Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Rambu Penyelamat dari Fitnah Internet 2

Written By Rudi Abu azka on Senin, 28 Mei 2012 | 15.01


7. Bersikap teliti
Di antara hal yang harus dip erhatikan saat seseorang menggunakan internet adalah bersikap teliti dengan apa yang dia ucapkan, dia dengar, dia baca dan dia ceritakan. Dengan sikap inilah kecerdasan pikiran, keseimbangan diri dan keimanan seseorang diketahui. Bagaimana tidak, sedangkan di internet itu tema tulisan apa saja ada. Yang menulis pun siapa saja, dan kadangkala juga dengan nama palsu.

Seorang yang cerdas harus betul­betul memperhatikan hal ini. Kalau ia membaca suatu kabar berita, atau perkara apa saja, ia harus bersikap teliti. Kalau ia berpandangan bahwa perkara tersebut perlu disebarluaskan, dan memang akan melahirkan suatu kebaikan, atau mewujudkan kesepakatan yang baik, barulah ia menyebarluaskannya. Tapi kalau tidak, maka ia tidak mempedulikannya. Sungguh, betapa banyak keburukan dan kerusakan yang diakibatkan oleh sikap sembrono dalam masalah ini.

Dan berapa banyak orang yang tidak cermat menyikapi kabar berita yang termuat di internet seolah-olah seperti sebuah wahyu yang sama sekali tidak mungkin mengandung kesalahan. Seorang yang cerdas tentu tidak akan bersikap seperti ini. Ia akan bersikap teliti dan berhati-hati, sekalipun ia membaca pernyataan seorang yang terkenal dan terpercaya, terlebih lagi orang yang tak dikenal dan tak dapat dipercaya.

Telah datang sebuah larangan untuk menceritakan segala sesuatu yang didengar. Rasulullah bersabda:

"Cukuplah menjadi sebuah dosa bagi seseorang, dengan (tindakannya) menceritakan segala sesuatu yang ia dengar." (HR. Muslim)

Etika bersikap teliti ini menjadi keharusan bagi setiap orang, terutama pada saat terjadinya fitnah dan situasi panas. Seorang yang mengharapkan kebaikan bagi dirinya haruslah memperhatikan etika tersebut agar ia lebih dekat kepada keselamatan dan terjauhkan dari kecelakaan.

Allah SWT berfirman:
"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentangkeamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." (An-Nisa: 83)

Al-'Allamah SyaikhAb durrahman as-Si'dy berkata mengenai tafsir ayat ini: "Ini merupakan pelajaran yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang telah melakukan hal yang tidak patut. Yaitu tatkala mereka mendapatkan kabar berita tentang sesuatu yang penting dan menyangkut kepentingan orang banyak, seperti keamanan (wilayah yang mereka tempati) atau kegembiraan kaum mukminin, atau kekhawatiran yang justru akan menyebabkan petaka bagi mereka, sepatutnya mereka bersikap teliti dan tidak tergesa­gesa menyebarluaskan berita tersebut, serta mengembalikannya kepada Rasulullah dan orang-orang yang memiliki wewenang (untuk memutuskan tindakan). Yaitu orang­orang yang ahli, berilmu, memiliki ketulus an untuk memberikan kebaikan bagi orang lain, mempunyai pertimbangan yang sehat dan bijak. Para tokoh yang mengerti situasi dan kondisi serta mengetahui apakah suatu tindakan tertentu memiliki maslahat atau tidak.

Kalau mereka berpandangan bahwa menyebarluaskan berita tersebut akan menimbulkan kemaslahatan, semangat positif, dan kegembiraan bagi kaum mukminin, serta sikap waspada terhadap musuh, barulah berita itu disebarluaskan. Akan tetapi kalau mereka berpandangan bahwa ia tidak mengandung maslahat apapun, atau mungkin mengandung maslahat namun mudaratnya lebih besar, maka berita tadi tidak disebarluaskan. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman:
"Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)." (An-Nisa: 83)
            Maksudnya,         mereka menyimpulkan berita tersebut dengan pikiran dan pendapat mereka yang cermat, dan keilmuan mereka yang matang. Ini menjadi dalil untuk sebuah ketentuan etis, bahwa apabila kita hendak mengkaji suatu perkara, maka orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut hendaknya dijadikan sebagai narasumber, dan pendapat mereka ini tidak boleh diabaikan. Sebab tentu ia lebih dekat kepada kebenaran dan lebih kecil kemungkinannya untuk salah.

Dalam keterangan ayat tersebut juga terdapat larangan bersikap tergesa-gesa menyebarluaskan suatu berita segera setelah seseorang mendengarnya. Demikian juga perintah untuk bersikap cermat sebelum berbicara, dan mempertimbangkan suatu ucapan: apakah ia mengandung maslahat sehingga perlu dilontarkan, ataukah tidak?"

Di bagian yang lain, Syaikh As-Si'dy juga menganjurkan untuk bersikap teliti dan penuh pertimbangan, dengan berkata: "Dan  dalam firman Allah SWT :
"Dan janganlah kamu tergesa­-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114)

Di dalamnya terdapat sebuah adab bagi penuntut ilmu. Yaitu hendaknya ia cermat dalam memahami ilmu, dan tidak tergesa­gesa menghukumi suatu perkara. Juga tidak bersikap ujub. Dan ia senantiasa memohon kepada Allah it agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan kemudahan memahaminya."

Beliau juga berkata: "Firrnan Allah SWT:
"Mengapa ketika kamu mendengar berita bohongitu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (An‑Nur: 12)

Ini merupakan bimbingan dari Allah  untuk hamba-hamba­Nya apabila mereka mendengar ucapan-ucapan yang mencoreng kehormatan saudara-saudara mereka sesama mukmin, hendaknya mereka kembali kepada pengetahuan mereka bahwa saudara mereka
itu adalah orang yang betiman, dan kepada keadaan zahir saudara mereka tersebut. Kemudian mereka tidak mempedulikan ucapan orang­orang yang mencoreng kehormatan saudara mereka. Akan tetapi mereka kembali kepada keadaan asal saudara mereka itu, dan mengingkari berita yang menyelisihinya."

Ibnu Hibban    berkata:
"Manshur bin Muhammad al-Kuraizi melantunkan sebuah syair untukku:
Kelembutan adalah hal paling berkah yang engkau mengikutinya
Sedangkan kepandiran adalah hal yang paling membuat orang celaka
Orang yang bersikap teliti, hanya akan terpuji atau beruntung
Siapa    yang     mengendarai
kelembutan, tidak akan binasa karena tersandung.

8. Berhati-hati dalam mengemukakan pendapat
Salah satu hal yang juga harus diperhatikan dalam menggunakan internet adalah hendaknya seseorang tidak selalu menuruti keinginan untuk mengemukakan pendapat dalam setiap masalah. Ia juga tidak seharusnya mengatakan semua yang ia ketahui. Yang patut adalah ia mempertimbangkan kemaslahatan. Bukanlah hal yang baik, kalau seseorang  selalu mengomentari setiap permasalahan, dari yang remeh sarnpai yang penting. Dan lagi, bukan sebuah keharusan baginya untuk berbicara tentang setiap kasus yang terjadi. Sebab boleh jadi  ia tidak memahami suatu masalah sebagaimana yang seharusnya. Atau ia keliru dan tidak tepat menimbang suatu permasalahan. Orang Arab memiliki pepatah:

Kesalahan itu bekalnya orang yang tergesa-gesa

Berbeda halnya kalau seseorang bersikap hati-hati dan cermat. Hal demikian akan membuat pikiran menjadi lebih jernih, pertimbangan menjadi lebih matang, dan seseorang akan lebih mungkin terhindar dari kesalahan. Orang Arab memuji pribadi yang selalu bersikap hati-hati, cermat, dan mempertimbangkan banyak hal, dengan ungkapan: innahu lahuwwalun qullabu (sesungguhnya ia seorang yang , selalu penuh pertimbangan).

Bahkan tidaklah bijak apabila seseorang  selalu mengemukakan pendapat mengenai sesuatu yang ia ketahui, sekalipun ia sudah cermat dalam membuat kesimpulan dan memiliki pendapat yang benar. Sebab tidak setiap pendapat harus ia lontarkan kepada orang lain, dan tidak setiap yang ia ketahui perlu disampaikan. Namun yang bijak adalah seseorang menyimpan pendapatnya kecuali kalau keadaan memang menuntutnya berbicara, demi suatu hikmah dan maslahat. Dan dalam hal itu pun ia harus senantiasa bermusyawarah (meminta pertimbangan orang lain -pent.), terlebih khususnya untuk permasalahan-permasalahan besar.

Perkataanmu saat berbicarahendaklah ditimbang
Karena ucapan itu memperlihatkan cerdas tidaknya seseorang

Salah seorang ahli hikmah mengatakan: "Sesungguhnya saat pertama kali dilontarkan, suatu ucapan kadangkala dapat membuat orang terkesima dan terkagum­kagum. Ketika pikiran seseorang mulai tenang, pengamatannya mulai berimbang, dan jiwanya pun menjernih, hendaknya ia kembali mencermati ucapannya tersebut kemudian bersikap adil: kalau memang ucapannya merupakan kebenaran, hendaknya ia bergembira. Namun kalau ucapannya merupakan kebatilan, hendaknya ia bersedih."

Ibnu Hibban    berkata:
"Orang yang bersikap hati-hati, hampir tak pernah diungguli oleh siapapun. Sebagaimana orang yang selalu terge s a-ges a hampir tak pernah mengungguli siapapun. Dan kalau orang yang diam itu hampir tidak pernah menyesal, demikian juga orang yang banyak bicara itu hampir tidak pernah terhindar dari kesalahan."

Orang yang tergesa-gesa akan berkata sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum mencoba, mencela setelah memuji, berketetapan hati sebelum berpikir, dan berbuat sebelum berketetapan hati.
Orang yang tergesa-gesa akan selalu diiringi penyesalan dan tidak pernah meraih keselamatap. Orang Arab menyebut sikap tergesa-gesa sebagai ummun nadaamaat (biang penyesalan).

Dan     disebutkan      dengan sanadnya, dari Umar bin Habib , ia berkata: "Dulu dikatakan: Orang yang tergesa-gesa tidak akan terpuji. Orang yang pemarah tidak akan pernah bergembira. Orang yang bebas, tidak akan berkeinginan kuat terhadap kebaikan. Orang yang dermawan, tidak akan mendengki. Orang yang rakus, tidak akan kaya. Dan orang yang membosankan, tidak akan memiliki saudara."

Oleh karena itu, begitu beruntun nasehat orang-orang bijak dalam hal bersikap hati-hati, terutama ketika seseorang hendak melakukan hal-hal berbahaya. Al-Mutanabbi  berkata:
Pertimbangan matang harus mendahului keberanian
Timbang matang-matang, Baru keinudian bersikap berani
Ketika keduanya terhimpun sekaligus dalam satu pribadi
Maka puncak kemuliaan akan di gapai
Ia juga berkata:
Keberanian dalam diri seseorang akan membuatnya mandiri
Dan keberanian seorang yang bijak tak ada yang menandingi

9. Bersikap proporsional dalam mengungkapkan sesuatu
Hal lain yang sepatutnya dip erhatikan adalah bersikap proporsional dalam mengungkapkan  sesuatu, dan menghindari sikap mendramatisir atau membesarkan­besarkan suatu hal. Karena hakekat sesuatu akan lenyap antara sikap terlalu memb es ar-b esarkan, dan sikap terlalu meremehkan. Dalam pepatah arab dikatakan: "Sebaik­baik manusia adalah golongan yang pertengahan."

10. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT.
Hal paling utama yang menjadi pengendali dan pengontrol seseorang, serta yang menyokongnya untuk mendapatkan manfaat dari internet sekaligus menghindarkannya dari segala marabahaya internet, adalah sikap selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah it.
Tidak ada yang lebih indah dipandang oleh mataku ini
Selain seorang pemuda yang takut kepada Allah di saat sendiri

Seseorang hendaknya senantiasa mengingat hal ini dengan baik. Ia juga harus selalu menyadari bahwa apa yang tidak terlihat oleh orang lain itu tetaplah tampak jelas bagi Allah Maka tentu tidak patut apabila seseorang sampai lebih meremehkan penglihatan Allah SWT daripada penglihatan manusia. Dan perlu ia ketahui bahwa siapa yang menyembunyikan sesuatu, niscaya Allah it akan membuat sesuatu itu terlihat oleh orang lain. Dan siapa yang menyimpan sesuatu, pasti Allah akan menampakkannya. Entah itu suatu kebaikan ataupun keburukan. Sebab balasan yang didapat seseorang sejenis dengan amal yang diperbuatnya. Dan siapa yang berbuat keburukan, niscaya ia akan dibalas dengan keburukan pula.
Para pembaca, perhatikanlah beberapa ucapan penuh cahaya dari sebagian Salaf mengenai masalah ini.

Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata: "Tidaklah seorang hamba memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah it , melainkan Allah at pasti akan memperbaiki hubungan antara dirinya dengan manusia. Dan tidaklah ia merusak hubungan antara dirinya dengan Allah
melainkan Allah SWT pasti akan merusak hubungan antara dirinya dengan manusia. Sungguh, mencari keridhoan satu orang itu lebih mudah daripada mencari keridhoan semua orang. Dan kalau engkau mencari keridhoan Allah SWT, maka semua orang akan ridho kepadamu. Namun kalau engkau merusak hubungan antara dirimu dengan Allah maka semua orang akan benci terhadapmu."

Al-Mu'tamir          bin       Sulaiman berkata: "Sesungguhnya ketika seseorang melakukan dosa di saat sendirian, niscaya di pagi harinya ia akan mendapatkan kehinaan akibat dosa tersebut."
Ibnul Jauzi  berkata: "Aku memperhatikan bukti-bukti yang menunjukkan (kekuasaan) Allah it , maka aku dapatkan bukti itu lebih banyak dari butiran pasir. Dan aku lihat tanda yang paling menakjubkan adalah bahwa ketika seseorang menyembunyikan sesuatu yang
tidak diridhai oleh Allah, Allah akan membuat hal itu terlihat pada dirinya sekalipun setelah beberapa waktu. Dan orang-orang akan membicarakannya, sekalipun mereka tidak menyaksikan apa yang disembunyikannya itu.

Dan bisa saja Allah SWT membuat orang itu tergelincir pada suatu hal yang tidak patut, yang dengannya Allah it menyingkap keburukan orang tersebut di mata manusia. Sehingga itu menjadi jawaban bagi segala dosa yang dia sembunyikan. Hal demikian, agar orang-orang mengetahui bahwa di sana ada Allah SWT yang memberikan balasan bagi setiap ketergelinciran. Dan bahwa hijab atau penutup apapun tidak akan bermanfaat untuk menghalangi takdir dan kekuasaan Allah it. Juga bahwa tidak ada satu amalan pun yang luput dari perhitungan-Nya.

Demikian juga seseorang yang menyembunyikan ketaatan. Maka ketaatan itu akan terlihat pada dirinya, dan orang-orang akan berbicara mengenai ketaatannya itu, dan mengenai ketaatannya yang lebih banyak lagi, sampai-sampai mereka tidak tahu satu pun dosa yang dia lakukan. Mereka hanya akan menyebutkan kebaikan-kebaikan dirinya. Agar diketahui bahwa di sana ada Rabb yang tidak sedikitpun menyia-nyiakan amalan seseorang.

Dan sungguh, qalbu manusia itu bisa mengetahui keadaan seseorang, sehingga ia menyukai atau membenci orang , tersebut,mencela atau memujinya, sesuai dengan apa yang ia lakukan ketika hanya sedang bersama Allah tk. Dan tidaklah seseorang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah SWT , melainkan Allah it pasti akan memberikannya sesuatu yang membebaskannya dari kesedihan, dan menghindarkannya dari segala keburukan. Dan tidaklah seorang hamba memperbaiki hubungan antara dirinya dengan orang lain, tanpa mempedulikan hubungannya dengan Allah SWT, melainkan pasti yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang diinginkannya. Dan orang yang memujinya akan berbalik mencelanya."

Ibnul Jawzi      juga berkata:"Sesungguhnya kondisi seseorang  ketika bersendiri itu memiliki pengaruh yang akan terlihat di saat ia bersama orang lain. Berapa banyak orang yang beriman kepada Allah 'Alt , yang memuliakan Allah At di saat sendirian, sehingga ia meninggalkan apa yang ia senangi karena takut terhadap hukuman-Nya, atau karena mengharapkan pahala-Nya, atau demi mengagungkan-Nya. Sampai­-sampai dengan perbuatannya itu, ia menjadi seperti sebuah kayu harum yang diletakkan di atas bara, dan bau harumnya pun tercium oleh orang banyak, sedangkan mereka tidak tahu asal bau harum tersebut.
Dan sebesar kesungguhan seseorang dalam meninggalkan hawa nafsunya, sebesar itu pulalah rasa cinta orang lain kepadanya.

Atau semakin kuat ia menahan diri dari kenikmatan-kenikmatan yang seharusnya ditinggalkan, maka akan semakin bertambah pula keharumannya. Dan keharuman ini akan berbeda-beda tingkatannya sebagaimana kayu harum itu sendiri pun berbeda-beda jenisnya.
Anda lihat banyak orang yang menghormati dan memujinya sedangkan mereka tidak tahu kenapa. Mereka pun tak dapat mendeskripsikan kebaikan orang tersebut karena mereka tidak betul­betul mengenalnya.

Dan kadangkala bau harum ini masih terus tercium setelah orang tersebut meninggal sampai beberapa waktu sesuai dengan kadar perbuatannya. Ada yang masih dikenang kebaikannya sampai beberapa lama, kemudian terlupakan. Ada yang masih terkenang sampai seratus tahun kemudian terlupakan, dan kuburnya sendiri tidak diketahui lagi di mana. Ada juga yang merupakan tokoh-tokoh besar yang akan selalu terkenang selamanya.

Kebalikan orang jenis ini adalah yang takut dengan pandangan orang banyak, tapi tidak mengagungkan pandangan Allah SWT ketika ia sedang sendiri. Maka sebesar keberaniannya melakukan dosa, dan juga sebesar dosa yang dilakukannya, akan tercium darinya bau yang tak sedap sehingga ia akan dibenci orang. Kalau sedikit kadar perbuatan dosanya (ketika sedang sendirian -pent.), maka orang lain pun akan jarang menyebutnya dengan kebaikan. Dan mereka hanya akan sekedar menghormatinya. Sedangkan kalau banyak kadar perbuatan dosanya (ketika sedang sendirian -pent.), paling tidak orang tidak akanberbicara apa-apamengenai dirinya. Tidak memuji, dan juga tidak mencela. Dan betapa banyak orang yang diam-diam melakukan suatu dosa, kemudian dosanya itu menjadi sebab dirinya terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Seakan-akan dikatakan kepadanya: "Tetaplah kamu dengan apa yang lebih kamu sukai." Maka ia pun selalu berada dalam kehinaan selamanya.

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, bagaimana perbuatan maksiat itu akan ' mempengaruhi kehidupan seseorang dan bahkan menjungkirbalikkannya."
Abu Darda'berkata: "Sesungguhnya seorang hamba bermaksiat kepada Allah k secara diam-diam, kemudian Allah munculkan rasa benci terhadapnya di hati orang-orang beriman dari arah yang tidak ia sadari. Maka camkanlah apa yang telah aku tuliskan, dan pahamilah apa yang aku katakan, serta jangan remehkan keadaan kalian ketika sedang sendiri dan tak terlihat orang lain. Karena sesungguhnya setiap perbuatan itu berdasarkan niatnya, dan balasan suatu amal sesuai dengan kadar keikhlasannya."

Ibnul      Jauzi      berkata: "Sesungguhnya sebesar pengagungan kalian terhadap Allah SWT, sebesar itu pula Allah it akan menghormati kalian. Dan sebesar pemuliaan kalian terhadap kedudukan Allah k, sebesar itu pula Allah k akan memuliakan kedudukan kalian.
Sungguh, aku telah saksikan orang yang menghabiskan usianya untuk ilmu sampai ia tua, namun kemudian ia melampaui batas (bermaksiat, -red.) sehingga dipandang rendah oleh orang banyak. Mereka tidak sedikit pun menghormatinya sekalipun ilmunya begitu luas dan usahanya begitu sungguh-sungguh.

Dan sungguh aku telah saksikan orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah °k dalam usianya yang masih muda, sekalipun ia memiliki keterbatas an-keterbatas an -dibandingkan dengan orang alim tadi- namun Allah SWT memuliakannya di mata orang banyak. Mereka bahkan terpaut hati dengannya, dan menyebutnya dengan kebaikan melebihi apa yang ada pada dirinya.

Dan telah aku saksikan orang yang terlihat istiqamah, ketika ia sedang istiqamah. Namun ketika ia mulai menyimpang, bimbingan Allah SWT pun terlepas darinya. Kalau saja bukan karena Allah SWT yang menutupi dosa manusia secara umum, dan yang merahmati mereka seluruhnya, tentu keburukan orang-orang tersebut akan terbongkar. Dan kalaupun sampai terbongkar maka umumnya itu merupakan suatu pelajaran, atau hukuman yang diberikan secara lembut."


11. Berpartisipasi menyajikan konten yang bermanfaat
Sebagaimana seorang muslim berkewajiban untuk menghindarkan diri dari keburukan internet, demikian juga ia sepatutnya, atau bahkan seharusnya tidak menghalangi diri untuk mendapatkan kebaikan internet. Terlebih lagi kalau ia memiliki wawasan dan keterampilan dalam hal internet. Kuranglah baik kalau yang ia jaga hanya sebatas tidak terjatuh pada hal yang dilarang. Akan tetapi ia harus ikut serta menyajikan sesuatu yang bermanfaat, memberikan kontribusi berguna, sumbangan yang positif, atau dengan memberikan informasi tentang situs­situs islam yang terpercaya.

12. Mengingkari hal-hal yang dipandang sebagai kemungkaran
Seorang pengguna internet hendaknya tidak menilai dirinya terlalu rendah untuk mengingkari sesuatu yang dipandangnya sebagai kemungkaran atau keburukan di internet. Hal itu dapat ia lakukan sesuai dengan kemampuannya.

Terakhir, perhatikanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini wahai saudaraku yang baik:
Tidakkah -ketika pandanganmu tertuju kepada gambar-gambar porno- engkau rasakan kegelapan di qalbumu, kemalasan di tubuhmu, clan ketidaksemangatan melakukan kebaikan, serta keinginan melakukan keburukan?

Tidakkah ketika engkau membaca tulisan-tulisan yang berisi caci-maki, atau mendengar gosip tentang fulan dan fulan- engkau rasakan kekerasan di qalbumu, dan keburukan dalam persangkaanmu, serta pandangan negatif dalam benakmu?
           
Tidakkah ketika engkau menghabiskan waktu berjam-jam di depan internet tanpa faidah- engkau merasa dadamu menjadi sempit, dan engkau merasa malas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu sendiri? Sampai-sampai engkau tidak sabar dengan orang yang ada di sampingmu (ingin supaya dia segera pergi -pent.), dan tidak ingin menjawab orang yang menghubungimu melalui telpon.
Kebalikannya, tidakkah engkau merasakan semangat, kenyamanan, kegembiraan dan kekuatan ketika engkau bisa menyajikan suatu kebaikan, menundukkan pandangan dari hal yang haram, dan bertakwa  kepada Allah ketika sedang sendirian?

Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang baik, dan sifat-sifat-Nya yang mulia, semoga Dia menjauhkan kita dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Semoga Dia menjadikan kita sebagai pembuka pintu kebaikan, dan sebagai penutup pintu keburukan, serta diberikan keberkahan di mana saja kita berada.
Walhamdulillahi rabbil alamin. (Sumber: Al-Intirnit)

0 komentar:

Posting Komentar