Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan

Aku ingin menikah dengan gadis ini

Written By Rudianto on Selasa, 01 Agustus 2017 | 16.41

Aku ingin menikah dengan gadis ini

🌿🌿🌷🌿🌿

Bahwasanya Nazmuddin Ayyub—penguasa Tikrit—belum menikah dalam waktu yang lama. Maka, bertanyalah saudaranya—Asaduddin Syerkuh, “Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?”

Najmuddin menjawab, “Aku belum mendapatkan yang cocok.”

Asaduddin berkata, “Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?”

Dia berkata, “Siapa?”

Ia menjawab, “Puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja bani Saljuk atau putri Nidzamul Malik—dulu menteri dari para menteri agung zaman Abbasiyah.”

Maka, Najmuddin berkata, “Mereka tidak cocok untukku.”

Maka, heranlah Asaduddin Syerkuh. Ia berkata, “Lantas, siapa yang cocok bagimu?”

Najmuddin menjawab, “Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Waktu itu, Baitul Maqdis dijajah oleh pasukan salib dan Najmuddin masa itu tinggal di Tikrit, Irak, yang berjarak jauh dari lokasi tersebut. Namun, hati dan pikirannya senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Impiannya adalah menikahi istri yang salihah dan melahirkan ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke pangkuan kaum muslimin.

Asaduddin tidak terlalu heran dengan ungkapan saudaranya, ia berkata,
“Di mana kamu bisa mendapatkan yang seperti ini?”

Najmuddin menjawab,
“Barang siapa ikhlas niat karena Allah akan Allah karuniakan pertolongan.”

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang.

Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut minta izin Najmuddin untuk bicara dengan si gadis.

Najmuddin mendengar Syaikh berkata padanya,
“Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”

Gadis itu menjawab,
“Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”

Gadis itu menjawab,
“Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

_Najmuddin bagai disambar petir saat mendengar kata-kata wanita dari balik tirai itu._

Allahu Akbar!
Itu kata-kata yang sama yang diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Sama persis dengan kata-kata yang diucapkan gadis itu kepada Syaikh.

Bagaimana mungkin ini terjadi kalau tak ada campur tangan Allah yang Mahakuasa?

Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis itu menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan.

Apa maksud ini semua?
Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh,
“Aku ingin menikah dengan gadis ini.”

Syaikh mulanya kebingungan.
Namun, akhirnya beliau menjawab dengan heran,
“Mengapa? Dia gadis kampung yang miskin.”

Najmuddin berkata,
“Ini yang aku inginkan. Aku ingin istri salihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Maka, menikahlah Najmuddin Ayyub dengan gadis ini.

Tak lama kemudian, lahirlah putra Najmuddin yang menjadi ksatria yang mengembalikan Baitul Maqdis ke haribaan kaum muslimin. Namanya adalah  _SHALAHUDDIN AL AYUBI_

Allahu Akbar !
🌿🌿🌷🌿🌿

📮 Abu Azka

16.41 | 0 komentar

PERCIKAN CINTA DARI RUMAH NABI

Written By Rudianto on Selasa, 29 November 2016 | 16.06

Kehidupan rumah tangga yang tentram (sakinah), penuh cinta (mawaddah) dan suasana kasih sayang (rahmah) dari waktu ke waktu seolah semakin menjadi barang langka. Sementara itu jumlah kasus KDRT (Kekerasan Dalam Ruamh Tangga), perselingkuhan dan perceraian dari hari kehari angkanya justru semakin mengkhawatirkan. Menurut data Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. jumlah kasus perceraian di tanah air sejak tahun 2009-2013 rata-rata sebanyak 265.938 kasus per tahun atau sebesar 12% dari jumlah rata-rata pernikahan per tahun yang sebesar 2.239.769 kasus. Dan sejak tahun 2005-2011 angka kasus perceraian di tanah air naik drastis hingga 70% pertahun. Bahkan tahun 2013 BKKBN menyatakan tingkat perceraian di Indonesia tertinggi se Asia Pasifik. 

Di luar faktor-faktor yang sudah sering di ungkap oleh berbagai lembaga mengenai penyebab ketidakharmonisan sebuah rumah tangga ,  minimnya pengetahuan kita sebagai seorang muslim terhadap tuntunan berkeluarga sebagaimana yang di ajarkan oleh Al Qur’anul kariim dan di contohkan oleh Rasulullah SAW tidak dapat di pungkiri cukup punya andil besar bagi terciptanya kehidupan rumah tangga yang tidak membahagiakan dan tidak memuasakan. Jika kita mengkaji lebih dalam ajaran Islam yang mulia mengenai aturan berumah tangga, sungguh kita akan di buat kagum dengan aturan Allah dan Rasul-Nya yang begitu komprehensif, adil, tidak tambal sulam dan sangat humanis. Dan pada saat yang sama kita juga akan menemukan jawaban yang memuaskan tentang tuduhan sebagian kalangan yang menganggap ajaran Islam yang berkaitan dengan keluarga sangat bias gender dan lebih pro kepada suami. 

Setidaknya itulah sedikit kesimpulan yang in syaAllah akan pembaca dapatkan dari buku Percikan Cinta Dari Rumah Nabi ini. Buku ini hadir dari ruang nyata kehidupan berumah tangga , karena ia pada awalnya merupakan kumpulan ceramah tentang keluarga yang di sampaikan oleh syeikh Abu Abdillah Musthofa Al ‘Adawy di kota Manshuroh Mesir yang kemudian di terbitkan menjadi buku. Di perkuat dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadits-hadits shahih serta diperkaya dengan kisah-kisah inspiratif penuh ibrah dari fragmen kehidupan rumah tangga Rasulullah dan para shahabat menjadikan buku ini sangat layak di baca oleh mereka yang sedang dalam masa penantian datangnya pasangan hidup, yang baru merajut kehidupan berumah tangga maupun pasangan suami istri yang ingin menata ulang kehidupan rumah tangganya agar lebih sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.



16.06 | 1 komentar

Lebih Mulia dari Bidadari Syurga

Written By Rudianto on Kamis, 12 September 2013 | 04.45

Bidadari surga, digambarkan-dalam ayat dan hadist-sebagai sosok yang memiliki kecantikan, kemolekan dan keindahanfisik yang sempurna. Selain itu, bidadari surga juga memiliki sifat-sifat karakter yang baik dan mulia, sehingga berpadulah kecantikan fisik
dan akhlak para bidadari surga. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala, "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik parasnya." (ar-Rahman: 70). Mengenai ayat tersebut, dijelaskan bahwa berkumpullah kecantikan lahir dan batin pada bidadari atau wanita surga itu. (Taisir al-Karimir Rahman hlm. 832)

Allah Ta'ala berfirman, "Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan." (QS. Ar-Rahman: 58). AI-Hasan dan mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan seputih marjan. Allah juga berfirman, "Seakan-akan mereka
adalah telur yang tersimpan dengan baik." (QS. Ash-Shaffat: 49). lbnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Yaitu mutiara-mutiara putih yang tersimpan." (lihal Ad-Dur Al-Mantsuur 8917).

Hal ini menunjukkan bagaimana sempurnanya putih para bidadari, karena putihnya mereka adalah putih yang terjaga dari segala sentuhan. lbarat mutiara-mutiara yang putih yang tersimpan kokoh dalam cangkangnya, terjaga dari segala sentuhan, terjaga dari sinar matahari, terjaga dari segala sesuatu yang bisa merusak kemurniannya dan bersihnya warna putih tersebut. Demikian pula para bidadari, putih tubuh mereka
sempurna.

Saking cantiknya para bidadari surga, sampai-sampai "Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi, serta memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang
harum semerbak. Sungguh kerudung salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Bukhari & Muslim).

Wanita tercantik di dunia ini, sama sekali tak sepadan jika dibandingkan dengan kecantikan para bidadari surga. Namun, secantik-cantik bidadari surga, wanita dunia ternyata bisa lebih mulia dan utama daripada
bidadari surga. Ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadist yang berasal dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW ia berkata,Aku bertanya kepada Rasulullah mengenai firman Allah, 'Dan (di dalam surga itu) ada bidadari yang bermata jeli (hurun'in)' (QS. Al-Waaqi' ah:22).

Beliau lalu bersabda, 'Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jelidan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung Nasar.'Aku bertanya Iagi tentang makna ayat, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik' (QS. Al-Waaqi'ah: 23). Beliau pun bersabda, 'Maksudnya, bersihnya mereka seperti bersihnya mutiara yang berada dalam cangkangnya, yang belum pernah tersentuh tangan manusia.'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, beritahu pula aku tentang makna firman Allah, 'Di dalan surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik" (QS. Ar-Rahmaan: 70). Beliau bersabda,
Akhlaknya baik (khairat) dan wajahnya cantik.'

Aku bertanya lagi, 'Terangkan pula tentang firman Allah, 'seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik' (QS. Ash-Shaaffat: 49). Beliau bersabda, 'Kelembutan kulit mereka seperti lembutnya kulit telur bagian dalam yang kamu lihat, yang tertutup oleh cangkang telur.'

Aku bertanya lagi, 'Terangkan pula tentang firman Allah, 'Penuh cinta ('uruban) lagi sebaya umurnya (atraban)' (QS. AI-Waaq i'ah : 37). Beliau bersabda, 'Mereka adalah para wanita yang telah wafat di dunia dalam keadaan tua renta, matanya sudah rabun dan beruban rambutnya. Setelah itu Allah kembali
menciptakan mereka, dan menjadikan mereka perawan lagi.'Uruban artinya penuh cinta dan kasih sayang. Sedangkan atraban bermakna mereka lahir dalam satu waktu (usia mereka semua sama).'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, mana yang lebih utama: wanita dunia atau bidadari?' Beliau menjawab,'Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari, seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang
tidak tampak.'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, mengapa demikian?' Beliau bersabda, 'Karena shalat mereka, puasa mereka, dan ibadah mereka karena Allah. Allah Ta'ala memberi cahaya di wajah mereka. Mereka
mengenakan sutra di tubuhnya. Warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning, pedupan mereka mutiara, dan sisir mereka adalah emas. Mereka mengatakan: kami adalah perempuan-
perempuan abadi yang takkan mati. Kami adalah perempuan-perempuan bahagia yang takkan pernah miskin. Kami adalah perempuan-perempuan penduduk tetap yang takkan pindah selamanya. Ketahuilah, kami adalah perempuan-perempuan yang ridha dan takkan marah selamanya. Berbahagialah
orang yang memiliki kami dan kami menjadi miliknya.'

Aku bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang menikah dua kali, tiga kali, dan empat kali, kemudian ia wafat dan masuk surga. Sedangkan para suami itu juga masuk surga bersamanya. Lalu, pria mana yang akan menjadi suaminya di surga kelak?' Beliau menjawab, 'Hai Ummu Salamah, nanti dia akan memilih/ mana yang paling baik akhlaknya. Wanita itu nanti akan berkata: "Ya Rabb, laki-laki itu paling baik
akhlaknya kepadaku di antara lainnya saat hidup bersama di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya." Maka, wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat.'" (HR. Ath-Thabrani).

Dengan demikian, sebagai wanita penduduk dunia, kita bisa melampaui kemuliaan dan kehebatan bidadari surga dengan ibadah dan ketakwaan kita. Karena ibadah, ketaatan dan ketakwaanlah yang bisa menjadikan wanita dunia lebih unggul, lebih mulia, lebih utama, bahkan lebih cantik dari bidadari surga. Bahkan, para wanita dunia yang shalehah yang kelak menjadi penghuni surga, akan dinobatkan sebagai sayyidatul
khura' (ratu para bidadari) yang bertahta di istana-istana surga nan mewah.
04.45 | 0 komentar

Muslimah Bersih, Muslimah Rapi, Forever

Written By Rudianto on Senin, 09 September 2013 | 22.07

Muslimah, mestinya terdepan dalam masalah kebersihan. Bersih diri, menjaga kuku jari jemari tangan dan kaki dalam setiap kesempatan, memberi perhatian pada gigi geligi seperti yang disarankan, dua kali dalam
sehari menyikatnya bahkan Rasulullah SAW menganjurkan setiap akan melaksanakan sholat. Rambut juga tak luput dari perhatian. Bukan hanya membasahinya dua hari sekali, karena membasahi rambut atau yang biasa disebut keramas pun ada aturannya, agar hasil yang didapat tak mengecewakan. Memperhatikan bau badan, untuk menjaga wibawa.

Tentu tak ada yang ingin mendengar bisik-bisik, " penampilan sih..islami tapi baunya, dalam radius beberapa meter sudah tercium!?!"(bau disini tentu bau yang kurang sedap). Atau bisikan lain tentang betapa gigi
f ulanah yang " berantakan"("si katan ga' sih?. " ), apalagi bila sampai ketahuan rambutnya ternyata berpenghuni (baca : berkutu) hii...

Mungkin ada yang menyangkal bahwa hal-hal yang tersebut diatas, tak mungkin terjadi pada diri seorang muslimah. Tapi faktanya ..tak perlu menutup mata. Banyak komentar miring tentang kurang pedulinya
muslimah dalam menjaga penampilan. Penampilan bukan sebatas mengoleksi warna baju dari hijau, kuning, kelabu, hingga merah muda dan biru, juga bukan hanya "sibuk" memburu berbagai model dari yang sulam pita, renda, bordir tabur, hingga  bunga-bunga. Tapi, lebih kepada menjaga bagian-bagian tubuh agar tetap bersih terawat seperti yang dibahas dalam materi fiqih sunanulfitroh.

Selain menjaga penampilan diri, keluargapun prioritas utama. Acapkali, bila diamati, anak-anak yang ikut dalam  pertemuan, kuku jari jemari ciliknya panjang dan kotor. Padahal sangat mungkin ia akan
mengambil, memegang dan memakan cemilan yang dibelikan atau dihidangkan dalam pertemuan itu. selain mengganggu pemandangan, dari kuku yang kotor itu juga bisa memberi kesan, bahwa bunda sikecil
kurang memperhatikan khususnya kuku jari tangan sikecil. kalau untuk kuku saja luput perhatian bagaimana dengan yang lain? Bukankah memotong kukunya dikala harus dipotong itu hanya masalah ringan? Muslimah mestinya terdepan dalam masalah kebersihan.

Bersih lingkungan. Menjaga rumahnya tetap bersih. Dari depan hingga belakang. Mulai dari lancar bersihnya selokan rumah, Membuang sampah ditempatnya, mengutamakan kebersihan kamar mandi dan dapur (karena berdasar penelitian dua tempat itulah yang paling banyak kuman dan bakterinya), rutin menjemur bantal dan kasur, mengganti seprai dan sarungnya, dan banyak lagi yang harus dilakukan demi bersihnya
lingkungan tempat tinggal. Jangan sepelekan!

Ketika menghadiri pertemuanpun patut diperhatikan, masalah sampah dan makanan yang bersisa. Bila setiap bunda sigap mengumpulkan sampahnya sendiri dan juga sampah anak-anaknya, tidak membiarkan makanan yang disajikan tercecer dan tersisa,sebab membiarkan makanan sisa terbuang sia-sia adalah mubadzir, tak perlu ada panitia bagian "bersih-bersih". Bila adapun tugasnya jadi ringan, karena setiap yang hadir mengumpulkan dan membuang sampah pada tempatnya, sendiri-sendiri. Tak ada sampah beftebaran, tak ada sisa makanan tertinggal dan terbuang.

Muslimah bersih, muslimah rapi, forever.
22.07 | 2 komentar

Harmoni Akal dan Jiwa Raga

Written By Rudianto on Rabu, 31 Juli 2013 | 05.52

Manusia terdiri dari tiga unsur yang merupakan satu kesatuan, yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan
saling menyempurnakan. Jika salah satu hilang, kesempurnaan manusia akan hilang. Ketiga hal itu adalah akal, jiwa dan raga.

Akal digunakan untuk berpikir secara logis dan rasional. Akal menjadi pembeda antara manusia dan binatang. Sehingga, jika manusia tidak mau menggunakan akalnya dengan baik, manusia tak ada bedanya dengan binatang.

Raga tubuh menjadi tempat bagi akal dan jiwa. Tanpa tubuh, manusia tidak akan berwujud atau berbentuk. Tubuh juga merupakan media untuk melakukan sesuatu yang dipengaruhi oleh akal dan jiwa. Jiwa membuat manusia mampu menggerakkan tubuh dan melakukan aktivitasnya. Jika jiwa hilang dalam diri
manusia, tak ubahnya seperti mayat yang tak bisa apa-apa. Akal dan tubuh akan kehilangan fungsinya.

Sebagai muslimah, ketiga hal tersebut semestinya dapat dipahami dengan baik dan diupayakan secara sinergi, sehingga keutuhan dalam diri muslimah dapatterwujud. Muslimah akan menjadi pribadi yang seimbang dalam memadukan ketiga unsur dirinya.

Selaras dan Proporsional 
Menyelaraskan akal, tubuh dan jiwa bermakna pemberian hak masing-masing tanpa berat sebelah, dengan mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan ketiganya. Dan hal itu tentunya dilakukan dengan tetap berpegangteguh pada petunjuk lslam yang telah mengajak sekaligus mengajarkan untuk melakukan penyelarasan tersebut.

Manusia diciptakan dalam keadaan sempurna dan istimewa, tidak seperti makhluk-makhluk lain seperti malaikat, jin, setan, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini difirmankan Allah SWT dalam suratAt-Tiin ayat4:
"Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang semuprna."

Sebagai manusia yang sadar akan eksistensi kesempurnaan dirinya, seorang muslimah akan memahami bahwa dirinya terdiri dari tiga unsur yanS menyatu padanya dan saling berkaitan, yaitu akal pikiran, tubuh dan jiwa. Dalam hal ini, ia akan berusaha menyelaraskan tiga hal tersebut dan memberikan perhatian secara
utuh terhadap ketiganya. Penyelarasan tersebut dilakukan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai lslam.

Menjadi pribadi muslimah yang bisa menyelaraskan hal tersebutsecara proporsional, memang bukan hal mudah. Karena itu, sering kita jumpai cukup banyak muslimah yang kurang bisa menyinergikan akal, tubuh
dan jiwanya. Dalam beberapa hal begitu serius, tapi dalam hal-hal yang lain kurang memperhatikan. Sebagai contoh, kita bisa menyaksikan seorang muslimah yang shalehah, namun tidak menghiraukan kesehatan dan
kebersihan dirinya. Tidak peduli dengan aroma yang keluar dari mulut atau tubuhnya.

Atau sebaliknya, begitu besar perhatiannya terhadap kesehatan dan kebersihan dirinya, tapi melalaikan ibadah dan meremehkan perawatan hati dan jiwanya. Ada pula yang cerdas otaknya dan menonjol secara akademis, namun tak paham tentang agama dan tak peduli dengan kesehatan ruhiyah. Ada yang memperhatikan persoalan hati dan tubuhnya, tetapi kurang memperhatikan pengembangan pengetahuannya. Tidak menambahnya dengan belajar, membaca atau mengkaji suatu ilmu. Ada lagi, yang sibuk dengan belajar tetapi mengabaikan urusan dirinya, rumah tangga, anak-anak dan suaminya.

Muslimah yang memperhatikan dengan cermat ayat-ayat AI-Qur'an dan hadis-hadits akan mendapati begitu banyak dalil yang menjelaskan tentang wajibnya memperhatikan, memberdayakan serta merawat akal, tubuh dan jiwa, dalam kelangsungan hidup manusia. Akal pikiran yang dibina dan diperhatikan dengan baik akan membawa pengaruh pada sehatnya pemikiran dan terjauhkannya ia dari berbagai serangan pemikiran yang merusak. Akalnya juga selalu membantunya untuk berpikir cerdas dalam segala situasi dan mengolah berbagai input yang akan ia filter dengan nilai-nilai Islam. Dengan akal sehatnya pula, ia dapat memahami hikmah penciptaan dan syariat yang ada.

Tubuh yang terjaga akan membantu keteraturan menjalani rutinitas harian. Sehatnya raga akan menunjang gerak amal dalam aktivitas hidup dan ibadah. Tubuh yang sehat merupakan kenikmatan yang luar biasa.
jiwa yang sehat terawat akan menghidupkan kebahagiaan batin dan kecintaan pada Allah yang disertai dengan pengharapan dan rasa takut kepada-Nya. Jiwa yang terawat juga akan melahirkan perilaku (akhlak) yang seharusnya dimiliki muslimah dalam hubungannya dengan Rabb-nya, pembentukan kepribadiannya dan
hubungannya dengan sesama manusia.

Oleh karena itu, seorang muslimah harus memiliki pandangan yang utuh sebagaimana yang telah diajarkan dalam Islam. Pandangan yang menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan sekelilingnya. Pandangan yang mendorong seseorang untuk melihat segala sesuatu  dengan seimbang (tawazun) dan pertengahan
(tawasuth). Tidak memprioritaskan satu aspek dengan mengabaikan aspek lain, yang mana lslamlah yang menjadi sudut pandang.

lslam merupakan sebuah dimensi yang mengatur tatanan kehidupan yang meliputi segala sesuatu, dari yang besar hingga yang kecil. Semua nash dalam lslam akan memberikan rambu-rambu yang mengantarkan
pada kehidupan yangterarah dan proporsional. Kehidupan yang menjamin kebahagiaan, kesuksesan di dunia dan keberuntungan yang sangat besar di hari kemudian. Maka, mari kita introspeksi, di sisi manakah yang Iuput dari diri ini?

Sumber An Najah edisi 93 Syaban-Ramadhan 1434 H
05.52 | 1 komentar

Karena Aku Mencinta Wanita

Written By Rudianto on Rabu, 24 Juli 2013 | 11.44

Malam menjelang larut. Saya sudah berbaring di kasur untuk segera tidur. Namun tiba-tiba isteriku memberikan map besar berwarna hitam yang tidak saya ketahui apa isinya. Saya bilang padanya biar besok saja dibukanya. Namun dengan manja dan setengah memaksa dia meminta agar map itu segera dibuka. Saya curiga, pasti ada yang sangat istimewa.

Karena aku mencinta wanita, maka segera aku membuka map hitam itu dengan sedikit berdebar. Isteriku diam. Mungkin dia berdebar menunggu komentar apa yang akan muncul dari mulut saya yang biasanya suka meledeknya jika dia berbuat yang aneh-aneh. Saya buka halaman pertama. Saya terhentak. Ada tulisan besar-besar di kertas berwarna pink dalam bahasa Inggris berbunyi “To Remind Memorable Day and Unforgotable Moments we Passed.” Yang kemudian di bawahnya dia tambahkan dengan tulisan kecil “who love you so much.”

Ada pesan indah dari tulisan itu. Isteriku mencintaiku dengan sepenuh jiwa. Dengan segenap raga. Dengan segenap pikiran dan hatinya. Aku demikian gembira dan lega. Kulirik isteriku. Tapi dia diam membisu. Hanya saya rasa bibirnya sedang menahan senyum indahnya tatkala saya membuka halaman pertama. Saya lanjutkan pada halaman kedua. Isinya lebih mengejutkan lagi,”My Lord, Unite our Love till hereafter, tie our heart with Your love” yang kemudian dikhiri dengan “your poor slave”. Doa tulus pada Allah dia mohon agar cinta kita abadi. Cinta yang diikat oleh asmara karena Allah dan hati yang diikat oleh “cinta” Allah.

“Wonderfull. Syukron. Thank you. Syukriyah”, kataku setengah teriak. Namun isteriku segera menyilangkan jari di mulutnya. Saya paham dia menyuruhku bersuara pelan karena malam telah larut. Isteriku mulai tersenyum dan ada rona puas yang memancar dari wajahnya karena saya sangat apresiatif pada apa yang dia tulis. Pipinya merona merah.
Pada halaman ketiga dia selipkan surat undangan sederhana pernikahan kami yang akad dan resepsinya berlangsung pada tanggal 5 Juli 1997 dan 6 Juli 1997.

Halaman-halaman selanjutnya berisi kumpulan surat yang pernah saya kirimkan saat saya tinggalkan dia selama 2 tahun ke Pakistan untuk melanjutkan studi S2 di International Islamic Universtity Islamabad. Surat-surat itu demikian rapi dia bungkus dalam plastik-plastik map itu. Saya buka satu-satu. Ternyata semua surat yang saya kirim tidak ada yang dilewatkan. Sejak tahun pertama tiba di Pakistan sampai surat terakhir sebelum saya pulang ke Indonesia.
Ada dua hal paling menarik dari isi map. Pertama, selipan kata-kata mutiara yang isteri saya tuliskan di sela-sela surat itu. Semuanya berisikan keinginannya agar cinta kami padu. Kedua beberapa puisi “cinta” yang sengaja saya tulis untuk isteriku. Kata-kata mutiara yang dia tulis dalam bahasa Inggris itu mengandung motivasi yang membakar semangat cinta saya untuk senantiasa setiasa pada isteri saya, untuk senantiasa mencintainya : tanpa titik. Dia menginginkan senantiasa bersama saya dan saya menginginkan senantiasa bersamanya : Together Forever.
Ini bisa saya serap dari ungkapan-ungkapannya,”The Only Sweet Heart is here—SR. SR adalah inisial nama saya, Samson Rahman. You Are Always My Matter...Never Ended Love is Just For Your...Your Are My Everything...I am Nothing Without You... No One can be in my Heart but You... No Doubt You are My Hero.. Kak Son? Sure!! Ungkapan cinta yang bagi saya sangat luar biasa. Ungkapan kesetiaan yang tiada ternilai harganya. Menggugah, membakar semangat saya. Meledakkan cinta saya.
Itu semua terjadi karena aku memang mencinta wanita. Aku mencintai isteriku dengan setulus jiwa. Bagiku dia adalah mutiara yang harus terjaga gemerlapnya. Dia adalah motivatorku dan bahkan menjadi guruku. Tatkala aku lupa dia yang mengingatkan, tatkala semangatku melemah dia yang membangkitkan. Tatkala bacaan Al-Quran saya melemah dia senantiasa memperdengarkan bacaan-bacaannya yang indah di dekatku yang sambil tiduran. Tatkala qiyamul lail saya melembek dia pula yang mengingatkan bukan dengan ucapan tapi dia lebih dahulu yang melakukan. Semangat to be together forever di dunia dan dia akhirat demikian aku rasakan dalam ritme pengabdian pada Allah, Tuhan semesta alam. Dia adalah patner hidupku dan bukan subordonasiku. Dia sejajar di hadapan Tuhan sebagai hamba-Nya dengan tugas-tugas yang mungkin berbeda dengan saya, sebagai suaminya.
Ita Maulidha, demikianlah nama isteri saya. Seorang isteri yang saya nikahi tanpa istikharah, karena begitu melihat pertama kali saya merasa tenang untuk segera menikah dengannya. Saya yakin bahwa thuma’ninah yang menjalar dalam hati saya adalah karunia Allah juga. Saya melihat hanya sekali, esok harinya ta’aruf, keesokannya meminang dan dua minggu setelah itu menikah.
Saya lakukan itu semua karena saya mencinta wanita. Saya tidak ingin membuat wanita lama-lama menunggu dalam ketidakpastian pasangan hidupnya. Apa lagi jika diantara keduanya sudah ada benih cinta. Pacaran sering kali lebih banyak membuat wanita dilanda penyesalan daripada mengantarkan pada mahligai kebahagiaan. Pihak wanitalah yang sering menjadi korban. Karena banyak lelaki yang “tidak mencintai wanita” namun dia kerasukan asmara.
Diantara puisi yang ada dalam map itu berujudul :
 
Puisi untuk Isteriku
Isteriku,
Jika malam-malammu hadir tanpa hadirku
Hadirkanlan aku di relung terdalam kalbumu
Jika hari-harimu sepi tanpa hadirku
Ramainkanlah dengan kenangan manis yang lalu
Jika nafasmu tersengal tanpa hadirku
Legakanlah dengan isak tangis buat Tuhanmu
Jika kobaran rindumu membubung
Api rindumu berkobar
Kita kan segera gembira menyatu
Jika jerit jiwa mulai melengking
Sabarkalah dirimu bersama Al-Quran
Isteriku,
Anak-anak cinta kita akan selalu tumbuh dan mekar
Bersama waktu yang semakin memanjang
Islamabad, 4 Juni 1998

Karena aku mencinta wanita. Kutulis ini semua. Saya yakin sabda nabi bahwa sebaik-baik kekayaan adalah wanita salehah dan saya telah memilikinya.


Oleh : Samson Rahman
Penerjemah Laa Tahzan Ayah Empat Anak
11.44 | 0 komentar

CINTA 100 %

Written By Rudianto on Minggu, 23 Juni 2013 | 10.28


Cinta itu abstrak. Tak kasat mata, tapi bisa dirasakan. Cintalah yang dapat
menimbulkan getaran-getaran hati. Menyebabkan letupan-letupan emosi, entah
bahagia, marah atau sedih.

Cinta juga begitu dominan menguasai perasaan dan hati. Merasa tenang, nyaman dan damai, bila bisa selalu berdekatan dengan yang dicinta. Cinta menghasilkan kerinduan mendalam. lngin memandang, ingin berjumpa, ingin berdekatan. Cinta pula yang menjadi kekuatan untuk berkorban, memberi segala yang dimiliki dan rela melakukan apapun. Atas nama cinta, rasa sakit dan beban penderitaan terasa ringan dijalani. Demi cinta, nyawa bisa menjadi tebusan.

Dia-kah yang Kau Cinta? Abstraksi di atas menggambaran efek
dahsyat cinta. Selanjutnya, marilah kita menilik hati kita masing-masing. Apakah kita
merasakan efek-efek itu pada diri kita atas kecintaan kita kepada-Nya?

Sudahkah cinta kepada AIlah menimbulkan getaran-getaran yang lain
pada hati kita? Menguasai perasaan kita? Mendominasi wilayah kecintaan kita?
Apakah kita juga merasa tenang, nyaman, damai dengan merasakan kedekatan-Nya dan
ketika menyendiri bersama-Nya? Atau merasa demikian jika mendengar ayat-ayat-Nya?
Apakah kita rindu dan ingin sekali bertemu? Berhasrat sekali untuk memandang dan
menikmati Wajah-Nya?

Apakah kita telah merasa enteng mengorbankan apapun yang kita miliki
untuk-Nya? Tanpa berat hati dan tanpa penangguhan? Apapun itu?
Jawab saja dengan jujur, karena hanya diri kita masing-masing dan Allah yang tahu
kebenaran jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Kedalaman cinta kita kepada Allah
menjadi rahasia antara kita dengan-Nya.

Jangan Duakan! Tanpa kita sadari, mungkin saja, cinta kepada anak-anak atau suami melebihi kadar cinta kita kepada Allah' Sampai-sampai, saking cintanya kepada suami, seorang istri bisa kehilangan akal sehat jika suaminya menikah lagi secara syar'i. Atau, seorang ibu yang tak rela melepas anaknya, ketika sang anak harus berangkat ke ma'rokah untuk berjuang fi sabilillah.

Padahal, secara gamblang Allah berfirman, "Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan Yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal Yang kamu
sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-NYa dan dari berjihad di jalan-NYa,
maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada oran g-orang yang fasik." (At-Taubah:24).  Allah mengingatkan kita untuk menempatkan kecintaan kepada-NYa, Rasul dan jihad fi sabilillah di atas cinta kepada Yang lain.

Karena itu, selayaknya kita menempatkan cinta pada tempatnya. Mencintai Allah, dan
mencintai selain-Nya karena Dia. lnilah cinta yang murni 100%. Cinta yang terbebas dari
perbudakan cinta kepada makhluk menuju cinta yang merdeka. Cinta kepada Pencipta
dan Penguasa Makhluk. Jangan sampai kita duakan cinta kita kepada-Nya. Segenap cinta harus bermuara pada alasan karena cinta kepada-Nya. Pastinya, jika kita memiliki kekuatan iman, secara paralel kekuatan cinta kita kepada Allah sekuat iman kita'

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang memiliki tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang
yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal)." (Al-Baqarah: 165)

Bukti Cinta

Seseorang yang benar-benar mencintai, akan memberikan yang terbaik kepada yang
dicinta. Begitupun seharusnya kita. Jika kita mengaku mencintai Allah, kita harus berupaya
makiimal dan optimal untuk membuktikan cinta itu. Buktikan bahwa pengakuan cinta
kita bukanlah omong kosong tanpa makna.

Bentuk bukti cinta tersebut adalah beribadah kepada-Nya dengan ikhlas
dalam segala keadaan. Baik dalam keadaan bersemangat ataupun ketika malas
menyerang. Baik ketika sendiri, ataupun bersama orang lain. Hakikat ubudiyah
ialah cinta yang sempurna/ merendahkan diri kepada Sang Kekasih dan tunduk
kepada-Nya (lbnu Qoyyim, MadarijusSallkin). Cinta yang mendalam akan terbias
pada jasad si empunya cinta. Jika cintanya kepada Allah jujur, maka setiap anggota
jasadnya akan melakukan ketaatan dengan penuh cinta.

Barang siapa pernah jatuh cinta, dialah yang merasakannya. Maka, jangan biarkan
diri Anda mencintai sesuatu yang tidak layak untuk dicintai. Karena cinta selayaknya adalah
milik Allah. Seutuhnya. Maka, pilihlah siapa yang memang layak untuk Anda cintai. Cinta
yang mendatangkan cinta-Nya. Cinta yang akan membawa kebahagiaan hakiki di negeri
abadi. Bukan bahagia semu dan fatamorgana. Bukan cinta yang mengundang kemurkaan-
Nya. Bukan pula cinta yang menyaingi cinta teihadap-Nya. CintaiAllah sepenuh hati, dan
cintai selainnya karena-Nya!




10.28 | 0 komentar

NASIHAT PERNIKAHAN

Written By Rudianto on Sabtu, 27 April 2013 | 11.18


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ  أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَآتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ . أَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ  عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ tصلى الله عليه وسلم وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ , أَمَّا بَعْدُ:  

Pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran Allah swt bagi makhluq-Nya, di mana secara fitrah manusia diciptakan Allah dalam keadaan membutuhkan lawan jenisnya.

Pernikahan adalah pintu bagi dihalalkannya hubungan suami isteri dari yang sebelumnya tidak dihalalkan secara agama.

Pernikahan adalah menggabungkan dua kekuatan untuk membangun rumah tangga yang sakinah (tenang), mawaddah (penuh kecintaan) wa rahmah (penuh kasih sayang). Dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah (samara) diperlukan beberapa kesepakatan antara suami dan isteri sebagai acuan dalam mengarungi kehidupan keluarganya. Ada empat hal yang dapat diusulkan untuk kemudian bisa difikirkan, dijabarluaskan dan dilaksanakan dalam keluarga, dan ini sekaligus sebagai nasihat, yaitu:

  1. Fokus untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w.
  2. Fokus untuk mencari ilmu yang bermanfaat
  3. Fokus untuk mencari nafkah yang halal
  4. Fokus untuk berakhlaq yang mulia


  1. 1.     Fokus untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w.

Allah, Dia-lah yang menciptakan kita dari bahan yang sangat lemah dengan proses yang sangat dahsyat. Dia menciptakan manusia dari sel telur yang terbuahi, lalu Allah uji dan akhirnya Dia menjadikannya sebagai manusia yang dapat mendengar dan melihat. Allah memberinya hidayah, pengetahuan tentang kebenaran dan kejahatan. Allah yang menciptakan kita, Dia-lah yang paling mengetahui aturan kebaikan buat kita. Oleh karenyanya, taat kepada-Nya adalah kunci untuk bisa hidup bahagia dunia akhirat.

Kebahagian dunia dan akhirat adalah dambaan bagi setiap manusia. Jika kita amati, maka seluruh ayat yang berbicara tentang kebahagiaan dunia akhirat, pastilah mengatakan bahwa kebahagiaan yang hakiki dapat diperoleh dengan iman dan bekerja dengan baik dan benar. Utuk ini semua dibutuhkan ilmu sebagai dasar bagi iman dan bekerja yang baik dan benar. Ilmu tentang iman dapat kita peroleh dengan mempelajari wahyu Allah yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah s.a.w., yang semuanya terangkum dalam ayat pertama surah Al-Fatihah : بسم الله الرحمن الرحيم (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Artinya, seluruh wahyu yang Allah turunkan, isinya adalah ajaran kasih sayang. Maka, jika Allah memerintah, melarang, berkisah, memberikan perumpamaan, mengirimkan berita, isinya tidak lain dan tidak bukan adalah kasih sayang. Oleh karena itu kenalilah perintah dan larang Allah yang semuanya terjabarkan dalam kitab suci-Nya dan Sunnah Rasulullah s.a.w., dan ini adalah tugas minimal bagi masyarakat awam yang beriman.

Segala hal yang hendak dilakukan, maka lakukanlah karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya demi menggapai ridla-Nya. Allah s.w.t. berfirman:

 ( وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقًا ) النساء : 69

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[1], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Q.s. An-Nisa: 69).
Jika poin ini kita lihat dari sudut pandang untung rugi, maka tentu kita akan melihat segala perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya. Lalu kita menimbang apakah untung atau ruginya taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  1. 2.     Fokus untuk mencari ilmu yang bermanfaat

Yang dimaksud focus adalah membatasi diri dari yang tidak menjadi perhatiannya. Fokus untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Artinya bahwa kita penting memperhatikan waktu kita yang sempit, maka janganlah ia terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat tentu banyak sekali dan masing-masing berkewajiban untuk memahami mana ilmu yang bermanfaat bagi kebahagiaannya dunia dan akhirat. Ilmu tentang iman, diperlukan untuk memperkuat keimanan, demikian pula ilmu yang lain diperlukan untuk memperkokoh bidang ilmu tersebut. Ilmu diperlukan, karena ibadah tanpa ilmu akan tertolak, aqidah tanpa ilmu, juga tertolak dan sesat. Ini artinya bahwa semua urusan harus berdasarkan ilmu.
  1. 3.     Fokus untuk mencari nafkah yang halal
Kita semua tentu ingin selamat. Dan di antara yang menyebabkan orang tidak selamat adalah karena makanan yang dikonsumsinya tidak halal. Makanan yang tidak halal, baik karena hukum makanannya haram, seperti babi, bangkai, darah dan sebagainya, maupun makanan atau materi apa pun selain makanan yang diperoleh dengan jalan tidak halal, semisal korupsi, menipu, mencuri, riba dsb, akan menimbulkan kegalauan, ketidaknyamanan, suasana tidak tenang dan berbagai penyakit atau hal negative yang tidak kita inginkan. Ini, karena bahan yang tidak halal akan memproduksi sesuatu yang haram. Makanan yang haram akan menimbulkan prilaku yang tidak baik, baik makanan itu berupa konsumsi perut, akal, hati dan syahwat.
Kelemahan dan bahaya terbesar kepala rumah tangga adalah apabila ia lemah mencari nafkah yang halal, karena nafkah yang tidak halal, haram dikonsumsi atau dinikmati. Apabila nafkah itu diujudkan berupa pakaian, maka tidak ada ibadah yang dapat diterima dengan pakaian haram yang dikenakannya. Apabila nafkah itu diujudkan berupa makanan, maka daging yang tumbuh dari makanan yang haram tidak dapat masuk surga. Rasulullah s.a.w. bersabda:
614 - عن كعب بن عجرة قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه و سلم أعيذك بالله يا كعب بن عجرة من أمراء يكونون [ من ] بعدي فمن غشي أبوابهم فصدقهم في كذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه ولا يرد علي الحوض ومن غشي أبوابهم أو لم يغش فلم يصدقهم في كذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فهو مني وأنا منه وسيرد على الحوض يا كعب بن عجرة ! الصلاة برهان والصوم جنة حصينة والصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار يا كعب بن عجرة ! إنه لا يربو لحم نبت من سحت إلا كانت النارأولى به
614 – Dari Ka’b ibn ‘Ujrah, ia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “ Aku memohon perlindungan kepada Allah untukmu wahai Ka’b ibn ‘Ujrah dari para penguasa yang akan datang setelahku. Barangsiapa mengetuk pintu mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu kedzaliman mereka, maka dia bukan golonganku dan aku bukan golongannya, dan ia tidak akan datang ke telagaku. Barangsiapa mengetuk pintu-pintu mereka atau tidak mengetuknya, lalu ia tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak pula membantu kedzaliman mereka, maka ia adalah golonganku dan aku golongannya dan ia akan datang di telagaku, wahai Ka’b ibn ‘Ujrah! Shalat adalah bukti (keimanan), puasa adalah perisai yang kuat, dan sodaqah bisa memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, hai Ka’b ibn ‘Ujrah! Sesungguhnya tidaklah berkembang daging dari yang haram kecuali neraka paling pantas untuknya”[2]

  1. 4.     Fokus Untuk Berakhlaq yang Mulia

Akhlaq yang mulia adalah prilaku manusia berperadaban tinggi. Semakin tinggi peradaban seseorang atau bangsa, maka akan semakin mulia akhlaqnya. Akhlaq yang mulia tidak mengenal sikap menjilat, dusta, khiyanat, menyalahi janji, curang dan segala prilaku yang dibenci Allah. Akhlaq yang mulia berfungsi untuk membangun kemuliaan di dunia dan akhirat. Oleh karenanya, seseorang tidak akan dapat membangun kemuliaan pribadinya, satu bangsa tidak akan dapat membangun kemulian dan kejayaannya di mata bangsa-bangsa kecuali dengan sifat-sifat dan akhlaq yang mulia. Rasulullah s.a.w. berpesa:
 1987 - عن ابي ذر قال : قال لي رسول الله صلى الله عليه و سلم اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن  
Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: “Waspadalah kepada Allah di mana pun kamu berada, iringilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya yang baik akan menghapus yang buruk, dan pergaulilah seluruh manusia dengan perangai yang baik”[3]

Hadits di atas berpesan kepada kita tiga hal penting:
  1. Hubungan dengan Allah, lakukanlah dengan taqwa (waspada), karena Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Adil
  2. Hubungan dengan diri sendiri; lakukanlah dengan mengoreksi setiap kegiatan, yang salah cepat-cepat diluruskan, yang tidak baik cepat-cepat dihapus dengan berbagai kebaikan, dan yang sudah baik ditingkatkan
  3. Hubungan dengan orang di luar dirinya, keluarga, tetangga, masyarakat; lakukanlah dengan akhlaq yang mulia.
Semoga usulan dan ulasan singkat ini bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk meniti jalan kesalehan keluarga, meyelesaikan problem bersama dan menikmati kehidupan yang indah dunia dan akhirat juga bersama. Semoga Allah memberkahi dan mengumpulkan kalian berdua (mempelai) dalam suasana yang penuh kebaikan.
Wassalam.

Solihin Bunyamin Ahmad, Lc
11.18 | 0 komentar

Meneladani Ketegaran Ibunda Hajar

Written By Rudianto on Jumat, 21 Desember 2012 | 15.16

Beratnya beban kehidupan dan ragam amanah yang ditanggung oleh seorang akhawat bisa saja
berbeda satu sama lain. Ujian iman dan keistiqamahan yang mampir dalam penggalan episode kehidupan masingmasing pun bisa bermacam-macam.

Ketika dihadapkan pada suatu kondisi atau situasi tertentu, seorang akhwat bisa memiliki tingkat ketegaran dan 'daya tahan' yang bisa saja berbeda satu sama lain. Akhwat A, misalnya, dalam kondisi tidak memiliki motor, ia siap 'ngonthel' menempuh puluhan kilometer untuk bisa mengikuti sebuah kajian islam dalam memenuhi kewajiban thalabul ilmy-nya.

Pun akhwat B, yang sibuk dengan aktivitas dakwah, membina sekian banyak halaqah, ditambah tugas kuliah yang menumpuk. Belum lagi amanah sebagai seorang anak yang harus ber-birrul walidain. Tanpa stamina iman dan mental 'berjuang', rasanya sulit untuk bertahan dan menjalaninya dengan nyaman.
Atau ummahat C, yang dalam keadaan hamil tua harus menjadi 'single mom' untuk kel i ma anaknya, karena suami harus menunaikan tugas iqamatuddin dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Membayangkan saja sepertinya repot dan berat.

Jangan Cengeng

Menjadi seorang muslimah yang memilih dakwah dan perjuangan sebagai bagian dalam agenda besar kehidupannya, tentu tak bisa menuruti kemanjaan dirinya. Apalagi bercengeng-cengeng ria dan larut dalam perasaan emosionalnya. Berbagai masalah yang mampir semestinya ia hadapi dengan tangguh dan optimis. Yakin akan pertolongan Allah dan bermental baja. Tidak mudah berputus asa serta tidak menyalahkan keadaan.

Fulanah misalnya, setiap menghadapi kerepotan-kerepotan berkaitan dengan tugas domestiknya dalam rumah tangga, sering kali ia menyalahkan suami yang tidak cukup punya banyak waktu untuk membantunya. Hal ini dikarenakan sang suami harus menghajatkan sebagian besar waktunya untuk kepentingan dakwah dan iqamatuddin. Tak jarang ketika menghadapi kerewelan dan tangisan sang anak yang masih balita, ia juga turut menangis putus asa. Pun ketika cucian menumpuk, rumah berantakan atau suami yang pergi pagi pulang petang bahkan kadang tak kunjung pulang, ia sering kali menangis.dan kecewa pada keadaan.
Padahal, sebagai seorang pendamping sosok rijal yang berjuang menegakkan din, seharusnya seorang istri bisa bersikap layaknya pejuang yang tak kenal lelah dan putus asa. Yakin bahwa dakwah dan iqamatuddin merupakan bagian dari idealisme pernikahan dan rumah tangga yang ia bina. Ia sadar, ia berbeda dengan 'istri-istri' lain pada umumnya.
Ia juga percaya, bahwa tetesan keringat dan kepenatan yang ia rasakan dalam mendampingi sang suami, bernilai besar di sisi Allah. Innallaha Iaa tukhliful mi'aad, Allah tidak mungkin ingkar janji. Baginya akan ada pahala dan balasan yang menanti. Sabar dan tegar. Itulah pilihan sikapnya dalam menjalani hidup sebagai istri pejuang.

Belajar dari Ibunda Hajar

Kisah ibunda Hajar seharusnya menginspirasi para akhawat untuk bersikap tangguh menghadapi ujian yang datang. Sosok istri Nabi sekaligus ibu dari seorang Nabi yang telah menunjukkan kekuatan iman sekaligus ketegaran yang luar biasa.

Nabi Ibrahim meninggalkan ibunda Hajar di sebuah padang pasir yang tandus. Tak ada air dan tak ada pula seorang pun yang menemaninya, selain Ismail kecil yang saat itu masih menyusu pada ibunya.
Nabi Ibrahim    hanya membekali keduanya dengan satu kantong kurma dan satu bejana berisi air. Kemudian Nabi Ibrahim as. pun pergi meninggalkan mereka. Hajar lalu mengejarnya dan bertanya, "Wahai Ibrahim as.) kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada siapapun dan tidak ada apa apa?" Hajar terus mengulang-ulang ucapannya dan mengejar Nabi Ibrahim. Karena tak kunjung ada jawaban, Hajar pun bertanya, "Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?" "Ya" jawab Nabi Ibrahim
Kemudian Siti Hajar berkata lagi, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyianyiakan kami" ucap Hajar dengan yakin. Sementara itu, ibunda Hajar tetap menyusui anaknya dan minum dari air yang telah diberikan oleh Nabi Ibrahim. Sehingga ketika air yang ada dalam bejana itu telah habis, ia merasa haus dan begitu pula anaknya. Hajar merasa iba melihat Ismail yang kehausan. la kemudian pergi dan berusaha untuk mencari air. Ia pun naik ke bukit Shafa, sebuah bukit yang terdekat. Kemudian ia melihat sekeliling lembah dari atas bukit itu, sekiranya ia menemukan air. Tetapi ia tidak melihat air.

Kemudian ia turun dari bukit Shafa dan berlari-lari menuju bukit Marwa. la berdiri di atas bukit dan mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya jikalau ia melihat air, tetapi ia tidak juga menemukannya. Hajar pun melakukan hal itu hingga 7 kali. Sungguh sebuah sikap yang tak kenal lelah dan mudah menyerah! Hingga akhirnya, dengan kekuasaan Allah, terpancarlah mata air zam-zam dengan derasnya. Keyakinan ibunda Hajar menjadi nyata, Allah tidak akan menyia-nyiakan dirinya dan anaknya.

Kekuatan iman dan kekuatan mental akan berpadu dalam melahirkan sikap sabar dan tangguh dalam menghadapi ujian hidup. Tak hanya ikhwan, akhwat pun juga harus bermental juang tinggi. Bukan mental yang cengeng, banyak mengeluh, berkeluh kesah, selalu menyalahkan keadaan/orang lain dan mudah menyerah. Ayyuhal akhawat, keep the fighting spirit!
15.16 | 4 komentar

CEMBURU BUTA

Dalam keadaan ketika hati di huru hara rasa cemburu, tanpa sadar kita memutuskan sesuatu yang kita sendiri akan menyesali ketika keputusan itu "disepakati". Emosi menguasai hati, hingga nalar seakan tak berfungsi. yang ada hanyalah perasaan benci.

Cemburu...tanpa kita sadari sering membuat kita "menghakimi" seseorang yang belum tentu bersalah, yang terpikirkan hanyalah diri kita ya

ng merasa di khianati, padahal...orang yang kita cemburui sesungguhnya diapun sedang terdzalimi.

Saat cemburu, perasaan hati menjadi susah di mengerti, bahkan dalam keadaan emosi muncul prasangka buruk hingga ingin mengakhiri semua yang terjadi...atau tanpa sadar kita memberikan pilihan dengan mengatakan:"..Jika kau seperti itu, kuserahkan hatimu memilih". dan ternyata...ketika dia memilih untuk mengakhiri, kita merasa menyesal karena sesunggunnya kita masih sangat menyayanginya. sesungguhnya..kita mengatakan itu hanya untuk lebih meyakinkan bahwa dia memang tidak pernah melakukan apa yang kita sangkakan.

Kenapa kita cemburu?... cemburu hadir sebagai ekspresi rasa takut dan khawatir. dan itu di sebabkan karena cinta kita yang sangat dalam kepada seseorang. kecemburuan muncul juga di sebabkan hadirnya kekhawatiran orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita.

Rasanya....jika masih ada waktu..sampaikan maaf kita kepada orang yang kita sayangi, karena kita telah berprasangka buruk kepadanya. katakan kepadanya: "Maafkan sayang, aku telah salah menilaimu, bersarnya rasa cintaku, membuatku sangat takut akan kehilanganmu. sungguh...aku percaya bahwa kau jauh dari apa yang aku prasangkakan. jika kau masih memberiku kesempatan..aku akan menarik semua prasangkaku kepadamu, aku percaya padamu..sangat khawatir kehilanganmu,hmmm CEMBURU BUTA

10.18 | 0 komentar

SURGA

Written By Rudianto on Kamis, 29 November 2012 | 18.57

“ ... seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia
akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau
wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik
daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)
Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan
seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya” Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang
datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan
(epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’
Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

***

Betapa rindu hati kepada surga-Nya yang
begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi.
Betapa besar harapan untuk menjadi salah satu
penghuni surga-Nya.

Dan.... seorang wanita itu berhasil meraih
kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia
dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni
surga di kala nafasnya masih dihembuskan.
Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya
pun masih menapak di permukaan bumi.
Siapa yang tak iri dengan kedudukan mulia
yang berhasil diraih wanita itu. Apakah gerangan
amal yang mengantarkannya menjadi seorang
wanita penghuni surga. Apakah karena ia adalah
wanita yang cantik jelita dan berparas elok.
Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak
batu pualam? Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya
sebagai wanita yang berkulit hitam.

Wanita hitam, mungkin tidak seberapa
harganya dalam pandangan masyarakat. Akan
tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut
pandangan Allah dan Rasul-nya. Bukti bahwa
kecantikan fisik bukan tolak ukur kemuliaan
seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang
digunakan dalam koridor yang syar’i. Yang hanya
diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang
yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari
hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita
ke kedudukan yang mulia. Dengan
ketaqwaannya, keimanannya, keindahan
akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang
wanita yang buruk rupa di mata manusia akan
menjadi bidadari surga.

Tanpa perlu disibukkan kosmetik demi
mendapatkan kulit yang putih tetapi terlalai
memutihkan hatinya. Begitu khawatir akan segala
hal yang bisa merusak kecantikkannya, namun
tak khawatir bila iman dan hatinya rusak. Banyak
kecantikan fisik yang mengantarkan pemiliknya
kemudahan dalam bermaksiat.

Penyakit ayan bukanlah penyakit ringan.
Terlebih diderita seorang wanita. Betapa rasa
malu yang sering ditanggung. Tapi, tak ada satu
kata yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap
takdir yang menimpanya.

Tidak mengeluhkan betapa menderitanya.
Betapa malunya karena menderita penyakit ayan.
Tetapi ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap
saat penyakitnya kambuh.

Sangat khawatir bila auratnya tersingkap.
Kewajiban seorang wanita dan ia berusaha meski
dalam keadaan sakit. Calon penghuni surga.
Mempunyai sifat malu. Senantiasa menjaga
kehormatannya dengan menutup auratnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu
surga, dan jika engkau mau, aku akan
mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.”
Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”
Memilih bersabar walaupun harus menderita
demi surga. Bersabar menghadapi cobaan dengan
kesabaran yang baik.

Terkadang seorang hamba tidak mampu
mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Al-
lah dengan seluruh amalan perbuatannya. Allah
terus memberikan cobaan dengan suatu yang
tidak disukainya. Allah memberi kesabaran
kepadanya. Dengan kesabarannya mencapai
kedudukan mulia yang ia tidak dapat
mencapainya dengan amalannya.

“Jika datang suatu kedudukan mulia dari
Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum
mencapainya dengan amalannya, maka Allah
akan memberinya musibah pada tubuhnya atau
hartanya atau anaknya, lalu Allah akan
menyabarkannya hingga mencapai kedudukan
mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam
Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)

Seorang wanita yang ingatannya sedang
dalam keadaan tidak sadar, auratnya tak sengaja
terbuka, maka tak ada dosa baginya, karena di
luar kemampuannya. Akan tetapi, bahkan di saat
sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Ingin
kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga.
Surga Allah telah dijanjikan baginya oleh Baginda
Rasulullah.

***
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga
yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa
yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang
tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai
dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-
sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi
peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang
disaring dan mereka memperoleh di dalamnya
segala macam buah-buahan dan ampunan dari
Rabb mereka sama dengan orang yang kekal
dalam neraka dan diberi minuman dengan air
yang mendidih sehingga memotong-motong
ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga
akan memanggil suami-suami mereka dengan
suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan
oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan
oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan
yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia.
Mereka memandang dengan mata yang
menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan
: “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak
akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang
aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-
wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih
Al Jami’ nomor 1557)
18.57 | 0 komentar

TAK CANTIK

Written By Rudianto on Rabu, 28 November 2012 | 16.08

Semasa saya kecil dahulu, saya tidak tahu makna cantik. Tetapi, saya selalu dengar orang puji
mama saya cantik. Baru saya tahu mama saya cantik. Maka saya tengok mama saya. Muka mama putih, mata beliau tajam menggoda. Bapak kata macam mata kucing. Banyak orang ingat mama pakai lensa tetapi sebenarnya mata mama memang Allah cipta sebegitu.

Mama juga seorang yang peramah dan lemah lembut. Beliau merupakan seorang guru. Apabila
saya pergi ke sekolah mama, saya selalu dengar pelajar-pelajar mama puji mama cantik.
Apabila saya mulai meningkat remaja, orang selalu kata kakak saya cantik macam mama saya.
Baru saya perasaan, kakak saya cantik. Tetapi kakak saya berbeda dari mama saya. Bulu mata dia lebat, melentik, dan mata dia besar. Kulit dia pula putih bersih, tidak berjerawat serta memiliki badan yang kecil.

Dia seorang yang lemah lembut dan peramah serta mudah mesra dengan orang. Dia mempunyai
banyak kawan, dan banyak orang menyukai dan meminatinya. Semua guru sukakan dia dan banyak
lelaki yang ingin berkenalan dengannya. Kadang-kadang mereka berkawan dengan saya semata-
mata ingin mendekati kakak saya.
***
Saya berbeda dengan mama dan kakak, saya tidak pernah mendapat pujian seperti mereka. Saya
selalu mendengar kata-kata seolah-olah membandingkan saya dengan mama dan kakak.
Kadang-kadang mereka tidak menyangka bahwa saya merupakan anak dan adik kandung
kakak karena memandang saya tidak secantikmereka.

Saya tembam, berkulit gelap, berjerawat, dan berangka besar. Saya juga seorang yang agak
kasar dan garang. Kehidupan saya lebih rapat dengan abang-abang berbanding dengan kakak,
oleh sebab itu saya membesar menjadi seorang
perempuan yang tegas.Saya membesar dengan pelbagai kritikan.

Saya teringin untuk menjadi cantik seperti mama dan kakak, tetapi mustahil untuk saya menjadi cantik seperti mereka walaupun saya ber"make up" tebal. Kecantikan mereka merupakan kurniaan Illahi, dan saya tidak dikurniakan memiliki kecantikan seperti itu.

Namun saya ridha dengan apa yang Allah beri pada saya. Kawan saya cakap cantik tu subjektif.
Ada orang yang nampak cantik di mata semua orang, dan ada orang yang nampak cantik di mata
sebagian orang saja. Jadi, saya tidak lagi mencoba untuk nampak cantik di mata sesiapa. Karena saya
tahu saya tidak mampu untuk kelihatan cantik seperti mama dan kakak.
***
Saya telah berhasil buktikannya. Kecantikan luaran saya tidak mampu diubah, tetapi kecantikan
peribadi masih boleh saya miliki. Kecantikan akhlak, budi bahasa membuat saya juga memiliki banyak kawan dan guru-guru juga turut menyukai saya.

Saya senantiasa berusaha untuk menjaga akhlak saya dengan kawan-kawan dan dengan
guru. Saya senantiasa mencoba untuk membuat baik dan membantu mereka. Alhamdulillah, saya mampu buktikan saya juga berhasil memiliki apa yang kakak saya miliki walaupun saya tidak dikurniakan kecantikan rupa paras seperti mereka.

Perkara itu sangat susah untuk saya lakukan karena pada asalnya, saya bukanlah begitu. Pada
mulanya saya seorang wanita yang sombong dan berperangai buruk. Saya tahu saya tidak bisa ubah
rupa paras saya, tapi saya bisa ubah perangai dan akhlak saya. Biarlah rupa paras tidak cantik, asalkan pribadi dan akhlak saya cantik. Secara beransur-ansur, saya coba untuk menjadi perempuan yang berakhlak mulia, bersopan santun dan lemah lembut.

Saya mengaku saya memang tidak bisa ubah diri saya jadi lemah-lembut seperti mama dan kakak.
Mereka memang begitu ukurannya, dan saya memang begini ukurannya. Namun saya telah
mencoba sedaya upaya untuk memiliki sifat-sifat baik yang perlu dimiliki oleh wanita muslimah. Bukan untuk memiliki ciri-ciri seperti kakak dan mama, tetapi membentuk ciri-ciri saya sendiri yang Allah pendamkan dalam jiwa saya berdasarkan yang telah diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw.

Secara jujurnya saya tidak mampu untuk memiliki sifat lemah-lembut seperti kakak. Hati saya
bukan seperti hati kakak yang berjiwa lemah lembut. Mungkin situasi yang kami lalui berbeda, maka sifat yang membentuk peribadi kami berbeda. Saya terdidik dengan kritikan dan hati saya
sedikit sebanyak telah terguris walaupun pada dasarnya tidak pernah kelihatan. Namun ia telah
membentuk pribadi yang lebih keras dan tegas supaya saya mampu mengarunginya.
Saya telah berusaha untuk menjadi yang terbaik, namun masih ada lagi kata-kata yang keluar
dari mulut-mulut yang tidak sadar dengan pemberian Allah yang mampu menggores perasaan saya.
Masih banyak lagi orang yang selalu membanding-bandingkan saya dengan mama dan
kakak dengan kecantikan luaran. Malah mereka selalu persoalkan kenapa paras rupa saya tidak cantik
seperti mama dan kakak saya tanpa rasa bersalah.

Saya betul-betul tergores dengan kata-kata seperti itu walaupun saya tidak pernah menzahirkannya.
Hanyalah Allah yang memahami perasaan saya.Walaupun hati saya banyak tergores dengan
kata-kata mereka, namun saya bertekad dan ingin membuktikan bahwa kecantikan bukan penentu
kebahagiaan, yang penting adalah dengan ilmu yang saya miliki dan cara saya membawa diri.
Saya pun menanam azam untuk belajar bersungguh-sungguh karena saya selalu dengar,
tidak guna cantik andai tidak berilmu. Saya ingin menjadi seorang yang berilmu.

Kekurangan saya, saya jadikan perangsang untuk berjaya. Saya berjaya karena saya berusaha,
bukan karena paras rupa saya. Setiap orang memiliki kelebihan masing-masing, dan kelebihan tersebut perlu dicari dalam diri sendiri. Baru kini saya sadar, walaupun Allah tidak
kurniakan saya kelebihan dari segi kecantikan, namun Allah telah memberi saya banyak kelebihan
yang tidak semua orang miliki. Cantik tidak semestinya dinilai dengan kecantikan paras rupa, namun kecantikan juga bisa diukur dengan akhlak yang baik, ilmu yang berguna, serta cara membawa diri.

Apa yang penting, kenali kecantikan semulajadi diri sendiri dan lakukan yang terbaik untuk menjaganya. Jika mengharapkan sesuatu yang Allah tidak ciptakan untuk jadi milik
kita, kita tidak akan mengenal arti bersyukur. Alhamdulillah. Banyak pengajarannya daripada
kekurangan saya ini. Disebabkan saya tidak cantik, saya tidak terlalu mengejar produk-produk kecantikan yang mahal-mahal yang dijual di pasaran.

Karena saya tidak cantik, saya tidak jadi mangsa gangguan lelaki-lelaki yang rusak akhlaknya.
Karena saya tidak cantik, saya dapat pelihara diri saya dari pandangan bernafsu lelaki yang tidak
menjaga pandangannya.Karena saya tidak cantik, saya selamat dari menjadi senjata iblis mencairkan iman lelaki.

Karena saya tidak cantik, saya tidak mendapat fitnah dan cemburu dari wanita-wanita lain.
Karena saya tidak cantik, saya tidak mengharapkan pujian dari mana-mana lelaki dan
wanita, dan karena saya tak cantik, akhirnya saya menemui insan yang mencintai saya seadanya.
Paling penting, karena saya tak cantik, saya senantiasa mencoba untuk menjadi cantik pada
pandanganNya. Cantik pada pandangan manusia bukanlah apa-apa.

Saya ingin berpesan kepada saudari-saudari sekalian yang mengejar kecantikan. Tiada wanita
yang lebih cantik, melainkan wanita solehah. Cantik di dunia, tidak membawa sebarang
kebahagiaan di akhirat kelak. Cantiklah untuk DIA, maka segalanya akan menjadi CANTIK.
16.08 | 0 komentar

CANTIK

Written By Rudianto on Selasa, 27 November 2012 | 11.33

Bukan mudah untuk seorang wanita menerima hakikat dirinya ditolak semata-mata atas faktor rupa parasnya saja. Apatah lagi jika sebelumnya, dia telah bersungguh-sungguh mempersiapkan diri supaya kelihatan cantik dan anggun.

Lelaki pula, kebiasaannya memakai kaedah ‘ mata adalah hakim pertama ‘. Tidak berkenan di
mata, maka tidak adalah peluang meneruskan langkah seterusnya.Bagi sebagian wanita, soal cantik atau tidak adalah soal yang besar. Bahkan tidak keterlaluan jika dikatakan ia diantara dilema yang seringkali menghantui pikiran wanita dalam fase menanti jodoh.

Kenali Fitrah
Secara alami, wanita mempunyai keinginan yang kuat untuk kelihatan cantik dan dipuji pula
akan kecantikan tersebut. Mereka mempunyai set alat solek dan mereka memerlukan masa yang
agak lama untuk berhias. Ini perkara normal yang memang Allah ciptakan khusus kepada wanita.
Apabila sifat alami itu coba ‘dirampas’ oleh lelaki, maka dunia akan serta merta menjadi sungsang.

Namun begitu, sebagai wanita, sewajarnya mengenali fitrah dalam diri sebaik mungkin supaya fitrah tersebut tidak menjadi fitnah. Fitrah dalam diri seorang wanita – secara hakikatnya – adalah supaya dirinya kelihatancantik dan dipuji oleh seorang lelaki yang merupakan satu-satunya insan terpenting dalam hidupnya ; yaitu suami.

Fitnah pada mereka pula adalah, apabila sejak dari awal berusaha supaya menjadi cantik dan disanjung-sanjung oleh semua orang, termasuklah lelaki-lelaki yang mempunyai penyakit di dalam hati. Mengenali fitrah diri dengan baik, akan menjadikan diri seorang wanita yang bijak. Diri tidak akan sewenang-wenangnya menjadikan ‘fitrah’ berhias dan kelihatan anggun itu untuk menonjolkan kecantikan diri sebagai santapan mata lelaki yang bukan mahram.

Cantik
Berbalik kepada isu ditolak karena ‘tidak cantik’, perkara pertama yang perlu diri jawab kepada diri sendiri adalah : anda sebenarnya cantik. Lelaki itu, atau sesiapa saja yang mengatakan anda tidak cantik, sebenarnya tidak ada hak untuk mengatakan demikian. Ya, mungkin atas prinsip ‘kebebasan’ mereka boleh katakan demikian, tetapi itu bukan bermakna apa yang mereka katakan itu suatu hakikat yang perlu dipercayai. Tidak sama sekali. Memahami itu, maka untuk apa pula diri
bersedih sekiranya dikatakan demikian, ataupun ditolak oleh mereka atas alasan demikian?

Hakikatnya, diri ltidak perlu bersedih karena itu petanda yang sangat jelas, bahwa diri sedang
berada di atas landasan yang betul. Karena apa? Bahwa fitrah dalam diri sebenarnya adalah
untuk menjadi cantik dan dipuji sebagai cantik oleh suami. Maknanya, apabila suami telah
mengakui bahwa anda cantik dan memuji pula kecantikan diri anda, itu sudah lebih dari memadai
buat diri sebagai isteri. Pada waktu itu, diri tidak akan kisah kiranya sekalian alam mengatakan diri anda tidak cantik.

Secantik Bidadari
Sebagai wanita, diri anda memang cantik. Secantik bidadari. Bidadari yang hanya layak dipuji dan
disunting oleh putera kayangan. Dalam dunia ini, hanya putera kayangan itu saja yang diberi
peluang oleh Allah untuk melihat kecantikan diri anda.

Hari ini, diri anda ditolak dan tidak diterima. Bermakna, mereka-mereka itu bukan putera
kayangan yang ditakdirkan untuk bidadari secantik diri anda. Suatu ketika nanti, akan datang seorang
putera kayangan. Dan dia tidak akan ragu-ragu untuk memuji diri anda sebagai wanita yang pal-
ing cantik. Tidakkah pujian yang keluar dari mulutnya waktu itu suatu kalimah yang cukup
untuk membawa diri anda terbang tinggi di awangan? Waktu itu, masihkah tersisa sisa-sisa
kesedihan waktu ditolak hari ini? Sudah tentu tidak. Bahkan kesemua perkara itu tidak lagi
penting bagi diri anda. Yang penting, diri anda adalah bidadari paling cantik untuk seorang suami.

Jangan Pupus
Tak perlu pupus untuk terus menjadi cantik. Caranya pula, bukan sekadar membeli dan
berlatih dengan pelbagai alatan solek. Cara paling ampuh adalah dengan memakaikan make-up termahal untuk hati nurani. Dari situ, kecantikannya akan tembus ke luar. Pernahkan berjumpa dengan wanita yangberkulit agak gelap dan tidak mempunyai rupa paras yang cantik? Tetapi diri anda sangat menyenangi wanita tersebut. Apabila diri anda bercakap, dia akan mendengar dengan tenang.
Apabila dia memberi pandangan, tutur katanya sungguh sopan. Apabila dia berjalan, pandangannya fokus dan tidak jelalatan. Apabila berpakaian, dia kelihatan sungguh nyaman dan terjaga.

Jika berjumpa dengan wanita seperti itu, rapatilah dia dan tanyakan kepadanya, apa
rahasia dirinya menjadi cantik sebegitu rupa. Mungkin, diri anda akan memperoleh pencerahan
dan panduan mencantikkan jiwa. Jika mereka yang tidak dikurniakan rupa paras yang cantik pun mampu menonjolkan kecantikan sebegitu rupa, mengapa diri anda tidak juga menempa kejayaan yang sama? Mulai sekarang, teruskanlah berusaha. Ingat, bukan mudah untuk menjadi bidadari.
Jadi, jangan pupus berusaha untuk terus menjadi cantik.

***
Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum. Karena banyaknya madu yang
dimiliki bunga. Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu
Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik
karena memiliki hati yang cantik. Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena
tidak cantik hatinya.
***
Yang utama pula ialah menjadi cantik dalam pandangan Yang Maha Cantik.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilan-penampilan dan harta benda kalian.
Akan tetapi melihat kepada kalbu dan amal kalian.” (Shahih, HR. Muslim dan Ibnu Majah dari
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) “Adalah hari (kiamat) yang mana harta dan
anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat
[Qolbun Salim]. “ (Qs. Asy-Syu’araa’ : 88-89).


11.33 | 0 komentar

Cermin Hidup Seorang Abu Wada'ah

Written By Rudianto on Senin, 15 Oktober 2012 | 15.46

Sepenggal kisah tentang seorang tua ingin ku ceritakan kepada kalian agar kiranya dapat diambil sebagai cerminan dari hidup seorang Tabi'in yang diridloi Allah Ta'ala.

Mungkin kalian masih ingat tentang Abu Wada'ah, seorang duda bertampang biasa saja dan tiada memiliki apa-apa namun karena ketaqwaannya ia dipilih oleh Sa
'id bin Musayyab sebagai menantunya sedangkan lamaran Khalifah Abdul Malik bin Marwan ditolaknya.

Abu Wada'ah adalah seorang yang rutin mengikuti Kajian dan Halaqoh Sa'id bin Musayyab di zawiyah Nabawi.

Suatu hari ia menghilang dari halaqoh sehingga tuan guru Sa'id bin Musayyab merasa kehilangan salah satu muridnya tersebut. Setelah hadir dalam halaqoh sang guru langsung bertanya kepadanya :

"Kemana saja dirimu hai Abu Wada'ah..?" tanya guru.

"Wahai Tuan Guru, mohon maaf sebelumnya. Istri saya meninggal dunia maka saya sibuk mengurus keperluan pemakamannya." Jawab Abu Wada'ah.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, jika saja engkau memberi tahukan kepadaku, tentukah aku akan menghiburmu, menghadiri jenazahnya, dan membantu segala keperluanmu..!"

"Terima kasih atas perhatiannya tuan..!"

Ta'lim pun berjalan sebagaimana biasanya dan selepas itu, ketika Abu Wada'ah hendak bermohon izin. Tuan Syekh Sa'id bin Musayyab bertanya kembali padanya.

"Apakah engkau sudah berpikir untuk beristri lagi hai Abu Wada'ah..?"

"Rahimakallahu (semoga Allah merahmatimu) Ya Syaikh. Siapakah gerangan yang mau untuk menikahkan putrinya dengan diriku sedangkan aku adalah seorang pemuda yang terlahir dalam keadaan yatim dan tidak memiliki harta kecuali satu atau dua dirham saja..?" Abu Wada'ah balik bertanya.

'Aku wahai Abu Wada'ah, aku yang akan menikahkan putriku dengan dirimu..!"

Saat itu di Madinah tidak musim hujan, namun Abu Wada'ah merasakan adanya kilat yang menyambar...treeeleeep..!!

"Anda...? Tuan Syekh..?? Anda mau menikahkan putri anda dengan saya padahal anda lah tahu keadaan saya..??"

"Ya benar, bila ada seorang yang datang kepada kami dan kami SENANG akan AKHLAQ dan AGAMAya maka akan kami nikahkah, sedangkan dirimu termasuk orang yang kami SUKAI".

Lalu Tuan Sa'id bin Musayyab berpaling kepada orang yang dekat dengan mereka berdua, mereka dipanggil untuk berkumpul. Beliau pun kemudian bertahmid, bersholawat, bahkan langsung menikahkan putrinya dengan Abu Wada'ah dengan menjadikan 3 dirham yang dimilikinya sebagai mahar.

SUBHANALLAH...!!

Sejenak Abu Wada'ah terpaku tak tahu harus berkata apa karena heran bercampur gembira (pastinya banyak banget nyang ngiri tuh). Lalu ia bergegas pulang dan saat itu ia sedang bershaum namun lupa akan shaumnya hingga ia berkata dalam dirinya sendiri.

"Sungguh keterlaluan engkau ini hai Abu Wada'ah, apa yang telah kau perbuat atas dirimu. Kepada siapa engkau akan mencari pinjaman untuk memenuhi keperluanmu, kepada siapa engkau akan meminjam uang".

Rasa heran itu terus menggelayuti hingga sore hari, dan setelah melaksanakan sholat magrib dan menyantap roti, tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk dan memberi salam.

'Siapa..?" tanya Abu Wada'ah.

"Sa'id.!" jawab orang dibalik pintu.

Wallahi, setiap kali disebut nama Sa'id tidak ada yang dikenal dalam benaknya kecuali sang Guru, dan benarlah setelah Abu Wada'ah membuka pintu didapati sosok Imam nya Syeikh Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu 'anhu dihadapannya.

Abu Wada'ah menduga bahwa Syeikh Sa'id bin Musayyab telah menyadari ketergesaannya dalam menikahkan putrinya dengan dirinya itu lalu datang untuk membicarakannya.

"Tuan, mengapa tidak memerintahkan seseorang untuk memanggilku..??"

"Tidak, engkaulah yang harus didatangi..!"

"Suatu penghargaan bagi saya tuan..?"

"Tidak, sebenarnya saya datang untuk masalah yang penting..!"

"Apa yang tuan Syeikh kehendaki..?"

"Sesungguhnya putriku sudah menjadi istrimu, maka aku tidak senang membiarkan dirimu berada di tempatmu sedangkan istrimu di tempat yang lain. Oleh karena itulah aku bawa dia sekarang kepadamu...!"

"Anda membawanya tuan..?"

"Benar..!"

Lalu Abu Wada'ah melihat istrinya berdiri di belakang Tuan Syeiikh Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu 'anhu.

"Masuklah ke rumah suamimu dengan Nama dan Berkah Allah Ta'ala putriku..!"

Sang Putri rada-rada gemeteran dan malu, tatkala hendak melangkah gaunya tersangkut hingga nyaris jatuh.

Abu Wada'ah masih terpaku sambil nyengir sedikit, dan setelah sadar segera diambil piring berisi roti dan minyak bekas makannya agar tak dilihat oleh istrinya.

Abu Wada'ah merasa sangat amat gembira hingga dia naik ke atas rumahnya untuk memanggil para tetangganya (mungkin jika zaman itu sudah ada toa masjid, ia umumkan panggilan itu.. :).

"Wahai Saudara-saudaraku, hari ini aku telah dinikahkah oleh Tuan Guru Syeikh Sa'id bin Musayyab, sekarang putrinya sudah ada di rumahku. ku minta kalian datang untuk menghiburnya..!"

Seorang wanita tua menyahut : "Sadarkah kamu hai Abu Wada'ah, Tuan guru telah menolak lamaran dari Khalifah Abdul Malik untuk anaknya, mana mungkin beliau mau menikahkan putrinya dengan dirimu..??"

"Benar ya Umma.. datanglah dan buktikan sendiri perkataanku".

Maka berdatanganlah para tetangga untuk membuktikan ocehan Abu Wada'ah, dan setelah mereka mengetahui dengan mata kepala sendiri, terdengarlah lantunan tasbih... tahmid... tahlil... dan takbir atas apa yang terjadi. Mereka pun segera membantu segala keperluan Abu Wada'ah dan istrinya.

Sungguh... setelah berinteraksi dengan Putri Seorang Tabi'in itu, tahulah Abu Wada'ah bahwa istrinya adalah wanita tercantik di Madinah, paling hafal Al-Qur'an, paling faham sunnah, paling mengerti akan haq dan kewajiban.

SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLA ALLAH WALLAHU AKBAR.
15.46 | 0 komentar

So little time, so much to do

Written By Rudianto on Senin, 13 Agustus 2012 | 09.59

Waktu adalah pemberian Allah sekali- gus nikmat yang sangat besar nilainya. Waktu adalah salah satu modal bagi
kehidupan kita. Waktu merupakan esensi kehidupan di mana setiap manusia berjalan di atas garis edarnya. Sayangnya, banyak orang yang sepakat tentang arti penting waktu, namun lalai untuk memanfaatkan waktunya dengan balk. Persis sebagaimana digambarkan dalam hadits, "Ada dua nikmat di mana banyak manusia yang melalaikan­nya, yaitu kesehatan dan kesempatan." (HR Bukhari)

Oleh karena itu, atas waktu yang sudah kita miliki ini, sangat penting untuk bisa me­manage-nya dengan balk. Apalagi sebagai seorang muslimah, banyak kewajiban dan hak-hak yang harus kita tunaikan, serta rnengaturnya menjadi sebuah harnnoni aktivitas yang efisien dan efektif. Artinya, kita benar-benar telah memaksimalkan modal dan potensi waktu yang sudah diberikan Allah kepada kita. Sehingga, kita bisa melakukan investasi amal dengan tepat dan berharap akan 'keuntungan berlipat' pada saat perhitungan amal di akhirat.

Hanya 24 Jam
Apabila kita merujuk kepada buku Syakhsyiyyah al-Mar'ah al-Muslimah (edisi terjemahan Indonesia berjudul Jati Diri Wanita Muslimah) tulisan Dr. Muhammad Ali al-Hasyimi, maka terpaparlah gambaran aktivitas yang integral berkaitan dengan kewajiban dan hak-hak yang harus dipenuhi oleh seorang muslimah clari berbagai dimensi balk terhadap Rabb-Nya, dirinya pribadi,, orang tuanya, suami dan anak-anaknya, kerabat, tetangga, rekan-rekannya dan juga masyarakatnya. Aktivitas yang menyeluruh tersebut meliputi beragam sisi baik dirinya secara individu, rumah tangga dan keluarga serta peran sosial masyarakatnya secara ideal.

Seorang muslimah memainkan peran dengan rangkaian aktivitasnya sebagai hamba Allah, putri dari orang tuanya, istri dan ibu, juga sebagai menantu. Dialah seorang wanita shalihah, anak yang berbakti, partner dan pendamping suami, madrasah bagi putra putrinya, sekaligus 'pelayan dan pengurus' suami serta anak-anaknya. Dialah thalibah (penuntut ilmu), da'iyyah (juru dakwah), murabbiyah (pendidik), ustadzah (pengajar), muharikah (aktivis pergerakan), dan berbagai predikat lainnya.

Diantara seabreg amanah dan pekerjaan yang disandang olehnya, hanya ada rentang waktu 24 jam untuk mengakomodasi seluruh rangkaian aktivitas tersebut. Karena begitu banyaknya perihal yang harus ia tunaikan, sedangkan begitu sedikit waktu yang tersedia, mengharuskan seorang muslimah untuk 'cerdas dan cermat' dalam mengatur aktivitas dalam waktu-waktu yang ia miliki.

So little time, so much to do. Begitu sedikitnya waktu yang kita miliki, sedangkan begitu banyak hal-hal yang harus kita kerjakan. Karena itulah, sangat disayangkan jika kita terjebak pada hal-hal yang justru menghabiskan waktu dalam kesia-siaan. Padahal, banyak hal bermanfaat dan lebih prioritas yang bisa kita lakukan. Waktu ibaral prsdang. lika kita bisa menggunakan petting tersebut dengan balk, maka kita yang akan sukses 'membunuh'. Namun jika tidak, justru kitalah yang akan 'terbunuh'.

Selain itu, dalam 24 jam waktu yang kita lalui, sesungguhnya para malaikat pencatat amal balk dan buruk juga sedang mengawasi segenap aktivitas kita, untuk dicatat dalam lembaran amal kita. Dan nantinya, jungkir balik aktivitas dan amalan yang mengisi 24 jam waktu kita, akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Dalam waktu-waktu yang kita habiskan terkandung implikasi pertanggunjawaban yang melekat. Waktu yang kita lalui, tidaklah lewat begitu saja. "Apakah manusia nnengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS Al‑Qiyamah:36)
Slungguh, "Tidak akan bergeser sepasang kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang empat perkara:tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan; tentang hartanya, darimana ia mendapatkan dan untuk apa ia belanjakan; tentang ilmunya, apa yang telah ia kerjakan atasnya." (HR Thabrani)



Perencanaan dan Prioritas
Perencanaan adalah poin penting yang harus diperhatikan. Perencanaan waktu atas rutinitas kehidupan, akan membuat hidup kita lebih teratur. Hal ini bisa kita mulai dengan menyusun agenda harian, pekanan, bulanan, dst, ternnasuk juga target yang ingin kita capai.
Hal ini akan membantu mengingatkan kita atas tugas-tugas yang harus dikerjakan sekaligus deadline-nya. Bahkan dalam pekerjaan rumah tangga hal ini juga sangat bermanfaat. Para ibu bisa menuliskan Daftar pekerjaan  rumah tangga yang harus dllakukan serta deadline-nya kemudian menempelkannya di tempat yang terlihat, mkalnya kapan harus shalat sunnah, tllawah, membaca buku, mencuci piring, berbelanja, menyuapi si kecil, mengajak anak-anak berjalan-jalan, mengajarkan Al-Quran pada anak, dll. Di samping membantu kita dalam mongelola aktivitas prIbadi, anak-anak pun akan lebih terbiasa dalam keteraturan rutinitas kegiatan mereka

Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kebutuhan rutinitas masing-masing.
Salah satu hal yang juga membantu kita dalam melakukan manajemen waktu dan aktivitas adalah penentuan prioritas dalam 'status hukum' aktivitas tersebut. Status hukum disini maksudnya adalah kategori wajib, sunah, mubah, dst. Yang wajib tentu saja menjadi yang paling diprioritaskan. Misalnya, kita harus berusaha menyediakan waktu untuk bisa shalat tepat waktu ditengah-tengah kesibukan saat bekerja, belajar, memasak, atau selainnya.
Diantara virus perusak manajemen waktu dan aktivitas adalah suka menunda pekerjaan. Padahal, Islam mengajarkan kepada kita untuk segera beralih kepada pekerjaan yang lain apabila pekerjaan yang sebelumnya telah usai. "Maka apabila. engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sunguh (urusan yang lain)" (QS AI-Insyirah:7). Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia, karenanya kita harus berusa mempercepat dan menyederhanakan pengerjaannya.

Manfaatkan Sebelum Terlambat
Mernanfaatkan waktu dan kesempatan yang diberikan Allah, ada pada 5 hal, yaitu sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, dan hidup sebelum mati. Maka, sebelum terlambat, hendaknya kita tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting sehingga membuat kita lalai terhadap waktu.

Tiap menit dalam kehidupan kita amatlah besar nilainya. Tak ada seorang pun yang bisa mengembalikan menit-menit yang telah berlalu, bahkan satu detik pun. Namun, pada kenyataannya 'sesuatu paling berharga' bernama waktu yang harus kita jaga tersebut, justru menjadi 'sesuatu yang paling mudah hilang' karena kelalaian kita. Semoga kita menjadi orang yang menyesal di dunia ini dan berkesempatan untuk memperbaikinya. Bukan termasuk orang-orang yang menyesal di akhirat, yang kemudian tak bisa melakukan apa-apa. Wallahul musta'an.
09.59 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung