Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

TERAPI SERBUK RENDAM PETIR

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 13 Agustus 2017 | 09.53

*TERAPI SERBUK RENDAM PETIR*

Terapi Serbuk Rendam Petir adalah salah satu jenis pengobatan alami yang sangat bermanfaat untuk:
💊 melancarkan peredaran darah
💊mengendorkan urat-urat syaraf
💊menguatkan sel-sel dalam tubuh
💊 menjernihkan akal pikiran
💊 mengobati stroke
💊lumpuh
💊 badan mati separuh
💊 rematik,
💊 asam urat
💊 darah tinggi
💊 kolesterol,
💊 kesemutan,
💊 mengurangi stress dan lain-lain.

➡ Cara Pemesanan
Ketik Sms/WA dengan format :
PO#SRP#Nama# Alamat Lengkap#No Hp#Jumlah Order#

📲 Kirim ke: +6285716863625

💵 Rp. 50.000, -
🏧 Transfer ke Bank Muamalat rek. 3280004282 an. RUDIANTO

☎ Konfirmasi Pembayaran

📮Kirim Bukti Pembayaran
Segera Dapatkan Produknya

09.53 | 0 komentar

ADA SETAN DALAM DIRI

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 02 Agustus 2017 | 09.53

Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menyebutkan dalam Alquran perihal Nafsu amarah bisu'( yang mengajak kepada kejahatan) dan nafsu lawwamah (jiwa yang menyesali diri) itu melainkan hanya sekali saja. Tetapi Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan perihal setan bukan main banyaknya, diulang-ulang selalu untuk memperingatkan kepada kita betapa hebat godaannya yang berbahaya itu. Ini difirmankan dalam cara dan gambaran yang beraneka ragam.

Apakah sebabnya demikian? itu tidak lain maksud Allah hanya kita umat manusia ini benar-benar latihan yang sepenuh penuhnya untuk menjauhi itu, sebab hanya dengan demikian itulah letak keselamatan dan kesejahteraan kita dan kita tidak akan tersesat dan celaka.

Setan itu nyatanya pandai menyelundup dalam jiwa dan hati manusia. Karya setan dalam batin manusia itu adalah sebagaimana karyanya baksil dalam tubuh.

Baksil itu senantiasa menantikan kesempatan yang baik ia menunggu di saat kelemahan tubuh, maka di kala itulah ia akan menghantam dan menyerbu tubuh tadi secara sekaligus sehingga dengan sekali serangan dimaksudkan sudah dapat lumpuhkan tubuh itu bahkan jikalau mungkin terus mati sama sekali. Tubuh itu tidak mungkin akan melepaskan diri dari hantaman baksil yang berbahaya tadi apabila ia mempunyai penjagaan yang kokoh benteng yang ampuh dan tidak akan terobohkan. Oleh karena itu tubuh yang baik perlu sekali mempunyai tameng untuk mencegah menghalang-halangi dan menggagalkan usaha baksil tadi bahkan yang sekiranya dapat mengusirnya untuk selama-lamanya.

Baksil sebagaimana yang diuraikan sifatnya di atas itu adalah sama dengan sifat-sifat setan. Bukankah setan itu selalu menantikan peluang yang baik, menunggu kelemahan jiwa dan kesakitannya dan setelah dirasa lemah lalu diserangnya serta diusahakan supaya rusak dan bahkan kalau mungkin akan dihancurkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti ajakan dan perintahnya.

Sesungguhnya tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari serangan setan melainkan dengan jalan membersihkan serta menyucikan jiwa agar ia tidak terkena penyakit penyakitnya, sebab justru adanya penyakit-penyakit inilah yang jalan yang hakiki dan mudah bagi setan untuk menancapkan godaan dan rayuan kotornya pada jiwa MANUSIA.

Penyakit-penyakit jiwa yang merupakan jalan masuknya setan laknat itu ialah segala macam celah dan kekurangan manusia yang lazim tertanam dalam kalbunya. Inilah yang secara mutlak perlu dibersihkan dibersihkan, sehingga tidak ada jalan lagi bagi setan untuk menerobosnya. Penyakit yang terhadap dalam jiwa yang hakekatnya merupakan celak dan kekurangan manusia itu ringkasnya dapat dihimpun dalam sifat-sifat tercela di bawah ini:

lemah jiwa
Putus asa
Putus harapan
Angkuh
Gembira tak terbatas
Ujub
Megah
Aniaya
Curang
Ingkar pada kebenaran
Tidak tahu terima kasih
Kikir berbuat baik
Bahil pada harta
Loba/ tamak
Pembantah
Pamer
Bimbang pada kebenaran
Ragu-ragu pada petunjuk baik
Bodoh
Lali pada kekurangan diri
Suka keras diwaktu berbantah
Tertipu perasaan diri sendiri
Berpura-pura
Gelisah
Keluh kesah
Enggan membantu
Lari dari kebenaran
Menentang kekuasaan Allah
Durhaka
Melampau batas cinta harta
Terpesona oleh keduniaan

Itulah penyakit penyakit hati dan jiwa melalui lubang-lubang itulah setan memasukkan jarum berbisa nya ke dalam batin manusia agar, hancurlah segi-segi kehidupannya lalu di goyahnya yang semula ditunjukkan ke arah keutamaan dan kemuliaan, kemudian dibelokkan ke arah yang merupakan perlawanannya.

Maka dari itu tidak ada jalan lain mengusir dan memindahkannya, untuk menyembuhkan was-was ajakan penyimpangannya itu, melainkan Jiwa itu yang wajib dirawat baik-baik, diobati diusahakan sekuat tenaga untuk melenyapkan bekas-bekas dari kedurhakaan setan itu.
Ini wajiblah dilaksanakan dengan konsekuen dan bersungguh-sungguh, sehingga jiwa itu benar-benar bersih dari penyakit-penyakit tadi secara keseluruhan. Akhirnya akan kembali sehat wal afiat dan menjadi jiwa yang tenang, tenteram dan rela menerima dan mengerjakan yang haq, benar baik.

Jikalau penumpasan penyakit-penyakit jiwa itu sudah dilaksanakan secara menyeluruh dan berhasil baik, maka muncullah dalam jiwa yang sudah bersih dan suci itu hal-hal yang baik-baik saja seperti senantiasa dzikir atau Ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, selalu mohon perlindungan Allah, bahwa tiada daya dan kekuatan pada dirinya melainkan dengan izin Allah serta menyerahkan dua raganya kepada Dzat Yang Maha mengatur langit dan bumi ini. Semua itu akan mengarah ke jurusan pengokohan kebatinan manusia itu sendiri lalu mengangkatnya sampai ketingkat Alam rohani yang hakiki.

Akhirnya manusia itu akan sampailah kepada derajat yang ia akan ditakuti oleh setan, sekalipun hanya menemuinya di jalan yang dilaluinya. Ini adalah sebagaimana yang sudah dicapai oleh umar Bin Khattab.

Imam Bukhari dan imam muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Umar, "wahai Ibnu khotob, tidak pernah setan itu bertemu dengan engkau di suatu jalan, melainkan dengan izin Allah serta menyerahkan bulat-bulat jiwa raganya kepada Dzat Yang Maha mengatur langit dan bumi ini. Semua itu akan mengarah ke pengukuhan kebatinan manusia itu sendiri lalu mengangkatnya sampai ketingkat Alam rohani yang Hakiki.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu salam pernah bersabda kepada Umar, wahai Ibnu khotob, tidak pernah setan kamu dimana kau di suatu jalan, melainkan setan itu pasti mencari jalan yang lain yakni berbeda dengan jalan engkau lalui itu karena takutnya padamu".

Alangkah bahagianya orang yang sudah ditakuti oleh setan, sehingga bertemu saja sudah enggan. Orang semacam ini sudah tidak mungkin lagi akan didekati oleh setan.

Ingatlah bahwa kebahagiaan manusia itu tidak mungkin dapat sempurna kecuali dengan jalan mengekang hawa nafsu dan menunjukkannya dengan jalan mengikuti wahyu Allah serta memerangi ajakan dan bisikan setan yang jahat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ
wa qur robbi a'uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin

"Dan katakanlah, Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,"
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 97)

Allah SWT berfirman:

وَاَعُوْذُ بِكَ  رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ
wa a'uuzu bika robbi ay yahdhuruun

"dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku."
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 98)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala  berfirman :

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
qul a'uuzu birobbin-naas

"Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 1)
Allah SWT berfirman:

مَلِكِ النَّاسِ
malikin-naas

"Rajanya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 2)

Allah SWT berfirman:

اِلٰهِ النَّاسِ
ilaahin-naas

"Tuhannya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 3)

Allah SWT berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ  ۙ  الْخَـنَّاسِ
min syarril-waswaasil-khonnaas

"dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 4)
Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ  صُدُوْرِ النَّاسِ
allazii yuwaswisu fii shuduurin-naas

"yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 5)

Allah SWT berfirman:

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
minal-jinnati wan-naas

"dari (golongan) jin dan manusia."
(QS. An-Nas 114: Ayat 6)

📚 Al Aqaid Al Islamiyyah -  Sayid Sabiq
✍ ulang Abu Azka

09.53 | 0 komentar

KEKUATAN DO'A ORANGTUA YANG DAHSYAT UNTUK ANAKNYA

Suatu ketika ada yang bertanya kepada seorang ibu yang berhasil membesarkan 9 anaknya, mendidik dan menjadikan mereka manusia berakhlak dan berguna bagi agama, negara, bangsa dan sesama.

Apa rahasia di balik keberhasilannya ?. Jawabnya adalah, do'a yang tak henti-henti dipanjatkan untuk anak-anaknya tersebut :

1. *_Allahummaj'al aulaadana kulluhum shaalihan wa thaa'atan_*
Yaa Allah jadikanlah anak-anak hamba orang yang sholehah dan shaleh yang taat beribadah kepadaMu.

2. *_Wa ummuruhum thowiilan_*
Panjangkanlah umurnya yang barakah.

3. *_War zuqhum waasi'an_*
Luaskan dan lapangkan rizkinya yang halal.

4. *_Wa 'uquuluhum zakiyyan_*
Cerdaskan akalnya untuk kebaikan dunia dan akhirat.

5. *_Wa quluubuhum nuuran_*
Terangilah kalbunya untuk urusan agamaMu.

6. *_Wa 'uluumuhum katsiiran naafi'an_*
Karuniakan ia ilmu yang bermanfaat untuk urusan kebaikkan dunia dan akhirat.

7. *_Wa jasaaduhum shihhatan wa 'aafiyatan_*
Sehatkanlah jasmani dan rohaninya yang dengan itu memberikan ketenangan dalam melaksanakan ibadah hanya kepada-Mu.

8. *_Birahmatika yaa arhamar raahimiin_*
Dengan segala Rahmat-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

*PENTING :*
_*Panjatkanlah doa di atas itu sesering mungkin. Syukur jika dipanjatkan tiap habis shalat 5 waktu (dibaca minimal 3 kali).*_

_*Karena doa orangtua termasuk doa yang terkabul, dan tidak memiliki penghalang menuju Allah*_

Rasulullah SAW bersabda :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga macam doa yang mustajab, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu : *doa orangtua, doa seorang musafir, dan doa orang yg terzalimi"*
(HR. Al-Bukhari / Al-Adab, Al-Mufrad-32, Abu Dawud).

07.52 | 0 komentar

Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak.

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 01 Agustus 2017 | 22.53

"Waduh mas, saya pernah lihat anak bapak fulan, kerjanya nonton video band Korea di Youtube,” cerita seorang kawan. Kalau sudah megang gadget, maka seperti tak bisa lepas. Termasuk menyimak channel youtube. Padahal bapak fulan yang dimaksud dikenal sebagai aktifis pengajian. Cerita yang lain ada lagi, ada anak yang terbiasa membentak orang tua termasuk opa dan omanya, bahkan dengan kata-kata kasar.

Persoalan adab atau attitude & manner anak-anak jangan dipandang sepele. Sebagian orang tua ada yang abai terhadap penanaman adab untuk anak, lebih fokus pada kemampuan akademik anak seperti pelajaran sains atau menghafal al-Qur’an. Ada kesan bahwa adab pada anak akan terbentuk dengan sendirinya. Masak iya penghafal al-Qur’an tak punya adab yang mulia?

Kenyataannya adab tak berbanding lurus dengan prestasi akademik seseorang, termasuk dengan hafalan pelajaran agama. Dalam kehidupan orang dewasa kita berulangkali melihat orang yang cerdas dalam pengetahuan Islam semisal menguasai bahasa Arab, hafal al-Qur’an, kuasai tafsir, tapi justru nyeleneh. Menolak syariat dan melecehkannya. Seperti ada seorang anak muda di tanah air yang sejak usia kanak-kanak sudah menjadi seorang hafidz tapi menolak mentah-mentah pelaksanaan syariat Islam dan kewajiban Khilafah Islamiyyah.

Dalam sejarah kita bisa membaca tokoh seperti Hajaj bin Yusuf, gubernur kejam pada masa kekhilafahan Yazid bin Muawiyyah. Sejarah mencatatnya sebagai wali yang zalim dan memusuhi ulama padahal ia adalah murid tabi’in terkemuka, Imam Said bin Musayyab rahimahullah, penghafal al-Qur’an dan tak jarang menangis dalam shalatnya.

Maka jangan abaikan pendidikan adab pada anak-anak kita. Adab bukanlah sesuatu yang alamiah bisa didapat anak ketika mereka menghafal hadits, menghafal al-Qur’an atau belajar fikih. Namun ia perlu pemahaman dan pengkondisian dari kedua orang tua.

Para ulama salaf amat mementingkan penanaman adab pada putra-putri mereka sebelum pengetahuan agama yang lain. Maka para ulama selalu meletakkan adab di awal kajian sebelum menuntut ilmu yang lain. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Adab adalah pembentuk awal kepribadian setelah akidah seorang muslim, sedangkan ilmu adalah jasadnya. Imam Abu Zakariya al-‘Anbariy berkata;

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.”

Para ulama salaf percaya bahwa dari pribadi anak dan remaja yang beradab, maka ilmu agama dan dunia akan mudah untuk diraih. Sebaliknya seorang pelajar yang menguasai ilmu agama dan dunia, tanpa adab, maka ilmu mereka tak akan mendatangkan barakah.

Apa yang bisa orang tua lakukan agar anak-anak kaum muslimin memiliki adab yang luhur?

PERTAMA, setelah menanamkan dan menguatkan keimanan anak pada Allah SWT. dan ajaran Islam maka, tanamkan bahwa Allah Ta’ala mencintai hamba-hambaNya yang berakhlak mulia. Pahamkan mereka kalau seorang muslim beradab luhur seperti berkata sopan, jujur, mendengar nasihat orang tua, mau berbagi, maka akan disayang Allah SWT.

KEDUA, Perlakukan anak-anak dengan akhlak mulia dan penuh kasih sayang. Kurangi kebiasaan memarahi mereka, mencela dan mempermalukan mereka. Panggil mereka dengan panggilan sayang dan pujian semisal ‘soleh’ atau ‘solehah’. Perlakuan orang tua adalah tabungan informasi dan adab pada hati dan pikiran anak-anak.

KETIGA, tegur secara proporsional, jangan berlebih-lebihan, dan perhatikan dulu keadaan mereka. Penting untuk terlebih dulu memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Pada anak pra-baligh mereka belum tahu kalau membentak orang lain tidak baik. Bagi mereka itu respon alamiah. Maka beritahukan pada mereka bagaimana semestinya berkata baik pada orang lain, terutama pada orang tua.

KEEMPAT, jadilah orang tua responsif bukan reaksioner. Yakni peka dengan kebaikan dan juga kesalahan anak. Jangan biarkan anak berlarut-larut melakukan kesalahan seperti memukul kawan, merebut mainan atau makanan, segera respon dengan baik. Beritahu dan cegah untuk terulang lagi. Adab yang kerap dilakukan anak seringkali muncul akibat orang tua tidak responsif terhadap perbuatan anak yang tidak baik. Mereka diam atau menganggapnya wajar. Pahamilah, anak seperti pohon yang akan tumbuh besar. Saat dahannya masih kecil maka mudah untuk dibentuk, tapi saat sudah besar maka amat sulit untuk melakukan hal itu.

KELIMA, jadikan adab yang baik sebagai habit dalam keluarga. Orangtua biasa berkata lembut, tidak membentak, tidak kasar, tidak mencela, senang merangkul, memuji dan mudah memaafkan kesalahan anak. Pembiasaan ini akan membuat anak mudah untuk melakukannya saat mereka dewasa.

KEENAM, banyak berdoa. Allah adalah Maha Pemberi Hidayah, Maha Pembolak-balik hati, sekeras apapun hati manusia amat mudah bagi Allah untuk melunakkannya dan memberinya hidayah. Jangan hanya berdoa agar anak kita pandai dan juara kelas serta mudah menghafal, tapi minta juga pada Allah agar anak-anak kita dihiasi dengan akhlak yang mulia.

(Lebih lengkap tentang artikel ini bisa ayahbunda baca pada buku saya DNA GENERASI PEJUANG, terbitan al-Azhar Press).

By: Iwan Januar

22.53 | 0 komentar

Aku ingin menikah dengan gadis ini

Aku ingin menikah dengan gadis ini

🌿🌿🌷🌿🌿

Bahwasanya Nazmuddin Ayyub—penguasa Tikrit—belum menikah dalam waktu yang lama. Maka, bertanyalah saudaranya—Asaduddin Syerkuh, “Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

Asaduddin berkata, “Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

Dia berkata, “Siapa?”

Ia menjawab, “Puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik—dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Maka, Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Maka, heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata,
“Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab,
“Barang siapa ikhlas niat karena Allah akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang.

Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata padanya,
“Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab,
“Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab,
“Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

_Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu._

Allahu Akbar!
Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Mahakuasa?

Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua?
Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh,
“Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan.
Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran,
“Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata,
“Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis ini.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Namanya adalah  _SHALAHUDDIN AL AYUBI_

Allahu Akbar !
🌿🌿🌷🌿🌿

📮 Abu Azka

16.41 | 0 komentar

Beriman Kepada Yang Ghaib

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 29 Juli 2017 | 21.58

Akhir-akhir ini, sangat banyak kita jumpai orang-orang yang mengaku dirinya sebagai dukun, tukang ramal, orang pintar, atau kyai yang mampu mengobati berbagai macam penyakit. Mereka menyembuhkan penyakit dengan jalan sihir atau perdukunan, mereka mengaku dirinya sebagai thabib. Masyarakat awam tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi budak setan dan bersama-sama mencemari aqidah secara lembut, tersamar, 'dan' perlahan namun pasti. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata banyak juga korban dari orang-orang yang kesehariannya menjalani ibadah secara tertib.

Sungguh keadaan ini merupakan bencana dan bahaya yang besar bagi Islam dan umat lslam. Ketergantungan kepada Allah tergantikan dengan ketergantungan kepada selain Allah.

Berobat - mencari kesembuhan atas penyakit-diperintahkan oleh Islam. Seorang yang sakit hendaknya berusaha mendatangi seseorang yang ahli untuk diperiksa penyakit apa yang dideritanya dan diobati sesuai dengan obat-obatan yang diperbolehkan syara' sebagaimana dikenal dalam ilmu kedokteran (untuk gangguan medis) , ilmu psikologi (untuk gangguan psikis), dan ilmu ruqyah untuk  gangguan sihir  dan sejenisnya.
Sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menurunkan penyakit dan pasti menurunkan pula obatnya. Namun, Allah tidak memberikan obat dari sesuatu yang telah diharamkan kepada ummatNya.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi orang-orang yang sakit mendatangi dukun-dukun yang mengaku dirinya dapat mengetahui perkara yang ghaib -yang dengannya ia dapat mengatakan apa sakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan. Sebab, semua yang mereka katakan tentang perkara yang ghaib sesungguhnya hanya didasarkan pada prasangka, perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin dan meminta pertolongan jin-jin tersebut tentang sesuatu yang mereka kehendaki. Dengan cara demikian, dukundukun tersebut telah melakukan kekufuran dan penyesatan.

Dari Amran bin Hushein ra yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikannya, yang bertanya pada dukun atau yang mendukuninya, yang menyihir atau yang meminta sihir untuknya, dan barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. ” (HR Al-Bazaar)

Oleh karena itu, setiap orang wajib menjauhi praktek praktek perdukunan dan mencegah orang-orang mendatanginya. Hendaknya tidak boleh tertipu pengakuan segelintir orang yang  membenarkan apa yang dilakukan para dukun. Sebab, sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dijalankan dalam perdukunan. Bahkan, kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti tentang hukum dan larangan-larangan yang harus mereka pegang.

Agar terhindar dari keburukan, orang harus mengenali keburukan itu. Hudzaifah Bin Yunan berkata, orang-orang yang bertanya tentang kebaikan, Sedangkan aku, aku tanya tentang keburukan, takut terjerumus kedalamnya. Setan adalah musuh nyata manusia, pengetahuan tentangnya diperlukan agar kita dapat menghindari tipu daya makar, konspirasi, dan jerat-jeratnya.

📚 Ruqyah Syar'iyyah wa Thibu wa 'Ilaju Mashur min Shahih Bukhari wa Fathul Bari -  M. H Muhammad Hasan Ismail

📮ditulis dan edit ulang oleh Rudi Abu Azka

21.58 | 0 komentar

RUQYAH SYAR'IYYAH - PANDUAN SYARA' DAN BATASAN-BATASANNYA

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 10 Mei 2017 | 19.41

Segala puji bagi AllahIyang telah menciptakan manusia kemudian memuliakannya dengan derajat yang tiada terhingga.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammadn. Beliau dengan segala pengorbanan dan tanggung jawabnya menunaikan tugas dan menyampaikan amanah dengan sempurna, telah mendidik kita ke jalan yang lurus. Doa dan salam semoga pula senantiasa tercurahkan kepada keluarga, shahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Modul Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abual-Barra` yang terdiri dalam 4 bab yang telah disusun dan diterjemahkan tim dari Ruqyah Learning Center Indonesia ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi para Peruqyah Syar’iyyah di Indonesia pada era saat ini. Materi Ruqyah Syar’iyyah telah dijadikan panduan yang mengarahkan para Peruqyah pada jalan yang lurus dalam memahami dan mengimplementasikan praktek-praktek ruqyah dalam kehidupan. Karena itu, beberapa upaya telah dilakukan untuk menjabarkan atau mengarahkannya sehingga muncullah buku-buku ruqyah yang merujuk kepadanya. Apalagi setelah dakwah ruqyah ini telah diterima oleh masyarakat luas secara terbuka.
Kini, materi-materi yang berkaitan tentang Ruqyah Syar’iyyah,sudah begitu banyak diterjemahkan dan dapat dinikmati secara bebas oleh siapa saja. Itulah kemestian yang harus berlaku, karena dakwah, hidayah, dan jalan lurus ini adalah hak setiap insan. Buku materi DaurahRuqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra` yang ada di hadapan pembaca ini hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya untuk lebih menyebarkan tentang Ruqyah Syar’iyyah tersebut.
Hal mendasar yang mendorong kami melakukan abstraksi dan menulis deskripsi ini adalah:
1.    Materi Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra`adalah seperti peta buta, maksudnya bahwa pembaca tidak mengerti makna poin-poin yang ada di dalamnya tanpa mengikuti daurah-daurahRuqyah Syar’iyyah. Karena poin-poin tersebut perlu penjabaran atau penjelasan lebih lanjut.
2.    Kekurangpahaman tentang makna poin-poin yang menyebabkan sebagian pembaca akan bingung dan cukup menyebutnya sebagai poin-poin secara lepas begitu saja dan membiarkan mereka untuk menafsirkannya sendiri-sendiri.
3.    MateriDaurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra`ini disusun oleh Tim Penerjemah Ruqyah Learning Center yang berlatar belakang syariah dan juga praktisi Ruqyah Syar’iyyahsehingga mungkin ada sedikit kesalahan di sana-sini.
4.    Ada sebagian Peruqyah yang berusaha menguraikannya namun tidak memberikan gambaran yang jelas tentang poin-poin yang ada dalam materiDaurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra,sehingga menambah jauhnya jarak ilmu dan kepahaman.
5.    Kami berusaha menerjemahkan materi Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra`ini yang diterbitkan pertama kali secara legal untuk kalangan terbatas oleh Ruqyah Learning Center Indonesia.
Itulah beberapa alasan kami, hingga tak terasa memacu kami untuk bersegera menyelesaikan amanah dakwah ini. Semoga apa yang kami lakukan dapat mempercepat pergerakan dakwah melalui Ruqyah Syar’iyyahyang lebih intensif dan lebih berkembang. Tentu saja, kemajuan tersebut harus senantiasa dilindungi dengan upaya menjaga orisinalitasnya.

Upaya menjaga ashalah Ruqyah Syar’iyyah ini tetap harus dilakukan. Itulah komitmen yang harus selalu kita bangun, dan partisipasi Anda dalam Proyek ini sangat kita diharapkan.

Setiap tindakan dalam terapi ruqyah syar’iyyah haruslah berdasarkan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam nash AlQuran & Assunnah. demikian juga keterangan para ahli ilmu.
Di lapangan banyak terjadi seorang terapis melakukan beberapa percobaan (tajribah) yang ternyata sangat bertentangan dengan tiga hal diatas. Ini terjadi terkadang karena terbatasnya ilmu dalam terapi ruqyah syar’iyyah.

Buku ini menjelaskan mana yang termasuk dalam ruqyah syar’iyyah, mana yang termasuk ‘ilaj syar’iyyah dan mana terapi.

DAFTAR ISI

BAGIAN I
PERKARA-PERKARA PENTING YANG WAJIB DIKETAHUI TERKAIT RUQYAH SYAR’IYYAH_____11
1.       Apa tujuan-tujuan yang harus diupayakan oleh para pelaku Ruqyah Syar’iyyah_____13
2.       Makna Ruqyah Syar’iyyah_____14
3.       Apakah syarat-syarat Ruqyah Syar’iyyah?_____15
4.       Bagaimana tata cara melakukan Ruqyah Syar’iyyah yang benar?_____15
5.       Kapan melakukan ruqyah, sebelum atau sesudah sakit?_____16
6.       Bagaimana jika sakit lalu berobat ke Tukang Sihir?_____17
7.       Siapasebenarnya yang harus menjadi pelaku Ruqyah Syar’iyyah?_____19
8.       Adakah syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi oleh seorang Peruqyah?_____19
9.       Apa yang harus dilakukan oleh seorang Peruqyah ketika menemui situasi sulit?_____24
10.   Bagaimana Islam menyikapi Ruqyah Syar’iyyah?_____25
11.   Apakah melakukan Ruqyah Syar’iyyah itu berarti mencederai tawakal kepadaAllah I?_____27
12.   Apakah al-Qur’an dan As-Sunnah itu bisa menjadi obat (syifa)?_____28
13.   Adakah penjelasan as-Sunnah tentang ruqyah dengan menggunakan                al-Qur’an?_____29
14.   Apakah as-Sunnah menjelaskan doa-doa yang digunakan untuk meruqyah?_____34
15.   Hukum meniup dan sedikit meludah dalam meruqyah_____35
16.   Kapan waktu meniup dan sedikit meludah dalam meruqyah?_____37
17.   Hukum meruqyah tanpa tiupan dan tanpa meludah_____38
18.   Hukum mengusap badan dengan telapak tangan setelah meruqyah___38
19.   Hukum meletakkan telapak tangan di badan yang sakit_____39
20.   Hukum meruqyah air lalu meminumnya_____40
21.   Hukum mandi Air Ruqyah di kamar mandi_____40
22.   Hukum menggunakan benda-benda yang halal dalam pengobatan___40
23.   Hukum meruqyah dengan huruf-huruf yang terpisah atau terpotong-potong_____41
24.   Hukum menerima Upah Ruqyah_____41
25.   Hukum Ahli Kitab meruqyah orang Islam_____42
26.   Hukum meruqyah Ahli Kitab_____43
27.   Hukum wanita meruqyah wanita lainnya_____45
28.   Hukum wanita meruqyahpria yang bukan mahramnya_____45
29.   Hukum pria meruqyah sekumpulan wanita_____46
30.   Hukum meruqyah wanita yang sedang nifas atau haid_____47
31.   Hukum meruqyah dalam keadaan nifas atau haid_____48
32.   Hukum meruqyah wanita yang sedang dalam masa ‘iddah karena suaminya wafat_____48
33.   Hukum berwudhu bagi wanita yang sedang haid atau nifas dengan niat sebagai penjagaan_____49
34.   Memanaskan atau mendinginkan air yang telah diruqyah sebelum digunakan mandi_____49
35.   Terapi dengan cara pengambilan bekas dari tempat kejadian yang diduga karena ulah gangguan jin_____50
36.   Hukum membakar kertas untuk mengobati penyakit psikis_____51
37.   Hukum menghina dan mengolok-olok Ruqyah Syar’iyyah dan akftifisnya_____53
38.   Hukum memasang Jimat­_____55

BAGIAN II
KAIDAH-KAIDAH IDEAL BEKAL PERUQYAH UNTUK TERAPI DENGAN RUQYAH SYAR’IYYAH_____61
Kaidah ke-1:     Mengikhlaskan niat dan beramal hanya untuk Allah I___63
Kaidah ke-2:     Memusatkan perhatiannya dalam menanamkan akidah yang benar_____66
Kaidah ke-3:     Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah_____66
Kaidah ke-4:     Fokus mengutamakan sisi dakwah_____67
Kaidah ke-5:     Adanya pembatasan dengan aturan-aturan syar’i khususnya untuk para wanita_____67
Kaidah ke-6:     Menjaga diri dari fitnah wanita_____73
Kaidah ke-7:     Antusias terhadap petunjuk dan arahan serta penjelasan terkait beberapa faktorsetan mengganggu manusia, sebab-sebab dan motif sehingga diganggu setan_____75
Kaidah ke-8:     Yakin dan percaya kepada AllahI_____75
Kaidah ke-9:     Mengamati permasalahan-permasalahan yang rancu_____75
Kaidah ke-10:   Ketentuan tanggung jawab seorang Peruqyah dari sisi syar’i dan medis_____76
Kaidah ke-11:   Bersikap hati-hati dari Istidraj (tipu daya dan makar) setan_____78
Kaidah ke-12:   Memberikan semangat kepada pasien untuk senantiasa bersabar dan mampu bertahan_____78
Kaidah ke-13:   Penyabar dan tidak tergesa-gesa_____81
Kaidah ke-14:   Tauladan yang baik_____81
Kaidah ke-15:   Senantiasa berkonsultasi dan melakukan musyawarah____82
Kaidah ke-16:   Senantiasa menjaga rahasia pasien_____82
Kaidah ke-17:   Menjaga keselamatan pasien_____83
Kaidah ke-18:   Tidak terburu-buru memvonis gangguan kepada pasien___84
Kaidah ke-19:   Berusaha memilih dan menetapkan cara-cara dan metode yang sesuai syar’i dalam menerapi gangguan-gangguan dan penyakit ruhani (Non Medis)_____87
Kaidah ke-20:   Tidak mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain___91
Kaidah ke-21:   Ma’aridh (Tauriyah)_____91
Kaidah ke-22:   Menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dan keraguan_____92
Kaidah ke-23:   Tidak boleh berlebihan dalam menggunakan perkara-perkara yang dibolehkan_____93
Kaidah ke-24:   Bersikap netral (tidak memihak) dalam menghukumi terhadap para Peruqyah_____94
Kaidah ke-25:   Menanamkan kepercayaan pada diri pasien_____95
Kaidah ke-26:   Kekuatan iman serta proporsional dalam menolak gangguan jin dan setan sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya_____97
Kaidah ke-27:   Sabar dan mengharap keridhaan Allah I atas kedzaliman gangguan setan_____97
Kaidah ke-28:   Memiliki kepribadian yang kuat dan kokoh, tegar dan kuat pada saat interaksi dan berhadapan dengan ruh-ruh jahat (setan)_____99

BAGIAN III
SEPUTAR SIHIR_____101
1.         Definisi Sihir_____103
2.         Hukum datang ke Tukang Sihir dan Peramal_____104
3.         Mengapa Islam mengharamkan Sihir?_____106
4.         Bagaimana kita melindungi diri kita dari Sihir?_____106
5.         Hukum belajar Sihir dan mengajarkannya_____107
6.         Bagaimana memastikan telah terjadi Sihir?_____108
7.         Apakah sanksi bagi Tukang Sihir?_____109
8.         Taubatnya Tukang Sihir_____109
9.         Apakah benar Rasulullahnterkena Sihir?_____110
10.     Apakah sah ucapan cerai yang dilakukan oleh suami yang sedang terkena Sihir?_____112
11.     Hukum meninggalkan shalat bagi orang yang sedang terkena Sihir_____114
12.     Hukum bagi orang yang menyebabkan orang lain terbunuh, atau terluka, atau rusaknya harta orang lain_____114
13.     Apakah boleh pergi ke Tukang Sihir untuk mengobati Sihir dalam kondisi darurat?_____116
14.     Apa metode yang dibenarkan syariat untuk mengatasi Sihir yang sudah terjadi?_____118
15.     Apakah setelah taubat masih boleh ke Tukang Sihir dalam rangka membatalkan Sihirnya?_____121
16.     Apakah harus membacakan ayat ruqyah dan meniupkannya pada Buhul Sihir untuk membatalkannya?_____121
17.     Apakah Sihir yang diminum dan dimakan masih bisa diobati?_____122
18.     Apa hukumnya menggunakan kapak yang memiliki dua sisi untuk mengobati Sihir Impotensi?_____122
19.     Apakah boleh bermain-main dengan benda-benda Sihir ketika menemukannya?_____123
20.     Bagaimana cara mengobati kondisi pasien yang menginjak Buhul Sihir?_____124

BAGIAN IV
PENJELASAN TERKAIT PERMASALAHAN ‘AIN DAN HASAD_____127
Pembahasan ke-1:     Makna ‘Ain dan Hasad_____129
Pembahasan ke-2:     Bagaimana ‘Ain dan HasadMemberikan Dampak Negatif?_____130
Pembahasan ke-3:     Dalil-Dalil Bahwa Seseorang Bisa Menimpakan ‘Aindan Hasad_____131
Pembahasan ke-4:     Jenis-JenisAin_____137
Pembahasan ke-5:     Apakah Pengaruh ‘Ain Terbatas Hanya pada Manusia Saja_____142
Pembahasan ke-6:     Sebab-Sebab Muncul ‘Aindan Hasad_____143
Pembahasan ke-7:     Cara Untuk Mengetahui Pelempar ‘Aindan Hasad_____144
Pembahasan ke-8:     Perbedaan Antara ‘Aindan Hasad_____145
Pembahasan ke-9:     Tata Cara Terapi ‘Aindan Hasad_____148
Pembahasan ke-10:   Akibat-Akibat Buruk Hasad_____160
Pembahasan ke-11:   Apakah Pelempar ‘Ain Dipaksa untuk Mandi dan Wudhu?_____161
Pembahasan ke-12:   Beberapa Haditsdan Atsar Palsu serta Dhaif Berkenaan ‘Ain_____163
Pembahasan ke-13:   Apakah Orang Kafir Dapat Menimpakan ‘Ain?____165
Pembahasan ke-14:   Apakah ‘Ain Berakhir Pengaruhnya Dengan Matinya Pelempar ‘Ain?_____167
Pembahasan ke-15:   Apakah ‘AinAkan Lenyap Pengaruhnya Dengan Ruqyah, atau Dengan Memberikan Doa Keberkahan, atau Dengan Tiupan yang Dilakukan Oleh Pelempar ‘Ain?_____169
Pembahasan ke-16:   Apakah Pengaruh ‘Ain Berakhir Dengan Tiupan yang Dilakukan Pelempar ‘Ainke Dalam Air Kemudian Diminumkannya Untuk Korban ‘Ain?_____171
Pembahasan ke-17:   Bolehkah Meruqyah Hewan dan Kendaraan karena Lemparan ‘Ain?_____172
Pembahasan ke-18:   Bolehkah Menyiramkan AirBekas Basuhan Pelempar ‘Ain Terhadap Benda-Benda yang Terkena ‘Ain?___173
Pembahasan ke-19:   Apakah Ada Cara-Cara Terapi ‘Ain dan Hasadyang Tidak Sesuai dengan Syar’i?_____174
Pembahasanke-20:    Menggunakan Perkara-Perkara dan Media-Media Sebagai Perlindungan dari ‘Ain dan Hasad_____179

Keterangan-Keterangan Hadits Berkenaan Jimat_____180

JUDUL : RUQYAH SYAR'IYYAH - PANDUAN SYARA' DAN BATASA-BATASANNYA
PENULIS:SYAIKH ABUL BARRO’ USAMAH BIN YASIN AL-MA’ANI
PENERBIT: RLC PUBLISHING 2017
UKURAN : 16 cm x 24 cm
HALAMAN : 180
HARGA : Rp. 75.000,-
PEMESANAN HUBUNGI:
SMS/WA 085716863625


19.41 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung