Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Jaga Hijab, Ukhti....!

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 19 Juni 2012 | 13.25


Kalau dilihat secara lahiriah, ukhti fulanah memang akhwat banget. Jilbabnya yang lebar berkibar,jubahnya yang panjang menjuntai, dan kaki yang terbungkus rapi dengan kaus kaki. Namun, siapa mengira, bahwa dia pula yang tampak santai mengobrol, ataupun ber-hahahihi dengan laki-laki ajnabiy (nonmahram). Entah ketika bercengkerama di dunia nyata di pinggir jalan, kantin kampus, lewat telepon atau SMS, juga via komentar status di facebook maupun chat/messenger di dunia maya.
Tertawa renyah, tersenyum simpul atau pun suara yang merdu, tentu saja dapat membuat lawan bicara berdebar-debar tak karuan. Bahkan meski 'tanpa suara', bahasa tulisan yang digunakan melalui SMS/fb/chat juga bisa sangat ekspresif dan tampak begitu akrab. Meski hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si penulis itu sendiri. Padahal sang akhwat dan lawan jenisnya tersebut jelas bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Seringkali pula, tak hanya mereka yang masih lajang, yang tela hmenikah pun terjebak pada celah yang sama.
Demikianlah sebentuk 'pelanggaran' batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat yang masih terjadi hari ini. Hal itu bisa jadi dikarenakan oleh berbagai sebab. Ada yang memang belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat. Ada juga yang sudah tahu, tapi belum paham. Ada pula yang sudah tahu dan paham tapi tergelincir karena falai. Pun, ada juga yang sudah mengetahui dan memahami, namun tak mau tahu alias tak mau mengamalkan.
Berhijab dari Lelaki
Semua urusan perempuan dalam Islam selalu dibangun di atas landasan penjagaan atas diri sang perempuan. Ibarat mutiara yang mahal, perempuan dalam Islam adalah sesuatu yang sangat berharga. Untuk mendapatkannya, harus menyelam di lautan yang dalam dan dipenuhi dengan karang terjal. Pun ketika sudah mendapatkannya, penjagaan atasnya dan nilai yang terkandung di dalamnya begitu tinggi.
Oleh karena itu, banyak nash yang memerintahkan kaum perempuan agar menetap di dalam rumah dan hanya keluar untuk suatu keperluan saja. Saat keluar pun banyak aturan dan etika yang harus diperhatikan. Semua hal tersebut bertujuan untuk menjaga dan melindungi dirinya.
Kaum perempuan dilarang berikhtilat (campur baur) maupun berkhalwat (berduaan) dengan kaum laki-laki, dilarang melakukan safar tanpa mahram, memandangdan berbicara dengan laki-laki ajnabiy secara bebas, serta diperintahkan untuk memakai hijab agar terlindung dari pandangan kaum lelaki dan menjaga kesucian diri serta kehormatannya. Syariat Islam senantiasa mengawal perempuan untuk tetap terjaga dalam berbagai situasi dan kondisi.
Hijab bagi perempuan bisa berupa menetap di dalam rumah, atau juga bisa berupa pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Sebagaimana dinding rumah adalah hijab, demikian pula pakaian. Dengan kata lain, segala sesuatu yang menutupi dan menghalangi sesuatu dari yang lain, bisa disebut hijab. Dengan demikian, berhijab hendaknya tidak sebatas menutup aurat dengan balutan pakaian, tetapi juga menjaga pembicaraan dan pandangan dari lelaki nonmahram.
Fenomena Hari lni
Interaksi antara ikhwan dan akhwat memang menjadi hal yang begitu kompleks. Di satu sisi, ada situasi dan kondisi yang mengharuskan kita berinteraksi dengan mereka dalam suatu komunikasi dan aktivitas dalam rangka dakwah, suatu keperluan tertentu, ataupun urusan kuliah.
Sedangkan di sisi yang lain, peluang fitnah dan ekses-ekses negatif bertebaran di dalamnya. Karena itulah, kita harus berupaya menjaga berbagai ketentuan syariat untuk menghindari peluang fitnah yang berpotensi timbul. Salah satunya adalah dengan tetap berpegang pada penjagaan hijab, kapanpun dan dimanapun
kita berada. Tidak terlalu longgar juga tidakmenutup diri sama sekali hingga tak mau sedikit pun berbicara atau berinteraksi dengan lawan jenis dengan alasan apapun. Seperlunya dan secukupnya saja, serta jika memang menghajatkan kita untuk berinteraksi dengan mereka.
Perkembangan teknologi .dan sarana komunikasi yang memberikan manfaat, ternyata bisa juga menjadi peluang untuk bermaksiat. Ponsel misalnya, yang kerap kali digenggam dan dibawa kemana-mana juga bisa menjadi sarana tidak terjaganya hijab antara ikhwan dan akhwat.
SMS/telepon sesuatu yang tidak urgen, membahas sesuatu yang tidak penting dan tak ada perlunya, bahasa yang akrab dan bahkan curhat satu sama lain adalah bentuk-bentuk 'pelanggaran' via ponsel. Bahkan, atas nama taushiyah—padahal tendensius—antara seorangikhwan dan seorang akhwat juga bisa menjadi peluang dalam hal ini. Tak hanya ponsel, chat/ messenger pun juga memiliki peluang yang sama. Padahal, ada kesamaan sifat antara khalwat dengan sms dan media tersebut, yaitu : hanya berdua, serta tidak ada orang lain yang menyertai. Karena itulah, seharusnya kita berhati-hati.
Pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, menjadikan hijab terasa nisbi hari ini. Apalagi menyaksikan fenomena saling mengenalnya dan semakin 'akrabnya' ikhwan dan akhwat. Padahal, menjaga hijab tak mengenal ranah nyata ataupun dunia maya. Menjaga hijab harus dilakukan dimanapun dan sebisa mungkin diupayakan. Sungguh, "...yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka." (QS Al-Ahzab: 33). Semogakitabisamenjaga kemuliaandan kehormatan dirikita sebagai seorang muslimah, dan semoga Allah menjaga kita.*   

0 komentar:

Posting Komentar