Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label Terapi Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapi Qur'an. Tampilkan semua postingan

KAIDAH-KAIDAH RUQYAH SYAR’IYYAH DILENGKAPI PENJELASAN SETIAP KAIDAH DAN AYAT-AYATNYA

Written By Rudianto on Minggu, 28 Agustus 2022 | 09.16

Mengetahui kaidah-kaidah ruqyah syar'iyyah bagi seorang peruqyah, dan seorang pasien merupakan sesuatu yang sangat penting, karena kaidah atau dalil adalah rumusan inti yang menjadi hukum dan aturan yang sudah pasti yang selanjutnya menjadi patokan 
didalam meruqyah agar setiap ikhtiar dengan ruqyah syar'iyyah itu dilakukan secara baik dan benar.

Dengan tujuan diatas, maka kami terjemahkan sebuah kitab yang ditulis oleh Syeikh Dr. Abdullah bin Muhamad Al-Sadhan y, seorang ulama dan peruqyah di kota Riyadh, Saudi Arabia, yang beliau namakan 
"Qawa'id Fii Al-Ruqyah Al-Syar'iyah" dimana didalamnya terdapat 27 kaidah ruqyah yang sangat penting dan berharga untuk di telaah lalu dipraktekkan di lapangan.

Mengingat pentingnya kita memahami kaidah-
kaidah ini, maka kali ini kami lengkapi dengan 
penjelasan tambahan untuk setiap kaidah agar semakin difahami oleh para pembaca, dan bisa memulai meruqyah berdasarkan kaidah-kaidah yang ada didalam buku ini. Bukan itu saja, kami juga cantumkan didalamnya ayat-ayat kehidupan, ayat-ayat sakinah, ayat-ayat melapangkan dada, dan ayat-ayat syifaa 
dilengkapi juga dengan penjelasan bagaimana dan kapan kita menggunakan ayat-ayat tersebut. Dengan memahami cara membaca, dan kapan menggunakan ayat-ayat tersebut diatas, maka seorang peruqyah itu tidak bingung lagi ketika menemukan kasus-kasus 
penyakit medis, karena dia yakin bahwa Al-Qur’an adalah penawar untuk segala macam penyakit baik penyakit fisik maupun psikis. Jadi peruqyah ini siap menghadapi apapun jenis penyakit pasiennya. Ayat-ayat ini juga akan semakin membuka wawasan kita, para Peruqyah, bahwa apa saja yang kita butuhkan pasti sudah ada di dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah adanya ayat-ayat dengan makna tertentu yang sesuai dengan penyakit-penyakit tertentu. Jelasnya buku kaidah-kaidah ruqyah ini akan menjadi pelengkap ilmu pengobatan dengan Al-Qur’an yang memang patut dan penting untuk dibaca dan diamalkan.

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 81)
Jadi di dalam cetakan kali ini, buku kaidah ruqyah ini semakin lengkap dan semakin layak untuk dibaca tidak hanya oleh para peruqyah, tetapi juga sangat layak bahkan sangat penting dibaca oleh para dokter muslim, juga para dokter jiwa, karena didalamnya terdapat kaidah-kaidah bagaimana berinteraksi dengan pasien, bagaimana menggunakan ayat-ayat tertentu untuk penyakit-penyakit tertentu, dan bagaimana membentengi diri dari segala keburukan.

Kami khususkan untuk para dokter-dokter muslim yang ahli penyakit dalam baik itu penyakit jantung, kanker, ginjal, paru-paru, dan lain-lain untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai penawar utama untuk penyakit-penyakit tersebut dan sudah tentu tidak mengenyampingkan obat-obat kedokterannya. Demikian juga untuk para dokter jiwa (psikolog) muslim yang ingin menenangkan pasien-pasiennya secara Islami, maka jadikanlah Al-Qur’an sebagai penawar utama juga untuk mereka. Bacalah buku ini,  maka anda akan menemukan sesuatu yang sangat penting tapi sudah anda lupakan, atau diabaikan oleh kebanyakan orang-orang muslim.

"Dan Rasul (Muhammad) berkata: " Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan .” (QS. Al-Furqan: 30)

Daftar Isi_____5
Pengantar Penerbit______9
Kata Pengantar:
Syekh Dr. Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrin _____11
Kata Pengantar Penerjemah _____15
Kaidah ke-1: Ikhlas dasar segala perbuatan___19
Kaidah ke-2: Mengikuti petunjuk nabi bukan 
berinovasi_____31
Kaidah ke-3: Peruqyah adalah panutan_____47
Kaidah ke-4: Ruqyah itu dakwah sebelum menjadi 
obat_____55
Kaidah ke-5: Menata kehidupan pasien_____61
Kaidah ke-6: Tanamkan kepercayaan pada pasien 
anda_____77
Kaidah ke-7: Hari esok ditangan Allah jangan engkau 
pikirkan_____87
Kaidah ke-8: Jangan menyebabkan pasien bingung pada 
saat diagnosa_____97
Kaidah ke-9: Sebagian besar penyakit itu sumbernya waktu 
senggang_____107
Kaidah ke-10: Membesar-besarkan hal sepele membiarkan 
orang yang penyantun menjadi bingung_117
Kaidah ke-11: Ingat kematian yang membuat produktif 
bukan membuat takut_____127
Kaidah ke-12: Buat pasien anda selalu optimis_____137
Kaidah ke-13: Buat pasien anda merasakan nikmat Allah 
kepadanya_____145
Kaidah ke-14: Buat pasien anda hidup bersama 
penyakitnya_____153
Kaidah ke-15: Shalat itu sebagai bentuk rehat bagi tubuh yang 
lelah dan sebagai bentuk rehat bagi jiwa yang 
penat bekerja keras ____157
Kaidah ke-16: Niat yang lurus bukan pertanda baiknya 
sebuah amalan_____167
Kaidah ke-17: Ibrah itu berdasarkan kualitas bukan 
kuantitas_____179
Kaidah ke-18: Jaga agar setan tidak berbicara ketika 
meruqyah pasien anda___185
Kaidah ke-19: Wahai peruqyah jangan menunggu terima 
kasih dari siapa pun_____193
Kaidah ke-20: Berpikirlah dengan akal anda bukan akal 
orang lain dan bedakan antara fakta-fakta dan 
dugaan-dugaan ___201
Kaidah ke-21: Kebanyakan setan tidak menimbulkan 
penyakit fisik tapi memanfaatkan penyakit 
fisik yang sudah ada untuk 
menyakiti_____215
Kaidah ke-22: Gunakan firasat dalam pengobatan_____241
Kaidah ke-23: Beraneka ragamnya dalam pengobatan 
menjelaskan keaneka ragaman sebab-sebab 
kasusnya dan tata cara 
pengobatannya_____259
Kaidah ke-24: Al-Qur’an obat segala penyakit_____267
Kaidah ke-25: Bacaan Imajinatif bagian penting didalam 
membaca ruqyah____277
Kaidah ke-26: ‘Ain yang paling banyak menimpa manusia 
dan yang lainya pengecualian_____285
Kaidah ke-27: Kesembuhan hanya ditangan Allah _____335
Nasihat Terakhir______349
Penutup Penulis_____351
Ayat-ayat dan Doa-doa Ruqyah dan cara ruqyah 
mandiri______355
Apa itu membaca ruqyah dengan niat sembuh dan 
hidayah______356
Apa itu metode ruqyah dengan niat hidayah dan 
sembuh?____358
Lalu bagaimana kedua niat diatas bisa bermanfaat?_____359
Penjelasan Mengenai Penamaan Dan Pemilihan Ayat-Ayat 
Tertentu Dalam Al-Qur’an Untuk Pengobatan_____363
Ayat-Ayat Ruqyah Umum _____375
Ayat-Ayat Kehidupan _____397
Ayat-Ayat Melapangkan Dada______427
Ayat-Ayat Sakinah______433
Ayat-Ayat Keluar______441
Ayat-Ayat Syifaa_____461
Tata Cara Ruqyah Mandiri_____465
Cara Meruqyah Berbagai Macam Jenis Penyakit Kulit (Gatal-
gatal)_______475
Cara Meruqyah Sengatan Binatang Berbisa, Bisul dan 
`Ain_______487
Manfaat Dzikir-Dzikir Pagi Dan Petang Serta Zikir-Zikir 
Lainnya_____495
Waktu Dzikir Pagi dan Petang_____501
Memposisikan Dzikir-Dzikir Pagi dan Petang dan Dzikir-
Dzikir Lainnya Pada Tempatnya_____507
Dzikir Pagi_____511
Dzikir Petang_____525
Dzikir-Dzikir Sebelum Tidur Dan Adab Bangun Dari 
Tidur___537
Diantara Zikir Yang Paling Penting Bagi Pasien Gangguan Jin 
Yang Harus Di Jaga______565
Manfaat Mendoakan Orang Lain Tanpa Sepengetahuannya 
Bagi Seorang Peruqyah Dan Pasien______585
Ruqyah Musibah______593
Penutup Penerjemah_____611
REFERENSI______615

📙 *Spesifikasi Buku:*
Judul: KAIDAH-KAIDAH 
RUQYAH SYAR’IYYAH
DILENGKAPI PENJELASAN SETIAP KAIDAH 
DAN AYAT-AYATNYA
Ukuran: 17cm x 24cm
Penulis: Syaikh Abdullah Al Sadhan
Alih Bahasa & Pensyarah: Salahudin Sunan Al Sasaki
Dimensi : 15,5 x 23,3 cm
Hard Cover
Book paper
Berat 800 gr

