Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Jiwa Merdeka

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 20 Agustus 2013 | 11.39

Seorang penjelajah asal Portugis, Tome
Pirres, mengisahkan perjalanannya ke Nusantara
masa prakolonial. Salah satu kisah yang ditulisnya
dalam buku berjudul Summa Oriental itu adalah
pandangannya tentang orang Jawa yang ia jumpai
di Malaka.

Menurut Pirres, orang Jawa itu penuh percaya
diri, cakap berdebat dan selalu siap mencabut keris
jika terlibat konflik fisik. Mereka lihai berdebat
sekaligus tangkas memainkan senjata.
Pirres menjumpai orang Jawa era Demak,
yaitu jaman daulah lslam betul-betul eksis di
Pulau Jawa. Bukan sekedar simbolis dengan gelar
sultan, sayidin panatagama dan sebagainya.
Sejarah mencatat bahwa lslam "ideologis"
muncul diJawa sejakberdirinya Kesultanan Demak.
Namun wujudnya sebagaijiwa pemerintahan pun
Ienyap seiring musnahnya Demak. Pergeseran
kekuasaan ke Pajang dan kemudian ke Mataram
menggeser pula ideologi lslam.

Orang Jawa pun berubah karakternya.
Mereka kini dikenal inferior, menghindari konflik
dan lamban. Sastrawan kiri Pramoedya, kelahiran
pesisir pantai utara Jawa, menyebut hal itu karena
pergeseran pusat kerajaan dari pesisir pantai ke
pedalaman. Juga karena perubahan orientasi
maritim menjadi agraris.

Menurut Pram, paradigma pesisir adalah
pikiran yang terbuka. Pergaulan dengan berbagai
bangsa dimungkinkan di kota-kota bandar yang
disinggahi kapal-kapal dari negeri lain. Pandangan
terhadap mata pencaharian juga lebih dinamis
sehingga kehidupan pesisir pun penuh dinamika.
Sebaliknya, paradigma pedalaman adalah
pikiran yang tertutup. Pergaulan yang terbatas
melahirkan ketertutupan sekaligus kebanggan
diri yang semu. Mata pencaharian yang pertanian

yang juga melahirkan kehidupan yang penuh sikap
fatalis dan berkembangnya klenik. :
Betulkah analisis Pram? Membedah karakter
sebuah bangsa atau suku hanya dari elemen fisik
seperti daerah tinggal dan mata pencaharian
agaknya menyederhanakan persoalan. Manusia
memang dipengaruhi secara fisik oleh lingkungan
dan ruang kehidupannya, tetapi jiwa manusia
lah yang paling berpengaruh bagi keseluruhan

Maka bukan pantai atau pedalaman, bukan
pula jadi nelayan, saudagar atau petani yang
membuat karakter orangJawa berubah. Melainkan
isi jiwanya yang membuatnya berubah.
Melihat gambaran Tome Pirres, yang
bukan pribumi apalagi Jawa seperti Pram.
Kemudian melihat lini masanya yang bertepatan
dengan kuatnya "ideologi lslam" dalam sistem
pemerintahan lawa waktu itu, lebih tepat jika
lslamlah yang membentuk karakter seperti dilihat
oleh Pirres.

lslam membebaskan jiwa manusia jadi
merdeka. Sebagaimana kata sahabat Rib'i bin Amr
di hadapan panglima Parsi Rustum, "lslam datang
untuk membebaskan manusia dari perbudakan
oleh manusra lain, kemudian mengubahnya
menjadi penghambaan pada Rabbul Alamin."
Wajarlah jika Pirres melihat jejak jiwa merdeka
tadi di Malaka.

Sementara perubahan orientasi ideologis
terjadi sejak pergeseran Demak ke Pajang.
Sesembahan adalah raja, kehidupan adalah feodal
sementara klenik pun berkembang. Jiwa merdeka
lslam pun berubah menjadi jiwa budak yang
inferior, penuh ketakutan dan tak punya inisiatif.
Tanpa bermaksud membangun stereotipe, inilah
yang hilang dari kehidupan orang Jawa. Wallahu
a'lam. (lbnu)

0 komentar:

Posting Komentar