Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

PEMBAGIAN HATI

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 01 Desember 2017 | 18.50

📚 Seri Kajian Kitab Ighatsatul Lahfan - Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan

Bagian 1

💗 *Pembagian Hati*💗

Karena hati itu memiliki sifat hidup dan mati maka ia terbagi menjadi tiga keadaan berikut:

👉🏿1. *Hati Sehat*

Disebut pula dengan qalbun salim. Pada hari kiamat tidak ada orang yang selamat melainkan yang memiliki hati ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

```“Pada hari yang harta dan anak-anak tiada berguna. Kecuali barangsiapa yang datang kepada Allah dengan hati yang salim.” (Asy-Syu‘ara’ [26]: 88-89) ```

Salim artinya sehat. Ia merupakan kata sifat sebagaimana thawil (panjang), qashir (pendek) dan zharif (elok). Seseorang berhati sehat atau salimul qalbi apabila kesehatan hati merupakan sifat baku baginya. Seperti bakunya sifat ilmu bagi seorang yang 'alim dan bakunya sifat qudrah (mampu, kuasa) bagi orang yang qadir. Ia merupakan lawan dari maridh, saqim dan' alil yang berarti sakit.

Manusia menggunakan ungkapan yang berbeda-beda untuk menjelaskan hakikat hati yang sehat. Titik temunya bahwa hati yang sehat adalah yang terbebas dari syahwat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah serta dari syubhat yang bertentangan dengan pemberitaan-Nya.

Hati yang sehat terbebas dari peribadahan kepada selain Allah dan pengambilan hukum kepada selain Rasul-Nya. Ia mencintai Allah dengan tulus dan mengikuti ketentuan Rasul-Nya dalam takut, harap, tawakal, inabah dan ketundukan kepada Allah, senantiasa mengutamakan ridha-Nya dan menjauhi kemurkaan-Nya. Inilah hakikat peribadahan yang hanya boleh diberikan kepada Allah.

Hati yang sehat tidak menyekutukan Allah dengan apapun dalam bentuk apapun. Peribadahannya mumi ditujukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala , baik yang berupa kehendak, cinta, tawakal, inabah, ketundukan, takut dan harap. Ia mengikhlaskan amal untuk Allah. Bila mencintai, ia mencintai karena Allah; bila membenci, ia membenci karena Allah; bila memberi, ia memberi karena Allah; dan bila menolak, ia menolak karena Allah.

Ini saja belum cukup, kecuali bila ia juga terbebas dari kepatuhan dan pengambilan hukum kepada selain Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam; Maka, ia sepenuhnya mengendalikan hati agar mengikuti dan meneladani beliau saja dalam ucapan maupun perbuatan: ucapan hati yang berupa keyakinan maupun ucapan lisan yang berupa pernyataan dari apa yang terdapat dalam hati, juga perbuatan hati yang berupa kehendak, cinta, benci dan sebagainya maupun perbuatan. anggota badan. Dalam semua persoalan itu, baik yang kecil maupun besar, yang menjadi hakimnya adalah ajaran yang dibawa oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia tidak mendahului beliau dalam berkeyakinan, berbicara, maupun berbuat. Sebagaimana firman Allah:
```“Wahai orang-orang beriman, jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Hujurat [49]: 1)```

Maksudnya: “Jangan berkata sebelum beliau berkata dan jangan berbuat sebelum beliau memerintahkan. "

🖊📗 *Seorang ulama Salaf berkata:*

```Setiap perbuatan sekecil apapun pasti akan ditanya dengan dua pertanyaan, yaitu mengapa dan bagaimana. Yakni, mengapa kamu berbuat dan bagaimana kamu berbuat? Pertanyaan pertama berkenaan dengan sebab, motivasi dan latar belakang perbuatan; apakah bertitik tolak dari kepentingan dan ambisi pelakunya di dunia, seperti kesenangan dipuji, ketakutan terhadap celaan, keinginan memperoleh sesuatu yang disukai dan upaya menghindari sesuatu yang dibenci di dunia ataukah perbuatan itu dilakukan dengan tujuan untuk menunaikan ibadah, meraih cinta Allah, mendekatkan diri kepada-Nya dan mencari jalan menuju ridha-Nya?```

```Pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah Anda melakukan perbuatan tersebut untuk Tuhan ataukah untuk kepentingan dan keinginan nafsu semata?```

```Adapun maksud pertanyaan kedua adalah untuk mengetahui kadar mutaba'ah ( peneladanan) kepada Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam di dalam ibadah tersebut. Artinya apakah perbuatan tersebut telah Aku perintahkan kepadamu melalui lidah Rasul-Ku ataukah tidak Aku perintahkan dan tidak Aku ridhai?```

```Pertanyaan pertama mengenai keikhlasan sedangkan yang kedua mengenai mutaba'ah. Sebab Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak akan menerima amal kecuali dengan keduanya.```

```Antisipasi terhadap pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan, sedangkan terhadap pertanyaan kedua adalah dengan merealisasikan mutaba'ah dengan sebenar-benarnya. Hati harus bersih dari keinginan yang bertentangan dengan keikhlasan dan dari nafsu yang
bertentangan dengan mutaba'ah. Inilah hakikat kesehatan bagi hati yang dijamin selamat dari bahagia.”```

👉🏿2. *Hati Mati*

Ini kebalikan dari yang pertama. Inilah hati yang mati, tanpa kehidupan sama sekali. Ia tidak mengenal Tuhan serta tidak beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintah-Nya serta apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Sebaliknya, ia senantiasa memperturutkan hawa nafsu, sekalipun dimurkai dan dibenci Tuhannya Ia tidak peduli apakah dengan memperturutkan hawa nafsu itu Tuhannya ridha atau murka kepadanya. Ia beribadah kepada selain Allah dalam mencintai, takut, berharap, ridha, murka, pengagungan dan ketundukan.

Bila mencintai, ia mencintai karena nafsu; bila membenci, ia membenci karena nafsu; bila memberi, ia memberi karena nafsu; dan bila menolak, ia menolak karena nafsu juga. Jadi, hawa nafsu lebih diutamakan dan dicintai daripada ridha Tuhannya.

Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah pengendalinya dan kelalaian adalah kendaraannya. Ia senantiasa sibuk berpikir untuk memperoleh ambisi ambisi duniawi serta dimabuk oleh hawa nafsu dan cinta dunia. Dari jauh, ia dipanggil untuk kembali kepada Allah dan  mengutamakan kebahagiaan akhirat, akan tetapi ia enggan menyambut panggilan sang pemberi nasihat,  bahkan mengikuti bujukan setan yang durhaka. Murka dan ridhanya tergantung pada dunia. Hawa nafsu  telah menulikan dan membutakannya.

Bergaul dengan orang yang mati hatinya adalah penyakit dan racun. Bersahabat dengannya adalah kebinasaan.

👉🏿3. *Hati Sakit*

Hati jenis ketiga ini adalah hati yang mempunyai kehidupan, tetapi berpenyakit. Kadang-kadang kehidupan tampak padanya, tetapi kadang-kadang yang tampak penyakitnya, tergantung yang mana di antara keduanya yang sedang dominan.

Dalam hati ini terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada Allah, yang semua ini merupakan bahan baku kehidupannya. Tetapi, di dalamnya juga terdapat kecintaan dan pengutamaan kepada hawa nafsu serta ambisi untuk memperolehnya, juga kedengkian, kesombongan dan kebanggaan kepada diri sendiri. Ia dipengaruhi oleh dua penyeru: yang satu mengajaknya kepada Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat, sedangkan yang lain mengajaknya kepada dunia. Ia mengikuti salah satu dari kedua penyeru itu yang pintu dan jaraknya lebih dekat kepadanya.

Hati jenis pertama adalah hati yang khusyuk, lembut dan sadar. Hati jenis kedua adalah hati yang kering dan mati. Sedangkan jenis ketiga adalah hati yang sakit, yang bisa jadi lebih dekat kepada kesehatan atau sebaliknya lebih dekat kepada kematian.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyebutkan ketiga jenis hati ini dalam Firman-Nya:

```“Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia membaca, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap bacaan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu dan menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan yang keras hatinya. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat. Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Quran adalah kebenaran dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya , ' Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”(Al-Hajj [22]: 52-54)```

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala membagi hati menjadi tiga: dua di antaranya tertimpa bencana dan hanya satu yang selamat. Dua jenis hati yang terkena bencana adalah hati yang berpenyakit dan hati yang keras. Sedangkan yang selamat adalah hati orang mukmin, yang tenang, tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Diharapkan hati dan anggota badan lain dalam keadaan sehat tanpa penyakit apapun, sehingga bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

✍ *Ada dua faktor yang menyebabkan hati tidak sehat.* Faktor pertama adalah karena hati tersebut kering, keras dan tidak berfungsi sebagaimana yang dikehendaki. Ia seperti tangan yang buntung, lidah yang bisu, hidung yang kehilangan daya cium, dzakar yang impoten dan mata yang buta. Faktor kedua adalah penyakit yang menimpanya, sehingga menghalanginya untuk berfungsi secara sempurna dan benar.

```Hati yang sehat adalah hati yang untuk menerima, mengutamakan dan mencintai kebenaran hanya memerlukan sarana pengetahuan mengenainya. Daya tangkap dan kepatuhannya kepada kebenaran baik dan sempurna.``` *Hati yang mati adalah hati yang tidak menerima dan tidak patuh kepada kebenaran. Sedangkan hati yang sakit adalah hati yang apabila penyakitnya lebih dominan maka keadaannya hampir sama dengan hati yang mati dan keras, tetapi apabila kesehatannya lebih dominan maka keadaannya hampir sama dengan hati yang sehat.*

Kata-kata yang dibisikkan oleh setan ke telinga dan syubhat atau keraguan yang dibisikkannya ke hati akan menjadi bencana bagi hati yang mati atau berpenyakit, tetapi justru menjadi penguat bagi hati yang hidup dan sehat. Sebab, hati yang hidup dan sehat akan menolaknya. ia tahu bahwa yang benar justru kebalikannya, lantas tunduk kepada kebenaran itu. ia mengetahui kebatilan bisikan setan itu. lantas keimanannya kepada kebenaran bertambah sebagaimana bertambah pula penolakan dan kebenciannya kepada kebatilan. Hati yang terkena bencana senantiasa dalam keraguan disebabkan oleh bisikan setan, tetapi hati yang sehat tidak akan terkena mudarat darinya. Hudzaifah lbnu Yaman Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

```“Berbagai cobaan dibentangkan dan dilekatkan di hati, sebagaimana dibentangkannya anyaman-anyaman tikar satu persatu. Hati manapun yang dirasukinya, niscaya padanya membekas sebuah noda hitam, sedang hati manapun yang menolaknya, niscaya padanya membekas sebuah titik putih; sehingga seluruh hati akan menjadi dua: ada hati yang hitam berbintik putih dan seperti kendi yang terbalik. Ia tidak mengenal yang makruf dan tidak menolak yang munkar. Yang diketahuinya hanyalah hawa nafsu yang ditusukkan kepadanya. Ada pula hati yang putih, ia tidak terkena mudarat, cobaan selama ada langit dan bumi. ” (HR. Muslim dan Ahmad)```

Beliau menyerupakan dibentangkan dan dilekatkannya cobaan di hati seperti anyaman-anyaman tikar yang dibentangkan dan dilekatkan satu persatu. Beliau juga membagi hati, pada saat menerima cobaan tersebut. menjadi dua, yaitu ada hati yang ketika menerima cobaan, terasuki olehnya sebagaimana bunga karang yang diresapi oleh air. Pada hati tersebut akan timbul sebuah titik hitam. Setiap cobaan yang dibentangkan akan terus meresap padanya, sehingga warnanya menjadi hitam dan posisinya terbalik. Inilah makna sabda beliau “seperti kendi yang terbalik”. Apabila hati menjadi hitam dan terbalik, ia terancam oleh dua penyakit yang berbahaya yang akan mencampakkannya ke dalam kebinasaan:

🖊1. Ia akan kabur dalam melihat makruf dan munkar. Ia tidak mengenal makruf dan tidak menolak munkar. Bisa jadi, penyakit ini semakin parah, sehingga ia meyakini makruf sebagai munkar dan yang munkar sebagai makruf, sunnah sebagai bid‘ah dan bid‘ah sebagai sunnah, serta kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.

🖊2. Ia lebih mengutamakan hawa nafsu daripada ajaran Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.

Ada pula hati yang putih. Cahaya dan pelita-pelita iman memancar dan menyala di dalamnya.

Apabila fitnah dibentangkan kepadanya, ia menolak, sehingga cahaya, pancaran dan kekuatannya semakin bertambah.

Cobaan-cobaan yang dibentangkan pada hati merupakan faktor penyebab sakitnya. Itulah cobaan syahwat dan syubhat, atau al-ghayy dan adh-dhaldl, atau maksiat dan bid'ah, atau kezaliman dan kebodohan.

Cobaan pertama Yaitu fitnah syahwat. Bisa juga disebut al-ghayy, maksiat, atau kezhaliman mengakibatkan rusaknya niat dan kehendak. Sedangkan cobaan kedua Yaitu fitnah syubhat. Bisa pula disebut adh-dhalal, bid'ah, atau kebodohan mengakibatkan rusaknya ilmu dan keyakinan.

Para sahabat Radhiyallahu Anhuma membagi hati menjadi empat, sebagaimana ucapan yang diriwayatkan secara shahih dari Hudzaifah Ibnu Yaman:

```“Hati itu ada empat. Ada hati yang bersih, di dalamnya terdapat pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin. Ada hati yang tertutup, itulah hati orang kafir. Ada hati yang terbalik, itulah hati orang munafik, yang telah mengetahui, tetapi kemudian menolak dan telah melihat, tetapi kemudian buta. Adapula hati yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur keimanan dan kemunafkan. Keadaannya tergantung kepada salah satu dari kedua unsur tersebut yang paling dominan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdullah bin Imam Ahmad. Syaikh Albani berkata: “Hadits ini mauquf shahih)```

Perkataan beliau, *“hati yang bersih”,* maksudnya bersih dari selain Allah dan Rasul-Nya. Jadi, hati tersebut bersih dan terbebas dari selain kebenaran.

*“Di dalamnya terdapat pelita yang menyala”,* yaitu pelita keimanan. Kebersihannya menyiratkan keterbebasannya dari berbagai syubhat kebatilan dan syahwat penyimpangan. Sedangkan adanya pelita menyiratkan kecemerlangan dan kilauannya dengan cahaya ilmu dan iman.

Beliau mengisyaratkan pula bahwa hati yang tertutup adalah hati orang kafir, karena hati tersebut masuk di dalam bungkusnya, sehingga cahaya ilmu dan iman tidak bisa mencapainya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala *“Wa qaluu quluubuna ghulf* (Mereka berkata, “Hati kami tertutup”)Al-Baqarah [2]: 88

*Ghulf* adalah jamak dari aghluf yang artinya sesuatu yang masuk di dalam bungkusnya. Bungkus di sini adalah yang dipasang oleh Allah di hati mereka sebagai hukuman atas penolakan mereka terhadap kebenaran dan kesombongan mereka untuk menerimanya. Bungkus inilah yang juga disebut sebagai akinnah 'penutup-penutup' yang dipasang oleh Allah di hati mereka sebagai hukuman lantaran mereka menolak dan enggan menerima kebenaran karena sombong. Ia adalah penutup yang membungkus hati, sumbatan telinga, kebutaan mata dan dinding penutup yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

```”Apabila kamu membaca Al-Qur'an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding penutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak memahaminya....” (Al-Isra' [ 17]: 45-46)```

Apabila hati semacam ini diingatkan untuk memurnikan tauhid dan mutaba'ah, para pemiliknya akan berpaling menjauh.

Beliau juga menyebutkan hati yang terbalik sebagai isyarat bagi hati orang munafik. Sebagaimana firman Allah: ```“Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka, disebabkan usaha mereka sendiri.” (An-Nisa” [4]: 88)```

Artinya, Allah telah membalikkan dan mengembalikan mereka kepada kebatilan mereka semula, disebabkan oleh usaha dan perbuatan mereka yang batil. Ini adalah hati yang paling buruk. Ia meyakini kebatilan sebagai kebenaran dan mencintai para pelaku kebatilan, sebaliknya menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan memusuhi para pelaku kebenaran tersebut. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Sedangkan yang dimaksudkan beliau dengan *hati yang memiliki dua unsur adalah hati yang di dalamnya terdapat keimanan, akan tetapi pelita keimanan tersebut tidak menyala di dalamnya. Ketundukannya kepada kebenaran yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, tidak murni.* Di dalamnya terdapat unsur tersebut dan unsur kebalikannya. Kadang-kadang ia lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan, tetapi kadang-kadang lebih dekat kepada keimanan daripada kepada kekafiran. Yang menentukan adalah unsur yang paling dominan. Ke situlah ia kembali.

•┈◎❅◎❀🌺❀◎❅◎┈•

✍ *Ighatsatul Lahfan - Ibn Qayyim Al Jauziyyah*

*➡ Repost By*
Rudi Abu azka

*🔍kunjungi my blog:*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🌏https:// abuazkacollection.blogspot.com*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🔍Fanspage :*
*🌏https://www.facebook.com/ibnukatsironline/*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

*Silahkan Bagikan Artikel Ini Dengan Tidak merubah Isi Artikel, Semoga Menjadi Amal Jariyyah*

*وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

0 komentar:

Posting Komentar