Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) Wafat

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 31 Desember 2009 | 06.34





Materi ini kami ambil dari Wikipedia Silmi Production dan tambahan dari wikipedia On Line.Ensiklopedia pertama dan tercepat didalam menyampaikan informasi terkini di jagat raya web.

Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun[1]) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999. Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu oleh Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban, sama dengan 7 September 1940.

Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk".[2] Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas".[2]

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan[3]. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Abdurrahman Wahid mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.[4][5] Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.[5] Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang diketemukan makamnya di Trowulan.[5]

Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada akhir perang tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya[6]. Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.[7]

Pendidikan di luar negeri
Pada tahun 1963, Wahid menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November 1963. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh Universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.[8]

Abdurrahman Wahid menikmati hidup di Mesir pada tahun 1964; menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton sepak bola. Wahid juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut. Pada akhir tahun, ia berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab tahun 1965, Gus Dur kecewa. Ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode belajar yang digunakan Universitas [9].

Di Mesir, Wahid dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September terjadi. Mayor Jendral Suharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan Komunis dilakukan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Wahid, yang ditugaskan menulis laporan [10].

Wahid mengalami kegagalan di Mesir. Ia tidak setuju akan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya.[11] Pada tahun 1966, ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar.[11] Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad.[12] Wahid pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun ia lalai pada awalnya, Wahid dengan cepat belajar. Wahid juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menulis majalah asosiasi tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Abdurrahman Wahid pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Wahid ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui.[13] Dari Belanda, Wahid pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.

Karir awal
Gus Dur kembali ke Jakarta mengharapkan bahwa ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) [14], organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang disebut Prisma dan Wahid menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Wahid juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Wahid merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini. Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Wahid memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.

Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya [15]. Pada tahun 1974, Wahid mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi baik. Satu tahun kemudian, Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Sekali lagi, Wahid mengungguli pekerjaannya dan Universitas ingin agar Wahid mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Namun, kelebihannya menyebabkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas dan Wahid mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban tersebut, Wahid juga berpidato selama ramadhan di depan komunitas Muslim di Jombang.

Nahdlatul Ulama
[sunting] Awal keterlibatan
Latar belakang keluarga Wahid segera berarti. Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU. Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga [16]. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana. Sebagai anggota Dewan Penasehat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.

Pada saat itu, Abdurrahman Wahid juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Wahid menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya [17]. Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jendral Benny Moerdani.

Mereformasi NU
Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasehat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (yang termasuk Wahid) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan keketuaan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Wahid mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa permintaan mundur tidak konstitusionil. Dengan himbauan Wahid, Idham membatalkan kemundurannya dan Wahid bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya [18].

Pada tahun 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ke-4 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan mulai mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Wahid menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut. Wahid berkonsultasi dengan bacaan seperti Quran dan Sunnah untuk pembenaran dan akhirnya, pada Oktober 1983, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara [19]. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, Wahid juga mengundurkan diri dari PPP dan partai politik. Hal ini dilakukan sehingga NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terhambat dengan terlibat dalam politik.

Terpilih sebagai ketua dan masa jabatan pertama
Reformasi Wahid membuatnya sangat populer di kalangan NU. Pada saat Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang mulai menyatakan keinginan mereka untuk menominasikan Wahid sebagai ketua baru NU. Wahid menerima nominasi ini dengan syarat ia mendapatkan wewenang penuh untuk memilih para pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional tersebut. Namun demikian, persyaratannya untuk dapat memilih sendiri para pengurus di bawahnya tidak terpenuhi. Pada hari terakhir Munas, daftar anggota Wahid sedang dibahas persetujuannya oleh para pejabat tinggu NU termasuk Ketua PBNU sebelumnya, Idham Chalid. Wahid sebelumnya telah memberikan sebuah daftar kepada Panitia Munas yang sedianya akan diumumkan hari itu. Namun demikian, Panitia Munas, yang bertentangan dengan Idham, mengumumkan sebuah daftar yang sama sekali berbeda kepada para peserta Munas.[20]

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila.[21] Pada tahun 1987, Abdurrahman Wahid menunjukan dukungan lebih lanjut terhadap rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar Suharto. Ia kemudian menjadi anggota MPR mewakili Golkar. Meskipun ia disukai oleh rezim, Wahid mengkritik pemerintah karena proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia.[22] Hal ini merenggangkan hubungan Wahid dengan pemerintah, namun saat itu Suharto masih mendapat dukungan politik dari NU.

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.[23] Pada tahun 1987, Gus Dur juga mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim.[24] Gus Dur pernah pula menghadapi kritik bahwa ia mengharapkan mengubah salam Muslim "assalamualaikum" menjadi salam sekular "selamat pagi".[25]

Masa jabatan kedua dan melawan Orde Baru
Wahid terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua NU pada Musyawarah Nasional 1989. Pada saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, mulai menarik simpati Muslim untuk mendapat dukungan mereka. Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati Muslim Intelektual. Organisasi ini didukung oleh Soeharto, diketuai oleh Baharuddin Jusuf Habibie dan di dalamnya terdapat intelektual Muslim seperti Amien Rais dan Nurcholish Madjid sebagai anggota. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung. Gus Dur menolak karena ia mengira ICMI mendukung sektarianisme dan akan membuat Soeharto tetap kuat.[26] Pada tahun 1991, Wahid melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi yang terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Organisasi ini diperhitungkan oleh pemerintah dan pemerintah menghentikan pertemuan yang diadakan oleh Forum Demokrasi saat menjelang pemilihan umum legislatif 1992.

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.[27] Selama masa jabatan keduanya sebagai ketua NU, ide liberal Gus Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Sebagai ketua, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.[28]

Masa jabatan ketiga dan menuju reformasi
Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi.[29] Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto. Wahid menasehati Megawati untuk berhati-hati dan menolak dipilih sebagai Presiden untuk Sidang Umum MPR 1998. Megawati mengacuhkannya dan harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markas PDInya diambil alih oleh pendukung Ketua PDI yang didukung pemerintah, Soerjadi.

Melihat apa yang terjadi terhadap Megawati, Gus Dur berpikir bahwa pilihan terbaiknya sekarang adalah mundur secara politik dengan mendukung pemerintah. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU dan beberapa bulan berikutnya diikuti dengan pertemuan dengan berbagai tokoh pemerintah yang pada tahun 1994 berusaha menghalangi pemilihan kembali Gus Dur.[30] Pada saat yang sama, Gus Dur membiarkan pilihannya untuk melakukan reformasi tetap terbuka dan pada Desember 1996 bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Juli 1997 merupakan awal dari Krisis Finansial Asia. Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi tersebut. Gus Dur didorong untuk melakukan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun ia terkena stroke pada Januari 1998. Dari rumah sakit, Wahid melihat situasi terus memburuk dengan pemilihan kembali Soeharto sebagai Presiden dan protes mahasiswa yang menyebabkan terjadinya kerusuhan Mei 1998 setelah penembakan enam mahasiswa di Universitas Trisakti. Pada tanggal 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto. Soeharto memberikan konsep Komite Reformasi yang ia usulkan. Sembilan pemimpin tersebut menolak untuk bergabung dengan Komite Reformasi. Gus Dur memiliki pendirian yang lebih moderat dengan Soeharto dan meminta demonstran berhenti untuk melihat apakah Soeharto akan menepati janjinya.[31] Hal tersebut tidak disukai Amien, yang merupakan oposisi Soeharto yang paling kritis pada saat itu. Namun, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Reformasi
Pembentukan PKB dan Pernyataan Ciganjur
Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah pembentukan partai politik baru. Di bawah rezim Soeharto, hanya terdapat tiga pertai politik: Golkar, PPP dan PDI. Dengan jatuhnya Soeharto, partai-partai politik mulai terbentuk, dengan yang paling penting adalah Partai Amanat Nasional (PAN) bentukan Amien dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) bentukan Megawati. Pada Juni 1998, banyak orang dari komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Ia tidak langsung mengimplementasikan ide tersebut. Namun pada Juli 1998 Gus Dur mulai menanggapi ide tersebut karena mendirikan partai politik merupakan satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Wahid menyetujui pembentukan PKB dan menjadi Ketua Dewan Penasehat dengan Matori Abdul Djalil sebagai ketua partai. Meskipun partai tersebut didominasi anggota NU, Gus Dur menyatakan bahwa partai tersebut terbuka untuk semua orang.

Pada November 1998, dalam pertemuan di Ciganjur, Gus Dur, bersama dengan Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubuwono X kembali menyatakan komitmen mereka untuk reformasi. Pada 7 Februari 1999, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.

Pemilu 1999 dan Sidang Umum MPR

Amien Rais dan Gus Dur pada Sidang Umum MPR.Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33%suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim.[32] Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.

Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden.[33] Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.[34]

Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan jendral Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.

Kepresidenan
1999
Kabinet pertama Gus Dur, Kabinet Persatuan Nasional, adalah kabinet koalisi yang meliputi anggota berbagai partai politik: PDI-P, PKB, Golkar, PPP, PAN, dan Partai Keadilan (PK). Non-partisan dan TNI juga ada dalam kabinet tersebut. Wahid kemudian mulai melakukan dua reformasi pemerintahan. Reformasi pertama adalah membubarkan Departemen Penerangan, senjata utama rezim Soeharto dalam menguasai media. Reformasi kedua adalah membubarkan Departemen Sosial yang korup.[35]

Pada November 1999, Wahid mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Cina.[36]

Setelah satu bulan berada dalam Kabinet Persatuan Nasional, Menteri Menteri Koordinator Pengentasan Kemiskinan (Menko Taskin) Hamzah Haz mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan November. Muncul dugaan bahwa pengunduran dirinya diakibatkan karena Gus Dur menuduh beberapa anggota kabinet melakukan korupsi selama ia masih berada di Amerika Serikat.[35] Beberapa menduga bahwa pengunduran diri Hamzah Haz diakibatkan karena ketidaksenangannya atas pendekatan Gus Dur dengan Israel [37].

Rencana Gus Dur adalah memberikan Aceh referendum. Namun referendum ini menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti referendum Timor Timur. Gus Dur juga ingin mengadopsi pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Mekkah tersebut. Pada 30 Desember, Gus Dur mengunjungi Jayapura di provinsi Irian Jaya. Selama kunjungannya, Abdurrahman Wahid berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.[38]

2000

Abdurrahman Wahid di Forum Ekonomi Dunia tahun 2000.Pada Januari 2000, Gus Dur melakukan perjalanan ke luar negeri lainnya ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia dan mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang menuju Indonesia. Pada Februari, Wahid melakukan perjalanan luar negeri ke Eropa lainnya dengan mengunjungi Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Dalam perjalanan pulang dari Eropa, Gus Dur juga mengunjungi India, Korea Selatan, Thailand, dan Brunei Darussalam. Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Leste. Di bulan April, Wahid mengunjungi Afrika Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk menghadiri pertemuan G-77, sebelum kembali melewati Kota Meksiko dan Hong Kong. Pada bulan Juni, Wahid sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Perancis dengan Iran, Pakistan, dan Mesir sebagai tambahan baru ke dalam daftar negara-negara yang dikunjunginya.[39]

Ketika Gus Dur berkelana ke Eropa pada bulan Februari, ia mulai meminta Jendral Wiranto mengundurkan diri dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Gus Dur melihat Wiranto sebagai halangan terhadap rencana reformasi militer dan juga karena tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur terhadap Wiranto.[40]

Ketika Gus Dur kembali ke Jakarta, Wiranto berbicara dengannya dan berhasil meyakinkan Gus Dur agar tidak menggantikannya. Namun, Gus Dur kemudian mengubah pikirannya dan memintanya mundur. Pada April 2000, Gus Dur memecat Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla dan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi. Alasan yang diberikan Wahid adalah bahwa keduanya terlibat dalam kasus korupsi, meskipun Gus Dur tidak pernah memberikan bukti yang kuat.[41] Hal ini memperburuk hubungan Gus Dur dengan Golkar dan PDI-P.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai melakukan negosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM hingga awal tahun 2001, saat kedua penandatangan akan melanggar persetujuan.[42] Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.[43]

Ia juga berusaha membuka hubungan dengan Israel, yang menyebabkan kemarahan pada kelompok Muslim Indonesia.[44] Isu ini diangkat dalam pidato Ribbhi Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, kepada parlemen Palestina tahun 2000. Isu lain yang muncul adalah keanggotaan Gus Dur pada Yayasan Shimon Peres. Baik Gus Dur dan menteri luar negerinya Alwi Shihab menentang penggambaran Presiden Indonesia yang tidak tepat, dan Alwi meminta agar Awad, duta besar Palestina untuk Indonesia, diganti.[45]

Dalam usaha mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik, Gus Dur menemukan sekutu, yaitu Agus Wirahadikusumah, yang diangkatnya menjadi Panglima Kostrad pada bulan Maret. Pada Juli 2000, Agus mulai membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, yayasan yang memiliki hubungan dengan Kostrad. Melalui Megawati, anggota TNI mulai menekan Wahid untuk mencopot jabatan Agus. Gus Dur mengikuti tekanan tersebut, tetapi berencana menunjuk Agus sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Petinggi TNI merespon dengan mengancam untuk pensiun, sehingga Gus Dur kembali harus menurut pada tekanan.[46]

Hubungan Gus Dur dengan TNI semakin memburuk ketika Laskar Jihad tiba di Maluku dan dipersenjatai oleh TNI. Laskar Jihad pergi ke Maluku untuk membantu orang Muslim dalam konflik dengan orang Kristen. Wahid meminta TNI menghentikan aksi Laskar Jihad, namun mereka tetap berhasil mencapai Maluku dan dipersenjatai oleh senjata TNI.[47]

Muncul pula dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan Mei, Badan Urusan Logistik (BULOG) melaporkan bahwa $4 juta menghilang dari persediaan kas Bulog. Tukang pijit pribadi Gus Dur mengklaim bahwa ia dikirim oleh Gus Dur ke Bulog untuk mengambil uang.[48] Meskipun uang berhasil dikembalikan, musuh Gus Dur menuduhnya terlibat dalam skandal ini. Skandal ini disebut skandal Buloggate. Pada waktu yang sama, Gus Dur juga dituduh menyimpan uang $2 juta untuk dirinya sendiri. Uang itu merupakan sumbangan dari Sultan Brunei untuk membantu di Aceh. Namun, Gus Dur gagal mempertanggungjawabkan dana tersebut. Skandal ini disebut skandal Bruneigate.

Sidang Umum MPR 2000 hampir tiba, popularitas Gus Dur masih tinggi. Sekutu Wahid seperti Megawati, Akbar dan Amien masih mendukungnya meskipun terjadi berbagai skandal dan pencopotan menteri. Pada Sidang Umum MPR, pidato Gus Dur diterima oleh mayoritas anggota MPR. Selama pidato, Wahid menyadari kelemahannya sebagai pemimpin dan menyatakan ia akan mewakilkan sebagian tugas.[49] Anggota MPR setuju dan mengusulkan agar Megawati menerima tugas tersebut. Pada awalnya MPR berencana menerapkan usulan ini sebagai TAP MPR, akan tetapi Keputusan Presiden dianggap sudah cukup. Pada 23 Agustus, Gus Dur mengumumkan kabinet baru meskipun Megawati ingin pengumuman ditunda. Megawati menunjukan ketidaksenangannya dengan tidak hadir pada pengumuman kabinet. Kabinet baru lebih kecil dan meliputi lebih banyak non-partisan. Tidak terdapat anggota Golkar dalam kabinet baru Gus Dur.

Pada September, Gus Dur menyatakan darurat militer di Maluku karena kondisi di sana semakin memburuk. Pada saat itu semakin jelas bahwa Laskar Jihad didukung oleh anggota TNI dan juga kemungkinan didanai oleh Fuad Bawazier, menteri keuangan terakhir Soeharto. Pada bulan yang sama, bendera bintang kejora berkibar di Papua Barat. Gus Dur memperbolehkan bendera bintang kejora dikibarkan asalkan berada di bawah bendera Indonesia.[50] Ia dikritik oleh Megawati dan Akbar karena hal ini. Pada 24 Desember 2000, terjadi serangan bom terhadap gereja-gereja di Jakarta dan delapan kota lainnya di seluruh Indonesia.

Pada akhir tahun 2000, terdapat banyak elit politik yang kecewa dengan Abdurrahman Wahid. Orang yang paling menunjukan kekecewaannya adalah Amien. Ia menyatakan kecewa mendukung Gus Dur sebagai presiden tahun lalu. Amien juga berusaha mengumpulkan oposisi dengan meyakinkan Megawati dan Gus Dur untuk merenggangkan otot politik mereka. Megawati melindungi Gus Dur, sementara Akbar menunggu pemilihan umum legislatif tahun 2004. Pada akhir November, 151 DPR menandatangani petisi yang meminta pemakzulan Gus Dur.[51]

2001 dan akhir kekuasaan
Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional.[52] Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Gus Dur lalu mengunjungi Afrika Utara dan juga Arab Saudi untuk naik haji.[53] Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan terakhirnya ke luar negeri sebagai presiden pada Juni 2001 ketika ia mengunjungi Australia.

Pada pertemuan dengan rektor-rektor universitas pada 27 Januari 2001, Gus Dur menyatakan kemungkinan Indonesia masuk kedalam anarkisme. Ia lalu mengusulkan pembubaran DPR jika hal tersebut terjadi.[54] Pertempuan tersebut menambah gerakan anti-Wahid. Pada 1 Februari, DPR bertemu untuk mengeluarkan nota terhadap Gus Dur. Nota tersebut berisi diadakannya Sidang Khusus MPR dimana pemakzulan Presiden dapat dilakukan. Anggota PKB hanya bisa walk out dalam menanggapi hal ini. Nota ini juga menimbulkan protes di antara NU. Di Jawa Timur, anggota NU melakukan protes di sekitar kantor regional Golkar. Di Jakarta, oposisi Gus Dur turun menuduhnya mendorong protes tersebut. Gus Dur membantah dan pergi untuk berbicara dengan demonstran di Pasuruan.[55]. Namun, demonstran NU terus menunjukan dukungan mereka kepada Gus Dur dan pada bulan April mengumumkan bahwa mereka siap untuk mempertahankan Gus Dur sebagai presiden hingga mati.

Pada bulan Maret, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot dari kabinet karena ia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur.[56] Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan,[57] yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut Gus Dur mundur. Dalam menanggapi hal ini, Megawati mulai menjaga jarak dan tidak hadir dalam inagurasi penggantian menteri. Pada 30 April, DPR mengeluarkan nota kedua dan meminta diadakannya Sidang Istimewa MPR pada 1 Agustus.

Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2009.[58] Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan.[59]. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar[60] sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.[61] Abdurrahman Wahid terus bersikeras bahwa ia adalah presiden dan tetap tinggal di Istana Negara selama beberapa hari, namun akhirnya pada tanggal 25 Juli ia pergi ke Amerika Serikat karena masalah kesehatan.[62]

Aktivitas setelah kepresidenan
Perpecahan pada tubuh PKB
Sebelum Sidang Khusus MPR, anggota PKB setuju untuk tidak hadir sebagai lambang solidaritas. Namun, Matori Abdul Djalil, ketua PKB, bersikeras hadir karena ia adalah Wakil Ketua MPR. Dengan posisinya sebagai Kepala Dewan Penasehat, Gus Dur menjatuhkan posisi Matori sebagai Ketua PKB pada tanggal 15 Agustus 2001 dan melarangnya ikut serta dalam aktivitas partai sebelum mencabut keanggotaan Matori pada bulan November.[63] Pada tanggal 14 Januari 2002, Matori mengadakan Munas Khusus yang dihadiri oleh pendukungnya di PKB. Munas tersebut memilihnya kembali sebagai ketua PKB. Gus Dur membalasnya dengan mengadakan Munasnya sendiri pada tanggal 17 Januari, sehari setelah Munas Matori selesai[64] Musyawarah Nasional memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Dewan Penasehat dan Alwi Shihab sebagai Ketua PKB. PKB Gus Dur lebih dikenal sebagai PKB Kuningan sementara PKB Matori dikenal sebagai PKB Batutulis.

Pemilihan umum 2004
Pada April 2004, PKB berpartisipasi dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Indonesia 2004, memperoleh 10.6% suara. Untuk Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004, dimana rakyat akan memilih secara langsung, PKB memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis sehingga Komisi Pemilihan Umum menolak memasukannya sebagai kandidat. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan dari Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Untuk pemilihan kedua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur menyatakan golput.

Oposisi terhadap pemerintahan SBY
Pada Agustus 2005, Gus Dur menjadi salah satu pemimpin koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama mengenai pencabutan subsidi BBM yang akan menyebabkan naiknya harga BBM.

Kehidupan pribadi
Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny juga aktif berpolitik di Partai Kebangkitan Bangsa dan saat ini adalah direktur The Wahid Institute.

Kematian
Gus Dur menderita banyak penyakit, bahkan sejak ia mulai menjabat sebagai presiden. Ia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali ia mengalami serangan strok. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya. Ia wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit tersebut, yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat ia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Menurut adiknya, Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri.[65] Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.[66]

Penghargaan
Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership. [67]

Wahid ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.[5]

Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.[68] Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu.[69] Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.[69]

Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.[70][71] Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.[70] Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.[70]

Doktor kehormatan
Gus Dur juga banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan:

Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)[72]
Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)[72]
Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (2000)[72]
Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)
Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000) [73]
Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)[72]
Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)[72]
Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)[74]
Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)[72]
Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)

(Diambil dari wikipedia berbahasa Indonesia)
06.34 | 0 komentar

HIJRAH, GERBANG KEMENANGAN

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 30 Desember 2009 | 20.12


HIJRAH, GERBANG KEMENANGAN

“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Qs. At-Taubah [9]:20

Makna dan Hakekat Hijrah
Hijrah berasal dari kata hajara , artinya “meninggalkan sesuatu yang tidak di senangi”. Bentuk perintah dari hajara adalah uhjur yang berarti “keluarlah tinggalkanlah, atau jauhilah segala sesuatu hal yang bathil. Dengan pengertian ini, makna hijrah berarti berpindah untuk meninggalkan tempat yang tidak disenangi
(kebathilan) dan menuju tempat yang di senangi (kebenaran).Hijrah juga merupakan salah satu bentuk dari ishlah (reformasi) menuju kearah yang lebih baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk. Makna ini sejalan dengan pengertian al-Qur’an dalam
surah al-Mudatsir [74]:5. Allah berfirman:
“... dan perbuatan dosa tinggalkanlah “, Ayat ini memberikan isyarat kepada kita untuk secara total meninggalkan segala apapun yang menyebabkan kita menjadi
orang-orang yang berdosa. Nabi Muhammad SAW memberi penjelasan yang lebih rinci terkait dengan makna hijrah secara terus-menerus. Beliau bersabda:
“ Orang yang berhijrah adalah orang-orang yang meninggalkan apa yang di larang Allah atasnya”. Dan yang terpenting dalam seluruh rangkaian hijrah itu adalah harus dilakukan berdasarkan niat yang tulus karena Allah tanpa di pegaruhi oleh kepentingan duniawi semata.

Seperti dalam sebuah hadist RAsulullah bersabda:"Sesungguhnya perbuatan itu ergantung niat. Seseorang akan meperoleh hasil amal tergantung pada kualitas niatnya. Barang siapa hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, ia akan memperoleh
ridha Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah, Gerbang Kemenangan

Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib) bukan hanya sebatas pindah tempat, tetapi memiliki makna strategis untuk kemenangan Islam selanjutnya. Di mulai dari babak sejarah hijrah inilah kemudian terbuka pintu kemenangan yang sangat mengagumkan, juga merupakan episode penting perjalanan sejarah umat Islam bahkan peradaban dunia.

Sesungguhnya hijrah bukan hanya diperintahkan kepada Rasul dan para sahabat, tetapi juga kepada setiap muslim. bahkan jika kita melihat jejak sejarah, para Nabi terdahulu juga melakukan hijrah. Misalnya, Nabi Ibrahim hijrah dari kan’an menuju
Mekah, Nabi Ya’qub dari Madyan ke Mesir, Nabi Musa dari Mesir menuju Syam (syiria sekarang). Dan para para sahabat Nabi sebelumnya di perintahkan hijrah ke Ethiopia. Tanpa hijrah tidak mungkin ada kejayaan Madinatul Munawaroh. Tanpa Madinah, belum tentu muncul kegemilangan Baghdad dan Cordova. Tidak kurang dari lima abad Baghdad memimpin peradaban dunia, sementara Cordova bahkan mengalami kejayaan yang jauh lebih lama lagi, yakni delapan abad.

Kemudian dari kedua kota itulah, ilmu dan peradaban Islam mengalir keseluruh penjuru dunia dan menjadi milik masyarakat International. Dan dengan kehebatan dua kota ini pula Barat yang saat itu belum maju mulai bersentuhan dengan berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, biologi, matematika, optika, filsafat dan beberapa disiplin keilmuan lainnya. Bahkan sampai pada Amerika Utara dan Eropa Barat menjadi tak terbayangkan bisa maju seperti sekarang. Itu semua atas jasa-jasa Islam.

Meneladani Hijrah Nabi

Peristiwa hijrahnya Nabi Saw (tahun 622 M) kemudian di tetapkan dan dijadikan sebagai tonggak awal perhitungan tahun baru Islam, yang di sebut tahun Hijriah. Inilah momentum yang sangat kaya akan keteladanan. Sebuah peristiwa heroisme
(kepahlawan), puncak pengorbanan, kesabaran dan puncak kesungguhan serta keikhlasan yang di praktekkan oleh Nabi dan para sahabat. Karenanya pilihan Khalifah Umar Ibn Khoththob dan para sahabat menjadikan peristiwan hijrahnya Nabi menjadi
tahun pertama Islam sangatlah tepat. Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah bukanlah suatu tindakan yang spontan, tetapi merupakan pilihan yang telah di rencakan
sejak awal. Beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah, Nabi telah menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh-tokoh pemuda yastrib (madinah) yang sering melakukan kunjungan ke Mekah.

Bahkan, tiga tahun setelah hubungan dilakukan, terjadi suatu peristiwa penting yang di kenal dengan “ Bai’atul Aqobah” yang menghasilkan ikrar penting, yakni kesediaan para pemuda Madinah untuk menjaga, melindungi dan membela Nabi. “ Musuh anda adalah musih kami, derita anda adalah derita kami, dan siapa saja yang menyakiti anda berarti pula menyakiti kami, silahkan anda datang ke Yastrib”. Itulah isi perjanjian
yang dinyatakan secara mantap oleh utusan pemuda Yastrib (Madinah) di hadapan Nabi.
Dari proses ini terlihat, sebelum melakukan hijrah, Nabi melakukan perhitungan yang sangat cermat dan baik serta persiapan yang sangat matang. Bahkan sahabat-sahabat Nabi telah mepersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Seperti Ali Bin Abi Thalib misalnya, dia berani menggantikan posisi Nabi dengan tidur di tempat tidur Nabi di malam ketika orang-orang kafir hendak membunuh Nabi.
Ketika mereka memusatkan perhatian kepada orang yang tidur (yang disangkanya Rasulullah), Nabi bersama sahabat Abu Bakar atas izin Allah berhasil meloloskan diri keluar rumah.

Hijrah Dan Kalender Islam

Perhitungan kalender Islam di mulai dari kekhalifahan Umar Ibn Khoththob. Penyebutan “tahun hijriah sebagai kalender Islam terkait erat dengan peristiwa hijrahnya Nabi saw. Sebelum kalender Islam ini berlaku, setiap kejadian-kejadian besar saat itu selalu mengkaitkan tempat dan kondisi. Seperti peristiwa
gajah, disebut “amul fiil” atau tahun gajah. Tentu saja penamaan sebuah peristiwa hanya bersifat local dan tidak bisa dijadikan ketetapan hitungan kalender. Maka Umar mengusulkan agar ada perhitungan tahun yang dapat dijadikan pegangan oleh
umat Islam. Ide ini kemudian di sampaikan kepada sahabat yang lain dan masing-masing mereka memberikan usulan yang berbeda-beda, hingga akhirnya peristiwa hijrah Nabi ditetapkan sebagai titik tolak dari perhitungan tahun Islam. Alasannya
adalah karena hijrah adalah titik balik dari sejarah Islam, terjadi timing point dari sejarah Islam semenjak hijrah. Rasululah mendapat kemenangan demi kemenangan, sehingga dalam tempo 10 tahun kemudian Nabi wafat dan beliau berhasil
meninggalkan prestasi yang luar biasa, yaitu; seluruh jazirah Arabia telah menerima Islam. Kemudian pada kurun waktu 100 tahun setelah itu Islam telah menyebar meliputi daerah daratan, lautan Atlantik di sebelah barat, sampai tembok china di timur yaitu daerah-daerah Yunani.
Disinilah terlihat betapa hjrah merupakan pintu gerbang memasuki babak baru sejarah yang gemilang. Tidak salah jika Umar menetapkan peristiwa ini sebagai titik tolak perubahan. Umar ingin meneguhkan sebuah prinshif dalam Islam yaitu bahwa penghargaan seseorang di tunjukan kepada hasil kerjanya bukan kepada misalnya keturunan, asal daerah, bahasa, warna kulit dan pertimbangan kenisbatan. Karena hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar penghargaan manusia. Sebaliknya, hasil kerja atau prestasi (achievement) adalah pilihan yang bisa djadikan sebagai ukuran keberhasilan dan manusia hanya bisa di hargai ketika ia mempuanyai hasil dari apa yang di kerjakanya. Seperti ada sebuah pepatah arab berbunyi: “ Penghargaan di zaman Jahiliyah berdasarkan keturunan dan penghargaan di zaman Islam diberikan berdasarkan kerja (amal) “

Hijrah adalah hasil dari sebuah kematangan tindakan, perjuangan kesabaran dan praktek dari sebuah nilai keikhlasan. Semua adalah hasil kerja yang tidak akan terwujud tanpa kesungguhan. Maka jika kita selami maknanya ini adalah
pengharagaan kepada hasil kerja Rasulullah Muhammad saw. Sebab Islam memberikan penghargaan kepada hasil sebuah kerja dengan balasan yang sempurna. Sebagaimana firman Allah: " ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa?. dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,.
dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,. dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu). Qs. An-Najm: 36-42

Hijrah Menuju Kemenangan Hakiki

Secara maknawi hijrah bukan semata berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi hijrah adalah sebuah perpindahan untuk menuju kearah yang lebih baik, sebagai mana sabda Nabi di atas bahwa orang yang hijrah adalah orang yang mennggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya. Dan ini bermakna harus adanya perubahan sikap mental dari yang tidak baik menjadi baik. Maka untuk mengawali proses hijrah menuju perbaikan diri langkah pertama yang harus kita tempuh adalah bertaubat
kepada Allah. Inilah pintu yang akan mengantarkan kita kepada kemenangan yang hakiki.

Taubat artinya kembali ke jalan yang benar, setelah sekian lama kita lalui jalan yang salah. Kebenaran taubat seseorang akan di buktikan dari wujud pengamalan sehari-hari dengan persyaratan taubat itu sendiri, yaitu meninggalkan prilaku
buruk dan menggantinya dengan amalan sholeh. Hijrah dari keburukan menuju kebaikan.

Maka Barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu)sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs. Al-Maidah:39.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Qs. Hud:114
Ayat-ayat diatas adalah penggambaran orang-orang yang melakukan hijrah qalbiyah. Di mulai dari kesadaran hati untuk bertaubat kemudian di lanjutkan dengan penyemburnaan
amalan-amalan sholeh. Inilah hijrah kekinian yang bukan hanya mengantarkan kemenangan tetapi juga ketenangan.

Beberapa hal yang menjadi catatan untuk kita renungkan adalah: Jika diri kita sudah berpindah dari syirik menuju tauhid, dari ragu kepada yakin, dari bodoh kepada ilmu, dari riya kepada ikhlas, dari khianat kepada taubat, dari maksiat kepada taat, dari sombong kepada tawadhu’, dari munafiq kepada shiddiq dan dari perbuatan bid’ah kepada sunnah.

Maka saat itulah kita akan menemukan ketenangan bathin. Kemenangan yang hakiki bagi manusia adalah ketika ia dapat memerdekaan dirinya dari penghambaaan kepada makhluk
dan perbudakan hawa nafsu.

Untuk Kita Renungkan

Sahabat, dengan semangat hijrah, marilah kita bangun sesuatu yang telah kita rubuhkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan ketidakikhlasan. Manfaatkan
kesempatan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan. Bukalah gerbang kesadaran agar tersibak pintu rahmat dan ampunan.Berbuat baiklah selagi masih punya kesempatan
dan bertobatlah kepada Allah sebelum ajal datang menjelang. Tegurlah hati kita yang sedang terlena, agar tidak jatuh terjerat oleh rayuan dunia yang fana. Tegurlah jiwa kita yang gelisah dan goyah agar tetap menjadi hamba yang mulia.
Sadarilah, terkadang jiwa kita selalu cenderung pada kelezatan yang sesaat, maka didiklah ia dengan baik agar selalu taat. Temukan jalan kita di antara sekian banyak jalan yang telah membelokkan tujuan hidup kita. Mohonlah selalu hanya kepada
Allah agar ditetapkan iman dan Islam kita, sebab itulah jalan yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat. Temukan jalan kita dengan berusaha memahami siapa, dari mana dan mau ke mana kita hidup? Ajukan pertanyaan ini kepada batin
kita dengan khusuk, insya Allah kita akan menemukan jawaban itu dengan kejernihan pikiran. “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitnya
tidak dianiaya (dirugikan)”. (Al Baqarah (2): 281). Marilah kita khusu’kan qalbu, hadirkan tekad yang kuat untuk membasmi pengaruh yang dapat mengotori hati. Sibukkan
diri untuk mengetahui segala aib dan cela. Sebab bila Allah akan menunjukkan kebaikan atas diri hamba-Nya, niscaya Dia akan menunjukkan aibnya. Introspeksilah kedalam diri sebelum kita berbuat, apa untung rugi yang akan kita dapati.
Jaga kesehatan qalbu kita dengan memperbanyak dzikir,basahi lidah kita dengan mentadabburi ayat Allah, ketuklah selalu pintu ampunan dengan beristighfar kepada-Nya. Terangi qalbu dengan ilmu, bersihkan diri dengan amal dan basuh keduanya dengan
iman. Hadirkan kesabaran dalam mengikuti perintah-Nya. Dan setelah semuanya itu telah kita lakukan, bertawakkallah kepada Allah, hadirkan kesungguhan hati untuk bersandar hanya kepada-Nya.Insya Allah kejernihan qalbu akan dapat kita raih. Insya Allah.
20.12 | 0 komentar

Top 20 Nasheed Nuris FM -edisi 26 Desember 2009

Written By Iswandi Banna on Senin, 28 Desember 2009 | 08.06


1. For Alloh – Hafiz Hamidun (album: Syukran/2009) naik 1 peringkat (minggu ke-8)
2. Aku Muslim – Sigma (album: Kompilasi FNPI/2009) naik 4 peringkat (minggu ke-8)
3. Q Rasa Q Tahu – Riham Nasyid (2009) #1 (1 pekan) turun 2 peringkat (minggu ke-12)
4. Kudendangkan Shalawat – Launun (album: Warna Warni/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-6)
5. Mentari – Skala (2009) naik 2 peringkat (minggu ke-7)
6. Hanya PadaMu – Faith One (album: Berserah/2009) naik 3 peringkat
(minggu ke-7)
7. Tulus – Taqien Fatih (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-6)
8. Pertaubatanku – Haris Isa (album: No.1/2009)naik 3 peringkat (minggu ke-3)
9. Tentang Hidup – Azmi The CS (album: Kompilasi Nuris FM/2009) #1 (1 pekan) turun 5 peringkat (minggu ke-10)
10. Love U – Senandung Hikmah (album: Risalah Ukhuwah) naik 2 peringkat (minggu ke-3)
11. Ighfirlizanbi - Vertizone (2009) naik 4 peringkat (minggu ke-2)
12. Ciptaan yang Dijanjikan – Innoru (2009) naik 4 peringkat (minggu ke-3)
13. Nusantara – Dinamika (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-5)
14. Cita-cita – Ebiet Beat A (2009) exchange (minggu pertama)
15. Al Aqsha Palestina – Asy Syujaa’ (2009) #1 (2 pekan) turun 5 peringkat (minggu ke-13)
16. Kuterpekur – Nahawan (album: Rahasia Hati/2009) turun 3 peringkat (minggu ke-3)
17. Tak Sendiri- Kaffah (album: Kaffah/2009) naik 1 peringkat (minggu ke-4)
18. Meraih Cinta Ilahi- Zero Nasheed naik 1 peringkat (minggu ke-3)
19. Lukisan Hidup- Tashiru (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-2)
20. Sholatlah – Syauqi (2009) exchange (minggu pertama)

Bisa disimak live setiap sabtu pagi 09.00-11.00 WIB
on air di 107.7 FM
(bagi Anda yang berdomisli di Ciledug, Larangan, Kreo, Petukangan, Joglo, Meruya, Kebon Jeruk, Keb. Lama, Bintaro, Pd. Aren, Ciputat,dan sekitarnya)

more infos http://nurisfm.blogspot.com/

simak via streaming on internet di
http://nurisfm.listen2myradio.com

Bisa Reques di program2 Nuris fm
pagi-siang-sore-malam

ke 085624628596
atau telpon on air di (021) 92297893
08.06 | 0 komentar

Hati, Matahari Kehidupan

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 27 Desember 2009 | 17.57


Abu Umar Basyir dalam tulisannya “ Suci Hati Bersama Nabi saw” , ia melantunkan rangkaian kata indah penuh makna yang dalam tentang hati. Beliau berujar: “Hati adalah sumber kedamaian. Hati adalah nikmat Ilahi yang harus di rawat tak ubahnya bayi dalam buaian. Hati adalah karunia yang harus kita pupuk menjadi sejumput bibit kemenangan.

Hati adalah anugerah. Gunjingan, hasad, dendam, kebencian, dan permusuhan, seluruhnya adalah sampah. Hati nan jernih adalah hati yang teduh dan pasrah, hati yang selalu basah oleh dzikir dan kalimat-kalimat pengagungan nan indah. Hati adalah matahari kehidupan. Mungkin bukan sekedar lentera yang hanya menerangi ruang terbatas, bukan sekedaar lilin yang menebarkan cahaya sementara, untuk kemudian cahaya itu padam tak berbekas. “.

Hati adalah ibarat cermin, setitik embun pun bias membuatnyaa kusam, apalaagi debu, kotoran dan air bernoda hitam. Namun cermin yang jernih, tak hanya berfungsi untuk mengenali diri sendiri, namun juga untuk menampakan wajah sejati. Hati tak ubahnya istana halimun; sebuah keindahan yang tak tampak, sebuah keagungan yang tak terlihat, namun bisa di rasakan. Akan tetapi bila hati sudah ternoda dosa, gelembung pahitnya tercicipi setiap kalangan, ibarat santapan di sebuah pesta hidangan. Hati bukanlah Tuhan. Tapi juga jangan membiarkan hati menjadi sarang-sarang setan. Bergantung hanya kepada hati adalan bualan sufi murahan. Namun mengabaikan kata hati adalah awal sebuah kesesatan. Hati bukan juga gudang kebenaran. Hati hanya persinggahan petunjuk yang dipahami melalui ajaran al-Qur’an. Menuhankan hati adalah kenistaan, namun menutup hati berarti membuka pintu kesombongan “.

Oleh karena begitu pentingnya peran hati terhadap diri kita, maka…Tak ada alasan bagi seorang muslim yang taat untuk masih memilki hati yang bertabur keyakinan syirik. Tak ada alasan bagi seorang muslim yang taat untuk masih memiliki hati yang berlumur maksiat. Tak ada alasan bagi seorang muslim yang taat untuk masih memiliki hati yang berselimut dendam, dengki, kebencian dan permusuhan terhadap sesama muslim Semoga kita tetap istiqomah dan hati-hati dalam menjaga hati..
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. Qs. As-Syams [91]: 9-110
17.57 | 1 komentar

Top 20 Nasheed Nuris FM -edisi 19 Desember 2009

Written By Iswandi Banna on Senin, 21 Desember 2009 | 14.06


1. Q Rasa Q Tahu – Riham Nasyid (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-11)
2. For Alloh – Hafiz Hamidun (album: Syukran/2009) naik 1 peringkat (minggu ke-7)
3. Surat Cinta dari Palestina – Ebiet Beat A (2009) naik 2 peringkat (minggu ke-9)
4. Tentang Hidup – Azmi The CS (2009) #1 (1 pekan)turun 3 peringkat (minggu ke-9)
5. Aku Muslim – Sigma (album: Kompilasi FNPI/2009) naik 1 peringkat (minggu ke-7)
6. Kudendangkan Shalawat – Launun (album: Warna Warni/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-5)
7. Mentari – Skala (2009) naik 4 peringkat (minggu ke-6)
8. Tulus – Taqien Fatih (2009) naik 4 peringkat (minggu ke-5)
9. Hanya PadaMu – Faith One (album: Berserah/2009) naik 1 peringkat (minggu ke-6)
10. Al Aqsha Palestina – Asy Syujaa’ (2009) #1 (2 pekan) turun 6 peringkat (minggu ke-12)
11. Pertaubatanku – Haris Isa (album: No.1/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-2)
12. Love U – Senandung Hikmah (album: Risalah Ukhuwah) naik 2 peringkat (minggu ke-2)
13. Kuterpekur – Nahawan (album: Rahasia Hati/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-2)
14. Nusantara - Dinamika (2009) naik 2 peringkat (minggu ke-4)
15. Ighfirlizanbi - Vertizone (2009) exchange (minggu pertama)
16. Ciptaan yang Dijanjikan - Innoru (2009) naik 3 peringkat (minggu ke-2)
17. 3 Tanda Orang Sholeh – Syauqi (2009) turun 8 peringkat (minggu ke-8)
18. Tak Sendiri - Kaffah (album: Kaffah/2009) tetap (minggu ke-3)
19. Meraih Cinta Ilahi - Zero Nasheed naik 1 peringkat (minggu ke -2)
20. Lukisan Hidup - Tashiru (album: 2009) new entry (minggu pertama)

Bisa disimak live setiap sabtu pagi 09.00-11.00 WIB
on air di 107.7 FM
(bagi Anda yang berdomisli di Ciledug, Larangan, Kreo, Petukangan, Joglo, Meruya, Kebon Jeruk, Keb. Lama, Bintaro, Pd. Aren, Ciputat,dan sekitarnya)

atau via streaming on internet di
http://nurisfm.blogspot.com/
http://nurisfm.listen2myradio.com

Bisa Reques di program2 Nuris fm
pagi-siang-sore-malam

ke 085624628596
atau telpon on air di (021) 92297893
14.06 | 0 komentar

hasil sementara nuris nasyid awards

Written By Iswandi Banna on Senin, 14 Desember 2009 | 08.26

Alhamdulillah polling sms untuk Nuris Nasyid Awards sudah 1 bulan
dan sdh masuk 503 partisipan ke line manajemen 08989831398

berikut hasil sementara (3 besar untuk masing2 kategori):
1. Solois Favorit : Firto, Alief, Fika Mupla
2. Penampilah Haraky: Maidani, Izzis, Asma Voice
3. Grup Acapella: Riham, Dai Nada, Awan
4. Format Musik/akustik: The CS, Naufal, edCoustic
5. Mancanegara: Sami Yusuf, Inteam, Nazrey Johani
6. Album: FNPI 09, Izzis, Haris Isa
7. Lagu Favorit: MBU (The CS), Bersimpuh (Alief), SEndiri Menyepi (edCoustic)
8. Pendatang Baru: The CS, Alief, Awan

untuk tahap ke-2 ditunggu sampai 15 januari 2010
ke 08989831398
ketik nama_lokasi/domisili_pilihan anda
untuk setiap kategori cukup satu suara ya
08.26 | 2 komentar

Top 20 Nasheed Nuris FM -edisi 05 Desember 2009

Written By Iswandi Banna on Selasa, 08 Desember 2009 | 21.39

1. Tentang Hidup – Azmi The CS (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-8)
2. Q Rasa Q Tahu – Riham Nasyid (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-10)
3. For Alloh – Hafiz Hamidun (album: Syukran/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-6)
4. Al Aqsha Palestina – Asy Syujaa’ (2009) #1 (2 pekan) turun 3 peringkat (minggu ke-11)
5. Surat Cinta dari Palestina – Ebiet Beat A (2009) naik 1 peringkat (minggu ke-8)
6. Aku Muslim – Sigma (album: Kompilasi FNPI/2009) naik 3 peringkat (minggu ke-6)
7. Pengasih - Vertizone (2009) turun 3 peringkat (minggu ke-11)
8. Kudendangkan Shalawat – Launun (album: Warna Warni/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-4)
9. 3 Tanda Orang Sholeh – Syauqi (2009) naik 2 peringkat (minggu ke-7)
10. Hanya PadaMu – Faith One (album: Berserah/2009) naik 3 peringkat (minggu ke-5)
11. Mentari – Skala (2009) naik 3 peringkat (minggu ke-5)
12. Tulus – Taqien Fatih (2009) naik 3 peringkat (minggu ke-4)
13. Pertaubatanku – Haris Isa (album: No.1/2009) exchange (minggu pertama)
14. Love U – Senandung Hikmah (album: Risalah Ukhuwah) exchange (minggu pertama)
15. Kuterpekur – Nahawan (album: Rahasia Hati/2009) exchange (minggu pertama)
16. Nusantara - Dinamika (2009) naik 3 peringkat (minggu ke-3)
17. Kuikat dengan Sempurna- Naufal (2009) turun 5 peringkat (minggu ke-7)
18. Tak Sendiri - Kaffah (album: Kaffah/2009) naik 2 peringkat (minggu ke-2)
19. Ciptaan yang Dijanjikan - Innoru (2009) new entry (minggu pertama)
20. Meraih Cinta Ilahi - Zero Nasheed new entry (minggu pertama)

Bisa disimak live setiap sabtu pagi 09.00-11.00 WIB
on air di 107.7 FM
(bagi Anda yang berdomisili di Ciledug, Larangan, Kreo, Petukangan, Joglo, Meruya, Kebon Jeruk, Keb. Lama, Bintaro, Pd. Aren, Ciputat,dan sekitarnya)

atau via streaming on internet di
http://nurisfm.blogspot.com/
http://nurisfm.listen2myradio.com

Bisa Reques di program2 Nuris fm
pagi-siang-sore-malam

ke 085624628596
atau telpon on air di (021) 92297893
21.39 | 0 komentar

Pengumuman

Written By Rudi Abu azka on Senin, 07 Desember 2009 | 08.17


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kepada Pendengar setia Radio Komunitas Nurisfm Fm Diinformasikan bahwa untuk satu pekan kedepan radio kesayangan Anda tidak dapat mengudara dikarenakan ada kerusakan pada peralatan siar radio. Kerusakan yang ditimbulkan cukup besar akibat petir yang cukup besar pada Sabtu, 5 Desember 2009 pukul 11.00 WIB, sehingga perlu reinvestasi dan perbaikan menyeluruh. Estimasi dana yang dibutuhkan untuk perbaikan dan reinvestasi masih diperhitungkan, terdiri dari reinvestasi Mixer, Audio Prosesor, CPU, exciter dan power 300 watt. Oleh karena itu kami mohon dukungan material dan non material serta doa dari Sobat Nurisfm semoga radio kesayangan kita dapat mengudara dan kembali memberikan warna dakwah di wilayah Tangerang dan seluruh Indonesia di via streaming.

SAAT tepatnya di Masjid Nurul Ittihad (tempat baru kru Nurisfm fm) bernaung, bersama dan bergerak untuk kembali menyembuhkan Nurisfm.

Kami yakini, skenario Allah terbaik pada Radio Nurisfm pada Sabtu, 5 Desember 2009 lalu adalah kebaikan…ada hikmah…banyak pengharapan.

Adapaun pengerjaan yang sekarang dilakukan adalah pengeboran sumur untuk membuat grounding permanen yang sebelumnya ground yang digunakan semi ground.
Rincian Biaya :
1. Pengeboran Sumur untuk ground 700.000
2. Service Exiter dan Power belum diketahui
3. Service Mixer belum diketahui
4. Pembelian 1 Unit CPU 1.500.000
5. 1 Unit Modem 500.000
Untuk rincian lebih lanjut akan kami update.

Demikian informasi ini kami sampaikan
Hormat Kami, Direktur Nurisfm Rudianto 081319107800
let’s together RECOVERY NURISFM!

Sampaikan bentuk bantuan anda untuk NURISFM dalam Program Recovery Nurisfm dengan berkomentar.
Hormat Kami, Direktur Nurisfm Rudianto 081319107800
08.17 | 0 komentar

Koleksi Nasyid Syeikh Misyari Rasyid Al Afashi

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 02 Desember 2009 | 08.50


Kami hadirkan Nasyid Syaikh Al-Afasi, 'suara merdu' Syaikh Al-Afasi kini dapat didengar dalam lantunan nasyid. Sebuah album Kompilasi nasyid yang cukup bagus. Kini Nggak perlu repot-repot browsing dan download berhari-hari. Kini kami hadirkan...
08.50 | 2 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung