Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

AIR PENYEJUK JIWA, PENAUNG DI ALAM BAKA DAN PEMADAM API NERAKA

Written By Rudianto on Sabtu, 19 Januari 2019 | 10.18

Saudaraku…. Ketahuilah di tubuh kita ada air yang sangat suci yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan di alam baka…

Air ini sumbernya adalah hati yang suci dan jiwa yang bersih… Dan sangat sulit keluar dari hati yang keras dan kotor…

AIR MATA CINTA DAN TAKUT KEPADA ALLAH…itulah air yang dimaksud… Air yang keluar dari mata yang menangis karena Allah…


SIMAKLAH… KABAR GEMBIRA DARI KEKASIH KITA..

MEREKA TIDAK AKAN TERSENTUH API NERAKA…

عينان لا تمسَّهما النارُ أبدًا : عينٌ بكت من خشيةِ اللهِ ، و عينٌ باتت تحرسُ في سبيلِ اللهِ

“Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka selama-lamanya… Mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga di jalan Allah “
(Shahih.Shahihul jami’ no 4113)

MEREKA DINGIN DENGAN NAUNGAN ALLAH DI PADANG MAHSYAR…

سبعةٌ يُظِلُّهمُ اللهُ في ظِلِّه يومَ لا ظِلَّ إلا ظِلُّه : (منهم) ورجلٌ ذَكَر اللهَ خاليًا، ففاضَتْ عيناه .

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya… Diantara mereka : seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lalu bercucurlah air matanya…” (HR. Imam Bukhori)


SUBHANALLAH… Sungguh mereka orang yang diberikan ni’mat besar oleh Allah.. Mereka menyerupai para Nabi dan orang-orang shalih pilihan Allah..

(أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩)

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
[Surat Maryam 58]


SAUDARAKU…

** sudahkah air suci itu membasahi pelupuk mata dan pipimu..

** sudahkah di tahun ini atau di bulan ini atau pekan ini atau di hari ini kita air itu memancar dan tertetes dari matamu…

** ataukah hatimu sangat gersang dan keras karena noda, dosa dan ambisi dunia… Sehingga begitu sulitnya keluar dari pelupuk matamu…
Laa haula walaa quwwata illa billah…

MENANGISLAH KARENA TIDAK PERNAH MENANGIS KARENA CINTA DAN TAKUT KEPADA ALLAH…

Semoga Manfaat…
10.18 | 0 komentar

Kesendirian Di Negeri Abadi

Written By Rudianto on Jumat, 22 Juni 2018 | 08.52

Sahabat sekalian, adakalanya kita berharap bahwa kebaikan yang kita lakukan pada keluarga, dibalas dengan kebaikan pula oleh mereka. Hal yang sangat manusiawi dan wajar. Namun disitulah awal sakit hati bermula.

Sahabat, ada saatnya kita melakukan semua hal, semua kebaikan bukan lagi untuk mengharapkan imbal balik kebaikan. Tetapi semata-mata karena Alloh. Dan untuk hidup kita sendiri setelah kematian datang.

Ada saatnya, kita benar benar sendirian.
Akan datang masanya, setiap orang memikirkan dirinya sendiri

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ)

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. ('Abasa: 34-36)

Yaitu dia melihat mereka, tetapi lari dari mereka dan menjauhinya, karena dahsyatnya huru-hara dan kengerian yang terjadi pada hari itu.

Ikrimah mengatakan bahwa seseorang berdua dengan istrinya, lalu berkata kepadanya,
"Hai istriku, suami macam apakah aku ini bagimu?"
istri menjawab "Engkau adalah sebaik-baik suami." dan istrinya memujinya dengan pujian yang baik semampunya.
si suami berkata kepada istrinya, '"Maka sesungguhnya hari ini aku meminta suatu kebaikan darimu dengan suka rela, barangkali aku dapat selamat dari apa yang engkau saksikan sekarang ini."
Si istri menjawab, "Alangkah mudahnya permintaanmu, tetapi aku tidak mampu memberimu sesuatu pun karena aku pun sedang dicekam oleh rasa takut yang sama seperti yang kamu alami."
Dan sesungguhnya seseorang bersua dengan anaknya, lalu ia bergantung kepadanya dan mengatakan,"Hai Anakku, orang tua seperti apakah aku ini bagimu?"
Si  anak menjawab dengan mengemukakan pujian kepadanya, lalu ia berkata kepada si anak, "Hai Anakku, sesungguhnya aku sekarang sangat memerlukan bantuan sedikit dari kebaikanmu, mudah-mudahan dengannya aku dapat selamat dari keadaanku sekarang ini yang engkau lihat sendiri."
Maka si anak menjawab, "Wahai Ayah, betapa ringannya permintaanmu, tetapi aku sendiri merasa takut dengan ketakutan yang sama seperti yang engkau alami, maka aku tidak mampu memberimu sesuatu pun dari apa yang engkau minta'itu." Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya: pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. ('Abasa: 34-36)

Di dalam hadis sahih yang menceritakan peristiwa syafaat disebutkan bahwa ketika dimintakan kepada tiap-tiap rasul dari ulul 'azmi untuk memohonkan syafaat di hadapan Allah buat semua makhluk, maka tiap-tiap orang dari mereka mengatakan.”Aku lebih mengutamakan diriku, aku lebih mengutamakan diriku, dan aku tidak memohon kepada Engkau selain keselamatan buat diriku sendiri." Sehingga Isa putra Maryam sendiri mengatakan,"Aku tidak memohon kepada-Nya hari ini kecuali untuk keselamatan diriku sendiri, dan aku tidak memohon kepada-Nya untuk keselamatan ibuku Maryam yang telah melahirkanku." Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. ('Abasa: 34-36)

Qatadah mengatakan bahwa pada hari itu yang dipentingkan adalah yang paling dicintai dan paling dekat karena dahsyatnya huru-hara di hari itu. Yang dalam hal ini tiada yang lebih dicintai dan lebih dekat bagi seseorang kecuali diri masing-masing.
(Tafsir Ibnu Katsir Surah Abasa 34-36.)

Setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri.
Sang anak 'tidak peduli' dengan sang Ayah, meski ayahnya adalah orang yang sangat baik.
Sang istri 'tidak peduli' dengan sang suami, meski ia tahu bahwa suaminya adalah lelaki terbaik.

Lantas bagaimana jika laki laki itu adalah ayah yang durjana.
Apa yang kita kira akan dikatakan oleh anak dan istri, jika sang ayah adalah seburuk-buruk  manusia????
Mungkin, laki laki itu akan menjadi orang pertama yang akan dihujat dan laknat oleh anak dan istrinya. Wallohua'lam.

Sahabat, saat kesendirian itu benar benar akan datang.
Ini renungan untuk diri kita...
Lakukanlah yang terbaik untuk siapa saja, karena itulah amal yang menjadi teman dalam kesendirian di waktu-waktu mencekam, di hari pengadilan.

M. Nadhif

08.52 | 0 komentar

Tadzkiroh Hari Arafah

Written By Rudianto on Kamis, 31 Agustus 2017 | 07.52

(PENGINGAT)

Hari ini adalah hari Arafah, Arafah 9 Dzul Hijjah 1437 H

Apa yang hendak kita lakukan pada hari ini?

Untuk diingat …

Malam yang dikenal dengan Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, tidaklah kita ketahui kapan persisnya terjadi..

Berbeda dengan hari Arafah

Kita telah mengetahui jauh hari sebelumnya: kapan persisnya

Jika pada Lailatul Qadar yang turun adalah para malaikat

Maka ketahuilah bahwa pada hari Arafah Allah SWT lah yang akan turun.

Saking mulianya hari Arafah ini, para salaf menabung seluruh keperluan (hajat) khas mereka, juga keperluan (hajat) umat secara umum, ditabung untuk dibuka pada hari Arafah ini.

Yang demikian ini mereka lakukan, mengingat betapa besar nan agung kemurahan Allah SWT pada hari Arafah ini

Juga, betapa Allah SWT akan meng-ijabah segala macam do’a yang dipanjatkan oleh para hamba-Nya pada hari Arafah ini.

Betapa banyaknya keinginan dan cita-cita aka terwujud pada hari Arafah ini!

Betapa banyaknya harapan akan terwujud pada hari Arafah ini!

Betapa banyaknya do’a akan terkabul pada hari Arafah yang penuh berkah ini.

Oleh karena itu …

Jika memungkinkan bagimu untuk berkhalwat, menyendiri, minimal pada sore hari Arafah

Dengan berdzikir, berdo’a, beristighfar dan membaca Al-Qur’an …

Maka lakukanlah.

Minimal pada sore hari Arafah, mulai dari selesai shalat Ashar, sampai maghrib.

Dorong dan ajak orang-orang di sekelilingmu untuk melakukannya …

Jangan lupa pula untuk berpuasa di hari Arafah ini, sebab Rasulullah SAW bersabda:

«… صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ …» (رواه مسلم [1162]).

Berpuasa pada hari Arafah, saya mempunyai dugaan (keyakinan) kepada Allah SWT bahwa ia menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. (HR Muslim [1162]).

Rasulullah SAW juga bersabda:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (رواه الترمذي [3585]، وحسنه الألباني)

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah, dan sebaik-baik ucapkan yang aku dan para nabi sebelumku lakukan adalah ucapan: La ilaha illaLlah, wahdahu la syarika lah, lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dia Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah seluruh kerajaan, dan milik-Nya lah seluruh pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). (HR At-Tirmidzi [3585] dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Terkait dengan terkabulnya do’a pada hari Arafah, seorang shalih berkata: “demi Allah, aku tidak berdo’a dengan suatu do’a pada hari Arafah, dan belum sampai genap satu tahun, kecuali apa yang aku pinta telah aku saksikan sebagai kenyataan seterang terbitnya fajar.

Oleh karena itu, perbaiki lah do’a untuk diri kalian, orang tua kalian, istri (suami) kalian, anak-anak kalian dan kerabat kalian.

Jangan lupa juga do’a untuk saudara-saudara kalian yang sedang berjihad untuk mendapatkan hak-hak mereka, di Palestina, di Syuria dan di belahan bumi lainnya.

Beri hak do’a kalian untuk kaum yang tertindas dan lemah, dari seluruh dunia Islam.

Jangan pula lupakan kaum muslimin yang tertekan, terintimidasi, terkerangkeng dalam jeruji tahanan orang-orang zhalim.

Siapa tahu, do’a dari seorang waliyullah (dan antum lah yang dimaksud), baik lelaki ataupun perempuan, do’a itulah yang akan mengubah sejarah umat Islam dengan kemenangan, kegembiraan, rasa aman dan tamkin … dengan seijin Allah SWT.

Berdo’alah dengan penuh kekhusyu’an dan keyakinan (kemantapan) yang sempurna kepada Allah SWT bahwa akan diijabah.

Dan akan semakin kuat lagi peluang terkabulnya jika do’a itu didahului oleh sedekah dan infak fi sabilillah serta berbagai amal shalih lainnya.

Dan orang yang benar-benar merugi, adalah mereka yang pada hari Arafah ini tidak mendapatkan apa-apa dikarenakan kelalaiannya.

Ustad Musyafa Abdur Rahim

07.52 | 0 komentar

Pak Guru

Written By Rudianto on Kamis, 05 September 2013 | 11.31

Bulan ini 48 tahun yang lalu, seorang guru yang sedang demam tinggi diseret ke penjara. Dua kali jatuh pingsan tak menghentikan kebengisan aparat terhadapnya. Siksaan fisik aparat kemudian mewarnai hari-hari sang guru.

Tuduhan pada dia berat. Berkomplot untuk membunuh presiden dan makar terhadap pemerintah. Maknanya ia ditahbiskan menjadi musuh kekuasaan. Sebuah posisi yang paling berat resikonya di antara seluruh
pesakitan.

Ia juga dituduh merencanakan pembunuhan terhadap seorang penyanyi terkenal. Perempuan yang lengkingan
suaranya menyihir kebanyakan penduduk negeri. Dengan tuduhan itu, pak guru malang itu ditahbiskan jadi musuh bangsanya.

Sidang pengadilan kehilangan kata adil. Betapa tidak, pak guru itu dihakimi oleh panel hakim beranggota para perwira rejim. Salah satunya bahkan kelak menjadi pengganti sang presiden yang zhalim ketika ia tutup usia.

Bukti-bukti yang digelar untuk memberatkan tuduhan pada pak guru itu dinukil dari buku yang ia tulis. Tepatnya ia tulis dalam penjara ketika tuduhan sama menimpanya beberapa tahun sebelumnya.

Sikaan bahkan lebih beratdi saattuduhan pertama menimpa. Pak guru disiksa dalam sel, digigiti kakinya oleh anjing terlatih yang sengaja dikerahkan untuk menyakitinya raga dan jiwa. Badannya sakit oleh luka gigitan,
jiwanya sakit karena sebagai Muslim ia dihinakan dengan najis mughallazhah.

Tapi jiwa tauhid pak guru tadi tak sudi patah. Ia terus melawan kezhaliman dengan pikiran dan tulisan. Pena dan kertas menjadi senjatanya yang tak sanggup ditandingi lawan dengan pasukan dan senjata.
Ia mengguratkan "petunjuk jalan," panduan melawan penguasa tiran dengan kekuatan jiwa dan penolakan total pada kesyirikan.

Karena sakit, dan karena seorang presiden negeri tetangga memintakan keringanan hukuman, ia kemudian dibebaskan. Tapi hanya setahun kemudian, ia kembali dijebloskan ke bui karena menulis Petunjuk Jalan.

Ribuan kopi bukunya disita dan dibakar. Bahkan orang yang memiliki, menyimpan atau membawa bukunya ditangkap dan dipenjarakan. Penguasa betul-betul takut pada pengaruh tulisan pak guru ringkih itu.

Sidang berlangsung efektif dan efisien, secepat di laksanakannya peri ntah komandan pada prajurit. Pak guru tadi dihukum gantung, ia tak terbukti berkomplot membunuh presiden dan penyanyi. Tapi ia terbukti
"membunuh" raja zhalim dan penyihir wanitanya dengan tulisannya.

Tulisannya menyeru manusia untuk berlepas diri dari thaghut dan sistemnya. Dus, membunuh sang presiden. Tulisannya juga menyeru manusia untuk meninggalkan segala bentuk budaya jahiliah. Dus, membunuh
sang penyihir wanita yang membius manusia dengan lagu-lagu merdunya.

Pak guru itu adalah Sayid Quthb. Presidennya adalah Gamal Abdul Nasser. Hakimnya adalah Anwar Sadat. Penyanyinya adalah Ummu Kultsum. Kisah ini terjadi di Mesir, negeri pentas para thaghut besar
sejak era Fir'aun hingga Mubarak. Terngiang kembali saat aktifis Islam kembali dibunuh dan ditangkapi setelah kudeta Mursi.
11.31 | 0 komentar

Jiwa Merdeka

Written By Rudianto on Selasa, 20 Agustus 2013 | 11.39

Seorang penjelajah asal Portugis, Tome
Pirres, mengisahkan perjalanannya ke Nusantara
masa prakolonial. Salah satu kisah yang ditulisnya
dalam buku berjudul Summa Oriental itu adalah
pandangannya tentang orang Jawa yang ia jumpai
di Malaka.

Menurut Pirres, orang Jawa itu penuh percaya
diri, cakap berdebat dan selalu siap mencabut keris
jika terlibat konflik fisik. Mereka lihai berdebat
sekaligus tangkas memainkan senjata.
Pirres menjumpai orang Jawa era Demak,
yaitu jaman daulah lslam betul-betul eksis di
Pulau Jawa. Bukan sekedar simbolis dengan gelar
sultan, sayidin panatagama dan sebagainya.
Sejarah mencatat bahwa lslam "ideologis"
muncul diJawa sejakberdirinya Kesultanan Demak.
Namun wujudnya sebagaijiwa pemerintahan pun
Ienyap seiring musnahnya Demak. Pergeseran
kekuasaan ke Pajang dan kemudian ke Mataram
menggeser pula ideologi lslam.

Orang Jawa pun berubah karakternya.
Mereka kini dikenal inferior, menghindari konflik
dan lamban. Sastrawan kiri Pramoedya, kelahiran
pesisir pantai utara Jawa, menyebut hal itu karena
pergeseran pusat kerajaan dari pesisir pantai ke
pedalaman. Juga karena perubahan orientasi
maritim menjadi agraris.

Menurut Pram, paradigma pesisir adalah
pikiran yang terbuka. Pergaulan dengan berbagai
bangsa dimungkinkan di kota-kota bandar yang
disinggahi kapal-kapal dari negeri lain. Pandangan
terhadap mata pencaharian juga lebih dinamis
sehingga kehidupan pesisir pun penuh dinamika.
Sebaliknya, paradigma pedalaman adalah
pikiran yang tertutup. Pergaulan yang terbatas
melahirkan ketertutupan sekaligus kebanggan
diri yang semu. Mata pencaharian yang pertanian

yang juga melahirkan kehidupan yang penuh sikap
fatalis dan berkembangnya klenik. :
Betulkah analisis Pram? Membedah karakter
sebuah bangsa atau suku hanya dari elemen fisik
seperti daerah tinggal dan mata pencaharian
agaknya menyederhanakan persoalan. Manusia
memang dipengaruhi secara fisik oleh lingkungan
dan ruang kehidupannya, tetapi jiwa manusia
lah yang paling berpengaruh bagi keseluruhan

Maka bukan pantai atau pedalaman, bukan
pula jadi nelayan, saudagar atau petani yang
membuat karakter orangJawa berubah. Melainkan
isi jiwanya yang membuatnya berubah.
Melihat gambaran Tome Pirres, yang
bukan pribumi apalagi Jawa seperti Pram.
Kemudian melihat lini masanya yang bertepatan
dengan kuatnya "ideologi lslam" dalam sistem
pemerintahan lawa waktu itu, lebih tepat jika
lslamlah yang membentuk karakter seperti dilihat
oleh Pirres.

lslam membebaskan jiwa manusia jadi
merdeka. Sebagaimana kata sahabat Rib'i bin Amr
di hadapan panglima Parsi Rustum, "lslam datang
untuk membebaskan manusia dari perbudakan
oleh manusra lain, kemudian mengubahnya
menjadi penghambaan pada Rabbul Alamin."
Wajarlah jika Pirres melihat jejak jiwa merdeka
tadi di Malaka.

Sementara perubahan orientasi ideologis
terjadi sejak pergeseran Demak ke Pajang.
Sesembahan adalah raja, kehidupan adalah feodal
sementara klenik pun berkembang. Jiwa merdeka
lslam pun berubah menjadi jiwa budak yang
inferior, penuh ketakutan dan tak punya inisiatif.
Tanpa bermaksud membangun stereotipe, inilah
yang hilang dari kehidupan orang Jawa. Wallahu
a'lam. (lbnu)
11.39 | 0 komentar

Saya Mau Shalat, Asal Bayar Saya 10 Juta!

Ummat: “Ustadz Ganteng, mohon maaf, berapa ya kami perlu ganti untuk transportasi?”Ustadz Ganteng: “Untuk administrasi aja ya, sediakan aja 30 juta, 10 juta dibayar di depan ke account saya. Oya, kalo nggak jadi DP nya angus ya..”

Percaya atau nggak percaya, fakta semacam ini ada. Begitulah suatu hari, ketua DKM salah satu masjid bilang ke saya. Saya jadi mikir “pantes aja mobil si Ustadz Ganteng Fortuner dll” hehe..


Saya pribadi juga seringkali ditanya, “Ustadz, maaf nih, administrasinya berapa yang harus kita siapkan?”Jawab saya “Saya nggak pernah minta bayaran untuk dakwah, berapapun yang panitia kasih akan saya terima, kalo nggak ada pun nggak papa, asal transportasi dan akomodasi ditanggung panitia”

Parahnya masa kini, banyak orang yang udah nggak malu menjadikan Ustadz dan Da’i sebagai profesi. Pekerjaan profesional. Karena itu layaknya seorang pembicara publik, mereka mematok tarif sekali pengajian. Kalo udah masuk TV apalagi, matoknya diatas 10 juta. Subhanallah.
Padahal dakwah bukan profesi, dia adalah kewajiban sebagaimana shalat 5 waktu dan puasa. Yang tanpa dibayar pun harusnya dia tetap berdakwah. Karena itu kewajiban dia.

Bagaimana pendapat Anda bila ada orang mengatakan “Hmm.. boleh saja, saya mau shalat, dan Anda boleh lihat saya shalat, asal bayar dulu 10 juta”. Aneh, yang perlu siapa yang ribet siapa?
Pantas saja, ketika dakwah sudah jadi profesi, maka Da’i akan menyesuaikan materi dakwahnya sesuai permintaan pasar. Dia akan menyampaikan yang diinginkan orang bukan yang dibutuhkan oleh orang. Dia akan membiarkan kemaksiatan di depan matanya karena dia telah dibayar untuk itu.
Sikap kritis pun hilang dari situ. Karena dia sudah dibayar. Entah dipasangkan pengajiannya dengan artis doyan mabok atau penyanyi dangdut, sang Ustadz tidak merasa risih. Karena dia sudah dibayar!
Bagaimana mau protes, kalo protes bisa-bisa nggak dipanggil lagi!Pembodohan pun terjadi. Karena dakwah telah dianggap profesi.

Saya tidak pernah bilang menerima uang dari menyampaikan Islam adalah sesuatu yang haram
sah-sah saja, bukankah Rasul juga mengatakan bahwa “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil adalah upah mengajarkan kitabullah” (HR. Bukhari)Namun, ada perbedaan besar antara upah mengajarkan kitabullah dengan memelintir kitabullah untuk mendapatkan harta dari situ.
Nyata-nyatanya, tidak ada satupun Ustadz Ganteng yang membacakan ayat-ayat nahi munkar, ataupun memperingatkan tentang bahaya-bahaya yang betul-betul mengancam ummat semisal syirik modern (demokrasi), ashabiyah modern (nasionalisme), atau liberalisme yang mengajak Muslim meninggalkan Al-Qur’an.

Uang memang mengerikan. Ia bisa merubah niat seseorang yang awalnya lurus menjadi bengkok. Yang tadinya tegas menjadi samar. Bersyukurlah pada Allah bila anda adalah Da’i yang tidak mengharapkan dan tergantung bayaran dari ummat.

Karena Anda akan selalu objektif dalam memandang masalah, bukan memberikan yang diinginkan namun mengobati ummat dengan memberikan yang mereka perlukan. Saya betul-betul bersyukur, ketika baru masuk Islam, Ustadz saya Fatih Karim menyampaikan kira-kira begini:”Lix, kalo dikasi orang uang, antum boleh terima, tapi untuk melatih keikhlasan, lebih baik gunakan lagi di jalan dakwah”

Subhanallah, mudah-mudahan masyarakat akan segera bisa melihat, Da’i mana yang sebenarnya betul-betul sayang pada mereka, peduli dan mengasihi mereka. Da’i yang tertumpah air matanya di malam hari karena memikirkan ummat yang tak kunjung cenderung pada Islam. Da’i yang justru mengeluarkan uang mereka agar ummat mau berpaling pada Islam. Da’i yang menumpang angkot dan berjalan kaki demi ummat. Da’i yang siap memasang badan satu-satunya demi kehormatan Islam.

Sayangnya, Da’i semacam ini mungkin takkan kondang, mungkin takkan muncul di sinetron atau di TV karena mereka menolak untuk menyesuaikan materi karena uang. Bagi Da’i semacam ini uang tak bernilai buat mereka walaupun uang sangat mereka perlukan karena demi Islam, tak ada yang bisa menawar
Salamku,
Felix Siauw
pada semua Da’i yang hanya Allah Swt yang tahu mereka
Ya Allah, berikanlah mereka kemudahan, berikan mereka kekuatan

Sumber
08.44 | 0 komentar

Derita Budak Dunia

Written By Rudianto on Rabu, 14 Agustus 2013 | 23.20

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(Ali Imran 185).

Banyak orang tak menyadari bahwa hidupnya akan berujung di sebuah titik, tanpa koma. Titik kematian. Titik kepastian yang telah Allah gariskan. Ketidaksadaran ini berasal karena dia menyangka bahwa dunia akan toleran membiarkan hidup berlama-lama mengumbar nafsunya kemudian baru menyadarinya bahwa titik kematian itu sudah tiba. Kematian adalah kepastian misterius yang tidak ada satu orangpun mampu menebak kapan datangnya. Namun dia pasti. Dan sekali dia datang maka dia akan mengakhiri semua angan. Dia adalah penghancur kelezatan, penakluk keinginan, peremuk semua angan.

Lalai akan kepastian kematian bermula dari cinta over dosis dan menghamba pada dunia. Dunia telah mengaburkan pandangan mata batin kita untuk melihat indahnya akhirat yang berkilau nikmat. Mata hati dan batin kita menjadi gelap karena dia menghiasinya dengan pernik dunia. Mata batin kita menjadi gulita karena kita telah menutupnya dengan aksesoris dunia.

Dunia yang seharusnya kita jadikan sebagai hamba, telah berbalik menjadi tuan. Dunia yang seharusnya berada di bawah telapak kaki kita jadikan di ubun-ubun kita. Dunia yang seharusnya kita dengan gampang menginjak-injaknya, telah dengan gampang menginjak-injak kepala kita. Dunia yang seharusnya tidak pernah menempel di dalam sanubari kita, malah menjadi raja yang mengatur semua organ tubuh kita.

Hari-hari kita berselimutkan dunia. Ada gumpalan kebanggaan dalam diri kita akan harta yang kita miliki. Jabatan yang kita duduki, posisi yang kita nikmati, kekuasaan yang kita kangkangi. Yang kemudian menjadikan kita larut, larut dan terus larut dalam kelalaian yang tiada bertepi. Yang sengaja Allah tidak hentikan kelalaian itu sehinga kita telah pula menjadikan kita lupa kepada Allah yang Mahakuasa.

Kita lupa bahwa dunia ini Allah hamparkan untuk kita atur sebagai karpet menuju Allah. Dan tidak menjadikan dunia mengalihkan perhatian batin kita dari Allah. Allah serahkan dunia ini agar kita mampu mengelolanya sebagai bekal untuk akhirat, namun kita sering kali lupa dan terjebak di jala-jalanya yang banyak menggoda dan melalaikan kita.

Sungguh celakalah jemari-jemari yang bergerak hanya menghitung dunia di setiap detiknya, tiada henti dan titik, sampai kematian menghentikannya. Dia mengira bahwa harta benda yang berlimpah itu dapat mengekalkan nafasnya, membendung gelombang kematian mana kala dia telah tiba saatnya. Dia mengira bahwa hartanya tidak akan menggoyahkan posisinya, mengabadikan hasratnya. Dunia telah meliputi hatinya dan tidak memberikan pintu masuk pada akhirat sehingga dia berada dalam kealfaan total kepada Allah.

Budak dunia akan senantiasa bersimpuh, ruku' dan sujud di depan kemegahannya. Nafsu menjadi Tuhannya. Dia menjadi hamba setianya.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (Al-Jatsiyah : 23).

Allah biarkan mereka sesat di tumpukan ilmunya yang tidak lagi memberi mamfaat dan tidak lagi menjadi penerang karena dia telah memadamkannya dengan kecintaan yang over-dosis pada dunia. Kecintaan yang mematikan hatinya yang membunuh semangat cintanya kepada Yang Makak Pencinta.

Mereka lupa Allah, maka Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Lupa asal usul dan akhirnya. Lupa darimana dia bermula dan kemana akan berujung.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (Al-Hasyr: 19).

Wahai para budak dunia. Dunia itu terbatas umur dan kenikmatannya. Kalian boleh menikmatinya namun sebatas yang dibutuhkan untuk kepentingan akhirat kalian. Jangan berlebihan dan melampaui batas. Sebab jika kalian menikmati dunia dengan penuh ketamakan maka tak ubahnya kalian laksana binatang bahkan lebih buruk dari mereka. Karena kalian memiliki akal dan hati yang bisa lebih jernih melihat hakikat sesuatu namun kalian tidak lagi mampu.

Jangan biarkan diri kalian menyediakan sarana-sarana yang menjadikkan kalian tersesat dengan sarana-sarana yang kalian bangun dan himpun dalam diri kalian. Jangan biarkan lentera cinta akhirat redup dan semakin redup karena kalian berlapang dada untuk bersimpuh ria di hadapan dunia yang terus menggoda kalian. Jangan biarkan diri kalian terperangkap di jaring-jaring dunia yang ditebar syetan di berbagai sudut nafsumu.

Jangan biarkan syetan-syetan itu menjadi tuan yang memporak porandakan rancang bangun keimanan kalian. Kalian tahu bahwa syetan adalah musuh. Maka jadikanlah dia sebagai musuh abadimu. Namun jika nafsu telah berkuasa atas kalian maka kalian akan menjadi budaknya. Sebab nafsu ammarah kalian adalah tentara syetan yang di tanam dalam diri kalian.

Biarkan dunia itu kalian posisikan pada posisinya yang benar. Menjadi hamba-hamba kalian, menjadi abdi-abdi kalian, menjadi pelayan-pelayan kalian. Dengan demikian kalian akan mudah menjadi hamba Allah, Tuhan yang kalian. Tuhan semesta alam.

Budak dunia akan kehilangan akhirat dan pemburu akhirat akan membuat dunia terbirit-birit mengejarnya di segala kesempatan.

Berbahagialah mereka yang menguasa dunia dan celakalah mereka yang dikuasai dunia.

Tatkala Ramadhan usai kita berharap sudah bisa terlepas dari mencinta dunia over dosis. Agar kita lebih mudah menaiki tangga tangga spiritual di masa yang akan datang. Selamat Iedul Fitri 1434 H!


*Penerjemah Buku Fenomenal Laa Tahzan

Sumber
23.20 | 0 komentar

Jadilah Manusia yang Disayang Allah

Written By Rudianto on Selasa, 30 Juli 2013 | 13.01

Setiap orang pasti menginginkan agar Allah mencintainya dan berharap kasih Allah menyentuh relung sanubarinya. Cinta Allah senantiasa didamba, dirindu, dinanti oleh manusia beriman di setiap hentakan nafasnya. Karena cinta Allah adalah segalanya bagi mereka. Bahkan cinta Allah itu lebih mereka harap dan rindu daripada surga-Nya.

Namun siapakah manusia yang akan mendapatkan limpahan cinta Allah? Siapa manusia yang akan merengkuh cinta Allah yang langsung mendapatkan jaminan dari firman-firmanNya?

Bertaburan firman Allah dalam Alquran yang mengabarkan siapa saja manusia-manusia yang Dia cinta. Demikian pula dalam hadits-hadits Rasulullah yang mulia.

Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik dan kebajikan. Allah mencintai para pelaku ihsan (muhsinin) karena ihsan adalah jantung keimanan, ruh dan kesempurnaannya. Dia adalah puncak level agama dan merupakan setinggi-tinggi akhlak kaum salihin. Di dalamnya terhimpun semua pesona akhlak seorang hamba, terangkum semua cahaya etika seorang abdi. Para muhsinin yang Allah cinta adalah mereka yang menunaikan ibadah mereka dengan penuh kerendahan hati dalam tingkat yang paling sempurna, sepi dari riya dan pamer yang sering banyak membelit dan mencelakakan para pelaku ibadah.

Mereka adalah orang yang dalam dadanya dipenuhi keimanan kepada Allah secara sempurna, beribadah tanpa pamrih, mengabdi tiada henti. Tangannya demikian ringan melepaskan kebaikan, organ tubuhnya tertutup dari dosa-dosa yang menghancurkan.

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah : 195).

Dari tangan mereka mengalir kebaikan, dalam benak mereka terancang kebajikan. Maka Allah mencintai mereka sebagai imbalan atas kebaikan-kebaikan mereka. Karena Allah adalah Dzat Yang Muhsin (Maha Baik) dan mencitai kebaikan: " Sesungguhnya Allah itu Muhsin dan sangat mencintai orang-orang yag berbuat kebaikan." (Shahih Al-Jami' al-Shaghir: 1834).

Dalam diri seorang muhsin kebaikan demikian berlimpah, kemarahan sangat minim, keangkuhan tidak mendapatkan tempatnya, ketamakan menemukan kuburannya. Kedengkian tak lagi bisa bersemi indah. Kezhaliman tergantikan keadilan. Maaf menjadi mahkota hidupnya, jujur menyinari lorong-lorong sejarahnya. Amanah lekat pada dinding-dinding jiwanya. Wajar jika Sang Maha Kasih mencintainya.

Orang-orang bertakwa juga teraliri cinta Allah. Orang-orang bertakwa adalah manusia-manusia siaga untuk menerima perintah Allah dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Hatinya adalah hati yang hidup yang bergetar manakala nama Allah bergema, bulu romanya berdiri manakala ayat-ayat Allah menyusupi. Orang-orang bertakwa senantiasa menatap surga dengan mata hatinya dan menghindari neraka dengan emosi rasa takutnya kepada Allah. Jiwanya berselimutkan harap pada Allah. Sebagaimana kata Ubay bin Ka'ab kepada Umar mengenai takwa itu : "Tidakkah engkau pernah melewati jalanan yang penuh onak dan duri? Umar berkata Ya! Lalu apa yang kamu lakukan? Kata Ubay. Aku berjalan berjingkat dan berusaha menghindarinya! Itulah takwa,"jelas Ubay.

Orang yang bertakwa senantiasa siaga setiap waktu. Siaga diperintah Allah dan siaga pula untuk menghadap-Nya. Maka merekapun mendapatkan jaminan surga. Sebagaimana Allah firmankan: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa." (Al-Qamar: 54-55).

Ketakwaan itu bersarang di dada seorang hamba dan hanya Allah yang tahu kadarnya. Takwa dalam hati seorang hamba uakan terpantulkan dalam kehidupannya setiap harinya.

Orang-orang yang bertawakkal juga mendapat porsi cinta yang sama dari Allah. Mereka mendapatkan cinta Allah karena orang-orang yang tawakal akan senantiasa menampakkan ketidakberdayaannya di depan Sang Maha Digdaya, dia hanya menggantungkan diri hanya pada-Nya. Dia sangat mengerti tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya,tentang sebab akibat, hatinya berakar kokoh dalam pohon tauhid. Menyerah diri pada Allah. Ridha dengan semua kehendak-Nya. Tawakkal adalah stasiun orang-orang yang senantiasa mendekat kepada Allah (muqarrabin). Seluruh perkaranya dia serahkan kepada Allah dan senantiasa menapaktilasi sunnah-sunnah Rasul-Nya dengan mengambil sebab-sebab yang mengantarkannya mendekat kepada Allah.

Allah menyukai dan mencintai mereka. Karena mereka begitu merendah di hadapan kekuasaan-Nya, sering merintih di hadapan kasih saying-Nya. Proposal-proposal proyek hidupnya dia ajukan hanya pada-Nya. Dia sangat yakin bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan pernah menampik kebutuhannya.
Allah berfirman mengenai mereka:

"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (Ali Imran: 195).

Allah juga mencintai orang-orang yang sabar. Dia sabar menghadapi ujian dunia, sabar menghadapi kepedihan-kepedihan, sabar dalam berjihad, sabar dalam sulitnya ibadah, sabar dalam meninggalkan maksiat dan menantang syahwat, dan memusuhi hawa nafsunya dan anti gerakan syetan.

Saat sakit yang muncul adalah sifat sabarnya, saat dicela kesabarannya memancar dari aksinya, musibah tak mengganggu kesalehannya. Ucapannya yang terlontar saat mendapatkan musibah : Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'uun.

Kesabaran juga terpancar saat melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar untuk mencapai puncak posisi terbaik di sisi-Nya.

Allah berfirman :

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar."(Ali Imran: 146).

Di samping itu Allah juga mencintai orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak Rasul-Nya, mereka yang berperang dengan ikhlas di jalan Allah, orang-orang yang rendah hati di hadapan orang-orang beriman dan punya harga diri di hadapan orang-orang kafir.

Orang-orang yang adil termasuk manusia yang Allah cinta(Al-Maidah : 42). Demikian pula dengan orang-orang yang intens bertaubat dan senantiasa menyucikan jiwa dan raganya dari dosa-dosa (Al-Baqarah : 222)

Allah mencintai orang-orang yang sering melakukan amalan-amalan nawafil sebagai usaha memperbanyak tabungan akhiratnya setelah dia dengan penuh semangat dan vitalitas menunaikan hal-hal yang fardhu. Salat-salat sunnah menjadi ritme hidupnya, puasa-puasa sunnah menghiasi jejak langkahnya.

Manusia yang Allah cintai adalah manusia yang paling bermamfaat pada manusia lainnya. Dia pemurah pada sesama, ramah pada tetangga-tetangganya, empati pada penderitaan orang lain, simpati pada orang-orang tidak berdaya. Agenda hidupnya adalah : berguna bagi sesama.

Rasulullah menyatakan dengan sangat gamblang bahwa hamba yang paling Allah suka adalah manusia yang paling baik akhlaknya.

"Hamba yang paling Allah suka di sisi-Nya adalah yang terbaik akhlaknya." (Shahih al-Jami' al-Shaghir : 179).

Mukmin yang kuat termasuk yang Allah pandang lebih baik dan lebih Dia cintai daripada seorang mukmin yang lemah. Para penghidup malam dengan ibadah termasuk yang Allah cinta.

Masih banyak lagi manusia-manusia yang sangat mungkin mendapat limpahan kasih dan cinta Allah. Dan setiap kita memiliki kesempatan yang sama. Kita membutuhkan semangat ekstra untuk memburu cinta-Nya karena cinta-Nya tidak diberikan gratis kepada kita. Maka marilah kita bertekad untuk menjadi hamba yang disayang Allah. Dan perburuan cinta itu sangat tepat kita lakukan di bulan Ramadan yang mulia.

Samson Rahman
*Penerjemah buku fenomenal Laa Tahzan
Sumber
13.01 | 0 komentar

Merevolusi Generasi

Written By Rudianto on Sabtu, 22 Juni 2013 | 23.14

Kronis! Multidimensi kerusakan menimpa masyarakat. Praktis, tak banyak yang bisa
dibanggakan. Apalagi melahirkan generasi yang unggul. Jika urusan perut, semangatnya luar
biasa. Sifat glamour dan hura-hura menjadi perhiasan hidup. Wanita menjadi kiblat. Uang
menjadi agama.

lslam datang membentuk generasi unggul. Merevolusi gaya hidup jahiliyah. Membangun
harga diri. Menjunjung kemuliaan. Tak heran Umar bin Khattab mengungkapkan, kami adalah
kaum yang Allah memuliakan dengan Islam. Maka barangsiapa mencari selain lslam, Allah
akan menghinakan mereka.

Saat bersama para sahabat, Umar pernah mengungkapkan, kalau boleh kita berandai-
andai, saya ingin rumah ini dipenuhi oleh orang-orang semisal Ubaidah lbn Jarrah. Mengapa
Umar ingin lahir generasi semisal Abu Ubaidah lbn Jarrah? Ia seorang yang cemerlang
pikirannya. Sebagai pendahulu Islam, assabiqunal awwalun, senantiasa bersama
Rasulullah dalam perjuangan lslam. Yang lebih istimewa, saat perang Badar, dalam kondisi
genting, ia harus berhadapan dengan orang yang sangat ia cintai, tak lain adalah ayahnya sendiri
lbn Jarrah. Akan tetapi, demi cintanya kepada lslam, kemuliaan dan harga diri sebagai seorang
muslim, ia tebas ayahnya saat berhadapan di medan perang.

Hari ini, kita kehilangan generasi semisal Abu Bakar Ash Shidiq. Kedermawanannya tak ada
tandingnya. Atau Ustman yang membiayai 10.000 pasukan dalam perang Tabuk dari
kantongnya sendiri. Kita juga kehilangan generasi Mus'ab bin Umar yang meninggalkan
kemewahan karena cintanya kepada Islam. Sampai ketika meninggalnya, kain kafannya
tidak mencukupi untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ditarik ke atas untuk menutup
kepalanya, kakinya terlihat, begitu pula saat ditarik ke bawah, kepalanya terlihat.
Kita juga kehilangan generasi semisal Sa'ad bin Mu'adz. Saat menentukan perang Badar, ia

kokohkan Rasulullah dengan ungkapannya, "Kemanapun Anda suka kami akan ikuti.
Seandainya engkau suruh kami untuk menceburkan diri ke laut, kami akan
menceburkan diri bersamamu. Tidak sedikitpun kami enggan untuk Anda pertemukan dengan
musuh-musuh kami. Ambillah harta yang Engkau suka, sesungguhnya yang kalian ambil lebih kami
cintai daripada yang Engkau tinggalkan".

Kita juga kehilangan generasi semisal Miqdad bin Amru yang menyatakan, "Wahai Rasulullah
melangkahlah kemana yang ditunjukkan Allah kepadamu. Kami selalu bersama Anda. Kami
tidak akan mengatakan seperti ucapan Bani Israil kepada Musa, 'Pergilah kalian berperang
bersama Rabbmu, kami akan menunggu disini"'.

Atau al Qo'qa bin Amru At Tamimi, Saat Kholid meminta tambahan 1000 pralurit, Abu Bakar
hanya mengirim seorang Qo'qo. Atau saat Amru bin Ash meminta tambahan 4000 pasukan
kepada Umar bin Khattab untuk menaklukkan Mesir. Umar hanya mengirim empat orang,
Zubair bin Awwam, Miqdad bin Amru, Ubaidah bin Shamit dan Maslamah bin Mukhlid.
Sungguh semangat seribu orang ada dalam satu orang!.

Umat ini telah kehilangan generasi-generasi pilihan. Ada Umar bin Abdul Aziz. Dalam waktu
2 tahun 3 bulan mampu mengubah tatanan masyarakat menjadi penuh ketundukan kepada
Allah. Pemimpin yang amanah, yang menyeru rakyatnya untuk selalu takut kepada Allah.Umat
ini juga kehilangan generasi Shalahuddin Al Ayyubi. Membangunkan pemuda-pemuda dari
tipu daya dunia. Membangkitkan semangat kemuliaan harga diri. Menyadarkan akan
keterhinaan atas musuh-musuhnya.

Hari ini, kita butuh orang-orang yang mau berkorban, sebagaimana generasi awal
berkorban untuk lslam. Tak ada pilihan untuk baik dan mulia kecuali kembali dengan kebaikan
dan kemuliaan generasi awal. Ya, perlu merevolusi generasi , menjadi generasi
bermartabat, mulia dan penuh harga diri. Seperti generasi shalafush shaleh.

23.14 | 0 komentar

Tangis Kelembutan Kalbu

Written By Rudianto on Jumat, 15 Februari 2013 | 18.12

Biarkan air mata ini meleleh sebab panasnya dosa mencairkan kebekuannya. Terlalu banyak hak-hak Allah yang kita abaikan, terlalu lama hati kita berpaling mengingkari petunjuk-Nya. Berjalan menyeret diri dalam pusaran dunia yang memabukkan, untuk kemudian terlempar jatuh terpuruk dalam sesal berkepanjangan. Biarkan ia berhenti sampai di sini, terbawa banjir air mata kita.

Jangan tahan butir air mata yang hendak jatuh menitik, karena itulah tetesan yang dicintai Allah. Biarkan ia meluas di wajah kita sebab reaksi kimiawinya membentengi kita dari api neraka. Sedang ia juga peristiwa langka yang jarang terjadi di jaman ini. Serupa kerontang musim kemarau karena air hujan yang tidak turun dan mata air yang telah mongering.

Di mana kini, jiwa-jiwa yang dicengkeram rasa takut karena minimnya bekal menjelang kepulangan mereka ke alam baka? Ketidaksiapan yang menyiksa jiwa dan raga, membiaskan gelisah yang nyata dalam rindu akan perjumpaan yang melegakan dan penuh keridhoan dari Sang Maha Rahman. Sanggupkah diri bersimpuh memasrahkan diri yang hina ini?

Ya, air mata Karena takut kepada Allah adalah anugerah. Buah dari ilmu yang cukup tentang hakikat kehidupan yang fana dan kekalnya akhirat, yang dipadu dengan ketidakpantasan kita dalam mempersiapkan bekal. Serupa kapak pemecah batu pelindung mata air, ia kan mengalir derasnya arus jika berhasil. Yang kegagalannya mendatangkan bencana ; kekeringan atau bahkan kematian makhluk bernyawa.
Ini bukan tentang topeng kejantanan palsu yang mengharamkan tangisan. Berlagak perkasa dalam kesombongan, padahal ia justru pertanda kebodohan dan lemahnya iman. Karena tangisan takut kepada Allah adalah ketinggian pemancar hati yang sanggup menangkan sinyal frekuensi gelombang akhirat yang terkirim dari nash-nash ilahiah. Sedang ketiadaannya adalah kungkungan jiwa karena terhalang kerasnya hati dan nihilnya ilmu.

Semakin bertambah kualitas ilmu dan iman kita, semakin deraslah mengalir air mata. Karena jiwa yang gemetar dan kulit yang merinding telah menghancurkan kalbu yang membatu. Membuatnya lembut dan khusyu’ dalam takut yang membangun ketakwaan. Bukankah Abu Bakar selalu menangis saat membaca al-Qur’an Karena kelembutan hatinya?

Sehingga, mata yang tidak pernah menangis Karena takut kepada Allah adalah bencana yang nyata bagi pemiliknya. Bukti kebodohan yang membuat aman karena ketidaktahuan, kualitas iman yang dipertanyakan, juga kerasnya kalbu yang telah membatu.

Maka marilah belajar menangis! Seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan banyak lagi yang lain, yang dari memandang wajah mereka saja, kita tahu ada bekas linangan air mata padanya. Wajah-wajah teduh dari hati yang mengerti tentang hakikat hidup ini. Tentang mati dan negeri abadi!
18.12 | 0 komentar

Jihad Tanpa Amarah

Written By Rudianto on Senin, 17 Desember 2012 | 09.47

Dalam sebuah pertempuran para sahabat melawan kaum kafir musyrik, Ali bin Abi Thalib
berhasil merobohkan lawannya. Lawan yang sudah terjatuh itu tinggal ditebas dengan sabetan terakhir yang mematikan. Ali pun bersiap mengayunkan pedangnya.

Tiba-tiba, "Cuih!" orang musyrik itu memberikan perlawanan terakhir dengan meludahi wajah Ali. Sungguh penghinaan yang sangat menjijikkan. Semua orang pun menduga Ali akan memenggal leher lawannya dengan garang.

Antiklimaks terjadi. Alih-alih membunuh lawannya, Ali malah berbalik badan dan me-ninggalkan dia. Kesempatan pun diambil oleh musyrikin itu untuk mengambil pedangnya yang terjatuh. la lalu mengejar Ali, siap mem-babat menantu Rasulullah itu dari belakang. Pada saat itulah Ali yang selalu waspada nnengayunkan pedangnya. Serangan pengecut lawan pun berakhir dengan kematian si musyrik.
Para sahabat pun bertanya, mengapa tidak dari semula Ali menghabisi lawannya yang telah terjatuh. Apalagi sang lawan menghina Ali dengan meludahi wajahnya. All menjawab, "Sebenarnya aku sudah slap membunuh dia karena Allah. Tetapi amarahku timbul ketika is meludahi mukaku. Aku tak ingin membunuh dia karena amarah, maka is kutinggalkan."

Subhanallah. Sebuah teladan agung dari sahabat besar yang mengagumkan. Ali menyadari betul bahwa jihadnya adalah untuk meninggikan kalimat Allah. Bukan untuk melampiaskan dendam atau amarah kepada musuhnya.

Terkait amarah, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada seorang sahabat, "Jangan marah!" Pesan itu beliau ulang tiga kali. Memastikan sahabat tadi bisa mengendalikan amarahnya. Amarah yang tak terkendali akan menghilangkan kejernihan berpikir, membuat amal apapun yang dikerjakan menjadi serampangan didorong nafsu dan emosi.

Memasak dengan marah beresiko gosong atau rasanya jadi berantakan. Mengendarai kendaraan saat diamuk amarah beresiko kecelakaan. Memaku diiringi amarah beresiko jempol sendiri terkena palu. Padahal semua pekerjaan tadi adalah kegiatan sehari-hari yang ringan dan tak memerlukan banyak pemikiran.
Lalu bagaimana jika mujahid menjalankan jihadnya dengan amarah dan dendam? Membalas tindakan lawan sesuai kadar kezhaliman mereka memanag diperbolehkan. Namun jihad fi sabilillah tak boleh dikendalikan oleh amarah dan dendam.

Strategi, taktik dan operasi yang disusun berdasarkan kemarahan cenderung akan berantakan. Apalagi menghadapi musuh yang tertata rapi dan bisa berpikir dingin. Belum lagi faktor perimbangan kekuatan yang tak seimbang. Bahkan Rasulullah menegur para sahabat yang marah dan ingin segera membalas kezhaliman musyrikin Quraisy sebelum turun perintah hijrah dan jihad.

Berkaca dari kehidupan salafush shalih di atas, rasanya mujahidin hari ini lebih pantas untuk mengendalikan amarahnya. Umat memang terzhalimi luar biasa, air mata dan amarah mudah untuk tertumpah. Namun perlawanan dan jihad memerlukan kepala dingin dan kesabaran.

Lalu bagaimana dengan sebagian pendukung jihad hari ini yang mudah marah? Jangankan kepada musuh yang zhalim, kepada sesama Muslim dan mujahid pun mudah marah. Mudah tersinggung dan tak bisa terima ketika di ingatkan dengan nasehat. Jika amaliyat selalu bisa dipatahkan musuh, bisa jadi kita memang belum bisa mengandalikan amarah. Wallahu a'lam.
09.47 | 0 komentar

Dari Sepucuk Surat

Written By Rudianto on Sabtu, 08 Desember 2012 | 14.55

Mungkinkah sepucuk surat mengubah nasib sebuah bangsa? Menjadikan mereka jadi gelandangan dan kriminal di negerinya sendiri. Dipinggirkan terus-menerus hingga harus hidup di kamp pengungsian. Sejarah manusia menjawab, bisa. Tentu saja itu bisa terjadi dengan takdir-Nya Yang Maha Kuasa.Beginilah kisahnya. Tahun 1917 di Palestina, Turki Utsmani yang menjadi sekutu Jerman dalam Perang Dunia I menyerah kepada Jenderal Allenby dari Inggris. Pada 2 November tahun itu jug;, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour menuliskan sebuah janji bagi kaum Yahudi.

Janji itu ditulis dalam surat Balfour yang ditujukan pada Lord Walter Rothschild, tokoh Zionis Inggris terkemuka. Surat yang kelak dikenal sebagai Deklarasi Balfour itu menjanjikan bahwa pemerintah Ratu Inggris menyukai "berdirinya sebuah tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina dan akan mengusahakan sebaik-baiknya memfasilitasi tujuan itu."

Rothschild adalah bankir Yahudi ternama di Inggris dan Eropa. la memutar uangnya, dengan riba tentu saja, hingga mampu menghutangi negara-negara yang terlibat perang dan butuh biaya. Ketika Inggris sudah terjerat lehernya oleh hutang dan ribanya, Rothschild meminta tanah untuk bangsanya. Inilah warisan Yahudi sejak zaman para Nabi Bani Israel didustakan dan dibunuh oleh kaumnya sendiri, mereka tak mau meninggalkan bisnis riba yang dilaknat Allah Ta'ala.

Jelas bahwa Balfour tak peduli nasib bangsa Palestina, pemilik tanah yang dijanjikan pada kaum Yahudi itu. Dalam surat lainnya tahun 1919, Balfour mengatakan, "Di Palestina kami tak merencanakan atau bahkan mempertimbangkan pendapat penduduk negeri itu, meskipun komisi dari Amerika mempertanyakannya. Keempat negara besar memiliki komitmen pada Zionisme dan Zionisme, benar ataupun salah, balk ataupun buruk, adalah tradisi yang berakar panjang, dalam kebutuhan masa kini, harapan masa depan, dari makna yang jauh lebih penting daripada keinginan dan prasangka 700 ribu orang Arab yang kini menghuni tanah kuno itu."

Lalu, ide negara zionis di tanah Palestina pun menggelinding bak bola salju. Peran Inggris sebagai pemimpin dunia Barat melancarkan ide Yahudi itu. Inilah kelihaian -Yahudi yang diwarisi sejak era Perang Ahzab. Mereka cerdik, dan licik, menggalang dukungan dari kekuatankekuatan besar untuk kepentingannya dan untuk menghantam musuhnya.

Balfour mendapat pengaruh, agar Inggris mendukung Zionisme, dari Chaim Weizman. Dosen di Universitas Manchester itu adalah ahli kimia Yahudi kelahiran Rusia. la dihormati Barat karena perannya dalam proses penemuan acetone, bahan penting dalam pembuatan mesiu baru yang tak berasap. Inilah warisan Yahudi dari Bani Nadir yang diusir Rasulullah dari Madinah, keahlian membuat persenjataan yang menjadi kebutuhan militer berbagai bangsa.

Maka, kelicikan politik, harta riba dan inovasi senjata dipadukan oleh Yahudi untuk memaksakan cita-citanya kepada dunia. Sebuah negara haram bernama Israel pun berdiri pada tahun 1948. Di atas tanah bangsa Palestina yang menjaganya sebagai wakaf kaum Muslimin, setelah dikuasai Islam sejak era Khalifah Umar bin Khaththab. lronisnya, semua itu dimulai dari sepucuk surat.
Sumber: An Najah
14.55 | 0 komentar

MUTIARA SAKINAH

Written By Rudianto on Senin, 26 November 2012 | 22.04

Mungkin pada sepasang matanya yang hening yang selalu melirik tajam atau
yang kadang kala malu-malu memberikan kerlingan manja.
Boleh jadi pada bibirnya yang tak jemu-jemu menerbitkan senyuman manis,
atau yang sekali-sekala memberikan kucupan mesra di dahi umi juga, ayah, suami
dan pipi mungil anak-anak.

Atau mungkin juga pada helai tawanya yang gemersik dan suara manjanya
yang bisa melembut sekaligus melembutkan perasaan.
Sejuta perkataan belum cukup untuk menceritakan kecantikan perempuan.
Sejuta malah berjuta-juta kali ganda perkataan pun masih belum cukup untuk
mendefinisikan tentang keindahan perempuan.

Kitalah perempuan itu. Panjatkan kesyukuran kehadrat Tuhan karena
menjadikan kita perempuan dan memberikan keindahan-keindahan itu.
Namun, betapa pun dijaga, dipelihara, dibelai dan ditatap di hadapan cermin
saban waktu, tiba masanya segalanya akan pergi jua. Wajah akan suram, mata
akan kelam. Satu saja yang tidak akan dimamah usia, sifat keperempuanan yang
dipupuk dengan iman dan ibadah.

Untuk menjadi lebih cantik dan menarik tidak lah sesusah mana.
1 Menjadikan Ghadhdul Bashar (menundukkan pandangan) sebagai "hiasan
mata", niscaya akan semakin bening dan jernih.
2. Mengoleskan "lipstik kejujuran" pada bibir, niscaya akan semakin manis.
3. Menggunakan "pemerah pipi" dengan kosmetik yang terbuat dari rasa malu
yang diproduksi dari salon Iman.
4. Memakai "sabun Istighfar" yang menghilangkan semua dosa dan kesalahan
yang telah mengotori hati, pikiran dan jiwa.
5. Merawat rambut dengan "Selembar kain Islami" yang akan menghilangkan
kotoran pandangan lelaki yang membahayakan.
6. menghiasi kedua tangan dengan gelang Tawadhu' dan jari-jari dengan
cincin Ukhuwwah.
7. Sebaik-baiknya kalung adalah kalung "kesucian".
8. Bedaklah wajah dengan "air Wudhu" ia akan senantiasa lembab
menyejukkan dan akan bercahaya di akhirat.
22.04 | 0 komentar

JENAZAH

Sebelum ajal menjemput diri, marilah coba matikan diri sejenak. Tutuplah kedua mata dan bayangkan diri sedang berada di atas keranda mayat diiringi oleh para penghantar jenazah. Keadaan bagaimana yang diri inginkan setelah diri mati, maka menjadilah seperti yang diri inginkan di saat diri hidup sekarang ini. Memperbaiki kesalahan diri, memperbaiki tingkah laku diri, bertaubat diatas segala perbuatan maksiat, membuka lembaran baru kehidupan diri dengan perjalanan hidup dan budi pekerti yang baik. Mencuci hati dari kedengkian dan membersihkan dari penghianatan. Kelak diri akan mengingat apa yang telah diri kita lakukan karena makhluk-makhluk ibarat pena ALLAH dan seluruh manusia adalah saksi ALLAH dibumi-NYA. Jika mereka bersaksi dengan memuji, maka itu kabar baik buat diri dan kesaksian ini diterima disisi ALLAH Yang Maha Esa. Namun jika mereka bersaksi dengan menyebut keburukan, maka diri sangat rugi di atas apa yang sedang menanti. Kita sedang berada di medan persaingan sengit, tetapi kita sering melalaikannya. Tidak ada yang mampu kita lakukan dihadapan hiruk pikuk dan kerihuan yang sering membuat kita melupakan akhirat kecuali dengan mematikan diri sejenak selama satu menit, yaitu enam puluh detik. Dalam waktu yang singkat ini hendaklah kita lakukan lalu kita bertaubat dan perbaiki amal perbuatan kita. Barangsiapa yang meluangkan masanya satu menit dalam setiap hari untuk melakukan hal ini, maka dia akan kembali menjadi seorang yang lurus, pecinta kebaikan, bermanfaat bagi orang lain, menjadi mulia, penyabar dan penuh toleransi. Sedang orang yang melupakan kematian akan hidup dalam kelalaian, tidak menyadari adanya pengawasan ALLAH dan tidak bermuhasabah dirinya. Kita amat memerlukan usaha untuk menyelamatkan dalaman kita, agar tidak dijajah oleh kedengkian dan iri hati. Sungguh rugi orang yang mengisi hatinya dengan dendam, dengki dan iri hati sehingga menjadi lubang yang dihuni oleh ular dan kalajengking. Untuk itu hendaklah diri mengasihi diri kita sebelum kita mengasihi orang lain dalam menghadapi peperangan yang berkecamuk di dalam diri kita supaya kita tidak mengganas kepada orang lain. Ali bin Abi Tholib radiyallahuanhu berkata, ''Dunia pasti ditinggalkan pergi sedangkan akhirat sudah siap menanti. Oleh itu, jadilah kamu sebagai anak-anak akhirat dan janganlah kamu menjadi anak-anak dunia. Hari ini adalah hari beramal bukan hari dihisab sedangkan besok adalah hari dihisab bukan hari beramal''.
21.34 | 0 komentar

BERSIH

Written By Rudianto on Rabu, 29 Agustus 2012 | 08.48

Membersihkan jiwa dan tersenyum dengan nikmat Allah yang ada disisi...
Membersihkanlah jiwa terlebih dahulu, pasti Allah akan membantu...
Orang yang bersih hatinya sentiada rendah diri dengan Allah Taala selalu
berbaik sangka dengan Tuhannya. Jika mendapat ujian kesusahan hatinya
berkata,
"Karena dosakulah ujian ini datang"
"Tuhan menghukum ku karena dosaku"
"moga-moga aku terlepas dari hukuman akhirat yang amat dahsyat"
Kalau ada orang lain yang bernasib baik, mungkin berpangkat atau kaya,
gembira hatinya.. Dia turut gembira dengan kegembiraan orang lain... Sekiranya
ada orang yang mendapat kecelakaan, miskin, sakit... hatinya turut sedih
dengan kesedihan orang.

Jika dia mendapat nikmat dia merasa malu dengan Tuhannya karena merasa
tidak layak menerima nikmat itu. Hatinya merasakan..." Apa maksud Tuhan
memberi aku nikmat untuk aku bersyukur atau kufur?" Cemas jiwanya,
gembiranya tidak begitu ketara karena nikmat itu masih menjadi tanda tanya.
Hajat-hajatnya yang tidak didapatkannya dia ridha senantiasa berbaik
sangka dengan Tuhan. Sedikit pun tidak cacat hatinya dengan Allah karena dia
tahu Allah Maha Bijaksana mentakdirkan. Bila disusahkan orang, terus teringat
dosanya "Karena dosakulah aku disusahkan." Dia tidak berdendam bahkan
mendoakan orang itu, dengan kebaikan... Nikmat Allah disyukurinya pemberian
dan pertolongan orang diingati dan dibalasinya.

Hatinya senantiasa cemas, kematian di depan mata, kapan kapan saja
bisa tiba.. Gelisah dengan dosanya amal-ibadahnya dilupakan saja karena dia
tidak tahu apakah diterima atau sebaliknya...
Kakinya di dunia namun hatinya senantiasa dengan Tuhannya perasaannya
senantiasa memikirkan akhirat.
Semoga Allah berikan kita hati yang bersih.

****
Orang pintar sekalipun akan gagal apabila mereka memikirkan terlalu
banyak hal. Sedangkan orang bodoh seringkali berhasil dengan
melakukan tindakan tepat.

08.48 | 0 komentar

SABAR

Written By Rudianto on Selasa, 28 Agustus 2012 | 19.57

Ujian kehidupan umpama sesetia malam dan siang, yang silih berganti..saat kesedihan itu datang, sampai waktunya, kegembiraan pula yang akan hadir.. bersabarlah" Hidup jangan menyerah kalah dan berputus harap. "Allah tidak akan menguji manusia lebih daripada yang mampu ditanggungnya. Dia lebih menyayangi hamba ciptaanNya ini lebih daripada kita menyayangi diri kita sendiri."
***
Seorang awak kapal terdampar seorang diri di sebuah pulau. Dia telah mendirikan sebuah pondok dan berdoa setiap hari selama berbulan-bulan lamanya supaya akan ada orang yang menemuinya. Dia percaya dengan sepenuh hatinya bahwa Tuhan akan mendengar doanya itu. Sehingga pada suatu hari bekal makanannya habis dan dia terpaksa masuk ke dalam hutan. Si anak kapal ini tetap bersabar dengan hujan panas serta ribut petir yang melanda.

Sekembalinya, pondok yang didiaminya telah hangus terbakar. Pada saat itu, dia begitu marah dan bertanya kenapa Tuhan memperlakukannya sedemikian rupa disebalik kesabarannya dengan ujian Tuhan. Keesokkan harinya, ada sebuah bot kecil menghampiri tepian dan dia menjerit serta melambai-lambai kearahnya. Akhirnya, dia berhasil diselamatkan. Awak kapal tadi bertanya kepada pemilik bot, bagaimana dia bisa menjumpainya. Jawabnya, "Tadi malam, saya terlihat asap (dari pondok yang terbakar).” Orang yang yakin dan penuh harap akan nampak bunga dan bukan durinya. Tetapi mereka yang putus harap selalu akan nampak duri dan tidak bunga mawarnya

"Apabila Allah cepat memakbulkan doamu, maka Dia menyayangimu, bila Dia lambat memakbulkan doamu, maka dia ingin mengujimu, bila Dia tidak memakbulkan doamu, maka Dia merancang sesuatu yang lebih baik."

Suka dan duka silih berganti umpama sesetia malam kepada siang. Kedua-duanya pasti ada. Oleh itu... jangan berputus harap dan menyerah kalah selagi nafas belum ditakdirkan berakhir di ujung nyawa. Yakinlah Allah bersama-sama hambaNya yang sabar dan bersyukur.

***

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan tetapi jangan pernah menyesal untuk brtemu dengan orang lain. Menyesallah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.

19.57 | 0 komentar

SEHAT

Setiap diri pasti pernah melalui hari mendung
dalam hidupnya. Ketika itu diri akan berada dalam
zona iman yang lemah dan keadaan itu membuat
diri sangat tertekan. Apakah mungkin hidup bisa
tenang jika hubungan diri dengan Allah Taala
terancam?

Banyak sebab yang mengantar diri kepada
keadaan seperti itu. Antaranya ialah jika diri
terlalu terobsesi terhadap dunia hingga
melupakan tujuan sebenarnya hidup ini. Tetapi
bersyukur kepada Allah SWT karena hati masih
hidup dan merasa sempit apabila menyadari
kealpaan yang lalu.

Diri masih memiliki semangat untuk bangkit
mencari iman yang hilang. Tetapi persoalannya,
di manakah diri bisa menemukan iman yang hilang
itu?

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi
untuk mencari keimanan sejati. Antaranya;
Di hati kita sendiri. Sesiapa yang mau
memperbaiki diri mesti melihat ke dalam lubuk
hatinya. Di situlah asal mula kebaikan bercambah
menjadi benih yang baik.

Hati yang hidup biasanya sibuk menanyai
pada tuannya, kenapa kamu lakukan itu dan ini?
Untuk siapa dan apa faedahnya? Hanya ada satu
zat yang dapat menguatkan hati, apabila diri
bersandar padaNya maka hilanglah segala beban
yang menyesakkan dada.

Siapakah yang diri cari jika hati terlalu
sedih? Siapakah yang diri tuju jika mara bahaya
telah mengepung dari segenap penjuru?
"Dan jika Allah menimpakan sesuatu
kemudharatan kepadamu maka tidak ada yang
dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika
Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak
ada yang dapat menolak kurniaan-Nya. Dia
memberikan kebaikan itu kepada sesiapa yang
dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yunus: 107)

Hati yang senantiasa mengingati Allah SWT,
di situlah akan bermula segala kebaikan tercipta.
Hati yang membisikkan pada diri supaya
bertaubat, melupakan segala yang berlalu dan
memulakan hidup baru.

Hati adalah tempat jatuhnya pandangan
Allah SWT, tempat berkumpul rahmat dan
hidayah-Nya untuk mengikis segala syahwat yang
melekat di dindingnya. Jika hati bisa disentuh
umpama mangkuk kristal yang mahal, tuan
empunya sudah tentu menjaganya dengan penuh
kasih sayang. Jangan ada debu yang melekat,
senantiasa dibersihkan dan diletakkan pada
tempat yang aman. Tiada tangan kotor yang
mampu menjamah.

Tapi sayang hati itu begitu murah pada
pandangan manusia yang lalai, dibiarkan retak
menanti pecah berderai oleh dosa yang hitam.
Masihkah ada peluang membersih hati yang
dicipta Allah SWT untuk merasai sejuta nikmat.
Nikmat iman dan Islam, nikmat kebahagiaan dan
ketenangan.

Al-Fudail bin 'Iyadh berkata: "Sesiapa yang
memperbaiki hatinya karena Allah, niscaya Dia
akan memperbaiki amal perbuatannya. Sesiapa
yang memperbaiki hubungannya dengan Allah,
maka Allah akan memperbaiki hubungannya
dengan orang lain."

Iman yang hilang dan kehidupan sempit itu
akan segera berakhir jika diri bersedia
memperbaiki hubungan dengan Allah Taala.
Melicinkan hati dari debu yang melekat, karena
tiada seorangpun yang sanggup menderita tanpa
cahaya iman.

Adakalanya penyakit jasmani dan mental
menyerang manusia silih berganti. Bukankah itu
petanda wujudnya kezaliman yang diri lakukan
pada diri sendiri? Makanan yang tidak seimbang
dan rehat yang tidak mencukupi menjadi puncak
kurangnya daya kekebalan tubuh.

Tekanan dalam mengejar karier dan
pekerjaan, hubungan yang tegang dengan or-
ang lain menjadi sebab tekanan berlarutan.
Tetapi adakah diri juga merasai antara sebab
tekanan dalam hidup ini ialah tidak tersedianya
ilmu yang cukup, iman yang kebal dan ibadat
yang ikhlas?

Siapa saja bisa meminta nasehat doktor
pakar atau mencari obat alternatif yang menjadi
gaya hidup manusia modern seperti rileks di spa
dan melanggan pelbagai terapi yang teruji
pengaruhnya. Semua itu ikhtiar yang baik selagi
tidak menyalahi syara`.

Namun jangan mudah melupakan keperluan
diri yang lain. Kalau hanya jasmani yang diambil
berat, maka akan muncul ketidakseimbangan
dalam hidup. Bagaimana dengan rohani,
sudahkah ia diobati?

Islam adalah agama yang realistis, ia
berinteraksi dengan manusia secara
keseluruhannya baik jasmaninya, rohaninya
maupun akal dan perasaannya.
Islam meminta agar semua perkara itu diberi
santapan yang cukup dalam batasan sederhana.
Riyadhah itu menjadi santapan jasmani, ibadat
menjadi santapan rohani, ilmu menjadi santapan
akal dan seni menjadi santapan perasaan.

Keadilan dalam Islam cukup jelas
ukurannya. Hanya manusia saja yang tidak
mampu memberi keseksamaan untuk dirinya
sendiri. Ada yang terlebih mengutamakan dunia
hingga melupakan agama, tak sedikit pula yang
terpukau oleh ajaran yang menyalahi asas
kemurnian Islam itu sendiri.

Keadilan untuk diri adalah memberi hak
kepada seluruh isi tubuh ini dengan sebaik-
baiknya. Rasulullah SAW pernah menegur
seorang sahabat yang sembahyang sepanjang
malam dan berpuasa terus menerus pada siang
harinya, sabda baginda SAW yang bermaksud:
"Sesungguhnya bagi jasadmu ada haknya, bagi
matamu ada haknya, bagi keluargamu ada
haknya dan bagi tetamumu ada haknya."
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Tiada yang lebih menyayangi diri kita sendiri
selain Allah Taala dan diri kita sendiri. Jalannya
telah ditunjukkan oleh Rasul-Nya SAW yaitu
bersihkan hati dan berbuat adil pada tubuh
badan ini.

Keseimbangan dalam jasmani dan rohani.
Keseimbangan dalam perhatian antara dunia dan
akhirat. Semoga Allah rahmati kita semua

08.02 | 0 komentar

Bimbingan Dari Langit

Written By Rudianto on Senin, 27 Agustus 2012 | 02.40

Manusia terus berbondong-bondong dan
berlomba mengejar kehidupan yang fana. Seakan
lupa, bahwa bukan untuk ini Allah
menciptakannya. Kebutaan akan hakikat
kehidupan semakin kentara. Selimut kecintaan
mendalam terhadap dunia dan takut akan
kematian semakin menebal. Isyarat ini telah lama
disampaikan oleh Rasulullah, namun sedikit yang
memahaminya.

Apabila membaca, mendengar, melihat dan
mengetahui berita tentang gejala keruntuhan
akhlak di kalangan masyarakat - dari yang
sekecil-kecilnya hingga yang paling besar - hati
kecil ini sering merintih sendirian. Terfikirkan
tentang keadaan diri manusia akhir zaman ini
yang mulai jauh dengan petunjuk dari langit.
Kehidupan seakan-akan terasing dari
petunjuk ini. Seolah-olah diri ini tidak pernah
didatangi Nabi. Seolah-olah Quran tidak pernah
muncul. Seolah-olah wahyu dan Nur hidayah
tidak pernah datang menjenguk diri manusia.
Kenapa berlaku demikian? Bukankah Allah
telah membangkitkan RasulNya untuk
menunjukkan jalan hidup kepada manusia?
Bukankah Allah-dengan rahmatNya-menurunkan
wahyuNya sebagai pedoman hidup manusia?

Sejarah kehidupan manusia pernah
menyaksikan kehidupan manusia terbaik di muka
bumi. Dari manusia ganas, zalim, penindas, sesat
bertukar menjadi manusia baik, adil, penyayang
dan berjalan menurut petunjuk. Generasi para
Sahabat didikan Rasulullah saw melalui bentuk
pendidikan yang menyadarkan manusia arti hidup
dan mati adalah contoh terbaik umat sepanjang
zaman.

Kenapa mereka bisa bertukar dari jahiliah
kepada Islam? Mengapa mereka bisa berubah dari
manusia ‘pagan’ menjadi manusia berbudaya
tinggi dan berperadaban ulung? Tidakkah dengan
sebab petunjuk dari langit?

Petunjuk itulah juga yang sebenarnya
pernah menjenguk dan mengintai hati kita.
Sayangnya, diri kita tidak pernah merasai bahwa
ia sebagai sesuatu yang cukup berharga dalam
hidup. Bahkan, tidak ada cara, tidak ada jalan,
tidak ada kaedah melainkan masyarakat ini mesti
kembali kepada petunjuk dan bimbingan dari
langit itu. Hanya dengan jalan demikian, kita
semua akan selamat dunia Akhirat.

Manusia diciptakan Allah hanya untuk
beribadah kepadaNya saja. Apa yang hendak
dicari di dunia?
Saatnya kembali di atas jalur yang benar.
Jalur yang mengantarkan ke pintu syurga.
Menyiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat.
02.40 | 0 komentar

SEDIH

Written By Rudianto on Minggu, 26 Agustus 2012 | 07.17

DALAM meniti liku-liku kehidupan ini, diri
seringkali merasa kecewa. Kecewa karena
sesuatu yang terlepas dari genggaman tangan,
keinginan yang tidak kesampaian, kenyataan
yang tidak dapat diterima.. dan akhirnya ia
mengakibatkan sesuatu yang mengganggu jiwa
dan perasaan.

Hidup ini ibarat sebuah belantara. Tempat
diri mengejar segala keinginan dan memang
manusia diciptakanNya mempunyai kehendak dan
keinginan. Namun, tidak semua yang diri inginkan
akan tercapai, tidak setiap yang diri idamkan
mampu menjadi realita. Dan, bukan sesuatu yang
mudah untuk menyadari dan menerima kenyataan
bahwa apa yang bukan menjadi milik diri tidak
perlu ditangisi. Banyak orang yang tidak sadar
bahwa hidup ini tidak punya satu hukum, yaitu;
diri mesti berjaya, mesti bahagia atau yang
lainnya.

Berapa banyak orang yang berjaya tetapi
lupa bahwa segalanya adalah pemberian Allah
yang Maha Pemurah sehingga kejayaan itu
membuatnya sombong dan bertindak mengikut
nafsunya. Begitu juga kegagalan sering tidak
dihadapi dengan tenang dan sabar, padahal
dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak
tercapainya apa yang memang bukan hak kita.
Apa yang memang menjadi hak diri di dunia,
pasti akan Allah tunaikan. Namun apa yang
memang bukan miliknya, ia tidak akan mungkin
dimiliki, walaupun ia mungkin telah mendekati diri,
walaupun diri telah bermati-matian
mengusahakannya. Seorang mukmin tidak akan
bersedih ketika ditimpa musibah, malapetaka, dan
sebagainya. Tetapi dia bersyukur kepada Allah
dan menjadikan musibah itu sebagai peringatan
dari Allah terhadap dirinya.

Oleh itu, bila seorang mukmin merasa sedih
ketika ditimpa musibah, maka dia bukan mukmin
sejati. Sebab, apa pun musibah yang menimpa
seorang mukmin, selalu menguntungkan dirinya,
sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah
hadits: “Sungguh menakjubkan! Urusan orang
mukmin selalu menjadi hal yang menguntungkan
bagi dirinya. Dan yang demikian itu hanyalah
dialami oleh seorang mukmin.”

Seorang mukmin bila ditimpa kesusahan,
dan dia mengingat Allah, dengan jalan itulah dia
akan memperoleh jalan penyelesaian yang
terbaik. Dia tidak merasa tekanan batin dalam
bentuk apapun, karena penderitaan yang paling
berat sekalipun, pasti ada jalan penyelesaiannya.

Seorang mukmin adalah selalu mengingat
Allah dalam keadaan ditimpa penderitaan yang
amat sangat sekalipun, baik dengan mengucap-
kan tasbih, takbir, istighfar, doa maupun dengan
membaca Al-Quran, sehingga membuat jiwanya
bersih, bening, perasaannya tenang dan
tenteram.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Ingat akan
Allah adalah penawar kalbu,” diriwayatkan oleh
Ad-Dailami oleh Anas.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah
berduka lara, mendengarkanlah firman Allah
SWT, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi
kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak
mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau
hanyut dalam dalam nestapa yang berpanjangan
terhadap apa-apa yang terlepas dari
genggaman, dari dekapan. Melihat di sekeliling,
kemudian bercerminlah diri sendiri. Andai kita
tidak kenal siapa yang ada di dalam cermin itu,
mulai hari ini ada baiknya mulakan mencari diri
sendiri!

Manusia yang mulia adalah yang menyadari
dengan sepenuh hati bahwa dia hanyalah hamba,
benar-benar hamba, dalam pengertian hamba
yang sebenar-benarnya, baik secara teori
maupun praktikal. Dia hanya berfikir bagaimana
memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini,
semata-matamengharap cintaNya,
keridhaanNya, dan lebih dari itu karena dia
mencintai Allah, terpesona kepada keindahan
Maha Pencipta, mabuk kepayang dengan
‘kecantikan’ Maha Pemurah.

Andai ternyata keinginannya tidak selaras
dengan keinginan Allah SWT, ternyata apa yang
diharapkannya esok hari tidak menjadi nyata,
malah yang terjadi adalah sesuatu yang
sebaliknya, maka diri mesti tetap ikhlas! Menerima
semuanya dengan senyum yang mengembang,
dengan ridha yang tidak terhitung. Hidupnya
hanya untukNya. Allah tujuan hidup, sebaik-baik
tujuan hidup! Sedang yang lainnya adalah
wasilah, alat, bekal, modal untuk mencapai
keridhaan Allah SWT.

Maka wahai diri, jangan kau tangisi apa
yang bukan milikmu! Karena, ia memang bukan
milikmu! Maka, bersihkan hatimu, ikhlaslah.. ridha
dengan ketentuanNya. Karena, diri ini adalah
sebenar-benar hamba! Moga diri lebih kuat dan
dekat kepadaNya.

“..... karena itu Allah menimpakan
kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu
tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput
dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu.
Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”
(QS 3 : 153)

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan,
Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa)
kantuk yang meliputi segolongan dari kamu,
sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh
diri mereka sendiri.. Katakanlah (Muhammad),
“Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Al-
lah.”.. Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan
apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha
Mengetahui isi hati.” (QS 3 : 154)

***
Apa yang berada dibelakang kita dan apa yang berada
di hadapan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa
yang berada di dalam diri kita sendiri.

07.17 | 1 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung