Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label KIsah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIsah Islam. Tampilkan semua postingan

TERSINGKAPNYA BETIS BIDADARI

Written By Rudianto on Selasa, 15 Januari 2019 | 13.12

Pada zaman Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa aali wasallam, hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid, yang berumur 35 tahun, namun belum juga menikah.
Dia tinggal di Suffah (teras) masjid Madinah.

Ketika sedang mengasah  pedangnya, tiba-tiba Rasulullah Saw datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid…selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah Saw menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid, sambil tertunduk tak kuasa melihat kharismatik wajah Beliau.

“Maksudku kenapa engkau selama ini membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…,?” Tanya Rasulullah Saw.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku tak tampan, siapa yang mau dengan diriku ya Rasulullah?”

”Asal engkau mau, itu urusan yang mudah.” Kata Rasulullah Saw sambil tersenyum.

Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan Sahabatnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.

Setelah surat itu selesai ditulis, maka Rasulullah memberikan surat tersebut kepada Zahid dan memerintahkan agar segera mendatangi rumah Said dan menyerahkan surat lamaran tersebut kepadanya.

Disebabkan di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasulullah yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Wah, ini adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong...”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini… bukankah lebih baik di persilahkan masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Di saat Zulfah melihat Zahid,  sambil menangis ia berkata,
“Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau dengan dia ayah..!”

Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasulullah?”

Akhirnya Said berkata, “Lamaran kepada dirimu ini adalah perintah Rasulullah.”

Zulfah kaget kemudian beristighfar beberapa kali,

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...

Ia menyesal atas kelancangan perbuatannya itu. Seketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa tidak sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini.
Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surah An Nur:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور ٥١)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diminta Allah dan Rasul-Nya agar Rasul yang  mengadili (mengambil keputusan ) diantara mereka, ucapan yang muncul hanyalah : Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An Nur 24:Ayat 51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang-layang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada taranya, dan segera melangkah pulang.

Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasulullah yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah lamarannya diterima ya Rasulallah,” jawab Zahid.

“Apakah sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasulallah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke beberapa sahahbat  untuk membantunya mendapatkan uang untuk menikah.

Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan perkawinan.

Tak lama kemudian setibanya di pasar, bersamaan itu pula ada pengumuman Jihad untuk perang melawan orang kafir yang mau menyerang masyarakat muslim Madinah.

Zahid Mulai bingung untuk menentukan sikap, menikah atau berjuang demi Agama Allah.

Akhirnya dia mencoba kembali lagi ke masjid. Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengetahui?”

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah jika begitu uang untuk menikah ini akan aku belikan baju besi dan kuda yg terbaik, aku lebih memilih jihad bersama Rasulullah dan menunda pernikahan ini."

Para sahabat menasihatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau malah hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Hatiku sudah mantap untuk  bersama Al Musthafa Rasulullah pergi berjihad.”

Lalu Zahid membacakan ayat AlQur'an di hadapan sahabat Nabi:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة ٢٤)

“Katakanlah, Jika bapak -bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,  kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai , itu semua lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah, 9:24).

Akhirnya Zahid maju ke medan pertempuran. Dengan hebatnya beliau bertempur, banyak dari kaum kafirin tewas di tangannya dan pada akhirnya beliau mendapatkan syahid. Gugur demi membela agama Allah dan Rasulullah. . .

Peperangan telah usai, kemenangan direbut oleh Rasul dan pasukannya.

Senja yang penuh dengan keberkahan ketika Rasullullah memeriksa satu persatu yang telah gugur di jalan Allah, sebagai Syuhada Allahu azza wajalla.

Nampak dari kejauhan sosok pemuda yg bersimbah darah dengan luka bekas sasatan pedang.

Rasulullah menghampiri jasad pemuda itu sambil meletakkan kepalanya di pangkuan manusia agung ini. Habiballah
memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, "Bukankah engkau ya Zahid yg hendak menikah malam ini ??"
Tapi engkau memilih keridhaan Allah, berjihad bersamaku."

Tak lama kemudian Rasulullah tersenyum sembari  memalingkan muka ke sebelah kiri karena malu.
Disebabkan karena ternyata sesosok bidadari cantik dari Surga menjemput Ruh mulia pemuda ini, dan tak sengaja gaunnya tersingkap hingga betisnya yang indah terlihat. 

Ini yang membuat Rasulullah malu.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an;

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (آل عمران ١٦٩ - ١٧٠)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sejatinya  mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan bahagia disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
(QS. Ali Imran, 3:169-170.)

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata, dan Zulfah pun berkata,
“Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak dapat mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Maasya Allah...

Semoga di tahun ini dan selanjutnya Allah tetap senantiasa anugerahi kita keimanan dan kemenangan dalam hati dan amal kita, kesuksesan dan keselamatan dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini. aamiin.

Barokallohu fikum. MLHI, 15 Jan 2019.

13.12 | 0 komentar

Cermin Hidup Seorang Abu Wada'ah

Written By Rudianto on Senin, 15 Oktober 2012 | 15.46

Sepenggal kisah tentang seorang tua ingin ku ceritakan kepada kalian agar kiranya dapat diambil sebagai cerminan dari hidup seorang Tabi'in yang diridloi Allah Ta'ala.

Mungkin kalian masih ingat tentang Abu Wada'ah, seorang duda bertampang biasa saja dan tiada memiliki apa-apa namun karena ketaqwaannya ia dipilih oleh Sa
'id bin Musayyab sebagai menantunya sedangkan lamaran Khalifah Abdul Malik bin Marwan ditolaknya.

Abu Wada'ah adalah seorang yang rutin mengikuti Kajian dan Halaqoh Sa'id bin Musayyab di zawiyah Nabawi.

Suatu hari ia menghilang dari halaqoh sehingga tuan guru Sa'id bin Musayyab merasa kehilangan salah satu muridnya tersebut. Setelah hadir dalam halaqoh sang guru langsung bertanya kepadanya :

"Kemana saja dirimu hai Abu Wada'ah..?" tanya guru.

"Wahai Tuan Guru, mohon maaf sebelumnya. Istri saya meninggal dunia maka saya sibuk mengurus keperluan pemakamannya." Jawab Abu Wada'ah.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, jika saja engkau memberi tahukan kepadaku, tentukah aku akan menghiburmu, menghadiri jenazahnya, dan membantu segala keperluanmu..!"

"Terima kasih atas perhatiannya tuan..!"

Ta'lim pun berjalan sebagaimana biasanya dan selepas itu, ketika Abu Wada'ah hendak bermohon izin. Tuan Syekh Sa'id bin Musayyab bertanya kembali padanya.

"Apakah engkau sudah berpikir untuk beristri lagi hai Abu Wada'ah..?"

"Rahimakallahu (semoga Allah merahmatimu) Ya Syaikh. Siapakah gerangan yang mau untuk menikahkan putrinya dengan diriku sedangkan aku adalah seorang pemuda yang terlahir dalam keadaan yatim dan tidak memiliki harta kecuali satu atau dua dirham saja..?" Abu Wada'ah balik bertanya.

'Aku wahai Abu Wada'ah, aku yang akan menikahkan putriku dengan dirimu..!"

Saat itu di Madinah tidak musim hujan, namun Abu Wada'ah merasakan adanya kilat yang menyambar...treeeleeep..!!

"Anda...? Tuan Syekh..?? Anda mau menikahkan putri anda dengan saya padahal anda lah tahu keadaan saya..??"

"Ya benar, bila ada seorang yang datang kepada kami dan kami SENANG akan AKHLAQ dan AGAMAya maka akan kami nikahkah, sedangkan dirimu termasuk orang yang kami SUKAI".

Lalu Tuan Sa'id bin Musayyab berpaling kepada orang yang dekat dengan mereka berdua, mereka dipanggil untuk berkumpul. Beliau pun kemudian bertahmid, bersholawat, bahkan langsung menikahkan putrinya dengan Abu Wada'ah dengan menjadikan 3 dirham yang dimilikinya sebagai mahar.

SUBHANALLAH...!!

Sejenak Abu Wada'ah terpaku tak tahu harus berkata apa karena heran bercampur gembira (pastinya banyak banget nyang ngiri tuh). Lalu ia bergegas pulang dan saat itu ia sedang bershaum namun lupa akan shaumnya hingga ia berkata dalam dirinya sendiri.

"Sungguh keterlaluan engkau ini hai Abu Wada'ah, apa yang telah kau perbuat atas dirimu. Kepada siapa engkau akan mencari pinjaman untuk memenuhi keperluanmu, kepada siapa engkau akan meminjam uang".

Rasa heran itu terus menggelayuti hingga sore hari, dan setelah melaksanakan sholat magrib dan menyantap roti, tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk dan memberi salam.

'Siapa..?" tanya Abu Wada'ah.

"Sa'id.!" jawab orang dibalik pintu.

Wallahi, setiap kali disebut nama Sa'id tidak ada yang dikenal dalam benaknya kecuali sang Guru, dan benarlah setelah Abu Wada'ah membuka pintu didapati sosok Imam nya Syeikh Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu 'anhu dihadapannya.

Abu Wada'ah menduga bahwa Syeikh Sa'id bin Musayyab telah menyadari ketergesaannya dalam menikahkan putrinya dengan dirinya itu lalu datang untuk membicarakannya.

"Tuan, mengapa tidak memerintahkan seseorang untuk memanggilku..??"

"Tidak, engkaulah yang harus didatangi..!"

"Suatu penghargaan bagi saya tuan..?"

"Tidak, sebenarnya saya datang untuk masalah yang penting..!"

"Apa yang tuan Syeikh kehendaki..?"

"Sesungguhnya putriku sudah menjadi istrimu, maka aku tidak senang membiarkan dirimu berada di tempatmu sedangkan istrimu di tempat yang lain. Oleh karena itulah aku bawa dia sekarang kepadamu...!"

"Anda membawanya tuan..?"

"Benar..!"

Lalu Abu Wada'ah melihat istrinya berdiri di belakang Tuan Syeiikh Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu 'anhu.

"Masuklah ke rumah suamimu dengan Nama dan Berkah Allah Ta'ala putriku..!"

Sang Putri rada-rada gemeteran dan malu, tatkala hendak melangkah gaunya tersangkut hingga nyaris jatuh.

Abu Wada'ah masih terpaku sambil nyengir sedikit, dan setelah sadar segera diambil piring berisi roti dan minyak bekas makannya agar tak dilihat oleh istrinya.

Abu Wada'ah merasa sangat amat gembira hingga dia naik ke atas rumahnya untuk memanggil para tetangganya (mungkin jika zaman itu sudah ada toa masjid, ia umumkan panggilan itu.. :).

"Wahai Saudara-saudaraku, hari ini aku telah dinikahkah oleh Tuan Guru Syeikh Sa'id bin Musayyab, sekarang putrinya sudah ada di rumahku. ku minta kalian datang untuk menghiburnya..!"

Seorang wanita tua menyahut : "Sadarkah kamu hai Abu Wada'ah, Tuan guru telah menolak lamaran dari Khalifah Abdul Malik untuk anaknya, mana mungkin beliau mau menikahkan putrinya dengan dirimu..??"

"Benar ya Umma.. datanglah dan buktikan sendiri perkataanku".

Maka berdatanganlah para tetangga untuk membuktikan ocehan Abu Wada'ah, dan setelah mereka mengetahui dengan mata kepala sendiri, terdengarlah lantunan tasbih... tahmid... tahlil... dan takbir atas apa yang terjadi. Mereka pun segera membantu segala keperluan Abu Wada'ah dan istrinya.

Sungguh... setelah berinteraksi dengan Putri Seorang Tabi'in itu, tahulah Abu Wada'ah bahwa istrinya adalah wanita tercantik di Madinah, paling hafal Al-Qur'an, paling faham sunnah, paling mengerti akan haq dan kewajiban.

SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLA ALLAH WALLAHU AKBAR.
15.46 | 0 komentar

Asy-Syifa’ binti al-Harits (Guru Wanita Pertama dalam Islam)

Written By Rudianto on Rabu, 29 Agustus 2012 | 08.32

Asy-Syifa’ binti al-Harits (Guru Wanita Pertama dalam Islam)

Beliau adalah asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah.

Asy-Syifa’ ra masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi saw dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba’iat kepada Rasulullah saw. Beliaulah yang disebutk
an dalam firman Allah SWT:
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mumtahanah: 12)

Asy-Syifa’ termasuk wanita yang cerdas dan utama, beliau seorang ulama di antara ulama dalam Islam dan tanah yang subur bagi ilmu dan iman.

Asy-Syifa’ ra menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah. Asy-Syifa’ dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis sebelum datangnya Islam, sehingga tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada wanita-wanita muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala. Oleh karena itulah, beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. Di antara wanita yang dididik oleh asy-Syifa’ adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab ra istri Rasulullah saw .

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah saw meminta kepada asy-Syifa’ untuk mengajarkan kepada Hafshah ra tentang menulis dan sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa). Asy-Syifa’ berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw masuk sedangkan saya berada di samping Hafshah, beliau bersabda: ‘Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis’.” (HR Abu Daud).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa’ adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, maka tatkala beliau masuk Islam dan berhijrah beliau berkata kepada Rasulullah saw, “Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda.” Lalu Nabi saw bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku.” Asy-Syifa’ berkata, “Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah penyakit bisul.” Kemudian, Rasulullah saw bersabda, “Meruqyalah dengan cara tersebut dan ajarkanlah hal itu kepada Hafshah.”

Di antara yang termasuk ruqyah adalah do’a:
“Ya Allah Tuhan manusia, Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi.” (HR Abu Daud).

Inilah, asy-Syifa’ telah mendapatkan bimbingan yangn banyak dari Rasulullah saw . Sungguh asy-Syifa’ sangat mencintai Rasulullah saw sebagaimana kaum mukminin dan mukminat yang lain, beliau belajar dari hadis-hadis Rasulullah saw yang banyak tentang urusan dien (agama) dan dunia. Beliau juga turut menyebarkan Islam dan memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan. Di antara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah putranya yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, hamba sahayanya yaitu Ishak dan Hafshah Ummul Mukminin serta yang lain-lain.

Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, menjaganya dan mengutamakannya dan terkadang beliau mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, asy-syifa’ juga menghormarti Umar, beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq (jujur), memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, bertakwa dan berbuat adil. Suatu ketika asy-Syifa’ melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Itu adalah ahli ibadah.” Beliau berkata: “Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul mematikan.”

Asy-Syifa’ menjalani sisa-sisa hidupnya setelah wafatnya Rasulullah saw dengan menghormati dan menghargai pemerintahan Islam hingga beliau wafat pada tahun 20 Hijriyah.

Semoga Allah merahmati asy-syifa’ binti Abdullah, sungguh beliau telah mendahului umatnya dengan segala macam kebaikan dengan ilmu dan dien yang telah dikaruniakan kepada beliau agar beliau menjadi uswah hasanah (panutan yang baik) bagi setiap gadis di dalam Islam, sehingga beliau tidak kikir untuk mencurahkan segala yang dimilikinya, baik ilmu ataupun yang lainnya demi membela akidahnya dan mengharap ridha Allah SWT.
08.32 | 0 komentar

Lelaki Akhirat dari Sudut Kota Madinah

Written By Rudianto on Selasa, 05 Juni 2012 | 14.59


Ini  kisah tentang keikhlasan tingkat tinggi, tentang
loyalitas penuh, tentang kemuliaan diri, tentang rahasia dahsyatnya doa, cerita tentang manusia akhirat yang jauh dari hiruk pikuk duniawi. Kisahnya dituturkan sendiri oleh Syekh Muhammad Munkadir, ulama kharismatik Madinah pada masanya.

Sudah hampir setahun, penduduk Madinah diterpa kekeringan yang panjang. Penduduk kota Nabi itu keluar ke jalan-jalan melakukan shalat istisqa' untuk meminta hujan, namun hujan tak kunjung menyiram bumi.

Di Masjid Nabi, berdiri tegak sebuah tiang yang biasa dipakai Syekh Munkadir untuk bersandar seusai shalat sembari melepas penatnya beribadah.

Malam harinya, seperti biasa, ulama kharismatik kota Madinah itu shalat isya di masjid. Ia mendatangi tiang kesukaan­nya itu lalu bersandar santai padanya.
Di keheningan malam, tiba-tiba lelaki sederhana berkulit hitam dan berpakaian jubah datang mendekat. Ia maju ke arah tiang yang ada di hadapan Syekh dan melakukan shalat dua rakaat di situ. Khusyu sekali.

Usai shalat, tangannya tengadah ke langit. Air matanya tumpah ruah. Lirih sekali ketika pintanya memecah sunyi, "Ya, Rabbi! Penduduk tanah suci Nabi-Mu saat ini keluar
memohon hujan, tetapi hujan tak kunjung mengguyur. Hamba bersumpah kepada Engkau, turunkanlah hujan untuk kami sekarang juga!"

Melihat apa yang dilakukan lelaki berkulit hitam itu, Syekh bergumam, "Ini gila. Siapa hamba sederhana ini yang memiliki permintaan besar!" Akan tetapi, sebelum orang itu menurunkan kembali kedua tangannya dari tengadah, suara guntur tiba-tiba menggelegar memekakkan gendang telinga dan hujan segera turun dengan derasnya.

Setelah merasakan hujan turun, laki-laki sederhana itu segera memanjatkan puji kepada Allah, "Wahai, Rabb! Aku bukanlah siapa-siapa dan apalah aku ini sehingga doaku dikabulkan sebegitu cepat? Akan tetapi, Engkaulah Pemberi kemuliaan itu."
Tidak lama setelah itu, lelaki berkulit hitam itu beranjak dari duduknya dan mencampakkan kainnya lalu terus melakukan shalat hingga fajar menyapa.

Saat shalat subuh tiba, orang-orang berdatangan ke masj id dari segala penjuru kota Madinah. Usai imam membaca salam tanda shalat selesai, lelaki itu buru-buru keluar dan Syekh Munkadir mengikutinya dari belakangnya, tetapi ia tidak mengetahui ke mana lelaki itu pergi.

Malam kedua, Syekh shalat isya di Masjid Nabi seperti biasanya. Ia datang ke tempat tiang walau sekadar duduk bersandar padanya. Lelaki sederhana berkulit hitam itu datang kembali dan menggelar kain selendangnya lalu shalat dan terus larut dalam zikir-zikir indahnya hingga ketika merasa waktu fajar kian mendekat, ia shalat witir untuk menutup rangkaian shalat tahajudnya.
Waktu subuh pun tiba. Orang-orang masuk masj id dan lelaki berkulit hitam itu masuk mendekati imam bersamaan dengan Syekh Munkadir.

Usai shalat subuh, ia segera beranjak pergi dan Syekh Munkadir mengikutinya lagi dari belakang hingga sampai di sebuah gubuk di sudut kota Madinah. Setelah memastikan, Syekh lalu kembali ke masj id hingga waktu dhuha mulai tiba.

Saat senja mulai menyingsing seperti menyunggingkan senyum hangat, Syekh Munkadir datang kembali ke gubuk itu untuk mengetahui siapa gerangan lelaki itu. Ternyata lelaki itu sedang menjahit kulit, bekerja sebagai tukang sepatu. Kedatangan Syekh Munkadir yang telah ia kenal disambut hangat dan ia mengira bahwa Syekh akan memesan untuk dibuatkan sepatu.
Setelah duduk, Syekh Munkadir membuka pembicaraan, "Wahai, sahabat. Bukankah engkau orang yang aku lihat sejak kita bertemu pada malam pertama di masj id Nabi?"

Pertanyaan ini membuatnya tiba-tiba marah sejadi­jadinya. Rona ketidaksukaan begitu jelas di wajahnya. Dengan wajah sendu, ia balik bertanya dengan suara keras, "Wahai, Syekh! Apa urusanmu dengan semua ini?!" Syekh Munkadir kemudian berpikir untuk segera pergi dari gubuk itu.

Malam ketiga, Syekh Munkadir shalat isya di masj id seperti biasanya, tetapi kali ini ia tidak lagi melihat lelaki sederhana itu. Ia datang ke tempat tiang untuk duduk bersandar
dan menanti barangkali lelaki yang dikenalnya sebagai tukang sepatu itu akan datang seperti biasa.

Pagi-pagi buta, karena penasaran, Syekh Munkadir mendatangi lagi rumah si lelaki tadi dan ternyata pintunya terbuka lebar. Ketika Syekh bertanya kepada tetangganya, ia menjawab, "Setelah kedatangan Syekh Munkadir kemarin, ia tampak marah sekali. Betul-betul marah. Ia mengemas semua peralatan dan barang-barangnya lalu dibawa keluar. Entah ke mana perginya."

Syekh Munkadir mencarinya dan terus mencari ke semua sudut rumah di Madinah, tetapi ia tak juga menemukannya, bahkan hingga hari ini, lelaki sederhana itu tidak diketahui keberadaannya.
(Diangkat dan diadaptasi dari kitab Shifatu shafwah, Ibnul  Jauzi)

Manusia akhirat ini mengajari kita makna ikhlas yang
tidak bertepi, sebuah nilai yang hari-hari ini begitu sulit
ditemukan. Barang langka. Saat ini, semua orang ingin
dikenal, tidak raja kebaikannya, tapi juga keburukan‑
keburukannya. Laki-laki hitam ini betul-betul mulia
di mata Allah. la sadar, ia bukan siapa-siapa. la
menginginkan kebaikan-kebaikannya hanya dia dan
Allah yang mengetahui. Untuk apa mengemis puji
manusia, tetapi jika di mata Allah kau tak memiliki nilai.
Sungguh, ikhlasmu tidak bertepi.
14.59 | 0 komentar

Berfikirlah sebelum berbuat maksiat

Written By Rudianto on Rabu, 23 Mei 2012 | 09.44

Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, Dia berkata: “Ya Abu Ishaq, aku sering berbuat maksiat. Katakan sesuatu kepadaku sebagai nasihat yang bisa membantuku.”
Ibrahim berkata: “Jika kamu menerima 5 perkara dan kamu mampu melakukannya, niscaya kemaksiatan tidak akan merugikanmu.”
Dia menjawab, “Katakan wahai Abu Ishaq”
Ibrahim berkata, “Pertama, jika kamu hendak bermaksiat kepada Allah ta'ala maka jangan kamu makan rizki-Nya”
Laki-laki itu berkata, “Dari mana aku makan sementara semua yang ada di bumi adalah rizki-Nya?”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, apakah pantas engkau memakan rizki-Nya, sementara itu engkau bermaksiat kepada-Nya?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak pantas. Katakan yang kedua”
Ibrahim menjawab, “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya”
Laki-laki itu menjawab, “Yang ini lebih berat. Dimana saya akan tinggal?”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, pantaskah engkau bermaksiat kepada-Nya, sementara engkau makan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak pantas. Katakan yang ketiga”
Ibrahim  berkata, “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, kamu makan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat dimana Dia tidak melihatmu. Disitulah kamu bisa melakukannya.”
Laki-laki itu menjawab, “Wahai Ibrahim, apa ini? Mana mungkin, sementara Dia mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, apakah pantas kamu makan rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, lalu kamu bermaksiat kepada-Nya, padahal Dia melihatmu, mengetahui  apa yang kamu tampakkan dan kamu rahasiakan?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak. Katakan yang keempat”
Ibrahim menjawab, “Jika Malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, maka bilang kepadanya, “Nanti dulu, aku mau bertaubat dengan benar-benar dan beramal kerana Allah”
Laki-laki itu berkata, “Dia tidak mungkin akan menerima”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, jika engkau tidak mampu menolak malaikat maut supaya engkau bisa bertaubat dan engkau mengetahui bahwa jika dia mendatangimu dia tidak memberimu kesempatan, lantas bagaimana engkau berharap selamat?”
Laki-laki itu berkata, “Katakan yang kelima?”
Ibrahim berkata, “Jika malaikat Zabaniyah mendatangimu pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke Neraka, maka jangan engkau menurutinya”
Laki-laki itu berkata, “Mereka tidak akan membiarkanku dan tidak akan menerimaku”
Ibrahim bertanya, “Bagaimana engkau bisa berharap selamat?”
Laki-laki itu berkata, “Ya Ibrahim, cukup..cukup.., aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah.”
Laki-laki itu benar-benar memenuhi janji taubatnya. Dia rajin beribadah dan menjauhi maksiat sampai dia meninggal dunia.
Dimbil dari “Mausu'ah Qishashis Salaf”, edisi bahasa Indonesia “Ensklopedi Kisah Generasi Salaf” karya Ahmad Salim Baduwailan, penerbit Elba
09.44 | 1 komentar

Jabatan Bukan Jalan Menuju Neraka

Written By Rudianto on Senin, 21 Mei 2012 | 18.55


Rasulullah juga menyatakan kepada Abu Dzar bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah amanah. Karena memang kepemimpinan itu memiliki dua rukun,kekuatan dan amanah, hal ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan dalil:


Ø¥ِÙ†َّ Ø®َÙŠْرَ Ù…َÙ†ِ اسْتَئْجَرَْتَ اَÙ„ْÙ‚َÙˆِÙŠُّ الأَÙ…ِÙŠْÙ†ُ

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al-Qashash: 26)

"Aku tidak pantas menduduki jabatan ini", kata ulama besar itu kepada menteri yang membawa perintah untuknya. Wajah lelaki shalih itu menyiratkan keberatan bersamaan dengan kata-kata penolakannya. Menteri yang bernama Ar-Rabi' bin Yunus itu bersikeras meminta agar sang ulama mau memenuhi permintaan khalifah. "Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Amirul Mukminin telah bersumpah untuk mengangkatmu sebagai qadhi?"

Mendengar pertanyaan memaksa itu, sang ulama terbayang seperti apa pribadi Abu Ja'far al-Manshur yang telah mengucapkan sumpahnya. Dengan penuh kepastian ia menjawab : "Amirul mukminin lebih mampu menunaikan kaffarah yamin (denda akibat melanggar sumpah) daripadaku."

Jawaban ini bukan saja mengecewakan khalifah. Jawaban ini dianggap pembangkangan dan merendahkan. Maka ulama kharismatik itu pun ditangkap. Ia dipindahkan dari majlis ilmunya yang biasa dihadiri banyak kaum muslimin ke dalam penjara pengap. Beberapa hari lamanya. Hingga khalifah memanggilnya.

"Maukah engkau mengikuti keinginan kami?" tanya khalifah dengan nada mengancam.

"Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Amirul Mukminin. Sungguh aku tidak bisa menduduki jabatan qadhi." Jawab ulama yang telah menjadi imam tersebut dengan tenang.

"Engkau berbohong!" khalifah geram mendengar jawaban ini. Emosinya memuncak. Harusnya tidak ada orang yang berani membangkang perintahnya, apalagi saat berhadapan langsung semacam ini. Tapi lelaki macam apa yang dihadapinya kini.

"Wahai Amirul mukimin," sang ulama mulai menjelaskan alasannya, "Aku telah memutuskan bahwa aku tidak bisa menduduki jabatan qadhi, karena jabatan itu menyebabkan aku menjadi seorang pendusta. Jika aku benar pendusta, maka aku tidak pantas menjabatnya. Jika aku manusia jujur, aku telah menjelaskan kepadamu bahwa aku tidak pantas menduduki jabatan itu."

Kini kemarahan Abu Ja'far tidak bisa dibendung lagi. Luapan emosinya segera berubah menjadi perintah. Sang ulama pun dicambuk hingga 130 kali dalam penjara yang tidak manusiawi untuk ulama suci yang tidak lain adalah Imam Abu Hanifah itu. Imam yang di kemudian hari dikenal luas sebagai salah satu pendiri madzhab fiqih itu baru dilepaskan saat Abdurrahman, paman khalifah, memperingatkan: Kamu telah menghunus 100 ribu pedang yang mengancam jiwamu. Laki-laki ini adalah ulama fiqih penduduk negeri bagian timur, dia telah dicambuk tanpa dosa. Tidakkah kamu takut akan siksaan yang datang dari langit.!"

Imam Abu Hanifah akhirnya dibebaskan dari penjara. Namun ia telah lebih dahulu membebaskan dirinya dari kesalahan dan mengajarkan kepada kaum muslimin untuk membebaskan diri dari dosa.

Jabatan qadhi adalah jabatan prestisius saat itu. Ada banyak fasilitas. Ada gaji besar. Kedudukan menjadi terhormat dan popularitas meningkat. Namun semuanya ditolak Abu Hanifah. Penolakannya bukan karena ia tidak tahu bahwa jabatan qadhi bisa memberikan maslahat kepada umat dengan tegaknya keadilan karena keputusan-keputusannya. Sebaliknya, justru karena pada saat itu keadilan hukum Islam yang telah dipahami Abu Hanifah tidak bisa ditegakkan meskipun ia yang jadi qadhi. Khalifah yang zalim telah mengintervensi putusan-putusan peradilan sehingga hukum mengikuti hawa nafsu penguasa. Abu Hanifah tidak mau jika ia menjadi qadhi sementara ia justru dipaksa membuat keputusan zalim yang bertentangan dengan hukum Islam dan hati nuraninya. Maka Abu Hanifah lebih memilih siksaan itu. Biarlah cambuk dan penjara dunia dirasakannya asal bukan cambukan malaikat dan pedihnya siksa neraka.

Abu Hanifah juga mengajarkan kepada kita. Jika jabatan justru membawa kerusakan agama kita, menolaknya lebih utama. Jika jabatan justru membawa ke neraka, maka meninggalkannya adalah pilihan pertama dan satu-satunya. Jika jabatan tidak mendatangkan kemaslahatan bagi kaum muslimin, menceburkan diri ke dalamnya hanya menambah dosa.

Di tengah zaman haus kekuasaan seperti sekarang, rasanya sulit menemukan orang-orang shalih yang tangguh menolak jabatan dengan logika Abu Hanifah. Yang banyak dijumpai justru langkah-langkah ambisius mendapatkan jabatan. Tujuan yang buruk telah mendahului langkah-langkah buruk. Tidak jarang dalam menghalalkan segala cara meraih jabatan masih sempat orang-orang ambisius memproklamirkan alasannya kepada dunia: "Demi kebaikan rakyat", "Demi kemaslahatan umat", Rakyat yang mana? Umat yang mana?
18.55 | 1 komentar

Ketika Sholat Sunah Fajar Lebih Mahal daripada Dunia & Isinya

Written By Rudianto on Jumat, 18 Mei 2012 | 23.53

Seorang pengusaha nan shalih bernama Kajiman –bukan nama asli-, malam itu sedang menginap di sebuah hotel berbintang lima di kawasan Simpang Lima Semarang. Usai melakukan qiyamul-lail ia bergegas ke luar hotel untuk mencari masjid terdekat dan shalat Shubuh berjamaah di sana. Waktu di jam tangan Kajiman menunjukkan bahwa waktu adzan Shubuh kira-kira setengah jam ke depan. Begitu keluar dari lobby hotel, Kajiman pun memanggil seorang tukang becak yang sedang mangkal lalu ia naik ke atas becak. "Mau diantar kemana, Pak?" tanya tukang becak bernama Ibnu. Begitu ditanya, Kajiman menjawab, "Antar saya keliling kota Semarang saja, Pak!" Ia menjawab sedemikian karena ia tahu bahwa waktu Shubuh masih jauh tersisa. Maka Ibnu sang tukang becak mengantarkan Kajiman berkeliling Simpang Lima sebagai pusat kota Semarang. Kira-kira belasan menit sudah Ibnu mengayuhkan pedal becak mengantarkan Kajiman yang hendak melihat panorama kota Semarang saat pagi menjelang. Beberapa jalan sudah mereka susuri berdua. Lalu sayup-sayup terdengar suara tarhim dari sebuah corong menara masjid di sana. "Ya Arhamar Rahimiin, Irhamnaa.... Ya Arhamar Rahimiin, Irhamnaa....!" Suara tarhim itu mengisyaratkan kepada warga kota Semarang bahwa waktu shubuh sebentar lagi akan menjelang. Sejurus itu Ibnu berkata santun kepada penumpangnya, "Mohon maaf ya pak, boleh tidak bapak saya pindahkan ke becak lain??" Kajiman membalas, "Memangnya bapak mau kemana?" "Mohon maaf pak, saya mau pergi ke masjid!" jawab Ibnu. Terus terang Kajiman kagum atas jawaban Ibnu sang tukang becak, namun ia ingin mencari alasan mengapa Ibnu sedemikian hebat kemauannya hingga ingin pergi ke masjid. "Kenapa harus pergi ke masjid pak Ibnu?" tanya Kajiman. Ibnu dengan polos menjawab, "Saya sudah lama bertekad untuk mengumandangkan adzan di masjid agar orang-orang bangun dan melaksanakan shalat Shubuh. Sayang khan Pak kalau kita tidak shalat Shubuh" jelas Ibnu singkat. Jawaban ini semakin membuat Kajiman bertambah kagum atas ketaatan Ibnu. Namun Kajiman belum puas sehingga ia melontarkan pertanyaan yang menggoyah keimanan Ibnu. "Pak, bagaimana kalau pak Ibnu tidak usah ke masjid tapi pak Ibnu temani saya keliling kota dan saya akan membayar Rp 500 ribu sebagai imbalannya!" Dengan santun Ibnu membalas tawaran itu, "Mohon maaf pak, bukannya menolak.... namun guru saya pernah mengajarkan bahwa shalat sunnah Fajar itu lebih mahal daripada dunia beserta isinya!" Deggg....! dinding hati Kajiman bergemuruh mendapati jawaban hebat dari seorang pengayuh becak seperti Ibnu. Ia begitu takjub atas ketaatan Ibnu kepada Tuhannya. Amat jarang menurut Kajiman manusia sekarang yang memiliki prinsip hidup seperti Ibnu. Bahkan Kajiman pun memberikan tawaran dua kali lipat dari semula, tetap saja Ibnu menolaknya. Kekaguman pun membawa Kajiman menyadari bahwa ada pelajaran besar yang sedang ia dapati dari seorang guru kehidupan bernama Ibnu pagi itu. "Dua rakaat Fajar (qabliyah Shubuh) lebih baik daripada dunia beserta isinya." (Muhammad Saw) Ibnu dan Kajiman pun tiba di salah satu masjid, rumah Allah. Lampu-lampu masjid belum menyala. Mereka berdualah orang-orang pertama yang membuka gerbang dan pintu masjid. Ibnu menyalakan lampu-lampu dan ia pun mengumandangkan adzan saat waktu Shubuh tiba. Dalam alunan suara merdu Ibnu mengumandangkan adzan, hati Kajiman semakin hebat berguncang. Dia berkata kepada Tuhannya, "Ya Allah, betapa ummat dan bangsa ini amat membutuhkan manusia-manusia hebat seperti Ibnu... Rezekikan kepada kami para pemimpin bangsa dan hamba-hamba yang senantiasa kuat beriman dan selalu merasa takut kepada-Mu.... sehingga tiada lagi yang kami cari untuk hidup di dunia ini selain keridhaan dan surga-Mu." Shalat Shubuh pun didirikan di masjid tersebut, termasuk dalam shaf barisan hamba Allah pagi itu adalah Kajiman dan Ibnu. Kajiman begitu mensyukuri pelajaran berharga yang Allah berikan untuknya di pagi itu. Usai shalat, Kajiman masih melanjutkan ibadahnya dengan dzikir dan bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Pemurah. Namun lagi-lagi terbayang di benaknya sosok hebat Ibnu sang Tukang Becak. Entah mengapa dirasakan oleh Kajiman bahwa Allah menginginkan dirinya membantu Ibnu untuk hadir ke Baitullah berhaji di tahun ini. Doa di pagi itu sungguh membuat Kajiman terasa amat dekat dengan Tuhannya. Hingga badannya berguncang dan air mata pun mengalir deras di pipinya. Tak kuasa ia membendung gelombang arus rahmat dari Tuhannya. Usai puas berdoa, Kajiman pun menurunkan kedua tangannya yang tadi terangkat. Terdengar oleh telinganya sapaan lembut pak Ibnu yang berkata, "Mari pak kita teruskan perjalanan keliling kota Semarang....!" Kajiman lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia berdiri dan menghampiri tubuh Ibnu. Ia gamit tangan Ibnu untuk berjabat lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Sementara Ibnu belum mengerti apa maksud perbuatan yang dilakukan Kajiman. Dalam pelukan itu Kajiman membisikkan kalimat ke telinga Ibnu, "Mohon pak Ibnu tidak menolak tawaran saya kali ini. Dalam doa munajat kepada Allah tadi saya sudah bernazar untuk memberangkatkan pak Ibnu berhaji tahun ini ke Baitullah...., Mohon bapak jangan menolak tawaran saya ini. Mohon jangan ditolak!!!" Subhanallah.... bagai kilat dan guntur yang menyambar menggoncang bumi. Betapa hati Ibnu teramat kaget mendengar penuturan Kajiman yang baru saja dikenalnya. Kini Ibnu pun mengeratkan pelukan ke tubuh Kajiman dan ia berkata, "Subhanallah walhamdulillah.... terima kasih ya Allah.... terima kasih pak Kajiman.....!" Untuk kali ini, Ibnu tiada menolak tawaran Kajiman! Labbaikallahumma Labbaik..... Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah... Aku penuhi panggilan-Mu Haji adalah memenuhi panggilan Allah Swt sekali seumur hidup. Bagaimana mungkin seorang manusia memenuhi panggilan Allah yang agung ini, bila dalam sehari Allah Swt memanggilnya hingga lima kali, namun ia tiada mengindahkan. Ibnu sungguh pantas mendapat hadiah penghargaan dari Allah Swt. Ucapan terima kasih khusus untuk ayahanda Kajiman atas kisah yang luar biasa ini! Wallahu 'alam (jamaahmasjid.blogspot.com)
23.53 | 0 komentar

MENGAPA BUKAN AYAH SAJA YANG MENINGGAL?

Written By Rudianto on Jumat, 27 April 2012 | 12.49


MENGAPA BUKAN AYAH SAJA YANG MENINGGAL?
(Kisah anak yg menyadarkan kealpaan ayahnya…subhanallah!)
Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada suatu hari ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah shubuh. Bagi si anak, Shubuh merupakan sesuatu yg sulit bagi sang bocah,Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.
Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?
Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?…
Bukan!
Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid.
Tapi…
Tatkala ia membuka pintu rumahnya suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap…
Membuat nyalinya menjadi ciut.
Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian?
Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah…
Ya…
Ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.
Begitupula cara ia pulang dari masjid.
Bocah itu menjadikan perbuatannya itu sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada org tuanya yg tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain.
Semuanya dilakukan sang bocah agar ia bisa begadang malam.
Hingga suatu kali…
Terdengar kabar olehnya, kakek2 itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan….
Sang ayah heran…”
Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu…bukan siapa-siapa kamu!”
Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata,
“kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”
“A’udzu billah…, kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.
Si bocah berkata,
“Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..
Sementara kakek itu….
setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”
ALLAHU AKBAR!
Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.
Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya.
Akhirnya sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya…
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw-waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa..”
12.49 | 0 komentar

JANGAN PEDULIKAN MEREKA

Written By Rudianto on Kamis, 26 April 2012 | 21.30


Juha dan anaknya berada di dua ujung yang saling berlawanan. setiap kali ayah menyuruh melakukan sesuatu, anaknya selalu menentangnya dengan berkata, "Apa kata orang tentang kita jika kita melakukan hal ini?"

Juha, sang ayah ingin memberi pelajaran yang bermanfaat untuk anaknya, agar ia berpaling dari mencari ridha semua orang. Sebab, ridha semua orang merupakan ujung yang tak mungkin terjangkau.

Lantas, Juha pun naik keledai dan menyuruh anaknya agar berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, mereka melewati beberapa orang perempuan, lalu mereka meneriaki Juha, "Apa-apaan ini, wahai lelaki! Apa di hatimu tidak ada rasa kasih sayang?. Engkau enak-enakan naik keledai sementara engkau biarkan anak kecil berlari-lari kelelahan di belakangmu."

Kemudian Juha turun dari keledainya dan menyuruh anaknya yang naik. Ketika melewati sekelompok orang tua yang sedang duduk di bawah terik matahari, Juha dikejutkan oleh tepukan tangan salah seorang dari mereka. Mereka memandangi Juha dengan gaya mencemooh sebagai orang tua bodoh yang membiarkan dirinya berjalan kaki seentara anaknya enak-enak duduk di punggung kelesai. Mereka mencaci Juha dengan kata-kata "Wahai laki=laki! Kamu berjalan kaki padahal kamu orng tua sementara kamu biarkan anakmu naik enak-enak di atas kelesai. Padahal kamu ingin mengajarinya rasa malu dan sopan santun.

Lalu Juha berkata kepada anaknya, "Apa dengan ucapan mereka semua? Kalau begitu mari kita naik keledai bersama-sama.

Mereka berdua pun naik keledai bersama melewati jalanan. keduanya berpapasan dengan sekelompok orang yang dapat disebut dengan anggota 'organisasi penyayang binatang'. Mereka berteriak kepada Juha dan anaknya,"Apa kalian berdua tidak bertakwa kepada Allah SWT terkait dengan binatang kurus ini? Apa kalian tega menungganginya bersama-sama padahal timbangan kalian berdua lebih berat dari pada timbangan keledai?"

Juha dan anaknya pun turun dari keledai. Juha berkata, "Kamu dengarkan? Kalau begitu ayo kita berdua berjalan kaki bersama dan kita biarkan keledai ini berjalan sendiri di depan kita agar kita terhindar dari omongan miring kaum lelaki, perempuan, dan pecinta binatang."

Mereka berdua pun berjalan kaki sedangkan keledai berjalan sendiri di depan mereka. Lantas mereka berdua berpapasan dengan sekelompok orang buruk dan pandai. Mereka menjadikan Juha dan anaknya sebagai obyek gurauan dan ejekan.

Mereka berkata,"Demi Allah, sepantasnya keledai ini menaiki kalian berdua untuk mengistirahatkannya dari kelelahan di jalan."

Selanjutnya Juha mendengar perkataan orang-orang ini, lalu dia dan anaknya menuju suatu pohon di jalan. Mereka berdua memotong dahan yang kuat dan mengikatkan keledai tersebut padanya. Kemudian Juha memikul salah satu ujung dahan sedangkan anaknya memikul ujung yang lainnya.

Ketika mereka belum sampai berjalan beberapa langkah, ternyata di belakang mereka terdapat sekolompok orang tertawa karena melihat pemandangan yang tiada duanya ini yaitu ketika seseorang menggiring Juha, anaknya, dan keledainya ke tempat orang-orang gila (rumah sakit jiwa).

Ketika Juha sampai di rumah sakit jiwa, maka dia harus menjelaskan kepada anaknya inti dari 'uji coba' yang telah sampai pada puncaknya ini. Lalu dia menoleh kepada anaknya seraya berkata, "Wahai anakku! inilah akibat dari mendengar omongan orang dan melakukan sesuatu hanya untuk mencari ridha semua orang."

Hal ini menjadi pelajaran yang dipetik oleh anak Juha dan menjadi sejarah buat kita.

(Diambil dari Kitab Mi`atu Qishshah wa Qishshah fi Anis al-Shalihin wa Samiri al-Muttaqin, Muhammad Amin al-Jundi)
21.30 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung