Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Pak Guru

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 05 September 2013 | 11.31

Bulan ini 48 tahun yang lalu, seorang guru yang sedang demam tinggi diseret ke penjara. Dua kali jatuh pingsan tak menghentikan kebengisan aparat terhadapnya. Siksaan fisik aparat kemudian mewarnai hari-hari sang guru.

Tuduhan pada dia berat. Berkomplot untuk membunuh presiden dan makar terhadap pemerintah. Maknanya ia ditahbiskan menjadi musuh kekuasaan. Sebuah posisi yang paling berat resikonya di antara seluruh
pesakitan.

Ia juga dituduh merencanakan pembunuhan terhadap seorang penyanyi terkenal. Perempuan yang lengkingan
suaranya menyihir kebanyakan penduduk negeri. Dengan tuduhan itu, pak guru malang itu ditahbiskan jadi musuh bangsanya.

Sidang pengadilan kehilangan kata adil. Betapa tidak, pak guru itu dihakimi oleh panel hakim beranggota para perwira rejim. Salah satunya bahkan kelak menjadi pengganti sang presiden yang zhalim ketika ia tutup usia.

Bukti-bukti yang digelar untuk memberatkan tuduhan pada pak guru itu dinukil dari buku yang ia tulis. Tepatnya ia tulis dalam penjara ketika tuduhan sama menimpanya beberapa tahun sebelumnya.

Sikaan bahkan lebih beratdi saattuduhan pertama menimpa. Pak guru disiksa dalam sel, digigiti kakinya oleh anjing terlatih yang sengaja dikerahkan untuk menyakitinya raga dan jiwa. Badannya sakit oleh luka gigitan,
jiwanya sakit karena sebagai Muslim ia dihinakan dengan najis mughallazhah.

Tapi jiwa tauhid pak guru tadi tak sudi patah. Ia terus melawan kezhaliman dengan pikiran dan tulisan. Pena dan kertas menjadi senjatanya yang tak sanggup ditandingi lawan dengan pasukan dan senjata.
Ia mengguratkan "petunjuk jalan," panduan melawan penguasa tiran dengan kekuatan jiwa dan penolakan total pada kesyirikan.

Karena sakit, dan karena seorang presiden negeri tetangga memintakan keringanan hukuman, ia kemudian dibebaskan. Tapi hanya setahun kemudian, ia kembali dijebloskan ke bui karena menulis Petunjuk Jalan.

Ribuan kopi bukunya disita dan dibakar. Bahkan orang yang memiliki, menyimpan atau membawa bukunya ditangkap dan dipenjarakan. Penguasa betul-betul takut pada pengaruh tulisan pak guru ringkih itu.

Sidang berlangsung efektif dan efisien, secepat di laksanakannya peri ntah komandan pada prajurit. Pak guru tadi dihukum gantung, ia tak terbukti berkomplot membunuh presiden dan penyanyi. Tapi ia terbukti
"membunuh" raja zhalim dan penyihir wanitanya dengan tulisannya.

Tulisannya menyeru manusia untuk berlepas diri dari thaghut dan sistemnya. Dus, membunuh sang presiden. Tulisannya juga menyeru manusia untuk meninggalkan segala bentuk budaya jahiliah. Dus, membunuh
sang penyihir wanita yang membius manusia dengan lagu-lagu merdunya.

Pak guru itu adalah Sayid Quthb. Presidennya adalah Gamal Abdul Nasser. Hakimnya adalah Anwar Sadat. Penyanyinya adalah Ummu Kultsum. Kisah ini terjadi di Mesir, negeri pentas para thaghut besar
sejak era Fir'aun hingga Mubarak. Terngiang kembali saat aktifis Islam kembali dibunuh dan ditangkapi setelah kudeta Mursi.