Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

HIJRAH, GERBANG KEMENANGAN

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 30 Desember 2009 | 20.12


HIJRAH, GERBANG KEMENANGAN

“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Qs. At-Taubah [9]:20

Makna dan Hakekat Hijrah
Hijrah berasal dari kata hajara , artinya “meninggalkan sesuatu yang tidak di senangi”. Bentuk perintah dari hajara adalah uhjur yang berarti “keluarlah tinggalkanlah, atau jauhilah segala sesuatu hal yang bathil. Dengan pengertian ini, makna hijrah berarti berpindah untuk meninggalkan tempat yang tidak disenangi
(kebathilan) dan menuju tempat yang di senangi (kebenaran).Hijrah juga merupakan salah satu bentuk dari ishlah (reformasi) menuju kearah yang lebih baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk. Makna ini sejalan dengan pengertian al-Qur’an dalam
surah al-Mudatsir [74]:5. Allah berfirman:
“... dan perbuatan dosa tinggalkanlah “, Ayat ini memberikan isyarat kepada kita untuk secara total meninggalkan segala apapun yang menyebabkan kita menjadi
orang-orang yang berdosa. Nabi Muhammad SAW memberi penjelasan yang lebih rinci terkait dengan makna hijrah secara terus-menerus. Beliau bersabda:
“ Orang yang berhijrah adalah orang-orang yang meninggalkan apa yang di larang Allah atasnya”. Dan yang terpenting dalam seluruh rangkaian hijrah itu adalah harus dilakukan berdasarkan niat yang tulus karena Allah tanpa di pegaruhi oleh kepentingan duniawi semata.

Seperti dalam sebuah hadist RAsulullah bersabda:"Sesungguhnya perbuatan itu ergantung niat. Seseorang akan meperoleh hasil amal tergantung pada kualitas niatnya. Barang siapa hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, ia akan memperoleh
ridha Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah, Gerbang Kemenangan

Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah (Yastrib) bukan hanya sebatas pindah tempat, tetapi memiliki makna strategis untuk kemenangan Islam selanjutnya. Di mulai dari babak sejarah hijrah inilah kemudian terbuka pintu kemenangan yang sangat mengagumkan, juga merupakan episode penting perjalanan sejarah umat Islam bahkan peradaban dunia.

Sesungguhnya hijrah bukan hanya diperintahkan kepada Rasul dan para sahabat, tetapi juga kepada setiap muslim. bahkan jika kita melihat jejak sejarah, para Nabi terdahulu juga melakukan hijrah. Misalnya, Nabi Ibrahim hijrah dari kan’an menuju
Mekah, Nabi Ya’qub dari Madyan ke Mesir, Nabi Musa dari Mesir menuju Syam (syiria sekarang). Dan para para sahabat Nabi sebelumnya di perintahkan hijrah ke Ethiopia. Tanpa hijrah tidak mungkin ada kejayaan Madinatul Munawaroh. Tanpa Madinah, belum tentu muncul kegemilangan Baghdad dan Cordova. Tidak kurang dari lima abad Baghdad memimpin peradaban dunia, sementara Cordova bahkan mengalami kejayaan yang jauh lebih lama lagi, yakni delapan abad.

Kemudian dari kedua kota itulah, ilmu dan peradaban Islam mengalir keseluruh penjuru dunia dan menjadi milik masyarakat International. Dan dengan kehebatan dua kota ini pula Barat yang saat itu belum maju mulai bersentuhan dengan berbagai disiplin ilmu, seperti fisika, biologi, matematika, optika, filsafat dan beberapa disiplin keilmuan lainnya. Bahkan sampai pada Amerika Utara dan Eropa Barat menjadi tak terbayangkan bisa maju seperti sekarang. Itu semua atas jasa-jasa Islam.

Meneladani Hijrah Nabi

Peristiwa hijrahnya Nabi Saw (tahun 622 M) kemudian di tetapkan dan dijadikan sebagai tonggak awal perhitungan tahun baru Islam, yang di sebut tahun Hijriah. Inilah momentum yang sangat kaya akan keteladanan. Sebuah peristiwa heroisme
(kepahlawan), puncak pengorbanan, kesabaran dan puncak kesungguhan serta keikhlasan yang di praktekkan oleh Nabi dan para sahabat. Karenanya pilihan Khalifah Umar Ibn Khoththob dan para sahabat menjadikan peristiwan hijrahnya Nabi menjadi
tahun pertama Islam sangatlah tepat. Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah bukanlah suatu tindakan yang spontan, tetapi merupakan pilihan yang telah di rencakan
sejak awal. Beberapa tahun sebelum peristiwa hijrah, Nabi telah menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh-tokoh pemuda yastrib (madinah) yang sering melakukan kunjungan ke Mekah.

Bahkan, tiga tahun setelah hubungan dilakukan, terjadi suatu peristiwa penting yang di kenal dengan “ Bai’atul Aqobah” yang menghasilkan ikrar penting, yakni kesediaan para pemuda Madinah untuk menjaga, melindungi dan membela Nabi. “ Musuh anda adalah musih kami, derita anda adalah derita kami, dan siapa saja yang menyakiti anda berarti pula menyakiti kami, silahkan anda datang ke Yastrib”. Itulah isi perjanjian
yang dinyatakan secara mantap oleh utusan pemuda Yastrib (Madinah) di hadapan Nabi.
Dari proses ini terlihat, sebelum melakukan hijrah, Nabi melakukan perhitungan yang sangat cermat dan baik serta persiapan yang sangat matang. Bahkan sahabat-sahabat Nabi telah mepersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Seperti Ali Bin Abi Thalib misalnya, dia berani menggantikan posisi Nabi dengan tidur di tempat tidur Nabi di malam ketika orang-orang kafir hendak membunuh Nabi.
Ketika mereka memusatkan perhatian kepada orang yang tidur (yang disangkanya Rasulullah), Nabi bersama sahabat Abu Bakar atas izin Allah berhasil meloloskan diri keluar rumah.

Hijrah Dan Kalender Islam

Perhitungan kalender Islam di mulai dari kekhalifahan Umar Ibn Khoththob. Penyebutan “tahun hijriah sebagai kalender Islam terkait erat dengan peristiwa hijrahnya Nabi saw. Sebelum kalender Islam ini berlaku, setiap kejadian-kejadian besar saat itu selalu mengkaitkan tempat dan kondisi. Seperti peristiwa
gajah, disebut “amul fiil” atau tahun gajah. Tentu saja penamaan sebuah peristiwa hanya bersifat local dan tidak bisa dijadikan ketetapan hitungan kalender. Maka Umar mengusulkan agar ada perhitungan tahun yang dapat dijadikan pegangan oleh
umat Islam. Ide ini kemudian di sampaikan kepada sahabat yang lain dan masing-masing mereka memberikan usulan yang berbeda-beda, hingga akhirnya peristiwa hijrah Nabi ditetapkan sebagai titik tolak dari perhitungan tahun Islam. Alasannya
adalah karena hijrah adalah titik balik dari sejarah Islam, terjadi timing point dari sejarah Islam semenjak hijrah. Rasululah mendapat kemenangan demi kemenangan, sehingga dalam tempo 10 tahun kemudian Nabi wafat dan beliau berhasil
meninggalkan prestasi yang luar biasa, yaitu; seluruh jazirah Arabia telah menerima Islam. Kemudian pada kurun waktu 100 tahun setelah itu Islam telah menyebar meliputi daerah daratan, lautan Atlantik di sebelah barat, sampai tembok china di timur yaitu daerah-daerah Yunani.
Disinilah terlihat betapa hjrah merupakan pintu gerbang memasuki babak baru sejarah yang gemilang. Tidak salah jika Umar menetapkan peristiwa ini sebagai titik tolak perubahan. Umar ingin meneguhkan sebuah prinshif dalam Islam yaitu bahwa penghargaan seseorang di tunjukan kepada hasil kerjanya bukan kepada misalnya keturunan, asal daerah, bahasa, warna kulit dan pertimbangan kenisbatan. Karena hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar penghargaan manusia. Sebaliknya, hasil kerja atau prestasi (achievement) adalah pilihan yang bisa djadikan sebagai ukuran keberhasilan dan manusia hanya bisa di hargai ketika ia mempuanyai hasil dari apa yang di kerjakanya. Seperti ada sebuah pepatah arab berbunyi: “ Penghargaan di zaman Jahiliyah berdasarkan keturunan dan penghargaan di zaman Islam diberikan berdasarkan kerja (amal) “

Hijrah adalah hasil dari sebuah kematangan tindakan, perjuangan kesabaran dan praktek dari sebuah nilai keikhlasan. Semua adalah hasil kerja yang tidak akan terwujud tanpa kesungguhan. Maka jika kita selami maknanya ini adalah
pengharagaan kepada hasil kerja Rasulullah Muhammad saw. Sebab Islam memberikan penghargaan kepada hasil sebuah kerja dengan balasan yang sempurna. Sebagaimana firman Allah: " ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa?. dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,.
dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,. dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu). Qs. An-Najm: 36-42

Hijrah Menuju Kemenangan Hakiki

Secara maknawi hijrah bukan semata berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi hijrah adalah sebuah perpindahan untuk menuju kearah yang lebih baik, sebagai mana sabda Nabi di atas bahwa orang yang hijrah adalah orang yang mennggalkan apa-apa yang dilarang Allah atasnya. Dan ini bermakna harus adanya perubahan sikap mental dari yang tidak baik menjadi baik. Maka untuk mengawali proses hijrah menuju perbaikan diri langkah pertama yang harus kita tempuh adalah bertaubat
kepada Allah. Inilah pintu yang akan mengantarkan kita kepada kemenangan yang hakiki.

Taubat artinya kembali ke jalan yang benar, setelah sekian lama kita lalui jalan yang salah. Kebenaran taubat seseorang akan di buktikan dari wujud pengamalan sehari-hari dengan persyaratan taubat itu sendiri, yaitu meninggalkan prilaku
buruk dan menggantinya dengan amalan sholeh. Hijrah dari keburukan menuju kebaikan.

Maka Barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu)sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs. Al-Maidah:39.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Qs. Hud:114
Ayat-ayat diatas adalah penggambaran orang-orang yang melakukan hijrah qalbiyah. Di mulai dari kesadaran hati untuk bertaubat kemudian di lanjutkan dengan penyemburnaan
amalan-amalan sholeh. Inilah hijrah kekinian yang bukan hanya mengantarkan kemenangan tetapi juga ketenangan.

Beberapa hal yang menjadi catatan untuk kita renungkan adalah: Jika diri kita sudah berpindah dari syirik menuju tauhid, dari ragu kepada yakin, dari bodoh kepada ilmu, dari riya kepada ikhlas, dari khianat kepada taubat, dari maksiat kepada taat, dari sombong kepada tawadhu’, dari munafiq kepada shiddiq dan dari perbuatan bid’ah kepada sunnah.

Maka saat itulah kita akan menemukan ketenangan bathin. Kemenangan yang hakiki bagi manusia adalah ketika ia dapat memerdekaan dirinya dari penghambaaan kepada makhluk
dan perbudakan hawa nafsu.

Untuk Kita Renungkan

Sahabat, dengan semangat hijrah, marilah kita bangun sesuatu yang telah kita rubuhkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan ketidakikhlasan. Manfaatkan
kesempatan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan. Bukalah gerbang kesadaran agar tersibak pintu rahmat dan ampunan.Berbuat baiklah selagi masih punya kesempatan
dan bertobatlah kepada Allah sebelum ajal datang menjelang. Tegurlah hati kita yang sedang terlena, agar tidak jatuh terjerat oleh rayuan dunia yang fana. Tegurlah jiwa kita yang gelisah dan goyah agar tetap menjadi hamba yang mulia.
Sadarilah, terkadang jiwa kita selalu cenderung pada kelezatan yang sesaat, maka didiklah ia dengan baik agar selalu taat. Temukan jalan kita di antara sekian banyak jalan yang telah membelokkan tujuan hidup kita. Mohonlah selalu hanya kepada
Allah agar ditetapkan iman dan Islam kita, sebab itulah jalan yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat. Temukan jalan kita dengan berusaha memahami siapa, dari mana dan mau ke mana kita hidup? Ajukan pertanyaan ini kepada batin
kita dengan khusuk, insya Allah kita akan menemukan jawaban itu dengan kejernihan pikiran. “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitnya
tidak dianiaya (dirugikan)”. (Al Baqarah (2): 281). Marilah kita khusu’kan qalbu, hadirkan tekad yang kuat untuk membasmi pengaruh yang dapat mengotori hati. Sibukkan
diri untuk mengetahui segala aib dan cela. Sebab bila Allah akan menunjukkan kebaikan atas diri hamba-Nya, niscaya Dia akan menunjukkan aibnya. Introspeksilah kedalam diri sebelum kita berbuat, apa untung rugi yang akan kita dapati.
Jaga kesehatan qalbu kita dengan memperbanyak dzikir,basahi lidah kita dengan mentadabburi ayat Allah, ketuklah selalu pintu ampunan dengan beristighfar kepada-Nya. Terangi qalbu dengan ilmu, bersihkan diri dengan amal dan basuh keduanya dengan
iman. Hadirkan kesabaran dalam mengikuti perintah-Nya. Dan setelah semuanya itu telah kita lakukan, bertawakkallah kepada Allah, hadirkan kesungguhan hati untuk bersandar hanya kepada-Nya.Insya Allah kejernihan qalbu akan dapat kita raih. Insya Allah.

0 komentar:

Posting Komentar