Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

4 Etika Bercanda

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 26 September 2014 | 16.26

Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayatNya, Sunnah RasulNya atau syi’ar-syi’ar islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olok sahabat Nabi, yang ahli baca al-Qur’an, yang artinya, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman (QS. At Taubah : 65-66)

Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengandung dusta.

Dan, hendaknya pecanda tidak mengada cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celaka bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)

Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil barang temannya, apakah itu ia niatkan sebagai candaan maupun sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya.” (HR. Ahmad dan Abu dawud. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.
(Aadaabu al-Muslim Fii al-Yaumi Wal Lailah, 24 Adaban Mutanawwi’an, Departeman Ilmiah darul Wathan, dengan gubahan)

Semoga kita selalu mendapatkan taufiq dari Allah عز و جل . Dan semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar