Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

SINOPSIS (MATINYA SI KICAU BURUNG)

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 12 Januari 2011 | 14.29

Sebagai saudagar kaya yang memiliki apotik besar di kota Naisabur, Fariduddin al-‘Aththar, merasa tersinggung atas pertanyaan seorang Darwisy, “Bagaimana kamu bisa mati dengan meninggalkan kekayaan yang begini hebat?”. Dengan sedikit kesal Fariduddin menjawab, “Tidak ada bedanya, aku akan mati sama dengan caramu mati.” Sang Darwisy tanpak merenung sejenak lalu menatap wajah Fariduddin dengan tajamnya seraya mengatakan, “Tidak mungkin! Aku tidak memiliki sesuatu apa pun kecuali kusykul (sejenis mangkuk) dan selimutku ini. Apakah engkau masih juga berkata bahwa engkau akan mati seperti caraku mati?”.

Sekarang Fariduddin yang balik menatap wajah Darwisy tajam-tajam. Anehnya sang Darwiys justru tersenyum. Di wajahnya tampak seberkas cahaya. Yang semula wajahnya kusut layaknya seorang peminta-minta berubah bersinar terang. Senyumnya tampak amat bahagia ketika ia berusaha menunduk dari tatapan Fariduddin. Lalu dengan pelan tapi penuh kepastian ia membuka selimutnya dan sekali lagi sekilas menatap pendek ke wajah Fariduddin. Sambil tetap tersenyum ia menebarkan selimutnya di lantai apotik persis di kaki Fariduddin dan menaruh kusykul-nya di ujung selimutnya. Selanjutnya ia merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di atas kusykul-nya sambil mengatakan, “Beginilah caraku mati.” Dan Darwisy itu benar-benar mati ketika itu juga di dekat kaki Fariduddin dalam keadaan tersenyum.

Sejak peristiwa itu, Fariduddin menempuh jalan spiritual sebagai seorang Zahid dan meninggalkan kekayaannyaa untuk melakukan pengembaraan spiritualnya. Banyak buku yang ditulis tentang makna hidup dan kemajuan spiritual bagi manusia. Yang sangat terkenal adalah Manthiqu al-Tahir (Kicau Burung). Ia terus hidup dalam pengembaraan spiritualnya layaknya seorang Darwisy, sampai akhirnya ia tertangkap oleh tentara Mongol.

Ketika ia mau dibunuh oleh tentara penyerbu, datang seorang kaya yang ingin menebusnya dan menjadikannya budak dengan imbalan yang sangat tinggi. Tentara Jengis Khan sepakat dengan harga yang ditawarkan itu, akan tetapi Fariduddin menolaknya karena harga itu terlalu mahal buat dirinya. Lalu datang seorang menawarkan pembebasan dengan tebusan sekarung gandum. Dengan serta merta Fariduddin menyetujui. Kesal atas sikap Fariduddin yang telah menyia-nyiakaan waktu mereka, para tentara Mongol, akhirnya ia langsung dipancung. Fariduddin pun mati dalam keadaan tersenyum, persis seperti Darwisy mati di tokonya.

0 komentar:

Posting Komentar