Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label wawasan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawasan Islam. Tampilkan semua postingan

Memahami Politik

Written By Rudianto on Kamis, 31 Januari 2013 | 16.10

Dahulu pernah sebagian orang memahami makna politik itu jahat dan kotor.Tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak lagi ditemukan istilah jahat dan kotor . Yang ada 3 makna (1) Ilmu pengetahuan mengenai ketata negaraan (2) Segala urusan dan tindakan, misalnya kebijakan, siasat, dsb. (3) Kebijakan dan cara bertindak menghadapi suatu masalah, termasuk masalah perdagangan (h.694).

Dengan melihat pengertian yang baru tersebut, tergambar derngan jelas bahwa istilah “ busuk “ itu, tidak ditemukan. Kemungkinan jika ada, hal itu karena kebijakan seorang politikus dalam sesuatu. Semisal meniru ala Machiavelis yang menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan. Dusta, sogok menyogok dan korupsi.Kalau salah dari tiga itu dilakukan, pastilah terdapat ada ke -busuk- an yang tercium dalam masyarakat. Kalau kebijakan “ busuk “ menjadi syarat, maka bukan hanya politikus yang berbuat seperti itu, tapi termasuk sebagian instutusi semacam perguruan tinggi negeri atau perusahaan negara juga melakukan. Sehingga istilah KKN yang menjadi ciri perjuangan reformasi, dilakukan dengan terang-terangan oleh lembaga negara.Misalnya hanya famili atau kelompoknya yang dapat menguasai lembaga yang dipimpinnya turun tenmmurun.

Namun kita tidak ingkari, bahwa akhir-akhir ini sesuai pemberitaan media massa, kebusukan sebagian kalangan eksekutif, yudikatif dan legislatif, terasa baunya dimana-mana. Akibatnya, konotasi busuk bagi politikus kembali menjelma, sekalipun tidak ditemukan lagi dalam Kamus Besar. Hal itu lebih diperburuk karena sebagian caleg-caleg baru, bermunculan menggunakan ijazah palsu, salinan kartu penduduk orang yang sudah meninggal dan penggunaan politik uang, dalam mencapai tujuan, padahal baru mau dipilih.(Atagfirullah !).

Makna politik :Sekalipun dalam Kamus Besar tidak terlihat lagi ada makna jelek atau busuk, namun sesuai kenyataan diatas, maka banyak pemain politik atau penguasa dan penegak hukum memperlihatkan kebusukan dirinya dalam masyarakat.

Sekedar untuk menyegarkan pemikiran, pendapat pakar politik memang bervariasi. Dalam buku Ilmu Politik karya I.K.Syafiie dikatakan, jika sarjana hukum menulis tentang politik, maka yang bersangkutan akan mengaitkan dengan berbagai peraturan, jika ia seorang administrator, maka ia akan menyuguhkan bagaimana pelayanan, sedang jika ia seorang politikus, maka perhatiannya adalah kekuasaan.

Untuk mematok mana pemerintahan dan politikus yang jelek (busuk) dan baik (harum) keputusan penilaian, adalah kitab suci Al-Qur’anlah yang berasal dari Tuhan,paling tepat.Apalagi Muhammad SAW, pembawa Al-Quran, disebut penyempurna semua akhlak yang ada (Liutammima Makarim al-Akhlaq). Demikian cara menghentikannya.

Politik dalam Bahasa Arab disebut Siyasah (strategi).Dalam Bahasa Inggeris disebut Politicks (cerdik atau bijaksana). Para ahli politik sangat sulit memberikan defenisi yang tepat, diantaranya :

(1) The study of the formation, forms and prosesses of the states and governments, maksudnya ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari asal mula, bentuk-bentuk, proses negara-negara dan pemerintahan (Wilbur White,1947).

(2) Ilmu politik menyelidiki negara dalam keadaan bergerak (Adolf Grabowsky).

(3) Politik berasal dari kata “Polis” yang berarti “ Negara kota”. Diartikan, hubungan khusus antar manusia yang disebut kekuasaan (Robert Dahl).

Dari tiga pakar politik diatas, penulis condong memahami bahwa politik yang berarti Siyasah, adalah strategi dan kebijakan, yang dilakukan seorang Pemimpin (istilah agamanya Imam, Khalifah, Amir, Sultan, Wali, atau Mulk (Raja) atau Rais (Presiden) dalam mengatur negara /masyarakat, baik pemerintahan atau kemiliteran atau dakwah).

Jika pengertian itu yang dipahami, maka betapa banyaknya yang dapat dijumpai kisahnya dalam Al-Quran. Demikian praktek Nabi-nabi, Khalifah dan pemerintahan Islam.

Syarat-syarat Negara:Dalam Ilmu Politik syarat pokok berdirinya suatu negara, ada 4 :

1.Adanya pemerintah.

2.Adanya wilayah.

3.Adanya warga negara.

4.Adanya pengakuan.

Pemerintah atau penguasa adalah syarat mutlak berdirinya suatu negara. Dan pada vigur penguasa itulah lahir semua kebijakan yang terencana yang namanya eksekutif. Sejak dari dahulu tokoh agama, banyak yang berhadapan keberutalan penguasa. Atau tokoh agama itu sendiri yang berubah menjadi pemimpin, setelah melalui ujian berat. Dalam agama Kristen misalnya dikenal pemerintah Pontius Pilatus memerintahkan agar Yesus Kristus disalibkan. Dalam agama Yahudi yang dibawa Nabi Musa menentang pemerintahan Fir’aun, akhirnya diusir bersama pengikutnya, melaksanakan pengembaraan (eksodus) besar-besaran. Dalam agama Islam dikenal Nabi Muhammad sebagai Rasul, juga menjadi pemimpin umat yang beragama Islam, Yahudi dan Nasrani di Medinah, yang melahirkan “Piagam Madinah” setelah 13 tahun berhadapan pemerintahan biadab kaum Musyrikin/Jahiliyah di Mekah.Kemudian dilanjutkan oleh Khalifah al-Rasyidin dan sebagian kerajaan Islam. Sistem terakhir, ada yang baik dan ada yang jelek, karena terjangkiti pengaruh nepotisme.

Sistem politik Amerika :Menurut IK Syafiie, dalam Ilmu Politik, bahwa Rudal yang dibuat itu bukan untuk membunuh binatang, tapi dibuat untuk menghancurkan manusia dan gedung-gedung. Jadi untuk itu Konglomerat Amerika menghendaki agar perang tetap ada, agar manusia tertentu bertekuk lutut.Uni Sovyet seteru nomer satu Amerika hanya tinggal dalam peta sejarah saja.Bersamaan jatuhnya negeri-negeri komunis di Eropah Barat, Uni Sovyet perlahan-lahan ambruk pula.

Bukan rahasia lagi bahwa Yahudi memiliki lobby yang kuat di pemerintahan Amerika Serikat, menyebabkan Amerika tunduk kepada negara kecil ini.

Fakta yang kita sudah lihat, adanya program penghancuran bangsa Palestina tidak terhalang. Demikian Afganistan dan Irak, dengan berbagai dalih yang tidak rasional, terlihat kompak. Maka wajarlah Pemimpin bangsa kita, didepan Kongres Inteleketual Islam se dunia baru-baru ini, menilai adanya ketidak adilan negara adidaya terhadap negeri muslim

Sejalan pula yang dikatakan tokoh-tokoh yang lain bahwa politik Amerika Serikat menanamkan kepada masyarakatnya bahwa tujuan politik Amerika untuk kesejahteraan umum, penegak demokrasi dan HAM serta kedamaian dunia. Tapi apa yang terjadi, justru sebaliknya, Amerika sendiri penginjak-injak demokrasi dan HAM kelas kakap dunia. Inilah yang namanya Politikus busuk, yang menghalalkan segala cara.

Islam & Kenegaraan :Menurut DR.Khalid Ibrahim Jindan, yang mengutip pendapat Ibnu Taimiyah bahwa sunnah atau hadis Nabi memberikan argumen rasional, betapa perlunya ada kepemimpinan dan kenegaraan. Diantaranya : “Bila ada tiga orang melakukan perjalanan, maka selayaknya seorang diantaranya, ada yang menjadi pimpinan “.Selanjutnya :” Enam puluh tahun berada didalam pemerintahan tirani, lebih baik dari pada satu malam tanpa pemerintahan “(Al-Siyasah,1951:174).

Dari dua hadis yang banyak dijiwai isi Al-Quran, tentang perlunya ada “Imamah ” dari rasul-rasul, dapat dipahami, peran politik itu disadari sebagai tugas agama dan kedamaian masyarakat, sekaligus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena dengan sendirinya, diyakini akan lebih mudah mengatur pembagian zakat, penegakkan keadilan, pelaksanaan syari’at, yang akan mengantar lahirnya negara “Baldatuh Tthayibah Warabbun ghafur” (pemerintahan yang adil makmur, damai yang diridhai Allah).

Dalam menegakkan keadilan dan menghentikan kemungkinan adanya praktek kebusukkan maka “amar makruf dan nahi mungkar” harus berfungsi maksimal agar mampu menuju masyarakat tauhid, yang mengakui hanya satu Tuhan, tempat mengabdi sebagai sistem utama (Liya’budun).

Hal itu diproyeksikan dalam setiap awal salat, dengan bacaan “ Bahwa hidup matiku, semuanya untuk Allah semata “. Sedang larangan korup, juga diperingati agar dalam salat “Orang yang suka menyalahi Imam (korup sujud dan ruku’nya) akan dibangkitkan mukanya menjadi muka himar “(HR.Bukhari).

Mengenai penyebab utama timbulnya politikus busuk, jika dalam dirinya telah terkontaminasi kegilaan mencintai dunia (khususnya harta) berlebihan. Istilahnya “Hubbuddun-ya ”(tergila-gila kepada dunia terutama harta untuk turunan ). Pernah dikemukakan Rasul “Jika perutnya dipenuhi emas, niscaya masih mencari lagi perut (untuk dipenuhi), padahal yang akan memenuhi perutnya nanti, adalah tanah (HR.Bukhari).

Akhirnya, cara menghentikan tuduhan politik busuk yang kini marak diperbincangkan masyarakat, yang bagaimanapun disembunyikan, akhirnya berbau juga. tiada lain kecuali bertobat dan bertekad melaksanakan hakikat hijrah, “Menghentikan sifat serakah, kebiasaan berbohong, dan korup dalam salat”. Seorang sufi berkata, jika induk dosa yakni sifat serakah harta dan berbohong menjadi pembalut diri seseorang, maka dosa-dosa lain pasti menyusul dikerjakannya, laksana seekor induk sapi yang menyeberang jalan, anak sapinya pasti menyusul dibelakang induknya, tanpa memperhitungkan kendaraan maut yang akan menabraknya.
16.10 | 0 komentar

Tergelincirnya Ulama

Written By Rudianto on Rabu, 29 Agustus 2012 | 09.38

Tergelincirnya ulama: jika dia mendapat petunjuk maka jangan jadikan dien kalian taqlid padanya. Jika dia terfitnah maka janganlah kalian putus harapan kalian darinya, karena sesungguhnya orang mukmin itu terfitnah
kemudian bertobat. Ulama yang sholih, yang luas pandangannya, lagi mendapat petunjuk, sekali tergelincir maka akan menjadi fitnah (ujian).

Imam Ibnu Taimiyah mengingatkan bahaya tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik, dan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan, dengan mengemukakan atsar dari Umar dan Abu Darda’. Ziyad bin Hudhair berkata, Umar telah berkata: Tiga perkara yang merusak agama adalah tergelincirnya orang alim (ulama),
bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an, dan pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang menyesatkan.

Al-Hasan berkata, telah berkata Abu Darda’: “Sesungguhnya di antara hal yang aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah tergelincirnya orang alim (ulama), dan bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an... (Ibnu
Taimiyyah, al-Fatawa Al-Kubro, juz 9 halaman 108).

Dari Ziyad bin Hudhair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang  menghancurkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: yang menghancurkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan hukum (keputusan) pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad:
isnadnya –pertalian riwayatnya—shahih).

Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah menegaskan: Oleh karena itu dikatakan: Awas hati-hati (hindarilah)  tergelincirnya orang alim (ulama), karena sesungguhnya ketika ia tergelincir maka tergelincirlah dunia karena tergelincirnya (ulama itu). (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz 4 halaman 296).
***
Lalu bagaimana keadaannya ketika ulama menjadi corong para penguasa durjana, menjadi lisan yang berbicara dengan nama mereka, menjual fatwa dengan kenikmatan dunia dan memberikan ilmu pada orang yang memegang pedang dan emas?

Dia tidak memiliki keinginan kecuali membenarkan perbuatan para penguasa yang telah memenuhi segala kebutuhan hawa nafsunya? Dan memoles hukum dan kekuasaan mereka dengan dalil syar’i. Sementara lisan
mereka sangat tajam menyerang para ulama amilin, ulama mukhlisin, aktifis dan pejuang, mujahidin muwahhidin, yang bersungguh sungguh hendak menegakkan kalimahNya dimuka bumi?

Dia tidak menemukan satu celah kecuali dia luaskan dan tidak pula satu retak kecuali menyebarkannya. Bagaimana keadaan pada hari itu? Lalu akan seperti apa keadaan umat? Kalangan awam mereka telah dipenggal lehernya oleh dunia, selalu berusaha mendapatkannya padahal mereka sudah banyak memilikinya. Para ulama suu' dan syaikh-syaikh mereka memalsukan dienullah ta’ala?

Bagaimana seseorang bisa selamat kala syubhat-syubhat telah merata di setiap lembah?
Musuh-musuh kebenaran dari segala penjuru? Orang Islam yang komitmen dengan keislamannya. Bersungguh sungguh dalam memegang ajaran Islam. Dan terus berupaya melaksanakan kewajibannya dalam menegakkan  dienullah. Bersama dengan penguasa para ulama suu’ itu seringkali menghantam mereka dengan berbagai cara.

Kadang-kadang para ulama suu’ mendatangi dari pintu takwa. Kadang-kadang dari pintu taklid pada beberapa orang. Siapa ulama kalian? Siapa yang menyertai kalian dalam urusan ini? Siapa dari syaikh-syaikh dunia yang menguatkan kalian di atas hal ini? Jika cara-cara ini tidak berhasil maka mereka menakut-nakuti dengan kesempitan hidup di dunia, hilangnya orang-orang yang dicintai, hilangnya harta benda, pengawasan intel-intel, atau terbongkarnya rahasia. Di hadapan semua ini, bagaimana seseorang bisa selamat?
***
Salah seorang mereka berkata: Aku duduk bersama seorang laki-laki yang aku kira dia orang yang baik dalam membantu orang orang yang berjuang menegakkan hukum Allah. Aku terus duduk bersamanya sampai dia mulai lepas dari membantu dan menguatkan mereka. Dia menyebut-nyebut beberapa aib dan kesalahan -menurut anggapannya-. Lalu aku berbicara padanya, maka dia tidak mendapati selain
ucapannya yang dia arahkan pada wajahku: “Hati-hati engkau dari fanatik jamaah!”
***
Tuduhan ta’assub, fanatik, ekstrim, ekslusiv dan sejenisnya adalah tembakan peluru yang tidak asing bagi orang orang Islam yang hendak menegakkan kalimatullah di muka bumi. Istilah-istilah al-haq digunakan melawan untuk memalingkan dari al-haq? Sungguh benar Ali radhiallahu ‘anhu –ketika tahkim al-Qur’an
menuntutnya–, dia mengatakan: Kata-kata al-haq, tapi diinginkan dengan kata-kata itu kebatilan.
Bantahan syubhat tentang mujahidin – menurut orang-orang pandainya– telah dianggap fanatik. Tetap teguh (tsabat) di atas al-haq dan tidak berubah-ubah dianggap fanatik.
***
Adapun seseorang yang tsabat di atas dunia yang menyibukkannya dan memenggal lehernya, seseorang tsabat pada penguasa, tsabat pada hukum buatan manusia, tsabat pada partainya, tsabat pada marga dan keluarganya, tsabat di atas persahabatan dengan ahlul bid’ah dari kalangan para penganut agama demokrasi,
dan tsabat di atas persahabatannya dengan ahlul bid’ah dari segala penjuru, tidak disebut fanatik.

Pada kacamata penguasa dan ulama suu' itu, orang yang mati-matian menyebarluaskan liberalisme, pluralisme, dan berbagai isme isme lain yang nyata nyata telah meruntuhkan akhlak dan moral bangsa, menimbulkan berbagai kekacauan, keresahan dan kejahatan tidak disebut fanatik, ekstrim dll sebagaimana
dituduhkan pada para pejuang dan penegak kalimatullah.

Mencabik cabik ajaran Quran dan sunnah yang murni dan penyelewengan atasnya, disebut sebagai keterbukaan berpikir, kebebebasan, intelek dan berpikiran cemerlang!
Wal ‘iyadzubillah. Allahumma sallimna.

09.38 | 0 komentar

Tanggapan Untuk Pihak Yang Kontra Sinetron Omar (Umar bin Khattab)

Written By Rudianto on Rabu, 22 Agustus 2012 | 20.10


Ramadhan baru berlalu. Apabila anda memperhatikan dengan teliti, selama Ramadhan kemarin ada sebuah stasiun televisi yg menayangkan acara ‘sinetron’ dengan judul “Omar”. Omar yg dimaksud di sini adalah Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Rasululloh SAW yg menjadi khalifah ke-2 usai Abu Bakar Shiddiq, usai wafatnya Rasululloh SAW.
Saya, terus terang, tidak mengikuti dari awal. Hanya sempat melihat beberapa adegan saja. Hal ini dikarenakan istri saya lebih suka menonton “Para Pencari Tuhan”. Namun, saya melihat sinetron ini sebagai tayangan alternatif selain PPT.
Dari beberapa teman, saya dapatkan info bahwa sinetron Omar ini sangat bagus ceritanya. Terutama untuk mengenal lebih dekat sahabat Umar, seorang pemimpin yg barangkali sudah jarang kita temui (atau malah tidak ada). Karenanya saya merasa pemimpin seperti inilah yg dibutuhkan kaum muslim sekarang, bukan sekedar agamanya saja yg Islam tapi kelakuannya korup. ;-(
Tapi, tak dinyana, saya temukan juga komentar yg mengecam dan tidak menyetujui sinetron Omar ini. Beberapa alasannya:
1. Memvisualisasikan sahabat.
2. Sinetron ini dikhawatirkan akan merembet ke sinetron lain dg tema yg (dinilai) lebih membahayakan, seperti sinetron Nabi&Rasul yg lain, yg ujung2nya akan mengarah ke sinetron ttg Rasululloh SAW.
3. Adegan2 jahiliyah dalam sinetron dikhawatirkan akan ditiru.
4. Adanya maksiat dalam sinetron tersebut.
5. Para aktor dan artis memerankan adegan maksiat/jahiliyah dalam sinetron tersebut, merupakan tindakan yg maksiat juga. Bahkan bisa menjurus ke kafir.
6. Penafsiran penonton yg salah terhadap visualisasi para sahabat (seperti masalah jenggot, dsb).
Tanpa mengurangi rasa hormat dan kekhawatiran yg dirasakan oleh orang2 yg mengecam dn kontra dg sinetron Omar ini, saya justru melihat kebalikannya (dari sudut pandang yg berbeda).
1. Tidak ada larangan memvisualisasikan sahabat. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada larangan untuk memvisualisasikan sahabat dalam bentuk apapun. Bahkan kita bisa melihat visualisasi wajah Ali bin Abi Thalib. Bahkan saya juga sering melihat ‘wajah’ Ali bin Abi Thalib diperjual belikan di beberapa toko buku.
Untuk sahabat yg lain, terus terang saya jarang melihat gambar mereka.
Jika memang sahabat dilarang untuk divisualisasikan, maka seharusnya film Ar Risalah juga dilarang, karena di sana ada banyak visualisasi. Hamzah, paman Nabi, lalu Khalid bin Walid, Bilal juga diperlihatkan di sana. Jadi, alasan visualisasi sahabat, menurut hemat saya, tidak cukup kuat utk melarang sinetron Umar.
Saya malah berpikir, jika visualisasi sahabat dilarang, maka adegan Khalid bin Walid berperang melawan kaum kafir akan menjadi ‘berlebihan’, karena yg terlihat adalah bayangan Khalid menebas dan membunuh musuh2nya. Jangan2 nanti anak-anak berpikir Khalid bin Walid seperti Satria Baja Hitam atau ninja karena bisa membunuh musuhnya dg bayangan saja? Heheheh.. :-)
2. Alasan kedua ini juga terlalu lebay (istilah jaman sekarang untuk hal2 yg terlalu berlebihan tanpa ada dasar yg jelas). Jika sutradaranya benar2 Islami, maka dia tidak akan sembarangan untuk membuat sinetron2 terkait Nabi dan Rasul, apalagi Rasululloh SAW. Hal yg sama, seperti saya tulis di poin 1, film Ar Risalah juga mestinya dilarang, karena menceritakan kehidupan Rasululloh SAW. ;-)
3. Kenapa mesti mengkhawatirkan orang2 akan meniru adegan2 jahiliyah yg ada di sinetron? Tanpa melihat saja, kita sudah bisa melihat begitu banyak adegan jahiliyah yg dilakukan. Betapa banyak orang menyembah berhala2 modern, berupa uang, jabatan, dan hal2 lainnya. Orang2 jaman sekarang, saya yakin, insya ALLOH lebih cerdas. Mereka tidak akan sembarangan meniru, apalagi hal2 yg jelek.
Justru yg mestinya lebih diperhatikan adalah adegan2 di sinetron2 yg ditayangkan di stasiun2 televisi Indonesia. Adegan jahiliyah yg ditayangkan justru lebih mengerikan dan membahayakan daripada adegan jahiliyah di sinetron Omar. ;-)
4. Sama seperti poin 3, saya melihat adegan2 maksiat di sinetron Omar justru merupakan REALITA di jaman jahiliyah. Justru yg mesti dipikir bahwa Islam menghapus dan melarang tindakan2 jahiliyah dan maksiat. Ini kok malah berpikir sebaliknya? ;-)
5. Namanya juga akting. Selama para aktor dan artis (yg beragama Islam) memang tidak benar2 melakukan adegan maksiat/jahiliyah dalam kehidupan sehari2, ya tidak masalah. Lagipula, adegan mabuk misalnya, ya tidak perlu dg benar2 minum minuman alkohol atau minuman yg memabukkan kan?
Jika yg dikhawatirkan adalah ucapan2/dialog2 yg menghina Rasululloh SAW/Islam/ALLOH SWT, maka yg mestinya diperhatikan adalah begitulah tindakan/peristiwa yg terjadi saat itu. Ketika seseorang belum mendapat hidayah, maka kebencian terhadap ALLOH SWT, Islam, dan Rasululloh SAW akan terlihat sedemikian nyata.
Dan bagi para aktor dan artis mesti diingat, bahwa dialog2 itu hanyalah film semata, jangan sungguh2 dilakukan dg hati dan perasaan, karena saya setuju dan paham ttg kekhawatiran para aktor dan artis menjadi kufur juga di hadapan ALLOH SWT.
Bagi saya, sudah banyak perbuatan maksiat/jahiliyah/menjurus ke kufur yg dilakukan tanpa perlu menonton sinetron ini. Jadi, tidak perlu terlalu khawatir.
6. Penafsiran yg salah terhadap sahabat bisa dikurangi dengan memberikan penjelasan singkat, entah itu di awal film, pertengahan, atau di akhir film. Lagipula, namanya juga penafsiran terhadap wajah atau bentuk fisik sahabat, menurut saya tidak perlu dipermasalahkan. Bukan hal yg penting/esensi. Justru mestinya perilaku para sahabat yg mesti dikedepankan.
Intinya, saya tidak sependapat dg orang2 yg khawatir dengan ‘ancaman’ dan bahaya yg muncul dari sinetron Omar ini. Justru saya melihat pembuatan sinetron Omar ini sebagai upaya untuk memperkenalkan dan mendidik anak dan generasi muda mengenai sahabat2 Rasululloh SAW.
Dengan kemajuan jaman dan teknologi, maka perlu dipikirkan cara dan metode dakwah yg bisa diterima oleh masyarakat (dan generasi muda). Tentu saja dalam batas2 kewajaran. Tidak perlu membuat film ttg sahabat Rasululloh SAW dg kostum seperti Satria Baja Hitam atau Power Ranger. Justru, cukup dibuat sinetron2 seperti Omar ini, yg memperlihatkan kelebihan2 para sahabat tersebut.
Setidaknya dg sinetron2 seperti ini, generasi muda bisa mengenal para sahabat dan bisa mengurangi (sedikit) dampak budaya yg tidak Islami yg disebarkan oleh para musuh Islam dg program ghazwul fikrinya.
Yang saya sesalkan, orang2 yg kontra dg sinetron Omar ini TIDAK MEMBERI SOLUSI bagaimana cara memperkenalkan para sahabat kepada generasi muda. Hanya bisa mengkritik saja. ;-)
Semoga berguna.

20.10 | 3 komentar

Sejarah Asal Mula Halal Bihalal


Filosofi Idul Fitri

Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban.

Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134).

Budaya sungkem

Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”.

Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orangorang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka?

Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).

Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam.

Sejarah halal bihalal

Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.

Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan.

Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat, maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan.

Makna Idul Fitri

Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada kesucian. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya, dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin.

Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah, atau naluri religius. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya.

Ada pula yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. Di kalangan ahli bahasa Arab, pengertian ketiga itu dianggap yang paling tepat.

Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Idul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan, adalah dusta belaka kalau ada orang mengaku beragama tetapi tidak mempedulikan nasib anak yatim. Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara.

Oleh karena itu dapat kita pahami, bahwa umat Islam yang mampu wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin, dan pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Aturan ini dimaksudkan, agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan Idul Fitri jangan ada orang-orang miskin yang sedih, atau sampai menangis, karena tidak ada yang dimakan.

Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. Orang-orang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta), untuk dibagikan kepada delapan asnaf (kelompok), di antaranya adalah kaum fakir miskin.

Dari uraian di muka dapat disimpulkan, bahwa Idul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin, memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi, dan memelihara hubungan sosial yang harmonis.

Sumber
05.06 | 0 komentar

Rindu Pemimpin seperti Umar

Written By Rudianto on Selasa, 21 Agustus 2012 | 21.41


Keteladanan, kejujuran, kebijaksanaan Umar bin Khattab perlu dicontoh generasi muda. Apalagi sekarang ini umat di Indonesia sangat rindu dengan sosok pemimpin yang berjiwa seperti Umar.

Hal itu diungkapkan dosen komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sugeng Winarno saat bedah film Omar yang tayang di MNC TV dalam acara diskusi di ruang teater Basement Dome,UMM, Sabtu (11/8) sore. Film Omar di MNC TV mendapatkan perhatian luar biasa dari penonton di berbagai penjuru Indonesia, termasuk di Kota Malang. Hal ini bisa dilihat dari besarnya partisipasi masyarakat, mahasiswa, dan dosen UMM dalam acara bedah film tersebut.

Sugeng Winarno menjelaskan, dakwah Islam lewat tayangan film serial Omardi MNC TV sangat efektif untuk mengembangkan dan menguatkan ajaran Islam. “Saya lihat saat seri pertama.Tokoh Umar diajak bisnis dengan praktik yang tidak halal. Secara tegas Umar menolak. Kalau diimplementasikan dalam kepemimpinan sekarang,Umar perlu dicontoh karena Umar menolak praktik korupsi.Korupsi adalah masalah bangsa ini,” ungkap Sugeng. Dalam kacamata ilmu komunikasi, peran Umar sangat bagus.

Dia bersikap tegas dan tidak terlalu banyak bicara, tetapi banyak memberi teladan kepada orang di dekatnya. “Sebagai pemerhati ilmu komunikasi, (menurut saya) dakwah Islam seperti film Omar sangat efektif dan semoga pemimpin bangsa ini mencontoh sikap Umar itu,”jelas dia. Pengamat dan praktisi film Arfan Adhi Perdana mengatakan, film Omar ini bisa dijadikan rujukan untuk memperkuat keislaman seseorang. “Film Omar ini dibuat sangat teliti dan tepat sasaran.Tujuan pembuatan film ini sangat benar.Film dakwah Islam juga bisa disampaikan dengan cara yang tepat,” jelasnya seraya memuji keberanian MNC TV tampil beda dalam mengisi Ramadan dengan menayangkan film kolosal Omar ini.

Syaikh Fikri Thoriq Alkatiri, ustaz pembedah film ini, mengatakan,film Omar sangat layak untuk ditonton oleh semua kalangan. Terutama generasi muda. “Tokoh Umar itu sifatnya keras tapi tegas dan bijaksana serta jujur. Takutnya bukan pada orang kaya, tapi pada orang miskin. Film Omar ini memang memfokuskan pada keteladanan kepemimpinannya,” sebut Ustaz Fikri. Salah satu teladan bisa dipetik dari Umar adalah tidak pernah meminta jabatan. Berbeda dengan kondisi sekarang, setiap orang berlomba meminta jabatan.“Film ini secara khusus memang mengupas perihal tokoh Umar.

Setelah Rasulullah wafat, kaum Muhajirin dan Anshor berdiskusi untuk menentukan pemimpin umat Islam dan dengan tegas Umar tidak meminta jabatan, (ia) justru menyerahkan (hal itu) kepada Abu Bakar As- Sidiq,”tambah dia. Direktur Program MNC TV Endah Hari Utari mengatakan, sebelum diputar di Kota Malang, acara serupa juga digelar di Jakarta,Bandung,dan Surabaya. Serial film Omar ini meningkatkan rating tayangan MNC TV untuk program siar Ramadan. Film Omar ini disukai pemirsa MNC TV karena bercerita tentang sejarah Islam dan kekhalifahan.

“MNC TV membeli film ini dari produser di Dubai dan tayang 31 episode sebelum Lebaran sampai setelah Lebaran. Awalnya pihak produser meminta ditayangkan tahun depan. Mungkin (karena) hikmah Ramadan sehingga film Omarbisa tayang tahun ini,” ucap Endah seraya menyatakan terima kasih kepada UMM yang sudah mendukung bedah film Omarini. Siti Nurazizah, mahasiswa UMM Jurusan Matematika, menyatakan puas dengan tayangan film Omar yang menyajikan sejarah Islam dan kekhalifahan.

Kemudian dia mengusulkan agar bisa dicetak dalam bentuk DVD. “Ya memang ada beberapa bagian film yang belum saya mengerti. Tapi kita bisa merasakan bagaimana perjuangan khalifah dalam menegakkan dan mengajarkan agama Islam waktu itu,” tandasnya.

Sumber
21.41 | 0 komentar

Insyaa-aLLAAH

Written By Rudianto on Senin, 18 Juni 2012 | 22.36

Insyaa-aLLAAH :)

“Ø¥ِÙ†ْØ´َاءَ اللّÙ‡”
“insyaAllah“..
Seringkah Anda mengucapkannya? Apa yang Anda maksudkan setiap kali mengucapkannya? Terkadang, “insyaAllah” digunakan untuk menyatakan ketidakpastian kita terhadap suatu janji.. Terkadang pula, “insyaAllah” diucapkan untuk mengelak, padahal saat itu di benak terlintas kepastian untuk tidak hadir.

Penggunaannya

“InsyaAllah” seharusnya digunakan untuk menjanjikan sesuatu yang kita memang sungguh-sungguh berniat melakukannya. Jika niat kita masih belum pasti, katakan saja “belum bisa menjanjikannya“, agar terbebas dari tagihan Allah kelak pada Hari Akhir. Bagi kaum Muslim, “insyaAllah” lebih pas digunakan, untuk menggantikan ”pasti”; ini bisa menjadi pengingat bahwa hanya Allah sajalah yang Maha Berkehendak. ;)
Namun “insyaAllah” dapat pula kehilangan maknanya jika disalahgunakan; dan dijadikan sebagai alat untuk “menghindar” saja. Dalam mengucapkan dan menuliskan ”insyaAllah” juga harus hati-hati, karena dapat terjadi kesalahan yang bisa mengubah artinya secara fatal.

Susunan Kata

“insyaAllah” terdiri atas tiga kata:
- Ø¥ِÙ†ْ – Ø´َاءَ – اللّÙ‡ -
“in” = jika;
“syaa-a” = (dia) menghendaki; dan
“Allah“.
“insyaAllah” BUKAN terdiri dari kata:
- Ø¥ِÙ†ْ – Ø´َا – Ø¡َاللّÙ‡ -
“in“;
“syaa“; dan
“Allah“
Kata “Allah” (اللّÙ‡), jika didahului dengan kata yang lain, harokat pertamanya tidak dituliskan. Sehingga tampak seperti “LLAAH” atau “Llaah“. Oleh sebab itu, ada yang menuliskan “insyaAllah” dengan “insyaa-aLLAAH” atau “insyaa-aLlaah“. Karena “syaa-a” sendiri memang merupakan satu kata yang utuh, bukannya terpisah antara “syaa” dan “a“. Dan ”insyaAllah” juga sebenarnya BUKAN terdiri atas dua kata “insya” dan “Allah“.
Selain itu, dalam “insyaAllah” digunakan huruf hijaiyyah “syin” (Ø´) –berlafal “sy“–, BUKAN “sin” (س) –berlafal “s“–.

Salah Tulis/Ucap

Bagaimana jika sampai salah “dikit”? 
Kata “syaa-a” (Ø´َاءَ) artinya “(dia) menghendaki”. Sedangkan kata “saa-a” (سَاءَ) artinya “(dia) buruk”! :-|
Jika sampai terucap “insa Allah” atau “insaa-allaah” (Ø¥ِÙ†ْسَاءَ اللّÙ‡), maka ia mengandung arti “jika Allah buruk“. Na’uudzubillaah :(
Penulisan “insyaAllah” dengan transliterasi (bahasa Arab yang ditulis dengan alfabet) memang sulit, dan tidak selalu bisa pas dengan arti yang sebenarnya. Maka hendaknya kita mengucapkan/menuliskannya dengan benar dan penuh pemahaman, agar menjadi dzikir, untuk selalu mengingat kuasa Allah.
Makin banyak kita belajar, makin terasa bahwa ilmu kita tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmuNya.
22.36 | 0 komentar

Apabila Datang Pertolongan Allah dan Kemenangan

Written By Rudianto on Minggu, 29 Januari 2012 | 14.25


Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani pada tahun 1916
adalah perjanjian rahasia antar pemerintah Britania Raya dengan
pemerintahan Perancis yang diikuti dan disetujui oleh Kerajaan
Rusia, dimana dalam perjanjian ini ketiga negara mendiskusikan
pengaruh dan kendali di Asia Barat setelah jatuhnya Kerajaan
Utsmaniyah pada Perang Dunia I yang telah diprediksi sebelumnya.
Perjanjian ini secara efektif membelah daerah-daerah Arab
dibawah Kerajaan Otoman diluar Jazirah Arab sehingga dimasa
depan dapat ditentukan dimana kendali atau pengaruh Inggris
atau Perancis akan berlaku. Perjanjian ini ditandatangani pada
tanggal 16 Mei 1916 dan diberi nama sesuai dengan diplomat
Perancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark
Sykes.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam berkata kepada sahabat Mu’adz ibnu Jabal,
“Maukah kuberitahukan padamu pokok amal, tiang, serta puncaknya?” Mu’adz menjawab,
“Mau, ya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam.” Beliau bersabda, “Pokok amal adalah
Islam dan tiang-tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR Tirmidzi)

BAGAI HIDANGAN

“Akan tiba suatu masa dimana umat ini dipermainkan oleh umat-umat lain, seperti makanan di atas meja.”
Seseorang lalu bertanya, “Apakah jumlah kami saat itu sangat kecil?” Ia (Rasulullah Saw) menjawab, “Tidak, jumlah
kalian sangat banyak saat itu. Namun kalian akan tercerai berai dan terbagi-bagi bagai makanan diperebutkan di atas
meja, dan Allah telah mengambil ketakutan pada kalian dari hati musuh-musuh kalian dan menempatkan wahn di hati
kalian.” Seseorang bertanya,” Apa itu wahn?” Rasulullah Saw menjawab,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).
Pada 1902, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi
Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara
Yahudi, untuk kesekian kalinya menghadap
Khalifah Abdul Hamid II. Setelah berbagai bujuk
rayunya gagal, kedatangannya kali ini untuk
menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam
tersebut.
Hertzl menyodorkan:
(1) uang 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan;
(2) Membayar semua utang pemerintah Utsmaniyyah
yang mencapai 33 juta poundsterling;
(3) Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan
biaya 120 juta frank;
(4) Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga;
dan
(5) Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.
Khalifah menolak, ia tetap teguh dengan
pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina
dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau
menemui Hertzl, melalui Tahsin Basya, ia
menyampaikan, “Nasihati Mr Hertz agar jangan
meneruskan rencananya. Aku tidak akan
melepaskan walaupun sejengkal tanah ini
(Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu
adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad
demi kepentingan tanah ini dan mereka telah
menyiraminya dengan darah mereka.”
***
Hari ini pada saat darah orang-orang Islam
mengalir dan ditumpahkan, di Palestina,
Chechnya, Philipina, Kasymir dan Sudan, dan
anak-anak Islam mati lantaran embargo Amerika
di Irak. Dan ketika luka-luka belum sembuh, sejak
serangan-serangan salib terhadap dunia Islam
pada kurun yang lalu, dan yang merupakan hasil
dari kesepakatan Sykes-Picot antara Inggris dan
Prancis, yang menyebabkan dunia Islam terbagi-
bagi menjadi potongan-potongan, sedangkan
para kaki tangan salib masih berkuasa di
dalamnya sampai hari ini.
Tiba-tiba keadaan yang serupa
menghadang dengan kesepakatan Sykes-Picot,
yaitu kesepakatan Bush-Blair, akan tetapi
kesepakatan itu di bawah bendera yang sama
dan dengan tujuan yang sama. Benderanya
adalah bendera salib dan tujuannya adalah
merampas dan menghancurkan umat nabi
shollallahu 'alaihi wa sallam yang dicintai.
***
Perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani
pada tahun 1916 adalah perjanjian rahasia antar
pemerintah Britania Raya dengan pemerintahan
Perancis yang diikuti dan disetujui oleh Kerajaan
Rusia, dimana dalam perjanjian ini ketiga negara
mendiskusikan pengaruh dan kendali di Asia Barat
setelah jatuhnya Kerajaan Utsmaniyah pada
Perang Dunia I yang telah diprediksi sebelumnya.
Perjanjian ini secara efektif memecah dan
membelah daerah-daerah Arab dibawah Kerajaan
Otoman diluar Jazirah Arab sehingga dimasa
depan dapat ditentukan dimana kendali atau
pengaruh Inggris atau Perancis akan berlaku.
Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 16 Mei
1916 dan diberi nama sesuai dengan diplomat
Perancis François Georges-Picot dan diplomat
Inggris Sir Mark Syke

HANYA SATU SOLUSI

Seluruh kaum muslimin di barat dan di timur,
menolak proyek Zionis untuk melakukan
yahudisasi kota al Quds. Monopoli terhadap kota
suci al Quds dan yahudisasi padanya, merupakan
pelanggaran terhadap konvensi dan hukum
internasional serta norma-norma, yang melarang
dan mengkriminalkan setiap perubahan pada
karakter tanah, penduduk, dan identitas di
wilayah pendudukan. Yahudisasi al Quds tidak
memiliki legitimasi hukum.
Yahudisasi al Quds dan serangan terhadap
tanda-tanda yang ada di Baitul Maqdis
merupakan garis merah. Orang-orang salib
menduduki wilayah lebih luas dibandingkan apa
yang diduduki Zionis, demikian juga al Quds jauh
lebih lama berada di bawah pendudukan orang-
orang salib dibandingkan Zionis, namun demikian
berhasil dibebaskan.
Al Quds berada di bawah sandera kaum
salib jauh berlipat lamanya dibandingkan di bawah
pendudukan Zionis. Meskipun demikian sejarah
telah berlalu – tidak ada perbedaan – bahwa
lembaran penjajahan berhasil dihapus dan bekas-
bekas agresi musuh terhadap hak-hak dan
tempat-tempat suci bisa dihilangkan.
Orang-orang Zionis yang bersandar kepada
kekuatan imperialis barat, dalam upayanya
melakukan yahudisasi al Quds – hanya
mempertaruhkan masa depan Yahudi sendiri dan
sudah melanggar garis merah umat Islam yang
berjumlah seperempat total penduduk dunia,
umat yang mampu – dalam waktu dekat – untuk
merebut kembali hak-haknya yang dirampas.
Jalan yang ditempuh Shalahuddin
bagaimana cara pembebasan kota al Quds, ketika
dia menulis surat kepada Raja Salib Richard si
Hati Singa,
"Anda jangan berpikir bahwa kami bisa
menyerahkan al Quds, tidak pernah, demikian
juga kami, sebagai umat muslim, tidak mungkin
bisa menyerahkan hak-hak kami di al Quds, dalam
kondisi apapun, anda tidak akan bisa mengambil
satu batu pun di tanah ini, selama masih ada
jihad."
***
Hanya jalan itu pula - yang kini ditempuh
oleh generasi penerus - yang akan dapat
membebaskan tempat suci itu dari para penjajah.
“Jihad and the rifle alone; no negotiations,
no conferences, and no dialogues”.
"Saya Bersumpah Demi Allah Yang Maha
Agung, Yang Meninggikan Langit Tanpa Tiang:
Amerika dan orang-orang yang hidup di Amerika
takkan bermimpi AMAN sebelum kami hidup AMAN
di Palestin dan sebelum Tentara Kafir keluar dari
Bumi Muhammad Rosulullah SAW, Allahu Akbar!
Kejayaan Milik Islam..."
“...Kepada saudara-saudara kami di
Palestina, kami katakan: Darah anak-anak kalian
adalah darah anak-anak kami, darah kalian adalah
darah kami... Darah dibalas darah, penghancuran
dibalas penghancuran...”
“Kami bertempur di Bumi Rofidain,
sementara mata kami lekat menatap Al Quds”.
“Demi Alloh! Kami akan menolong kalian
meski harus berjalan merangkak di atas lutut kami,
hingga kita meraih kemenangan, atau kami
merasakan apa yang telah Hamzah ibn Abdul
Muttolib rasakan !”

MEMENGGAL KEPALA ULAR

srael bisa menjajah dan selalu bertingkah biadab di Palestin lantaran dukungan Amerika dengan
pasukan koalisi salibisnya. Untuk mengusir Israel dari Palestin kepala ularnya mesti dipenggal.
Untuk seorang lelaki yang bertahun-tahun
hidup di gua, Usamah bin Laden betul-betul faham
(strategi perang) Sun Tzu dan dasar-dasar
jujitsu-nya. Diktum terkenal Sun Tzu adalah
“kenalilah dirimu” dan “kenalilah musuhmu.” Jujitsu
didasarkan pada penggunaan kekuatan musuh
melawan dirinya sendiri, seperti Jack dalam "Jack
and the Beanstalk," yang menggunakan ukuran
dan kemarahan sang raksasa untuk
menjatuhkannya dengan berat badannya sendiri.
Bin Laden mengerti bahwa untuk
mengalahkan Amerika adalah dengan
membalikkan tenaga Amerika terhadap dirinya
sendiri. Tujuan pertamanya adalah untuk
membangkrutkan Amerika. Dia mengetahui
kelemahannya, dan dia sangat memahami
kelemahan Amerika, bagaimana kebanggaan dan
ketakutannya bisa memicu reaksi-reaksi yang
irasional dan menghancurkan diri sendiri (self-
destructive).
Berikutnya, Utley juga memperlihatkan
kejeniusan Syaikh Usamah bin Laden dalam
memancing Amerika dengan serangan-serangan
“kecil” yang hanya menghabiskan beberapa ratus
ribu dollar, tetapi kemudian menarik Amerika ke
dalam dua perang bernilai multi-triliun-dollar yang
tak berujung, yang bahkan Amerika sendiri tidak
tahu jalan keluarnya (Invasi atas Afghanistan
dan Irak).
Pancingan yang dimaksud Utley ini
tampaknya merujuk pada Serangan 11 Septem-
ber (The Manhattan Raid 9/11) yang
menggemparkan itu. Menurut Utley, Usamah bin
Laden tentunya mengetahui bahwa kelompok
neoconservative cabal di Washington sudah gatal
untuk memulai perang dan menghancurkan Irak.
Meskipun, jika merujuk pada penjelasan yang
dikutip dalam video yang dirilis oleh As-Sahab
(The Manhattan Raid: Knowledge is for Acting
Upon), disebutkan bahwa militer Amerika sudah
merencanakan dan mempersiapkan penyerangan
terhadap Irak dan Afghanistan jauh-jauh hari
sebelum terjadinya 9/11, seperti yang kemudian
diungkapkan oleh salah seorang Jenderal
Amerika, Tommy Franks, bahwa persiapan perang
terus dilakukan sampai tanggal 10 September.
Dalam video tersebut, Saudara Azzam
Amriki kemudian menjelaskan, “Pada pertengahan
2001, ancaman dan peringatan menjadi semakin
sering juga semakin spesifik. Saya ingat
mendengar seorang mantan diplomat Pakistan
mengatakan kepada BBC berbulan-bulan sebelum
serangan 11 September, bahwa Amerika telah
menginformasikan kepada sekutu-sekutunya
pada sebuah pertemuan di Jerman mengenai
rencana mereka untuk menginvasi Afghanistan
pada Musim Gugur sebelum musim salju pertama,
yang kemudian memang mereka lakukan. Dengan
demikian, kami telah mengetahui bahwa serangan
ini akan dilancarkan, pertanyaannya adalah,
apakah kami harus duduk dan menunggu, atau
kami kejutkan mereka dengan mendahului
menyerang.”
Sedangkan Utley memandang bahwa
Usamah Bin Laden memahami bagaimana kaum
fundamentalis relijius Amerika, yang berkuasa di
Washington, bisa didorong ke dalam peperangan
agama yang berlanjut. Utley menambahkan, “Dia
mengenal’ mereka (kaum fundamentalis
Amerika) karena dia juga memahami kaum
fundamentalis Muslim-nya sendiri, sebagaimana juga
dia memahami fundamentalis Israel. Dalam sebuah
pesta di rumah saya pada tahun 2002, saya
mengatakan kepada ekonom brilian Peru Hernando
de Soto bahwa, tentu saja, tujuan Bin Laden adalah
mengeluarkan Amerika dari Timur Tengah. Dia (de
Soto) menjawab kepada saya, ‘Bukan hanya itu,
tetapi juga keluar dari seluruh Dunia Ke-tiga!’”
Dengan kata lain, kedua intelektual ini juga bisa
melihat bahwa tujuan Syaikh Usamah bin Laden
bukan hanya menghentikan agresi Amerika dan Israel
yang terus meluas, tetapi juga menghancurkan aliansi
imperialis zio-salibis ini di dunia secara keseluruhan.
Utley kemudian menguraikan lima hal yang
menurutnya menjadi penyebab keruntuhan Amerika,
yang pada intinya, dia melihat bahwa semua itu
bersumber dari terkurasnya anggaran belanja
Amerika dan terbebaninya ekonomi Amerika secara
jangka panjang oleh hutang (yang melonjak dari $5
triliun hingga menjadi $10 triliun, belum terhitung
triliunan dollar hutang Amerika baru-baru ini) untuk
membiayai perang melawan Al-Qaida yang ternyata
bertahan lama dan terus menggerogoti ekonomi
Amerika dan sekutunya. (Aanalisisa Jon Basil Utley yang
mengungkapkan penyebab kebangkrutan Amerika)


RAKSASA IU ROBOH

Pada peringatan 10 tahun peristiwa 9/11
WTC, terlihat dengan jelas bahwa apa yang
disebut dengan ‘perang melawan terorisme’ yang
dipimpin oleh Amerika telah gagal total. Dengan
cara apapun menilainya, AS dan sekutunya di
seluruh dunia telah kalah perang.
Alih-alih mengurangi resiko terjadinya
kembali peristiwa 9/11, kemungkinan terjadinya
kembali peristiwa 9/11 malah lebih besar dari yang
pernah ada. Selain peduli dengan masalah
keamanan Irak dan Afghanistan, dunia Muslim
saat ini berlomba-lomba untuk dapat menerapkan
syariat Islam di wilayah mereka masing-masing,
terlibat dalam jihad, dan berupaya untuk
mengakhiri hegemoni camp kafir kapitalisme.
Bahkan, faktanya dalam peringatan 10 tahun
peristiwa 9/11, bisa diklaim kemenangan berada
di camp mujahidin atas musuh-musuh mereka.
Banyak faktor penyebab yang telah
berkontribusi atas hal tersebut, salah satunya
adalah pernyataan terkenal George Bush yang
memulai kampanye perangnya dengan ucapan:
“Anda bersama kami atau dengan teroris”, dan
fakta bahwa dia terlibat dalam “perang salib ini”.
Upaya untuk memenangkan hati dan pikiran umat
Islam telah gagal. Bahkan, orang-orang non-
Muslim telah menyaksikan sendiri penyiksaan,
pembunuhan dan penindasan oleh mereka yang
seharusnya menjadi benteng kebebasan, dan
demokrasi.
Kebohongan Bush, Rumsfeld, Cheney dan
Blair atas tuduhan adanya senjata pemusnah
massal di Irak, telah menjatuhkan diri mereka
sendiri dan Negara mereka di mata penduduk sipil
yang tidak bersalah. Tidak adanya penyiksaan,
penahanan seseorang sebelum terbukti
bersalah, peradilan yang adil, selama 10 tahun
ini telah diganti dengan basa-basi, seperti
kepentingan keamanan nasional. Padahal AS
awalnya berkeinginan dan berjanji untuk
melindungi warga sipil tak berdosa di Irak dari
kebrutalan Saddam Hussein. Hari ini, AS dan
sekutu-sekutunya dengan senang hati mengambil
peran penindas terdahulu dan kini terwujud di
penjara Guantanamo, Bagram, Abu Ghroib,
dimana ketidakadilan dan kedzoliman dilakukan
dengan lebih cermat dan terbuka.
Di masa Obama, AS berupaya menyelamat kan
muka dengan menarik paksa semua pasukan yang
dipimpin AS dari tanah kaum Muslimin, disertai
kesepakatan besar untuk kematian Syekh Usamah
bin Ladin. Namun, hal ini malah menjadi bumerang
dan memicu pertempuran yang lebih dahsyat untuk
menyerang camp tentara salib, sebagai janji 100
operasi serangan sebagai pembalasan atas
kematian Syekh Usamah, dan janji akan kelahiran
100 Syekh Usamah yang sudah mengantri untuk
mengambil alih perang melawan musuh nomer satu
kaum Muslimin, yakni Amerika.
Hal ini masih ditambah dengan bencana
kelaparan, dimana perang secara sistematis telah
menghancurkan perekonomian AS. Kelompok anti
perang di AS telah menciptakan opini publik tentang
perang, tingkat bunuh diri para tentara AS yang
sebelumnya tidak pernah terjadi, kebencian global
dunia kepada AS dan Inggris yang disebabkan oleh
perang, dan penyebaran ideologi Al Qaeda di
kalangan pemuda Muslim yang begitu cepat bagaikan
tsunami. Seluruh hal tersebut melengkapi kesimpulan
bahwa AS memang telah kalah dalam perang ini
secara lengkap dan memalukan.
Ironisnya, sepuluh tahun terakhir inilah yang
mengakibatkan terjadinya radikalisme pemuda,
pelaksanaan operasi-operasi syahid terhadap AS
dan sekutunya, dan mendorong kaum Muslimin untuk
lebih menggali pemahaman yang mendasar dan
tanpa kompromi. Insya Allah, sejarah akan mencatat
bahwa awal dari akhir kekuasaan Amerika dan benih
untuk pembentukan kembali Daulah Islam di kalangan
umat Islam dimulai pada tanggal 11 September 2001.

Hanya dalam beberapa tahun, Romawi (AS)
kalah di Afghanistan. Dan mereka setelah
kekelahannya akan diusir. Maka dijungkirkanlah
panji mereka, dipatahkan salib mereka, Allah
muliakan dien-Nya, Allah tolong tentara-Nya,
Allah muliakan kitab-Nya sementara mereka dalam
keadaan marah.
Beberapa tahun yang lalu pemimpin mereka
yang tertipu (George Walker Bush)-yang seka-
rang telah dilemparkan di tempat sampah sejarah-
berbicara dengan segenap kesombongan dan
kecongkakannya, ia membagi dunia menjadi dua
bagian dan berkata, “Siapa yang tidak bersama
kami maka ia musuh kami.” Maka banyaklah or-
ang yang tunduk, ikut, bergabung dan berbaris
di belakangnya.
Sementara itu para pembela kebenaran dan
orang-orang beriman tegak berdiri dengan
Allah Azza wa Jalla telah menjanjikanku dengan
kemenangan dan kami akan melihat janji yang
mana yang akan terwujud.”
Sekarang, terlihat janji yang mana yang
terwujud. Sesungguhnya itulah janji Dzat yang
tidak akan mengingkari janji-Nya.
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu
menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. “
(QS. Muhammad [47]: 7)
Tanda-tanda kemenangan jelas terlihat di
cakrawala dan tanda-tanda kekuasaan telah
nampak bagi setiap mukmin yang jujur dan
percaya dengan janji Allah.
Sesungguhnya itu pertempuran melawan
Amerika yang mana penduduk barat dan timur
sujud kepadanya dan yang apabila namanya
disebut menggigillah mereka ketakutan,
terbanglah hati mereka dan terbelalaklah mata
mereka. Seakan-akan Amerika adalah Tuhan –
Maha Tinggi Allah dari semua itu dengan
ketinggian yang besar.
Adapun sekarang, mana Amerika. Mana
kekuatannya. Mana kesombongannya. Mana
keangkuhannya. Mana kecongkakannya. Mana
wibawanya. Semua itu telah jatuh di bawah
telapak kaki telanjang orang-orang fakir dan
lemah yang hidup di lembah-lembah, di puncak-
puncak bukit, di bawah-bawah pohon,
kedinginan, kepanasan, kesempitan, dan
kelaparan. Namun mereka merasa mulia dengan
dien mereka dan bertawakkal kepada Rabb
mereka dan percaya dengan janji Allah
subhanahu wa ta’ala sampai Allah rendahkan
imperium ini melalui tangan mereka.
Amerika sekarang hidungnya telah
dibenamkan di lumpur-lumpur Afghanistan dan
Iraq. Ia telah direndahkan sebagaimana impe-
rium-imperium sebelumnya direndahkan.
Sekarang ia mencari jalan keluar dari Afghani-
stan. Mereka mengatakan, “Strategi baru” Yang
tidak lain kecuali strategi kabur dan melarikan
diri serta menyelamatkan diri dengan membawa
apa saja yang bisa diselamatkan.
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul
Kami dan orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-
saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir [40]: 51)
Adalah janji dari Allah subhanahu wa ta’ala
dan informasi dari nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwa dienul Islam yang akan Allah
menangkan atas seluruh dien dan akan tersebar
merata ke seluruh penjuru bumi dari belahan timur
sampai belahan barat. Tidak akan tersisa satu
rumah, tidak akan tersisa satu kota, tidak pula
satu kampung baik kecil maupun besar kecuali
akan Allah akan masukkan ke dalamnya dienul
Islam dan penghuninya akan memeluk dienul Is-
lam dan akan berada di bawah kekuasaan Islam.
Informasi ini pasti terjadi. Apa yang
dilakukan musuh-musuh Allah ‘Azza wa Jalla
berupa pengorbanan dengan harta, makar yang
dilakukan siang dan malam untuk memadamkan
cahaya Allah ‘Azza wa Jalla akan hilang sia-sia
seperti debu ditiup angin. Semua itu akan menjadi
sesalan di hati mereka. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir
menafkahkan harta, mereka
untuk
menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka
akan menafkahkan harta itu, kemudian
menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka
akan dikalahkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 36)
“Apabila telah datang pertolongan Allah
dan kemenangan, dan kamu lihat manusia
masuk agama Allah dengan berbondong-
bondong, maka bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima
taubat.” (QS. An-Nashr [110]: 1-3)
14.25 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung