Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

ADA SETAN DALAM DIRI

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 02 Agustus 2017 | 09.53

Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak menyebutkan dalam Alquran perihal Nafsu amarah bisu'( yang mengajak kepada kejahatan) dan nafsu lawwamah (jiwa yang menyesali diri) itu melainkan hanya sekali saja. Tetapi Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan perihal setan bukan main banyaknya, diulang-ulang selalu untuk memperingatkan kepada kita betapa hebat godaannya yang berbahaya itu. Ini difirmankan dalam cara dan gambaran yang beraneka ragam.

Apakah sebabnya demikian? itu tidak lain maksud Allah hanya kita umat manusia ini benar-benar latihan yang sepenuh penuhnya untuk menjauhi itu, sebab hanya dengan demikian itulah letak keselamatan dan kesejahteraan kita dan kita tidak akan tersesat dan celaka.

Setan itu nyatanya pandai menyelundup dalam jiwa dan hati manusia. Karya setan dalam batin manusia itu adalah sebagaimana karyanya baksil dalam tubuh.

Baksil itu senantiasa menantikan kesempatan yang baik ia menunggu di saat kelemahan tubuh, maka di kala itulah ia akan menghantam dan menyerbu tubuh tadi secara sekaligus sehingga dengan sekali serangan dimaksudkan sudah dapat lumpuhkan tubuh itu bahkan jikalau mungkin terus mati sama sekali. Tubuh itu tidak mungkin akan melepaskan diri dari hantaman baksil yang berbahaya tadi apabila ia mempunyai penjagaan yang kokoh benteng yang ampuh dan tidak akan terobohkan. Oleh karena itu tubuh yang baik perlu sekali mempunyai tameng untuk mencegah menghalang-halangi dan menggagalkan usaha baksil tadi bahkan yang sekiranya dapat mengusirnya untuk selama-lamanya.

Baksil sebagaimana yang diuraikan sifatnya di atas itu adalah sama dengan sifat-sifat setan. Bukankah setan itu selalu menantikan peluang yang baik, menunggu kelemahan jiwa dan kesakitannya dan setelah dirasa lemah lalu diserangnya serta diusahakan supaya rusak dan bahkan kalau mungkin akan dihancurkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti ajakan dan perintahnya.

Sesungguhnya tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari serangan setan melainkan dengan jalan membersihkan serta menyucikan jiwa agar ia tidak terkena penyakit penyakitnya, sebab justru adanya penyakit-penyakit inilah yang jalan yang hakiki dan mudah bagi setan untuk menancapkan godaan dan rayuan kotornya pada jiwa MANUSIA.

Penyakit-penyakit jiwa yang merupakan jalan masuknya setan laknat itu ialah segala macam celah dan kekurangan manusia yang lazim tertanam dalam kalbunya. Inilah yang secara mutlak perlu dibersihkan dibersihkan, sehingga tidak ada jalan lagi bagi setan untuk menerobosnya. Penyakit yang terhadap dalam jiwa yang hakekatnya merupakan celak dan kekurangan manusia itu ringkasnya dapat dihimpun dalam sifat-sifat tercela di bawah ini:

lemah jiwa
Putus asa
Putus harapan
Angkuh
Gembira tak terbatas
Ujub
Megah
Aniaya
Curang
Ingkar pada kebenaran
Tidak tahu terima kasih
Kikir berbuat baik
Bahil pada harta
Loba/ tamak
Pembantah
Pamer
Bimbang pada kebenaran
Ragu-ragu pada petunjuk baik
Bodoh
Lali pada kekurangan diri
Suka keras diwaktu berbantah
Tertipu perasaan diri sendiri
Berpura-pura
Gelisah
Keluh kesah
Enggan membantu
Lari dari kebenaran
Menentang kekuasaan Allah
Durhaka
Melampau batas cinta harta
Terpesona oleh keduniaan

Itulah penyakit penyakit hati dan jiwa melalui lubang-lubang itulah setan memasukkan jarum berbisa nya ke dalam batin manusia agar, hancurlah segi-segi kehidupannya lalu di goyahnya yang semula ditunjukkan ke arah keutamaan dan kemuliaan, kemudian dibelokkan ke arah yang merupakan perlawanannya.

Maka dari itu tidak ada jalan lain mengusir dan memindahkannya, untuk menyembuhkan was-was ajakan penyimpangannya itu, melainkan Jiwa itu yang wajib dirawat baik-baik, diobati diusahakan sekuat tenaga untuk melenyapkan bekas-bekas dari kedurhakaan setan itu.
Ini wajiblah dilaksanakan dengan konsekuen dan bersungguh-sungguh, sehingga jiwa itu benar-benar bersih dari penyakit-penyakit tadi secara keseluruhan. Akhirnya akan kembali sehat wal afiat dan menjadi jiwa yang tenang, tenteram dan rela menerima dan mengerjakan yang haq, benar baik.

Jikalau penumpasan penyakit-penyakit jiwa itu sudah dilaksanakan secara menyeluruh dan berhasil baik, maka muncullah dalam jiwa yang sudah bersih dan suci itu hal-hal yang baik-baik saja seperti senantiasa dzikir atau Ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, selalu mohon perlindungan Allah, bahwa tiada daya dan kekuatan pada dirinya melainkan dengan izin Allah serta menyerahkan dua raganya kepada Dzat Yang Maha mengatur langit dan bumi ini. Semua itu akan mengarah ke jurusan pengokohan kebatinan manusia itu sendiri lalu mengangkatnya sampai ketingkat Alam rohani yang hakiki.

Akhirnya manusia itu akan sampailah kepada derajat yang ia akan ditakuti oleh setan, sekalipun hanya menemuinya di jalan yang dilaluinya. Ini adalah sebagaimana yang sudah dicapai oleh umar Bin Khattab.

Imam Bukhari dan imam muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Umar, "wahai Ibnu khotob, tidak pernah setan itu bertemu dengan engkau di suatu jalan, melainkan dengan izin Allah serta menyerahkan bulat-bulat jiwa raganya kepada Dzat Yang Maha mengatur langit dan bumi ini. Semua itu akan mengarah ke pengukuhan kebatinan manusia itu sendiri lalu mengangkatnya sampai ketingkat Alam rohani yang Hakiki.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Shallallahu salam pernah bersabda kepada Umar, wahai Ibnu khotob, tidak pernah setan kamu dimana kau di suatu jalan, melainkan setan itu pasti mencari jalan yang lain yakni berbeda dengan jalan engkau lalui itu karena takutnya padamu".

Alangkah bahagianya orang yang sudah ditakuti oleh setan, sehingga bertemu saja sudah enggan. Orang semacam ini sudah tidak mungkin lagi akan didekati oleh setan.

Ingatlah bahwa kebahagiaan manusia itu tidak mungkin dapat sempurna kecuali dengan jalan mengekang hawa nafsu dan menunjukkannya dengan jalan mengikuti wahyu Allah serta memerangi ajakan dan bisikan setan yang jahat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ
wa qur robbi a'uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin

"Dan katakanlah, Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,"
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 97)

Allah SWT berfirman:

وَاَعُوْذُ بِكَ  رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ
wa a'uuzu bika robbi ay yahdhuruun

"dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku."
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 98)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala  berfirman :

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ
qul a'uuzu birobbin-naas

"Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 1)
Allah SWT berfirman:

مَلِكِ النَّاسِ
malikin-naas

"Rajanya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 2)

Allah SWT berfirman:

اِلٰهِ النَّاسِ
ilaahin-naas

"Tuhannya manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 3)

Allah SWT berfirman:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ  ۙ  الْخَـنَّاسِ
min syarril-waswaasil-khonnaas

"dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 4)
Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ  صُدُوْرِ النَّاسِ
allazii yuwaswisu fii shuduurin-naas

"yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,"
(QS. An-Nas 114: Ayat 5)

Allah SWT berfirman:

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
minal-jinnati wan-naas

"dari (golongan) jin dan manusia."
(QS. An-Nas 114: Ayat 6)

📚 Al Aqaid Al Islamiyyah -  Sayid Sabiq
✍ ulang Abu Azka

0 komentar:

Posting Komentar