Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan

4 Etika Bercanda

Written By Rudianto on Jumat, 26 September 2014 | 16.26

Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayatNya, Sunnah RasulNya atau syi’ar-syi’ar islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olok sahabat Nabi, yang ahli baca al-Qur’an, yang artinya, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman (QS. At Taubah : 65-66)

Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung dusta.

Dan, hendaknya pecanda tidak mengada cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)

Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang temannya, apakah itu ia niatkan sebagai candaan maupun sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya.” (HR. Ahmad dan Abu dawud. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.
(Aadaabu al-Muslim Fii al-Yaumi Wal Lailah, 24 Adaban Mutanawwi’an, Departeman Ilmiah darul Wathan, dengan gubahan)

Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah عز و جل . Dan semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.
16.26 | 0 komentar

Shalih Tak Harus Terkenal

Written By Rudianto on Jumat, 21 Maret 2014 | 08.51

Allah Ta'ala berfirman; "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur," ( Al Quran surat an-Nahl : 78 ).

Firman Allah Ta'ala itu menegaskan, semua manusia dilahirkan hanya dibekali tiga hal yang sama: pendengaran, penglihatan dan hati. Karenanya, semua orang pada dasarnya punya potensi sama untuk menjadi orang shalih atau tidak. Keshalihan seseorang bergantung pada sejauh mana isa mengoptimalkan modal yang diberikan Allah tersebut.

Begitu juga halnya orang-orang shalih yang dicatat sejarah. Mereka lahir sebagai manusia biasa. Lalu belajar mengenal Allah Ta'ala dan mengimani-Nya. Mereka mendekat pada Allah, dan Allah pun dekat pada mereka. Tentu saja keberhasilan mereka menjadi orang shalih tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitarnya, utamanya keluarga.

Karena orang-orang shalih itu adalah orang-orang biasa, maka tak heran pada banyak hal mereka tak jauh berbeda dengan keadaan orang biasa. Mereka bisa punya masalah keuangan, keluarga, kejenuhan, kelelahan dan seterusnya, Bahkan mereka bisa berbuat kesalahan. Perbedaan orang shalih dengan orang biasa terletak pada bagaimana menyikapi problema yang dihadapi dan kesalahan yang terjadi.

Jika orang biasa cenderung larut dalam problema yang dihadapinya kaum shalih itu mampu keluar dari persoalan yang melilitnya dengan elegan. Begitu juga halnya dalam soal berbuat salah. Berbeda dengan orang biasa yang umumnya terbuai kesalahan dan tak gampang bertaubat, orang-orang shalih amat sensitif terhadap kesalahan dan bersegera bertaubat.

Menyebut orang-orang shalih itu bisa salah, bukan untuk memperkecil kebesaran mereka. Bukan. Tapi, untuk memperbesar harapan kita untuk menjadi seperti mereka: shalih. Kita sama seperti mereka. Sama-sama punya potensi untuk menjadi shalih.

Betapa biasanya orang-orang shalih itu dalam hidup kesehariannya, bisa dilihat pada bebeberapa kisah berikut. Setelah dibaiat sebagai khalifah, Abu Bakar ash-Shiddiq tetap berdagang kain di pasar. Umar bin Khaththab lantas memintanya berhenti. "Lalu, apa yang akan dimakan keluargaku kalau aku tidak berdagang," jawab Abu Bakar. Khalifah pertama pengganti Rasulullah saw itu terus berdagang sampai akhirnya Umar mengusulkan agar ia digaji dari Baitul Mal agar bisa konsentrasi mengurus negara.

Fathimah lecet-lecet telapak tangannya karena mengerjakan sendiri urusan rumah tangga. la sempat meminta pembantu dari ayahnya. Tapi Rasulullah saw menggantinya dengan yang lebih baik: do'a.
Selain masalah nafkah, para salafus shalih juga menerima ujian. Zaid bin Arqam diuji Allah dengan kebutaan. Begitu juga dengan Abdullah bin Ummi Maktum. Kedua orang tua Ammar bin Yasir dibunuh. Ummu Salamah ditinggal mati oleh suami yang sangat ia cintai.

Orang-orang shalih itu pun pernah berbuat "salah". Rasulullah saw menugaskan Khalid bin Walid memimpin ekspedisi perang ke suatu wilayah yang didalamnya ikut Ammar bin Yasir. Sebelum perang Khalid mengutus sejumlah orang untuk menyeru penduduk daerah itu kepada Islam. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menemui Ammar dan menyatakan masuk Islam. "Apakah ke-Islamanku bermanfaat jika aku tetap tinggal di kampungku ini?" pinta laki-laki itu. Ammar pun mengiyakan. "Aku yang menjaminmu," tambah Ammar.

Ketika masuk ke kampung itu, Khalid mendapatkan penduduknya sudah melarikan diri, kecuali keluarga laki-laki itu yang segera ditangkapnya. "Mereka sudah masuk Islam, tak ada alasan untuk menangkapnya," Ammar membela.

"Apa urusanmu dengannya? Apakah engkau telah menjaminnya padahal pemimpin pasukan ini aku?" ujar Khalid.

Keduanya sempat terlibat perdebatan panjang. Ketika kembali ke Madinah, keduanya segera menghadap Rasulullah saw dan menceritakan masalah mereka. Rasulullah saw membolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya untuk mengulangi lagi. Namun antara Khalid dan Ammar tetap terlibat perdebatan. Khalid sempat marah dan berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa ia tetap menghinaku padahal kami berada di depanmu?"

"Cukup wahai Khalid! Siapa yang membenci Ammar, akan dibenci Allah. Siapa yang melaknat Ammar, akan dilaknat Allah," ujar Rasulullah saw.

Ammar keluar. Khalid buru-buru mengikuti. la menarik baju Ammar dan meminta maaf.
Pada kesempatan lain, Umar bin Khaththab pernah mau "melabrak" Amr bin Ash yang kala itu menjadi panglima. Amr bin Ash melarang pasukan menyalakan obor. Padahal keadaan sangat gelap. Umar marah. Antara dua jagoan itu hampir terjadi percekcokan. Abu Bakar yang juga ikut menjadi prajurit segera melerai, "Tahan wahai Umar! Sesungguhnya dia tidak diangkat sebagai panglima kecuali karena keahliannya dalam berperang." Umar pun tenang.

Anas bin Malik pernah melirik dan memperhatikan kecantikan seorang wanita. la pun ditegur khalifah Utsman, "Telah masuk salah seorang di antara kalian yang di matanya ada bekas zina. Tidakkah engkau tahu zina mata adalah pandangan? Segeralah bertaubat. Kalau tidak, aku akan melakukan hukum ta'zir (pengasingan) padamu," ujar Utsman. Anas pun mengaku salah dan bertaubat.

Ada lagi ujian dalam bentuk lain. Rabi' Khaitsam, seorang tabiin ternama pernah digoda seorang wanita suruhan. Wanita itu melakukannya dengan harapan mendapatkan imbalan seribu dirham dari orang yang menyuruhnya. Begitu melihat wanita itu, Rabi' bin Khaitsam segera menasihatinya hingga akhirnya wanita itu bertaubat dan mengakui kesalahannya.

Begitulah. Mereka adalah manusia yang bisa "kalap", emosi dan hampir tak bisa mengendalikan diri. Tapi mereka segera bisa mengatasinya dengan bantuan saudaranya. Mereka segera bertaubat.
Orang-orang shalih juga sibuk luar biasa. Mereka meninggalkan istri, anak dan orang-orang yang dicintai untuk waktu yang lama. Namun, semua itu tak  menghalangi mereka memelihara keshalihan. Mereka tetap jadi shalih dalam kondisi sesulit apapun.

Banyak bukti, keshalihan bukan hanya milik orang-orang ternama. Baik AlQuran maupun sunnah Nabi mencatat banyak orang shalih tanpa kita mengenal namanya.

Al-Qur an mengabadikan kisah seorang laki-laki dari ujung kota yang nnembantu Nabi Musa dari kejaran Fir'aun tanpa disebut namanya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata, "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu," (QS al-Qashash: 20).

Allah Ta'ala juga mengisahkan seorang shalih di masa Fir'aun yang telah lama memendam imannya. Ketika tiba masanya, is muncul dan menyuarakan keimanannya. Allah Ta'ala berfirman, "Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keteranganketerangan dari Tuhanmu.
 Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu."Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta," (QS. Ghafir: 28).

Nabi Saw pernah melakukan shalat ghaib atas seorang wanita tukang bersih masjid yang meninggal dunia. Di masa Nabi juga banyak kaum dhuafa' yang mendukung dakwah. Nama mereka tak ada dalam catatan sejarah. Mereka tak dikenal. Tapi mereka orang-orang shalih.
Akhirnya, menjadi shalih adalah milik semua orang. Menjadi shalih tak mesti terkenal. Keshalihan bisa dimiliki siapa saja.





08.51 | 0 komentar

Kebutuhan akan fasilitas komunikasi yang canggih

Written By Rudianto on Kamis, 23 Januari 2014 | 09.00

Beberapa hari yang lalu sempat terjadi sedikit percakan bersama rekan-rekan di kantor mengenai berbagai aplikasi komunikasi. Bisa dibilang saat itu saya termasuk yang paling gaptek. bagi seorang mahasiswa yang kuliah di Jurusan Tekhnik Informatika seperti saya mungkin ini sebuah 'aib'. Masak anak jurusan TI nggak kenal dan nggak punya WA, Line, BBM, WeChat, Kakao dll, ditambah lagi akun twitter cuma sempat diupdate beberapa kali saja dan followernya sedikiiiit sekali.

Ketika yang lain ramai sekali membahas ODOJ di WA, saya cuma terdiam. ketika sebagian teman begitu aktif membahas berbagai trending topics di twitter, lagi-lagi saya hanya menjadi pendengar setia. Paling-paling yang dibanggakan hanya aktifitas yang hanya berkutat di FB saja.

Ketika rasa minder itu datang, ada sesaat itu pula teringat sepenggal hadits yang berbunyi: " barangsiapa yang membaca Al-Qur`an kemudian ia melihat bahwa seseorang telah diberikan sesuatu yang lebih utama selain Al-Qur`an daripada apa yang diberikan padanya (qiratul qur`an), maka dia benar-benar meremehkan keagungan Allah Swt.”

“Jlebb!” hadits itu tiba-tiba menikam hati. Lalu seakan ruh Al-Qur’an yang tersimpan di hati ini mengatakan “Kamu tak perlu minder karena kamu memiliki fasilitas komunikasi yang lebih canggih dari itu semua”, dan lebih terasa lagi ketika seakan Allah langsung menegurku lewat kalam-Nya Yang Maha agung:

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (Q.S Yunus: 58)
Yang di dalam Tanwirul-Miqbas diartikan oleh Ibnu Abbas :
“Wahai Muhammad, katakanlah kepada para sahabatmu: ‘ hendaklah kalian berbangga dengan Al-Qur’an dan keislaman kalian! Karena keduanya lebih baik dari segala materi (harta) yang dikumpul-kumpulkan oleh orang-orang yahudi dan musyrikin” (Tanwirul-Miqbas: 215)
Beberapa hari yang lalu, saya sempat memposting tulisan yang membahas 2 ibadah teragung dalam Islam yang sekaligus menjadi alat komunikasi terccanggih dari seorang hamba. Jika berbagai fasilitas komunikasi seperti WA, FB, twitter dll hanya menghubungkan kita dengan sesama makhluk Allah lainnya, Shalat dan Al-Qur’an akan menghubungkan kita dengan Tuhan segala Alam Raya dan berbagai informasi yang kita dapatkan di dalamnya dijamin sendiri oleh Allah terjaga dari campur tangan Syaithan.

Kalaulah suatu saat nanti Allah takdirkan diri ini memiliki berbagai fasilitas komunikasi yang lain seperti di atas, semoga kiranya bisa dioptimalkan untuk dakwah Al-qur’an yang lebih meluas. Namun, untuk saat ini, merasa cukup dengan fasilitas berupa Shalat dan Al-qur’an menjadi suatu keharusan. Dan untuk teman-teman yang Allah karuniakan berbagai kenikmatan fasilitas komunikasi yang ngetren saat ini, gunakanlah sebaik-baiknya untuk mencari ridha Allah, dan jangan lupakan bahwa anda juga memiliki kewajiban komunikasi yang harus terus disambung.



Oleh : Pewaris Negri
09.00 | 0 komentar

MULIA DAN TERCELA SEBUAH PILIHAN

Written By Rudianto on Kamis, 25 April 2013 | 10.18


Mengumpat,menghina dan mencela merupakan penyakit  kepribadian yang bisa membikin retak baiknyahubungan. Al-Qur'an melarang sikap itu dan mengancam pelakunya dengan nerakayang mengahncurkan dan menjilat hatinya. Api menjilat hatinya, karena dari hatiitulah sumber keburukan sikapnya. Al-Qur'an bahkan melarang menghina berhalayang disembah-sembah sebagai tuhan oleh orang kafir, karena penghinaan itu akanmenimbulkan sikap kebencian dan permusuhan tanpa dasar ilmu. Rasulullah s.a.w.bahkan tidak pernah mencela makanan, jika ada dimakan, jika tidak ada beliauberpuasa.

Mengumpatadalah perbuatan tercela. Demikian juga menghina dan mencela. Seseorang tidakakan mencela, kecuali kalau ia tercela. Seorang yang mulia, akan memuliakanorang lain. Tidaklah ia memuliakan, kecuali karena ia mulia. Memuliakan adalahmulia, mencela adalah tercela. Rasulullah s.a.w. bersabda: "barangsiapaberiman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakantetangganya", dalam riwayat lain" maka hendaklah memuliakantamunya".

Seorang yang mengerti makna hidup, maka ia akan pertaruhkan seluruh  hidupnya untuk memperoleh seluruh kemuliaansecara utuh. Ia sadar betul bahwa kemuliaan itu harus dibangun. Kemuliaan hanyabisa dibangun dengan akhlak yang mulia. Dan inilah agama yang menampakkandirinya sebagai karakter yang mulia dan bermartabat. Maka Rasulullah s.a.w.bersabda: "Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaanakhlak".

Banyak orang mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk memperoleh martabat.Lebih banyak dari itu adalah mereka yang mempertaruhkan modalnya untukmemperoleh kemenangan materi. Tidak juga sedikit mereka yang mengerahkan segalakekuatannya untuk dapat berkuasa. Itulah politik. Sebagai orang beragama makakita akan mempertaruhkan segala amanah Allah yang dimandatkan-Nya kepada kitauntuk menggapai keridlaan Allah. Dan itulah martabat yang mulia, karena ridlaAllah diperoleh dengan taqwa dan orang yang paling mulia adalah yang palingtaqwa.

Penulis: Ustadz  Sholihin Bunyamin LC
10.18 | 0 komentar

Merindukan Media yang Akhlaki

Written By Rudianto on Jumat, 01 Maret 2013 | 05.52

Jika Anda menyaksikan pesan-pesan televisi akhir-akhir ini, maka anda pasti merasakan betapa jauhnya pesan-pesan moral yang ditampilkan. Adegan yang berbau porno, kekerasan dan mistik, itulah yang terbanyak menghiasi sepanjang malam. Sangat jauh berbeda sebelum reformasi. Kayaknya reformasi ini digunakan sebagai senjata ampuh untuk berbuat apa saja, asal memperoleh keuntungan materi. Betapa adegan yang titampilkan sangat jauh dari semangat awal dari pendirian sebuah media. Media yang seharusnya menjadi media yang mendidik dan memberdayakan masyarakat, tetapi telah berubah menjadi media yang banyak mempertontonkan hal-hal yang tidak etis. Seperti adegan kekerasan, pornografi, pornoaksi dan mistik.

Setidaknya ada beberapa permasalahan utama yang mendera dunia pertelevisian di Indonesia belakangan ini. Bahkan bukan hanya yang ada di Indonesia, tetapi hampir di seluruh belahan dunia mengalami hal yang serupa. Yakni, pertama, inkonsistensi tujuan dan pelaksanaan dari cita-cita awal stasiun tersebut. Misalnya, stasiun televisi yang memproklamirkan sebagai stasiun televisi pendidikan ataupun keluarga, tetapi kemudian berbagai tayangannnya tidak menunjukkan keseimbangan tema acara.

Persoalan kedua yang juga diderita adalah mutu acara yang ditampilkan. Sangat banyak stasiun televisi yang menampilkan acara yang alih-alih untuk melakukan upaya perbaikan dan pendidikan, tetapi hanya menjadi acara pembodohan yang malah tidak mendidik sama sekali. Lihat misalnya, dengan beragamnya acara yang penuh dengan adegan kekerasan, pornografi ataupun pornoaksi.

Ketiga, stasiun televisi yang menjadi alat perpanjangan tangan kaum pemodal. Sehingga apa yang disampaikan, bukan lagi merupakan fakta sesungguhnya, tetapi sudah opini yang difaktakan. Ada frame yang dibangun terlebih dahulu, lalu dengan alat itulah ia menafsirkan fakta atau membidik fakta. Dalam ilmu komunikasi hal ini banyak disoroti dengan penggunaan analisa framming.

Keempat, patisipasinya dalam menyokong perubahan sosial yang menuju ke arah yang lebih baik. Televisi yang tergolong media massa menjadi salah satu pilar yang menyokong tegaknya negara demokrasi, sehingga seharusnya menampilkan realitas kebenaran dan bukan kebenaran yang dipilih-pilih.

Dari keempat permasalahan besar tersebut, maka akan timbul sebuah pertanyaan, seharusnya, seperti apakah tayangan sebuah media televisi?

Terhadap fungsi sosialnya, ada beberapa hal yang harus menjadi tanyangan media, karena hal itu memang merupakan tugas utamanya. Pertama, pemberi informasi. Ajaran Agama Islam menghendaki agar informasi yang diberikan kepada seseorang, sifatnya jujur, jelas dan transparan. Istilah Nabi yang berasal dari salah satu kata “Nabaa” artinya berita penting yang benar. Jadi seorang wartawan, memberitakan berita yang benar, disebut nabi (tapi bukan berarti rasul).

Dalam bahasa Arab, berita itu disebut “Khabar” (berita biasa) dan “Nabaa” (berita penting). Berita penting hendaknya diteliti dengan seksama sebelum memberitakanya. Dapat dilihat salah satu ayat dalam Alquran, “Jika seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak mengakibatkan suatu musibah kepada suatu kelompok, tanpa mengtahui keadaan (sebenarnya), sehingga kamu menyesali perbuatan itu”. (QS. Al-Hujurat (49): 6).

Menurut mufassir al-Maraghy, yang disebut orang fasik ialah “al-Khariju ‘an hudud Allah”, yang keluar dari hukum-hukum Allah, baik melalui mulutnya maupun perilakunya (al-Maraghy, 25 : 127). Dengan pemberitaan yang Islami, selalu dikaitkan dengan pembawa dan isi berita yang mengutamakan akhlak.

Kedua, media harus berperan besar dalam pendidikan. Pendidikan tersebut dalam berbagai hal, termasuk olahraga maupun kesenian. Di dalam dunia Islam mendidik seseorang sangat urgen, bahkan ayat yang pertama turun adalah Iqra (S.al-Alaq) yang memerintahkan belajar, membaca baik yang tertulis, maupun kejadian sehari-hari.

Media harus juga memerankan hal ini. Secara fungsional, acara-acara yang ditampilkannya harus dapat mendidik masyarakat menjadi lebih baik. Sangat disayangkan, jika televisi hanya menampilkan acara-acara sinetron yang kelihatan sangat ‘mewah’ dan menjauhkan dari realitas bangsa Indonesia yang penuh keprihatinan. Belum lagi tayangan-tayangan horor yang sangat berlebihan. Bukannya menjelaskan tentang alam ghaib, tetapi malah kelihatan dengan sengaja menakut-nakuti pemirsa.

Ketiga, Harus melakukan fungsi kontrol. Mengawasi, mengontrol, dan menegur, wajib dilakukan seseorang, sebagai penyalur pendapat hati nurani, sebab media massa termasuk kekuatan-kekuatan pendapat, selain DPR dan mahasisiwa. Kalau ketiga kekuatan ini lumpuh, maka penyelewengan - penyelewengan akan mudah terjadi. Kalau penyelewengan terjadi, maka rakyat akan menderita, dan penguasa tambah berani berbuat penyelewengan lebih marak.

Media massa wajib melakukan kontrol, koreksi dan saran, terutama kepada penguasa, yang bertujuan untuk kepentingan sosialisasi. Kegunaanya, terlepas dari siapa pemegangnya, karena pihak penguasa dalam catatan historis, selalu cenderung zalim, nepotisme dan memandang rakyat adalah budaknya. Lord Acton menuliskan tesisnya bahwa, “Power tends to corrupt, absolute power tends to corrupt absolutely”. Tapi dalam melakukan fungsi kontrol, seharusnya ada etika dalam bersikap. Tidak secara tendensius dan tanpa bukti yang sah. Tetapi, dengan investigasi pemberitaan yang baik dan benar.

Sosial kontrol dan koreksi, istilah agamanya “amar ma’ruf nahi munkar” (memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk). Kewajiban itu selain menjadi tugas seorang Mubalig (Ulama), juga menjadi tugas utama dari sebuah media massa. Bahaya yang ditimbulkan bila hal ini diabaikan, dapat mendatangkan bencana secara umum, atau doa sama sekali akan tertolak. Dinyatakan dalam sebuah hadist Nabi, “Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran, lalu tidak berusaha menegurnya (menghentikannya), maka Allah akan mempercepat siksaaan secara umum, atau doanya tidak akan terkabul” ( R.Thirmudzi dari Abu Hudzaifah).

Itulah beberapa inti utama dari fungsi media massa yang selayaknya juga diperankan oleh media massa termasuk stasiun televisi. Bahwa televisi juga mempunyai fungsi hiburan, maka harus kita akui, tetapi jika seluruhnya adalah hiburan, maka akan diletakkan dimana, fungsi yang lain tersebut ?. Kalaupun ada fungsi lain tersebut, maka berapa persentasenya. Jangan-jangan mayoritas tayangannya, hanyalah hiburan semata.

Berangkat dari pemikiran inilah, maka mungkin menjadi harapan besar bagi stasiun-stasiun televisi untuk berfikir ulang tentang format acaranya. Acara kuis yang menyediakan hadiah jutaan rupiah dalam satu hari mengapa tidak di set up menjadi upaya pengentasan kemiskinan? Mengapa terlalu banyak acara-acara gossip yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi terus-menerus diberitakan, dengan intensitas siaran yang tinggi ? Mengapa banyak tayangan dengan beradegan kekerasan pada jam menonton anak-anak? Mengapa jam-jam prime time, diisi oleh tayangan-tayangan hiburan dan bukan tayangan dakwah? Dan masih banyak pertanyaan lain yang lahir dari perenungan terhadap kualitas tayangan televisi di negara kita ini.

Akhirnya kita semua terus berharap, akan munculnya stasiun televisi yang secara riutin menampilkan pesan-pesan moral dan terus melakukan fungsi-fungsi media massa seperti diatas.
05.52 | 0 komentar

Konsep Pendidikan dalam AlQuran

Written By Rudianto on Kamis, 14 Februari 2013 | 15.20

Seekor hewan yang baru melahirkan anak, anaknya langsung dapat berdiri, berjalan dan mengikuti ibunya pergi mencari makan. Dan hanya beberapa hari kemudian, anaknya telah dilatih berlompat, berlari dan mencari makan sendiri.

Berbeda dengan seorang manusia yang baru melahirkan. Bagi manusia lama sekali anaknya dididik, barulah dapat duduk, berdiri dan berjalan. Apalagi berlari dan dapat makan sendiri. Bertahun-tahun lamanya digendong, diayun, diberi makan, disekolahkan, barulah dapat makan dan memakai bajunya sendiri. Diperlukan waktu memasuki sekolah taman kanak-kanak 2 tahun, SD 6 tahun, Sekolah lanjutan 6 tahun, dan Perguruan Tinggi 5 tahun ( S1 ), barulah dapat mencari makan sendiri. Itupun jika keterampilan yang dimiliki dibutuhkan pasar. Kalau tidak, maka harus ditambah lagi sekitar 7 tahun ( S2 dan S3 barula banyak peluang ). Artinya seekor hewan hanya memerlukan waktu tiga hari atau satu minggu, sudah dapat mencari makan sendiri. Dibandingkan seorang manusia diperlukan waktu sekitar 2O - 25 lamanya, barulah dapat dibutuhkan pasar untuk hidup sendiri. Betapa bedanya waktu yang harus dihabiskan mendidik keterampilan kepada manusia dibandingkan hewan.

Sebab itu pendidikan ( Tarniyah) sangatlah sulit. Mahal, lama dan tekun. Pantaslah jika Nabi Muhammad SAW mencanangkan pendidikan itu sejak “ Min al- mahdi ila al- Lahdi “ ( Dari ayunan sampai ke liang lihad ) (HR.Muslim) yang oleh pendidikan Barat dijiplak dengan istilah “ Long life education”. (Pendidikan seumur hidup).

Bagaimana konsepsi Pendidikan (Tarbiyah) menurut Al-Qur’an?

Pengertian :Didalam Al-Qur’an (Alquran) tidak didapati sebuah ayatpun yang secara ekspelisit menyebut Tarbiyah. Tapi jika digali akar katanya yang tersusun dari huruf “ RA ” dan “ BA” (Rabbi), banyak sekali dapat ditemui.

Tarbiyah yang asalnya Rabbi ada 945 ayat. Terkadang dengan istilah Rabbi, Rabbika, Rabbukum, Rabbukuma, Rabbana, Rabbihi, dan Rabbihim.

Menurut Ibnu Faris, makna Rabbi yang akarnya huruf Ra dan Ba ialah “ Ishlah al-Syaii wa al-Qiyamu ‘alaihi “ ( Memperbaiki sesuatu dan berusaha dengan sungguh-sungguh, atasnya, seperti memelihara dan mendidik seorang anak sampai dikawinkan) (h.398).

Seorang Mufasir berpendapat, jika Rabbi diidentikan sifat Tuhan ( Pendidik dan Pemelihara ) maka artinya lebih luas yakni Mengasuh, Mendidik, Memelihara, Memberi pengertian, Memberi kelebihan, Meninggikan derajat dan Mengembangkan kemampuan. Didalam Alquran ayat yang pertama turun adalah ayat pendidikan yaitu IQRA’( perintah membaca dan mengamati). Demikian Surah yang pertama turun juga adalah surah mengenai Pendidikan yaitu Al-Fatihaha.

Surah Al-‘Alaq :Ayat pertama turun adalah pada surah Al -‘Alaq, yaitu :

(1) Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
(2) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.
(3) Bacalah dan Tuhanmu yang Paling Pemurah.
(4) Yang mengajari manusia dengan perantaraan qalam.
(5) Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.
(6) Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.
(7) Melihat dirinya serba cukup.
(8) Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembalimu

Menurut Mufasir kata “Rabbika” dalam ayat tersebut, berasal dari akar kata Tarbiyah yang berarti pendidikan, pengemnbangan, peningkatan dan kelebihan. Dalam Ilmu Tauhid, Tuhan mempunyai banyak sifat dan dibagi menjadi dua kategori. Pertama, sifat-sifat yang berkaitan dengan zatnya. Kedua, sifat-sifat yang berkaitan dengan perbuatannya. Kata “Allah “ menghimpun semua sifat-sifatnya, sedang kata” Rabbi ” hanya menghimpun sifat-sifat yang berkaitan perbuatannya.

Menurut Al-Naisaburi, perintah Iqra’ dalam surah Al-‘alaq berulang sebanyak 3 kali :
(1) Peritah pertama untuk pribadi Nabi dan perintah kedua untuk umatnya.
(2) Yang pertama membaca dalam salat, yang kedua membaca diluar salat.
(3) Perintah pertama belajar untuk diri, dan perintah kedua mengajarkan kepada orang lain.

Adapun membaca dalam ayat diatas, bukan hanya membaca Alquran, tapi termasuk membaca fenomena yang terjadi di alam ini. Dan hakikatnya orang yang berbuat jahat pasti terbalas demikian yang berbuat baik juga pasti terbalas, sekalipun balasan itu bukan persis dari diri orang yang pernah kita tolong.

Mufasir Sayyid Quthub berpendapat, ayat kedelapan tersebut dimaksudkan, bahwa setelah melakukan pendidikan, baik terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain, akhirnya akan kembali ke hadirat Allah mempertanggung jawabkan semua urusan, segala niat dan gerak langkah yang telah dilakukan di dunia. Perbuatan salah atau saleh, taat atau durhaka, yang telah dilakukan secara transparan, pasti akan terbalas tanpa ada kezaliman didalamnya.

Pendidikan pertama yang hendaknya diberikan kepada anak adalah mengajarkan baca tulis Alquran, sebab itulah yang terafdal “ Kahyrukum man ta’allam al-Qur’an wa ‘allamahu” (Yang terbaik diantara kamu ialah mempelajari Alquran dan mengajarkannya) (HR.Muslim).

Kita sambut dengan gembira program pemerintah yang telah mewajibkan pelajaran Alquran ini kepada murid-murid dan siswa-siswa yang beragama Islam sebelum sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.Kita doakan semoga sukses.

Surah Al-Fatiha :Surah yang lengkap satu surah turun adalah Al-Fatiha, yaitu:
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (1)
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (2)
Yang menguasai hari pembalasan (3)
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan Engkaulah kami memohon pertolongan (4)
Tunjukilah kami jalan yang lurus (5)
Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat; bukan jalannya mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat (6 dan 7).

Kalau dihitung Bismillah termasuk Fatiha ayat pertama, maka ayat ke 6 dan 7 menjadi satu ayat.Jadi jumlah ayatnya tetap 7.

Menurut Syekh Muhammad Abduh (1849-19O5) memahami surah Al-Fatiha adalah wahyu pertama yang diterima oleh Nabi. Artinya lebih dahulu dari ayat Iqra’ dengan alasan, berdasarkan logika bahwa penetapan hukum kandungan Alquran, dimulai secara global barulah menyusul perincian.

Pokok ajaran dalam Al-Fatiha (1). Tauhid (Akidah) (2) .Janji dan ancaman (3). Ibadah. (4) Jalan kebahagiaan dunia akhirat. (5).Pemberitaan kisah umat terdahulu.

Artinya penafsiran mujaddid tersebut menyatakan bahwa pendidikan utama dan tugas muslimada 3. Pertama, mengajarkan tauhid. Kedua, berdakwah (Tabsyir dan Tanzir). Ketiga, beribadah dengan sungguh-sungguh. Akhirnya barulah seseorang dapat memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Surah Luqman:Dalam surah ini diuraikan bentuk pendidikan yang diwasiatkan Lukman al-Hakim dalam mendidik anaknya :

(1) Janganlah kamu mensyarikatkan Allah.
(2) Bersyukurlah kepada Allah dan kepada kedua orangtuamu.
(3) Dirikanlah salat sebaik-baiknya.
(4) Perintahkanlah manusia berbuat makruf dan cegahlah mereka berbuat munkar
(5) Sabarlah menerima musibah sebagai resiko nahi munkar
(6) Janganlah bersombong dalam ucapan dan berjalan.
(7) Ingatlah perbuatan sekecil apapun pasti terbalas.

Dari 3 surah tersebut ditemukan konsepsi utama pendidikan Alquran, baik pada Al-Fatiha, Al-‘alaq dan Luqman. Dasar-dasar pendidikan Alquran sedikitnya mengandung 5 Prinsip. Pertama Akidah. Kedua, Syari’ah (Ibadah-Muamalah). Ketiga, Akhlak. Keempat, Amar makruf Nahi munkar. Kelima, Latihan keterampilan dan meninggalkan kecurangan.

Konsepsi Tarbiyah Islam tersebut penjabarannya ditemukan dalam Sunnah Rasul dan sahabat,diantaranya:
(1). Azanlah kedua telinga anakmu ketika melahirkan.
(2) Ajarkanlah pertama membaca Alquran dan mengenal Allah (Makrifatullah).
(3) Berilah nama yang baik, berilah makanan yang halal dan pisahlan tempat tidurnya.
(4) Latilah salat sejak di usia 7 tahun dan dihukum di usia 1O tahun (Jika lalai)
(5) Ajarlah keterampilan di kala remaja (Berenang, menunggang kuda, berpanah,dsb)
(5) Kawinkanlah setelah dengan wanita (berakhlak) setelah mempunyai keterampilan dan dewasa.

Imam Al-Gazali menambahkan kaifiat pendidikan agar selalu takut kerpada Tuhan dan menjauhi penyelewengan ( termasuk korupsi), sejak usia dini, dilatih setiap mau tidur dan bangun, dibiasakan menyebut 4O kali, saya dilihat Tuhan.Insya Allah pendidikan (Tarbiyah), sesuai Alquran berhasil.

Akhirnya dasar-dasar pendidikan (Tarbiyah) ialah mengajarkan Alquran, Akidah, Syari’ah dan Akhlak, kemudian dilengkapi keterampilan seperti menunggang kuda, berenang dsb. Lalu membiasakan menyebut nasehat-nasehat agama sebelum dan sesudah Ditambah membiasakan ucapan be
15.20 | 0 komentar

Ikhlas, Jiwa Sebuah Amal

Written By Rudianto on Rabu, 06 Februari 2013 | 18.16

Seorang yang beramal dengan bekerja keras, rajin, jujur dalam suatu perusahaan pasti menghasilkan karya dahsyat. Perusahaan atau lembaga tempat bekerja akan maju dan tersohor. Demikian bidang pendidikan, dakwah dan ibadah jika dipimpin seorang yang ikhlas. Keikhlasan, adalah jiwa, motor penggerak dan dinamika yang efektif dalam mengembangkan lsesuatu. embaga Bahkan bidang ibadah mahdhah atau yang muta’adi ila al-nas ( social ), justru ikhlas menjadi syarat sahnya suatu ibadah. Seorang mushalli ( yang salat ), tapi tidak ikhlas, maka peranan salatnya tidak lebih dari sekedar olahraga. Shaim ( yang berpuasa ) yang tidak berniat ikhlas menjiwai, tak lebih puasanya hanya berperanan sekedar diet. Haji yang tidak berniat ikhlas karena Allah semata, tak lebih peranannya sebagai piknik. Dan demikian amalan yang dikerjakan. .Apa makna ikhlas dalam kehidupan ?.

Makna:Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ikhlas berarti (1) Hati yang bersih. (2) Jujur dan tulus hati memberi pertolongan kepada sesuatu. (3) Merelakan kepergiannya. Atau merelakan misalnya tanahnya dipakai untuk pembangunan rumah sakit dsb. (322).

Dalam Kamus Bahasa Arab, ikhlas berarti “ Membersihkan dan memurnikan sesuatu”. Artinya, sesuatu yang tidak mempunyai campuran. ( Maqayis,327 ).

Dari dua Kamus standar tersebut, baik bahasa aslinya Arab, maupun yang ditransfer, diketahui, bahwa ikhlas yaitu melakukan sesuatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh, bersih dari sesuatu kepentingan lain. Sebab itu Surah Ikhlas dalam Al-Quran disebut Ikhlas, karena menjelaskan, bahwa Tuhan itu Esa, tidak beranak, tidak diberanakkan, serta tidak ada sekutu yang membantunya. ( Murni diriNya sendiri ).

Dengan demikian, bekerja dengan ikhlas adalah konsentrasi pengabdian dengan tulus, pada tempatnya bekerja. Dilakukan dengan tekun dan rajin tanpa mengutamakan naik turunnya gaji. Demikian orang yang mushalli, murni mengabdi untuk Allah semata, baik didepan umum atau sendirian. Sesuai pernyataan Al-Quran “ Wama umiru illa liya’bud Allah mukhlishin ” ( Dan tiadalah mereka diperintahkan, kecuali untuk mengabdi kepada Allah dengan ikhlas) (QS.98:5).

Pada ayat lain (artinya) “ Dan tiadalah Aku menciptakan bangsa Jin dan Manusia, kecuali agar supaya, seluruh aktivitasnya difokuskan dalam rangka untuk mengabdi kepadaKu ( Liya’budun ) (QS.5l:56). Dan sebagainya.

Melatih keikhlasan:
Dalam menghadapi berbagai pengaruh syahwat keduniaan, seperti wanita, harta dan tahta, Islam memorioritaskan keikhlasan. Dilatih minimal lima kali sehari semalam dalam salat. . Keikhlasan beramal adalah jiwa dari suatu ibadah. Sebelum kita membaca Fatiha dalam salat diharuskan lebih dahulu membaca doa Iftitah “ Inna shalati wa nusuki, wa mahyaya wa mamati lillah rabb al ‘alamin ( Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, dilakukan hanya karena Allah semata, Tuhan sekalian alam (QS.6:l62). Mirip acara tujuh belasan bagi PNS di Indonesia yang diperintahkan membaca ikrar Korpri, sehingga mengingat tugasnya sebagai PNS yang harus tetap setia dan loyal kepada Negara RI dan Pancasila.

Hikmah mengulanmgi doa iftitah pada setiap salat, agar seorang mushalli selalu ingat bahwa dirinya mengabdi dengan ikhlas, karena Allah semata. Dan itulah tujuan pengabdian yang harus dicapai seorang hamba. Artinya, seseorang yang aktif dalam profesinya, apakah sebagai pedagang, karyawan atau guru harus meyakini, fokus utama dan tujuan terakhirnya adalah “ Berbakti kepada Allah semata ”. Yang lain hanyalah sasaran antara. Karena Tuhanlah segala-galanya. Memberikan, apa yang kita punyai sekarang. Akal, rezeki, sehat dan umur.

Amal ikhlas sekalipun hanya sedikit tapi rutin, jauh lebih baik dari amal banyak, tapi hanya temporer. (Al-qalil al- qarra afdhalu min al-katsir al-farra).

Amal yang tidak ikhlas itu sia-sia belaka. Dikemukakan dalam sebuah hadis “Sesungguhnya semua amal harus disertai dengan niat, dan penilaian sesuatu pekerjaan sesuai yang telah diniatkan. “ Barangsiapa yang ikut berhijrah karena Allah dan rasulnya, maka penilaiannya berhijrah untuk Allah dan rasulnya. Barangsiapa yang berhijrah dengan motivasi untuk kepentingan dunia, maka ia akan memerolehnya. Atau jika motivasi karena kepentingan wanita, maka ia akan mengawininya Pokok penilaian menurut Sunnah, “ hijrah itu sesuai motivasi yang melakukannya ” ( HR. Bukhari Muslim ).

Amal yang tidak ikhlas digambarkan dalam Al-Quran “ Laksana orang yang menanam padi pada sebuah batu besar, diatasnya terdapat sedikit onggokan pasir. Pada pasir itulah menanam padi. Padinya dapat tumbuh namun setelah turun hujan lebat, bersamaan angin kencang, maka terbanglah semua bibit padi, bersama pasirnya diatas batu ” (QS. 2:264). Betapa ruginya seseorang yang beramal dengan riya’ atau bukan karena Allah. Tetapi tujuannya semata untuk dipamerkan kepada sesama manusia. Atau tujuannya semata untuk kepentingan memperoleh harta atau pujian dari sesama manusia.

Perdayaan setan :Seorang Hukama berpendapat, ketika setan dilaknat Tuhan karena sombong dan enggan sujud kepada Adam, ia berjanji biarlah saya dikutuk, “ tapi saya akan perdayakan seluruh hamba-hambaMu, kecuali yang Ikhlas “ (QS.15 :4O ).

Perdayaan setan kepada manusia ada 3 kategori.
Pertama, yang imannya tipis ( sedang ) saya perdayakan dengan mencampur imannya dengan perbuatan haram.

Kedua, yang imannya meningkat ( baik ) saya perdayakan dengan mencampur imannya dengan perbuatan makruh dan sia-sia.

Ketiga, yang imannya tingkat tinggi ( sangat baik ), saya perdayakan imannya yang tinggi dengan suntikkan ‘ujub ( kagumi amal ibadahnya ) sehingga hasilnya terkontaminasi menjadi amal cacat.

Demikianlah cara setan menggoda manusia. Mulanya mengajak kepada yang haram untuk golongan awam, mengajak melakukan yang makruh, kepada golongan menengah, kemudian mengajak golongan yang kuat imannya, agar menjadi ‘ujub ( kagumi amalnya ), sehingga semuanya menjadi cacat.

Alhasil, ikhlas itu mutlak menjiwai hidup kita. Sesuai pengakuan setan sendiri, kecuali hamba Allah yang ikhlas, yang tidak mampu saya perdayakan. Sedang muslim yang mukhlis, menurut Al-Quran, “ Beramal; bukan mengharapkan balasan dunia, dan ucapan terima kasih ( pujian ). Wa Allahu a’lam.
18.16 | 0 komentar

Hasad, membakar Amal Shaleh

Written By Rudianto on Minggu, 03 Februari 2013 | 23.32

Dalam dunia modern, sebagian masyarakat menilai bahwa yang terlihat bahagia ialah yang punya harta, pangkat dan ilmu. Akibatnya orang memburu harta berlebihan.Mulanya hanya mencari sesuap nasi untuk dimakan sehari, lama-lama meningkat persiapan satu minggu, satu bulan dan akhirnya satu tahun.Bahkan ada yang memperpersiapkan untuk tiga sampai tujuh turunan. Disamping memburu harta, juga sebagian masyarakat memburu pangkat, kalau perlu dibayar mahal, karena ujung-ujungnya setelah berpangkat, gampang memperoleh fasilitas, berupa kendaraan, perumahan dan uang jalan jika bepergian.Alias memperoleh harta yang banyak. Demikian juga ilmu, pada mulanya hanya asal tammat SMA atau cukup titel BA pada tahun 6O-an, meningkat Drs, meningkat lagi Master,dan akhirnya sampai titel Doktor, sekalipun bukan berprofesi Dosen. Pokoknya, titel tertinggi bidang akademi. Akibatnya, banyak orang membeli titel Doktor dengan bayaran puluhan juta, dan disandangnya dengan asyik, sekalipun masyarakat mengetahuinya. Mereka anggap titel kesarjanaan itu ujung-ujungnya juga untuk harta, karena gampang memperoleh jabatan, sekalipun syarat menjadi Presiden di Indonesia yang ditetapkan DPR, cukup SLA.

Sebagai kenyataan fasilitas yang banyak hanya dinikmati orang yang berharta. Maka timbul persepsi sebahagian masyarakat, bahwa orang yang berharta masa kini, umumnya adalah hasil penyimpangan. Apalagi jika membandingkan filsafat sungai yang banjir, pasti menghasilkan air keruh bahkan terkadang ada bangkai.Maka timbullah hasad (iri hati dan benci) kepada orang yang berharta. Bahkan diantara yang hasad, ada yang meningkat mendoakan agar celaka (Na’udzu Billah)..

Karena kita seorang muslim yang akhlaknya menyempurnakan semua bentuk akhlak yang pernah ada (“Liutammima makarim al-akhlaq”), maka hendaknya kita kembali kepada ajaran dasar Islam, bagaimana model akhlak Islam itu ?.

Dilarang berprasangka buruk :Diantara sekian Akhlak, dilarang Suu zhann (prasangka buruk). Dalam Alquran diperingati :”Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.Sukakah salah seorang diantara kamu, memakan daging saudaranya yang sudah mati ?.Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah Tuhan Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS.49:12).

Untuk membendung datangnya prasangka negatif itu maka dalam Islam, tidak dibenarkan mengadukan seseorang yang sedang berzina, tanpa disaksikan empat orang saksi yang melihat dengan matakepalanya dan transparan (maaf) persis pedang yang di masukkan ke dalam sarungnya. Bahkan hukum bisa berbalik kepada si pengadu menjadi dia yang harus dicambuk, bilamana kesaksian itu cuma samar-samar. (Nau’dzu billah), hampir mustahil dapat menyaksikan orang yang sedang berzina, delapan mata melihat secara transparan Alquran menjelaskan : “Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berbuat zina,dan tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya.(QS.24:4).Menurut sebagian mufasir, yang disebut wanita baik-baik ialah wanita yang suci, akil balig dan muslimah. Dan dapat dikiaskan semua tuduhan yang bernilai dosa besar, seperti mencuri.

Mengenai kebiasaan seseorang yang hasad (dengki) dalam ayat lain diperingati, : “Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran memperoleh karunia yang diberikan Allah kepadanya ? “.(QS.4:54).

Dari dua ayat tersebut dipahami bahwa hakekatnya karunia, harta dan pangkat yang Allah berikan kepada hambanya, kita dilarang hasad, irihati, cemburu dan berprasangka yang buruk (Suu zhann), kecuali ada bukti dan fakta yang transparan, itupun harus diselesaikan melalui pengadilan.Ajaran dasar Islam ialah melengkapi budi pekerti yang pernah ada.

Irihati kepada karunia Allah itu, artinya sama halnya memperotes kebjaksanaan Allah, sehingga dalam Hadis Qudsi dinyatakan “ Barangsiapa yang tidak menerima takdir (kadha dan kadar) yang saya berikan kepada hambaKu, maka hendaklah ia keluar dari bumi dan langitKu, dan mencari Tuhan selain saya “.

Menggeneralisasi sebuah profesi, bahwa profesi itu semuanya jahat adalah hal yang tidak obyektif, karena disamping hal itu tidak dapat dibuktikan, juga kenyataan dalam filasafat hidup, ketika kita membakar kerumunan semut, setelah ditinggalkan, ternyata tidak semuanya mati. Demikian ketika sebuah pesawat terbang jatuh, ternyata penumpangnya masih ada yang hidup.
Oleh sebab itu ajaran dasar Islam yang akhlaknya mengungguli akhlak yang pernah ada, melarang keras berprasangka buruk kepada saudaranya, bahkan disamakan memakan bangkai binatang. Demikian cemburu dan irihati terhadap kemuliaan yang Allah berikan kepada seseorang, mengancam rusaknya akidah karena sama halnya memperotes kebijakan Tuhan yang diancam, hendaknya keluar dari bumi dan langit Allah serta mencari Tuhan lain selain Allah.

Menghanguskan amal saleh:Nabi pernah bersabda : “ Jauhilah berprasangka (negatif), karena sesungguhnya berprasangka itu adalah perbuatan dan perkataan yang paling dusta, bahkan orang mukmin sebaiknya mereka berkasih-kasihan, karena mereka adalah bersaudara. (HR.Bukhari-Muslim).

Kemudian pada hadis lain lebih tegas lagi dikatakan : “Hendaklah kalian menjauhi sifat Hasad (irihati), karena sesungguhnya Hasad itu membakar dan menghapuskan amal saleh, persis api membakar kayu yang kering (HR.Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Berdasarkan Hadis diatas, maka hendaknya kita sadari betapa ruginya seorang muslim jika suka menghabiskan umurnya dengan beramal ikhlas dari kecil sampai masa tuanya, namun tiba-tiba amal yang dikumpulkan itu akan hangus terbakar oleh ulahnya sendiri, karena suka berprasangka, irihati dan cemburu kepada orang lain yang memperoleh harta atau pangkat yang Allah telah berikan kepadanya.

Itu sebabnya wirid yang kita baca setiap salat Magrib dan Subuh,”Tu’til mulka man tasyau watuizzu man tasyau,dst.”( Engkaulah ya Allah yang memberikan pangkat dan kemuliaan kepada orang yang Engkau kehendaki…Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Akhirnya, marilah kita semua berusaha menjauhi prasangka negatif terhadap seseorang, apalagi, jika meningkat menjadi kecemburuan sosial terhadap karunia Tuhan yang diberikan kepada hambanya. Sedang satu-satunya kecemburuan yang dibolehkan dilakukan kepada saudara kita, hanyalah bidang ibadah, misalnya mengapa dia bisa melakukan salat Tahajjud, banyak bersedekah dan berbuat kebaikan, lalu kita cemburu untuk berusaha menirunya. Adapun metode terbaik agar kecemburuan itu hilang dalam diri, menurut ajaran Nabi, pertama, selalu mensyukuri apa Allah telah berikan..Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, niscaya ia tidak mampu mensyukuri yang banyak. Kedua, Unzhuru ila man asfalikum (Lihatlah kepada yang dibawahmu dan janganlah melihat yang diatasmu). Kedua resef ini jika diamalkan, insya Allah Suun zhan akan menjauh dan ketenangan hidup akan datang. Kita sayang kepada amal yang susah payah kita kumpulkan sejak kecil, jangan sampai terbakar karena jengkel melihat orang lain. Wallahu a’lam. bawah.
23.32 | 0 komentar

Mengatasi Stress dalam Islam

Written By Rudianto on Kamis, 31 Januari 2013 | 20.41

DALAM kehidupan moderen, stres menjadi pelengkap hidup. Banyak masalah dan sedikit solusi yang diketahui. Orang yang kurang kuat imannya, dapat melakukan bunuh diri. Orang yang kuat iman, tapi terlalu ambisi mencapai sesuatu, dapat mengalami stroke. Seorang dokter neorologi berkata, sekalipun tekanan darah tinggi, insya Allah tidak akan stroke, selama orangnya, tidak stres. Berarti stres pemicu utama lahirnya stroke yang banyak didera bangsa ini.

Stres yang datang pada diri seseorang, banyak penyebabnya. Siswa yang tidak lulus ujian nasional, dapat stres. Orangtua yang mengurus anaknya mencari sekolah yang lebih tinggi, dapat stres. Pejabat yang terlalu sibuk, dapat stres. Rakyat kecil yang sukar mendapat makan, dapat stres. Calon Bupati yang mengeluarkan miliaran rupiah dalan pilkada, dapat stres, jika suara yang diharapkan, tidak seperti yang diprediksi. Alhasil, semua golongan dan status social, berpeluang stres. Laki-laki dan perempuan.

Mencegah:Menurut dokter neorologi, perasaan stress sering menjadi musuh dalam selimut.Perasaan ini datang tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Bila tidak, dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti jantung, darah tinggi dan stroke. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Menghindari stress ada baiknya dilakukan cara berikut:

Pertama, Mengeluarkan energi positif, yaitu optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa setiap rencana, ada hambatan Tapi ada juga solusi.Sebab itu, harus bersikap lebih fleksibel, sehingga dapat menikmati hidup.

Kedua, menjaga kesehatan. Dengan cara olahraga yang teratur, tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Olahraga dapat membuat manusia nyaman. Makanan bergizi membangkitkan vitalitas hidup. Sebab itu Islam memerintahkan “ Mengkonsumsi halalan tayibah atau yang bergizi.
.
Ketiga, banyak minum air putih, terutama saat diambang kemarahan. Air putih, dapat menenangkan perasaan, dan berpikir lebih jernih. Rasulullah menganjurkan kalau marah, hendaklah berwudu dan mendinginkan badan (HR.Muslim).

Keempat, meluangkan waktu sedikit, untuk setiap minggu, keluar dari rutinitas, dengan berkumpul bersama keluarga. Atau berkunjung kepada teman-teman. Nabi mengajarkan Hubungkan silaturahim, sebab dapat menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR.Muslim).

Kelima, meningkatkan rasa humor. Secara klinis humor dapat mengatasi stress. Alhamdu lillah kini sudah muncul kelompok-kelompok di TV yang menjajakan humor 5 sampai 1O menit untuk relaksi. Jangan sampai anda lupa meluangkan waktu biar sebentar ( Kompas 26/7). Penulis teringat seorang Kiyai di Pesantren tahun 5O-an, sering mendatangi suatu desa yang berjarask 15 Kilometer dari kota dan membayar pemuda-pemuda yang pintar membawakan cerita yang humoris.

Menurut Al-Quran ?.Menurut Al-Quran, kelima cara yang ditawarkan kesehatan diatas, tidak ada yang bertentangan dengan Al-Quran. . Namun Al-Quran lebih memfokuskan terutama kepada dua hal utama dimana Al-Quran sebagai Syifa’ (Penawar) :

Sabar :Jika stress menghadapi masalah yang sukar diputuskan “ salah atau benarnya sesuatu “ maka Al-Quran memberi petunjuk “ FA SHABRUN JAMIL “ ( Maka bersabar itu lebih indah ). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan. (QS. Yusuf 18 ).

Ucapan itu disampaikan Nabi Ya’kub, ketika anak-anaknya datang membawa kemeja yang berlumuran darah kepunyaan Yusuf, sebagai bukti bahwa ia telah diterkam binatang buas. Daripada stress, karena darahnya meragukan, Nabi Ya’kub berkata “ Sabar itu lebih indah.” Demikian Sitti Maryam, ketika dituduh melacur karena melahirkan anak (Isa) tanpa ayah, juga sabar, untuk mengobati stres yang berkepanjangan. Bahkan Aisyah, isteri Rasul, ketika digossip, juga menjadikan Sabar sebagai pengobatan dalam stress.

Zikrullah:Mengingat Allah (Zikrullah) termasuk dapat mengatasi stres. Dengan mengingat dan mengembalikan segalanya dari dan untuk Allah, maka stres akan dapat diatasi. . Sesuai Al-Quran, “ TATHMAINN AL-QULUB “ ( Mengingat Allah, hati akan tenang ) ( QS. Al-Raad 28 ).

Menurut ulama Tafsir, Yang masuk Zikrullah, adalah melakukan salat, membaca Al-Quran dan langsung menjebut Lailaha ilallah sebanyak-bamnyaknya.

Diperkuat Al-Quran dengan ayat “ Dan carilah pertolongan, dengan berlaku Sabar dan mengerjakan Salat ( QS.2: 45).

Menurut Huzaifah, bila Nabi bersedih atau menghadapi masalah, Beliau langsung melakukan salat, sekalipun, sedang dalam perjalanan. Memperbanyak Zikrullah berupa salat sunnat, atau membaca Al-Quran, atau istigfar, atau membaca Lailaha Ilallah.

Istigfar yang sering dibaca Rasul “ Allahumma Anta rabbi. Lailaha illa Anta. Khalaqtani waana abduKa. Wa ana ala ahdiKa. Wa wa’diKa mastata’tu. Audzu biKa, min syarri ma shana’tu. Abuu laKa bini’ mati alayya. Waabuu bidzanbi. Fagfirli. fainnahu la yagfir al- dzunuba illa Anta.( Al-Azkar :347 ).

Disamping kedua hal tersebut, juga yang dapat mengatasi stres, adalah akidah dengan meyakini kebenaran ayat Al-Quran yang berbunyi “ INNA MA’AL USRI YUSRA ( Sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Setelah kesulitan, ada kemudahan).. ( 94: 5-6 ).( Disebutkan dua kali ).

Menurut ulama Tafsir, karena kata kesulitan (Al-usri ), menggunakan “al ” dan kemudahan (Yusra) tidak menggunakan “al “ , itu artinya kesulitan itu cuma satu macam, tapi ada beberapa solusi kemudahan. Berarti dua alternative kemudahan . dalam satu kesulitan. Ada dua. Misalnya berkonsultasi dengan dokter mencari pengobatan lahir dan batin ialah menggunakan petunjuk Al-Quiran sebagai Syifa’.
. .

Alhasil, dari uraian singkat diatas, dipahami mengatasi stres sesuai Al-Quran disamping mencari solusi berupa pengobatan lahir, juga diperlukan pengobatan batin, yaitu meyakini kesempurnaan Tuhan, dan meyakini kekurangan manusia, serta kaifiatnya, banyak bersabar, salat, istigfar dan zikir.

Praktek Rasul SAW dalam mencari penyegaran dan menghilangkan stres, diantaranmya dianjurkan kepada umatnya berpuasa dan bercampur isteri dua kali seminggu.
20.41 | 1 komentar

Rahmatan Lil Alamin

Written By Rudianto on Kamis, 24 Januari 2013 | 10.15

Sangat disayangkan masih ada lagi suara sebagian kecil masyarakat yang mempertanyakan sumber hukum mengapa kita memperingati Maulid Nabi. Alasannya bid’ah, pemborosan atau meniru adat agama lain, dsb. (Astagfirullah).

Peringatan Maulidur Rasul SAW bukan bid’ah, bukan pemborosan dan bukan meniru adat agama lain yang negatif.

Yang disebut Bid’ah ialah sesuatu yang tidak ada dasarnya dari Alquran dan Sunnah serta bertentangan kedua sumber tersebut. Ternyata ketika Rasul ditanya sahabatnya, mengapa Rasul selalu puasa hari Senin ?.Dijawab, karena saya lahir hari Senin, maka saya syukuri hari kelahiran saya dengan puasa (HR.Muslim). Berdasarkan hadis tersebut, maka Maulid itu mempunyai dasar yang kuat. Kalau Rasul memperingati sekali sepekan dengan puasa, dan kita memperingati sekali setahun dengan memberi makan sesama muslim, hal itu hukum dan tujuannya sama. Yaitu berbuat baik dan bersyukur serta tidak bertentangan Alquran. Yang berbeda hanyalah kaifiatnya. Sama saja kalau Rasul pergi haji dengan berkendaraan unta dan kita dari Indonesia dengan pesawat, hukum dan tujuannya sama, dan tidak boleh disebut naik haji dengan pesawat itu Bid’ah. Demikian meniru budaya orang lain yang tidak bertentangan Alquran, sah saja. Seperti makan roti setiap pagi untuk kesehatan seperti orang Eropa, boleh saja ditiru.

Tapi penulis sendiri setuju jika kita mencari metode yang lebih efesien dan bermanfaat.

Memperingati Maulid Rasul di Indonesia bervariasi, ada yang menyambutnya dengan cara tradisional seperti pembacaan zikir dan Barzanji, ada pula dengan cara yang modern seperti ceramah. Dan ada juga yang menggabung dua-duanya.

Terlepas adanya perbedaan bentuk, semuanya itu dilaksanakan, dalam rangka “hubburrasul” (mencintai Rasul), dan “rebuild” (pembinaan iman dan akhlak). Dalam rangkaian itulah, demi menyegarkan kembali maka bagaimana makna Muhammad rahmat semesta alam menurut Alquran ?

Dalam Alquran :Dalam Alquran terdapat ll2 ayat tentang rahmat, misalnya “Imaman wa rahmah”, “mawaddah wa rahmah”, “syifa’un wa rahmah “ yang berarti kepemimpinan dan belas kasih, kasih sayang, penawar dan pembawa nikmat. Sedang kalimat yang menyebut “Rahmatan lil’alamin”, hanya ditemukan satu ayat, yakni “WAMA ARSALNAKA ILLA RAHMATAN LIL’ALAMIN “ (Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam) (QS. Al-anbiya’ :lO7).

Jika kita membuka kitab-kitab tafsir, baik tafsir yang konvensional atau yang kontemporer, maka garis besar pengertian ayat tersebut, dapat dibagi tiga penafsiran:

(l) Yang memperoleh rahmat dari Nabi Muhammad SAW “ Lil mu’minina khasshah” ( hanyalah yang mukimin saja), karena merekalah yang meyakini adanya Allah SWT dan meyakini kerasulan Muhammad SAW, sehingga berbuat amal saleh dengan ikhlas yang diperintahkan rasul, maka wajarlah jika mereka akan memperoleh dua kebahagiaan, di dunia dan diakhirat kelak .( Tafsir Al-Qurthubi dan Aysar Tafasir 3 : 448). Mengapa penafsiran Al-Qurtubiy, kelihatan ekstrim ?. Tak lain karena tafsirnya ditulis ketika Islam dihancurkan di Cordova (Qurtubi-Spanyol) oleh orang-orang non muslim, jadi memang tafsir itu sesuai kondisi zamannya.

(2) Yang memperoleh rahmat dari Nabi Muhammad SAW “ Lil-mu’minin wal-kafirin”, (orang mukmin dan orang kafir), yakni bagi kaum mukmin akan memperoleh dua kebahagiaan yakni dunia dan akhirat, sedang bagi kaum kafir hanyalah di dunia saja berupa siksaannya ditunda serta tidak akan memperoleh siksaan dunia yang sangat kejam seperti umat yang sebelumnya, misalnya lantaran kedurhakaannya kepada Tuhan, akhirnya mukanya disunglap menjadi monyet atau babi. Menurut mufasir mengapa kaum kafir tidak memperoleh kasih sayang di akhirat, karena menolak kerasulan dan dakwah Muhammad SAW serta akidahnya tentang Tuhan meleset, yaitu menganggap Tuhan bersyarikat. (Majma’ al-Bayan dan al-Mizan l4:333)

(3) Yang memperoleh rahmat dari Nabi Muhammad, “Lil-‘aqili walighairil ‘aqil (Yang berakal dan yang tidak berakal), yakni termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Rahmat nabi kepada hewan sangat jelas yaitu melarang menunggangi hewan dengan lari setan, dilarang menyembelih hewan dengan pisau yang tumpul serta banyak hadis menceriterakan, kaum wanita akan memperoleh siksaan di akhirat, lantaran suka memenjarakan kucing dan tidak memberinya makan sampai mati (HR.Muslim). Demikian rahmat rasul terhadap tumbuh-tumbuhan dengan adanya larangan menebang pohon-pohonan tempat berlindung serta dianjurkannya untuk melestarikan lingkungan hidup.( Safwat Tafasir 2 :277 dan Ibnu Katsir 3 :2Ol).

Dengan garis besar ketiga penafsiran tersebut, maka jelaslah bahwa rasul SAW adalah pembawa rahmat lil’alamin (semesta alam).

Bagaimana pula dalam Sunnah rasul :Dalam sunnah rasul, baik dalam uraian atau praktek, ternyata banyak sekali mutiara kemilau yang dapat disimak, misalnya tentang sabdanya: “Kasihanilah orang yang ada dibumi, niscaya anda akan dikasihi yang ada di langit” (HR.Muslim). Kemudian kasih sayangnya dalam praktek, baik ketika masih berdomisili di Mekah atau Medinah, diantaranya:

I. Terhadap Non Muslim :(l) Ketika berdakwah di Mekah selama l3 tahun, tantangan yang datang kepadanya silih berganti : dicaci maki, diintimidasi, diblokade ekonomi, disiksa pisik dan mentalnya bersama pengikutnya, bahkan diancam dengan pembunuhan, akhirnya terpaksa hijrah ke Thaif, 7O Km dari kota Makkah. Namun, apa yang dialami di Thaif, lebih kejam dari yang dialami di Mekah. Ia diusir, dihina, dicap orang gila, bahkan dilempari batu oleh sekelompok remaja dan pemuda akhirnya “Khudimat biddima’i na’lah”(bercucuran darah sampat ke sepatunya). Saat itu Nabi tinggalkan Thaif bersama seorang pembantunya dalam keadaan merangkak dan mandi darah. Ketika tiba disuatu pohon tempat berlindung sambil mengeringkan keringat dan tetesan darah, lalu menadahkan tangannya ke atas dan berkata: “Ya Allah, ya Tuhanku, akan ke manalagi kubawa diriku ,apakah tetap menghadapi musuh atau akan kembali ke Mekah yang juga menghadapi musuh yang sedang menanti ?. Semuanya itu aku tidak hiraukan selama Engkau tiada benci padaku”.

Dalam kondisi kritis seperti itu tiba-tiba muncul seorang malaikat penjaga gunung menawarkan dirinya, siap membantu dengan cara akan memerintahkan kepada gunung yang dalam kekuasaannya untuk menghancurkan mereka. Tapi Rasul menolak, bahkan mendoakan “ Allahummahdi qawmi fainnahum laya’lamun” (Ya Allah ampunilah umatku, karena mereka berbuat seperti itu lantaran tidak tahu, bahwa kedatangan saya akan menguntungkan mereka sendiri, jika mentaati risalahku).

Jika kita bandingkan dengan rasul lain, yang juga punya kasih sayang, misalnya Nabi Nuh, ternyata nabi itu masih mempunyai batas kesabaran, misalnya karena saking jengkelnya berdakwah ratusan tahun, yang hanya terbilang jari yang mengikutinya, bahkan anak dan isterinya ikut menantangnya, maka ia berdoa “Rabbi la tazar ‘alal ardhi minal kafirin dayyara” (Ya Allah janganlah Engkau sisakan seorangpun kafir di muka bumi ini ! ). Maka tenggelamlah orang-orang kafir pada zamannya, termasuk isteri dan anaknya.

(2) Ketika berada di Medinah dan bertetangga dengan seorang Yahudi yang memusuhinya. Si Yahudi dengan rutin setiap hari mengganggu dan mengotori pintu rumahnya dengan kotoran manusia yang menjijikkan. Namun, suatu waktu si Yahudi alpa, lalu Nabi menyiarahinya, mungkin karena sakit. Ketika Nabi menyiarahinya, si Yahudi kaget dan bertanya kepada Nabi,”apa anda tahu jika saya yang mengotori pintumu setiap pagi ?’. “Ya”, jawab Nabi, kemudian balik bertanya, “ kenapa anda tidak marah ?”. Agama saya mengajarkan, “Wa ahsin ila man asaa ilaika” (Berbuat baiklah kamu kepada orang yang berbuat jahat kepadamu), kata Nabi.

Perlakuan Nabi yang sangat kasih dan bijak terhadap dirinya, menyebabkan si Yahudi terheran-heran, lalu dengan penuh kesadaran atas rahmat Nabi, akhirnya menyatakan diri masuk Islam dengan mengucapkan syahadat “ Asyhadu annaka rasulullah” (Aku bersaksi bahwas Engkau (Muhammad) betul-betul rasul Allah).Itulah kedua contoh rahmat Nabi terhadap non muslim dan masih banyak lagi.

II.Bagaimana pula prilaku Nabi terhadap sesama muslim ?Terhadap sesama muslim kasih sayang itu berlipat ganda. Hal ini diabadikan Alquran : (artinya) : “ Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya, tegas terhadap kaum kafir (tapi) sangat kasih sayang terhadap sesamanya “(Asyiddau ‘alal kuffar ruhamau bainahum) (QS.Al-Fath 29).

Menurut mufasir yang dimaksud “Asyiddau ‘alal kuffar “ yaitu terhadap orang kafir sangat tegas terutama masalah akidah dan ibadah, misalnya ketika kafir Quraisy menawarkan lebih baik saling toleransi berganti-ganti menyembah Tuhan Allah dan Tuhan Lata (Tuhan mereka), maka Tuhan sendiri yang mengajarkan kepada Nabi agar menjawab mereka dengan ayat : ”Lakum dinukum waliya din” (Pakailah agamamu dan saya pakai juga agamaku). Artinya masalah akidah dan ibadah, Islam tidak mengenal toleransi, tapi masalah muamalah dan pergaulan justru dianjurkan.

.Adapun yang dimaksud “ruhamau bainahum” (Kasih sayang terhadap sesamanya) ialah jika bertemu sangatlah intim misalnya bersalaman, berjabatan tangan dan berangkulan serta selalu merasakan ”Kaljasadil Wahid” (seperti tubuh yang satu, jika salah satu anggota badan sakit, maka seluruh badan harus merasakan).

Akhirnya makna Rahmat Lil’alamin, bahwa Rasul SAW bukan hanya pembawa rahmat bagi manusia muslim dan non muslim, tapi termasuk hewan,tumbuh-tumbuhan serta lingkungan alam. Tegas masalah akidah, toleransi masalah muamalah. Semoga umatnya meniru. 
 
H. Mochtar Husein
10.15 | 1 komentar

Refleksi Kepemimpinan Islam

Refleksi yaitu gerakan, pantulan dan kemauan sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar kemauan atau kesadaran. Merefleksikan, artinya mencerminkan kata-kata seseorang, melalui isi hatinya. Misalnya seseorang yang menginjak bara api, dengan gerakan yang spontanitas, sangat cepat akan menarik kakinya dari bara api, agar tidak hangus, disertai ucapan atau teriakan.Yaitu jika kakinya masih normal dan tidak lumpuh.

Refleksi Islam artinya, sekalipun misalnya kakinya sudah tidak normal, tetapi tetap berperanan selama di hati masih ada getaran iman, terutama dari seorang pemimpin sebagai jawaban, terhadap solusi permasalan yang dihadapi rakyat kecil, atau kalau akar akidah terancam. Semisal tindakan Rasul atau Khalifah atau Ulama Tabi’in dalam menghadapi problem yang dihadapi masyarakat.

Ketika Nabi Muhammad SAW diancam oleh Da’tsur, dengan pedang terhunus yang hendak membunuhnya, Da’tsur berkata : “ Siapa yang menghalangi diri saya, kalau saya ayunkan pedang ini ke lehermu, Muhammad ? “ Nabi menjawab : “ Allahu Akbar !, ( hanya Allah Yang Maha Besar ). Dengan teriakan takbir Nabi, pedang terjatuh, lalu dengan refleksi yang lebih cepat, pedang berada di tangan Nabi. Kemudian balik bertanya, “ Siapa yang menghalangi saya, kalau saya ayunkan pedang ini ke lehermu Da’tsur ? “. Dengan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat memohon ampunan, Da’tsur berkata : “ Hanya Engkau sendiri ya Muhammad. Saya mohon ampunanmu, maafkanlah saya “. Permohonan maaf Da’tsur, diterima Nabi, yang menghasilkan refleksi baru, yaitu Da’tsur memeluk Islam.

Ketika Khalifah Umar mendatangi rakyatnya yang miskin di luar kota,. Ia tertegung melihat seorang perempuan tua menenangkan anaknya yang sedang menangis karena lapar di waktu malam di gubuknya, Sang Khalifah bertanya kepada ibu tua, “ Mengapa Ibu masak terlalu lama ?”. Dengan malu-malu tersipu, ibu tua menjawab, bahwa saya memasak batu yang tidak mungkin masak. Khalifah bertanya lagi, mengapa Ibu memasak batu ?. Ia menjawab, “ sekedar untuk menenangkan anak, karena jika ia kecapekan, akhirnya anak tertidur. “ Astagfirullah ! ”, kata Umar. Kemudian bertanya lagi , apakah Anda tidak pernah memeroleh jatah raskin selama ini ? “Tidak “ , jawab ibu tua yang selanjutnya berkata, penguasa sekarang, tidak pernah mau tahu penderitaan kami. “. Umar denga refleksi iman segera meninggalkan lokasi, lalu segera pergi ke gudang ( Baital mal ) dan mengambilkan sendiri satu karung raskin ( gandum ) dan memikulnya sendiri pada malan itu juga. Ketika penjaga gudang menawarkan, agar dialah yang akan memikul karung itu dipundaknya, Umar berkata : “ Apakah Anda dapat memikul dosa saya di akhirat nanti ?.”. Demikian refleksi Khalifah Umar ketika menjadi kepala negara.

Demikian pula Khalifah Umar bin Abdul Aziz ( cucu Khalifah Umar ) ketika berkeinginan melaksanakan haji, ia bertanya kepada pembantunya, Muzahim : “ Saya ingin pergi haji, apakah kamu mempunyai sesuatu ? “ Muzahim menjawab, : “ Hanya sisa sepuluh dinar “, “ Apa yang aku bisa perbuat dengan itu ?”, jawab Khalifah.

Kemudian Muzahim diam sejenak, setelah itu ia berekata : “ Wahai Amirul Mukminin, bersiaplah ! Baru saya ingat, ada uang Dinar sebanyak l7 ribu , sebagai harta peninggalan Bani Marwan, inilah yang bagus digunakan. Umar menjawab : “ Masukkanlah semua harta itu ke Baitul Mal. Sekiranya dinar itu berasal dari barang yang halal, maka kita mengambilnya sekedar keperluan kita, dan jika dinar itu berasal dari harta yang haram, maka cukuplah bagi kita apa yang menimpa kita, dan bukan menambah deretan haram “.

Tatkala Umar melihat, bahwa Muzahim berat memasukkan uang itu ke Baitul Mal, karena ada kebutuhan yang mendesak, Umar menggertak : “ Celaka Engkau Muzahim, jangan merasa berat berbuat sesuatu untuk Allah, sesungguhnya aku memiliki jiwa yang takwa ingin mencapai surga yang dijanjikan orang bertakwa “.

Dari tiga refleksi iman pemimpin Islam, yaitu Nabi Muhammad sendiri dengan pintu maafnya, kepada yang mau membunuhnya, kemudian seorang sahabat ketika menjadi khalifah yang mencintai rakyat kecil, kemudian seorang tabi’in ( pengikut sahabat ) dari seorang khalifah Bani Umayah, yang tidak menggunakan kekayaan Negara untuk pribadinya sekalipun berhak, teringatlah kepada 3 anggota DPR asal Sulsel yang mengembalikan uang operasionalnya yang dirapel, karena tersentuh imannya dengan penderitaan rakyat yang diwakilinya. Sayang, tidak dikirim langsung ke daerah yang lebih membutuhkan dan bukan sekali ini saja, karena banyaknya penderitaan rakyat di daerah. Dan diharapkan menyusul anggota DPRD yang lain, baik di tingkat propinsi atau kabupaten yang sehari-hari melihat langsung penderitaan.

Syarat utama pemimpin yang diinginkan Al-Quran, disamping yang jujur, kuat dan sabar ( Qawiy-Amin ) seperti Nabi Nuh, Musa, dan Muhammad, yang ahli dan jujur ( Hafizh-Amin ) seperti Nabi Ibrahim dan Yusuf, khalifah Umar menam,bahkan hendaknya pemimpin siap jadi khadam ( Pelayan masyarakat ). Terkenal dalam sejarah, ketika selesai dibai’at ia meminta kepada pemuka masyarakat agar mencarikan tokoh pemimpin untuk membantunya sebagai wazir ( semacam menteri ). Ketika pemuka masyarakat membawa calon yang dijagokan, Umar bertanya kriteria apa kalian sehingga mencalonkan si A misalnya ?. Pemuka masyarakat menjawab, kriteria yang kami pilih, sesuai Al-Quran dan Hadis, yaitu jujur, adil, kuat pisik, takwa, berilmu, berani, sabar, sederhana dan siap menjadi pelayan ( khadam).Dan dibuktikan dalam priode khalifah Umar.Akibatnya, Umar menambah satu kriteria utama, yaitu apakah Anda pernah melihat selama ini ada refleksi dari dirinya, langsung menolong dan membantu orang – orang miskin ?. Kalau ada itulah terbaik, seperti yang Anda pernah saksikan sendiri ketika bertetangga atau ketika bepergian bersama dalam suatu perjalanan.

Berdasarkan kriteria tambahan yang dibutuhkan khalifah Umar yaitu pemimpin yang suka menolong orang-orang kecil, maka sangatlah sukar memeroleh pemimpin yang persis Al-Quran, Sunnah dan sahabat. Tapi ajaran Islam mengajarkan “ Mala yudraku kulluh la yutraku kulluh ” ( Asal tidak meninggalkan seluruh pensyaratan ), terpaksa itulah yang kita pilih, terutama yang jujur, adil dan cepat refleksi imannya menolong orang miskin.

Salam sejahtera:Refleksi Islam yang menganjurkan salam sejahtera setiap saat ( Assalamu Alaikum ) sama yang dicontohkan Isa, ketika bergembira atas kelahirannya. Nabi Isa AS dengan ucapan yang pernah juga diakui Islam, tidaklah merusak akidah, selama pengakuan muslim tetap sama pada jalur yang diabadikan Al-Quran, yaitu :”Salam sejahtera untukku, pada hari kelahiranku, wafatku dan kebangkitanku kelak “ (QS.Maryam 33). Namun perlu diingat, sebelum Nabi Isa mengucapkan salam sejahtera, diyakini, bahwa beliaui adalah Abdullah (hamba Allah) yang diperintahkan salat, zakat, berbakti kepada ibu, dan dilarang berbuat sombong (QS.19 :32).Inilah cara mengucapkan selamat atas hari kelahiran Isa, menurut Al-Quran.
Ajaran Islam sudah menggariskan hendaknya selalu mendoakan dan memberi salam. Nabi pernah ditanya, amal apakah terbaik ?.Dijawan, amal yang paling afdal ialah suka memberi makan orang, dan suka memberi salam, kepadas orang yang kamu kenal dan belum (HR.Muslim).

Akhirnya, dari uraian singkat diatas dari sekian criteria yang diperlukan seorang pemimpin menurut Al-Quran, Hadis dan sahabat, maka yang paling dibutuhkan dalam memasuki pilkada di daerah, dipilih pemimpin yang bukan hanya jujur, kuat dan adil tapi dipilih terutama seseorang yang sering menyumbang orang miskin ( refleksi spontan ), baik sebelum dicalonkan atau sesdudahnya.Baik didepan camera atau tidak, karena Lillah. ( Wa Allahu a’lam ).
H. Mochtar Husein
09.58 | 0 komentar

Memahami Nabi Muhammad SAW

Written By Rudianto on Rabu, 23 Januari 2013 | 22.08

Alhamdulillah, kita telah berada pula di bulan Rabi’ul awal. Bulan Maulid Nabi yang diperingati umat Islam Indonesia setiap tahun. Mulai dari desa terpencil, sampai ke istana Negara. Memperingati Maulid, bukan perbuatan bid’ah. Apalagi jika disebut dhalalah. Nabi sendiri memperingatinya, dengan puasa setiap Senin.Dan umatnya dianjurkan juga berpuasa setiap Senin.

Di desa-desa, diperingati secara tradisional, yaitu berzikir dan membaca sejarah nabi (Barzanji). Di kota-kota, dengan cara modern. Pidato dan diskusi, tapi juga mengenai prilaku nabi. Keduanya sama, yaitu hubburrasul. Jika Barzanji itu diterjemahkan, itulah yang afdal, karena dapat dihayati maknanya.

Yang menjadi masalah sekarang, masih banyak orang muslim yang keliru memahami hakikat Nabi Muhammad. Mungkin karena cintanya kepada rasul berlebih-lebihan, atau karena tidak merasakan terkontaminasi filsafat Yunani yang diterima oleh sebagian filsuf Islam. Akibatnya, ada yang memahami bahwa Muhammad itu pancaran (faidh) atau emanasi dari Tuhan. Muncullah istilah “Insan al Kamil”. Padahal istilah itu, tidak ditemukan dalam Al-Quran dan Sunnah sahih.

Bagaimana memahami dengan benar, sesuai Al-Quran ?.

Manusia biasa:Meyakini “ Muhammad Rasulullah”, adalah syahadat kedua. Wajib diyakini seorang muslim, sesudah syahadat pertama Lailaha illa Allah. Tidak ada diantara kita, yang meragukan kerasulannya. Diabadikan Al-Quran dengan “ Nasyhadu innaka larasul Allah ( Kami mengakui bahwa engkau, benar-benar Rasul Allah (QS.63:1). Demikian keistimewaannya, tidak ada yang meragui sebagai “ Khatam wa asyraf al-anbiya’ wa al-mursalin”. ( Penutup dan termulia dari segala Nabi dan Rasul ). Namun, Al-Quran juga dengan tegas menyatakan “ Qul Innama ana basyarun mislukum” (Katakan, sesungguhnya saya ini adalah manusia biasa, seperti anda )(QS.18 :11O)

Menurut ahli Tafsir Ali Al-Shabuni, bahwa Muhammad sebagai manusia biasa.. berlaku juga sifat biasa pada dirinya. Hanya perbedaannya karena Allah memuliakan dengan wahyu bertugas, mengabarkan tentang keesaan Allah dan memkanjikan pahala besar bagi mereka yang beramal dengan ikhlas.

Ahli Tafsir Al-Jazairi menambahkan bahwa ayat tersebut, merupakan jawaban kepada kaum musyrikin yang memintanya memperlihatkan mu’jizat semacam yang diberikan kepada Musa dan Isa, lalu nabi mengakui bahwa ada yang tidak mampu dilakukan, karena diluar mu’jizat yang diberikan Allah. Misalnya, mengubah tongkat jadi ular atau dapat menghidupkan orang mati, sehingga nabi berkata “Ana basyarun mislukum”.

Mufasir Ibnu Abbas, sebenarnya “ Ana basyarun mislukum” yang dilontarkan Rasul itu, adalah pelajaran tawadu’ yang hendaknya dimiliki seseorang, bahwa jika ada keistimewaan, bukan segalanya. Maklum, tetap seperti hamba Allah yang lain.

Untuk lebih meyakini, ayat lain lebih tegas menyatakan “Wawajadaka dhallan fahada, wawajadaka ‘ailan fa aghna “ ( Bukankah Tuhan mendapatimu seorang yang bingun, lalu Dia (Tuhan) memberikan petunjuk ?.Dia mendapatimu seorang yang penuh kekurangan, lalu Dia memberikan kepadamu kecukupan ?” (QS.93 : 7-8)

Namun, para ulama Tafsir mengakui pula, dibalik ayat yang menyatakan punya keterbatasan sebagai “ basyarun mislukum ” sambungan ayat itu menyatakan “Yuha ilayya annama ilahukum ilahun wahid… ( Diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan itu adalah Tuhan Yang Esa…) (QS.Al-Kahfi (18) :11O).

Manusia istimewa:
Apa artinya ?. Dalam satu ayat diatas, sesudah dinyatakan manusia biasa, kemudian dinyatakan ada keistimewaan ( keluar biasaannya ). Misalnya dari lebih seribu Nabi, yang dipilih menjadi rasul, hanya 25 orang. Dan dari 25 rasul, hanya nabi Muhammad SAW yang disebut “ Asyraful mursalin “( Rasul termulia). Dengan demikian betapa istimewanya nabi SAW. Laksana rembulan dikelilingi bintang. Keistimewaan itu terlihat juga, jika Tuhan memanggilnya dalam Al-Quran. Tuhan tidak menyebut namanya secara langsung, seperti “ Ya Muhammad ! ”. Tapi, Tuhan memanggilanya dengan sebutan mesra “Ya ayyuha al-nabiy - Ya ayuha al-rasul - Ya ayyuha al-muddatsir,” .( Wahai para nabi, Wahai para rasul -Wahai para yang berselimut). Menurut mufasir, semua panggilan dengan kata jamak, seperti itu, padahal ditujukan hanya satu orang yaitu Muhammad sendiri, itu adalah penghormatan yang tinggi. Sama juga dalam salam “ Assalamu Alaikum “ ( Mudah-mudahan kamu semua selamat dan sejahtera ), padahal pemberi salam itu hanya dia tujukan kepada satu orang saja.

Penghormatan lain Tuhan kepada nabi Muhammad, , yaitu diperintahkan “ Innallaha wamalaikatahu, yushallun ‘ala al- nabiy, ya ayyuha ladzina amanu shallu ‘alayh… ( Tuhan dan malaikatnya bersalawat kepada nabi, maka hai orang-orang mukmin, bersalawatlah kepadanya. (QS.33:65). Dan masih banyak lagi penghormatan lain, seperti menjadi rahmat seluruh alam.

Menurut Tafsir Al-Qurthubi, yang dimaksud salawat dari Tuhan kepada nabi pada ayat diatas yaitu Tuhan selalu mencurahkan rahmat dan ridha kepadanya. Mengenai salawat malaikat berarti melaikat selalu mendoakan dan istigfarkan. Sedang salawat orang mukmin berarti selalu medoakan dan ta’zhimkan.

Akan tetapi kita semua hendaknya sadar, bahwa bagaimanapun istimewanya nabi kita, tetap tidak boleh disamakan dengan Tuhan atau bahagian dari Tuhan. Seperti mempercayai bahwa emanasi dari Tuhan. Paham itu pernah dianut sebagian kecil filsuf Islam. Sebab itu, untuk memurnikan akidah, kita harus kembali kepada ayat diatas “Ana Basyarun mislukum” ( saya manusia biasa seperti anda ) dan pada surah Al-Ikhlas “ Walam yakun lahu kufwan ahad”( Dan tidak ada seorangpun yang setara atau mirip dengan Allah).

Adapun sifat-sifat Tuhan yang ada pada manusia misalnya rahman atau rahmat ( kasih sayang) perbandingannya 1OO berbandung 1. Artinya kasih sayang Tuhan dikurangi 1 = 99 . Jadi, yang satu itulah dibagi-bagikan kepada seluruh makhluk, sehingga seekor binatang tahu mengangkat kakinya, sehingga tidak sampai menginjak-injak anaknya yang baru dilahirkan sampai mati.

Insan al-Kamil ?Falsafah “ Insan al-Kamil ” ( manusia sempurna ), dipahami sebagian sufi, bahwa kesempurnaan itu adalah copy Tuhan dalam diri Muhammad. Diorbitkan oleh sufi, Abd. Karim Al-Jili (w.1428 M) . (Astagfirullah).

Menurut Prof. DR.M.Rasjidi (Dosen “Filsafat Islam”), waktu penulis masih kuliah di Purnasarjana IAIN Yogya (1978), menerangkan, bahwa “ Istilah Hakikatul Muhammadiyah atau Nur Muhammad atau Insan al-Kamil yang dianut sebagian Sufi, adalah hasil dari meresapnya faham Neo Platonisme, yang dianut oleh Al-Kindi dan Al-Farabi”. Teori “emanasi” itu berasal dari pandangan, bahwa semua yang ada ini, memancar dari zat Tuhan melalui akal-akal ke sepuluh. Akal menurut pemikiran, mempunyai 3 tingkatan: Al-hayulani (material), bi al-fi’il (actual) dan al-mustafad (adeptus), dan tingkatan terakhir inilah yang menerima pancaran (emanasi) dari Tuhan. ( Dapat dilihat juga pada:” Koreksi terhadap DR.Harun Nasution, 1977:128).

Mengenai makna “Ahsani taqwin “ dalam Al-Quran, itu berlaku untuk seluruh manusia yang diciptakan Tuhan. Diakui pakar Tafsir, Prof. DR. M.Quraish Shihab, bahwa makna “ Ahsani taqwin” dalam Al-Quran, berarti bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Ia mengutip pendapat mufasir Ragib Al-Asfahani, bahwa kata “taqwin” pada ayat tersebut, hanya mengisyaratkan bentuk pisik manusia lebih baik, dari binatang, serta mempunyai keistimewaan, karena dilengkapi akal. (Lihat : Tafsir Al-Quran,1997:741). Artinya, Insan al-Kamil, bukan istilah Al-Quran.

Satu-satunya yang dijadikan alasan sebagian sufi adalah Hadis Jabir, yang bukan bersumber dari “Kutubussittah“ ( 6 kitab Hadis yang diakui ). Jabir berkata, “ Yang pertama diciptakan Tuhanmu adalah Nur nabimu ”, ternyata ahli Hadis sendiri, menilainya hadis Dha’if. Imam Syafei yang pernah membolehkan penggunaan Hadis dha’if, hanya menyangkut masalah ibadah ( Fadilah. Amal) .Tapi masalah Akidah dan Syari’ah, Imam Syafei sendiri tidak mau menggunakannya. Adapun Tasawuf yang dikembangkan Imam Besar Al-Ghazali, seluruhnya adalah Tasawwuf Sunni (Akhlak). Dan beliau dikenal menolak Tasawuf filsafat, seperti yang dianut Al-Kindi, dkk).

Alhasil, memahami “Muhammad Rasulullah SAW ” dengan benar, sederhana saja.Tidak perlu berbisik-bisik dan mengeluarkan biaya. Cukup mentaati dan meniru akhlaknya, seperti tertulis dalam Al-Quran dengan “Uswah al-Hasanah” ( Teladan terbaik). Metodenya, “ Qul in kuntum tuhibbun Allah, Fattabi’uni, yuhbib kum Allah wa yaghfir lakum dzunubakum “ ( Kalau kamu betul-betul mencintai Allah, ikutilah saya, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu ) ( QS. 3:41 ).

Menurut Tafsir Al-Bayan, akhlak Nabi yang harus diikuti, terutama pada Sural Al-Mu’minun 1-1O. Diantaranya, selalu siap menunggu waktu salat, sangat khusyu’ dalam salat, menjauhi perkataan dan perbuatan sia-sia, suka bersedekah, memenuhi amanah dan menepati janji serta tidak suka berdusta.(Juz V :137).

Akhirnya, memahami nabi Muhammad dengan benar berdasarkan Al-Quran, ialah meyakini kerasulannya, mentaati perintahnya, meneladani akhlaknya, meyakini disamping manusia biasa, juga manusia istimewa dan rasul termulia, mempunyai misi utama pembawa rahmat bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta mempunyai rahmat khusus kepada orang mukmin, dengan syafaatnya. Sebagian ulama berpendapat terutama yang suka memberi salawat dan mengikuti sunnahnya. .Semoga kita semua memperoleh kontribusi syafaatnya. Amin.
22.08 | 2 komentar

Hati yang Lunak

Written By Rudianto on Senin, 21 Januari 2013 | 21.07

Nabi Muhammad SAW sebagai Dai (mubalig) pertama, dalam sejarahnya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang, seperti “ Kamu Kapir, Fasik, Munafik atau Tukang Bid’ah ” .Kepada seseorang.yang non muslim, dipanggilnya dengan lunak , “ Ya ahli Kitab “ ( Hai yang punya kitab suci), “ Ya bani Adam “ ( Hai keturunan Adam), ” (Hai bangsa manusia), dsb..Padahal yang dihadapi, adalah mereka yang terang-terangan menentang Islam. Apalagi kepada sesama muslim. Berbeda sekali yang kita dengarkan dari yang karbitan.

Seluruh ahli dakwah sepakat, bahwa menyampaikan pesan-pesan agama itu, hendaknya lunak, dan menyentuh hati. Definisinya “ Minal qalbi ilal qalbi “ ( Keluar dari hati, menyentuh hati pula)

Dalam Bahasa Arab, hati itu disebut “Qalbu litaqallubih “ (Dinamakan qalbu, karena gampang berubah-ubah ).Sebab itu dalam Tahiyah akhir salat, seorang musalli dianjurkan membaca “ Stabbit qalby ‘ala dinika” (Wahai Tuhan yang dapat mengubah-ubah hati, tetapkanlah hatiku, agar konsisten memegang agamamu ). Artinya, seorang mushalli selalu memohon kepada Allah agar iman itu, jangan sampai berubah-ubah, seperti berubah-ubahnya pengaruh keduniaan.

Banyak ayat dalam Al-Quran yang mengarahkan betapa perlunya hati dan prilaku itu lunak, terutama seorang Imam ( pemimpin ) dan Da’I. Diantaranya “ Ya Muhammad jika kamu berhati keras niscaya mereka akan lari dari sekelilingmu “.(QS.3 :159). Artinya sebaliknya, jika kamu berhati lunak dalam berdakwah, niscaya mereka akan datang mendekatimu dan mempercayaimu. Hal ini dapat dilihat beberapa metode dakwah yang digariskan Al-Quran, misalnya :

(1) “Berdakwah dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah. ( bijaksana dan pelajaran yang baik) dan jika berdiskusi (dialog) dengan cara yang lebih baik (Ahsan ) (QS.al-Nahl : 125).

(2) “ Aku mengajak kalian ke jalan Allah dengan Basirah (keterangan yang nyata )” . (QS. Yusuf :1O8).

Lebih empati: Menurut Doktor Yusul Al-Qardhawi, kedua ayat tersebut menjelaskan, bahwa dalam mengajak orang berbuat baik, hendaknya dilakukan dengan cara yang rasional dan menyentuh hati (Akal dan qalbu).Itu dimaksudkan, bahwa dalam menerangkan masalah akidah dan muamalah, bukan hanya dengan ancaman meninggalkan yang dilarang, tetapi hendaknya disertai dengan solusi. Sehingga terlihat bahwa kebaikan yang hendak dicapai, sedapat mungkin tidak meninggalkan problema baru. Demikian juga dalam berdialog, bukan dengan cara mencederai perasaan sesama manusia, sekalipun kita sedang sedang bersaingan. Artinya, ayat ini mengandung dua metode.

Pertama : dengan cara yang baik.(Bilhikmah wal mauizhah hasanah).

Kedua : dengan berdikusi dan dialog dengan cara yang lebih baik lagi (hiya ahsan). Mengapa harus demikian ?.

Karena dalam berdiskusi itu biasanya ada persaingan, sehingga sebagian orang condong membiasakan dirinya, ingin menjatuhkan lawan, atau mencederai, sehingga berusaha akan tampil jadi pemenang. dalam berdebat. Sebab itu metode Al-Quran, mengantisipasi jauh sebelumnya. Agar jangan sampai kebiasaan itu disandang juga seorang mubalig yang tujuaannya harus lebih empati.

Maka sebab itu “ Hiya ahsan” berarti ( Hendaknya cara yang lebih baik, dan lebih indah). Hal itu telah dipraktekkan Rasul, sehingga umatnya perlu meneladani. Dan sebagai gambaran bahwa Islam itu betul-betul ajaran yang rahmat, indah dan menawan.

Imam Al-Gazali pernah berkata, baik yang mengajak berbuat baik (Da’i) maupun yang yang diajak berbuat baik (Mad’u) keduanya hendaknya sama-sama berhati lunak. Dan diharapkan lebih lunak lagi, disertai kesabaran. jika yang dihadapi, adalah orang yang doyan berbuat kemungkaran (dosa besar).

Hal tersebut dapat dilihat, bagaimana pesan Tuhan kepada Nabi Musa dan Harun, ketika mengahadapi Fir’aun, yang memaklumkan dirinya Tuhan, kata Tuhan “ Berbicaralah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut” (QS. Thaha 43).

Menurut sahabat nabi Ibnu Mas’ud, “ Perkataan yang disampaikan jika tidak sesuai otak dan sentuhan kalbu manusia, justru akan menimbulkan pitnah dan kontra.

Syekh Muhammad Abduh, lebih transparan dalam tafsirnya bahwa metode Al-Quran surah Al-Nahal 125, yaitu ada 3 golongan :

(1) Terhadap cendikiawan, hendaknya yang disampaikan, dengan cara pemahaman kritis, rasional dan argumentasi yang kuat.

(2) Terhadap yang awam, dengan nasehat yang baik dengan ajaran yang mudah dipahami serta mempunyai solusi.

(3) Terhadap mereka yang bukan dari keduanya, terutama kepada yang non muslim, hendaknya dengan cara yang lebih baik, sehat dan empati.

Akhirnya, berdasarkan Al-Quran, Sunnah dan ahli Dakwah, maka dakwah Islam itu hendaknya disampaikan dengan lunak dan menyentuh hati yang terdalam. Al-Quran sendiri dengan keindahan bahasa, kelunakan nada dan irama, yang spesifik lagu padang pasir, dapat mengubah hati yang keras, menjadi hati yang lunak, seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab.
21.07 | 0 komentar

Mendidik Anak Menjadi Saleh

Written By Rudianto on Minggu, 20 Januari 2013 | 10.09

Dalam Bahasa Arab, ‘saleh’ atau aslinya “shalih”, menunjukkan lawan dari kerusakan, yakni selalu ingin berbuat baik dan mendamaikan. Dalam hubungan ini, kota Mekah disebut sebagai kota kesalehan, karena ditempat itu ada Ka’bah yang merupakan tempat, dapat memperbaiki diri dan bertobat ( Maqayis Lughat : 574 ).

Menurut mufasir Al-Jazairi, yang disebut anak saleh ialah “Mereka yang mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Terhadap Allah SWT dan kepada sesama manusia. Atau anak yang saleh ialah dominan amal baiknya dari amal jeleknya”( Juz II : 5O4).

Dari pengertian tersebut dipahami, anak saleh itu ialah anak yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan taat kepada kedua orangtuanya serta berprilaku baik kepada sesama manusia dan lingkungannya (termasuk negaranya).Atau anak saleh ialah anak yang selalu siap mendamaikan, memperbaiki yang jelek serta mempunyai keterampilan yang berguna kepada masyarakat. Bukan dimonopoli hanya orang yang kuat ke mesjid dan banyak membaca tasbih, seperti pengertian klasik.

Dalam Alquran:
Dalam Alquran terdapat 29 ayat yang memberi gambaran, betapa pentingnya kesalehan itu diorbitkan, doa-doa yang mendukung untuk dimunajatkan orang tua kepada Allah, agar anaknya menjadi anak yang saleh. Diantaranya :

(l) “Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ... Jika mereka miskin, Allah akan memberi kurniaNya. (QS.24:32).

(2) “ …Kami tuliskan dalam Lauh (Mahfudz), bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh” (QS.2l:lO5).

(3) “(Ya Allah) Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh” (QS.l2:lOl).

Dari tiga ayat tersebut dipahami, bahwa dalam rangka pembinaan manusia saleh, maka jenjang pertama adalah membangun dasar-dasar perkawinan yakni dengan membentuk keluarga bahagia. Dengan memilih pasangan hidup yang mukmin dan saleh (Taat menjalankan agama), erta melihat keturunannya agar dapat memperoleh hasilnya karena menggunakan bibit unggul.

Kemudian pada ayat kedua, digambarkan pentingnya pembinaan keluarga, harus didukung kemampuan ilmu dan keterampilan, dalam kapasitas manusia sebagai pewaris dari hamba-hamba Allah yang terpilih dan mampu menggali, mengolah dan memberdayakan sumberdaya alam dan memeliharanya. Artinya, kesalehan itu bukanlah mereka yang suka membuat kerusakan di dunia, atau yang mencari keuntungan pribadi, sekalipun harus mengorbankan ekosisten bumi.

Kemudian pada ayat ketiga, dianjurkan perlunya lahir anak-anak saleh dengan selalu berdoa kepada Allah, agar dikurniai keturunan muslim yang saleh, yang dapat memakmurkan bumi.
Konsepsi pembinaan manusia menjadi saleh menurut Alquran dapat diciptakan yang esensinya, dengan mengikuti nasehat-nasehat Lukman al- Hakim kepada anaknya, yang diabadikan Alquran, yaitu:

(l) Janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, karena sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kezaliman yang besar.

(2) Bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasihlah kepada kedua orangtuamu.

(3) Jika orangtuamu memaksamu menjadi musyrik, janganlah ditaati (tetapi), tetap berbuat baik kepada keduanya di dunia.

(4) Ingatlah, sekecil apapun perbuatan yang kamu lakukan, Allah akan membalasnya.

(5) Dirikanlah salat, berbuatlah yang makruf dan cegahlah perbuatan mungkar.

(6)Janganlah kamu bersombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong.

(7)Berjalannlah dengan langkah sederhana dan lunakanlah suaramu. (QS.3l:l3-l9)

Ketujuh ayat tersebut, titik beratnya ada 3. Pertama, akidah harus diperkuat, jangan sampai rusak lantaran harta atau pangkat atau pengaruh pemurtadan budaya barat. Hendaknya diyakini bahwa Tuhanlah pemberi rezeki dan mensyukur pemberiannya. Kedua, hendaknya meyakini, kejahatan dan korupsi sekecil apapun akan mendapat balasan di dunia dan akhirat. Ketiga, harus banyak beribadah, berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Didalam hadis :
Pembentukan anak saleh dijabarkan melalui hadis, diantaranya:

(l) Rasulullah mengazan telinga cucunya Hasan, ketika lahir (HR.A. Dawud ).

(2) “Perintahkanlah anak-anakmu melakukan salat di usia 7 tahun… “(HR.Muslim)

(3) Berilah anakmu nama yang baik , makanan yang halal, pisahlah dari tempat tidurnya dan kawinkanlah setelah dewasa (HR.Annasai).

Khalifah Umar memerintahkan kepada Gubernur, “ Ajarlah anak-anakmu berenang, berpanah dan menunggang kuda “( termasuk keterampilan ), seperti menjadi sopir, penulis, ahli komputer).

Imam Al-Gazali melengkapi bahwa hakikat mendidik anak saleh, agar anak tidak diberi makanan yang syubhat apalagi haram, baik zatnya atau cara memperolehnya. Sebab semua bibit yang kotor ( misalnya hasil korupsi ), hasilnya pasti kotor pula.

Akhirnya, kaifiat Alquran mendidik anak saleh, dimulai tauhid yang kuat, hanya Allah yang disembah, lalu latihan ibadah, keterampilan dan akhlak, kemudian memberi makanan halal serta selalu mendoakan setiap selesai salat

10.09 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung