Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Dunia Yang Memenggal Leher

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 25 Agustus 2012 | 06.52

Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang
penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki pergiliran pagi, siang,
petang dan malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam
keimanan. Di dunia ini, kita harus saling berpegangan tangan. Kita tak
mungkin selamat mengharungi bahtera kehidupan yang sangat luas
dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos dari
ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri.
Karena, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan
mudah terpedaya.“Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (Qs. An
Nisa:28)

Kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang akan
menghantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan.
Persaudaraan, kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah
yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat. Allah SWT
memberitakan bahwa hanya pertemanan atas dasar iman dan
takwalah yang abadi.

“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya
menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang
bertakwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Mu’adz radhiallahu ‘anhu bertanya: Bagaimana kalian dengan 3 perkara:
1) dunia yang memenggal leher kalian,
2) tergelincirnya ulama, dan
3) debatnya orang munafik dengan Al-Qur’an?
Mereka diam.

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:
1) Adapun dunia yang memenggal leher kalian: siapa yang menjadikan
kekayaannya dalam hati maka sungguh dia telah mendapat petunjuk. Siapa yang
tidak maka dia tidak bisa memanfaatkan dunia.
2) Adapun tergelincirnya ulama: jika dia mendapat petunjuk maka jangan
jadikan dien kalian taqlid padanya. Jika dia terfitnah maka janganlah kalian putus
harapan kalian darinya, karena sesungguhnya orang mukmin itu terfitnah kemudian
bertobat.
3) Adapun debatnya orang munafik dengan Al-Qur’an: sesungguhnya Al-
Qur’an itu mempunyai menara-menara jalan yang tidak samar bagi siapa pun. Apa
saja yang kalian ketahui maka berpeganglah padanya. Apa saja yang menjadi
masalah bagi kalian maka serahkan pada orang yang mengetahuinya.
Hadits hasan diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Az-Zuhud hlm 71. Diriwayatkan
secara marfu’ (bersambung pada Nabi) dengan sanad yang lemah. Yang benar adalah
riwayat terhenti pada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu.
***
Sesungguhnya dunia telah mengumumkan pemutusan dan fitnah-fitnah telah
bertiup kencang seperti badai. Karenanya telinga-telinga telah menjadi tuli. Menara-
menara hidayah telah roboh. Tidak tersisa di kalangan manusia ini kecuali sedikit
orang yang mengamalkan kebaikan. Lebih sedikit lagi yang mau membantu di atas
kebaikan, mengarahkan pada petunjuk, dan mengingatkan pada ketaatan.
Inilah ... perkara kita sungguh telah sampai pada apa yang disampaikan oleh
imamul ilmi, jabalul huda, dan qodhil Islam, Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu.
 Adapun dunia yang memenggal leher
kalian: siapa yang menjadikan kekayaannya
dalam hati maka sungguh dia telah mendapat
petunjuk. Siapa yang tidak maka dia tidak bisa
memanfaatkan dunia.

Dunia memenggal leher karena banyak dan
indahnya. Karena banyaknya, leher tidak bisa
mencapai dunia meskipun berusaha
mencapainya. Karena tersebar luasnya, leher
tidak bisa mencapainya meskipun manusia
berusaha untuk mendapatkannya. Bukanlah
musibah manusia itu pada dunia mereka.
Sesungguhnya usaha mereka itu, karena banyak
dan indahnya, telah memotong leher dan
kesibukan mereka dari kebaikan dan petunjuk.

Ketika engkau melihat seorang laki-laki,
sangat mengetahui urusan dunia, sangat pandai
menjelaskan cara-cara mendapatkannya, lagi
sangat bodoh terhadap urusan dien dan akhirat,
kalau engkau bertanya padanya: apa engkau
sudah membaca semua kitab fiqih? Tentu dia takut
dan bingung! Kalau engkau bertanya padanya:
apa engkau sudah membaca semua kitab tafsir?
Tentu dia menjawab dengan jawaban tidak jelas!

Padahal dia memenuhi dunia dengan
teriakan-teriakannya dan pendapat-
pendapatnya memenuhi banyak telinga. Kalau
ditanya tentang permasalahan dunia, tentu dia
menjawabnya dengan jawaban orang yang betul-
betul memahaminya.
***
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia
tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-
beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/
tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di
hadapannya, padahal dia tidak akan
mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari
apa yang Allah tetapkan baginya. Dan
barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat
(tujuan utama)nya maka Allah akan
menghimpunkan urusannya, menjadikan
kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam
hatinya, dan (harta benda) duniawi datang
kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai
di hadapannya)“[HR Ibnu Majah, Ahmad, ad-
Daarimi, Ibnu Hibban dan lain-lain]

Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan
dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya
harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki)
adalah kekayaan (dalam) jiwa“[HR. al-Bukhari
(no. 6081) dan Muslim (no. 1051).

Kebahagiaan hidup dan keberuntungan di
dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta
kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sungguh sangat beruntung seorang yang
masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang
secukupnya dan Allah menganugrahkan
kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan
puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan
kepadanya” [HR. Muslim (no. 1054).]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata,
“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan)
tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan):
Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,
kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan
yang tiada berakhir.

Bersambung.....

0 komentar:

Posting Komentar