Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Ittiba’: Ujian Pembukti Cinta

Written By Rudi Abu azka on Senin, 10 Januari 2011 | 08.48

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ittiba` (ikuti)lah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” [QS. Āli ‘Imrān (3): 31-32]


Saudaraku kaum muslimin…


Islam berarti taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam . Jalan taat menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala harus ditempuh dengan me-lalui ittibā` (meneladani) Rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam, bukan hanya hanya berupa i`tiqād qalbu (keyakinan hati) atau qawl lisān (pengakuan lisan) semata.


Di hadapan kita hanya ada 2 (dua) jalan, yaitu jalan taat dan ittibā` yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau jalan kufur dan bid`ah yang dibenci-Nya.


Ayat di atas adalah mizān (barome-ter) yang menjadi tolok ukur untuk mengetahui orang yang benar-benar mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan orang-orang yang hanya mengaku mencin-tai-Nya namun di lisannya saja.


Tanda cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan ittibā` kepada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam, sebagai rasul-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi-kan ittibā’ kepadanya dan kepada se-luruh isi dakwah yang diserukannya sebagai wujud kecintaan dan keridha-an-Nya.


Kecintaan dan keridhaan-Nya serta anugerah pahala-Nya tidak mung-kin digapai kecuali dengan merealisa-sikan 4 (empat) inti kandungan ittibā` kepada Rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam, yaitu:


1. Membenarkan kabar berita yang disampaikannya,

2. Menjunjung tinggi segala perin-tah yang dititahkannya,

3. Menjauhi segala larangannya, dan

4. Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari`at yang te-lah dicontohkannya. (Lihat: Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān: 120 tentang ayat di atas)

Saudaraku kaum muslimin…

Riwayat yang menerangkan tentang asbāb nuzūl (sebab turun)nya (QS. 3: 31) memiliki banyak versi, menurut Ibnu al-Jawziy rhm setidaknya ada 4 (em-pat) riwayat, yaitu:

1. Riwayat adh-Dhahhak Rahimahullah dari Ibnu ‘Abbas RadhiallahuAnhu, bahwa Nabi Salallahu Alaihi Wasalam berdiri di hadapan kaum Quraisy yang sedang memancangkan pa-tung-patung berhala sembahan me-reka, lalu beliau bersabda:

(( يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَقَدْ خَالَفْتُمْ مِلَّةَ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ ))

“Wahai kaum Quraisy! Sungguh ka-lian telah menyelisihi millah (agama) ba-pak kalian, Ibrahim”, seketika itu mereka berkomentar:

( يَا مُحَمَّدُ إِنَّمَا نَعْبُدُ هَذِهِ حُبًّا للهِ، لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللهِ زُلْفَى )

“Wahai Muhammad! Kami tidak me-nyembah (patung berhala) ini kecuali ka-rena kecintaan kepada Allah dan agar me-reka menjadi perantara yang akan mende-katkan kami kepada-Nya”, maka kemu-dian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat ini.

2. Riwayat Abu Shalih Rahimahullah dari Ibnu ‘Abbas RadhiallahuAnhu bahwa orang-orang Ya-hudi berkata:

( نَحْنُ أَبْنَاءُ اللهِ وَأَحِبَّاؤُهُ )

“Kami adalah anak-anak dan para ke-kasih Allah”, maka turunlah ayat ini, yang kemudian disampaikan Nabi saw kepada mereka, namun mereka tidak menerimanya.

3. Riwayat al-Hasan Rahimahullah dan Ibnu Jurayj Rahimahullah bahwa di masa lalu ba-nyak orang yang berkata:

( نَحْنُ لَنُحِبُّ رَبَّنَا حُبًّا شّدِيْدًا )

“Sesungguhnya kami benar-benar sa-ngat mencintai Allah“, maka Allah swt meminta kepada mereka tanda bukti kecintaan mereka kepada-Nya, lalu turunlah ayat tersebut.

4. Riwayat Ibnu Ishaq Rahimahullah dari Mu-hammad bin Ja`far bin Zubair RadhiallahuAnhu, yang kemudian dipilih oleh Abu Sulaiman ad-Dimasyqiy Rahimahullah seba-gai pendapatnya bahwa kaum Nashrani dari Najran berkata:

( إِنَّمَا نَقُوْلُ هَذَا فِي عِيْسَى حُبًّا للهِ، وَتَعْظِيْمًا لَهُ )

“Sesungguhnya kami mengatakan hal ini (kecintaan mendalam) kepada Isa, se-bagai bukti cinta kepada Allah dan peng-agungan kepada-Nya”, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat tersebut. (Lihat: Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr: 1/303)

Sedangkan berkaitan dengan tu-runnya (QS. 3: 32), maka ada 3 (tiga) riwayat mengenainya, yaitu:

1. Riwayat Ibnu ‘Abbas RadhiallahuAnhu, bahwa ‘Abdullah bin Ubay, gembong dan tokoh kaum munafik, berkata ke-pada teman-temanya:

( إِنَّ مُحَمَّدًا يَجْعَلُ طَاعَتَهُ كَطَاعَةِ اللهِ، وَيَأْمُرُنَا أَنْ نُحِبَّهُ كَمَا أَحَبَّتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ )

“Sesungguhnya Muhammad meng-inginkan ketaatan kepadanya sebagaimana ketaatan kepada Allah, dan memerintah-kan kami untuk mencintainya sebagaimana kecintaan orang-orang Nashara kepada ‘Isa bin Maryam”, maka Allah swt me-nurunkan ayat tersebut.

2. Riwayat dari Muqatil Rahimahullah, bahwa ketika Nabi Salallahu Alaihi Wasalam mendakwahkan orang-orang Yahudi untuk masuk Islam, mereka justru berkata:

( نَحْنُ أَبْنَاءُ اللهِ وَأَحِبَّاؤُهُ، وَنَحْنُ أَشَدُّ حُبًّا للهِ مِمَّا تَدْعُوْنَا إِلَيْهِ )

“Kami adalah anak-anak dan para ke-kasih Allah, dan kami lebih mencintai Allah dibandingkan seruan yang engkau dakwah-kan kepada kami”, maka turunlah ayat ini.

3. Riwayat Abu Sulaiman ad-Dimasy-qiy Rahimahullah, bahwa ayat ini turun ber-kaitan dengan orang-orang Nash-rani dari Najran. (Lihat: Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr: 1/304)

Semua riwayat tersebut menggam-barkan bahwa pengakuan cinta kepada Allah swt yang diungkapkan oleh para penganut dan pemeluk agama –apapun agamanya– membutuhkan bukti nyata yang dikehendaki oleh Rabb yang me-reka cintai.

Cinta bukan hanya pengakuan li-san atau ungkapan perasaan hati, na-mun harus melahirkan ketundukan dan kepasrahan terhadap yang dicin-tainya.


Saudaraku kaum muslimin…

Membenarkan semua kabar berita atau informasi shahih (benar) yang ber-sumber dari Rasulullah saw merupa-kan salah satu ushūl (pokok) keimanan, baik kabar berita yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu, masa kini ataupun masa yang akan datang.


Ketika Rasulullah saw isrā’ (diper-jalankan) ke Masjidil Aqsha, orang-orang (kaum Quraysy) pun gaduh sa-ling memperbincangkan kebenarannya. Sebagian mereka ada yang menyata-kan murtad, dan sebagian lain ada yang membenarkan dan mengimaninya de-ngan sepenuh hati.


Saat itu, tokoh-tokoh utama para pengingkar kebenaran peristiwa isrā’ dan mi’rāj mendatangi Abu Bakar rda untuk membuktikan bahwa penging-karan mereka adalah benar. Salah satu tokoh mereka berkomentar:

هَلْ لَكَ إِلَي صَاحِبِكَ يَزْعُمُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ اللَّيْلَةَ اِلَي بَيْتِ الْمَقْدِسِ؟

“Apakah engkau belum bertemu dengan shahabatmu yang mengaku telah diperja-lankan di waktu malam ke Baitul Maqdis?”

Dengan tenang Abu Bakar rda men-jawab:

( أَوَ قَالَ ذَلِكَ؟ )

“Betulkah beliau mengatakan demi-kian?”

Serta merta mereka menegaskan “Ya!!”. Namun tanpa diduga oleh me-reka, sepenggal kata mulia meluncur dari lisan mulia Abu Bakar rda:

( لَئِنْ كَانَ قَاَل ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ )

“Jika beliau mengatakan demikian, su-dah pasti benar adanya!”

Mereka tetap penasaran, lalu me-ngajukan pertanyaan berikutnya:

( أَوَتُصَدِّقُهُ اَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ اِلَي بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَجَاءَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ؟ )

“Apakah engkau akan membenarkan-nya juga walaupun dia mengaku telah pergi ke Baitul Maqdis hasnya dalam satu malam saja, lalu sudah kembali lagi sebe-lum datangnya pagi hari?”


Sekali lagi kata tegas dan jawaban mulia terlontar ke telinga mereka:

( نَعَمْ! َلأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعُدَُ مِنْ ذَلِكَ، أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِالسَّمِاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ )

“Ya, pasti! Saya akan membenarkan-nya, sekalipun yang beliau ceritakan lebih dari itu! Saya akan selalu membenarkan kabar dari langit, baik datang di waktu pagi ataupun sore hari” (HR. al-Hākim 3/62, Silsilah al-Ahādīts ash-Shahīhah: 306)


Pantaslah apabila tokoh mulia ini mendapat gelar ash Shiddīq, karena be-liau selalu membenarkan kabar berita yang disampaikan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

Saudaraku kaum muslimin…

Bukti nyata paling jelas bagi orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dengan mengikuti dan menta’ati rasul-Nya Salallahu Alaihi Wasalam. Bahkan hal ini merupakan tanda orang-orang yang mengharapkan pahala dari Allah dan syurga-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. al-Ahzāb (33): 21]


Ayat ini –menurut Ibnu Katsir Rahimahullah – merupakan pokok utama dalam me-neladani setiap perkataan, perbuatan dan sikap Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam. (Tafsīr Ibnu Katsīr: 3/435)


Oleh karena itu, kita harus ittibā’ kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, baik dalam dalam akidah, ibadah, akhlak, hukum, tarbiyyah, dakwah, dan dalam seluruh sisi kehidupan kita lainnya, karena itu-lah jalan keselamatan yang telah ter-bentang di hadapan kita.


Dan agar kita lulus dari ujian cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka janganlah ragu, bahkan jangan pernah ragu se-dikitpun, yaitu untuk ittibā’ kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam, dengan mengetahui, memahami, meniti, mengamalkan, mendakwahkan dan memperjuangkan Sunnahnya yang suci!

0 komentar:

Posting Komentar