Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Hasad, membakar Amal Shaleh

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 03 Februari 2013 | 23.32

Dalam dunia modern, sebagian masyarakat menilai bahwa yang terlihat bahagia ialah yang punya harta, pangkat dan ilmu. Akibatnya orang memburu harta berlebihan.Mulanya hanya mencari sesuap nasi untuk dimakan sehari, lama-lama meningkat persiapan satu minggu, satu bulan dan akhirnya satu tahun.Bahkan ada yang memperpersiapkan untuk tiga sampai tujuh turunan. Disamping memburu harta, juga sebagian masyarakat memburu pangkat, kalau perlu dibayar mahal, karena ujung-ujungnya setelah berpangkat, gampang memperoleh fasilitas, berupa kendaraan, perumahan dan uang jalan jika bepergian.Alias memperoleh harta yang banyak. Demikian juga ilmu, pada mulanya hanya asal tammat SMA atau cukup titel BA pada tahun 6O-an, meningkat Drs, meningkat lagi Master,dan akhirnya sampai titel Doktor, sekalipun bukan berprofesi Dosen. Pokoknya, titel tertinggi bidang akademi. Akibatnya, banyak orang membeli titel Doktor dengan bayaran puluhan juta, dan disandangnya dengan asyik, sekalipun masyarakat mengetahuinya. Mereka anggap titel kesarjanaan itu ujung-ujungnya juga untuk harta, karena gampang memperoleh jabatan, sekalipun syarat menjadi Presiden di Indonesia yang ditetapkan DPR, cukup SLA.

Sebagai kenyataan fasilitas yang banyak hanya dinikmati orang yang berharta. Maka timbul persepsi sebahagian masyarakat, bahwa orang yang berharta masa kini, umumnya adalah hasil penyimpangan. Apalagi jika membandingkan filsafat sungai yang banjir, pasti menghasilkan air keruh bahkan terkadang ada bangkai.Maka timbullah hasad (iri hati dan benci) kepada orang yang berharta. Bahkan diantara yang hasad, ada yang meningkat mendoakan agar celaka (Na’udzu Billah)..

Karena kita seorang muslim yang akhlaknya menyempurnakan semua bentuk akhlak yang pernah ada (“Liutammima makarim al-akhlaq”), maka hendaknya kita kembali kepada ajaran dasar Islam, bagaimana model akhlak Islam itu ?.

Dilarang berprasangka buruk :Diantara sekian Akhlak, dilarang Suu zhann (prasangka buruk). Dalam Alquran diperingati :”Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.Sukakah salah seorang diantara kamu, memakan daging saudaranya yang sudah mati ?.Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah Tuhan Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS.49:12).

Untuk membendung datangnya prasangka negatif itu maka dalam Islam, tidak dibenarkan mengadukan seseorang yang sedang berzina, tanpa disaksikan empat orang saksi yang melihat dengan matakepalanya dan transparan (maaf) persis pedang yang di masukkan ke dalam sarungnya. Bahkan hukum bisa berbalik kepada si pengadu menjadi dia yang harus dicambuk, bilamana kesaksian itu cuma samar-samar. (Nau’dzu billah), hampir mustahil dapat menyaksikan orang yang sedang berzina, delapan mata melihat secara transparan Alquran menjelaskan : “Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berbuat zina,dan tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya.(QS.24:4).Menurut sebagian mufasir, yang disebut wanita baik-baik ialah wanita yang suci, akil balig dan muslimah. Dan dapat dikiaskan semua tuduhan yang bernilai dosa besar, seperti mencuri.

Mengenai kebiasaan seseorang yang hasad (dengki) dalam ayat lain diperingati, : “Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran memperoleh karunia yang diberikan Allah kepadanya ? “.(QS.4:54).

Dari dua ayat tersebut dipahami bahwa hakekatnya karunia, harta dan pangkat yang Allah berikan kepada hambanya, kita dilarang hasad, irihati, cemburu dan berprasangka yang buruk (Suu zhann), kecuali ada bukti dan fakta yang transparan, itupun harus diselesaikan melalui pengadilan.Ajaran dasar Islam ialah melengkapi budi pekerti yang pernah ada.

Irihati kepada karunia Allah itu, artinya sama halnya memperotes kebjaksanaan Allah, sehingga dalam Hadis Qudsi dinyatakan “ Barangsiapa yang tidak menerima takdir (kadha dan kadar) yang saya berikan kepada hambaKu, maka hendaklah ia keluar dari bumi dan langitKu, dan mencari Tuhan selain saya “.

Menggeneralisasi sebuah profesi, bahwa profesi itu semuanya jahat adalah hal yang tidak obyektif, karena disamping hal itu tidak dapat dibuktikan, juga kenyataan dalam filasafat hidup, ketika kita membakar kerumunan semut, setelah ditinggalkan, ternyata tidak semuanya mati. Demikian ketika sebuah pesawat terbang jatuh, ternyata penumpangnya masih ada yang hidup.
Oleh sebab itu ajaran dasar Islam yang akhlaknya mengungguli akhlak yang pernah ada, melarang keras berprasangka buruk kepada saudaranya, bahkan disamakan memakan bangkai binatang. Demikian cemburu dan irihati terhadap kemuliaan yang Allah berikan kepada seseorang, mengancam rusaknya akidah karena sama halnya memperotes kebijakan Tuhan yang diancam, hendaknya keluar dari bumi dan langit Allah serta mencari Tuhan lain selain Allah.

Menghanguskan amal saleh:Nabi pernah bersabda : “ Jauhilah berprasangka (negatif), karena sesungguhnya berprasangka itu adalah perbuatan dan perkataan yang paling dusta, bahkan orang mukmin sebaiknya mereka berkasih-kasihan, karena mereka adalah bersaudara. (HR.Bukhari-Muslim).

Kemudian pada hadis lain lebih tegas lagi dikatakan : “Hendaklah kalian menjauhi sifat Hasad (irihati), karena sesungguhnya Hasad itu membakar dan menghapuskan amal saleh, persis api membakar kayu yang kering (HR.Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Berdasarkan Hadis diatas, maka hendaknya kita sadari betapa ruginya seorang muslim jika suka menghabiskan umurnya dengan beramal ikhlas dari kecil sampai masa tuanya, namun tiba-tiba amal yang dikumpulkan itu akan hangus terbakar oleh ulahnya sendiri, karena suka berprasangka, irihati dan cemburu kepada orang lain yang memperoleh harta atau pangkat yang Allah telah berikan kepadanya.

Itu sebabnya wirid yang kita baca setiap salat Magrib dan Subuh,”Tu’til mulka man tasyau watuizzu man tasyau,dst.”( Engkaulah ya Allah yang memberikan pangkat dan kemuliaan kepada orang yang Engkau kehendaki…Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Akhirnya, marilah kita semua berusaha menjauhi prasangka negatif terhadap seseorang, apalagi, jika meningkat menjadi kecemburuan sosial terhadap karunia Tuhan yang diberikan kepada hambanya. Sedang satu-satunya kecemburuan yang dibolehkan dilakukan kepada saudara kita, hanyalah bidang ibadah, misalnya mengapa dia bisa melakukan salat Tahajjud, banyak bersedekah dan berbuat kebaikan, lalu kita cemburu untuk berusaha menirunya. Adapun metode terbaik agar kecemburuan itu hilang dalam diri, menurut ajaran Nabi, pertama, selalu mensyukuri apa Allah telah berikan..Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, niscaya ia tidak mampu mensyukuri yang banyak. Kedua, Unzhuru ila man asfalikum (Lihatlah kepada yang dibawahmu dan janganlah melihat yang diatasmu). Kedua resef ini jika diamalkan, insya Allah Suun zhan akan menjauh dan ketenangan hidup akan datang. Kita sayang kepada amal yang susah payah kita kumpulkan sejak kecil, jangan sampai terbakar karena jengkel melihat orang lain. Wallahu a’lam. bawah.

0 komentar:

Posting Komentar