Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

BISA JADI AKHIRNYA KITA TERBEBANI JUGA

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 06 Januari 2011 | 17.07

Walaupun pada dasarnya seseorang tidak akan menanggung dan dibebani dosa orang lain sehubungan dengan perbuatan yang dilakukannya seperti dinyatakan Allah Swt dalam firman-Nya, “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(QS, al-Isra [17]: 15), namun implikasi dan pengaruh perbuatannya bisa menerjang individu lain. Lebih-lebih jika pelaku dan jenis perbuatannya itu bernilai ajakan dan sama memiliki daya kohesi yang sangat kuat. Bisa jadi hal itu menyebabkan orang atau individu lain menjadi lebih terangsang dan bahkan antusias untuk meniru perbuatan itu.

Pada kenyatannya, suaatu perbuatan yang dilakukan seseorang ada yang tidak punya nilai ajakan kepada orang lain dan ada pula yang bernilai ajakan. Tentunya antara perbuatan yang tidak bernilai ajakan dan perbuataan yang benilai ajakan, langsung atau tidak langsung, berbeda implikasinya. Pada umumnya suatu ajakan diekspresikan melalui ungkapan verbal atau melalui keteladanan.

Tentu saja akibat dan implikasi kedua jenis perbuatan itu tidak sama. Bisa jadi jenis perbuatan yang tidak punya nilai ajakan, akibat dan implikasinya terbatas kepada pelaku sedangkan jenis perbuatan yang benilai ajakan, akibat dan implikasinya jelas tidak hanya kepada pelaku yang menjadi modelnya melainkan juga kepada pelaku yang menjadi peniru atau korbannya.

Dalam Islam, akibat dan implikasi suatu perbuatan yang bernilai ajakan tidak hanya dikenakan kepada pelakunya melainkan juga kepada orang yang mengikuti perbuatan itu. Demikian pula, akibat dan implikasi peniruan suatu perbuatan, baik psikologis ataupun sosiologisnya, pahala dan dosanya, tidak hanya ditanggung oleh penirunya, sebagai korban, akan tetapi juga oleh orang yang ditiru yang menjadi modelnya. Dengan demikian, akibat dan implikasi para peniru suatu perbuatan akan memnjadi beban bagi para model atau orang yang ditiru. “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk/kebenaran, maka ia mendapat pahala seperti pahala-pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala-pahala orang yang mengamalkannya sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala-pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR, Muslim).

Keluasan spektrum pengaruh dan implikasi suatu perbuatan kepada orang lain sangat ditentukan oleh 3 faktor: jenis perbuatan, pelaku, dan media yang digunakannnya. Jika perbuatan yang dilakukannya sangat memesona serta bernilai ajakan, maka peluang untuk ditiru oleh orang lain sangat terbuka. Apatah lagi jika pelakunya memilki daya kohesi yang sangat kuat serta memiliki status sosial yang tepandang seperti pemimpin, publik figur, dan para artis. Apalagi kalau kemudian ditopang oleh penyajian yang apik melalui media yang jejaringnya sangat luas.

Semakin terpandang status sosial pelaku serta memiliki kepopuleran yang sangat luas, semakin kuat pula daya kohesinya. Jika suatu perbuatan yang bernilai ajakan, apakah kepada kebaikan atau kepada keburukan, memiliki daya kohesi yang sangat kuat, maka peluang orang yang akan menjadi korban sebagai peniru perbuatannya akan semakin banyak pula. Mengacu kepada hadits Rasulullah Saw tersebut, maka peluang sang penyeru atau pengajak untuk memperoleh pahala atau dosa atas perbuatan atau ajakannya yang telah ditiru oleh banyak orang semakin tinggi pula. Apatah lagi kalau sang pelaku dalam melakukan perbuatan yang bernilai ajakan tersebut menggunakan media canggih dan mesin politik. Akibatnya, sangat mungkin dia tidak akan sanggup mengontrol implikasi perbuatannya serta akibat-akibat logisnya.

Dengan demikian, betapa kritisnya posisi strategis seseorang sehubungan dengan ucapan dan perbuatan yang dilakukannya. Sebab, apa yang dilakukannya memiliki implikasi yang sangat luas terhadap orang lain yang mungkin tidak bisa dikontrolnya. Sehubungan dengan itu Khalifah Umar bin Abdul Aziz memandang ajakan atau nasihat yang baik sebagai hak orang lain atas diri kita yang harus ditunaikan, “Barangsiapa yang menjalin hubungan dengan saudaranya melalui nasihat dalam perkara agama dan menunjukinya kebaikan perkara dunainya, sungguh dia telah menjalin hubungan dengan baik dan telah menunaikan tuntutan haknya.” Wallau A’lam.

0 komentar:

Posting Komentar