Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Memeras Nafsu itu Nikmat Abadi

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 08 September 2011 | 21.46

 Nikmatnya Memeras Nafsu
        Banyak orang yang tak berani memusuhi nafsunya bahkan sering kali menjadikan sahabat karibnya. Sehingga dia memanjakannya dan menuruti langkah dan perintahnya. Manusia-manusia yang tidak memusuhi nafsunya lama-lama akan diperbudak olehnya, dan lama-lama pula akan menyeretnya ke lubang dalam yang dia sendiri sulit untuk keluar dengan selamat darinya. Manusia cerdas sabda Sang Nabi mulia adalah mereka yang dengan sadar menjadikan nafsunya bertekuk lutut di depan dirinya dan siap untuk diperintah kemana saja yang dia mau. Bukan sebaliknya dia yang bertekuk lutut di hadapannya, kemudian siap diperintah sesuai dengan petunjuk jarinya. Ada baiknya kita renungkan apa yang dikatakan Ibnu Qayyim dalam bukunya Shaidul Khathir berikut sebagai bahan renungan buat kita semua :       
Kurasakan bahwa kecenderungan nafsu pada syahwat seringkali melampau batas, hingga menjadikan akal, hati dan pikiran tidak lagi lurus. Saat itulah manusia tidak lagi mendengar nasehat. Suatu ketika kubentak nafsu saat kecenderungannya pada syahwat sampai pada klimaks. Celaka kau!!! Berhenti sebentar!! Aku akan katakan padamu sesuatu, kemudian lakukanlah apa yang terlintas padamu!!
                Dia berkata: Katanlah aku akan dengar.
                Aku katakan: Kenapa kecenderunganmu pada hal-hal yang mubah sangat kecil dan sedikit sedangkan pada hal-hal yang haram sangat menggebu?
                Aku temukan bagi Anda dua perkara itu, yaitu bahwa mungkin yang manis pada kau itu kau anggap pahit.
                Adapun perkara-perkara yang mubah, semuanya terbuka untukmu namun jalannya sangat sulit, karena mungkin kau tidak memiliki harta yang bisa menyampaikankanmu ke sana, atau bisa saja kau tidak mendapat mata pencaharian yang memadai, sedangkan waktu-waktumu hilang dan terbuang  begitu saja.  Kemudian jika harta itupun tercapai, saat itu pikiran dan otakmu tersita untuk mengurusinya, serta adanya rasa takut kehilangan harta. Setelah  itu masih dihantui rasa takut akan kekurangan yang tentu akan sangat tampak bagi mereka yang sadar. Jika berbentuk makanan maka kekenyangan sebenarnya menimbulkan penyakit, dan jika dia adalah manusia maka dia khawatir akan bosan dan perpisahan.
                Adapun yang haram maka sama halnya seperti hal-hal yang mubah sebagimana aku isyaratkan. Namun dalam hal-hal yang haram  ada penyakit yang sangat mungkin mendapatkan siksa dan celaan dunia ditambah ancaman akhirat. Kemudian dia akan kembali sadar tatkala diingatkan oleh orang-orang yang bertobat. Akan Amda rasakan bahwa memeras hawa nafsu memiliki kenikmatan-kenikmatan tak terkirakan. Semakin dia diperas dan ditekan akan semakin kita rasakan bahwa kenikmatan itu semakin besar. Sebagaimana Anda juga lihat bagaimana seseorang yang dikalahkan hawa nafsunya menjadi sangat hina-dina. Karena dia sedang ditaklukkan. Sebaliknya yang menaklukkan hawa nafsunya, dia menjadi mulia, karena dia sedang menjadi penakluk.
                Hati-hatilah janganlah Anda lihat sesuatu yang menarik hati itu dengan pandangan mata yang selalu baik. Sebagaimana para pencuri merasakan kenikmatan tatkala dia mencuri karena dia merasakan kenikmatan saat itu. Saat itu dia tak sempat berpikir akan hukuman potong tangan. Maka hendaknya dia melihat dengan mata dan hati terbuka sehingga bisa merenungi akibat-akibat yang akan muncul dan harus memikirkan bahwa suatu ketika kenikmatan dan kelezatan itu bisa saja berubah menjadi petaka. Baik karena bosan atau munculnya penyakit-penyakit yang lain, atau hilangnya orang-orang yang sangat dicintainya. Maksiat pertama laksana makanan yang ditelan oleh orang yang lapar, namun  dia tak kenyang-kenyang, malah menambah rasa lapar yang semakin meningkat. Seseorang hendaknya ingat tatkala dia  bisa memeras hawa nafsunya dan hendaknya mengetahui faedah-faedah yang didapatkan atas kesabaran menekuk hawa nafsu itu. Jika dia bisa melakukan itu, maka keselamatan terus mendekatinya.
Semoga bermamfaat...dunia akhirat

0 komentar:

Posting Komentar