Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Mendeteksi Penyakit Hati

Written By Rudianto on Sabtu, 26 Januari 2019 | 23.12

Tanda sakitnya suatu anggota tubuh ialah ketidakmampuannya dan ketidaksempurnaannya untuk melaksanakan tugasnya. Tangan yang sakit tidakmampu memegang. Kaki yang sakit akan diketahui daricara berjalannya yang tidak sempurna. Mata yang sakit terlihat dari ketidakmampuan-nya melihat.

Adapun hati yang sakit maka akan dapat diketahuidari ketidakmampuannya melaksanakan tugas yang untuk itu ia diciptakan; yaitu ilmu, hikmah, ma'rifat,mencintai Allah dan beribadah kepada-Nya sertamementingkan semua ini daripada setiap bisikan nafsu.

Tanda ma'rifat adalah cinta. Siapa yang mengetahui(ma'rifat) Allah tentu mencintai-Nya. Adapun tandacinta adalah tidak mementingkan segala sesuatu yangdicintai daripada Allah. Siapa yang lebih mementingkan sesuatu yang dicintainya daripada cintanya kepada Allah,berarti hatinya sakit.
Penyakit hati ini sangat tersembunyi dan terselubung. Kebanyakan pengidapnya tidak
mengetahui dan menyadarinya. Ketika pengidapnyaahu akan penyakitnya, kemungkinan besar ia juga enggan mengobati karena obatnya yang sangat pahit,yaitu; menentang/meninggalkan nafsu.

Dokter dari penyakit ini adalah para ulama'.
Bagaimana seorang dokter mampu menyembuhkanpenyakit jika si dokter sendiri menderita penyakit?

Sesungguhnya penyakit ini sudah menyebar kemana-mana dan menjangkiti sebagian mereka.
Dokter yang mengobati sudah sangat sedikit, penyakit pun menyebar, ilmu hilang dan obatpun hilang.Penyakit dibiarkan menyebar,manusia hanya sekedarmelakukan ibadah-ibadah  zhahir,sedangkan yang ada dalamhatinya hanya aktifitas ritualyang rutin, hanya sekedartradisi dan kebiasaan; hampa.

Inilah sumber penyakit hati.Berbuat tanpa ma'na, tanparuh. Tanpa motivasi yang benar, tanpa landasan. Lupa akanhakikat diri, untuk apa iadiciptakan.Pada akhirnya manusia akan berjalan di dunia ini tanpa suatu program hidup yang jelas,sebagaimana yang telahdigariskan Allah dalam AlQur'antmaupun melalui lisan nabiNya.Hidupnya hanya untuk menuruti dan memuaskanpandangan manusia lainnya.Maka ia pun menuju kematiantanpa suatu bekal persiapanhidup setelah  kematiannya.
Na'udzubillah min dzalik.

***

Ketahuilah bahwa bila Allah menghendaki kebaikan padaseorang hamba, maka dia membuatnya tahu akan aib dirinya yang merupakan penyakit hatinya. Siapa yang mempunyai mata hati,dia tidak akan takut terhadap aib diri. Dia akan mencari aib dirinya dan bersyukur jika menemukannya.

Karena jika dia tahu aib dirinya maka hal itu akan memungkinkan bagi dirinya untuk mengobatinya. Tetapi manusia seperti ini sangatlah jarang. Mayoritas manusia tidak mau tahu aib dirinya sendiri. Kuman diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Kotoran di mata temannya tampak, batang pohon di depan matanya tidak tampak.

Hendaklah seseorang berusaha untuk mengobati penyakitnya, dengan mengenalinya terlebih dahulu. Dan diusahakan untuk menghindarkan diri dari terkena penyakit tersebut. Karena pencegahan lebih utama dari pengobatan. 

Ada empat jalan yang bisa ditempuh seseorang untuk mengetahui aib diri:
1. Menghadap seorang ulama'/syaikh yang 'sehat'hatinya, yang bisa mengetahui aib jiwa, sehingga dia bisa mengenali aib dirinya dan sekaligus memberikan penawarnya.

2. Berteman dengan yang jujur, dapat dipercaya danbagus agamanya. Temannya akan mengingatkan dirinya dariakhlaq atau ucapan yang buruk. Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab RadhiyallahuAnhu pernah berkata, "Semoga Allah merahmati seseorangyang mau menunjukkan aib kami kepada kami." 

Umar juga pernah bertanya kepada Hudzaifah, "Apakah aku termasuk orang-orang munafik?" dia perlubertanya seperti itu, sebab siapa yang kedudukannyasemakin tinggi, maka tuduhan terhadap dirinya jugasemakin gencar. Hanya saja di zaman sekarang jarang ada teman karib yang jujur dengan memiliki sifat seperti ini.Sedikit sekali teman yang tidak mencari muka atau tidakdengki.

Para pendahulu kita sangat suka jika ada orang yangmenunjukkan aib mereka. Sementara pada zaman sekarangkita justru marah besar jika ada yang menunjukkan aib kita.Hal ini menunjukkan lemahnya iman dan jauhnya kehidupankita dari ketentuan Allah.

3. Mengetahui aib diri dari perkataan dan sikapmusuhnya. Mata yang penuh kebencian hanya akan melihathal yang buruk. Manfaat yang bisa diambil, hal itu akan memperlihatkan pada dirinya aib dirinya yang tidak ia sadari.Musuh yang seperti ini lebih bermanfaat dari pada temanyang hanya cari muka saja.

4. Bergaul dengan manusia, karena manusia akanmenjauhi kita ketika ada keburukan pada diri kita.

(Abu Azka/disadur bebas dari ; Minhajul Qashidin, ibnul Jauzy;oleh Ibnu Qudamah) Qudamah)
23.12 | 0 komentar

MOTIVASI UNTUK DAPAT ISTIQOMAH DENGAN AL QUR'AN

Written By Rudianto on Senin, 21 Januari 2019 | 19.16

Sahabat yang dirahmati Allah,

Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Qu'ran. Nikmat membaca kalam - kalam NYA , nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan NYA, nikmat merasakan Al Qur'an mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita , nikmatnya Al Qur'an menjadi petunjuk pembeda antara yang haq dan yang batil, serta nikmat syafaat kelak bagi sesiapa yang ikhlas senantiasa membaca & bersahabat dengan AL Qur'an. (Insya Allah)

Untuk memulai langkah mencintai Al Qur'an . Berikut upaya-upaya jiwa untuk mampu senantiasa bersahabat dengan nya :

MENDAMBAKAN AL QUR'AN SEBAGAI KENIKMATAN SEPERTI KITA MENDAMBAKAN HARTA

“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)

Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.

Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?

Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.

2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)

3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)

4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”

5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)

Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?

Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.

Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah

19.16 | 0 komentar

AIR PENYEJUK JIWA, PENAUNG DI ALAM BAKA DAN PEMADAM API NERAKA

Written By Rudianto on Sabtu, 19 Januari 2019 | 10.18

Saudaraku…. Ketahuilah di tubuh kita ada air yang sangat suci yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan di alam baka…

Air ini sumbernya adalah hati yang suci dan jiwa yang bersih… Dan sangat sulit keluar dari hati yang keras dan kotor…

AIR MATA CINTA DAN TAKUT KEPADA ALLAH…itulah air yang dimaksud… Air yang keluar dari mata yang menangis karena Allah…


SIMAKLAH… KABAR GEMBIRA DARI KEKASIH KITA..

MEREKA TIDAK AKAN TERSENTUH API NERAKA…

عينان لا تمسَّهما النارُ أبدًا : عينٌ بكت من خشيةِ اللهِ ، و عينٌ باتت تحرسُ في سبيلِ اللهِ

“Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka selama-lamanya… Mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga di jalan Allah “
(Shahih.Shahihul jami’ no 4113)

MEREKA DINGIN DENGAN NAUNGAN ALLAH DI PADANG MAHSYAR…

سبعةٌ يُظِلُّهمُ اللهُ في ظِلِّه يومَ لا ظِلَّ إلا ظِلُّه : (منهم) ورجلٌ ذَكَر اللهَ خاليًا، ففاضَتْ عيناه .

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya… Diantara mereka : seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lalu bercucurlah air matanya…” (HR. Imam Bukhori)


SUBHANALLAH… Sungguh mereka orang yang diberikan ni’mat besar oleh Allah.. Mereka menyerupai para Nabi dan orang-orang shalih pilihan Allah..

(أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩)

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
[Surat Maryam 58]


SAUDARAKU…

** sudahkah air suci itu membasahi pelupuk mata dan pipimu..

** sudahkah di tahun ini atau di bulan ini atau pekan ini atau di hari ini kita air itu memancar dan tertetes dari matamu…

** ataukah hatimu sangat gersang dan keras karena noda, dosa dan ambisi dunia… Sehingga begitu sulitnya keluar dari pelupuk matamu…
Laa haula walaa quwwata illa billah…

MENANGISLAH KARENA TIDAK PERNAH MENANGIS KARENA CINTA DAN TAKUT KEPADA ALLAH…

Semoga Manfaat…
10.18 | 0 komentar

TERSINGKAPNYA BETIS BIDADARI

Written By Rudianto on Selasa, 15 Januari 2019 | 13.12

Pada zaman Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa aali wasallam, hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid, yang berumur 35 tahun, namun belum juga menikah.
Dia tinggal di Suffah (teras) masjid Madinah.

Ketika sedang mengasah  pedangnya, tiba-tiba Rasulullah Saw datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid…selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah Saw menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid, sambil tertunduk tak kuasa melihat kharismatik wajah Beliau.

“Maksudku kenapa engkau selama ini membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…,?” Tanya Rasulullah Saw.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku tak tampan, siapa yang mau dengan diriku ya Rasulullah?”

”Asal engkau mau, itu urusan yang mudah.” Kata Rasulullah Saw sambil tersenyum.

Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan Sahabatnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.

Setelah surat itu selesai ditulis, maka Rasulullah memberikan surat tersebut kepada Zahid dan memerintahkan agar segera mendatangi rumah Said dan menyerahkan surat lamaran tersebut kepadanya.

Disebabkan di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasulullah yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Wah, ini adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong...”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini… bukankah lebih baik di persilahkan masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Di saat Zulfah melihat Zahid,  sambil menangis ia berkata,
“Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau dengan dia ayah..!”

Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau…bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasulullah?”

Akhirnya Said berkata, “Lamaran kepada dirimu ini adalah perintah Rasulullah.”

Zulfah kaget kemudian beristighfar beberapa kali,

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ...

Ia menyesal atas kelancangan perbuatannya itu. Seketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa tidak sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini.
Karena aku ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surah An Nur:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور ٥١)

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diminta Allah dan Rasul-Nya agar Rasul yang  mengadili (mengambil keputusan ) diantara mereka, ucapan yang muncul hanyalah : Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An Nur 24:Ayat 51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang-layang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada taranya, dan segera melangkah pulang.

Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasulullah yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah lamarannya diterima ya Rasulallah,” jawab Zahid.

“Apakah sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasulallah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke beberapa sahahbat  untuk membantunya mendapatkan uang untuk menikah.

Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan perkawinan.

Tak lama kemudian setibanya di pasar, bersamaan itu pula ada pengumuman Jihad untuk perang melawan orang kafir yang mau menyerang masyarakat muslim Madinah.

Zahid Mulai bingung untuk menentukan sikap, menikah atau berjuang demi Agama Allah.

Akhirnya dia mencoba kembali lagi ke masjid. Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengetahui?”

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah jika begitu uang untuk menikah ini akan aku belikan baju besi dan kuda yg terbaik, aku lebih memilih jihad bersama Rasulullah dan menunda pernikahan ini."

Para sahabat menasihatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau malah hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Hatiku sudah mantap untuk  bersama Al Musthafa Rasulullah pergi berjihad.”

Lalu Zahid membacakan ayat AlQur'an di hadapan sahabat Nabi:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (التوبة ٢٤)

“Katakanlah, Jika bapak -bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,  kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu kuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai , itu semua lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dengan) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah, 9:24).

Akhirnya Zahid maju ke medan pertempuran. Dengan hebatnya beliau bertempur, banyak dari kaum kafirin tewas di tangannya dan pada akhirnya beliau mendapatkan syahid. Gugur demi membela agama Allah dan Rasulullah. . .

Peperangan telah usai, kemenangan direbut oleh Rasul dan pasukannya.

Senja yang penuh dengan keberkahan ketika Rasullullah memeriksa satu persatu yang telah gugur di jalan Allah, sebagai Syuhada Allahu azza wajalla.

Nampak dari kejauhan sosok pemuda yg bersimbah darah dengan luka bekas sasatan pedang.

Rasulullah menghampiri jasad pemuda itu sambil meletakkan kepalanya di pangkuan manusia agung ini. Habiballah
memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, "Bukankah engkau ya Zahid yg hendak menikah malam ini ??"
Tapi engkau memilih keridhaan Allah, berjihad bersamaku."

Tak lama kemudian Rasulullah tersenyum sembari  memalingkan muka ke sebelah kiri karena malu.
Disebabkan karena ternyata sesosok bidadari cantik dari Surga menjemput Ruh mulia pemuda ini, dan tak sengaja gaunnya tersingkap hingga betisnya yang indah terlihat. 

Ini yang membuat Rasulullah malu.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an;

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ * فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (آل عمران ١٦٩ - ١٧٠)

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sejatinya  mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan bahagia disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
(QS. Ali Imran, 3:169-170.)

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata, dan Zulfah pun berkata,
“Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak dapat mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

Maasya Allah...

Semoga di tahun ini dan selanjutnya Allah tetap senantiasa anugerahi kita keimanan dan kemenangan dalam hati dan amal kita, kesuksesan dan keselamatan dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini. aamiin.

Barokallohu fikum. MLHI, 15 Jan 2019.

13.12 | 0 komentar

APA itu JIN

Written By Rudianto on Senin, 14 Januari 2019 | 22.34

👥 *Group WA Belajar Ruqyah Syar'iyyah*
═══ ❁✿❁ ══
📚 Kajian Ruqyah dalam Kitab Shahih Bukhari

*APA itu JIN*

👉 Asal penciptaannya, Allah menciptakan jin yang berasal dari api.
📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ خَلَقْنَا  الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍ
wa laqod kholaqnal-insaana min sholshoolim min hama`im masnuun

_"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk."_
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 26)

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَالْجَـآنَّ  خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ
wal-jaaanna kholaqnaahu ming qoblu min naaris-samuum

_"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas."_
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 27)

👉 Tujuan penciptaan jin sama dengan tujuan penciptaan manusia yakni *menghamba dan beribadah hanya kepada Allah.*

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-insa illaa liya'buduun

_"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."_
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

👉 Jin dan manusia, sama-sama memiliki alat kelengkapan hidup yang komplit.

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ   ۖ   لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا  وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا  وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا   ۗ  اُولٰۤئِكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ   ۗ  اُولٰۤئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
wa laqod zaro`naa lijahannama kasiirom minal-jinni wal-insi lahum quluubul laa yafqohuuna bihaa wa lahum a'yunul laa yubshiruuna bihaa wa lahum aazaanul laa yasma'uuna bihaa, ulaaa`ika kal-an'aami bal hum adholl, ulaaa`ika humul-ghoofiluun

_"Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."_
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 179)

👉 Jin ada yang shalih ada pula yang jahat.

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَ ۗ  كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا 
wa annaa minnash-shoolihuuna wa minnaa duuna zaalik, kunnaa thorooo`iqo qidadaa

_"Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda."_
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 11)

👉 Jin ada yang muslim ada pula yang kafir.

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّاَنَّا مِنَّا  الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَ ۗ  فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰٓئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
wa annaa minnal-muslimuuna wa minnal-qoosithuun, fa man aslama fa ulaaa`ika taharrou rosyadaa

_"Dan di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus."_
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 14)

====================
📚 Ruqyah Syar'iyyah wa Thibu wa 'Ilaju Mashur min Shahih Bukhari wa Fathul Bari -  M. H Muhammad Hasan Ismail  -  Kairo Mesir 1426 H.
✍🏻📮ditulis dan edit ulang oleh Rudi Abu Azka

--------🌴🌴🌴--------
📻 *Belajar Ruqyah Channel*

22.34 | 0 komentar

Beriman Kepada Yang Ghaib

Rudi Abu Azka:
👥 *Group WA Belajar Ruqyah Syar'iyyah*
═══ ❁✿❁ ══

🖊 *Beriman Kepada Yang Ghaib*
════ ❁✿❁ ════

👉Akhir-akhir ini, sangat banyak kita jumpai orang-orang yang mengaku dirinya sebagai dukun, tukang ramal, orang pintar, ustadz atau kyai yang mampu mengobati berbagai macam penyakit. Mereka menyembuhkan penyakit dengan jalan sihir atau perdukunan, mereka mengaku dirinya sebagai thabib. Masyarakat awam tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi budak setan dan bersama-sama mencemari aqidah secara lembut, tersamar, 'dan' perlahan namun pasti. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata banyak juga korban dari orang-orang yang kesehariannya menjalani ibadah secara tertib.

⚠Sungguh keadaan ini merupakan bencana dan bahaya yang besar bagi Islam dan umat lslam. Ketergantungan kepada Allah tergantikan dengan ketergantungan kepada selain Allah.

💊 Berobat - mencari kesembuhan atas penyakit-diperintahkan oleh Islam. Seorang yang sakit hendaknya berusaha mendatangi seseorang yang ahli untuk diperiksa penyakit apa yang dideritanya dan diobati sesuai dengan obat-obatan yang diperbolehkan syara' sebagaimana dikenal dalam ilmu kedokteran (untuk gangguan medis) , ilmu psikologi (untuk gangguan psikis), dan ilmu ruqyah untuk  gangguan sihir  dan sejenisnya.
Sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menurunkan penyakit dan pasti menurunkan pula obatnya. Namun, Allah tidak memberikan obat dari sesuatu yang telah diharamkan kepada ummatNya.

❌🛌Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi orang-orang yang sakit mendatangi dukun-dukun yang mengaku dirinya dapat mengetahui perkara yang ghaib -yang dengannya ia dapat mengatakan apa sakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan. Sebab, semua yang mereka katakan tentang perkara yang ghaib sesungguhnya hanya didasarkan pada prasangka, perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin dan meminta pertolongan jin-jin tersebut tentang sesuatu yang mereka kehendaki. Dengan cara demikian, dukun-dukun tersebut telah melakukan kekufuran dan penyesatan.

📜Dari Amran bin Hushein ra yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
_"Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikannya, yang bertanya pada dukun atau yang mendukuninya, yang menyihir atau yang meminta sihir untuknya, dan barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam."_ (HR Al-Bazaar)

☝Oleh karena itu, setiap orang wajib menjauhi praktek-praktek perdukunan dan mencegah orang-orang mendatanginya. Hendaknya tidak boleh tertipu pengakuan segelintir orang yang  membenarkan apa yang dilakukan para dukun. Sebab, sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dijalankan dalam perdukunan. Bahkan, kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti tentang hukum dan larangan-larangan yang harus mereka pegang.

✍🏻Agar terhindar dari keburukan, orang harus mengenali keburukan itu.

🎙Hudzaifah Bin Yunan berkata, *orang-orang yang bertanya tentang kebaikan, Sedangkan aku, aku tanya tentang keburukan, takut terjerumus kedalamnya. Setan adalah musuh nyata manusia, pengetahuan tentangnya diperlukan agar kita dapat menghindari tipu daya makar, konspirasi, dan jerat-jeratnya.*

Sumber :
📚 Ruqyah Syar'iyyah wa Thibu wa 'Ilaju Mashur min Shahih Bukhari wa Fathul Bari
🖊 M. H Muhammad Hasan Ismail
✍🏻kembali dan📮oleh Rudi Abu Azka

22.32 | 0 komentar

MEMBENTENGI RUMAH DARI SYAITAN

Written By Rudianto on Minggu, 13 Januari 2019 | 19.58

MEMBENTENGI RUMAH DARI SYAITAN

Bahagian 1
-------------------

🔰 Muqaddimah

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang isteri, ataupun sebagai seorang anak.

Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotnya yang mewah, namun karena semua merasa tenteram ketika masuk dan berada di dalamnya.

Seorang suami pulang ke rumah selesai aktivitnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah.

Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan isteri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya.

Seorang isteri merasa betah
(merasa senang) berdiam dalam rumahnya. Karena memang seperti titah Allah 'azza wa jalla kepada kaum hawa:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Tetaplah kalian tinggal di rumah kalian.”
(Al-Ahzab: 33)

Juga karena suasana dalam rumah turut mendukung timbulnya rasa betah tersebut.

Anak-anak pun merasa senang dalam rumah mereka walaupun rumahnya kecil dan sederhana.

Kerukunan dan kasih sayang senantiasa terjalin di antara anggotanya.

Gambaran seperti yang kita ungkapkan tentunya menjadi keinginan setiap insan.

Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut?

Di antara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para syaitan.

Kenapa demikian? Karena syaitan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah azza wa jalla:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh.” (Fathir: 6)

Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya.

Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya.

Salah satu target utama syaitan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.

Iblis, ketua para syaitan, demikian bergembira bila anak buahnya berhasil memisahkan seorang isteri dari suaminya.

Sebagaimana khabar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirimkan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan isterinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.”
(HR. Muslim no. 7037)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa iblis bermarkas di lautan, dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi.

Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan suami dengan isterinya, karena kagum dengan apa yang dilakukan si anak buah dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Iblis pun merangkulnya.
(Al-Minhaj, 17/154-155)

Kata Al-Imam Al-Qadhi Iyadh rahimahullah, hadits ini menunjukkan besarnya perkara firaq (perpisahan suami dengan isterinya) dan talak, serta besarnya kemadhoratan dan fitnahnya.

Selain itu juga menunjukkan besarnya dosa orang yang berupaya memisahkan suami dari isterinya.

Karena dengan berbuat demikian berarti memutuskan hubungan yang Allah subhanahu wa ta'ala perintahkan untuk disambung, menceraiberaikan rahmah dan mawaddah yang Allah subhanahu wa ta'ala jadikan di dalamnya, serta merobohkan rumah yang dibangun dalam Islam. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Mus

lim, 8/349)

Iblis berikut bala tentaranya ini berusaha menghancurkan hubungan suami dengan isterinya.

Sementara suami dan isteri ini tentunya bernaung dalam sebuah rumah.

Nah, tentunya setan tidak akan tenang bila tidak boleh masuk ke rumah tersebut.

Bila syaitan telah berhasil mendiami sebuah rumah, nescaya ia akan menebarkan kerosakan di dalamnya, sehingga terjadilah perselisihan di antara anak-anak dan perpisahan antara suami dengan isterinya. Berubahlah mawaddah (kasih sayang) menjadi ‘adawah (permusuhan), rahmah menjadi azab.

Dengan penjelasan ini fahamlah kita kenapa kita harus membentengi rumah kita dari syaitan yang terkutuk.

Insyaallah bersambung.....

19.58 | 0 komentar

INDIKATOR KESEMBUHAN

Written By Rudianto on Jumat, 11 Januari 2019 | 13.09

Banyak orang mengira, bahwa jika sudah muntah. Atau jika sudah sadar dari kesurupan. Atau tidak ada lagi reaksi setelah diruqyah maka ia menyatakan dirinya sembuh. Saudaraku, mari simak artikel ini. Semoga ia jadi jalan hidayah dan turunnya taufiq kedalam ruangan Qolbu kita.

Setidaknya ada 5 hal dalam diri dan kehidupan kita, yang bisa kita analisa dan rasakan sendiri terkait status sembuh atau tidaknya. Kondisi fisik/biologis tubuh kita hanyalah salah-satunya saja.

1. Kondisi Qolbu.
- Takut dan bertambah iman.
Munculnya rasa takut yang menyelimuti isi hati, ketika melanggar aturan Allah. Biasanya lurus-lurus saja.
- Tenang, lapang, semangat, bahagia.
Turunnya ketenangan, kelapangan, kebahagiaan dan semangat yang menyeruak. Biasanya sepi dan gelisah, penuh gejolak dan penuh kemarahan serta kebencian.
- Lembut.
Al Quran hanya akan masuk dan menggetarkan qolbu yang lembut. Maka, melemahnya nafsu terhadap dunia adalah modal terlahirnya semangat taqwa. Dan itu dimulai dari kelembutan hati.
- Sabar dalam masalah.
Mulai berfikir ulang ketika akan marah. Lebih senang mengalah. Dan teringat dosa ketika kena musibah
- Fitrah.
Kembalinya qolbu kedalam fittahnya yang kuat dan sehat.

2. Rezeki
- Lancar Rezeki (Jasmani
& Ruhani).
Rezeki jasmani meliputi makanan, minuman, kendaraan, rumah, harta benda, anak, ayah ibu, istri, saudara, keluarga, pekerjaan, bisnis, keuangan dan semua nikmat yang nampak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918)

Sedangkan rezeki ruhani adalah semua kemudahan dan kekuatan (taufiq) dalam beramal dan taat kepada Allah. Islam dan iman adalah rezeki ruhani terbesar bagi manusia.

- Mudah untuk tunduk dan ta’at, bersedekah dll.
Perubahan kondisi qolbu yang mudah/ringan untuk tunduk kepada Aturan dan hukum-hukum yang ditetapkan Allah.

Merasa ringan untuk bersedekah baik dalam keadaan sempit atau lapang. Tidak merasa rugi bahkan meyakini dengan pasti, bahwa setiap harta yang di infaqqan itu adalah sejatinya sedang dikirim ke akhirat. Tempat ia kembali.

- Qonaah/berkah (terasa cukup).
Merasa cukup dengan apa yang dimiliki hari ini, sederhana dalam rencana-rencana dunia. Dan mulai membangun masterplan untuk akhiratnya.

Memang ada sihir dalam bentuk blokade terhadap rezeki jasmani, dan disisi lain itu adalah ujian yg merupakan fitrah bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman;

‎وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [4]kekurangan harta, [5] jiwa, dan buah-buahan“. (QS. Al-Baqarah: 155).

Sihir yang blokade rezeki misalnya, membuat seseorang sakit saat mau berangkat kerja ke kantor. Maka ketika sihir itu hancur, blokade lepas bisnis berjalan sebagaimana perhitungan.

Sihir yang blokade dari jodoh (sebagaimana disampaikan sebelumnya, istri/pasangan adalah bagian dari harta atau kenikmatan jasmani). Ketika blokade lepas, maka rasa waswas ketika akan masuk ke jenjang akad nikah hilang.

3. Ibadah.
Mudah dan khusyuk untuk taat.
Mudah saat bangun malam, bangun subuh, bersedekah dll.
Adanya kekhusyukan dalam beribadah dan menghamba kepada Allah. Nafsu yang tunduk dan terkendali, muncul semangat dan ringan dalam ibadah.

Tidak berat lagi, tidak malas dan tergesa. Bahkan ingin berlama-lama..

4. Kondisi Jasad.
- Ringan.
Berkurang atau bahkan Hilangnya ikatan yang selama ini membelenggu leher, belikat, jantung/dada atau bagian organ tubuh lain.

- Respon pada tubuh, sakit berkurang.
Berkurangnya rasa sakit, mulai aktifnya syaraf sensorik dan motorik yg mrnggerakkan tubuh. Atau berfungsinya kembali komunikasi jiwa - akal - fikiran - syaraf dan otot tubuh sesuai fitrahnya.

- Tubuh Kuat (tidak lemas), - Pandangan jelas.
Ada beberapa kondisi habis diruqyah itu lemas, lemah dan pusing. Jika kondisi itu terus menerus terjadi, hal ini menandakan pengaruh sihir yg belum sirna.

- Peredaran darah lancar.
Darah kembali sehat dan lancar sirkulasinya. Tidak ada sumbatan, penggumpalan ataupun kadar yg tidak normal.

- Pandangan jelas, dll
Hilangnya warna hitam pada kelopak mata, lelah, suram pada mata. Pandangan jelas dan tajam. Kadang yang memiliki mata minus atau silinder berkurang atau membaik lebih dari 50% bahkan sampai lepas kacamata.

5. Kondisi Kesehatan.
- Ada perubahan positif yang signifikan.

- Berkurangnya rasa sakit atau sakit berpindah atau hilang.
Seseorang yang sakit jantung, lalu diruqyah dan kemudian hilang sakit jantungya dan lalu pusing pada kepalanya. Maka, hal ini blm bisa dinyatakan sembuh. Namun, sudah ada perubahan yang perlu disyukuri dan ini menandai terjadinya keguncangan pada project syaitan dalam tubuh dirinya.

- Indikator kesembuhan penyakit lebih dari 60%.
Merasakan lebih baik lebih dari 51% dari semua kondisi sudah bisa dikatakan sembuh atau menuju kesembuhan.

Sejatinya, sakit pada permukaan tubuh yang nampak adalah alarm yang mengingatkan akal manusia tentang adanya kondisi kritis pada ruangan inti kehidupan yang disebut Qolbu.

Maka, mereka yang sehat akalnya tidak akan panik dan lalu sibuk dengan alarm yang bunyi dimana-mana. Namun ia mulai melihat, mrnganalisa, mempelajari, memetakan tanda-tanda yang ada untuk mengetahui sumber masalah dan melakukan pembetulan hingga alarm berhenti berbunyi.

Nafsu dalam diri kita menginginkan kesehatan tubuh untuk mengakomodir kebutuhannya agar hidup sampai waktu yang ditentukan, dan disisi lain, energi taqwa dalam diri kita mendorong tubuh untuk taat kepada Tuhannya untuk menjamin kehidupan yang kekal. Jika kebutuhan taqwa diabaikan maka nafsu menguasai akal, sehingga fitrah hati manusia yang kuat terkubur. Disana syaitan perlahan menguasai nafsu dan jasadlah korban utamanya.

Kehidupan ini kemudian dipenuhi kelelahan, keletihan dan kekecewaan. Penyesalan. Depresi. Bahkan gila dan ingin mengakhiri kehidupan sebelum takdir ajal tiba. Subhanallah

Apa yang harus dilakukan, saat Indikator kesembuhan belum mencapai 51% ?

Saudaraku, ujian Allah turunkan bukan untuk menghancurkan namun untuk menguji manusia agar ia menjadi manusia teruji. Menjadi hamba Allah seutuhnya. Seorang hamba akan terus diuji dengan berbagai musibah, kesedihan dan kesulitan hingga ia berjalan dimuka bumi ini tanpa dosa. Karena setiap musibah dan kesabaran didalamnya menggugurkan dosa manusia.

Ketika kita menyadari dosa dan kemaksiatan yang tak terhutung dimasa silam, maka selain bertaubat kita harus perbanyak amal untuk mempercepat berlalunya kesulitan.

Masalahnya, banyak muslima mengira bahwa shalat itu sudah cukup. Sebenarnya, ada 4 jenis ibadah yang harus kita lakukan secara utuh agar impactnya terasa secara signifikan dalam hidup kita.

Ibadah lisan, hati, fisik dan harta. Ibadah hati dengan niat-niat yang baik, ikhlas, sabar, istiqomah, tawadhu, khusyuk, memurnikan aqidah, mentauhidkan Allah dll.

Ibadah lisan, dengan tilawah, wirid sunnah, berkata baik atau menahan lisan dari keburukan, dakwah, nasihat atau bahkan menghibur saudara kita yang sedang sedih dll.

Ibadah fisik, berlelah-lelahan dalam ibadah. Bekerja untuk nafkah bagi laki-laki. Membantu suami bagi istri. Mengurus anak. Mendidik anak. Berjihad. Berwudhu. Tawaf. Sa’i. Rukuk. Sujud. Dan semua gerak untuk Allah.

Ibadah harta; sedekah, infaq, wakaf. Dll

Ini semua ibadah yang akan menguatkan hati, menjadikan dorongan kebaikan (taqwa) lebih dominan dalam qolbu kita. Dan, tentu. Balasan kebaikan adalah kebaikan. Semua amal itu akan tumbuh dan berbuah, dan menjadi tunas kebaikan kemudian.

Semoga Allah mudahkan hati kita untuk menyerah kepada-Nya yang merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan rahmat dan kesembuhan dari Allah sebagai pemilik kesembuhan. Asy Syafi..

Nai


13.09 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

Follow by Email

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO NURISFM

STREAMING RADIO NURISFM

Server Lokal

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung