Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Memahami Kehidupan Dunia

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 24 September 2011 | 09.02


Kehidupan di planet bumi ini adalah satu perjalanan di atas alam, alam yang hidup dan nyaman, alam yang berteman dan bersahabat, alam yang punya roh, alam yang tanggap dan peka, alam yang selalu menyerah kepada Khalik yang Maha Esa; yang justru kepadaNya pula menyerah roh yang beriman dengan penuh kerendahan dan ketundukan: Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupunterpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagidan petang hari. (13:15).

Selain kemuliaan dan ketinggian yang dicurahkan Allah kepada manusia, Allah memberkahinya pula dengan satu ikatan, yang dengan ikatan itu manusia berkumpul. Ikatan itu adalah ikatan aqidah. Oleh sebab itu, bagi seorang mukmin aqidah itulah tanah airnya, bangsanya, kaumnya. Selanjutnya hanya dengan aqidah itu sajalah manusia bersatu. Berbeda dengan bersatunya makhluk lain seperti ternak umpamanya yang berkumpul karena rumput, karena gembala atau karena kandang dan pagar! Seorang mukmin itu punya tali keturunan yang panjang dan berakar, telah berlalu melewati banyak fase dan zaman; namun dia tetap bagian dari satu kesatuan, dituntun dan dipimpin oleh manusia-manusia mulia, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Musa, ‘Isa hingga Nabi Muhammad SAW.

““Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 92)

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang ditu-runkan oleh Yang Maha Menciptakan mengajarkan bahwa tak ada tempat di alam ini secara kebetulan. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS. 54:49) Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran- ukurannya dengan serapi- rapinya. (QS. 25:2).

Segala sesuatu ada hikmahnya; namun hikmah gaib yang begitu dalam tidak dapat diungkapkan oleh pandangan manusia yang begitu pendek:

Dan kamu tidak mampu menempuh jalan itu), kecua ila dikehendaki Allah. esungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha ijaksana. (QS. 76:30)

Merupakan keharusan bagi seorang mukmin untuk membuat sebab, karena dia memang diperintah untuk itu, sedang yang menentukan hasil dana kibatnya adalah Allah juga. Kekuasaan Allah ada dalam setiap peristiwa dan segala masalah Kehidupan ini berjalan dengan pemeliharaan dan penjagaan Allah.

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang-orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya” (QS. An-Naml: 62)

Semua wujud di alam ini tidaklah diserahkan begitu saja kepada hukum-hukum alam. Seperti mesin yang bergerak otomatis; tetapi di balik hukum-hukum itu ada hukum lain, yaitu iradah (kehendak) yang mengatur dan mutlak. Allah mewujudkan apa saja yang dikehendakiNya, dan Dia pulalah yang memilih. “Tangan Allah” itu tetap terus bekerja, bekerja dengan caraNya sendiri. Kita tidak bisa mendesakNya, atau mengusulkan sesuatu kepadaNya. Sistim Ilahi ini, telah dipersiapkan untuk berfungsi di segala lingkungan dan di setiap fase perkembangan hidup manusia, dan untuk semua keadaan kejiwaan manusia.

Sistem itu memang dipersiapkan khusus untuk manusia yang hidup di bumi ini, disesuaikan dengan fitrahnya, cocok dengan kemampuan dan kesiapan dirinya sebagai manusia, dan serasi dengan segala perubahan yang mungkin ditemui; serta membimbingnya terus di jalur yang sempurna, menuju Allah.

Allah telah menciptakan alam ini dengan haq, tidak bercampur aduk dengan yang bathil. Jadi haq itu adalah tiang dari segala wujud alam ini. Apabila ada penyimpangan dari yang haq itu, akan timbullah kerusakan dan kebinasaan: Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya… (QS. 23:71)

Dengan demikian, tidak ada kebaikan di muka bumi ini, tidak akan pernah wujud ketenangan diri, tak ada kemantapan, tak ada peningkatan, tak ada keberkahan, tak ada kesucian, tak ada keserasian alam dan fitrah hidup, kecuali dengan kembali kepada Allah. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesatyang nyata. (QS. 33:36).

Beriman berarti menjalani segala aktivitas kehidupan ini sesuai dengan Al Quran dan Al Hadits, baik dalam urusan individu, keluarga, masyarakat maupun bernegara.

0 komentar:

Posting Komentar