Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Kesendirian Di Negeri Abadi

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 22 Juni 2018 | 08.52

Sahabat sekalian, adakalanya kita berharap bahwa kebaikan yang kita lakukan pada keluarga, dibalas dengan kebaikan pula oleh mereka. Hal yang sangat manusiawi dan wajar. Namun disitulah awal sakit hati bermula.

Sahabat, ada saatnya kita melakukan semua hal, semua kebaikan bukan lagi untuk mengharapkan imbal balik kebaikan. Tetapi semata-mata karena Alloh. Dan untuk hidup kita sendiri setelah kematian datang.

Ada saatnya, kita benar benar sendirian.
Akan datang masanya, setiap orang memikirkan dirinya sendiri

(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ)

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. ('Abasa: 34-36)

Yaitu dia melihat mereka, tetapi lari dari mereka dan menjauhinya, karena dahsyatnya huru-hara dan kengerian yang terjadi pada hari itu.

Ikrimah mengatakan bahwa seseorang berdua dengan istrinya, lalu berkata kepadanya,
"Hai istriku, suami macam apakah aku ini bagimu?"
istri menjawab "Engkau adalah sebaik-baik suami." dan istrinya memujinya dengan pujian yang baik semampunya.
si suami berkata kepada istrinya, '"Maka sesungguhnya hari ini aku meminta suatu kebaikan darimu dengan suka rela, barangkali aku dapat selamat dari apa yang engkau saksikan sekarang ini."
Si istri menjawab, "Alangkah mudahnya permintaanmu, tetapi aku tidak mampu memberimu sesuatu pun karena aku pun sedang dicekam oleh rasa takut yang sama seperti yang kamu alami."
Dan sesungguhnya seseorang bersua dengan anaknya, lalu ia bergantung kepadanya dan mengatakan,"Hai Anakku, orang tua seperti apakah aku ini bagimu?"
Si  anak menjawab dengan mengemukakan pujian kepadanya, lalu ia berkata kepada si anak, "Hai Anakku, sesungguhnya aku sekarang sangat memerlukan bantuan sedikit dari kebaikanmu, mudah-mudahan dengannya aku dapat selamat dari keadaanku sekarang ini yang engkau lihat sendiri."
Maka si anak menjawab, "Wahai Ayah, betapa ringannya permintaanmu, tetapi aku sendiri merasa takut dengan ketakutan yang sama seperti yang engkau alami, maka aku tidak mampu memberimu sesuatu pun dari apa yang engkau minta'itu." Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya: pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. ('Abasa: 34-36)

Di dalam hadis sahih yang menceritakan peristiwa syafaat disebutkan bahwa ketika dimintakan kepada tiap-tiap rasul dari ulul 'azmi untuk memohonkan syafaat di hadapan Allah buat semua makhluk, maka tiap-tiap orang dari mereka mengatakan.”Aku lebih mengutamakan diriku, aku lebih mengutamakan diriku, dan aku tidak memohon kepada Engkau selain keselamatan buat diriku sendiri." Sehingga Isa putra Maryam sendiri mengatakan,"Aku tidak memohon kepada-Nya hari ini kecuali untuk keselamatan diriku sendiri, dan aku tidak memohon kepada-Nya untuk keselamatan ibuku Maryam yang telah melahirkanku." Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya: pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. ('Abasa: 34-36)

Qatadah mengatakan bahwa pada hari itu yang dipentingkan adalah yang paling dicintai dan paling dekat karena dahsyatnya huru-hara di hari itu. Yang dalam hal ini tiada yang lebih dicintai dan lebih dekat bagi seseorang kecuali diri masing-masing.
(Tafsir Ibnu Katsir Surah Abasa 34-36.)

Setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri.
Sang anak 'tidak peduli' dengan sang Ayah, meski ayahnya adalah orang yang sangat baik.
Sang istri 'tidak peduli' dengan sang suami, meski ia tahu bahwa suaminya adalah lelaki terbaik.

Lantas bagaimana jika laki laki itu adalah ayah yang durjana.
Apa yang kita kira akan dikatakan oleh anak dan istri, jika sang ayah adalah seburuk-buruk  manusia????
Mungkin, laki laki itu akan menjadi orang pertama yang akan dihujat dan laknat oleh anak dan istrinya. Wallohua'lam.

Sahabat, saat kesendirian itu benar benar akan datang.
Ini renungan untuk diri kita...
Lakukanlah yang terbaik untuk siapa saja, karena itulah amal yang menjadi teman dalam kesendirian di waktu-waktu mencekam, di hari pengadilan.

M. Nadhif

0 komentar:

Posting Komentar