Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Tangisan Kematian

Written By Rudi Abu azka on Senin, 18 Februari 2013 | 02.54

Meski kita mencarinya, tidak semua nikmat dan lezat yang kita dapat,kemudian parallel dengan kebaikan, hingga kita selalu mensyukurinya. Sebab, banyak diantaranya yang palsu dan menipu, yang karenanya kita harus senantiasa waspada. Sebuah kesadaran akan hakikat kenikmatan yang membahagiakan dan lama, kini hingga nanti, di akhirat.

Kita harus percaya, ada nikmat dalam dosa dan maksiat, hingga hamba-hamba yang mabuk syahwat terlena oleh rasa itu, dalam pemahaman tentang keharamannya ataupun tidak. Membiarkan diri mereka terseret pusaran waktu dalam kelezatan semu, bahkan memburu tanpa ragu dan rasa malu seolah mereka tercipta untuk itu ; menjadi budak nafsu.

Mereka lupa, bahwa kenikmatan dosa akan memudar seiring ketidakberdayaan jiwa melawan ajakannya karena telah tertawan, juga membebaskan diri dari jeratannya karena telah mengakar dalam. Rasa yang kini menjadi hampa dan tawar saat mereka sadar bahwa sudah terlalu sulit untuk berkelit meninggalkannya. Mereka jatuh disebuah titik jenuh dengan peluh yang telah menguras tenaga dan usia. Hingga tiada lagi yang tersisa selain sesal dan kecewa, juga sunyi yang mencekam menakutkan.

Inilah hakikat kehinaan dan tanda kebinasaan. Yang terjadi karena terlepasnya diri dari penjagaan dan perlindungan Allah, penutup pintu maksiat dan dosa, meski ia tipudaya seluruh penghuni bumi dan angkasa. Yaitu setelah taufiq dari-Nya tak lagi menyapa sebab nafsu meraja dan berkuasa, hingga mengeluarkan hamba dari ketaatan kepada-Nya. Saat itulah Allah menyerahkan hamba itu, beserta seluruh permasalahannya kepada dirinya sendiri. Melayang tanpa pegangan tangan dan kehilangan tempat kaki berpijak. Linglung dalam bingung sebab beratnya menghadang semua serangan maksiat yang luar biasa dahsyat. Hingga ia pasrah dan menyerah kalah.

Karenanya, merasa senang dalam nikmatnya dosa adalah kejahilan. Tentang siapa sesungguhnya yang dikhianati, tentang siapa yang sebenarnya merugi, tentang ancaman bahaya besar yang terlupakan, juga tentang iradah yang salah. Sebuah ketidaksadaran akut yang membutakan seluruh akal sehat dan perasaan. Dengan puncaknya adalah perasaan bangga dalam dosa, serta hebat dalam maksiat. Yang karenanya dia ingin terus melakukannya lagi, melakukannya lagi, dan lagi, bahkan hingga dia megajak khalayak ramai untuk mengikuti jejak dirinya. Pada saat itulah, dia berada dalam bahaya yang lebih besar daripada dosa itu sendiri.

Padahal, dosa adalah luka, yang mestinya menggelisahkan jiwa dan membuatnya merana tidak bahagia. Jiwa yang suci akan selalu membencinya dan merasa terbebani, dengan tingkat kebencian yang sebanding kadar kesuciannya. Hingga saat kegelisahan dalam maksiat yang dia perbuat menipis, dia mencurigai kualitas iman miliknya. Dan ketika rasa itu menghilang, dia menangisi hatinya yang telah mati. Bukankah, memang luka tidak akan menyakitkan bagi si mayit?

0 komentar:

Posting Komentar