Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

PERBEDAAN ANTARA BERBAIK SANGKA DAN GHURUR (TERTIPU DIRI SENDIRI)

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 13 Desember 2017 | 07.24

*PERBEDAAN ANTARA BERBAIK SANGKA DAN GHURUR (TERTIPU DIRI SENDIRI)*

👉🏿 Banyak orang bodoh yang hanya mengandalkan rahmat Allah, maaf, dan kemurahanNya, lalu mereka menyia-nyiakan perintah dan laranganNya. Mereka lupa bahwa Allah memiliki azab yang sangat berat. AzabNya tidak dapat ditolak dari orangorang yang gemar berbuat dosa. Barangsiapa mengandalkan maaf namun tetap melakukan maksiat terus-menerus, maka dia tak ubahnya seperti penentang.

👉🏿Ma'ruf (Dia adalah Ma'ruf al-Karkhi, seorang yang zuhud lagi masyhur, w. 200 H) berkata, _"Harapanmu terhadap rahmat dari Dzat yang tidak kamu taati termasuk suatu kesia-siaan dan kedunguan."_

🎙Abu Hasan berkata, _"Ada suatu kaum yang terlena oleh angan-angan mendapatkan ampunan Allah, hingga mereka meninggalkan dunia ini tanpa bertaubat. Salah seorang dari mereka berkata, 'Karena aku berbaik sangka kepada Tuhanku.' Dia berdusta, jika dia memang berbaik sangka, niscaya dia akan memperbagus pula amal perbuatannya."_

✍Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Usamah bin Zaid ra, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

🎙يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ

📜 _"Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; "Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma'ruf dan melarang kami berbuat munkar?". Orang itu berkata; "Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma'ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya"._ Ghundar meriwayatkannya dari Syu'bah dari Al A'masy.
(HR. Al-Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 1989)

🎙إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلًا كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلَاةٍ فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا فَأَجَّجُوا نَارًا وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا

📜 _"Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil karena hal itu dapat terkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya."_ Dan sesungguhnya Rasulullah ﷺ memberi perumpamaan hal itu seperti suatu kaum yang singgah di padang pasir yang luas, lalu para pekerja kaum datang, seorang laki-laki pergi dan kembali membawa kayu dan orang lainnya kembali pula membawa kayu hingga mereka dapat mengumpulkan setumpuk kayu, lalu mereka menyalakan api dan dapat mematangkan semua yang mereka lemparkan kedalamnya. (HR. Ahmad dalam Al Musnad, 1/402)

🎙مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Abu Hurairah ra, dari Rasulullah ﷺ bersabda: 📜 _"Barangsiapa yang memiliki kezhaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta dihalalkan, sebab dinar dan dirham (dihari kiamat) tidak bermanfaat, kezalimannya harus dibalas dengan cara kebaikannya diberikan kepada saudaranya, jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, kejahatan kawannya diambil dan dipikulkan kepadanya."_
(HR. Al-Bukhari no. 2449)

☝🏻Terkadang sebagian orang yang tertipu itu bersandar kepada apa yang dilihatnya, berupa nikmat-nikmat Allah kepadanya di dunia ini dan bahwa Dia tidak akan merubah kenikmatan yang ada padanya. Dia menyangka bahwa hal itu termasuk (bukti) cinta Allah kepadanya, dan bahwa di akhirat Allah akan memberinya apa yang lebih baik daripada hal tersebut. Ini termasuk tipuan
_(ghurur)_.

📜Sebagian salaf berkata, _"Bila kamu melihat Allah terus menerus melimpahkan nikmat-nikmatNya kepadamu padahal kamu bersikukuh di atas kemaksiatan kepadaNya, maka was-padalah, karena ia adalah istidraj (mendekatkan pelaku maksiat kepada azab sedikit demi sedikit dan memberikan waktu tangguh kepadanya) dari Allah yang diberikan kepadamu."_

📜Sebagian salaf juga berkata, _"Betapa banyak orang-orang yang mendapatkan istidraj dengan nikmat-nikmat Allah sementara dia tidak menyadari. Betapa banyak orang yang tertipu dengan ditutupnya aibnya oleh Allah sementara dia tidak menyadari. Betapa banyak orang yang terkecoh dengan sanjungan manusia kepadanya sementara dia tidak menyadari."_

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “*
📚 Mukhtasar Ad Da'*wad Dawa'

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍🏻📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.24 | 0 komentar

HIDAYAH & TAUFIQ ITU PEMBERIAN ALLAH

🏷 *HIDAYAH & TAUFIQ ITU PEMBERIAN ALLAH*⌛

📜 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
(Tunjukilah kami jalan yang lurus). *HIDAYAH* adalah *keterangan dan petunjuk*, sedangkan _taufiq dan ilham_ datang setelah keterangan dan petunjuk itu. Tidak ada jalan untuk mendapatkan keterangan dan petunjuk itu melainkan dari rasul. Apabila penjelasan, petunjuk dan pengetahuan telah diperoleh, maka selanjutnya akan diperoleh *hidayah taufiq* (penerimaan hati terhadap petunjuk itu), penanaman iman dalam hati, cinta terhadap iman, dijadikan Nya iman itu indah dalam hati, menimbulkan pengaruh dan motivasi, ridha terhadap keimanan dan gemar kepadanya.

👉🏿Keduanya merupakan hidayah yang amat penting, kita tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan dan kejayaan tanpa adanya hidayah ini. Keduanya mengandung penjelasan dan pengenalan terhadap kebenaran yang tidak kita ketahui, secara terperinci ataupun secara garis besar. Selanjutnya adalah pemberian ilham kepada kita terhadap keimanan itu, dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang berkeinginan untuk mengikutinya secara lahir dan batin. Kemudian menciptakan kemampuan dalam diri kita untuk melaksanakan petunjuk (hidayah) ini dengan ucapan, perbuatan, tekad dan kemauan yang kuat, kemudian dikekalkan-Nya hal itu untuk kita dan dimantapkan-Nya kita pada kebenaran itu hingga kita meninggal dunia.

👉🏿Dari sini kita mengetahui betapa perlunya seorang hamba memanjatkan do'a ini (tunjukilah kami jalan yang lurus) melebihi keperluankeperluan lainnya. Di samping itu kita mengetahui pula ketidakbenaran orang yang mempertanyakan, “Apabila kita sudah mendapatkan petunjuk, mengapa kita memohon hidayah (petunjuk) lagi? Karena kebenaran yang belum kita ketahui masih sangat banyak. Ada hal-hal (kebaikan) yang kita tidak ingin mengerjakannya, baik karena sembrono maupun karena malas, atau hal-hal yang kita inginkan tetapi kita tidak mengerti,. Ada pula hal-hal yang kita kehendaki tetapi kita tidak memiliki kamampuan melakukannya, tidak mengetahui jumlah dan perinciannya yang tidak terbatas. Karena itu, kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Barangsiapa telah mendapatkan hal-hal tersebut, maka permintaannya akan hidayah berarti permintaan agar hidayah-hidayah itu ditetapkan dan dikekalkan untuknya.

👉🏿Masih ada tingkatan lain dari hidayah - yang merupakan tingkatan PUNCAK yaitu *hidayah pada hari kiamat ke jalan surga*, atau jalan yang menyampaikannya ke surga. Barangsiapa di dunia ini diberi. petunjuk ke jalan Allah yang lurus, jalan lurus yang dengannya Allah mengutus rasulrasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, maka di akhirat nanti orang ini akan mendapatkan petunjuk ke jalan lurus yang menyampaikannya ke surga-Nya dan tempat pahala-Nya. Sekokoh langkah kaki seseorang hamba di jalan yang dipancangkan Allah untuk hamba-hamba-Nya di dunia ini, sekokoh itu pula langkah kakinya di atas titian yang dipasang di atas neraka Jahanam. Sebagaimana perjalanannya menempuh jalan hidup (agama) ini di dunia, seperti itu pula perjalanannya waktu melintasi titian. Karena itu ada orang yang melintasi titian seperti kilat. Ada orang yang melintasinya dengan kecepatan sekejap mata. Ada yang melintasinya dengan kecepatan angin. Ada yang melintasinya seperti larinya kuda. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan biasa, ada yang merangkak, ada yang tertatih- tatih, dan ada yang langsung dihempaskan ke neraka. Karena itu hendaklah seseorang memperhatikan bagaimana perjalanannya di atas jalan yang lurus (yakni bagaimana perhatian, kepedulian, sikap; dan pelaksanaannya terhadap agama Islam) di dunia ini, karena ia akan mendapatkan balasan yang setimpal, "

_”Bukankah kamu tidak dibalasi melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan?"_ (an-Naml [27]: 90)

👉🏿Hendaklah ia memperhatikan syubhat-syubhat dan syahwat-syahwat yang menghalangi perjalanannya di atas jalan yang lurus ini, karena itu semua merupakan besi-besi pengait di pinggir kiri dan kanan titian tersebut yang akan menyambar dan mengaitnya hingga ia tidak dapat melintasi titian itu. Kalau di dunia ini banyak syubhat dan syahwat yang diterjangnya, maka demikian pula besi-besi pengait dan rintangannya di atas titian akhirat tersebut,

_” Dan Tuhanmu sama sekali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.”_ (Fushshilat [41]: 46)

👉🏿Karena itu, permintaan hidayah tersebut meliputi permintaan untuk dapat memperoleh semua macam kebaikan dan keselamatan dari semua bentuk keburukan.

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah* - "Madarijus Salikin" 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.23 | 0 komentar

SYARAT DOA YANG DITERIMA

🏷 *SYARAT DOA YANG DITERIMA*⌛

👉🏿 Bila doa itu sendiri memang tidak laik, atau orang yang memanjatkan doa tidak menyelaraskan antara lisan dan hatinya dalam berdoa atau ada sesuatu yang menghalangi dikabulkannya doa, maka pengaruhnya tidak terwujud.

👉🏿 Dalil naqli, akal, dan secara fitrah telah menunjukkan bahwa _mendekatkan diri kepada Allah Rabb alam semesta, berusaha mencari keridhaanNya, berbuat baik dan mulia kepada makhlukNya itu termasuk sebab terbesar yang mendatangkan segala kebaikan_, sedangkan lawan dari apa yang disebutkan di atas merupakan sebab terbesar yang mendatangkan segala keburukan. Maka nikmat-nikmat Allah tidaklah dapat dihadirkan dan azab-azabNya tidaklah dapat dicegah (dengan semaksimal mungkin) sebagaimana dengan (melakukan) amal ketaatan kepadaNya, usaha mendekatkan diri kepadaNya, dan berbuat baik kepada makhlukNya.

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.22 | 0 komentar

PENYAKIT DAN OBATNYA

🛌🏻 *PENYAKIT DAN OBATNYA*💊

👉🏿 Imam lbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
📜 _“Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah 'Azza wa jalla. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati  kecuali dengan menyendiri bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah ; kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Didalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju  Allah. Di dalam hati, juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya."_

☝🏻Pernahkan Anda merasakan makna-makna spiritual ini sebelumnya?

✍Di dalam hati ada sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api ada beragam penyakit yang obatnya tidak lain adalah *“mengenai Allah*".

😭Munajat hamba....

Wahai Yang Maha Suci
Betapa malunya diri
Nikmat yang tlah Kau beri
Belum mampu kusyukuri
Wahai Yang Maha Tingi
Betapa lemahnya diri
Nafsu yang tak terkendali
Kotori cermin hati
Tak mampu ku memuji-Mu
Setinggi keagungan-Mu
Tak kuasa ku meraih-Mu
Tanpa pertolongan-Mu...

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.21 | 0 komentar

KEHADIRAN HATI SAAT BEDOA

📿 *KEHADIRAN HATI SAAT BEDOA*📿

☝🏻Bila kehadiran hati digabungkan bersama doa dan juga menyatu dengan apa yang diinginkan, ditambah lagi bertepatan dengan waktu mustajab yang enam, yaitu; sepertiga malam yang akhir, saat adzan, antara adzan dan iqamat, sesudah shalat fardhu, saat imam naik mimbar pada Hari Jum'at hingga shalat ditunaikan, dan saat terakhir sesudah Ashar di Hari Jum'at; ditambah bertepatan dengan:

🖊 Kekhusyu'an hati, kerendahan, kepasrahan, ketundukan dan kekhawatirannya di hadapan Allah.

🖊 Orang yang berdoa menghadap kiblat. . Dalam keadaan suci. . Mengangkat kedua tangannya kepada Allah.

🖊 Mengawali doanya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah.

🖊 Yang disambung dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hamba Allah dan RasulNya.

🖊 Kemudian dia memberikan pendahuluan pada hajatnya dengan taubat dan istighfar.

🖊 Kemudian memohon kepada Allah dan meminta kepadaNya berulang-ulang, berdoa dan merendahkan diri di hadapanNya dengan penuh harap dan cemas.

🖊 Bertawasul kepadaNya dengan Nama-nama, Sifat-sifat, dan tauhidNya.

🖊 Membuka doanya dengan sedekah.

🖊 Maka doa seperti ini hampir-hampir tidak tertolak selamanya, apalagi bila ia berisi doa-doa yang telah dinyatakan oleh Nabi shallallāhu Alaihi Wasallam bahwa ia berpeluang kuat untuk dikabulkan atau ia mengandung Nama Allah yang paling agung.

Di antaranya adalah hadits dalam as-Sunnan dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Abdullah bin Buraidah, dari bapaknya radhiyallahu anhu,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ فَقَالَ لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ بِالِاسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ الرَّقِّيِّ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فِيهِ لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ

📜Telah menceritakan kepada Kami Musaddad telah menceritakan kepada Kami Yahya dari Malik bin Mighwal telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki mengucapkan; *ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA ANNII ASYHADU ANNAKA ANTALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA ANTA Al AHAD, ASH SHAMAD ALLADZII LAM YALID WA LAM YUULAD WA LAM YAKUN LAHU KUFUWAN AHAD* _(ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Dzat Yang Maha Esa dan tempat bergantung Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang menandingi-Nya)._ Kemudian beliau berkata: _"Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan perantara nama yang apabila Dia diminta dengannya pasti Dia akan mengabulkan."_ Telah menceritakan kepada Kami Abdurrahman bin Khalid Ar Raqqi, telah menceritakan kepada Kami Zaid bin Hubbab, telah menceritakan kepada Kami kepada Kami Malik bin Mighwal dengan hadits ini dan padanya beliau bersabda: _"Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan namaNya yang agung."_
(Diriwayatkan oleh Abu-Dawud No 1493, At Tirmidzi no. 3475, An Nasai dalam Sunan Al Kubro no. 1998, Ibnu Majah No. 3857 dan Ibu Hibban no. 891)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ مَرَّةً عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدٍ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَبِيهِ وَقَدْ رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ يُونُسَ بْنِ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدٍ وَلَمْ يَذْكُرُوا فِيهِ عَنْ أَبِيهِ وَرَوَى بَعْضُهُمْ وَهُوَ أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ عَنْ يُونُسَ بْنِ أَبِي إِسْحَقَ فَقَالُوا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ نَحْوَ رِوَايَةِ ابْنِ يُوسُفَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعْدٍ وَكَانَ يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ رُبَّمَا ذَكَرَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ أَبِيهِ وَرُبَّمَا لَمْ يَذْكُرْهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abu Ishaq dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa'd dari ayahnya dari Sa'd ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: *"Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah; LAA ILAHA ILLA ANTA KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya).*

Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya."

Muhammad bin Yahya berkata; berkata Muhammad bin Yusuf suatu kali dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa'd dari Sa'd dan ia tidak menyebutkan padanya dari ayahnya. Dan hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu orang dari Yunus bin Abu Ishaq dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa'd dari Sa'd dan mereka tidak menyebutkan padanya dari ayahnya. Dan sebagian mereka yaitu Abu Ahmad Az Zubairi telah meriwayatkan dari Yunus bin Abu Ishaq lalu mereka berkata dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa'ad seperti riwayat Ibnu Yusuf dari ayahnya dari Sa'ad. dan terkadang Yunus bin Abu Ishaq menyebutkan dalam hadits ini dari ayahnya, dan terkadang tidak menyebutkan nya. (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 3505 dan Al Hakim, 1/505)

🎙حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ وَقَالَ وَهْبٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ مِثْلَهُ

📜Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Hisyam bin Abu Abdullah dari Qatadah dari Abu 'Aliyah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ biasa berdo'a ketika dalam kesulitan, beliau mengucapkan: *"LAA ILAAHA ILLALLAHUL 'ADZIIM AL HALIIM LAA ILAAHA ILLALLAH RABBUL 'ARSYIL 'AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAH RABBUS SAMAAWATI WA RABBUL ARDLI WA RABBUL ASRSYL KARIIM* _(Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Penguasa arasy yang agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan arasy yang mulia)."_ Dan berkata Wahb telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah seperti itu.
(Diriwayatkan oleh Bukhari no. 6345 dan Muslim no. 2730)

🎙حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ قَالَ أَجَلْ يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

📜Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Fudlail bin Marzuq telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Juhani dari Al Qosim bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abdullah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang hamba pun ketika dilanda sakit dan sedih lalu mengucapkan; *ALLAHUMMA INNI 'ABDUKA WABNU 'ABDIKA WABNU AMMATIKA, NASHIYATI BIYADIKA MADLIN FI HUKMIKA 'ADLUN FI QADLA`UKA, AS`ALUKA BIKULLI ISMIN HUWA LAKA SAMMAITUKA BIHI NAFSAKA AU ANZALTAHU FI KITABIKA AU 'ALLAMTAHU AHADAN MIN KHALQIKA AU ISTA`TSARTA BIHI FI 'ILMIL GHAIB 'INDAKA AN TAJ'ALAL QUR`AN RABI'A QALBI WA NURA SHADRI WA JILA`A HUZNI WA DZAHAABA HAMMI ILLA ADZHAMALLAHU 'azza wajalla HAMMAHU WA ABDALAHU MAKANA HUZNIHI FARAHAN*. _(Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa), ubun-ubunku di tanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadlaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al Qur'an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihan), kecuali Allah 'azza wajalla akan menghilangkan kesedihan dan menggantikan kedukaan menjadi kebahagiaan."_ Mereka bertanya; Wahai Rasulullah, sepantasnyalah kami mempelajari kalimat-kalimat itu. Beliau menjawab: "Benar, sepantasnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya."
(Al Musnad 1/391,452)

✒ *((Ibnul Qayyim Al Jauziyyah , “ Mukhtasar Ad-Da' wad Dawa “,))* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.19 | 0 komentar

DIANTARA PENYAKIT YANG MENGHALANGI DITERIMANYA DOA

📿 *DIANTARA PENYAKIT YANG MENGHALANGI DITERIMANYA DOA*📿

☝🏻Di antara penyakit yang menghalangi pengaruh doa adalah *ketergesa-gesaan seorang hamba, di mana dia merasa jawaban atas doanya lamban*.

👉🏿Akibatnya:
🕒 dia merasa merugi (karena membuang-buang waktu dan jerih payah),
⛔ dan akhirnya meninggalkan doa.📿

👉🏿 Dia seperti orang yang menaburkan benih atau menanam pohon, lalu dia mulai merawatnya dan menyiraminya, namun tatkala dia merasa pertumbuhan dan matangnya lamban, dia pun meninggalkan dan menelantarkannya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى ابْنِ أَزْهَرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ *يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي*

🎙Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu 'Ubaid bekas budak Ibnu Azhar dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

📜 *"(Do'a) kalian akan diijabahi selagi tidak terburu-buru, dengan mengatakan; 'Aku telah berdo'a, namun tidak kunjung diijabahi.'* (HR. Al Bukhari, no. 6340)

✒ *((Ibnul Qayyim Al Jauziyyah , “ Mukhtasar Ad-Da' wad Dawa “,))* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.19 | 0 komentar

DOA TERMASUK OBAT MUJARAB

🕌 *DOA TERMASUK OBAT MUJARAB*🕌

👉 Doa termasuk obat paling manjur. Ia adalah musuh bagi bala, di mana doa akan menolak dan membendungnya, mencegah kedatangannya dan menghilangkannya, atau bila bala sudah turun, maka doa akan meringankannya. Doa adalah senjata orang Mukmin.

👉 Doa terhadap bala memiliki tiga keadaan:

1. Doa lebih kuat daripada bala, sehingga ia mampu menolaknya.

2. Doa lebih lemah daripada bala, sehingga bala tersebut mampu mengalahkannya, maka seorang hamba ditimpa bala, namun doa tetap meringankan bala sekalipun dengan kadar yang lemah.

3. Status keduanya saling berimbang (sama-sama kuat), di mana masing-masing dari keduanya menghalangi rivalnya.

👉 Di antara obat paling bermanfaat adalah keuletan dalam berdoa. Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunannya, dari hadits Abu Hurairah ra, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

📜 _“Barangsiapa tidak meminta kepada Allah, niscaya Dia akan murka kepadanya."_ (HR. Ibnu Majah. no. 3827)
 

✒ *((Ibnul Qayyim Al Jauziyyah , “ Mukhtasar Ad-Da' wad Dawa “,))* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.18 | 0 komentar

Bijak Dengan Ruqyah Syar'iyyah

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 10 Desember 2017 | 13.25

*LARANGAN MINTA DI RUQYAH*

Seperti yang telah di-request oleh salah seorang sahabat, aku mencoba menghadirkan sebuah artikel mengenai hadits yang melarang dan memperbolehkan ruqyah. Janganlah dipandang dengan satu sisi, tapi pandanglah sisi-sisi yang lain apabila itu dirasa benar, maka amalkanlah.

Larangan Meminta Ruqyah
Mengapa ada hadist yang Melarang Meminta di Ruqyah tapi dalam redaksi hadist lain ada yang menyatakan minta Ruqyah di bolehkan .

Kita semua tahu golongan Masyarakat tidak semua hfal alqur,an dan Doa rukqyah jadi mungkin inilah mengapa ada hadist nabi yang memperbolehkan seseorang meruqyah atau minta di Ruqyah , tapi akan lebih baik jika anda mempelajari Do,a dan surat- surat dalam al qur'an nul karim yang bisa untuk Ruqyah Mandiri tanpa bantuan atau Meminta Ustadz atau Kiyai untuk meruqyahnya .

Berikut Redaksi Hadist yang melarang dan membolehkanya meminta Ruqyah .

Terkadang satu redaksi hadits melengkapi redaksi lainnya.
Namun terkadang juga satu redaksi sedikit agak bertentangan dengan redaksi lainnya padahal menjelaskan tema yang sama.
Sebagai contoh ada hadits yang menyatakan di antara 70.000
orang yang masuk surga tanpa dihisab adalah orang yang tidak minta diruqyah.

Al Hadist :

Telah menceritakan kepada kami Imran bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Fudlail telah menceritakan kepada kami Hushain dari ‘Amir dari Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma dia berkata; “Tidak ada ruqyah (jampi-jampi dari Qur’an dan Sunnah) kecuali dari penyakit ‘Ain atau demam, lalu hal itu kusampaikan kepada Sa’id bin Jubair, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w.bersabda:
“Di beritahukan kepadaku (oleh Jibril); “Ini adalah ummatmu, dan di antara mereka terdapat 70.000  yang masuk surga tanpa hisab.”
Setelah itu beliau masuk ke rumah dan belum sempat memberi penjelasan kepada mereka (para sahabat), maka orang-orang menjadi ribut, mereka berkata; “Kita adalah orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan mengikuti jejak Rasul-Nya, mungkinkah kelompok tersebut adalah kita ataukah anak-anak kita yang dilahirkan dalam keadaan Islam sementara kita dilahirkan di zaman Jahiliyah?.”
Maka hal itu sampai kepada Nabi s.a.w., lantas beliau keluar dan bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah minta untuk di Ruqyah, tidak pernah bertathayur (menganggap sial pada binatang) dan tidak pula melakukan terapi dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada daerah yang sakit), sedangkan kepada Rabb mereka bertawakkal.” Lalu Ukasah bin Mihshan berkata; “Apakah aku termasuk di antara mereka ya Rasulullah?” beliau menjawab; “Ya.”
Selanjutnya sahabat yang lain berdiri dan berkata; “Apakah aku termasuk dari mereka?” beliau bersabda: “Ukasah telah mendahuluimu.”
(H.R. Bukhari No. 5270)

Demikian pula pada hadits yang lain dikatakan :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur Dari Mujahid dari ‘Aqqar bin Al Mughirah bin Syu’bah dari bapaknya ia berkata;
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang berobat dengan Kay atau meminta untuk diruqyah, maka sungguhnya ia telah berlepas diri dari sifat tawakkal.”
(H.R. Tirmidzi No. 1980)

Hadist tersebut diatas di nyatakan sahih oleh Nashiruddin Al-Albani
yang jadi panutan para pembenci Maulid Nabi.
Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan Imran bin Husain. Abu Isa berkata : “Ini adalah hadits hasan shahih”

Jika melihat satu hadits ini saja maka orang bisa berkesimpulan bahwa tidak boleh minta diruqyah atau ruqyah itu haram.

Namun dalam kesempatan lain banyak hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. yang menyuruh seseorang untuk melakukan ruqyah, atau Rasulullah melakukan ruqyah baik atas inisiatif Beliau sendiri maupun atas permintaan seseorang.

Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Dari mana kalian mengetahui bahwa Al Fatihah adalah ruqyah?
Sesungguhnya kalian telah berbuat baik, bagilah dan berilah aku bagian bersama kalian.”
(H.R. Abu Daud No. 3401)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Muhammad bin ‘Umarah dari Abu Bakar bin Muhammad bahwa Khalidah binti Anas Ummu bani Hazm As Sa’idi datang menemui Nabi s.a.w., dia meminta pertimbangan kepada beliau untuk diruqyah, maka beliau memerintahkan agar di ruqyah.” (H.R. Ibnu Majah No. 3505)

Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Humaid bin Qais Al Makki berkata;
“Suatu ketika dua anak Ja’far bin Abu Thalib dibawa ke hadapan Rasulullah s.a.w..
Beliau bertanya kepada perawatnya: “Kenapa aku melihat keduanya sangat kurus?” penjaganya menjawab, “Wahai Rasulullah, penyakit ‘ain telah menyerang mereka berdua dengan cepat. Tidak ada yang menghalangi kami untuk meminta mereka diruqyah, hanya saja kami tidak mengetahui apakah anda menyetujuinya.’
Rasulullah s.a.w.lalu bersabda: ‘Ruqyahlah mereka!”
(H.R. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ No. 1473)

Bahkan Malaikat Jibril pun mengajari ruqyah pada Rasulullah s.a.w.ketika Rasulullah sakit

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Umar Al Makki; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz Ad Darawardi dari Yazid yaitu Ibnu ‘Abdillah bin Usamah bin Al Hadi dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman dari ‘Aisyah istri Nabi s.a.w.dia berkata; “Bila Rasulullah s.a.w.sakit, Jibril datang meruqyahnya (Nabi s.a.w). Jibril mengucapkan; ‘Bismillaahi yubriika, wa min kulli daa-in yusyfika, wa min syarri hasidin idza hasad, wa syarri kulli dzi ‘ainin.’ Dengan nama Allah yang menciptakanmu. Dia-lah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian.
(H.R. Muslim No. 4055)

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawaf; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id : “Bahwa Jibril mendatangi Nabi s.a.w.kemudian berkata; “Hai Muhammad, apakah kamu sakit? Rasulullah s.a.w.menjawab: ‘Ya. Aku sakit. Lalu Jibril meruqyah beliau dengan mengucapkan; ‘Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”
(H.R. Muslim No. 4056)

Maka duduk masalah sebenarnya Rasulllah memang pernah melarang meruqyah (menjampi) karena pada awalnya pengaruh budaya jahiliyah masih kuat dan kebanyakan ruqyah yang dibaca oleh masyarakat adalah ruqyah syirkiyah (bacaan ruqyah yang mengandugn kesyirikan seperti menyebut nama dewa, menyebut raja jin dll) maka Rasulullah s.a.w. ketika itu melarang ruqyah. Namun setelah ruqyah syar’I itu diajarkan oleh Jibril dan kemudian banyak doa-doa lainnya diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa sebenarnya yang dilarang itu adalah ruqyah yang syirik sedangkan jika tidak mengandung kesyirikan tidak mengapa.

Kami bertanya kepada Rasulullah s.a.w.; ‘Ya Rasulullah! bagaimana pendapat Anda tentang mantera? ‘ Jawab beliau: ‘Peragakanlah ruqyahmu itu di hadapanku.
Ruqyah itu tidak ada salahnya selama tidak mengandung syirik.’
(H.R. Muslim No. 4079)

‘Amr berkata; Wahai Rasulullah, dahulu anda pernah melarang ruqyah Beliau bersabda: “Bacakan hal itu kepadaku”, lalu dia membacanya, Rasulullah s.a.w.  bersabda: “Tidak mengapa, sebab ruqyah pada hakikatnya adalah penawar (pelindung).”
(H.R. Ahmad No. 14699)

Jangan Jadikan Ruqyah sebagai mata pencaharian .

Jangan jadikan ruqyah sebagai ladang pencaharian seperti yang terjadi saat ini Mulai banyak bertebaran Clinik ( klinik ) Ruqyah center yang memberikan paket terapi Ruqyah dengan tarip Bahkan sampai ada yang memberikan Paket Terapi dengan Harga tertentu . padahal ada hadist yang melarang menjadikan ruqyah sebagai mata pencaharian .
Beda menerima upah dengan pencaharian .

Menjadikan ruqyah sebagai profesi atau mata pencaharian.

Ini adalah penyimpangan dalam praktek ruqyah karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.
Yang diamalkan oleh para ulama dan diajarkan oleh As-Sunnah bahwa seseorang meruqyah saudaranya, baik dengan upah atau tidak untuk memberi kemanfaatan bagi saudara-nya.
Namun mereka tidak menjadikan amalan ruqyah sebagai profesi layaknya seorang dokter. Sungguh yang demikian itu hanya muncul dari orang-orang yang datang belakangan.

Padahal di masa ulama salaf juga banyak orang yang membutuhkan ruqyah.
Tetapi mereka tidak melakukannya, berarti meninggalkannya merupakan kebaikan. Sebaik-baik petunjuk adalah mengikuti jejak Ulama salaf.

Asy-Syaikh ‘Ali bin Nashir Al-Faqihi berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:

“Barangkali seseorang akan bertanya-tanya, ‘Apakah di masa lampau ada seorang ulama salaf yang baik, yang berprofesi sebagai peruqyah baik secara gratis atau dengan mengambil upah, karena hal itu diperbolehkan?’

Aku tidak mengira bahwa ada seseorang yang bisa menetapkan hal itu.
Sungguh dahulu bila seseorang datang dan meminta ruqyah dari para ulama dan orang-orang baik serta bertakwa, mereka meruq-yahnya dengan ruqyah-ruqyah yang disya-riatkan lalu selesai urusannya tanpa meminta imbalan atau upah.

Sebagian manusia telah menyimpang dari para ulama salaf yang baik dalam perkara ini. Seperti yang kita lihat pada hari ini di mana telah dibuka berbagai klinik Ruqyah center
(atau yang bisa disamakan dengan klinik terapi pengobatan, red.)
yang berorientasi bisnis disertai iklan bahwa kliniknya memiliki ‘pakar-pakar dan ustad-ustad yang ahli dalam ruqyah syarriyah ’ yang menangani secara khusus ruqyah syar’i , yang dimaksud beliau adalah ruqyah center yang sekarang sedang menjamur di mana-mana, pen.

Sementara yang selain mereka dianggap tidak bisa memberi kemanfaatan kepada manusia bahkan kadang mereka para beranggapan mereka paling sunah dan paling murni tauhidnya hingga bisa ahli dalam Ruqyah (dengan ruqyah itu).
Padahal ruqyah tidaklah terbatas pada orang-orang tertentu saja.

Jika memang ada yang minta di ruqyah berikut ketentuan yang harus
di perhatikan sang peruqyah .

Jangan Memukul, mencekik, membuat gerakan seperti menyembelih walau hanya berupa gerakan dengan jari tangan atau yang semacamnya ketika meruqyah
Semua ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah da maupun ulama shalih.

Memang diriwayatkan bahwa sebagian ulama melakukan hal itu ketika meruqyah.
Namun hal ini sekedarnya saja, dan tidak menjadi kebiasaan atau bagian
aktivitas dalam ruqyah.

Apalagi jika dilakukan dengan cara yang keras dan kasar sehingga menyakiti pasiennya.
Ini jelas merupakan kedzaliman yang dilarang oleh Allah SWT.

Bahkan Rasulullah n terkadang hanya menyebutkan:
“Keluarlah wahai musuh Allah.”
Hanya dengan demikian, orang yang kemasukan jin sembuh dari penyakitnya.

Praktisi Ruqyah dilarang Banyak berdialog dengan jin

Banyak berdialog dengan jin Hal ini lebih baik ditinggalkan.
Rasulullah dan ulama salaf  tidak pernah mencontohkan yang demikian dalam meruqyah. Hanya orang-orang belakangan yang melakukannya.

Berdialog dengan jin ketika meruqyah akan melalaikan dari ruqyah itu sendiri.
Lagipula, perbuatan ini tidak membawa manfaat yang nyata bagi yang diruqyah.
Semestinya peruqyah berupaya sesegera mungkin mengusir jin yang merasuki pasiennya dengan ruqyah syar’i dan tidak berlambat-lambat.

Berdialog dengan jin tentunya akan menunda kesembuhan bagi yang dirasuki jin itu.
Tentunya sikap tidak berdialog dengan jin merupakan bentuk kasih sayang kepada orang yang kerasukan. Sebab ketika jin diajak berdialog, dia akan menggunakan fisik orang yang kemasukan. Sehingga tatkala ruqyah selesai dilakukan, orang itu terlihat sangat letih karena tubuhnya dipakai oleh jin untuk melayani acara dialog yang digelar oleh si peruqyah.

Sesungguhnya dialog yang dilakukan bersama jin cenderung sia-sia, karena ucapannya tidak bisa dipegang mentah-mentah, ingat sebaik-baik jin adalah sejahil-jahilnya dan sejahat-jahatnya manusia .

Pemberitaan jin tentang identitas diri, komunitas, dan ke-Islamannya serta berbagai hal lainnya adalah perkara yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.
Manusia tidak bisa mengetahui keberadaan dan kondisi jin yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, bagaimana kita bisa membenar-kan ucapannya?
Sebagaimana yang telah lalu bahwa para ulama hadits melemahkan periwayatan
jin muslim karena kebenarannya tidak bisa diteliti dan dibuktikan.

Tentu penyebabnya adalah keberadaan jin sebagai makhluk ghaib.
Bahkan Rasulullah n mengatakan kepada Abu Hurairah z yang berhasil menangkap setan jin yang biasa mencuri kurma zakat:

“Dia jujur kepadamu padahal dia seorang pendusta.”
(HR. Al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaannya ( Jin ) adalah berdusta.
Kejujuran-nya tidak diketahui kecuali setelah diberitakan Rasulullah .

Yang jelas, manusia tidak bisa mengetahui kebenaran jin, baik sedikit ataupun banyak.
Karena itu,  hendaknya seorang peruqyah meninggalkan berdialog dengan jin yang sedang merasuki tubuh pasiennya, kecuali bila memang sangat dibutuhkan.
Dalam kondisi yang sangat dibutuhkan dia berdialog dengan jin itu
seperlunya dan tidak melebihi kebutuhan.
Setiap kebutuhan diukur dengan kadarnya dan tidak lebih dari itu.

Hendaknya imam-imam masjid diarahkan agar mereka menerangkan dalam khutbah dan pelajaran-pelajaran mereka tentang ruqyah syar’i, dan menerangkan pula bahwa ruqyah itu dengan membaca Al-Qur`an yang mulia dan As-Sunnah yang shahih. Niscaya di setiap kota dan kampung akan didapatkan orang yang bisa meruqyah dengan cara yang disyariatkan.

Orang yang bertakwa dan shalih adalah orang yang tepat untuk melakukan ruqyah itu (tanpa menjadikannya sebagai profesi, pent.).
Mereka itu –alhamdulillah– ada di setiap pelosok negeri.
Demikian pula dianjurkan seorang muslim untuk menguatkan imannya, tawakalnya, dan penyandaran dirinya kepada Allah I dalam seluruh perkara.
Demikianlah, kita memohon kepada Allah I niat yang baik dan bimbingan-Nya bagi kita semua.”
(Lihat Ahkam Ar-Ruqa wa At-Tama`im hal. 82).

Menjadikan ruqyah sebagai arena ikhtilath
(campur baur antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa hijab)
atau khalwat ;seorang lelaki berduaan dengan wanita yang bukan mahram, tanpa disertai mahram si wanita.
Ini merupakan pelanggaran syariat yang nyata dalam praktek ruqyah yang dilakukan oleh banyak pihak dari kaum muslimin.
Padahal Islam telah meng-haruskan para wanita untuk berhijab dari para lelaki yang bukan mahramnya.

Allah SWT berfirman:

“Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir).
Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”
(Al-Ahzab: 53).

Jika Allah SWT melarang para sahabat untuk meminta sesuatu kepada istri-istri Nabi kecuali dari belakang hijab –padahal mereka adalah orang-orang
suci– dengan alasan untuk menyucikan hati-hati mereka, bagaimana dengan yang selain mereka yang tidak suci sebagaimana mereka?
Semoga Allah SWT tidak membutakan hati-hati kita.
Islam juga melarang khalwat antara lelaki dan wanita yang bukan mahram tanpa kehadiran mahramnya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila si wanita itu bersama mahramnya.
Dan janganlah seorang wanita bepergian jauh kecuali bersama mahramnya. Bangkitlah seorang laki-laki dan bertanya:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku telah keluar untuk pergi haji, sedangkan aku telah mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam peperangan ini dan itu?
Beliau pun bersabda: ‘Berangkatlah dan hajilah bersama istrimu’.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Banyak pula di antara peruqyah yang berhadapan langsung dengan pasien wanitanya dalam jarak yang sangat dekat.
Sehingga mereka meruqyah sekaligus me-ru`yah (melihat) wanita yang bukan mahramnya dengan puas dan tanpa sungkan-sungkan.

Padahal Allah SWT berfirman:
“Katakanlah kepada kaum mukminin: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada kaum mukminat: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya’.”
(An-Nur: 30-31).

Bahkan lebih dari itu, para wanita yang datang untuk diruqyah banyak yang berpakaian dengan model yang tidak diperbolehkan dalam Islam karena tidak menutup aurat secara sempurna.
Pakaian mereka walaupun sebagiannya dilengkapi dengan jilbab (gaul), tetapi lekukan tubuh mereka masih kelihatan jelas.
Mereka mengenakan jeans atau celana panjang dan baju yang tidak lebar, bahkan ketat. Belum lagi warna pakaian mereka yang norak dan menarik disertai bersolek ala jahiliyyah. Dengan penampilan yang demikian, sebagian wanita itu bila KERASUKAN JIN atau Jin dari wanita yang diruqyah bereaksi ada yang tertawa, menangis, dan tergeletak dengan bentuk tubuh yang tampak di hadapan laki-laki yang meruqyah.

Banyak peruqyah memegang bagian tubuh wanita yang diruqyah, walaupun dengan memakai sarung tangan tetapi sentuhannya tetap saja dirasa oleh kedua belah pihak. Dengan bebas, sang peruqyah memegang dan melihat wanita yang sedang menjadi pasiennya.

Bukankah ini pelanggaran yang nyata terhadap syariat?
Apakah mereka tidak takut kepada Allah swt ketika melakukan pelanggaran itu?

Jika mereka beralasan bahwa ini dilakukan dalam rangka pengobatan, maka yang demikian tidaklah tepat. Karena ruqyah bisa dilakukan tanpa harus melanggar ketentuan syariat Islam.

Ruqyah bukanlah hujjah untuk menghalalkan segala cara.
Ruqyah adalah amalan yang disyariatkan, maka semestinya dipraktekkan tanpa melanggar ketentuan-ketentuan syariat lainnya.
Karena praktek ruqyah yang menyim-pang ini, banyak kaum lelaki dan wanita yang terfitnah hati dan agamanya.

Sebab mereka adalah keturunan Nabi Adam dan Hawa yang memiliki ketertarikan terhadap lawan jenisnya.
Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berfikir.
Wallahul Musta’an wa ‘alaihi tiklan.

Praktek ruqyah yang diabadi-kan dengan kamera, foto, dan gambar
bahkan Video . Ini merupakan praktek ruqyah yang melanggar syariat, walaupun dengan alasan untuk pengajaran ruqyah, sosialisasi, penyebarluasan ruqyah syar’i, atau alasan lainnya. Karena Rasulullah saw, telah memberitakan bahwa di antara orang yang paling keras siksanya di hari kiamat nanti adalah para penggambar.
Hal ini sebagaimana yang diriwayat-kan oleh Abdullah bin Mas’ud z, bahwa

Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah para penggambar.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar , bahwa Rasulullah saw, bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini diadzab
di hari kiamat nanti, dinyatakan kepada mereka:
‘Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan’.”
(HR. Al-Bukhari).

Gambar tangan (manual) atau foto (digital) hukumnya sama yaitu haram.
Karena keduanya disebut sebagai gambar.
Sedangkan Rasulullah saw menjatuhkan hukum yang satu pada segala gambar yang bernyawa sebagaimana hadits di atas. Wallahu a’lam.

Inilah beberapa praktek ruqyah yang menyimpang dan sering terjadi di tengah kaum muslimin saat ini . Kami yakin masih banyak lagi penyimpangan praktek ruqyah yang terjadi di kalangan mereka.

Semoga yang kami sebutkan cukup bagi mereka sebagai peringatan untuk berhati-hati dari para peruqyah  yang melanggar syariat Allah Swt.
Kami berharap kepada Allah I swt semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya dengan harapan dapat meraih ilmu
dan kebaikan dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bish shawab.

📲 Abdurrahman
📮Abu Azka for KCRT

13.25 | 0 komentar

IGHATSATUL LAHFAN

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 09 Desember 2017 | 11.18

Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan

Penulis : Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah
Penerbit : Al-Qowam
Ukuran: 20 cm x 26,5 cm.
Cover: Hard Cover
Berat: 1,650 Gram
Tebal: 776 halaman
Harga : Rp. 170.000,-

11.18 | 0 komentar

ANAK DICIPTAKAN DI ATAS FITROH YANG SUCI DAN BAKAT YANG UNIK

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 08 Desember 2017 | 17.26


PARENTING NABAWI DALAM SURAT LUQMAN

🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Allah berfirman:

خَلَقَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ.
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Inilah ciptaan Allah.
(Luqman : 10 - 11)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Allah telah menciptakan langit, bumi, gunung, samudra, dan semua makhluq Nya dengan sangat Indah dan sempurna. Semua makhluq memiliki karakteristik yang unik dan sifat alami yang indah.

Terlebih penciptaan manusia yang paling sempurna sebagaimana Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (at- Tin:4)

Imam Ibnu A'syur dalam tafsir at Tahrir wat Tanwir menyebutkan bahwa makna sebaik-baik bentuk bukan hanya bentuk fisik semata akan tetapi mencakup kesempurnaan fitroh mereka. Setelah itu beliau berkata:

ولهذا كان الأصل في الناس الخيرَ والعدالة والرشد وحسن النية عند جمهور من الفقهاء والمنحدِّثين .

"Oleh sebab itu asal manusia adalah baik, adil, petunjuk, niat yang bagus. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama fikih dan hadits"

Maka nikmat yang paling agung adalah ketika Allah menciptakan manusia di atas fitroh yang suci dan karakter yang unik, sebagai persiapan untuk mengemban tugas yang sangat mulia yaitu khoolifah di muka bumi.

Kita harus terus menikmati dan mensyukuri karunia yang telah Allah berikan dari fitroh dan bakat yang diinstal dalam diri setiap anak, dan kita jangan sekali-kali merubah dan memalingkan fitroh tersebut karena pasti akan gagal total. Dan tugas orang tua dan guru hanya menjaga, mengawasi, mengasah, dan merangsang supaya fitroh ini tumbuh dan keluar.

🌴 *Fithroh ( الفطرة)*

Fithroh secara bahasa terpecah dari asal kalimat ( فطَرَ الشيءَ يَفْطُرُه فَطْراً فانْفَطَر وفطَّرَه ).
Pecahan kalimat ini dipakai dengan makna yang bermacam- macam, diantaranya:

- Memecah ( الشق ) seperti ayat Syuro : 5
- Menciptakan ( الخلق ) seperti surat Fathir : 1
- Menerima ( القبول ) seperti surat Muzammil: 12.

Sedangkan kalimat fithroh ( الفطرة ) sendiri hanya Allah sebutkan sekali dalam surat ar Rum : 3

🌴 *Allah menciptakan semua manusia dalam kondisi fitroh yang suci dan bakat yang unik*

Allah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (ar Rum:30)

Imam Ibnu Abdil Bar menukilkan ijma' ulama bahwa makna fitroh Allah dalam ayat ini adalah agama islam (at Tamhid : 18/ 72)

Imam Ibnu Katsir berkata : "Sesungguhnya Allah telah memfitrohkan manusia diatas Ma'rifatullah (mengenal Allah), tauhid kepada Nya, dan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Dia" ( Tafsir:6/320)

Dari Abu Huroiroh, Rosulullah bersabda:

( ما من مولود يولد إلا على الفطرة ، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه )

"Tidak ada anak yang dilahirkan melainkan di atas fitroh, orang tuanya lah yang merubah menjadi yahudi, nasrani, atau majusi" (H.R Bukhori Muslim)

Imam Nawawi setelah menjelaskan panjang lebar tentang khilaf para ulama dalam memahami hadits ini, beliau berkata: " Pendapat yang paling benar dalam makna hadits ini bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi telah disiapkan untuk islam. Maka siapa yang kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya muslim maka anaknya terus menurus di atas islam dalam hukum dunia dan akhiratnya. Tapi jika kedua orang tuanya kafir maka anaknya dihukumi sesuai dengan orang tuanya di dunia".

Imam Ibnu Hajar menukilkan dari imam at Tibby beliau berkata: " Maksud fitroh dalam hadits ini adalah kemampuan manusia untuk menuju hidayah, asal karakter, dan kesiapakan untuk menerima kebenaran. Jika manusia dibiarkan di atas fitrohnya maka ia senantiasa menetapi fitroh (diatas kebaikan) dan tidak akan berpaling darinya krn kebenaran agama islam telah menancap dan terinstal dalam jiwa, akan tetapi yang memalingkan manusia dari agama karena ada penyakit dari pengaruh manusia".

Dari Iyadh bin Himar, Rosulullah bersabda bahwa Allah berfirman:

وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم ، وإنهم أتتهم الشياطين فأضلتهم عن دينهم ، وحرمت عليهم ما أحللت لهم ، وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا
" Aku telah menciptakan hamba Ku semuanya dalam kondisi Hanif, lalu datang syaithon dan menyesatkan mereka dalam agama mereka, syaithon ini mengharamkan bagi mereka apa yang Aku halalkan, dan menyuruh mereka untuk berbuat kesyirikan padahal belum Aku turunkan ilmunya" (H.R Muslim)

🌴 *Para Nabi ditugaskan untuk mengokohkan fitroh bukan merubahnya*

Syaikhul Islam berkata:

« الرسل إنما تأتي بتذكير الفطرة ما هو معلوم لها، وتقويته وإمداده، ونفي المغير للفطرة، فالرسل بعثوا بتقرير الفطرة وتكميلها، لا بتغيير الفطرة وتحويلها، والكمال يحصل بالفطرة المكملة بالشرعة المنزلة ».
"Rosul datang untuk mengingatkan fitroh terhadap perkara yang jelas baginya, untuk menguatkannya, mensuplainya, dan menghalau perkara yang bisa merubah fithroh.
Maka Rosul diutus untuk mengokohkan fitroh dan menyempurnakanyabukan untuk merubah fitroh dan memalingkannya. Kesempurnaan bisa diraih dengan fithroh yang menyempurnakan syariat yang diturunkan" (Majmu' Fatawa: 16/348)

🌴 *Pendidikan terbaik ketika kembali kepada fitroh manusia diciptakan oleh Allah*

Prof. DR Sa'ad bin Ali  asy Syahroni (anggota dewan pengajaran fakultas aqidah di universitas Ummul Quro') berkata: " Jika kita dalam pendidikan kembali kpd konsep alQur'an dengan pemahaman Salafus Sholih kita akan mendapatkan bahwa konsep ini sangat cukup sekali sehingga tidak membutuhkan kurikulum sekolah konvensional dan  filsafat yang sudah menyibukkan kaum muslimin dengan permasalahan yang tidak menumbuhkan keyakinan dan keimanan bahkan bisa melahirkan keraguan, kebimbangan, dan kegoncangan.
Dan yang lebih menyedihkan bahwa materi dan argumentasi konsep pendidikan bid'ah ini senantiasa menjadi rujukan kurikulum pendidikan kita, sehingga kita menyimpang dari metode Qur'an yang Robbani yaitu wahyu ilahi yang Ma'shum dan tidak mungkin diselipi kebatilan dari depan dan belakang" ( I'jazul Qur'an Fi Dalalati Alal Iman : 4 )

🌴 *Pendikan adalah ( in side out ) bukan ( out side in )*

Dari pembahasan ini kita mengetahui bahwa setiap anak diciptakan oleh Allah di atas fitroh yang suci dan potensi yang unik. Dan maksud fitroh adalah berisi keislaman, kebaikan, kekuatan dan potensi untuk menduduki peran peradaban.

Oleh sebab itu kewajiban pendidikan hanya merangsang fitroh, karakter, potensi, dan bakat yang terinstal dalam diri anak ini supaya keluar dan tumbuh yaitu in side out.

Sedangkan sistem pendidikan konvensional sekarang telah menyimpang dari konsep ini dengan mengatakan bahwa fitroh anak adalah kosong bagaikan kertas yang bersih atau botol yang kosong sehingga sistem mendidik adalah menjejali dan mencetak anak sesuai dengan keinginan pendidiknya.

Konsep pendidikan ini diambil dari teori Tabula Rasa, berasal dari bahasa latin yang artinya adalah “kertas kosong”, a blank sheet of paper, merupakan teori yang terlahir dari seorang filosuf di abad 17 dari Inggris bernama John Locke. Sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap anak lahir tanpa membawa bakat pembawaan apa-apa dan siap dibentuk sesuai keinginan orang dewasa yang memberikan warna pada pendidikannya (out side in).

Mari kita kembali kepada konsep pendidikan salaf krn mereka telah menjayakan umat ini. Sebagaimana Mmam Malik berkata
( لن يصلح اخر هذه الامة الا بما صلح به اوله )
"Akhir umat ini tidak akan jaya kecuali dengan sistem yang telah menjayakan generasi pertamanya"

Semoga Allah menjadikan anak didik kita tumbuh di atas fitroh sucinya dan bakat uniknya untuk memberikan manfaat kepada Agama, manusia, dan negara. Amin.

و الله اعلم و صلي الله علي نبينا محمد و اصحابه و من تبعه الي يوم الدين..

Sumber : Grup WA

17.26 | 0 komentar

DOA WIRID DAN RUQYAH

Mengobati Sihir, Kesurupan dan ‘Ain

Pembaca yang kami cintai, doa menjadi bagian terpenting dalam setiap usaha kita. Berdoa, mengajarkan kita untuk mengerti bahwa Allah-lah yang menentukan segala hasil usaha. Begitu pula dengan berdzikir, orang yang senantiasa berdzikir dengan yang tidak berdzikir, perumpamaannya ibarat orang hidup dengan orang mati.

Buku ini (insya Allah), adalah pelita dari cahaya Allah yang akan menunjukkan jalan menuju Rabb pengatur seluruh jagad raya. Disebutkan dalam buku ini, doa dan dzikir sehari hari dari urusan yang paling remeh sampai urusan yang paling penting.

Dan semua orang pasti membutuhkan doa-doa tersebut. Bukan hanya itu, buku ini juga menyebutkan bacaan
dan cara pengobatan ruqyah untuk menolak sihir, kesurupan, guna-guna, ‘ain dan sejenisnya. Apalagi, hadits dan riwayat dalam buku ini disesuaikan dengan kitab-kitab takhrij milik Imam Al-Albani Rahimahullah, sehingga anda akan mendapati setiap riwayat dalam buku ini sebuah catatan referensi yang merujuk ke kitab Takhrij Imam Al-Albani.

Penulis : Abu Al-Hasan Muhammad bin Hasan Asy-Syaikh, Sa’id bin ‘Ali Wahf Al-Qahthani
Ukuran : 19.5 cm x 12.5 cm
Halaman :434 
Tebal : 3 cm

Berat: 500 gr

Penerbit : Insan Kamil
Harga : Rp.59.000,-

13.53 | 0 komentar

Obat Penyakit Hati

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 07 Desember 2017 | 17.03

📚 Seri Kajian Kitab Ighatsatul Lahfan - Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan

Bagian 3
*Obat Penyakit Hati*

*Obat Alami dan Syar'i Penyakit Hati*

Penyakit hati ada dua macam. *Pertama*, penyakit yang tidak dirasakan sama sekali oleh pemilik hati itu, misalnya penyakit _jahl_ (kebodohan) dan _syubhat_ (syubhat) atau _syukuuk_ (keraguan).

Sebenarnya, penyakit inilah yang menjadikan si sakit lebih menderita. Tetapi karena kerusakan hati, ia tidak merasakan penderitaan, juga karena kebodohan dan hawa nafsu membuatnya tidak mampu merasakannya. Bagaimana tidak, sedangkan penderitaan itu benar-benar ada, hanya saja ia terhalang darinya, karena disibukkan dengan kebalikannya. Di antara dua macam penyakit hati, penyakit inilah yang lebih berbahaya dan sulit disembuhkan. Yang bisa mengobati adalah para rasul dan pengikut-pengikut mereka. Merekalah dokter penyakit ini.

*Kedua*, penyakit yang bisa langsung dirasakan, seperti kecemasan, kesedihan, kesusahan dan kemarahan. Penyakit ini bisa hilang dengan obat-obat alami, misalnya dengan membuang faktor penyebabnya atau dengan menggunakan kebalikan dan penghilang faktor penyebab tersebut. Hati memang bisa sakit dan menderita disebabkan oleh penyakit dan penderitaan yang menimpa badan, sebagaimana badan seringkali mengalami sakit dan menderita karena penyakit dan penderitaan yang menimpa hati.

Jadi, penyakit hati yang bisa hilang dengan obat-obat alami adalah sejenis penyakit jasmani. Penyakit ini semata, mungkin tidak mengakibatkan seseorang menderita dan disiksa setelah mati. Adapun penyakit hati yang hanya bisa dihilangkan dengan obat - _iman Nabawi_ (yang disebut dengan obat-obat syar'i)  itulah yang menyebabkan seseorang ditimpa kesengsaraan dan siksa yang kekal, jika ia tidak memperoleh obat yang membasminya. Bila memakai obat-obatan tersebut, ia akan memperoleh kesembuhan.

Karena itu, orang Arab biasa mengatakan, _syifaa ghaizhahu_ (Yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “Ia telah menyembuhkan kemarahannya") Apabila seseorang dikalahkan oleh musuh, ia merasa menderita, tetapi ketika telah berhasil melakukan pembalasan, hatinya menjadi sembuh. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan Dia menghilangkan kemarahan hati mereka (orang mukmin). Dan Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
(Surat At-Taubah, Ayat 14-15)

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk memerangi musuh mereka. Allah memberitahu mereka bahwa hal itu mengandung enam faedah.

Jadi, kemarahan itu menyakitkan hati, sedangkan pengobatannya adalah dengan membuangnya. Jika seseorang yang marah mengobati kemarahannya dengan kebenaran, niscaya ia memperoleh kesembuhan Tetapi jika ia mengobati kemarahan itu dengan kezaliman dan kebatilan, niscaya akan bertambah sakit, meskipun ia mengira akan sembuh. Sebagaimana orang yang terkena penyakit asmara, mengobatinya dengan melakukan perbuatan dosa dengan orang yang dicintainya maka hal itu akan memperparah penyakitnya, bahkan akan menimbulkan penyakit lain pada dirinya yang lebih sulit daripada penyakit mabuk cinta, sebagaimana yang akan dijelaskan, insya Allah.

Demikian halnya kesedihan dan kesusahan. Keduanya merupakan penyakit hati. Ia bisa disembuhkan dengan kebalikannya, yaitu kegembiraan. Bila kegembiraan itu diwujudkan dengan sarana kebenaran maka hati akan sembuh dan sehat. Tetapi bila dilakukan dengan menggunakan kebatilan, maka penyakit tersebut hanya tertutup, tetapi tidak hilang, bahkan mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit lain yang lebih sulit dan berbahaya.

Demikian halnya kebodohan. Ia merupakan penyakit yang menjadikan hati menderita. Ada manusia yang mengobatinya dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat. Dengan ilmu-ilmu itu, ia merasa telah sembuh dari penyakit, padahal ilmu-ilmu itu pada hakikatnya justru menambah penyakitnya. Hanya saja, ia disibukkan oleh ilmu-ilmu tersebut, sehingga tidak bisa merasakan penderitaan yang tersembunyi di dalam dirinya, dikarenakan ketidaktahuannya tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat, yang merupakan syarat bagi kesembuhannya. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda mengenai orang-orang bodoh yang berfatwa, sehingga orang yang bertanya mati akibat fatwa mereka:

_"Mereka telah membunuhnya, Allah pasti membinasakan mereka. Mengapakah mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena, obat kebodohan adalah bertanya.”_ (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad, Hakim, Baihaqi, Ibnu Hiban dalam Shahihnya, Ibnu Khuzaimah Daruqutni, Abdurazak, Ibnu Jarud dan Thabrani.)

Dalam hadits di atas, beliau menyebut kebodohan sebagai penyakit yang bisa disembuhkan dengan bertanya kepada orang-orang berilmu.

Demikian halnya orang yang ragu-ragu dan bimbang mengenai sesuatu. Hatinya merasakan penderitaan, sampai ia memperoleh ilmu dan keyakinan. Karena penderitaan ini menimbulkan panas padanya maka orang yang berhasil memperoleh keyakinan dinyatakan dengan _“tsalaja qalbuha”_ (Secara harfiah bisa diartikan “Hatinya telah dingin”) atau
_“hashala lahu bardul yaqin”_ (Secara harfiah bisa diartikan "Ia telah memperoleh dinginnya keyakinan) . Ia juga merasakan kesempitan disebabkan oleh kebodohan dan kesesatannya dari jalan yang lurus, sebaliknya merasakaan kelapangan dengan petunjuk dan ilmu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: _“Barangsiapa Allah kehendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit...”_ (Al-An'am [6]: 125)

Insya Allah, akan ada pembahasan tersendiri mengenai penyakit sempit dada, berikut penyebab dan penyembuhannya.

Yang perlu ditekankan adalah bahwa di antara penyakit-penyakit hati tersebut, ada yang bisa hilang dengan obat-obat alami dan ada pula yang tidak bisa hilang kecuali dengan obat-obat _syar'i imani_. Hati bisa hidup, mati, sakit dan sembuh. Itu semua lebih penting daripada hidup, mati, sakit dan sembuhnya badan. Hanya Allah yang berkuasa mengaruniakan taufik.

•┈◎❅◎❀🌺❀◎❅◎┈•

✍ *Ighatsatul Lahfan - Ibn Qayyim Al Jauziyyah*

*➡ Repost By*
Rudi Abu azka

*🔍kunjungi my blog:*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🌏https:// abuazkacollection.blogspot.com*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🔍Fanspage :*
*🌏https://www.facebook.com/ibnukatsironline/*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

*Silahkan Bagikan Artikel Ini Dengan Tidak merubah Isi Artikel, Semoga Menjadi Amal Jariyyah*

*وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

17.03 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung