Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Film Umar Mukhtar "Sang Singa Padang Pasir" versi Arabic

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 31 Agustus 2012 | 14.03

Sebuah  film yang bercerita tentang seorang pahlwan Libya, Omar Mukhtar. Keberanian dan kemampuannya berperang, membuatnya dijuluki sebagai Singa Padang Pasir.

Tahun 1911 di bawah pimpinan Benito Mussolini, Italia meluaskan daerah jajahannya sampai ke Libya. Mulai tahun 1929, terjadi perlawanan sengit di Libya, dipimpin seorang mantan guru, Omar Mukhtar. Karena jenderal terdahulu tidak sanggup menghentikan perlawanan Omar Mukhtar, akhirnya dikirimlah Jenderal Rodofo Graziani untuk diangkat sebagai gubernur jenderal di Libya dengan tugas utamanya menumpas pemberontakan Omar Mukhtar.

Dalam pesta penyambutan kedatangan Jenderal Rodofo Graziani ke Libya, dia langsung mendekati mantan teman Omar Mukhtar, Sharif El Gariani, agar bisa mengetahui jalan pikirannya. Selain itu, tentara Italia juga mendatangi perumahan warga untuk mengetahui persembunyian Omar Mukhtar, mengumpulkan bahan makanan, dan membakarnya. Bukan itu saja, lelaki yang berusaha melawan, langsung ditembak. Keluarganya yang menangisi, yang gadis, diculik. Ismail yang ayahnya ditembak dan adiknya diculik akhirnya bergabung dengan pasukan Omar Mukhtar, meski ibunya Mabrouka, keberatan.

Omar Mukhtar sangat mengusai medan tempur yang berupa gurun pasir. Suatu ketika, dia berhasil menjebak sepasukan Italia di tengah gurun, dan menembak mereka. Namun salah satu tentara, Letnan Sandrini, dilepaskan untuk mengembalikan bendera Italia ke markas mereka. Dia malah disambut sebagai pahlawan karena dianggap berhasil menyelamatkan lambang Negara. Padahal Omar Mukhtarlah yang melepaskannya.
Lagi-lagi Tentara Italia menggunakan warga untuk membalas kekalahan mereka. Membunuh para lelaki yang tersisa. Membakar rumah warga, sehingga para wanita, anak-anak, dan orangtua terpaksa mengungsi. Mereka kemudian bertemu pasukan Omar Mukhtar. Tapi rupanya pengungsian warga dibuntuti tentara Italia. Mereka diserang tiba-tiba. Omar Mukhtar hampir tertangkap, tapi Ismail memberikan kudanya, sehingga dia yang tertangkap. Graziani menginterogasinya untuk mendapatkan informasi tentang persembunyian Omar Mukhtar.

Berbagai cara dilakukan Graziani untuk menangkap Omar Mukhtar. Menggunakan perundingan untuk mengulur waktu, sementara menunggu bantuan tambahan pasukan dan persenjataan. Omar Mukhtar setuju untuk berunding, mengingat Ismail yang ditawan. Dia mengajukan banyak persyaratan, di antaranya, menginginkan kebebasan bagi rakyat Libya untuk mendapat pendidikan, serta meminta pemerintah Italia mengembalikan tanah yang mereka rampas, juga menginginkan Graziani dikembalikan ke negaranya. Sementara pihak Italia mengajukan syarat, Omar Mukhtar menyerah dan mengaku salah, namun akan mendapat perlindungan dan jaminan hidup. Tentu saja, syarat ini ditolak. Lagipula, dia tahu siasat ini digunakan Italia hanya untuk mengulur waktu.

Pemerintah Italia juga pernah mengepung wilayah yang diduduki pasukan Omar Mukhtar, sehingga kekurangan bahan makanan dan peluru. Namun, warga diam-diam membantu mereka dengan menyelundupkan bahan makanan melintasi kawat berduri. Aksi ini diketahui tentara. Mereka yang ketahuan menyelundupkan makanan ditangkap dan dihukum gantung di depan warga lainnya. Termasuk salah satunya, seorang janda pejuang, ibu Malik yang masih berumur 7 tahun. Letnan Sandrini yang diperintahkan menggantung, menolak untuk membunuh wanita. Dia dikenakan hukuman disiplin.
Meski melakukan berbagai cara, Omar Mukhtar dan pasukannya tetap bisa melakukan perlawanan. Pemerintah Italia banyak kehilangan tentara dan kerugian besar. Taktik dan strategi perang yang diterapkan Omar Mukhtar, terbukti beberapa kali berhasil mengecoh mereka. Namun setelah perjuangan panjang puluhan tahun, Omar Mukhtar berhasil juga ditangkap. Lagi-lagi Letnan Sandrini yang berkesempatan untuk menangkap, bahkan menembak Omar Mukhtar, namun tidak dilakukannya. Dia terlanjur bersimpati dan hormat kepada pemimpin perjuangan rakyat Libya ini. Tapi tentara lain cepat menggantikannya menangkap Omar.

Omar Mukhtar dipertemukan dengan Jenderal Graziani. Dia masih berusaha dibujuk untuk mengaku menyerah. Omar Mukhtar memilih dihukum mati. Tanggal 16 September 1931, Omar Mukhtar dihukum gantung di depan rakyat Libya. Namun keberaniannya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Libya terus dikenang sebagai Lion of Desert atau singa padang pasir.

Sutradara : Moustapha Akkad
Penulis : David Butler
Pemain : Anthony Quinn sebagai Omar Mukhtar, Oliver Reed sebagai Jenderal Rodofo Graziani, Irene Papas sebagai Mabrouka, Raf Vallone sebagai Kolonel Diodiece, Rod Steiger sebagai Benito Mussolini, John Gielgud sebagai Sharif El Gariani, Andrew Keir sebagai Salem, Gastone Moschin sebagai Mayor Tomelli, Stefano Patrizi sebagai Letnan Sandrini

Bahasa Arab Subtitle Indonesia
14.03 | 1 komentar

"OMAR" Film Kepahlawanan Pemuda

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 30 Agustus 2012 | 08.40

Setiap umat berbangga dengan sejarah masa lalunya untuk menginspirasi masa depannya. Mereka mengumpulkan manuskrip para pahlawannya, hingga detail-detailnya untuk kemudian mereka presentasikan ke generasi mudanya. Oleh karena itu lihatlah di Paris, museum para pahlawan mereka berderet di setiap pojok kota. Setiap kisah kepahlawanan itu diintegrasikan ke dalam semua proses pembelajaran generasi muda mereka. Dengan semua sarana yang mungkin.

Bahkan bagi umat yang tidak mempunyai sejarah panjang seperti Amerika. Mereka baru berumur tiga abad. Tidak banyak yang bisa mereka banggakan untuk rakyatnya, tapi mereka memahami arti penting sejarah yang membangkitkan energi positif. Maka mereka buat seadanya dari tokoh manapun yang tersisa, hingga berdiri salah satu museum, yaitu museum ‘Pirate’. Bayangkan, segerombol perampok lautan mereka pajang karena tidak banyak yang bisa mereka pajang.

Siapa yang tidak kenal kejayaan masa lalunya maka ia tidak ada kegemilangannya masa depan yang menantinya. Ini dipahami benar bagi umat-umat yang sadar kaidah-kaidah revolusi sosial. Maka di abad ini layar kotak di ruang-ruang tamu kita dibanjiri film-film yang menggambarkan keagungan pahlawan-pahlawan Barat.

Kejayaan Roma dikembalikan dengan visualisasi yang begitu detail dan memukau dalam serial seperti Rome, Los Borgias. Caesar menjadi inspirasi para politisi pengagung republik, William Wallace menjadi simbol sebuah perlawanan Skotlandia melawan penjajahan Inggris. Henry VIII yang kejam itu dipoles sehalus mungkin di 4 season serial Tudors-nya yang menjadi inspirasi restorasi keagamaan Eropa. Dan Raja Arthur yang gemar perempuan itu menjadi begitu bijak dalam film-film baik Excalibur, King Arthur, ataupun serial Camelot. Ia disimbolkan menjadi tokoh pengembali kejayaan Eropa dari kepingan reruntuhan kerajaan-kerajaan Roma.

Film Alexander, Spartacus, 300, menjadi wakil kegemilangan bangsa Yunani yang pernah menguasai dunia. Atau seperti juga Joan of Arc yang menjadi wanita pahlawan Kristen Perancis; Napoleon yang kuda-kudanya pernah menginjak-injak kehormatan Al-Azhar Mesir tidak hanya digandrungi orang Perancis, tapi oleh umat Islam juga karena kuatnya efek sugesti kepahlawanan yang disebar, belum lagi kisah heroik Louis IV, raja teragung mereka, dan para pemikir-penulisnya seperti Camus, Victor Hugo, Sade, Voltaire dan Rosseau.

Umat Timur pun tidak lupa membakar obsesi dan meluaskan cakupan mimpi generasi mudanya dengan film. Attila adalah tokoh kebanggaan ras Turki, seperti juga Jengis Khan. Kisah para kesatria Samurai dalam film-film Jepang benar-benar menjaga kemurnian tradisi asli mereka yang berkhidmah hanya untuk kaisar. Ada Ghandi, Mao Tse Tung, Bruce Lee, bahkan film G-30S PKI adalah usaha-usaha untuk menyebar nilai-nilai tertentu bagi generasi baru. Karena bahasa tulisan tidak memasuki hati seperti bahasa gerakan. Semua pesan itu masuk sebenar masuk ke dalam pikiran dan hati, salah atau pun benar.

Apalagi Amerika, film-film yang mereka produksi itu walau fiksi bukan tanpa bekas bagi jiwa. Jika tanpa sadar anak-anak kecil kita melakukan gerakan refleks, meniru gerakan beberapa tokoh seperti Spiderman dan Rambo. Itu bukan kebetulan. Atau ketika para pemuda yang kepalanya tertunduk saat berbicara persaingan dengan Amerika itupun bukan kebetulan. Karena setiap saat mata kita mengkonsumsi semua ‘kegemilangan’ budaya mereka.

Mental manusia itu bisa melambung tumbuh saat merasakan kebesaran sejarah bangsa sendiri ataupun menciut kecut saat melihat ketiadaan sejarah dan justru melihat keagungan umat lain. Itulah yang terjadi saat kecanggihan militer dan teknologi Amerika kita saksikan di film-film seperti Hulk dan Iron Man, atau keberanian mereka di film Saving Private Ryan, The Patriot, dan serial Band of Brother.
Sedangkan film yang diputar di masyarakat muslim sejak tahun 1977 hanyalah The Message atau ar-Risâlah. Sekali-kali ditambah dengan film Umar Mukhtar, atau film serial berkualitas rendah, baik dari akting, latar, desain pakaian dan skenario. Terlebih jika ia film Islam, tidak memperhatikan validitas data sejarah, bahkan tidak memberi inspirasi malah menciptakan fitnah seperti serial Hasan dan Husein atau film serial al-Jama’ah yang mendistorsi sejarah kelahiran Ikhwanul Muslimîn dan biografi Hasan al-Banna.
Di tengah kegersangan ini, saat generasi muda muslim pasca revolusi 2011 membutuhkan inspirasi pemimpin datanglah serial film tentang salah satu manusia teragung sepanjang sejarah umat manusia: Umar bin Khattab.
Ia bukanlah film asalan dan berformalitas ‘Islam’. Tapi ia adalah proyek besar yang Insya Allah diberkahi. Hâtim ‘Ali Sang Produser dari Syria ini tidak tanggung-tanggung dalam membuatnya. Ia carikan penulis skenario se-kaliber Dr. Walîd Saif yang telah menulis naskah-naskah besar seperti ‘Az-Zair as-Sâlim, al-Khansâ, as-Syajaratud Dur, Salahuddîn al-Ayyûbi, Rabi’ Cordoba dan banyak lagi. Tidak hanya itu, semua skenario serial Umar ini telah diteliti validitas sejarah hingga ke detail-detailnya oleh sebuah tim yang terdiri dari ulama-ulama besar seperti: Dr. Yûsuf al-Qaradhâwi, Dr. Salmân al-‘Audah, Dr. ‘Abdul Wahhâb at-Tharîri, Dr. ‘Ali as-Shallâbi, Dr. Sa’ad al-‘Atîbi, Dr. Akram Dhiyâul ‘Umari.

Sepanjang sejarah sinema Arab, belum pernah diproduksi film sebesar ini. Tempat shooting diambil di berbagai lokasi dari Maroko hingga Syria. Dengan 322 pemeran dari 5 benua berbeda. Film Umar berhasil membangun ulang suasana kota Mekah dan Madinah abad ke-7 dengan 29 bangunan internal untuk shooting dan 89 bangunan eksternal. Yang didesain di pinggiran kota Marakech di Maroko. Ditambah lagi desain Ka’bah yang persis aslinya di zaman itu sebesar 12.000 meter persegi.

Kerja terberat adalah visualisasi perang. Ia membutuhkan 170 hari untuk perang saja. Dan untuk keseluruhan momen besar itu membutuhkan 20.000 pemeran ekstra dalam perang.  Tidak hanya dalam perang tapi juga dalam momen-momen eksternal seperti Thawaf di Ka’bah atau Fathu Mekah.

Film produksi MBC ini menyiapkan 1.970 pedang, 650 tongkat, 1.050 perisai, 400 busur dan 4.000 anak panahnya, 170 baju besi untuk perang yang disebut dira’, 15 gendang, 1.600 tembikar, 7.550 sandal, 137 patung, 14.200 meter kain, 39 ahli desain dan penjahit, 100.000 koin, 1.500 kuda dan 3.800 unta.
Kerja yang sungguh besar, saat ditanya alasan usaha ini, mereka menjawab, tokoh sebesar Umar tidak layak dipresentasikan kecuali dalam karya yang besar pula. Sehingga 299 designer dari 10 negara pun secara khusus didatangkan.

Film Umar yang menghabiskan 322 hari ini terus melejit menuju dunia internasional, dimulai dari timur tengah, kemudian menuju Turki dengan bekerja sama dengan TV terbesar mereka yaitu ATV Turkuvaz Media Group. Dan di Indonesia bekerja sama dengan MNC TV. Hingga saat ini penonton film ini sekitar 700 juta, atau setengah populasi umat Islam. Dan ia akan terus menyebar dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa asing lain. Sekaligus ini menjadikannya film yang paling banyak disaksikan dalam sejarah perfilman Arab.
Sepanjang perjalanan tayang di bulan Ramadhan 2012 lalu, film Umar bukan tanpa tentangan dan makian. Beberapa ulama yang melihat bahwa visualisasi sahabat haram menyebarkan terus fatwa-fatwanya di berbagai media, menyeru untuk memboikot film ini.

Namun Dr. Salmân ‘Audah yang mempunyai pendapat lain tidak melihat pertentangan ini sebagai sesuatu yang esensial.  Karena urusan ini tidak ada aturan dan larangannya dalam Qur’an maupun Sunnah. Ia hanya berada di domain perbedaan pendapat ulama soal setuju dan tidak setuju, bukan halal-haram. Tiap ulama berpikir dan berijtihad sesuai sudut pandang yang diyakini benarnya, bukan mutlak. Maka ia sangat mungkin berbeda pendapat. Dalam Islam, perbedaan pendapat dalam masalah seperti ini tidak berlaku hukum halal-haram, tapi yang tepat dan tidak tepat. Allah mengganjar yang tidak tepat dengan satu pahala karena usaha berpikirnya itu, sedang yang tepat dengan dua pahala karena usaha dan ketepatannya. Maka alangkah sayangnya jika ulama-ulama umat ini malah semakin memecah umat dengan fatwa-fatwa kerasnya itu.
Karena perfilman sekarang ini “sedang berada di medan sengit, jika Anda tidak mengisinya, maka pasti orang lain yang akan mengambil alih, apalagi dasar semua persoalan ini adalah ‘boleh’” kata Dr. Salmân. “Fatwa-fatwa itu tidak juga menghentikan orang-orang dari waktu luangnya yang panjang untuk menonton tayangan-tayangan yang tidak layak, tapi justru fatwa-fatwa itu menghadang niat tulus orang-orang yang berjuang memberi alternatif tayangan untuk masyarakat” lanjutnya.

Yang diperlukan hanyalah pengawasan ketat terhadap film sahabat. Oleh karena itu tim pengawas yang terdiri dari 6 ulama besar ini memberikan syarat-syarat yang sangat berat bukan hanya pada skenario, tapi juga pada para pemainnya. Untuk pemeran Umar misalnya, selain sifat-sifat fisik yang mendekati Umar, ia harus pemain baru, yang tidak mempunyai reputasi perfilman sebelumnya, dan ia harus bersedia tidak menerima tawaran apapun selama 5 tahun terhitung sejak mulai kontrak film Umar.

Pilihan itu jatuh pada Sâmir Ismâ’îl, seorang mahasiswa Syria yang tidak pernah mempunyai pengalaman film sebelumnya. Lelaki muslim bertubuh tinggi bersuara besar yang cocok memerankan Umar ini bahkan mengatakan “setelah peran ini, saya akan sangat selektif memilih peran, dan menjadi tanggung jawab saya untuk menampilkan sosok seniman dan aktor yang baik, dan jauh dari semua yang bisa menodai pribadi Umar yang agung”.

Film Umar ini benar-benar sebuah inspirasi pasca revolusi. Saat panggung kepemimpinan negeri-negeri muslim kosong ia hadir memberi paket teladan kepemimpinan yang adil, bijaksana, toleran, dengan bobot kepahlawanan yang memanaskan adrenalin para pemuda untuk mengikuti jejak langkahnya.
Juga, ia berhasil meluruskan sekian banyak persepsi yang salah di literatur-literatur sejarah palsu sahabat yang bertebaran di pustaka umat. Seperti pertengkaran Umar dan Ali karena Ali telat membaiat Abu Bakar, atau ambisi tamak pembesar Anshar untuk kepemimpinan pasca wafat Rasulullah sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Abu Bakar karya Muhammad Husein Haikal. Semua itu tidak benar jika dirunut di buku-buku sejarah sahabat yang valid seperti Abu Bakar karya Dr. ‘Ali Muhammad as-Shallâbi. Semua diskusi dan perselisihan pendapat antar para sahabat berlangsung dengan sangat santun dan penuh ukhuwah. Dan film ini mengklarifikasi pikiran jutaan umat Islam yang tidak sempat membaca detail dan tebalnya buku-buku biografi sahabat Rasul.

Film ini memberi konteks yang benar, adil, proporsional tentang makna syûra, zuhd, qadâ dan qadar, keberanian, tujuan jihad, makna rahmatan lil ‘alamin, universalisme Islam dan banyak lagi nilai Islam yang dipresentasikan sepanjang 31 seri ini.

Dan yang terutama, film ini memberi umat Islam sebuah model kepahlawanan, bahwa kisah manusia agung seperti Umar itu bukan mitos tapi pernah ada. Lalu divisualisasi hingga nyata terasa di darah dan daging penonton. Ia menjadi model keadilan bagi umat manusia, yang di film itu tersublimasi dalam kegagapan duta resmi Kaisar Romawi dengan mata terbelalak saat menemui Umar yang sedang tidur di bawah pohon, tanpa singgasana, tanpa mahkota, tanpa pengawal istana, hanya beralas kerikil Madinah. “Semua perkataan orang-orang tentangmu sudah cukup membuatku bingung… dan sekarang keheranan itu telah berubah menjadi keyakinan, kali ini aku tidak berkata dari lidah orang lain kecuali lidahku sendiri”. Dengan tergagap ia berkata “Anta Yâ ‘Umar, ‘Adalta, Fa Aminta, Fa Nimta” [Anda wahai Umar, kau semai keadilan, maka kau merasa aman, maka kau tidur tenang].

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22495/umar-film-kepahlawanan-pemuda/#ixzz24zP2nbUq
08.40 | 0 komentar

Antara Debat Terpuji dan Tercela

Siapa saja yang mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah serta atsar para Salaf tentu akan mendapati anjuran beradu argumentasi dan berdebat. Di antaranya adalah firman Allah SWT, "Serulah
(manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (Qs. An-Nahl:125).

Dan firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik," (Qs. Al-Ankabuut: 46). Ayat-ayat dalam Kitabullah tidaklah bertentangan satu sama lainnya, bahkan saling membenarkan. Jidal dan debat yang dicela dalam Al-Qur'an tidak sama dengan jidal dan debat yang dianjurkan.

Adapun jidal yang tercela disebutkan dalam firman Allah SWT, "(Yaitu) orang orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman." (Qs. Ghaafir: 35).

Jidal yang tercela adalah jidal tanpa hujjah, jidal dalam membela kebathilan dan berdebat tentang Al-Qur'an untuk mencari-cari fitnah dan takwil bathil.

Adapun jidal yang terpuji adalah nasehat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para imam dan segenap kaum Muslimin. Nabi Nuh As sering beradu argumentasi dengan kaumnya hingga beliau menegakkan hujjah atas mereka dan menjelaskan kepada mereka jalan yang benar. Allah SWT berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami," (Qs. Huud: 32).

Demikianlah sunnah Rasulullah saw. dan sirah (sejarah hidup) generasi Salaf terdahulu r.a. Jidal yang terpuji tujuannya adalah membela kebenaran dan untuk mencari kebenaran, untuk menampakkan kebathilan dan menjelaskan kerusakannya. Adapun jidal yang tercela adalah sikap menentang dan bersitegang urat leher
dalam adu argumentasi untuk membela kebathilan dan menolak kebenaran.

Ibnu Hibban berkata (IV/326), "Jika seseorang berdebat tentang Al-Qur'an, maka apabila Allah tidak melindunginya ia akan terseret kepada keraguan dalam mengimani ayat-ayat mutasyabihat. Jika sudah disusupi keraguan, maka ia akan menolaknya. Rasulullah saw menyebutnya sebagai kekufuran yang
merupakan salah satu bentuk penolakan yang berpangkal dari perdebatan."

Seorang Muslim mengimani seluruh ayat-ayat Al-Qur'an, yang muhkam maupun yang mutasyaabih. Jika ia tidak mengetahui, hendaklah bertanya kepada ahli ilmu atau menyerahkan masalah kepada orang yang mengetahuinya. Ia tidak bertanya kepada orang yang tidak mengetahuinya.Perselisihan tentang Al-Qur'an dapat menyeret kepada sikap mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Kemudian dari situ akan muncul sikap melepaskan diri dari hukum-hukumnya dan mengubah hukum halal haramnya. Kemudian akan berlakulah sunnatullah pada ummat terdahulu atas orang-orang yang saling berselisih itu, yakni kebinasaan dan kehancuran.
07.55 | 0 komentar

Everlasting Ramadan


tulisan ini dibuat semata-mata untuk pengingat diri. rangkuman dari beberapa kajian Sh. Yasir Qadhi, Sh. Abdul Nasir Jangda, Ust. Nouman Ali Khan, Sh. Omar Suleiman, dan Ustadzah Yasmin Mogahed. semoga menjadi tadzkirah (pengingat) bagi kita semua :)


"Make your whole life like Ramadan, and Death will greet you like Eid" -Young Muslims


Banyak yang berucap "Subhanallah ngga kerasa Ramadan sudah selesai, ngga kerasa sudah Idul Fitri aja".
Dan nanti pun di akhirat semua akan berucap yang sama tentang hidup ini "Ya Allah, serasa saya hidup baru sehari atau setengah hari tiba-tiba sudah hari kebangkitan". Ramadan telah pergi, tidak tau kita kan jumpa lagi atau tidak. Tapi kita tentunya memohon pada Allah agar umur kita sampai pada Ramadan tahun depan dengan persiapan terbaik dan 11 bulan kedepan menjadi bulan-bulan yang barokah.

Ada dua macam golongan yang sedih ketika Ramadan pergi. Golongan yang pertama adalah mereka yang sangat teramat menikmati Ramadan, merasakan indah-manisnya bulan Al-Quran, dan golongan yang kedua adalah mereka yang merasa tidak maksimal beribadah di bulan Ramadan, merasa tidak mendapatkan apa-apa dari Ramadan. Sama-sama sedih tapi nilainya berbeda.

Golongan manakah kita?

Yang manapun golongan kita, ada hal yang tidak boleh dilupa. Bahwa baik di bulan Ramadan ataupun Syawal sekarang ini, kita menyembah Tuhan yang sama: Allahu Al-Kariim. Ya, kita tentunya tidak menyembah Ramadan, maka di luar Ramadan pun stamina ibadah kita pun (seharusnya) sama. Namun, inilah berkahnya Ramadan: betapa Allah mudahkan kita beribadah di bulan suci tersebut. Baca Quran dan Qiyamul Lail terasa lebih ringan dan nikmat, terlebih lagi di 10 hari terakhir i'tikaf. Tiada banding sejuknya saat-saat itu. Bahkan kalo boleh request, kita ingin malaikat Izrail menjemput kita di kala itu. Maka memang diakui oleh para ulama bahwa Ramadan adalah saat-saat mewah dalam ibadah, begitu mudahnya kita mengekang kemalasan. Di luar bulan itu? Adalah wajar ketika ibadah kita tidak sebaik di bulan Ramadan. Syaitan sudah dapat free-access untuk menggoda kita. Perjuangan kita lebih berat. Maka kita harus kuatkan lagi niat dan motivasi kita, dan berdoa lebih kencang lagi. Ramadan selesai bukan berarti Allah mengurangi Kasih Sayang-nya. Ampunan Allah tidak terbatas, meluas, tak terbayangkan!

Terus gimana dong?
Entah, setiap saya denger kajian pasti ustadz/syaikh-nya menyebut hadits ini :

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’(HR Muslim)
Ini reminder keras bagi saya (terutama), karena atas kehendak-Nya sering banget dapet nasihat ini, SubhanaLlah. Ketika Ramadan pergi, ambillah beberapa kebiasaan baik (jika tidak mampu semuanya) di bulan Ramadan yang bisa kita teruskan di Syawal (dan bulan selanjutnya). Lakukan walau kecil dan istiqomahlah! Misal, yang tadinya tidak shalat tepat waktu, maka bawalah kebiasaan itu setelah Ramadan terutama Shubuh. Yang suka tidur ba'da Shubuh, please please please hilangkan kebiasaan ini, sungguh barokah pagi itu tak tergantikan. Yang sebelum Ramadan tidak terbiasa baca Quran, dan di bulan Ramadan mampu khatam sekali, maka setelah Ramadan bawalah kebiasaan itu walau hanya 10 menit per hari. Yang udah suka baca Quran, mulailah mempelajari tafsirnya (sekalian promosi podcast Bayyinah, kajian tafsir oke punya, bisa download disini http://bayyinah.com/podcast/category/juz_amma/) sembari menghafal beberapa surat pilihan. Yang tadinya hobi nonton film 3 kali sehari, setelah Ramadan kurangilah dan perbanyak baca Al-Quran. Yang tadinya pacaran, di bulan Ramadan off, maka lanjutkan off-nya atau nikah aja sekalian di bulan Syawwal. Please, kita lebih suka hubungan yang dicintai Allah kan? Ingat, kerja utama syaitan itu adalah senantiasa membuat manusia memandang indah setiap dosa/kelalaian/maksiat :)  Jangan sampai kita berada di titik yang sama ketika setelah dan sebelum Ramadan. Ibarat kita melompat, meninggi, kemudian jatuh lagi di titik semula. Sungguh menyedihkan kalau kita bisa tarawih setiap hari di bulan Ramadan 8 rakaat, namun 11 bulan kedepannya kita tidak qiyamul lail/tahajud/witir walau hanya 2-3 rakaat.
Adakah kini bekas Ramadan di hati kita? Tunjukkan pada Allah, bahwa kita sedang berusaha menuju derajat taqwa.

Bagaimana kalau kita termasuk golongan yang menyesal karena tidak maksimal di bulan Ramadan?
Sekali lagi, Allah yang kita sembah di Bulan Ramadan, sama Maha Pengampun dan Penyayang-nya di luar bulan Ramadan. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Dan jangan batasi Kasih Sayang Allah hanya di bulan Ramadan. Pintu taubat senantiasa terbuka kalau kita mau mengetuknya. Masalahnya syaitan senang sekali membisikkan "yaudahlah, Ramadan kemarin ancur, udah ga ada harapan. lanjut aja deh dosanya". Sekali kita nurut si syaitan , bisa-bisa bulan-bulan berikutnya jadi nightmare buat hati kita yang aslinya pengen deket sama Allah. Kita berlindung pada-Nya dari godaan syaitan yang terkutuk.

Satu hal lagi.
Kita sering lupa atau secara tidak sadar meng-underestimate doa.
Kemudahan kita di bulan Ramadan beribadah itu terjadi semata-mata atas izin Allah. Tidak mungkin kita bisa puasa, tarawih, qiyamul lail, membaca Quran tanpa kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita lemah banget kan ya? Dan memang Allah tidak butuh sedikitpun ibadah kita. Kita yang butuh. Karena Dia Yang Menciptakan dan Mengurus kita dari lahir sampai gede kayak sekarang ini. Dia pula yang Maha Tahu apa yang terbersit di hati ini.
So, jangan sombong atau merasa bangga atas apa yang kita capai di Bulan Ramadan. Sekalinya ada rasa bangga, hancurlah sudah amalan-amalan kita. Sebaliknya kita terus berdoa dan berdoa agar kita senantiasa dimudahkan untuk taat, untuk ibadah, untuk bersyukur, dan untuk terus berdzikir pada-Nya. Memohon pada-Nya dari godaan syaitan, cobaan akhir zaman, dan bisikan hawa nafsu yang udah ngga karuan seandainya Allah tidak menolong kita.

Mari bercermin dari para sahabat Rasulullah saw. Mereka merindukan Ramadan teramat sangat dan berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan Ramadan sejak 6 bulan sebelumnya. Dan 6 bulan setelah Ramadan mereka tetap berdoa memohon agar segala amalan Ramadan diterima oleh-Nya. Subhanallah.

***

Akhir kata, kita mohon pada Allah agar diberi umur yang barokah sampai kita bertemu lagi dengan Ramadan 1434 H. Semoga kita tercatat dalam orang-orang yang bertambah ketaqwaannya, dan 11 bukan ke depan ini menjadi bulan penuh barokah, penuh ketaatan dan kecintaan pada-Nya. Aamiin Ya Robbal 'Aalamiin.

Wallahu a'lam bish shawwab.


P.S. di sela doa, semoga kita tidak lupa untuk menyebut saudara-saudara kita di Palestina, Burma, Syria, dan belahan bumi mana pun yang sedang diuji oleh Allah. Titip doa juga untuk si penulis note ini agar dapat mengamalkan apa yang dia tulis. Jazaakumullahu khayr.



Referensi
"Seeking the Pleasure of Allah Outside Ramadan" - Yasmin Mogahed and Sh. Omar Suleiman
(http://olrserenity.podbean.com/2012/08/21/seeking-the-pleasure-of-allah-outside-of-ramadan-w-sh-omar-suleiman/)
"How to keep the spirit of Ramadan going" - Shaykh Abdul Nasir Jangda (http://www.youtube.com/watch?v=FXF9Rzdyu-U&feature=player_embedded)
"Everlasting Ramadan" - Sh. Yasir Qadhi (http://www.youtube.com/watch?v=1pbeP8rm4hc)
"Blessed Guest - Ramadan and the Quran" - Ustadh Nouman Ali Khan
(http://www.youtube.com/watch?v=1ygnuE_Y-dQ)
06.57 | 1 komentar

Download Kajian Ramadhan 1433 H

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 29 Agustus 2012 | 20.47

Kajian Ramadhan 1433 H, berisi kumpulan kajian keislaman selama Ramadhan tahun ini bersama narasumber, diantaranya yakni Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA dan Ustadz Abdul Somad, Lc. MA.
Silakan mengambil manfaat dari kajian ini dan menyampaikannya kepada yang lain agar rahmat Islam segera tersebar di penjuru bumi, aamiin.
Kajian Ramadhan 1433 H:
Petunjuk download: Klik kanan pada judul, pilih “Save Link As/Simpan Tautan Dengan Nama”.
  1. Abdul Somad, Lc. MA – 3 (Tiga) Hal yang Bertambah Setelah Ramadhan
  2. Abdul Somad, Lc. MA – Syarah Hadits Keutamaan Ramadhan
  3. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Hikmah dan Keutamaan Berpuasa
  4. Abdul Somad, Lc. MA – Politik Dalam Islam
  5. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Mendekatkan Diri Kepada Allah (1)
  6. Abdul Somad, Lc. MA – Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya
  7. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Kegembiraan Seorang Mukmin
  8. Abdul Somad, Lc. MA – Syarah Hadits Hasad yang Dibolehkan
  9. Abdul Somad, Lc. MA – Peran Masjid Dalam Membentuk Remaja
  10. Abdul Somad, Lc. MA – Makna Taqwa
  11. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Mendekatkan Diri Kepada Allah (2)
  12. Abdul Somad, Lc. MA – Syarah Hadits 3 Yang Bisa Merasakan Manisnya Iman
  13. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Menyiapkan Diri Menuju 10 Malam Terakhir Ramadhan
  14. Abdul Somad, Lc. MA – Syarah Hadits Amal Yang Tidak Terbatas
  15. Abdul Somad, Lc. MA – Bedah Buku Detik-Detik Terakhirku, Karya Sayyid Qutb
  16. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Melihat Akhirat Terlebih Dahulu (Kajian Akal 19)
  17. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Mendekatkan Diri Kepada Allah (3)
  18. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Hikmah Diturunkannya Al-Quran
  19. Abdul Somad, Lc. MA – Perbuatan yang Dapat Meruntuhkan Nilai Amal (1)
  20. Abdul Somad, Lc. MA – Amalan Di Akhir Ramadhan & Awal Syawal
  21. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Beriman Tanda Orang Berakal (Kajian Akal 20)
  22. Abdul Somad, Lc. MA – Sudah Selamatkah Kita dari Godaan Setan?
  23. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Siroh Nabi, Penaklukkan Kota Makkah (1)
  24. Dr. Musthafa Umar, Lc. MA – Siroh Nabi, Penaklukkan Kota Makkah (2)
  25. Abdul Somad, Lc. MA – Perbuatan Yang Dapat Meruntuhkan Nilai Amal (2)
  26. Abdul Somad, Lc. MA – Tadabbur QS. Al-Insyiqaq (84)
Sumber
20.47 | 0 komentar

MUNAJAT

Ya Allah, kurniakanlah aku dua mata yang suka menitiskan air mata, sebelum datangnyasaat di mana dua mata ini menitiskan darah dan gigi-gigi menjadi bara..
Di kala insan lain sedang lena dalam
dekapan mimpi, hambaMu yang hina ini bangkit untuk menghadapMu Ya Allah. Hati ini terlalu rindu untuk merasai kelezatan dan kenikmatan
bermunajat kepadaMu.. Hati ini sudah terlalu jauh dariMu Ya Allah.

Ya Allah yang amat ku cintai... Aku tak
punyai bahasa yang indah untuk digunakan
ketika bermunajat ke hadiratMu.. Susunan
bahasaku sekedar ucapan biasa yang lahir dari
hati yang kotor ini dan terucap di bibir.
Ya Allah.. Meskipun begitu, aku tetap
berharap agar Kau mendengar rintihan hati ini..
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar setiap
rintihan hamba-hambaMu ini, apakah dizahirkan
ataupun tidak.

Ya Allah cinta agungku.. Telah aku
terombang-ambing di lautan kesepian tatkala diri
ini benar-benar berjauhan dariMu. Telah aku
arungi hari-hariku dalam kegelapan tanpa
petunjuk dariMu. Hari ini, saat ini.. tiba-tiba hati
ini terlalu rindu untuk bertemu denganMu.. Diri
ini terlalu mendamba kasih sayang dan pimpinan
dariMu Ya Rahman.

Dosa-dosa yang ku lakukan telah
menghitamkan hati ini, hingga payah bagi nur
hidayahMu untuk menyelinap masuk walau
seketika. Hati ini sesungguhnya telah ternoda
oleh dosa-dosa. Maka dengan itu Ya Allah..
kurniakanlah aku sekeping hati yang baru
sekiranya hati yang kau berikan itu sudah rusak.
Berilah daku hati yang senantiasa mengingatimu,
yang tersentuh tatkala mendengar kalimahmu.

Ya Allah,Ya Tuhanku, Tuhan Yang Maha
Pencipta... Daku datang padaMu Ya Tuhan... Daku
datang untuk hampir padaMu.... Daku datang
mengetuk pintu hidayahMu.. bukakanlah, pintu
cahayaMu, daku disini di depan pintuMu....
Menanti nanti... dengan wajah penuh sayu...Ya
Allah.. malu ku membuatku tak mampu
mendongak di pintuMu.....

Ya Tuhanku...ampunilah daku, ku tak mampu
menghampiriMu dengan berlari... Izinkan daku
merangkak walaupun perjalananMu itu panjang..
Perlahan....agar daku dapat belajar bangkit
untuk berlari dalam meraih hidayahMu...
walaupun di perjalanan ini, pastinya diriku
tercarik onak nan berduri... tercalar rumput yang
berbisa, terluka kan batu yang bergilis... ku tak
kan berpaling menoleh ke belakang... karena ku
pasti dihadapanku itu cahayaMu..... cahayaMu
yang sinarannya terbit seakan lorong putih
menerangi jalanku....

Ya Allah... Ya Rabbi... Duhai kekasihku,
duhai harapanku...Ku tundukkan wajahku, diriku
padaMu Yang Esa, Disaat lidah ku kelu, mataku
terpaku... Hatiku kedu, butiran kalimahMu
bersarang dalam bibir dan kalbuku...

Ya Tu h a n , ... . n a m a M u , F i r m a n M u
menggetarkan hatiku... Walaupun adakalanya,
langkah ku kaku.. Langkah ku terhenti di
perjalanan itu.. karena luka yang sakit
berdarah... karena pesona dunia.. Luka
berdarah itu mengalir tiada dapat ku henti... Telah
ku sapu dengan penawar zikir, kalimah suciMu...
Darah itu tetap jua mengalir, itukah cobaan hidup
yang senantiasa kan hadir dalam hidup insan?

Ya Allah...sedalam manapun dan walau
sederas mana darah itu mengalir di kaki ku...
cintaMu tetap ku sambut....cintaMu akan tetap
kukejar... perjalanan ini akan ku teruskan....
perjalanan menuju cintaMu yang suci.. walaupun
ditakdirkan di pertengahan jalanku ini... kakiku
kaku.. nafasku terhenti... masihkah Kau sudi
padaku? sudikah Kau terima cintaku Ya Allah...
terimalah hambaMu yang hina dan penuh dosa
ini, karena... tiada amalan dan bekal yang
kubawa... bekal dan amalan ku itu hakikatnya
adalah rahmat dariMu...

Engkaulah yang memberikan kebaikan
dalam hidupku...sedang daku tiada memiliki walau
sebesar zarah.... hidupku, matiku...adalah milikMu

Ya Rahman...
Ya Allah.... mungkin cintaku tidak sebanding
cinta hamba hamba pilihanMu.... yang hanya
mendambakan seluruh hidupnya pada cintaMu...
cukuplah andai ku mendapat rahmat cahaya
cintaMu sepertinya... dalam hatiku.

Ya Rahman.....Ya Rahim... Engkau ciptakan
daku dari tiada kepada ada, dari tiada dapat
disebut seseorang bernama 'insan'... Kejamnya
daku sebagai hambaMu... melupakanMu tika daku
sudah mengenal dunia... Tenggelam dengan
pautan dunia, yang merayu-rayu... menggoda
mata yang melihat, telinga yang mendengar, hati
yang merasa... itulah perhiasan dunia ciptaanMu
untuk hambaMu... yang lemah iman pastikan
hanyut, yang kuat pastikan selamat..

Wahai Pelindungku.... bantulah daku untuk
mengingatiMu, mensyukuri nikmatMu, dan supaya
daku dapat menyembahMu dengan kelebihan
tenagaku... Ampunilah dosaku dari cinta kasih Mu
dan kasihanilah daku, karena sesungguhnya
kaulah yang memaafkan kesalahan-kesalahan
dan memberi kurnia kepada hamba-hambaMu..
Wahai Tuhan sekalian alam.
***
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon
kepada-Mu segala kebaikan yang sekarang atau
yang akan datang, yang aku ketahui dan yang
belum aku ketahui. Dan aku berlindung diri
kepada-Mu dari segala kejahatan yang sekarang
dan yang akan datang, yang aku ketahui atau
yang belum aku ketahui. Dan aku memohon
kepada-Mu syurga dan segala yang boleh
mendekatkanku kepadanya dari perkataan
ataupun amalan. Dan aku berlindung diri kepada-
Mu dari api neraka dan segala yang bisa
mendekatkan aku kepadanya dari perkataan
ataupun amalan.

Aku memohon kepada-Mu kebaikan yang
dimohon dengannya oleh hamba-Mu dan utusan-
Mu Muhammad saw. Dan aku mohon perlindungan
kepada-Mu apa yang dimohon perlindungan oleh
hamba-Mu dan utusan-Mu Muhammad saw. Dan
aku memohon kepada-Mu agar segala yang
Engkau putuskan buatku dari segala urusan
apapun biarlah Engkau jadikan akibatnya yang
baik saja." - (Musnad Ahmad bin Hanbal, no
25137)

****

Keyakinan kepada Hari Akhirat sangat penting ketika kita hidup di dunia.
Itulah pendorong untuk terus melakukan kebaikan walaupun tidak mendapat
penghargaan insan. Itulah perisai untuk tidak melakukan kejahatan walaupun
terlindung daripada pandangan manusia.
19.01 | 0 komentar

Tergelincirnya Ulama

Tergelincirnya ulama: jika dia mendapat petunjuk maka jangan jadikan dien kalian taqlid padanya. Jika dia terfitnah maka janganlah kalian putus harapan kalian darinya, karena sesungguhnya orang mukmin itu terfitnah
kemudian bertobat. Ulama yang sholih, yang luas pandangannya, lagi mendapat petunjuk, sekali tergelincir maka akan menjadi fitnah (ujian).

Imam Ibnu Taimiyah mengingatkan bahaya tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik, dan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan, dengan mengemukakan atsar dari Umar dan Abu Darda’. Ziyad bin Hudhair berkata, Umar telah berkata: Tiga perkara yang merusak agama adalah tergelincirnya orang alim (ulama),
bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an, dan pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang menyesatkan.

Al-Hasan berkata, telah berkata Abu Darda’: “Sesungguhnya di antara hal yang aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah tergelincirnya orang alim (ulama), dan bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an... (Ibnu
Taimiyyah, al-Fatawa Al-Kubro, juz 9 halaman 108).

Dari Ziyad bin Hudhair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang  menghancurkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: yang menghancurkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan hukum (keputusan) pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad:
isnadnya –pertalian riwayatnya—shahih).

Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah menegaskan: Oleh karena itu dikatakan: Awas hati-hati (hindarilah)  tergelincirnya orang alim (ulama), karena sesungguhnya ketika ia tergelincir maka tergelincirlah dunia karena tergelincirnya (ulama itu). (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz 4 halaman 296).
***
Lalu bagaimana keadaannya ketika ulama menjadi corong para penguasa durjana, menjadi lisan yang berbicara dengan nama mereka, menjual fatwa dengan kenikmatan dunia dan memberikan ilmu pada orang yang memegang pedang dan emas?

Dia tidak memiliki keinginan kecuali membenarkan perbuatan para penguasa yang telah memenuhi segala kebutuhan hawa nafsunya? Dan memoles hukum dan kekuasaan mereka dengan dalil syar’i. Sementara lisan
mereka sangat tajam menyerang para ulama amilin, ulama mukhlisin, aktifis dan pejuang, mujahidin muwahhidin, yang bersungguh sungguh hendak menegakkan kalimahNya dimuka bumi?

Dia tidak menemukan satu celah kecuali dia luaskan dan tidak pula satu retak kecuali menyebarkannya. Bagaimana keadaan pada hari itu? Lalu akan seperti apa keadaan umat? Kalangan awam mereka telah dipenggal lehernya oleh dunia, selalu berusaha mendapatkannya padahal mereka sudah banyak memilikinya. Para ulama suu' dan syaikh-syaikh mereka memalsukan dienullah ta’ala?

Bagaimana seseorang bisa selamat kala syubhat-syubhat telah merata di setiap lembah?
Musuh-musuh kebenaran dari segala penjuru? Orang Islam yang komitmen dengan keislamannya. Bersungguh sungguh dalam memegang ajaran Islam. Dan terus berupaya melaksanakan kewajibannya dalam menegakkan  dienullah. Bersama dengan penguasa para ulama suu’ itu seringkali menghantam mereka dengan berbagai cara.

Kadang-kadang para ulama suu’ mendatangi dari pintu takwa. Kadang-kadang dari pintu taklid pada beberapa orang. Siapa ulama kalian? Siapa yang menyertai kalian dalam urusan ini? Siapa dari syaikh-syaikh dunia yang menguatkan kalian di atas hal ini? Jika cara-cara ini tidak berhasil maka mereka menakut-nakuti dengan kesempitan hidup di dunia, hilangnya orang-orang yang dicintai, hilangnya harta benda, pengawasan intel-intel, atau terbongkarnya rahasia. Di hadapan semua ini, bagaimana seseorang bisa selamat?
***
Salah seorang mereka berkata: Aku duduk bersama seorang laki-laki yang aku kira dia orang yang baik dalam membantu orang orang yang berjuang menegakkan hukum Allah. Aku terus duduk bersamanya sampai dia mulai lepas dari membantu dan menguatkan mereka. Dia menyebut-nyebut beberapa aib dan kesalahan -menurut anggapannya-. Lalu aku berbicara padanya, maka dia tidak mendapati selain
ucapannya yang dia arahkan pada wajahku: “Hati-hati engkau dari fanatik jamaah!”
***
Tuduhan ta’assub, fanatik, ekstrim, ekslusiv dan sejenisnya adalah tembakan peluru yang tidak asing bagi orang orang Islam yang hendak menegakkan kalimatullah di muka bumi. Istilah-istilah al-haq digunakan melawan untuk memalingkan dari al-haq? Sungguh benar Ali radhiallahu ‘anhu –ketika tahkim al-Qur’an
menuntutnya–, dia mengatakan: Kata-kata al-haq, tapi diinginkan dengan kata-kata itu kebatilan.
Bantahan syubhat tentang mujahidin – menurut orang-orang pandainya– telah dianggap fanatik. Tetap teguh (tsabat) di atas al-haq dan tidak berubah-ubah dianggap fanatik.
***
Adapun seseorang yang tsabat di atas dunia yang menyibukkannya dan memenggal lehernya, seseorang tsabat pada penguasa, tsabat pada hukum buatan manusia, tsabat pada partainya, tsabat pada marga dan keluarganya, tsabat di atas persahabatan dengan ahlul bid’ah dari kalangan para penganut agama demokrasi,
dan tsabat di atas persahabatannya dengan ahlul bid’ah dari segala penjuru, tidak disebut fanatik.

Pada kacamata penguasa dan ulama suu' itu, orang yang mati-matian menyebarluaskan liberalisme, pluralisme, dan berbagai isme isme lain yang nyata nyata telah meruntuhkan akhlak dan moral bangsa, menimbulkan berbagai kekacauan, keresahan dan kejahatan tidak disebut fanatik, ekstrim dll sebagaimana
dituduhkan pada para pejuang dan penegak kalimatullah.

Mencabik cabik ajaran Quran dan sunnah yang murni dan penyelewengan atasnya, disebut sebagai keterbukaan berpikir, kebebebasan, intelek dan berpikiran cemerlang!
Wal ‘iyadzubillah. Allahumma sallimna.

09.38 | 0 komentar

BERSIH

Membersihkan jiwa dan tersenyum dengan nikmat Allah yang ada disisi...
Membersihkanlah jiwa terlebih dahulu, pasti Allah akan membantu...
Orang yang bersih hatinya sentiada rendah diri dengan Allah Taala selalu
berbaik sangka dengan Tuhannya. Jika mendapat ujian kesusahan hatinya
berkata,
"Karena dosakulah ujian ini datang"
"Tuhan menghukum ku karena dosaku"
"moga-moga aku terlepas dari hukuman akhirat yang amat dahsyat"
Kalau ada orang lain yang bernasib baik, mungkin berpangkat atau kaya,
gembira hatinya.. Dia turut gembira dengan kegembiraan orang lain... Sekiranya
ada orang yang mendapat kecelakaan, miskin, sakit... hatinya turut sedih
dengan kesedihan orang.

Jika dia mendapat nikmat dia merasa malu dengan Tuhannya karena merasa
tidak layak menerima nikmat itu. Hatinya merasakan..." Apa maksud Tuhan
memberi aku nikmat untuk aku bersyukur atau kufur?" Cemas jiwanya,
gembiranya tidak begitu ketara karena nikmat itu masih menjadi tanda tanya.
Hajat-hajatnya yang tidak didapatkannya dia ridha senantiasa berbaik
sangka dengan Tuhan. Sedikit pun tidak cacat hatinya dengan Allah karena dia
tahu Allah Maha Bijaksana mentakdirkan. Bila disusahkan orang, terus teringat
dosanya "Karena dosakulah aku disusahkan." Dia tidak berdendam bahkan
mendoakan orang itu, dengan kebaikan... Nikmat Allah disyukurinya pemberian
dan pertolongan orang diingati dan dibalasinya.

Hatinya senantiasa cemas, kematian di depan mata, kapan kapan saja
bisa tiba.. Gelisah dengan dosanya amal-ibadahnya dilupakan saja karena dia
tidak tahu apakah diterima atau sebaliknya...
Kakinya di dunia namun hatinya senantiasa dengan Tuhannya perasaannya
senantiasa memikirkan akhirat.
Semoga Allah berikan kita hati yang bersih.

****
Orang pintar sekalipun akan gagal apabila mereka memikirkan terlalu
banyak hal. Sedangkan orang bodoh seringkali berhasil dengan
melakukan tindakan tepat.

08.48 | 0 komentar

ADZAN

Ciri akhir zaman, di antaranya, diangkatnya ilmu. Maknanya bukan dicabut secara langsung dari dada manusia. Namun dengan diwafatkan ulama. Jika sudah tidak ada ulama yang sesungguhnya, maka manusia mengangkat orang yang jahil sebagai pemimpin dalam beragama. Mereka meminta fatwa kepadanya.

Akibatnya, pemimpin yang jahil tersebut sesat karena kejahilannya- dan menyesatkan manusia secara umum dengan fatwanya. Demikianlah realita yang terjadi di masyarakat. Saat kepemimpinan suatu negeri dipegang orang yang jahil terhadap agama, maka ia diundang dan didaulat memberikan arahan. Lebih parah lagi yang meminta arahan adalah orang-orang yang dipercaya umat dalam urusan agama. Bahkan dikaitkan dengan tempat mulia umat Islam, yakni masjid. Sehingga arahan yang diberikan tentunya jauh dari kebenaran yang
sesungguhnya karena ia orang yang benar-benar tidak menguasai urusan agama. (MUI: Adzan Sayup itu Wacana Wapres Saja dan Tak Sesuai Syariat Islam)
***
Adzan adalah ibadah dan termasuk syi'ar Islam yang masyhur dan teragung. Amalan ini terus dilaksanakan semenjak disyariatkannya sampai wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Baik ketika malam maupun siang. Baik ketika bepergian maupun bermukim. Tidak pernah terdengar bahwa beliau pernah meninggalkannya atau memberikan dispensasi untuk tidak mengerjakannya.

Disunnahkan mengeraskan suara adzan sehingga sampai ke telinga manusia yang belum hadir di masjid. Baik dengan meninggikan suara atau dengan menggunakan pengeras. Agar maksud adzan yang sebagai panggilan shalat tercapai. Inilah madzhab Syafi'i, Hambali, dan satu pendapat dari Hanafi. (Lihat: Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal: I/378)

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata kepada Ibnu Abi Sha'sha'ah, "Aku lihat kamu sangat suka dengan kambing dan gurun. Jika kamu sedang menggembalakan kambingmu atau sedang berada di gurun, maka kumandangkanlah adzan dengan suara yang keras. Sebab tidaklah jin,
manusia atau benda lainnya mendengarkan suara muadzin, kecuali mereka akan memberikan persaksiannya pada hari kiamat." Abu Said berkata, "Aku mendengarnya dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa sallam." (HR. Al-Bukhari dan al-Nasa'i)

Imam Abu Dawud dalam Sunannya menuliskan: "Bab Meninggikan (mengeraskan) suara saat adzan". Lalu beliau menyebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari abi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) diberi ampunan untuknya sejauh suaranya
dan akan disaksikan oleh semua benda yang basah dan yang kering. Satu orang yang mendatangi shalat maka dicatat untuknya dua puluh lima shalat dan diberi ampunan untuknya antara dua shalat." (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami', no. 7744 dan Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud, no. 515)

Maksud "Muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) diberi ampunan untuknya sejauh suaranya” adalah muadzin diberi ampunan dengan sempurna dengan jauhnya suara itu sampai. Makna lainnya, ini sebagai perumpamaan. Jika dosanya banyak dan mencapai sejauh suaranya itu, maka diberi ampunan untuknya
dengan sebab itu. Ringkasnya, kerasnya suara akan terdengar oleh manusia. Setiap orang yang mendengar suara adzan lalu terpanggil oleh suara dan panggilan tersebut, maka muadzin tadi diberi ganjaran dan pahala serta diampuni dosanya dengan sebab itu.

Maksud dari "dan akan disaksikan oleh semua benda yang basah dan yang kering", setiap benda basah dan kering yang suara adzan sampai kepadanya akan menjadi saksi untuk muadzin pada hari kiamat. Maksud "Satu orang yang mendatangi shalat maka dicatat untuknya dua puluh lima shalat dan diberi ampunan  untuknya antara dua shalat," yakni: orang yang hadir shalat karena menyambut seruan ini maka muadzin diberi pahala besar. Baginya pahala 25 shalat dan ampunan antara dua shalat berikutnya dengan sebab shalat yang dikerjakan tadi. Sama-sama dimaklumi, muadzin adalah orang yang menghadiri shalat berjamaah, hadir di masjid, dan mendapatkan pahala shalat berjama'ah. Di tambah lagi dengan ampunan yang diperolehnya di antara dua shalat. Maka apa yang diperoleh oleh orang yang menyambut seruannya, maka ia pun  mendapatkannya. Tapi ia mendapat tambahan karena menjadi sebab datangnya mereka ke masjid.
***
Mengeraskan adzan menjadi tuntutan. Karena tujuannya menyampaikan suara nida' (panggilan) kepada manusia. Dan ini bisa terwujud dengan benar-benar mengeraskan suara sampai diyakini telah sampai kepada telinga umat. Jika dilantunkan secara pelan dan mendayu-dayu tentu tujuan ini tidak terwujud. Terlebih para ulama menyebutkan, adzan dengan sayup-sayup dan mendayu-dayu termasuk dari kesalahan dalam adzan.
Syaikh Abu Malik Kamal dalam Shahih Fiqih Sunnah menyebutkan beberapa kesalahan dan amal bid'ah dalam adzan. Pada urutan pertama disebutkan, "Melagukan dan meliuk-liukan suara secara berlebihan dalam adzan." (Shahih Fiqih Sunnah: I/392)

Semoga tulisan ini menjadi sarana meluruskan wacana yang dihembuskan oleh Wakil Presiden, -bukan ulama namun berbicara tentang syariat ibadah- tentang anjuran agar adzan tidak terlalu keras, sebaliknya adzan lebih baik dikumandangkan dengan sayup-sayup. Wallahu Ta'ala A'lam.
08.46 | 0 komentar

Asy-Syifa’ binti al-Harits (Guru Wanita Pertama dalam Islam)

Asy-Syifa’ binti al-Harits (Guru Wanita Pertama dalam Islam)

Beliau adalah asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah.

Asy-Syifa’ ra masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi saw dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba’iat kepada Rasulullah saw. Beliaulah yang disebutk
an dalam firman Allah SWT:
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mumtahanah: 12)

Asy-Syifa’ termasuk wanita yang cerdas dan utama, beliau seorang ulama di antara ulama dalam Islam dan tanah yang subur bagi ilmu dan iman.

Asy-Syifa’ ra menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah. Asy-Syifa’ dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis sebelum datangnya Islam, sehingga tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada wanita-wanita muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala. Oleh karena itulah, beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. Di antara wanita yang dididik oleh asy-Syifa’ adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab ra istri Rasulullah saw .

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah saw meminta kepada asy-Syifa’ untuk mengajarkan kepada Hafshah ra tentang menulis dan sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa). Asy-Syifa’ berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw masuk sedangkan saya berada di samping Hafshah, beliau bersabda: ‘Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis’.” (HR Abu Daud).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa’ adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, maka tatkala beliau masuk Islam dan berhijrah beliau berkata kepada Rasulullah saw, “Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda.” Lalu Nabi saw bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku.” Asy-Syifa’ berkata, “Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah penyakit bisul.” Kemudian, Rasulullah saw bersabda, “Meruqyalah dengan cara tersebut dan ajarkanlah hal itu kepada Hafshah.”

Di antara yang termasuk ruqyah adalah do’a:
“Ya Allah Tuhan manusia, Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi.” (HR Abu Daud).

Inilah, asy-Syifa’ telah mendapatkan bimbingan yangn banyak dari Rasulullah saw . Sungguh asy-Syifa’ sangat mencintai Rasulullah saw sebagaimana kaum mukminin dan mukminat yang lain, beliau belajar dari hadis-hadis Rasulullah saw yang banyak tentang urusan dien (agama) dan dunia. Beliau juga turut menyebarkan Islam dan memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan. Di antara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah putranya yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, hamba sahayanya yaitu Ishak dan Hafshah Ummul Mukminin serta yang lain-lain.

Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, menjaganya dan mengutamakannya dan terkadang beliau mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, asy-syifa’ juga menghormarti Umar, beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq (jujur), memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, bertakwa dan berbuat adil. Suatu ketika asy-Syifa’ melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Itu adalah ahli ibadah.” Beliau berkata: “Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul mematikan.”

Asy-Syifa’ menjalani sisa-sisa hidupnya setelah wafatnya Rasulullah saw dengan menghormati dan menghargai pemerintahan Islam hingga beliau wafat pada tahun 20 Hijriyah.

Semoga Allah merahmati asy-syifa’ binti Abdullah, sungguh beliau telah mendahului umatnya dengan segala macam kebaikan dengan ilmu dan dien yang telah dikaruniakan kepada beliau agar beliau menjadi uswah hasanah (panutan yang baik) bagi setiap gadis di dalam Islam, sehingga beliau tidak kikir untuk mencurahkan segala yang dimilikinya, baik ilmu ataupun yang lainnya demi membela akidahnya dan mengharap ridha Allah SWT.
08.32 | 0 komentar

SABAR

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 28 Agustus 2012 | 19.57

Ujian kehidupan umpama sesetia malam dan siang, yang silih berganti..saat kesedihan itu datang, sampai waktunya, kegembiraan pula yang akan hadir.. bersabarlah" Hidup jangan menyerah kalah dan berputus harap. "Allah tidak akan menguji manusia lebih daripada yang mampu ditanggungnya. Dia lebih menyayangi hamba ciptaanNya ini lebih daripada kita menyayangi diri kita sendiri."
***
Seorang awak kapal terdampar seorang diri di sebuah pulau. Dia telah mendirikan sebuah pondok dan berdoa setiap hari selama berbulan-bulan lamanya supaya akan ada orang yang menemuinya. Dia percaya dengan sepenuh hatinya bahwa Tuhan akan mendengar doanya itu. Sehingga pada suatu hari bekal makanannya habis dan dia terpaksa masuk ke dalam hutan. Si anak kapal ini tetap bersabar dengan hujan panas serta ribut petir yang melanda.

Sekembalinya, pondok yang didiaminya telah hangus terbakar. Pada saat itu, dia begitu marah dan bertanya kenapa Tuhan memperlakukannya sedemikian rupa disebalik kesabarannya dengan ujian Tuhan. Keesokkan harinya, ada sebuah bot kecil menghampiri tepian dan dia menjerit serta melambai-lambai kearahnya. Akhirnya, dia berhasil diselamatkan. Awak kapal tadi bertanya kepada pemilik bot, bagaimana dia bisa menjumpainya. Jawabnya, "Tadi malam, saya terlihat asap (dari pondok yang terbakar).” Orang yang yakin dan penuh harap akan nampak bunga dan bukan durinya. Tetapi mereka yang putus harap selalu akan nampak duri dan tidak bunga mawarnya

"Apabila Allah cepat memakbulkan doamu, maka Dia menyayangimu, bila Dia lambat memakbulkan doamu, maka dia ingin mengujimu, bila Dia tidak memakbulkan doamu, maka Dia merancang sesuatu yang lebih baik."

Suka dan duka silih berganti umpama sesetia malam kepada siang. Kedua-duanya pasti ada. Oleh itu... jangan berputus harap dan menyerah kalah selagi nafas belum ditakdirkan berakhir di ujung nyawa. Yakinlah Allah bersama-sama hambaNya yang sabar dan bersyukur.

***

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan tetapi jangan pernah menyesal untuk brtemu dengan orang lain. Menyesallah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.

19.57 | 0 komentar

Kepada Saudariku Muslimah

Joana Francis adalah seorang penulis dan wartawan asal AS. Dalam situs Crescent and the Cross, perempuan yang menganut agama Kristen itu menuliskan ungkapan hatinya tentang kekagumannya pada perempuan-perempuan Muslim di Libanon saat negara itu diserang oleh Israel dalam perang tahun 2006 lalu. Apa yang ditulis Francis, meski ditujukan pada para Muslimah di Libanon, bisa menjadi cermin dan semangat bagi para Muslimah
dimanapun untuk bangga akan identitasnya menjadi seorang perempuan Muslim, apalagi di tengah kehidupan modern dan derasnya pengaruh budaya Barat yang bisa melemahkan keyakinan dan keteguhan seorang Muslimah untuk tetap mengikuti cara-cara hidup yang diajarkan Islam.

Karena di luar sana, banyak kaum perempuan lain yang iri melihat kehidupan dan kepribadian para perempuan Muslim yang masih teguh memegang ajaran-ajaran agamanya. Inilah ungkapan kekaguman Francis sekaligus pesan yang disampaikannya untuk perempuan-perempuan Muslim dalam tulisannya bertajuk “Kepada Saudariku Para Muslimah”; Di tengah serangan Israel ke Libanon dan “perang melawan teror” yang dipropagandakan Zionis, dunia Islam kini menjadi pusat perhatian di setiap rumah di AS.

Aku menyaksikan pembantaian, kematian dan kehancuran yang menimpa rakyat Libanon, tapi aku juga melihat sesuatu yang lain; Aku melihat kalian (para muslimah). Aku menyaksikan perempuan-perempuan yang membawa bayi atau anak-anak yang mengelilingi mereka. Aku menyaksikan bahwa meski mereka mengenakan pakaian yang sederhana, kecantikan mereka tetap terpancar dan kecantikan itu bukan sekedar
kecantikan fisik semata.

Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku; aku merasa iri. Aku merasa gundah melihat kengerian dan kejahatan perang yang dialami rakyat Libanon, mereka menjadi target musuh bersama kita. Tapi aku tidak bisa memungkiri kekagumanku melihat ketegaran, kecantikan, kesopanan dan yang paling penting kebahagian yang tetap terpancar dari wajah kalian. Kelihatannya aneh, tapi itulah yang terjadi padaku, bahkan di tengah serangan bom yang terus menerus, kalian tetap terlihat lebih bahagia dari kami ( perempuan AS) di sini karena kalian  menjalani kehidupan yang alamiah sebagai perempuan. Di Barat, kaum perempuan juga menjalami kehidupan seperti itu sampai era tahun 1960-an, lalu kami juga dibombardir dengan
musuh yang sama. Hanya saja, kami tidak dibombardir dengan amunisi, tapi oleh tipu muslihat dan korupsi moral.

Perangkap Setan

Mereka membombardir kami, rakyat Amerika dari Hollywood dan bukan dari jet-jet tempur atau tank-tank buatan Amerika. Mereka juga ingin membombardir kalian dengan cara yang sama, setelah mereka menghancurkan infrastruktur negara kalian. Aku tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan direndahkan seperti yang kami alami. Kalian dapat menghindar dari bombardir semacam itu jika kalian mau  mendengarkan sebagian dari kami yang telah menjadi korban serius dari pengaruh jahat mereka.

Apa yang kalian lihat dan keluar dari Hollywood adalah sebuah paket kebohongan dan penyimpangan realitas. Hollywood menampilkan seks bebas sebagai sebuah bentuk rekreasi yang tidak berbahaya karena tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan nilai-nilai moral di masyarakat melalui program-program
beracun mereka. Aku mohon kalian untuk tidak minum racun mereka.

Karena begitu kalian mengkonsumsi racun-racun itu, tidak ada obat penawarnya. Kalian mungkin bisa sembuh sebagian, tapi kalian tidak akan pernah menjadi orang yang sama. Jadi, lebih baik kalian menghindarinya sama sekali daripada nanti harus menyembuhkan kerusakan yang diakibatkan oleh racun-racun itu. Mereka akan menggoda kalian dengan film dan video-video musik yang merangsang, memberi gambaran palsu bahwa kaum perempuan di AS senang, puas dan bangga berpakaian seperti pelacur serta nyaman hidup tanpa keluarga. Percayalah, sebagian besar dari kami tidak bahagia.

Jutaan kaum perempuan Barat bergantung pada obat-obatan anti-depresi, membenci pekerjaan mereka dan menangis sepanjang malam karena perilaku kaum lelaki yang mengungkapkan cinta, tapi kemudian dengan
rakus memanfaatkan mereka lalu pergi begitu saja. Orang-orang seperti di Hollywood hanya ingin menghancurkan keluarga dan meyakinkan kaum perempuan agar mau tidak punya banyak anak.

Mereka mempengaruhi dengan cara menampilkan perkawinan sebagai bentuk perbudakan, menjadi seorang ibu adalah sebuah kutukan, menjalani kehidupan yang fitri dan sederhana adalah sesuatu yang usang. Orang-
orang seperti itu menginginkan kalian merendahkan diri kalian sendiri dan kehilangan iman. Ibarat ular yang menggoda Adam dan Hawa agar memakan buah terlarang. Mereka tidak menggigit tapi mempengaruhi pikiran kalian. Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara
yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu.

Model pakaian yang dibuat para perancang Barat dibuat untuk mencoba meyakinkan kalian bahwa asset kalian yang paling berharga adalah seksualitas. Tapi gaun dan kerudung yang dikenakan para perempuan Muslim lebih “seksi” daripada model pakaian Barat, karena busana itu menyelubungi kalian sehingga terlihat seperti sebuah “misteri” dan menunjukkan harga diri serta kepercayaan diri para muslimah. Seksualiatas seorang perempuan harus dijaga dari mata orang-orang yang tidak layak, karena hal itu hanya akan diberikan pada laki-laki yang mencintai dan menghormati perempuan, dan cukup pantas untuk menikah dengan kalian. Dan karena lelaki di kalangan Muslim adalah lelaki yang bersikap jantan, mereka berhak
mendapatkan yang terbaik dari kaum perempuannya.

Tidak seperti lelaki kami di Barat, mereka tidak kenal nilai sebuah mutiara yang berharga, mereka lebih memilih kilau berlian imitasi sebagai gantinya dan pada akhirnya bertujuan untuk membuangnya juga.
Modal yang paling berharga dari para muslimah adalah kecantikan batin kalian, keluguan dan segala sesuatu yang membentuk diri kalian. Tapi saya perhatikan banyak juga muslimah yang mencoba mendobrak batas dan berusaha menjadi seperti kaum perempuan di Barat, meski mereka mengenakan kerudung. Mengapa kalian ingin meniru perempuan-perempuan yang telah menyesal atau akan menyesal, yang telah kehilangan hal-hal paling berharga dalam hidupnya? Tidak ada kompensasi atas kehilangan itu. Perempuan-perempuan Muslim adalah berlian tanpa cacat. Jangan biarkan hal demikian menipu kalian, untuk menjadi berlian imitasi. Karena semua yang kalian lihat di majalah mode dan televisi Barat adalah dusta, perangkap setan, emas palsu.

Kami Butuh Kalian, Wahai Para Muslimah ! Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kecil, sekiranya kalian masih penasaran; bahwa seks sebelum menikah sama sekali tidak ada hebatnya. Kami menyerahkan tubuh kami pada orang kami cintai, percaya bahwa itu adalah cara untuk membuat orang itu mencintai kami dan akan menikah dengan kami, seperti yang sering kalian lihat di televisi. Tapi sesungguhnya hal itu sangat
tidak menyenangkan, karena tidak ada jaminan akan adanya perkawinan atau orang itu akan selalu bersama kita.

Itu adalah sebuah Ironi! Sampah dan hanya akan membuat kita menyesal. Karena hanya perempuan yang mampu memahami hati perempuan. Sesungguhnya perempuan dimana saja sama, tidak peduli apa latar belakang ras, kebangsaan atau agamanya. Perasaan seorang perempuan dimana-mana sama. Ingin memiliki sebuah keluarga dan memberikan kenyamanan serta kekuatan pada orang-orang yang mereka cintai. Tapi kami, perempuan Amerika, sudah tertipu dan percaya bahwa kebahagiaan itu ketika kami memiliki karir
dalam pekerjaan, memiliki rumah sendiri dan hidup sendirian, bebas bercinta dengan siapa saja yang disukai.

Sejatinya, itu bukanlah kebebasan, bukan cinta. Hanya dalam sebuah ikatan perkawinan yang bahagialah, hati dan tubuh seorang perempuan merasa aman untuk mencintai.Dosa tidak akan memberikan kenikmatan,
tapi akan selalu menipu kalian. Meski saya sudah memulihkan kehormatan saya, tetap tidak tergantikan seperti kehormatan saya semula. Kami, perempuan di Barat telah dicuci otak dan masuk dalam pemikiran bahwa kalian, perempuan Muslim adalah kaum perempuan yang  tertindas. Padahal kamilah yang benar-benar tertindas, menjadi budak mode yang merendahkan diri kami, terlalu resah dengan berat badan kami, mengemis cinta dari orang-orang yang tidak bersikap dewasa. Jauh di dalam lubuk hati kami, kami sadar telah tertipu dan diam-diam kami mengagumi para perempuan Muslim meski sebagaian dari kami
tidak mau mengakuinya. Tolong, jangan memandang rendah kami atau berpikir bahwa kami menyukai semua itu. Karena hal itu tidak sepenuhnya kesalahan kami.

Sebagian besar anak-anak di Barat, hidup tanpa orang tua atau hanya satu punya orang tua saja ketika mereka masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang. Keuarga-keluarga di Barat banyak yang hancur dan kalian tahu siapa dibalik semua kehancuran ini. Oleh sebab itu, jangan sampai tertipu saudari muslimahku, jangan biarkan budaya semacam itu mempengaruhi kalian.

Tetaplah menjaga kesucian dan kemurnian. Kami kaum perempuan Kristiani perlu melihat bagaimana kehidupan seorang perempuan seharusnya. Kami membutuhkan kalian, para Muslimah, sebagai contoh bagi kehidupan kami, karena kami telah tersesat. Berpegang teguhlah pada kemurnian kalian sebagai Muslimah dan berhati-hatilah !
15.31 | 0 komentar

SEHAT

Setiap diri pasti pernah melalui hari mendung
dalam hidupnya. Ketika itu diri akan berada dalam
zona iman yang lemah dan keadaan itu membuat
diri sangat tertekan. Apakah mungkin hidup bisa
tenang jika hubungan diri dengan Allah Taala
terancam?

Banyak sebab yang mengantar diri kepada
keadaan seperti itu. Antaranya ialah jika diri
terlalu terobsesi terhadap dunia hingga
melupakan tujuan sebenarnya hidup ini. Tetapi
bersyukur kepada Allah SWT karena hati masih
hidup dan merasa sempit apabila menyadari
kealpaan yang lalu.

Diri masih memiliki semangat untuk bangkit
mencari iman yang hilang. Tetapi persoalannya,
di manakah diri bisa menemukan iman yang hilang
itu?

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi
untuk mencari keimanan sejati. Antaranya;
Di hati kita sendiri. Sesiapa yang mau
memperbaiki diri mesti melihat ke dalam lubuk
hatinya. Di situlah asal mula kebaikan bercambah
menjadi benih yang baik.

Hati yang hidup biasanya sibuk menanyai
pada tuannya, kenapa kamu lakukan itu dan ini?
Untuk siapa dan apa faedahnya? Hanya ada satu
zat yang dapat menguatkan hati, apabila diri
bersandar padaNya maka hilanglah segala beban
yang menyesakkan dada.

Siapakah yang diri cari jika hati terlalu
sedih? Siapakah yang diri tuju jika mara bahaya
telah mengepung dari segenap penjuru?
"Dan jika Allah menimpakan sesuatu
kemudharatan kepadamu maka tidak ada yang
dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika
Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak
ada yang dapat menolak kurniaan-Nya. Dia
memberikan kebaikan itu kepada sesiapa yang
dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yunus: 107)

Hati yang senantiasa mengingati Allah SWT,
di situlah akan bermula segala kebaikan tercipta.
Hati yang membisikkan pada diri supaya
bertaubat, melupakan segala yang berlalu dan
memulakan hidup baru.

Hati adalah tempat jatuhnya pandangan
Allah SWT, tempat berkumpul rahmat dan
hidayah-Nya untuk mengikis segala syahwat yang
melekat di dindingnya. Jika hati bisa disentuh
umpama mangkuk kristal yang mahal, tuan
empunya sudah tentu menjaganya dengan penuh
kasih sayang. Jangan ada debu yang melekat,
senantiasa dibersihkan dan diletakkan pada
tempat yang aman. Tiada tangan kotor yang
mampu menjamah.

Tapi sayang hati itu begitu murah pada
pandangan manusia yang lalai, dibiarkan retak
menanti pecah berderai oleh dosa yang hitam.
Masihkah ada peluang membersih hati yang
dicipta Allah SWT untuk merasai sejuta nikmat.
Nikmat iman dan Islam, nikmat kebahagiaan dan
ketenangan.

Al-Fudail bin 'Iyadh berkata: "Sesiapa yang
memperbaiki hatinya karena Allah, niscaya Dia
akan memperbaiki amal perbuatannya. Sesiapa
yang memperbaiki hubungannya dengan Allah,
maka Allah akan memperbaiki hubungannya
dengan orang lain."

Iman yang hilang dan kehidupan sempit itu
akan segera berakhir jika diri bersedia
memperbaiki hubungan dengan Allah Taala.
Melicinkan hati dari debu yang melekat, karena
tiada seorangpun yang sanggup menderita tanpa
cahaya iman.

Adakalanya penyakit jasmani dan mental
menyerang manusia silih berganti. Bukankah itu
petanda wujudnya kezaliman yang diri lakukan
pada diri sendiri? Makanan yang tidak seimbang
dan rehat yang tidak mencukupi menjadi puncak
kurangnya daya kekebalan tubuh.

Tekanan dalam mengejar karier dan
pekerjaan, hubungan yang tegang dengan or-
ang lain menjadi sebab tekanan berlarutan.
Tetapi adakah diri juga merasai antara sebab
tekanan dalam hidup ini ialah tidak tersedianya
ilmu yang cukup, iman yang kebal dan ibadat
yang ikhlas?

Siapa saja bisa meminta nasehat doktor
pakar atau mencari obat alternatif yang menjadi
gaya hidup manusia modern seperti rileks di spa
dan melanggan pelbagai terapi yang teruji
pengaruhnya. Semua itu ikhtiar yang baik selagi
tidak menyalahi syara`.

Namun jangan mudah melupakan keperluan
diri yang lain. Kalau hanya jasmani yang diambil
berat, maka akan muncul ketidakseimbangan
dalam hidup. Bagaimana dengan rohani,
sudahkah ia diobati?

Islam adalah agama yang realistis, ia
berinteraksi dengan manusia secara
keseluruhannya baik jasmaninya, rohaninya
maupun akal dan perasaannya.
Islam meminta agar semua perkara itu diberi
santapan yang cukup dalam batasan sederhana.
Riyadhah itu menjadi santapan jasmani, ibadat
menjadi santapan rohani, ilmu menjadi santapan
akal dan seni menjadi santapan perasaan.

Keadilan dalam Islam cukup jelas
ukurannya. Hanya manusia saja yang tidak
mampu memberi keseksamaan untuk dirinya
sendiri. Ada yang terlebih mengutamakan dunia
hingga melupakan agama, tak sedikit pula yang
terpukau oleh ajaran yang menyalahi asas
kemurnian Islam itu sendiri.

Keadilan untuk diri adalah memberi hak
kepada seluruh isi tubuh ini dengan sebaik-
baiknya. Rasulullah SAW pernah menegur
seorang sahabat yang sembahyang sepanjang
malam dan berpuasa terus menerus pada siang
harinya, sabda baginda SAW yang bermaksud:
"Sesungguhnya bagi jasadmu ada haknya, bagi
matamu ada haknya, bagi keluargamu ada
haknya dan bagi tetamumu ada haknya."
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Tiada yang lebih menyayangi diri kita sendiri
selain Allah Taala dan diri kita sendiri. Jalannya
telah ditunjukkan oleh Rasul-Nya SAW yaitu
bersihkan hati dan berbuat adil pada tubuh
badan ini.

Keseimbangan dalam jasmani dan rohani.
Keseimbangan dalam perhatian antara dunia dan
akhirat. Semoga Allah rahmati kita semua

08.02 | 0 komentar

Bimbingan Dari Langit

Written By Rudi Abu azka on Senin, 27 Agustus 2012 | 02.40

Manusia terus berbondong-bondong dan
berlomba mengejar kehidupan yang fana. Seakan
lupa, bahwa bukan untuk ini Allah
menciptakannya. Kebutaan akan hakikat
kehidupan semakin kentara. Selimut kecintaan
mendalam terhadap dunia dan takut akan
kematian semakin menebal. Isyarat ini telah lama
disampaikan oleh Rasulullah, namun sedikit yang
memahaminya.

Apabila membaca, mendengar, melihat dan
mengetahui berita tentang gejala keruntuhan
akhlak di kalangan masyarakat - dari yang
sekecil-kecilnya hingga yang paling besar - hati
kecil ini sering merintih sendirian. Terfikirkan
tentang keadaan diri manusia akhir zaman ini
yang mulai jauh dengan petunjuk dari langit.
Kehidupan seakan-akan terasing dari
petunjuk ini. Seolah-olah diri ini tidak pernah
didatangi Nabi. Seolah-olah Quran tidak pernah
muncul. Seolah-olah wahyu dan Nur hidayah
tidak pernah datang menjenguk diri manusia.
Kenapa berlaku demikian? Bukankah Allah
telah membangkitkan RasulNya untuk
menunjukkan jalan hidup kepada manusia?
Bukankah Allah-dengan rahmatNya-menurunkan
wahyuNya sebagai pedoman hidup manusia?

Sejarah kehidupan manusia pernah
menyaksikan kehidupan manusia terbaik di muka
bumi. Dari manusia ganas, zalim, penindas, sesat
bertukar menjadi manusia baik, adil, penyayang
dan berjalan menurut petunjuk. Generasi para
Sahabat didikan Rasulullah saw melalui bentuk
pendidikan yang menyadarkan manusia arti hidup
dan mati adalah contoh terbaik umat sepanjang
zaman.

Kenapa mereka bisa bertukar dari jahiliah
kepada Islam? Mengapa mereka bisa berubah dari
manusia ‘pagan’ menjadi manusia berbudaya
tinggi dan berperadaban ulung? Tidakkah dengan
sebab petunjuk dari langit?

Petunjuk itulah juga yang sebenarnya
pernah menjenguk dan mengintai hati kita.
Sayangnya, diri kita tidak pernah merasai bahwa
ia sebagai sesuatu yang cukup berharga dalam
hidup. Bahkan, tidak ada cara, tidak ada jalan,
tidak ada kaedah melainkan masyarakat ini mesti
kembali kepada petunjuk dan bimbingan dari
langit itu. Hanya dengan jalan demikian, kita
semua akan selamat dunia Akhirat.

Manusia diciptakan Allah hanya untuk
beribadah kepadaNya saja. Apa yang hendak
dicari di dunia?
Saatnya kembali di atas jalur yang benar.
Jalur yang mengantarkan ke pintu syurga.
Menyiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat.
02.40 | 0 komentar

Mutiara Sakinah

Merenunglah. Siapa orang-orang yang kita cintai? Siapa orang-orang
yang paling dekat dalam hidup dan hati kita? Siapa orang yang
menghiasi ingatan kita? Siapa orang yang menemani langkah-langkah
hidup kita? Orang shalihkah dia? Mengajak pada kebaikan dan
keridhaan Allah kah dia?

Salim bin Abi Ja’ad mengatakan bahwa Abu Darda pernah berkata,
“Hendaklah seseorang berhati-hati bila ia dibenci oleh hati orang-
orang beriman dari arah yang tidak ia sadari.” Kemudian sahabat Abu
Darda bertanya, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan kata-kata
itu?” Salim mengatakan bahwa ia tidak mengerti. Abu Darda
menjelaskan, “Yaitu seorang hamba bermaksiat kepada Allah dalam
keadaan sendiri lalu Allah menghunjamkan kemarahan-Nya dalam hati
orang-orang beriman tanpa ia sadari.” (Al-Hilya: 1/215)

Kemarahan hati orang beriman, adalah kesengsaraan. Kebencian
orang-orang yang beriman adalah pangkal kesempitan dan
penderitaan. Karena merekalah sebenarnya yang dapat mengubah
dunia dengan segala permasalahannya menjadi indah. Lisan-lisan
merekalah yang menuangkan nasehat dan membicarakan kalimat demi
kalimat yang dapat menentramkan hati. Lidah-lidah merekalah yang
menyiram hati kita untuk senantiasa berada dalam keridhaan dan tidak
terlalu jauh menyimpang dari ridha Allah SWT. Tangan-tangan
merekalah yang menuntun kita. Telapak tangan merekalah yang
tertengadah di malam sunyi dan gelap malam hingga memberi kekuatan
iman dalam diri kita. Ingatlah sabda Rasulullah SAW tentang do’a
seorang mukmin di tengah malam yang dijamin diterima Allah SWT.
02.32 | 0 komentar

SUAMI

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 26 Agustus 2012 | 09.06

Bagi seorang wanita, harta yang paling
berharga di dalam hidup ini adalah seorang suami
yang shalih. Kepadanyalah, seorang isteri akan
merasakan kebahagian di dalam hidupnya dan di
Akhirat kelak. Keberuntungan yang akan diterima
seorang isteri, jika dia menyakini hidupnya,
memberikan segala cinta, perhatian, dan kasih
sayangnya kepada suami yang shalih. Karena
pada diri si suamilah, seorang isteri akan
mendapatkan apa yang didambanya; Ketena-
ngan, keteduhan, kedamaian, perlindungan dan
cinta serta sayang.

Suami yang shalih adalah seorang yang
dapat membahagiakan isteri dan anaknya, serta
keluarganya baik di dunia ini ataupun di Akhirat
kelak. Seorang suami yang shalih tidak akan
memberi makan isteri dan anak-anaknya kecuali
dengan harta yang halal.

Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang mampu menjaga amanah yang
diberikan kepadanya. Dan isteri adalah amanah
yang diberikan kepada seorang lelaki yang
menjadi suaminya.

Suami yang shalih adalah seorang suami
yang mampu memperlakukan isteri dan anaknya
dengan sifat-sifat yang terpuji, seorang suami
yang shalih akan selalu memperlakukan isterinya
dengan sabar; sabar dengan setiap kesalahan-
kesalahan isterinya, dan memperlakukan
isterinya dengan kelembutan dan penuh maaf
saat isteri dipenuhi dengan emosi dan kemarahan.
Suami yang shalih adalah suami yang mampu
menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya.
Seorang suami bagaikan pemerintah di dalam rumah
tangganya, seorang suami yang shalih adalah yang
mampu memperhatikan hak dan kepentingan
rakyatnya di dalam pemerintahan yang
dipimpinnya, yaitu isterinya.

Seorang suami yang shalih akan selalu mampu
bersikap bijaksana di dalam tindakannya,
menghargai pendapat isterinya, dan jika terjadi
perbedaan pendapat dengan isterinya, dengan
sikap terpuji dan penuh cinta kasih menghargai
pendapat sang isteri, serta mencari titik temu
bersama dalam kerangka yang diperintahkan oleh
Allah dan mejauhi segala yang dilarang oleh Allah.
Seorang suami yang shalih akan selalu mampu
menjadi teladan terpuji buat isteri dan anak-
anaknya. Mampu menumbuhkan kebiasaan-
kebiasaan yang baik, dan mendidik diri, isteri, dan
anak-anaknya untuk menapak di jalan-jalan yang
menuju keridhaan Allah.

Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang mampu membuat dirinya, isterinya dan
anak-anaknya mencintai ilmu, menguasai ilmu dan
mampu mengamalkannya, menjadikan ilmu yang
diperolehnya itu bermanfaat bagi bangsa, negara,
dan agamanya.

Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang mampu membuat isterinya dan anak-
anaknya tumbuh, dan berkembang menjadi peribadi
yang luar biasa serta menapak tangga-tangga
kejayaan di dunia ini dan Akhirat kelak.
Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang akan selalu menjaga isteri dan anaknya
dari api neraka...
09.06 | 0 komentar

SEDIH

DALAM meniti liku-liku kehidupan ini, diri
seringkali merasa kecewa. Kecewa karena
sesuatu yang terlepas dari genggaman tangan,
keinginan yang tidak kesampaian, kenyataan
yang tidak dapat diterima.. dan akhirnya ia
mengakibatkan sesuatu yang mengganggu jiwa
dan perasaan.

Hidup ini ibarat sebuah belantara. Tempat
diri mengejar segala keinginan dan memang
manusia diciptakanNya mempunyai kehendak dan
keinginan. Namun, tidak semua yang diri inginkan
akan tercapai, tidak setiap yang diri idamkan
mampu menjadi realita. Dan, bukan sesuatu yang
mudah untuk menyadari dan menerima kenyataan
bahwa apa yang bukan menjadi milik diri tidak
perlu ditangisi. Banyak orang yang tidak sadar
bahwa hidup ini tidak punya satu hukum, yaitu;
diri mesti berjaya, mesti bahagia atau yang
lainnya.

Berapa banyak orang yang berjaya tetapi
lupa bahwa segalanya adalah pemberian Allah
yang Maha Pemurah sehingga kejayaan itu
membuatnya sombong dan bertindak mengikut
nafsunya. Begitu juga kegagalan sering tidak
dihadapi dengan tenang dan sabar, padahal
dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak
tercapainya apa yang memang bukan hak kita.
Apa yang memang menjadi hak diri di dunia,
pasti akan Allah tunaikan. Namun apa yang
memang bukan miliknya, ia tidak akan mungkin
dimiliki, walaupun ia mungkin telah mendekati diri,
walaupun diri telah bermati-matian
mengusahakannya. Seorang mukmin tidak akan
bersedih ketika ditimpa musibah, malapetaka, dan
sebagainya. Tetapi dia bersyukur kepada Allah
dan menjadikan musibah itu sebagai peringatan
dari Allah terhadap dirinya.

Oleh itu, bila seorang mukmin merasa sedih
ketika ditimpa musibah, maka dia bukan mukmin
sejati. Sebab, apa pun musibah yang menimpa
seorang mukmin, selalu menguntungkan dirinya,
sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah
hadits: “Sungguh menakjubkan! Urusan orang
mukmin selalu menjadi hal yang menguntungkan
bagi dirinya. Dan yang demikian itu hanyalah
dialami oleh seorang mukmin.”

Seorang mukmin bila ditimpa kesusahan,
dan dia mengingat Allah, dengan jalan itulah dia
akan memperoleh jalan penyelesaian yang
terbaik. Dia tidak merasa tekanan batin dalam
bentuk apapun, karena penderitaan yang paling
berat sekalipun, pasti ada jalan penyelesaiannya.

Seorang mukmin adalah selalu mengingat
Allah dalam keadaan ditimpa penderitaan yang
amat sangat sekalipun, baik dengan mengucap-
kan tasbih, takbir, istighfar, doa maupun dengan
membaca Al-Quran, sehingga membuat jiwanya
bersih, bening, perasaannya tenang dan
tenteram.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Ingat akan
Allah adalah penawar kalbu,” diriwayatkan oleh
Ad-Dailami oleh Anas.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah
berduka lara, mendengarkanlah firman Allah
SWT, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi
kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak
mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau
hanyut dalam dalam nestapa yang berpanjangan
terhadap apa-apa yang terlepas dari
genggaman, dari dekapan. Melihat di sekeliling,
kemudian bercerminlah diri sendiri. Andai kita
tidak kenal siapa yang ada di dalam cermin itu,
mulai hari ini ada baiknya mulakan mencari diri
sendiri!

Manusia yang mulia adalah yang menyadari
dengan sepenuh hati bahwa dia hanyalah hamba,
benar-benar hamba, dalam pengertian hamba
yang sebenar-benarnya, baik secara teori
maupun praktikal. Dia hanya berfikir bagaimana
memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini,
semata-matamengharap cintaNya,
keridhaanNya, dan lebih dari itu karena dia
mencintai Allah, terpesona kepada keindahan
Maha Pencipta, mabuk kepayang dengan
‘kecantikan’ Maha Pemurah.

Andai ternyata keinginannya tidak selaras
dengan keinginan Allah SWT, ternyata apa yang
diharapkannya esok hari tidak menjadi nyata,
malah yang terjadi adalah sesuatu yang
sebaliknya, maka diri mesti tetap ikhlas! Menerima
semuanya dengan senyum yang mengembang,
dengan ridha yang tidak terhitung. Hidupnya
hanya untukNya. Allah tujuan hidup, sebaik-baik
tujuan hidup! Sedang yang lainnya adalah
wasilah, alat, bekal, modal untuk mencapai
keridhaan Allah SWT.

Maka wahai diri, jangan kau tangisi apa
yang bukan milikmu! Karena, ia memang bukan
milikmu! Maka, bersihkan hatimu, ikhlaslah.. ridha
dengan ketentuanNya. Karena, diri ini adalah
sebenar-benar hamba! Moga diri lebih kuat dan
dekat kepadaNya.

“..... karena itu Allah menimpakan
kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu
tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput
dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu.
Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”
(QS 3 : 153)

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan,
Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa)
kantuk yang meliputi segolongan dari kamu,
sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh
diri mereka sendiri.. Katakanlah (Muhammad),
“Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Al-
lah.”.. Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan
apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha
Mengetahui isi hati.” (QS 3 : 154)

***
Apa yang berada dibelakang kita dan apa yang berada
di hadapan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa
yang berada di dalam diri kita sendiri.

07.17 | 1 komentar

ARTI SUKSES MENURUT ISLAM

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 25 Agustus 2012 | 16.24

Semua orang ingin sukses, tapi tidak semua orang berhasil sukses. Kenapa? Masalahnya cuma satu: gagal menemukan arti sukses sebenarnya.

Ada orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang sederhana. Akhirnya, ia pun merasa sudah mencapai sukses meski tanpa berbuat apa-apa. Mengalir seperti air apa adanya, begitu katanya.

Ada juga orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang rumit. Akhirnya, ia pun merasa sulit mencapai sukses, ya sudah mau bilang apa? pasrah aja, barangkali sudah takdir, begitu katanya.

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?

Sukses adalah sebuah pencapaian. Apa yang hendak dicapai?
Sukses adalah bergerak maju mencapai tujuan. Kemana hendak dituju?
Sukses adalah mendapatkan sesuatu yang dikehendaki. Apakah itu?
Sukses adalah sebuah proses perjalanan. Tanpa mendapatkan sesuatu?
Sukses adalah memperoleh penghargaan. Dari siapa?

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?

Mari kita bertanya kepada Yang Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.

Dia berfirman:
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab
yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka
apakah kamu tiada memahaminya? (QS. 21:10)

Kemuliaan = Kesuksesan, setuju kan?

Kalau begitu, mari kita membaca Alquran untuk memahami:

Apakah arti sukses?
Bagaimanakah mencapai sukses?
Siapakah orang sukses itu?
Apakah arti sukses?

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya
pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka
sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)

Jadi, sukses adalah masuk surga. Terserah apa profesi kita hari ini, yang penting kita bisa masuk surga. Setuju?

Bagaimanakah cara mencapai sukses? Bagaimanakah cara masuk surga?

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ
قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal
belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-
orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka
dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-
macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah.
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
(QS. 2:214)

Sukses bukan khayalan. Sukses hanya dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan. Berat ya? jangan khawatir, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Allah akan menolong kita sebagaimana Allah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman sebelum kita.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang
yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya
saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)

Duh! pantaskah kita mendapatkan pertolongan Allah?
Bukan soal pantas tidak pantas, yang jadi soal, apakah kita sedang berjuang mencapai sukses hingga Allah berkenan memberikan pertolongan-Nya? Siapa yang berjuang, dialah yang ditolong.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama)
Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu. (QS. 47:7)

Nah, jika Allah sudah memberikan pertolongan, apakah masih terasa berat perjuangan menuju sukses sejati?

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat
mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak
memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat
menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu
hendaknya kepada Allah saja orang-orang mumin bertawakkal.
(QS. 3:160)

Bertawakkal kepada Allah = menyerahkan segala urusan kepada Allah = menyelesaikan segala urusan dengan cara-cara Allah = caranya pakai cara Allah, ya hasilnya terserah Allah. Habis perkara.
Kalau mau pakai cara-cara sendiri, ya sudah selesaikan sendiri. Rugi ga ditanggung ya.. :-)

Jadi, bagaimana soal urusan mencapai sukses sejati, yaitu mencapai surga?
Jawabnya cuma satu: pakai cara Allah, jangan pakai cara sendiri!
Bagaimanakah cara Allah yang harus kita terapkan untuk mencapai sukses sejati?
Nah, untuk dapat menjawabnya, kita harus selesaikan pertanyaan ketiga: Siapakah orang sukses itu?

Tapi bahasannya sudah terlalu panjang ya.. bagaimana kalau di lanjut di bahasan berikut? setuju kan?
Bagi yang setuju silakan aminkan doa ini:
"Ya Allah sukseskanlah untukku agamaku, karena ia adalah benteng keselamatan urusanku. Sukseskanlah untukku duniaku, karena ia adalah tempat kerjaku. Sukseskanlah untukku akheratku, karena ia adalah tempat kembaiku. Jadikanlah waktu hidupku penambah setiap kebaikan, kematiaanku pemutus setiap keburukanku" (HR. Bukhari)
16.24 | 3 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung