Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

BANGKRUT

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 15 April 2012 | 13.45


Allah berfirman pada Surat Al Qiyamah ayat 36 yang artinya "Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?

dan pada Surat Thaha ayat 15: "Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan."

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Ali bin Hujr keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab; 'Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.(HR.MUSLIM - 4678)

Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi ia tidak memiliki akhlak yang baik, dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudara-saudaranya.
Kisah ini memberi pelajaran pada kita, bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar, semua bentuk kadzaliman yang kita lakukan, harus kita bayar tunai dengan pahala yang kita miliki diakhirat nantu. Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Annisa: 111)

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”. (Q.S. Al Isra`: 7)
Sayyidina Ali bin Abu Thalib k.w, berkata: “Hidup ini adalah suatu bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalui manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, kemusian alam dunia lalu masuk kealam kubur dan kemudian menetap abadi dialam akherat. Orang yang bijak akan menabung sebanyak-banyaknya agar diakhir perjalanan nanti ia dapat bersenang-senang. Ia mengerti benar, bahwa tempatbersenang-senang itu bukan diperjalanan, tetapi nanti bila sampai ditempat tujuan. Orang bijak, tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekal-bekalnya pada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot-repot diganduli oleh perbekalannya”.

Salah seorang bertanya kepada Sayyidina Ali k.w: “Bagaimana caranya menitipkan bekal kepada orang lain itu? Sayyidina Ali k.w. Menjawab: “Ketahuilah, bahwa tidak ada hutang yang tidak dibayar. Bila seseorang menyakiti hatimu, maka ia harus membayarnya nanti dengan pahalanya. Begitu juga bila seseorang memfitnahmu, maka ia harus bayar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya atau bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayar hutangnya itu, kelak ia harus membayarnya dengan pahalanya. Intinya, kedzaliman orang terhadapmu, pada hakikatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah caranya menitipkan bekal kita pada orang lain.

Mudah-mudahan kisah ini dapat memberikan pencerahan bagi jiwa kita, bahwa perbuatan buruk yang kita lakukan akan sangat merugikan diri kita sendiri, karena diakherat nanti harus kita bayar tunai dengan pahala yang payah-payah kita kumpulkan. Sebaliknya, tidak usah kita risau dengan perbuatan dzalim orang lain pada diri kita, karena bukankah hal itu berarti ia membawakan perbekalan kita yang kelak akan diserahkannya diakhir perjalalan nanti?
Wallahu A`lam….

0 komentar:

Posting Komentar