Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Perusak hati (heart Broker) dan Cara Melapangkan Dada

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 31 Mei 2012 | 06.13

Berkata Imam Ibnul Qoyyyim rohimahulloh : “Perusak hati itu ada lima, yaitu: banyak bergaul, berkhayal, bergantung kepada selain Alloh, kenyang, dan tidur. Lima hal tersebut adalah perusak hati yang utama.
  1. Banyak Bergaul (Pergaulan yang Salah)
banyak bergaul denga berbagai tipe orang menyebabkan hati orang yang bergaul tersebut menghirup berbagai macam asap nafas anak adam sehingga hatinya menghitam. Hati yang menghitam tersebut akan menimbulkan kecemasan dan kegelisahan, serta melemahkannya. Hatinya akan terbebani oleh kawan-kawan jeleknya dan dia tidak mampu untuk itu. Kemaslahatan dirinya akan musnah dan tersia-siakan. Dia akan selalu disibukkan dengan berbagai macam urusan mereka. Pikirannnya akan selalu memikirkan pemenuhan keinginan-keinginan mereka. Dalam keadaan seperti itu, apakah ada waktu dan tempat di hatinya untuk Alloh dan kehidupan akherat?
Renungkanlah! Berapa banyak sakit hati yang ditimbulkan oleh banyaknya bergaul, berapa banyak nikmat yang lenyap karenanya, berapa banyak fitnah yang timbul olehnya, berapa banyak kesempatan yang hilang disebabkannya, berapa banyak bahaya besat yang ditimbulkannya, berapa banyak musibah yang terjadi karenanya. Bukankah celakanya manusia itu disebabkan oleh manusia juga?
Itulah buah pergaulan yang didasarkan kecintaan di dunia saja. Penunaian kebutuhan sebagian oleh sebagian yang lainnya. Pergaulan (persaudaraan) yang bisa berubah menjadi permusuhan. Pergaulan (persaudaraan) yang akan diakhiri dengan penyesalan. Semuanya sebagaimana yang Alloh Ta’ala firmankan:
“Dan (ingatlah) pada hari, di mana orang-orang dlolim menggigit dua tangannya, seraya mereka berkata:”Aduhai kenapa aku (dulu) tidak mengikuti rosul. Kecelakaan besarlah bagiku sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab. Dia sungguh-sungguh telah menyesatkanku dari Al-Qur’an ketika Al-qur’an itu dating kepadaku. Dan syetan tidaklah mau menolong manusia.”"(Q.S. Al-Furqon:27-29)
“Teman-teman akrab pada hari itu (kiyamat) akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.”(Q.S. Az-Zukhruf:67)
dan berkata kekasihNya:
“Tiada lain yang kalian jadikan sesembahan selain Alloh adalah patung-patung yang kalian cintai di dunia saja. Kemudian pada hari kiyamat, di antara kalian akan saling mengingkari dan di antara kalian akan saling melaknat. Dan tempat kalian adalah neraka dan kalian tidak memiliki penolong.”(Q.S. Al-’Ankabut: 25)
ada pun sisi baik dari bergaul bersama manusia adalah bergaul dengan mereka dalam masalah kebaikan, seperti menghadiri sholat jum’at dan sholat berjama’ah, sholat ‘ied, hajji, belajar ilmu (syar’i), jihad, dan nasehat. Serta menjauhi mereka dalam masalah mubah yang berlebih-lebihan.
Apabila pergaulan bersama mereka dalam masalah yang buruk tidak bisa dihindari, maka berhati-hatilah dan jangan sampai sampai menyetujui apa yang mereka lakukan. Juga harus sabar dengan siksaan yang mereka timbulkan. Karena mereka pasti akan menyakitinya apabila dia tidak memiliku kekuatan atau penolong. Akan tetapi, siksaan yang mereka buat akan menyebabkannya menjadi muilia dan orang yang disukai. Akan menyebabkan dia dihormati dan dipuji. Juga demikianlah perlakuan yang akan dia terima dari semua orang yang beriman. Juga dari Pencipta alam semseta. Sebaliknya, apabila menyetujui perbuatan mereka, maka dia akan menuai kehinaan dan kemarahan, kebencian, celaan dari mereka, juga dari orang-orang yang beriman, serta dari Pencipta alam semesta. Maka sabar atas siksaan yang mereka munculkan adalah sikap terbaik yang harus dia lakukan dan akan membuahkan akibat yang baik, serta hasil akhir yang terpuji.
Apabila harus berhubungan dengan manusia dalam masalah mubah, maka dia harus berusaha untuk mengubah majlis tersebut sebagai majlis untuk melakukan ketaatan kepada Alloh jika dia mampu.
  1. Berkhayal
khayalan adalah lautan yang tidak berombak. Lautan yang tenggelam di dalamnya orang-orang yang yang bangkrut. Sebagaimana sebuah pepatah mengatakan: “Sesungguhnya khayalan adalah harta orang-orang bangkrut yang paling berharga.” Dan selamanya gelombang khayalan adalah kebohongan. Semua khayalan tersebut adalah hampa. Lautan angan-angan akan mengombang ambingkan orang-orang yang berada di dalamnya sebagaimana anjing mempermainkan bangkai. Angan-angan adalah harta setiap jiwa rendahan, yang penuh dengan kehinaan dan murahan. Angan-angan tidak akan membuahkan terwujudnya cita-cita secara nyata. Angan-angan selamanya hanyalah khayalan jiwa belaka. Setiap pengkhayal tergantung keadaanya. Ada orang yang berangan-angan memiliki kedudukan dan kekuasaan. Ada orang yang berangan-angan bisa berkeliling dunia. Ada juga yang berangan-angan memiliki kekayaan dan harta dunia. Dan ada juga yang meangan-angankan wanita. Maka pengakhayal akan menggambarkan khayalannya di dalam pikirannya dan dia membayangkan bahwa dia telah mendapatkannya. Dia akan menikmati khayalannya. Dalam kondisi seperti itu, dia akan terkejut setelah dia bangun (tersadar) karena yang ada di hadapannya hanyalah kekosongan belaka.
Adapun pemilik cita-cita yang tinggi, maka khayalannya hanya berkisar tentang ilmu daniman. Dia akan berharap bisa beramal yang akan mendekatkan dirinya kepada Alloh. Dia akan berusaha mendekatkan dirinya kepadaNya sedekat-dekatnya. Maka khayalan orang ini adalah keimanan dan cahaya. Sedangkan khayalan para pengkhayal adalah tipuan dan kebohongan.
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallama telah memuji pengkhayal kebaikan. Dan kadang-kadang beliau mengatakan bahwa pahala pengkhayal kebaikan sama dengan pelaku kebaikan tersebut.
  1. Bergantung kepada selain Allah (Syirik)
secara umum inilah perusak hati yang paling utama. Tidak ada perusak hati yang lebih berbahaya darinya. Tidak ada penghancur kebaikan dan kebahagian yang lebih buruk darinya. Apabila dia bergantung kepada selain Alloh, maka Alloh akan menyerahkan urusannya kepada sesembahannya. Dan Alloh tidak akan memperhatikannya. Dan orang tersebut tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Apa yang dia harapkan dari Alloh tidak akan tercapai. Dan yang dia harapkan dari selain Alloh juga tidak bisa mendekatkan dirinya kepada Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:
“Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Alloh agar mereka menjadi mulia. Sekali-kali tidaklah demikian. Sesembahan-sesembahan itu akan menginkari peribadatan kepada mereka dan akan menjadi musuh mereka.”(Q.S.Maryam:81-82)
alloh berfirman dalam ayat lain:
“Mereka menjadikan sesembahan-sesembahan selian Alloh agar menjadi penolong mereka. Tidaklah sesembahan-sesembahan itu dapat menolong mereka bahkan sesembahan-sesembahan itu bukanlah tentara yang dipersiapkan untuk menolong mereka.” (Q.S. Yaasiin:74-75)
dengan demikian, maka orang yang penolongnya paling lemah adalah orang yang bergantung kepada selain Alloh. Sesungguhnya maslahat dan kebahagiannya yang lenyap lebih sangatlah besar besar. Karena ketergantungan kepada selain Alloh mengantarkan ketergelinciran (dari rohmat Alloh) dan kelenyapan (dari nikmat Alloh). Permisalan orang yang bergantung kepada selain Alloh sebagaimana orang yang berlindung dari panas dan dingin ke rumah laba-laba, yaitu rumah yang paling lemah.
Secara singkat, pokok dasar kesyirikan adalah bergantung kepada selain Alloh. Pelakunya akan mendapatkan celaan dan kehilangan pelindung. Sebagaimana yang Alloh firmankan:
“Janganlah Engkau membuat tuhan yang lain bersama Alloh, agar kamu tidak menjadi tercela dan ditinggalkan (oleh Alloh).”(Q.S. Al-Isro’:22)
 
  1. kenyang
kerusakan hati yang disebabkan oleh makanan ada dua jenis:
  1. makanan yang merusak hati karena dzatnya memang perusak, seperti makanan-manakan haram. Makanan jenis ini ada dua:
    1. haram karena hak Alloh. Yaitu makanan yang Alloh tetapkan sebagai makanan haram, seperti bangkai, darah, daging babi, binatang buas yang bertaring, dan burung yang menerkam.
    2. Haram karena hak hamba. Seperti hasil curian, hasil pinjaman sebelum bilang kepada pemiliknya, hasil rampasan, barang yang diambil / diminta tetapi pemiliknya tidak ridho, baik mengambil barang tersebut dengan paksa atau dengan mencela.
  2. makanan yang merusak hati karena kadarnya / melebihi jumlah yang seharusnya. Sepeti berlebih-lebihan makan meskipun makanan yang halal, terlalu kenyang, karena kekenyangan akan menyulitkan taat kepada Alloh dan menyibukkan pelakunya untuk memenuhi isi perutnya dan dia akan selalu berusaha untuk memenuhi keingainannya. Apabila dia sudah dapat memenuhi keinginannya, maka dia akan disibukkan dengan cara melindungi dirinya dari penyakit yang timbul karena kekenyangan tersebut. Selain itu, dia akan meresa kesusahan dan berat. Kemudian syahwatnya akan menjadi lebih dominant. Dan dia akan membukakan jalan bagi syetan dan melonggarkan ruang geraknya. Karena syetan berjalan di dalam tubuh anak Adam melalui jalan darah. Itulah sebabnya shoum / puasa dapat menyempitkan ruang gerak syetan dan dapat menghalangi jalannya. Sedangkan kenyang berarti memberinya jalan dan melonggarkan ruang geraknya. Maka barang siapa yang makan banyak dan minum banyak, dia akan menanggung banyak kerugian. Dan disebutkan dalam sebuah hadits yang masyhur:
    “Tidaklah anak Adam mengisi suatu bejana yang (keadaannya) lebih jelek dari mengisi perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang sulbinya. Apabila dia harus (makan lebih banyak), maka lakukanlah sepertiga (dari bagian perut) untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk naasnya.” (H.R. At-Tirmidzy, Ahmad, dan Al-Hakim, dan Al-Albany menshohihkannya.)
  3. Tidur (sleep for Long time)
    banyak tidur akan mematikan hati. Memberatkan badan. Mengilangkan manfaat waktu. Menimbulkan kemalasan. Dan banyak tisur ini hukumnya sangat makruh sekali. Banyak tidur juga akan membahayakan badan dan tidak bermanfaat bagi badan. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur di saat sangat diperlukan tidur (sangat ngantuk). Demikian juga, tidur di awal malam lebih bermanfaat dari pada tidur di akhir malam. Tidur di tengah siang lebih bermanfaat dari pada tidur di dua ujung siang (pagi dan sore). Apabila tidur di saat dekat dengan dua ujung siang, maka manfaatnya akan semakin berkurang dan madhorotnya semakin besar. Apalagi tidur di waktu ‘ashar (atau sesudah sholat ‘ashar) dan tidur di awal siang, kecuali bagi yang malamnya tidak tidur.
    Selain itu, waktu-waktu yang dimakruhkan untuk tidur adalah waktu antara sesudah sholat shubuh dan terbitnya matahari. Karena waktu tersebut adalah emas. Maka orang yang memanfaatkan waktu tersebut berarti memiliki kelebihan yang agung, meskipun di malam hari dia juga memanfaatkan waktunya, tetapi dia tidak boleh melewatkan waktu antara sholat shubuh sampai terbit matahari. Karena waktu tersebut adalah awal siang dan kuncinya. Waktu tersebut adalah waktu turunnya rizki. (Sehingga orang yang memanfaatkannya) akan mendapatkan bagian (dari rizki) dan akan mendapatkan barokah. Karena waktu tersebut yang akan menentukan kejadian di siang harinya.
    Secara ringkas, tidur yang standar dan yang paling bermanfaat adalah tidur selama setengah malam yang pertama dan seperenam yang terakhir, yang kira-kira lamanya sekitar delapan jam. Inilah tidur yang standar menurut para dokter. Kurang dan lebihnya waktu tidur dari delapan jam akan menimbulkan ketidak seimbangan pada badan.
    Adapun tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur di awal malam sesudah tenggelamnya matahari sampai waktu ‘isya’. Karena rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallama membencinya. Maka tidur ini makruh secara syar’i dan tabiat manusia. Alloh lah tempat kita bersandar.
 
SEBAB-SEBAB YANG MELAPANGKAN DADA
 
    Berkata lagi Ibnul Qoyyim: Sebab utama untuk melapangkan dada adalah:
  1. tauhid
    kelapangan dada seseorang tergantung dari kesempurnaan, kekuat, dan bertambahnya tauhidnya. Alloh Ta’ala berfirman:
    “Apakah sama antara orang-orang yang Alloh bukakan hatinya untuk menerima islam (dengan orang-orang yang hatinya membatu?)”(Q.S.Az-Zumar:22)
    dalam ayat lain Alloh Ta’ala berfirman:
    “Barang siapa yang Alloh kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, maka Alloh bukakan hatinya untuk menerima islam. Dan barang siapa yang Alloh kehendaki untuk sesat, maka Alloh jadikan hatinya sesak dan serasa sempuit, seakan-akan dia naik ke langit.”(Q.S. Al-An’am:125)
    maka petunjuk dari Alloh (hidayah) dan tauhid adalah sebab utama kelapangan dada. Sedangkan syirik dan kesesatan adalah seabb utama kesempitan hati dan penyimpangannya.
  2. cahaya yang Alloh bersikkan di hati seorang hamba
    cahaya itu adalah cahaya keimanan. Dan cahaya ini akan melapangkan dada dan melonggarkannya. Serta akan membuat hati gembira. Apabila cahaya ini telah hilang dari hati seorang hamba, maka hatinya akan serasa sesak dan penuh dosa. Sehingga dia meresa seakan-akan dia sedang berada di adalam sebuah penjara yang paling sempit dan paling menyengsarakan.
    At-Tirmidzy pernah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Jami’ dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallama bahwasannya beliau bersabda:
    “Apabila cahaya (keimanan) telah memasuki hati, maka hati tersebut akan menjadi longgar dan terbuka (dapat menerima islam sepenuhnya).” Para sahabat bertanya: “Apa tandanya wahai rosululloh?” beliau menjawab:“Bersandar (lebih mementingkan) tempat yang kekal (akherat), berlepas diri (tidak menyibukkan diri) dari tempat yang penuh tipuan (dunia), dan bersiap-siap (menyambut) kematian sebelum kematian mendatanginya.”
    Dengan demikian, kelonggaran hati seorang hamba tergantung seberapa besar cahaya keimanan menerangi hatinya dan seberapa besar cahaya kegelapan menutupi hatinya.
  3. ilmu
    ilmu (syar’i) akan melapangkan dan meluaskan hati sampai lebih luas dari dunia. Sedangkan kebodohan akan menyempitkan hati, membatasinya, dan menahan kelonggarannya. Setiap kali bertambah ilmu seorang hamba, makahatinya juga semakin luas dan lapang. Ilmu yang meluaskan hati bukan semua ilmu. Ilmu yang dapat melapangkan dada adalah ilmu yang diwariskan dari rosul sholallohu ‘alaihi wa sallama . inilah ilmu yang bermanfaat. Orang yang mewarisinya adalah orang yang dadanya paling lapang dan hatinya paling luas, serta akhlaknya paling mulia, dan terakhir kehidupannya paling menyenangkan
  4. bersandar kepada Alloh, mencintaiNya dengan sepenuh hati, menerima ketetapanNya, dan menikmati beribadah kepadaNya.
    Tidak sesuatu pun yang lebih melapankan hati seorang hamba dari hal-hal tersebut di atas. Sampa-sampai kadang-kadang dia mengatakan: “Kalau saja aku di surga dalam keadaan seperti ini, maka aku berada dalam kehidupan yang mulia.” Kecintaan memberikan pengaruh yang sangat menakjuban untuk melapangkan dada, kemulian jiwa, nikmatnya hati, yang tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang memiliki perasaan. Setiap kali kecintaan bertambah dan menjadi kuat, maka kelapangan dada semakin luas. Dan dada tersebut tidak akan terasa sempit kecuali saat melihat para pelaku kebatilan, yang hati-hati mereka tidak pernah tersisi kecintaan ini. Maka melihat mereka hanyalah mengotori pandangan pemilik hati yang suci. Sedangkan bergaul dengan mereka hanya akan membikin ruhnya sakit.
    Dan salah satu penyebab utama kesempitan hati adalah menentang Alloh Ta’ala, menyandarkan hati kepada selainNya, lalai dari berdzikir kepadaNya, dan mencintai selainNya. Sesungguhnya barang siapa yang mencintai selain Alloh, maka dia akan diadzab karenanya. Hatinya akan dipenjara dalam kecintaannya tersebut. Maka di muka bumi ini tidak ada orang yang lebih sengsara darinya. Tidak ada orang yang keadaannya lebih suram darinya. Tidak ada orang yang lebih susah kehidupannya darinya. Tidak ada orang yang hatinya lebih lelah darinya. Kecintaan yang menyengsarakan ini ada dua jenis:
    1. kecintaan yang merupakan surga dunia, yaitu kebahagiaan jiwa, kelezatan hati, kenikmatan ruh, kesembuhannya, dan bahkan perhiasan pandangan adalah hanya dalam kecintaan kepada Alloh saja dengan sepenuh hati. Serta pencurahan seluruh keinginan dan kecintaan kepadaNya saja.
    2. Kecintaan yang menyebabkan teradzabnya ruh, gelapnya jiwa, terbelenggunya hati, dan sempitnya dada, yang semua itu menimbulkan penderitaan, kesusahan, dan kesengsaraan. Semua ini disebabkan oleh kecintaan kepada selain Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
  5. selalu berdzikir kepadaNya dalam segala keadaan dan tempat.
  6. berbuat baik kepada makhluk Alloh, memberi nafkah kepada mereka dengan harta, kedudukan, dan badan.
  7. keberanian.
  8. menghilangkan penyakit hati, karena penyakit hati adalah sifat tercela yang akan menyebabkan tertimpa kesempitan dan adzab, serta penghalang dari kesembuhan (kelapangan dada).
06.13 | 0 komentar

PERCAKAPAN ANTARA BAYI DENGAN TUHAN


Suatu pagi seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada Tuhan,
Bayi : "Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil & lemah."
Tuhan : "Aku sudah memilih 1 malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu."
Bayi : "Tapi di sini di dalam surga apa yang pernah kulakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya."
Tuhan : "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangantan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."
Bayi : "Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?"
Tuhan : "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa paling indah yang pernah engkau dengar dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkanmu bagaimana cara berbicara."
Bayi : "Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadamu?"
Tuhan : "Malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana cara berdoa."
Bayi : "Saya dengar bahwa di bumi banyak orang yang jahat, siapakah nanti yang akan melindungi saya?"
Tuhan : "Malaikatmu akan melindungimu walaupun hal itu akan mengancam jiwanya."
Bayi : "Tapi saya pasti akan sedih karena tidak melihatMu lagi."
Tuhan : "Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar dan sang bayi pun bertanya perlahan,
"Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?"
Jawab Tuhan,
....."Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."

06.08 | 0 komentar

Kafir Tanpa Sadar

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 30 Mei 2012 | 21.30

Dr. Khalid bin Abdurrahman al-Juraysi ditanya, “Apakah garis pemisah di antara kufur dan islam? Apakah orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat kemudian melakukan perbuatan yang bertentangan dengannya masuk dalam golongan kaum muslimin, sekalipun ia tetap shalat dan puasa?”
Maka beliau menjawab, “Garis pemisah di antara kufur dan islam adalah: mengucapkan dua kalimah syahadat dengan benar dan ikhlas dan mengamalkan tuntutan keduanya.

Maka barangsiapa yang terealisasi hal itu padanya maka dia seorang muslim yang beriman. Adapun orang yang munafik, maka dia tidak jujur dan tidak ikhlas maka dia bukanlah seorang mukmin. Demikian pula orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat dan melakukan perbuatan syirik yang bertentangan dengan keduanya, seperti orang yang meminta tolong kepada orang yang sudah meninggal di saat susah atau senang, orang yang lebih mengutamakan hukum-hukum positif (buatan manusia) di atas hukum yang diturunkan Allah, orang yang mengolok-olok al-Qur`an atau yang shahih dari sunnah Rasulullah maka dia adalah kafir, sekalipun ia mengucapkan dua kalimah syahadat, shalat dan puasa.”



Artinya, tidak setiap muslim adalah mu’min. Seseorang bisa saja telah berislam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, namun statusnya tidak dengan serta merta menjadi orang beriman. Bisa jadi hatinya ingkar sehingga ia termasuk ke dalam golongan orang-orang munafiq; bisa jadi hatinya tidak ingkar, namun ia termasuk ke dalam golongan orang yang banyak bermaksiat (
fajir/ fasiq). Bahkan, bisa jadi ia telah beriman pada pagi hari, namun pada sore hari ia melakukan suatu hal, baik itu amalan hati maupun amalan fisik yang menyebabkan ia keluar dari Islam.

Seperti seorang yang sedang shalat dengan khusyu’, namun di pertengahan shalatnya ia tidak sengaja menelan sisa makanan yang masih ada di mulutnya, sedangkan ia meneruskan shalatnya, padahal shalatnya telah batal. Rasulullah bersabda, “
Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah, seperti malam yang gelap gulita. Seseorang pada waktu pagi beriman dan pada waktu sore kafir, dan pada waktu sore beriman dan pada waktu pagi kafir. Dia menjual diinnya dengan harta dunia.” (HR. Muslim)

Orang yang keluar dari Islam setelah beriman disebut murtad. Murtadnya seseorang bisa lebih cepat dari masuknya. Karenanya hari ini begitu banyak orang yang mengaku berilmu namun tidak mengerti laa ilaaha illallah. Mereka menganggap semua yang mengucapkannya sebagai orang Islam, meskipun ia melakukan kekufuran yang terang, yang perkataan ataupun perbuatannya tersebut tidak bisa didefinisikan lain kecuali kekufuran. Allah telah melaknat orang-orang yang murtad dari diin ini (QS. 2: 217) dan Rasulullah Muhammad telah menegaskan dalam haditsnya bahwa seseorang yang murtad, maka ia wajib dibunuh.


Iman, sebagaimana ibadah mahdhah yang wajib ditegakkan rukun-rukunnya agar sempurna dan terpenuhi syarat-syaratnya agar sah ibadah tersebut, namun hanya memerlukan satu pembatal saja untuk mengugurkannya. Iman adalah keyakinan, ucapan, dan perbuatan. Maka, pembatal iman pun bisa datang dari pintu ucapan, keyakinan, atau perbuatan.


Berdasarkan kesepakatan ‘ulama, dalam kitab-kitab aqidah dan tauhid, disebutkan hal-hal yang dapat membatalkan keislaman di antaranya adalah.



  1. Syirik
  2. Murtad
  3. Tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu akan kekafiran mereka
  4. Meyakini kebenaran hukum thaghut
  5. Membenci sunnah Rasul, meskipun diamalkan
  6. Mengolok-ngolok agama
  7. Sihir
  8. Menolong orang kafir untuk memerangi kaum muslimin
  9. Meyakini bolehnya keluar dari syariat Allah
  10. Tidak mau mempelajari dan mengamalkan agama

Namun demikian, yang akan dibahas di sini bukanlah merinci satu demi satu hal di atas, kami lebih menegaskan akan bahaya penyebab kekafiran yang dapat masuk dari hati, lisan, dan tindakan. Sedangkan penjelasan yang lebih rinci mengenai hal yang telah disebutkan di atas dapat dilihat pada kitab-kitab aqidah dan tauhid seperti Kitab I’laamul Muwaqi’iin Syaikh Ibn al Qayyim al Jawziyyah, Kutub at Tauhid dan Kasyfusy Syubuhat Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, Kitab Nawaaqidh al Islam Syaikh Ibn Bazz, Aqidah at Tauhid Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan, Kitab Al Iman Syaikh al Islam Ibn Taymiyyah, Iman dan Kufur Syaikh Sayyid Imam dll. Dalil dalam al Quran dan as Sunnah pun mudah sekali dijumpai untuk menegaskan kesepuluh pembatak keislaman tersebut.
Pembahasan kali ini dikhususkan kepada penegasan bahwa kufur murtad dapat terjadi – selain karena amalan hati, berupa juhd (ingkar), radd (penolakan), istihlal (penghalalan), takdzib (pendustaan), dll – juga dapat terjadi karena ucapan dan tindakan, terlepas ia meyakini ucapannya atau tidak, terlepas ia mengingkari ucapannya atau tidak.
  1. Kufr karena amalan hati (i’tiqadi)
Seseorang dapat murtad dari jalur amalan hati saat dirinya meyakini hal-hal yang seharusnya diingkari (QS. 9:45, 64, 74), dan ini disepakati oleh para ulama ahlus Sunnah. Tidak ada satupun yang menentang pintu masuknya kekufuran dari hati. Adapun beberapa contoh yang berkaitan dengan hal ini adalah:
  1. meyakini adanya arbaab, aalihah, atau andaad selain Allah;
  2. mencintai sesuatu sama atau lebih besar dari Allah;
  3. meyakini adanya nabi setelah Rasulullah Muhammad;
  4. meyakini bahwa orang di luar Islam akan masuk syurga dengan perbuatan baiknya;
  5. meyakini bahwa ada al haqq di luar Islam (pluralism);
  6. mengakui dan ridha terhadap hukum thahgut, yakni hukum buatan manusia;
  7. serta meyakini tindakan-tindakan kekafiran lainnya walaupun ia tidak mengucapkan atau melakukannya.
Di hadapan manusia ia mungkin diperlakukan seperti seorang muslim, karena kekufurannya tidak terlihat, namun di hadapan Allah ia telah kafir murtad. Sedangkan penolakan dan keraguan yang dapat menyebabkan kekafiran adalah
  1. menolak dan meragukan kebenaran, hukum, syariat, perintah yang datang dari Allah dan rasul-Nya, walaupun ia tetap mengamalkannya;
  2. menolak rukun Iman dan rukun Islam, meragukan hari kiamat, syurga, dan neraka;
  3. meragukan kebenaran al Quran dan membenci sunnah;
  4. meragukan kekafiran orang-orang yang jelas-jelas kafir
  5. Inti dari penyakit ini adalah menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah (istihlal), walaupun ia tidak mengatakan atau melaksanakannya, mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah (juhd/ radd), walaupun ia tetap melaksanakannya.

          2. Kufr karena ucapan dan tindakan

Beberapa ulama masa kini tidak menyatakan kafir terhadap orang yang jelas-jelas melakukan tindakan kekafiran selama hati mereka tetap tenang dalam keimanan. Padahal, siapa yang tahu isi hati kecuali Allah dan dirinya sendiri. Sabda Rasulullah, “
Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk membelah qalbu manusia.” (HR. Bukhari). Sebagian lagi membatasi bahwa seseorang dapat kafir melalui pintu tindakan saat ia meninggalkan shalat dan zakat, sedangkan perbuatan dosa yang lainnya tidak menyebabkan seorang menjadi kafir.

Sebagian lagi berpendapat bahwa seseorang dapat menjadi kafir dari pintu ucapan dan perbuatan bukan karena ucapa dan perbuatannya itu sendiri, melainkan karena ucapan dan perbuatan tersebut mengindikasikan adanya kekufuran di dalam hati, dan ia menjadi kafir. Padahal, sekali lagi, tidak ada yang mengetahui isi hati seseorang. Walaupun pendapat ini lebih baik daripada pendapat sebelumnya yang hanya membatasi kekafiran pada i’tiqad saja, namun tetap saja ini bukanlah pendapat yang benar.



Ahlus Sunnah berpendapat bahwa ucapan dan perbuatan adalah hukum bukan sebab terjadinya hukum. Maka, seseorang bisa kufur karena ucapan atau perbuatan yang tidak bisa ditafsirkan kecuali bahwa itu adalah kata-kata atau perbuatan yang dapat menyebabkan dirinya kafir, terlepas apakah hatinya meyakini atau tidak apa yang ia ucapkan atau lakukan; serius atau bergurau (dengan maksud mengolok-olok). Selama tidak ada paksaan (
ikrah) dan dalam keadaan sadar, maka kata-kata tersebut dapat menyebabkan seseorang kafir murtad (QS. 9: 55-56, 74, 80; 18: 103-105; 49: 2; 7: 30). Ini merupakan pendapat jumhur ‘ulama, baik madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali.
Beberapa perkataan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir adalah.
  1. Berkata “kafir” kepada orang yang masih jelas keislamannya atau seorang yang tidak terlihat kekafirannya,
  2. mengatakan bahwa Isa dan Uzair anak Allah,
  3. mengatakan hal-hal yang memperolok-olok agama Allah,
  4. mengatakan bahwa dirinya keluar dari Islam,
  5. menghina Allah dan rasul-Nya,
  6. menghujat al Quran dan kebenaran yang terkandung di dalamnya,
  7. serta kata-kata kekufuran lainnya.

Sedangkan beberapa contoh tindakan yang dapat membuat seseorang menjadi kafir di antaranya adalah.
  1. Berdoa kepada selain Allah, atau menggunakan perantara dalam berdoa kepada Allah seperti kaum musyrikin Makkah,
  2. Melakukan peribadahan dan adat kebiasaan orang-orang kafir, misal: merayakan natal, tahun baru masehi, hari valentine, dan kebiasaan-kebiasaan kaum kuffar lainnya, karena hal ini merupakan tasyabbuh dalam hal ashlul iman (pokok-pokok iman),
  3. Meninggalkan Shalat atau Zakat dengan sengaja,
  4. Membantu orang-orang kafir dalam memerangi Islam dan mujahidin,
  5. Tidak berhukum kepada al Quran dan memilih berhukum kepada thaghut (hukum buatan manusia),
  6. Bermudhahanah dan sekaligus taat kepada penguasa yang memusuhi Islam,
  7. Membuang mushaf ke kotoran, melempar-lemparnya, atau membakarnya,
  8. Wala terhadap orang-orang kafir; Bara’ terhadap orang mu’min,
  9. Berpaling dari ajaran Allah, dll.

Demikianlah, bahwa Iman yang ditegakkan dengan ikrar, tashdiq, dan amal secara bersamaan sebagai syarat sahnya, namun hanya perlu satu pintu saja untuk membatalkannya. Karenanya, berhati-hatilah dalam berprasangka, berkata, dan bertindak, agar kita tidak terjebak dan pada akhirnya kafir, amalan kita menjadi sia-sia karena Allah telah menghapus seluruh amalan kita, namun kita tidak menyadarinya. Begitu banyak orang-orang yang dikafirkan oleh Allah padahal hati mereka tidak seperti apa yang nampak, namun karena mereka teleh menampakkan perkataan dan perbuatan kekufuran, maka mereka pun kafir di hadapan Allah (dan di hadapan manusia), padahal mereka tidak menyadarinya.
“…agar tidak terhapus amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. 49:2)…

Wallahu a’lam

Al Faqir IlaLlah


الفضل بن زين العبدين
 

Maraji’


Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Adbul Aziz, Kafir Tanpa Sadar

Dr. Fadhl Abdul Qadir ibn Adbul Aziz, Tathbiq Syar’i
Dr. Sayyid Imam, Iman dan Kufur
Syaikh Abdul Mun’im Abu Basheer, Pokok-Pokok Aqidah Muslim
Syaikh Abdul Mun’im Abu Basheer, Qawaaidh fii Takfir
Syaikh Abu Muhammad al Maqdisi, Mewaspadi Sikap Ekstrem dalam Mengkafirkan Orang
Syaikh Abu Muhammad al Maqdisi, Salah Kaprah Salafy; Membongkar Syubhat Murji’ah Masa Kini
Syaikh Sayyid Quthb, Petunjuk Jalan
Syaikh Sulaiman Nashir al ‘Ulwan dan Syaikh Safar al Hawali, Awas! Terjebak Murtad
Ustadz Abu Jabir, Ceramah Iman dan Kufr
21.30 | 0 komentar

PILIH PEMIMPIN YANG DEKAT DENGAN TUHAN


Pilihlah pemimpin yang takutkan Allah
Yang minta dibantu menegak kebanaran
Yang minta ditegur kalau ia bersalah
Yang tidak menyebut apa jua jasanya
Yang tidak banyak membuat janji manis

Biasanya seorang pemimpin itu
Ia mempunyai ilmu yang sederhana
Jiwanya kental dan juga gigih
Dapat pengalaman dari hidup
Kalau kita nak tahu
Pemimpin yang sejati ia tak berjawatan pun masih dihormati
Oleh semua pengikutnya

Biasanya pemimpin yang sejati itu
Ia tersendiri ada panduan yang diberi
Ada karisma semulajadi
Mendidik pengikut hingga taat setia
Tidak berbelah bagi

Kalau kita mendengarkan lirik Nasyid Pemimpin Sejati dari album Antara 2 Cinta dari Munsyid : The Zikr ini mengingatkan kita tentang kisah Khalifah Umar Bin Khattab ketika ingin memilih seorang Gubernur. Saat itu sebelum beliau memilih, Khalifah Umar Bin Khattab menyebarkan selebaran yang mengatakan bahwa beliau akan memilih Gubernur yang dekat dengan Allah yang indikasinya adalah orang yang rajin melaksanakan shalat di masjid. Pernyataan ini dilanjutkan oleh Khalifah Umar dengan mengatakan alasanya memilih seperti itu karena bagaimana mungkin seorang manusia itu bisa di percaya jika dengan Allah Yang Maha Tahu, Yang Maha Melihat Segala tindakan manusia saja dia berani berbohong apalagi dengan atasan dan rakyatnya yang sama-sama manusia.
Pernyataan Khalifah tersebut sangat masuk pada logika manusia, memang benar apa yang beliau katakan manusia yang tidak taat kepada Sang Khalik adalah manusia yang tidak bisa di percaya. Dihadapan Allah saja dia tidak melaksanakan perinah Allah yang telah Menciptakannya apa lagi perintah atasan dan rakyatnya. Pemillu  adalah salah satu ajang pesta demokrasi yang akan dilalui oleh masyarakat Indonesia. Harapan perubahan kearah yang lebih baik selalu menjadi harapan segenap rakyat.
Bercermin dari kisah Khalifah Umar bin Khattab di atas maka ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah ini menjelang pemilu nanti yakni keputusan Khalifah Umar dalam memilih Gubernurnya,beliau memilih orang yang rajin shalatnya hal ini mengisyaratkan pada kita bahwa pemimpin yang baik adalah yang dekat dengan Tuhannya. Orang yang dekat dengan Allah akan senantiasa ingat akan amanah yang ada pada pundaknya, setiap apa yang akan dilakukannya senantiasa ia niatkan sebagai ibadah buatnya karena memang manusia di ciptakan didunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. 
Dalam pertarungan pemilu nanti sebuah kepastian bagi kita adalah kemenangan dan kekalahan. Seyogyanya semua orang pasti siap dan bisa menerima sebuah kemenangan namun sebuah kekalahan tidak semua orang bisa menerimanya. Jika kita kembali melihat keadaan yang terjadi saat ini ada sebuah kebimbangan yang dirasakan oleh rakyat kita. Melihat begitu besarnya pengeluran materi yang dilakukan oleh para caleg membuat kekwatiran masyarakat muncul akan adanya usaha pengembalian modal yang akan dilakukan para caleg apabila lolos menjadi Anggota DPR. Jika hal ini terjadi maka harapan perubahan yang lebih baik akan semakin jauh.
Ada beberapa alasan kenapa kita menyerukan untuk memilih caleg yang dekat dengan Tuhan. Alasan pertama,orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya (tazkiatun nufus) sebagaimana orang-orang shaleh dahulu. Dia akan senantiasa ingat akan amanah yang ada padanya yakni sebagai wakil dari rakyat yang harus melayani rakyatnya bukan minta dilayani oleh rakyat. Jika kita kembali melihat realita banyak sekali anggota DPR dan DPRD yang selalu minta dilayani dengan uang rakyat, rapat di hotel-hotel megah yang hanya menghamburkan uang rakyat dan mungkin masih banyak lagi kezaliman yang dilakukan oleh para wakil rakyat .
Alasan kedua,kenapa harus pilih caleg yang dekat dengan Tuhan karena niatnya adalah untuk kepentingan umum bukan pribadi ataupun golongan. Setelah terpilih dia tidak akan menjadikan kursi dewan sebagai penghasilannya atau sebagai ajang untuk mengumpulkan harta kekayaan bahkan sebaliknya dia akan menyalurkan uang rakyat sesuai pada porsinya dan untuk rakyatnya. Akan tersalurkanlah segala kebuTuhan rakyat yang diinginkan dan insya Allah akan mensejahterakan rakyatnya. Korupsi yang selama menjadi penyakit dan iab bangsa yang telah menggerogoti kursi dewan dan pemerintahan akan terkikis jika pemerintah dan wakil rakyatnya dekat dengan sang Khalik
Alasan ketiga, Caleg yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang mampu menggunakan fasilitas yang ia punya sebagai sarana untuk mensejahterakan rakyat bukan kesejahteraan pribadi ataupun kelompoknya. Ketika duduk di kursi dewan nanti dia akan mendapatkan berbagai fasilitas untuk mempermudah pekerjaannya, namun sebagai mana kita lihat sekarang fasilitas itu hanya sedikit sekali yang diguakan untuk kepentingan rakyat bahkan kebanyakan digunakn untuk kepentingan pribadi belaka, hal ini terjadi karena banyak dewan kita yang tidak dengan dengan Tuhan. Untuk lebih nyatanya kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz merupakan contoh nyata bagi kita, ketika beliau menjadi khalifah dalam waktu kurang lebih tiga tahun beliau mampu memberantas kemiskinan, bahkan Badan Amil Zakat (BAZ) tidak mampu mencari rakyat miskin sebagi penerima zakat dan diceritakan pada suatu malam beliau sedang bekerja dirumahnya tiba-tiba datang seorang sahabat yang ingin membicarakan tentang hal pribadi kepada beliau dan ketika itu juga beliau mematikan lampu yang ia gunakan pada saat itu dan sang sahabat bertanya kepada beliau kenapa mematikan lampunya lantas beliau menjawabnya dengan tenang dan berkata ”lampu ini adalah milik rakyat sedangkan kita akan berbicara hal pribadi jadi tak patut kita gunakan lampu ini hanya untuk urusan pribadi”, ini merupakan kisah yang nyata dari seorang pemimpin yang dekat dengan Allah SWT dan bukan sebuah dongeng belaka. 
Alasan yang keempat, kenpa harus memilih Caleg yang dekat dengan Tuhan adalah karena orang yang dekat dengan Tuhan akan selalu merasa di awasi oleh Allah Yang Maha Melihat sehingga akan terhindar dari melakukan perbuatan maksiat, sebagai mana yang tejadi saat ini. Kita melihat banyak sekali para yang anggota dewan yang katanya terhormat tetapi malah menghinakan institusinya sendiri. Beberapa waktu lalu masih terngiyang di telinga kita tentang kasus suap yang menimpa salah satu anggota DPR RI, kasus asusila tentang perselingkuhan anggota DPR RI, tidak hanya satu orang bahkan lebih dari itu. Ini adalah gambaran yang diberikan oleh Allah SWT bahwa orang yang melupakan Allah akan lupa dengan dirinya sendiri. Apakah kita akan terus berdiam diri melihat wakil rakyat seperti ini? Tentunya kita berharap tidak demikian.
Masih banyak alasan lain yang menjadi dasar bagi kita kenapa kita harus memilih pemimpin yang dekat dengan Tuhan. Gambaran penomena yang terjadi di pemerintahan kita sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Caleg yang tidak dekat dengan Tuhan akan menghalalkan segala macam cara untuk menggapai apa yang dia inginkan. Apapun akan dilakukan asalkan lolos menajdi anggota dewan. Dan jika terpilih nanti maka dia akan menggerogoti uang rakyat, dia akan mengeruk uang rakyat sebagai ganti terhadap pengeluaran yang ia lakukan pada saat masa kampanye yang lalu. Jika hal itu terjadi maka rakyat akan kembali sengsara.
Dalam kesempatan ini kita menyerukan kepada para masyarakat Indonesia agar berhati-hati dalam menentukan pilihan pada pemilu  nanti karena pilihan ini akan menentukan bagaimana bangsa ini lima tahun yang akan datang. Rakyat hendaknya jeli dalam memilih jangan mudah tergoda dengan iklan kampanye, pesona wajah para caleg, penampilan, uang yang diberikan dll, tapi lihatlah bagaimana hubungannya dengan Sang Khalik dan kehidupanya dengan masyarakat karena hal itulah yang akan menunjukkan kewibaan dan kharisma pemimpin sesungguhnya. Ingatlah jangan hanya uang lima puluh ribu kita korbankan lima tahun. Terakhir harapan kita semoga rakyat bisa menentukan pilihan kepada orang yang tepat, sehingga harapan kita untuk hidup sejahtera dapat terwujudkan.
Oleh karena itulah Islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik. Dalam Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang baik dan beriman:
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. “ (An Nisaa 4:138-139)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim ” (QS. Al-Maidah: 51)

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (At Taubah:23)

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman atau pelindung)” (An Nisaa:144)

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun…” (Ali Imran:28)

Selain beriman, seorang pemimpin juga harus adil:
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ada tujuh golongan manusia yang kelak akan memperoleh naungan dari Allah pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu ialah):
1. Imam/pemimpin yang adil
2. Pemuda yang terus-menerus hidup dalam beribadah kepada Allah
3. Seorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid
4. Dua orang yang bercinta-cintaan karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah
5. Seorang pria yang diajak (berbuat serong) oleh seorang wanita kaya dan cantik, lalu ia menjawab “sesungguhnya aku takut kepada Allah”
6. Seorang yang bersedekah dengan satu sedekah dengan amat rahasia, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
7. Seorang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullâh) di waktu sendirian, hingga melelehkan air matanya.(HR. Bukhari dan Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah : 5)

Keadilan yang diserukan al-Qur’an pada dasarnya mencakup keadilan di bidang ekonomi, sosial, dan terlebih lagi, dalam bidang hukum. Seorang pemimpin yang adil, indikasinya adalah selalu menegakkan supremasi hukum; memandang dan memperlakukan semua manusia sama di depan hukum, tanpa pandang bulu. Hal inilah yang telah diperintahkan al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah ketika bertekad untuk menegakkan hukum (dalam konteks pencurian), walaupun pelakunya adalah putri beliau sendiri, Fatimah, misalnya.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

Dalam sebuah kesempatan, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama bin Zaid supaya memohon kepada Rasulullah untuk membebaskannya, Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa, kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hukum seperti itu.

Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan berkata: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah)
“Sesungguhnya Allah akan melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara I dr Ali ibn Abi Thalib) Pilihlah pemimpin yang jujur:
Dari Ma’qil ra. Berkata: saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda: “seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga”. (HR. Bukhari)

Pilih pemimpin yang mau mencegah dan memberantas kemungkaran seperti korupsi, nepotisme, manipulasi, dll:
“Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Pilih pemimpin yang bisa mempersatukan ummat, bukan yang fanatik terhadap kelompoknya sendiri:
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan dalam Al Qur’an :
“ … Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian, orang-orang Muslim, dari dahulu … .” (QS. Al Hajj : 78)

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menukil satu hadits yang berbunyi :
“Barangsiapa menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah maka sesungguhnya dia menyeru ke pintu jahanam.” Berkata seseorang : “Ya Rasulullah, walaupun dia puasa dan shalat?” “Ya, walaupun dia puasa dan shalat, walaupun dia mengaku Muslim. Maka menyerulah kalian dengan seruan yang Allah telah memberikan nama atas kalian, yaitu : Al Muslimin, Al Mukminin, Hamba-Hamba Allah.” (HR. Ahmad jilid 4/130, 202 dan jilid 5/344)

 Ada beberapa sifat baik yang harus dimiliki oleh para Nabi, yaitu: Amanah (dapat dipercaya), Siddiq (benar), Fathonah (cerdas/bijaksana), serta tabligh (berkomunikasi dgn baik dgn rakyatnya). Sifat di atas juga harus dimiliki oleh pemimpin yang kita pilih.
Pilih pemimpin yang amanah, sehingga dia benar-benar berusaha mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya bisa menjual aset negara atau kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Pilih pemimpin yang cerdas, sehingga dia tidak bisa ditipu oleh anak buahnya atau kelompok lain sehingga merugikan negara. Pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan rakyatnya.

Terkadang kita begitu apatis dengan pemimpin yang korup, sehingga memilih Golput. Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan sikap yang kurang baik. Dalam Islam, kepemimpinan itu penting, sehingga Nabi pernah berkata, jika kalian bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin. Jika hanya berdua, maka salah satunya jadi pemimpin. Sholat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya (imam).

10.54 | 0 komentar

Sabar, Darah Lancar

Written By Rudi Abu azka on Senin, 28 Mei 2012 | 16.30

"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya  Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Bagarah,2: 153)

Sabar ada batasnya!" Ucapan ini sering kita dengar keluar dari lisan orang dekat atau orang lain. Sesungguhnya bagi seorang mukmin, sabar tidak pernah ada batasnya, kecuali kematian. Sebab sepanjang hidup menjadi ladang ibadah dan ujian tiada henti. Untuk itu para ulama membagi sabar dalam tiga hal, pertama: sabar dalam taat kepada Allah dan Rasul Nya. Kedua Sabar dalam menghindari maksiyat, dan ketiga sabar dalam menghadapi ujian.

Rasulullah SAWsendiri ujian kesabaran terlihat ketika pertama kali seseorang mendapati ujian, masalah atau musibah yang menimpanya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik  Suatu saat Rasulullah melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah". Wanita tersebut menjawab, "Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku". Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah Lalu ia rnenciatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah "(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.' (HR. Bukhari Muslim)
Secara ideal/normal, ketika seseorang dalam keadaan tenang aktivitas organ tubuhnya juga dalam keadaan tenang dan stabil menjalankan tugasnya, khususnya jantung yang bekerja tiada henti memompa darah. Bila seseorang berusaha tenang dengan keimanannya menghadapi berbagai ujian, tentu aktivitas tubuhnya pun tetap normal dan stabil Namun jika. Namun jika seseorang kehjlangan kesabaran apalagi terhentak saat mengahadapi masalah yang dianggapnya berat tentunya hal itu langsung mempengaruhi detak jantungnya yang semua tenang berubah menajadi berdegub keras atau sebaliknya melemah.

Meningkatnya degub atau detak jantung inilah yang kemudian membuat organ tersebut bergerak alias memompa darah lebih cepat dari lazimnya. Perubahan gerakan jantung inilah yang kemudian mempengaruhi aliran darah yang semula tenang/ stabil berubah menjadi lebih cepat. Apalagi seseorang yang menghadapi masalah dengan luapan amarah, kekesalan, kecewa, tangisan berlebihan dan lainnya. Pada gilirannya minimnya keikhlasan dan ketidaksabaran hanya membikin detak jantung lebih cepat dan tensi melonjak  lonjak.

Rasulullah bersabda: "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah balk baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

16.30 | 0 komentar

Rambu Penyelamat dari Fitnah Internet 2


7. Bersikap teliti
Di antara hal yang harus dip erhatikan saat seseorang menggunakan internet adalah bersikap teliti dengan apa yang dia ucapkan, dia dengar, dia baca dan dia ceritakan. Dengan sikap inilah kecerdasan pikiran, keseimbangan diri dan keimanan seseorang diketahui. Bagaimana tidak, sedangkan di internet itu tema tulisan apa saja ada. Yang menulis pun siapa saja, dan kadangkala juga dengan nama palsu.

Seorang yang cerdas harus betul­betul memperhatikan hal ini. Kalau ia membaca suatu kabar berita, atau perkara apa saja, ia harus bersikap teliti. Kalau ia berpandangan bahwa perkara tersebut perlu disebarluaskan, dan memang akan melahirkan suatu kebaikan, atau mewujudkan kesepakatan yang baik, barulah ia menyebarluaskannya. Tapi kalau tidak, maka ia tidak mempedulikannya. Sungguh, betapa banyak keburukan dan kerusakan yang diakibatkan oleh sikap sembrono dalam masalah ini.

Dan berapa banyak orang yang tidak cermat menyikapi kabar berita yang termuat di internet seolah-olah seperti sebuah wahyu yang sama sekali tidak mungkin mengandung kesalahan. Seorang yang cerdas tentu tidak akan bersikap seperti ini. Ia akan bersikap teliti dan berhati-hati, sekalipun ia membaca pernyataan seorang yang terkenal dan terpercaya, terlebih lagi orang yang tak dikenal dan tak dapat dipercaya.

Telah datang sebuah larangan untuk menceritakan segala sesuatu yang didengar. Rasulullah bersabda:

"Cukuplah menjadi sebuah dosa bagi seseorang, dengan (tindakannya) menceritakan segala sesuatu yang ia dengar." (HR. Muslim)

Etika bersikap teliti ini menjadi keharusan bagi setiap orang, terutama pada saat terjadinya fitnah dan situasi panas. Seorang yang mengharapkan kebaikan bagi dirinya haruslah memperhatikan etika tersebut agar ia lebih dekat kepada keselamatan dan terjauhkan dari kecelakaan.

Allah SWT berfirman:
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentangkeamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." (An-Nisa: 83)

Al-'Allamah SyaikhAb durrahman as-Si'dy berkata mengenai tafsir ayat ini: "Ini merupakan pelajaran yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang telah melakukan hal yang tidak patut. Yaitu tatkala mereka mendapatkan kabar berita tentang sesuatu yang penting dan menyangkut kepentingan orang banyak, seperti keamanan (wilayah yang mereka tempati) atau kegembiraan kaum mukminin, atau kekhawatiran yang justru akan menyebabkan petaka bagi mereka, sepatutnya mereka bersikap teliti dan tidak tergesa­gesa menyebarluaskan berita tersebut, serta mengembalikannya kepada Rasulullah dan orang-orang yang memiliki wewenang (untuk memutuskan tindakan). Yaitu orang­orang yang ahli, berilmu, memiliki ketulus an untuk memberikan kebaikan bagi orang lain, mempunyai pertimbangan yang sehat dan bijak. Para tokoh yang mengerti situasi dan kondisi serta mengetahui apakah suatu tindakan tertentu memiliki maslahat atau tidak.

Kalau mereka berpandangan bahwa menyebarluaskan berita tersebut akan menimbulkan kemaslahatan, semangat positif, dan kegembiraan bagi kaum mukminin, serta sikap waspada terhadap musuh, barulah berita itu disebarluaskan. Akan tetapi kalau mereka berpandangan bahwa ia tidak mengandung maslahat apapun, atau mungkin mengandung maslahat namun mudaratnya lebih besar, maka berita tadi tidak disebarluaskan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:
"Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)." (An-Nisa: 83)
            Maksudnya,         mereka menyimpulkan berita tersebut dengan pikiran dan pendapat mereka yang cermat, dan keilmuan mereka yang matang. Ini menjadi dalil untuk sebuah ketentuan etis, bahwa apabila kita hendak mengkaji suatu perkara, maka orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut hendaknya dijadikan sebagai narasumber, dan pendapat mereka ini tidak boleh diabaikan. Sebab tentu ia lebih dekat kepada kebenaran dan lebih kecil kemungkinannya untuk salah.

Dalam keterangan ayat tersebut juga terdapat larangan bersikap tergesa-gesa menyebarluaskan suatu berita segera setelah seseorang mendengarnya. Demikian juga perintah untuk bersikap cermat sebelum berbicara, dan mempertimbangkan suatu ucapan: apakah ia mengandung maslahat sehingga perlu dilontarkan, ataukah tidak?"

Di bagian yang lain, Syaikh As-Si'dy juga menganjurkan untuk bersikap teliti dan penuh pertimbangan, dengan berkata: "Dan  dalam firman Allah SWT :
"Dan janganlah kamu tergesa­-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114)

Di dalamnya terdapat sebuah adab bagi penuntut ilmu. Yaitu hendaknya ia cermat dalam memahami ilmu, dan tidak tergesa­gesa menghukumi suatu perkara. Juga tidak bersikap ujub. Dan ia senantiasa memohon kepada Allah it agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan kemudahan memahaminya."

Beliau juga berkata: "Firrnan Allah SWT:
"Mengapa ketika kamu mendengar berita bohongitu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (An‑Nur: 12)

Ini merupakan bimbingan dari Allah  untuk hamba-hamba­Nya apabila mereka mendengar ucapan-ucapan yang mencoreng kehormatan saudara-saudara mereka sesama mukmin, hendaknya mereka kembali kepada pengetahuan mereka bahwa saudara mereka
itu adalah orang yang betiman, dan kepada keadaan zahir saudara mereka tersebut. Kemudian mereka tidak mempedulikan ucapan orang­orang yang mencoreng kehormatan saudara mereka. Akan tetapi mereka kembali kepada keadaan asal saudara mereka itu, dan mengingkari berita yang menyelisihinya."

Ibnu Hibban    berkata:
"Manshur bin Muhammad al-Kuraizi melantunkan sebuah syair untukku:
Kelembutan adalah hal paling berkah yang engkau mengikutinya
Sedangkan kepandiran adalah hal yang paling membuat orang celaka
Orang yang bersikap teliti, hanya akan terpuji atau beruntung
Siapa    yang     mengendarai
kelembutan, tidak akan binasa karena tersandung.

8. Berhati-hati dalam mengemukakan pendapat
Salah satu hal yang juga harus diperhatikan dalam menggunakan internet adalah hendaknya seseorang tidak selalu menuruti keinginan untuk mengemukakan pendapat dalam setiap masalah. Ia juga tidak seharusnya mengatakan semua yang ia ketahui. Yang patut adalah ia mempertimbangkan kemaslahatan. Bukanlah hal yang baik, kalau seseorang  selalu mengomentari setiap permasalahan, dari yang remeh sarnpai yang penting. Dan lagi, bukan sebuah keharusan baginya untuk berbicara tentang setiap kasus yang terjadi. Sebab boleh jadi  ia tidak memahami suatu masalah sebagaimana yang seharusnya. Atau ia keliru dan tidak tepat menimbang suatu permasalahan. Orang Arab memiliki pepatah:

Kesalahan itu bekalnya orang yang tergesa-gesa

Berbeda halnya kalau seseorang bersikap hati-hati dan cermat. Hal demikian akan membuat pikiran menjadi lebih jernih, pertimbangan menjadi lebih matang, dan seseorang akan lebih mungkin terhindar dari kesalahan. Orang Arab memuji pribadi yang selalu bersikap hati-hati, cermat, dan mempertimbangkan banyak hal, dengan ungkapan: innahu lahuwwalun qullabu (sesungguhnya ia seorang yang , selalu penuh pertimbangan).

Bahkan tidaklah bijak apabila seseorang  selalu mengemukakan pendapat mengenai sesuatu yang ia ketahui, sekalipun ia sudah cermat dalam membuat kesimpulan dan memiliki pendapat yang benar. Sebab tidak setiap pendapat harus ia lontarkan kepada orang lain, dan tidak setiap yang ia ketahui perlu disampaikan. Namun yang bijak adalah seseorang menyimpan pendapatnya kecuali kalau keadaan memang menuntutnya berbicara, demi suatu hikmah dan maslahat. Dan dalam hal itu pun ia harus senantiasa bermusyawarah (meminta pertimbangan orang lain -pent.), terlebih khususnya untuk permasalahan-permasalahan besar.

Perkataanmu saat berbicarahendaklah ditimbang
Karena ucapan itu memperlihatkan cerdas tidaknya seseorang

Salah seorang ahli hikmah mengatakan: "Sesungguhnya saat pertama kali dilontarkan, suatu ucapan kadangkala dapat membuat orang terkesima dan terkagum­kagum. Ketika pikiran seseorang mulai tenang, pengamatannya mulai berimbang, dan jiwanya pun menjernih, hendaknya ia kembali mencermati ucapannya tersebut kemudian bersikap adil: kalau memang ucapannya merupakan kebenaran, hendaknya ia bergembira. Namun kalau ucapannya merupakan kebatilan, hendaknya ia bersedih."

Ibnu Hibban    berkata:
"Orang yang bersikap hati-hati, hampir tak pernah diungguli oleh siapapun. Sebagaimana orang yang selalu terge s a-ges a hampir tak pernah mengungguli siapapun. Dan kalau orang yang diam itu hampir tidak pernah menyesal, demikian juga orang yang banyak bicara itu hampir tidak pernah terhindar dari kesalahan."

Orang yang tergesa-gesa akan berkata sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum mencoba, mencela setelah memuji, berketetapan hati sebelum berpikir, dan berbuat sebelum berketetapan hati.
Orang yang tergesa-gesa akan selalu diiringi penyesalan dan tidak pernah meraih keselamatap. Orang Arab menyebut sikap tergesa-gesa sebagai ummun nadaamaat (biang penyesalan).

Dan     disebutkan      dengan sanadnya, dari Umar bin Habib , ia berkata: "Dulu dikatakan: Orang yang tergesa-gesa tidak akan terpuji. Orang yang pemarah tidak akan pernah bergembira. Orang yang bebas, tidak akan berkeinginan kuat terhadap kebaikan. Orang yang dermawan, tidak akan mendengki. Orang yang rakus, tidak akan kaya. Dan orang yang membosankan, tidak akan memiliki saudara."

Oleh karena itu, begitu beruntun nasehat orang-orang bijak dalam hal bersikap hati-hati, terutama ketika seseorang hendak melakukan hal-hal berbahaya. Al-Mutanabbi  berkata:
Pertimbangan matang harus mendahului keberanian
Timbang matang-matang, Baru keinudian bersikap berani
Ketika keduanya terhimpun sekaligus dalam satu pribadi
Maka puncak kemuliaan akan di gapai
Ia juga berkata:
Keberanian dalam diri seseorang akan membuatnya mandiri
Dan keberanian seorang yang bijak tak ada yang menandingi

9. Bersikap proporsional dalam mengungkapkan sesuatu
Hal lain yang sepatutnya dip erhatikan adalah bersikap proporsional dalam mengungkapkan  sesuatu, dan menghindari sikap mendramatisir atau membesarkan­besarkan suatu hal. Karena hakekat sesuatu akan lenyap antara sikap terlalu memb es ar-b esarkan, dan sikap terlalu meremehkan. Dalam pepatah arab dikatakan: "Sebaik­baik manusia adalah golongan yang pertengahan."

10. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT.
Hal paling utama yang menjadi pengendali dan pengontrol seseorang, serta yang menyokongnya untuk mendapatkan manfaat dari internet sekaligus menghindarkannya dari segala marabahaya internet, adalah sikap selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah it.
Tidak ada yang lebih indah dipandang oleh mataku ini
Selain seorang pemuda yang takut kepada Allah di saat sendiri

Seseorang hendaknya senantiasa mengingat hal ini dengan baik. Ia juga harus selalu menyadari bahwa apa yang tidak terlihat oleh orang lain itu tetaplah tampak jelas bagi Allah Maka tentu tidak patut apabila seseorang sampai lebih meremehkan penglihatan Allah SWT daripada penglihatan manusia. Dan perlu ia ketahui bahwa siapa yang menyembunyikan sesuatu, niscaya Allah it akan membuat sesuatu itu terlihat oleh orang lain. Dan siapa yang menyimpan sesuatu, pasti Allah akan menampakkannya. Entah itu suatu kebaikan ataupun keburukan. Sebab balasan yang didapat seseorang sejenis dengan amal yang diperbuatnya. Dan siapa yang berbuat keburukan, niscaya ia akan dibalas dengan keburukan pula.
Para pembaca, perhatikanlah beberapa ucapan penuh cahaya dari sebagian Salaf mengenai masalah ini.

Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata: "Tidaklah seorang hamba memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah it , melainkan Allah at pasti akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia. Dan tidaklah ia merusak hubungan antara dirinya dengan Allah
melainkan Allah SWT pasti akan merusak hubungan antara dirinya dengan manusia. Sungguh, mencari keridhoan satu orang itu lebih mudah daripada mencari keridhoan semua orang. Dan kalau engkau mencari keridhoan Allah SWT, maka semua orang akan ridho kepadamu. Namun kalau engkau merusak hubungan antara dirimu dengan Allah maka semua orang akan benci terhadapmu."

Al-Mu'tamir          bin       Sulaiman berkata: "Sesungguhnya ketika seseorang melakukan dosa di saat sendirian, niscaya di pagi harinya ia akan mendapatkan kehinaan akibat dosa tersebut."
Ibnul Jauzi  berkata: "Aku memperhatikan bukti-bukti yang menunjukkan (kekuasaan) Allah it , maka aku dapatkan bukti itu lebih banyak dari butiran pasir. Dan aku lihat tanda yang paling menakjubkan adalah bahwa ketika seseorang menyembunyikan sesuatu yang
tidak diridhai oleh Allah, Allah akan membuat hal itu terlihat pada dirinya sekalipun setelah beberapa waktu. Dan orang-orang akan membicarakannya, sekalipun mereka tidak menyaksikan apa yang disembunyikannya itu.

Dan bisa saja Allah SWT membuat orang itu tergelincir pada suatu hal yang tidak patut, yang dengannya Allah it menyingkap keburukan orang tersebut di mata manusia. Sehingga itu menjadi jawaban bagi segala dosa yang dia sembunyikan. Hal demikian, agar orang-orang mengetahui bahwa di sana ada Allah SWT yang memberikan balasan bagi setiap ketergelinciran. Dan bahwa hijab atau penutup apapun tidak akan bermanfaat untuk menghalangi takdir dan kekuasaan Allah it. Juga bahwa tidak ada satu amalan pun yang luput dari perhitungan-Nya.

Demikian juga seseorang yang menyembunyikan ketaatan. Maka ketaatan itu akan terlihat pada dirinya, dan orang-orang akan berbicara mengenai ketaatannya itu, dan mengenai ketaatannya yang lebih banyak lagi, sampai-sampai mereka tidak tahu satu pun dosa yang dia lakukan. Mereka hanya akan menyebutkan kebaikan-kebaikan dirinya. Agar diketahui bahwa di sana ada Rabb yang tidak sedikitpun menyia-nyiakan amalan seseorang.

Dan sungguh, qalbu manusia itu bisa mengetahui keadaan seseorang, sehingga ia menyukai atau membenci orang , tersebut,mencela atau memujinya, sesuai dengan apa yang ia lakukan ketika hanya sedang bersama Allah tk. Dan tidaklah seseorang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah SWT , melainkan Allah it pasti akan memberikannya sesuatu yang membebaskannya dari kesedihan, dan menghindarkannya dari segala keburukan. Dan tidaklah seorang hamba memperbaiki hubungan antara dirinya dengan orang lain, tanpa mempedulikan hubungannya dengan Allah SWT, melainkan pasti yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang diinginkannya. Dan orang yang memujinya akan berbalik mencelanya."

Ibnul Jawzi      juga berkata:"Sesungguhnya kondisi seseorang  ketika bersendiri itu memiliki pengaruh yang akan terlihat di saat ia bersama orang lain. Berapa banyak orang yang beriman kepada Allah 'Alt , yang memuliakan Allah At di saat sendirian, sehingga ia meninggalkan apa yang ia senangi karena takut terhadap hukuman-Nya, atau karena mengharapkan pahala-Nya, atau demi mengagungkan-Nya. Sampai­-sampai dengan perbuatannya itu, ia menjadi seperti sebuah kayu harum yang diletakkan di atas bara, dan bau harumnya pun tercium oleh orang banyak, sedangkan mereka tidak tahu asal bau harum tersebut.
Dan sebesar kesungguhan seseorang dalam meninggalkan hawa nafsunya, sebesar itu pulalah rasa cinta orang lain kepadanya.

Atau semakin kuat ia menahan diri dari kenikmatan-kenikmatan yang seharusnya ditinggalkan, maka akan semakin bertambah pula keharumannya. Dan keharuman ini akan berbeda-beda tingkatannya sebagaimana kayu harum itu sendiri pun berbeda-beda jenisnya.
Anda lihat banyak orang yang menghormati dan memujinya sedangkan mereka tidak tahu kenapa. Mereka pun tak dapat mendeskripsikan kebaikan orang tersebut karena mereka tidak betul­betul mengenalnya.

Dan kadangkala bau harum ini masih terus tercium setelah orang tersebut meninggal sampai beberapa waktu sesuai dengan kadar perbuatannya. Ada yang masih dikenang kebaikannya sampai beberapa lama, kemudian terlupakan. Ada yang masih terkenang sampai seratus tahun kemudian terlupakan, dan kuburnya sendiri tidak diketahui lagi di mana. Ada juga yang merupakan tokoh-tokoh besar yang akan selalu terkenang selamanya.

Kebalikan orang jenis ini adalah yang takut dengan pandangan orang banyak, tapi tidak mengagungkan pandangan Allah SWT ketika ia sedang sendiri. Maka sebesar keberaniannya melakukan dosa, dan juga sebesar dosa yang dilakukannya, akan tercium darinya bau yang tak sedap sehingga ia akan dibenci orang. Kalau sedikit kadar perbuatan dosanya (ketika sedang sendirian -pent.), maka orang lain pun akan jarang menyebutnya dengan kebaikan. Dan mereka hanya akan sekedar menghormatinya. Sedangkan kalau banyak kadar perbuatan dosanya (ketika sedang sendirian -pent.), paling tidak orang tidak akanberbicara apa-apamengenai dirinya. Tidak memuji, dan juga tidak mencela. Dan betapa banyak orang yang diam-diam melakukan suatu dosa, kemudian dosanya itu menjadi sebab dirinya terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Seakan-akan dikatakan kepadanya: "Tetaplah kamu dengan apa yang lebih kamu sukai." Maka ia pun selalu berada dalam kehinaan selamanya.

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, bagaimana perbuatan maksiat itu akan ' mempengaruhi kehidupan seseorang dan bahkan menjungkirbalikkannya."
Abu Darda'berkata: "Sesungguhnya seorang hamba bermaksiat kepada Allah k secara diam-diam, kemudian Allah munculkan rasa benci terhadapnya di hati orang-orang beriman dari arah yang tidak ia sadari. Maka camkanlah apa yang telah aku tuliskan, dan pahamilah apa yang aku katakan, serta jangan remehkan keadaan kalian ketika sedang sendiri dan tak terlihat orang lain. Karena sesungguhnya setiap perbuatan itu berdasarkan niatnya, dan balasan suatu amal sesuai dengan kadar keikhlasannya."

Ibnul      Jauzi      berkata: "Sesungguhnya sebesar pengagungan kalian terhadap Allah SWT, sebesar itu pula Allah it akan menghormati kalian. Dan sebesar pemuliaan kalian terhadap kedudukan Allah k, sebesar itu pula Allah k akan memuliakan kedudukan kalian.
Sungguh, aku telah saksikan orang yang menghabiskan usianya untuk ilmu sampai ia tua, namun kemudian ia melampaui batas (bermaksiat, -red.) sehingga dipandang rendah oleh orang banyak. Mereka tidak sedikit pun menghormatinya sekalipun ilmunya begitu luas dan usahanya begitu sungguh-sungguh.

Dan sungguh aku telah saksikan orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah °k dalam usianya yang masih muda, sekalipun ia memiliki keterbatas an-keterbatas an -dibandingkan dengan orang alim tadi- namun Allah SWT memuliakannya di mata orang banyak. Mereka bahkan terpaut hati dengannya, dan menyebutnya dengan kebaikan melebihi apa yang ada pada dirinya.

Dan telah aku saksikan orang yang terlihat istiqamah, ketika ia sedang istiqamah. Namun ketika ia mulai menyimpang, bimbingan Allah SWT pun terlepas darinya. Kalau saja bukan karena Allah SWT yang menutupi dosa manusia secara umum, dan yang merahmati mereka seluruhnya, tentu keburukan orang-orang tersebut akan terbongkar. Dan kalaupun sampai terbongkar maka umumnya itu merupakan suatu pelajaran, atau hukuman yang diberikan secara lembut."


11. Berpartisipasi menyajikan konten yang bermanfaat
Sebagaimana seorang muslim berkewajiban untuk menghindarkan diri dari keburukan internet, demikian juga ia sepatutnya, atau bahkan seharusnya tidak menghalangi diri untuk mendapatkan kebaikan internet. Terlebih lagi kalau ia memiliki wawasan dan keterampilan dalam hal internet. Kuranglah baik kalau yang ia jaga hanya sebatas tidak terjatuh pada hal yang dilarang. Akan tetapi ia harus ikut serta menyajikan sesuatu yang bermanfaat, memberikan kontribusi berguna, sumbangan yang positif, atau dengan memberikan informasi tentang situs­situs islam yang terpercaya.

12. Mengingkari hal-hal yang dipandang sebagai kemungkaran
Seorang pengguna internet hendaknya tidak menilai dirinya terlalu rendah untuk mengingkari sesuatu yang dipandangnya sebagai kemungkaran atau keburukan di internet. Hal itu dapat ia lakukan sesuai dengan kemampuannya.

Terakhir, perhatikanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini wahai saudaraku yang baik:
Tidakkah -ketika pandanganmu tertuju kepada gambar-gambar porno- engkau rasakan kegelapan di qalbumu, kemalasan di tubuhmu, clan ketidaksemangatan melakukan kebaikan, serta keinginan melakukan keburukan?

Tidakkah ketika engkau membaca tulisan-tulisan yang berisi caci-maki, atau mendengar gosip tentang fulan dan fulan- engkau rasakan kekerasan di qalbumu, dan keburukan dalam persangkaanmu, serta pandangan negatif dalam benakmu?
           
Tidakkah ketika engkau menghabiskan waktu berjam-jam di depan internet tanpa faidah- engkau merasa dadamu menjadi sempit, dan engkau merasa malas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu sendiri? Sampai-sampai engkau tidak sabar dengan orang yang ada di sampingmu (ingin supaya dia segera pergi -pent.), dan tidak ingin menjawab orang yang menghubungimu melalui telpon.
Kebalikannya, tidakkah engkau merasakan semangat, kenyamanan, kegembiraan dan kekuatan ketika engkau bisa menyajikan suatu kebaikan, menundukkan pandangan dari hal yang haram, dan bertakwa  kepada Allah ketika sedang sendirian?

Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik, dan sifat-sifat-Nya yang mulia, semoga Dia menjauhkan kita dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Semoga Dia menjadikan kita sebagai pembuka pintu kebaikan, dan sebagai penutup pintu keburukan, serta diberikan keberkahan di mana saja kita berada.
Walhamdulillahi rabbil alamin. (Sumber: Al-Intirnit)
15.01 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung