Alhamdulillah, kita telah berada pula di bulan
Rabi’ul awal. Bulan Maulid Nabi yang diperingati umat Islam Indonesia
setiap tahun. Mulai dari desa terpencil, sampai ke istana Negara.
Memperingati Maulid, bukan perbuatan bid’ah. Apalagi jika disebut
dhalalah. Nabi sendiri memperingatinya, dengan puasa setiap Senin.Dan
umatnya dianjurkan juga berpuasa setiap Senin.
Di
desa-desa, diperingati secara tradisional, yaitu berzikir dan membaca
sejarah nabi (Barzanji). Di kota-kota, dengan cara modern. Pidato dan
diskusi, tapi juga mengenai prilaku nabi. Keduanya sama, yaitu
hubburrasul. Jika Barzanji itu diterjemahkan, itulah yang afdal, karena
dapat dihayati maknanya.
Yang menjadi
masalah sekarang, masih banyak orang muslim yang keliru memahami hakikat
Nabi Muhammad. Mungkin karena cintanya kepada rasul berlebih-lebihan,
atau karena tidak merasakan terkontaminasi filsafat Yunani yang diterima
oleh sebagian filsuf Islam. Akibatnya, ada yang memahami bahwa Muhammad
itu pancaran (faidh) atau emanasi dari Tuhan. Muncullah istilah “Insan
al Kamil”. Padahal istilah itu, tidak ditemukan dalam Al-Quran dan
Sunnah sahih.
Bagaimana memahami dengan benar, sesuai Al-Quran ?.
Manusia biasa:Meyakini
“ Muhammad Rasulullah”, adalah syahadat kedua. Wajib diyakini seorang
muslim, sesudah syahadat pertama Lailaha illa Allah. Tidak ada diantara
kita, yang meragukan kerasulannya. Diabadikan Al-Quran dengan “ Nasyhadu
innaka larasul Allah ( Kami mengakui bahwa engkau, benar-benar Rasul
Allah (QS.63:1). Demikian keistimewaannya, tidak ada yang meragui
sebagai “ Khatam wa asyraf al-anbiya’ wa al-mursalin”. ( Penutup dan
termulia dari segala Nabi dan Rasul ). Namun, Al-Quran juga dengan tegas
menyatakan “ Qul Innama ana basyarun mislukum” (Katakan, sesungguhnya
saya ini adalah manusia biasa, seperti anda )(QS.18 :11O)
Menurut
ahli Tafsir Ali Al-Shabuni, bahwa Muhammad sebagai manusia biasa..
berlaku juga sifat biasa pada dirinya. Hanya perbedaannya karena Allah
memuliakan dengan wahyu bertugas, mengabarkan tentang keesaan Allah dan
memkanjikan pahala besar bagi mereka yang beramal dengan ikhlas.
Ahli
Tafsir Al-Jazairi menambahkan bahwa ayat tersebut, merupakan jawaban
kepada kaum musyrikin yang memintanya memperlihatkan mu’jizat semacam
yang diberikan kepada Musa dan Isa, lalu nabi mengakui bahwa ada yang
tidak mampu dilakukan, karena diluar mu’jizat yang diberikan Allah.
Misalnya, mengubah tongkat jadi ular atau dapat menghidupkan orang mati,
sehingga nabi berkata “Ana basyarun mislukum”.
Mufasir
Ibnu Abbas, sebenarnya “ Ana basyarun mislukum” yang dilontarkan Rasul
itu, adalah pelajaran tawadu’ yang hendaknya dimiliki seseorang, bahwa
jika ada keistimewaan, bukan segalanya. Maklum, tetap seperti hamba
Allah yang lain.
Untuk lebih meyakini,
ayat lain lebih tegas menyatakan “Wawajadaka dhallan fahada, wawajadaka
‘ailan fa aghna “ ( Bukankah Tuhan mendapatimu seorang yang bingun, lalu
Dia (Tuhan) memberikan petunjuk ?.Dia mendapatimu seorang yang penuh
kekurangan, lalu Dia memberikan kepadamu kecukupan ?” (QS.93 : 7-8)
Namun,
para ulama Tafsir mengakui pula, dibalik ayat yang menyatakan punya
keterbatasan sebagai “ basyarun mislukum ” sambungan ayat itu menyatakan
“Yuha ilayya annama ilahukum ilahun wahid… ( Diwahyukan kepadaku, bahwa
sesungguhnya Tuhan itu adalah Tuhan Yang Esa…) (QS.Al-Kahfi (18) :11O).
Manusia istimewa:
Apa
artinya ?. Dalam satu ayat diatas, sesudah dinyatakan manusia biasa,
kemudian dinyatakan ada keistimewaan ( keluar biasaannya ). Misalnya
dari lebih seribu Nabi, yang dipilih menjadi rasul, hanya 25 orang. Dan
dari 25 rasul, hanya nabi Muhammad SAW yang disebut “ Asyraful mursalin
“( Rasul termulia). Dengan demikian betapa istimewanya nabi SAW. Laksana
rembulan dikelilingi bintang. Keistimewaan itu terlihat juga, jika
Tuhan memanggilnya dalam Al-Quran. Tuhan tidak menyebut namanya secara
langsung, seperti “ Ya Muhammad ! ”. Tapi, Tuhan memanggilanya dengan
sebutan mesra “Ya ayyuha al-nabiy - Ya ayuha al-rasul - Ya ayyuha
al-muddatsir,” .( Wahai para nabi, Wahai para rasul -Wahai para yang
berselimut). Menurut mufasir, semua panggilan dengan kata jamak, seperti
itu, padahal ditujukan hanya satu orang yaitu Muhammad sendiri, itu
adalah penghormatan yang tinggi. Sama juga dalam salam “ Assalamu
Alaikum “ ( Mudah-mudahan kamu semua selamat dan sejahtera ), padahal
pemberi salam itu hanya dia tujukan kepada satu orang saja.
Penghormatan
lain Tuhan kepada nabi Muhammad, , yaitu diperintahkan “ Innallaha
wamalaikatahu, yushallun ‘ala al- nabiy, ya ayyuha ladzina amanu shallu
‘alayh… ( Tuhan dan malaikatnya bersalawat kepada nabi, maka hai
orang-orang mukmin, bersalawatlah kepadanya. (QS.33:65). Dan masih
banyak lagi penghormatan lain, seperti menjadi rahmat seluruh alam.
Menurut
Tafsir Al-Qurthubi, yang dimaksud salawat dari Tuhan kepada nabi pada
ayat diatas yaitu Tuhan selalu mencurahkan rahmat dan ridha kepadanya.
Mengenai salawat malaikat berarti melaikat selalu mendoakan dan
istigfarkan. Sedang salawat orang mukmin berarti selalu medoakan dan
ta’zhimkan.
Akan tetapi kita semua
hendaknya sadar, bahwa bagaimanapun istimewanya nabi kita, tetap tidak
boleh disamakan dengan Tuhan atau bahagian dari Tuhan. Seperti
mempercayai bahwa emanasi dari Tuhan. Paham itu pernah dianut sebagian
kecil filsuf Islam. Sebab itu, untuk memurnikan akidah, kita harus
kembali kepada ayat diatas “Ana Basyarun mislukum” ( saya manusia biasa
seperti anda ) dan pada surah Al-Ikhlas “ Walam yakun lahu kufwan ahad”(
Dan tidak ada seorangpun yang setara atau mirip dengan Allah).
Adapun
sifat-sifat Tuhan yang ada pada manusia misalnya rahman atau rahmat (
kasih sayang) perbandingannya 1OO berbandung 1. Artinya kasih sayang
Tuhan dikurangi 1 = 99 . Jadi, yang satu itulah dibagi-bagikan kepada
seluruh makhluk, sehingga seekor binatang tahu mengangkat kakinya,
sehingga tidak sampai menginjak-injak anaknya yang baru dilahirkan
sampai mati.
Insan al-Kamil ?Falsafah “
Insan al-Kamil ” ( manusia sempurna ), dipahami sebagian sufi, bahwa
kesempurnaan itu adalah copy Tuhan dalam diri Muhammad. Diorbitkan oleh
sufi, Abd. Karim Al-Jili (w.1428 M) . (Astagfirullah).
Menurut
Prof. DR.M.Rasjidi (Dosen “Filsafat Islam”), waktu penulis masih kuliah
di Purnasarjana IAIN Yogya (1978), menerangkan, bahwa “ Istilah
Hakikatul Muhammadiyah atau Nur Muhammad atau Insan al-Kamil yang dianut
sebagian Sufi, adalah hasil dari meresapnya faham Neo Platonisme, yang
dianut oleh Al-Kindi dan Al-Farabi”. Teori “emanasi” itu berasal dari
pandangan, bahwa semua yang ada ini, memancar dari zat Tuhan melalui
akal-akal ke sepuluh. Akal menurut pemikiran, mempunyai 3 tingkatan:
Al-hayulani (material), bi al-fi’il (actual) dan al-mustafad (adeptus),
dan tingkatan terakhir inilah yang menerima pancaran (emanasi) dari
Tuhan. ( Dapat dilihat juga pada:” Koreksi terhadap DR.Harun Nasution,
1977:128).
Mengenai makna “Ahsani taqwin “
dalam Al-Quran, itu berlaku untuk seluruh manusia yang diciptakan
Tuhan. Diakui pakar Tafsir, Prof. DR. M.Quraish Shihab, bahwa makna “
Ahsani taqwin” dalam Al-Quran, berarti bahwa manusia diciptakan dalam
bentuk yang sebaik-baiknya. Ia mengutip pendapat mufasir Ragib
Al-Asfahani, bahwa kata “taqwin” pada ayat tersebut, hanya
mengisyaratkan bentuk pisik manusia lebih baik, dari binatang, serta
mempunyai keistimewaan, karena dilengkapi akal. (Lihat : Tafsir
Al-Quran,1997:741). Artinya, Insan al-Kamil, bukan istilah Al-Quran.
Satu-satunya
yang dijadikan alasan sebagian sufi adalah Hadis Jabir, yang bukan
bersumber dari “Kutubussittah“ ( 6 kitab Hadis yang diakui ). Jabir
berkata, “ Yang pertama diciptakan Tuhanmu adalah Nur nabimu ”, ternyata
ahli Hadis sendiri, menilainya hadis Dha’if. Imam Syafei yang pernah
membolehkan penggunaan Hadis dha’if, hanya menyangkut masalah ibadah (
Fadilah. Amal) .Tapi masalah Akidah dan Syari’ah, Imam Syafei sendiri
tidak mau menggunakannya. Adapun Tasawuf yang dikembangkan Imam Besar
Al-Ghazali, seluruhnya adalah Tasawwuf Sunni (Akhlak). Dan beliau
dikenal menolak Tasawuf filsafat, seperti yang dianut Al-Kindi, dkk).
Alhasil,
memahami “Muhammad Rasulullah SAW ” dengan benar, sederhana saja.Tidak
perlu berbisik-bisik dan mengeluarkan biaya. Cukup mentaati dan meniru
akhlaknya, seperti tertulis dalam Al-Quran dengan “Uswah al-Hasanah” (
Teladan terbaik). Metodenya, “ Qul in kuntum tuhibbun Allah,
Fattabi’uni, yuhbib kum Allah wa yaghfir lakum dzunubakum “ ( Kalau kamu
betul-betul mencintai Allah, ikutilah saya, niscaya Allah mencintaimu
dan mengampuni dosa-dosamu ) ( QS. 3:41 ).
Menurut
Tafsir Al-Bayan, akhlak Nabi yang harus diikuti, terutama pada Sural
Al-Mu’minun 1-1O. Diantaranya, selalu siap menunggu waktu salat, sangat
khusyu’ dalam salat, menjauhi perkataan dan perbuatan sia-sia, suka
bersedekah, memenuhi amanah dan menepati janji serta tidak suka
berdusta.(Juz V :137).
Akhirnya, memahami nabi Muhammad dengan
benar berdasarkan Al-Quran, ialah meyakini kerasulannya, mentaati
perintahnya, meneladani akhlaknya, meyakini disamping manusia biasa,
juga manusia istimewa dan rasul termulia, mempunyai misi utama pembawa
rahmat bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta mempunyai rahmat
khusus kepada orang mukmin, dengan syafaatnya. Sebagian ulama
berpendapat terutama yang suka memberi salawat dan mengikuti sunnahnya.
.Semoga kita semua memperoleh kontribusi syafaatnya. Amin.