Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

SAYANG, DIA SERING DATANG TERLAMBAT

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 08 Januari 2011 | 04.09

Penyesalan pada umumnya datang dikarenakan terlambatnya kesadaran akan nilai sesuatu, terutama sesuatu yang melekat pada nikmat yang dianugerahkan Allah Swt. Sebagai konsep abstrak dalam diri manusia nilai umumnya mengacu kepada sesuatu yang dianggap baik dan yang dianggap buruk, indah atau tidak indah, dan benar atau salah. Di dalamnya terkandung sesuatu yang pantas dan unggul. Yaitu kualitas yang membuat sesuatu menjadi diidamkan, bermanfaat, atau jadi obyek ketertarikan; sesuatu yang dihormati, dihargai, atau ditinggikan. Dalam perkembangannya dikenal istilah nilai instrumental dan nilai intrinsik.

Nikmat Allah Swt yang tak terhingga banyaknya ini harus disyukuri dan tidak boleh dikufuri. Begitu ketentuan dan sunnatullahnya. Nikamy yang disyukuri akan membuahkan nikmat baru yang semakin melimpah. Sebaliknya nikmat yang dikufuri hanya akan melahirkan malapetaka. Imam Ghazali melukiskan syukur dan sabar sebagai sayap yang menerbangkan spiritualitas manusia ke jenjang yang tinggi. Sedangkan rasa syukur seseorang tidak hanya berupa ucapan terima kasih atau Alhamdulillah. Juga tidak hanya mengkonsumsi dan menikmatinya dengan baik. Akan tetapi juga menyadari nilai yang terkandung di dalamnya dengan tepat waktu.

Keterlambatan kesadaran akan nilai suatu nikmat dapat berakibat fatal, akan menimbulkan penyesalan yang tiada guna. Ketika penyesalan terus merapat pada diri seseorang, maka kerugian yang akan diderita ialah hilangnya nikmat dan rusaknya suasana batin. Kedua kerugian itulah yang secara faktual dapat memperburuk kekacauan suasana batin yang bisa menjadi faktor menguatnya rasa frustrasi, stress, dan penurunan martabat kemanusiaan.

Oleh sebab itu dengan tajam Imam Ibnu ‘Athaillah mengingatkan agar setiap individu memiliki kesadaran tentang nilai yang melekat pada nikmat-nikmat Allah Swt. Sayangnya, nilai itu sering disadari ketika sudah lepas dan tidak akan kembali. “Orang yang tidak mengetahui nilai nikmat tatkala memperolehnya, ia akan mengetahuinya tatkala sudah lepas darinya.”

Orang-orang yang lalai pada umumnya baru mengetahui dan menyadari nilai sehat bagi kehidupannya ketika ia sedang sakit. Tatkala sehat, dia sama sekali tidak menyadarinya. Atau banyak di antara manusia yang baru menyadari tingginya nilai waktu luang ketika ia sudah disibukkan denan segala tetekbengek urusan dirinya. Padahal ketika waktu luang itu terbuka, justru dilalaikannya sehingga ia tidak memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan kehidupannya. Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua nikmat yamh sering dilalaikan manusia: nikmat sehat dan nikmat waktu luang.”.

0 komentar:

Posting Komentar