Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Obat Penyakit Hati

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 07 Desember 2017 | 17.03

📚 Seri Kajian Kitab Ighatsatul Lahfan - Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan

Bagian 3
*Obat Penyakit Hati*

*Obat Alami dan Syar'i Penyakit Hati*

Penyakit hati ada dua macam. *Pertama*, penyakit yang tidak dirasakan sama sekali oleh pemilik hati itu, misalnya penyakit _jahl_ (kebodohan) dan _syubhat_ (syubhat) atau _syukuuk_ (keraguan).

Sebenarnya, penyakit inilah yang menjadikan si sakit lebih menderita. Tetapi karena kerusakan hati, ia tidak merasakan penderitaan, juga karena kebodohan dan hawa nafsu membuatnya tidak mampu merasakannya. Bagaimana tidak, sedangkan penderitaan itu benar-benar ada, hanya saja ia terhalang darinya, karena disibukkan dengan kebalikannya. Di antara dua macam penyakit hati, penyakit inilah yang lebih berbahaya dan sulit disembuhkan. Yang bisa mengobati adalah para rasul dan pengikut-pengikut mereka. Merekalah dokter penyakit ini.

*Kedua*, penyakit yang bisa langsung dirasakan, seperti kecemasan, kesedihan, kesusahan dan kemarahan. Penyakit ini bisa hilang dengan obat-obat alami, misalnya dengan membuang faktor penyebabnya atau dengan menggunakan kebalikan dan penghilang faktor penyebab tersebut. Hati memang bisa sakit dan menderita disebabkan oleh penyakit dan penderitaan yang menimpa badan, sebagaimana badan seringkali mengalami sakit dan menderita karena penyakit dan penderitaan yang menimpa hati.

Jadi, penyakit hati yang bisa hilang dengan obat-obat alami adalah sejenis penyakit jasmani. Penyakit ini semata, mungkin tidak mengakibatkan seseorang menderita dan disiksa setelah mati. Adapun penyakit hati yang hanya bisa dihilangkan dengan obat - _iman Nabawi_ (yang disebut dengan obat-obat syar'i)  itulah yang menyebabkan seseorang ditimpa kesengsaraan dan siksa yang kekal, jika ia tidak memperoleh obat yang membasminya. Bila memakai obat-obatan tersebut, ia akan memperoleh kesembuhan.

Karena itu, orang Arab biasa mengatakan, _syifaa ghaizhahu_ (Yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “Ia telah menyembuhkan kemarahannya") Apabila seseorang dikalahkan oleh musuh, ia merasa menderita, tetapi ketika telah berhasil melakukan pembalasan, hatinya menjadi sembuh. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan Dia menghilangkan kemarahan hati mereka (orang mukmin). Dan Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
(Surat At-Taubah, Ayat 14-15)

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk memerangi musuh mereka. Allah memberitahu mereka bahwa hal itu mengandung enam faedah.

Jadi, kemarahan itu menyakitkan hati, sedangkan pengobatannya adalah dengan membuangnya. Jika seseorang yang marah mengobati kemarahannya dengan kebenaran, niscaya ia memperoleh kesembuhan Tetapi jika ia mengobati kemarahan itu dengan kezaliman dan kebatilan, niscaya akan bertambah sakit, meskipun ia mengira akan sembuh. Sebagaimana orang yang terkena penyakit asmara, mengobatinya dengan melakukan perbuatan dosa dengan orang yang dicintainya maka hal itu akan memperparah penyakitnya, bahkan akan menimbulkan penyakit lain pada dirinya yang lebih sulit daripada penyakit mabuk cinta, sebagaimana yang akan dijelaskan, insya Allah.

Demikian halnya kesedihan dan kesusahan. Keduanya merupakan penyakit hati. Ia bisa disembuhkan dengan kebalikannya, yaitu kegembiraan. Bila kegembiraan itu diwujudkan dengan sarana kebenaran maka hati akan sembuh dan sehat. Tetapi bila dilakukan dengan menggunakan kebatilan, maka penyakit tersebut hanya tertutup, tetapi tidak hilang, bahkan mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit lain yang lebih sulit dan berbahaya.

Demikian halnya kebodohan. Ia merupakan penyakit yang menjadikan hati menderita. Ada manusia yang mengobatinya dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat. Dengan ilmu-ilmu itu, ia merasa telah sembuh dari penyakit, padahal ilmu-ilmu itu pada hakikatnya justru menambah penyakitnya. Hanya saja, ia disibukkan oleh ilmu-ilmu tersebut, sehingga tidak bisa merasakan penderitaan yang tersembunyi di dalam dirinya, dikarenakan ketidaktahuannya tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat, yang merupakan syarat bagi kesembuhannya. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda mengenai orang-orang bodoh yang berfatwa, sehingga orang yang bertanya mati akibat fatwa mereka:

_"Mereka telah membunuhnya, Allah pasti membinasakan mereka. Mengapakah mereka tidak bertanya jika tidak mengetahui? Karena, obat kebodohan adalah bertanya.”_ (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad, Hakim, Baihaqi, Ibnu Hiban dalam Shahihnya, Ibnu Khuzaimah Daruqutni, Abdurazak, Ibnu Jarud dan Thabrani.)

Dalam hadits di atas, beliau menyebut kebodohan sebagai penyakit yang bisa disembuhkan dengan bertanya kepada orang-orang berilmu.

Demikian halnya orang yang ragu-ragu dan bimbang mengenai sesuatu. Hatinya merasakan penderitaan, sampai ia memperoleh ilmu dan keyakinan. Karena penderitaan ini menimbulkan panas padanya maka orang yang berhasil memperoleh keyakinan dinyatakan dengan _“tsalaja qalbuha”_ (Secara harfiah bisa diartikan “Hatinya telah dingin”) atau
_“hashala lahu bardul yaqin”_ (Secara harfiah bisa diartikan "Ia telah memperoleh dinginnya keyakinan) . Ia juga merasakan kesempitan disebabkan oleh kebodohan dan kesesatannya dari jalan yang lurus, sebaliknya merasakaan kelapangan dengan petunjuk dan ilmu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: _“Barangsiapa Allah kehendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit...”_ (Al-An'am [6]: 125)

Insya Allah, akan ada pembahasan tersendiri mengenai penyakit sempit dada, berikut penyebab dan penyembuhannya.

Yang perlu ditekankan adalah bahwa di antara penyakit-penyakit hati tersebut, ada yang bisa hilang dengan obat-obat alami dan ada pula yang tidak bisa hilang kecuali dengan obat-obat _syar'i imani_. Hati bisa hidup, mati, sakit dan sembuh. Itu semua lebih penting daripada hidup, mati, sakit dan sembuhnya badan. Hanya Allah yang berkuasa mengaruniakan taufik.

•┈◎❅◎❀🌺❀◎❅◎┈•

✍ *Ighatsatul Lahfan - Ibn Qayyim Al Jauziyyah*

*➡ Repost By*
Rudi Abu azka

*🔍kunjungi my blog:*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🌏https:// abuazkacollection.blogspot.com*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🔍Fanspage :*
*🌏https://www.facebook.com/ibnukatsironline/*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

*Silahkan Bagikan Artikel Ini Dengan Tidak merubah Isi Artikel, Semoga Menjadi Amal Jariyyah*

*وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

0 komentar:

Posting Komentar