Harga : Pre Order 200.000
INFO: HUBUNGI ADMIN PUSTAKA RUQYAH
09.16 | 16 komentar

Melatih Diri

Written By Rudianto on Senin, 21 Oktober 2019 | 13.33

*SEHAT ITU FITRAH,* sementara sakit itu “petaka” yang muncul tiba-tiba. Setiap manusia dilahirkan dengan fitrah ini. Jadi, riyadhah atau melatih diri hanya bisa dilakukan ketika kondisi sedang normal. Tak ada gunanya melatih diri yang sedang liar”. Binatang buas, bagaimanapun sudah dididik pada waktu kecil, setelah besar tetaplah buas. (Baca cerita berjudul “Siapa yang Memberitahu kalau Bapakmu Srigala”).
Dalam diri setiap manusia terpendam tiga potensi atau kekuatan: *nalar, nafsu dan amarah.* Orang yang diberi anugerah kemuliaan ilmu oleh Allah tentu berusaha untuk mengembangkan potensi nalarnya hingga ke titik sempurna. Sebab, potensi inilah yang menjadikan manusia lebih utama dalam pandangan Allah dibandingkan dengan binatang, sekaligus lebih
menyerupai malaikat.
Di samping itu, potensi ini juga menjadi pengendali bagi dua potensi lainnya, yakni *potensi nafsu dan potensi amarah.* Kedudukannya dalam diri manusia ibarat penunggang kuda. Karena itu, ia harus mampu mengendalikan kuda itu ke arah mana yang
ia inginkan. Bahkan, jika perlu, ia bisa memberinya pelajaran. Begitulah, potensi nalar mesti mengunggu potensi lainnya, menggunakan dan menahan sesuai kehendaknya. Inilah tipe manusia sejati, *manusia sebenar-benar manusia.*
*“Manusia sejati adalah manusia yang menjadikan potensi nalarnya sebagai potensi dominan.”* Artinya, jika potensi nafsu yang melampaui, berarti ia telah keluar dari watak kemanusiaannya, turun ke watak kebinatangan. Barang siapa melepas hawa nafsunya di padang gembala, lalu membuka kendalinya, berarti ia telah lepas dari jati dirinya, dus, lebih rendah kedudukannya dibanding binatang. Sebab, watak kebinatangan yang sejatinya ia lawan, malah dijadikan wataknya.
Demikian pula, apabila manusia dikuasai potensi amarah, ia akan menjadi hewan buas atau pemangsa yang kelaparan. Karena itu, *setiap manusia mesti melatih diri untuk memerangi potensi nafsu, menaklukkan potensi amarah, mengikuti potensi nalar, sehingga ia mendekati malaikat, terbebas dari perbudakan potensi nafsu maupun amarah*
Bersambung......
🌹🥀🌹🥀🌹🌹
📚 Thibur Ruhani
 Ibnu Jauzy
📮 ditulis/edit ulang dan publish by Abu Azka
13.33 | 0 komentar

Mengapa Perlu Terapi Dengan Al Qur'an?


Kehidupan yang kita lalui di rumah maupun di tempat kerja selalu berhadapan dengan masalah. Di rumah tangga kita harus memenuhi kebutuhan keluarga, anak, istri suami, setiap hari. Di tempat kerja kita harus memenuhi kewajiban dan target yang ditetapkan atasan. Hidup kita terus menerus didesak oleh tuntutan kebutuhan. Keadaan ini berlangsung siang dan malam tanpa henti, pikiran kita dipenuhi persoalan hidup, bila kurang waspada kita bisa lupa diri, lupa kepada Allah, lupa akan makna hidup, Akibatnya kita merasa tertekan, stres dan merasa dikejar-kejar.
Tekanan hidup menyebabkan kita lelah dan mudah sakit. Kehidupan manusia diliputi oleh berbagai macam penyakit. Penyakit di dalam diri berupa penyakit psikis (kejiwaan) dan penyakit fisik (raga), keduanya saling mempengaruhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80 % penyakit fisik diawali oleh gejala-gejala penyakit psikis, Penyakit psikis atau kejiwaan di satu keluarga berubah menjadi penyakit perilaku.
Penyakit ini akan menular kepada anggota keluarga yang lain. Akibatnya kehidupan berkeluarga menjadi
resah gelisah. Penyakit keluarga yang sangat meresahkan ini disebabkan oleh sifat amarah, dendam, cemburu berlebihan, pembohong, egois, masa bodoh dan lain- lain. Penyakit keluarga ini bila dibiarkan meningkat menjadi penyakit masyarakat. Penyakit-penyakit di kehidupan ini terus menghantui
kita. Zaman modern ini sangat berbeda bila dibandingkan masa lampau dimana tingkat kesibukan masih rendah.
Seorang petani di pedesaan memiliki waktu yang cukup untuk istirahat dan lingkungannyapun lebih tenang. Sedangkan orang yang hidup di perkotaan berhadapan dengan kesibukan tinggi dan tekanan hidup yang besar. Tekanan hidup merupakan salah satu sebab timbulnya penyakit. Dalam masyarakat modern sekarang ini kecenderungan pengobatan medis yang menggunakan bahan-bahan kimia sangat diandalkan padahal pengobatan medis ini banyak menimbulkan efek samping.
Selain dampak negatif dari efek samping pengobatan medis ada juga dampak positifnya dan banyak pula orang yang sembuh dari sakitnya melalui pengobatan medis ini. Efek samping pengobatan medis yang sering kali membahayakan kesehatan telah menumbuhkan minat  orang yang sedang sakit untuk mencoba pengobatan alternatif. Salah satu pengobatan alternatif adalah yang bersumber dari ajaran agama, khususnya agama Islam.
Karena itulah orang di perkotaan memerlukan obat stres, salah satunya yang bersumber dari agama.
Pembelajaran agama yang diperlukan adalah yang dirancang khusus tidak hanya sebagai pengetahuan tetapi juga berfungsi sebagai terapi untuk mengobati jiwa dan raga. Allah menurunkan Al Qur'an yang berfungsi untuk mengobati manusia secara menyeluruh.
(وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَاۤءࣱ وَرَحۡمَةࣱ لِّلۡمُؤۡمِنِینَ وَلَا یَزِیدُ ٱلظَّـٰلِمِینَ إِلَّا خَسَارࣰا)
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian."
[Surat Al-Isra' 82]
Sebagian besar pelajaran Al Qur'an yang diberikan kepada masyarakat saat ini dalam rangka memahami tulisan Arab, diterjemahkan, ditafsirkan atau sekedar untuk bacaan. Pembelajaran seperti ini diperlukan dalam rangka menambah pengetahuan. Sebenarnya Al Qur'an tidak hanya sekedar pengetahuan tetapi ada tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu berfungsi sebagai obat kehidupan dan obat berbagai macam penyakit. Untuk mencapai tingkat ini perlu peningkatan proses pembelajarannya.

Ramai saat ini kita menyebutnya Proses Terapi Qur'ani. Istilah Terapi Qur'ani memiliki arti dan makna sebagai berikut :
Terapi adalah melakukan sesuatu secara teratur, terprogram dengan baik dan berulang-ulang untuk
tujuan memperbaiki diri agar menjadi lebih sehat dan memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Terapi Qur'ani adalah melakukan pembelajaran Al Qur'an secara khusus, teratur, terprogram dengan baik untuk tujuan memperbaiki diri pribadi menjadi lebih sehat dan lebih baik secara fisik maupun mental, yang selanjutnya akan berdampak lebih baik bagi keluarga dan masyarakat.
Proses Terapi Qur'ani ini akan bermanfaat bila orang yang menjalani nya memiliki keimanan dan
kesadaran di dalam dirinya. Kesadaran ini menjadi modal utama dalam proses penyembuhan.
📮 Abu Azka
13.22 | 0 komentar

APAKAH BELIAU ﷺ MELAKUKAN SEBAB-SEBAB UNTUK MENGHINDARI MARABAHAYA?

Written By Rudianto on Sabtu, 12 Oktober 2019 | 23.50

Jawabannya adalah : Ya, jika beliau bertanya keluar untuk berperang, maka beliau memakai baju perang agar terjaga dari lemparan panah. Pada perang uhud, beliau berperang dengan menggunakan 2 lapis baju perang, yaitu memakai 2 lapis baju perang. Semua ini merupakan persiapan terhadap segala sesuatu yang mungkin akan terjadi. Sehingga, melakukan sebab-sebab itu tidak menghilangkan tawakal jika seseorang itu meyakini bahwa ini hanya sekedar sebab saja dan sebab-sebab ini tidak akan memberikan pengaruh kecuali dengan izin Allah dan Aku katakan: "Inti perselisihan dalam masalah ini adalah hadits Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu Anhu . Dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
من اكتوى أو استرقى فقد برئ من التوگل
Barangsiapa yang melakukan kaiy (pengobatan dengan
menggunakan besi panas. pen) dan minta diruqyah, sungguh dia telah terlepas dari tawakal." (HR. Tirmidzi (2055), Ahmad 147249), Ibnu Majah (3489). Hadits ini hasan.
Maknanya adalah menghilangkan kesempurnaan tawakal bukan menghilangkan tawakal secara keseluruhan.
Berkata Al Allamah As Sindi: _"Ucapan beliau, "Sungguh dia terlepas dari tawakali_". yaitu tidak termasuk kesempurnaan tawakal jika mencari sebab-sebab yang jauh seperti ruqyah dan kaiy dan menggantungkan pada sebab-sebab ini menyebabkan orang tersebut termasuk orang yang tidak sempurna tawakalnya.
Dinukil dari catatan kaki Musnad Imam Ahmad (3/117) dengan tahqiq Syuaib.
*APAKAH RUQYAH SYAR'I ITU MASALAH TAUQIFIYYAH ATAU IJTIHADIYYAH ?*
Ketahuilah bahwa ruqyah yang syar'i memiliki 2 sisi, yaitu :
1. Sisi Tauqifiyyah
2. Sisi Ijtihadiyyah
Sisi tauqifiyyah maksudnya adalah mengamalkan ruqyah yang syar'i beserta syarat ketentuannya, dan tidak boleh melebihi apa-apa yang ditentukan oleh Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya serta tidak pula menyerupai para tukang sihir dan ahli nujum.
Adapun Sisi ijtihadiyyah maksudnya adalah bahwa seseorang menggunakan ruqyah dengan sesuatu yang tidak ada dalil syar'inya secara terperinci dan tidak pula bertentangan dengan ketentuan yang telah disebutkan.
📚كتاب أحكام التعامل مع الجن وأداب الرقى الشرعية
للشيخ محمد بن عبد الله الإمام
✍️ Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al Iman
📚PUSTAKA RUQYAH
Ditulis dan di post kembali :
📮Rudi Abu Azka
23.50 | 0 komentar

HAKIKAT MUSIBAH DAN JENISNYA


Syeikh Abdul Qodir Jailani رضى الله عنه mengatakan :
"Musibah dari Allah adakalanya merupakan hukuman dan siksaan atas dosa dan maksiat. Bisa juga musibah merupakan penghapus dosa dan pengampunan.
Adakalanya musibah merupakan pengangkatan derajat dan kedudukan, seperti dialami orang-orang yang telah mendapat pertolongan Allah. Musibah yang mereka terima bukanlah untuk menghancurkan dan menghinakan mereka, melainkan untuk menguji dan memilih mereka. Musibah membersihkan hati mereka dari syirik serta kebergantungan pada makhluk dan sebab-akibat.
Setiap jenis musibah memiliki ciri masing-masing.
1. Musibah yang merupakan siksaan ditandai dengan ketidaksabaran dan keluhan kepada Allah saat musibah itu datang.
2. Musibah yang merupakan pengampunan dosa dan kesalahan ditandai dengan kesabaran penuh.
3. Terakhir, musibah yang merupakan pengangkatan derajat ditandai dengan keredhaan, ketenangan dan ketenteraman terhadap perbuatan Tuhan di bumi dan langit."
23.47 | 0 komentar

Diantara Salah Satu Obat Syar'i Mengobati Hati adalah Terapi Al-Qur'an Al-Karim

Written By Rudianto on Sabtu, 28 September 2019 | 13.33

*Diantara Salah Satu Obat Syar'i Mengobati Hati adalah Terapi Al-Qur'an Al-Karim*
Allah Ta'ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰ نِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَا رًا
wa nunazzilu minal-qur`aani maa huwa syifaaa`uw wa rohmatul lil-mu`miniina wa laa yaziiduzh-zhoolimiina illaa khosaaroo
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 82)
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Asy-Sya'rawi -semoga Allah  Ta'ala merahmatinya berkata:
Ayat ini memberikan kepada kita dua tipe orang yang menerima Al-Qur'an. Jika diterima oleh orang Mukmin, Al-Qur'an menjadi obat dan rahmat baginya. Dan jika diterima oleh orang zhalim, Al-Qur'an menjadi kerugian baginya. Al-Qur'an menyebut orang-orang zhalim secara spesifik untuk menjelaskan bahwa kezaliman merekalah yang menyebabkan mereka tidak bisa mengambil manfaat dari Al-Qur'an. Sebab, esensi Al-Qur'an itu kebaikan, bukan kerugian.
Sebelumnya, pernah kita jelaskan bahwa perbuatan itu kadang sama, tetapi orang yang menerima perbuatan itu berbeda-beda, dan pengaruhnya, berbeda-beda dari satu orang ke orang yang lain.
Air putih misalnya. Jika diminum oleh orang sehat, maka dia akan mendapatkan kenikmatan dan kesegaran padanya. Tetapi jika diminum oleh orang sakit, maka dia akan mendapatinya pahit dan berlendir. Airnya sama, tetapi reaksi orang terhadap air itu berbeda-beda. Begitu juga lemak. Jika dimakan oleh orang sehat, maka akan bermanfaat baginya dan menambah kekuatan
serta kebugarannya. Tetapi jika dimakan oleh orang sakit, maka akan memperparah sakitnya dan mendatangkan padanya penyakit baru disamping penyakitnya yang lama.
Sebelumnya pernah kita jelaskan, dalam kisah masuk Islamnya Umaral-Faruq r.a., bahwa ketika menerima al-Qur'an dengan ruh kekufuran dan pembangkangan, dia membenci dan berpaling darinya. Tetapi ketika
dia menerimanya dengan ruh cinta, belas kasih, dan kelembutan kepada adik perempuan yang telah dilukai pada wajahnya, dia merasa kagum dan akhirnya beriman.
Jadi, kebersihan tabiat dan kerusakannya memiliki peran dalam menentukan bagaimana manusia menerima al-Qur'an dan terpengaruh olehnya. Alangkah serupanya masalah ini dengan masalah optimisme
dan pesimisme. Jika di hadapanmu ada sebuah gelas yang berisi air setengah, maka orang yang optimis akan mengarahkan pandangannya pada separuh yang terisi, sementara orang yang pesimis akan mengarahkan pandangannya pada separuh yang kosong. Keduanya benar, tetapi tabiat keduanya berbeda.
Al-Qur'an telah membahas masalah bagaimana manusia menerima al-Qur'an ini dalam firman Allah Ta'ala ,
وَاِ ذَا مَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَا دَتْهُ هٰذِهٖۤ اِيْمَا نًا  ۚ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
wa izaa maaa unzilat suurotun fa min-hum may yaquulu ayyukum zaadat-hu haazihiii iimaanaa, fa ammallaziina aamanuu fa zaadat-hum iimaanaw wa hum yastabsyiruun
"Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka (orang-orang munafik ada yang berkata, Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 124)
Allah Ta'ala berfirman:
وَاَ مَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَا دَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَا تُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ
wa ammallaziina fii quluubihim marodhun fa zaadat-hum rijsan ilaa rijsihim wa maatuu wa hum kaafiruun
"Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surat itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 125)
Ayatnya sama, tetapi tabiat penerimanya berbeda-beda. Orang mukmin menerimanya dengan tabiat yang bersih, sehingga keimanannya bertambah karenanya. Dan orang kafir menerimanya dengan tabiat yang rusak, sehingga kekufurannya bertambah karenanya. Jadi, problem yang timbul dalam menerima kebenaran terletak pada kemampuan menerima yang rusak.
Dari sini kita katakan: Jika engkau melihat kepada kebenaran, makajanganlah sekali-kali engkau melihatnya, sedangkan dalam jiwamu terdapat kebatilan yang engkau pegangi. Engkau harus mengeluarkan kebatilan yang ada padamu terlebih dahulu. Kemudian bandingkan dan timbanglah perkara-perkara yang ada.
Masalah ini juga muncul dalam firman Allah Ta'ala :
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَ ۚ حَتّٰۤى اِذَا خَرَجُوْا مِنْ عِنْدِكَ قَا لُوْا لِلَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مَا ذَا قَا لَ اٰنِفًا ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَ اتَّبَعُوْۤا اَهْوَآءَهُمْ
wa min-hum may yastami'u ilaiik, hattaaa izaa khorojuu min 'indika qooluu lillaziina uutul-'ilma maazaa qoola aanifaa, ulaaa`ikallaziina thoba'allohu 'alaa quluubihim wattaba'uuu ahwaaa`ahum
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sahabat Nabi), Apakah yang dikatakannya tadi? Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah, dan mengikuti keinginannya."
(QS. Muhammad 47: Ayat 16)
Allah Ta'ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَا دَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰٮهُمْ تَقْوٰٮهُمْ
wallaziinahtadau zaadahum hudaw wa aataahum taqwaahum
"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka."
(QS. Muhammad 47: Ayat 17)
Perkataan mereka, "Apa yang dikatakannya tadi?” menunjukkan bahwa mereka tidak memerhatikan al-Qur'an dan menganggapnya sebagai sesuatu
yang tidak penting.
Begitu pula dalam firman Allah Ta'ala:
وَلَوْ جَعَلْنٰهُ قُرْاٰ نًا اَعْجَمِيًّا لَّقَا لُوْا لَوْلَا فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ ۗ ءَاَعْجَمِيٌّ وَّعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَشِفَآءٌ ۗ وَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْۤ اٰذَا نِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۗ اُولٰٓئِكَ يُنَا دَوْنَ مِنْ مَّكَا نٍۢ بَعِيْدٍ
walau ja'alnaahu qur`aanan a'jamiyyal laqooluu lau laa fushshilat aayaatuh, a a'jamiyyuw wa 'arobiyy, qul huwa lillaziina aamanuu hudaw wa syifaaa`, wallaziina laa yu`minuuna fiii aazaanihim waqruw wa huwa 'alaihim 'amaa, ulaaa`ika yunaadauna mim makaanim ba'iid
"Dan sekiranya Al-Qur'an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut (Al-Qur'an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (Rasul), orang Arab? Katakanlah, Al-Qur'an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur'an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh."
(QS. Fussilat 41: Ayat 44)
Contoh bagus tidaknya penerimaan dari kehidupan kontemporer kita adalah siaran televisi. Kadang engkau menerimanya di rumahmu dan mendapatinya sangat jelas dalam serial atau acara tertentu, sehingga engkau menikmati apa yang engkau saksikan. Kemudian engkau bertemu dengan seorang sahabat, dan dia mengeluh kepadamu tentang buruknya siaran dan tidak jelasnya gambar. Ini menegaskan bagimu bahwa siaran sebenarnya bagus, hanya saja kerusakan terletak pada alat penerima yang dimilikinya. Maka yang pertama kali harus engkau lakukan adalah memperbaiki alat penerima yang engkau miliki, agar engkau dapat menerima ayat-ayat Allah dengan benar.
Jadi, firman Allah Ta'ala,  "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman," tergantung pada kebersihan tabiat dan bagusnya penerimaan dan pemahaman terhadap firman Allah Ta'ala.
"Obat," artinya: engkau mengobati penyakit yang ada agar sembuh darinya. "Dan rahmat," artinya: engkau membuat sarana-sarana perlindungan yang menjamin agar penyakit itu tidak kembali lagi kepadamu.
Jadi, rahmat itu perlindungan dan obat itu kesembuhan.
Tetapi, apakah obat Al-Qur'an itu obat moril bagi penyakit
hati dan gangguan-gangguan jiwa, untuk membebaskan seorang dari kesedihan, duka cita, dan cemburu, serta mencabut rasa iri, dengki, dan penyakit-penyakit spiritual lainnya yang ada dalam jiwanya? Ataukah ia juga merupakan obat bagi perkara-perkara materiil dan penyakit-penyakit tubuh?
Pendapat yang kuat-bahkan terbukti kebenarannya-yang tidak ada keraguan di dalamnya: Al-Qur'an adalah obat dengan pengertian yang umum dan komprehensif bagi kata ini. Ia adalah obat bagi perkara-perkara materiil, sebagaimana ia adalah obat bagi perkara-perkara moril.
Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ra bahwa dia keluar memimpin sebuah pasukan. Mereka melewati suatu kaum dan meminta makanan kepada kaum itu, tapi kaum itu menolak untuk
memberikan makanan kepada mereka. Kebetulan pemimpin kaum itu tersengat binatang, dan mereka membutuhkan orang yang bisa meruqyah-
nya. Mereka pun meminta siapa saja yang bisa mengobatinya. Para sahabat berkata, "Kami tidak mau meruqyah kecuali dengan upah." Yang demikian
itu karena para sahabat melihat kebakhilan mereka dan keengganan mereka untuk menghormati para sahabat. Sesuai dengan firman Allah Ta'ala,
فَا نْطَلَقَا ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَتَيَاۤ اَهْلَ قَرْيَةِ ٭ِ سْتَطْعَمَاۤ اَهْلَهَا فَاَ بَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَا رًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّـنْقَضَّ فَاَ قَا مَهٗ ۗ قَا لَ لَوْ شِئْتَ لَـتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا
fantholaqoo, hattaaa izaaa atayaaa ahla qoryatinistath'amaaa ahlahaa fa abau ay yudhoyyifuuhumaa fa wajadaa fiihaa jidaaroy yuriidu ay yangqodhdho fa aqoomah, qoola lau syi`ta lattakhozta 'alaihi ajroo
"Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 77)
Ketika mereka telah bersepakat dengan kaum itu atas upah berupa makanan dan kambing, seorang dari mereka meruqyah orang yang tersengat
itu dengan surat Al-Fatihah, hingga dia sembuh. Mereka pun memakan makanan dan meninggalkan kambing. Hingga mereka kembali kepada Rasulullah Saw. dan bertanya tentang kehalalan upah ini. Beliau pun bersabda,
ومن أدراك أنها رقية ؟
“Siapa yang memberi tahu engkau bahwa itu ruqyah?” Artinya: Surat Al-Fâtihah itu ruqyah yang bisa digunakan untuk meruqyah orang sakit, hingga dia sembuh dengan izin Allah. Kemudian beliau bersabda,
"Makanlah upah itu dan berilah aku bagian bersama kalian" (Diriwayatkan oleh Ahmad (III/43) dan Al-Bukhari (5736) dari Abu Said Al-Khudri)
Sembuhnya penyakit-penyakit badan (dengan Al-Qur'an) adalah sesuatu yang disebutkan dalam As-Sunnah. Dan ini bukanlah sesuatu mengherankan. Sebab, ketika engkau membaca kalamullah, maka ketahuila
bahwa yang mengucapkan kalam ini adalah Allah Ta'ala.
Dia adalah Pengatur dan Pemilik segala sesuatu. Dia melakukan apa saja di semesta sesuai kehendak-Nya. Dan dengan kata kun (jadilah), Dia melakukan apa saja yang diinginkan-Nya. Tidaklah mengherankan jika kalamullah (al-Qur'an) memberikan pengaruh pada orang sakit, hingga dia sembuh.
Ketika seorang penentang memperdebatkan masalah ini dengan seorang ulama, dia berkata kepada sang ulama, "Bagaimana mungkin orang sakit disembuhkan dengan kata-kata? Ini tidak masuk akal." Sang ulama berkata kepada penentangnya, “Diam kau, keledai!" Orang itu pun marah. Dia bertekad untuk meninggalkan tempat dengan amarah yang memuncak.
Sang ulama pun melihat kepadanya dan berkata, "Lihatlah bagaimana kata-kata berpengaruh padamu. Bagaimana menurutmu dengan kata-kata yang pengucapnya adalah Allah Ta'ala ?"
Kemudian Allah Ta'ala  berfirman, "Dan itu tidak menambah orang-orang yang zhalim selain kerugian." (QS: Al-Isra' [17]: 82).
Sebab, dengan kezhaliman mereka dan penerimaan mereka terhadap anugerah-anugerah langit dengan tabiat-tabiat yang sakit dan perangkat-perangkat yang kacau balau, mereka tidak mengambil manfaat dari al-Qur'an dan memperoleh faedah dari rahmat Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰ نَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا ۙ
inna haazal-qur`aana yahdii lillatii hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu`miniinallaziina ya'maluunash-shoolihaati anna lahum ajrong kabiiroo
"Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,"
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 9)
Islahul Qulub
️Syeikh Mutawali Asy Sya'rawi
Rudi Abu Azka
Pustaka Ruqyah
13.33 | 0 komentar

Agar Sakit Menuai Pahala

Agar Sakit Menuai Pahala
Sakit merupakan qadla dan qadar Allah yang diturunkan kepada mukmin dan juga kepada kafir. Sebab semua kejadian telah diatur oleh Allah pada zaman azali, zaman dimana waktu belum berjalan. Bagi seorang muslim sakit merupakan rahmat bukan siksa.
Sebagaimana difahami dari firman Alah ﷻ:
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَا بِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰ مَنْتُمْ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ شَا كِرًا عَلِيْمًا
maa yaf'alullohu bi'azaabikum in syakartum wa aamantum, wa kaanallohu syaakiron 'aliimaa
"Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 147)
Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengenal Allah dan hikmahNya, meskipun demikian Allah tetap menyayanginya karena itu semua disebabkan ketidaktahuan, kelemahan dan kekurangannya.
Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah.
Rasulullah ﷺ  bersabda, "Sesungguhnya Allah ta'ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan." (HR. Tirmidzi). Dalam riwayat lain disebutkan, “ Penyakit merupakan cambuk Allah di bumi ini, dengannya Dia mendidik hamba-hamba-Nya."
Bagi Penderita, wajib bersabar dan ikhlas terhadap cobaan (sakit) yang menimpanya, sedang bersabar (dari cobaan itu akan diberi pahala dan mendapatkan kebaikan di sisi Allah. Bagi keluarga, kerabat, dan orang lain disyariatkan menjenguk setiap orang sakit.
Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabiﷺ Bersabda : “ Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendo'akannya ketika bersin."
Terdapat keutamaan kesabaran bagi keluarga dan kerabat si sakit dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya, yang tidak kalah besar pahalanya. Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas suaminya. Namun yang lebih wajib lagi ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua
orang tuanya. Sebab hak mereka adalah sesudah hak Allahﷻ, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh risalah Ilahi. Karena itu Allah menyifati Nabi Yahya a.s. dengan firman-Nya:
وَّبَرًّا بِۢوَا لِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّا رًا عَصِيًّا
wa barrom biwaalidaihi wa lam yakun jabbaaron 'ashiyyaa
"dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka."
(QS. Maryam 19: Ayat 14)
Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia lebih berhak memelihara dan merawat kedua orang tuanya, dan lebih mampu melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya rasa kasih dan sayang yang melimpah, yang tidak dapat ditandingi oleh anak laki-laki. Al-Qur'an sendiri menjadikan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua ini dalam urutan setelah mentauhidkan Allahﷻ, sebagaimana difirmankan-Nya:
وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا ۗ وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرَا ۙ 
wa'budulloha wa laa tusyrikuu bihii syai`aw wa bil-waalidaini ihsaanaw wa bizil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wal-jaari zil-qurbaa wal-jaaril-junubi wash-shoohibi bil-jambi wabnis-sabiili wa maa malakat aimaanukum, innalloha laa yuhibbu mang kaana mukhtaalan fakhuuroo
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 36)
Allah ﷻ  berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
wa qodhoo robbuka allaa ta'buduuu illaaa iyyaahu wa bil-waalidaini ihsaanaa, immaa yablughonna 'indakal-kibaro ahaduhumaaa au kilaahumaa fa laa taqul lahumaaa uffiw wa laa tan-har-humaa wa qul lahumaa qoulang kariimaa
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 23)
Ungkapan Al-Qur'an "sampai ke usia lanjut dalam pemeliharaanmu" menunjukkan bahwa si anak bertanggung jawab atas kedua orang tuanya,
dan mereka telah menjadi tanggungannya. Sedangkan bersabar terhadap keduanya (ketika kondisi mereka telah lemah atau tua) merupakan pintu yang paling luas yang mengantarkannya ke surga dan ampunan.
13.22 | 0 komentar

Gangguan Jin Dalam Dunia GAME

Written By Rudianto on Senin, 23 September 2019 | 10.07

Gangguan Jin Dalam Dunia GAME
(Kajian Ruqyah Syar'iyyah Tematik)
Oleh :Ustadz Arifuddin S. AG. M. Pd. I

Seorang anak 13 tahun cu China tewas lompat dari gedung lantai 4 akibat kecanduan game PUBG. Sekitar 3 tahun yang lalu penulis ditelepon seorang ibu dari Sidoarjo, yang mengkonsultasikan putranya, seorang mahasiswa, yang kecanduan game dalam kondisi berhari-hari tidak mandi, begadang malam, tidak shalat, dan menjadi pemarah karena maniak gamenya.

Sang ibu menuturkan bahwa .. dirinya sampai dipukul beberapa kali oleh putranya tersebut setiap ia minta agar berhenti main game. Jauh di tahun 2010 ada seorang mahasiswa yang diterapi ruqyah dalam keadaan kesurupan sementara jin tidak mau keluar dari tubuhnya jika game yang dimiliki anak tersebut tidak dihapus. Penulis menyaksikan kejadian tersebut dengan game yang saat itu ada di HP-nva denqan jenis game yang sangat sederhana. Sehingga wajar jika mengikuti parahnya pengaruh game saat ini yang mengakibatkan banyaknya jatuh korban jiwa, maka WHO secara resmi menetapkan kecanduan game sebagai Gangguan mental.

Paparan di atas hanya contoh sebagian kecil kasus terkait gangguan game, sedangkan fakta yang sesungguhnya jauh lebih banyak dan parah. Penulis pernah membahas tema ini dalam kajian Ramadhan kemarin dengan pembahasan yang jauh lebih lengkap dan dengan pendekatan yang integratif termasuk dari sudut medis kedokterannya.

Dalam kesempatan kali ini, kajian akan lebih spesialis dari sisi pendekatan ilmu ruqyah dengan analisis yang mengungkap hakekat fenomena gangguan game tersebut.

Di antara pengaruh buruk game dilihat dari sisi agama adalah sebagai berikut:

1. Gambaran buruknya seorang mukmin karena tidak dapat meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

”Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (H R. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh AI-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

2. Pelaku game akan diancam dengan hisab hartanya (uang yang ia gunakan untuk main game; biaya internet), waktunya, umurnya yang ia habiskan, tubuhnya saat ia main game, dll. Sebagaimana hadis berikut ini :
”Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah menanyakan tentang (4 perkara:) (Pertama,) tentang umurnya dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek/ lelahnya untuk apa.” (HR Tirmidzi, dan ia berkata hasan shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albanl.

3. Pelaku gamejuga akan berpotensi mendapatkan laknat dari Allah Ta'ala sebagaimana hadist berikut ini:
Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang 'alim atau penun tut ilmu syar'i.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam ShohihulJami,’ Syaikh AI Albani mengatakan hadis ini hasan)

Pelaku game juga akan terancam sejumlah dampak buruk berikut ini:

A. Gangguan pada otak:

1. Penurunan konsentrasi belajar.
2. Memicu autisme.
3. Mengganggu fungsi daya ingat
4. Atrofl/ penyusutan otak.
5. Kelainan neurotransmitter dopamine.
6. Kelainan respon otak.
7. Memicu halusinasi.
8. Gangguan sirkulasi seperti pusing kepala, migrain atau vertigo.

B. Gangguan pada psikologis:
1. Kelainan perilaku atau perubahan sikap diri.
2. Mudah cemas, dan frustasi.
3. Sulit diatur.
4. Kesulitan mengontron emoso.
5. Insomnia.
6. Anak cenderung agresif dan bahkan agitatif.
7. Sering berbohong dan pintar memanipulasi keadaan.
8. Kesulitan dalam bersosialisasi.
9. Tidak mampu menjalankan kewajibannya dengan baik seperti sekolah, kuliah, atau bekerja.
10. Kesulitan menilai realitas atau berpikir sehat.
11. Sulit mengambil keputusansering mengalami disorientasi

C. Gangguan organ dalam:
Masalah pencernaan urutan teratas pada kasus kecanduan game karena menunda makan atau makan tidak teratur dan menu yang tidak sehat, gangguan pencernaan seperti: maag, gastroentritis, tukak lambung, GERD, luka pada usus, hingga wasir/ ambeien. Masalah pada otak, radiasi yang diterima dari mata yang sampai di otak akan mempengaruhi sistem neurotransmitter sehingga akan mempengaruhi fungsi hormon, fungsi saraf, dan lain lain.

D. Gangguan HIPOKAMPUS/Tempat memori jangka panjang:

1. Akan tetapi, hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Molecular Psychiatry ini justru mengungkap hal sebaliknya. Sebanyak 85 persen orang yang main game action selama 6 Jam Iebih setiap minggu memiliki bagian abu-abu (grey matter) yang lebih sedikit pada bagian hipokampus, dibandingkan yang jarang main game.
2. Hipokampus adalah bagian otak yang menjadi pusat belajar, penyimpanan, dan pengolahan memori jangka panjang. Apabila keseluruhan hipokampus rusak, atau bahkan hanya sebagian saja, maka Anda dapat mengalami masalah memori yang serius.
3. Akan mengalami gangguan lain di otak seperti temporal Iobe, occipital lobe, parietal lobe, gangguan motorik, dll.

Adapun karakteristik gangguan jinnya sebagai berikut:

1. Jin yang masuk berdasarkan jenis game.
2. Bentuk jin sesuai dengan tokohtokoh dan pemain yang ada di game.
3. Cara kerja jin dengan bentuk gangguannya seperti gambaran model dan bentuk game, seperti pubg; kekerasan, sadis, mudah marah, menghilangkan rasa takut, mati rasa, keinginan membunuh, dll.
4. Jumlah Jin sebanyak para pemain dan tokoh yang ada di game.
5. Adanya jin dalam bentuk alur game dan model game.
6. Jin berada pada semua bagian tubuh yang terkait saat main game.
7. Bisa berkerja sama dengan jenis gangguan jin yang lain; nasab, ritual, jin imajinatif dari musik atau hlm, bacaan novel... dll.

Penyembuhan dan terapi:

1. Dilakukan dengan kelembutan, hindari kata kasar dan menyalahkan.
2. Penterapi harus bersih dan taat. lembut dan penyayang.
3. Siapkan terlebih dahulu pecandu game dengan pencera han haknya Allah Ta'ala secara bertahap, pelan, dan signifikan.
4. Jika sudah siap, perlahan-Iahan terapi dilakukan dengan tahap; pengeluaran ga ngguan yang ringan-ringan.
5. Sering kali gangguan game diikuti dengan jenis gangguan lain seperti maniak musik dan film serta novel/ komik.

Tahapan pengeluaran gangguan:

1. Keluarkan gangguan yang ringan untuk memberi peluang berpikir dan merasakan dampak terapi. sebelum dan sesudah terapi.

2. Lakukan pada tahap selanjutnya mengeluarkan Sisa gangguan dengan selalu mengukur kemampuan kesiapan pecandi untuk diterapi.

3. Lakukan terapi hingga semua gangguan hilang.

4. Terapi tidak akan sukses jika game tidak dihapus. Hanya tahap ini paling rawan, karena itu harus bisa menetapkan waktu yang tepat untuk menghapusnya.

5. Tahap selanjutnya mengeluarkan jenis gangguan yang lain yang terkait seperti musik, hlm, dll.

6. Pengeluaran bisa dilakukan oleh peruqyah dan bisa juga dengan ruqyah mandiri. (khusus ruqyah mandiri untuk gangguan game akan ada sendiri pembahasannya)

7. Jika pecandu secara mental telah siap diterapi dan dapat hidayah tobat, terapi bisa langsung pada tahap eksekusi secara signifikan, dosis tinggi.

8. Terapi akan baik jika dilakukan dengan bantuan tangan yang harus menyentuh titik-titik sembunyi jin.

9. Jika kondisi pecandu sudah parah dan lemah fisik, bisa dipadu dengan pendekatan medis atau terapi gabungan.

10. Jika pecandu sudah parah hanya secara fisik masih kuat, maka terapi akan baik dengan tindakan fisik eksternal dan internal tubuh.

11. Jin bisa dikeluarkan dari yang paling membahayakan jika memungkinkan dan tepat waktunya.

12. Pengentasan dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang baik/ produktifjuga akan mempercepat penyembuhan.

13.Terapi dilakukan hingga tuntas, dengan tanda tidak lagi ada ketertarikan dengan game sama sekali atau lemah.

Perlu pembaca pahami bahwa pembahasan gangguan game di atas mengacu pada anak yang belum dewasa (pelajar dari tingkat SMA/ALIYAH hingga Playgroup atau mungkin di bawahnya). Pembahasan akan sedikit ada tambahan jika pelaku game adalah orang dewasa seperti mahasiswa atau seorang bapak atau mungkin seorang ibu. Peran-peran yang mereka miliki dalam keluarga akan berpengaruh pada sistem yang terkait dengan perannya dalam keluarga. Seperti jika pelaku game adalah seorang bapak maka peran dirinya sebagai bapak akan berpengaruh buruk pada anak-anaknya dan juga istrinya. Ditambah jika dikaitkan dengan pekerjaan dan lingkungan sosialnya, sehingga membutuhkan tambahan pembahasan yang lebih khusus.

Semoga Allah Ta'ala menjaga diri kita dan keluarga dari fitnah game dan dampak buruknya. Wallahu a'lam bish-showab. [*]

📚Sumber : Majalah Al Umm edisi 10
📮Diedit ulang dan publish oleh Rudi Abu Azka

10.07 | 0 komentar

INDIKATOR KESEMBUHAN

Written By Rudianto on Jumat, 11 Januari 2019 | 13.09

Banyak orang mengira, bahwa jika sudah muntah. Atau jika sudah sadar dari kesurupan. Atau tidak ada lagi reaksi setelah diruqyah maka ia menyatakan dirinya sembuh. Saudaraku, mari simak artikel ini. Semoga ia jadi jalan hidayah dan turunnya taufiq kedalam ruangan Qolbu kita.

Setidaknya ada 5 hal dalam diri dan kehidupan kita, yang bisa kita analisa dan rasakan sendiri terkait status sembuh atau tidaknya. Kondisi fisik/biologis tubuh kita hanyalah salah-satunya saja.

1. Kondisi Qolbu.
- Takut dan bertambah iman.
Munculnya rasa takut yang menyelimuti isi hati, ketika melanggar aturan Allah. Biasanya lurus-lurus saja.
- Tenang, lapang, semangat, bahagia.
Turunnya ketenangan, kelapangan, kebahagiaan dan semangat yang menyeruak. Biasanya sepi dan gelisah, penuh gejolak dan penuh kemarahan serta kebencian.
- Lembut.
Al Quran hanya akan masuk dan menggetarkan qolbu yang lembut. Maka, melemahnya nafsu terhadap dunia adalah modal terlahirnya semangat taqwa. Dan itu dimulai dari kelembutan hati.
- Sabar dalam masalah.
Mulai berfikir ulang ketika akan marah. Lebih senang mengalah. Dan teringat dosa ketika kena musibah
- Fitrah.
Kembalinya qolbu kedalam fittahnya yang kuat dan sehat.

2. Rezeki
- Lancar Rezeki (Jasmani
& Ruhani).
Rezeki jasmani meliputi makanan, minuman, kendaraan, rumah, harta benda, anak, ayah ibu, istri, saudara, keluarga, pekerjaan, bisnis, keuangan dan semua nikmat yang nampak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918)

Sedangkan rezeki ruhani adalah semua kemudahan dan kekuatan (taufiq) dalam beramal dan taat kepada Allah. Islam dan iman adalah rezeki ruhani terbesar bagi manusia.

- Mudah untuk tunduk dan ta’at, bersedekah dll.
Perubahan kondisi qolbu yang mudah/ringan untuk tunduk kepada Aturan dan hukum-hukum yang ditetapkan Allah.

Merasa ringan untuk bersedekah baik dalam keadaan sempit atau lapang. Tidak merasa rugi bahkan meyakini dengan pasti, bahwa setiap harta yang di infaqqan itu adalah sejatinya sedang dikirim ke akhirat. Tempat ia kembali.

- Qonaah/berkah (terasa cukup).
Merasa cukup dengan apa yang dimiliki hari ini, sederhana dalam rencana-rencana dunia. Dan mulai membangun masterplan untuk akhiratnya.

Memang ada sihir dalam bentuk blokade terhadap rezeki jasmani, dan disisi lain itu adalah ujian yg merupakan fitrah bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman;

‎وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [4]kekurangan harta, [5] jiwa, dan buah-buahan“. (QS. Al-Baqarah: 155).

Sihir yang blokade rezeki misalnya, membuat seseorang sakit saat mau berangkat kerja ke kantor. Maka ketika sihir itu hancur, blokade lepas bisnis berjalan sebagaimana perhitungan.

Sihir yang blokade dari jodoh (sebagaimana disampaikan sebelumnya, istri/pasangan adalah bagian dari harta atau kenikmatan jasmani). Ketika blokade lepas, maka rasa waswas ketika akan masuk ke jenjang akad nikah hilang.

3. Ibadah.
Mudah dan khusyuk untuk taat.
Mudah saat bangun malam, bangun subuh, bersedekah dll.
Adanya kekhusyukan dalam beribadah dan menghamba kepada Allah. Nafsu yang tunduk dan terkendali, muncul semangat dan ringan dalam ibadah.

Tidak berat lagi, tidak malas dan tergesa. Bahkan ingin berlama-lama..

4. Kondisi Jasad.
- Ringan.
Berkurang atau bahkan Hilangnya ikatan yang selama ini membelenggu leher, belikat, jantung/dada atau bagian organ tubuh lain.

- Respon pada tubuh, sakit berkurang.
Berkurangnya rasa sakit, mulai aktifnya syaraf sensorik dan motorik yg mrnggerakkan tubuh. Atau berfungsinya kembali komunikasi jiwa - akal - fikiran - syaraf dan otot tubuh sesuai fitrahnya.

- Tubuh Kuat (tidak lemas), - Pandangan jelas.
Ada beberapa kondisi habis diruqyah itu lemas, lemah dan pusing. Jika kondisi itu terus menerus terjadi, hal ini menandakan pengaruh sihir yg belum sirna.

- Peredaran darah lancar.
Darah kembali sehat dan lancar sirkulasinya. Tidak ada sumbatan, penggumpalan ataupun kadar yg tidak normal.

- Pandangan jelas, dll
Hilangnya warna hitam pada kelopak mata, lelah, suram pada mata. Pandangan jelas dan tajam. Kadang yang memiliki mata minus atau silinder berkurang atau membaik lebih dari 50% bahkan sampai lepas kacamata.

5. Kondisi Kesehatan.
- Ada perubahan positif yang signifikan.

- Berkurangnya rasa sakit atau sakit berpindah atau hilang.
Seseorang yang sakit jantung, lalu diruqyah dan kemudian hilang sakit jantungya dan lalu pusing pada kepalanya. Maka, hal ini blm bisa dinyatakan sembuh. Namun, sudah ada perubahan yang perlu disyukuri dan ini menandai terjadinya keguncangan pada project syaitan dalam tubuh dirinya.

- Indikator kesembuhan penyakit lebih dari 60%.
Merasakan lebih baik lebih dari 51% dari semua kondisi sudah bisa dikatakan sembuh atau menuju kesembuhan.

Sejatinya, sakit pada permukaan tubuh yang nampak adalah alarm yang mengingatkan akal manusia tentang adanya kondisi kritis pada ruangan inti kehidupan yang disebut Qolbu.

Maka, mereka yang sehat akalnya tidak akan panik dan lalu sibuk dengan alarm yang bunyi dimana-mana. Namun ia mulai melihat, mrnganalisa, mempelajari, memetakan tanda-tanda yang ada untuk mengetahui sumber masalah dan melakukan pembetulan hingga alarm berhenti berbunyi.

Nafsu dalam diri kita menginginkan kesehatan tubuh untuk mengakomodir kebutuhannya agar hidup sampai waktu yang ditentukan, dan disisi lain, energi taqwa dalam diri kita mendorong tubuh untuk taat kepada Tuhannya untuk menjamin kehidupan yang kekal. Jika kebutuhan taqwa diabaikan maka nafsu menguasai akal, sehingga fitrah hati manusia yang kuat terkubur. Disana syaitan perlahan menguasai nafsu dan jasadlah korban utamanya.

Kehidupan ini kemudian dipenuhi kelelahan, keletihan dan kekecewaan. Penyesalan. Depresi. Bahkan gila dan ingin mengakhiri kehidupan sebelum takdir ajal tiba. Subhanallah

Apa yang harus dilakukan, saat Indikator kesembuhan belum mencapai 51% ?

Saudaraku, ujian Allah turunkan bukan untuk menghancurkan namun untuk menguji manusia agar ia menjadi manusia teruji. Menjadi hamba Allah seutuhnya. Seorang hamba akan terus diuji dengan berbagai musibah, kesedihan dan kesulitan hingga ia berjalan dimuka bumi ini tanpa dosa. Karena setiap musibah dan kesabaran didalamnya menggugurkan dosa manusia.

Ketika kita menyadari dosa dan kemaksiatan yang tak terhutung dimasa silam, maka selain bertaubat kita harus perbanyak amal untuk mempercepat berlalunya kesulitan.

Masalahnya, banyak muslima mengira bahwa shalat itu sudah cukup. Sebenarnya, ada 4 jenis ibadah yang harus kita lakukan secara utuh agar impactnya terasa secara signifikan dalam hidup kita.

Ibadah lisan, hati, fisik dan harta. Ibadah hati dengan niat-niat yang baik, ikhlas, sabar, istiqomah, tawadhu, khusyuk, memurnikan aqidah, mentauhidkan Allah dll.

Ibadah lisan, dengan tilawah, wirid sunnah, berkata baik atau menahan lisan dari keburukan, dakwah, nasihat atau bahkan menghibur saudara kita yang sedang sedih dll.

Ibadah fisik, berlelah-lelahan dalam ibadah. Bekerja untuk nafkah bagi laki-laki. Membantu suami bagi istri. Mengurus anak. Mendidik anak. Berjihad. Berwudhu. Tawaf. Sa’i. Rukuk. Sujud. Dan semua gerak untuk Allah.

Ibadah harta; sedekah, infaq, wakaf. Dll

Ini semua ibadah yang akan menguatkan hati, menjadikan dorongan kebaikan (taqwa) lebih dominan dalam qolbu kita. Dan, tentu. Balasan kebaikan adalah kebaikan. Semua amal itu akan tumbuh dan berbuah, dan menjadi tunas kebaikan kemudian.

Semoga Allah mudahkan hati kita untuk menyerah kepada-Nya yang merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan rahmat dan kesembuhan dari Allah sebagai pemilik kesembuhan. Asy Syafi..

Nai


13.09 | 0 komentar

Manusia Yang Paling Besar Ketertipuannya

Written By Rudianto on Senin, 18 Desember 2017 | 23.05


🖊 *Manusia Yang Paling Besar Ketertipuannya*
════ ❁✿❁ ════

Manusia yang paling besar ketertipuannya adalah orang yang tertipu oleh dunia dan kesegeraannya, lalu dia mendahulukannya atas akhirat. Dia rela mendapatkan dunia (sekalipun) dengan mengorbankan akhirat. Hingga sebagian dari mereka berkata, _"(Kenikmatan) dunia itu tunai, sedangkan akhirat itu ditunda, padahal yang disegerakan itu lebih bermanfaat dibandingkan yang ditunda."_

Ini termasuk godaan dan rayuan setan yang paling besar. Binatang-binatang yang tidak berbicara itu lebih mengerti daripada orang-orang itu, karena sesungguhnya jika binatang takut pada bahaya dari sesuatu, maka dia tidak akan berani melakukannya, sekalipun ia dipukul, sementara sebagian dari orang-orang itu malah lancang melakukannya serampangan, sementara dia antara membenarkan dan mendustakan.

Manusia jenis ini, bila seseorang dari mereka beriman kepada Allah, RasulNya, dan pertemuan denganNya, serta balasan amal perbuatan, maka dia termasuk manusia paling menyesal, karena dia lancang melakukan sesuatu dalam keadaan berilmu, dan bila
dia tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, maka dia lebih jauh lagi (lancangnya).

Dalam hadits al-Mustaurid bin Syaddad Ra dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَاذَا يَرْجِعُ

Aku mendengar Mustaurid dari Bani Fihr, berkata: _Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia bagi akhirat itu tidak lain seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut lalu perhatikanlah apa yang dibawa kembali."_ (HR. Muslim no. 2858)

Bila manusia merenungkan keadaan dirinya sejak dia dalam wujud setetes air mani, hingga menjadi manusia utuh dan sempurna, niscaya dia akan mengetahui bahwa Allah Yang memeliharanya dengan pemeliharaan besar ini, memindahkannya dari satu keadaan ke keadaan berikutnya dan mengalihkan bentuknya melalui fase-fase tersebut, tidaklah pantas Dia membiarkan dan meninggalkannya sia-sia, tidak memerintahnya, tidak melarangnya, tidak mengenalkan kepadanya hak-hakNya, tidak memberinya pahala dan tidak pula memberinya hukuman.

Perbedaan antara berbaik sangka dengan tertipu sudah menjadi jelas, dan bahwa bila berbaik sangka mendorong untuk beramal (shalih), mengajak dan membawa kepadanya, maka ia shahih. Dan sebaliknya, bila ia menyebabkan kemalasan (dalam kebaikan) dan semangat dalam kemaksiatan, maka inilah ketertipuan (ghurur). Berbaik sangka adalah sebuah harapan (raja'). _Barangsiapa yang harapannya adalah pembimbing baginya kepada ketaatan dan pencegah baginya dari kemaksiatan, maka inilah harapan yang "shahih, namun barangsiapa yang kemalasannya adalah harapan, dan harapannya adalah kemalasan dan kelalaian, maka dia teperdaya._

*Rahasia masalah ini* adalah bahwa harapan dan berbaik sangka yang benar adalah terjadi dengan cara disertai melakukan sebab-sebab yang dituntut oleh hikmah Allah dalam syariat, takdir, pahala, dan kemuliaanNya, sehingga seorang hamba melakukan sebab-sebab tersebut lalu berbaik sangka kepada Tuhannya, berharap kepadaNya agar tidak membuatnya bersandar kepadanya, dan menjadikannya sebagal perantara kepada apa yang bermanfaat baginya dan menyisihkan apa yang menghalanginya dan menggagalkan pengaruhnya..

--------🌴🌴🌴--------

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “*
📚 Mukhtasar Ad Da'*wad Dawa'

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍🏻📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

23.05 | 0 komentar

OBATI DIRI ANDA DENGAN AL QUR'AN SAAT TIDUR

💊 *OBATI DIRI ANDA DENGAN AL QUR'AN SAAT TIDUR*😴

Di antara fakta-fakta yang telah kami bahas adalah tanda kebesaran Allah pada aktivitas tidur. Tidur merupakan tanda kebesaran Allah dan mukjizat yang menjadi saksi akan kebesaran Sang Pencipta dan keakuratan ciptaan'Nya. Para ilmuwan melakukan penelitian bertahun-tahun, mereka mengatakan bahwa tidur merupakan proses yang sangat kompleks untuk mempertahankan hidup. Tanpa tidur berarti tidak ada kehidupan.

Tetapi sebelum itu, kita harus menyadari bahwa tidur sangat penting untuk membangun manusia dan mengembangkan kecerdasannya. Banyak peneliti yang melakukan banyak penelitian terhadap aktivitas tidur. Mereka sepakat bahwa tidur merupakan aktivitas yang sangat kompleks. Semakin banyak pengetahuan mereka tentang tidur. maka mereka menyadari kebodohan mereka akan aktivitas yang kompleks ini.

Allah  memberitahu kepada manusia bahwa pengetahuan mereka sangat terbatas, sesuai dengan firman Allah:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ   ۗ  قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
wa yas`aluunaka 'anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-'ilmi illaa qoliilaa

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 85)

Orang yang tidur matanya terpejam dan tidak melihat apa apa. Indra peraba juga berhenti beraktivitas, begitu juga dengan indra penciuman. Akan tetapi, ada indra yang tetap terjaga, yaitu indra pendengaran. Indra ini tetap waspada terhadap setiap suara yang datang dari luar. Oleh karena itu, kita banyak melihat orang yang saat tidur bermimpi seputar kejadian-kejadian yang berkaitan dengan suara di sekitarnya.

Misalnya, jika kita didatangkan orang yang tidur kemudian kita lakukan scan terhadap otaknya dengan alat Functional Magnetic Resonance Imaging or functional MRI (fMRI), maka kami mencatat bahwa otak merespons suara yang bergema di sampingnya. Bahkan, otak ini meracik suara-suara tersebut. Dengan demikian, bisa kita katakan bahwa indra pendengaran memiliki aktivitas yang sangat
penting saat tidur.

Ada cara yang bagus dalam pengobatan Alquran tanpa melakukan usaha apa pun, yaitu dengan mengobati diri Anda pada saat tidur. Maksudnya, Anda mendengarkan Alquran setiap hari sebelum dan setelah Anda tidur. Sel-sel otak Anda dan jantung Anda akan merespons firman-firman Allah dan akan melakukan pemprograman Otak yang baru.

Para ilmuwan memastikan bahwa otak sangat kompleks karena dipengaruhi oleh kata-kata yang didengarnya. Mereka mencoba menggambar peta otak untuk mengetahui apa yang dipikirkan manusia. Mereka mengajukan uji coba terbalik, yaitu mendeteksi aktivitas otak dan mengubahnya menjadi kata'kata. Jika para dokter muslim melakukan percobaan mengenai pengaruh Alquran atas otak, bahkan pengaruh setiap kata-kata dari Alquran terhadap otak, khususnya kata “Allah,” mengapa tidak melakukan eksperimen tentang pengaruh Alquran terhadap orang tidur? Ini merupakan eksperimen yang sangat sederhana namun belum ada satu pun yang
melakukannya.

Alquran memiliki kelebihan bahwa semua katafkatanya datang pada tempat yang tepat. Allah telah meletakkan pada ungkapan- ungkapan itu sebagai mukjizat yang menjadi saksi bahwa tidak mungkin seseorang mengubah satu huruf dari kitab Allah. Bahkan jika itu terjadi maka akan merusak sistem yang detail pada ungkapan- ungkapan tersebut. Tetapi mari kita bertanya, adakah hubungan antara tidur dengan mendengar? Secara ilmiah, para ilmuwan telah membuktikan adanya hubungan. Namun, secara qur'ani bagaimana

Allah berbicara tentang tidur? Allah berfirman:

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ  مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَآؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ  اِنَّ فِيْ  ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ
wa min aayaatihii manaamukum bil-laili wan-nahaari wabtighooo`ukum min fadhlih, inna fii zaalika la`aayaatil liqoumiy yasma'uun

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 23)

Di sini, mari kita berhenti sejenak dan apa yang kita harapkan setelah adanya firman Allah yang indah ini. Ayat ini berbicara tentang ayat tidur atau mukjizat tidur. Sebab, kata ayat berarti mukjizat. Maksud tafsir ayat ini adalah bahwa di antara mukjizatnya itu adalah tidur Anda pada waktu siang dan malam.

Yang lebih menakjubkan lagi, Allah mengakhiri ayat ini dengan firman-Nya yang berbunyi:

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الَّيْلَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا  ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ
huwallazii ja'ala lakumul-laila litaskunuu fiihi wan-nahaaro mubshiroo, inna fii zaalika la`aayaatil liqoumiy yasma'uun

"Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang-benderang. Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar."
(QS. Yunus 10: Ayat 67)

Subhanallah, Allah mengaitkan tidur dengan mendengar. Ini merupakan sinyal atau isyarat qur'ani yang lembut tentang pentingnya Alquran pada saat tidur. Oleh karena itu, sangat logis dan alamiah ketika berbicara tentang tidur kita juga berbicara tentang pendengaran. Inilah yang dilakukan Alquran ketika menghubungkan ayat:

Allah SWT berfirman:
  مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ
"tidurmu pada waktu malam dan siang hari..."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 23)

Dengan indra pendengaran:
  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّـقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ

"Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar."
(QS. Yunus 10: Ayat 67)

Perlu dicatat bahwa Surah Ar Ruum yang di dalamnya banyak mengulas pernyataan-pernyataan ini, senantiasa berkaitan dengan sebelum nya dan sejalan dengan teks Alquran. Ini adalah i'jaz yang ditambahkan oleh para peneliti kemukjizatan kitab Allah. ()

📚 'Alij Nafsaka bil Qur'an
✍ " Ir. ABDEL DAEM AL KAHEEL"

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

22.51 | 0 komentar

PERBEDAAN ANTARA BERBAIK SANGKA DAN GHURUR (TERTIPU DIRI SENDIRI)

Written By Rudianto on Rabu, 13 Desember 2017 | 07.24

*PERBEDAAN ANTARA BERBAIK SANGKA DAN GHURUR (TERTIPU DIRI SENDIRI)*

👉🏿 Banyak orang bodoh yang hanya mengandalkan rahmat Allah, maaf, dan kemurahanNya, lalu mereka menyia-nyiakan perintah dan laranganNya. Mereka lupa bahwa Allah memiliki azab yang sangat berat. AzabNya tidak dapat ditolak dari orangorang yang gemar berbuat dosa. Barangsiapa mengandalkan maaf namun tetap melakukan maksiat terus-menerus, maka dia tak ubahnya seperti penentang.

👉🏿Ma'ruf (Dia adalah Ma'ruf al-Karkhi, seorang yang zuhud lagi masyhur, w. 200 H) berkata, _"Harapanmu terhadap rahmat dari Dzat yang tidak kamu taati termasuk suatu kesia-siaan dan kedunguan."_

🎙Abu Hasan berkata, _"Ada suatu kaum yang terlena oleh angan-angan mendapatkan ampunan Allah, hingga mereka meninggalkan dunia ini tanpa bertaubat. Salah seorang dari mereka berkata, 'Karena aku berbaik sangka kepada Tuhanku.' Dia berdusta, jika dia memang berbaik sangka, niscaya dia akan memperbagus pula amal perbuatannya."_

✍Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Usamah bin Zaid ra, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

🎙يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ رَوَاهُ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ

📜 _"Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; "Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma'ruf dan melarang kami berbuat munkar?". Orang itu berkata; "Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma'ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya"._ Ghundar meriwayatkannya dari Syu'bah dari Al A'masy.
(HR. Al-Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 1989)

🎙إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلًا كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلَاةٍ فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا فَأَجَّجُوا نَارًا وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا

📜 _"Janganlah kalian meremehkan dosa-dosa kecil karena hal itu dapat terkumpul pada diri seseorang hingga membinasakannya."_ Dan sesungguhnya Rasulullah ﷺ memberi perumpamaan hal itu seperti suatu kaum yang singgah di padang pasir yang luas, lalu para pekerja kaum datang, seorang laki-laki pergi dan kembali membawa kayu dan orang lainnya kembali pula membawa kayu hingga mereka dapat mengumpulkan setumpuk kayu, lalu mereka menyalakan api dan dapat mematangkan semua yang mereka lemparkan kedalamnya. (HR. Ahmad dalam Al Musnad, 1/402)

🎙مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Abu Hurairah ra, dari Rasulullah ﷺ bersabda: 📜 _"Barangsiapa yang memiliki kezhaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta dihalalkan, sebab dinar dan dirham (dihari kiamat) tidak bermanfaat, kezalimannya harus dibalas dengan cara kebaikannya diberikan kepada saudaranya, jika ia tidak mempunyai kebaikan lagi, kejahatan kawannya diambil dan dipikulkan kepadanya."_
(HR. Al-Bukhari no. 2449)

☝🏻Terkadang sebagian orang yang tertipu itu bersandar kepada apa yang dilihatnya, berupa nikmat-nikmat Allah kepadanya di dunia ini dan bahwa Dia tidak akan merubah kenikmatan yang ada padanya. Dia menyangka bahwa hal itu termasuk (bukti) cinta Allah kepadanya, dan bahwa di akhirat Allah akan memberinya apa yang lebih baik daripada hal tersebut. Ini termasuk tipuan
_(ghurur)_.

📜Sebagian salaf berkata, _"Bila kamu melihat Allah terus menerus melimpahkan nikmat-nikmatNya kepadamu padahal kamu bersikukuh di atas kemaksiatan kepadaNya, maka was-padalah, karena ia adalah istidraj (mendekatkan pelaku maksiat kepada azab sedikit demi sedikit dan memberikan waktu tangguh kepadanya) dari Allah yang diberikan kepadamu."_

📜Sebagian salaf juga berkata, _"Betapa banyak orang-orang yang mendapatkan istidraj dengan nikmat-nikmat Allah sementara dia tidak menyadari. Betapa banyak orang yang tertipu dengan ditutupnya aibnya oleh Allah sementara dia tidak menyadari. Betapa banyak orang yang terkecoh dengan sanjungan manusia kepadanya sementara dia tidak menyadari."_

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “*
📚 Mukhtasar Ad Da'*wad Dawa'

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*
✍🏻📮 Rudi Abu Azka
| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.24 | 0 komentar

SYARAT DOA YANG DITERIMA

🏷 *SYARAT DOA YANG DITERIMA*⌛

👉🏿 Bila doa itu sendiri memang tidak laik, atau orang yang memanjatkan doa tidak menyelaraskan antara lisan dan hatinya dalam berdoa atau ada sesuatu yang menghalangi dikabulkannya doa, maka pengaruhnya tidak terwujud.

👉🏿 Dalil naqli, akal, dan secara fitrah telah menunjukkan bahwa _mendekatkan diri kepada Allah Rabb alam semesta, berusaha mencari keridhaanNya, berbuat baik dan mulia kepada makhlukNya itu termasuk sebab terbesar yang mendatangkan segala kebaikan_, sedangkan lawan dari apa yang disebutkan di atas merupakan sebab terbesar yang mendatangkan segala keburukan. Maka nikmat-nikmat Allah tidaklah dapat dihadirkan dan azab-azabNya tidaklah dapat dicegah (dengan semaksimal mungkin) sebagaimana dengan (melakukan) amal ketaatan kepadaNya, usaha mendekatkan diri kepadaNya, dan berbuat baik kepada makhlukNya.

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.22 | 0 komentar

PENYAKIT DAN OBATNYA

🛌🏻 *PENYAKIT DAN OBATNYA*💊

👉🏿 Imam lbnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
📜 _“Sesungguhnya dalam hati terdapat sebuah sobekan yang tidak bisa dijahit kecuali dengan menghadap penuh kepada Allah 'Azza wa jalla. Di dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati  kecuali dengan menyendiri bersama Allah. Di dalam hati juga ada sebuah ; kesedihan yang tidak akan mampu diseka kecuali oleh kebahagiaan yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi dengan-Nya. Didalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan kecuali dengan berhimpun karena Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu menuju  Allah. Di dalam hati, juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali oleh keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah, yang diiringi dengan ketabahan dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya."_

☝🏻Pernahkan Anda merasakan makna-makna spiritual ini sebelumnya?

✍Di dalam hati ada sobekan, keterasingan, kesedihan, kegelisahan, dan gejolak api ada beragam penyakit yang obatnya tidak lain adalah *“mengenai Allah*".

😭Munajat hamba....

Wahai Yang Maha Suci
Betapa malunya diri
Nikmat yang tlah Kau beri
Belum mampu kusyukuri
Wahai Yang Maha Tingi
Betapa lemahnya diri
Nafsu yang tak terkendali
Kotori cermin hati
Tak mampu ku memuji-Mu
Setinggi keagungan-Mu
Tak kuasa ku meraih-Mu
Tanpa pertolongan-Mu...

✒ *Ibnul Qayyim Al Jauziyyah “* 📚

--------🌴🌴🌴--------
📻 *KCRT Channel*

| www.kisahruqyah.com
| www.inforuqyah.com
| www.ibnukatsironline.com
|www.abuazkacollection.blogspot.com

---------- 🌴🌴🌴 -----------

🛍 *WhatsApp@Kcrtangerang*
  +62 857 1686 3625

07.21 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung