Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

TERAPI SERBUK RENDAM PETIR

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 13 Agustus 2017 | 09.53

*TERAPI SERBUK RENDAM PETIR*

Terapi Serbuk Rendam Petir adalah salah satu jenis pengobatan alami yang sangat bermanfaat untuk:
💊 melancarkan peredaran darah
💊mengendorkan urat-urat syaraf
💊menguatkan sel-sel dalam tubuh
💊 menjernihkan akal pikiran
💊 mengobati stroke
💊lumpuh
💊 badan mati separuh
💊 rematik,
💊 asam urat
💊 darah tinggi
💊 kolesterol,
💊 kesemutan,
💊 mengurangi stress dan lain-lain.

➡ Cara Pemesanan
Ketik Sms/WA dengan format :
PO#SRP#Nama# Alamat Lengkap#No Hp#Jumlah Order#

📲 Kirim ke: +6285716863625

💵 Rp. 50.000, -
🏧 Transfer ke Bank Muamalat rek. 3280004282 an. RUDIANTO

☎ Konfirmasi Pembayaran

📮Kirim Bukti Pembayaran
Segera Dapatkan Produknya

09.53 | 0 komentar

ADA SETAN DALAM DIRI

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 02 Agustus 2017 | 09.53

Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menyebutkan dalam Alquran perihal Nafsu amarah bisu'( yang mengajak kepada kejahatan) dan nafsu lawwamah (jiwa yang menyesali diri) itu melainkan hanya sekali saja. Tetapi Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan perihal setan bukan main banyaknya, diulang-ulang selalu untuk memperingatkan kepada kita betapa hebat godaannya yang berbahaya itu. Ini difirmankan dalam cara dan gambaran yang beraneka ragam.

Apakah sebabnya demikian? itu tidak lain maksud Allah hanya kita umat manusia ini benar-benar latihan yang sepenuh penuhnya untuk menjauhi itu, sebab hanya dengan demikian itulah letak keselamatan dan kesejahteraan kita dan kita tidak akan tersesat dan celaka.

Setan itu nyatanya pandai menyelundup dalam jiwa dan hati manusia. Karya setan dalam batin manusia itu adalah sebagaimana karyanya baksil dalam tubuh.

Baksil itu senantiasa menantikan kesempatan yang baik ia menunggu di saat kelemahan tubuh, maka di kala itulah ia akan menghantam dan menyerbu tubuh tadi secara sekaligus sehingga dengan sekali serangan dimaksudkan sudah dapat lumpuhkan tubuh itu bahkan jikalau mungkin terus mati sama sekali. Tubuh itu tidak mungkin akan melepaskan diri dari hantaman baksil yang berbahaya tadi apabila ia mempunyai penjagaan yang kokoh benteng yang ampuh dan tidak akan terobohkan. Oleh karena itu tubuh yang baik perlu sekali mempunyai tameng untuk mencegah menghalang-halangi dan menggagalkan usaha baksil tadi bahkan yang sekiranya dapat mengusirnya untuk selama-lamanya.

Baksil sebagaimana yang diuraikan sifatnya di atas itu adalah sama dengan sifat-sifat setan. Bukankah setan itu selalu menantikan peluang yang baik, menunggu kelemahan jiwa dan kesakitannya dan setelah dirasa lemah lalu diserangnya serta diusahakan supaya rusak dan bahkan kalau mungkin akan dihancurkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti ajakan dan perintahnya.

Sesungguhnya tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari serangan setan melainkan dengan jalan membersihkan serta menyucikan jiwa agar ia tidak terkena penyakit penyakitnya, sebab justru adanya penyakit-penyakit inilah yang jalan yang hakiki dan mudah bagi setan untuk menancapkan godaan dan rayuan kotornya pada jiwa MANUSIA.

Penyakit-penyakit jiwa yang merupakan jalan masuknya setan laknat itu ialah segala macam celah dan kekurangan manusia yang lazim tertanam dalam kalbunya. Inilah yang secara mutlak perlu dibersihkan dibersihkan, sehingga tidak ada jalan lagi bagi setan untuk menerobosnya. Penyakit yang terhadap dalam jiwa yang hakekatnya merupakan celak dan kekurangan manusia itu ringkasnya dapat dihimpun dalam sifat-sifat tercela di bawah ini:

lemah jiwa
Putus asa
Putus harapan
Angkuh
Gembira tak terbatas
Ujub
Megah
Aniaya
Curang
Ingkar pada kebenaran
Tidak tahu terima kasih
Kikir berbuat baik
Bahil pada harta
Loba/ tamak
Pembantah
Pamer
Bimbang pada kebenaran
Ragu-ragu pada petunjuk baik
Bodoh
Lali pada kekurangan diri
Suka keras diwaktu berbantah
Tertipu perasaan diri sendiri
Berpura-pura
Gelisah
Keluh kesah
Enggan membantu
Lari dari kebenaran
Menentang kekuasaan Allah
Durhaka
Melampau batas cinta harta
Terpesona oleh keduniaan

Itulah penyakit penyakit hati dan jiwa melalui lubang-lubang itulah setan memasukkan jarum berbisa nya ke dalam batin manusia agar, hancurlah segi-segi kehidupannya lalu di goyahnya yang semula ditunjukkan ke arah keutamaan dan kemuliaan, kemudian dibelokkan ke arah yang merupakan perlawanannya.

Maka dari itu tidak ada jalan lain mengusir dan memindahkannya, untuk menyembuhkan was-was ajakan penyimpangannya itu, melainkan Jiwa itu yang wajib dirawat baik-baik, diobati diusahakan sekuat tenaga untuk melenyapkan bekas-bekas dari kedurhakaan setan itu.
Ini wajiblah dilaksanakan dengan konsekuen dan bersungguh-sungguh, sehingga jiwa itu benar-benar bersih dari penyakit-penyakit tadi secara keseluruhan. Akhirnya akan kembali sehat wal afiat dan menjadi jiwa yang tenang, tenteram dan rela menerima dan mengerjakan yang haq, benar baik.

Jikalau penumpasan penyakit-penyakit jiwa itu sudah dilaksanakan secara menyeluruh dan berhasil baik, maka muncullah dalam jiwa yang sudah bersih dan suci itu hal-hal yang baik-baik saja seperti senantiasa dzikir atau Ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, selalu mohon perlindungan Allah, bahwa tiada daya dan kekuatan pada dirinya melainkan dengan izin Allah serta menyerahkan dua raganya kepada Dzat Yang Maha mengatur langit dan bumi ini. Semua itu akan mengarah ke jurusan pengokohan kebatinan manusia itu sendiri lalu mengangkatnya sampai ketingkat Alam rohani yang hakiki.

Akhirnya manusia itu akan sampailah kepada derajat yang ia akan ditakuti oleh setan, sekalipun hanya menemuinya di jalan yang dilaluinya. Ini adalah sebagaimana yang sudah dicapai oleh umar Bin Khattab.

Imam Bukhari dan imam muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Umar, "wahai Ibnu khotob, tidak pernah setan itu bertemu dengan engkau di suatu jalan, melainkan dengan izin Allah serta menyerahkan bulat-bulat jiwa raganya kepada Dzat Yang Maha mengatur langit dan bumi ini. Semua itu akan mengarah ke pengukuhan kebatinan manusia itu sendiri lalu mengangkatnya sampai ketingkat Alam rohani yang Hakiki.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu salam pernah bersabda kepada Umar, wahai Ibnu khotob, tidak pernah setan kamu dimana kau di suatu jalan, melainkan setan itu pasti mencari jalan yang lain yakni berbeda dengan jalan engkau lalui itu karena takutnya padamu".

Alangkah bahagianya orang yang sudah ditakuti oleh setan, sehingga bertemu saja sudah enggan. Orang semacam ini sudah tidak mungkin lagi akan didekati oleh setan.

Ingatlah bahwa kebahagiaan manusia itu tidak mungkin dapat sempurna kecuali dengan jalan mengekang hawa nafsu dan menunjukkannya dengan jalan mengikuti wahyu Allah serta memerangi ajakan dan bisikan setan yang jahat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ
wa qur robbi a'uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin

"Dan katakanlah, Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,"
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 97)

Allah SWT berfirman:

وَاَعُوْذُ بِكَ  رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ
wa a'uuzu bika robbi ay yahdhuruun

"dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku."
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 98)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala  berfirman :

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
qul a'uuzu birobbin-naas

"Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 1)
Allah SWT berfirman:

مَلِكِ النَّاسِ
malikin-naas

"Rajanya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 2)

Allah SWT berfirman:

اِلٰهِ النَّاسِ
ilaahin-naas

"Tuhannya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 3)

Allah SWT berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ  ۙ  الْخَـنَّاسِ
min syarril-waswaasil-khonnaas

"dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 4)
Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ  صُدُوْرِ النَّاسِ
allazii yuwaswisu fii shuduurin-naas

"yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 5)

Allah SWT berfirman:

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
minal-jinnati wan-naas

"dari (golongan) jin dan manusia."
(QS. An-Nas 114: Ayat 6)

📚 Al Aqaid Al Islamiyyah -  Sayid Sabiq
✍ ulang Abu Azka

09.53 | 0 komentar

KEKUATAN DO'A ORANGTUA YANG DAHSYAT UNTUK ANAKNYA

Suatu ketika ada yang bertanya kepada seorang ibu yang berhasil membesarkan 9 anaknya, mendidik dan menjadikan mereka manusia berakhlak dan berguna bagi agama, negara, bangsa dan sesama.

Apa rahasia di balik keberhasilannya ?. Jawabnya adalah, do'a yang tak henti-henti dipanjatkan untuk anak-anaknya tersebut :

1. *_Allahummaj'al aulaadana kulluhum shaalihan wa thaa'atan_*
Yaa Allah jadikanlah anak-anak hamba orang yang sholehah dan shaleh yang taat beribadah kepadaMu.

2. *_Wa ummuruhum thowiilan_*
Panjangkanlah umurnya yang barakah.

3. *_War zuqhum waasi'an_*
Luaskan dan lapangkan rizkinya yang halal.

4. *_Wa 'uquuluhum zakiyyan_*
Cerdaskan akalnya untuk kebaikan dunia dan akhirat.

5. *_Wa quluubuhum nuuran_*
Terangilah kalbunya untuk urusan agamaMu.

6. *_Wa 'uluumuhum katsiiran naafi'an_*
Karuniakan ia ilmu yang bermanfaat untuk urusan kebaikkan dunia dan akhirat.

7. *_Wa jasaaduhum shihhatan wa 'aafiyatan_*
Sehatkanlah jasmani dan rohaninya yang dengan itu memberikan ketenangan dalam melaksanakan ibadah hanya kepada-Mu.

8. *_Birahmatika yaa arhamar raahimiin_*
Dengan segala Rahmat-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

*PENTING :*
_*Panjatkanlah doa di atas itu sesering mungkin. Syukur jika dipanjatkan tiap habis shalat 5 waktu (dibaca minimal 3 kali).*_

_*Karena doa orangtua termasuk doa yang terkabul, dan tidak memiliki penghalang menuju Allah*_

Rasulullah SAW bersabda :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga macam doa yang mustajab, dan tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu : *doa orangtua, doa seorang musafir, dan doa orang yg terzalimi"*
(HR. Al-Bukhari / Al-Adab, Al-Mufrad-32, Abu Dawud).

07.52 | 0 komentar

Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak.

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 01 Agustus 2017 | 22.53

"Waduh mas, saya pernah lihat anak bapak fulan, kerjanya nonton video band Korea di Youtube,” cerita seorang kawan. Kalau sudah megang gadget, maka seperti tak bisa lepas. Termasuk menyimak channel youtube. Padahal bapak fulan yang dimaksud dikenal sebagai aktifis pengajian. Cerita yang lain ada lagi, ada anak yang terbiasa membentak orang tua termasuk opa dan omanya, bahkan dengan kata-kata kasar.

Persoalan adab atau attitude & manner anak-anak jangan dipandang sepele. Sebagian orang tua ada yang abai terhadap penanaman adab untuk anak, lebih fokus pada kemampuan akademik anak seperti pelajaran sains atau menghafal al-Qur’an. Ada kesan bahwa adab pada anak akan terbentuk dengan sendirinya. Masak iya penghafal al-Qur’an tak punya adab yang mulia?

Kenyataannya adab tak berbanding lurus dengan prestasi akademik seseorang, termasuk dengan hafalan pelajaran agama. Dalam kehidupan orang dewasa kita berulangkali melihat orang yang cerdas dalam pengetahuan Islam semisal menguasai bahasa Arab, hafal al-Qur’an, kuasai tafsir, tapi justru nyeleneh. Menolak syariat dan melecehkannya. Seperti ada seorang anak muda di tanah air yang sejak usia kanak-kanak sudah menjadi seorang hafidz tapi menolak mentah-mentah pelaksanaan syariat Islam dan kewajiban Khilafah Islamiyyah.

Dalam sejarah kita bisa membaca tokoh seperti Hajaj bin Yusuf, gubernur kejam pada masa kekhilafahan Yazid bin Muawiyyah. Sejarah mencatatnya sebagai wali yang zalim dan memusuhi ulama padahal ia adalah murid tabi’in terkemuka, Imam Said bin Musayyab rahimahullah, penghafal al-Qur’an dan tak jarang menangis dalam shalatnya.

Maka jangan abaikan pendidikan adab pada anak-anak kita. Adab bukanlah sesuatu yang alamiah bisa didapat anak ketika mereka menghafal hadits, menghafal al-Qur’an atau belajar fikih. Namun ia perlu pemahaman dan pengkondisian dari kedua orang tua.

Para ulama salaf amat mementingkan penanaman adab pada putra-putri mereka sebelum pengetahuan agama yang lain. Maka para ulama selalu meletakkan adab di awal kajian sebelum menuntut ilmu yang lain. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Adab adalah pembentuk awal kepribadian setelah akidah seorang muslim, sedangkan ilmu adalah jasadnya. Imam Abu Zakariya al-‘Anbariy berkata;

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.”

Para ulama salaf percaya bahwa dari pribadi anak dan remaja yang beradab, maka ilmu agama dan dunia akan mudah untuk diraih. Sebaliknya seorang pelajar yang menguasai ilmu agama dan dunia, tanpa adab, maka ilmu mereka tak akan mendatangkan barakah.

Apa yang bisa orang tua lakukan agar anak-anak kaum muslimin memiliki adab yang luhur?

PERTAMA, setelah menanamkan dan menguatkan keimanan anak pada Allah SWT. dan ajaran Islam maka, tanamkan bahwa Allah Ta’ala mencintai hamba-hambaNya yang berakhlak mulia. Pahamkan mereka kalau seorang muslim beradab luhur seperti berkata sopan, jujur, mendengar nasihat orang tua, mau berbagi, maka akan disayang Allah SWT.

KEDUA, Perlakukan anak-anak dengan akhlak mulia dan penuh kasih sayang. Kurangi kebiasaan memarahi mereka, mencela dan mempermalukan mereka. Panggil mereka dengan panggilan sayang dan pujian semisal ‘soleh’ atau ‘solehah’. Perlakuan orang tua adalah tabungan informasi dan adab pada hati dan pikiran anak-anak.

KETIGA, tegur secara proporsional, jangan berlebih-lebihan, dan perhatikan dulu keadaan mereka. Penting untuk terlebih dulu memberitahu apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Pada anak pra-baligh mereka belum tahu kalau membentak orang lain tidak baik. Bagi mereka itu respon alamiah. Maka beritahukan pada mereka bagaimana semestinya berkata baik pada orang lain, terutama pada orang tua.

KEEMPAT, jadilah orang tua responsif bukan reaksioner. Yakni peka dengan kebaikan dan juga kesalahan anak. Jangan biarkan anak berlarut-larut melakukan kesalahan seperti memukul kawan, merebut mainan atau makanan, segera respon dengan baik. Beritahu dan cegah untuk terulang lagi. Adab yang kerap dilakukan anak seringkali muncul akibat orang tua tidak responsif terhadap perbuatan anak yang tidak baik. Mereka diam atau menganggapnya wajar. Pahamilah, anak seperti pohon yang akan tumbuh besar. Saat dahannya masih kecil maka mudah untuk dibentuk, tapi saat sudah besar maka amat sulit untuk melakukan hal itu.

KELIMA, jadikan adab yang baik sebagai habit dalam keluarga. Orangtua biasa berkata lembut, tidak membentak, tidak kasar, tidak mencela, senang merangkul, memuji dan mudah memaafkan kesalahan anak. Pembiasaan ini akan membuat anak mudah untuk melakukannya saat mereka dewasa.

KEENAM, banyak berdoa. Allah adalah Maha Pemberi Hidayah, Maha Pembolak-balik hati, sekeras apapun hati manusia amat mudah bagi Allah untuk melunakkannya dan memberinya hidayah. Jangan hanya berdoa agar anak kita pandai dan juara kelas serta mudah menghafal, tapi minta juga pada Allah agar anak-anak kita dihiasi dengan akhlak yang mulia.

(Lebih lengkap tentang artikel ini bisa ayahbunda baca pada buku saya DNA GENERASI PEJUANG, terbitan al-Azhar Press).

By: Iwan Januar

22.53 | 0 komentar

Aku ingin menikah dengan gadis ini

Aku ingin menikah dengan gadis ini

🌿🌿🌷🌿🌿

Bahwasanya Nazmuddin Ayyub—penguasa Tikrit—belum menikah dalam waktu yang lama. Maka, bertanyalah saudaranya—Asaduddin Syerkuh, “Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

Asaduddin berkata, “Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

Dia berkata, “Siapa?”

Ia menjawab, “Puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik—dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Maka, Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Maka, heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata,
“Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab,
“Barang siapa ikhlas niat karena Allah akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang.

Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata padanya,
“Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab,
“Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab,
“Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

_Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu._

Allahu Akbar!
Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Mahakuasa?

Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua?
Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh,
“Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan.
Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran,
“Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata,
“Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis ini.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Namanya adalah  _SHALAHUDDIN AL AYUBI_

Allahu Akbar !
🌿🌿🌷🌿🌿

📮 Abu Azka

16.41 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung