Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Penyakit FLU para Kader Dakwah

Written By Rudi Abu azka on Senin, 30 April 2012 | 19.03

Anda terkena sakit flu? Biasanya apabila kita banyak melakukan aktivitas tetapi tidak disertai istirahat dan makanan yang menunjang serta kondisi cuaca yang tidak bersahabat dapat membuat seseorang akan mudah mendapatkan penyakit FLU tersebut. Untuk mengobati penyakit tersebut biasanya dokter akan menganjurkan minum obat dan istirahat yang cukup.

Lalu bagaimana seorang ikhwah bisa terkena FLU (Futur, Lesu, Uzlah)? Jawabannya tidak jauh berbeda dengan seroang yang terkena penyakit flu. Adanya beberapa kasus tentang al akh yang kemudian sangat aktif di organisasi dakwah kemudian tiba-tiba enggan untuk aktif kembali, ada juga yang hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban sebagai mutarobbi dengan prinsip “Asal Murobbi Senang” atau “Asal tidak tercatat negatif dalam struktural”.

Penyebab sakit FLU
Untuk mengetahui seorang ikhwah terkena penyakit FLU, maka ada baiknya kita membuka kembali buku yang menjadi acuan aktivis tahun ‘90an yaitu “Terapi Mental Aktivis Harakah” tulisan DR. Sayyid Muhammad Nuh. Penyakit Futur ditempatkan pada bab pertama setelah bab pendahuluan mengenai “penyakit-penyakit di tengah jalan.” Dua hal utama terjadinya futur adalah berlebih-lebihan dalam beragama dan suka menyendiri atau meninggalkan jamaah.

Terjadinya seorang al-akh berlebih-lebihan dalam beragama dikarenakan banyaknya tugas yang diemban oleh ikhwah tersebut dan tidak dibantu dalam sebuah team. Tampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan atau rahasia umum dikalangan kita bahwa apabila seorang ikhwah yang mendapatkan amanah sebagai ketua dalam jabatan struktural maka biasanya ketua tersebut yang akan dituntut untuk tugas-tugas yang ada dan ikhwah yang lain sibuk dengan “tugas-tugas luar struktur.”

Hal lainnya adalah suka menyendiri atau meninggalkan jamaah, biasanya seorang ikhwah lebih menyukai kesendirian dikarenakan tidak lagi merasakan manisnya semangat ukhuwah dalam berjamaah serta tidak menemukan adanya nuansa ruhiyah ketika melakukan aktivitas ibadah dalam kesunyian. Dalam kesunyian ini, apabila ada saudaranya yang membiarkannya dalam kondisi tersebut, lambat laun namun pasti akan “menjerumuskan” akh tersebut dalam kelesuan beraktivitas dakwah. Beliau akan lebih suka dalam kemanisan beribadah daripada kesusahan aktivitas dakwah.

Lesu akan menjadi tingkat yang paling berbahaya dalam kondisi futur bagi seorang ikhwah, karena apabila seorang al-akh sudah mengalami kelesuan biasanya lebih suka untuk Uzlah. Uzlah bisa dijadikan alasan seorang ikhwah karena lebih merasakan manisnya nilai ruhiyah daripada berdakwah ke masyarakat. Adapula yang beralasan bahwa dengan bergaul dengan manusia dapat menganggu konsentrasi beribadah dengan melupakan pengertian ibadah yang sebenarnya.

Terapi Penyakit FLU Kader
Untuk mengobatinya tentu saja yang bersangkutan harus dapat memotivasi diri kembali dengan membaca buku-buku yang diperlukan, muhasabah diri pada saat “istirahat”. Tetapi, selain penyembuhan oleh yang bersangkutan maka kondisi lingkungan yang kondusif dalam proses penyembuhan tersebut. Menjenguk dan memberi “oleh-oleh” dari saudaranya bisa menjadi cara untuk mempercepat proses penyembuhan.

Seperti etika dalam menjenguk orang sakit, diusahakan tidak membahas tuntutan tugas dakwah, masalah-masalah dakwah yang harus diselesaikan, tetapi pembicaraan dapat diarahkan mengenai perhatian terhadap dirinya, keluarga dan hal-hal lain mengenai kesulitan prbadi kehidupannya dan akan lebih baik bila menawarkan diri untuk membantunya membantu permasalahan yang dihadapinya.

“Bagaimana kabar antum akhi? Sudah lama tidak pernah kelihatan?” Terdengar lebih baik dan manis daripada teguran “Kemana saja antum? Banyak tugas tuh!” atau “Kemana saja antum? Dimana saja antum bersembunyi antum akan tetap dicari akhi, bahkan bisa jadi catatan kaderisasi untuk tingkatan antum!”.

Atau “Akh, tugas yang kemarin antum dapat ada yang bisa ana Bantu?” juga terasa lebih baik dan melegakan bila dibandingkan “Bagaimana nih kerjaan antum? Kok hasilnya begini?”. Ucapan-ucapan tersebut kelihatan sederhana tetapi sangat berpengaruh dalam dakwah fardiyah, silahkan baca kembali Sentuhan hati penyeru dakwah, panduan berdakwah syabiah tulisan Abbas As-sisi.

19.03 | 0 komentar

Mengaji dari Sang Ahli KRPH Edisi Mei-Juni 2012

Bertabur CINTA dan Full BAROKAH. "Mengaji dari Sang Ahli" KRPH Edisi Mei-Juni 2012
11.38 | 1 komentar

Ryan Setya - The Nasheed's Raising Star

Perkenalkan Ryan Setya solois nasyid, merupakan salah satu personel dari tim nasyid binaan Ann Dki Jakarta yaitu GlanzVote. Pernah menempuh pendidikan di HTWG Konstanz, Jerman. Saat ini bekerja di salah satu perusahaan asal Jerman juga.

Ia memiliki suara merdu dan khas, selain mahir bernyanyi, dia juga mempunyai kemampuan membuat lagu2 nasyid. 

Sebuah single berjudul "Ketentuan-Mu" direkam diStudioBambu DigitalRecording hadir memperkaya khazanah nasyid tanah air.

Yuk dukung munsyid dan solois nasyid tanah air, agar dapat berkarya lebih baik lagi dan menysiarkan nasyid di tanah air dan belahan bumi lain..

Yuk dengerin lagunya :
klik
http://www.reverbnation.com/play_now/song_13023488
atau di http://soundcloud.com/ann-dki-jakarta/ryan-setya-ketentuanmu

----------------------------------
*Lirik/lagu: Rima Nurma & Ryan Setya
*Vocal: Ryan Setya
*Recording at StudioBambu DigitalRecording, Jakarta.


Aku bersukur padaMu Rabbi
Atas keimanan dan nafas ini
Namun hati tak mampu ingkari
Kadang letih kurasakan hidup sendiri

Wahai pemilik cinta sejati
Semoga Engkau dengar doa ini
Dalam penantian panjang selama ini
Untuk menunaikan perintah Illahi

reff:
Dan bila ketentuanMu tiba
Pertemukanlah hamba dengan dirinya
Dalam satu ikatan yang suci
Dan kasih sayang yang kau berkahi

Namun bila kesempatan itu
Belum jua Kau beri padaku
Kan kutitipkan ia padaMu
Karena kuyakin akan janjiMu



Sumber: http://www.anndkijakarta.or.id/
10.03 | 0 komentar

Renungan Buat Sang Suami

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 29 April 2012 | 18.44


Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatabpun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa.

Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar
keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah.

Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya
mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah
setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap
membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah
di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak
diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri,
pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar.

Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke
langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap
hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya.
Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya.

Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh
tambun malah suka baju bermotif besar.
Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi
menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar
tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang
disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya
begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar
paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk
mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang
suami tahu hanya makan. Itupun  terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si
juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori
makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin
dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api
neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan
untuknya . Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila
istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan
bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.
WallahuAlam.

Published with Blogger-droid v2.0.4
18.44 | 0 komentar

AR RAHIQ AL MAKHTUM - SIRAH NABAWIYAH


Banyak sudah buku yang membahas sisik-melik kehidupan Rasulullah SAW. Namun, buku yang Anda baca ini telah mendapatkan sertifikasi internasional sebagai buku sirah Nabi terbaik. Kupasannya komplit, namun mudah dipahami; tidak bertele-tele.

Memotret kejadian demi kejadian dalam kehidupan Rasulullah SAW di mana beberapa buku sirah lain melewatkannya. Segala hal dan peristiwa yang ingin Anda ketahui dari kehidupan Nabi, ada di dalamnya. Riwayat yang digunakan penulis pun hanya berasal dari sumber yang otentik. Itulah mengapa kemudian Rabithah Alam Islami menetapkannya sebagai juara 11omba penulisan sirah Nabi.

Kini, beberapa versi Indonesia buku itu telah terbit. Namun, buku yang ada di tangan Anda ini memiliki kelebihan dibanding buku sejenis. Dilengkapi dengan takhrij riwayat oleh Syaikh Al-Albani dan beberapa pakar hadits lainnya. Anda pun akan diajak turut serta dalam peristiwa yang dialami Rasulullah SAW, dengan kehadiran peta-peta klasik saat itu. Sementara, tampilan visual dan audio dalam CD yang disertakan di buku ini semakin memudahkan Anda untuk paham dan hafal fase demi fase kehidupan sosok yang wajib kita cintai ini.Jadi, kurang apa lagi?


Syaikh Shafiyyurrahman AI-Mubarakfuri. Lahir pada 6 Januari 1943 di Mubarakpur, India. Keluarga beliau dinasabkan kepada kaum Anshar, sebagai keturunan sahabat Abu Ayyub Al-Anshan. Selesai mendalami Al-Qur'an sejak Ibtidaiyah di Darut Ta'lim Mubarakpur (1948), melanjutkan studi ke Ihya'ul Ulum di kota yang sama. Selama 5 tahun, fokus mempelajari bahasa Arab, Tafsir, Hadits, Fikih, Usul Fikih, dan lain-lain. Lulus Januari 1961 dengan predikat mumtaz (cum laude). Sebelumnya, berhasil meraih ijazah bergelar Maulawi pada Februari 1959. Juga, titel Alim dari Hai'ah AI-Ikhtibarat li Al-'Ulum Asy-Syarqiyyah di Allahabad, India pada Februari 1960.

Setelah itu, waktunya dihabiskan untuk aktivitas dakwah dan mengajar. Pernah menjabat Pimred majalah bulanan Muhaddits yang terbit di India dalam bahasa Urdu. Di sela-sela kesibukan tersebut, sempat meraih gelar formal dengan titel Fadhilah di bidang Sastra Arab pada 1976. Di tahun yang sama Rabithah Al-Alam menyelenggarakan kompetisi ilmiah tentang sirah nabawiyah. Saat itulah Syaikh menulis kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum ini dan berhasil meraih juara I.

Kemudian, melanjutkan safari ilmiah ke Universitas Islam Madinah untuk melanjutkan proyek riset ilmiah di Pusat Pelayanan Sunnah dan Sirah Nabawiyah pada 1409 H dan bekerja di sana hingga akhir Sya'ban 1418 H. Setelah itu beliau bekgrja di Maktabah Darussalam di Riyadh sebagai pengarah di bagian Riset dan Tahqiq Ilmiah hingga wafat. Meninggal saat shalat Jumat pada 10 Dzulqa'dah 1427 H/1 Desember 2006 M di tempat kelahiran beliau, Mubarakpur, India.

Bagi sahabat pembaca yang berminat memiliki buku ini bisa melalui Nurisfm. Hubungi admin di 021-99187391.

Ukuran buku : 17,5 x 24,5 cm, 800 halaman, Hard Cover harga 130.000,-


17.49 | 0 komentar

MANUSIA...

Allah SWT berfirman: "Dia telah menciptakan manusia dari mani (yang tak berharga)."(Qs. AI-Nahl : 4)

Setiap hari pelbagai perkara kita lalui. Kita sering merasa gembira, suka, sedih, pilu. Kita juga merasa gentar, takut, panik, cemas, malu, kecewa, putus asa. Ada masanya kita berharap tapi hampa. Ada pula tikanya kita kehilangan, kita dikecewakan, kita ditinggalkan.

Kadang-kadang kita perlu membuat pilihan...kita jadi ragu-ragu. Apabila ada yang tidak mengena, kita bertukar marah...benci. Kadang-kadang pula, untuk menjaga hati orang lain, kita perlu korbankan perasaan kita...kita perlu menahan rasa. Kita ingin menjadi baik, tetapi kerap juga tindak kita menyakitkan orang lain. Sungguh kompleks makhluk yang bernama manusia.

Manusia tidak seperti makhluk lain...dia
terpaksa jatuh bangun dan luka hanya untuk
belajar berjalan suatu waktu dahulu. Dia
mengambil masa 7, 8 tahun untuk tahu
membedakan yang mana baik, yang mana tidak.
Itu hanya untuk baru bergelar mumayyiz...
belum lagi usia baligh..untuk bergelar mukallaf..
Ada yang menghadapi kematian seorang
yang dicintai. Ada yang kecewa dalam
percintaan. Ada pula yang terpaksa membuat
pilihan yang pahit dari beberapa pilihan.
Kadangkala kita berhadapan dengan seseorang
yang sangat emosional. Juga dengan seorang
yang non-Muslim, tapi hatinya sudah terlalu lunak
dengan Islam. Dan dalam diri kita sendiri pelbagai
perasaan silih berganti gembira, duka, takut,
cemas, ragu-ragu, syak wasangka dan sebagainya.

Kenapa manusia begitu sekali? Baru semalam ketawa, pagi ini menangis hiba. Baru kemarin cinta, hari ini bertukar bend pula. Minggu lalu bersemangat, minggu ini putus asa. Unik. Seribu perasaan tersembunyi di dalam sekeping hati manusia.

Manusia ibarat sebuah mesin yang hidup.. memiliki kehidupan. Dia bisa merasai ribuan kesakitan...malah manusia juga bisa menikmati ribuan kelezatan. Manusia makhluk yang paling lemah, walau dia terlalu lemah... dia perlu menghadapi terlalu banyak musuh secara fisikal atau maknawi.

Bukan saja lemah, manusia juga tersangat fakir... tetapi kefakiran itu... tetap juga manusia mempunyai kemauan dan kehendak yang tidak terhitung..

Dia adalah seorang makhluk yang lemah dan hina, terpaksa menelan segala kesakitan tamparan kehilangan dan perpisahan secara beterusan. Itulah yang manusia hadapi setiap hari.

Meskipun ini keadaannya, namun melalui hubungannya dengan Sultan Yang Maha Mulia, dan melalui keimanan serta ubudiyyahnya, dia memperoleh sandaran yang kuat dan sokongan yang utuh yang bisa melindunginya dari segala musuhnya.

Demikian juga, dia memperoleh tempat guna
mendapatkan bantuan untuk menunaikan segala keperluannya dan memenuhi segala keinginan serta cita-citanya. Setiap orang akan merasa bangga dan mulia dengan sebab hubungan dan kedudukannya di sisi ketuanya. Maka begitulah juga keadaannya apabila seseorang yang beriman mempunyai hubungan dengan Tuhannya Yang Maha Berkuasa yang kekuasaanNya tidak berkesudahan,
mempunyai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Penyayang yang mempunyai rahmat yang amat luas. Dia pula senantiasa berubudiyyah kepada tuhannya dengan melakukan segala ketaatan dan kesyukuran. Dalam keadaan ini, ajal dan maut di sisinya bertukar dari ketiadaan abadi kepada tiket dan ijin untuk memasuki alam yang kekal abadi!"
09.37 | 0 komentar

KENIKMATAN BERIBADAH

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 28 April 2012 | 22.43

Berapa banyak dari kita yang mendambakan merasakan kekhusyukan dalam shalat kita. Sekian lama berusaha tetapi tidak juga terasa nikmat ibadah itu. Banyak resep sudah kita cobakan tetapi belum berhasil juga. Selalu saja lintasan pikiran itu menyelinap di tengah kenikmatan shalat. Kunci yang hilang, janjian dengan teman, jawaban soal ujian tadi siang, dan sebagainya, semua tiba-tiba ingat. Kita segera berusaha menepisnya. Tetapi tidak lama kemudian lintasan pikiran itu datang lagi. Jangan-jangan kejadian ini yang sering kita alami dan itu berlangsung hingga di akhir shalat kita.

Kisah Anak dan Burung Pipit

Ada sebuah kisah

Ada seorang anak yang sedang belajar, mempersiapkan ulangan penting di keesokan harinya. Begitu seriusnya anak ini belajar. Di tengah keseriusan belajarnya itu, datanglah serombongan burung pipit bertengger di pohon di samping jendela kamarnya. Kontan anak ini menjadi terganggu belajarnya mendengar suara serombongan burung pipit itu. Dengan sedikit emosi anak ini bangkit berdiri, menghampiri jendela dan berteriak menghalau burung pipit dari pohon di samping jendela kamarnya. Burung pipitpun segera tunggang langgang terbang ketakutan mendengar teriakan emosi sang anak.

Segera si anak segera menghampiri bukunya lagi dan mencoba kembali tenggelam dalam keseriusan belajarnya. Belum sempat kembali konsentrasi belajar yang sempat buyar, rombongan burung pipit sudah kembali datang bertengger dan mengganggu lagi. Si anak bangkit lagi, teriak-teriak lagi mengusir si rombongan burung pipit. Tetapi selalu saja si rombongan burung pipit datang lagi bertengger di pohon samping jendela kamarnya.

Waktu berlalu, dan si anak bukannya belajar tetapi justru sibuk menghalau si rombongan burung pipit. Sang Bapak si anak tadi memperhatikan sambil prihatin melihat apa yang dilakukan anaknya. Sang bapak berkata lembut, “mengapa tidak kau tebang saja pohon itu?”. “Jika kau tebang pohon itu si rombongan burung itu tidak akan datang lagi mengganggumu.”

Si anak kemudian segera menebang pohon itu. Dan ternyata benar. Si rombongan burung itu entah pergi ke mana dan tidak mengganggu lagi.



Keluarkan Dunia Dari Hati Kita

Jangan-jangan kita masih seperti itu di dalam shalat. Sibuk untuk menepis lintasan pikiran yang mengganggu ketenangan hati kita. Jika ya, maka kita perlu menebang pohon di samping jendela hati kita. Apakah pohon itu? Pohon itu adalah syahwat kita, hawa nafsu kita. Kita mesti menebang hawa nafsu kita.

Menebang hawa nafsu ini dalam arti dikelola dengan baik. Jangan diartikan menghilangkan hawa nafsu, karena hawa nafsu tidak bisa dihilangkan selama manusia masih hidup. Jika hawa nafsu diperturutkan akan merusak hidup. Jika hawa nafsu tidak dipenuhi juga akan merusak hidup. Maka hawa nafsu harus dikelola dengan baik. Sabda Nabi SAW “Tidak sempurna iman seseorang sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. Artinya seorang muslim yang baik mesti mengelola hawa nafsu agar sesuai dengan syariat yang di bawa rasulullah.

Maka semestinya kita menempatkan dunia yang senantiasa menggoda hawa nafsu kita ini seperti Sayyidina Abu Bakar Asysyidiq yang pernah berdoa "Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami."

Penting sekali untuk menempatkan dunia bukan di hati kita. Kita mencarinya, tetapi dunia bukanlah urusan terbesar kita. Bahkan semestinya dunia dicari dalam kerangka beribadah, dalam rangka taat kepada Allah. Sehingga dunia tidak menjadi sesuatu yang kita pikirkan setiap waktu. Karena dalam setiap urusan kita, kita selalu ingat kepada Allah, selalu dalam rangka taat kepada Allah. Urusan terbesar kita adalah mendekat pada Allah, dengan ibadahnya yang wajib, dan meraih cinta Allah dengan ibadahnya yang sunnah. Mencari keridhaan Allah.

Ibnu ‘Athailllah dalam Al Hikam, berkata :

“Bagaimana dapat bersinar kalbu seseorang yang gambaran dunia terlukis di dalamnya.

Bagaimana akan menuju Allah sementara ia masih terbelenggu syahwatnya.

Bagaimana akan masuk menemui Allah sementara ia masih belum bersih dari najis kelalaian”

Jangan-jangan dalam Shalat kita masih banyak memikirkan pekerjaan, memikirkan anak istri, memikirkan makanan, memikirkan semua urusan keduniaan. Bagaimana mungkin orang yang urusannya terbesar hidupnya, yang hampir seluruh waktunya untuk memikirkan dunia akan merasa nyaman bersanding, berkhalwat, berlama-lama dengan Dzat yang Maha Ghaib.

Jangan-jangan Kita Banyak bermaksiat

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya oleh seseorang “ Wahai Imam aku sudah bersuci, tidur di awal waktu, serta ingin melakukan Qiyamullail dan Shalat Shubuh. Tetapi aku tidak bangun, kenapa bisa terjadi?”

Imam Ahmad menjawab “ Dosa-dosamu membelenggumu. Karena itu jangan bermaksiat kepada Allah di siang hari agar bisa bangun di malam hari dan bisa Shalat Shubuh”.

Jika maksiat menyebabkan seseorang sulit bangun untuk shalat malam dan Shalat Shubuh, maka bagaimana mungkin Allah akan membukakan pintu kekhusyukan dalam setiap ibadah orang yang senang bermaksiat. Jangan-jangan kita tenggelam dalam kelalaian dan penuh gelimang maksiat dan dosa. Hingga kekhusyukan tidak pernah kita rasakan.

Pesan Ibnul Qayyim

Meskipun kita belum juga merasakan nikmat ibadah itu. Jangan berhenti. Terus berusaha. Ibnul Qayyim Al Jauziah berpesan 3 perkara pada kita.

“Jangan bosan berdiri di depan pintu-Nya, meskipun engkau diusir

Jangan berhenti meminta maaf meski engkau ditolak

Ketika pintu dibuka bagi orang lain yang diterima, cepatlah ikut menerobos tadahkan tangan dan ucapkan “Aku orang miskin, kasihanilah aku””

Jika engkau ingin menangis dalam shalatmu tapi tidak bisa. Engkau ingin khusyuk dalam shalat tapi tidak tahu caranya. Maka jangan menyerah. Berusahalah terus. Ketuk terus pintu Allah, mohonlah ampunan terus kepada Allah. Barangkali kita masih banyak bermaksiat, kemudian meminta ampunan kepada Allah, tetapi kembali lagi mengulangi, bermaksiat kepada Allah. Berusahalah dan kurangi semaksimal mungkin maksiatm u. Dan jangan ulangi. Jika ada orang lain yang dibukakan pintu hidayah, ikutlah menerobos. Maka ikutlah dalam jamaah. Jamaah Shalat, Jamaah Tadarus Al Qur’an, Jamaah dzikir, dan sebagainya. Siapa tahu ada yang dibukaan pintu hidayah oleh Allah, dan kita bisa ikut numpang mendapatkan hidayah Allah. 

22.43 | 0 komentar

Semua Bumi Masjid Allah

(AHMAD - 11358) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari 'Amru bin Yahya bin Umarah dari Bapaknya dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua tempat di bumi ini adalah masjid dan tempat bersuci, kecuali kuburan dan kamar mandi."

 Kedudukan Hadis
Hadis di atas diterangkan dalam Kitab Musnad Imam Ahmad, Juz XXIII, halaman 403, nomor hadis 11358; dan dalam Kitab al-Musnad al-Jami', Juz XIII, halaman 335, nomor hadis 4211.

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ كُلُّ اْلأَرْضِ مَسْجِدٌ ﴾
“Semua bumi adalah masjid”.

Masjid secara bahasa (lughawi) adalah tempat bersujud. Di adopsi dari kata sajada. Dalam istilah ilmu alat (sharaf) kata “masjid” merupakan dharaf makan. Yang artinya tempat untuk sujud. Secara teknis sujud ada lima bagian dari anggota badan yang menyentuh ke bumi. Yaitu: kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua dengkul, dan kedua kaki bagian ujung jari. Dari kelima anggota tubuh itu haruslah menyentuh bumi, agar sujud menjadi sempurna.


Secara istilah masjid, adalah sebuah bangunan yang didirikan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah swt, terutama digunakan untuk shalat jum’at, jika tidak dipakai untuk shalat jum’at belum bisa dinamakan masjid; dan biasanya diiringi dengan kata jami’, sehingga menjadi masjid jami’. Lalu, masjid didefinisikan, sebuah bangunan yang diwaqafkan untuk dijadikan ibadah shalat jum’at, karena masjid adalah milik jamaah (umum) bukan milik pribadi atau kelompok tertentu.


Dalam sejarah, masjid adalah sebuah tempat yang dibangun Rasulullah saw sebagai sarana penunjang dakwahnya. Pada saat itu masjid sebagai pusat atau sentral dalam segala aspek dan fungsi kehidupan masyarakat di sekitarnya.


Pertama. Masjid berfungsi religi. Yaitu, tempat orang bersujud, mendekatkan diri, dan penghambaan kepada Allah swt. Dalam hadis Nabi saw telah diterangkan, bahwa di antara sekian ibadah manusia kepada Rabb-nya. Sujud adalah merupakan momentum yang paling dekat dalam hubungan antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam sujud inilah seorang hamba biasanya mengadukan persoalan dan pelik kehidupan kepada Rabb-nya. Juga dalam sujud ini pula, seorang biasanya meminta dan memohon ampunan-Nya.


Kedua. Masjid berfungsi tarbawi. Yakni, sebagai pusat pengajaran agama dan pengetahuan umum. Para sahabat, isteri-isteri dan anak-anak berkumpul dan mengajukan pertanyaan kepada Nabi saw sekaligus mendengarkan jawaban, keputusan dan pengarahan beliau saw.


Ketiga. Masjid berfungsi sosial. Yaitu, sebagai pusat studi atas segala yang terjadi dalam masyarakat. Pada jaman Nabi jika salah satu dari jamaahnya ada yang tidak hadir di sebabkan sakit. Maka, jama’ah yang lain akan cepat segera menggetahui. Karena Nabi saw sesudah shalat selalu mengoreksi para sahabatnya. Dari masjid inilah semua yang tidak mampu dalam hal ekonomi terdata dan dibantu secara masimal. Sehingga tidak heran pada waktu itu banyak bermunculan orang-orang dermawan, seperti: sahabat Abu Bakar r.hu dan sahabat Usman bin Affan r.hu yang memberikan seluruh hartanya untuk fakir-miskin.


Yang patut direnungkan, apakah masjid-masjid sekarang ini masih berfungsi seperti masa Rasulullah saw dulu? Masihkah dijadikan sebagai syi’ar Islam dan pengajaran doktrin-doktrin agama, dan menyebarkan kasih-sayang di antara sesama? Sungguh sangat ironis jika masjid kita tidak berfungsi sebagaimana yang telah diteladankan Nabi saw.

Pemahaman Hadis
1. Masjidun. Artinya, tempat sujud.
Kata masjidun diambil dari fi’il madhi sajada. Artinya sujud. Semua bumi ini adalah masjid (tempat sujud), kecuali maqbarah dan kamar mandi.
Jika dibuat untuk i’tikaf (tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt) harus di dalam masjid yang digunakan untuk shalat jum’at.
Menurut mazhab hanafi, i’tikaf adalah sekejab tanpa batas waktu tertentu, sekadar berdiam diri dengan niat.


Menurut mazhab syafi’i, sesaat, sejenak berdiam diri.
Menurut mazhab hambali, satu jam saja.

2. Thahūrun. Artinya, suci.
Dalam pelaksanaan beribadah kepada Allah swt, khususnya mengerjakan shalat, harus memperhatikan dengan seksama area atau tempat yang akan dijadikan untuk sujud, atau beribadah baik badan, pakaian, dan tempat yang akan ditempati untuk melaksanakan shalat.
Yang dimaksud najis, adalah kotoran tertentu yang mana jenisnya menghalangi shalat, seperti; bangkai, darah, arak, kencing, dan tahi. Nabi saw bersabda,

“Bersihkanlah kencing oleh kalian semua, karena kebanyakan siksa kubur karenanya.”

3. al-Maqbarah. Artinya, kuburan.
Syaikh Ibnu Taimiah r.hu berkata, “Para imam sepakat bahwa masjid tidak boleh dibangun di atas kuburan dan sesungguhnya tidak boleh menguburkan mayit di dalam masjid.” Nabi saw bersabda,

“Ketahuilah bahwa jangan kalian semua menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid.” (Hr.Muslim).

Larangan shalat di kuburan bukan karena adanya najis. Tetapi dikhawatirkan akan menganggungkan dan menjadikan sebagai berhala yang disembah.
Larangan juga untuk shalat di kamar mandi. Karena kamar mandi, tempat buka aurat dan tempat setan.
Syaikh Taqiuddin r.hu berkata, “Dilarang shalat di kandang. Karena kandang adalah tempat setan. Sebagaimana dilarang melaksanakan shalat di dalam kamar mandi. Sebab kamar mandi tempat setan. Sesungguhnya tempat berpangkalnya ruh-ruh jahat lebih utama untuk dijahui, dan tidak mengerjakan shalat di dalamnya.”

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Segera bersiap menghadiri shalat berjama’ah sesaat sebelum adzan dikumandangkan.
2. Gunakan kemudahan ini dengan baik dan benar, sekalipun juga memakmurkan masjid dengan shalat rawatib berjama’ah; utamanya jama’ah shalat isya dan subuh.
3. Jangan mengavling masjid karena adanya kepentingan: politik, golongan, ormas, eksklusivisme, primordialisme, dan mendukung penguasa tertentu.
4. Rapatkan shaff sosial umat Islam dengan menjadikan masjid, sebagai pusat pemberdayaan dan pengembangan jejaring umat.
5. Ikat hati Anda dengan eksistensi masjid milik Allah ta’ala.
6. Tradisikan shalat tahiatal masjid setiap kali memasuki masjid jami’.

Oase Pencerahan
Dalam dunia Islam masjid merupakan media pemberdayaan yang paling ampuh. Sehingga umat manusia mampu berkembang dengan segenap kemandiran dan jaringan sosial yang mapan.
Seperti diketahui, bahwa keberhasilan dakwa Islam di jaman Nabi saw. Karena beliau saw menggunakan Prinsip Trianggulasi Pemberdayaan. Yakni: Pemberdayaan Laut; Pemberdayaan Pasar; dan Pemberdayaan Masjid. Maka, secepat kilat dakwah Islam terus merembes ke daratan yang lain dari bagian dunia ini. Mulai dari Maroko sampai Merauke.
Umat Islam harus terus disadarkan, jika eksistensi masjid adalah tempat untuk melakukan pengembangan, pemberdayaan, dan jejaring sosial umat di mana pun serta kapan pun. Itulah sebabnya, umat Islam dalam pengembangan dakwah menggunakan jalur laut. Lalu, menciptakan pasar yang berpusat di sekitar pelabuhan-pelabuhan. Dari sinilah, orang diajak untuk masuk masjid guna mendapatakan pencerahan dalam rangka meleburkan diri dalam pusaran: Penghambaan; Kepatuhan; dan Menebarkan kasih-sayang.


Masjid tidak boleh dikavling atas nama kelompok dan golongan tertentu. Setiap masjid adalah masjid milik Allah. Dia adalah rumah Allah. Selagi masjid masih dikuasai oleh kelompok tertentu, atau golongan tertentu, atau etnik tertentu, atau keluarga tertentu; maka masjid tersebut belum dapat dikatakan masjid jami’. Yakni, masjid milik umat Islam. Yang berarti pula masjid milik Allah.
Ironis untuk konteks Indonesia, mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Masjid dibangun di mana-mana jumlahnya sangat fantastis 700 ribuan lebih. Tapi, eksistensinya belum mampu mendorong terjadinya Perubahan Perilaku umat Islam Indonesia. Aneh tapi nyata, dari jumlah umat Islam yang banyak tersebut, mayoritas mereka masih tidak mendirikan shalat dan mayoritas mereka tidak jama’ah masjid.


Tugas kita semua untuk mendorong terjadinya “hijrah” dari rumah menuju masjid. Artinya, gemar menjadi “manusia masjid”. Di mana masjid dijadikan rumah pertama di kehidupan seorang muslim-mukmin. Apabila kenyataan tersebut belum terjadi, masih jauh Indonesia dari kemakmuran hidup.
Harus dicamkan, tradisi membangun masjid, apalagi sampai minta-minta dijalan, sudah saat harus diakhiri. Pada hakekatnya semua bumi adalah masjid, shalat di mana pun, seorang muslim-mukmin dapat didirikan, kecuali di kamar mandi dan pekuburan. Tidak perlu repot-repot. Juga, tidak perlu malu-malu untuk menunaikan shalat. Jika waktu shalat sudah masuk, silahkan dirikan di mana pun Anda berada. Di kantor. Di mall-mall. Di kampus-kampus. Di sekolah-sekolah. Di taman-taman. Atau di mana pun, asal memang terjaga dan Anda mengetahui dengan jelas, nyata-nyata terbebas dari najis. Maka, segera dirikan shalat jika waktu istiwa` shalat telah datang. Ini wujud kemudahan dan sekaligus rahmat bagi umat Rasulullah saw, bahwa untuk menyembah dan melakukan kepatuhan kepada Allah azza wa jalla dapat dilakukan di mana pun serta kapan pun juga dalam keadaan yang bagaimana pun. Sungguh indah ajaran Islam. Sungguh sederhana dan sangat aplikatif ajaran Islam. Hanya orang yang tidak berakal yang menolak ajaran Islam; wa-llahu a’alam
13.28 | 0 komentar

SETAN ITU PINTER DAN PANTANG PUTUS ASA

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 27 April 2012 | 13.02

Kehadiran Facebook, membuat dunia semakin terlipat dalam genggaman.
Ada bahayanya jika kita tak mampu menjaga hati, dan menjaga iman kita….

Salah satu yang kebablasan dalam facebook itu adalah Interaksi lelaki dan perempuan.
Bahkan banyak pula kini bermunculan group-group dan halaman yang memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengumbar kebebasan syahwat dan nafsu sex mereka. Dan justru group-group dan halaman semacam ini lebih banyak fans daripada group-group dan halaman yang berasaskan islami.

Panah–panah setan mulai dilepaskan begitu pertama kali Engkau menulis status atau notes atau tautan. Status, notes, tautan itu menjadi Pesona dihati-hati mereka yang kotor

Pada awalnya niat membuat itu semua karena Allah….
Tapi dijejak ini justru setan, mulai menampakkan kerja-kerjanya. Maka status-status itu menjadi pesona !!!!!!!!!

Maka dimulailah interaksi
Saling sapa….
Lewat konsultasi mungkin awalnya Sekedar menanya masalah agama…..
Tapi jika di titik ini kita tak memiliki bekal iman yang kuat

Maka sadarlah
Maka ketahuilah, perangkap setan itu mulai ditiupkan di hatimu.
Maka kita miris ketika ada akhwat yang jelas-jelas mengetahui bahwa seorang lelaki itu memiliki Istri, dengan ringannya, tanpa malu, merasa begitu akrab dengan lelaki itu…..!!!

Seolah dia tak melihat, dan memandang bahwa lelaki itu memiliki istri
Astaghfirullah……!!

Tapi yang berbahaya juga adalah ketika si pemilik akun yang laki-laki ini Mendiamkan, atau membiarkan itu semua.

Pada saat itu setan meniupkan kenyamanan dihatimu….!!
Padahal itu adalah bara api yang akan membakar dirimu dan keluargamu di kemudian hari…!

Kelebihan setan selain pinter merekayasa dan meramu godaan serta meraciknya seindah mungkin, setan itu type penggoda yang pantang putus asa.
Gagal menggoda hari ini, besok. Gagal esok, lusa dan seterusnya.

13.02 | 0 komentar

MENGAPA BUKAN AYAH SAJA YANG MENINGGAL?


MENGAPA BUKAN AYAH SAJA YANG MENINGGAL?
(Kisah anak yg menyadarkan kealpaan ayahnya…subhanallah!)
Ia masih bocah, masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pada suatu hari ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat jamaah shubuh. Bagi si anak, Shubuh merupakan sesuatu yg sulit bagi sang bocah,Namun sang bocah telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid.
Lalu dengan cara bagaimana anak ini memulainya?
Dibangunkan ayah? ibu? dengan alarm?…
Bukan!
Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid.
Tapi…
Tatkala ia membuka pintu rumahnya suasana sangat gelap, pekat, sunyi, senyap…
Membuat nyalinya menjadi ciut.
Tahukah Anda, apa yg ia lakukan kemudian?
Tatkala itu, sang bocah mendengar langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul tanah…
Ya…
Ada kakek-kakek berjalan dengan tongkatnya. Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid, maka ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek.
Begitupula cara ia pulang dari masjid.
Bocah itu menjadikan perbuatannya itu sebagai kebiasaan begadang malam, shalat shubuh mengikuti kakek-kakek. Dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah. Tak ada org tuanya yg tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain.
Semuanya dilakukan sang bocah agar ia bisa begadang malam.
Hingga suatu kali…
Terdengar kabar olehnya, kakek2 itu meninggal. Sontak, si bocah menangis sesenggukan….
Sang ayah heran…”
Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu…bukan siapa-siapa kamu!”
Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata,
“kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”
“A’udzu billah…, kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.
Si bocah berkata,
“Mendingan ayah saja yang meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ..
Sementara kakek itu….
setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”
ALLAHU AKBAR!
Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya.
Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yang semestinya taat menjalankan perintah-Nya.
Akhirnya sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya…
Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw-waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa..
12.49 | 1 komentar

Misteri SAKARATUL MAUT

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaaf: 19)

Para ilmuwan telah menemukan bahwa gejala kematian mirip dengan gejala orang yang mabuk, dan ini adalah suatu hal yang diungkapkan oleh Al-Quran, dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: سكرة الموت (sakaratul maut)

Para ilmuwan telah melakukan penelitian dalam waktu yang lama tentang misteri kematian dan keabadian. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan hasil yang ilmiah hingga saat ini. Dan semua orang yang meninggal pun tidak kembali lagi ke dunia, sehingga mereka bisa memberitahu kepada kerabat dan teman-teman mereka tentang peristiwa yang mereka alami. Akan tetapi Al-Qur’an al-Karim mengabarkan kepada kita dengan sangat rinci (detail) tentang saat kematian dan apa yang terjadi berupa perubahan-perubahan dalam tubuh. Namin, sebelum itu, biarkalah Kami bertanya:”Apa yang diungkap oleh para ilmuwan baru-baru ini tentang rahasia saat kematian?

Gejala Mendekati Saat Kematian

Ada sejumlah perubahan fisik yang terjadi pada seseorang di detik-detik terkahir kematiannya. Yaitu dinginnya ujung-ujung anggota badan, rasa lemah, kantuk dan kehilangan kesadaran, dan hampir tidak dapat membedakan sesuatu. Dan dikarenakan kurangnya pasokan oksigen dan darah yang mencapai otak, ia menjadi bingung dan berada dalam keadaan delirium (delirium: gangguan mental yg ditandai oleh ilusi, halusinasi, ketegangan otak, dan kegelisahan fisik), dan menelan air liur menjadi lebih sulit, serta aktivitas bernafas lambat. Penurunan tekanan darah menyebabkan hilangnya kesadaran, yang mana seseorang merasa lelah dan kepayahan.

Gejala Mabuk

Sesungguhya minuman-minuman yang memabukkan (beralkohol) secara umum, seperti khomr (minuman keras) menyebabkan perubahan kimia otak, sehingga manusia menjadi bingung dan tidak mampu membuat keputusan. Dan ia juga mengalami dehidrasi dikarenakan hilangnya sejumlah besar cairan tubuh. Alkohol berpengaruh pada otak kecil (yang mengendalikan keseimbangan tubuh), sehingga menjadikan manusia (yang meminumnya) kehilangan kontrol terhadap gerakan mata. Konsumsi tinggi terhadap alkohol menyebabkan haus, kantuk, kehilangan kesadaran, pusing, bingung dan bahkan hilang ingatan sementara waktu.

Keakuratan Permisalan (majas metafora) Yang Digunakan Al-Qur'an

Sesungguhnya perbandingan/penyerupaan antara kondisi orang yang berada di ambang kematian dengan orang yang mabuk berat sangat tepat (akurat) sekali, yang mana masing-masing dari keduanya mendapatkan masalah dalam ingatannya (memori), ketidak jelasan dalam penglihatannya dan kurangnya keseimbangan dalam denyut jantung dan kondisi tubuh secara umum. Maka apakah di dalam al-Qur’an ada sesuatu yang mengungkapkan fakta ini?
Al-Qur’an telah menggunakan ungkapan: "sakratul maut" (kata sakr dalam bahasa Arab berarti “mabuk karena minuman keras”) dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

” Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaaf: 19)
Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam merasakan sakaratul maut ini pada detik-detik menjelang wafat beliau shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, dalam keadaan beliau berada di atas pembaringannya:

”Sesungguhnya setiap kematian itu ada sekaratnya.” (HR. Imam ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir) Maka sakaratul maut (sakratul maut) adalah fakta ilmiah yang diungkap oleh para ilmuwan hari-hari ini. Lantas siapakah yang memberi tahu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang fakta ilmiah ini?
12.44 | 0 komentar

JANGAN PEDULIKAN MEREKA

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 26 April 2012 | 21.30


Juha dan anaknya berada di dua ujung yang saling berlawanan. setiap kali ayah menyuruh melakukan sesuatu, anaknya selalu menentangnya dengan berkata, "Apa kata orang tentang kita jika kita melakukan hal ini?"

Juha, sang ayah ingin memberi pelajaran yang bermanfaat untuk anaknya, agar ia berpaling dari mencari ridha semua orang. Sebab, ridha semua orang merupakan ujung yang tak mungkin terjangkau.

Lantas, Juha pun naik keledai dan menyuruh anaknya agar berjalan di belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, mereka melewati beberapa orang perempuan, lalu mereka meneriaki Juha, "Apa-apaan ini, wahai lelaki! Apa di hatimu tidak ada rasa kasih sayang?. Engkau enak-enakan naik keledai sementara engkau biarkan anak kecil berlari-lari kelelahan di belakangmu."

Kemudian Juha turun dari keledainya dan menyuruh anaknya yang naik. Ketika melewati sekelompok orang tua yang sedang duduk di bawah terik matahari, Juha dikejutkan oleh tepukan tangan salah seorang dari mereka. Mereka memandangi Juha dengan gaya mencemooh sebagai orang tua bodoh yang membiarkan dirinya berjalan kaki seentara anaknya enak-enak duduk di punggung kelesai. Mereka mencaci Juha dengan kata-kata "Wahai laki=laki! Kamu berjalan kaki padahal kamu orng tua sementara kamu biarkan anakmu naik enak-enak di atas kelesai. Padahal kamu ingin mengajarinya rasa malu dan sopan santun.

Lalu Juha berkata kepada anaknya, "Apa dengan ucapan mereka semua? Kalau begitu mari kita naik keledai bersama-sama.

Mereka berdua pun naik keledai bersama melewati jalanan. keduanya berpapasan dengan sekelompok orang yang dapat disebut dengan anggota 'organisasi penyayang binatang'. Mereka berteriak kepada Juha dan anaknya,"Apa kalian berdua tidak bertakwa kepada Allah SWT terkait dengan binatang kurus ini? Apa kalian tega menungganginya bersama-sama padahal timbangan kalian berdua lebih berat dari pada timbangan keledai?"

Juha dan anaknya pun turun dari keledai. Juha berkata, "Kamu dengarkan? Kalau begitu ayo kita berdua berjalan kaki bersama dan kita biarkan keledai ini berjalan sendiri di depan kita agar kita terhindar dari omongan miring kaum lelaki, perempuan, dan pecinta binatang."

Mereka berdua pun berjalan kaki sedangkan keledai berjalan sendiri di depan mereka. Lantas mereka berdua berpapasan dengan sekelompok orang buruk dan pandai. Mereka menjadikan Juha dan anaknya sebagai obyek gurauan dan ejekan.

Mereka berkata,"Demi Allah, sepantasnya keledai ini menaiki kalian berdua untuk mengistirahatkannya dari kelelahan di jalan."

Selanjutnya Juha mendengar perkataan orang-orang ini, lalu dia dan anaknya menuju suatu pohon di jalan. Mereka berdua memotong dahan yang kuat dan mengikatkan keledai tersebut padanya. Kemudian Juha memikul salah satu ujung dahan sedangkan anaknya memikul ujung yang lainnya.

Ketika mereka belum sampai berjalan beberapa langkah, ternyata di belakang mereka terdapat sekolompok orang tertawa karena melihat pemandangan yang tiada duanya ini yaitu ketika seseorang menggiring Juha, anaknya, dan keledainya ke tempat orang-orang gila (rumah sakit jiwa).

Ketika Juha sampai di rumah sakit jiwa, maka dia harus menjelaskan kepada anaknya inti dari 'uji coba' yang telah sampai pada puncaknya ini. Lalu dia menoleh kepada anaknya seraya berkata, "Wahai anakku! inilah akibat dari mendengar omongan orang dan melakukan sesuatu hanya untuk mencari ridha semua orang."

Hal ini menjadi pelajaran yang dipetik oleh anak Juha dan menjadi sejarah buat kita.

(Diambil dari Kitab Mi`atu Qishshah wa Qishshah fi Anis al-Shalihin wa Samiri al-Muttaqin, Muhammad Amin al-Jundi)
21.30 | 0 komentar

Ketika Kita Telah Tiada...

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 25 April 2012 | 09.52

Kita tak tau kapan waktu akan terhenti untuk kita jalani di dunia.
Kita tak tau apakah detik ini ketika membaca tulisan ini, malaikat pencabut nyawa 'berbisik' untuk menjemput.
Kita tak tau...

Bila masa itu tiba, ketika kita telah tiada...

Akankah amalan kita bertambah karena anak yang shalih, sadaqah jariah dan Ilmu yang bermanfaat, ketika kita sudah berada di lubang persegi panjang itu, atau malah dosa bertambah karena suatu hal yg dianggap remeh tetapi justru menjadi dosa yang bertumpuk2 bahkan menjadi menggunung..?
Allaahul musta`aan..

Saudari, 

Aku ingin mengetuk pintu hatimu..

Lihatlah album2 mu di facebook atau di tempat umum lainnya.
Apakah masih ada..?

"Sadarkah kita...
Bahwa gambar2 yg pernah kita upload dan menampakkan serta mempertontonkan aurat, atau sekedar mata di balik cadar kita telah berhasil membius lelaki2 tidak mahram, akan terus dan terus menyembabkan kita TERSIKSA di alam kubur..?"

"Para lelaki akan terus2an melihatnya dalam masa yang tak akan habisnya. Mungkin saja kan foto kita akan disimpan atau dikoleksi olehnya..? Shg mereka bisa bebas kapanpun juga menikmati paras dan lekuk kita.
Karena ketahuilah, gambar2 itu akan selalu ada, meski telah bertahun2, karena gambar2 itu belum juga kita hapus."

Jangan berdalih, "Aku kan sudah bersuami..", pintu fitnah itu amatlah luas, sebagaimana setan menggiring manusia dengan cara apapun. Relakah dirimu, kecantikanmu tak hanya suami mu saja yg menikmati..?
Begitu juga yang belum nikah. Ini jauh amat berbahaya.


Jangan engkau berdalih, "Foto wanita itu kan bukan fotoku..", berarti engkau telah membohongi public, krn public pasti akan mengira itu foto mu, dan lagi apa itu sama saja engaku telah menfitnah kaum adam, dan juga apakah yang punya foto itu rela foto nya dipajang..?

Allaahul musta`aan

Renungkanlah...
09.52 | 0 komentar

Siapa yang Tahu

Rasulullah saw dalam hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi (TIRMIDZI - 2319) : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Sa'id bin Sinan dari Anas berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hambaNya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari Kiamat."

Pada suatu waktu Nabi kita yang mulia pernah berkisah. Pada zaman sebelum kalian, pernah ada seorang raja yang amat zalim. Pada suatu ketika, raja zalim ini tertimpa penyakit yang amat berat. Seluruh tabib di istana lalu dikumpulkannya. Di bawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya, tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkan penyakit yang dideritanya tersebut. Hingga akhirnya, ada seorang rahib yang mengatakan bahwa penyakitnya itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, tapi sayangnya saat ini belum musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Walaupun raja menyadari hal ini, namun diperintahkannya juga semua orang untuk mencari ikan yang dimaksud. Aneh bin ajaib. Ternyata ikan itu sangat mudah ditemukan! Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.
Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal dengan kebijakannya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Dan ternyata diagnosis para tabib mengarah pada kesimpulan yang sama, yaitu penyakit baginda raja ini obatnya adalah ikan jenis tertentu yang saat ini kebetulan sedang musimnya muncul ke permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satupun yang tampak! Walaupun pihak kerajaan telah mengerahkan seluruh ahli selamnya, tetapi saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat!
Dikisahkan para malaikan pun kebingungan dengan kejadian ini. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan memberanikan diri bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau menggiring ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat’ sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?”
Allah pun lalu berfirman, “Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu Aku balas kebaikannya itu, sehingga nanti pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikit pun yang akan dibawanya. Dan akan Aku campakkan ia pada neraka yang paling bawah! Sementara raja yang bijak itu, ia pernah berbuat salah kepada-Ku; karenanya Aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya, tanpa ada sedikit pun dosa padanya. Hukuman atas dosa yang pernah dilakukannya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”
Dari kisah ini, sedikitnya ada dua pelajaran yang dapat kita ambil.
Pelajaran pertama : Ada kesalahan yang hukumannya langsung diberikan Allah secara kontan di dunia; sehingga dengan demikian, di akhirat nanti dosa itu tidak akan diperhitungkan-Nya lagi [keyakinan hal ini, akan dapat menguatkan iman ketika kita sedang tertimpa musibah].
Pelajaran kedua : Bila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Karena, jangan-jangan Allah menghabiskan tabungan pahala kita [keyakinan hal ini, akan dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengaj lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi].
Sebagai kesimpulan, marilah kita renungkan bersama firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216 berikut:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

09.00 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung