Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label Jendela Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jendela Keluarga. Tampilkan semua postingan

ANAK DICIPTAKAN DI ATAS FITROH YANG SUCI DAN BAKAT YANG UNIK

Written By Rudianto on Jumat, 08 Desember 2017 | 17.26


PARENTING NABAWI DALAM SURAT LUQMAN

🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Allah berfirman:

خَلَقَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ.
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Inilah ciptaan Allah.
(Luqman : 10 - 11)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Allah telah menciptakan langit, bumi, gunung, samudra, dan semua makhluq Nya dengan sangat Indah dan sempurna. Semua makhluq memiliki karakteristik yang unik dan sifat alami yang indah.

Terlebih penciptaan manusia yang paling sempurna sebagaimana Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (at- Tin:4)

Imam Ibnu A'syur dalam tafsir at Tahrir wat Tanwir menyebutkan bahwa makna sebaik-baik bentuk bukan hanya bentuk fisik semata akan tetapi mencakup kesempurnaan fitroh mereka. Setelah itu beliau berkata:

ولهذا كان الأصل في الناس الخيرَ والعدالة والرشد وحسن النية عند جمهور من الفقهاء والمنحدِّثين .

"Oleh sebab itu asal manusia adalah baik, adil, petunjuk, niat yang bagus. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama fikih dan hadits"

Maka nikmat yang paling agung adalah ketika Allah menciptakan manusia di atas fitroh yang suci dan karakter yang unik, sebagai persiapan untuk mengemban tugas yang sangat mulia yaitu khoolifah di muka bumi.

Kita harus terus menikmati dan mensyukuri karunia yang telah Allah berikan dari fitroh dan bakat yang diinstal dalam diri setiap anak, dan kita jangan sekali-kali merubah dan memalingkan fitroh tersebut karena pasti akan gagal total. Dan tugas orang tua dan guru hanya menjaga, mengawasi, mengasah, dan merangsang supaya fitroh ini tumbuh dan keluar.

🌴 *Fithroh ( الفطرة)*

Fithroh secara bahasa terpecah dari asal kalimat ( فطَرَ الشيءَ يَفْطُرُه فَطْراً فانْفَطَر وفطَّرَه ).
Pecahan kalimat ini dipakai dengan makna yang bermacam- macam, diantaranya:

- Memecah ( الشق ) seperti ayat Syuro : 5
- Menciptakan ( الخلق ) seperti surat Fathir : 1
- Menerima ( القبول ) seperti surat Muzammil: 12.

Sedangkan kalimat fithroh ( الفطرة ) sendiri hanya Allah sebutkan sekali dalam surat ar Rum : 3

🌴 *Allah menciptakan semua manusia dalam kondisi fitroh yang suci dan bakat yang unik*

Allah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (ar Rum:30)

Imam Ibnu Abdil Bar menukilkan ijma' ulama bahwa makna fitroh Allah dalam ayat ini adalah agama islam (at Tamhid : 18/ 72)

Imam Ibnu Katsir berkata : "Sesungguhnya Allah telah memfitrohkan manusia diatas Ma'rifatullah (mengenal Allah), tauhid kepada Nya, dan keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Dia" ( Tafsir:6/320)

Dari Abu Huroiroh, Rosulullah bersabda:

( ما من مولود يولد إلا على الفطرة ، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه )

"Tidak ada anak yang dilahirkan melainkan di atas fitroh, orang tuanya lah yang merubah menjadi yahudi, nasrani, atau majusi" (H.R Bukhori Muslim)

Imam Nawawi setelah menjelaskan panjang lebar tentang khilaf para ulama dalam memahami hadits ini, beliau berkata: " Pendapat yang paling benar dalam makna hadits ini bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi telah disiapkan untuk islam. Maka siapa yang kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya muslim maka anaknya terus menurus di atas islam dalam hukum dunia dan akhiratnya. Tapi jika kedua orang tuanya kafir maka anaknya dihukumi sesuai dengan orang tuanya di dunia".

Imam Ibnu Hajar menukilkan dari imam at Tibby beliau berkata: " Maksud fitroh dalam hadits ini adalah kemampuan manusia untuk menuju hidayah, asal karakter, dan kesiapakan untuk menerima kebenaran. Jika manusia dibiarkan di atas fitrohnya maka ia senantiasa menetapi fitroh (diatas kebaikan) dan tidak akan berpaling darinya krn kebenaran agama islam telah menancap dan terinstal dalam jiwa, akan tetapi yang memalingkan manusia dari agama karena ada penyakit dari pengaruh manusia".

Dari Iyadh bin Himar, Rosulullah bersabda bahwa Allah berfirman:

وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم ، وإنهم أتتهم الشياطين فأضلتهم عن دينهم ، وحرمت عليهم ما أحللت لهم ، وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا
" Aku telah menciptakan hamba Ku semuanya dalam kondisi Hanif, lalu datang syaithon dan menyesatkan mereka dalam agama mereka, syaithon ini mengharamkan bagi mereka apa yang Aku halalkan, dan menyuruh mereka untuk berbuat kesyirikan padahal belum Aku turunkan ilmunya" (H.R Muslim)

🌴 *Para Nabi ditugaskan untuk mengokohkan fitroh bukan merubahnya*

Syaikhul Islam berkata:

« الرسل إنما تأتي بتذكير الفطرة ما هو معلوم لها، وتقويته وإمداده، ونفي المغير للفطرة، فالرسل بعثوا بتقرير الفطرة وتكميلها، لا بتغيير الفطرة وتحويلها، والكمال يحصل بالفطرة المكملة بالشرعة المنزلة ».
"Rosul datang untuk mengingatkan fitroh terhadap perkara yang jelas baginya, untuk menguatkannya, mensuplainya, dan menghalau perkara yang bisa merubah fithroh.
Maka Rosul diutus untuk mengokohkan fitroh dan menyempurnakanyabukan untuk merubah fitroh dan memalingkannya. Kesempurnaan bisa diraih dengan fithroh yang menyempurnakan syariat yang diturunkan" (Majmu' Fatawa: 16/348)

🌴 *Pendidikan terbaik ketika kembali kepada fitroh manusia diciptakan oleh Allah*

Prof. DR Sa'ad bin Ali  asy Syahroni (anggota dewan pengajaran fakultas aqidah di universitas Ummul Quro') berkata: " Jika kita dalam pendidikan kembali kpd konsep alQur'an dengan pemahaman Salafus Sholih kita akan mendapatkan bahwa konsep ini sangat cukup sekali sehingga tidak membutuhkan kurikulum sekolah konvensional dan  filsafat yang sudah menyibukkan kaum muslimin dengan permasalahan yang tidak menumbuhkan keyakinan dan keimanan bahkan bisa melahirkan keraguan, kebimbangan, dan kegoncangan.
Dan yang lebih menyedihkan bahwa materi dan argumentasi konsep pendidikan bid'ah ini senantiasa menjadi rujukan kurikulum pendidikan kita, sehingga kita menyimpang dari metode Qur'an yang Robbani yaitu wahyu ilahi yang Ma'shum dan tidak mungkin diselipi kebatilan dari depan dan belakang" ( I'jazul Qur'an Fi Dalalati Alal Iman : 4 )

🌴 *Pendikan adalah ( in side out ) bukan ( out side in )*

Dari pembahasan ini kita mengetahui bahwa setiap anak diciptakan oleh Allah di atas fitroh yang suci dan potensi yang unik. Dan maksud fitroh adalah berisi keislaman, kebaikan, kekuatan dan potensi untuk menduduki peran peradaban.

Oleh sebab itu kewajiban pendidikan hanya merangsang fitroh, karakter, potensi, dan bakat yang terinstal dalam diri anak ini supaya keluar dan tumbuh yaitu in side out.

Sedangkan sistem pendidikan konvensional sekarang telah menyimpang dari konsep ini dengan mengatakan bahwa fitroh anak adalah kosong bagaikan kertas yang bersih atau botol yang kosong sehingga sistem mendidik adalah menjejali dan mencetak anak sesuai dengan keinginan pendidiknya.

Konsep pendidikan ini diambil dari teori Tabula Rasa, berasal dari bahasa latin yang artinya adalah “kertas kosong”, a blank sheet of paper, merupakan teori yang terlahir dari seorang filosuf di abad 17 dari Inggris bernama John Locke. Sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap anak lahir tanpa membawa bakat pembawaan apa-apa dan siap dibentuk sesuai keinginan orang dewasa yang memberikan warna pada pendidikannya (out side in).

Mari kita kembali kepada konsep pendidikan salaf krn mereka telah menjayakan umat ini. Sebagaimana Mmam Malik berkata
( لن يصلح اخر هذه الامة الا بما صلح به اوله )
"Akhir umat ini tidak akan jaya kecuali dengan sistem yang telah menjayakan generasi pertamanya"

Semoga Allah menjadikan anak didik kita tumbuh di atas fitroh sucinya dan bakat uniknya untuk memberikan manfaat kepada Agama, manusia, dan negara. Amin.

و الله اعلم و صلي الله علي نبينا محمد و اصحابه و من تبعه الي يوم الدين..

Sumber : Grup WA

17.26 | 0 komentar

Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak.

Written By Rudianto on Selasa, 01 Agustus 2017 | 22.53

"Waduh mas, saya pernah lihat anak bapak fulan, kerjanya nonton video band Korea di Youtube,” cerita seorang kawan. Kalau sudah megang gadget, maka seperti tak bisa lepas. Termasuk menyimak channel youtube. Padahal bapak fulan yang dimaksud dikenal sebagai aktifis pengajian. Cerita yang lain ada lagi, ada anak yang terbiasa membentak orang tua termasuk opa dan omanya, bahkan dengan kata-kata kasar.

Persoalan adab atau attitude & manner anak-anak jangan dipandang sepele. Sebagian orang tua ada yang abai terhadap penanaman adab untuk anak, lebih fokus pada kemampuan akademik anak seperti pelajaran sains atau menghafal al-Qur’an. Ada kesan bahwa adab pada anak akan terbentuk dengan sendirinya. Masak iya penghafal al-Qur’an tak punya adab yang mulia?

Kenyataannya adab tak berbanding lurus dengan prestasi akademik seseorang, termasuk dengan hafalan pelajaran agama. Dalam kehidupan orang dewasa kita berulangkali melihat orang yang cerdas dalam pengetahuan Islam semisal menguasai bahasa Arab, hafal al-Qur’an, kuasai tafsir, tapi justru nyeleneh. Menolak syariat dan melecehkannya. Seperti ada seorang anak muda di tanah air yang sejak usia kanak-kanak sudah menjadi seorang hafidz tapi menolak mentah-mentah pelaksanaan syariat Islam dan kewajiban Khilafah Islamiyyah.

Dalam sejarah kita bisa membaca tokoh seperti Hajaj bin Yusuf, gubernur kejam pada masa kekhilafahan Yazid bin Muawiyyah. Sejarah mencatatnya sebagai wali yang zalim dan memusuhi ulama padahal ia adalah murid tabi’in terkemuka, Imam Said bin Musayyab rahimahullah, penghafal al-Qur’an dan tak jarang menangis dalam shalatnya.

Maka jangan abaikan pendidikan adab pada anak-anak kita. Adab bukanlah sesuatu yang alamiah bisa didapat anak ketika mereka menghafal hadits, menghafal al-Qur’an atau belajar fikih. Namun ia perlu pemahaman dan pengkondisian dari kedua orang tua.

Para ulama salaf amat mementingkan penanaman adab pada putra-putri mereka sebelum pengetahuan agama yang lain. Maka para ulama selalu meletakkan adab di awal kajian sebelum menuntut ilmu yang lain. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Adab adalah pembentuk awal kepribadian setelah akidah seorang muslim, sedangkan ilmu adalah jasadnya. Imam Abu Zakariya al-‘Anbariy berkata;

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.”

Para ulama salaf percaya bahwa dari pribadi anak dan remaja yang beradab, maka ilmu agama dan dunia akan mudah untuk diraih. Sebaliknya seorang pelajar yang menguasai ilmu agama dan dunia, tanpa adab, maka ilmu mereka tak akan mendatangkan barakah.

Apa yang bisa orang tua lakukan agar anak-anak kaum muslimin memiliki adab yang luhur?

PERTAMA, setelah menanamkan dan menguatkan keimanan anak pada Allah SWT. dan ajaran Islam maka, tanamkan bahwa Allah Ta’ala mencintai hamba-hambaNya yang berakhlak mulia. Pahamkan mereka kalau seorang muslim beradab luhur seperti berkata sopan, jujur, mendengar nasihat orang tua, mau berbagi, maka akan disayang Allah SWT.

KEDUA, Perlakukan anak-anak dengan akhlak mulia dan penuh kasih sayang. Kurangi kebiasaan memarahi mereka, mencela dan mempermalukan mereka. Panggil mereka dengan panggilan sayang dan pujian semisal ‘soleh’ atau ‘solehah’. Perlakuan orang tua adalah tabungan informasi dan adab pada hati dan pikiran anak-anak.

KETIGA, tegur secara proporsional, jangan berlebih-lebihan, dan perhatikan dulu keadaan mereka. Penting untuk terlebih dulu memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Pada anak pra-baligh mereka belum tahu kalau membentak orang lain tidak baik. Bagi mereka itu respon alamiah. Maka beritahukan pada mereka bagaimana semestinya berkata baik pada orang lain, terutama pada orang tua.

KEEMPAT, jadilah orang tua responsif bukan reaksioner. Yakni peka dengan kebaikan dan juga kesalahan anak. Jangan biarkan anak berlarut-larut melakukan kesalahan seperti memukul kawan, merebut mainan atau makanan, segera respon dengan baik. Beritahu dan cegah untuk terulang lagi. Adab yang kerap dilakukan anak seringkali muncul akibat orang tua tidak responsif terhadap perbuatan anak yang tidak baik. Mereka diam atau menganggapnya wajar. Pahamilah, anak seperti pohon yang akan tumbuh besar. Saat dahannya masih kecil maka mudah untuk dibentuk, tapi saat sudah besar maka amat sulit untuk melakukan hal itu.

KELIMA, jadikan adab yang baik sebagai habit dalam keluarga. Orangtua biasa berkata lembut, tidak membentak, tidak kasar, tidak mencela, senang merangkul, memuji dan mudah memaafkan kesalahan anak. Pembiasaan ini akan membuat anak mudah untuk melakukannya saat mereka dewasa.

KEENAM, banyak berdoa. Allah adalah Maha Pemberi Hidayah, Maha Pembolak-balik hati, sekeras apapun hati manusia amat mudah bagi Allah untuk melunakkannya dan memberinya hidayah. Jangan hanya berdoa agar anak kita pandai dan juara kelas serta mudah menghafal, tapi minta juga pada Allah agar anak-anak kita dihiasi dengan akhlak yang mulia.

(Lebih lengkap tentang artikel ini bisa ayahbunda baca pada buku saya DNA GENERASI PEJUANG, terbitan al-Azhar Press).

By: Iwan Januar

22.53 | 0 komentar

SHALAT SANG PEMBEDA

Written By Rudianto on Rabu, 16 Oktober 2013 | 12.39

Terdengar kumandang iqamah.Jama'ah shalat mengatur shaf. "Sawuushufuufakum fainna taswiyata shufuf
min tamaamissholaah. "(rapikan lah shof-shof kalian, karena rapinya shof- shof adalah
bagian dari kesempurnaan sholat)", imam berucap,menoleh sebentar kearah ma'mum
kemudianbertakbir'Allahu Akbar".

Sekelompok anak yang sudah berada di halaman masjid sejak adzan terlantun, belum
juga tergerak masuk masjid untuk bergabung dengan jama'ah shalat. Mereka tetap asyik
ngobrol.Tanpa beban dan rasa bersalah. Raka'at pertama telah berlalu, raka'at
kedua selesai, hingga duduk tahiyat awal. Ketika jama'ah shalat memasuki raka'at
ketiga atau yang terakhir karena jama'ah itu sedang melaksanakan shalat maghrib, barulah
sekelompok anak itu masuk, mengenakan sarung, merapikan diri dan ikut berjajar
"heboh".Dengan terburu-buru, sebagian mereka menyusul untuk "menyamakan
kedudukan"raka'at jama'ah lain. Sebagian lain ada yang menambah shalat setelah imam
mengucap salam.

Aneh tapi nyata. Prihatin? YA! Mengapa? Karena, kejadian itu tidak hanya dua tiga
kali ditemui, tapi hampir setiap kali shalat berjama'ah di masjid yang dihadiri oleh anak-
anak itu. Mereka pun bukan lagi anak-anak balita yang masih mendapat keringanan.
Mereka, anak-anak yang telah baligh. Mukalaf. Sebagian mereka, bahkan ada juga yang
bersekolah di sekolah berlabel lslam. Anehnya lagi, di antara jama'ah itu ada para ayah anak-
anak tersebut.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana itu bisa  terjadi berulang? Siapa yang salah? Siapa yang
harus bertanggung jawab? Tanggung jawab terbesar, tentulah di
pundak orang tua. Memantau keseharian anak dan kegiatan yang mereka Iakukan,
mengarahkannya dengan baik dan benar.

Terutama masalah SHALAT! Karena shalat adalah amal utama dan sang pembeda.
Lingkungan pun dapat memberi pengaruh. Bila para jama'ah dewasa yang hadir sepakat
mengingatkan anak-anak itu, baik dengan kata-kata atau tindakan. Lambat laun, anak-anak itu
akan mengerti bahwa apa yang mereka lakukan mengganggu dan salah!

Bersegera menyambut panggilan adzan, menutup pintu-pintu syaithan. Tapi, segera
setelah adzan berlalu, syaithan kembali menggoda. Begitu pula ketika iqamah terdengar,
syaithan menyingkir dan datang kembali untuk menggoda ketika iqamah selesai.

Maka, langkah menuju masjid sembari membisik do'a hingga sampainya, kaki kanan
menapak altar baitullah dan mengucap "Allohumaftahlii abwaaba rahmatik" tak lupa
menghatur sembah padaNya dua raka'at, tahiyyatul masjid dan menguntai mutiara pujian
serta permohonan pada sang maha pemberi hingga imam shalat hadir mengawal jama'ah.
Itulah yang seyogyanya dilakukan seorang yang berniat suci menghadiri jama'ah shalat
di masjid.

Shalat adalah ukuran baik dan buruk amal. Melalaikannya adalah melalaikan hak Allah SWT
dan kewajiban seorang hamba. Maka, tanamkanlah selalu urgensi shalat
pada diri anak agar ia tak lupa, meremehkan dan melalaikannya.

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat
bagi orang-orang yang beriman. Dan AKU tidak menciptakan jin dan manusia melain-
kan supaya mereka mengabdi kepada-KU". (At-Thur: 55-56)

12.39 | 0 komentar

Film Keluarga "HAYAT"

Written By Rudianto on Jumat, 20 September 2013 | 08.13

Apa jadinya jika anda seorang pelajar yang sebentar lagi akan menempuh ujian tiba-tiba disibukkan oleh hal lain yang juga tidak boleh ditinggalkan? Apakah anda akan tetap ikut ujian sekolah dan mengabaikan urusan rumah tangga ataukah tetap mematuhi perintah orang tua menjaga adik bayi yang masih kecil dengan konsekuensi tidak mengikuti ujian sekolah? Padahal kedua hal itu sama-sama penting.

hayat1Inilah yang dipikirkan oleh Hayat, seorang gadis kecil yang tiba-tiba saja diserahi tugas mengurus rumah tangga oleh ibunya gara-gara sang ayah mendadak masuk rumah sakit. Padahal hari itu, ada satu yang tak kalah pentingnya yakni mengikuti ujian negara yang menentukan apakah ia akan lulus sekolah atau mengulangnya tahun depan. Sungguh pilihan yang sulit, bukan?

Kisah ini saya ambil dari sebuah film Iran dengan judul yang sama. Sebuah kisah dengan tema sederhana (bahkan terkesan sepele), tetapi sungguh memukai perhatian saya untuk tidak melewatkan setiap adegan yang ditampilkan dalam film yang disutradarai oleh Gholam Reza Ramezani ini. Menyaksikan film ini kita akan dibawa pada suasana capek dan lelah (hehehe…) namun penuh kelucuan yang tidak dibuat-buat.

Alkisah, hari itu adalah hari yang paling sibuk bagi Hayat. Bagaimana tidak, ia harus menghadapi ujian sekolah tetapi tiba-tiba saja ia disuruh menggantikan ibunya mengurus rumah tangga. Padahal ia belum belajar apapun untuk mempersiapkan ujian sekolahnya. Hatinya bergejolak, apakah ia akan bisa mengikuti ujian sekolah hari itu? Namun, semangatnya begitu tinggi untuk tetap mengikuti ujian bagaimanapun caranya. Terlebih lagi ada ucapan salah satu temannya yang mengejek bahwa ia tidak akan lulus sekolah gara-gara tidak mengikuti ujian. Jalan satu-satunya adalah bergerak cepat untuk menyelesaikan tugas rumah tangga yang menumpuk agar bisa mengikuti ujian sekolah.

hayat3Maka mulailah ia untuk mengerjakannya satu persatu: mengambil air dari sumur, memerah susu sapi, mengantarkan susu pada salah seorang tetangga. Semuanya ia jalani sambil tak lepas menjaga si bayi. Tak jarang ia terlibat adu mulut dengan adik keduanya yang agak susah disuruh menjaga adik bungsunya, walaupun akhirnya mau juga (walaupun setengah-setengah). Waktu ujian sekolah hampir tiba. Belajar dari buku sudah tidak akan sempat lagi dilakukan. Namun beruntung Hayat dianugerahi otak yang cerdas. Setiap kejadian yang ia lakukan, ia hubungkan dengan materi pelajaran. Seperti misalnya menghitung jumlah kaleng susu sapi dengan kaidah perkalian. Dari sini, ia sudah belajar pelajaran matematika meski tanpa sadar.

Setelah semua pekerjaan rumah tangga hampir selesai dilakukan dengan sangat berat, tinggal satu permasalahan lagi. Menjaga si adik bayi. Berulang kali ia memohon pada pihak sekolah agar mengizinkanya ujian sambil membawa adik bayinya. Namun, pihak sekolah melarang dengan alasan akan membuat keributan. Mereka menyarankan agar si adik bayi dititipkan. Terlihatlah adegan yang memperlihatkan betapa repotnya Hayat menitipkan adik bayi kepada salah seorang tetangga dan saudaranya. Namun sepertinya mereka sibuk masing-masing. Wal hasil, adik bayi masih tetap dalam gendongannya. Ia terus berpikir keras, bagaimana caranya. Sementara itu waktu terus berjalan mendekati waktu ujian tiba.

hayat2Ia sempet nekat meninggalkan bayi di rumah dalam keadaan terkunci, tetapi akhirnya tidak tega membiarkan adiknya ditinggal sendirian. Sekali lagi, ia meminta pihak sekolah untuk memberinya keringanan tentang hal ini. Namun tetap tidak bisa. Ujian telah dimulai. Semua siswa mengerjakan soal-soalnya masing-masing. Sementara itu, Hayat masih disibukkan memikirkan cara bagaimana menjaga adik sambil tetap mengikuti ujian. Hingga akhirnya sebuah ide muncul seketika yang membuat aku tergelak lucu.

Meskipun telat, akhirnya Hayat pun diperbolehkan mengikuti ujian oleh pengawas. Teman bangku di depannya disuruh menarik sebuah tali yang sengaja dia persiapkan. Ternyata tali itu adalah tali kekang sebuah ayunan yang berisi adik yang ia tempatkan pada halaman belakang sekolah. Sang teman ternyata disuruhnya mengayun bayi. Hehehe… Hebat kan idenya? Semua aman terkendali.

Namun, kejadian ini tidak berlangsung lama. Ternyata adiknya menangis. Hayat pun akhirnya pasrah dengan semua hal yang sudah ia lakukan. Ia merasa lelah menjalani semua dianggapnya sia-sia. Dalam benaknya, ia rela dikeluarkan dari ruang ujian akibat tindakan nekatnya dan mengulang ujian tahun depan. Namun sikap bijak pengawas sekolah akhirnya menyelamatkannya. Si pengawas lah yang akhirnya menjaga si adik bayi agar tidak menangis. Dan hayat pun melanjutkan tugasnya mengerjakan soal-soal ujian sekolah meskipun dengan waktu yang tinggal sedikit. Setidaknya, ia tidak akan mengulangnya tahun depan. Syukurlah, semua bernafas lega…

Huihh… menurutku film ini kereen banget. TOP BGT dah! Bagaimana tidak, sebuah kisah sederhana yang akhirnya membuat saya berfikir lebih jauh. Film ini seakan memberi pesan moral bahwa ujian bukan hanya ada di sekolah, tetapi juga ada dalam kehidupan. Seperti yang dialami Hayat (= artinya ‘Hidup’), ia baru saja menjalani ujian dua kali: ujian sekolah dan ujian di keluarganya. Dengan semangat dan kerja keras yang tinggi, Hayat telah membuktikan bahwa ia pun bisa lulus dari kedua ujian tersebut. Kepasrahan menjadi jalan terakhir yang menyelamatkannya untuk tetap menjadi pemenang setelah gigih berusaha sekuat tenaga. Sungguh, saya sangat terinspirasi. Sebuah kisah sangat sederhana (kalo tidak boleh disebut sepele), tetapi sungguh sangat menggugah. Anda harus nonton!

Sumber Review
08.13 | 2 komentar

Lebih Mulia dari Bidadari Syurga

Written By Rudianto on Kamis, 12 September 2013 | 04.45

Bidadari surga, digambarkan-dalam ayat dan hadist-sebagai sosok yang memiliki kecantikan, kemolekan dan keindahanfisik yang sempurna. Selain itu, bidadari surga juga memiliki sifat-sifat karakter yang baik dan mulia, sehingga berpadulah kecantikan fisik
dan akhlak para bidadari surga. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala, "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik parasnya." (ar-Rahman: 70). Mengenai ayat tersebut, dijelaskan bahwa berkumpullah kecantikan lahir dan batin pada bidadari atau wanita surga itu. (Taisir al-Karimir Rahman hlm. 832)

Allah Ta'ala berfirman, "Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan." (QS. Ar-Rahman: 58). AI-Hasan dan mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan seputih marjan. Allah juga berfirman, "Seakan-akan mereka
adalah telur yang tersimpan dengan baik." (QS. Ash-Shaffat: 49). lbnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Yaitu mutiara-mutiara putih yang tersimpan." (lihal Ad-Dur Al-Mantsuur 8917).

Hal ini menunjukkan bagaimana sempurnanya putih para bidadari, karena putihnya mereka adalah putih yang terjaga dari segala sentuhan. lbarat mutiara-mutiara yang putih yang tersimpan kokoh dalam cangkangnya, terjaga dari segala sentuhan, terjaga dari sinar matahari, terjaga dari segala sesuatu yang bisa merusak kemurniannya dan bersihnya warna putih tersebut. Demikian pula para bidadari, putih tubuh mereka
sempurna.

Saking cantiknya para bidadari surga, sampai-sampai "Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi, serta memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang
harum semerbak. Sungguh kerudung salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Bukhari & Muslim).

Wanita tercantik di dunia ini, sama sekali tak sepadan jika dibandingkan dengan kecantikan para bidadari surga. Namun, secantik-cantik bidadari surga, wanita dunia ternyata bisa lebih mulia dan utama daripada
bidadari surga. Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadist yang berasal dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW ia berkata,Aku bertanya kepada Rasulullah mengenai firman Allah, 'Dan (di dalam surga itu) ada bidadari yang bermata jeli (hurun'in)' (QS. Al-Waaqi' ah:22).

Beliau lalu bersabda, 'Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jelidan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung Nasar.'Aku bertanya Iagi tentang makna ayat, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik' (QS. Al-Waaqi'ah: 23). Beliau pun bersabda, 'Maksudnya, bersihnya mereka seperti bersihnya mutiara yang berada dalam cangkangnya, yang belum pernah tersentuh tangan manusia.'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, beritahu pula aku tentang makna firman Allah, 'Di dalan surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik" (QS. Ar-Rahmaan: 70). Beliau bersabda,
Akhlaknya baik (khairat) dan wajahnya cantik.'

Aku bertanya lagi, 'Terangkan pula tentang firman Allah, 'seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik' (QS. Ash-Shaaffat: 49). Beliau bersabda, 'Kelembutan kulit mereka seperti lembutnya kulit telur bagian dalam yang kamu lihat, yang tertutup oleh cangkang telur.'

Aku bertanya lagi, 'Terangkan pula tentang firman Allah, 'Penuh cinta ('uruban) lagi sebaya umurnya (atraban)' (QS. AI-Waaq i'ah : 37). Beliau bersabda, 'Mereka adalah para wanita yang telah wafat di dunia dalam keadaan tua renta, matanya sudah rabun dan beruban rambutnya. Setelah itu Allah kembali
menciptakan mereka, dan menjadikan mereka perawan lagi.'Uruban artinya penuh cinta dan kasih sayang. Sedangkan atraban bermakna mereka lahir dalam satu waktu (usia mereka semua sama).'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, mana yang lebih utama: wanita dunia atau bidadari?' Beliau menjawab,'Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari, seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang
tidak tampak.'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, mengapa demikian?' Beliau bersabda, 'Karena shalat mereka, puasa mereka, dan ibadah mereka karena Allah. Allah Ta'ala memberi cahaya di wajah mereka. Mereka
mengenakan sutra di tubuhnya. Warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning, pedupan mereka mutiara, dan sisir mereka adalah emas. Mereka mengatakan: kami adalah perempuan-
perempuan abadi yang takkan mati. Kami adalah perempuan-perempuan bahagia yang takkan pernah miskin. Kami adalah perempuan-perempuan penduduk tetap yang takkan pindah selamanya. Ketahuilah, kami adalah perempuan-perempuan yang ridha dan takkan marah selamanya. Berbahagialah
orang yang memiliki kami dan kami menjadi miliknya.'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang menikah dua kali, tiga kali, dan empat kali, kemudian ia wafat dan masuk surga. Sedangkan para suami itu juga masuk surga bersamanya. Lalu, pria mana yang akan menjadi suaminya di surga kelak?' Beliau menjawab, 'Hai Ummu Salamah, nanti dia akan memilih/ mana yang paling baik akhlaknya. Wanita itu nanti akan berkata: "Ya Rabb, laki-laki itu paling baik
akhlaknya kepadaku di antara lainnya saat hidup bersama di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya." Maka, wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat.'" (HR. Ath-Thabrani).

Dengan demikian, sebagai wanita penduduk dunia, kita bisa melampaui kemuliaan dan kehebatan bidadari surga dengan ibadah dan ketakwaan kita. Karena ibadah, ketaatan dan ketakwaanlah yang bisa menjadikan wanita dunia lebih unggul, lebih mulia, lebih utama, bahkan lebih cantik dari bidadari surga. Bahkan, para wanita dunia yang shalehah yang kelak menjadi penghuni surga, akan dinobatkan sebagai sayyidatul
khura' (ratu para bidadari) yang bertahta di istana-istana surga nan mewah.
04.45 | 0 komentar

Muslimah Bersih, Muslimah Rapi, Forever

Written By Rudianto on Senin, 09 September 2013 | 22.07

Muslimah, mestinya terdepan dalam masalah kebersihan. Bersih diri, menjaga kuku jari jemari tangan dan kaki dalam setiap kesempatan, memberi perhatian pada gigi geligi seperti yang disarankan, dua kali dalam
sehari menyikatnya bahkan Rasulullah SAW menganjurkan setiap akan melaksanakan sholat. Rambut juga tak luput dari perhatian. Bukan hanya membasahinya dua hari sekali, karena membasahi rambut atau yang biasa disebut keramas pun ada aturannya, agar hasil yang didapat tak mengecewakan. Memperhatikan bau badan, untuk menjaga wibawa.

Tentu tak ada yang ingin mendengar bisik-bisik, " penampilan sih..islami tapi baunya, dalam radius beberapa meter sudah tercium!?!"(bau disini tentu bau yang kurang sedap). Atau bisikan lain tentang betapa gigi
f ulanah yang " berantakan"("si katan ga' sih?. " ), apalagi bila sampai ketahuan rambutnya ternyata berpenghuni (baca : berkutu) hii...

Mungkin ada yang menyangkal bahwa hal-hal yang tersebut diatas, tak mungkin terjadi pada diri seorang muslimah. Tapi faktanya ..tak perlu menutup mata. Banyak komentar miring tentang kurang pedulinya
muslimah dalam menjaga penampilan. Penampilan bukan sebatas mengoleksi warna baju dari hijau, kuning, kelabu, hingga merah muda dan biru, juga bukan hanya "sibuk" memburu berbagai model dari yang sulam pita, renda, bordir tabur, hingga  bunga-bunga. Tapi, lebih kepada menjaga bagian-bagian tubuh agar tetap bersih terawat seperti yang dibahas dalam materi fiqih sunanulfitroh.

Selain menjaga penampilan diri, keluargapun prioritas utama. Acapkali, bila diamati, anak-anak yang ikut dalam  pertemuan, kuku jari jemari ciliknya panjang dan kotor. Padahal sangat mungkin ia akan
mengambil, memegang dan memakan cemilan yang dibelikan atau dihidangkan dalam pertemuan itu. selain mengganggu pemandangan, dari kuku yang kotor itu juga bisa memberi kesan, bahwa bunda sikecil
kurang memperhatikan khususnya kuku jari tangan sikecil. kalau untuk kuku saja luput perhatian bagaimana dengan yang lain? Bukankah memotong kukunya dikala harus dipotong itu hanya masalah ringan? Muslimah mestinya terdepan dalam masalah kebersihan.

Bersih lingkungan. Menjaga rumahnya tetap bersih. Dari depan hingga belakang. Mulai dari lancar bersihnya selokan rumah, Membuang sampah ditempatnya, mengutamakan kebersihan kamar mandi dan dapur (karena berdasar penelitian dua tempat itulah yang paling banyak kuman dan bakterinya), rutin menjemur bantal dan kasur, mengganti seprai dan sarungnya, dan banyak lagi yang harus dilakukan demi bersihnya
lingkungan tempat tinggal. Jangan sepelekan!

Ketika menghadiri pertemuanpun patut diperhatikan, masalah sampah dan makanan yang bersisa. Bila setiap bunda sigap mengumpulkan sampahnya sendiri dan juga sampah anak-anaknya, tidak membiarkan makanan yang disajikan tercecer dan tersisa,sebab membiarkan makanan sisa terbuang sia-sia adalah mubadzir, tak perlu ada panitia bagian "bersih-bersih". Bila adapun tugasnya jadi ringan, karena setiap yang hadir mengumpulkan dan membuang sampah pada tempatnya, sendiri-sendiri. Tak ada sampah beftebaran, tak ada sisa makanan tertinggal dan terbuang.

Muslimah bersih, muslimah rapi, forever.
22.07 | 2 komentar

NIKMATNYA DI RUMAH

Written By Rudianto on Senin, 19 Agustus 2013 | 21.58

Allah SWT memerintahkan kepada ummahatul mukminin dan juga seluruh muslimah secara umum, untuk menetap di rumah-rumah mereka. Perintah tersebut  memiliki manfaat yang besar bagi kaum wanita dalam berbagai aspeknya. "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunakanlah zakat dan taatilah
Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33)

Lebih Dekat dengan Allah
Menetapnya seorang muslimah di  rumah, menahan diri untuktidak keluyuran dan pergi sesuka hati tanpa keperluan syar'i, merupakan salah satu wujud ketaatan kepada Allah it6 dan Rasul-Nya. Ketaatan
tersebut akan mendatangkan keridhaan Allah !a dan pahala bagi dirinya. Selain itu, menetapnya wanita di dalam rumah memberikan peluang bagi dirinya untuk melakukan aktivitas taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Dengan di rumah ia akan lebih memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukan ibadah-
ibadah nafilah, juga waktu luang untuk mengaji dan mengkaji Al-Qur'an, serta amalan lain yang kemungkinan tidak bisa dan tidak sempat dia lakukan jika ia sibuk beraktivitas di luar.

Persis seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, "Dan saat-saat yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalqh saat ia berada di bagian rumahnya aong paling dalam." (Silsilah Ash-Shahihah, 2588).
Karena itulah, penting untuk mengetahui keutamaan menetapnya wanita di rumah. Bahkan shalat di masjid
yang diganjar dengan pahala 27 deraialt untuk laki-laki, menjadi tidak lebih utama, ketika seorang wanita shalat di rumahnya.

Ummu Hamid, istri Abu Hamid As-Sa'idi, pernah mendatangi Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya senang shalat bersama engkau." Rasulullah SAW bersabda, "Aku tahu kau senang shalat bersamaku.
Tapi shalatmu di dalam rumahmu itu lebih baik daripada shalat di halaman dalam rumahmu. Shalatmu di halaman dalam itu lebih baik daripada shalat di dalam kompleks rumahmu. Shalatmu di kompleks
rumahmu lebih baik daripada shalat dimasjid koummu. Shqlqtmu di mosiid kaum itu lebih baik daripada sholat di masiidku."

Ummu Hamid pun memerintahkan agar dibuatkan tempat shalat di bilik yang paling dalam di rumahnya dan shalat di tempat itu hingga ia wafat. (HR. Ahmad)

Bebas darifitnah

Perintah untuk menetap di dalam rumah dalam ayat yang tersebut di atas, diiringi dengan larangan untuk berhias dan bertingkah laku seperti wanlta jahiliyah. Seorang wanita yang enggan menetap di rumah lantaran hobi hang out dan keluar rumah tanpa alasan syar,i, seakan menjadi alasan untuk berhias agar tampil cantik
dan menarik ketika akan keluar rumah.

Bepergiannya seorang wanita dari rumahnya, akan memicu berbagai fitnah dan kerusakan. Karena Rasulullah SAW telah mengingatkan, ,,Wanita itu aurat. Bila ia keluar dari rumah, setan akan menghiasinya." (HR. Tirmidzi). Dengan menetap di dalam rumah, berarti ia berada dalam sebuah benteng yang kokoh dan penjagaan yang kuat. Jika ia keluar dari rumahnya, hilanglah rasa aman yang dimillkinya seperti halnya ketika ia berada di dalam rumah.

Setan tak perlu bersusah payah mencari umpan, karena wanita yang keluar tersebut telah menjadi umpan sekaligus perangkap ampuh untuk menjebak manusia ke dalam  fitnah dan kerusakan. OIeh karena itu,
Abdullah bin Mas'ud berpesan, "Tahanlah wanita di rumah, karena sesungguhnya wanita itu adalah aurat. apabila ia keluar rumah, setan menatapnya dengan tajam dan berbisik kepadanya, ,Tidaklah engkau melewati seorang pun melainkan ia pasti kagum terhadapmu''.

Setan menghiasi wanita hingga dirinya merasa cantik dan menganggap dirinya seolah tampak menarik di mata lelaki yang melihatnya. Sebaliknya, setan juga memperdayai laki-laki yang dilewatinya agar tergoda oleh si wanita.

Fokus dengan Tanggung Jawab Domestik

Seorang wanita identik dengan tanggung jawab domestik yang berkaitan dengan peran dan tugasnya sebagai istri dan ibu. la bertugas melayani suami dan selalu berusaha mencari keridhaan suami selama tidak bermaksiat kepada Allah. Dengan mengharap ridha-Nya, ia akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk
rumah tangga dan keluarganya, rnengurus dan mengaturnya. Merawat anak-anaknya dan mentarbiyah mereka dengan sebaik-baiknya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan penanggung jawab di rumah.

Keberadaan wanita di rumah akan membuatnya fokus dengan tanggung jawab domestiknya. Fokus dalam melayani suami, karena ia akan lebih memahami apa yang bisa menyenangkan dan membuat nyaman
suaminya ketika sang suami ,berlabuh, di rumah. Menyambutnya ketika ia datang dan berhias untuknya. Merawat diri dan kecantikannya. Juga, always available ketika sang suami membutuhkannya.

Begitu pula dengan anak-anak, ia akan lebih bisa mengonsentrasikan perhatiannya dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, karena ia hadir 24 jam bersama mereka. Sehingga, ia tahu benar bagaimana
tumbuh kembang anak-anaknya secara langsung. Dengan demikian, ia akan lebih cermat dan tanggap dalam melaksanakan tanggung jawab kerumahtanggaan. (Ummu Aman)

21.58 | 0 komentar

Kepadamu Hafidz dan Hafidzhah Al Qur'an

Written By Rudianto on Jumat, 02 Agustus 2013 | 10.18

Betapa bahagia orang tua ketika buah hatinya mampu menghafal Al Qur'an
bukan hanya juz 30 tapi 30 juz. Apalagi bila dilantunkan secara fasih, bersama makna
dan tafsirnya.

lnilah pesan bagi para hafidz dan hafidzah...

Kalam llahi ini adalah harta simpanan yang Allah percayakan dalam dadamu,
dan Allah memudahkan langkah yang telah menjadi pilihanmu, dan ini adalah kemuliaan
yang engkau raih di mana pada hakikatnya adalah tanggung jawab yang dibebankan
pada pundakmu, amanat yang wajib atasmu menunaikannya. Maka selayaknya muliakanlah
AI-Qur'an dalam dadamu dan jagalah dirimu dari penghambaan terhadap dunia.

Juga wajib bagimu untuk melazimi perilaku tawadhu, tenang/ serta berwibawa. Hati-
hatilah dari sifat takabbur tatkala engkau mendengar pujian manusia atasmu. Maka
ketahuilah bahwasannya riya' dapat meluluh-lantakkan amal shalehmu. Bersemangatlah
dalam melaksanakan kebaikan serta jauhilah berbagai macam bentuk maksiat maupun
syubhat.

Berkata Abdullah bin Mas'ud, 'Adalah selayaknya bagi para penghafal Al Qur'an
terbedakan saat malamnya ketika manusia terlelap, tatkala siangnya ketika manusia
berbuka, tatkala sedihnya ketika manusia bergembira, tatkala menangisnya ketika
manusia tertawa, tatkala diamnya ketika man usia banyak bicara, dan dengan
kekhusyuannya ketika manusia lalai"

Dari Fudhail bin 'iyadh rahimahullah: "Pembawa (penghafal Al-Qur'an dalah)
pembawa panji Islam, tidak selayaknya dia bergurau bersama orang-orang yang bergurau,
tidak lupa bersama orang-orang yang lupa,serta tidak banyak cakap bersama orang-orang yang
banyak cakap, sebagai pemuliaan terhadap kebenaran Al Qur'an"

Hal utama yang harus dilakukan oleh penghafal Al-Qur'an adalah
bertakwa kepada Allah dalam semua keadaan, bersikap waro' dalam hal
makan, minum, pakaian,serta perilakunya, tanggap terhadap zaman
dan kerusakan penduduk dunia. Maka dia memperingatkan mereka dalam beragama,
menjaga lisan, terbedakan di dalam bicaranya, sedikit dari berlebihan pada apa-apa yang tak
bermanfaat, sangat takut akan lisannya lebih takut dari pada musuhnya, menjaga diri dari
hawa nafsu yang dapat membuat Allah murka, bergumul dengan Al-Qur'an untuk mendidik
jiwanya.

Bukanlah cita-citanya hanya: Kapan aku mengkhatamkan surat ini? Tapi, kapan aku
merasa cukup hanya dengan Allah bukan selainnya? Kapan aku menjadi orang bertakwa?
Kapan aku menjadi orangyang berbuat ikhsan?
Kapan aku menjadi orang yang bertawakkal?
Kapan aku khusyu dalam beribadah?
Kapan aku bertaubatdari dosa-sosa?
Kapan aku bersyukur
atas segala nikmat?
Kapan aku faham dari apa yang aku baca?
Kapan aku malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya?
Kapan aku mengoreksi diri?
Kapan aku membekali diri untuk kehidupan setelah mati di akhirat kelak?

Seorang mukmin yang berakal tatkala membaca Al-Qur'an maka Al-Qur'an itu
bagaikan cermin di matanya, maka ia merasa peringatan AIlah adalah peringatan bagi
dirinya, ancaman siksa Allah, membuatnya takut. Yang memiliki sifatseperti ini atau paling
tidak dekat dengan sifat tersebut, maka Al-Qur'an akan menjadi saksi serta memberinya
syafa'at. Wallahu Alam bi Shawwab.

(Dinukil dari kitab "Warottilil qur'ana tartiila,
Washoya waTanbihaat fit Tilawati wal Hifdzi wal
Muroja'ati" dengan pengurangandan perubahan sedikit)
10.18 | 0 komentar

Allahumma Shoyyiban Naafi'an

Written By Rudianto on Senin, 24 Juni 2013 | 09.48

Dari sepagi mendung menggantung, angin berdesir. Awan hitanr nreneteskan titik-titik air. Rintik turun perlahan, dan mulai menderas. "Allohumma shoiban naafi'an" 'Ya...Alloh turunkanlah hujan yang bermanfaat untuk manusia, tanaman. dan binatangr".

Musim hujan. Lazimnya enam bulan. Hujan bisa turun seharian atau lebih, tak terkira, tak terbatas karena hujan dibawah kuasa Ilahi.

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hinggaapabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang
tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan
kamu mengambil pelajaran". (AI-Araaf: 57)

Hujan, adalah rahmat dan membawa manfaat. Tanah menyimpan air hujan yang kelak akan digunakan makhluk hidup selama kemarau. Hujan, salah satu jenis air mutlakmaa un thohuurun yang mufakat
dipakai untuk menghilangkan hadast dan membersihkan najis.

Bagi para lbu, musim hujan berarti hari-hari penuh baju yang tak kering. Wira-wiri mengurus baju menumpuk Belum lagi kering cucian kemarin, sudah harus menjemur cucian hari ini. Langganan kata yang biasa terdengar.

Selain cucian, kasur-bantal bisa menambah daftar jemuran. Sikecil yang kedinginan, kerap ngompol. Kasur bantal basah pesing, harus dijemur karena najisnya baru bisa hilang "bittajfiif" (dengan dijemur)
Ada lagi, anak-anak yang sekolah dan pulang kehujanan, padahal seragamnya esok harus dikenakan lagi. Nyuci lagi?

Perut pun mudah keroncongan. lbu harus menyiapkan konsumsi berlipat, lebih dari biasanya. Menu yang tak menarikpun jadi istimewa dikala hujan. Dampak lain, Suasana rumah bisa jadipengap, lembab dan gelap karena baju-baju basah mendadak jadi pajangan. Nyamuk punmeriah beterbangan. Bahkan bila rumah
dekat kebun atau sawah, berbagai serangga rajin berkunjung juga.Bagi mood tubuh yang tak stabil, akan segera terkena flu,mungkin diare, bahkan malaria atau demam berdarah. Naudzu billah min dzaalik.

Untuk ibu, salah satu manfaat musim hujan adalah ujian kesabaran. Seberapa tahan kita mampu menghadapi situasi "penuh basah" ini, hingga kurang lebih enam bulan kedepan dan juga mampu mengatasinya. Membuat suasana rumah tetap nyaman tidak pengap, lembab dan gelap. Karena dapat menimbulkan penyakit. Bersih-bersih, rapi-rapi rumah dan sekitar hal wajib yang harus dikerjakan setiap hari. Memperhatikan asupan pangan seimbang bagi keluarga, agar tak mudah jatuh sakit, jugi sangat penting.

Bersyukur kepada-Nya atas ni'mat yang telah dilimpahkan, harus selalu dilakukan. Terutama bagi kita yang terbebas dari banjir. "Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan
Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih." (lbrahim: 7).
09.48 | 1 komentar

Membentuk Keluarga Islami

Written By Rudianto on Senin, 03 Juni 2013 | 23.08

Bab mengenai pernikahan selalu menarik dan penting untuk dibahas. Bukan hanya karena soal romantisme-nya. Sebab pernikahan bukan hanya tentang bulan madu. Malah, nyatanya, lebih banyak bulan racun daripada bulan madu. Persoalannya, apakah kita punya penawarnya?

Lebih dari itu, pernikahan–menggunakan istilah
Ustadz Anis Matta, adalah peristiwa peradaban. Keputusan pernikahan adalah salah satu keputusan paling penting dalam hidup, jauh lebih penting dari keputusan memilih sekolah terbaik, kampus terbaik, tempat kerja terbaik, dan seterusnya. Karena, sekali lagi, pernikahan adalah peristiwa peradaban. Bukan hanya soal mengubah tatanan demografi masyarakat, tetapi pernikahan membuka pintu untuk
generasi baru, yang bisa jadi, melalui mereka tugas kekhalifahan manusia terlaksana.

Sayangnya, ketika membicarakan pernikahan dan persiapannya, biasanya kita akan berfokus pada dua hal: harta dan mental. Padahal ada satu hal yang sangat penting, yang menjadi kunci kesuksesan
pernikahan, yaitu ilmu. Bukan hanya ilmu mengenai tata cara mengkhitbah atau wawasan ke-Islamandasar, tetapi juga, yang ditekankan dalam bahasan
sederhana ini, ilmu merekayasa dan memelihara sebuah generasi terbaik.

Sumber Daya Manusia (SDM) terbaik sesungguhnya bukan diciptakan di kampus-kampus, sekolah-sekolah, atau institusi lain yang kita sebut “pendidikan”. SDM terbaik lahir dari keluarga. Didikan keluarga adalah pondasi bagi semua pendidikan lain di luar keluarga. Sebuah riset yang dilakukan oleh beberapa departemen di FISIP UI bersama KPK menemukan bahwa para pelaku koruptor (yang telah terbukti bersalah dan ditahan) memiliki masalah sewaktu dibesarkan dalam keluarganya dulu.

Mengenai SDM terbaik, Rasulullah SAW. pernah bersabda:
“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku(sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Salah satu ciri SDM terbaik, jika mengacu pada generasi Rasulullah SAW., adalah usia karakter yang
jauh lebih matang melampaui usia fisiknya. Dan semua ini dihasilkan dari keluarga yang berkualitas.
Sehingga, berbicara visi pernikahan bukanlah sekadar tentang menjadi suami/istri, tetapi juga menjadi ayah/ibu, dan juga tentang mencari ayah/ibu terbaik bagi generasi yang kita lahirkan kelak. Tentang pendidikan anak, kita sering mendengar pepatah Arab, “Ibu adalah madrasah bagi anaknya.”
Pepatah ini benar, namun sebenarnya masih memiliki lanjutan, yaitu “.. dan ayah adalah kepala
sekolahnya.” Maka, pendidikan anak bukan hanya soal ibu dan anak, tetapi bahkan ayahlah yang paling bertanggung jawab atas visi,perencanaan, pelaksanaan juga evaluasi pendidikannya.

Islam sendiri mengangkat tinggi peran ayah dalam pendidikan anak. Dalam Al-Quran, secara keseluruhan ada 17 dialog tentang pengasuhan, yang tersebar diantara 9 surat. Terdapat 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, dan hanya 1 dialog antara guru dan murid. Cukup mengejutkan bukan? Di saat hari ini masyarakat kita menganggap amanah membesarkan anak
“dibebankan” kepada ibu saja, sehingga menyebabkan banyak perempuan menunda-nunda pernikahan dengan alasan ingin mengejar cita-cita, karir, dan lain sebagainya sebelum ia harus berhenti untuk mengurusi anak-anaknya. Paradigma ini juga menimbulkan kecemburuan bagi kelompok perempuan tertentu terhadap kaum laki-laki, sehingga mempertanyakan kesetaraan antara
perempuan dan laki-laki.

Terlepas dari perdebatan mengenai hal tersebut,poin pentingnya adalah perlunya pelurusan paradigma tanggung jawab mendidik anak. Prinsip pendidikan ayah dan ibu adalah saling mengisi, tidak berarti bergantung pada salah satu saja. Namun peran ayah sangat ditinggikan. Seorang bijak pernah
berkata, “Jika ada anak yang durhaka, perhatikan ayahnya.”

Bahkan, tanggung jawab pendidikan anak pada (calon) ayah sudah ada sebelum anak tersebut
tercipta dalam kandungan, yaitu, sebagaimana Umar bin Khatthab pernah berkata, “Hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang shalihah.” sementara dua hak anak lainnya terpenuhi manakala anak tersebut telah lahir, “lalu mengajarkan Al-Qur’an, dan memilihkan nama yang baik.”

Ketika anak berada dalam kandungan, suami memiliki kewajiban untuk menyenangkan istrinya. Seorang ibu yang hamil pada dasarnya hanya memiliki tiga macam aktivitas, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam surah Maryam ketika Maryam mengandung, “

Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu …” (QS. Maryam: 26).

Ada tradisi Islam yang semakin hilang, yaitu tradisi dimana masyarakat ikut menjaga, memudahkan, membantu, dan membahagiakan muslimah yang sedang mengandung, dan ketika kandungannya lahir disambut dengan suka cita sebagai “bayi ummat ini.”

Kita sepatutnya curiga, jangan-jangan di rahim seorang muslimah, terlebih di rahim istri kita, ada
ulama dan mujaddid (pembaharu) yang Allah titipkan, yang kelak akan membawa ummat muslim berdiri tegak memimpin dunia dan mensejahterakan alam.
* *
lanjutan pembahasan ini ditulis oleh Ihsan Baihaqi:
Usia 20 thn-an, kita membentuk keluarga, menikah, punya anak, mendampingi masa balita hingga sekolah dasar. Oh Lucunya mereka….

Usia 30 thn-an, kita menemukan anak-anak ternyata sudah remaja, jatuh cinta, mulai banyak keluar rumah. Oh, Cantik dan gantengnya mereka….

Usia 40-an, mereka menggapai cita, kuliah, makin jauh dr orangtua, berasrama, kost, atau di rumah tapi mereka makin banyak keluar rumah.
Allah, jaga mereka…

Usia 50-an. Kita menemukan mereka semakin jauh dari kita, ingin mandiri, ingin membentuk keluarga sendiri. Lalu mereka hadirkan bayi lagi di pangkuan tangan kita yg mulai keriput.

Lalu kita berkata: “Ya Allah…. Betapa singkatnya hidup ini. Jangan jadikan kami termasuk orang yg sia-siakan kehidupan. Lindungi keluargaku, anak keturunanku dari siksa dunia dan akhirat.”

Kalau begitu…
Usia hidup kita tak berulang kan?
Kalau begitu usia anak kita pun tak berulang kan? Kalau begitu sangat singkat kita mendampingi anak-anak kita kan?

Kalau begitu jangan pernah ridlo
jika anak kita bisa mengenal huruf-huruf Al-Quran, bisa membacanya, bisa mempelajarinya hasil dari tangan orang lain dari outsourcing orang lain

Kalau begitu, cemburu rasanya
jika anak kita hanya mau belajar sama guru di sekolahnya tapi tak mau sama kita otangtuanya

Kalau begitu, harus tdk nyamanlah hati kita jika anak kita disuruh ngerjain PR dengan guru lesnya
bukan dgn kita orangtuanya

Kalau begitu, harus “sakit” hatilah kita jika anak kita menceritakan lawan jenis yang disukainya
pada teman sebangkunya
tapi tidak kepada kita orangtuanya
mengapakah mereka begitu percaya pada temannya, tapi tidak pada kita orangtuanya?

Kalau begitu, saat tubuh kita terbujur kaku jangan marah ya jika anak kita me-outsourcing-kan sholat jenazah hanya pada ustadz dan ustadzah sedangkan mereka sendiri tak bisa bacaannya

Jika tidak, ayolah beri manfaat waktu kita sedikit saja untuk anak kita
Bukan sekadar uang jajanan atau Mainan semata Itu semua penting
Tapi kesungguhan kita jadi orangtua
akan memberikan dampak berbeda untuk anak-anak kita.

Oleh :(Ustadz Bendri Jaisyurrahman)
Alumni Gathering PPSDMS Nurul Fikri, Sabtu 25 Mei 2013
Dinotulensikan oleh @yasirmukhtar, dengan beberapa penyesuaian.
23.08 | 0 komentar

RENUNGAN HIKMAH UNTUK SUAMI SHOLEH


Suami yang soleh sangat bertanggung jawab pada keluarganya
Keluarganya dibawa mencintai dan takutkan Tuhannya
Mereka dididik beribadah dan berakhlak yang mulia
Syariat Tuhannya adalah disiplin di dalam rumah tangganya
Tanggung jawab dunianya tidak diabaikannya
Makan minum pakaian tempat tinggal diuruskannya
Pengajaran, nasihat dan pimpinan adalah kewajibannya yang paling utama
Kasih sayang, timbang rasa (kepada anak-anak dan isteri-isterinya) menjadi budaya
Ulah anak-anak dan isteri-isterinya dia sabar menanggungnya
Dihadapi dengan lemah lembut, tidak mengapa sekali-sekali menghukumnya
Senantiasa mendoakan mereka, berlapang dada amalan hidupnya
Kecewa dan putus asa mendidik tidak ada di dalam sikapnya

Suami yang soleh senantiasa berkhidmat dengan keluarganya
Malah sering bersimpati dengan kesusahan mereka
Urusan Akhirat sangat diutamakannya
Urusan dunia tidak pula diabaikannya, di waktu mereka memerlukannya
Kesalahan anak-anak dan isteri-isteri senantiasa dimaafkannya
Mereka dididik penuh bijaksana dengan penuh sabar & tabahnya
Rukun damai, hidup harmoni senantiasa diusahakannya
Rasa bersama bekerjasama, Tuhan diutama, keluarga bahagia
Begitulah suami yang soleh senantiasa bertanggungjawab kepada keluarga
Karena takutnya dengan Tuhannya dia sangat mengambil berat keluarganya
Anak-anak dan isteri-isteri sangat taat (dan menghormatinya)
karena suaminya berwibawa dan sangat mulia

Wahai suami sholeh…tiada perhiasan yang paling indah didunia ini kecuali istri yang sholehah, maka didiklah istrimu menjadi wanita yang dikatakan Rasulullah itu, agar engkau menjadi suami yang sangat bahagia didunia dan diakhirat. Karena jika istrimu menjadi wanita yang sholehah maka ia akan lebih tau bagaimana cara membahagiakanmu.
Engkau telah menikahinya dan menjadikanya halal bagimu dengan akad sya’ri penuh Islami. Maka berarti engkau telah siap untuk menjaga, melindungi dan mendidiknya dengan pendidikan rabbaniyah Islamiyah.
Semua tanggung jawab telah berada dipunggungmu, maka jangan sia-siakan istrimu dengan membiarkanya begitu saja dirumah tanpa pendidikan yang terarah, sekarang engkau telah menjadi suami sekaligus guru baginya. Pelindung dan penyejuk hatinya. Maka lindungilah istrimu dengan pendidikan nabawiyah Islamiyah.
Seorang suami sholeh akan selalu membahagiakan istrinya, layaknya istri sholehah selalu membahagiakan suaminya, dan merekapun saling membahagiakan, sehingga terciptalah rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Sekarang engkau telah menjadi seorang pemimpin, yaitu pemimpin untuk rumah tanggamu. Maka yang harus engkau lakukan adalah melindungi istri dan anak-anakmu. Jangan mudah melepas tangan untuk menyakiti istrimu, karena dia adalah makhluk Allah yang harus engkau didik dan arahkan dengan baik. Kesalahan yang ia lakukan adalah bukan aib baginya, akan tetapi kekurangan yang harus engkau lengkapi. Dan cara melengkapinya adalah bukan dengan emosi dan kekerasan. Tapi dengan pengarahan dan peringatan yang baik.
Semua itu sudah menjadi petunjuk Rasulmu, jika ia masih mengulang kesalahan itu maka peringatilah dengan penuh lembut sampai ia sadar dan thobat serta kembali kepada Allah. Namun jika masih terulang, maka hukumilah dia dengan cara berpisah tidur dengannya. Dan jika masih terulang maka tidaklah mengapa engkau memukulnya dengan pukulan yang tak membekas luka tapi membekas kesadaran. Semoga Allah merahmati rumah tangga kalian dengan saling memahami antara satu sama lain sehingga terwujud rumah tangga yang Islami sesuai dengan keinginan Allah dan Rasulmu.
Wahai suami sholeh…engkau harus sadar, bahwa dalam rumah tangga kadang terjadi perbedaan antara dirimu dengan istrimu. Baik itu perbedaan sifat, karakter  atau pengetahuan..Maka jangan jadikan perbedaan itu sebagai pemacu permasalah yang menimbulkan pertengkaran dan kerusakan rumah tanggamu. Tapi sikapilah semua perbedaan itu dengan penuh dewasa dan hati yang tenang.
Istrimu bukanlah malaikat, tapi manusia biasa yang banyak kekurangan dan kadang banyak melakukan kesalahan seperti halnya engkau juga manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Jangan banyak menuntut yang diluar kemampuan istrimu. Bantulah dia jika dalam kedaan sulit, sepertihalnya Rasulmu mencontohkan semua itu kepada para istrinya. Berlemah lembutlah dengan istrimu, engkau adalah penyempurna segala kekurangan yang ada dalam dirinya.
Ketika engkau dihadapkan dengan permasalahan yang serius maka jauhilah emosi dan hawa nafsu yang akan menghancurkan rumah tanggamu. Akal yang sehat dan pikiran yang  jernih yang harus engkau kedepankan dalam menghadapi permasalahan itu. Agar semua permasalahan bisa engkau atasi dengan penuh bijak. Keharmonisan rumah tangga yang selalu engkau jaga.
Jika engkau sedang sangat marah pada istrimu dikarenakan ulahnya yang kadang membuat hatimu jengkel, maka ingatlah memori-memori  indahmu selama bersamanya. Ingatlah bagaimana ketika pertama kali engkau semangat  ingin menikahinya, yang kemudian dengan sekuat  tenaga penuh susah payah melamarnya, ingatlah ketika masa-masa indah dibulan madumu. Maka insya Allah rasa marah dan kesalmu akan berganti  bahagia. Haruskah segala pengorbananmu selama ini disia-siakan oleh emosi dan marah sesaat???  Ingatlah, bahwa emosi dan marah memang manusiawi tapi tidak akan menjadi manusiawi jika dituruti sehingga berujung pada kehancuran rumah tanggamu.
Perempuan akan tetap menjadi perempuan, yang mereka memiliki sifat lemah dan mudah cemburu. Maka tanamkanlah kepercayaan dia padamu.  Dengan cara engkau selalu melindungi diri dari hal-hal yang menjadikan dirimu sendiri hina. Selingkuh itu adalah haram, istrimu yang sholehah selalu setia menunggumu dirumah, maka janganlah lagi engkau cari kenikmatan sesaat diluar sana. Karena wanita diluar sana umpa makanan busuk yang menimbulkan penyakit bagimu. Sedangkan istri sholehahmu dirumah adalah makanan segar yang akan menyegarkan  jiwa dan ragamu.
Jangan bebani istrimu dengan pekerjaan yang berat. Mencari rizki adalah kewajibanmu. Lindungi istrimu dari fitnah zaman. Jangan biarkan dia keluar rumah kecuali semua tubuhnya terbungkus rapi, kecuali kedua bola matanya. Karena semua itu untuk menghindari fitnah yang akan menimpa istrimu. Tidak berhak laki-laki yang bukan mahramnya memandang wajahnya. Maka lindungilah dia dari segala fitnah itu. Engkau adalah pempin baginya, yang dimana semua itu akan diminta pertanggung jawabanmu dihadapan Allah nanti.
semoga engkau yang membaca ini menjadi suami hanya untuk istrimu...dalam arti, engkau selalu berusaha menjadi suami sholeh yang tidak mudah tergoda dengan wanita selain istrimu. suami yg selalu menjaga kehormatan keluarga, yg selalu beribadah pada allah dan sayang pada istri.

Amin Yaa Rabbal 'Alamin


Sumber
22.27 | 0 komentar

LAYU

Written By Rudianto on Minggu, 24 Maret 2013 | 21.28

Janganlah engkau layu jika cinta fana menipumu,
Janganlah engkau layu andai jodoh belum menyapamu,

***

Dewasa ini banyak muda mudi merasa rendah diri, stres dan gejolak rasa ingin memiliki menjadikan mereka berusaha memenangi hati dalam memiliki seseorang tanpa mengenal halal dan haram. Yang penting dapat.

Pilu hati melihat remaja yang merana karena cinta. Mereka merasakan perihnya pinangan cinta dusta, tetapai tidak mampu mengarahkan diri mencari cinta hakiki. Tak segan lagi diperhambakan untuk menagih cinta sementara hingga sanggup berkonflik dengan pencipta cinta. Semua batas-Nya di langgar, tak kenal dosa dan pahala.

Benar bahwa lelakilah yang memulakan langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila wanita tidak setuju, lelaki itu tidak akan berani.

Cinta sebelm menikah itu hanya menjerumus ke lembah dosa dan zina. Jika mampu bertahan ke jenjang pelamin sekalipun bahwa rumahtangga itu takkan berkah.

Apa tidaknya, asasnya di bina dari dosa dan maksiat. Mana mungkin dapat menegakkan tiang takwa yang utuh kecuali dengan taubat.

Rumahtangga akan menjadi tawar dan hambar. Semuanya sudah di rasa dan terbiasa, hendakkan rasa nikmatnya apalagi ? Anak-anaklah yang akan menjadi mangsa. Terimalah ia sebagai hukuman di dunia. Amat pedih. Namun, terlalu sedikit berbanding pedihnya hukuman abadi di negeri sana.

Bagi yang belum berpunya, Andalah pilihan Allah untuk mekar terpelihara sehingga tiba pula giliran anda mendapat seruan. Yakinlah ! Jangan risau jika masih belum berpunya karena mungkin Allah ingin bagi ketenangan dulu, untuk terus melangkah menggapai cita-cita.

Begitu juga buat pemuda yang belum berpunya, utamakan yang lebih penting daripada apa yang penting. kenali prioritas. Jika memang sudah sampai saat ingin memiliki, pastilah waktunya akan tiba, berusaha, jika memang sudah betul-betul mampu dan bersedia.

Memiliki seorang isteri solehah ibarat memiliki dunia dan seisinya, sudah tentu jalan untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa amat berliku dan banyak tantangan. Berusaha memperbaiki diri dan sebaik-baiknya gunakan orang perantaraan untuk lebih menjaga warak dan iman jika menghendakinya untuk menikahi.

Seringkali, seseorang mencari kekasih ibarat dia mendaki gunung yang tinggi. Pepohon berduri sanggup di redah, curam dan jurang sabar ditempuh. Namun apabila dia memilikinya, di dapati insan yang di kejar itu cuma dedaunan kering. Begitulah perumpamaan sia-sia usaha yang tak di salur dengan suluhan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah.

Urusan jodoh tak kemana. Sudah tercatat di lauh mahfudz, pasti. Apa yang tak pasti adalah adakah kita mendapatkannya secara mulia atau sebaliknya.

Sahabat ...
Janganlah engkau layu .. Jika kau terpisah dengan cinta manusia yang palsu. Berarti Allah inginkan kau kembali, Allah yang akan menjaga mu .. Jangan layu !!!
21.28 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung