Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Semoga Kita Pantas

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 16 Februari 2013 | 21.10

Bagi hamba yang mengerti, berjalan di atas shirathal mustaqim, jalan yang lurus, adalah sebuah keniscayaan yang menafikan selainnya, demi keselamatan dirinya dunia akhirat. Sebuah adimarga nana gung yang sudah ada, benderang, dan terbentang panjang sejauh mata memandang, bagi hamba ayng terpilih. Namun, ia sangat membingungkan bagi kebanyakan orang, yang membuang diri mereka dalam kuasa nafsu dan kubangan dosa.

Sebab itu, jalan ini tidak akan pernah bisa ditempuh seorang hamba kecuali dengan hidayah dari Allah, dan dengan pertolongan-Nya. Hamba pilihan yang mengenal Allah beserta hak-hak-Nya, beribadah dalam keistiqamahan yang terjaga, serta membebaskan diri dari kebodohan tentang dosa yang membuatnya gagal mengenali petunjuk, juga pelaksanaan maksiat yang bertentangan dengan tujuan keselamatan. Hamba yang menempuhinya dengan sekuat tenaga meninggalkan jalan mereka yang dimurkai, juga jalan mereka yang sesat.

Kia harus tahu, bukan amal shalih semata yang akan menyelamatkan kita, bahkan Rosulullah SAW, dari kekalahan dan kegagalan sejati, azab Allah, meski ia melimpah ruah memenuhi penjuru waktu yang tergunakan untuk memunculkannya. Sebab, ia akan selalu kurang, penuh lubang, dan jauh dari kesempurnaan. Ia tidak akan pernah sepadan dengan ganjaran keselamatan, kecuali Allah menetapkan kepantasan untuknya dengan rahmat dan karuni-Nya.

Untuk itulah kita harus menegakkan salah satu pilar kepantasan itu, yang insyaallah, adalah taubat! Sebuah jalan kemenangan dimana Rosulullah SAW yang ma’shum pu melakukan tujuhpuluh sampai seratus kali, bahkan lebih, setiap harinya. Hingga Allah memerintahkan kaum muslimin untuk bertaubat, bukan semata karena dosa, namun bahkan setelah mereka beriman, bersabar, berhijrah, dan berjihad!

Karena taubat bukanlah sebuah permintaan maaf biasa, ia baru sah hukumnya jika disertai pengenalan kita akan dosa, kemudian mengakuinya sebagai kesalahan, berjanji untuk tiak mengulangi, serta mengimpaskan kezhaliman yang pernah kita perbuat kepada si teraniaya. Kita memohon kepada Allah agar Dia membebaskan kita dari pengaruh buruknya, juga kecenderungan hati kepadanya. Sebab bagaimanapun, dosa dan maksiat tidak akan pernah berjalan di atas kebenaran, apapun alas an dan penyebabnya!
Maka, mari meraih pertolongan dan perlindungan Allah! Agar kita tidak sendirian menghadapi masalah kehidupan, yang kompleks dan berat, yang rumit dan sulit. Hingga semua menjadi mudah dan sederhana, serta menjadi penopang kepantasan kita memperoleh rahmat dan fadhilah Allah itu.

Yaitu dengan berpegang teguh kepada agama-Nya. Menjalanan perintah-Nya sepenuh cinta, keikhlasan, dan ketundukan. Sebab, dengan itulah kita membangun tameng dan benteng pertahanan menghadapi berbagai godaan dan rintangan yang menghadang. Dimana taubat kita, sesungguhnya sangat bergantung kepada penjagaan kita akan (agama) Allah, dan perlindungan Allah kepada kita.

Mari bertaubat! Pada seluruh masa hidup kita, di permulaan, pertengahan, hingga pada akhirnya, sebab kehilangannya adalah kezhaliman. Setelah itu, barulah kita boleh berharap, bahwa kita pantas mendapatkan kemenangan dan keselamatan idaman. Semoga!

0 komentar:

Posting Komentar