Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Terpisah Dari Allah Terpinggir Dari Manusia

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 16 Januari 2011 | 14.50

Terkadang diri ini termangu sendirian sambil hati bercakap-cakap dan tertanya-tanya mencari jawaban yang tidak pasti. “Isyy.., kenapa rasa sunyi sangat hati ini?”, “Hmm, kenapa rasa ini jauh sekali dari Allah. Ini tak kena, itu tak kena. Semuanya terasa serba tak kena. Apakah Allah sudah berlepas tangan dariku? Astaghfirullahal ‘Azhim.

Rasa-rasa seperti ini acapkali muncul dan menghantui diri. Tidak pandang siapa, dan tidak lain sebabnya adalah dari diri sendiri. Dosa dan maksiat yang kita lakukan selama ini, itulah puncak dan sebab musababnya. Maka, baik sadar atau tidak, dosa dan maksiat telah menjadikan hubungan kita dengan Allah semakin merenggang dan langsung menjauhkan kita dari limpahan rahmat-Nya.

Sungguh jiwa tidak bsa menerima petaka ini dan hati nurani bisa merasa cukup tidak tenang dengan situasi ini. Walhal terpisah dari ibu kandung sendiri pun sudah terasa haru dan tidak karuan. Ini pula terpisah dan jauh dari rahmat Allah s.w.t., Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Seandainya dikumpulkan semua kelazatan dan kenikmatan duniawi ini dengan satu tujuan untuk menggembirakan hati dan mengeluarkannya dari beban penderitaan karena terpisah dari rahmat Allah itu, niscaya ia tidak bisa menghilangkan segala kedukaan dan penderitaan tersebut, sebaliknya ia hanya akan menambah beban dan tekanan pada jiwa yang sudah tersiksa.

Penderitaan dan kepahitan karena berjauhan dan terpisah dari Allah ini hanya dapat dirasai dan ditangisi oleh insan yang hidup hati nuraninya. Namun tidak bagi yang telah mati hatinya. Orang yang mati hatinya tidak lebih bagai bangkai yang berjalan. Ia tidak sensitif dengan apa-apa lagi. Benar sekali ungkapan si bijaksana yang menyebutkan: “Luka tidak memberikan sedikitpun kesakitan lagi kepada hati yang telah mati.”

Bagaimana diri ini? Pernahkah merasa bahwa diri ini amat jauh dari Allah s.w.t. yaitu tatkala tercebur ke dalam kancah dosa dan maksiat? Memang pernahlah jawabnya. Karena dosa, kita yang telah Islam ini pun bisa terlempar jauh dan terpinggir dari rahmat Allah s.w.t., bayangkan betapa jauh dan sayupnya rahmat dan pandangan Allah pada seseorang yang kafir dan syirik pada-Nya?

Hakikatnya diri sangat memerlukan Allah di dalam hidup kita. Tidak rela terpisah dari pandangan dan rahmat Allah walaupun sesaat. Kalau Allah mula berlepas tangan dari, bermakna bermulalah detik kemusnahan.

Ingat! Bahwa syaitan dan nafsu senantiasa berusaha mewujudkan jalan dosa yang menjadi kabut hijab antara hamba dan Allah yang Esa.

Terpinggir dari manusia

Sudah menderita terpisah berjauhan dari Allah, dosa juga melilitkan kepiluan yang amat karena terpinggir dari manusia. Manusia yang bagaimana? Manusia yang beriman, bertakwa dan beramal soleh. Sekali lagi, dia bukan dipinggir maupun dipisahkan oleh mereka. Sebaliknya dia sendiri menjadi terpisah dan terpinggir dari kelompok ‘orang-orang Allah’ itu karena bahana dosa yang digulitinya.

Karena keterpinggiran itu, dia akan semakin jauh dari majlis-majlis mereka. Karena kejauhan itu, dia tidak dapat mengambil faedah-faedah kebenaran dari mereka. Yang berlaku, dia semakin mendekatkan diri dengan kumpulan syaitan menurut kadar kejauhan yang dirasakan dan dialami olehnya.

Kini, hari demi hari terasa semakin menekan dan menyesak di dalam hati. Tidak semena-mena, akibat dosa itu, perasaan benci dan amarah menyelinap masuk ke dalam hatinya. Lalu ia bergolak bagai dirasuk hantu syaitan. Tidak ada apa-apa anak dan isterinya dibenci. Malah, karena bahana dosa itu, ia sampai ke tahap benci terhadap dirinya sendiri.

Seorang ulama menyingkapkan: “Jika aku melakukan maksiat kepada Allah, akan terlihatlah kesannya pada kendaraan dan isteriku.”

Kisah tiga sahabat yang dihukum Allah karena tidak menghadirkan diri dalam peperangan Tabuk tanpa uzur syar'ie, wajar menjadi teladan buat kita semua. Dalam tempo tiga bulan, mereka merasa kehidupan yang cukup pahit dan menyiksa. Sudah dimurkai Allah s.w.t., mereka juga turut dipinggirkan oleh Rasulullah s.a.w. dan seluruh umat Islam.

Selama tempo itu, mereka menangis siang dan malam, tidak henti-hentinya memohon ampunan Allah, sehingga datanglah keampunan Allah. Kenapa mereka menangis dan merintih kepada Allah? Karena mereka tidak mau terpisah dari rahmat-Nya. Sekali lagi, itulah kesan dosa dan ia hanya dirasa dan diderita oleh mereka yang punyai mata hati.

0 komentar:

Posting Komentar