Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label Adab Sehari-hari.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Sehari-hari.. Tampilkan semua postingan

Amalan Sebelum Tidur

Written By Rudianto on Selasa, 21 November 2017 | 21.57

*Amalan Sebelum Tidur*

بسم الله الرحمن الرحيم
Dari Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

*إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ؛ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ*

*“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.*

Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah

*اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ*

*Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus.*

*Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur”*

( HR. Bukhari danMuslim )

21.57 | 0 komentar

Hati yang Lunak

Written By Rudianto on Senin, 21 Januari 2013 | 21.07

Nabi Muhammad SAW sebagai Dai (mubalig) pertama, dalam sejarahnya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang, seperti “ Kamu Kapir, Fasik, Munafik atau Tukang Bid’ah ” .Kepada seseorang.yang non muslim, dipanggilnya dengan lunak , “ Ya ahli Kitab “ ( Hai yang punya kitab suci), “ Ya bani Adam “ ( Hai keturunan Adam), ” (Hai bangsa manusia), dsb..Padahal yang dihadapi, adalah mereka yang terang-terangan menentang Islam. Apalagi kepada sesama muslim. Berbeda sekali yang kita dengarkan dari yang karbitan.

Seluruh ahli dakwah sepakat, bahwa menyampaikan pesan-pesan agama itu, hendaknya lunak, dan menyentuh hati. Definisinya “ Minal qalbi ilal qalbi “ ( Keluar dari hati, menyentuh hati pula)

Dalam Bahasa Arab, hati itu disebut “Qalbu litaqallubih “ (Dinamakan qalbu, karena gampang berubah-ubah ).Sebab itu dalam Tahiyah akhir salat, seorang musalli dianjurkan membaca “ Stabbit qalby ‘ala dinika” (Wahai Tuhan yang dapat mengubah-ubah hati, tetapkanlah hatiku, agar konsisten memegang agamamu ). Artinya, seorang mushalli selalu memohon kepada Allah agar iman itu, jangan sampai berubah-ubah, seperti berubah-ubahnya pengaruh keduniaan.

Banyak ayat dalam Al-Quran yang mengarahkan betapa perlunya hati dan prilaku itu lunak, terutama seorang Imam ( pemimpin ) dan Da’I. Diantaranya “ Ya Muhammad jika kamu berhati keras niscaya mereka akan lari dari sekelilingmu “.(QS.3 :159). Artinya sebaliknya, jika kamu berhati lunak dalam berdakwah, niscaya mereka akan datang mendekatimu dan mempercayaimu. Hal ini dapat dilihat beberapa metode dakwah yang digariskan Al-Quran, misalnya :

(1) “Berdakwah dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah. ( bijaksana dan pelajaran yang baik) dan jika berdiskusi (dialog) dengan cara yang lebih baik (Ahsan ) (QS.al-Nahl : 125).

(2) “ Aku mengajak kalian ke jalan Allah dengan Basirah (keterangan yang nyata )” . (QS. Yusuf :1O8).

Lebih empati: Menurut Doktor Yusul Al-Qardhawi, kedua ayat tersebut menjelaskan, bahwa dalam mengajak orang berbuat baik, hendaknya dilakukan dengan cara yang rasional dan menyentuh hati (Akal dan qalbu).Itu dimaksudkan, bahwa dalam menerangkan masalah akidah dan muamalah, bukan hanya dengan ancaman meninggalkan yang dilarang, tetapi hendaknya disertai dengan solusi. Sehingga terlihat bahwa kebaikan yang hendak dicapai, sedapat mungkin tidak meninggalkan problema baru. Demikian juga dalam berdialog, bukan dengan cara mencederai perasaan sesama manusia, sekalipun kita sedang sedang bersaingan. Artinya, ayat ini mengandung dua metode.

Pertama : dengan cara yang baik.(Bilhikmah wal mauizhah hasanah).

Kedua : dengan berdikusi dan dialog dengan cara yang lebih baik lagi (hiya ahsan). Mengapa harus demikian ?.

Karena dalam berdiskusi itu biasanya ada persaingan, sehingga sebagian orang condong membiasakan dirinya, ingin menjatuhkan lawan, atau mencederai, sehingga berusaha akan tampil jadi pemenang. dalam berdebat. Sebab itu metode Al-Quran, mengantisipasi jauh sebelumnya. Agar jangan sampai kebiasaan itu disandang juga seorang mubalig yang tujuaannya harus lebih empati.

Maka sebab itu “ Hiya ahsan” berarti ( Hendaknya cara yang lebih baik, dan lebih indah). Hal itu telah dipraktekkan Rasul, sehingga umatnya perlu meneladani. Dan sebagai gambaran bahwa Islam itu betul-betul ajaran yang rahmat, indah dan menawan.

Imam Al-Gazali pernah berkata, baik yang mengajak berbuat baik (Da’i) maupun yang yang diajak berbuat baik (Mad’u) keduanya hendaknya sama-sama berhati lunak. Dan diharapkan lebih lunak lagi, disertai kesabaran. jika yang dihadapi, adalah orang yang doyan berbuat kemungkaran (dosa besar).

Hal tersebut dapat dilihat, bagaimana pesan Tuhan kepada Nabi Musa dan Harun, ketika mengahadapi Fir’aun, yang memaklumkan dirinya Tuhan, kata Tuhan “ Berbicaralah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut” (QS. Thaha 43).

Menurut sahabat nabi Ibnu Mas’ud, “ Perkataan yang disampaikan jika tidak sesuai otak dan sentuhan kalbu manusia, justru akan menimbulkan pitnah dan kontra.

Syekh Muhammad Abduh, lebih transparan dalam tafsirnya bahwa metode Al-Quran surah Al-Nahal 125, yaitu ada 3 golongan :

(1) Terhadap cendikiawan, hendaknya yang disampaikan, dengan cara pemahaman kritis, rasional dan argumentasi yang kuat.

(2) Terhadap yang awam, dengan nasehat yang baik dengan ajaran yang mudah dipahami serta mempunyai solusi.

(3) Terhadap mereka yang bukan dari keduanya, terutama kepada yang non muslim, hendaknya dengan cara yang lebih baik, sehat dan empati.

Akhirnya, berdasarkan Al-Quran, Sunnah dan ahli Dakwah, maka dakwah Islam itu hendaknya disampaikan dengan lunak dan menyentuh hati yang terdalam. Al-Quran sendiri dengan keindahan bahasa, kelunakan nada dan irama, yang spesifik lagu padang pasir, dapat mengubah hati yang keras, menjadi hati yang lunak, seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab.
21.07 | 0 komentar

Jaga Hijab, Ukhti....!

Written By Rudianto on Selasa, 19 Juni 2012 | 13.25


Kalau dilihat secara lahiriah, ukhti fulanah memang akhwat banget. Jilbabnya yang lebar berkibar,jubahnya yang panjang menjuntai, dan kaki yang terbungkus rapi dengan kaus kaki. Namun, siapa mengira, bahwa dia pula yang tampak santai mengobrol, ataupun ber-hahahihi dengan laki-laki ajnabiy (nonmahram). Entah ketika bercengkerama di dunia nyata di pinggir jalan, kantin kampus, lewat telepon atau SMS, juga via komentar status di facebook maupun chat/messenger di dunia maya.
Tertawa renyah, tersenyum simpul atau pun suara yang merdu, tentu saja dapat membuat lawan bicara berdebar-debar tak karuan. Bahkan meski 'tanpa suara', bahasa tulisan yang digunakan melalui SMS/fb/chat juga bisa sangat ekspresif dan tampak begitu akrab. Meski hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si penulis itu sendiri. Padahal sang akhwat dan lawan jenisnya tersebut jelas bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Seringkali pula, tak hanya mereka yang masih lajang, yang tela hmenikah pun terjebak pada celah yang sama.
Demikianlah sebentuk 'pelanggaran' batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat yang masih terjadi hari ini. Hal itu bisa jadi dikarenakan oleh berbagai sebab. Ada yang memang belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat. Ada juga yang sudah tahu, tapi belum paham. Ada pula yang sudah tahu dan paham tapi tergelincir karena falai. Pun, ada juga yang sudah mengetahui dan memahami, namun tak mau tahu alias tak mau mengamalkan.
Berhijab dari Lelaki
Semua urusan perempuan dalam Islam selalu dibangun di atas landasan penjagaan atas diri sang perempuan. Ibarat mutiara yang mahal, perempuan dalam Islam adalah sesuatu yang sangat berharga. Untuk mendapatkannya, harus menyelam di lautan yang dalam dan dipenuhi dengan karang terjal. Pun ketika sudah mendapatkannya, penjagaan atasnya dan nilai yang terkandung di dalamnya begitu tinggi.
Oleh karena itu, banyak nash yang memerintahkan kaum perempuan agar menetap di dalam rumah dan hanya keluar untuk suatu keperluan saja. Saat keluar pun banyak aturan dan etika yang harus diperhatikan. Semua hal tersebut bertujuan untuk menjaga dan melindungi dirinya.
Kaum perempuan dilarang berikhtilat (campur baur) maupun berkhalwat (berduaan) dengan kaum laki-laki, dilarang melakukan safar tanpa mahram, memandangdan berbicara dengan laki-laki ajnabiy secara bebas, serta diperintahkan untuk memakai hijab agar terlindung dari pandangan kaum lelaki dan menjaga kesucian diri serta kehormatannya. Syariat Islam senantiasa mengawal perempuan untuk tetap terjaga dalam berbagai situasi dan kondisi.
Hijab bagi perempuan bisa berupa menetap di dalam rumah, atau juga bisa berupa pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Sebagaimana dinding rumah adalah hijab, demikian pula pakaian. Dengan kata lain, segala sesuatu yang menutupi dan menghalangi sesuatu dari yang lain, bisa disebut hijab. Dengan demikian, berhijab hendaknya tidak sebatas menutup aurat dengan balutan pakaian, tetapi juga menjaga pembicaraan dan pandangan dari lelaki nonmahram.
Fenomena Hari lni
Interaksi antara ikhwan dan akhwat memang menjadi hal yang begitu kompleks. Di satu sisi, ada situasi dan kondisi yang mengharuskan kita berinteraksi dengan mereka dalam suatu komunikasi dan aktivitas dalam rangka dakwah, suatu keperluan tertentu, ataupun urusan kuliah.
Sedangkan di sisi yang lain, peluang fitnah dan ekses-ekses negatif bertebaran di dalamnya. Karena itulah, kita harus berupaya menjaga berbagai ketentuan syariat untuk menghindari peluang fitnah yang berpotensi timbul. Salah satunya adalah dengan tetap berpegang pada penjagaan hijab, kapanpun dan dimanapun
kita berada. Tidak terlalu longgar juga tidakmenutup diri sama sekali hingga tak mau sedikit pun berbicara atau berinteraksi dengan lawan jenis dengan alasan apapun. Seperlunya dan secukupnya saja, serta jika memang menghajatkan kita untuk berinteraksi dengan mereka.
Perkembangan teknologi .dan sarana komunikasi yang memberikan manfaat, ternyata bisa juga menjadi peluang untuk bermaksiat. Ponsel misalnya, yang kerap kali digenggam dan dibawa kemana-mana juga bisa menjadi sarana tidak terjaganya hijab antara ikhwan dan akhwat.
SMS/telepon sesuatu yang tidak urgen, membahas sesuatu yang tidak penting dan tak ada perlunya, bahasa yang akrab dan bahkan curhat satu sama lain adalah bentuk-bentuk 'pelanggaran' via ponsel. Bahkan, atas nama taushiyah—padahal tendensius—antara seorangikhwan dan seorang akhwat juga bisa menjadi peluang dalam hal ini. Tak hanya ponsel, chat/ messenger pun juga memiliki peluang yang sama. Padahal, ada kesamaan sifat antara khalwat dengan sms dan media tersebut, yaitu : hanya berdua, serta tidak ada orang lain yang menyertai. Karena itulah, seharusnya kita berhati-hati.
Pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, menjadikan hijab terasa nisbi hari ini. Apalagi menyaksikan fenomena saling mengenalnya dan semakin 'akrabnya' ikhwan dan akhwat. Padahal, menjaga hijab tak mengenal ranah nyata ataupun dunia maya. Menjaga hijab harus dilakukan dimanapun dan sebisa mungkin diupayakan. Sungguh, "...yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka." (QS Al-Ahzab: 33). Semogakitabisamenjaga kemuliaandan kehormatan dirikita sebagai seorang muslimah, dan semoga Allah menjaga kita.*   
13.25 | 0 komentar

KENIKMATAN BERIBADAH

Written By Rudianto on Sabtu, 28 April 2012 | 22.43

Berapa banyak dari kita yang mendambakan merasakan kekhusyukan dalam shalat kita. Sekian lama berusaha tetapi tidak juga terasa nikmat ibadah itu. Banyak resep sudah kita cobakan tetapi belum berhasil juga. Selalu saja lintasan pikiran itu menyelinap di tengah kenikmatan shalat. Kunci yang hilang, janjian dengan teman, jawaban soal ujian tadi siang, dan sebagainya, semua tiba-tiba ingat. Kita segera berusaha menepisnya. Tetapi tidak lama kemudian lintasan pikiran itu datang lagi. Jangan-jangan kejadian ini yang sering kita alami dan itu berlangsung hingga di akhir shalat kita.

Kisah Anak dan Burung Pipit

Ada sebuah kisah

Ada seorang anak yang sedang belajar, mempersiapkan ulangan penting di keesokan harinya. Begitu seriusnya anak ini belajar. Di tengah keseriusan belajarnya itu, datanglah serombongan burung pipit bertengger di pohon di samping jendela kamarnya. Kontan anak ini menjadi terganggu belajarnya mendengar suara serombongan burung pipit itu. Dengan sedikit emosi anak ini bangkit berdiri, menghampiri jendela dan berteriak menghalau burung pipit dari pohon di samping jendela kamarnya. Burung pipitpun segera tunggang langgang terbang ketakutan mendengar teriakan emosi sang anak.

Segera si anak segera menghampiri bukunya lagi dan mencoba kembali tenggelam dalam keseriusan belajarnya. Belum sempat kembali konsentrasi belajar yang sempat buyar, rombongan burung pipit sudah kembali datang bertengger dan mengganggu lagi. Si anak bangkit lagi, teriak-teriak lagi mengusir si rombongan burung pipit. Tetapi selalu saja si rombongan burung pipit datang lagi bertengger di pohon samping jendela kamarnya.

Waktu berlalu, dan si anak bukannya belajar tetapi justru sibuk menghalau si rombongan burung pipit. Sang Bapak si anak tadi memperhatikan sambil prihatin melihat apa yang dilakukan anaknya. Sang bapak berkata lembut, “mengapa tidak kau tebang saja pohon itu?”. “Jika kau tebang pohon itu si rombongan burung itu tidak akan datang lagi mengganggumu.”

Si anak kemudian segera menebang pohon itu. Dan ternyata benar. Si rombongan burung itu entah pergi ke mana dan tidak mengganggu lagi.



Keluarkan Dunia Dari Hati Kita

Jangan-jangan kita masih seperti itu di dalam shalat. Sibuk untuk menepis lintasan pikiran yang mengganggu ketenangan hati kita. Jika ya, maka kita perlu menebang pohon di samping jendela hati kita. Apakah pohon itu? Pohon itu adalah syahwat kita, hawa nafsu kita. Kita mesti menebang hawa nafsu kita.

Menebang hawa nafsu ini dalam arti dikelola dengan baik. Jangan diartikan menghilangkan hawa nafsu, karena hawa nafsu tidak bisa dihilangkan selama manusia masih hidup. Jika hawa nafsu diperturutkan akan merusak hidup. Jika hawa nafsu tidak dipenuhi juga akan merusak hidup. Maka hawa nafsu harus dikelola dengan baik. Sabda Nabi SAW “Tidak sempurna iman seseorang sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. Artinya seorang muslim yang baik mesti mengelola hawa nafsu agar sesuai dengan syariat yang di bawa rasulullah.

Maka semestinya kita menempatkan dunia yang senantiasa menggoda hawa nafsu kita ini seperti Sayyidina Abu Bakar Asysyidiq yang pernah berdoa "Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami."

Penting sekali untuk menempatkan dunia bukan di hati kita. Kita mencarinya, tetapi dunia bukanlah urusan terbesar kita. Bahkan semestinya dunia dicari dalam kerangka beribadah, dalam rangka taat kepada Allah. Sehingga dunia tidak menjadi sesuatu yang kita pikirkan setiap waktu. Karena dalam setiap urusan kita, kita selalu ingat kepada Allah, selalu dalam rangka taat kepada Allah. Urusan terbesar kita adalah mendekat pada Allah, dengan ibadahnya yang wajib, dan meraih cinta Allah dengan ibadahnya yang sunnah. Mencari keridhaan Allah.

Ibnu ‘Athailllah dalam Al Hikam, berkata :

“Bagaimana dapat bersinar kalbu seseorang yang gambaran dunia terlukis di dalamnya.

Bagaimana akan menuju Allah sementara ia masih terbelenggu syahwatnya.

Bagaimana akan masuk menemui Allah sementara ia masih belum bersih dari najis kelalaian”

Jangan-jangan dalam Shalat kita masih banyak memikirkan pekerjaan, memikirkan anak istri, memikirkan makanan, memikirkan semua urusan keduniaan. Bagaimana mungkin orang yang urusannya terbesar hidupnya, yang hampir seluruh waktunya untuk memikirkan dunia akan merasa nyaman bersanding, berkhalwat, berlama-lama dengan Dzat yang Maha Ghaib.

Jangan-jangan Kita Banyak bermaksiat

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya oleh seseorang “ Wahai Imam aku sudah bersuci, tidur di awal waktu, serta ingin melakukan Qiyamullail dan Shalat Shubuh. Tetapi aku tidak bangun, kenapa bisa terjadi?”

Imam Ahmad menjawab “ Dosa-dosamu membelenggumu. Karena itu jangan bermaksiat kepada Allah di siang hari agar bisa bangun di malam hari dan bisa Shalat Shubuh”.

Jika maksiat menyebabkan seseorang sulit bangun untuk shalat malam dan Shalat Shubuh, maka bagaimana mungkin Allah akan membukakan pintu kekhusyukan dalam setiap ibadah orang yang senang bermaksiat. Jangan-jangan kita tenggelam dalam kelalaian dan penuh gelimang maksiat dan dosa. Hingga kekhusyukan tidak pernah kita rasakan.

Pesan Ibnul Qayyim

Meskipun kita belum juga merasakan nikmat ibadah itu. Jangan berhenti. Terus berusaha. Ibnul Qayyim Al Jauziah berpesan 3 perkara pada kita.

“Jangan bosan berdiri di depan pintu-Nya, meskipun engkau diusir

Jangan berhenti meminta maaf meski engkau ditolak

Ketika pintu dibuka bagi orang lain yang diterima, cepatlah ikut menerobos tadahkan tangan dan ucapkan “Aku orang miskin, kasihanilah aku””

Jika engkau ingin menangis dalam shalatmu tapi tidak bisa. Engkau ingin khusyuk dalam shalat tapi tidak tahu caranya. Maka jangan menyerah. Berusahalah terus. Ketuk terus pintu Allah, mohonlah ampunan terus kepada Allah. Barangkali kita masih banyak bermaksiat, kemudian meminta ampunan kepada Allah, tetapi kembali lagi mengulangi, bermaksiat kepada Allah. Berusahalah dan kurangi semaksimal mungkin maksiatm u. Dan jangan ulangi. Jika ada orang lain yang dibukakan pintu hidayah, ikutlah menerobos. Maka ikutlah dalam jamaah. Jamaah Shalat, Jamaah Tadarus Al Qur’an, Jamaah dzikir, dan sebagainya. Siapa tahu ada yang dibukaan pintu hidayah oleh Allah, dan kita bisa ikut numpang mendapatkan hidayah Allah. 

22.43 | 0 komentar

Wudhu...

Written By Rudianto on Rabu, 18 April 2012 | 11.55


Betapa kusamnya wajah kita, kering, tak bercahaya, jika tak kena wudhu minimal 5X sehari.

Hai orang-orang beriman, apabila kamu hendak mendirikan shalat, maka cucilah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku dan usaplah kepalamu dan cucilah kakimu sampai kedua mata kaki.

Dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik, usaplah wajahmu dan tanganmu dari tanah itu. Allah tidak ingin menyulitkanmu, akan tetapi Dia hendak mensucikan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur.” [Al-Ma'idah: 6]

Al-Imam Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi rahimahullah menerangkan, “Lahiriyah ayat ini menunjukkan wajibnya berwudhu setiap kali hendak mendirikan shalat. Namun As-Sunnah menjelaskan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam menerangkan lebih lanjut bahwa yang dimaksud ayat tersebut ialah jika kamu hendak mendirikan shalat dan kamu dalam keadaan tidak suci (maka cucilah mukamu dan tanganmu sampai siku dst, -pent), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian yang berhadats hingga ia berwudhu’.” [1] [Ma'aalimut Tanzil 3/20]

Al-Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan ‘Al-Wudhuu’ atau ‘At-Thuhuur’ adalah perbuatannya (yakni berwudhu’ atau bersuci), sedangkan ‘Al-Wadhuu’ atau ‘At-Thahuur’ adalah air yang digunakan untuk bersuci. Al-Wudhuu’ berasal dari kata ‘Al-Wadhaa’ah’ yang berarti elok dan bersih, sehingga orang yang berwudhu menjadi elok dan bersih.

Dengan demikian syari’at wudhu’ merupakan nikmat Allah yang sangat agung bagi umat ini. Allah hendak mensucikan hamba-hamba-Nya dengan berwudhu’ sehingga mereka bersih dari berbagai hadats kecil, bersih dengan mandi ketika junub dan bertayammum ketika sulit mendapatkan air. Maka jasad-jasad kaum muslimin menjadi bersih dan suci dari dosa-dosa oleh sebab wudhu’nya itu. [Lihat Tafsir Ibnu Jariir At-Thabari].

Sementara anggota tubuhnya yang paling mudah dan sering terjatuh dalam kemaksiatan ialah anggota tubuh yang terkena air wudhu. Demikian sesungguhnya syari’at Allah yang penuh hikmah dan bijaksana atas segenap hamba-Nya. [Lihat Miftaah Daaris Sa'aadah 251-252 – Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah]

Syaikh Abdullah Al-Iryaani hafidzhahullah dalam kitab beliau “Sifat Wudhu’in Nabi” menghimpun riwayat-riwayat yang berkenaan dengan keutamaan wudhu’. Menariknya kitab beliau ini juga diberi pengantar oleh As-Syaikh Al-Muhaddits Yahya bin ‘Ali Al-Hajuuri hafidzhahullah yang menunjukkan bobot dan kualitas keilmuan penulisnya.

Berikut kami sarikan keutamaan-keutamaan wudhu’ yang akan kami bahas pada kesempatan kali ini:

Berwudhu’ Termasuk Sebab Kecintaan Allah kepada Hamba-Nya

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka bersuci.” [Al-Baqarah: 222]

Ibnu Jariir At-Thabari dalam tafsir beliau menerangkan, “Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang banyak bertaubat dari dosa, dan mencintai hamba-hamba-Nya yang suka bersuci dengan air guna mendirikan shalat.”

Berwudhu’ adalah Separuh Iman

Dari Abu Maalik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Bersuci itu separuh iman….” [HR. Muslim 223 dengan sanad Munqathi', An-Nasaa'i 2394, Ibnu Maajah 280 secara Maushul] [2]

Al-Imam An-Nawawi dalam ‘Syarh Muslim’ menerangkan, “Para Ulama berselisih pendapat dalam memaknai hadits di atas…………………dan pendapat yang paling mendekati kebenaran ialah bahwa Thahaarah merupakan syarat sahnya shalat, maka keadaannya seperti separuh bagian, namun tidak melazimkan pengertian separuhnya itu secara hakiki.”

Berwudhu’ dengan Baik mendatangkan Ampunan Allah

“Tidaklah seorang muslim berwudhu’ kemudian memperbagus wudhu’nya dan ia shalat, melainkan Allah akan ampuni dosanya ketika itu hingga shalat berikutnya.” [HR. Al-Bukhari 155 dan Muslim 333]

Berwudhu’ Mengeluarkan Dosa-Dosa

Dari ‘Utsmaan bin ‘Affaan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu’ dan memperbagus wudhu’nya, maka akan keluar dosa-dosa dari tubuhnya hingga keluar dari ujung kukunya.” [HR. Muslim 245]

Menyempurnakan Wudhu’ Di saat tidak Menyukainya Menjadi Sebab Gugurnya Dosa dan Meninggikan Derajat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa dan mengangkat beberapat derajat?” Para shahabat Nabi mengatakan, “Tentu ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu’ di saat-saat engkau tidak menyukainya (seperti cuaca dingin ,-pent)……” [HR. Muslim 251]

Keutamaan Menjaga Wudhu’

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bertanya kepada Bilaal seusai shalat fajar, “Wahai Bilaal ceritakan kepadaku amalan apa yang paling bermanfaat yang engkau lakukan setelah memeluk Islam? Karena sesungguhnya aku telah mendengar bunyi kedua terompahmu di Surga.” Bilaal menjawab, “Tidaklah aku mengamalkan satu amalan setelah memeluk Islam yang paling bermanfaat selain berwudhu’ dengan sempurna pada setiap malam atau siang kemudian aku tegakkan shalat sunnah sebanyak yang Allah kehendaki.” [HR. Al-Bukhari 1149]

Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang tidak disebutkan di sini secara rinci, seperti berwudhu akan melepaskan ikatan syaithan, menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam Surga, orang yang berwudhu akan datang di hari kiamat dengan anggota tubuh yang bercahaya karena bekas air wudhu’nya dan lain sebagainya.

————————————————————
Footnote:

1. HR. Al-Bukhari dan Muslim

2. Imam Muslim (223) meriwayatkan dari jalan Yahya bin Abi Katsiir dari Zaid bin Sallaam dari Abu Sallaam dari Abu Maalik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Mu’aawiyah bin Sallaam menyelisihi Yahya bin Abi Katsiir sebagaimana dalam riwayat An-Nasaa’i dan Ibnu Maajah dan Abu ‘Awaanah. Bahwa Mu’aawiyah meriwayatkan dari saudaranya yakni Zaid bin Sallaam dan ia mengabarkan dari kakeknya yakni Abu Sallaam dari ‘Abdurrahman bin Ghanam bahwa Abu Maalik Al-Asy’ari menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda (Menyempurnakan wudhu’ adalah separuh iman…….) Al-Hadits.

Berhubung Abu Sallaam tidak bertemu dengan Abu Maalik Al-Asy’ari maka sanad riwayat Muslim ‘Munqathi’ (terputus), akan tetapi hadits ini dinilai ‘Shahih lighairih’ berdasarkan sanad lain dan syawaahidnya, sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Rabii’ bin Haadi Al-Madkhali hafidzhahullah dalam kitab beliau “Bainal Imaamain Muslim Wad Daaruquthni” no. 9 [Syaikh 'Abdullah Al-Iryaani]
11.55 | 0 komentar

Akan Ku Jaga Piring IniUntuk Ayah.......

Written By Rudianto on Selasa, 17 April 2012 | 14.32


Seorang lelaki bercerita bahwa ia mempunyai ayah yang sudah tua. Dan ia biasanya menghidangkan makanan untuknya dan untuk anak-anaknya dari piring bagus yang terbuat dari porselin dan alumunium atau bahan lainnya.

Akan tetapi untuk ayahnya ia menghidangkannya pada piring yang terbuat dari kayu. Ia meletakkan makanan pada piring kayu tersebut. Begitulah hari demi hari berjalan selama beberapa waktu.

Sampai suatu hari salah seorang anaknya yang masih lugu bertanya, “Ayah, mengapa ayah meletakkan makanan untuk kakek pada piring kayu? Sedangkan ayah meletakkan makanan untuk kami pada piring dari kaca yang bagus ?”

Si ayah tidak mengerti maksud pertanyaan anaknya ini. Ia mengira itu hanyalah pertanyaan sambil lalu begitu saja dan jawabannya sangat mudah dan gampang. Ia berkata pada anaknya,

“Anakku, bukankah kakek sudah tua dan berusia lanjut? jika ayah memberinya makan pada piring yang terbuat dari kaca apalagi yang didatangkan dari cina ini, terus bagaimana nanti jika kakek memecahkannya. Karena matanya sudah lemah dan tangannya juga sudah lemah. Bisa jadi dia menyenggol piring itu dengan tangannya tanpa terlihat olehnya sehingga terjatuh di lantai dan pecah sementara kakek tidak mengetahuinya.”

Lagi-lagi si ayah dikejutkan dengan celotehan anaknya yang masih kecil itu. Si anak berkata kepadanya, “Kalau begitu aku akan menjaga piring kayu ini yah, agar nanti aku dapat menghidangkan makanan untuk ayah dengan piring ini bila usia ayah sudah sama dengan kakek.”

Kalimat ini menghantam si ayah bagaikan sambaran petir. Sadarlah ia, bagaimana ia berbuat, begitulah ia akan diperlakukan. Sebagaimana ia memperlakukan ayahnya, seperti itu pulalah anak-anak akan memperlakukan dirinya. Ia mengerti bahwa apa yang ia lakukan terhadap ayahnya, begitu pulalah nanti ia akan diperlakukan.

Iapun segera bangkit dan menghancurkan piring kayu tadi di hadapan anaknya lalu membuangnya ke tempat sampah. Sesudah itu segera ia mengambil piring terbagus yang ia miliki dan diisinya dengan berbagai hidangan lalu diberikan kepada ayahnya yang renta. Terimakasih anakku, darimu aku bisa belajar menghargai.....

Dikutip dari “Andai Kau Tahu Wahai Anakku” Fathurrahman Muhammad Hasan Jamil, Pustaka At-Tibyan, Solo
14.32 | 0 komentar

PEMUTIH DAN PERAWATAN WAJAH ALA RASULULLAH SAW

Written By Rudianto on Rabu, 21 Maret 2012 | 11.40


DENGAN BER WUDLU Berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Maidah :6 “Hai orang orang yg beriman apabila kamu hendak mendirikan sholat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan tanganmu sampai dengan kedua mata kaki ....". Ketika membasuh wajah dalam ber wudlu Ya Allah jadikanlah wajahku putih berseri di hari putihnya muka muka dan hitamnya muka muka. "Allahumma bayyidh wajhii yauma tabyadhdhu wujuuh wa taswaddu wujuuh" Ketika bersisir bercermin Yaa Allah sebagaimana Engkau menciptakan aku dengan sebaik baiknya, maka perbaikilah kelakuanku akhlaqku. "Allahumma kamaa hasanta kholqi fa hassin khuluqii" Ketika dalam shalat Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan lurus berserah diri dan aku bukanlah orang yang menyekutukan Allah. "Wajahtu wajhiya lilladzi fathoros samaawaati wal ardho haniifan musliman wa maa ana minal musyrikiin".

DENGAN SUJUD "Sajada wajhi lilladzii kholaqohu wa showwarohu wa saqoo samâahu wa bashorohu fatabarokallahu ahsanul khooliqiin". Aku sujudkan wajahku kepada Dzat yang menciptakannya dan memberikan rupa dan memberinya pendengaran dan penglihatan, Maha Berkah Allah Sebaik baik Pencipta.
DENGAN MENYEBARKAN SALAM Ketika kita mengucapkan "salam" kepada saudara kita sesama muslim otomatis wajah kita cerah berseri seri. Perhatikan Hadits Nabi : "Janganlah kamu memandang remeh kebaikan sekecil apapun, seperti kamu menemui sudaramu dengan wajah berseri seri".

DENGAN MEMPERBANYAK SENYUMAN Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. "Tabassumuka fii wajhi akhiika sodaqoh" Ketenangan hati karena berdzikir dan sujud membuat wajah kita mudah senyum, wajah kita damai, wajah merupakan jendela untuk melihat apa yang bergejolak di dalam hati.

DENGAN MENGHILANGKAN IRI DAN DENGKI Orang yang di hatinya dipenuhi rasa iri dan dengki , tentunya akan sulit sekali tersenyum, bahkan mukanya akan selalu masam, cemberut, muram dan sinis. Orang yang di hatinya bersih dari rasa iri dan dengki, akan berwajah tenang, tenteram, penuh senyum dan penuh kelembutan.

DENGAN MENYAYANGI DAN MENYANTUNI ANAK ANAK YATIM Dengan banyak bergaul, menyayangi dan menyantuni anak anak yatim piatu hati kita akan menjadi lembut. Dan kelembutan itu akan terpancar dari wajah kita, hingga wajah kita menjadi teduh dan enak dipandang orang.

HASIL PERAWATAN WAJAH 1. Di dunia wajah kita selalu cerah dan jernih mudah tersenyum, damai, teduh 2. Di hari kiamat : wajah kita jadi putih berseri pada hari di mana manusia terbagi menjadi dua golongan : Golongan yang wajahnya putih berseri Golongan yang wajahnya hitam 3. Di hari kiamat kita dikenali dengan bekas bekas sujud di wajah kita. ( taârifu fii wujuuhihim min atsaris sujuud ) Silahkan dicoba gan.. Alhamdulillah kami juga sudah coba dan hasilnya MasyaAllah.. menyenangkan dan rasanya hidup ini lapang..
11.40 | 0 komentar

MANDI WAJIB Dan adab-adabnya

Written By Rudianto on Jumat, 17 Februari 2012 | 15.19

- Terlebih dahulu mencuci kedua telapak tangan, lalu membasuh kemaluan dan telapak tangan digosokkan ke tanah atau ke dinding. Kemudian berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya), mencuci muka dan kedua hasta tangan, kemudian mengalirkan air di atas kepala sebanyak tiga kali. Kemudian mengalirkan air ke seluruh tubuh. Lalu mencuci kedua kaki. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
- Wanita berambut panjang boleh hanya dengan menyiramkan air tiga kali keatas rambutnya ketika mandi wajib. (Muslim)
- Sunnah mendahulukan badan sebelah kanan ketika menyiram badan. (Nasa' i)
- Boleh mandi wajib junub dengan berendam di dalam air, asalkan semua anggota badan terkena air. (Asy-Syafii)
- Dalam mandi wajib, air harus mengenai semua pori-pori badan kemudian meratakannya, sekaligus membersihkannya. (Tirmidzi)
- Diwajibkan mandi jika
• Dua kemaluan laki-laki dan wanita bertemu.
• Bermimpi sampai keluar mani. Sedangkan jika bermimpi, tetapi tidak keluar mani maka tidak diwajibkan mandi.
• Tidak bermimpi, tetapi keluar mani.
• Setelah berhenti dari keluar darah haidh.
• Setelah selesai dari nifas. (Tirmidzi)
- Boleh tidur sebelum mandi dalam keadaan junub, tetapi sebaiknya berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. (Tirmidzi)
- Cukup sekali mandi setelah menggauli beberapa istri ataupun beberapa kali. Akan tetapi, dianjurkan berwudhu lebih dulu sebelum melakukan yang kedua kalinya. (Tirmidzi)
- Boleh langsung mandi setelah berhubungan atau tidak langsung mandi,menangguhkannya hingga bangun dari tidur. (Nasa' i)
- Suami istri boleh mandi bersama dari satu bak air. Rasulullah saw. pernah melakukannya dengan istri beliau. (Nasa' i)
- Rasulullah saw. menolak memakai handuk setelah mandi. (Nasa' i)
- Usahakan menutup diri ketika mandi sehingga aurat tertutup. (Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa i). * Sebaiknya memakai kain basahan yang dikhususkan untuk mandi.
- Jangan mandi junub dengan masuk ke dalam air yang diam, yang nantinya air tersebut digunakan lagi oleh orang lain untuk mandi atau mencuci. (Muslim)
15.19 | 1 komentar

ISTINJA Dan adab-adabnya

Written By Rudianto on Rabu, 15 Februari 2012 | 11.06


- Memasuki WC/kamar mandi dengan mulai melangkahkan kaki kiri lebih dahulu. (Tirmidzi)
- Masuk WC/kamar mandi disunnahkan membaca do'a: Artinya: "Ya Allah. aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita." (Bukhari, Muslim)
- Keluar dari WC dengan mulai melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Dan membaca do'a keluar WC, yaitu: Artinya: 'Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bag Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkan aku." (Tirmidzi, Nasa' I, lbnu Majah).
- Do'a dibaca sesudah keluar dari WC, jangan dibaca di dalam WC/kamar mandi WC adalah tempat berkumpulnya syetan, lebih lama di dalamnya tanpa keperluan yang sebenarnya adalah suatu mudharat, maka disunnahkan jangan berlama-lama di WC. Apabila sudah selesai hajatnya, secepatnya keluar dari WC. (Nasa' i, Ibnu Majah)
- Jangan membawa lafadz 'Allah' dan 'Muhammad' atau ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam WC. (Nasai)
- Dianjurkan memakai tutup kepala ketika di dalam WC. Dan baru membukanya jika perlu membasahi rambut kita. (lbnu Sa'aci)
- Ketika membuang hajat, sebaiknya jangan menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Menghadaplah selain ke kedua arah tadi. Boleh membelakangi atau menghadap kiblat, bila di dalam bangunan. Itu pun bila terpaksa. (Bukhari, Nasa' i, Muslim, Tirmidzi)
- Buang air besar atau kecil hendaknya dengan berjongkok, jangan dengan berdiri. Buang air dengan berdiri adalah perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa' i)
- Hendaknya hanya menggunakan tangan kiri ketika membersihkan kemaluan dalam beristinja. Jangan menyentuhnya dengan tangan kanan. (8ukhari, Nasa' Muslim, Tirmidzi)
- Jangan berbicara di dalam WC. Sangatlah tidak beradab berkomunikasi ketika berada di dalam WC. (Abu Dawud, Ibnu Majah)
- Tidak boleh boleh berdua di dalam kamar mandi/WC, kecuali suami istri. Rasulullah pernah mandi bersama istrinya dalam satu bejana mandi, (Abu Dawud, lbnu Majah)
- Tidak boleh menjawab salam ketika di WC. Untuk menjawabnya cukup dengan suara. (Muslim, Tirmidzi, Nasa' i)
- Benda-benda yang dibolehkan untuk beristinja, yaitu; air, batu, tanah liat yang keras dan kertas. Digunakan sebanyak tiga kali atau sejumlah yang ganjil. (Bukhari, lbnu Majah)
- Jangan buang air di lubang binatang, di jalan tempat lewat orang, di tempat berteduh, di sumber air, di tempat pemandian, di bawah pohon yang sedang berbuah, atau di air yang mengalir ke arah orang-orang yang sedang mandi atau mencuci. (Muslim, Tirmidzi)
- Boleh buang air dengan menggunakan pispot. Rasulullah saw. biasa meletakkannya di dekat tempat tidur beliau. (Hasa i)
- Tidak boleh beristinja memakai tulang atau kotoran binatang yang sudah mengering. Rasulullah saw. menyatakan benda-benda itu adalah makanan bagi jin. (Muslim, Nasa i)
- Di dalam kamar mandi/WC jangan sambil bicara, jangan sambil makan, jangan bernyanyi dan bersiul. (Abu Dawud, Ibnu Majah)
- Disunnahkan menghemat air, gunakan secukupnya saja. Rasulullah saw. biasa memakai air dengan menggunakan ukuran. Seperti; ukuran air untuk wudhu, untuk buang air kecil, dan untuk mandi. (Tirmidzi)
- Hati-hati dengan cipratan air kencing. Itu adalah salah _satu bahaya kencing berdiri. Banyak orang disiksa di dalam kubur, karena tidak berhati-hati ketika istinja dan tidak sempurna ketika berwudhu. (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah)
- Jangan menampakkan aurat ketika buang air, usahakan bertutup diri atau pergi menjauh agar tidak terlihat oleh umum. (Muslim, Tirmidzi)
- Laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama laki-laki dan wanita tidak boleh melihat aurat sesama wanita. (lbnu Asakir)
- Makruh kencing di tempat mandi. Ditakutkan sisa air kencing akan mengenai badan orang yang mandi. (Tirmidzi)
- Jangan menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk istinja
- Macam-macam Najis:
• Kencing manusia. (Muttafaqun 'alaih)
• Wadi ; cairan yang keluar mengiringi kencing. (lbnu Mundzil)
• Kotoran manusia. (Bukhari)
• Madzi ; cairan yang keluar karena dorongan syahwat. (Bukhari)
• Darah haidhinifas.
11.06 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung