Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Janganlah Merasa Hina, Anda Lebih Mulia

Written By Rudi Abu azka on Senin, 31 Januari 2011 | 09.04

Firman Allah Ta’ala yg artinya “Kehidupan dunia dijadikan dindah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yg beriman. Padahal orang-orang yg bertakwa itu lbh mulia dari mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yg dikehedaki-Nya tanpa batas.” Secara umum saat ini kaum Muslimin dipandang sebelah mata terutama oleh orang-orang kafir. Segala keterbelakangan seolah-olah suatu yg beralamat pada kaum Muslimin. Pasca runtuhnya khilafah terakhir khilafah Turki Utsmani tahun 1924 Masehi - belum seratus tahun berlalu - umat Islam sontak seperti terjatuh ke dalam jurang ketertinggalan dan kehinaan di mata dunia. Secara historis sebenarnya banyak ilmu pengetahuan yg sekarang dibanggakan orang-orang kafir itu berasal dari kaum Muslimin pada masa jayanya. Ketika Andalusia diperintah oleh kaum Muslimin ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya sementara Eropa mengalami kegelapannya. Bahkan sampai-sampai raja Inggris ketika itu meminta secara khusus agar khalifah waktu itu mengizinkan beberapa utusannya utk belajar pada kaum Muslimin di Andalusia tentang beberapa ilmu pengetahuan. Namun kita tidak boleh tenggelam oleh kenangan kejayaan masa lalu. Justru seharusnya kita mengambil pelajaran dari sejarah. Kalaulah boleh dikatakan bahwa umat Islam sekarang ibarat perumpamaan yg telah disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kita akan diperebutkan oleh umat-umat lain ibarat orang-orang menyerbu makanan di sebuah piring besar. Bukan krn jumlah umat Islam sedikit tetapi krn kualitas kita yg tidak sesuai dgn kuantitas kita. Kita banyak tetapi kualitas kita sedikit. Bukan hanya masalah ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga masalah pengetahuan umat terhadap Islam dan ajarannya. Sejujurnya harus diakui bahwa mayoritas umat ini tidak mengerti dgn baik ajaran agamanya yg sempurna ini. Kelemahan yg dikatakan Rasulullah sebagai penyebabnya ternyata benar adanya. Hal itu adl cinta dunia dan takut mati. Ditambah lagi satu penyakit batin yg tak kalah bahayanya yaitu merasa rendah dan hina dihadapan orang-orang kafir dan takjub akan segala kemajuan mereka dalam kehidupan dunia ini. Seharusnya seorang mu’min tidak boleh merasa lbh rendah dan hina dari orang-orang kafir. Karena dunia ini adl suatu yg akan musnah. Dunia ini memang dijadikan indah bagi orang-orang kafir mereka mencurahkan seluruh hidupnya utk dunia ini. Sementara mukmin hanya menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah dan sorga-Nya di akhirat kelak. Lagi pula bukankah menjadi seorang mukmin itu sudah merupakan suatu ni’mat yg tak dapat dibandingkan dgn dunia seisinya. Ingatlah firman Allah yg artinya “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajanya jika kamu benar-benar orang-orang yg beriman.” . Kita janganlah tertipu bahwa dgn meraih dunia kita akan dipandang mulia. Adalah sifat orang-orang kafir memandang hina kaum Mulimin bagaimanapun keadaannya. Ketika kaum Muslimin tertinggal orang-orang kafir menghina mereka krn ketertinggalan. Jika kaum Muslimin lbh maju dari mereka mereka tetap memandang hina kaum Muslimn krn iri dan dengki. Apalagi di zaman globalisasi informasi sekarang ini. Dengan menguasai jalur informasi mereka dgn mudah membentuk opini dunia bahwa merekalah yg terbaik di muka bumi ini. Bukan berarti kita tidak boleh meraih kesenangan dunia dan kejayaan di dalamnya. Alangkah indahnya doa orang yg berkata “Ya Allah jadikanlah dunia di tangan kami dan jangan jadikan dunia di hati kami.” Sekarang secara umum keadaan kita terbalik. Dunia bersemayam di hati kita tetapi tidak di tangan kita. Sungguh ironis memang keadaan ini sangat bertolak belakang dgn para pendahulu kita. Dunia mereka kuasai dalam genggamannya namun tidak mereka biarkan bersemayam di hati mereka. Banyak sahabat yg kaya raya memiliki apa saja namun hal itu tidak memalingkan hatinya dari takwa. Sebagai contoh Abdur Rahman bin ‘Auf salah seorang dari sepuluh sahabat yg diberi kabar gembira akan masuk sorga. Beliau adl seorang pedagang yg sangat sukses sampai dikatakan bahwa beliau jika membalikkan sebuah batu pun menghasilkan rezeki yg banyak dan berkah. Namun hal itu tidak pernah melalaikan beliau dari takwa. Bahkan diriwayatkan bahwa ketika meninggal beliau meninggalkan 20 ribu dinar. Satu dinarnya sama dgn 425 gram emas jika ditotal maka itu adl seberat 85 kg emas. Sungguh jumlah yg tak sedikit. Bagaimanapun keadaan kita saat ini kita tak boleh berkecil hati. Bukankah Allah akan memberikan kemuliaan bagi kita atas orang kafir di akhirat nanti. Bukan berarti kita juga harus berhenti berusaha mengibarkan dan menegakkan panji-panji Allah di muka bumi ini hanya dgn mengharapkan akhirat. Dunia adl tempat kita harus beramal dgn sebaik-baiknya utk menegakkan kalimatullah. Jangan pedulikan hinaan orang-orang kafir. Bila saatnya tiba kita pasti akan menghina mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari kehinaan itu. Optimisme adl sifat yg disukai Allah. Maka janganlah merasa pesimis dgn ketertinggalan yg jauh ini. Selangkah demi selangkah adl lbh baik daripada diam menyesali diri dan hanya menonton dari jauh tanpa pernah terusik utk menjadi pemain utama.
09.04 | 0 komentar

Ilmu Adalah Jalan Keimanan

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 29 Januari 2011 | 10.07


Pembicaraan kita tentang tauhidullah baik rububiyah uluhiyah dan asma was sifat semuanya menuju kepada keimanan yg benar yaitu bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sebagai makhluk terhadap Khalik pencipta kita Allah SWT. Untuk menuju kepada hal itu dibutuhkan Ilmu sebagai pedoman dan petunjuk jalan agar tidak tersesat yg menyebabkan kita termasuk orang-orang yg merugi.Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya“Adakah orang yg mengetahui bahwasanya apa yg diturunkan kepadamu dari tuhanmu itu benar sama dgn orang yg buta? Hanyalah orang-orang yg berakal saja yg dapat mengambil pelajaran.” Lebih lanjut dijelaskan oleh Allah dalam Firman-Nya“Katakanlah ‘Adakah sama orang-orang mengetahui dgn orang-orang yg tidak mengetahui? Sesungguhnya orang orang yg berakallah yg dapat menerima pelajaran.” Hal itu krn keimanan yg dimiliki oleh orang-orang yg ikut-ikutan saja tanpa keyakinan yg penuh sangat cepat berubah tatkala diterpa ujian dan cobaan sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya “Dan di antara manusia ada orang-orang yg menyembah Allah dgn berada di tepi maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia ke belakang rugilah ia di dunia dan di akhirat yg demikian itu adl kerugian yg nyata.” Oleh krn itulah patut bagi kita utk mengetahui kaidah-kaidah yg otentik guna mengantarkan kita kepada keimanan terhadap Allah SWT. Kaidah Pertama Dalil Akli “Bahwasanya sesuatu yg tidak ada tidak dapat menciptakan sesuatu.”Sesuatu yg tidak ada tidak mungkin mampu utk menciptakan sesuatu krn ia tidak ada. Kaidah ini menghantarkan kita kepada Dzat yg Maha Ada. Kalau kita perhatikan mahluk-mahluk yg dilahirkan tiap hari baik manusia hewan tumbuhan dan kita perhatikan pula tiap yg terjadi di alam semesta ini seperti angin hujan siang dan malam dan tiap yg bergerak dgn teratur seperti matahari dan bulan bintang-bintang semua itu jika kita renungkan tiap saat maka akan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa akal kita akan memastikan semua itu bukan hasil ciptaan sesuatu yg tidak ada akan tetapi itu adl hasil ciptaan Dzat yg Maha Ada yaitu Allah SWT. Dalil Nakli Firman Allah SWT“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yg menciptakan ? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini .”
10.07 | 0 komentar

BIOACTIVA : Tetesan Alami Berjuta Manfaat

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 26 Januari 2011 | 08.02


BIOACTIVA : Tetesan Alami Berjuta Manfaat
Dengan Teknologi EKD.

bioactiva, tetesan alami, obat kankerBIOACTIVA adalah produk kesehatan yang mengandung 100% nutrisi rempah dan herbal terbaik Indonesia yang telah terkenal khasiat dan manfaatnya secara turun – temurun seperti jinten (Habbatussauda), tebu merah, beras merah, daun pandan, pala, kapulaga, kayu manis, akar ilalang dan lain – lain. BIOACTIVA merupakan produk asli suku Dayak Ngaju Palangkaraya, Kalimantan Tengah, diproses secara higienis oleh formulator dengan menggunakan teknologi temuannya yakni teknologi EKD yang telah dikenal masyarakat luas, khususnya di daerah – daerah yang membutuhkan terobosan teknologi dalam mengatasi berbagai permasalahan mulai dari masalah kesehatan tubuh, kesehatan lingkungan sampai kepada masalah pertanian dan perkebunan.

BIOACTIVA memiliki kandungan utama Multi Vitamin, Protein, Mineral, Enzim dan Probiotik berfungsi untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan, stamina, vitalitas dan sumber kecukupan nutrisi.
Juga berfungsi untuk membantu proses penyembuhan, pemulihan dan meningkatkan sistem kekebalan alami tubuh.

BIOACTIVA aman dan baik untuk dikonsumsi semua golongan umur dan jenis kelamin karena bersifat alami. Zat – zat yang terkandung didalamnya akan terserap dengan baik oleh tubuh. Keamanan produk terbukti melalui uji klinis diberbagai laboratorium perguruan tinggi ternama di Indonesia dan hasilnya dinyatakan bebas toksin, aman bagi tubuh dan bebas dari enterobakteri yang merugikan tubuh.

BIOACTIVA bekerja dalam tubuh dengan cara memperbaiki dan mengoptimalkan sistem pencernaan sehingga proses metabolisme tubuh berlangsung ldengan baik , organ – organ vital mampu bekerja lebih baik, suplai oksigen dalam darah terjaga, dan dengan sendirinya sistem kekebalan tubuh alami akan bekerja lebih optimal.

Sangat bermanfaat untuk :

* Memperbaiki & Meningkatkan Metabolisme Tubuh
* Memulihkan Regenerasi sel dan organ-organ tubuh
* Meningkatkan sistem Imun atau kekebalan alami
* Meningkatkan peredaran darah dan ...

Bisa didapatkan di Radio kesayangan anda ini di NURISFM
Hubungi di 081319107800 atau di 021-9918791
Harga Rp. 75.000,-
08.02 | 0 komentar

NOMINASI INDONESIA NASHEED AWARD 2011

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 25 Januari 2011 | 03.50


NOMINASI INDONESIA NASHEED AWARD 2011
Sebagai bentuk apresiasi dan kontribusi kami dalam belantika musik nasyid tanah air dan untuk munsyid Indonesia…

Forum Silaturahim Nasyid Indonesia dan Aliansi Radio Islam Indonesia proudly presents :

1st INDONESIAN NASHEED AWARD 2011

Sebuah perhelatan akbar pertama di Indonesia, sebuah penghargaan atas karya cipta anak bangsa dalam bernasyid, inilah nominasi untuk 1st Indonesian Nasheed Award :

KATEGORI ACAPELLA
A. LAGU FAVORIT
1. TEBARKAN SALAM – LAUNUN
2. KEKASIH ALLAH – AWAN
3. NASYID MEMANG ASYIK – FATIH
4. MUNAJAT HAMBA – NA’AM
5. RUMUS CANGGIH – JUSTICE VOICE

B. GRUP FAVORIT
1. FATIH
2. LAUNUN
3. AWAN
4. JUSTICE VOICE
5. GRADASI


KATEGORI HAROKI
A. LAGU FAVORIT
1. MERAH SAGA – SHOUTUL HAROKAH
2. SANG MUROBBI – IZZATUL ISLAM
3. KAMI BUKAN TERORIS – IRA
4. BANGKIT NEGERIKU – SHOUTUL HAROKAH
5. GAZA – IZZATUL ISLAM

B. GRUP FAVORIT
1. IZZATUL ISLAM
2. SHOUTUL HAROKAH
3. IRA
4. AS-SYUJA’
5. RUHUL JADID


KATEGORI MUSIK
A. LAGU FAVORIT
1. DOA KALBU – FIKA
2. MUHASABAH CINTA – EDCOUSTIC
3. TAK ADA BEBAN TANPA PUNDAK – TIAR
4. HADAPI HAYATI NIKMATI – SIGMA
5. MAMA BUNDA UMMI APAPUN NAMANYA – THE CS

B. DUO/GRUP FAVORIT
1. EDCOUSTIC
2. SIGMA
3. TASHIRU
4. MAIDANY
5. SNADA

C. SOLOIS FAVORIT
1. TIAR
2. HARIS ISA
3. FIKA
4. IIE
5. OPICK


KATEGORI ISLAMIC ROMANTIC
A. LAGU FAVORIT
1. ISTIKHOROH CINTA – SIGMA
2. NIKAH – ALIEF
3. MENGUKIR CINTA – MAIDANY
4. NANTIKANKU DI BATAS WAKTU – EDCOUSTIC
5. DI UJUNG PENANTIAN – SUBY & INA

B. SOLOIS/DUO/GRUP FAVORIT
1. ALIEF
2. SUBY-INA
3. SIGMA
4. EDCOUSTIC
5. MAIDANY


KATEGORI MANCANEGARA
1. MAHER ZEIN – BARAKALLAH
2. SAMI YUSUF – HEALING
3. SAUJANA – NOTA CINTA
4. UNIC – DEMI CINTA SUCI
5. MAHER ZEIN – INSHA ALLAH

Nominasi tersebut adalah nasyid yang paling banyak direquest oleh peminat nasyid dan masuk ke dalam chart nasyid di radio-radio Islam di Indonesia, yaitu :

1. Sabili on air 1530 AM Jakarta
a. Jadwal request : [SEHATI] Selasa-Sabtu jam 13.00 - 15.00# [DUONAIR] Ahad jam 10.00 - 12.00
b. Jadwal Chart of Nasheed (CONe) Senin jam 13.00 - 15.00

2. Nuris 107.8 FM Tangerang
a. Jadwal Request : SAMARA jam 21.00 - 23.00, Nasyid Online 09.00 - 11.00
b. Jadwal TOP 20 Nasheed: Jum’at Malam 20.00 - 21.00

3. Asy-syafi’iyah 792 am Jakarta
a. Jadwal Request : Senin – Ahad [RESONANSI: 07.00 - 09.00# NASEHAT: 10.00 - 13.00# ZAM-ZAM: 20.30 - 23.00]
b. Jadwal Tangga Nasyid: Sabtu jam 10.30 - 12.30

4. Erdamah 107.7 FM Tangerang
a. Jadwal Request : Senin - Ahad jam 22.00 - 24.00 [call center sms: 0812.8284.6737/tlp: (021) 71682792]
b. Jadwal Tangga Lagu: Sabtu jam 13.00 - 14.30

5. MQFM Bandung 102.7 FM
a. Jadwal Request: Senin – Sabtu jam 12.30 - 15.00 [call center sms: 085793851027/tlp: (021) 2017076]
b. Jadwal Tangga Lagu: Ahad jam 12.30 - 15.00 [Yang Muda Yang Berprestasi]

6. MHFM Solo
a. Jadwal Request : Senin – Ahad, jam 09.00 - 10.30 Kamis dan Ahad [Nasyid Lawas] jam 09.00 - 10.30
b. Jadwal Tangga Lagu : Ahad jam 07.00 - 08.30

7. A-Radio Lampung 101.1 FM
a. Jadwal Request : Senin – Ahad REHAT Siang jam 13.00 - 15.00# REHAT malam jam 20.00 - 22.00
b. Jadwal Tangga Lagu : Ahad jam 15.30 - 17.30

8. Jazirah UMB Bengkulu 104.3 FM
a. Jadwal Request : Senin – Ahad jam 15.00 - 16.00# Kamis malam jam 21.30 - 23.00
b. Jadwal Tangga Lagu : Kamis jam 16.30 - 17.30
Streaming => http://radiojazirah.listen2myradio.com or winamp:http://216.55.143.161.23252/listen.pls

9. DJ FM Dumai 98.9 FM
a. Jadwal Request : Senin – Jum’at [HALO DJ] jam 21.00 - 22.00
: Senin – Jum’at [SALAM DJ] jam 22.00 - 24.00
: call center sms 081378414598/ tlp: (0765) 438696
b. Jadwal Tangga Lagu : Ahad jam 10.00 - 12.00
Streaming => http://radiodjfm.listen2myradio.com
Blog : http://radiodjfmdumai989.blogspot.com

10. Seulaweut Aceh 91 FM
a. Jadwal Request : Senin – Jum’at jam 10.00 - 11 dan 13.00 - 16.00 [call center : sms ke 085260661191]
b. Jadwal Tangga Lagu : Sabtu jam 13.00

11. Stara Radio Majalengka 106.9 FM

Dukung nasyid favorit kalian dengan mengikuti polling untuk menentukan nasyid yang paling favorit di antara yang favorit. Polling akan dilakukan secara 2 tahap, yaitu :
1. Polling di Laa Tahzan TV (http://www.laatahzan.tv/), yang akan dimulai pada Jumat, 14 Januari 2011 sampai 24 Januari 2011 dan,
2. Polling SMS, yang akan dimulai pada Selasa, 25 Januari 2011 – 6 Maret 2011

Pengumuman dan Pemberian award akan dilakukan pada :
Sabtu, 12 Maret 2011
Jam 19.00 – 21.00
Di Panggung Utama Islamic Book Fair, Istora Senayan

Yuk, jadikan Nasyid sebagai budaya Indonesia yang mendunia..”Its All About Nasheed..Nasheed For All”..

Informasi : Epi [08174881313/021-92844388]/Dhea [08176399480/02141727794]

Acara ini terselenggara atas kerjasama :
Forum Silaturahim Nasyid Indonesia dan Aliansi Radio Islam Indonesia

Didukung oleh :
10th Islamic Book Fair
Laa Tahzan TV
Alif TV
Moslem Girls Indonesia
Sabili On Air 1530 AM
Nuris FM
Asy-Syafi’iyah AM
Erdamah FM
Dakta FM
MQFM Bandung
Lita FM Bandung
MHFM Solo
Stara Majalengka
A-Radio Lampung
Jazirah UMB Bengkulu
DJ FM Dumai
Jambi FM
Seulaweut Aceh
Suara HMM Papua

http://aliansiradioislam.blogspot.com/
03.50 | 0 komentar

Yang Tersembunyi Penyebab Kegelapan Hidup

Written By Rudi Abu azka on Senin, 24 Januari 2011 | 22.56


Makin jauh waktu berjalan, manusia kian bingung meraih kebahagiaan. Mata manusia kian kabur terhadap jalan yang menuju kesana. Telinga manusia kian tuli terhadap suara-suara petunjuk. Makna sejati suatu kebahagiaan makin terpolusi.

Usia manusia makin pendek, tersita oleh aktivitasnya untuk mengejar bayangannya sendiri. Ia berlari, bayangan itu pun berlari. Ia diam, bayangan itu pun diam. Persaingan yang tak akan pernah berhenti, dan manusia akan tetap tertinggal oleh bayangannya.

Masya Allah. Masih banyak manusia yang tiada menahu keterbatasannya. Masih banyak manusia yang mengingkari kekurangannya. Masih banyak manusia yang menutupi kelemahannya dengan keangkuhan diri. Masih banyak manusia yang
tidak segan-segan untuk tertawa terkekeh-kekeh diantara kehinaan dirinya. Sehingga matanya menjadi buta, telinganya menjadi tuli. Ia tidak lagi bisa menatap ketiada-batasan Allah. Ia tidak bisa lagi mendengar kesempurnaan suara Allah. Kelebihan Allah tiada pernah dilihatnya, malahan ia tersibuk untuk mengurangi kelebihan Allah itu.

Alam ikhtiar manusia memang teramat sempit, sedikit, tak lebih dari setetes dari lautan kekuasaan Allah. Bahkan seandainya setetes itu diperumpamakan sebagai lautan lagi, maka puncak tertinggi kemampuan manusia tak lebih dari setetes lautan ini. Manusia memang lemah, tak berdaya, terbatas, serba kekurangan. Tapi manusia bisa naik derajatnya ketika ia menyadari segala kekhilafannya, menyadari kehinaan dirinya, dan dengan ketulusan hati mengagungkan Allah, memohon ampunan Allah, merintih dan memelas kasih-Nya.

Maka manusia yang meleburkan kehinaannya ke dalam tungku ke-Maha-an Allah, maka Allah akan mengasihinya, menyayanginya, membelainya, dan Dia tidak akan segan-segan untuk mengangkatnya dari jurang kekerdilannya menuju puncak kemuliaan, memuliakannya. Tapi dasar manusia, tidak bisa belajar dari historis setan yang divonis menjadi penghuni abadi neraka karena kesombongannya. Kebanyakan manusia pun enggan untuk mengakui kelemahannya, menundukkan dirinya, menyujudkan dirinya, dengan tulus menyadari kekerdilannya. Kenapa masih banyak manusia yang menutup-nutupi kehinaannya ? berlaku sombong, mbalelo, membusungkan dadanya, dan sedikitpun tidak punya rasa malu.

Perjalanan manusia senantiasa berada pada pijakan yang tak selamanya nyaman untuk di pijak. Begitu pun dengan roda kehidupan, tak selamanya menempatkan manusia pada posisi yang sama dan statis. Ia terus berputar, berhenti sewaktu-waktu, dan siap memposisikan manusia pada posisi apapun dan di mana pun, entah di atas, tengah, atau pun di bawah.
Ketika roda itu menempatkan diri kita pada posisi di atas, kita pun harus siap dan ridho menerimanya. Karena penempatan posisi tersebut tak lepas dari qodarullah (ketetapan Allah) yang TERBAIK atas diri kita, manusia. Namun, tak semua dari kita mampu bersikap bijak ketika dihadapkan pada qodarullah yang tak sesuai dengan keinginannya. Padahal segala qodarullah itu adalah yang terbaik untuk manusia, namun banyak manusia yang tak mengetahuinya “…boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak tahu. (QS. Al Baqarah : 216)

Untuk menyikapi suatu kondisi di mana posisi kita tidak sesuai dengan keinginan adalah menikmati setiap jengkal dan setiap detik dalam posisi itu. Meskipun kita tengah berada pada bagian roda yang paling bawah, dan diinjak-injak lagi…!!! Ya, menyikapi hal tersebut secara bijak sesuai dengan pernyataan di atas memang bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh kita, manusia… meski itu adalah sesuatu yang sederhana. Tapi kembali lagi pada tabiat manusia. “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah…” (QS. Al Kahfi :54) Wajar dan sangat manusiawi !!!

Tapi kembali lagi pada diri manusia, jika ia memilih untuk tidak ridha dengan qodarullah atas dirinya, berkeluh-kesah bahkan menghujat sang Pemberi Takdir, sesungguhnya ia telah melukai dirinya sendiri.

“Ketika keresahan hidup menggelapkan kehidupan, ke sana-kemari seperti mencari sesuatu yang hilang. Darah pun mengalir tidak teratur, menekan ke atas, membuat pikiran memanas, mengendap di dada, menekan paru-paru sehingga nafas menjadi tak teratur, dada berdebar-debar, menekan balik sang darah. Pikiran berputar secepat-cepatnya, mendobrak masa lalu, menerjang masa depan, merontokkan pundi-pundi langit yang masih kokoh melindungi rahasia kehidupan. Makin jauh waktu berjalan, manusia kian bingung meraih kebahagiaan. Mata kian kabur terhadap jalan menuju “ ke sana”. Telinga kian tuli terhadap suara-suara petunjuk. Makna sejati suatu KEBAHAGIAAN kian terpolusi. Usia kian memendek, tersita oleh aktivitas untuk mengejar bayangan sendiri. Ia berlari, bayanngan itu pun berlari. Ia diam, bayangan itu pun diam.”

Jangankan pahala, salah-salah ia tengah bermaksiat dengan Robb semesta alam…na’udzubillahi min dzalik. Sekuat apakah kemampuan manusia angkuh sedang sesungguhnya ia teramat lemah..?!? Hendak menjadikan segala sesuatu sesuai keinginannya. Padahal segala sesuatu itu adalah kehendak Nya.

Namun jika ia memilih untuk ridha dan sabar, maka lautan pahala dan ampunan sang Kholik terbuka lebar untuknya. Lantas, yang manakah yang akan kita pilih…?!?

Menikmati setiap jengkal bagian dari kehidupan dan setiap detik umur yang kian memendek, membiarkan masa berlalu meninggalkan kita, sedang sesungguhnya kita ketakutan ketika masa itu berlalu begitu saja… adalah hal yang TERBAIK untuk kita, meski jengkal dan detik itu berada pada posisi yang paling bawah dari segala bagian roda kehidupan. Asalkan bukan sebuah kenistaan dan kemaksiatan, kenapa kita harus malu berada pada posisi itu…?!?

Telah sering kita saksikan,posisi puncak roda kehidupan banyak dijadikan jengkal kediaman manusia-manusia yang telah banyak melakukan kerusakan, kenistaan, dan kemaksiatan di muka bumi. Mereka hidup di atas peluh orang-orang yang terzhalimi, sedang mereka seakan tak pernah menyadarinya. Dan ketika kontraknya telah habis, ketika tiada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri, ketika Izrail menjembut, dan menutup buku amalnya, ia pun kebingungan… ke mana ia harus bersembunyi dan dengan apa ia membayar semua itu.

Yang tadinya berbangga dengan harta yang dimiliki, jabatan tinggi, pekerjaan layak, rumah megah, mobil mewah, hingga ia tak peduli dengan saudaranya yang lain bahkan ia menghina dan menginjak-injak saudaranya yang saat itu berada pada posisi jauh di bawahnnya… kini tak dapat lagi menghujat dan mengina, mulutnya telah terkunci rapat, tangan yang digunakan untuk menzhalimi manusia telah kaku… ia pun semakin kebingungan. Itulah akhir dari pemilik jengkal puncak dari roda kehidupan. Na’udzubillah min dzalik.

Jadi tak ada jaminan, jika bahagia di dunia pasti bahagia di akherat. Tidak mustahil, mereka yang tertawa terbahak-bahak di dunia ini kelak menjadi orang yang tangisannya paling kuat di akherat. Dan yang sekarang sering menangis, bisa jadi akan tertawa di akherat kelak. Wallahu a’lam.

Ketahuilah juga, mereka yang banyak hartanya adalah yang paling lama hisabnya, yang paling lama masuk surga, tetapi paling dulu masuk neraka. Karena hisab Allah adalah timbangan yang Maha Sensitif, jadi satu atom pun tidak akan terlewatkan dari pertanggungan jawab. Sedang mereka yang sedikit hartanya, cepat pula hisabnya. Duluan masuk surga dan lebih akhir masuk neraka,karena jalan ke neraka diprioritaskan untuk orang berharta tapi salah dalam meraih dan membelanjakannya. Itulah yang harus mereka bayar terlebih dahulu, belum lagi jika menzhalimi hak-hak saudaranya… Wallahu a’lam

Telah jelas, masalah posisi di dunia tidak perlu diambil pusing. Asal kita dapat menikmati apa-apa yang kita miliki dengan penuh kesyukuran, insyaAllah kita akan bertemu dengan yang namanya “BAHAGIA”. Asal kita dapat memerankan peran kita dengan baik, apapun peran itu… insyaAllah kita telah menunaikan tugas kita sebagai KHALIFAH di muka bumi.

Wahai Diri…
Ketahuilah, yang terbaik untuk dirimu adalah mempersembahkan yang terbaik untuk Robb mu. Dengan itu, sesungguhnya engkau telah melakukan perniagaan yang engkau tak kan merugi sedikit pun di dalamnya Juallah dirimu hanya kepada Allah, meninggikan kalimat Nya, niscaya engkau akan mendapat keuntungan yang teramat besar

Wahai Diri…
Bukankah engkau tahu, bahwasannya Allah mustahil ingkar janji. Lantas apa yang engkau khawatirkan atas perniagaanmu…?!?

Wahai Diri…
Sesungguhnya Allah telah memberimu karunia yang sangat besar dan akan menempatkanmu pada tempat sesuai amalmu. Sebuah keniscayaan, engkau akan di beri rahmat dan jannah Nya, jika engkau menjual dirimu HANYA kepada Allah.

“Sesungguhnya Allah telah MEMBELI dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberi ganti SURGA untuk mereka. Mereka BERPERANG di jalan Allah, lalu mereka membunuh/ terbunuh. Itu menjadi JANJI BENAR dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih MENEPATI JANJI (selain) dari pada) Allah? Maka BERGEMBIRALAH dengan JUAL BELI YANG TELAH kaliyan lakukan, dan itulah KEMENANGAN yang BESAR.” (QS. At Taubah: 111)
22.56 | 3 komentar

Dibalik Kegelapan

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 23 Januari 2011 | 00.04



ALLOH SWT MENGHENDAKI ORANG BERIMAN MENINGKAT DERAJATNYA

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh : 155)

Alloh SWT menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian,
siapa diantara manusia yang terbaik amalannya.
Jiwa manusia dapat menjadi suci setelah ditempa, Ibnul Jauzi mengungkapkan;
“Orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan abadi tanpa ujian
dan cobaan, berarti belum mengenal arti pasrah diri kepada Alloh SWT.”

Seorang mukmin diberi ujian sebagai tempaan baginya bukan siksaan,
terkadang cobaan itu ada dalam kesenangan, terkadang juga ada dalam kesusahan.
Alloh SWT berfirman;
“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk,
agar mereka kembali kepada kebenaran…” (QS. Al A’roof : 168)
Jangan merasa aman dengan kesenangan, karena bisa saja ia menimbulkan kemudhorotan,
jangan merasa putus asa karena kesulitan, karena bisa jadi akan mendatangkan kesenangan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Alloh SWT megetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 216)
Orang-orang mengalami kebinasaan karena tidak memiliki ketabahan,
seorang mukmin yang kuat akan tegar menghadapi beban berat,
hatinya tidak akan berubah dan lisannya tidak akan mengutuk.
Orang-orang berakal selalu menunjukkan ketegaran dalam menghadapi musibah,
karena yakin dengan janji Alloh SWT ini;
“Dan sesungguhnya Kami akan member balasan kepada oang-orang yang sabar
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 96)

“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,
dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang Kami
rizkikan kepada mereka, mereka menginfakkannya.” (QS. Al Qoshosh : 54)
Alloh SWT tidak pernah menahan sesuatu bagi orang yang tertimpa musibah,
melainkan karena Alloh SWT akan memberi sesuatu yang lain.
Alloh SWT hanya menguji untuk memberikan keselamatan,
Alloh SWT hanya memberi cobaan untuk membersihkan diri.
Cobaaan justru akan mengangkat derajat orang-orang yang sholih
dan meningkatkan pahala mereka.

Sa’ad bin Abi Waqqosh mengungkapkan; aku pernah bertanya, “Wahai Rosululloh !
Siapakah orang yang paling berat cobaannya ?”
Beliau SAW menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang sholih,
kemudian yang sesudah mereka secara berurut menurut tingkat kesholihannya.
Seseorang akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya,
bila ia kuat..akan ditambah cobaan baginya, kalau ia lemah dalam agamanya,
akan diringankan cobaan baginya.
Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan sampai ia berjalan dimuka bumi ini
tanpa dosa sedikitpun.” (HR. Bukhori)

Seorang ulama mengungkapkan; “Orang yang diciptakan untuk masuk syurga,
pasti akan merasakan banyak kesulitan.
Musibah yang sesungguhnya adalah yang menimpa agama seseorang,
Sementara musibah-musibah selain itu merupakan jalan keselamatan baginya,
Ada yang berfungsi meningkatkan pahala, ada yang menjadi pengampunan dosa.
Orang yang benar-benar tertimpa musibah adalah mereka yang terhalang
dari mendapatkan pahala.

Kalau bukan karena kesusahan, manusia tidak bisa mengharapkan saat-saat senang.
Menepis segala kesedihan adalah dengan ridho terhadap takdir
dan dengan sholat dimalam yang panjang.
Segala kesulitan pasti akan hilang, tidak perlu putus asa hanya karena musibah
yang datang bertubi-tubi.

Bersujud kepada Alloh SWT, pasti kesulitan akan sirna selekasnya.
Setiap orang yang penuh dengan ketabahan, pasti akan mendapat jalan keluar.”
00.04 | 0 komentar

Kegelapan Malam Takkan Selamanya

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 22 Januari 2011 | 17.52


Waktu terus berjaan bagaikan awan, tak peduli dan tak pernah mau menunggu siapapun yang ada dibelakangnya. Hingga seorang penyair mengatakan; “Berhenti tidak ada tempat di jalan ini.” Dan yang lain mengatakan; “Janganlah duduk berpangku tangan, sambil berkata zaman telah menggilasku.”

Ada kalanya hidup terasa jenuh dan membosankan, hari-hari yang berlalu seakan tak ada arti, kegagalan demi kegagalan..cobaan demi cobaan yang tiada henti, terkadang bersahabat karib dengan sangat setia.

Diripun terseret dalam lorong kegelapan yang sangat pekat, terlalu panjang seakan tiada berkesudahan. Bunuh diri jalan pintas hina yang ditempuh oleh orang-orang yang tidak memiliki keimanan, belum tentu yang miskin..terkadang justru yang bergelimang harta benda, bertahtakan kemewahan dan kemasyhuran.

Tipu daya dunia memang memikat namun terkadang mematikan, tentu saja itu buat orang-orang yang tiada keimanan, tidak tahu arti hidup, tujuan dan kemana hendak melangkah..kemana pula berakhir perjalanannya.

Lain halnya bagi orang-orang ang dihatinya ada keimanan kepada Sang Pencipta, keimanan dan keyakinannya bagaikan pelita yang tak pernah padam, dalam kondisi lapang maupun terhimpit, bahagia maupun menderita tak pernah terlepas hidupnya dari bimbingan Alloh SWT.

Ketika kegelapan menyelimuti, keyakinannya tetap teguh, tidak goyah…pantang putus asa. Masih ada tempat kembali, tempat memohon, tempat meminta…dialah Alloh SWT.
17.52 | 2 komentar

Memilih Jejak Ke Syurga Atau Ke Neraka

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 21 Januari 2011 | 09.55


Kita sekarang dihidupkan oleh Allah, di bumi Allah dan di dalam zaman yang Allah tentukan. Selepas itu kita akan dikembalikan, disadari atau tidak ke salah satu daripada dua negeri yang kekal dan abadi yaitu syurga atau neraka.

Semua manusia sedang berjalan ke tujuan yang dipilihnya sendiri - syurga atau neraka. Allah menyediakan dua jalan untuk kita pilih. Kembali kepada mansuia untuk memilih apakah jejak ke syurga atau jejak ke neraka.

Namun begitu, Allah sudah memberitahu kita di dalam Al-Quran, tentang betapa nikmatnya kehidupan dan pengalaman manis di syurga. Begitu juga dijelaskan betapa azabnya kehidupan dan pengalaman ngeri di neraka. Nabi Muhammad saw. juga menguatkan lagi melalui hadith-hadithnya yang masih segar dibaca dan didengar hingga hari ini.

Sebagai makhluk yang diberikan kesempurnaan akal fikiran, manusia bisa berfikir aibat dan resiko yang bakal diterima akibat dari sesuatu tindakannya. Setiap sesuatu itu ada sebab-musababnya. Allah masukkan seseorang ke syurga karena dalam hidupnya di dunia ini, dia memilih jalan ke syurga. Begitu juga Allah masukkan seseorang itu ke neraka karena dalam hidupnya dia sengaja memilih jalan ke neraka. Terpulang kepada manusia hendak mengikuti jejak syurga atau jejak neraka...

Pilih dan ikutlah jalan ke syurga sebagaimana yang diuraikan di bawah:

-beramal semasa muda
-Tolong menolong karena Allah
-jauhi diri dan keluarga dari zina
-mendidik anak kewajiban beragama
-mendirikan solat wajib dan sunat
-bertahajjud di tengah malam
-menangis dan menginsafi diri kerana takut akan ALlah
-bersedekah, menderma dan berwakaf secara sembunyi-sembunyi
-berpaut hati pada masjid
-senantiasa belajar hal-ihwal tentang agama
-shalat berjamaah
-selalu berada di tempat pengajian agama
-mengunjungi orang sakit
-mengiringi jenazah hingga ke kubur
-mengadakan upacara atau peringatan cara Islam
-mendamaikan yang bertengkar
-menolong anak yatim dan miskin
-dan lain-lain perkara kebajikan.

Pada waktu yang sama hindarilah jejak neraka yang dijelaskan di bawah:

-tidak mengajar anak hal-hal keagamaan
-kaya tapi bakhil
-menipu
-mengambil arak, judi dan yang memabukkan
-mengadakan majlis maksiat
-berzina
-memakan harta anak yatim
-meremehkan atau menunda-nunda shalat
-tidak mengeluarkan zakat
-panjang angan-angan dan tak mau bertaubat
-meninggalkan shalat
-durhaka kepada ibu bapak
-berbuat fitnah
-suami dayus (membebaskan isteri)
-ibu bapa dayus (membebaskan anak)
-makan harta haram
-berbohong dan berdusta
-menggunakan sihir
-dengki dan khianat

Sementara manusia diberi peluang oleh Allah untuk memilih jalan yang menentukan nasib kita pada masa hadapan, marilah sama-sama kita saling bantu-membantu menegakkan amar makruf dan nahi mungkar yang dewasa ini sudah kurang berfungsi dan tidak diberi keutamaan lagi.

Hidup sangat sementara di dunia, tidak tahu saat berakhir. Setiap langkah menentukan arah perjalanan emnuju antara dua pilihan. Percaya atau tidak, zaman ini agaknya tidak mudah untuk benar-benar meyakini. Sebagaimana tercermin dalam kehidupan dari waktu ke waktu.

Banyak yang tak sadar kearah mana setiap langkahnya menuju. Termasuk kita.
09.55 | 2 komentar

Kita Berjalan Allah Berlari

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 20 Januari 2011 | 21.07


Rintihan hati inilah tanda kita hamba yang tak punya kuasa apa-apa untuk menghalang kudrat dan iradahNya. Tak berupaya menepis Qadak dan QadarNya. Hanya belas kasihan Allah yang diharapkan dapat menjauhkan diri daripada segala bala bencana. Hati yang tidak pernah ingat, apalagi merintih kepada Allah, adalah hati seorang tuan.

Adakalanya segaja Allah timpakan ujian yang berat ke atas hambaNya. Ketika itu hati si hamba akan merintih walaupun bibir boleh mengukir senyum. Kadang-kadang
ujian datang silih berganti; seolah-olah Allah tidak mendengar rintihan hati hambaNya.

Sebenarnya, Allah rindu untuk mendengar rintihan hati si hamba. Tanpa ujian, hati tidak ingat Allah dan ia berasa tenteram, hingga hilanglah rasa kehambaan daripada dalam diri. Lalu kerana itu, Allah datangkan ujian silih berganti agar rintihan hati si hamba tidak terputus kepada Tuhannya.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasullullah SAW bersabda : ”Allah SWT berfirman : ”Aku dengan persangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berzdikir kepada-Ku, dan Allah SWT lebih sendang dengan taubat seorang manusia dari pada seorang kalian menemukan kembali perbekalanya di pada tandus. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghapd kepada-Ku dengan berjalan maka Aku menemuinya dengan berlari”. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim).
Hukama berkata: “Allah lebih suka mendengar rintihan hamba yang berdosa (termasuk rintihan hati) daripada seorang abid yang duduk beribadah.”

Rasulullah SAW bersabda "Allah SWT berfirman: Wahai anak Adam, bangunlah kepada Ku niscaya Aku akan berjalan kepadamu, dan berjalanlah kepada Ku niscaya Aku datang kepadamu dengan berlari". (Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya yang shahih)
21.07 | 1 komentar

Mengasihi Orang Yang Berdosa

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 19 Januari 2011 | 22.14

Masih segar dalam ingatan kaum Muslimin tatkala Rasulullah bersabda, “Aku bermimpi dalam tidur sedang memegang segelas susu. Kuminum hampir habis susu itu sampai rasa kenyang menyelusup di kuku-kukuku. Lalu sisanya kuberikan kepada Umar bin Khatab.” Waktu itu Seorang sahabat bertanya, “Apa takwilnya, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ilmu.” Nyatanya, semasa memegang jawatan khalifah, Umar bin Khatab terkenal dengan kekerasan dan kegalakkannya. Akan tetapi, ilmunya menerangi semua sikap hidupnya, sehingga dalam memutuskan sesuatu perkara, yang dipedomaninya adalah kecerdasan pemikirannya, bukan sentuhan perasaannya. Selaku penguasa ia tidak terpengaruh oleh kemarahannya, kesedihannya atau kepentingan peribadi dan keluarganya.

Ia pernah berkata, “Membatalkan hukuman dengan diam-diam, bagiku lebih baik daripada melaksanakan hukuman dengan diam-diam.”
Sebab, membatalkan hukuman biasanya dilandasi oleh kebijaksanaan dan keampunan, sedangkan menjatuhkan hukuman membawa kepada rasa benci dan balas dendam. Apalagi jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Seorang ayah pada suatu saat datang kepada umar dan mengadu,” Anak perempuanku, wahai Amirul Mukminin, pernah terjerumus ke dalam dosa besar. Ia patah hati, lantas mengambil pisau dan mengerat lehernya sendiri. Untung aku mencegahnya. Anak itu kuselamatkan, lukanya kurawat dengan cermat hingga ia segar bugar kembali.”

Umar merungut, “em, mujur anak engkau itu. Bunuh diri adalah tanda kekufuran. Ia harus bertobat.” Ayah itu menjawab, “ Memang itulah yang dikerjakannya sesudah itu. Ia menyesal dan bertobat dengan sungguh-sungguh. Sekarang ia dipinang seorang
pemuda untuk menjadi isterinya. Apakah dosa itu harus kuceritakan kepada calon suaminya, wahai Amirul Mukminin?”

Umar bertitah lantang,” Apakah engkau bermaksud membongkar aib yang sengaja telah ditutupi Allah takdir-Nya? Demi Allah, seandainya kau melakukan hal itu, akan kuhukum engkau sedemikian rupa di depan masyarakat sehingga menjadi contoh yang pahit bagi yang lain. Tidak, jangan kau ungkap kembali cacat yang sudah terhapus itu. Nikahkanlah puteri engkau sebagaimana layaknya seorang perempuan terhormat dan Mulimat yang taat.”

Mungkin itukah yang dinamakan kearifan dan tumbuh dari rohani yang bersih dan adil? Umar tidak segan-segan menceritakan kesalahannya kepada hakim dan meminta petanda mencabuknya sesuai dengan besar kecil kesalahan yang dilakukannya. Di punggungnya membekas jalur-jalur cemeti petanda itu, tanpa sekelumitpun Umar menampilkan kuasanya sebagai khalifah untuk diberi
keringanan. Namun, umar tidak ingin kecacatan orang lain diperhebohkan.

Sebab, terhadap orang bersalah, yang diharapkan adalah memperbaiki, bukan memerosokkannya ke dalam kejahatan yang lebih besar. Kepada penjahat yang telah selesai menjalani hukumannya, seharusnya masyarakat memberi kesempatan untuk menebus dosanya di masa lalu, bukan mengasingkannya sehingga terpaksa mereka terperangkap ke dalam keburukan kembali.

Seorang lelaki seraya terengah-engah datang menghadap Umar. Mukanya merah padam dan suaranya menggeletar manakala ia bercerita, “Wahai Amirul Mukminin. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, seorang pemuda Fulan dan pemudi Fulanah berpelukan dengan mesra di belakang pohon kurma.” Lelaki itu berharap Umar akan memanggil kedua asyik masyuk itu dan memerintahkan petanda supaya menderanya dengan cemeti.

Ternyata tidak. Umar memegang leher baju lelaki itu. Sambil memukulnya dengan gagang pedang, Umar mengherdik, “ Kenapa engkau tidak menutupi kejelekan mereka dan berusaha agar mereka bertobat? Tidakkah kau ingat akan sabda Rasulullah s.a.w.,” Siapa yang menutupi aib saudarannya, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan akhirat?Dalam pikiran Umar, bila kedua pemuda-pemudi itu dimalukan di tengah orang ramai, boleh jadi mereka akan nekad lantaran tidak tahu kemana hendak menyembunyikan diri.

Bukankah corak maksiat yang lebih parah akan mengurung mereka dalam nista berterusan? Pada waktu yang lain, seorang Muslim diseret ke hadapannya karena telah mengerjakan suatu dosa yang patut menerima hukuman cambuk. Tiga orang saksi mata telah mengemukakan kenyataan yang membuktikan kesalahan lelaki Muslim itu. Tinggal seorang lagi yang merupakan penentuan, apakah hukuman dera harus dijatuhkan atau dikurungkan.

Ketika saksi keempat itu diajukan, Umar berkata, “ Aku menunggu seorang hamba beriman yang semoga Allah tidak akan mengungkapkan kejelekan sesama Muslim dengan kesaksiannya.” Dengan lega saksi keempat itu menyatakan, “ Saya tidak melihat suatu kesalahan yang menyebabkan lelaki itu wajib dihukum cambuk.” Umar pun ikut bernafas lega.
22.14 | 0 komentar

Ketika Cahaya Keimanan Memancar Dalam Jiwa

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 18 Januari 2011 | 03.14

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya cahaya keyakinan itu apabila telah masuk kedalam hati, maka lapanglah dada menerimanya". Ditanyakan kepada Rasululllah "Apakah hal seperti itu ada tanda-tandanya"? Jawab Nabi SAW, "Ya, engkau menghindarkan dirimu dari tipuan dunia, serta bersegera mendekati akhirat yang abadi dan bersiap-siaplah menunggu datangnya maut".

Sahabat Anas ra bertutur, ketika Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan berjumpa dengan seorang pemuda Anshar, beliau bertanya,”Bagaimana keadaanmu pagi ini ya Haritsah? Ia menjawab,”Aku menjadi seorang mukmin yang sungguh-sungguh.”mendengar ini Rasulullah saw ber kata : Ya Rasulullah, jiwaku ini sangat bosan melihat keadaan dunia ini,lalu aku bangun tengah malam dan berpuasa di tengah hari. Saat ini seakan-akan aku berhadapan dengan Arasy Allah, dan melihat ahli syurga yang sedang bersilaturahmi. Demikian juga terbayang olehku bagaimana ahli neraka itu sedang di siksa dan merintih kesakitan.”

Rasulullah saw,pun menjelaskan, Engkau telah melihat semua itu, maka hendaklah tetap pendirianmu. Engkau telah dianugerahi oleh Allah cahaya keimanan dalam hatimu”. Haritsah memohon kepada Rasulullah, agar didoakan untuk mendapati mati syahid. Lalu Rasulullah berdoa untuk Haritsah. Ketika pada suatu masa datanglah perintah dari Rasulullah bagi para pemuda untuk bersiap jihad fisabilillah, maka Harishalah yang pertama mendaftarkan dirinya. Dan iapun syahid dalam suatu pertempuran melawan orang kafir.

Ketika ibunya mendengar berita tewasnya Haritsah sebagai suhada, ia segera menjumpai Rasulullah saw. Sang ibu yang sangat mencintai putranya ini bertanya,”Ya Rasulullah, benarkah berita tentang kematian Haritsah? Jika ia di syurga aku tidak akan menyesal dan tidak akan menangis seumur hidupku di dunia ini. Rasulullah pun menyenangkan hati ibu ini, dengan jawaban,”Harithsah telah masuk syurga”,bukan hanya satu syurga akan tetapi syurga didalam syurga-syurga. Ia telah mencapai syurga firdaus yang sangat tinggi. Ibu Haritsah ini pun kembali dengan senyum-senyum sambil berkata “ Sangatlah beruntung kau wahai anakku” (Mutu Manikam Kitab Al-Hikam Syekh Ahmad Athailah)

Jadi kalau Allah sudah memberi nur cahaya ke hati seseorang maka ciri yang khas adalah akherat begitu terasa benarnya, Terasa yakinnya apa yang diancamkan Allah tentang neraka terasa bahayanya, terasa takutnya,
Akibatnya tidak sedap terhadap dunia yang bukan berarti tidak punya dunia, tapi tidak menarik hatinya.
Ciri orang yang sudah dibuka hatinya dan diberi nur oleh Allah;
1. Melihat Akherat itu nyata, terbayang di akhirat bisa berjumpa dengan Allah dan Rasulullah serta mempesona dirinya. Begitu juga terbayang orang-orang yang membara di dalam neraka
2. Melihat dunia tidak menarik, kedudukan, pangkatndan jabatan hanya dianggap assesoris.
3. Berhitung mati, ketika mau tidur senantiasa berfikir,”Jangan-jangan saya mati malam ini? Menurut Rasul orang yang tidur dalam keadaan berdzikir maka sepanjang tidurya dianggap dzikir.

Maka, ketika Rasul suatu saat ditanya”Ya Rasul siapa orang yang paling cerdas? Yang paling cerdas adalah yang paling banyak ingat mati dan paling banyak mempersiapkan dirinya untuk mati...

Wallahu`alam
Semoga bermanfaat..
03.14 | 0 komentar

Stigmatisasi dan Penyesatan dalam Film “KHALIFAH”

Written By Rudi Abu azka on Senin, 17 Januari 2011 | 07.48


Apapun dalih yang menjadi latar belakang pembuatan film “Khalifah” yang dimaksudkan sebagai film layar lebar pertama di awal 2011, ada beberapa hal yang harus diwaspadai karena akan memunculkan bias persepsi masyarakat.

Film yang dirilis tanggal 1 Januari 2011 ini berjudul Khalifah. Diambil dari nama tokoh perempuan dalam film. Suaminya digambarkan sebagai seorang muslim radikal. Yang mewajibkan istrinya untuk mengenakan jilbab dan cadar. Tokoh perempuan dalam film ini digambarkan selain menerima kekerasan dari suaminya, juga mendapat tekanan dari masyarakat serta polisi karena dengan cadarnya ia dipandang sebagai bagian dari jaringan teroris.

Film besutan Nurman Hakim, yang katanya jebolan pesantren ini, nyatanya tidak sekedar membawa pesan tentang cinta dan pengabdian seorang perempuan kepada suaminya.

Pertama, penggunaan judul Khalifah sendiri telah memiliki pesan tersendiri. Sang sutradara mengakui bahwa, ia pernah ke Timur Tengah serta menemukan bahwa di Timur Tengah seorang perempuan tidak boleh memiliki nama khalifah. Bahkan seorang TKW asal Indonesia yang bernama khalifah terpaksa harus mengganti namanya. Pemilihan nama khalifah dalam film ini adalah menjadi bagian dari opini feminisme tentang kesetaraan hak pria-wanita, termasuk dalam hal nama. Tidak ada salahnya perempuan menggunakan nama khalifah. Barangkali akan lebih tepat untuk disampaikan kepada sutradara sekaligus penulis skenarionya (Nurman Hakim sendiri), bahwa mengapa tidak menuntut agar laki-laki menggunakan nama Hindun. Pemahaman secara bahasa arab sendiri yang menunjukkan bahwa khalifah merujuk pada sosok laki-laki, sama saja dengan hindun yang merujuk pada sosok perempuan.

Kedua, adalah upaya menyesatkan kata “khalifah” yang selama ini difahami dalam khazanah ilmu Islam sebagai imaratul muslimin atau kepemimpinan kaum muslimin, dengan laki-laki sebagai salah satu syarat pemilihannya. Kaum muslimin yang awam dengan istilah khalifah, karena telah lama kehilangan fakta dan gambaran tentang kepemimpinan kaum muslimin ini, akan lebih familiar dengan sosok “khalifah” yang diperankan oleh Marsha Timothy. Adapun Marsha Timothy, yang dalam film menampilkan sosok seorang muslimah “baik-baik” yang mengenakan jilbab dan cadar, dalam kehidupan aslinya jauh dari representasi seorang perempuan Islam sama sekali. Sehingga jilbab dan cadar yang ditampilkan dalam film, lebih terlihat untuk sekedar mengolok-olok Islam.

Ketiga stigmatisasi jilbab dan cadar yang lebih kepada pemahaman kaum muslim radikal (yang sering diidentikkan dengan ideologi teroris). Bahwa jilbab dan cadar adalah simbol kesadaran ketaatan kepada hukum-hukum syara’ sebagai seorang muslimah, barangkali jauh dari pesan film ini.

Keempat, pemetaan Islam menjadi radikal dan moderat itu sendiri, sebenarnya menjadi pesan terpenting dalam film ini. Islam yang ramah, Islam yang nyaman, Islam yang tidak menyiksa perempuan, Islam yang memberi kebebasan untuk mengenakan jilbab atau melepasnya, adalah Islam yang diinginkan oleh pembuat pesan. Dan Islam yang seperti itu, bukanlah Islam radikal. Maka jadilah Islam yang moderat, yang mampu berdampingan dengan siapa saja di alam demokrasi.

Islam radikal adalah Islam yang terlalu fanatik karena terikat dengan literal nash-nash al Qur’an dan Hadits. Jadilah Islam yang moderat, yang kontekstual, yang mampu menerjemahkan pesan-pesan keagamaan dalam sistem demokrasi sekuler.

Opini menyesatkan memang bisa hadir dalam penampilan ramah dan seolah-olah bijak. Sebagaimana sosok iblis laknatullah alaih, ketika merayu dan menggoda Adam dan Hawa untuk melanggar larangan Allah SWT, yakni mendekati pohon dan memakan buah terlarang (QS al Baqarah: 36)

Opini menyesatkan hadir di abad ini, dalam pentas-pentas seni, karya-karya budaya, diskusi-diskusi berlabel cendekia. Film “khalifah” adalah bentuk stigmatisasi negatif Islam sekaligus pesan menyesatkan di awal tahun 2011 ini. Maka, waspadalah! [Lathifah Musa]

Mediaislamnet
07.48 | 0 komentar

Terpisah Dari Allah Terpinggir Dari Manusia

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 16 Januari 2011 | 14.50

Terkadang diri ini termangu sendirian sambil hati bercakap-cakap dan tertanya-tanya mencari jawaban yang tidak pasti. “Isyy.., kenapa rasa sunyi sangat hati ini?”, “Hmm, kenapa rasa ini jauh sekali dari Allah. Ini tak kena, itu tak kena. Semuanya terasa serba tak kena. Apakah Allah sudah berlepas tangan dariku? Astaghfirullahal ‘Azhim.

Rasa-rasa seperti ini acapkali muncul dan menghantui diri. Tidak pandang siapa, dan tidak lain sebabnya adalah dari diri sendiri. Dosa dan maksiat yang kita lakukan selama ini, itulah puncak dan sebab musababnya. Maka, baik sadar atau tidak, dosa dan maksiat telah menjadikan hubungan kita dengan Allah semakin merenggang dan langsung menjauhkan kita dari limpahan rahmat-Nya.

Sungguh jiwa tidak bsa menerima petaka ini dan hati nurani bisa merasa cukup tidak tenang dengan situasi ini. Walhal terpisah dari ibu kandung sendiri pun sudah terasa haru dan tidak karuan. Ini pula terpisah dan jauh dari rahmat Allah s.w.t., Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Seandainya dikumpulkan semua kelazatan dan kenikmatan duniawi ini dengan satu tujuan untuk menggembirakan hati dan mengeluarkannya dari beban penderitaan karena terpisah dari rahmat Allah itu, niscaya ia tidak bisa menghilangkan segala kedukaan dan penderitaan tersebut, sebaliknya ia hanya akan menambah beban dan tekanan pada jiwa yang sudah tersiksa.

Penderitaan dan kepahitan karena berjauhan dan terpisah dari Allah ini hanya dapat dirasai dan ditangisi oleh insan yang hidup hati nuraninya. Namun tidak bagi yang telah mati hatinya. Orang yang mati hatinya tidak lebih bagai bangkai yang berjalan. Ia tidak sensitif dengan apa-apa lagi. Benar sekali ungkapan si bijaksana yang menyebutkan: “Luka tidak memberikan sedikitpun kesakitan lagi kepada hati yang telah mati.”

Bagaimana diri ini? Pernahkah merasa bahwa diri ini amat jauh dari Allah s.w.t. yaitu tatkala tercebur ke dalam kancah dosa dan maksiat? Memang pernahlah jawabnya. Karena dosa, kita yang telah Islam ini pun bisa terlempar jauh dan terpinggir dari rahmat Allah s.w.t., bayangkan betapa jauh dan sayupnya rahmat dan pandangan Allah pada seseorang yang kafir dan syirik pada-Nya?

Hakikatnya diri sangat memerlukan Allah di dalam hidup kita. Tidak rela terpisah dari pandangan dan rahmat Allah walaupun sesaat. Kalau Allah mula berlepas tangan dari, bermakna bermulalah detik kemusnahan.

Ingat! Bahwa syaitan dan nafsu senantiasa berusaha mewujudkan jalan dosa yang menjadi kabut hijab antara hamba dan Allah yang Esa.

Terpinggir dari manusia

Sudah menderita terpisah berjauhan dari Allah, dosa juga melilitkan kepiluan yang amat karena terpinggir dari manusia. Manusia yang bagaimana? Manusia yang beriman, bertakwa dan beramal soleh. Sekali lagi, dia bukan dipinggir maupun dipisahkan oleh mereka. Sebaliknya dia sendiri menjadi terpisah dan terpinggir dari kelompok ‘orang-orang Allah’ itu karena bahana dosa yang digulitinya.

Karena keterpinggiran itu, dia akan semakin jauh dari majlis-majlis mereka. Karena kejauhan itu, dia tidak dapat mengambil faedah-faedah kebenaran dari mereka. Yang berlaku, dia semakin mendekatkan diri dengan kumpulan syaitan menurut kadar kejauhan yang dirasakan dan dialami olehnya.

Kini, hari demi hari terasa semakin menekan dan menyesak di dalam hati. Tidak semena-mena, akibat dosa itu, perasaan benci dan amarah menyelinap masuk ke dalam hatinya. Lalu ia bergolak bagai dirasuk hantu syaitan. Tidak ada apa-apa anak dan isterinya dibenci. Malah, karena bahana dosa itu, ia sampai ke tahap benci terhadap dirinya sendiri.

Seorang ulama menyingkapkan: “Jika aku melakukan maksiat kepada Allah, akan terlihatlah kesannya pada kendaraan dan isteriku.”

Kisah tiga sahabat yang dihukum Allah karena tidak menghadirkan diri dalam peperangan Tabuk tanpa uzur syar'ie, wajar menjadi teladan buat kita semua. Dalam tempo tiga bulan, mereka merasa kehidupan yang cukup pahit dan menyiksa. Sudah dimurkai Allah s.w.t., mereka juga turut dipinggirkan oleh Rasulullah s.a.w. dan seluruh umat Islam.

Selama tempo itu, mereka menangis siang dan malam, tidak henti-hentinya memohon ampunan Allah, sehingga datanglah keampunan Allah. Kenapa mereka menangis dan merintih kepada Allah? Karena mereka tidak mau terpisah dari rahmat-Nya. Sekali lagi, itulah kesan dosa dan ia hanya dirasa dan diderita oleh mereka yang punyai mata hati.
14.50 | 0 komentar

Manusia Paling Rugi & Amal Perbuatannya Sia-Sia

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 15 Januari 2011 | 13.58

Firman Allah Ta’ala yg artinya “Katakanlah ‘Maukah kamu Kami beritahukan tentang orang-orang yg paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yg telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adl orang-orang yg kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan perjumpaan dengan Dia maka terhapuslah amalan-amalan mereka dan Kami tidak mengadakan penimbangan amal bagi mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu adalah neraka Jahannam disebabkan kekafiran mereka dan krn mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olokan’. (Q.S Al kahfi:103-105)”
Manusia dalam berbuat atau beramal dalam kehidupan dunia ini bisa kita bagi pada dua kategori utama.
Pertama manusia yg melandaskan amalnya atas dasar iman kepada Sang Pencipta alam semesta Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Kedua orang yg beramal tetapi kafir terhadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Kemudian kelompok pertama bisa kita bagi lagi menjadi empat
Yang berbuat kebajikan dgn landasan pengetahuan. Kelompok ini tentu saja menjadi orang yg beruntung krn orang yg tahu kebaikan dan bagaimana melakukannya niscaya dibimbing Allah dalam tindakannya dan diberi ganjaran yg berlipat ganda.
Yang berbuat kebajikan tanpa landasan pengetahuan.Kelompok ini merupakan kelompok yg sifatnya spekulasi krn seseorang yg berbuat suatu kebaikan tanpa dilandasi ilmu yg benar bisa jadi ia tepat sasaran bisa jadi pula salah sasaran. Tetapi hal itu cenderung menyesatkan pelakunya bahkan kepada orang lain krn tanpa landasan ilmu.
Yang tak berbuat kebajikan karena tidak tahu. Kelompok ini tentu saja telah menyia-nyiakan potensi yg telah dikaruniakan Allah kepadanya utk beramal di muka bumi ini dgn sebaik-baiknya.
Yang tak berbuat kebajikan walaupun punya pengetahuan tentang kebajikan. Kelompok ini juga telah menyia-nyiakan ilmu pengetahuan dan potensi lain yg dikaruniakan Allah kepadanya. Meski demikian setidaknya mereka punya suatu keuntungan dgn iman yg ada pada mereka. Itu tetap lebih baik dari pada kekufuran dgn amal yg banyak. Namun hal ini tidak boleh menjadikan kita terpaku pada hal-hal yg demikian. Seorang muslim harus dinamis dan berkembang. Dari tidak tahu harus menjadi tahu dari tidak berbuat menjadi berbuat.
Kemudian kita lirik kelompok kedua yaitu orang-orang kafir. Mereka pun terbagi empat yaitu
Yang berbuat kebajikan dgn pengetahuan mereka tentang kebajikan.
Yang berbuat dan menyangka bahwa itu adalah kebajikan.
Yang tidak berbuat kebajikan dan tidak tahu kebajikan
Yang tidak berbuat kebajikan walaupun tahu kebajikan.
Mereka semua dengan kekafirannya sebenarnya sudah termasuk orang yg merugi. Mereka telah menghapus amal mereka sendiri. Namun yang paling merugi tentunya adalah mereka yg telah berbuat banyak dan menyangka bahwa ia telah berbuat sebaik mungkin. Ternyata begitu datang hari kiamat yg pada hari itu segala amalan akan dihisab ia mendapati segala amal yg diperbuatnya sia-sia dan terhapus.

Betapa sangat meruginya orang yg demikian krn sudah keluar segala daya upaya baik tenaga pikiran harta waktu dan sebagainya selama di dunia tetapi semua itu sia-sia di akhirat kelak. Sehingga dgn tiadanya amalan mereka tidak perlu lagi ditimbang krn memang tidak ada yg akan ditimbang. Ini semua karena kekafiran mereka terhadap Allah ayat-ayat-Nya hari akhir yg merupakan hari perjumpaan dgn Allah dan segala amal perbuatan makhlukdi beri ganjaran. Amal perbuatan mereka Allah perumpamakan dgn fatamorgana yg berada di padang pasir. Dari jauh disangka air begitu didekati ternyata tidak ada apa-apa. Sesungguhnya amal mereka telah diberikan di dunia sesuai dgn niat mereka. Bukankah mereka berbuat agar dikenang generasi-generasi berikutnya? Hal itu sudah mereka dapatkan. Bukankah mereka telah mendapatkan ketenaran yg mereka inginkan dari kebaikan mereka? Masih banyak lagi motivasi mereka yg tentu saja tidak satu pun karena Allah karena memang mereka tidak beriman kepada-Nya.

Namun dunia tidak selalu memberikan yg memuaskan sehingga mereka semuanya tidak mendapatkan keinginan mereka. Ini adalah sebuah fenomena yg dapat kita saksikan tiap saat pada kehidupan orang-orang kafir. Banyak di antara mereka yg menyumbang ribuan jutaan bahkan milyaran dolar utk kemanusiaan dan sebagainya. Banyak yg memperjuangkan kebajikan di mana-mana dengan segala atributnya. Padahal sesungguhnya mereka tertipu dgn semuanya itu. Mereka berbuat kebajikan sesama makhluk namun di saat bersamaan mereka kafir terhadap Pencipta mereka Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Mereka telah menjadikan ayat-ayat Allah dan para rasul-Nya sebagai bahan olok-olokan. Lihatlah bagaimana para kuffar itu menertawakan Islam ajarannya serta kaum muslimin. Ayat-ayat Allah mereka jadikan bahan ejekan dalam diskusi seminar tulisan dan berbagai macam cara lainnya. Ayat-ayat Allah terlalu nyata utk diingkari terlalu mulia utk dilecehkan dan terlalu banyak utk dibilang. Apa yg ada di semesta ini merupakan ayat-ayat Allah disamping yg Allah wahyukan dalam Alquran. Hari akhir sebagai hari pembalasan adl suatu yg pasti datang. Pada saat itu semua orang akan mendapatkan ganjaran dari segala yg diperbuatnya.

Adalah suatu yg tak dapat diingkari bahwa tiap perbuatan mempunyai akibat dan konsekuensi sendiri-sendiri. Yang baik tentu saja berakibat baik begitu juga sebaliknya. Namun kenyataannya dalam kehidupan dunia ini banyak orang yg berbuat baik tetapi belum mendapatkan balasannya. Contoh orang beriman yg mati dalam menyelamatkan seseorang dari kebakaran. Karena luka bakar yg dideritanya misalnya. Tentunya ia belum mendapatkan balasan yg pantas. Pujian manusia terhadap keberaniannya tidaklah berarti apa-apa dibanding pengorbanannya. Toh pujian manusia adl sebuah fatamorgana juga. Apakah mungkin pengorbanannya sia-sia? Tidak sekali-kali tidak. Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil lagi Maha Pengasih. Hanya Dia-lah yg akan membalas segala pengorbanan seorang hamba.

Di lain pihak kita lihat banyak orang yg telah berbuat kezaliman di dunia ini mati sebelum mendapatkan ganjaran dari kezalimannya. Bahkan ia juga meninggalkan penderitaan dan kesengsaraan bagi orang banyak. Sementara semasa hidupnya ia enak-enak ongkang kaki di atas penderitaan orang lain. Percaya tak percaya Allah pasti akan membalasnya. Sesungguhnya tidak ada yg dapat menghindari dari Allah. Sesungguhnya siksaan Allah itu sangat pedih di luar kemampuan yg kita bayangkan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Marilah berlindung kepada Allah dari kerugian di akhirat kelak. Wallahu A’lam.
13.58 | 0 komentar

Jika Inginkan Kebaikan Yang Sebenarnya Adalah Dengan Islam

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 14 Januari 2011 | 14.58

Allah beri bermacam-macam kebaikan di dunia buat hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dan segala kebaikan itu pula bermanfaat untuk akhirat mereka.
Bagaimana kita hendak tahu kita telah mendapat kebaikan di dunia atau tidak? Apa kata para ulama mengenai kebaikan di dunia itu?
Ulama-ulama dahulu termasuk Ibnu Katsir, telah menjelaskan apa itu kebaikan di dunia di dalam kitab-kitab mereka. Apa yang mereka jelaskan itu semuanya dilihat dari neraca agama dan penilaian Allah serta bertepatan dengan fitrah manusia yang inginkan kebaikan dalam hidup. Kebaikan yang dijelaskankan itu meliputi hal-hal berikut: kesehatan, isteri yang solehah, rezeki yang luas lagi halal, anak-anak penyejuk hati, kerehatan, ilmu yang bermanfaat, amal soleh, rumah yang aman, kendaraan yang baik, dan pandangan baik dari orang. Kebaikan di dunia juga menurut ulama mencakup limpahan segala nikmat, kesejahteraan hidup dan taufik dari Allah Yang Esa.
Ada juga ulama mengatakan kebaikan di dunia itu meliputi tiga hal yaitu hati yang bersyukur, lidah yang berzikir dan tubuh badan yang sabar (dalam menanggung ujian Allah). Tiga hal ini terkandung dalam doa yang diamalkan oleh Nabi s.a.w.
Penjelasan kebaikan di dunia oleh ulama-ulama ini bukan hanya dilihat pada hal yang bersifat lahir yang dapat dipandang mata tetapi juga meliputi perkara batin yang dapat dirasaan oleh hati. Perkara-perkara itu adalah keutamaan kebaikan di dunia.
Keutamaan Kebaikan Di Dunia :
Apa rasionalnya mereka mengatakan demikian? Kenapa dikatakan semua itu kebaikan di dunia? Mari kita lihat dan coba jelaskan:
1. Mendapat taufik dan hidayah Allah s.w.t.
Orang yang mendapat taufik dan hidayah artinya dia seorang yang dibantu oleh Allah untuk mengamalkan Islam. Islam bererti “selamat”. Orang Islam kalau kekal mendapat taufik dan hidayah dari Allah, akan selamat di dunia dan akhirat. Sabda Nabi s.a.w.:
“Sungguh beruntung orang yang beragama Islam” (Riwayat Muslim)
2. Diberi kefahaman dalam beragama
Untuk mengamalkan ajaran Islam iperlukan kefahaman. Siapa yang diberi kefahaman tentang Islam juga dianggap telah mendapat kebaikan di dunia. Orang Islam yang tidak diberi kefahaman tentang Islam oleh Allah akan mengamalkan apa yang disangkanya dari ajaran Islam tetapi sebenarnya menyeleweng dari Islam. Hidupnya tak akan benar-benar selamat dan tak mampu menyelamatkan orang lain. Sabda Nabi s.a.w.:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, Dia akan menjadikannya faham dalam agama.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
3. Dapat berbuat amalan soleh
Dengan kefahaman agama yang Allah beri, seseorang dapat berbuat amal kebajikan. Ini juga merupakan kebaikan di dunia karena hidup akan terisi perkara baik dan tidak terumbang-ambing. Firman Allah:
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperolehi ‘hasanah’ (kebaikan). Dan bumi Allah itu adalah luas” (Az-Zumar: 10)
4. Mendapat ilmu yang bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat adalah panduan untuk mengisi hidup dengan perkara-perkara baik dan selamat. Sebab itu Nabi s.a.w. berdoa:
“Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah manfaat kepadaku dari apa-apa Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkan daku apa-apa yang bermanfaat buat diriku.” (Riwayat at-Tabrani)
5. Mendapat isteri yang solehah
Kebahagiaan hidup adalah perkara yang semua orang impikan. Kebahagiaan selalunya bermula di rumah. Siapa yang mendapat pasangan hidup yang baik patut bersyukur kerana di situlah tanda kebahagiaannya. Isteri atau suami yang baik ini juga membantu seseorang mendekatkan diri kepada Allah. Itulah antara kebaikan di dunia buatnya. Sabda Nabi s.a.w.:
“Empat dari tanda-tanda kebahagiaan seseorang: Isterinya solehah, anak-anaknya abrar (soleh), teman-temannya orang soleh dan sumber rezekinya di negerinya sendiri.” (Riwayat ad-Dailami dari Ali r.a.)
Namun ada juga orang yang Allah beri kebaikan walaupun tidak mendapat pasangan hidup yang soleh atau solehah. Buat mereka Allah kurniakan pahala sabar dalam mendidik atau sabar dalam menghadapi pasangannya.
6. Mendapat zuriat penyejuk hati
Betapa sejuknya hati kalau anak-anak taat, hormat dan tahu berbakti. Tanpa tiga perkara ini, tidak ada artinya kepandaian, kedudukan dan jabatan tinggi yang dibangga-banggakan pada anak. Anak yang baik akan terus memberi manfaat setelah kematian kita. Pahala amalan baiknya hasil didikan kita terus mengalir kepada kita dan kita juga menerima kebaikan dari doa mereka.
7. Mendapat sahabat yang solihin
Perkara ini juga disebut dalam hadis sebagai tanda kebahagiaan. Sahabat yang baik akan tegur kesalahan kita dan mengajak kita buat baik. Sahabat yang soleh atau solehah ini akan bawa kita ke jalan hidup selamat. Mereka tempat berkumpul masalah dan kegagalan, bukan hanya berkumpul dalam kesenangan dan kejayaan.
8. Kesehatan dan kesejahteraan
Dengan kesehatan yang baik, banyak perkara dapat dilakukan dalam hidup ini. Orang Mukmin memanfaatkan kesehatan untuk buat sebanyak mungkin kebaikan sebelum datangnya sakit. Kesehatan juga sering dikaitkan dengan kesejahteraan hidup. Nabi s.a.w. memohon:
“Ya Allah, afiatkanlah tubuh badanku dan ‘afiatkanlah pendengaranku.” (Riwayat Ibnu Syaibah)
9. Panjang umur di dalam ketaatan
Hampir setiap orang ingin hidup lama, kecuali orang yang putus asa dengan hidup. Paling baik kalau dapat panjang umur sambil berbuat ketaatan kepada Allah. Sabda Nabi s.a.w.:
“Sesungguhnya sehabis-habis kebahagiaan itu ialah panjang umur di dalam mentaati Allah.” (Riwayat Khotib daripada Abdullah dari bapanya)
10. Mendapat rezeki yang halal
Nabi s.a.w. menekankan agar umatnya berusaha mendapatkan rezeki halal karena ia akan memberkatkan hidup. Dalam satu hadis, baginda mengatakan bahawa mencari rezeki yang halal itu satu jihad. Malah sabdanya:
“Amalan yang paling utama itu ialah mencari rezeki dari usaha yang halal.” (Riwayat al-Hakim)
11. Memperoleh keimanan dan ketakwaan
Dengan iman dan takwa, seseorang itu mulia di sisi Allah dan di sisi manusia. Siapa yang tak suka akan kemuliaan? Sabda Nabi s.a.w.:
“Semulia-mulia manusia adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Baginda juga bersabda:
“Hendaklah kamu bertakwa, karena ia meliputi semua kebaikan.” (Riwayat Abu Ya’ala)
12. Banyak mengingati Allah s.w.t.
Nikmat paling besar yang manusia cari-cari dalam hidup ialah nikmat ketenangan. Orang Mukmin adalah orang yang hidupnya penuh ketenangan. Firman-Nya:
“Sesungguhnya dengan mengingati Allah itu hati akan menjadi tenang.” (Ar-Ra'du: 28)
Sabda Nabi s.a.w.:
“Aku berpesan kepada kamu semua supaya mengingati Allah, kerana hal itu dapat menghiburkan hati kamu dari segala kesulitan duniawi.” (Riwayat ad-Dailami)
13. Menyucikan jiwa dari mazmumah
Hidup tak akan tenang jika hati penuh hasad dengki, tamak, takut, benci, keluh-kesah dan lain-lain sifat mazmumah. Tidak heranlah dikatakan, orang yang bersih hatinya dari sifat mazmumah ini adalah orang yang mendapat kebaikan di dunia. Bila menghadapi musibah, dia sabar dan bersangka baik dengan Allah.
Misalnya jika ada orang terganggu dengan turunnya hujan pada waktu hujan itu tak diperlukan, dia sentiasa mencari hikmah di sebaliknya. Bila dapat nikmat pula, dia bersyukur. Hatinya tak pernah keluh-kesah. Firman Allah Taala:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyuci (membersihkan) jiwanya.” (Al-A’la: 14)
14. Mati di dalam kebaikan (Husnul Khotimah)
Ini merupakan penutup segala kebaikan di dunia. Firman Allah s.w.t.:
“demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) Salamun ‘Alaikum.” (An-Nahl: 32)
Sabda Nabi s.a.w.:
“Sebaik-baik amalan itu ialah bahawa kamu berpisah dengan dunia ini sedangkan lidahmu basah berzikir kepada Allah.” (Riwayat Abu Na’im)
Para ulama yang beramal dengan ilmunya melihat sesuatu dengan mata hati. Oleh karena itu, dalam penjelasan tentang kebaikan di dunia yang mereka paparkan di atas, tidak ada perkara-perkara berbentuk nikmat zahir semata-mata. Misalnya mereka tidak katakan kebaikan di dunia itu dilihat pada rumah besar, kedudukan tinggi, isteri cantik, duit banyak, nama populer, kendaraan mewah dan lain-lain yang sering kita buru hari ini. Semua ini tidak ada dalam penjelsan para ulama. Artinya, mendapatkan semua itu belum bererti mendapat kebaikan yang hakiki.
Kebaikan di dunia itu sebenarnya milik hamba-hamba Allah yang taat hamba yang lebih mengutamakan akhirat dari dunia. Dalam surah an-Nahl ayat 122 dinyatakan bahawa Allah telah mengurniakan kepada Nabi Ibrahim a.s.hasanah (kebaikan) di atas kehidupan dunia. Ayat ini menjadi dalil bahwa ada kebaikan duniawi yang Allah akan beri kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Walaupun mengutamakan akhirat, Allah akan dahulukan bermacam-macam kebaikan buat mereka di dunia lagi. Dan segala kebaikan itu pula bermanfaat untuk akhirat mereka.
Oleh: Amaluddin Mohd Napiah, Zakaria Sungiba
14.58 | 1 komentar

Balasan Kejujuran

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 13 Januari 2011 | 14.25

Setiap muslim diperintahkan untuk berlaku amanah dan memiliki akhlak yang baik serta sifat yang terpuji. Barang-siapa yang melakukan sifat-sifat tersebut, niscaya ia diberi balasan yang baik, di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa yang meninggalkan khianat dan menipu karena Allah dengan segenap kejujuran dan keikhlasan, niscaya Allah mengganti hal tersebut dengan kebaikan yang banyak Abu Hurairah radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ada seorang laki-laki yang membeli tanah perkebunan dari orang lain. Tiba-tiba orang yang membeli tanah perkebunan tersebut menemukan sebuah guci yang di dalamnya terdapat emas. Maka ia berkata kepada penjualnya, 'Ambillah emasmu dariku, sebab aku hanya membeli tanah perkebunan, tidak membeli emas!' Orang yang memiliki tanah itu pun menjawab, 'Aku menjual tanah itu berikut apa yang ada di dalamnya'. Lalu keduanya meminta keputusan hukum kepada orang lain. Orang itu berkata,'Apakah kalian berdua memiliki anak?' Salah seorang dari mereka berkata, 'Aku memiliki seorang anak laki-laki'. Yang lain berkata, 'Aku memiliki seorang puteri'. Orang itu lalu berkata, 'Nikahkanlah anak laki-laki(mu) dengan puteri(nya) dan nafkahkanlah kepada keduanya dari emas itu dan bersedekahlah kalian dari padanya!'." (HR. Al-Bukhari dalam Akhbar Bani Israil, dan Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwasanya beliau menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta orang Bani Israil lainnya agar memberinya hutang sebesar 1000 dinar. Lalu orang yang menghutanginya berkata, 'Datangkanlah beberapa saksi agar mereka menyaksikan (hutangmu ini)'. Ia menjawab, 'Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!' Orang itu berkata, 'Datangkanlah seseorang yang menjamin(mu)!' Ia menjawab, 'Cukuplah Allah yang menjaminku!' Orang yang akan menghutanginya pun lalu berkata, 'Engkau benar!' Maka uang itu diberikan kepadanya (untuk dibayar) pada waktu yang telah ditentukan. (Setelah lama) orang yang berhutang itu pun pergi berlayar untuk suatu keperluannya. Lalu ia mencari kapal yang bisa mengantarnya karena hutangnya telah jatuh tempo, tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut. Maka ia pun mengambil kayu yang kemudian ia lubangi, dan dimasukkannya uang 1000 dinar di dalamnya berikut surat kepada pemiliknya. Lalu ia meratakan dan memperbaiki letaknya. Selanjutnya ia menuju ke laut seraya berkata, 'Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada si fulan sebanyak 1000 dinar. Ia memintaku seorang penjamin, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai penjamin, dan ia pun rela dengannya. Ia juga meminta kepadaku saksi, maka aku katakan, cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun rela dengannya. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan kapal untuk mengirimkan kepadanya uang yang telah diberikannya kepadaku, tetapi aku tidak mendapatkan kapal itu. Karena itu, aku titipkan ia kepadaMu'. Lalu ia melemparnya ke laut sehingga terapung-apung, lalu ia pulang.

Adapun orang yang memberi hutang itu, maka ia mencari kapal yang datang ke negerinya. Maka ia pun keluar rumah untuk melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa titipan uangnya. Tetapi tiba-tiba ia menemukan kayu yang di dalamnya terdapat uang. Ia lalu mengambilnya sebagai kayu bakar untuk isterinya. Namun, ketika ia membelah kayu tersebut, ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat. Setelah itu, datanglah orang yang berhutang kepadanya. Ia membawa uang 1000 dinar seraya berkata, 'Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu dengan uangmu, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang!'. Orang yang menghutanginya berkata, 'Bukankah engkau telah mengirimkan uang itu dengan sesuatu?' Ia menjawab, 'Bukankah aku telah beritahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang?' Orang yang menghutanginya mengabarkan, 'Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu bawalah uang 1000 dinarmu kembali dengan beruntung!' (HR. Al-Bukhari, 4/469, Kitabul Kafalah , dan Ahmad)
14.25 | 0 komentar

Streaming Solution

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 12 Januari 2011 | 18.01

Anda sedang mencari bagaimana cara membuat radio streaming / radio online? Atau Video Streaming, Anda sudah berada di tempat yang tepat.

Untuk membuat radio streaming ada beberapa cara. Yang paling terkenal adalah dengan menggunakan shoutcast.

Fasilitas radio streaming didukung secara resmi oleh shoutcast.com yang merupakan penyedia software ternama di dunia untuk kontrol panel admin shoutcast server berbasis linux dan windows. Dengan Shoutcast, Anda dengan mudah bisa mengelola shoutcast mulai dari stop/start, mengecek statistik pengunjung dan masih banyak lagi.

Dengan harga mulai Rp 50.000,- per bulan untuk 100 pendengar, menjadikan layanan kami ini terjangkau. Biasanya, perusahaan lain mematok harga mulai Rp 5.000.000,- per bulan (bukan per tahun!!!!) untuk 30 pendengar.

Jumlah pendengar sangat cukup, sehingga Anda tidak perlu kuatir kalau terjadi peningkatan jumlah pendengar. Komputer Andapun tidak terpengaruh dengan jumlah pendengar karena bandwidth diumpan ke server kami.

Berikut paket yang bisa Anda pilih :

Paket GIT-1
Jumlah maksimal pendengar : 50

Bitrate : 16 – 128 kbps (Stereo)

Bandwidth Unmetered

Support MP3 & AAC+

Live Broadcast (YES)

Gratis biaya setup (Remote melalui TeamViewer)

Rp. 50.000/bulan atau Rp. 500.000/tahun

Paket GIT-2
Jumlah maksimal pendengar : 100

Bitrate : 16 – 128 kbps (Stereo)

Bandwidth Unmetered

Support MP3 & AAC+

Live Broadcast (YES)

Gratis biaya setup (Remote melalui TeamViewer)

Rp. 100.000/ bulan atau Rp. 1.000.000/tahun

Paket GIT-3

Jumlah maksimal pendengar : 150

Bitrate : 16 – 128 kbps (Stereo)

Bandwidth Unmetered

Support MP3 & AAC+

Live Broadcast (YES)

Gratis biaya setup (Remote melalui TeamViewer)

Rp. 150.000/ bulan atau Rp. 1.500.000/tahun

Paket GIT-4
Jumlah maksimal pendengar : 250

Bitrate : 16 – 128 kbps (Stereo)

Bandwidth Unmetered

Support MP3 & AAC+

Live Broadcast (YES)

Gratis biaya setup (Remote melalui TeamViewer)

Rp. 250.000/ bulan atau Rp. 2.500.000/tahun

Paket GIT-5
Jumlah maksimal pendengar : 1000

Bitrate : 16 – 128 kbps (Stereo)

Bandwidth Unmetered

Support MP3 & AAC+

Live Broadcast (YES)

Gratis biaya setup (Remote melalui TeamViewer)

Rp. 500.000/ bulan atau Rp. 5.000.000/tahun

Bonus!!! :

1. Dimasukkan dalam directory radio online kami

2. Diberikan Aplikasi Untuk Java Mobile Phone /Handphone

Yang Anda perlu sediakan :

1. Komputer yang terkoneksi dengan internet (broadband)
2. Kabel dari soundprocessor ke input line in soundcard komputer

Info 088210252007
18.01 | 0 komentar

SINOPSIS (MATINYA SI KICAU BURUNG)

Sebagai saudagar kaya yang memiliki apotik besar di kota Naisabur, Fariduddin al-‘Aththar, merasa tersinggung atas pertanyaan seorang Darwisy, “Bagaimana kamu bisa mati dengan meninggalkan kekayaan yang begini hebat?”. Dengan sedikit kesal Fariduddin menjawab, “Tidak ada bedanya, aku akan mati sama dengan caramu mati.” Sang Darwisy tanpak merenung sejenak lalu menatap wajah Fariduddin dengan tajamnya seraya mengatakan, “Tidak mungkin! Aku tidak memiliki sesuatu apa pun kecuali kusykul (sejenis mangkuk) dan selimutku ini. Apakah engkau masih juga berkata bahwa engkau akan mati seperti caraku mati?”.

Sekarang Fariduddin yang balik menatap wajah Darwisy tajam-tajam. Anehnya sang Darwiys justru tersenyum. Di wajahnya tampak seberkas cahaya. Yang semula wajahnya kusut layaknya seorang peminta-minta berubah bersinar terang. Senyumnya tampak amat bahagia ketika ia berusaha menunduk dari tatapan Fariduddin. Lalu dengan pelan tapi penuh kepastian ia membuka selimutnya dan sekali lagi sekilas menatap pendek ke wajah Fariduddin. Sambil tetap tersenyum ia menebarkan selimutnya di lantai apotik persis di kaki Fariduddin dan menaruh kusykul-nya di ujung selimutnya. Selanjutnya ia merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di atas kusykul-nya sambil mengatakan, “Beginilah caraku mati.” Dan Darwisy itu benar-benar mati ketika itu juga di dekat kaki Fariduddin dalam keadaan tersenyum.

Sejak peristiwa itu, Fariduddin menempuh jalan spiritual sebagai seorang Zahid dan meninggalkan kekayaannyaa untuk melakukan pengembaraan spiritualnya. Banyak buku yang ditulis tentang makna hidup dan kemajuan spiritual bagi manusia. Yang sangat terkenal adalah Manthiqu al-Tahir (Kicau Burung). Ia terus hidup dalam pengembaraan spiritualnya layaknya seorang Darwisy, sampai akhirnya ia tertangkap oleh tentara Mongol.

Ketika ia mau dibunuh oleh tentara penyerbu, datang seorang kaya yang ingin menebusnya dan menjadikannya budak dengan imbalan yang sangat tinggi. Tentara Jengis Khan sepakat dengan harga yang ditawarkan itu, akan tetapi Fariduddin menolaknya karena harga itu terlalu mahal buat dirinya. Lalu datang seorang menawarkan pembebasan dengan tebusan sekarung gandum. Dengan serta merta Fariduddin menyetujui. Kesal atas sikap Fariduddin yang telah menyia-nyiakaan waktu mereka, para tentara Mongol, akhirnya ia langsung dipancung. Fariduddin pun mati dalam keadaan tersenyum, persis seperti Darwisy mati di tokonya.
14.29 | 0 komentar

BIAR EFISIEN, KENAPA TIDAK "LABEL HARAM" SAJA?

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 11 Januari 2011 | 21.29

Pada mulanya, "label halal" untuk sebuah produk diperlukan karena kaum muslimin yang tinggal di negeri-negeri nonmuslim merasa kesukaran memperoleh produk halal menurut keyakinan mereka. Artinya, pelabelan halal dilakukan untuk memudahkan. Berbeda tentunya, kalau di negeri-negeri muslim. Sebab asal barang yang diproduk, dengan landasan husnuzhan, adalah halal dikarenakan produsennya adalah muslim. Maka, agar efisien dan memudahkan semua pihak, apa tidak sebaiknya yang diterapkan adalah "label haram" bagi produk yang dipandang tidak halal untuk dikonsumsi kaum muslimi?. Akan halnya yang halal, ya cukup dengan tidak ada "label haram"nya.

Alangkah tidak efiiennya, kalau di sepanjang jalan raya dari Anyer sampai Panarukan misalnya setiap berapa meter diberi rambu-rambu boleh (halal) dan tidak berbahaya untuk dilalui. Bukankah cukup beberapa tanda (rambu) peringatan agar hati-hati atau larangan di tempat-tempat tertentu saja? Sedangkan yang boleh dan baik untuk dilalui, cukup dengan tidak diberi tanda apa-apa. Entahlah?
21.29 | 0 komentar

Ittiba’: Ujian Pembukti Cinta

Written By Rudi Abu azka on Senin, 10 Januari 2011 | 08.48

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ittiba` (ikuti)lah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” [QS. Āli ‘Imrān (3): 31-32]


Saudaraku kaum muslimin…


Islam berarti taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam . Jalan taat menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus ditempuh dengan me-lalui ittibā` (meneladani) Rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam, bukan hanya hanya berupa i`tiqād qalbu (keyakinan hati) atau qawl lisān (pengakuan lisan) semata.


Di hadapan kita hanya ada 2 (dua) jalan, yaitu jalan taat dan ittibā` yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau jalan kufur dan bid`ah yang dibenci-Nya.


Ayat di atas adalah mizān (barome-ter) yang menjadi tolok ukur untuk mengetahui orang yang benar-benar mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan orang-orang yang hanya mengaku mencin-tai-Nya namun di lisannya saja.


Tanda cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan ittibā` kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam, sebagai rasul-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi-kan ittibā’ kepadanya dan kepada se-luruh isi dakwah yang diserukannya sebagai wujud kecintaan dan keridha-an-Nya.


Kecintaan dan keridhaan-Nya serta anugerah pahala-Nya tidak mung-kin digapai kecuali dengan merealisa-sikan 4 (empat) inti kandungan ittibā` kepada Rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam, yaitu:


1. Membenarkan kabar berita yang disampaikannya,

2. Menjunjung tinggi segala perin-tah yang dititahkannya,

3. Menjauhi segala larangannya, dan

4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari`at yang te-lah dicontohkannya. (Lihat: Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān: 120 tentang ayat di atas)

Saudaraku kaum muslimin…

Riwayat yang menerangkan tentang asbāb nuzūl (sebab turun)nya (QS. 3: 31) memiliki banyak versi, menurut Ibnu al-Jawziy rhm setidaknya ada 4 (em-pat) riwayat, yaitu:

1. Riwayat adh-Dhahhak Rahimahullah dari Ibnu ‘Abbas RadhiallahuAnhu, bahwa Nabi Salallahu Alaihi Wasalam berdiri di hadapan kaum Quraisy yang sedang memancangkan pa-tung-patung berhala sembahan me-reka, lalu beliau bersabda:

(( يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَقَدْ خَالَفْتُمْ مِلَّةَ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ ))

“Wahai kaum Quraisy! Sungguh ka-lian telah menyelisihi millah (agama) ba-pak kalian, Ibrahim”, seketika itu mereka berkomentar:

( يَا مُحَمَّدُ إِنَّمَا نَعْبُدُ هَذِهِ حُبًّا للهِ، لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى )

“Wahai Muhammad! Kami tidak me-nyembah (patung berhala) ini kecuali ka-rena kecintaan kepada Allah dan agar me-reka menjadi perantara yang akan mende-katkan kami kepada-Nya”, maka kemu-dian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat ini.

2. Riwayat Abu Shalih Rahimahullah dari Ibnu ‘Abbas RadhiallahuAnhu bahwa orang-orang Ya-hudi berkata:

( نَحْنُ أَبْنَاءُ اللهِ وَأَحِبَّاؤُهُ )

“Kami adalah anak-anak dan para ke-kasih Allah”, maka turunlah ayat ini, yang kemudian disampaikan Nabi saw kepada mereka, namun mereka tidak menerimanya.

3. Riwayat al-Hasan Rahimahullah dan Ibnu Jurayj Rahimahullah bahwa di masa lalu ba-nyak orang yang berkata:

( نَحْنُ لَنُحِبُّ رَبَّنَا حُبًّا شّدِيْدًا )

“Sesungguhnya kami benar-benar sa-ngat mencintai Allah“, maka Allah swt meminta kepada mereka tanda bukti kecintaan mereka kepada-Nya, lalu turunlah ayat tersebut.

4. Riwayat Ibnu Ishaq Rahimahullah dari Mu-hammad bin Ja`far bin Zubair RadhiallahuAnhu, yang kemudian dipilih oleh Abu Sulaiman ad-Dimasyqiy Rahimahullah seba-gai pendapatnya bahwa kaum Nashrani dari Najran berkata:

( إِنَّمَا نَقُوْلُ هَذَا فِي عِيْسَى حُبًّا للهِ، وَتَعْظِيْمًا لَهُ )

“Sesungguhnya kami mengatakan hal ini (kecintaan mendalam) kepada Isa, se-bagai bukti cinta kepada Allah dan peng-agungan kepada-Nya”, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat tersebut. (Lihat: Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr: 1/303)

Sedangkan berkaitan dengan tu-runnya (QS. 3: 32), maka ada 3 (tiga) riwayat mengenainya, yaitu:

1. Riwayat Ibnu ‘Abbas RadhiallahuAnhu, bahwa ‘Abdullah bin Ubay, gembong dan tokoh kaum munafik, berkata ke-pada teman-temanya:

( إِنَّ مُحَمَّدًا يَجْعَلُ طَاعَتَهُ كَطَاعَةِ اللهِ، وَيَأْمُرُنَا أَنْ نُحِبَّهُ كَمَا أَحَبَّتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ )

“Sesungguhnya Muhammad meng-inginkan ketaatan kepadanya sebagaimana ketaatan kepada Allah, dan memerintah-kan kami untuk mencintainya sebagaimana kecintaan orang-orang Nashara kepada ‘Isa bin Maryam”, maka Allah swt me-nurunkan ayat tersebut.

2. Riwayat dari Muqatil Rahimahullah, bahwa ketika Nabi Salallahu Alaihi Wasalam mendakwahkan orang-orang Yahudi untuk masuk Islam, mereka justru berkata:

( نَحْنُ أَبْنَاءُ اللهِ وَأَحِبَّاؤُهُ، وَنَحْنُ أَشَدُّ حُبًّا للهِ مِمَّا تَدْعُوْنَا إِلَيْهِ )

“Kami adalah anak-anak dan para ke-kasih Allah, dan kami lebih mencintai Allah dibandingkan seruan yang engkau dakwah-kan kepada kami”, maka turunlah ayat ini.

3. Riwayat Abu Sulaiman ad-Dimasy-qiy Rahimahullah, bahwa ayat ini turun ber-kaitan dengan orang-orang Nash-rani dari Najran. (Lihat: Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr: 1/304)

Semua riwayat tersebut menggam-barkan bahwa pengakuan cinta kepada Allah swt yang diungkapkan oleh para penganut dan pemeluk agama –apapun agamanya– membutuhkan bukti nyata yang dikehendaki oleh Rabb yang me-reka cintai.

Cinta bukan hanya pengakuan li-san atau ungkapan perasaan hati, na-mun harus melahirkan ketundukan dan kepasrahan terhadap yang dicin-tainya.


Saudaraku kaum muslimin…

Membenarkan semua kabar berita atau informasi shahih (benar) yang ber-sumber dari Rasulullah saw merupa-kan salah satu ushūl (pokok) keimanan, baik kabar berita yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, masa kini ataupun masa yang akan datang.


Ketika Rasulullah saw isrā’ (diper-jalankan) ke Masjidil Aqsha, orang-orang (kaum Quraysy) pun gaduh sa-ling memperbincangkan kebenarannya. Sebagian mereka ada yang menyata-kan murtad, dan sebagian lain ada yang membenarkan dan mengimaninya de-ngan sepenuh hati.


Saat itu, tokoh-tokoh utama para pengingkar kebenaran peristiwa isrā’ dan mi’rāj mendatangi Abu Bakar rda untuk membuktikan bahwa penging-karan mereka adalah benar. Salah satu tokoh mereka berkomentar:

هَلْ لَكَ إِلَي صَاحِبِكَ يَزْعُمُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ اللَّيْلَةَ اِلَي بَيْتِ الْمَقْدِسِ؟

“Apakah engkau belum bertemu dengan shahabatmu yang mengaku telah diperja-lankan di waktu malam ke Baitul Maqdis?”

Dengan tenang Abu Bakar rda men-jawab:

( أَوَ قَالَ ذَلِكَ؟ )

“Betulkah beliau mengatakan demi-kian?”

Serta merta mereka menegaskan “Ya!!”. Namun tanpa diduga oleh me-reka, sepenggal kata mulia meluncur dari lisan mulia Abu Bakar rda:

( لَئِنْ كَانَ قَاَل ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ )

“Jika beliau mengatakan demikian, su-dah pasti benar adanya!”

Mereka tetap penasaran, lalu me-ngajukan pertanyaan berikutnya:

( أَوَتُصَدِّقُهُ اَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ اِلَي بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَجَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ؟ )

“Apakah engkau akan membenarkan-nya juga walaupun dia mengaku telah pergi ke Baitul Maqdis hasnya dalam satu malam saja, lalu sudah kembali lagi sebe-lum datangnya pagi hari?”


Sekali lagi kata tegas dan jawaban mulia terlontar ke telinga mereka:

( نَعَمْ! َلأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعُدَُ مِنْ ذَلِكَ، أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِالسَّمِاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ )

“Ya, pasti! Saya akan membenarkan-nya, sekalipun yang beliau ceritakan lebih dari itu! Saya akan selalu membenarkan kabar dari langit, baik datang di waktu pagi ataupun sore hari” (HR. al-Hākim 3/62, Silsilah al-Ahādīts ash-Shahīhah: 306)


Pantaslah apabila tokoh mulia ini mendapat gelar ash Shiddīq, karena be-liau selalu membenarkan kabar berita yang disampaikan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

Saudaraku kaum muslimin…

Bukti nyata paling jelas bagi orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan mengikuti dan menta’ati rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam. Bahkan hal ini merupakan tanda orang-orang yang mengharapkan pahala dari Allah dan syurga-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. al-Ahzāb (33): 21]


Ayat ini –menurut Ibnu Katsir Rahimahullah – merupakan pokok utama dalam me-neladani setiap perkataan, perbuatan dan sikap Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam. (Tafsīr Ibnu Katsīr: 3/435)


Oleh karena itu, kita harus ittibā’ kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, baik dalam dalam akidah, ibadah, akhlak, hukum, tarbiyyah, dakwah, dan dalam seluruh sisi kehidupan kita lainnya, karena itu-lah jalan keselamatan yang telah ter-bentang di hadapan kita.


Dan agar kita lulus dari ujian cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka janganlah ragu, bahkan jangan pernah ragu se-dikitpun, yaitu untuk ittibā’ kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, dengan mengetahui, memahami, meniti, mengamalkan, mendakwahkan dan memperjuangkan Sunnahnya yang suci!
08.48 | 0 komentar

Memelihara Ikatan Hati dan Ikatan Iman

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 09 Januari 2011 | 12.40

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Amin…

ikhwan.net
Abu Zaki Al-Kalimantany, Lc.
12.40 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Laman

Pengunjung