tidak tubuh tidak membentuk sistem imunitasnya. Namun, pada kenyataannya walaupun telah diimunisasi, tetap saja masih banyak yang terkena penyakit. Kenapa ini bisa terjadi, kemungkinan karena kesalahan cara mem-vaksin, penyimpanannya, atau karena vaksin memang tidak efektif.” ungkap dr. Agus Rahmadi, pengasuh Klinik Sehat.

“Sebenarnya vaksin diberikan hanya untuk jaga-jaga (preventif)/belum tentu terjadi. Apakah dengan alasan jaga-jaga, kesehatan justru harus dikorbankan (dipertaruhkan)? Belum lagi vaksin banyak menggunakan unsur haram. Kenapa tidak dengan tahnik, konsumsi madu, dan habbatussauda yang telah terbukti meningkatkan sistem imunitas?”, lanjutnya.

Sejarah Vaksin

Vaksinasi sesungguhnya adalah salah satu dari sekian banyak perilaku keji Yahudi dalam usaha mereka untuk menguasai dunia dengan menyebarkan racun/kuman pembunuh kepada bangsa lain, terutama kaum muslimin.

Diungkapkan dalam Deadly Mist, vaksin dijadikan senjata biologis pemusnah massal sistematis oleh zionis dan kroninya sejak abad ke-18, diawali oleh Jenderal Jeffrer Amherst yang menghabisi suku Indian dengan menyebarkan kuman dan penyakit yang disisipkan dalam selimut dan handuk yang dibagikan ke suku tersebut.

Pada abad ke-19, serum/kuman, virus, dan materi berbahaya lainnya dijadikan senjata senjata biologi dalam peperangan atau pemusnahan massal serta penyebaran racun yang menghancurkan otak dan sistem saraf pusat.

Pada abad ke-20, vaksin modern dikelola oleh Flextner Brothers, yang penelitiannya tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh keluarga Rockefeller yang merupakan salah satu keluarga paling berpengaruh di dunia dan bagian dari Zionis International yang memprakasai pendirian WHO dan lembaga dunia lainnya.

Singkatnya, dari data historis, vaksinasi merupakan bagian dari strategi dan misi “pengendalian” jumlah penduduk oleh Zionisme International dalam rangka menggapai misi New World OrderI. Mereka meraup dua keuntungan sekaligus, “pengendalian” jumlah penduduk dan menuai keuntungan yang besar.

Vaksin dan Kepentingan Bisnis

Boleh jadi pula niat busuk Yahudi dalam program vaksinasi ini senada dengan teori bila ingin senjata laku, maka ciptakan perang. Dalam hal ini bila ingin obat laku, ciptakan penyakit! Dengan strategi ini, Yahudi berusaha membuat bangsa lain menderita sekaligus menguras isi kantongnya dengan alasan kesehatan. Sasaran vaksin adalah negara-negara berkembang yaitu Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Yang mengambil keuntungan adalah negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Adanya kepentingan bisnis dan siasat merusak kesehatan manusia di balik imunisasi ini semakin mudah dipahami apalagi bila dicermati bahwa imunisasi/vaksinasi merupakan perbuatan yang membingungkan dan sulit dipahami dan diterima akal sehat serta bertentangan dengan aturan Islam.

Permasalahan Vaksin Lainnya

Vaksin yang selama ini dikembangkan adalah salah satu produk farmasi, dimana kehalalan produk-produk farmasi sendiri dikritisi oleh Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim. Ketus MUI pun menegaskan bahwa hukum mengkonsumsi obat dan vaksin sama dengan hukum mengkonsumsi makanan, yakni harus halal. Bahkan boleh jadi, bila dikaji, pemberian vaksin juga bertentangan dengan aturan Badan POM RI yang tidak memberikan izin edar produk yang bersumber dari bahan tertentu.

Penggunaan bahan haram dalam pembuatan vaksin pun diakui oleh produsen vaksin terbesar di Indonesia, PT. Biofarma, seperti pernah diungkapkan oleh Drs. Iskandar, Apt., MM., ketika menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Biofarma bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).

Sementara Kepala Divisi Produksi vaksin virus PT. Biofarma, Drs. Dori Ugiyadi mengatakan, “Di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio dan sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak.”

Logika Vaksin

Bayi yang baru lahir dianugerahi oleh Allah tubuh yang sempurna, lengkap dengan sistem kekebalan tubuh. Bayi yang belum tahu apa-apa, belum mengenal selain tangis dan tawa, makan/minum, dan tidur tentu tak mampu menolak apa pun yang duimasukkan ke tubuhnya. Ayah ibu lah yang memilah dan memilih apa yang terbaik untuk ditelen atau dimasukkan ke tubuh buah hatinya.

Mungkinkah orang tua membiarkan begitu saja ragam racun ditelan dan bersarang di pembuluh darah dan organ-organ tubuh anak kesayangannya? Di sisi lain, mungkinkah racun merupakan media yang tepat untuk menjaga kesehatan? Bayangkan pula bila racun tersebut berasal dari babi, bangkai, darah dan nanah! Mungkinkah seseorang yang karena hanya ingin menguji daya tahan tubuhnya harus menelah bahan-bahan haram dan berbahaya?

Bukankah vaksinasi hanya menambah orang yang terinfeksi penyakit dan terjadinya penyebaran penyakit di daerah/negara tertentu padahal sebelumnya aman-aman saja?

Hentikan Vaksin!

Setelah merenungkan agenda busuk Yahudi serta dampak buruk vaksin, cukup banyak tenaga medis yang menghentikan dan menentang vaksinasi, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Bidan Emma, menghentikan program imunisasi di kliniknya karena tidak ingin men-dzolimi bayi dan masyarakat dengan memasukkan barang-barang haram dan membahayakan kesehatan. Menurutnya, semisal vaksin hepatitis B membuat organ-organ tubuh bayi terutama liver menjadi sangat terpaksa merespon virus-virus dan zat kimia sehingga memungkinkan terjadinya kelemahan liver untuk tahap kehidupan berikutnya.

Dr. Fadilah Supari saat menjabat sebagai Menteri Kesehatan secara terang-terangan mendesak kajian ulang mengenai kebaradaan Namru 2 (Naval Mediacal Research Unit), proyek riset militer AS dalam masalah vasin. Selain itu, dia juga menentang proyek jual beli virus flu burung dan bisnis-bisnis kotor Amerika lainnya.

Siti Fadilah, anggota Dewan Penasihat Presiden, mengamati adanya konspirasi AS dan WHO dalam mengembangkan senjata biologis virus flu burung sehingga ia dinilai “membuka kedok” WHO yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang merugikan negara-negara miskin.

Bahkan Amerika Serikat sendiri telah mendirikan The Vaccine Adverse Events Reporting Sistem (VAERS) yang mencatat berbagai reaksi buruk yang disebabkan oleh berbagai program vaksinasi. Menurut laporan VAERS, tercatat 244.424 kasus, dengan 2.866 kasus berujung kematian sejak tahun 1999-2002.

Demikan pula masyarakat di AS, Kanada, dan beberapa negara Eropa seperti Inngris, Perancis, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.

***

Demikian tulisan ringkas ini semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Sebenarnya masih banyak hal-hal penting lainnya yang mungkin terlewat tidak saya tuliskan di sini, seperti kisah-kisah nyata tentang anak-anak yang justru tumbuh lebih sehat tanpa imunisasi dan sebaliknya, kisah tentang tragedi yang terjadi akibat imunisasi pada bayi, dsb.

Setelah membaca informasi-informasi tersebut juga informasi dari artikel-artikel di internet, saya bertekad tidak akan memberikan vaksinsasi kepada anak-anak saya nanti, insyaAllahu Ta`ala. Semoga Allah melindungi kita semua. Allohu Ta`ala A`lam.

Sumber: http://estehmanishangatnggakpakegula.blogspot.com

Rujukan:
silakan baca buku:
1. Imunisasi, Dampak & Konspirasi; Solusi Sehat ala Rasulallah SAW, yang ditulis oleh Hj. Ummu Salamah, SH., Hajjam.
2. Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, oleh Jerry D. Gray.
09.18 | 0 komentar

Obat Penawar Keserakahan

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 25 Desember 2010 | 00.13

“…dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Qs. Huud [11]:6

Sahabat Yang Budiman. Lawan dari qon’ah adalah keserakahan, Keserakahan adalah sebuah nafsu yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada padanya, jangankan sedikit yang banyakpun dirasakan kurang. orang seperti ini selalu melihat keatas dan terus punya keinginan untuk menjadi yang teratas, bahkan terkadang keinginannya melebihi porsi yang di perlukan. Sifat serakah telah menjadikan tabiat manusia tidak berbeda dengan hewan. Bahkan kadang lebih buas lagi. Nafsunya tak pernah terpuaskan, keinginan yang timbul dari hatinya adalah bagaimana mengumpulkan, bukan bagaimana memafaatkan.

Padahal, sehebat-hebat binatang dibatasi oleh kemampuan perutnya untuk menampung makanan.
Sedangkan keserakahan manusia primitive masih terbatas oleh jangkauan tenaga kaki dan tangannya. Jika orang primitive dahulu mengatakan; “besok makan apa”, Namun kerakusan manusia modern mengatakan; "Besok makan siapa”.
Itulah fakta keserakahan manusia modern hari ini, Terlebih saat ini di dukung oleh kemampuan intelektualitas dan tekhnologi.

Kita saksikan, exploitasi manusia kuat atas manusia lemah tanpa di sadari kian menjadi trend, penjajahan bangsa yang kaya atas bangsa miskin telah menjadi tontonan. Pemerasan modern dengan selubung ilmiah, terjadi bukan hanya di dunia bisnis, tetapi terus merembes kedunia medis, pendidikan, politik dan lain-lain.

Bahkan bagi sebagian orang, terkadang agamapun bila perlu di gadaikan sekedar untuk mendapatkan harta dan tahta. Mereka mengatakan; Tidak perlu lagi keikhlasan, sebab akan menghambat kemajuan, tidak perlu lagi kejujuran sebab kejujuran hanya menjadi penghalang meraih kekayaan. Dan tidak perlu lagi moralitas, sebab itu akan menghambat popularitas.Astaghfirullahal adzim.

Kenyataan di atas sangat cocok dengan apa yang ungkapkan oleh Nabi saw. Dari Ka’ab Bin Malik ra. Berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiadalah pengrusakan dua ekor serigala yang lapar yang di lepas dalam rombongan kambing, melebihi dari pengrusakan sifat keserakahan dan kerakusan kepada harta dan kedudukan terhadap agama seseorang”. ( Hr.At-Tarmidzi)

Realitas diatas adalah potret buram peradaban manusia modern hari ini. Bila nafsu serakah telah mewabah, maka yang terjadi adalah musibah. Bila musibah telah datang menghampiri barulah manusia menyadari. Dan semua itu terjadi karena telah hilangnya salah satu aspek moral dalam Islam yaitu sifat qona’ah.

Lantas dengan cara apa penyakit rakus ini dapat di obati. Salah satu obatnya adalah dengan sifat qona’ah. Sebab qona’ah akan meredam gejolak nafsu yang tidak terkendali. Ia akan memberi keseimbangan antara harapan dan kenyataan. Dia akan tegak berdiri pada landasan iman yang kokoh dan selalu berorientasi pada optimisme. Hidup bersahaja melahirkan syukur dan mengendalikan panjang angan yang berlebihan.

Ia mencukupkan segalanya hanya kepada Allah. Mempercayakan jaminan hidupnya juga hanya kepada Allah. Maka sifat qona’ah akan melahirkan ketentraman, ketenangan, dan kedamaian dalam jiwa. Siapa yang tidak ingin kaya?, setiap semua manusia pasti mengharapkannya. Siapa yang ingin hidupnya miskin, sungguh semua manusia pasti tidak mengharapkannya. Tetapi tahukah kita, ternyata yang dimaksud kaya bukanlah sekedar kaya harta. Rasulullah dengan tegas menepis bahwa kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati.

“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Beliau bersabda: “Kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi yang namanya kaya adalah kaya hati”. (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dr. Ahmad Mu’adz Haqqi mengomentari hadits ini. Beliau mengatakan: makna hadits ini adalah bahwa kekayaan yang bermanfaat atau yang sangat agung atau yang terpuji adalah kaya hati.

Saudaraku, jika jiwa seseorang telah merasa kaya, maka dia menahan dirinya dari berbagai keinginan. Sehingga jiwa itu menjadi mulia dan agung serta ia akan meraih kesucian, kemuliaan, dan pujian yang sangat banyak dari pada harta kekayaan yang di raih oleh jiwa yang fakir karena ketamakannya.

Sesungguhnya harta kekayaan tersebut akan menjatuhkannya kedalam perkara-perkara yang rendah dan perbuatanperbuatan yang hina karena cita-citanya yang rendah dan kebakhilannya. Siapa yang tidak ingin kaya?, setiap semua manusia pasti mengharapkannya. Siapa yang ingin hidupnya miskin, sungguh semua manusia pasti tidak mengharapkannya. Tetapi tahukah kita, ternyata yang di maksud kaya bukanlah sekedar kaya harta. Rasulullah dengan tegas menepis bahwa kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati. “Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Beliau bersabda: “Kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi yang namanya kaya adalah kaya hati”. (Hr. Bukhari dan Muslim)

Penulis : Ustadz Anwar Anshori Mahdum
00.13 | 0 komentar

IMUNISASI SIASAT YAHUDI LUMPUHKAN GENERASI

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 24 Desember 2010 | 19.04

Vaksin yang di kembangkan selama ini adalah salah satu produk farmasi, sedangkan mengenai ke HALALAN produk farmasi sendiri, di kritisi oleh direktur LPPOM MUI ( Lembaga pengkajian pangan Obat Obatan dan kosmetika Majelis
Ulama Indonesia ) lukmanul Hakim, yang menegaskan bahwa sampai saat ini pihaknya belum mengeluarkan setifikasi halal untuk produk obat obatan termasuk vaksin.

DEFINISI VAKSIN ATAU IMUNISASI

Pengertian Vaksin secara umum adalah suatu bahan yang di yakini dapat melindungi orang terhadap penyakit. vaksin di buat dari VIRUS atau BAKTERI PATHOGEN yang menyebabkan terjadinya penyakit. konon sedikit bahan pathogen yang di siapkan lalu di suntikkan ke dalam tubuh sehingga dapat membantu memerangi penyakit yang lebih ganas atau di dapat dengan cara alami. tujuan utama vaksin adalah merangsang pembentukan anty bodi dengan konsentrasi yang cukup tinggi untuk menghentikan perjalanan pathogen sehingga mencegah mereka dari terjangkitnya penyakit.

Pada dasarnya Vaksinasi atau imunisasi adalah usaha merangsang daya tahan tubuh seseorang dengan MEMASUKKAN BIBIT PENYAKIT YANG SUDAH DI LEMAHKAN dan di Proses dengan bahan lain. di masa lalu vaksinasi menggunakan banyak bahan dasar serum binatang, namun penggunaan ini di larang lantaran dampak buruknya yang tak terbendung. lantas vaksin di modernisir dengan BAHAN DASAR BAKTERI DAN VIRUS. Bila di sederhanakan menurut ahli farmasi, dan tanaman obat Universitas Indonesia Dr Abdul Mu'nim, Vaksinasi atau imunisasi adalah usaha untuk memancing daya tahan atau pertahanan tubuh dengan bahan bahan tersebut.

Dengan demikian, sesungguhnya Vaksinasi atau imunisasi TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan peningkatan daya tahan tubuh. mengingat fungsinya HANYA MERANGSANG ATAU MEMANCING sejauh mana daya tahan tubuh seseorang. karena itu yang di lakukan pada umumnya hanya merangsang daya tahan tubuh dari penyakit tertentu dengan BIBIT PENYAKIT SEJENIS.

Contohnya untuk menguji daya tahan seseorang terhadap virus meningitis DENGAN MEMASUKKAN VAKSIN DARI BIBIT PENYAKIT MENINGITIS. Contoh lain, untuk menguji daya tahan seseorang terhadap penyakit cacar, maka DI MASUKKAN ATAU DI SUNTIKKAN VAKSIN DARI BIBIT PENYAKIT CACAR, dan begitu seterusnya.

ANALOGINYA : BAGAIMANA KITA AKAN MEMBASMI TIKUS DI RUMAH KITA, APABILA KITA JUSTRU MEMASUKKAN TIKUS KE DALAM RUMAH KITA. ATAU BAGAIMANA KITA INGIN TERBEBAS DARI GANGGUAN SYAITON APABILA KITA JUSTRU MEMASUKKAN SYAITON KE DALAM TUBUH KITA ? ( RENUNGKANLAH ).

Sementara itu pengasuh klinik sehat dr Agus Rahmadi, mengatakan vaksinasi pada prinsipnya melatih tubuh untuk membentuk sistem pertahanan terhadap mikroorganisme tertentu dengan cara menggunakan mikroorganisme tertentu yang di lemahkan.namun perlu di ingat, bahwa sistem imunitas kita perlu di booster ( di latih ) berulang ulang supaya sistem pertahanan tubuhnya selalu siap bila seandainya ada mikroorganisme yang masuk.

BAHAN BAHAN DASAR PEMBUAT VAKSIN :
PENGGUNAAN BAHAN HARAM dalam pembuatan vaksin ini di akui oleh produsen vaksin terbesar di tanah air. yaitu bio farma. seperti pernah di ungkapkan oleh Drs Iskandar, Apt., M.M ketika menjabat sebagai direktur perencanaan dan pengembangan PT BIO FARMA kepada HIDAYATULLAH.Com beberapa waktu silam, dia menjelaskan tentang bahan pembuat Imunisasi atau Vaksin. di antaranya adalah :

1. Sel vero ( Ginjal Kera )

2. Plasenta dari bayi yang di aborsi

3. Tripsin atau yang lebih di kenal dengan ENZIM BABI. ( Untuk Virus Meningitis. Biasanya di suntikkan pada calon jamaah haji sebagai syarat untuk dapat melaksanakan haji ke Mekkah dan untuk Vaksin Polio ( IPV ).

4. Sel Dari Ginjal Anjing.

5. Dan Dari Retina Mata Manusia.

Pandangan Islam Tentang Vaksinasi atau Imunisasi :
Dari data dan penjelasan di atas dapat kita simpulkan BAHWA PENGGUNAAN bahan bahan HARAM jelas terlihat dalam penggunaan Vaksin atau Imunisasi. Maka hal ini JELAS BERTENTANGAN dengan KAIDAH ISLAM. Dalam sejarah, Islam tidak mengenal Vaksinasi tetapi Islam telah mengajarkan melalui Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam, tentang Sistem Imunitas atau ketahanan tubuh yang sesuai dengan Syariat Islam. yaitu dengan cara mentahnik. Dalilnya sebagai berikut :

" Dari Aisyah Ra, Bhwa suatu ketika di datangkan kepada Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam seorang anak kecil, lalu beliau mendoakan mereka dan MENTAHNIK mereka ". ( HR BUKHARI DAN MUSLIM ).
19.04 | 0 komentar

AGAR TAK BERUBAH MENJADI KESEDIHAN

Pada kenyataannya, manusia selalu dihadapkan, menurut Muhammad Quthub, pada jaringan-jaringan yang saling berlawanan yang melekat di dalam dirinya. Misalnya dalam hal keinginan yang ada pada setiap manusia. Dalam satu sisi keinginan manusia itu tidak terbtas di sisi lain kenyataan bahwa kemampuan dirinya untuk merealisasikan keinginannya yang tidak terbatas itu serba terbatas.

Akibat adanya dikotomi di dalam diri setiap manusia tersebut banyak sekali keinginan-keinginan yang tidak dapat direalisasikan yang melahirkan kekecewaan dan kesedihan. Pada umumnya kekecewaan dan kesedihan disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam merealisasikan keinginan. Atau dikarenakan sesuatu yang diinginkan tak hadir sedangkan yang hadir justru yang tidak diinginkannya.

Ketika keinginan-keinginannya itu dibiarkan dalam ketakterbatasannya dan kemudian menimbuni jagat dirinya hingga menggunung, peluang untuk terealisasi semua keinginannya semakin sedikit. Secara Sunnatullah, jika peluang terealisasi keinginannya semakin sedikit maka peluang kegagalannya akan semakin banyak. Sejalan dengan itu peluang untuk dilanda kesedihan, kekecewaam, dan bahkan penderitaan juga semakin besar.

Meski demikian, banyak orang yang justru memperluas dan menganekaragamkan keinginan sampai ke tingkat tidak realistis sehingga menyulitkaan dirinya. Sesungguhnya keinginan yang tak terbatas itu dapat dibatasi dengan keterbataasan dirinya. Di sinilah pentingnya kesadaran akan eksistensi dirinya yang serba terbatas dengan kelemahan eksistensial. Allah Swt telah mengingatkan, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS, al-Nisa [4]: 28)

Seseorang yang mampu membatasi keinginannya dengan keterbatasan dirinya, ia akan selalu realistis dalam mencanangkan keinginannya dan tidak membiakkan keinginan di luar kemampuan merealisasikannya. Orang seperti itu akan lebih jarang mengalami kesedihan, kekecewaan, dan kesengsaraan yang disebabkan oleh ketidaktercapaian keinginannya.

Di bagian lain, ketika seseorang terus memperluas keinginannya dan membiarkannya tanpa batas, kemungkinan intervensi syaitan masuk untuk menggoda sangat terbuka. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Hajj [22]: 52).

Jika syaitan telah berhasil mengintervensi keinginan seseorang, maka keinginannya selain akan meluas tanpa batas tetapi juga akan berubah menjadi anga-angan. ”Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS, al-Nisa [4]: 119-120). Sedangkan angan-angan akan lebih tidak terbatas lagi. Di sinilah pentingnya proporsionalitas dalam mencanangkan keinginan dengan mengukur kemampuan merealisasikannya agar tidak terkepung oleh angan-angan. Dengan cara itu keinginan dapat dibatasi secara positif.

Dalam sebuah hadits dijelaskan cara menghindari agar keinginan tidak semakin meluasnya tanpa batas dan agar syaitan tidak mudah mengintervensi dan menggodanya. Yaitu dengan cara mengosongkan pikiran dari kesangsian dunia dan tidak menjadikannya sebagai orientasi hidupnya. “Berusahalah sekuat tenaga mengosongkan pikiran dari kesangsian dunia. Siapa saja yang menjadikan urusan dunia sebagai tujuan utamanya, niscaya Allah Swt makin memperbanyak keperluan hidupnya yang menyebabkan ia lupa urusan akhiratnya dan niscaya Dia menjadikan kemiskinannya berada di hadapannya. Siapa saja yang menjadikan urusan akhirat merupakan tujuan utamanya niscaya Allah Swt menghimpunkan semua urusannya dan niscaya Dia menjadikan kalbunya merasa cukup terhadap apa yang telah diperolehnya. Tiada sekali-kali seorang hamba menghadap dengan sepenuh hatinya kepada Allah kecuali Dia menjadikan hati orang-orang mu`min cenderung untuk mencintai dan mengasihinya. Allah adalah yang paling cepat memberikan semua kebaikan kepadanya.” (HR, Thabrani). Wallau A’alm.
08.44 | 0 komentar

Jangan Berhenti Berbuat Baik

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 23 Desember 2010 | 08.49

Kebaikan sekecil apapun, jika dilakukan akan membawa dampak positif yang cukup besar.

Dikisahkan, ada seorang pemuda berusia menjelang 30 tahun. Namun sayangnya, ia hanya memiliki kemampuan berpikir layaknya anak berumur di bawah 10 tahun. Ibunya dengan penuh kasih memelihara dan mendidik si anak agar kelak bisa hidup mandiri dengan baik, terlebih karena ia merasa anaknya punya kemampuan berpikir yang sangat minim. Si anak sangat mencintai ibunya. Suatu hari dia berkata, “Ibu, aku sangat senang melihat ibu tertawa, wajah ibu begitu cantik dan bersinar. Bagaimana caranya agar aku bisa membuat ibu tertawa setiap hari?” “Anakku, berbuatlah baik setiap hari. Maka, ibu akan tertawa setiap hari,” jawab si ibu. “Lantas, bagaimana caranya berbuat baik setiap hari?” tanya si anak. “Berbuat baik adalah jika kamu bekerja, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Bantulah orang lain terutama orang-orang tua yang perlu dibantu, sakit atau kesepian. Kamu bisa sekadar menemani atau membantu meringankan pekerjaan mereka. Perlakukanlah orang-orang tua itu sama seperti kamu membantu ibumu. Pesan ibu, jangan menerima upah ya. Setelah selesai membantu, mintalah sobekan tanggalan dan kumpulkan sesuai urutan nomornya. Kalau nomornya urut artinya kamu sudah berbuat baik setiap hari, dengan begitu ibu pun setiap hari pasti akan senang dan tertawa,” jawab si ibu sambil membelai sayang anak semata wayangnya.

Sejak ibunya meninggal, karena kenangan dan keinginannya melihat ibunya tertawa, setiap hari sepulang kerja, dia berkeliling kampung membantu orang-orang tua, kadang memijat, menimba air, memasakkan obat, atau sekadar menemani dengan senang dan ikhlas. Bila ditanya orang kenapa hanya sobekan tanggalan yang diterimanya setiap hari? Dia pun menjawab, “Karena setiap hari, setibanya di rumah, sobekan tanggalan yang aku kumpulkan, kususun sesuai dengan nomor urutnya. Maka setiap hari aku seakan bisa mendengar Ibuku sedang melihatku dan tertawa bahagia di atas sana.”Si pemuda yang berpikiran sederhana itu telah menjadi sahabat banyak orang di desa. Sehingga suatu ketika, atas usul dari seluruh warga, karena kebaikan hatinya, dia dianugerahi oleh pemerintah bintang kehormatan dan dana pensiun selama hidup untuk menjamin tekadnya, yakni agar setiap hari bisa membantu orang lain di sisa kehidupannya.

Untuk kehidupan saat ini, memang rasanya cukup sulit untuk menemukan orang yang membantu orang lain tanpa ada keinginan untuk menerima balasan. Padahal, esensi kehidupan manusia sebenarnya adalah saling bantu membantu, menolong dan ditolong. Padahal sebenarnya, bila kita bisa berbuat baik dan membantu orang lain sesuai dengan yang dibutuhkan, akan memberikan rasa yang nikmat sekali. Tentu, untuk berbuat baik dan membantu orang lain ini membutuhkan kesadaran, latihan, dan membiasakan diri terus menerus. Karena itu, mari kita praktekkan pepatah sederhana ini: Tiap hari melakukan satu kebaikan. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih hidup, dan akan kita dapatkan kebahagiaan yang sebenarnya

Oleh: Ust Anwar Anshori MD
08.49 | 0 komentar

MUNGKIN SEBENARNYA TIDAK SEBERAT DENGAN APA YANG DIRASA

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 22 Desember 2010 | 03.41

Setiap manusia semestinya dapat merasakan secara obyektif apa yang terjadi pada dirinya. Misalnya, rasa kenyamanan atau ketidaknyamanan. Pada umumnya, nyaman dan tidaknya perasaan seseorang tergantung pada faktor penyebab eksternal yang menjadi pemicunya. Akan tetapi terkadang orang juga dapat merasakan kenyamanan dalam dirinya, merasakan rasa aman, tak ada sesuatu yang mengancam, merasakan kebahagiaan tanpa dapat mengidentifikasi faktor penyebab eksternalnya secara pasti. Demikian halnya dengan perasaan gelisah, cemas, dan lain-lain. Adakalanya dapat diketahui pasti faktor penyebabnya, namun seringkali ketidaknyamanan tersebut sanag diri tidak dapat diketahui apa yang menjadi faktor pemicunya.

Demikian halnya ketika seseorang berhadapan dengan suatu persoalan dalam kehidupannya. Boleh jadi persoalan tersebut akan dirasakan olehnya sebagai suatu hal yang sangat membebani diri, memberatkan, sukar dipecahkan, dan menimbulkan ketidaknyamanan. Sementara persoalan yang sama bagi orang lain dirasa sebagai suatu hal yang sepele dan dengan mudah dapat dipecahkan.

Oleh karena itu, kondisi obyektif suatu persoalan tidak secara otomatis dapat menimbulkan kenyamanan atau ketidaknyamanan bagi orang yang mengalaminya. Namun juga ditentukan oleh faktor penghayatan atau respon subyektif individu terhadap persoalan tersebut. Penghayatan subyektif seseorang terhadap suatu masalah dapat dipengaruhi oleh kualitas intelektual, cara pandang terhadap suatu persoalan, tingkat sensitifitas individu dalam merespon rangsangan eksternal, dan sikap terhadap persoalan yang menggambarkan kondisi obyektif batiniah atau mental seseorang.

Sedangkan kondisi obyektif batiniah seseorang, dalam pandangan Islam, ditentukan oleh sejauhmana kesiapan totalitas dirinya dalam menerima dan berserah kepada Allah dengan segala ketentuan dan tata aturan-Nya. Bagi mereka yang bulat keberserahan dirinya kepada Allah, akan diberi petunjuk dan dimudahkan langkahnya. “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (QS, al-An’am [6]: 125) Sebaliknya siapa yang totalitas dirinya tak siap untuk berserah kepada-Nya, maka baginya akan terus-menerus dilanda kesusahan, “Dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS, al-An’am [6]: 125)

Kenyataan ketakutan dan kecemasan adalah perasaan yang lebih merajalela daripada yang disadari oleh kebanyakan orang. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa faktor subyektif sangat menentukan perasaan seseorang tentang berat dan ringannya suatu persoalan yang sedang dihadapi. Banyak persoalan kehidupan manusia dewasa ini semakin berlarut-larut dan menjadi amat berat untuk diiselesaikan dikarenakan didominasi oleh kecemasan tingkat rendah yang konstan. Misalnya, rasa takut yang tidak jelas bahwa sesuatu yang amat buruk bakal terjadi, bahwa kehidupan terus akan bertambah buruk. Dengan sikap subyektif seperti itu orang akan menjadi terkondisi untuk mencari apa pun yang dapat mengurangi kecemasan mereka. Sedangkan dalam pencariannya itu, dengan kecemasan subyektif yang telah mendominasinya, biasanya justru membiakkan persoalan baru bagi dirinya yang menyebabkan terjadi akumulasi persoalan.

Secara psikologis optimisme menjadi pintu pertama menuju penyelesaian masalah walaupun secara real masalah itu sendiri belum teratasi. Kondisi jiwa yang diliputi optimisme akan melahirkan keceriaan Ibrahim bin Adham menuturkan tentang suasana hati yang penuh keriangan dan keceriaan yang dialami sepanjang hidupnya, "Kami hidup dalam suasana bila raja-raja itu tahu maka mereka akan menggorok leher kami dengan pedang mereka.".

Akhirnya, orang-orang yang telah diberi hidayah dikarenakan totalitas dirinya telah menerima dan berserah kepada Allah dengan segala ketentuan dan tata aturan-Nya, dalam menghadapi kegawatan dan kedahsyatan yang paling gawat dan dahsyat pun, ia tetap tidak mengalami kesusahan. Mereka mampu menghadapi situasi paling kritis tanpa harus cemas dan khawatir. “Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh Para malaikat. (Malaikat berkata): "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu". (yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS, [21]: 103-104). Wallahu A’lam.
03.41 | 0 komentar

KETIKA DIAM MENJADI ASING

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 21 Desember 2010 | 05.45

Salah satu karakteristik yang memastikan manusia sebagai makhluk moral adalah kehendak atau pilihan bebasnya dalam menentukan sesuatu. Bagi manusia, kehendak atau pilihan bebasnya itu bersifat intrinsik, karunia Allah Swt yang melekat pada penciptaannya. Sehubungan dengan kehendak atau pilihan bebasnya itu, dua kemungkinan yang dapat dilakukan manusia di sepanjang hidupnya: diam atau melakukan sesuatu. Berharga atau tidaknya kedua kemungkinan tersebut tergantung kepada tujuan dan motivasi yang melandasi kehendak dan pilihan bebasnyanya.


Kata diam biasanya digunakan untuk menunjuk suatu keadaan yang dikaitkan dengan pembicaraan dan perbuaatan seseorang. Kendati demikian, orang yang sedang diam tidak berarti seluruh organnya sama sekali diam, tidak ada gerakan. Hal itu tak mungkin terjadi selama dia hidup dikarenakan gerak adalah tanda kehidupan itu sendiri. Seseorang disebut sedang diam ketika ia dengan kehendak bebasnya sedang tidak bicara apa-apa atau tidak melakukan apa-apa.

Seringkali diam dihubungkan dengan pasivitas yang menyebabkan tidak sedikit orang yang memandangnya sebagai tidak produktif. Akibatnya banyak orang yang berusaha keras menghindarinya agar dikatakan sebagai manusia aktif. Padahal aktivitas itu, dalam banyak hal, tidak ada hubungan langsung dengan produktivitas. Yang jelas, aktivitas itu memberi kesibukan sedangkan produktivitas memberi hasil, aktivitas menghabiskan waktu sedangkan produktivitas membebaskannya.

Di sisi lain, suatu pembicaraan atau perbuatan akan punyai nilai bila dilakukan dengan sengaja atas dasar pilihan bebasnya. Demikian pula halnya jika seseorang memilih diam. Maka nilai diamnya ditentukan oleh faktor pilihan bebasnya. Oleh sebab itu jika seseorang dengan kehendak bebasnya memilih diam, tidak berbicara dan tidak melakukan sesuatu, maka tidak berarti dia tidak punya nilai. Bahkan justru mungkin sangat bernilai apabila diamnya itu untuk sebuah nilai, diperlukan, strategis, dan tepat momentumnya. “Diam itu emas”. Begtiu pepatah mengatakan.

Problem yang dihadapi manusia, dan mungkin ini salah satu kelemahannya, untuk memilih diam justru tidak mudah baginya. Meskipun diam itu demikian bernialinya dan tidak perlu mengerahkan seluruh potensi fisiknya, namun tetap saja manusia tidak mudah melakukannya. Padahal secara kasat mata apa sih beratnya bagi seseorang untuk sekedar diam tidak berbicara dan tidak melakukan sesuatu dengan sengaja? Akibatnya, diam menjadi asing di lingkungan diri kita.

Ternyata, diam bukan pasivitas, bahkan dalam dia justru pikiran dan jiwa manusia sangat aktif. Bahkan diam dapat membantu pikiran dan jiwa manusia berkonsentrasi, introspektif, dan bahkan bijak. Orang yang tidak suka berpikir umumnya mengalami kesulitan untuk dapat diam dikarena dalam diamlah pikiran dan jiwa manusia berkerja keras. Sesungguhnya diam. bisa menjadi energi terbaik manusia. Dalam konteks komunikasi bahkan diam sering dapat menyampaikan makna jauh lebih efektif daripada argument yang paling persuasif sekalipun.

Nilai diam sebagai kehendak dan pilihan bebas manusia ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR, Muttafaq Alaih). Pada kenyataannya, diam dapat memberikan kekuatan hidup. Diam dapat menjadi alat utama untuk menikmati komunikasi yang lebih efektif, meningkatkan pembelajaran dan pertumbuhan pribadi yang bermakna. Oleh sebab itu, para salik (penempuh jalan spiritual) selalu menekankan latihan agar biasa diam melalui serangkaian ritual seperti berkhalwat. Seorang ahli hikmah mengatakan, “Jika Anda berbicara dalam satu majelis yang pembicaraannya menjurus ke ujub, maka Anda harus diam. Akan tetapi jika diam Anda justru melahirkan ujub, maka berbicaralah.”

Ketika diam telah menjadi asing, maka yang ada adalah mengatakan semua yang ingin dikatakan dan melakukan segala sesuatu yang ingin dilakukan. Tidak perduli, apakah perkataan dan perbuatan itu pantas diungkapkan atau tidak? Apakah perkataan dan perbuatan itu baik untuk diungkapkan atau dilakukan atau tidak? Apakah perkataan dan perbuatan itu merusak untuk diri dan lingkungannya atau tidak? Dengan begitu maka kehidupan akan menjadi bising dan semerawut yang menyebabkan nilai sesuatu akan tertimbun oleh kebisingan dan kesemerawutan. Wallahu A’lam.

Oleh: Ust Abu RIdho
05.45 | 0 komentar

Bila Manusia Jatuh Cinta

Written By Rudi Abu azka on Senin, 20 Desember 2010 | 16.45

Apakah benar akan membuatnya lupa akan diri sendiri.? Mungkin saja, tapi hakikatnya saat manusia jatuh cinta, semakin ia ingat dengan cintanya. Semakin kuat ingatannya pada drinya sendiri.

Suatu ketika Hasan dan Husein melihat ibunya, Fatimah (semoga Allah senantiasa merahmati) sedang berdoa. lalu mereka mendengarkan doa yang dipanjatkan oleh ibunya. Fatimah menyebut banyak nama dalam doanya termasuk juga untuk saudara seimannya di banyak tempat, di doakannya semua dengan doa-doa yang penuh kebaikan. Namun mereka heran. Mengapa sang ibu tak menyebut dirinya sendiri. Ya, Fatimah mendoakan banyak orang namun tidak melupakan dirinya sendiri. Dan itu terjadi terus saat Fatimah berdoa.

Sahabat mungkin kita juga masih menemui orang-orang seperti Fatimah. Yang seringkali memanjatkan doa, dengan khusyuk dan menangis bahkan. Semua doanya berisi kebaikan. namun ternyata orang tersebut tak mendoakan dirinya sendiri. Lupakah dirinya? Atau bodohkah?

Saya yakin tidak, tapi saya yakin itu semua karena pemahaman yang amat sangat tentang arti cinta.

Ingatkah kejadian sahabat yang ditegur oleh Rosul ketika ditanya sebesar apa cintanya terhadap dirinya. Sahabat itu menjawab kalau dia mencintai Rosul sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, yang kemudian di tegur oleh rosul itu bukanlah cinta. Tapi cinta Rosul adalah saat Rosul lebih kita cintai daripada diri kita sendiri, itulah koreksinya. yang kemudian sahabat itu mengatakan hal tersebut.

Sahabat, pecinta senjati lebih cinta pada cintanya daripada dirinya sendiri. Dia lebih ingat cintanya daripada dirinya sendiri. Maka saat kita melihat ada orang yang dengan tulus pada kita mendoakan diri kita dengan banyak hal yang baik, namun dia sendiri tidak atau hanya sedikit doa untuk dirinya sendiri, percayalah cintanya lebih besar dari apa yang pernah kita kira.

Mengendaplah mendengar tangisan doa seorang ibu di tengah malam, maka Anda akan tahu betapa benar nyata cintanya.

Mengendaplah mendengar lantunan doa dari seorang ayah di tengah lelahnya bekerja. Maka Anda akan temui, betapa luas lautan cintanya.

Bukalah lembaran sejarah umat ini. Saat seorang pribadi agung menyebut “umatku,umatku,umatku” di akhir hayatnya, maka Anda akan yakini betapa besar dan kokoh cintanya pada umatnya.



Ya, bila manusia jatuh cinta.

Cintanya lah yang sering diingat,

Cintanyalah yang yang sering disebut,

Cintanyalah yang selalu menjadi harapannya,

Dan dia yakin semakin besar dia cinta,

Semakin besarpula cintanya membalas,

Semakin sering dia menyebut cintanya,

Semakin sering sang cinta menyebut namanya,

Semakin dia agungkan nama sang cinta,

Semakin diagungkan namanya oleh sang cinta,…

Pada siapapun,…

Ayah,ibu,suami,istri,anak,umat,orang yang Anda kasihi, Rosul atau Allah pencipta segala alam..

Hukum jatuh cinta tetap sama…



“Cinta sejati tak pernah bertepuk sebelah tangan”
“Ingatlah Aku, maka Aku pun akan ingat kepadamu.. “(QS Al Baqoroh:152)
16.45 | 0 komentar

Haram Hukumnya Mengucapkan Selamat Natal

Saat ini ada beda pendapat di sebagian ummat Islam tentang hukum mengucapkan Selamat Natal pada Ummat Kristen yang merayakan hari raya Natal. Ada yang tegas menyatakan haram. Ada pula yang membolehkannya.

Terhadap hal itu, hendaknya kita mengkaji Al Qur’an dan Hadits yang Sahih agar tahu mana pendapat yang benar, dan mana yang salah.

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maa-idah 2]

"Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya." (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

Dari Jabir ra bahwasanya Rasulullah SAW melaknat para pemakan riba, yang meberikannya, para pencatatnya dan saksi-saksinya.” Kemudian beliau bersabda, “Mereka semua adalah sama”. (HR. Muslim).

Allah memerintahkan kita untuk tolong-menolong dalam hal kebaikan. Sebaliknya Allah melarang keras tolong-menolong dalam hal kejahatan. Dari hadits tentang riba dan arak kita tahu dosanya mengenai bukan cuma pelaku riba atau peminum arak. Tapi siapa pun yang terlibat termasuk saksi atau pun yang cuma mengantarkan minuman. Demikian pula untuk dosa lain seperti Syirik.

Nah kita tahu bahwa pada hari Natal, ummat Kristen merayakan hari lahir Yesus yang mereka anggap Tuhan mereka. Tuhan Anak! Itu adalah dosa Syirik. Dan Syirik itu adalah dosa terbesar yang tidak terampuni. Nah jika terhadap dosa yang lebih kecil seperti Riba dan Minum Arak saja kita dilarang turut membantu, bagaimana dengan mengucapkan “Selamat Natal” yang merupakan satu doa kepada orang yang tengah merayakan kemusyrikan?

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” [An Nisaa’ 171]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [Al Maa-idah 73]

Dalam surat Al Ikhlas ditegaskan:

“Katakanlah: Allah itu Satu
Allah tempat meminta
Dia tidak beranak dan tidak diperanakan
Dan tak ada satu pun yang setara dengannya” [Al Ikhlas 1-4]

Seharusnya kita memberitahu mereka bahwa syirik itu dosa. Bukan justru memberi selamat! Jika kita beri ucapan selamat, mereka tidak akan sadar dan terus terjebak dalam kemusyrikan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:116]

Perhatikan ayat-ayat di atas. Allah menyatakan bahwa kafirlah Ahli Kitab yang menganggap Allah hanyalah 1 dari 3 Tuhan dan Allah menjanjikan siksaan yang pedih pada orang-orang yang musyrik. Adakah kita ingin turut mendapat siksa dengan memberikan ucapan selamat kepada orang yang tengah merayakan hari kelahiran Yesus sebagai Tuhan Anak? Sebagai sekutu dari Allah?

Oleh karena itu keliru jika ada yang mengharamkan orang menghadiri acara Natal, tapi justru menghalalkan menucapkan Selamat Natal. Sesuatu yang haram itu dosa. Mengucapkan selamat kepada orang yang berbuat haram juga dosa. Misalnya orang mencuri (mencuri lebih ringan dosanya daripada sirik). Jika kita mengucapkan Selamat Mencuri, itu juga dosa. Begitu pula mengucapkan selamat kepada orang yang tengah berbuat dosa syirik.
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)

Sebagaimana Allah tidak meridhoi/menyukai kekafiran, hendaknya kita begitu. Bukan justru memberi ucapan selamat kepada orang yang merayakan kekafirannya dengan merayakan kelahiran Tuhan dan Juru Selamat mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Allah memberitahukan, tidak didapatkan orang beriman mencintai orang kafir. Siapa yang mencintai orang kafir maka dia bukan seorang mukmin. Menyerupai secara dzahir bisa menimbulkan kecintaan maka diharamkan."

....Allah memberitahukan, tidak didapatkan orang beriman mencintai orang kafir. Siapa yang mencintai orang kafir maka dia bukan seorang mukmin. Menyerupai secara dzahir bisa menimbulkan kecintaan maka diharamkan....
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Oleh karena itu kasihan sekali jika ada presenter Muslim di TV atau pramuniaga Muslim di Mal-mal yang mengenakan topi merah Sinterklas saat Natal. Karena itu berarti mereka termasuk bagian dari orang-orang Kristen. Ketahuilah bahwa akhirat/surga itu lebih baik dan lebih kekal daripada dunia yang fana ini.

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." [Al Fath 29]
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui." [Al Maa-idah 54]

Larangan menghadiri perayaan hari raya orang kafir

Para ulama bersepakat, haram menghadiri perayaan hari raya orang kafir dan bertasyabuh (menyerupai) acara mereka. Ini adalah pendapat madzab Hanafi, Maliki, syafi'i, dan Hambali. (Lihat Iqtidla' ash-Shirat al-Mustaqim, karya Ibnu Taimiyah : 2/425 dan Ahkam Ahlidz Dzimmah, karya Ibnul Qayyim 2/227).

Perkataan Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah:
”Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin mengatakan, ”Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” [Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah.]

Dalam Al-Fiqh Al-Islami, Tasyabuh dilarang berdasarkan alasan yang cukup banyak:

1. Tidak menumpang pada kapal yang digunakan orang kafir untuk menghadiri perayaan hari raya mereka.

Imam Malik rahimahullah berkata; "dimakruhkan menumpang kapal orang kafir yang dijalankan sebagai alat transportasi untuk menghadiri perayaan hari raya mereka, karena laknat dan kemurkaan Allah turun kepada mereka." (dalam Al-Luma' Fi al-Hawadits wa al-Bida'1/392).

Ibnul Qasim pernah ditanya tentang menumpang kapal yang dijalankan orang Nashrani untuk menghadiri perayaan hari raya mereka, maka beliau membenci hal itu karena khawatir akan turun murka kepada mereka disebabkan kesyirikan yang mereka lakukan. (lihat Al-Iqtidla: 2/625).

Ibn al-Qayyim pernah menyampaikan bila pemberian ucapan “Selamat Natal” atau mengucapkan “Happy Christmas” kepada orang-orang Kafir hukumnya haram.

Sebagaimana dinukil dari Ibn al-Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah”, beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama.

Alasan Ibu al-Qayyim, menyatakan haram ucapan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.

Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam Majmû’ Fatâwa Fadlîlah asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, ( Jilid.III, h.44-46, No.403).

Jangankan mengucapkan Selamat Natal, mengucapkan salam biasa saja kepada Non Muslim kita dilarang:
Rasulullah SAW bersabda:”Jangan kalian mendahului mengucapkan salam kepada orang Yahudi atau Nashrani” (HR. Muslim).

Apabila orang Non Muslim memulai mengucapkan salam, maka jawaban yang diperkenankan oleh syari’at adalah:”Wa ‘alaikum!” (Semoga anda juga). Itu saja, tidak usah diperpanjang lagi. Rasulullah SAW menasihatkan:”Jika orang-orang Ahli Kitab (Non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka jawablah:”Wa ‘alaikum” (HR. Bukhary dan Muslim).

Salam adalah do’a seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Kita tidak bisa mengucapkan doa Selamat kepada orang yang kafir/musyrik karena jika mereka tak tobat, siksa Allah sudah jelas menunggu mereka.

”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Al Qashash [28]: 56).

Satu-satunya doa yang diperbolehkan untuk orang kafir yang masih hidup adalah doa agar mereka dapat petunjuk untuk masuk Islam:

Do’a Rasulullah SAW kepada orang Non Muslim:”Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka orang yang tidak mengerti” (Sirah Nabawiyah, Abul Hasan ali An Nadwi). Atau do’a Rasululah SAW kepada Umar Bin Khaththab ketika masih kafir:”Ya Allah, berilah kemuliaan kepada Islam dengan masuk Islamnya salah satu orang terkasih kepada-Mu, yakni Abu Jahal atau Umar Bin Khaththab”.

Ada ulama yang membolehkan mengucapkan salam dengan dalil di bawah:

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." [Maryam 33]

Namun kita harus paham bahwa itu adalah ucapan Nabi Isa yang berdoa semoga keselamatan dilimpahkan padanya pada hari beliau dilahirkan, meninggal, dan saat dibangkitkan kembali. Bukan setiap tanggal 25 Desember yang memakai tahun Masehi karena ummat Islam memakai kalendar Hijriyah. Dan Nabi serta para sahabat tak pernah mengucapkan Selamat Natal.

Selain itu, harusnya cukup berdoa kepada Allah agar melimpahkan keselamatan kepada Nabi Isa. Bukan memberi ucapan Selamat Natal kepada kaum Nasrani yang kita tahu merayakan kelahiran Tuhan mereka.

Selain itu, mengucapkan Selamat Natal atas kelahiran Nabi Isa pada tanggal 25 Desember juga salah waktu. Sebab Nabi Isa AS tidak lahir pada tanggal 25 Desember, beliau lahir di musim panas saat kurma berbuah, sebagaimana isyarat di dalam ayat Al-Quran saat Ibunda Maryam melahirkannya di bawah pohon kurma. Saat itu Allah SWT berfirma kepadanya:

"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu" (QS. Maryam: 25)

Bahkan sebagian orang Kristen sendiri menyatakan bahwa tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus. Tapi itu adalah hari perayaan kaum Romawi, Solstice Day, yang merayakan hari kelahiran Dewa Matahari:

http://id.wikipedia.org/wiki/Natal

Jadi keliru sekali jika ada ummat Islam yang mengucapkan Selamat Natal pada tanggal 25 Desember.

Ada ulama yang menghalalkan mengucapkan selamat natal dengan dalil "Berbuat Baik":

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr ra, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya.[Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy]. Jadi bukan untuk mengucapkan Selamat Natal.

Padahal berbuat baik di atas adalah berbuat baik selama kita tidak bermaksiat kepada Allah. Jangankan terhadap orang biasa, terhadap orang tua saja meski kita harus berbuat baik, tapi jika durhaka kepada perintah Allah haram bagi kita untuk mematuhi mereka.

Berbuat baik itu bukan berarti kita ikut ridho dan mengucapkan selamat atas kekafiran mereka. Islam memang menghargai kebebasan beragama. Laa ikraha fid diin. Tak ada paksaan dalam beragama. Tapi dalam hal aqidah, tidak bisa dicampur aduk. Sebagai contoh Nabi pernah ditawari kekayaan, wanita, dan juga jabatan sebagai pemimpin Mekkah agar tidak menjelek-jelekkan Tuhan (Berhala) kaum kafir Quraisy dan bergantian menyembah Tuhan. Nabi menyembah Tuhan Quraisy setahun, dan kaum kafir Quraisy menyembah Allah selama setahun. Jika mengikuti ajakan kaum kafir tersebut, memang kita berbuat baik kepada mereka. Tapi kafir kepada Allah. Akhirnya Allah menurunkan surat Al Kaafiruun yang menegaskan tidak ada toleransi dalam hal Aqidah:

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: "Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Nabi saw menjawab: "Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku." Ayat ini (S.109:1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-'Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: "Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami." Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6)
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Mina.)

Inilah surat Al Kaafiruun ayat 1-6:

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Tegas bukan? Tidak pernah Nabi mengucapkan: "Selamat Menyembah Berhala"

Dan jika ada yang membolehkan mengucapkan selamat Natal bagi Muslim yang tinggal di daerah yang mayoritas Kristen, itu tak sesuai sunnah Nabi. Meski Nabi saat itu di Mekkah merupakan minoritas, tapi oleh Allah tetap bersikap tegas.

Berbuat baik itu adalah dengan mengatakan yang benar itu benar, dan salah itu salah. Orang yang salah, kita beritahu yang benar. Jadi mereka bisa jadi benar. Bukan justru didukung untuk terus tetap berbuat salah.

Dalil lainnya lagi adalah jika diberi penghormatan atau salam, hendaklah memberi penghormatan yang lebih baik lagi:

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها

"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu." (QS. An-Nisa': 86)

Padahal ayat di atas berkenaan dengan ucapan "Assalamu'alaikum" yang diucapkan oleh sesama Muslim yang wajib dibalas dan bahkan lebih baik lagi dengan ucapan "Wa'alaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuhu". Bukan ucapan "Selamat Natal" oleh orang musyrik kemudian kita balas lagi. Ayat selanjutnya membantah hal itu:

"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?" (QS. An-Nisa': 87)

Bagaimana mungkin kita mengucapkan Selamat kepada orang yang tengah mengingkari ayat di atas dengan menyembah Tuhan selain Allah?

Jadi sekali lagi, Hari Natal adalah satu Syiar Agama Kristen di mana mereka saat itu merayakan hari lahirnya Tuhan mereka: Yesus. Syirik itu adalah dosa terbesar yang tidak diampuni oleh Allah SWT. Tak pernah ada sunnah Nabi dan para sahabat mengucapkan Selamat Natal kepada ummat Kristen saat itu. Sebaliknya dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Nabi mengajak utusan Nasrani Najran untuk bermubahalah ketika kaum Nasrani ngotot bahwa Isa itu adalah Tuhan. Kutukan Allah akan menimpa kaum Nasrani jika mereka berdusta. Dan kaum Nasrani tak berani menerima tantangan itu:

"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana .
Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." [Ali 'Imran 59-64]

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [At Taubah 31]

[639]. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

Sesatnya kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka mengikuti ulama mereka membabi-buta. Kita jangan taqlid pada ulama seperti mereka. Pegang teguh Al Qur'an dan Hadits. Ikutilah ulama yang lurus yang berpedoman pada Al Qur'an dan hadits. Bukan yang menyimpang dan sesat.

Dari berbagai ayat Al Qur'an mau pun hadits di atas, jelaslah bahwa argumentasi orang-orang yang menghalalkan ucapan Selamat Natal itu tak memiliki dalil Al Qur'an dan Hadits yang kuat. Karena berdasarkan dalil yang mereka pakai, tak pernah Nabi, para sahabat, tabi'in, serta Imam Madzhab mengucapkan Selamat Natal. Bahkan Nabi justru mengajak mereka bermubahalah:

"Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta" [At Taubah 61]

Nabi tidak mengucapkan Selamat Natal. Justru mengajak mereka kembali ke jalan yang lurus!

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." [Al Israa' 31]

Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR. Abu Dawud)

Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)

Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. " [Al Baqarah 120]

Kaum Nasrani memang tidak akan senang dengan ummat Islam hingga kita mengikuti mereka. Tapi hendaknya kita tetap lurus. Jika ada hal yang syubhat/samar di mana ada yang bilang haram dan yang lain bilang halal, hendaklah kita tinggalkan yang syubhat. Insya Allah akan selamat. Selain itu karena Nabi dan Sahabat tak pernah mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Nasrani meski dulu kaum Nasrani sudah ada, maka mengucapkannya adalah Bid'ah. Dan Bid'ah itu adalah sesat (HR Muslim).

Jadi marilah kita tetap lurus di jalan yang lurus dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.

Mohon sebarkan ini ke yang lain.

Sumber :
http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal/
09.16 | 0 komentar

AKHIRNYA TENGGELAM JUGA DALAM “PERMAINAN ITU”

Awalnya sebuah mesin tik. Dengan mesin tulis itulah permainan dimulai. Permainan kata-kata. Bagi orang-orang tertentu permainan kata-kata sangat mengasyikkan. Entah sudah berapa juta buah buku yang berisi permainan kata-kata. Banyak sudah orang menjadi tokoh yang terus disanjung berrkat dengan kepiawaian dalam memainkan kata-kata.

Bertolak dari sebuah ide yang sangat sederhana terangkailah kata yang membentuk kalimat yang kemudian melahirkan sebuah puisi pendek. Selanjutnya permainan kata-kata meningkat menjadi lebih serius hingga membentuk paragraf-paragraf yang menjadi berpuluh-puluh makalah. Lama-lama excited dan akhirnya mampu menulis dan menertbitkan buku-buku.

Suatu sore seorang teman datang dan manyugesti, hanya dengan modal mesin tik aktivitas tulis-menulis malah jadi rumit selain akan ketinggalan terus. Memang ada benarnya. Baru seperempay buku diselesaikan ternyata di pasaran sudah beredar buku dengan tema bahkan judul yang sama. Oleh sebab itu, demi mempercepat permainan, ia menyarankan agar menggantinya dengan komputer.

Dengan komputer permainan kata-kata akan lebih seru, menulis akan efektif, dan tidak banyak waktu terbuang dalam menyunting sebuah naskah. Misalnya, ketika melakukan kesalahan dalam penulisan. penulis akan mudah mengoreksi dan menyuntingnya sendiri. Dengan begitu produktifitas akan dahsyat.

Ternyata, dengan komputer permainan memang lebih mengasyikkan. Ironinya kesibukan menulis semakin bertambah dan secara otomatis waktu yang terbuang gara-gara permainan ini semakin banyak. Padahal katanya dengan komputer semua tulis-menulis akan menjadi efektif. Timbul pertanyaan, “Di mana efektifnya?”

Belum juga terjawab, teman yang lain, melalui telepon, menyarankan agar berlangganan internet saja. Sebab dengan internet segala kemudahan tulis-menulis dan main kata-kata akan sangat terbuka, selain tentunya akan tambah mengasyikkan. Informasi di internet tidak ada batasnya. Mau cari referensi apa saja ada. Mau main apa saja disiapkan. Tidak perlu buka buka-buku tebal yang hanya buang-buang waktu. Cukup tanya pada google si mesin pencari kata.

Memang melalui pertolongan internet tulis-menulis semakin dimudahkan. Bahkan keperluan lainnya pun. Logikanya waktu untuk mengerjakan perkerjaan lainnya, istilah dakwahnya habluminallah wa habluminannas, akan semakin banyak. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Justru nyaris semua waktu tenggelam dalam permainan di dunia maya.

Suatu pagi yang cerah seorang teman yang lain datang dengan raut wajah penuh kepastian menyarankan agar membuat blog. Apa itu blog? Blog itu webpage milik sendiri. Dengan blog bebas melakukan apa saja di situ. Lagi pula, melalui blog, ide-ide dapat tersebar luas ke seantero jagat. Berarti nilai dakwahnya sangat strategis dan berarti pula peluang dapat pahala jauh lebih besar. Siapa saja bisa membaca dan mengaksesnya. Dalam sebuah hadits ditegaskan, “Barangsiapa yang menunjuki satu kebaikan, maka pahalanya sama dengan mengerjakannya.”

Wah, sungguh jalan yang bagus untuk berkontribusi kepada perbaikan kehidupan ummat manusia. Lalu, sesuai dengan suugesti teman, mulailah aktif menulis di blog. Banyak komentar dan sejumlah pertanyaan dari para pembaca artikel dan makalah yang harus dijawab setiap harinya. Akibatnya, praktis kehidupan semakin tenggelam dalam keasyikan mengisi blog. Apakah ini juga sebuah permainan yang harus digeluti?

Dengan begitu hubungan dengan dunia realitas pun praktis semakin jarang. Untuk itu disarankan agar membeli laptop dengan broadbandnya sekaligus supaya praktis dapat dibawa ke mana-mana, tidak terhambat oleh ruang. Kursi, dan meja. Dengan begitu pula hubungan dengan dunia realitas dapat dilakukan dengan normal. Ringkasnya, dengan menggunakan laptop pekerjaan akan terasa begitu mudah dan praktis. Konsekuensinya sebuah mesin permainan praktis telah menempel di badan dan bahkan pikiran, ke mana pun badan dan pikiran itu berjalan.

“Agar hubungan dengan dunia realitas di abad informasi ini tetap terjaga diperlukan satu media.” Begitu petuah para ahli komunikasi. Namanya facebook. Disebut pula sebagai jaringan sosial. Oleh sebab itu banyak teman yang menyarankan agar bergabung ke komunitas facebook. Katanya, salah satu faktor yang membantu kemenangan Barack Obama menjadi pesiden AS, adalah karena kemampuannya memanfaatkan media facebook. Sekarang, sang diri sudah menjadi bagian dari komunitas makhluk modern ini. Akibatnya ia secara faktual semakin tenggelam dalam sebuah permainan baru di dunia maya. Dari mulai membuat catatan hingga melayani permintaan pertemanan, undangan, dan berbagai pesan serta penawaran bisnis.

Begitulah realias dan faktanya. Entah makhluk apa lagi yang nanti muncul menggoda setiap manusia untuk terus bermain-main di dunia permainan. Ternyata kehidupan dunia akan terasa sebagai permainan seperti ditegaskan Allah Swt dalam firman-Nya, “Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS, al-‘Ankabut [29]: 64), jika benar-benar dipersepsi dan dianggap seperti itu dan kemudian dirasakan, tidak sekedar diamati, dianalisis, atau dikhawatiri.

Menonton dan menikmati sebuah film akan dapat merasakan bahwa film itu benar-benar sebuah permainan jika dipersepsi dan dianggap seperti itu. Semakin hebat cita rasa permainannya akan semakin dalam dinikmati dan dihayatinya. Padahal ketika membuatnya, semua yang terlibat, tidak ada yang main-main. Semuanya serius dan produktif.

Bisakah kita mempersepsi, menikmati, dan menghayati nikmat dan karunia Allah yang tak terhingga banyaknya ini dengan tidak main-main seperti apa yang dilakukan orang-orang yang berakal? “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS, Ali ‘Imran [3]: 190-191).

Bisakah kita menghindari keterjebakan diri kita dalam mempersepsi, menikmati, dan menghayati nikmat dan karunia Allah seperti orang kafir sehingga kita tenggelam dalam permainan? “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS, Shad [38]: 27). Wallahu A’lam.
00.42 | 0 komentar

Tuner Radio Streaming Lengkap

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 19 Desember 2010 | 14.26


Alhamdulillah kami mencoba mengumpulkan alamat radio streaming Islam dan juga radio lainnya, silahkan sahabat klik di
http://www.ziddu.com/download/13031028/TunerRadioStreamingFavorites.exe.html
semoga bermanfaati. Dan jangan lupa dengarkan terus sajian khas dari radio Nurisfm.

Jangan lupa masukan "bismillah" untuk password nya.
Terima Kasih.
14.26 | 0 komentar

CARA BOROS UNTUK MATI (2)

Untuk diketahui, menurut badan kesehatan dunia, kalau tidak ada langkah penanggulangan yang lebih konkret, tahun depan diperkirakan 6 juta orang mati disebabkan rokok. Artinya bagi mereka telah kecanduan rokok telah memilih cara kematiannya dengan senang hati dan mengeluarkan biaya dengan boros pula.

Bayangkan, di Indonesia saja konon setiap tahunnya sekitar 154.723 triliun rupiah dihabiskan untuk memilih cara kematian yang sangat digemari ini. Hitung-hitungannya 365 hari x Rp 6.000,00 /bungkus x 70,650 juta orang. Walaupun tentu saja tidak semua perokok sukses meraih kematiannya dengan sebab rokok, namun gejala itu tetap menghantui orang-orang yang masih memandang penting kesehatan bagi kehidupan manusia. Konon, hitungan tersebut tidak jauh berbeda dengan produksi rokok 230 miliar batang per tahun. Padahal Allah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS, al-Baqarah [2]: 195). Ayat ini jelas mengandung larangan penjerumusan ke dalam kebinasaan oleh dirinya sendiri.

Dengan mengacu pada kenyataan tersebut di atas, merokok jelas sudah memiliki unsur menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan seperti dilarang dalama ayat tersebut. Apatah lagi dalam proses penjatuhan diri dalam kerusakan yang dilakukannya disertai dengan keborosan. Akibatnya ada dua kesalahan besar bagi perokok. Pertama, memenuhi unsur penjerumusan diri ke dalam kebinasaan. Kedua, melakukan keborosan yang juga sama dilarang dan dibenci oleh Allah Swt. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah menghambur-hamburkan (hartamu) dengan boros sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan. Dan setan itu sangat inkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’ : 26-27). “Allah membenci untukmu perbuatan menyia-nyiakan harta.” (HR, Bukhari dan Muslim).

Ternyata, Indonesia adalah surga bagi orang yang memilih kematiannya dengan cara boros melalui pengisapan rokok. Lebih dari 400.000 rakyat Indonesia setiap tahun mati sia-sia meregang nyawa akibat merokok. Sekarang ini posisi Indonesia menjadi bangsa perokok terbesar kelima di dunia setelah Rusia. Hasil survei tentang Kesehatan Rumah Tangga dari Departemen Kesehatan 2003 menyatakan bahwa terdapat 31,4 % dari jumlah penduduk Indonesia yang merokok. Kalau penduduk Indonesia pada saat ini berjumlah 225 juta saja, artinya terdapat 70,650 juta orang yang merokok.

Atas dasar itu logis kalau fatwa ulama internasional terhadap rokok cenderung seragam mengharamkannya. Hal itu pula yang menjadi salah satu sandaran fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) nomor: 18/mf-dd/iv/1427/2006 yang menetapkan bahwa merokok hukumnya haram.
Akan tetapi, dasar sudah kecanduan, para pemburu kematian dengan cara boros ini melakukan penolakan terhadap fatwa rokok ini dengan alasan dampak ekonomis. Padahal keuntungan industri rokok yang jumlahnya sangat besar hanya dinikmati segelintir orang, yaitu pemilik perusahaan. Sedangkan buruh rokok tetap hidup dalam lingkaran kemiskinan. Terhadap alasan ini, KH. Ali Mustafa Yaqub menganalogikannya dengan judi, miras, dan prostitusi yang sama melibatkan banyak pekerja. Apakah alasan terlibatnya banyak orang dalam bisnis-bisnis seperti itu bisa dibenarkan, ketika jelas-jelas madlaratnya sudah di depan mata?

Demikian pula, alasan dampak sosial dan ekonomi seperti pengangguran yang dikhawatirkan timbul sebagai akibat dari pengaturan rokok, sebenarnya tidak juga kuat. Sebab ada dampak sosial dan ekonomi jangka menengah dan panjang yang jauh lebih besar ketimbang pengangguran yang menimpa beberapa buruh atau orang-orang yang terlibat langsung dalam industri rokok.
Misalnya, dampaknya terhadap kesehatan yang ditimbulkan serta membengkaknya biaya pengobatan terhadap penyakit yang diakibatkan rokok jauh melebihi keuntungan yang didapatkan dari rokok itu sendiri. Demikian pula, angka usia harapan hidup turun mengakibatkan produktivitas masyarakat menurun yang berimplikasi pada penurunan tingkat ekonomi nasional.

Fachmi Idris dari IDI menyarankan agar segera diciptakan ‘manajemen transisi’ yang didukung seluruh lapisan masyarakat untuk mengonversi industri rokok menuju industri lain. Di sektor hulu, untuk petani tembakau, contohnya, perlu upaya diversifikasi tanaman tembakau ke tanaman lainnya, misalnya tanaman jarak untuk peningkatan produksi alternatif, seperti bioetanol, yang lebih menguntungkan. Di sektor hilir, untuk warung-warung rokok, diupayakan dibina lebih lanjut oleh retail-retail modern sehingga dapat menjual consumer good lainnya, seperti rokok. Wallahu A’lam.
02.41 | 0 komentar

CARA BOROS UNTUK MATI (1)

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 18 Desember 2010 | 10.21

Meskipun kematian, sebagai proses akhir dari kehidupan dan ketiadaan nyawa dalam organisme biologis, pada umumnya ditakuti, namun anehnya banyak orang yang justru memburunya dengan penuh antusias. Mereka memilih-milih cara khas yang tepat buat diri mereka untuk mengakhiri hidup di alam dunia. Bahkan di Swiss ada organisasi nirlaba yang khusus menangani orang yang ingin mati atas kehendaknya sendiri, yakini bunuh diri. Konon, salah satunya adalah Exit. Untuk menjadi anggota yayasan itu, cukup membayar iuran tahunan setara Rp400.000-an. Bagi seluruh anggota yang terdaftar tak ada tambahan biaya jika ingin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Seluruh fasilitas yang memperlancar proses kematiannya disediakan oleh yayasan. Bagi mereka yang bukan anggota akan dikenai biaya yang lebih mahal.

Begitulah sebagian orang memilih cara kematiannya dengan amat sadar dan dengan mengeluarkan biaya cukup tinggi. Padahal tidak memilih-milih caranya pun semua orang pasti mati dan tidak akan bisa menghindar darinya. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,.” (QS, al-Nisa [4]: 78).

Sesungguhnya semua manusia pada akhirnya, diinginkan atau pun tidak, akan mati dan kemudian akan dibangkitkan kembali. Meskipun kematian merupakan sesuatu yang ingin dihindari, namun ia begitu lazim terjadi. Akibatnya, peristiwa yang pada umumnya ditakuti ini sesungguhnya sangat akrab dengan manusia sama akrabnya dengan kehidupan itu sendiri. Sebabnya ialah karena mati dan hidup adalah dua hal yang terus dipergilirkan.

Meski demikian, soal kematian tak henti-hentinya dipikirkan. Ia tetap menjadi sebuah misteri sama dengan misteri sesudah mati. Pada kenyataannya, kematian adalah pintu untuk memasuki alam lain, alam kubur, alam barzakh. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang meyakini bahwa kematian adalah gerbang menuju kehidupan di alam keabadian, maka kematian haruslah dihadapi dengan suatu persiapan agar bisa memasuki suatu dunia lain dengan damai. Kematian, bagi mereka, adalah suatu istirahat terakhirnya dalam perjalanan panjangnya.

Faktanya, selain kematian yang normal, apakah karena sakit, karena kecelakaan, atau karena sebab-sebab lain yang tidak diketahui manusia, banyak orang yang memilih cara kematiannya sendiri. Dari yang dapat dikategorikan beradab sampai ke yang tidak beradab. Sedangkan kemuliaan dan keberadaban dalam menentukan cara kematian umumnya ditentukan oleh motivasi dan penyebabnya, serta cara yang ditempuhnya.

Dari segi motivasi ada yang karena keyakinan, ada yang karena keputusasaan yang menekannya, dan ada pula yang karena kesenangan saja. Dari segi cara, ada yang rumit dan berliku-liku tetapi ada pula yang simple. Ada pula yang bisa dikategorikan mati dengan cara yang tidak indah, tidak terhormat dan tidak beradab. Sedangkan dari segi pembiayaan, ada yang mahal dan biaya tinggi bahkan cenderung boros sehingga tidak semua orang dapat menirunya dan ada pula yang murah meriah tapi cukup efektif untuk menghilangkan nyawanya.

Memilih cara kematian yang murah meriah misalnya dengan cara meminum racun serangga. Pada umumnya cara seperti itu dicap sebagi tidak beradab dalam memilih kematian buat dirinya sendiri. Sedangkan cara mati dengan biaya tinggi bahkan cenderung boros antara lain dengan mengisap rokok dalam waktu lama walaupun tidak selamanya perokok berhasil sukses membunuh dirinya sendiri dengan sebab merokok. Ironisnya, cara terakhir ini paling digemari, bukan hanya orang kaya tetapi juga kaum miskin, bukan hanya orang yang tidak tahu bahayanya tetapi juga kalangan berpendidikan. (Insya Allah masih ada sambungannya).

Oleh: Ust Abu Ridho
10.21 | 0 komentar

MUROTTAL AL QUR'AN PARA QARI' TERKEMUKA DI DUNIA

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 17 Desember 2010 | 09.56


Original Dsik karena bercode IFPI (CD Pabrikan) bukan burningan biasa.
Kualitas Terjamin dan no error.

CD MP3 MUROTTAL 30 JUZ SYAIKH MUSYARI RASYID DISERTAI SARITILAWAH (4 cd) Harga Rp. 60.000,-
CD MP3 MUROTTAL 30 JUZ SYAIKH AS SUDAIS DISERTAI SARITILAWAH (2 cd) Harga Rp. 30.000,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ SYAIKH SAAD AL GHOMIDI Harga Rp. 17.500,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ SYAIKH ABD AS SUDAIS Harga Rp. 17.500,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ SYAIKH HANY AR RIFAI Harga Rp. 17.500,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ SYAIKH ABD AL MATRUD Harga Rp. 17.500,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ SYAIKH MUSYARI RASYID Harga Rp. 17.500,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ KOMPILASI 17 QORI Harga Rp. 17.500,-
CD MP3 MUROTAL 30 JUZ KOMPILASI ANAK-ANAK Harga Rp. 17.500,-
CD AUDIO SURAT PILIHAN SYAIKH ABD AS SUDAIS Harga Rp. 25.000,-
CD AUDIO JUZ AMMA SYAIKH MUSYARI RASYID Harga Rp. 25.000,-
VCD JUZ AMMA ANAK AHMAD SAUD & M TOHA Harga Rp. 25.000,-
VCD AL QURAN JUZ 30 SYAIKH MUSYARI RASYID Harga Rp. 25.000,-
VCD AL QURAN JUZ 30 SYAIKH SAAD AL GHAMIDI Harga Rp. 25.000,-
VCD SURAT PILIHAN SYAIKH MUSYARI RASYID Harga Rp. 25.000,-

Untuk pemesanan hubungi: 021-99187391 atau di 081319107800
09.56 | 0 komentar

Acara Hari JUMAT

05.30-06.00 Zikir Pagi Al Ma'thurat Imam Asy Syahid Hasan Al Banna
06.30-07.00 Kajian Pagi (Rekaman Kuliah Shubuh)
07.00-07.30 VOI (Voice of Islam)
07.30-08.30 Tausiyah Pagi/Kuliah Dhuha
08.30-09.30 NUANSA NASYID PAGI NURISFM (Bisa request nasyid di fb Nuris)
09.30-10.00 VOI (Voice Of Islam)
10.00-11.30 Play list Nasyid PILIHAN di Nurisfm (Bisa request nasyid di fb Nuris)
11.30-12.00 Jelang Jum'at (Ceramah Islam)
12.00-13.00 Murotal by Terjemah Saritilawah
13.00-13.30 Khutbah Jumat
13.30-14.00 VOI Sastra dan Dakwah
14.30-15.00 Nasyid Request by Streaming Nurisfm
15.30-16.00 VOI (Voice of Islam)
16.00-17.30 Dzikir Petang
17.30-18.00 Murotal Qur'an by Saritilawah
18.00-19.30 Relay kajian Islam
19.30-20.00 Voice of Islam
20.00-21.00 Kajian MALAM
21.00-23.00 Bisikan Nurani (Materi Tafakur diselingi nasyid perenungan)
23.00-04.00 Nasyid Malam, Tafakur, Murotal Qur'an, Tausiyah Malam.
08.38 | 0 komentar

PERNIKAHAN SATU NASKAH (5)

Prilaku keluarga, komunitas, atau masyarakat manusia umumnya tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan otentiknya yang kompleks. Dalam hukum sosial, kebudayaan tidak sekedar produk masyarakat tetapi juga memberi makna dan sekaligus membentuk corak kehidupan khasnya.

Sebagai hasil daya cipta bebas dan keserba-gandaan manusia, kebudayaan meliputi hal-hal yang bersifat ma’nawi (immaterial) dan maddi (material), benda nyata dan tidak nyata, malmusah dan ghair malmusah (teraba dan tidak teraba). Manifestasi cara berpikir dan pandangan hidup suatu bangsa juga salah satu wujud kebudayaan.

Kebudayaan juga dapat membentuk ikatan batin terutama dalam kaitan penghayatan terhadap nilai-nilai yang diyakini oleh sebuah keluarga atau masyarakat. Oleh karena wujud hasil sebuah kebudayaan antara lain hal-hal yang bersifat esensial seperti ilmu pengetahuan, tradisi, cita-cita, atau symbol-simbol yang mencerminkan penghayatan terhadap nilai-nilai, maka ikatan batin keluarga atau masyarakat dalam satu kebudayaan akan sangat kuat.

Selanjutnya ikatan dan penghayatan nilai-nilai itu dapat mewujudkan nilai kelompok yang mengikat dan menjadi ukuran tingkah laki dan keidealan individu dalam masyarakatnya. Nilai-nilai kelompok ini, melalui pendidikan, kemudian diwariskan secara terus-menerus hingga membentuk identitas budaya yang selain dijunjung tinggi juga tidak mudah dihilangkan.

Secara esensial, kebudayaan sering dinyatakan sebagai produk akal budi manusia yang terdiri atas berbagai pola hidup dan bertingkah laku, pikiran, perasaan, dan reaksi yang diperoleh dari interaksi dengan nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup. Selanjutnya produk itu dikontribusikan kepada pembangunan dan pembinaan jiwa melalui pemikiran atau akal budi individu secara turun-temurun.

Oleh sebab kebudayaan adalah hasil kreatifitas manusia, maka di dalamnya melekat keragaman seperti halnya kebepelbagaian manusia sebagai kreatornya. Keragaman kreatifitas ini merupakan konsekuensi logis dari kepelbagaian manusia dan masyarakatnya yang diejawantahkan dalam keragaman jenis kelamin, bahasa, ras, etnis, bangsa, dan kelompok-kelompok alamiah lainnya.

Dengan demikian, seringkali kita merasa tidak mudah dapat menyesuaikan diri dengan kondisi kebudayaan yang berbeda. Apa lagi yang membentuk perbedaan itu adalah perbedaan ideologi atau agama yang menjadi akar suatu kebudayaan. Sebab salah satu watak suatu kebudayaan ialah membentuk karakter dan identitas individu, masyarakat, atau bangsa yang berakar kuat hingga tidak mudah mengalami transformasi.

Bukan hanya perbedaan kebudayaan yang membikin seseorang tidak mudah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang secara budaya berbeda melainkian juga perbedaan tingkat budaya dalam satu kebudayaan. Pada umumnya yang membuat perbedaan tingkat budaya adalah perbedaan dalam tingkat pendidikan.

Faktanya pendidikan itu inheren dengan kebudayaan dan sebaliknya kebudayaan juga inheren dengan pendidikan. Pendidikan sebagai proses humanisasi eksistensinya tidak dapat lepas dari kebudayaan. Sebaliknya eksistensi sebuah kebudayaan juga tidak dapat lepas diri dari pendidikan. Dengan demikian, tingkat budaya seseorang ditentukan oleh pendidikan yang diperolehnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka dapat diharapkan semakin tinggi pula tingkat budayanya.

Oleh sebab itu memperhatikan aspek kebudayaan dalam memahami suatu realitas menjadi sangat kontekstual. Apatah lagi kenyataan bahwa perbedaan budaya bisa melahirkan perbedaan tafsir atas simbol-simbol budaya. Oleh karena itu Rasulullah Saw memberikan formula komunikasi yang komunkatif dengan memperhatiakn tingkat budaya. ”Berkomunikasilah dengan manusia sesuai dengan bahasa kaumnya (tingkat budayanya. pen.)”. Faktanya sering terjadi salah paham antarindividu atau antarmasyarakat disebabkan oleh perbedaan tafsir tersebut.

Dengan demikian, memperhatikan kebudayaan hingga dapat menangkap esensi yang terkandung di dalamnya menjadi sangat penting agar setiap pasangan suami istri dapat memahaminya dengan baik. Melalui pemahaman itu diharapkan akan memunculkan kelapangdadaan pada masing-masing pasangan dan suasana komunikasi yang penuh saling pengertian.

Atas dasar itu, hendaknya kita dapat menangkap secara lebih substansial terhadap makna pernyataan Nabi Muhammad Saw yang menyebutkan bahwa ”keturunan” adalah salah satu aspek pertimbangan pernikahan. Tidak hanya semata-mata dalam arti keturunan secara biologis melainkan juga tidak mengabaikan aspek kebudayaan yang membentuknya. Tegasnya, dengan memperhatikan aspek ’keturunan’ berarti juga harus memperhatikan aspek kebudayaan yang membentuk pola hidup keturunan tersebut dan tingkat budaya yang dibentuk oleh pendidikan. Sebab kebudayaan tidak diwariskan secara generatif atau biologis dikarenakan kebudayaan hanya dapat dimiliki atau dihasilkan melalui proses belajar (pendidikan). Dalam bahasa fikih kufu` secara budaya.

Kenyataan yang tak dapat dipungkiri, keharmonisan keluarga sebagai salah satu tujuan pernikahan, tidak mudah diwujudkan dalam suasana perbedaan budaya (tidak kufu`) yang sangat lebar dikarenakan di dalamnya terdapat konfigurasi tingkah laku dan hasil laku yang telah melembaga sebagai salah satu bentuk kebudayaan.. Artinya, harus ada kesediaan setiap pasangan untuk saling mendekatkan perbedaan (ketidakkufuan) latar belakang budaya demi mewujudkan kaharmonisan yang diharapkan bersama. Tentu saja, untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan proses dan waktu.

Berbeda tentunya kalau pernikahan itu dibangun di atas naskah budaya yang sama (sekufu`). Proses adaptasi budaya, akulturasi, atau apa pun namanya, mungkin tidak diperlukan sangat. Oleh karena itu, jika sejak tahap pemilihan calon sudah mempertimbangkan aspek dan tingkat budaya, tentu akan lebih mudah mewujudkan hubungan harmonis dalam keluarga. Insya Allah. []
07.20 | 0 komentar

PERNIKAHAN SATU NASKAH (4)

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 16 Desember 2010 | 02.17

Dengan demikian setiap pasangan tak pelak lagi akan menghadapi sejumlah realitas hidup yang sarat perbedaan, baik yang bersumber dari hal-hal yang intrinsik (alamiah) sifatnya, atau pun yang bersifat budaya. Perbedaan-perbedaan itu tak perlu ditakutkan. Sebab ketakutan akan perbedaan bisa menjadi sumber kegagapan dan kegugupan dalam memerankan dirinya di panggung kehidupan. Sejatinya perbedaan-perbedaan itu hanya mungkin diharmonisasikan dalam satu panggung drama.

Yang sangat menarik, walaupun tidak ada sutradara dalam drama ini, namun mereka bermain sesuai dengan peran masing-masing tanpa ada satu pun yang menyempal dari alur ceritera dalam naskah. Hal itu seolah menggambarkan masing-masing pelaku drama memiliki komitmen yang sama pada satu naskah skenario.

Atas dasar itulah setiap pasangan dituntut memiliki kesadaran bahwa mereka, pada hakikatnya, sedang menjalankan peran (performa) sesuai dengan naskah skenarionya. Keberhasilan dalam memerankan tokoh masing-masing dalam panggung, dengan tetap menghormati peran yang lain, menjadi ukuran kesuksesan sebuah pertunjukan drama tanpa babak yang bernama pasangan suami istri.

Di sisi lain, kesuksesan sebuah pertunjukan drama juga ditentukan oleh respon penonton terhadap pertunjukkan tersebut. Walaupun keterlibatan penonton tidak terdapat dalam scenario, namun beragam corak, watak, dan kecenderungan penonton yang melatarbelakangi respon mereka terhadap pertunjukkan drama tersebut akan ikut menentukan kualitas kesuksesan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, penonton tak ubahnya seperti kehidupan sosial yang melingkungi kehidupan pasangan suami istri.
Membangun keharmonisan dalam kehidupan pasangan suami istri, tak dapat dipisahkan dari pengaruh-pengaruh factor sosialnya. Suatu realitas yang unik bahwa penonton dapat berlaku layaknya seorang pemain, dan perannya tak dapat dinafikan dalam membangun keharmonisan permainan. Suatu hal yang sia-sia berusaha mengisolasi pasangan suami istri agar steril dari pengaruh dan hiruk pikuk mereka.

Oleh sebab itu, sebagai makhluk sosial, kita tak mungkin dapat menghindar dari masalah yang berkaitan dengan lingkungan sosial kita yang memiliki keragaman itu. Apatah lagi ketika kenyataan realitas sosial yang kita hadapi tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan. Akibatnya tidak mustahil terjadi konflik-konflik (walau secara teori, tidak semua konflik itu berdampak negatif). Konflik-konflik itu, baik yang bersifat intrapersonal, interpersonal maupun konflik sosial merupakan bagian dari masalah yang pasti kita hadapi.

Pada kenyataannya, pemahaman terhadap orang lain dan kesanggupan menerima pribadinya sebagaimana apa adanya saja, tidak cukup meredam konflik-konflik interpersonal atau sosial yang mungkin timbul. Terkadang kita merasa sudah sangat dekat/mengenal seseorang, dapat memahaminya, dan sanggup menerima kelebihan-kelebihan atau kekurangan-kekurangannya. Namun tetap saja ketika ada sedikit hal yang tidak sesuai dengan perasaan atau pemikiran kita, kita merasa konflik-konflik tersebut menemui jalan buntu dan tak akan menemukan solusinya. Sayang sekali, kedekatan hati dan kesiapan berbagi tidak selalu membuahkan harmoni, karena hidup selalu memunculkan banyak sisi untuk dimengerti, dinikmati, dan dijalani sepenuh hati.

Untuk itu kiranya perlu setiap pasangan mampu menikmati keanekaragaman ketika melihat wajah-wajah orang lain yang berbeda ekspresi, apakah dalam pasangan atau di luar pasangan. Selanjutnya menangkap aneka ceritera yang menarik dari setiap pancaran wajah mereka. Dengan cara demikian, diharapkan performa pasangan di atas panggung derama tanpa babak akan lebih kuat dan atraktif sehingga penontion pun puas dan respek. (Insya Allah masih ada sambungannya).
02.17 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung