Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

AKHIR ZAMAN

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 23 Juli 2011 | 15.16


Ibnu Abbas memberitahu, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda yang artinya:

"Pada akhir zaman nanti akan muncul golongan-golongan manusia yang berwajah manusia berhati syaitan. Mereka diibaratkan seperti serigala buas, hati mereka tidak mempunyai sedikit pun belas kasihan. Mereka tidak suka menjauhi segala yang buruk dan mereka lebih suka melakukan pertumpahan darah. Kalau engkau ikut mereka, mereka akan mendekati kamu, kalau engkau jauhi mereka, maka mereka akan mengumpat kamu. Kalau engkau memberi amanat kepada mereka, mereka akan melakukan khianat padamu".

"Kalau meminta sesuatu dari mereka adalah kemiskinan. Hukum di kalangan mereka adalah bid"ah dan bid"ah di kalangan mereka adalah sunnah dan tatkala itu orang menganggap sunnahku sudah usang dan memperbaharui bid"ah. Maka barangsiapa mengikut sunnahku pada waktu itu, dia akan menjadi asing dan tinggal seorang diri dan barangsiapa mengikut bid"ah, dia akan mendapat lima puluh orang teman atau lebih".

Para sahabat bertanya, "Apakah mereka melihatmu Jawab Nabi, "Tidak"

Para sahabat bertanya lagi, "Apakah turun wahyu kepada mereka?" Nabi menjawab, "Tidak" Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana keadaan mereka?" Jawab Nabi, "Seperti ulat dalam cuka".

Para sahabat bertanya lagi, "Ya Rasulullah, bagaimana mereka menjaga agama?" Jawab Nabi, "Seperti bara api di tangan. Kalau diletak dia akan padam dan kalau diambil dengan tangan dia akan terbakar".
15.16 | 1 komentar

UJIAN HIDUP

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 21 Juli 2011 | 04.05


Kepada semua pembaca yang mengadukan masalah hidup melalui
SMS atau email, menanyakan cara menyelesaikan
masalahnya, dapatlah kiranya anda semua merenung
dan muhasabah diri kita dan keluarga kita dengan
masalah yang kita hadapi sekarang ini.

Kenapa dan mengapa masalah itu timbul,
seperti keluarga bercerai berai, isteri tidak taat
suami, suami yang pemarah, ada anggota keluarga
kawin lari, ada yang mengandung anak di luar nikah dan seribu
satu macam masalah. Kalau kita hendak bicara masalah ini,
satu hari tidak selesai jadi kesimpulannya jawaban
ringkas kepada masalah-masalah itu dengan tulisan ini.

Setiap manusia termasuklah diri saya tidak boleh lari
daripada ujian. Apakah dia rakyat biasa, atau
keturunan raja, orang bijak atau orang bodoh, orang
miskin ataupun kaya, beriman ataupun tidak beriman
dengan Allah, semuanya pasti diuji oleh Allah swt.

Ujian pula ada berbagai macam bentuknya. Ujian
kesusahan, kemiskinan, kesakitan, ketakutan, bencana
alam dan seribu satu macam lagi bentuk ujian yang
Allah swt datangkan pada kita. Ujian-ujian ini
semuanya menimbulkan masalah pada kita. Sebab itu bila
seseorang itu punya masalah, hakikatnya dia sedang
diuji oleh Allah swt. Bagi orang mukmin ujian adalah
merupakan khabar gembira buat mereka tetapi derita
bagi orang yang sebaliknya.

Gembiranya orang mukmin
diuji karena mereka faham dan yakin bahawa dengan
ujian itu Allah mau menghapuskan dosa-dosa mereka.
Mereka gembira karena dosa-dosa mereka akan disapu
bersih oleh Allah melalui sifat redha dan sabar mereka
dalam berhadapan dengan ujian. Dalam Al Quran surah Al
Imran Allah berfirman:

"Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk
syurga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang
berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang
yang sabar".

Ganjaran bagi mereka yang sabar dengan ujian ini
adalah tidak terkira banyaknya sepertimana firman
Allah:

"Sesungguhnya diberi ganjaran orang sabar dengan
pahala tanpa hisab."

Allah memberi kita peluang untuk dapatkan pahala sabar
yang tidak terkira banyaknya ini hanya melalui ujian
yang Allah datangkan pada kita. Betapa
pemurahnya Allah! Ujian yang sebentar itu Allah bayar
dengan Syurga yang kekal abadi. Kita tanggung
kesusahan dan penderitaan hanya sekejap sedang
gantinya adalah nikmat yang kekal.

Kalau begitu soalnya mengapa dan kenapa diri tidak
bisa sabar? Atau sengaja tidak mau sabar? Siapakah
kita hendak berani memberontak dengan Allah?
Keluh-kesah, merungut-rungut, mengadu-ngadu,
gundah-gulana dan mengomel bila diuji oleh Allah.

Mengapa dan kenapa begitu berani kita demonstrasi
dengan Allah sedangkan asal kita adalah dari setitik
air mani yang anyir. Yang kalau Allah tidak mau
jadikan kita sebagai manusia sempurna maka cacatlah
kita atau jika Allah tidak mau jadilah kita maka
tiadalah diri ini.

Begitulah lemahnya kita dan tidak ada apa pun istimewa
diri ini untuk dilihat oleh Allah melainkan jika diri
bertaqwa di sisi Allah. Firman Allah swt:

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi
Allah itu ialah orang yang paling bertaqwa".

Oleh karena itu, bersama berusaha dengan sungguh-sungguh
agar diri ini dikaruniakan oleh Allah dengan sifat taqwa.
Hingga diri bisa rasa terhibur dengan ujian. Bahkan
rasa bimbang dan risau pula jika Allah tak datangkan
ujian karena takut-takut itu merupakan kutukan Allah
ke atas diri. Allah kutuk karena buruknya akhlak kita,
durhakanya kita dan kurang ajarnya kita kepada Allah.

Inilah yang menyebabkan para muqarrobin menangis.
Inilah yang menyebabkan mereka boleh berbuat baik jika
orang berbuat jahat terhadap mereka. Para ahlillah
tidak nampak orang yang menyusahkan mereka, tetapi
yang dia nampak adalah af'al ataupun perbuatan
Allah.

Maka tidak heran jika Hassan Al Basri bisa memberi
hadiah kepada tiap-tiap orang yang mengumpatnya. Bila
ditanya orang, ;Kenapa kamu berbuat
demikian?;

Dijawabnya, ;Allah mau aku ganjaran Syurga
dengan umpatan mereka. Pahala kebaikan mereka
diberikan padaku dan kejahatan aku mereka ambil, maka
salahkah aku jika kubalas dengan pemberian yang
sekecil ini?;

Begitu pandangan tembus orang soleh. Mereka nampak
yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Pandangan
mereka jauh menjangkau ke alam Akhirat, alam yang
tidak nampak dan tidak boleh dilihat, tetapi bagi
mereka, seakan telah dilihat. Allah berikan kepada
mereka hasil dari sifat taqwa mereka. Ini membuktikan
jika kita dapat mencapai tahap taqwa, nantinya Allah
akan kurniakan ilmu pada kita. Ilmu dari Allah
sebagaimana penegasan Allah dalam Al Quran:

"Bertaqwalah niscaya Allah akan mengajar kamu".

Bilamana diri bertaqwa kepada Allah semua
masalah akan selesai. Bila diuji kita akan sabar. Apa
saja ketentuan Allah kita akan terima dengan redha.
Nikmat yang Allah karuniakan pada kita akan kita
syukuri dan puncak dari itu semua ialah pertolongan
dan bantuan daripada Allah yang tidak putus-putusnya.
Firman Allah yang artinya:

"Dan Allah menjadi pembela orang-orang yang
bertaqwa."

*****
Jika hidup tidak bisa diisi dengan perkara besar yang bermanfaat
untuk sesama dan hanya memikirkan diri sendiri, hidup akan terbelit
dengan berbagai permaslahan permasalahan kecil
yang seakan besar atau diri sendiri besar membesarkannya
04.05 | 2 komentar

KHAWATIR

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 19 Juli 2011 | 23.44


PADA suatu hari, Rasulullah dan para pengikutnya telah bermusafir untuk menghadapi Perang Tabuk. Sebelum meneruskan perjalanan, mereka singgah di suatu tempat untuk beristirahat.

Sambil beristirahat, para sahabat berjalan-jalan menuju ke satu longgokan batu-batuan. Batu-batuan itu adalah bekas peninggalan kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh.

Ketika melalui kawasan tersebut, mereka menjumpai beberapa buah perigi. Perigi-perigi itu pernah digunakan oleh kaum Tsamud sebagai sumber minuman dan ternakan mereka.

Lalu para sahabat mengambil air dari perigi itu untuk menghilangkan dahaga. Mereka juga menggunakan air tersebut untuk mengadon roti.

Apabila Rasulullah mengetahui tentang perkara tersebut, baginda melarang mereka menggunakan air itu. Baginda juga menyuruh para sahabat supaya membuang adonan roti itu untuk dijadikan makanan unta.

Kemudian Rasulullah mengajak pengikutnya pindah ke perigi yang pernah digunakan oleh unta Nabi Saleh. Walau bagaimanapun, baginda melarang mereka memasuki wilayah kaum Tsamud yang telah diazab oleh Allah pada zaman dahulu.

Baginda bersabda, “Aku khawatir kalau kamu akan ditimpa azab seperti yang pernah menimpa kaum Tsamud. Oleh itu janganlah kamu masuk ke wilayah mereka”.

Baginda juga bersabda, “Jangan kamu menjejakkan kaki ke tempat orang-orang yang pernah disiksa, kecuali kamu menangis. Sekiranya kamu tidak boleh menangis, jangan sekali-kali kamu menjejakkan kaki ke sana jika tidak ingin ditimpa bencana seperti yang mereka alami”.

Lalu baginda menyeru pengikut-pengikutnya supaya mengerjakan sholat berjamaah.

“Kami merasa takjub dengan mereka, wahai Rasulullah,” kata salah seorang sahabat apabila mereka melihat kawasan tersebut.

Lalu Rasulullah pun berkata, “Kamu mau aku tunjukkan sesuatu yang lebih mengagumkan daripada itu?

Perkara itu ialah apabila salah seorang daripada kamu menyampaikan berita kepada kamu tentang peristiwa yang terjadi sebelum dan selepas kamu. Oleh itu, luruskan dirimu dan rapatkan barisanmu niscaya kamu tidak akan diazab walau sedikitpun kelak”.

Pengikut-pengikut Rasulullah setuju dengan arahan baginda dan mereka mengerjakan sholat berjamaah bersama baginda.

Ada sebagian riwayat menerangkan ketika Rasulullah melintasi kawasan tersebut, baginda menundukkan kepala dan mempercepatkan langkahnya. Ini untuk mengelakkan daripada berlakunya sebarang bencana.
23.44 | 0 komentar

KEMENANGAN


Kemenangan adalah milik Allah. Jika Allah belum mau memberikannya kepada kita, maka kita takkan pernah memperolehnya. Kita selalu tertipu. Merasakan bahwa kemenangan itu milik kita, hak kita, bahwa dengan segala amal dan usaha yang kita lakukan, kita pasti menang. Sehingga kita keliru, dan silau mata. Memfokuskan kepada kemenangan, bukan pada amal usaha dan perjuangan dakwah yang berkelanjutan.

Kita harus memahami realitas dakwah. Menegakkan kalimatullah dimuka bumi adalah kewajiban. Ia bersifat Robbani. Kita menyeru manusia kepada Allah, menegakkan hukum-hukum Allah. Dakwah ini bukan milik kita, ia adalah amanah. Amanah yang wajib kita sandarkan kepada-Nya. Apabila Dia menentukan bahawa sudah tiba masanya kita menang, maka pasti tidak ada yang dapat menghalang. Jika masih belum nampak bibit-bibit kemenangan, kita harus terus beramal dan berjihad tanpa sedikitpun meragukan akan kehendak Allah sampai akhir hayat kita.

Maka kemenangan, adalah sebuah anugerah Allah. Apabila Allah memberikannya kepada kita, itu bererti sudah selayaknya kita memperolehnya. Jika belum, artinya kita belum layak memperolehnya. Boleh jadi kesediaan kita belum cukup untuk menggalas segala amanah-amanah pasca kemenangan tersebut. Maka masa, bukanlah sebuah ukuran (indikator) sesebuah kemenangan. Sekalipun sebuah perjuangan itu memakan masa puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, belum menjadi penguat bahwa kita harus menang, karena ia adalah sebuah ketentuan Allah!

Kita tahu bahwa kita bukan pemula sebuah perjuangan menegakkan agama Allah. Kita adalah penerus kepada tali-tali rantainya. Dan ujungnya belum tentu kita. Kita mungkin akan bisa merasakan kemenangan tersebut, atau kita mungkin mati sebelum tertegak agama ini di seluruh pelosok bumi. Apa yang paling penting, kita mengambil posisi penerus dakwah yang tidak kenal henti berjuang dan tidak menggantungkan usaha kepada hasil.

Taujih Robbani itu selalu menyeru kita agar ikhlas dalam perjuangan. Tidak merasa besar dengan amal kita, tidak menggantungkan kekuatan pada jumlah kita. Lihat saja dalam kisah perang Hunain ketika Umat Islam itu berjumlah banyak, namun Allah memberikan pelajaran dengan menangguhkan kemenangan untuk Umat Islam. Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25)

Sudah tiba masanya kita tidak bermain-main dalam melaksanakan dakwah ilallah. Ketika Allah memilih kita untuk diberikan nikmat besar ini, janganlah kita mengabaikan dan menolaknya, lalu menjadikannya sebagai tugas sampingan. Takut-takut bila sampai masa kemenangan, kita tidak berada bersama-sama dalam angkatan yang memperjuangkannya.

Bersyukurlah, apabila Allah terus memberikan kesempatan dan ruang untuk kita beramal. Jangan dirisaukan akan kemenangan dan jangan dijadikan ia pelemah kepada amal, kerana KEMENANGAN ADALAH MILIK ALLAH!

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (An-Nasr: 1-3)

Kemenangan besar yang kita semua inginkan adalah kita mati dalam keadaan Allah meredhai kita, bahkan lebih istimewa kita gugur SYAHID ketika sedang melaksanakan tugas-tugas dakwah menegakkan kalimatullah.

Klik download untuk dengarkan nasyid Untukmu Pejuang
DOWNLOAD UNTUKMU PEJUANG

Majulah sahabat Majulah Sahabat janganlah dirimu gentar
Gelorakan semangatmu bak ombak berpusar
Kenanglah duka perjuangan hanya sebentar
Dan hari esokmu kan hari berterang sinar

Tapaikalah dakwah meskipun badai mengglegar
Berdiri teguhlah dan tetap bersabar
Menanti jandi Allah dengan rindu berpendam
Tak pernah jenuh cinta tak pernah pudar

Janganlah kau menyerah walau susah terkapar
Berjiwa bersih dengan baik buruknya qodar
Bersangkalah baik dengan jiwa yg besar
Smoga Allah kumpulkan kita di tlaga kautsar

Tapakilah dakwah meskipun badai mengglegar
Bediri teguhlah dan tetap bersabar
Menanti janji allah dengan rindu terpendam
Tak pernah jenuh cinta tak pernah pudar


Tak usah bersedih bila kau terbelit suka
Ingatlah kampung akhirat tuk orang bersabar
Berhias cinta berbunga takwa slalu memakar
Didalam hati bagai purnama bersinar

Junjunglah panji islam slalu berkobar
Penjuru pertiwi dan sunah tersiar
Hadang musuhmu jangan takut lari berpencar
Lazimkan jama’ah meski kau mennggigit akar

Klik download untuk dengarkan nasyid AMANAH
DOWNLOAD NASYID AMANAH

Tahukah kau apa yg harus kita lakukan
Tahukah kau gunungupun tak sanggup menggembannya
Agama ini amanah yg mulia
Tinggi nan tiada yg agung selaiannya
Berat terasa ketika mengingatnya
Dahi rasullupun deras berkeringat
Hanya mereka yg mahu berjuang
Bergerak dalam wadah perjuangan

Wallahua’lam.
22.21 | 0 komentar

Mikroba dan Karomah Para Syuhada

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 17 Juli 2011 | 15.34


Ilmu kedokteran moderen mendeteksi bahwa proses pembusukan mayat terjadi sejak ruh meninggalkan tubuh hingga tubuh berubah menjadi gas, cairan, dan amonia. Mikroba bersama unsur-unsur lain menyelesaikan tugas ini, mereka semua menggerogoti sel-sel mayat dengan lahapnya hingga taktersisa.

Namun anehnya fenomena ini tidak ‘berlaku’ pada jasad syuhada. Jasad mereka masih tetap utuh dan ‘kebal’ terhadap bakteri-bakteri pembusuk tersebut, meski telah terkubur berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun lamanya.

Fenomena yang dibahas dalam buku ini, tentang kesaksian mata dari masa ke masa tentang jasad para syuhada yang sama tidak membusuk. Buku ini juga menjelaskan secara ilmiah tentang bagaimana mikroba-mikroba anaerob yang sarria sekali tidak "sudi" untuk menggerogoti sel-sel jenazah Para nabi, mayat para syuhada juga para hafidz Qur’an.

Kehadiran buku ini seakan-akan membelalakkan mata kita menyaksikan keagungan Allah Ta’ala yang menciptakan setiap makhlukNya dengan spesifikasi tugas masing-masing yang sangat detil jiga keagungan Allah yang ditetapkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, Wallahu a’lam bisshawab

The Miracle Of Shaheed

Pengarang : Dr. Abdul Hamid Al Qudhoh

Ukuran : 14 cm x 20,5 cm

Harga : Rp. 40.000,-

ISBN : 979-194-264-1

Penerbit : Ausath
15.34 | 2 komentar

Ulama dan Umaro'

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 16 Juli 2011 | 12.30


Tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa hikmah Ilahi di balik ciptaan-Nya ini adalah terlaksananya perintah agama dengan baik. Dan jalannya perintah agama ini tidak bisa terwujud kecuali jika masalah keduniaan bisa teratur dengan baik. Dan teraturnya masalah keduniaan tidak terwujud jika tidak ada seorang pemimpin yang ditaati. Maka syari'at Islam mewajibkan untuk mengangkat pemimpin yang ditaati. Demikianlah pendapat Hujjatul Islam, Imam al-Ghozali dalam kitabnya al-Iqtisad fi l-I'tiqod.

Syaikh Abu 'Abdillah al-Qol'i dalam kitabnya Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah menjelaskan tentang pentingnya pemimpin umat sebagai berikut: "Sekiranya tidak ada seorang pemimpin yang dipatuhi, niscaya pudarlah kemuliaan Islam. Sekiranya tidak ada pemimpin yang berkuasa, maka hilanglah stabilitas keamanan dan terputuslah jalan kemakmuran. Negara berjalan tanpa undang-undang, anak-anak yatim terlantarkan dan ibadah haji tidak bisa dilaksanakan. Jika tidak ada penguasa, niscaya anak-anak yatim tidak pernah bisa menikah dan sebagian orang akan berleluasa memakan harta sebagian yang lain".

Dengan demikian, keberadaan pemimpin dalam syari'at Islam adalah wajib. Dan pemimpin yang adil diibaratkan seperti bayangan Allah di muka bumi. Nabi bersabda: "Sesungguhnya penguasa (yang adil) itu adalah bayangan Allah di bumi yang menjadi tempat berlindungnya setiap orang yang terzalimi". (HR. Baihaqi)

Maka tidak berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukama') berkata: "Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang". Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu'tazz berkata: "Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh". (Abu 'Abdillah al-Qol'i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa)

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qosim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun.

Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas. Dan kualitas seseorang itu ditentukan oleh kapasitas ilmu yang dimilikinya. Ali bin Abi Tholib berwasiat: "Yang paling rendah nilai seseorang itu adalah yang paling sedikit kapasitas ilmunya".

Namun demikian, imam al-Ghozali juga mengingatkan dalam kitab al-Iqtisad fi l-I'tiqod bahwa politik bukanlah segala-galanya. Bahkan dia bukan termasuk masalah prinsip dalam pembahasan aqidah. Lebih lanjut beliau berkata: "Pembahasan tentang kepemimpinan (imamah) juga tidak termasuk masalah penting, juga bukan bagian dari disiplin ilmu-ilmu yang rasional yang mengandung masalah fiqh. Tapi dia banyak memicu fanatisme. Orang yang menghindari berkecimpung dalam masalah ini, lebih selamat daripada orang yang berkecimpung di dalamnya, meskipun dia benar. Lebih lagi, bagaimana jikalau dia salah?!

Izzah Ulama

Berkenaan dengan masalah politik, posisi ulama sangatlah penting. Mereka senantiasa dituntut kritis sekiranya seorang penguasa mulai cenderung pada kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW, bahwa ulama adalah pewaris para nabi (HR. Tirmidzi) patut dijadikan pengingat bagi mereka agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berakibat pada hilangnya izzah (keagungan) seorang ulama.

Lalu bagaimana kiat agar izzah ulama senantiasa terjaga?

Syaikh al-Absyihi (w. 854H) dalam kitabnya al-Mustatrof fi kulli fannin Mustazhrof menukil beberapa nasehat kaum bijak pandai sebagai berikut:
Fudhoil berkata: "Seburuk-buruknya ulama adalah orang yang mendekati umaro', dan sebaik-baik umaro' adalah orang yang mendekati ulama". Beliau juga menukil kitab Kalila wa Dimnah yang menyebutkan bahwa: Tiga perkara yang membuat manusia tidak akan selamat, kecuali hanya sedikit, a) mendekati penguasa, b) mempercayakan rahasia pada perempuan, dan c) mencoba-coba minum racun.
Umar bin Abdil Aziz yang bergelar kholifah kelima dari khulafa'urrosyidin, suatu ketika berkata pada Maimun bin Mahron: "Wahai Maimun, jagalah dariku 4 perkara: Janganlah sekali-kali mendekati penguasa, meskipun engkau menyuruhnya melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar; janganlah sekali-kali berkholwat dengan perempuan, meskipun engkau membacakan al-Qur'an kepadanya; jangan bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya, sebab dia akan lebih mudah memutuskan hubungannya denganmu; dan janganlah berbicara hari ini tentang suatu perkara, namun kamu ingkari besoknya. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang mulia, cendekiawan dan ahli agama yang mendekati penguasa untuk tujuan memperbaikinya, tapi ternyata dia malah rusak karena terpengaruh oleh penguasa.

Berkenaan dengan hubungan antara ulama dan umara, banyak tamsil Arab telah menyinggungnya, di antaranya sebagai berikut:
Perumpamaan orang yang mendekati penguasa untuk memperbaikinya, adalah seperti orang yang ingin meluruskan tembok yang bengkok. Lalu dia bersandar pada tembok ketika meluruskannya. Maka runtuhlah tembok itu menimpanya dan binasalah ia.

Orang yang mendekati penguasa itu ibarat penunggang singa yang ditakuti orang banyak. Padahal dia sendiri lebih takut kepada singa yang ditungganginya itu.

Itulah perumpamaan orang-orang alim yang mengerumuni penguasa. Bagaimana pun alimnya seorang penasehat, tetapi keputusan terakhir tetap pada penguasa. Adakalanya seorang bermaksud mengerem kerusakan penguasa, namun bagaimana pun posisi rem tetap berada di kaki atau dalam genggaman tangan. Rem hanya diinjak jika diperlukan.

Berkenaan dengan sikap ulama terhadap umaro', KH. Hasan Abdullah Sahal, pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, suatu ketika pernah berpesan pada santri-santrinya: "Dekat boleh, dekat-dekat jangan, mendekati apalagi. Jauh boleh, jauh-jauh jangan, menjauhi apalagi".

Sebagai penutup, tokoh-tokoh bijak pandai berwasiat: "Apabila Allah berkehendak kebaikan pada diri hamba-Nya, niscaya Dia akan mengilhamkannya ketaatan, menggariskan padanya kepuasan hati (qona'ah), memahamkannya urusan agama, dan menguatkannya dengan keyakinan. Lalu hamba itu akan merasa cukup dengan nafkah hidupnya dan berhias dengan kesederhanaan. Namun jika Dia berkehendak jahat pada seorang hamba, maka dijadikannyalah hamba itu mencintai harta, dibentangkan angan-angannya, disibukkannya dengan dunia dan dijadikan hawa nafsunya pengendali dirinya. Sehingga bertumpuk-tumpuklah kerusakan yang diperbuatnya. Barang siapa yang tidak bisa menjadikan agamanya sebagai penasehat, maka segala nasehat pun tidak pernah membawa manfaat. Barang siapa yang menjadi bahagia dengan kerusakan, niscaya buruklah jalan kematiannya. Jenjang usia itu pendek dan kesucian jiwa itu perkara yang mustahil. Barang siapa mematuhi hawa nafsunya, berarti telah menggadaikan agamanya dengan dunianya. Buah ilmu itu mengamalkan apa yang diketahuinya. Barang siapa ridha dengan ketetapan Allah, niscaya tidak pernah ditimpa amarah. Dan barang siapa berpuas hati dengan anugerah-Nya, tidak akan dihinggapi penyakit dengki.

Demikianlah untaian nasehat Syaikh al-Absyihi dalam karyanya al-Mustatrof fi kulli fannin Mustazhrof. Sebuah kitab yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Turki dan dicetak pada tahun 1846M, diterjemahkan kedalam bahasa Perancis dan dicetak di Paris 1899-1902M. Dan dicetak dalam bahasa Arab pertama kalinya pada tahun 1304H /1887M di Kairo. (lihat Majalah al-Turats al-Sya'bi, edisi 3, tahun 14, 1983M)

Sumber: INSIST Official Site
12.30 | 0 komentar

20 Ulama Yang Tidak Menikah 1 Diantaranya Wanita

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 13 Juli 2011 | 15.39



A. Abdullah bin abu najih al-makki
Seorang tabiut tabi'in orang yang tsiqah, tampan, dan fasih berbicara, tetapi sayangnya beliau menjadi pengikut paham qadariyah dan melakukan bid'ah dalam masalah qadar. Beliau mufti makah setelah wafatnya Amru bin Dinar. Wafat 131 H.
B. Abu abdurahman yunus bin habib al-bashri 90-182 H
Beliau seorang sastrawan dan ahli nahwu. Banyak ulama' yang belajar kepadanya seperti, Imam Sibawaih, al-Kisa'I dan al-Farra'.
C. Husain bin ali al-ju'fi 119-203 H
Orang sabar tsiqah dari Kufah. Humaid bin Rabi' al-Khazza berkata, "Kmi telah menulis 10.000 hadits lebih dari Husain bin Ali al-Ju'fi.
D. Abu nashr bin al-harits 150-227 H
Lahir di Marwa 150 H kemudian pindah ke Baghdad. Beliau meriwayatkan hadits dari Hammad bin Ziad, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Muhdi, Malik bin Anas, Abu Bakr bin Iyasy, Fudhail bin Iyadh dan lain-lain.
Dan banyak yang meriwayatkan hadits darinya seperti, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibrahim al-Harbi, Zahir bin Harb, Sari as-Saqathi, Abbas bin Abdul Adzim, Muhammad bin Hatim dan lain-lain. Usia 77 tahun. .
E. Hannad bin as-Sariy 152-243 H
Ulama' yang suka menangis, ulama' hadits dari Kufah. Diberi gelar raghib kufah (pendeta kufah) karena tidak menikah. Usia 91 tahun.
F. Abu ja'far ath-thabariy 224-310 H
Beliau ahli tafsir, hadits, dan fiqih. Lahir di daerah Amula Negara Tabaristan. Suka mengembara ke Khurashan, Irak, sayam, dan Mesir untuk menuntut ilmu. Telah hafal al-Qur'an pada umur 7 th, menjadi imam shalat sejak umur 8 th, menulis hadits sejak umur 9 th, mengembara ke daerah lain untuk menuntut ilmu sejak umur 12 th (236 H), menulis kitab sebanyak 40 lembar selama 40 th.
Beliau memasuki kota Baghdad setelah Imam Ahmad wafat (241 H), sehingga tidak sempat bertemu dengannya.
Karya beliau, yaitu:
1. Jami' al-Bayan fi Wujuhi Ayi al-Qur'an
2. Tarikh ar-Rasuli wal Anbiya' wal Muluk wal Umam
3. Tadzib al-Atsari wa Tafshil ats-Tsabit an Rasulillah n min al-Akhbari (belum selesai)
4. Adab an-Nufus al-Jayyidah wal Akhlaq an-Nafisah
Abu Ja'far menulis hadits dari Ibnu Humaid sebanyak 100.000 hadits lebih ketika mengadakan perjalanan ke Kufah. Beliau mendengar hadits dari Abu Kuraib 100.000 hadits lebih. Usia 86 th. Banyak orang yang menshalatinya di atas kuburannya selama berbulan-bulan siang dan malam.
G. Abu bakar bin al-anbariy 271-328 H
Lahir di Baghdad, hafal 300.000 bait sya'ir yang memperkuat makna-makna al-Qur'an, hafal 120 tafsir al-Qur'an lengkap dengan sanad-sanadnya, cepat meghafal. Beliau meninggalkan sekitar 30 kitab masing-masing kitab terdiri dati 50.000 lembar halaman lebih.
H. Abu ali al-farisi 288-377 H
Lahir di kota Fasa Negara Persia. Pada tahun 307 H pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu dan tinggal disana dan melakukan pindah-pindah tempat dan kota. Usia 89 th. Meninggalkan sekitar 25 kitab tentang ulumul qur'an dan bahsa Arab.
I. Abu nashr as-Sijzi wafat 444 H
Nama lengkapnya Ubaidilah bin Said Hakim bin Ahmad al-Waili al-Bakari. Beliau hafidz, imam para ahli hadits pada masanya. Abu Ishaq al-Habbal berkata, "Pada suatu hari, aku berada di rumah Abu Nashr . Tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu, maka aku berdiri membukakannya. Ternyata, dia seorang wanita yang membawa sebuah kantong uang berisi 1000 dinar. Dia meletakkkannya dihadapan Abu Nashr dan berkata, "Gunakanlah uang ini sesukamu !' Abu Nashr pun bertanya, "Apa maksudmu?`
Wanita itu menjawab, "Menikahlah denganku. Sebenarnya aku tidak ingin menikah, tetapi aku hanya ingin membantumu."
Mendengar itu, syaikh Abu Nashr menyuruh wanita tersebut untuk mengambil kantong berisi uang itu dan membawanya keluar.
Setelah wanita itu keluar syakh Abu Nasrh berkata, "Aku datang dari negeriku Sajastan dengan niat menuntut ilmu. Jia aku menikah, maka niatku itu akan luntur dan melemah. Oleh karena itu, aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat memalingkanku dari menuntut ilmu.` Beliau wafat di Makah.
J. Abu sa'ad as-samman 371-445 H
Beliau seorang hafidz, zuhud, menguasai ilmu qira'at, hadits, rijal, fara'id dan hisab. Beliau belajar kepada 3000 ulama` pada masanya. Dengan melakukan perjalanan ke Irak, Syam, Hijaz dan Maghrib. Beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak menulis hadits, maka ia tidak bisa merasakan manisnya islam." Wafat di kota Rayyi dalam keadaan senyum, dan dimakamkan di gunung Tabarak, dekat makam imam asy-Syaibani, dalam usia 74 th.
K. Abu barakat al-baghdadi 462-538 H
Beliau seorang hafidz, alim dan ahli hadits dari Baghdad. Beliau mendengarkan hadits dari Abu Muhammad Hazarmurdi ash-Sharifini, Abu Husain bin Naqur, Abu Qasim Abdul Aziz bin Ali Anmathi, Ali bin Muahammad al-Bundar dan lain-lain. Karya beliau seperti kitab al-Ja`diyat, Musnad Ya'kub al-Fasawi, Musnad Ya`kub al Fawasi, Musnad Ya'kub as-Sadusi dan intiqa al-Baqqal.
Dan banyak juga ulama` yang meriwayatkan hadits darinya, seperti Ibnu Jauzi, Abu Sa'ad as-sam'ani, Ibnu Sakir dan Ibnu Asakir dan lain-lain. Usia 76 th.
L. Abu al-qasim az-Zamakhsyari 467-538 H
Lahir di desa Zamkhasyar (daerah Khuwarazmi) dan wafat di desa Jurjaniyyah (daerah Khuwarazmi) pada malam Arafah. Mendapat gelar Farid al-Ashri (ahli bahasa, sastra, nahwu dan adab), fakhru Khuwarazmi (kebanggaan bangsa Khuwarazmi), dan jarullah (tetangga Allah).
Beliau menganut madzhab Mu`tazilah yang didapat dari gurunya yang sangat beliau cintai Abu Mudhar dan penduduk Khuwarazmi banyak yang menganut madzhab Mu'tazilah. Karya beliau sekitar 50 kitab, Imam Ibnu Arabi Jamrah sangat berhati-hati dalam membaca kitab-kitabnya karena banyak ajaran mu'taziyah yang disisipkan di dalamnya. Usia 71 th.
M. Ibnu Khasyab 492-567 H
Nama aslinya Abdullah bin Ahmad bin Khasyab al-Hanbali al-Baghdadhi. Seorang ahli nahwu pada zamannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa derajatnya setingkat dengan Abu Ali al-Farisi, ahli tafsir, hadits, fara'id, mantiq, filsafat, lughah, dan hisab. Beliau dalam bidang hadits dikenal dengan perawi yang tsiqah, jujur, mulia dan menjadi hujjah. Akan tetapi beliau kurang menjaga sikap dan penampilan sebagai orang yang berilmu. Beliau bakhil baik dalam berpakaian dan segi-segi kehidupan lainnya, senang bermain catur di pinggir jalan, berkumpul dengan para pecinta binatang kera dan binatang lainnya, suka bercanda dan bermain-main. Sorban di kepalanya tidak pernah dicuci sampai hitam.
Disamping itu tidak ada seorang ulama pun yang wafat kecuali Ibnu Khasab telah membeli kitabnya, sehingga hampir memiliki semua kitab karangan para ulama' dalam berbagai bidang.
N. Ibnu al-manni 501-583 H
Nama aslinya Abu Fathi Nasihuddin al-Hanbali ulama' Irak ahli fiqih belajar dari Abu Bakr ad-Dinawari. Meninggal pada hari Sabtu 4 Ramadhan dan dimakamkan pada hari Ahad. Masyarakat datang dari berbagai daerah dan sangat banyak. Karena merasa khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diingginkan, maka para penguasa menugaskan sejumlah pasukan bersenjata untuk mengawal jenazah beliau.
O. Jamaluddin abu al-hasan 586-646 H
Dilahirkan di kota Qifthi, Mesir dan dibesarkan di Kairo. Beliau seorang qadhi (haim). Mengarang banyak kitab. Sebelum wafat beliau mewasiatkan agar kitab-kitabnya diserahkan kepada Nashir (pemua Halab). Kitab-kitabnya bernilai 50.000 dinar.
P. Imam Nawawi 631-676 H
Nama lengkapnya Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi al-Hizami al-Haurani asy-Syafi'i. beliau menghafal kitab at-Tanbih dalam waktu empat setengah bulan. Dalam tahun yang sama beliau berhasil membaca dan menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab.
Beliau tidak pernah memakan buah-buahan. Beliau berkata, "Aku tidak mau memanjaan tubuhku, karena hal itu akan menyebabkan kantuk selalu datang." Dalam satu hari satu malam, beliau hanya makan dan minum sekali saja ketika sahur.
Karya beliau:
1. Syarh shahih muslim
2. Riyadhus shalihin
3. al-Adzkar
4. al-Arba'in
5. al-Irsyad fie Ulum al-Hadits
6. al-Mubhamaat
7. Tahrir al-Alfadz li at-Tanbih
8. al-Umdah fie Tashhih at-Tanbih
9. al-Idhah fi Manasik
10. at-Tibyan fie Adabi Hamlati al-Qur'an
11. Fatawa
12. ar-Raudhah
13. al-Majmu'
Q. Ibnu taimiyah 661-728 H
Beliau telah mengarang 500 kitab. Dalam usia 19 tahun telah memberikan fatwa dan menyusun kitab. Beliau ahli nahwu, hadits dan tafsir. sehingga ada yang berkata, "Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah adalah bukan hadits." Beliau dijadikan sebagai referensi umat islam dalam kutub tisah dan musnad.
Beliau sering keluar masuk penjara sehingga wafat dalam penjara. Ketika wafat sekitar 60.000 orang datang melayat dan memakamkan jenazahnya.
R. Basyir al-ghazzi 1274-1330 H
Lahir di kota Halab. Nama lengkapnya Muhammad Basyir bin Muhammad Hilal al-Halabi. Dijuluki al-Ghazzi, karena beliau dibesarkan di rumah saudara seibunya yang bernama Syaih Kamil al-Ghazzi al-Halabi. Beliau mulai menghafal al-Qur'an umur 7 tahun dan berhasil mengahafalnya selama satu tahun. Beliau ahli ilmu jam tangan, nahwu menghafal al-Fiyah dalam waktu 20 hari.
S. Abu al-wafa' al-afghani 1310-1395 H
Lahir di daerah Khandahar, Afghanistan.
T. Karimah binti ahmad al-marwaziyyah 365-463 H
Lahir di Marwa dan wafat di Makkah. Nama lengkapnya Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Abu Hatim al-Marwaziyah. Beliau seorang ahli hadits dan mengarang banyak kitab sekitar 100 kitab.
15.39 | 0 komentar

Boleh Marah Asal Kreatif


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq: 1-5)

Bismillahi rahman nirrahim... (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

***
Setiap manusia pasti memiliki sifat marah yang terpendam dalam dirinya. Sifat ini akan muncul secara otomatis ketika ada suatu hal yang memantik amarahnya. Yang menjadi perbedaan adalah sepintar apa ia mengendalikan amarah tersebut hingga tidak menimbulkan sesuatu yang berlebihan namun rasa amarahnya dapat tersalurkan secara baik dan positif.

Apa ada marah yang kreatif?? Ada, jika engkau mau kreatif pastinya. Kreatif saat sedang dilanda amarah??? Bisakah?? Pasti bisa. Sebenarnya sense of creatif adalah tergantung tingkat kreatifitas pribadi masing-masing. Jadi, semakin orang kreatif, semakin baik pula ia akan menghadirkan amarah yang kreatif. Yaitu marah yang tidak memperuncing masalah, sebaliknya seseorang akan bersikap lebih baik dan menghargaimu. Artinya, bukan amarah yang dilandasi hawa nafsu tapi ada itikad baik untuk merubah suatu kesalahan yang ada.

Marah yang kreatif adalah engkau marah, tetapi tidak ada orang lain yang tahu kecuali dirimu dan orang yang sedang engkau marahi. Bagaimana caranya?? Ya, kembali tingkat kreatifitasmu dalam menghadirkannya. Baiklah, di sini ada sebuah cermin indah yang bisa kita saksikan dari seorang Aisyah yang pernah diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kecerdikan seorang Aisyah dalam mengendalikan amarah patut kita contoh dan bisa kita coba dalam kehidupan sehari-sehari.

Suatu ketika Aisyah, Rasulullah berbisik kepada Aisyah, “Aisyah, aku tahu saat engkau sedang suka kepadaku, dan aku pun tahu kapan engkau sedang marah kepadaku.” Dari mana engkau mengetahuinya?, ” Tanya Aisyah keheranan.Beliau menjawab, “Kalau engkau sedang suka kepadaku, engkau akan berkata dalam sumpahmu, “La, wa Rabbi Muhammad! (Tidak, demi Rabb Muhammad!)’. Tetapi jika engkau sedang marah kepadaku, engkau akan mengatakan, “La, wa Rabbi Ibrahim! (Tidak, demi Rabb Ibrahim!)” “Betul, demi Allah! Betul ya Rasulullah. Aku tidak meninggalkanmu, hanya aku tidak menyebut namamu,” ujarnya.

Demikian secuil kisah sederhana. Kini giliran engkau menghadirkan marah yang kreatif. Bentuknya bisa apa saja, asal jangan sampai orang lain tahu kecuali engkau dan orang yang sedang engkau marahi. Bagaimana???

Sumber : http://shinemylife.wordpress.com
08.22 | 0 komentar

MALAM Bagaimana Mata Terpejam


Malam..., Keindahan, kesepian, kedinginan, kesyaduanmu meyimpan segala rahasia yang telah berlaku di zaman silam.
Gelapnya kadang-kala jadi penyejuk ibadat para abid yang merindukan Allah.
Tapi adakalanya kesempatan bagi pendosa yang menyangka malam dapat melindungi ia dari penglihatan Tuhan-Nya.
Kesunyian ditunggu oleh sepasang kekasih memadu kasih. Cumbu rayu menjadi bisikan yang gemersik menyuburkan kasih. Dan malam datang menjanjikan saat itu.Saat si abid berdiri, duduk dan baring menyebut nama Allah yang satu.
Seorang hamba merintih di waktu malam: “Ya Robbi, bintang-bintang telah menghilang di balik awan. Mata insan telah tidur lelap. Pintu-pintu istana para maharaja telah terkunci. Lalu setiap kekasih telah berdua-duaan dengan kekasihnya. Dan inilah aku tampil mengadap-Mu...”
***
Dan malam juga adalah detik hamba yang berdosa rujuk pada keampunanNya.
Lalu dalam derai air matanya yang gugur di dada malam, meluncurlah kata-kata penyesalan atas keterlanjuran dan kesalahan. Seolah-olah terdengarlah di telinganya makna sebuah firman,
“Demi malam apabila telah sunyi, Robbmu tiada meninggalkan kamu dan tidak pula membenci kamu.” (Ad-Dhuha.)
Malam..., Kalau ia dipenuhi ribut petir yang dasyat, kenangilah azab Allah.
Kalau ia dihiasi bulan dan bintang, haraplah rahmat-Nya. Keindahannya biar menerangi hati, kegelapannya usah menghitamkan amal.
Uwais Al-Qarni meyambut kedatangan malam dengan katanya, “Ini malam rukuk,” lalu beliau pun sembahyang dengan rukuknya panjang-panjang hingga menjelang fajar.
Di malam yang lain ia berkata, “Inilah malam sujud.” Lalu sujudlah beliau sepanjang malam sampai fajar tiba sebagai pamitan malam beransur hilang. Itulah malam pada Uwais Al-Qarni.
Kedatangan malam mungkin seiring dengan saat kematian. Tidur... mungkin untuk selama-lamanya. Kegelapan malam mungkin bersambung ke alam kubur.
Amir bin Abdullah memberikan iangatan lain: “Tidak ada aku lihat sesuatu yang dinamakan syurga, di mana pencarinya asyik tidur.
Dan tidak pernah pula aku lihat sesuatu yang dinamakan neraka, di mana orang yang hendak menghindarinya asyik tidur saja.”
08.01 | 2 komentar

Keseriusan Terhadap Allah

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 12 Juli 2011 | 04.44


Pernah Umar bin Khattab ra. ketika berziarah ke rumah Rasulullah saw, merasa terharu menyaksikan seorang kekasih Allah SWT sedang berbaring di atas tikar yang merupakan susunan pelepah-pelepah kurma. Nampak jelas bekas alur tikar ditubuhnya. Di dalam rumah baginda saw yang penuh barokah itu tidak terlihat peralatan lambang kemewahan, hanya ada lemari yang berisi segantang gandum kasar.

Kemudian Umar ra. menangis di hadapan Rasulullah. Rasulullah saw pun bertanya, "Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?”. Umarpun menjawab.“Aku melihat para kaisar dan kisra serta raja-raja lain tidur di atas kasur mewah beralaskan sutera, tetapi aku di sini melihat engkau tidur beralaskan tikar seperti ini,”

“Wahai Umar, tidakkah engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan di akherat sedang mereka memilih dunia.”
***

Bukan hanya dalam keadaan susah tetapi dalam keadaan lapang dan kedudukannya yang tinggi sekalipun Rasulullah saw tetap merasakan kehambaannya. Perlambang keseriusan hati dengan Allah. Begitu serius menghambakan diri kepada-Nya. Serius mencari cinta dan ridha.

Sikap orang yang serius dengan Allah, dalam keadaan apapun, hati senantiasa cemas dan bimbang terhadap Allah. Kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan dirasakan belum berbuat. Kalaupun sukses dalam suatu usaha, dirasakan bukan hasil kerjanya, tapi milik Allah.“

Di dalam diri tertanam rasa kurang, rasa lemah, rasa tidak mampu; sehingga darinya lahirlah benih-benih cinta terhadap Allah. Dan sangat kedekatannya.“ Betapa kita... dalam kondisi terpuruk masih muncul ke'aku'annya.
04.44 | 3 komentar

Sejarah Kembali Terulang

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 09 Juli 2011 | 13.30


Sejarah kembali terulang, jalan cerita sejarah dari zaman ke zaman tidak pernah berubah… manusia dan pemerannya boleh berubah, peralatan-peralatan boleh berkembang pesat; akan tetapi pentas sejarah tetaplah baku; kisah permusuhan hanya satu, yaitu kebenaran melawan kebatilan, Islam memerangi kekafiran, kejahilaya-han, dan kemunafikan yang terselu-bung. Adapun orang-orang lemah dan benyali rendah, mereka memegang tongkat pada bagian tengahnya; satu sisi ia menyatakan bergabung dengan umatnya, tapi di sisi lain ia lebih mengedepankan kepentingan dunia-nya sembari menunggu kabut tersingkap dan peperangan berakhir; dengan maksud ingin bergabung dengan kelompok yang kuat dan menumpang kapal fihak yang menang, sungguh teramat jelek apa yang diperbuat orang-orang seperti ini.

Tapi mereka dihentikan oleh orang-orang robbaniyyuun, yang mengangkat bendera di zaman kerusakan, mengangkat kepala di zaman kehinaan, tekat mereka mengarungi angkasa, pergi menuju Alloh, Dzat Yang Maha melihat lagi Maha mendengar, meneladani Sang pembawa peringatan dan kabar gembira, Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam, mereka orang-orang asing yang wajahnya hangus terbakar angin keterasingan, kaki mereka yang tanpa alas kaki meneteskan darah di sahara yang berkobar oleh api permusuhan, tidak ada pintu yang mau menerima mereka sehingga mereka mengetuk pintu langit, lalu dibukalah pintu tersebut untuk mereka, langsung dari tengah-tengah surga untuk menghidupkan hati, tersirat kegembiraan iman dalam diri mereka, sehingga tidak ada seorangpun dari mereka yang mundur, karena mereka marah demi agamanya, walaupun seluruh dunia bersatu-padu membidiknya.

****Ringkasan cerita perang Khondaq, bahwa kaum muslimin terkepung oleh seluruh kaum musyrikin di sekeliling mereka. Mereka datang dengan bala tentaranya ke Madinah untuk membasmi orang-orang beriman hingga ke akar-akarnya. Maka berkumpullah kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya dari Bani Asad, Asyja‘, Fazaroh, dan kabilah-kabilah Nejd lainnya. Turut bergabung juga yahudi Bani Quroidzoh dan Bani Nadzir. Pasukan sekutu ini berkumpul menjadi satu dan jumlah mereka jauh berlipat ganda di atas jumlah kaum muslimin. Sampai-sampai Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam harus meng-ungsikan orang-orang lemah dari wanita dan anak-anak ke benteng-benteng Madinah.

"Di situlah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat dasyat." (al-Ahzab:11) Allah menguji mereka engan ujian ini yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa mereka dan mengangka derajat mereka.

****
“Sesungguhnya peristiwa ini mengandung perkara-perkara besar yang di luar batas ukuran serta keluar dari kebiasaan. Bagi setiap yang berakal akan melihat bagaimana Alloh memperkokoh agama ini dengan kejadian tersebut, dan perhatian-Nya terhadap umat ini setelah hampir saja Islam tergulung, ketika sebab-sebab yang tampak secara lahiriyah sudah terputus, musuh dari pasukan sekutu menyerang begitu cepat, hati kaum muslimin melemah karena saling bermusuhan, sementara yang tetap teguh hanyalah satu kelompok yang mau menolong agama Alloh, sehingga Allohpun membukakan pintu-pintu langit-Nya untuk tentara-tentara-Nya yang kuat, Alloh menghinakan orang-orang kafir dan munafik dan menjadikan semua itu sebagai tanda kekuasaan Alloh bagi orang-orang beriman hingga hari perjumpaan dengan-Nya.”

*****
Sungguh, sebuah tekad yang tinggi benar-benar mendidih dalam hati seperti mendidihnya air dalam periuk. Tekad seperti ini benar-benar mendorong pemiliknya untuk melakukan perkara-perkara besar dan siap mengorbankan harta, jiwa dan raga semata-mata karena Allah.
13.30 | 0 komentar

Menggapai Takwa di Bulan Ramadhan


Marhaban Yaa Ramadhan
Kerinduan kita dengan bulan Ramadhan yang mulia
sudah sangat besar. Sementara bulan mulia Ramadhan
hanyalah sebentar, maka hendaknya bisa menata ulang
ruhani, mendidik dan melatih jiwa untuk mendorong
mewujudkan keinginan berbuat kebajikan dan menggapai
ketakwaan kepada Allah swt. Itulah sasaran yang Allah
targetkan dalam menunaikan puasa di bulan Ramadhan,
sebagaimana firman-Nya:
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana yang dahulu telah diwajibkan
kepada orang-orang (ummat-ummat) sebelum kalian agar
kalian bertakwa." (QS.Al-Baqarah: 183).
Kalau kebebasan di luar bulan Ramadhan begitu
bebasnya, bahkan seolah tak berbatas. Maka orang yang
sedang berpuasa wajib menghindarkan diri dari ucapan
dan perbuatan yang berlawanan dengan tujuan puasa,
agar dari ibadah puasanya itu ia tidak hanya mendapatkan
kelaparan, kehausan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.
"Puasa adalah pencegahan. Bila kalian berpuasa
hendaklah tidak bersetubuh (dengan istrinya) dan tidak
lengah. Jika ada orang lain memaki atau memusuhinya,
hendaklah ia menjawab: 'Saya sedang berpuasa!'".
(HR.Bukhari dan Muslim).
Masih dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Bisa jadi orang yang berpuasa tidak memperoleh
apa-apa dari puasanya itu selain lapar. Dan bisa jadi juga
orang bersembahyang di malam hari ( shalatul lail ) tidak
mendapatkan apa-apa dari
shalatnya selain kantuk."
Karena tujuan mulia bulan
puasa yakni menggapai gelar
takwa, sudah selayaknya orang
yang berpuasa membantu
mewujudkan terciptanya
kondisi ke arah sana. Setiap
ummat Islam memiliki
tanggung jawab menciptakan
suasana yang tenang dan
damai.
Beda dari bulan biasa
Karenanya sudah sewajarnya
kita menjunjung tinggi
Ramadhan. Bukankah target
yang hendak dicapai
didalamnya begitu mulianya?
Predikat takwa yang Allah
tawarkan dalam surat al-
Baqarah di atas adalah sebaik-
baik predikat yang akan Allah
berikat kepada hamba
pilihannya. Tujuan tersebut
jauh lebih mulia dari target-
target apapun yang sering
dikejar oleh ummat manusia,
baik berupa harta benda
maupun kekuasaan. Allah swt
berfirman:
"Berbekallah, dan
sesungguhnya sebaik-baik
bekal adalah takwa." (QS. al-
Baqarah: 197)
"Padahal orang-orang
yang bertakwa itu lebih mulia
daripada mereka di hari
kiamat." (QS.al-Baqarah:212)
Itulah hadiah
keistimewaan yang diberikan
di bulan Ramadhan. Jangan
sampai suasana bulan yang
suci ini dirusak oleh karena
kita memperturutkan
kehendak hawa nafsu.
Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang tidak
meninggalkan ucapan dan
perbuatan senonoh (dusta,
memaki, fitnah, menghujat
dan lain-lain) Allah sama sekali
tidak butuh ia meninggalkan makan dan minum."
(HR.Bukhari, Ahmad bin Hanbal dan Ash-habus-Sunan)
Ibnul-'Arabiy mengatakan: "Maksud hadits tersebut
adalah, orang yang bersangkutan tidak memperoleh pahala
atas puasanya. Tegasnya ialah, bahwa pahala ibadah puasa
tidak mungkin dapat dicampur adukkan dengan dosa,
perbuatan batil dan tidak senonoh."
Jabir bin Abdullah ra menasihati sahabatnya: "Bila Anda
berpuasa, hendaklah telinga dan mata Anda juga turut
berpuasa. Demikian pula lidah Anda dari perkataan dusta
dan dosa-dosa lainnya. Janganlah Anda mengganggu atau
menyakiti hati Khadim (pelayan). Hendaknya Anda tenang
dan tenteram selama berpuasa. Janganlah Anda samakan
antara hari-hari saat Anda sedang berpuasa dan tidak
berpuasa!"
Kepada Thaliq bin Qaid, Abu dzar berkata: "Bila Anda
sedang berpuasa jagalah baik-baik puasa Anda sedapat
mungkin." atas dasar nasihat Abu dzar itu Thalif bin Qais
tiap puasa tidak keluar rumah kecuali untuk menunaikan
shalat berjamaah di masjid.
Terkecuali ketika menghadapi kekuatan musuh yang
nyata-nyata hendak memadamkan nur Islam, sekalipun
bulan Ramadhan. Contoh peperangan akbar yang
berlangsung di bulan Ramadhan adalah perang Badar.
Itulah sifat kehati-hatian sebagian ulama shalafus-shalih
terdahulu, agar nilai dan suasana Ramadhan tidak menjadi
rusak. Wallahu a'lam bishshawab
*********

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang tidak
meninggalkan ucapan dan perbuatan senonoh
(dusta, memaki, fitnah, menghujat dan lain-lain) Allah
sama sekali tidak butuh ia meninggalkan makan dan
minum." (HR. Bukhari, Ahmad bin Hanbal dan Ash-habus-Sunan)
11.58 | 0 komentar

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan


Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah
dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang
paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang
paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang
paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling
utama.

Wahai manusia! Sungguh telah datang
pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah
rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi
Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama.
Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling
utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling
utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu
Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-
nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu
diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada
Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci
agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan
membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan
Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa
lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari
kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan
masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang
muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga
lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal
kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa
yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-
anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada ALLAH dari dosa-dosamu.
Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu
shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama
ketika Allah Azza wa Jalla
memandang hamba-hambaNya
dengan penuh kasih; Dia
menjawab mereka ketika mereka
menyeru-Nya, menyambut
mereka ketika mereka
memanggil-Nya dan
mengabulkan doa mereka ketika
mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia!
Sesungguhnya diri-dirimu
tergadai karena amal-amalmu,
maka bebaskanlah dengan
istighfar. Punggung-
punggungmu berat karena
beban (dosa) mu, maka
ringankanlah dengan
memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta'ala
bersumpah dengan segala
kebesaran-Nya bahwa Dia tidak
akan mengazab orang-orang
yang shalat dan sujud, dan tidak
akan mengancam mereka
dengan neraka pada hari
manusia berdiri di hadapan Rabb
al-alamin.

Wahai manusia! Barang
siapa di antaramu memberi
buka kepada orang-orang
mukmin yang berpuasa di
bulan ini, maka di sisi Allah
nilainya sama dengan
membebaskan seorang budak
dan dia diberi ampunan atas
dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-
sahabat lain bertanya: "Ya
Rasulullah! Tidaklah kami semua
mampu berbuat demikian."
Rasulullah meneruskan:
“Jagalah dirimu dari api neraka
walaupun hanya dengan sebiji
kurma. Jagalah dirimu dari api
neraka walaupun hanya
dengan seteguk air”.
Wahai manusia! Siapa
yang membaguskan akhlaknya
di bulan ini ia akan berhasil
melewati sirathal mustaqim
pada hari ketika kaki-kaki
tergelincir. Siapa yang
meringankan pekerjaan orang-
orang yang dimiliki tangan
kanannya (pegawai atau
pembantu) di bulan ini, Allah
akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.
Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan
menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah
akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan
(silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia
dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah
akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa
dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah
akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.
Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya ganjaran
seperti melakukan 70 shalat fardhu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan
ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari
ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini
membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti
mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga
dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar
tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka
tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak
akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu,
maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.
Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku berdiri
dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama
di bulan ini?" Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang
paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang
diharamkan Allah".
11.44 | 0 komentar

Adakah Kita Makan Kulit Lupa Kacang


Katakanlah kita ini polisi, sedang duduk dalam mobil
patroli kita sambil minum kopi. Tiba-tiba radio kita
berbunyi, mengatakan ada dua kasus yang diminta kita
menangani salah satu darinya. Dua kasus orang
tertangkap mencuri.
Kasus pertama di kampung selatan, seorang lelaki
ditangkap mencuri uang seribu rupiah.
Kasus kedua di kampung utara, seorang warga
asing tertangkap mencuri uang 2 juta rupiah.
Kasus mana yang kita urusi dulu?
Agaknya tentu kita segera mengejar ke kampung
utara, ya nggak? Maksud saya, apalah arti uang seribu
rupiah, begitu saja merepotkan polisi? Tapi bagaimana
kalau setelah itu kita tahu hakikatnya begini:
Dalam kasus pertama, uang itu kepunyaan seorang
anak yatim piatu peminta sedekah, dan duit itu sajalah
yang ada padanya untuk digunakan membeli makan
setelah beberapa hari tak makan.
Sedangkan dalam kasus kedua, uang itu kepunyaan
orang kaya bakhil yang seumur hidupnya tak pernah
keluar zakat.
Tiba-tiba, baru kita sadar perbedaannya, antara
lahiriah dan batiniyah.
Kalau mengikuti prinsip, tentulah kasus pertama
lebih berat, walaupun hanya melibatkan uang seribu
rupiah. Tapi sebab kita hidup ini sudah biasa
menghukumi orang serta peristiwa dari lahirnya, maka
selalu pikiran kita tertipu.
Seseorang pernah menceritakan sebuah kisah:
Kita sedang duduk di sebuah bangku dalam
taman. Sedang kita enak menikmati sandwich dan
Coke kita di tengah taman dengan udara bertiup
lembut itu, tiba-tiba datang seorang lelaki bersama 2
orang anak kecilnya duduk di sebelah kita.
Lelaki itu hanya termenung panjang melihat ke
padang luas dan berdiam diri sementara anak-anaknya
berlarian sambil menjerit-jerit sekuat kuatnya.
Orang yang lalu lalang semuanya melihat dengan
kening berkerut-kerut melihat tingkah polah anak
yang tak tahu hormat pada orang lain itu.
Kita pun lama-lama semakin bingung. Setan
sungguh anak ini! Mengapa bapaknya ini diam saja,
tak mau menegur anak-anaknya?
Setelah tak tahan betul, kita tegur lelaki itu.
Bisakah tuan suruh anak-anak itu diam, saya baru mau
makan sandwic ini! Lelaki itu melihat kita seketika
dengan tersenyum sedikit.
“Maafkan saya,” kata lelaki itu. “Dan maafkan
anak-anak saya itu. Sebenarnya, isteri saya - ibu
mereka - baru meninggal dunia sebab kanker di rumah
sakit, dan saya tak tahu bagaimana cara menerangkan
pada mereka hal ini.”
Kemudian dia sambung lagi: “Biarlah saya bawa
mereka ke tempat lain supaya tak menganggu anda
makan.”
Bagaimana perasaan kita saat itu?

***

Sebagaimana terjadi di sekitar kita. Bila ada tokoh
atau orang kaya yang sekali dua
kali memberi kita bantuan uang,
dikabarkan sakit, belum juga
sampai ke rumah sakit kita lebih
dulu datang, kabarnya hendak
menjenguk.
Sedangkan bila miskin -
walaupun tetangga dekat -
sering menolong kita dengan
tenaga dan pikiran tanpa
pamrih, sakit hingga pingsan,
sampai tersadar kembalipun
kitanya tak cepat peduli.
Sebab itulah bila teringat
ayat Qur’an mengatakan, beda
antara manusia itu hanyalah
iman dan taqwa, saya sering
merasa menyesal. Sebab saya
selalu menghukum orang
melihat keadaan luarnya.
Bagaimana dengan anda?
Wallahualam.
00.00 | 0 komentar

AL-QUR'AN MURATTAL OLEH SYEIKH YASSIN AL JAZAERY DENGAN RIWAYAT WARSY

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 05 Juli 2011 | 11.30


SUATU HAL yang sering dilupakan oleh umat Islam umumnya (atau mungkin memang belum banyak diketahui) adalah bahwa Allah SWT melalui Malaikat Jibril mengajarkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. qiraíat (cara membaca) Al-Qurían yang tidak semacam, kemudian Rasulullah pun mengajarkan variasi bacaan tersebut kepada para sahabat beliau.Dalam Shahih al-Bukhari, Volume 6, hadits no.514, diceritakan bahwa Umar ibn Khattab pernah memarahi Hisyam ibn Hakim yang membaca Surat Al-Furqan dengan bacaan berbeda dari yang diajarkan Rasulullah s.a.w. kepada Umar. Setelah Hisyam menerangkan bahwa Rasulullah sendiri yang mengajarkan bacaan itu, mereka berdua menghadap Rasulullah untuk meminta konfirmasi. Rasulullah membenarkan kedua sahabat beliau itu dan menjelaskan bahwa Al-Qurían memang diturunkan Allah SWT dengan beberapa variasi bacaan. ìFaqraíuu maa tayassara minhu,î sabda Rasulullah s.a.w, ìmaka bacalah mana yang engkau anggap mudah daripadanya.î

Perbedaan qiraíat itu merupakan salah satu kehebatan dan keunggulan kitab suci umat Islam: bacaan bisa berbeda, tetapi tidak bertentangan, malahan saling memperkuat pemahaman makna ayat Al-Qurían! Sebagai contoh, Rasulullah s.a.w. kepada sebagian sahabat mengajarkan bacaan maaliki yaumi d-diin (ìPemilik Hari Pembalasanî) dalam Surat Al-Fatihah 4, tetapi kepada sebagian sahabat yang lain beliau mengajarkan bacaan maliki yaumi d-diin (ìRaja Hari Pembalasanî). Kedua bacaan ini sudah tentu sama-sama benar, sebab Allah memang satu-satunya Pemilik dan Raja.Dalam Surat Ali Imran 81 ada dua variasi bacaan yang diajarkan Rasulullah: ataytukum min kitaab (ìAku memberi kamu kitabî) dan ataynaakum min kitaab (ìKami memberi kamu kitabî). Dua-duanya benar, sebab Allah SWT membahasakan diri ada kalanya dengan ìAkuî untuk menyatakan keakraban-Nya dan ada kalanya dengan ìKamiî untuk menyatakan kekuasaan-Nya.Demikian juga dalam Surat Ar-Rahman 22 terdapat dua pilihan bacaan. Yang pertama yakhruju min humaa l-luíluíu wa l-marjaan (ìkeluar dari kedua lautan itu mutiara dan marjanî), sedangkan yang kedua memakai kata kerja pasif yukhraju (ìdikeluarkanî). Kedua variasi bacaan ini berasal dari Rasulullah s.a.w. dan saling menerangkan satu sama lain. Ada juga variasi bacaan Al-Qurían berdasarkan dialek. Sebagai contoh, Surat Adh-Dhuha yang lazimnya kita baca wa dh-dhuhaa wa l-laili idzaa sajaa bisa juga dibaca wa dh-dhuhÈÈ wa l-laili idzaa sajÈÈ, sebab ada dialek Quraisy yang membaca alif maqshurah (alif di atas ya) dengan imalah (bunyi È seperti logat Betawi).



Pembakuan tulisan Al-Qurían pada masa Khalifah Utsman ibn Affan (23-35 H atau 644-656 M), yang dikenal sebagai Mushhaf `Utsmani, ternyata mampu mengakomodasi berbagai variasi bacaan tersebut, sebab pada masa itu tulisan Arab masih berwujud konsonantal murni yang belum diberi syakal (baris pembeda vokal dan huruf mati) dan iíjam (titik pembeda huruf). Pemberian syakal kepada tulisan Al-Qurían baru dilakukan oleh Abul-Aswad Ad-Duíali (w.69 H / 688 M) atas perintah gubernur Basrah, Ziyad ibn Samiyah, pada masa Khalifah Mu`awiyah ibn Abi Sufyan (41-60 H atau 661-680 M). Adapun pemberian iíjam dilakukan dua orang murid Abul-Aswad, yaitu Nashr ibn Ashim (w.87 H / 708 M) dan Yahya ibn Yaímur (w.130 H / 747 M), atas perintah gubernur Irak, Hajjaj ibn Yusuf, pada masa Khalifah Abdul-Malik ibn Marwan (65-86 H atau 685-705 M).

Al-Qurían yang digunakan oleh sebagian besar umat Islam di dunia dewasa ini, termasuk kita di Indonesia, memakai qiraíat HAFSH, yaitu bacaan Hafsh ibn Sulaiman Al-Kufi (90-180 H atau 709-796 M) dari Ashim ibn Abunnujud Al-Asadi (50-127 H atau 671-745 M), yang memperoleh bacaan itu dari 80-an tabi`in (generasi sesudah sahabat) yang belajar kepada sahabat-sahabat Rasulullah, antara lain Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Mas`ud, dan Zaid ibn Tsabit. Akan tetapi saudara-saudara kita umat Islam di kawasan Afrika Utara dan Afrika Barat memakai Al-Qurían qiraíat WARSY, yaitu bacaan Warsy Utsman ibn Sa`id Al-Mishri (110-198 H atau 727-812 M) dari Nafi` ibn Abdurrahman Al-Madani (70-169 H atau 689-785 M), yang memperoleh bacaan itu dari 70 tabi`in yang belajar kepada sahabat-sahabat Rasulullah, antara lain Abdullah ibn Abbas, Abu Hurairah dan Ubay ibn Ka`b.



Al-Qurían bacaan Warsy memiliki beberapa perbedaan dengan Al-Qurían bacaan Hafsh. Oleh karena kita di Indonesia terbiasa dengan bacaan Hafsh, ada baiknya kita mengenali bacaan Warsy, supaya jangan kaget jika suatu saat kita berkesempatan membaca atau mendengarnya. Pada bacaan Warsy, tidak ada hamzah mati di tengah kata, tetapi vokal sebelumnya dibuat panjang (madd). Sebagai contoh, muíshadah dalam bacaan Hafsh menjadi muushadah dalam bacaan Warsy; ka`ashfim maíkuul menjadi ka`ashfim maakuul; biítsa l-mashiir menjadi biitsa l-mashiir, dan sebagainya.Huruf mati di ujung kata harus divokalkan jika bertemu dengan huruf alif pada kata berikutnya. Contoh, min aayaatinaa menjadi minaayaatinaa; qad aflaha menjadi qada aflaha; hal ataaka menjadi hala ataaka. Bacaan Hafsh sawaaíun `alaihim aíandzartahum am lam tundzirhum laa yuíminuun (Al-Baqarah 6 dan Yasin 10) menurut Warsy menjadi sawaaíun `alaihimuu aíandzartahumuu am lam tundzirhum laa yuuminuun.



Perlu ditegaskan bahwa bacaan Hafsh dan Warsy sama-sama berasal dari Nabi Muhammad s.a.w. dengan sanad (rantai berita) yang sahih dan mutawatir, dan sama-sama menggunakan Mushhaf `Utsmani dalam tulisan konsonantalnya.Baik Hafsh maupun Warsy diproduksi besar-besaran di Percetakan Al-Qurían milik Kerajaan Saudi Arabia di Madinah, untuk disebarluaskan ke seluruh Dunia Islam, sesuai dengan kawasan pemakainya masing-masing. Pada era globalisasi sekarang, tidak mustahil ada orang Indonesia yang melancong ke Aljazair atau Nigeria lalu membaca Al-Qurían qiraíat Warsy di sana, kemudian salat berjamaah dengan imam dari Maroko atau Senegal yang bacaan ayatnya sedikit berbeda. Semoga bahasan ini memperluas wawasan kita mengenai variasi bacaan wahyu Allah SWT.

Karena sulitnya memahami ilmu ini dan kurangnya referensi buku khususnya yang berbahasa Indonesia, disini Silmi Production mencoba menerbitkan MP3 Bacaan Qurían Riwayat Warsh. yang dibaca oleh ulama-ulama terkenal timur tengah. Ada dua puluh riwayat dan hanya 4 yang diterima (qiraat sepuluh) karena riwayat inilah yang banyak perbedaanya dan paling banyak dibaca dinegara-negara islam, seperti riwayat Hafsh dibaca di hampir seluruh dunia termasuk indonesia. Riwayat Qalun pupuler dibaca di Libya, Tunisia, dan Qatar. Riwayat Warsh banyak dibaca di Algeria, Maroko, dan Afrika Barat. dan Riwayat Khalaf yang populer dibaca di Sudan dan Somalia. Selamat Menyimak bacaan Qurían Riwayat Warsy.

Bagi Sahabat yang bermiat memiliki MP3 Qiraah ini bisa menghubungi Admin.
11.30 | 1 komentar

TOP 20 Nasyid Nuris FM Edisi 1 Juli 2011 / 30 Rajab 1432H

Written By Rudi Abu azka on Senin, 04 Juli 2011 | 23.53

1. Firto Feat Rifqi The CS=Aku PadaMU(Naik 2)=(ANN Jateng)
2. GSV=Janji Kita(Naik 2)=(Lampung)
3. ARIF Nasyid=Teman Sejiwa(Turun 2)=(Riau)
4. Maher Zain=Sepanjang Hidup(Naik 1)=Swedia
5. D'Arsh=So In Love(Naik 1)=(Surakarta)
6. Fiq Canovea=Pedihku(Turun 4)=(Bandung)
7. Deni Aden=Doa Ibu=Naik 3
8. IQ One=Jangan Lupakan Tuhan (Malaysia)=(Naik 3)
9. El Hilal=Persembahan Hati=(Jogjakarta)=Naik 3
10. Laa Tahzan=Jangan Bersedih=Naik 4
11. D'Masjid=Narkoba=(Garut)=Naik 6
12. N'Fe=Sahabat(Turun 5)=(ANN Jateng)
13. Hawari =Sakaratul Maut(Turun 5)=Bandung
14. Yusif=Ibu(Turun 5)=(Bandung)
15. Fachreza=Khilaf=Naik 3
16. F One=Spirit To free Palestine(STFP)= Naik 3
17. Djay Lazuardi=Episode Jingga=(Jateng)=Naik 3
18. Suby-Ina = Duhai Cinta=New Entry
19. Efziel=YES (Yakin En Semangat)=New Entry
20. Harum Nasyid=Irama Hati=New Entry
 
New Entry 
 
1. Ujo Tashiru=DMC (Dalam Mihrab Cinta)
2. Novi IZZIS feat Fadly PADI=Senandung Cinta
3. THe CS=Jangan Sombong=ANN Jateng
4. MUV Nasyid=Hamba Terbaik
5. Awan=Jangan Ada Permusuhan=(ANN Jateng)
6. Hawari=SEtialah Sahabat
7. Jiilul Qur'an=Kuingin Kembali
8. N-Sy=Cinta Hakiki (Bandung)
9. Ababil=Alhamdulillah
10. Leon=Bunda & Rinduku=(ANN Jateng)
 
Nasyid Akhwat
 
1.Rizein Voice=Lembayung CintaMU (bandung)
 
Simak dan dukung terus nasyid kesayangan anda di top 20 nasyid nuris FM Bersama Kiki Alfatih Setiap jum'at pkl 20.00 sd 21.30  di www.radionuris.co.tvBagi sahabat nuris yang punya single yang mau di putar kirim ke nuris_radiomuslim@yahoo.comkonfirmasi kiki alfatih 02194581717 atau 085717751717Reques trus dan disediakan polling yang ditutup setiap kamis 20.00TOP 20 NASYID NURISFM GIATKAN SYIAR ISLAM DENGAN PERSEMBAHAN NASYID NASYID TERKINI
23.53 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung