Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Janganlah Merasa Hina, Anda Lebih Mulia

Written By Rudi Abu azka on Senin, 31 Januari 2011 | 09.04

Firman Allah Ta’ala yg artinya “Kehidupan dunia dijadikan dindah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yg beriman. Padahal orang-orang yg bertakwa itu lbh mulia dari mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yg dikehedaki-Nya tanpa batas.” Secara umum saat ini kaum Muslimin dipandang sebelah mata terutama oleh orang-orang kafir. Segala keterbelakangan seolah-olah suatu yg beralamat pada kaum Muslimin. Pasca runtuhnya khilafah terakhir khilafah Turki Utsmani tahun 1924 Masehi - belum seratus tahun berlalu - umat Islam sontak seperti terjatuh ke dalam jurang ketertinggalan dan kehinaan di mata dunia. Secara historis sebenarnya banyak ilmu pengetahuan yg sekarang dibanggakan orang-orang kafir itu berasal dari kaum Muslimin pada masa jayanya. Ketika Andalusia diperintah oleh kaum Muslimin ilmu pengetahuan mencapai kejayaannya sementara Eropa mengalami kegelapannya. Bahkan sampai-sampai raja Inggris ketika itu meminta secara khusus agar khalifah waktu itu mengizinkan beberapa utusannya utk belajar pada kaum Muslimin di Andalusia tentang beberapa ilmu pengetahuan. Namun kita tidak boleh tenggelam oleh kenangan kejayaan masa lalu. Justru seharusnya kita mengambil pelajaran dari sejarah. Kalaulah boleh dikatakan bahwa umat Islam sekarang ibarat perumpamaan yg telah disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kita akan diperebutkan oleh umat-umat lain ibarat orang-orang menyerbu makanan di sebuah piring besar. Bukan krn jumlah umat Islam sedikit tetapi krn kualitas kita yg tidak sesuai dgn kuantitas kita. Kita banyak tetapi kualitas kita sedikit. Bukan hanya masalah ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga masalah pengetahuan umat terhadap Islam dan ajarannya. Sejujurnya harus diakui bahwa mayoritas umat ini tidak mengerti dgn baik ajaran agamanya yg sempurna ini. Kelemahan yg dikatakan Rasulullah sebagai penyebabnya ternyata benar adanya. Hal itu adl cinta dunia dan takut mati. Ditambah lagi satu penyakit batin yg tak kalah bahayanya yaitu merasa rendah dan hina dihadapan orang-orang kafir dan takjub akan segala kemajuan mereka dalam kehidupan dunia ini. Seharusnya seorang mu’min tidak boleh merasa lbh rendah dan hina dari orang-orang kafir. Karena dunia ini adl suatu yg akan musnah. Dunia ini memang dijadikan indah bagi orang-orang kafir mereka mencurahkan seluruh hidupnya utk dunia ini. Sementara mukmin hanya menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha Allah dan sorga-Nya di akhirat kelak. Lagi pula bukankah menjadi seorang mukmin itu sudah merupakan suatu ni’mat yg tak dapat dibandingkan dgn dunia seisinya. Ingatlah firman Allah yg artinya “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajanya jika kamu benar-benar orang-orang yg beriman.” . Kita janganlah tertipu bahwa dgn meraih dunia kita akan dipandang mulia. Adalah sifat orang-orang kafir memandang hina kaum Mulimin bagaimanapun keadaannya. Ketika kaum Muslimin tertinggal orang-orang kafir menghina mereka krn ketertinggalan. Jika kaum Muslimin lbh maju dari mereka mereka tetap memandang hina kaum Muslimn krn iri dan dengki. Apalagi di zaman globalisasi informasi sekarang ini. Dengan menguasai jalur informasi mereka dgn mudah membentuk opini dunia bahwa merekalah yg terbaik di muka bumi ini. Bukan berarti kita tidak boleh meraih kesenangan dunia dan kejayaan di dalamnya. Alangkah indahnya doa orang yg berkata “Ya Allah jadikanlah dunia di tangan kami dan jangan jadikan dunia di hati kami.” Sekarang secara umum keadaan kita terbalik. Dunia bersemayam di hati kita tetapi tidak di tangan kita. Sungguh ironis memang keadaan ini sangat bertolak belakang dgn para pendahulu kita. Dunia mereka kuasai dalam genggamannya namun tidak mereka biarkan bersemayam di hati mereka. Banyak sahabat yg kaya raya memiliki apa saja namun hal itu tidak memalingkan hatinya dari takwa. Sebagai contoh Abdur Rahman bin ‘Auf salah seorang dari sepuluh sahabat yg diberi kabar gembira akan masuk sorga. Beliau adl seorang pedagang yg sangat sukses sampai dikatakan bahwa beliau jika membalikkan sebuah batu pun menghasilkan rezeki yg banyak dan berkah. Namun hal itu tidak pernah melalaikan beliau dari takwa. Bahkan diriwayatkan bahwa ketika meninggal beliau meninggalkan 20 ribu dinar. Satu dinarnya sama dgn 425 gram emas jika ditotal maka itu adl seberat 85 kg emas. Sungguh jumlah yg tak sedikit. Bagaimanapun keadaan kita saat ini kita tak boleh berkecil hati. Bukankah Allah akan memberikan kemuliaan bagi kita atas orang kafir di akhirat nanti. Bukan berarti kita juga harus berhenti berusaha mengibarkan dan menegakkan panji-panji Allah di muka bumi ini hanya dgn mengharapkan akhirat. Dunia adl tempat kita harus beramal dgn sebaik-baiknya utk menegakkan kalimatullah. Jangan pedulikan hinaan orang-orang kafir. Bila saatnya tiba kita pasti akan menghina mereka dan mereka tidak akan pernah keluar dari kehinaan itu. Optimisme adl sifat yg disukai Allah. Maka janganlah merasa pesimis dgn ketertinggalan yg jauh ini. Selangkah demi selangkah adl lbh baik daripada diam menyesali diri dan hanya menonton dari jauh tanpa pernah terusik utk menjadi pemain utama.

0 komentar:

Posting Komentar